1.

Pneumothorax
A. Definisi
Pneumothorax adalah keadaan dimana terdapat udara atau gas dalam rongga pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang di dalam rongga dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan oleh : a) Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari alveolus akan memasuki kavum pleura.Pneumothorax jenis ini disebut sebagai closed pneumothorax.Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya,udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension pneumothorax. b) Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea,maka udara cenderung lebih melewati lubang tersebut disbanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi,tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral.Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai open pneumothorax.

B. Klasifikasi/jenis
 Klasifikasi Menurut penyebabnya, pneumotoraks dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 1. Pneumotoraks spontan Yaitu setiap pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab. Pneumotoraks tipe ini dapat diklasifikasikan lagi kedalam dua jenis, yaitu: a. Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya atau tanpa penyakit dasar yang jelas. Lebih sering pada laki-laki muda (usia 20-40 tahun)yang sehat dengan postur tinggi dan astenikus. Timbul akibat ruptur bulla kecil(12 cm) subpleural, terutama di bagian puncak paru. Insidensi pria : wanita = 5:1 Manifestasi klinik : nyeri dada pleuritik, ipsilateral(nyeri tajam, seperti tersayat atau tertusuk) yang terasa lebih nyeri pada gerak pernapasan, dyspnoe, dapat juga „silent‟(tidak menunjukkan gejala pada 5-10% kasus)

b. Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang terjadi dengan didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki sebelumnya(tanpa adanya trauma). Umumnya terjadi pada orang dewasa < 60 tahun. Insidensi pria : wanita = 3 : 1 Tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik berat, sering terjadi saat istirahat. Tersering pada pasien bronkitis dan emfisema yang mengalami ruptur emfisema subpleura atau bulla. Penyakit dasar lain : Tuberkulosis paru, asma bronkial, pneumonia,abses paru atau Ca paru. fibrosis kistik, penyakit paru obstruktik kronis (PPOK) dan infeksi paru.

2. Pneumotoraks traumatik, yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat adanya suatu trauma, baik trauma penetrasi maupun bukan, yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru. Pneumotoraks tipe ini juga dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis, yaitu : a. Pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada, barotraumas. b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks jenis ini pun masih dibedakan menjadi dua, yaitu :  Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental Adalah suatu pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya pada parasentesis dada, biopsy pleura. Diagnosis : dicurigai pada pasien yang mengalami dyspnoe yang memburuk setelah prosedur medic, pada Ro didapatkan “deep sulcus”  Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate)Adalah suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya tindakan ini dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya pada pengobatan tuberculosis sebelum ditemukannya antibiotik, maupun untuk menilai permukaan paru.

2. tekanan udara di rongga pleura tetap negatif.Gambar pneumothorax traumatik  Berdasarkan jenis fistulanya. maka pneumotoraks dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis.namun lambat laun berubah menjadi negative karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya. Pada kondisi tersebut paru belum mengalami re-ekspansi. Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax). meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif.pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka pada dinding dada). sehingga masih ada rongga pleura. Perubahan tekanan ini sesuai dengan perubahan tekanan yang disebabkan oleh gerakan pernapasan.Tekanan di dalam rongga pleura awalnya mungkin positif. Pneumotoraks Tertutup (Simple/Close Pneumothorax) Pada tipe ini. Yaitu pneumotoraks dimana terdapat hubungan antara rongga pleura dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar (terdapat luka terbuka pada dada). Pada pneumotoraks terbuka tekanan intrapleura sekitar nol. Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan tekanan udara luar. Pada waktu terjadi gerakan pernapasan. Pada saat inspirasi tekanan menjadi . sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar. yaitu: 1.

Selain itu. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui trakea. bronkus serta percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel yang terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat keluar . 3. Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax) Adalah pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang bersifat seperti katup(check valve).negatif dan pada waktu ekspirasi tekanan menjadi positif. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas. tetapi pada saat ekspirasi mediastinum bergeser ke arah sisi dinding dada yang terluka (sucking wound). pada saat inspirasi mediastinum dalam keadaan normal. . Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi dan melebihi tekanan atmosfer.

kilothorax. Pneumotoraks parsialis. Menurut luasnya paru yang mengalami kolaps. yaitu: 1. Etiologi 1. pernapasan paradoksal. Tulang : fraktur costa. 2. yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian besar paru (> 50% volume paru) C. Trauma tajam terutama disebabkan oleh tikaman dan tembakan. Kelainan yang sering timbul secara umum pada setiap trauma thorax baik tajam maupun tumpul yaitu: a. hemothorax. Pleura : Pneumothorax. c. memar. yaitu pneumotoraks yang menekan pada sebagian kecil paru (< 50% volume paru). hemopneumothorax. serothorax . dan emfisema subkutis b. Trauma pada bagian ini juga sering disertai dengan cedera pada tempat lain misalnya abdomen. Fraktur iga yang sering menyebabkan kelainan „Flail chest‟ adalah fraktur iga segmental. maka pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pneumotoraks totalis. dan ekstremitas sehingga merupakan cedera majemuk. Trauma thorax kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas yang umumnya berupa trauma tumpul. Kulit : dan jaringan lunak : luka. sternum. kepala.

000 orang per tahun mengalami pneumothorax dan menunjukkan bahwa pneumotoraks lebih sering terjadi pada penderita dewasa yang berumur sekitar 40 tahun. Patofisiologi General Patofisiologi Normalnya tekanan di dalam rongga pleura adalah negative selama siklus pernapasan. luka jantung. kurus. operasi thorax 5. sementara pneumotoraks bilateral sebanyak 2 % dan semua pneumotoraks spontan. pengaruh hormonal (pada wanita yang menstruasi) D. Spontan : biasanya akibat rupture blep pleura yang kecil 4.TBC 3. Namun dari sejumlah penelitian yang pernah dilakukan diperkirakan 9 per 100. Pada pria. F. penggunaan obat-obatan kortikosteroid yang dapat menyebabkan daya tahan tubuh menjadi lemah serta meningkatkan produksi surfaktan(menurunkan tegangan permukaan paru) sehingga menyebabkan pleura rapuh dan gampang pecah. Adapun insiden pneumotoraks ventil diperkirakan sebesar 3-5% dari selurub kasus pneumotoraks spontan. Mediastinum : pneumomediastinum. Iatrogenik : akibat biopsy paru. robekan bronkus f. laki-laki banyak yang merokok. Jantung : hemoperikardium. dengan perbandingan 5 : 1(2) . aspirasi dada. Factor Resiko Faktor resiko pada pneumothorax spontan primer : Riwayat merokok  sering sudah terdapat emfisema paru dengan tekanan udara intrapulmonal yang tinggi sehingga jaringan paru menipis dan teregang(termasuk alveolus dan pleura) kemudian jaringan paru lebih rentan robek Riwayat keluarga Postur tubuh tinggi. resiko pneumothorax spontan akan meningkat pada perokok berat dibanding non perokok. Penyakit paru sebelumnya : peningkatan insidensi pneumothorax dengan penyakit paru yang mendasari seperti emfisema. khususnya pada laki-laki usia 23-30an  mungkin karena lebih rentan terhadap trauma. fibrosis kistik. Jaringan paru : traumatic wet lug e. terutama dijumpai pada penderita laki-laki dengan badan kurus dan tinggi. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah pneumotoraks spontan. - E. 2.d. Gangguan dapat terjadi : . atau penyakit paru intersisial. Laki-laki lebih sering daripada wanita. Epidemiologi Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang tidak diketahui. berumur 20-40 tahun. robekan esofagus. 6. dan lebih banyak terdapat pada hemitoraks kanan.

Pneumotorak ini terjadi biasanya pada satu sisi. Apabila dinding alveolus dan pleura viceralis yang lemah ini pecah..paru-paru kolaps. Akibatnya bilamana proses ini semakin berlanjut. .Tekanan negative yang berkurang menyebabkan reqoil paru yang sakit berkurang (dari . udara akan masuk ke rongga pleura sampai gradient tekanan hilang atau hubungan tersebut di tutup. Pengembangan paru menyebabkan tekanan intra alveolar menjadi negatif sehingga udara luar masuk. Sehingga akan mengganggu proses respirasi. Pneumotorak adalah adanya udara pada cavum pleura. seperti balon yang dihisap. Adanya udara pada cavum pleura menyebabkan tekanan negative pada intrapleura tidak terbentuk. sedangkan pada fase ekspirasi tekanan intrapleura: -3 s/d -6 cmH2O. disertai pengembangan cavum pleurayang kemudian menyebabkan paru dipaksa ikut mengembang. Pada saat ekspirasi mediastinum kembali lagi ke posisi semula. Berkumpulnya udara pada cavum pleura dengan tidak adanya hubungan dengan lingkungan luar dikenal dengan closedpneumotorak . . Mekanismenya pada saat inspirasi rongga dada mengembang.Ketika terdapat hubungan antara alveolus atau ruangan intrapulmoner dan rongga pleura udara akan mengalir ke rongga pleura hingga tidak ada perbedaan tekanan lagi. Pada fase inspirasi tekanan intrapleura : -9 s/d -12 cmH2O .Ketika adanya hubungan antara udara atmosfer dan rongga pleura yang melewati dinding dada. Pada pneumotorak spontan. Pada saat inspirasi akan terjadi hiperekspansi cavum pleura yang berakibat tertekannya mediastinum ke sisi yang sehat. nhiperekspansi cavum pleura pada saat inspirasi menekan mediastinal ke sisi yang sehat dan saat ekspirasi udara terjebak pada paru dan cavum pleura .Pada saat ekspirasi. penurunan cardiac output penurunan venous return hipotensi syok Akibat yang ditimbulkan dari keadaan diatas adalah kapasitas vital yang berkurang dan PaO2 yang berkurang.berubah menuju +. tapi belum mencapai +) .Terjadinya hiperekspansi cavum pleura tanpa disertai gejala pre-shock atau shock dikenal dengan simple pneumotorak. udara juga tidak dipompakan balik ksecara maksimal karena elastic recoil dari kerja alveoli tidak bekerja sempurna.Proses yang terjadi inidikenal dengan mediastinal flutter . sehingga respirasi paru sisi sebaliknya masih bisa menerima udara secara maksimal dan bekerja dengan sempurna. Pneumotorak spontan terjadi karena lemahnya dinding alveolus dan pleura visceralis.Tekanan positif yang tinggi yang menyebabkan terjadinya efek mendorong seperti pergeseran pembuluh darah dan jantung. udara inspirasi ini bocor masuk ke cavum pleura sehingga tekanan intrapleura tidak negative. maka akan ada fistel yang menyebabkan udara masuk ke dalam cavum pleura.

.karena luka yang bersifat katup tertutup terjadilah penekanan vena cava. Open pneumotorak dikarenakan trauma penetrasi. Pada open pneumotorak terdapat hubungan antara cavum pleura dengan lingkunga luar. Selanjutnya terjadilah penekanan vena cava. Bleb yang robek ke arah pleura akan menimbulkan pnemotoraks  Penderita tanpa bleb : robekan terjadi pada titik perlekatan antara pleura viseralis dan parietalis  Paru bagian atas > terserang ok iskemia atau peningkatan distensi alveoli di apexs paru akibat tekanan pleura yang lebih negatif . Akibatnya paru tidak dapat mengembang Karena tekanan intrapleura tidak negatif. Efeknya akan terjadi hiperekspansi cavum pleura yang menekan mediastinal ke sisi paru yang sehat. -----------------------------------------------------------. pnemotoraks dan emfisema subkutan  Udara ke arah perifer akan menimbulkan bleb subpleura... shunting udara ke paru yang sehat. Terjadilah mediastinal flutter. Akibatnya timbulah gejala pre-shock atau shock karena penekanan vena cava.. Perlukaan dapat inkomplit (sebatas pleura parietalis) atau komplit (pleura parietalis dan visceralis). Saat ekspirasi mediastinal bergeser ke mediastinal yang sehat. dan obstruksi jalan napas. Akibatnya timbulah gejala pre-shock atau shock oleh karena penekanan vena cava.  Udara masuk melalui robekan dinding alveoli seterusnya ke interstitial paru dan pleura. Bilamana open pneumotorak komplit maka saat inspirasi dapat terjadi hiperekspansi cavum pleura mendesak mediastinal ke sisi paru yang sehat dan saat ekspirasi udara terjebak pada cavum pleura dan paru karena luka yang bersifat katup tertutup.  Udara menyusuri septa antar lobus terus ke arah sentral : pnemomediastinum..dan obstruksi jalan napas.Lemahnya dinding alveolus dan pleura visceralis . Bilamana terjadi open pneumotorak inkomplit pada saat inspirasi udara luar akan masuk ke dalam cavum pleura. shunting udara ke paru yang ehat. Kejadian ini dikenal dengan tension pneumotorak. biasanya terdapat di apex lobus superior dan inferior..-------------------------------------------------------------Patof PNT Spontan Primer . sebagian oleh jaringan fibrosa paru sendiri dan sebagian lagi oleh jaringan paru emfisematous udara mengisiparenkim paru dengan sendirinya Bleb : suatu kista/ kantong yang terbentuk karena adanya perembesan udara dari alveoli yang dindingnya rupture melalui jaringan interstisial ke lapisan jaringan ikat yang berada di bawah pleura visceralis(subpleura) ≈ udara yang mengisi ruang di antara parenkim oaru dan pleura visceralis. Kejadian ini dikenal dengan tension pneumotorak .Ruprturnya bulla atau bleb Bulla dan bleb disebut juga ELC(emphysema like changes) Bulla : suatu kantong yang dibatasi sebagian oleh pleura fibrotik yang menebal.

2 Faktor penyebab rupturnya bleb atau bulla : Infeksi/radang paru. . Tension PNT Tekanan dalam rongga pleura semakin ↑  tekanan positif di dalam rongga pleura  mendorong mediastinum ke sisi kontralateral  menekan vena cava superior  venous return berkurang  cardiac output berkurang  hipoksia (bisa terjadi syok kardiovaskuler) Tekanan positif dalam rongga pleura  menekan paru-paru ke sisi kontralateral pertukaran gas terganggu  hipoksia Paru-pau kolaps ipsilateral  pertukaran gas terganggu  hipoksia Hipoksia yang terjadi dari ketiga mekanisme di atas terjadi secara akut dan menyeluruh. Hipoksia organ secara menyeluruh juga menyebabkan terjadinya hiperkapnia akut yang juga dapat menyebabkan gangguan kesadaran bahkan hilang kesadaran sama sekali jika sudah terjadi narcosis CO2. walaupun minimal akan membentuk jaringan parut pada dinding alveoli  pleura mudah robek Tekanan intra alveolar yang tinggi akibat batuk atau mengejan Ruptur bleb/bulla  udara luar masuk melalui jalan napas  tekanan intra alveoli > tekanan intrapleura  udara dari alveoli masuk ke cavum pleura  pneumothorax Patof PNT Non-iatrogenik Karena trauma tembus : udara masuk ke dinding dada Trauma tidak tembus(trauma tumpul) Kompresi dada yang tiba-tiba  tekanan alveolar ↑  alveoli pecah  udara masuk ke rongga pleura melalui pleura visceralis karena robekan akibat frakur segmentalis atau dislokasi tulang rusuk. Hipoksia otak dapat menyebabkan gangguan kesadaran.

terkadang terjadi hemoptisis. Nyeri dapat menjalar ke arah bahu hipokondrium atau tengkuk. Rasa nyeri ini disebabkan oleh perdarahan yang terjadi akibat robekan pteura viseralis dan darah menimbulkan iritasi pada pleura viseralis. Penderita dapat mengalami kegagalan pernafasan akut. Diagnosis KEY POINTS : DIAGNOSIS OF PNEUMOTHORAX Chest pain and dyspnea are the most common symptom Physical finding include decreased or absent breath sounds associated with hyperresonant percussion Definitve diagnosis requires radiographic confirmation Dari anamnesis keluhan utama yang diungkapkan penderita adalah nyeri dada disertai sesak nafas yang timbul secara mendadak.G. Sesak nafas makin lama makin hebat akibat pengempisan paru yang terkena dan gangguan pengembangan paru yang sehat. Keluhan lain yang dapat dijumpai tergantung pada kelainan yang mendasari timbulnya pneumotoraks ventil. Rasa nyeri bersifat menusuk di daerah hemitoraks yang terserang dan bertambah berat pada saat bernafas.  Gejala . Perlu ditanyakan adanya penyakit paru atau pleura lain yang mendasari pneumotorak. Batuk pada umumnya tidak produktif. batuk dan bergerak. terutama bila penyakit yang mendasari timbulnya pneumotoraks ventil adalah asma atau penyakit paru obstruktif menahun. Batuk sering kali ditemukan. terutama pada pneumotoraks spontan idiopatik.dan menyingkirkan adan yapenyakit jantung.

  Palpasi : Pada sisi yang sakit. Diagnosis banding : Emfisema paru .  Auskultasi : Pada bagian yang sakit. bagian yang sakit gerakannya tertinggal.Hidung tampak kemerahan .  Inspeksi : Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit(hiper ekspansi dinding dada). stres. Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat .gangguanvaskuler/syok. apabila tekanan intrapleura tinggi dan diafragma yang terdorong ke bawah. ruang antar iga dapat normalatau melebar. Pemeriksaan fisik Sesak nafas dan takikardi yang dapat disertai sianosis pada pneumotorak ventil atau ada penyakit dasar paru. Suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni negative.Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit Perkusi : Suara ketok pada sisi sakit.Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: . dan semakinnyeri jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk .Tekanan darah rendah (hipotensi). suara napas melemah sampai menghilang. Gejalanya bisa berupa : .Denyut jantung yang cepat . Pada tingkat yang berat terdapat gangguan respirasi/sianosis.Gejalanya sangat bervariasi.Dada terasa sempit .Mudah lelah . tegang .Cemas. hipersonor sampai timpani dan tidak menggetar. tergantung kepada jumlah udarayang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yangmengalami kolaps (mengempis). Pada waktu respirasi. Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur. Trakea dan jantung(ictus cordis) terdorong ke sisi yang sehat . Batas-batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat.Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen. deviasi trakhea.Sesak nafas . ruang interkostal melebar.

Foto Röntgen Gambaran radiologis yang tampak pada fotoröntgen kasus pneumotoraks antara lain(11) : a. . Bagian pneumotoraks(yang berisi udara) akan tampak hiperlusen (lebih gelap) tanpa corakan jaringan paru dan paru yang kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru.akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru. Pemeriksaan Penunjang 1. 1982) A B Th /2 C % pneumothorax = H.- Asma bronchial Infark miokard Emboli paru CARA MENENTUKAN LUAS PNEUMOTHORAX Average intrapleural distance (Rhea et al.Kadang-kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis.

CT-scan thoraxCT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa dengan pneumotoraks. 3) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura. EKG  didapatkan gambaran QRS wave dan T pre cordial yang menyerupai gambaran miocard infark. bahkan sampai ke daerah dada depan dan belakang. Keadaan inimenunjukkan kolaps paru yang luas sekali. mulai dari basis sampai ke apeks. diafragma mendatar dantertekan ke bawah. Apabila ada pendorongan jantung atautrakea ke arah paru yang sehat. Hal ini terjadi apabila pecahnya fistel mengarahmendekati hilus. yaitu daerahleher. Analasisa gas darah terdiri dari PO2. Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat. Foto Rö pneumotoraks (PA). terdapat ruang atau celahhitam pada tepi jantung. d. Biasanya digunakan karena kecurigaan hipoksemia atau asidosis respiratorik. Di sekitar leher terdapat banyak jaringan ikat yangmudah ditembus oleh udara. Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaranhipoksemi meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. PCO2. dapat diketahui bila ada ronggahitam dibawah kulit. Pada pasien dengan gagal napas yang beratsecara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%. pH darah dan based ecsess(dari kuliah dr. Komplikasi dapat berupa hemopneumotorak. kemungkinan besar telahterjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intra pleura yangtinggi. 3. Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radio-opaque yang berada di daerah hilus. . Hal ini biasanya merupakankelanjutan dari pneumomediastinum.pneumomediastinum dan emfisemakutis. batas antara udaradengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan primer dansekunder. Besar kolapsparu tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napasyang dikeluhkan. 4. 2) Emfisema subkutan. sehingga bila jumlah udarayang terjebak cukup banyak maka dapat mendesakjaringan ikat tersebut.maka akan tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma yang merupakan batas antara udara dan cairan.b. c. sehingga udara yang dihasilkan akanterjebak di mediastinum. 2. Udara yangtadinya terjebak di mediastinum lambat laun akanbergerak menuju daerah yang lebih tinggi. kus). fistel bronkopleuraldan empiema. Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadikeadaan sebagai berikut: 1) Pneumomediastinum.spatium intercostals melebar.

Observasi dilakukan dalam beberapa hari dengan foto toraks serial tiap 12-24 jam pertama selama 2 hari . hilangkan benda yang menghalangijalan napas Observasi dan Pemberian O2 Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan ronggapleura telah menutup. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pneumothorax tergantung dari jenis pneumothorax. gagal napas) E 1. Penatalaksanaan Pneumothoraks (Umum) Tujuan utama penatalaksanaan pneumotoraks adalah untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan menurunkankecenderungan untuk kambuh lagi. berat ringannya geljala. lakukanchin-lift dan jaw thrust.Tindakan ini terutama ditujukan untuk pneumotoraks tertutup dan terbuka. derajat kolaps. maka udara yang berada didalamrongga pleura tersebut akan diresorbsi. syok kardiogenik. penatalaksanaan pneumotoraks adalah Primary Survey : # Airway Assessment :      perhatikan patensi airway dengar suara napas perhatikan adanya retraksi otot pernapasan dan gerakandinding dada Management : inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh.   re-posisi kepala.I. emfisema subkutis.(spt timbul cairan intra pleura. Pada prinsipnya. Laju resorbsi tersebut akan meningkat apabila diberikan tambahan O2 . penyakit dasar dan penyulit yang terjadi. pasang collar-neck lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi(oral / nasal) # Breathing Assesment :   Periksa frekwensi napas Perhatikan gerakan respirasi .

Trakheostomi 3. Eksplorasi vascular Prinsip langkah-langkah penanganan pneumothorax : (keterangannya di bawah ya) 1.    Palpasi toraks Auskultasi dan dengarkan bunyi napas Management: Lakukan bantuan ventilasi bila perlu Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tensionpneumotoraks. Aspirasi sederhana dengan jarum dan pemasangan tube thoracostomy/WSD dengan atau tanpa pleurodesis 3. Observasi dan oksigenasi 2. Krikotiroidotomi 2.a. Torakotomi 5. thoracotomy E 2. Penatalaksanaan Pneumothoraks (Spesifik) E2. Thoracoscopy dengan pleurodesi dan penanganan bulla/bleb 4. hemotoraks. Tube Torakostomi 4. Pneumotoraks Simpel/tertutup . flail chest # Circulation Assesment :        Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi Periksa tekanan darah Pemeriksaan pulse oxymetri Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis) Management : Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines Torakotomi emergency bila diperlukan Operasi Eksplorasi vaskular emergencyTindakan Bedah Emergency 1. open pneumotoraks.

pengembangandada ↓ Penatalaksanaan: apabila luas pneumotorax < 15-20% dari hemithorax berikan tambahan oksigen untuk meningkatkan laju resorbsi udara oleh darah/jaringan paru. Pada pneumotoraks Tension ditemukan mekanisme ventil (udara dapatmasuk dengan mudah. Pneumotoraks Tension Adalah pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraksyang semakin lama semakin bertambah (progresif). hyperresonance(perkusi).b.25 % dari sisi pneumothorax per hari.Adalah pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intratoraks yang progresif. tetapi tidak dapat keluar). E 2. Biasanya laju resorbsi udara diperkirakan 1. Ciri: . Ciri:    Paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsial atau total) Tidak ada mediastinal shift PF: bunyi napas ↓ .

Hidropneumothorax : cairan pada pneumothorax . sehingga terjadi: kolaps total paru. asimetris statis & dinamis Merupakan keadaan life-threatening tdk perlu Ro Penatalaksanaan: 1. Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif. Pasang WSD dahulu baru tutup luka 3. WSD E 2. venous return ↓→ hipotensi & respiratory distress berat.   Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengancepat.c. abses paru K. Luka tidak boleh ditutup rapat (dapat menciptakan mekanismeventil) 2. hipotensi. Pemberian bronkodilator. lineamid-klavikula) 2. takipneu. mediastinal shift (pendorongan mediastinumke kontralateral). Dekompresi segera : large-bore needle insertion(sela iga II. berikan pengobatan sebaik-baiknya.Infeksi sekunder akibat pungsi thorax darurat atau akibat dari pemasangan WSD  dapat berupa empyema. Penatalaksanaan: 1. 4. Komplikasi . Terjadi kolaps total paru. Singkirkan adanya perlukaan/laserasi pada paru-paru atauorgan intra toraks lain. terutama bila penderita batuk. Open Pneumothorax Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada dadasehingga udara dapat keluar dan masuk rongga intra toraks dengan mudah. Penderita juga tidak diperbolehkan menganngkat barang berat atau mengejan terlalu kuat .Pada penderita PPOM. JVP ↑.Tension pneumothorax . Umumnya disertai dengan perdarahan (hematotoraks) J. Tekanan intra toraks akan sama dengan tekanan udara luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound. antitusif ringan sering dilakukan dan penderita dianjurkan kalau batuk jangan keras-keras. Pencegahan . deviasi trakhea .

Penderita tuberculosis paru harus diobati dengan baik sampai tuntas.. PNT spontan hampir seluruhnya mengalami kekambuhan. sehingga penyembuhan dapat sempurna tanpa meninggalkan cacat yang berarti L. Prognosis Secara umum kalau dilakukan terapi yang efektif prognosisnya bonam. kecuali kalo penderita menjadi perokok berat(factor resiko pneumothorax spontan) juga kalo terapi Tb/penyakit dasarnya gak sempurna. Lebih baik lagi bila penderita tuberculosis masih dalam tahap lesi minimal. Kekambuhan jarang terjadi pada PNT yang dilakukan thorakotomi terbuka(hanya 15%) .

Tambahan Tindakan Aspirasi sederhana dengan jarum dan tube thorakostomi Aspirasi sederhana merupakan terapi awal bila luas pneumothorax > 15 % hemithorax. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke-2 di garismidklavikula(ada di IPD. Setelah klem penyumbat dibuka. Setelah jarum ditusukkanpada posisi yang tetap di dinding toraks sampai menembuske rongga pleura. lebih murah. sehingga hanya kateter toraks yang masih tertinggaldi rongga pleura. bila gagal harus dilakukan thoracostomy tube. akan tampakgelembung udara yang keluar dari ujung infuse set yangberada di dalam botol. relative mudah.Pemasukan troakar dapat dilakukan melalui celah yang telahdibuatdengan bantuan insisi kulit di sela iga ke5-6 pada linea midaksilaris atau pada linea aksilaris posterior. akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung infusset yang berada di dalam botol. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk ronggapleura.Penghisapan ini dilakukan dengan . dengan demikian tekanan udara yang positif dirongga pleura akan berubah menjadi negatif karenamengalir ke luar melalui jarum tersebut. Setelah klem penyumbat dibuka. Pada intinya. rawat jalan. Pipa infuse ini selanjutnya dimasukkan ke botol yangberisi air.Kanula ini kemudian dihubungkan dengan pipa plastik infusset. tindakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat hubungan antara rongga pleura denganu dara luar dengan cara: a. 3) Pipa water sealed drainage (WSD) Pipa khusus (torakskateter) steril. maka toraks kateter segera dimasukkan ke rongga pleura dan kemudian troakar dicabut. jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal.anthony dan dr. Selanjutnya ujung kateter toraks yang ada di dada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya. Kenapa? Mungkin karena fungsi WSD gak cuma untuk mengeluarkan udara tapi juga mengeluarkan cairan jadi letak daerah aspirasinya rendah). dimasukkan ke rongga pleura denganperantaraan troakar atau dengan bantuan klem penjepit. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil : 1) Dapat memakai infus set Jarum ditusukkan ke dinding dadasampai ke dalam rongga pleura. Posisi ujung pipa kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan air supaya gelembung udaradapat dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut. Tetapi terdapat kelemahan.harry WSD ditusuknya di ICS 5 atau 6. Jika terjadi rekurensi juga perlu dilakukan thoracostomy tube. kemudian infus set yangtelah dipotong pada pangkal saringan tetesan dimasukkanke botol yang berisi air. Setelah troakar masuk. Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila tekanan intrapleura tetap positif. 2) Jarum abbocath Jarum abbocath merupakan alat yang terdiridari gabungan jarum dan kanula. tapi kalo kata dr. b.

maka sebelum dicabut dapat dilakukuan ujicoba terlebih dahulu dengan cara pipa dijepit atau ditekuk selama 24 jam. dengan tujuan agar paru cepat mengembang. Dan tindakan thoracostomy itu menggunakan tabung yang disebut WSD .memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O. pipa dijepit/klem selama 2 hari. Apabila tekanan dalam rongga pleura kembali menjadi positif maka pipa belum bias dicabut. Kalo setelah klem dibuka gak keluar gelembung udara baru. thoracostomy itu tindakannya. maka selang itu dapat dikeluarkan dan mulai beri terapi konservatif seperti pada pneumothorax tertutup(anjurkan banyak istirahat dan obati penyakit yang mendasarinya). .  Penatalaksanaan WSD(Water Seal Drainage)/ Thoracostomy tube *Kalo kata anak-anak di grup pneumothorax. Untuk melihat masih ada udara atau nggak di rongga pleura lihat gelembung udara yang keluar di botol. Kalo dalam 2 hari ini gak sesak kembali. kalo setelah 1-2 hari gak tampak gelembung udara keluar. Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekanan intra pleura sudah negative kembali. Pencabutan WSD dilakukan pada saat pasien dalam keadaan ekspirasi maksimal. klem dibuka.

Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan pleura / lubrican.Perubahan Tekanan Rongga Pleura Tekanan Istirahat-Inspirasi-Ekspirasi : -Atmosfir 760 760 760 -Intrapulmoner 760 757 763 -Intrapleural 756 750 756 .WSD adalah Suatu system drainage yang menggunakan water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura ( rongga pleura). TUJUANNYA: Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut.

Biasanya digunakan untuk mengatasi hemothorax. ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan.Jenis-jenis WSD : 1. Drainage tergantung dari mekanisme pernapasan dan gravitasi. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara. Air steril dimasukkan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD. Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernapasan : 2. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke 3. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan. 3. WSD dengan 3 botol Sama dengan system 2 botol. WSD dengan 1 botol Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothorax. Cairan drainage dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2. Botol ke 3 memiliki 3 selang : Tube pendek di atas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua Tube tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer Tube pendek lain dihubungkan dengan suction Inspirasi akan meningkat Ekspirasi akan menurun . Prinsip kerjasama dengan system 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD. selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal. WSD dengan 2 botol Digunakan 2 botol : 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke 2 water seal. hemopneumothorax. efusi pleura.

efusi pleura Pneumotoraks ( > 25 % ) Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator KONTRA INDIKASI PEMASANGAN : Infeksi pada tempat pemasangan Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol Komplikasi WSD : Primer : penetrasi ke organ mayor karena aplikasi trokar yang tidak tepat Sekunder : pleural infection  empyema .INDIKASI PEMASANGAN WSD :     Hemotoraks.

Goal : . Dilakukan bila : Tindakan aspirasi maupun WSD gagal Paru tidak mengembang setelah pemasangan tube thorakoskomi Terjadinya fistula bronkopleura Timbulnya kembali pneumothorax setelah tindakan pleurodesis Pada pasien yang berkaitan dengan pekerjaannya agar tidak mudah kambuh kembali seperti pada pilot dan penyelam . Injeksi ke rongga pleura.Mencegah rekurensi pada pneumothorax . Klem tabung 1-2 jam.Pneumothorax bilateral .  Thoracoskopy Tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga thorax dengan alat bantu thorakoskop. Jika pneumothorax masih ada. ulangi kembali. Dahulu. Agent dicampur dalam 60-100 ml saline. doksisiklin. 200-400 mg lidocaine. Pleurodesis Injeksi pleurodesis agent(spt tetrasiklin. jika udara di rongga pleura telah terabsorbsi. Drainage kembali. cabut chest tube. Observasi dengan foto Ro.Adanya bullae . yang tidak bias dioperasi Metode : Melalui tabung thorakoskopi(chest tube) atau surgical. sangat efektif untuk penanganan PNT spontan primer dan mencegah rekurensi.Adanya kebocoran udara & pneumothorax berulang . Injeksi local anestesi intrapleura. Thorakoskopi yang dipandu dengan video (Video Assisted Thoracoscopy Surgery = VATS) memberikan kenyamanan dan keamanan bagi operator dan pasien.Mengurangi inflamasi pada pleura dan perlengketan Indikasi : . Selain itu dapat juga digunakan untuk reseksi bulla/bleb dan pleurodesis.Disfungsi paru. moksisiklin atau talcum venetum/talk) ke dalam rongga pleura. tindakan ini dilakukan untuk memotong adhesi pleura(pneumolisis) dan menghasilkan pneumothorax artificial pada pasien Tuberkulosis paru oleh karena belum ada antibiotic. Bahan terbaik untuk mengurangi rekurensi adalah talk.

batu kalau bersin terlalu keras. dilakukan jika thorakoskopi gagal atau jika bleb /bulla terdapat di apex paru(efektif untuk reseksi bleb/bulla di apex) Dengan pembukaan dinding thorax melalui operasi. berilah laksan ringan. 4. Misalnya : . selanjutnya kedua pleura dilekatkan satu sama lain di tempat fistel. Bila mengalami kesulitan defekasi karena pemberian antitusif. antitusif. terutama kalau ada keluhan batuk dan sesak napas. penderita dilarang mengejan.  Pengobatan Tambahan 1. maka dilakukan pengelupasan atau dekortikasi Dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila ada fistel dari paru yang rusak. Istirahat total untuk menghindari kerja paru yang berat .terhadap bronchitis dengan obstruksi saluran napas diberi antibiotic(bila ada tanda-tanda infeksi) dan simptomatis(bronkodilator. maka pengobatan tambahan ditujukan terhadap penyebabnya. dll) . 2. Dicari lubang yang menyebabkan pneumothorax dan dijahit Pada pembedahan. 3. Kontrol penderita pada waktu tertentu. - Tindakan bedah/Thorakotomi Tindakan pembedahan ini indikasinya hamper sama dengan thorakoskopi. 3. 2. sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali Pilihan terakhir dilakukan pleurodesis.terhadap proses TB paru diberi OAT . Pemberian antibiotik profilaksis setelah setelah tindakan bedah dapat dipertimbangkan. untuk mengurangi insidensi komplikasi. . Untuk sementara waktu. Apabila terdapat proses lain di paru.  Rehabilitasi : 1. apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak dapat mengembang. seperti emfisema. Penderita yang telah sembuh dari pneumotoraks harus dilakukan pengobatan secara tepat untuk penyakit dasarnya. Dengan melakukan penjahitan setelah masing-masing pleura dikerok atau lapisan yang tebal dibuang.

CONTOH-CONTOH GAMBAR 1. Pneumothorax pada paru kanan dengan kolaps total dan konfirmasi dengan CT scan 2.mengalami kolaps total sebongkah gumpalan padat yang radio opaque di hilus paru . Kolaps total paru kanan pada pneumothorax spontan atau pada pneumothorax tertutup yang .

3. Tension pneumothorax (saat ekspirasi) dengan pergeseran mediastinum ke hemithorax kontralateral .

HO dr. Sherwood 9.4. 7.Kolaps Paru-Paru (Pneumothorax) 5. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru.RSUD Panembahan Senopati Bantul 4. BagianIlmu Penykit Dalam. Guyton = . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam(IPD) 3. Anatomi klinik Snell 11. Buku saku paru 6.abdul rohman 10. internet .Buku Ajar Fisiologi Kedokteran 2. Pneumothorax bilateral Referensi 1. Medicastore. Radiologi Diagnostik 8. Resume via 12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful