Pendahuluan

1.1 Latar belakang Jaminan Persalinan yang lebih dikenal sebagai JAMPERSAL merupakan sebuah program baru yang diprogramkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Endang Rahayusedyaningsih, M.PH, DR.PH, yang masih dalam tahap penyiapan program. Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Menurut Usman Sumantri, Kepala Pusat Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan, saat diskusi dengan wartawan, di Gedung Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa Jampersal tidak hanya untuk persalinan ibu dari golongan miskin tetapi juga digunakan untuk membiayai persalinan ibu dari golongan di luar kategori miskin. Tata cara untuk mendapatkan Jampersal terbilang cukup mudah yakni menunjukkan kartu identitas di mana sang calon ibu tinggal, Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau identitas lain yang berlaku. Inti dari program Jampersal ini merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB sesuai dengan target MDG’s. Kementerian Kesehatan akan menjamin seluruh biaya pengobatan bagi wanita hamil dan melahirkan, sepanjang mereka melahirkan di Bidan Desa, Puskesmas dan Rumah Sakit pemerintah. Jampersal memberikan pertanggungjawaban biaya ibu hamil yang ingin bersalin di ruang kelas III Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Puskesmas dan Bidan Desa. Anggaran yang dialokasikan untuk program Jampersal pada tahun 2011 sebesar Rp 1,23 Triliun untuk kebutuhan 2,6 juta persalinan, sehingga yang dianggarkan oleh Kementrian Kesehatan hanya Rp 420.000,00 untuk setiap persalinan. Anggaran untuk program kesehatan ini bersifat fleksible artinya bila terdapat kelebihan anggaran pada program yang satu dapat diberikan kepada yang lainnya, apabila terdapat kekurangan anggaran dalam persalinan di suatu daerah maka yang bertanggung jawab adalah Pemerintah Daerah (Pemda) atau Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat sehingga Pemerintah Daerah (Pemda) atau Dinas Kesehatan (Dinkes) memiliki kebijakan sendiri untuk mendukung Jampersal ini dan tidak melulu bergantung pada pusat. Di berbagai daerah, program Jampersal ini masih menemui banyak kendala seperti minimnya sosialisasi kepada masyarakat sehingga banyak ibu hamil yang tidak mengetahui program prorakyat ini. Banyaknya bidan swasta yang enggan untuk

bergabung dengan program ini karena para bidan swasta tersebut merasa tidak diuntungkan dengan adanya program Jampersal ini. Selain itu, alokasi anggaran yang diberikan oleh pemerintah untuk setiap persalinan masih tergolong rendah. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja kendala yang muncul dalam pelaksanaan JAMPERSAL? 2. Bagaimana solusi untuk menanggulangi Kendala pelaksanaan JAMPERSAL? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui letak permasalahan dalam tata pelaksanaan program Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) di masyarakat. 2. Untuk memperoleh solusi untuk dalam menjalankan program Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) dengan baik di masyarakat.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Jampersal JAMPERSAL dari singkatan Jaminan Persalinan. Jaminan Persalinan adalah program pemeriksaan kehamilan (antenatal), persalinan dan pemeriksaan masa nifas (postnatal) bagi seluruh ibu hamil yang belum mempunyai jaminan kesehatan serta bayi yg dilahirkannya pada fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan program. dengan sasaran adalah seluruh ibu hamil yang belum mempunyai jaminan kesehatan/persalinan yang melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC), persalinan, dan pemeriksaan masa nifas (PNC) bagi ibu dan bayi yang dilahirkannya. Perkiraan jumlah sasaran adalah 60% dari estimasi proyeksi jumlah persalinan. B. Tujuan Jampersal Tujuan dari JAMPERSAL dibagi menjadi : a. Tujuan Umum Meningkatnya akses pemeriksaan kehamilan (antenatal), persalinan, dan pelayanan nifas dan bayi baru lahir yang dilahirkannya (postnatal) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan menghilangkan hambatan finansial dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. b. Tujuan Khusus Memberikan kemudahan akses pemeriksaan kehamilan (antenatal), persalinan, dan pelayanan nifas ibu, dan bayi baru lahir yang dilahirkannya (post natal) ke tenaga kesehatan. Mendorong peningkatan 5

C. Manfaat Jampersal 1. dan akuntabel . efektif. komplikasi kebidanan dan neonatus g. b. Ruang lingkup pelayanan dalam Jaminan persalinan tingkat lanjutan meliputi: a. Pertolongan persalinan normal. persalinan. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan dengan frekuensi 4 kali selama hamil.pemeriksaan kehamilan (antenatal). dan pelayanan nifas ibu dan bayi baru lahir (post natal) ke tenaga kesehatan. Ruang lingkup pelayanan dalam Jaminan persalinan tingkat pertama meliputi: a. Pelayanan neonatus dan penatalaksanaan rujukan neonatus dengan komplikasi sesuai standar pelayanan f. c. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. b. transparan. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi (risti) dan penyulit. Pelayanan Nifas (PNC) sesuai standar e. Penanganan komplikasi kebidanan di Puskesmas PONED sampai proses rujukan ke Rumah Sakit 2. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. c. Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Neonatus di Faskes PONEK 6 . Pertolongan persalinan dengan penyulit pervaginam yang dapat dilakukan di Puskesmas PONED d. Deteksi dini faktor risiko.

bermutu. Faskes PONEK adalah Faskes yang mampu memberi pelayanan Obstetri (kebidanan) dan Neonatus Emergensi Komprehensif D. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya pada pasal 6 ditegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Kemudian pada ayat (3) bahwa setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Pendahuluan a. Selanjutnya pada pasal 34 ayat (3) ditegaskan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. 7 . pada pasal 5 ayat (1) menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. dan terjangkau. bertempat tinggal.d. Petunjuk Teknis Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 631/MENKES/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Selanjutnya pada ayat (2) ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman.

Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015. diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100. dan lain-lain 11% (SKRT 2001).000 kelahiran hidup. yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan yaitu perdarahan (28%). di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per 1000 KH. Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu. trauma obstetric 5%. partus macet 5%.. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI tahun 2007. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.Untuk menjamin terpenuhinya hak hidup sehat bagi seluruh penduduk termasuk penduduk miskin dan tidak mampu. AKI 228 per 100. komplikasi pueperium 8%. terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan. AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. eklamsia (24%). Angka Kematian Neonatus (AKN) 19 per 1000 kelahiran hidup. infeksi (11%). Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat). abortus 5%. emboli 3%. pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan terlambat sampai di fasilitas 8 .

pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan. Jaminan Persalinan dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan. Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan adalah keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui kebijakan yang disebut Jaminan Persalinan.kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. kehadiran Jaminan Persalinan diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5. Menurut hasil Riskesdas 2010. b. 9 . yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan.4%. persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69.3%. Dengan demikian. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55. dan pelayanan bayi baru lahir. Tujuan 1) Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB melalui jaminan pembiayaan untuk pelayanan persalinan.

provinsi. c) Meningkatnya cakupan pelayanan KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. pertolongan persalinan.2) Tujuan Khusus a) Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. dan akuntabel. d) Meningkatnya cakupan penanganan komplikasi ibu hamil. c. dan kabupaten/kota) menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan Jamkesmas. e) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. bersalin. 2) Kepesertaan Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas. Sasaran Sasaran yang dijamin olehJaminan Persalinan adalah: 1) Ibu hamil 2) Ibu bersalin 3) Ibunifas (sampai 42 hari pasca melahirkan) 4) Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) d. transparan. nifas. yang terintegrasi dan dikelola mengikuti tata kelola dan manajemen Jamkesmas 10 . Kebijakan Operasional 1) Pengelolaan Jaminan Persalinan dilakukan pada setiap jenjang pemerintahan (pusat. dan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan. b) Meningkatnya cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan. efektif. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan.

Untuk persalinan tingkat pertama di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan Jaringannya) dan fasilitas kesehatan swasta yang bekerjasama dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota. 4) Peserta Jaminan Persalinan dapat memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. 5) Pelaksanaan pelayanan Jaminan Persalinan mengacu pada standar pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). dimana yang bersangkutan dikeluarkan ijin prakteknya. Klinik Bersalin. 9) Pelayanan Jaminan Persalinan diselenggarakan dengan prinsi Portabilitas. fasilitas kesehatan yang melayani ibu hamil/persalinan dari luar wilayahnya. 6) Pembayaran atas pelayananjaminan persalinan dilakukan dengan cara klaim oleh fasilitas kesehatan. Pelayanan terstruktur berjenjang berdasarkan rujukan 11 .3) Peserta program Jaminan Persalinan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan. 7) Pada daerah lintas batas. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini melakukan perjanjian kerjasama (PKS) dengan Tim Pengelola setempat. tetap melakukan klaim kepada Tim Pengelola/Dinas Kesehatan setempat dan bukan pada daerah asal ibu hamil tersebut. 8) Fasilitas kesehatan seperti Bidan Praktik.

dan Swasta. 3) Fasilitas Kesehatan (Faskes) Adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. TNI/POLRI. baik promotif. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. Pengertian 1) Jaminan Persalinan Adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. disesuaikan dengan penyerapan dan kebutuhan daerah serta disesuaikan dengan ketersediaan dana yang ada secara nasional. preventif. 2) Perjanjian Kerja Sama (PKS) Adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan. pertolongan persalinan. e. 10) Tim Pengelola Pusat dapat melakukan realokasi dana antar kabupaten/kota. 12 .dengan demikian jaminan persalinan tidak mengenal batas wilayah (lihat angka 7 dan 8).

pertolongan persalinan. Pelayanan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan Puskesmas PONED serta jaringannya termasuk Polindes dan Poskesdes. fasilitas kesehatan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola 13 . 2. 5) Rumah Sakit PONEK Adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan neonatus emergensi komprehensif. RUANG LINGKUP JAMINAN PERSALINAN Pelayanan persalinan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang berdasarkan rujukan. Ruang lingkup pelayanan jaminan persalinan terdiri dari: a. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan. pelayanan bayi baru lahir.4) Puskesmas PONED Adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan neonatus emergensi dasar. persalinan. nifas dan bayi baru lahir) tingkat pertama. Pelayanan persalinan tingkat pertama Pelayanan persalinan tingkat pertama adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dan berwenang memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan. termasuk pelayanan persiapan rujukan pada saat terjadinya komplikasi (kehamilan.

terdiri dari pelayanan kebidanan dan neonatus kepada ibu hamil. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1) Pemeriksaan kehamilan 2) Pertolongan persalinan normal 3) Pelayanan nifas.termasuk KBpasca persalinan 4) Pelayananbayi baru lahir 5) Penanganan komplikasi pada kehamilan. nifas dan bayi baru lahir b. nifas. persalinan. dan bayi dengan risiko tinggi dan komplikasi. bersalin. di rumah sakit pemerintah dan swasta yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dilaksanakan berdasarkan rujukan.Kabupaten/Kota. Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan Pelayanan persalinan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik. kec cuali pada kondisi kedaruratan. Pelayanan tingkat lanjutan diberikandifasilitas perawatan kelas III di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim PengelolaKabupaten/Kota Jenis pelayanan Persalinandi tingkat lanjutan meliputi: 1) Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi (RISTI) dan penyulit 14 .

Pelayananpasca keguguran g. Pelayananbayi baru lahir normal e. Persalinan normal c. Pelayanannifas dengan tindakan emergensi dasar i. 3. Selama hamil sekurang-kurangnya ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali dengan frekuensi yang dianjurkan sebagaiberikut: 1) 1 kali pada triwulan pertama 2) 1 kali pada triwulan kedua 3) 2 kali pada triwulan ketiga b. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di Rumah Sakit danfasilitas pelayanan kesehatan yangsetara.termasuk KBpasca persalinan d. Persalinan per vaginam dengan tindakan emergensidasar h. Pemeriksaan kehamilan pada kehamilan risiko tinggi f. Pemeriksaan kehamilan (ANC) Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan tata laksana pelayanan mengacu pada buku Pedoman KIA. PAKET MANFAAT JAMINANPERSALINAN Peserta jaminan persalinanmendapatkan manfaat pelayanan yang meliputi: a. Pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar 15 . Pelayanan nifas normal.2) ertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.

Penangananrujukan pascakeguguran l.j. secara kafetaria disiapkan alat dan obat semua jenis kontrasepsi oleh BKKBN. perlu dilakukan koordinasi yang sebaik-baiknya antara tenaga di fasilitas kesehatan/pemberi layanan dan Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola serta SKPD yang menangani masalah keluarga berencana serta BKKBN atau (BPMP KB) Propinsi. Pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi komprehensif p. Pelayanannifas dengan tindakan emergensi komprehensif o. Pada pelayanan pasca nifas ini dilakukan upaya KIE/Konseling untuk memastikan seluruh ibu pasca bersalin atau pasangannya menjadi akseptor KB yang diarahkan kepada kontrasepsi jangka panjang seperti alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau kontrasepsi mantap/kontap (MOP dan MOW) untuk tujuan pembatasan dan IUD untuk tujuan penjarangan. Pelayanan KB pasca persalinan. Penanganan kehamilan ektopik terganggu (KET) m. Ketentuan pelayanan pasca persalinan meliputi pemeriksaan nifas minimal 3kali. Agar tujuan tersebut dapat tercapai. Pemeriksaan rujukan kehamilan pada kehamilan risiko tinggi k. Tatalaksana PNC dilakukan sesuai dengan buku pedoman KIA. 16 . Persalinan dengan tindakanemergensi komprehensif n.

sekaligus peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difaslitas kesehatann sehingga pengaturannya tidak melalui mekanisme APBD. a. Pengelolaa dana Jamkesmas dilakukan oleh Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Jamkesmas Tingkat Kabupaten/Kota. Pengelolaan dana Jaminan Persalinan. dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan dana Jamkesmas pelayanan dasar. 2) Pendanaan Jamkesmas di pelayanan dasar dan Jaminan Persalinan merupakan belanja bantuan sosial bersumber dari dana APBN yang dimaksudkan untuk mendorong percepatan pencapaian MDGs pada tahun 2015. PENDANAANJAMINAN PERSALINAN Pendanaan Persalinan dilakukan secara terintegrasi dengan Jamkesmas. terintegrasi dengan dana Jamkesmas di pelayanan kesehatan dasar. sedangkan untuk jaminan persalinan tingkat lanjutan dikirimkan langsung ke rumah sakit menjadi satu kesatuan dengan dana Jamkesmas yangdisalurkan ke rumah sakit. Ketentuan Umum Pendanaan 1) Dana Jaminan Persalinan di pelayanan dasar disalurkan kekabupaten/kota. 3) Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka dua (2) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan 17 . dengan demikian tidak langsung menjadi pendapatan daerah.4.

4) Setelah dana tersebut sebagaimana dimaksud angka dua (2) dan tiga (3). maka status dana tersebut berubah menjadi dana masyarakat (sasaran). maka status dana tersebut berubah menjadi pendapatan fasilitas kesehatan. disalurkan pemerintah melalui SP2D ke rekening Kepala Dinas Kesehatan sebagai penanggungjawab program. yang ada di rekening dinas kesehatan.kesehatan peserta Jamkesmas dan pelayanan persalinan bagi seluruh ibu hamil/bersalin yang membutuhkan. (pengaturan pemanfaatan dana di Puskesmas. lihat hal 22) 6) Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut. 18 . Sumber dan Alokasi Dana 1) Sumber dana Dana Jaminan Persalinan bersumber dari APBN Kementerian Kesehatan yang dialokasikan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Sekretariat Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan. b. 5) Setelah dana tersebut sebagaimana dimaksud pada angka tiga (3) digunakan oleh Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas kesehatan lainnya (yang bekerjasama).

c. 1) Rekening Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai penanggungjawab program a/n Institusi dan dikelola Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota untuk pelayanan kesehatan dasar dan persalinan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.2) Alokasi Dana Alokasi dana Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota diperhitungkan berdasarkan perkiraan jumlah sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan di daerah tersebut dikalikan besaran biaya paket pelayanan persalinantingkat pertama.1 PENYALURAN DANA KE DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku penanggungjawab program. 2) Rekening Rumah Sakit untuk pelayanan persalinan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan yang menjadi satu kesatuan dengan dana pelayanan rujukan yang sudah berjalan selama ini. membuka rekening khusus Jamkesmas dalam bentuk giro bank. disalurkan langsung dari bank operasional Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)Jakarta V ke. atas nama Dinas Kesehatan (institusi) untuk 19 . c. Penyaluran Dana Dana Jamkesmas untuk pelayanan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta Jaminan Persalinan menjadi satu kesatuan.

Gedung Prof. HR Rasuna Said Blok X5 Kav. Membuat Plan of Action (POA) tahunan dan bulanan untukpelayanan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan sebagai 20 . c) Menteri Kesehatan membuat Surat Keputusan tentang penerima dana penyelenggaraan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar Untuk tiap Kabupaten/Kota yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan. d) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat surat edaran ke Puskesmas untuk: i. Jakarta Selatan 12950 Telp (021) 5221229. dan selanjutnya nomor rekening tersebut dikirim ke alamat: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.com b) Pengiriman Nomor rekening melalui surat resmi di tanda tangan Kepala Dinas Kesehatan dan menyertakan nomor telepon yang langsung dapat dihubungi. Kementerian Kesehatan. (021) 52922020. 5279409 E-mail: jamkesmas@yahoo. 5277543 Fax. 4-9.menerima dana Jamkesmas pelayanan dasar dan dana Jaminan Persalinan. Penyaluran dana dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan serta penyerapan kabupaten/kota.14 Jl. Lt. Sujudi. Dr.

c) Perkiraan besaran penyaluran dana pelayanan kesehatan dilakukan berdasarkan kebutuhan RS yang diperhitungan dari laporan pertanggungjawaban dana PPK Lanjutan. b. c.dasar perkiraan kebutuhan Puskesmas untuk pelayanan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan. b) Penyaluran Dana Pelayanan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI yang mencantumkan nama PPK Lanjutan dan besaran dana luncuran yang diterima. Plan of Action (POA) sebagaimana dimaksud merupakan bagian dari POA Puskesmas secara keseluruhan dan tertuang dalam lokakarya mini puskesmas. d.2 PENYALURAN DANAKE RUMAH SAKIT a) Dana Jamkesmas dan Jaminan Persalinan untuk Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan disalurkan langsung dari Kementerian Kesehatan melalui KPPN ke rekening Fasilitas Kesehatan Pemberi Pelayanan Kesehatan secara bertahap sesuai kebutuhan. Besaran Tarif Pelayanan Besaran tarif pelayanan jaminan persalinan di fasilitas kesehatan dasarditetapkan sebagaimana tabel berikut: 21 . ii.

misalnya ANC saja. 22 . 2) Pelayanan nomor 5 dilakukan pada Puskesmas yang mempunyai kemampuan dan sesuai kompetensinya 3) Apabila diduga/diperkirakan adanya risiko persalinan sebaiknya pasien sudah dipersiapkan jauh hari untuk dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih baikdan mampuseperti Rumah Sakit. persalinan saja atau PNCsaja.1) Klaim persalinan ini tidak harus dalam paket (menyeluruh) tetapi dapat dilakukan klaim terpisah.

pengelolaan dana tetap memperhatikan dan merujuk pada ketentuan pengelolaan keuangan yang berlaku. Tim ini berfungsi dan bertanggung dalam pelaksanaan penyelenggaraan Jamkesmas di wilayahnya. lancar. E. Pengelolaan dana Agar penyelenggaraan Jamkesmas termasuk Jaminan Persalinanterlaksana secara baik.4) Sedangkan besaran biaya untuk pelayanan Jaminan persalinan tingkat lanjutan menggunakan tarif paket Indonesia Case Base Group(INA-CBGs). pembayaran.1 PENGELOLAAN DANA JAMKESMAS DAN JAMINAN PERSALINANDI PELAYANAN DASAR Pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dibentuk Tim Pengelola Jamkesmas tingkat Kabupaten/Kota. e. Salah satu tugas dari Tim Pengelola Jamkesmas adalah melaksanakan pengelolaan keuangan Jamkesmas yang meliputi penerimaan dana dari Pusat. dan pertanggungjawaban klaim dari fasilitas kesehatan Puskesmas dan lainnya. 1) Kepala Dinas Kesehatan menunjuk seorang staf di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai pengelola keuangan Jamkesmas pelayanan dasar dan Jaminan Persalinan. transparan dan akuntabel. 2) Pengelola keuangan di Kabupaten/Kota harus memiliki buku catatan (buku kas umum) dan dilengkapi dengan buku kas 23 . verifikasi atas klaim. langkah-langkah pengelolaan dilaksanakan sebagai berikut.

dan pembukuan terbuka bagi pengawas intern maupun ekstern setelah memperoleh ijin Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. ii) Apabila tidak terdapat Perda tarif yang mengatur tentang hal tersebut dapat mengacu kepada Keputusan Bupati/Walikota atas usul Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Klinik 24 . Puskesmas melakukan pengajuan klaim atas: i) Pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan oleh Puskesmas dan jaringannya berdasarkan kepada Perda tarif yang berlaku di daerah tersebut. ii. 4) Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota melakukan pembayaran atas klaim dengan langkah sbb: i. 3) Pengelola keuangan Jamkesmas (termasuk Jaminan Persalinan) seyogyanya menjadi satu kesatuan dengan bendahara keuangan pengelolaan dana BOK agar terjadi sinergi dalam pelaksanaannya. Klaim pelayanan Jaminan Persalinan yang diajukan fasilitas/tenaga kesehatan swasta (Bidan praktik. iii) Pelayanan Persalinan mengacu pada paket-paket yang ditetapkan (lihat bagan tarif Pelayanan Jaminan Persalinan).pembantu untuk mencatat setiap uang masuk dan keluar dari kas yang terpisah dengan sumber pembiayaan yang lain.

4) Memberikan rekomendasi dan laporan pertanggungjawaban atas klaim-klaim tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan setiap bulan yang akan dijadikan laporan pertanggungjawaban keuangan ke 25 . Pembayaran atas klaim-klaim sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b dilakukan berdasarkan hasil Verifikasi yang dilakukan Tim Pengelola Kabupaten/Kota.Bersalin. 2) Pengecekan klaim dari fasilitas/tenaga kesehatan swasta yang memberikan pelayanan Jaminan Persalinan beserta bukti pendukungnya. Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota melakukan verifikasi atas klaim mencakup: 1) Kesesuaian realisasi pelayanan dan besaran tarif disertai bukti pendukungnya. d. dsb) yang telah memberikan pelayanan persalinan. 3) Melakukan kunjungan ke lapangan untuk pengecekan kesesuaian dengan kondisi sebenarnya bila diperlukan. sesuai tarif sebagaimana dimaksud (lihat tarif pelayanan persalinan ) c.

Dokumen pengeluaran dana dan dokumen atas klaim Jamkesmas dan Persalinan di Pelayanan Dasar oleh Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan swasta serta. Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota membuat dan mengirimkan Rekapitulasi Realisasi Laporan Penggunaan Dana pelayanan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar yang telah dibayarkan ke Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan swasta ke Tim Pengelola Pusat/Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan dengan tembusan ke Dinas Kesehatan 26 . 6. 7.Pusat. Jasa Giro/Bunga Bank harus disetorkan oleh Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota ke Kas Negara. disimpan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai dokumen yang dipersiapkan apabila dilakukan audit oleh Aparat Pengawas Fungsional (APF). b. Sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan negara. Bukti-bukti pendukung klaim sebagaimana dipersyaratkan. Seluruh berkas rincian bukti-bukti yakni. a. 5.

Provinsi. penerimaan dana. Adapun pengelolaan dana pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan adalah sebagai berikut. pencairan dana. Selanjutnya Laporan pertanggungan jawaban/klaim tersebut sebagaimana dimaksud angka 3 (tiga) dilaksanakan sebagaimana pertanggungjawaban yang selama ini telah berjalan di Rumah Sakit (sesuai pengaturan sebelumnya) 27 . dan pertanggungjawaban dana. Dana pelayanan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan dipelayanan kesehatan lanjutan disalurkan ke rekening Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dalam satu kesatuan (terintegrasi). 2. PENGELOLAAN DANA PADA FASILITAS KESEHATAN LANJUTAN Pengelolaan dana pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dilakukan mulai dari persiapan pencairan dana. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (Rumah Sakit/Balai Kesehatan) membuat laporan pertanggungjawaban/klaim dengan menggunakan INA-CBGs 3. E2. 1.

pelayanan nifas. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. evaluasi dan pelaporan. 6. KELENGKAPAN PERTANGGUNGJAWABAN KLAIM Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim PengelolaKabupaten/Kota dilengkapi: 1. Jasa Giro/Bunga Bank harus disetorkan oleh Rumah Sakit ke Kas Negara. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Apabila tidak 28 . 7. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan mengirimkan secara resmi laporan pertanggungjawaban/klaim dana Jamkesmas dan Jaminan Persalinan terintegrasi kepada Tim Pengelola Jamkesmas Pusat dan tembusan kepada Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/kota dan Provinsi sebagai bahan monitoring.4. Sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan negara. Seluruh berkas dokumen pertanggungjawaban dana disimpan oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan untuk bahan dokumen kesiapan auditkemudianolehAparatPengawasFungsional(APF) F.

Fotokopi identitas diri (KTP atau identitas lainnya) dari ibu hamil/yang melahirkan. 3. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. 2. 4. Fotokopi/tembusan surat rujukan. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh ibu hamil/ibu bersalin. Tim Pengelola Kabupaten/Kota menghubungi Pusat (Direktorat Kesehatan Ibu) terkait ketersediaan buku KIA tersebut.terdapat buku KIA pada daerah setempat dapat digunakan bukti-bukti yang syah yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. 29 .

persalinan saja atau PNC saja. b) Apabila diduga/diperkirakan adanya risiko persalinan sebaiknya pasien sudah dipersiapkan jauh hari untuk dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih baik dan mampu seperti Rumah Sakit. c) Besaran biaya untuk pelayanan persalinan tingkat lanjutan 30 .Keterangan : a) Klaim persalinan ini tidak harus dalam paket (menyeluruh) tetapi dapat dilakukan klaim terpisah. misalnya ANC saja.

menggunakan tarif paket Indonesia Case Base Group(INA-CBGs). Setelah Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas kesehatan lainnya (swasta yang bekerjasama). maka status dana tersebut berubah menjadi dana masyarakat (sasaran). 4. G. yang ada di rekening dinas kesehatan. 3. BIDANG PRAKTEK DAN SWASTA LAINYA 1. maka status dana tersebut berubah menjadi pendapatan/penerimaanfasilitas kesehatan. melakukan pelayanan kesehatan dan mendapatkan pembayaran klaim dari Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/kota. pembagiannya dapat diatur oleh 31 . Dana yang telah menjadi pendapatan Puskesmas sebagaimana dimaksud angka tiga (3) diatas. PEMANFAATAN DANA DI PUSKESMAS. Setelah dana tersebut disalurkan pemerintah melalui SP2D ke rekening Kepala Dinas Kesehatan sebagai penanggungjawab program. Dana jamkesmas dan dana persalinan terintegrasi dan merupakan dana belanja bantuan sosial yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan peserta Jamkesmas dan pelayanan persalinan bagi seluruh ibu hamil/bersalin yang membutuhkan. 2.

Pengaturan tersebut dapat dilakukan melalui beberapa pilihan sebagai berikut: a) Pilihan pertama: Pendapatan Puskemas tersebut masih bersifat bruto dan dapat langsung dibayarkan untuk jasa pelayanan kesehatan dan sisanya (setelah dibayarkan jasa pelayanan) dapat disetorkan ke Kantor Kas daerah sebagai pendapatan netto (setelah dipotong Jasa pelayanan). 32 . Pendapatan bruto dan bersih (netto) keduanya dilaporkan secara utuh kepada kantor kas daerah untuk dicatat b) Pilihan kedua : Pendapatan Puskesmas tersebut seluruhnya dilaporkan kepada kantor kas daerah (tidak secara fisik) untuk dicatat dan dana tersebut dapat digunakan langsung untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan dan keperluan kegiatan-kegiatan lainnya.Bupati atau Walikota melalui usulan kepala Dinas Kesehatan setempat disesuaikan dengan pengaturan yang telah atau akan diberlakukan didaerah tersebut.

5. dan (c). 6.(b). Klinik Bersalin. 33 . termasuk Bidan Praktik. tetapi dalam waktu paling lambat 1 (satu) bulan dana tersebut dikembalikan untuk membayar jasa pelayanan kesehatan dan kegiatan lainnya d) Jasa pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud huruf (a). dibayarkan sebesar minimal 50% dari pendapatan pelayanan kesehatan dasar program Jamkesmas dan minimal 75% untuk jasa tenaga kesehatan penolong persalinan. Dana yang telah menjadi pendapatan fasilitas kesehatan swasta (yang bekerjasama) sepenuhnya menjadi pendapatan fasilitas tersebut. Pengaturan sebagaimana dimaksud pada angka empat (4) diatur melalui peraturan Bupati/Walikota atas usul Kepala Dinas Kesehatan yang didasari atas surat keputusan Menteri Kesehatan tentang Petunjuk teknis pelaksanaan ini. Dokter Praktik.c) Pilihan ketiga : Dana hasil pendapatan Puskesmas tersebut disetorkan dan tercatat di kantor kas daerah sebagai pendapatan Puskesmas. dan sebagainya.

Ketua. tingkat provinsi. Sekretaris 34 . Pengelolaan kegiatan Jaminan Persalinan dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah. sampai tingkat kabupaten/kota. pemerintah provinsi. Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK TingkatPusat Menteri Kesehatan membentuk Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK Tingkat Pusat. Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK (bersifat lintas program). Pengelolaan kegiatan Jaminan Persalinan terintegrasi dengan kegiatan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan BOK. A. yang terdiri dari Pelindung. dan pemerintah kabupaten/kota.1. B. sampai tingkat kabupaten/kota. dan tingkat kabupaten/kota. Dalam pengelolaan Jaminan Persalinan dibentuk Tim Pengelola di tingkat pusat. PENGORGANISASIAN Pengorganisasian kegiatan Jaminan Persalinan dimaksudkan agar pelaksanaan manajemen kegiatan Jaminan Persalinan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK (bersifat lintas sektor). Pengorganisasian manajemen Jamkesmas dan BOKterdiri dari: A. TIM KOORDINASI 1.

4) Memberikan arahan untuk efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Jamkesmas dan BOK. Tim Koordinasi bersifat lintas sektor terkait. Struktur Tim KoordinasiJamkesmas dan BOKTingkat Pusat: 1) Pelindung : Menteri Kesehatan 2) Ketua : Sekretaris Utama Kemenko Kesra 3) Sekretaris : Sekretaris JenderalKemenkes 4) Anggota : a) Irjen Kemenkes 35 . a.dan Anggota. Tugas Tim KoordinasiJamkesmas dan BOKTingkat Pusat: 1) Menentukan strategi dan kebijakan nasional pelaksanaan Jamkesmas dan BOK. diketuai oleh Sekretaris Utama Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan anggota terdiri dari Pejabat Eselon I Kementerian terkait dan unsur lainnya. 2) Melakukan pengendalian dan penilaian pelaksanaan kegiatan Jamkesmas dan BOK secara nasional. 3) Menjadi fasilitator lintas sektor tingkat pusat dan daerah. b.

Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK TingkatProvinsi Gubernur membentuk Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK Tingkat 36 .b) Dirjen BAKD Kemendagri c) Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu d) Dirjen Anggaran Kemenkeu e) Deputi BidangSDM dan KebudayaanBappenas f) Dijren Bina Upaya Pelayanan Kesehatan g) Dirjen Bina Gizi dan KIA Kemenkes h) Dirjen P2PLKemenkes i) Kepala Badan Litbangkes Kemenkes j) Staf Ahli Menteri Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan MasyarakatKemenkes k) Staf Ahli Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi Kemenkes 5) Sekretariat : a) Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kemenkes b) Setditjen Bina Gizi dan KIAKemenkes 2.

Tim Koordinasi bersifat lintas sektor terkait dalam pelaksanaan Jamkesmas dan BOK. diketuai oleh Sekretaris Daerah Provinsi dengan anggota terdiri dari pejabatterkait. Sekretaris dan Anggota. Ketua. yang terdiri dari Pelindung. Struktur Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK Tingkat Provinsi: 1) Pelindung : Gubernur 2) Ketua : Sekretaris Daerah Provinsi 3) Sekretaris : Kepala Dinas KesehatanProvinsi 4) Anggota : a) Kepala Bappeda Provinsi 37 . a. 3) Melakukan pengendalian dan penilaian pelaksanaan kegiatan Jamkesmas dan BOK di tingkat provinsi. Tugas Tim KoordinasiJamkesmas dan BOKTingkat Provinsi: 1) Menjabarkan strategi dan kebijakan pelaksanaan Jamkesmas dan BOK tingkat provinsi.Provinsi. b. 2) Mengarahkan pelaksanaan kebijakan Jamkesmas dan BOK sesuai kebijakan nasional.

Ketua. diketuai oleh Sekretaris DaerahKabupaten/Kota dengan anggota terdiri dari pejabat terkait. a. Tugas Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota: 1) Menjabarkan strategi dan kebijakan pelaksanaan Jamkesmas dan BOK tingkat kabupaten/kota. yang terdiri dari Pelindung. Tim Koordinasi bersifat lintas sektor terkait dalam pelaksanaan Jamkesmas dan BOK. 3) Melakukan pengendalian dan penilaian pelaksanaan 38 . Sekretaris dan Anggota.b) Ketua Komisi DPRD Provinsi yang membidangi kesehatan c) Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi d) Lintas sektor terkait sesuaikebutuhan 3. 2) Mengarahkan pelaksanaan kebijakan Jamkesmas dan BOK sesuai kebijakan nasional. Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK TingkatKabupaten/Kota Bupati/Walikota membentuk Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota.

Tim Pengelola Tingkat Provinsi.kegiatan Jamkesmas dan BOK di tingkat kabupaten/ kota. Struktur Tim Koordinasi Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota: 1) Pelindung : Bupati/Walikota 2) Ketua: Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota 3) Sekretaris : Kepala Dinas KesehatanKabupaten/Kota 4) Anggota : a) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota b) Ketua Komisi DPRD Kabupaten/Kota yang membidangi kesehatan c) Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota d) Lintas sektor terkait sesuai kebutuhan B. dan Tim Pengelola Tingkat Kabupaten/Kota serta Puskesmas. b. TIM PENGELOLA JAMKESMAS DAN BOK Dalam pengelolaan kegiatan Jamkesmas dan BOK dibentuk Tim Pengelola Tingkat Pusat. Tim Pengelola 39 . 4) Menjadi fasilitator lintas sektor tingkat kabupaten/kota dan Puskesmas.

Pelaksana dan Sekretariat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Wakil Ketua. Pelaksana terdiri dari Ketua. pejabat eselon III dan pejabat eselon IV 40 . Penanggung jawab adalah Menteri Kesehatan. 1. Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Pusat terdiri dari Penanggung Jawab. Sekretariat terdiri dari Ketua. dengan Ketua adalah Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua adalah Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA. Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Pusat Menteri Kesehatan membentuk Tim Pengelola BOK terintegrasi dengan kegiatan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan kegiatan Jaminan Persalinan (Jampersal).bersifat lintas program di Kementerian Kesehatan. Sekretaris dan Anggota yang merupakan Pejabat Eselon I dan Pejabat Eselon II di lingkungan Kemenkes. danDinas Kesehatan Kabupaten/Kotaserta Puskesmas. Sekretaris dan Anggota yang merupakan pejabat eselon II. Dinas Kesehatan Provinsi. Pengarah. sedangkan Pengarah terdiri dari pejabat eselon I di lingkungan Kemenkes.

a.di lingkungan Kemenkes. SusunanTim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Pusat: 1) Penanggung Jawab : Menteri Kesehatan 2) Pengarah : a) Ketua : Sekretaris Jenderal Kemenkes b) Anggota : Para pejabat eselon I terkait di lingkungan Kemenkes 3) Pelaksana : a) Ketua Pelaksana I : Dirjen Bina Upaya Kesehatan b) Ketua Pelaksana II : Dirjen Bina Gizi dan KIA 4) Anggota : Para pejabat eselon II dan IIIterkait 5) Sekretariat : a) Sekretariat IBidang Jamkesmas 41 .

yang melibatkan berbagai unit utama di lingkungan KementerianKesehatan. Ketua : Sesditjen Bina Gizi dan KIA 2. b) Sekretariat IIBidangBOK 1. Ketua : Kepala P2JK 2.1. Sekretaris : Kepala Bidang Pembiayaan P2JK 3. Anggota : Semua Kabid/Kabag dan Kasubbid/Kasubbag di lingkungan P2JK Sekretariat didukung oleh koordinator-koordinator bidang sesuai kebutuhan. Sekretaris : Kabag Keuangan Setditjen Bina Gizi dan KIA 3. Anggota : Seluruh Kabag di lingkungan Setditjen Bina Gizi dan KIA Sekretariat didukung oleh koordinator-koordinator 42 .

bidang sesuai kebutuhan. yang melibatkan berbagai unit utama di lingkungan KementerianKesehatan. b) Melakukan pengawasan dan pembinaan atas kebijakan yang telah ditetapkan. c) Melakukan sinkronisasi dan koordinasi terkait pengembangan kebijakan. penataan 43 . a. 2) Pelaksana a) Merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pengarah. pelaksanaan Jamkesmas dan BOK agar sejalan dengan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan Perpres Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014. Tugas Tim PengelolaJamkesmas dan BOKTingkat Pusat: 1) Pengarah a) Merumuskan dan menetapkan kebijakan operasional dan teknis. b) Menyusun pedoman teknis pelaksanaan. d) Memberikan masukan dan laporan kepada Menteri Kesehatan terkait pelaksanaan Jamkesmas dan BOK.

h) Membuat laporan hasil penyelenggaraan Jamkesmas 44 . d) Melaksanakan pertemuan berkala dengan pihak terkait dalam rangka koordinasi. standar. sosialisasi.sasaran. e) Melaksanakan advokasi. prosedur dan kriteria dalam penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK. otorisasi dan realisasi pembayaran klaim dan mengusulkan kebutuhan anggaran pelayanan kesehatan. sinkronisasi dan evaluasi penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK. sinkronisasi penyelenggaraanJamkesmas dan BOK. monitoring dan pengawasan seluruh kegiatan sesuai dengan kebijakan teknis dan operasional yang telah ditetapkan. penataan fasilitas pelayanan kesehatan (pemberi pelayanan kesehatan) dalam rangka penyelenggaraan Jamkesmas. c) Menyusun dan mengusulkan norma. f) Menyusun perencanaan. evaluasi. g) Melakukan telaah hasil verifikasi.

prosedur dan kriteria penyelenggaraanJamkesmas dan BOK e) Menyiapkan dan menyusun bahan-bahan bimbingan teknis. c) Membantu kelancaran administrasi pelaksanaan tugas Tim Pengelola. evaluasi penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK f) Membantu pengarah dan pelaksana dalam melakukan advokasi. monitoring. d) Menyiapkan norma.dan BOK kepada pengarah. standar. sosialisasi. 3) Sekretariat Bidang I danBidang II a) Memberikan masukan kepada Tim Pengelola (pengarah dan pelaksana) terkait penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK b) Menyiapkan dan menyusun pedoman pelaksanaan Jamkesmas dan BOK sesuai dengan arah kebijakan pengarah dan rumusannya. monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK 45 .

Susunan Tim PengelolaJamkesmas dan BOKTingkat Provinsi: 46 . i) Membuat laporan secara berkala kepada pengarah dan pelaksana. TimPengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Provinsi Tim Pengelola Jamkesmas sekaligus sebagai Tim Pengelola BOK. 2.g) Melaksanakan pelatihan-pelatihan terkait penyiapan SDM dalampelaksanaanJamkesmas dan BOK di pusat. Kegiatan Jamkesmas (termasuk Jampersal) terintegrasi dalam pengelolaan dengan kegiatan-kegiatan BOK. Kegiatan manajemen Jamkemas dan BOK di provinsi dibiayai melalui dana Dekonsentrasi Pengelolaan Jamkesmas dari Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (P2JK) Sekretariat Jenderal KementerianKesehatan. a. provinsi dan kabupaten/kota h) Melakukan analisis aspek kendali biaya dan kendali mutu. karena itu semua bidang yang ada pada Dinas Kesehatan Provinsi harus masuk dalam struktur organisasipengelola ini.

1) Pelindung : Sekretaris DaerahProvinsi 2) Penanggungjawab : Kepala Dinas Kesehatan Provinsi 3) Pelaksana : a) Ketua : Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi b) Anggota : Seluruh Kepala Bidangpada DinasKesehatan Provinsi c) Sekretariat: Ketua : Salah satu Kepala Bidang yang ada di Dinas Kesehatan Provinsi Koordinator Bidang Jamkesmas (termasuk Jampersal) Koordinator Bidang BOK Setiap sekretariat sesuai kebutuhan b. 47 . Tugas Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Provinsi adalah: 1) Melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Pusat.

4) Melakukan pembinaan (koordinasi dan evaluasi) terhadap pelaksanaan kegiatan Jamkesmas dan BOK di kabupaten/kota.2) Berrtanggungjawab dalam pengelolaan manajemen penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK secara keseluruhan di wilayah kerjanya. 8) Mengkoordinasikan manajemen administrasi keuangan Jamkesmas dan BOK. 3) Mengkoordinasikan manajemen kepesertaan. 5) Melatih tim pengelola Jamkesmas dan BOK tingkat kabupaten/ kota. 7) Mengupayakan peningkatan dana untuk operasional Puskesmas dan manajemen Jamkesmas dan BOK dari sumber APBD. 48 . 6) Menyampaikan laporan dari hasil penyelenggaraan kegiatan Jamkesmas dan BOK Kabupaten/ Kota ke Tim Pengelola Jamkesmas dan BOKTingkat Pusat. pelayanan dan administrasi keuangan dalam penyelenggaraan Jamkesmas.

11) Membuat laporan secara berkala atas pelaksanaan Jamkesmas dan BOK di wilayah kerjanya kepada Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Pusat. 10) Memfasilitasi pertemuan secara berkala dengan Tim Koordinasi sesuai kebutuhan dalam rangka sinkronisasi.9) Melakukan pembinaan. harmonisasi. 12) Menangani penyelesaian keluhan dari para pihak. dan penyelesaian masalah lintas sektor yang terkait dengan penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK di provinsi. 13) Meneruskan hasil rekruitmen PPK dari Dinkes Kabupaten/Kota ke Pusat. pengawasan dan pengendalian terhadap unit-unit kerja yang terkait dalam penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK di wilayah kerjanya. 14) Memonitor pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) yang menyelenggarakan 49 . evaluasi.

Tim pengelola Jamkesmas sekaligus menjadi Tim Pengelola BOK. Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK didukung oleh pembiayaan yang berasal dari dana manajemen BOK (bersumber dari dana Tugas Perbantuan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA Kemenkes) 50 . 16) Menyusun dan menyampaikan laporan atas semua hasil pelaksanaan tugas penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK kepada Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Pusat. Untuk melaksanakan kegiatan manajemen Jamkesmas dan BOK.Jamkesmas di wilayah kerjanya. Jaminan Persalinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam penyelenggaraan Jamkesmas. 15) Melakukan pengawasan dan pemeliharaan terhadap inventaris barang yang telah diserahkan Kementerian Kesehatan untuk menunjang pelaksanaan Jamkesmas dan BOK di daerahnya. 3. TimPengelola Jamkesmas dan BOK TingkatKabupaten/Kota Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas dan fungsinya terintegrasi menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Untuk berjalannya tugas dan fungsi Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK secara serasi. dan terintegrasi.Sedangkan honor Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK. Tugas Tim Pengelola Kabupaten/Kota 51 . Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota 1) Susunan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai penanggung jawab pengelolaan Jamkesmas dan BOK membentuk Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota. disediakan dari dana Dekonsentrasi Jamkesmas (untuk 5 orang dari Tim Pengelola) dan dari dana Tugas Pembantuan BOK (untuk 7 orang dari Tim Pengelola). Besaran dana disesuaikan dengan Standar Biaya Umum yang berlaku. harmoni. maka pengorganisasian Jamkesmas dan BOK melibatkan seluruh struktur yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan demikian pengelolaannya tidak dilakukan oleh satu bidang saja di Dinas Kesehatan. a.

Susunan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari: a) Pelindung : Sekretaris Daerah b) PenanggungJawab: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota c) Pelaksana 1. 52 . diutamakan bidang yang bertanggung jawab dalam Jaminan Kesehatan Monitoring.terintegrasi meliputi seluruh kegiatan pengelolaan Jamkesmas (termasuk Jampersal) dan BOK. Ketua : Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 2. Anggota : Seluruh Kepala Bidang di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 3. Sekretariat : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

2) Tugas Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Kabupaten/Kota a) Melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOKTingkat Pusat. c) Melakukan pembinaan (koordinasi dan evaluasi) 53 .Evaluasi dan Pelaporan Pengelolaan Jamkesmas dan BOK Klaim Pengelolaan Jamkesmas dan BOK (tiga) orang staf Tugas Sekretariat Tim Pengelola Jamkemas dan BOK secara keseluruhan sebagai pendukung (supporting) kelancaran pelaksanaan pengelolaan Jamkesmas dan BOK. b) Mempertanggungjawabkan manajemen penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK secara keseluruhan di wilayah kerjanya.

monitoring.terhadap pelaksanaan kegiatan Jamkesmas dan BOK di kabupaten/kota. d) Melakukan pembinaan. e) Memfasilitasi pertemuan secara berkala dengan tim koordinasi sesuai kebutuhan dalam rangka evaluasi. f) Mengkoordinasikan manajemen pelayanan dan administrasi keuangan dalam penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK di kabupaten/kota. pengawasan dan pengendalian terhadap unit-unit kerja yang terkait dalam penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK di wilayah kerjanya (termasuk pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas pelayanan lanjutan). g) Melakukan sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK. 54 . pembinaan dan penyelesaian masalah lintas sektor yang terkait dengan penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK di kabupaten/kota.

l) Melakukan verifikasi dan membayar atas klaim yang diajukan oleh fasilitas kesehatan yang melaksanakan Jaminan Persalinan (Jampersal). k) Melakukan verifikasi atas semua kegiatan Jamkesmas dan BOK yang dilaksanakan Puskesmas berdasarkan usulan kegiatan sebelumnya. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK. m) Menangani penyelesaian keluhan terkait dalam penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK. evaluasi.h) Melakukan monitoring. j) Menyalurkan dana kepada Puskemas yang didasarkan atas usulan-usulan kegiatan-kegiatan Jamkesmas dan BOK yang disetujui dan ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan atau pejabat yang diberikan kewenangan oleh Kepala Dinas KesehatanKabupaten/Kota. n) Melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 55 . i) Melakukan telaah atas kegiatan (POA) Jamkesmas dan BOK yang diusulkan Puskesmas.

p) Mengupayakan peningkatan dana untuk operasional dan manajemen Puskesmas melalui BOK dan peningkatan dana kepesertaan Jaminan Kesehatan dari sumber APBD. q) Melakukan pengawasan dan pemeliharaan terhadap inventaris barang yang telah diserahkan Kementerian Kesehatan untuk menunjang pelaksanaan Jamkesmas dan BOK didaerahnya. r) Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan dan hasil kinerja kepada Tim Pengelola Jamkesmas dan 56 . o) Selaku pembina verifikator independen melakukan pembinaaan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan verifikator independen di daerahnya. termasuk di dalamnya adalah melakukan evaluasi kinerja terhadap kegiatan verifikator independen.fasilitas pelayanan kesehatan swasta yang berkeinginan menjadi jaringan Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jaminan Persalinan diwilayah kerjanya.

Cakupan penanganan komplikasi kebidanan e. Cakupan pelayanan nifas f. Indikator Kinerja Program a. Cakupan persalinan di fasyankes 57 . Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan Jaminan Persalinan sebagai dasar dalam menilai keberhasilan dan pencapaian pelaksanaan Jaminan Persalinan digunakan beberapa kelompokindikator-indikator sebagai berikut : A. Cakupan K4 c. 2.1. INDIKATOR KEBERHASILAN. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan d.BOKTingkat Pusat s) Menyusun dan menyampaikan laporan atas semua pelaksanaan tugas penyelenggaraan Jamkesmas dan BOK kepada Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Tingkat Pusat melalui Dinas Kesehatan Provinsi setempat. Cakupan K1 b. PEMANTAUAN DAN EVALUASI A.

Pemantauan Dan Evaluasi Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program Jaminan Persalinan terintegrasi dengan program Jamkesmas sebagaimana diatur dalam Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas. Indikator KinerjaPendanaan dan Tata Kelola Keuangan a.2. Tujuan Pemantauan perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesesuaian antara rencana program dan pelaksanaan di lapangan. 58 .g. c. b. Cakupan peserta KB pasca persalinan h. B. Cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) j. Tersedianya dana jaminan persalinan pada seluruh daerah sesuai kebutuhan. Termanfaatkannya dana bagi seluruh ibu hamil/bersalin yang membutuhkan.1. Cakupan penanganan komplikasi neonatal A. B. Terselenggaranya proses klaim dan pertanggungjawaban dana Jaminan Persalinan untuk pelayanan dasar dan pelayanan rujukan persalinan secara akuntabel. Cakupan kunjungan neonatal 1 (KN1) i.

triwulan. pencatatan. Mekanisme Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala baik bulanan.2. Provinsi dan Kabupaten/Kota) b. B.sedangkan evaluasi bertujuan melihat pencapaian indikator keberhasilan. Supervisi C. semester maupun tahunan oleh Pusat dan Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota melalui kegiatan-kegiatan sbb: a. Pengolahan dan analisis data c.3. Penanganan Keluhan 59 . Pertemuan koordinasi (tingkat Pusat. Ruang Lingkup 1) Data peserta. dan penanganan keluhan 2) Pelaksanaan pelayanan ibu hamil yang meliputi jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rujukan 3) Kualitas pelaksanaan pelayanan kepada ibu hamil 4) Pelaksanaan penyaluran dana dan verifikasi pertanggung jawaban dana 5) Pelaksanaan verifikasi penggunaan dana program 6) Pengelolaan program di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota B.

Penyampaian keluhan berguna sebagai masukan untuk perbaikan dan peningkatan program. Penyampaian keluhan dapat disampaikan oleh peserta, pemerhati, dan petugas fasilitas kesehatan kepada pengelola program di Dinas Kesehatan, baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota dengan memperhatikan prinsip: i. Keluhan harus direspon secara cepat dan tepat ii. Penanganan keluhan dilakukan pada tingkat terdekat dengan masalah dan penyelesaiannya dapat dilakukan secara berjenjang. iii. Penanganan keluhan dapat memanfaatkan unit yang telah tersedia di fasilitas kesehatan maupun Dinas Kesehatansetempat. D. Pembinaan Dan Pengawasan D.1. Pembinaan bertujuan agar pelaksanaan program lebih berdaya guna dan berhasil guna. Pembinaan dilakukan secara berjenjang sesuai dengan tugas dan fungsinya, diantaranya: a. Pembinaan dalam penyusunan POA program b. Pembinaaan dalam pelaksanaan program di lapangan c. Pembinaan dalam pertanggungjawaban dana dan tatalaksana dan tatakelola keuangan serta pemanfaatan dana 60

d. Pembinaan dalam proses verifikasi e. Pembinaan dalam proses sistem informasi manajemen D.2. Pengawasan dilakukan secara: a. Pengawasan melekat b. Pengawasan fungsional E. Pencatatan, Pelaporan, Dan Umpan Balik Untuk mendukung pemantauan dan evaluasi diperlukan pencatatan dan pelaporan pelaksanaan program secara rutin setiap bulan. E.1. Pencatatan Hasil kegiatan pelayanan program dilakukan oleh fasilitas kesehatan pada register pencatatan yang ada. E.2. Pelaporan a. Fasilitas kesehatan wajib melaporkan rekapitulasi pelaksanaan program kepada Dinkes Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola pada tanggal 5 (lima) setiap bulannya. b. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota wajib melakukan rekapitulasi laporan dari seluruh laporan hasil pelaksanaan program di wilayah Kabupaten/Kota setempat dan melaporkannya kepada Dinas 61

Kesehatan Provinsi setiap tanggal 10 (sepuluh) setiap bulannya. c. Dinas Kesehatan Provinsi selaku Tim Pengelola Provinsi wajib melakukan rekapitulasi laporan hasil kegiatan dari setiap Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan melaporkannya kepada Pusat setiap tanggal 15(lima belas) setiap bulannya. d. Kementerian Kesehatan/Tim Pengelola Pusat wajib melakukan rekapitulasi laporan dari setiap provinsi untuk menjadi laporan nasional setiap bulan/trimester/semester/tahun. E.3. Umpan Balik Laporan umpan balik mengenai hasil laporan pelaksanaan program dilaksanakan secara berjenjang, yaitu Kementerian Kesehatan/Tim Pengelola Pusat akan melakukan analisis dan memberikan umpan balik kepada Dinas Kesehatan Provinsi/Tim Pengelola Provinsi dan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Provinsi/Tim Pengelola Provinsi memberikan umpan balik ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan seterusnya. 62 63

Sejak awal sudah muncul perdebatan-perdebatan. yang kadang-kadang muncul pemakaian istilah 64 . karena begitu banyak hal-hal di tingkatan teknis yang perlu mendapatkan perhatian. dan bayi baru lahir. dan akuntabel. Aturan Jampersal yang multi tafsir Banyak pihak yang mengeluhkan aturan pelaksanaan jampersal yang menimbulkan kerancuan sehingga menimbulkan perdebatan. Salah satunya adalah aturan aturan pelaksanaan Jampersal mengenai kriteria yang dapat ditanggung pembiayaannya.TU/Menkes/E/391/II/2011 Jampersal mempunyai tujuan yang sangat mulia. Berikut ini beberapa masalah atau kendala yang muncul: A. bersalin. meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan. sejak resmi digulirkan pada 22 Februari 2011 melalui Surat Edaran Menteri Kesehatan No. yakni untuk mempercepat pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 khususnya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Namun realitasnya jaminan Persalinan (Jampersal) hingga kini masih menyimpan sejumlah masalah terutama implementasinya di lapangan. meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil. Jampersal bertujuan untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. nifas. meningkatkan cakupan pelayanan KB pasca persalinan. efektif. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan.BAB III ISI DAN PEMBAHASAN Pada praktiknya. dan yang tidak ditanggung pembiayaannya terkait persalinan masih ada yang multi tafsir. transparan. Termasuk pada petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis). serta terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. pertolongan persalinan.

Sehingga pada saat ada pemeriksaan keuangan. Termasuk pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. karena intinya begitu besar alokasi dana yang disiapkan untuk itu.Bagi pelaksana. maka ini bisa menimbulkan persoalan. dan berdampak pada masalah hukum. tetapi tidak ada kata “harus”. Mana yang “bisa” dibiayai. hal ini tentu membahayakan karena mereka bisa dianggap melakukan mark-up atau penggelembungan dana. Kemudian. SOLUSI : Aturan Jampersal harus dipertajam dan ditegaskan lagi. tetapi tidak ada kata “harus”. banyak yang mengeluhkan sejumlah aturan yang rancu. Lebih teknis lagi. ada ketentuan-ketentuan yang masih dianggap multi tafsir.“bisa” bukan “harus”. Artinya. Begitu banyak hal-hal di tingkatan teknis yang perlu mendapatkan perhatian. Seperti halnya disebut penanganan prakondisi melahirkan “bisa” dibiayai. Hal-hal teknis yang multi tafsir. kemudian ditengarai itu tidak perlu ditanggung pembiayaannya. membuat pelaksanaannya di sejumlah daerah menjadi kacau. yang kadang-kadang muncul pemakaian istilah “bisa” bukan “harus”. tetapi ternyata malah ikut dibiayai. harus diperjelas juga mengenai apa yang disebut sebagai rujukan (atau dirujuk) ke Rumah Sakit. 65 . Harus diperjelas lagi tentang kriteria kepesertaan maupun yang terkait dengan tindakan yang memang disiapkan untuk pembiayaannya.Seperti halnya disebut penanganan prakondisi melahirkan “bisa” dibiayai. dan “harus” dibiayai menjadi tak jelas.

Inilah saya kira yang perlu dicermati betul. khususnya bidan swasta keberatan dengan program tersebut.000 dari Rp 350. sehingga ia akan mendapatkan imbalan Rp 100. terkait juklak dan juknis yang ada. program ini dianggap tidak menghargai profesi kebidanan.000 yang disiapkan untuk persalinan normal. Banyak bidan di beberapa daerah. Banyak bidan yang tidak mau melayani Jampersal Meski sudah diluncurkan secara nasional. maka Bidan yang memberi rujukan tersebut akan diberi imbalan sebesar Rp 100. Bidan yang memeriksa kandungan dan menganggap bahwa terjadi halhal khusus atau kelainan pada kandungan. namun program Jampersal (Jaminan Persalinan) masih berjalan terseok-seok. ada biaya yang tetap akan dibantu untuk menyelesaikan itu. sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit. kalau aturan ini tidak dicermati dan diantisipasi secara jeli. Alasannya dikarenakan anggaran yang disediakan untuk penanganan program jampersal terlalu kecil. B. 66 . Ada kalanya. Terutama tentang harga jasa yang ditawarkan pemerintah untuk biaya Jampersal untuk persalinan normal yang hanya berkisar sebesar Rp350 ribu dan biaya kontrol Rp10 ribu setiap kali kontrol. apabila ada kelainan kandungan dan mesti dirujuk ke Rumah Sakit.000 daripada menangani persalinan normal dengan pembiayaan sebesar Rp 350. maka tercipta peluang bahwa ada Bidan -meskipun tidak semua Bidan melakukan hal demikian. Walaupun. supaya tidak multi tafsir.akan lebih senang mengambil keputusan untuk merujuk saja ke Rumah Sakit. termasuk perawatan bayi sampai 28 hari. Sempat menjadi pro-kontra di kalangan bidan karena.000.Sebagai contoh.

Penolakan ini juga dilatarbelakangi tanggung jawab bidan yang dinilai sangat berat karena harus menolong dua nyawa sekaligus. Jampersal Gagal Jaring Peserta Baru KB Program Jaminan Persalinan (Jampersal) belum optimal sebagai sarana menjaring peserta baru program keluarga berencana (KB). Disamping itu alasan keberatan juga dikarenakan kurangnya kevalidan data masyarakat miskin sehingga tidak menutup kemungkinan masyarakat mampu masuk dalam program ini. Dengan adanya keberatan oleh beberapa bidan di daerah membuat program Jampersal belum berjalan secara optimal. sedangkan persalinan membutuhkan tenaga kerja yang besar dan beresiko. Memperbaiki kevalidan data masyarakat miskin agar program ini tepat pada sasaran yang dituju. Sehingga belum cukup untuk membayar tenaga dan keahlian seorang bidan. C. 67 . Hal ini memperjelas bidan-bidan mana saja yang bersedia melayani program Jampersal. bidan juga harus membeli obatobatan dan menyediakan alat medis. Meningkatkan alokasi anggaran untuk program Jampersal menginggat pentingnya program ini untuk menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia. Selain itu. SOLUSI : Untuk mendapatkan layanan Jampesal pada bidan praktek ataupun klinik harus ada dulu MOU (memorandum of understanding) atau adanya kerja sama antara pihak klinik dengan dinas kesehatan kabupaten/kota. Itu di sebabkan karena rendahnya alokasi kompensasi biaya persalinan yang diberikan pemerintah menjadi factor utama minimnya peran Jampersal dalam menarik akseptor (peserta) baru KB.

kelahiran ketiga keempat atau seterusnya jika melahirkan di RSUD kelas III. Selain itu juga pemerintah juga harus lebih giat lagi dalam sosialisasikan program KB. Buktinya. Ibu muda dari keluarga kurang mampu asal Padang. 68 . banyak masyarakat di Sumatra Barat tidak tahu bahwa program tersebut telah digratiskan oleh pemerintah. puskeskmas atau bidan desa tetap gratis. Seusai melahirkan. Selain itu pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas para tenaga dalam menyampaikan informasi-informasi akan pentingnya KB ini. Sehingga prosentase dari kematian ibu bisa menurun. sebagai tahun pertama program Jampersal tidak dibatasi kelahirannya.SOLUSI : Dari masalah tersebut seharusnya pemerintah menaikkan biaya kompensasi persalinan. Alex Indra Lukman menduga program Jampersal sengaja didiamkan. Penyebaran informasi tentang Jampersal tidak merata Program prorakyat miskin ini masih jadi pertanyaan sejumlah kaum ibu di sejumlah kota besar seperti di Sumatra Barat. Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatra Barat. 27. D. itu melahirkan bayi perempuan di salah satu puskesmas di Padang beberapa hari lalu. Minimnya sosialisasi program Jampersal itu diakui Sarti. dibatasi untuk kelahiran putra pertama dan kedua saja. Padahal Program tersebut memberikan peluang kepada warga Indonesia yang tidak tertampung di Jamkesmas maupun Jamkesda. Agar para ibu-ibu bisa dengan mudah ikut dan tertarik dalam program KB ini. Mereka mengaku tidak mengetahui bila biaya melahirkan itu digratiskan. Tapi untuk 2012. Sarti malah diharuskan membayar uang persalinan oleh pihak Puskesmas.

Jika kota besar seperti padang bisa tidak merata. Dengan memberitakan dari desa kedesa terlebih dahulu. 69 . seharusnya sosialisasi program JAMPERSAL ini harus merata. Lalu di kota selalu memberikan informasi yang jelas terkait JAMPERSAL. terlebih tentang persalinan yang aman dan baik bagi bumil (Ibu Hamil). agar dari berbagai pihak-pihak tidak merasa dirugikan. karena tiap pasien berhak mengetahui tentang berbagai informasi terkait masalah kesehatan. apalagi kota kecil atau bahkan desa. karena sasaran utama dari JAMPERSAL adalah warga Indonesia yang tidak tertampung di jamkesmas maupun jamkesda.Oleh karena itu.

Sasaran jampersal adalah ibu – ibu hamil yang belum mempunyai jaminan kesehatan/persalinan. sebaiknya diperata lagi. . dan bayi baru lahir yang dilahirkannya (post natal) ke tenaga kesehatan. memberikan kemudahan akses pemeriksaan kehamilan (antenatal). namun realitasnya jaminan Persalinan (Jampersal) hingga kini masih menyimpan sejumlah masalah terutama implementasinya di lapangan. yaitu program pemeriksaan kehamilan (antenatal). Dari beberapa permasalahan diatas dapat disimpulkan bahwa aturan jampersal yang kurang jelas. harus lebih di jelaskan lagi dan dipertajan lagi. 70 . persalinan. Jampersal bertujuan untuk menurunkan AKI dan AKB. serta penyebaran informasi tentang jampersal kurang merata. serta terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien.BAB IV KESIMPULAN JAMPERSAL merupakan singkatan dari Jaminan Persalinan. Misalnya. persalinan dan pemeriksaan masa nifas (postnatal) bagi seluruh ibu hamil yang belum mempunyai jaminan kesehatan serta bayi yg dilahirkannya pada fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan program. dan akuntabel. transparan. efektif. banyak bidan yang tidak mau melayani jampersal. dan pelayanan nifas ibu. Jampersal mempunyai banyak tujuan yang sangat mulia. agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. aturan jampersal yang multi tafsir. penyebaran informasi tentang jampersal yang kurang merata. jampersal gagal menjaring peserta baru KB.

Selain itu. Agar jampersal ini berjalan dengan lancar. Intinya disini ialah jampersal membutuhkan anggaran biaya yang tidak sedikit. dalam hal ini peran pemerintah juga sangat dibutuhkan. dan menyiapkan tenaga – tenaga kesehatan yang benar – benar terampil dalam menyampaikan informasi. Pemerintah harus menyediakan anggaran yg cukup untuk persalian. maka perlu adanya peran pemerintah . para tenaga kesehatan dan tentunya masyarakat luas. agar ibu – ibu itu dapat tertarik dalam program ini. 71 .

06 http://www. Diunduh pada tanggal 29 September 2011 pukul 13. Diunduh pada tanggal 29 September 2011 pada pukul 2 Oktober 2011 pada pukul 16.com. Diunduh pada tanggal 6 Oktober 2011 pada pukul 14. Diunduh pada tanggal 1 Oktober 2011 pada pukul 18.dinkesjatengprov. Diunduh pada tanggal 1 Oktober 2011 pada pukul 21.06 http://berkecukupan.suarapembaruan.com/?mod=berita&today=detil&id=31724.com/berita/274205/dinkes-banyak-bidan-tidak-mau-layanijampersal.com/menkes-keluarkan-juknis-jampersal/ Diunduh pada tanggal 6 Oktober 2011 pada pukul 13.jamsosindonesia. Diunduh pada tanggal 30 September 2011 pada pukul 14. Diunduh pada tanggal 30 September 2011 pada pukul 14.pdfDi unduh pada tanggal 5 November 2011 pada pukul 20.08 http://www.com.antaranews.14 .17 http://www.jamsosindonesia.29 http://www.id/dokumen/Rakernis2011/juknis_Jampers al.go.html.beritajatim.com/opini.08 http://www.com/berita/kementerian_kesehatan_kucurkan_dana_jamper sal.com/home/ongkos-jampersal-naik-rp-540000-pada2012/10912. Diunduh pada tanggal 1 Oktober 2011 pada pukul 20.blogspot.09 http://mediabidan.com/2011/09/gratis-biaya-persalinan.35 http://padang-today.Daftar Pustaka http://mediaindonesia.58 http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful