KELOMPOK 3

LILI SRIYANTI NURHILALLIYAH NURKHOLILAH M. PURNAMA ANGELINA PUTRI AMBAR SARI

S1 REGULER I

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA 2011

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Makalah ini disusun untuk diajukan sebagai Keperawatan Anak I. Dalam makalah ini kami membahas tentang “Asuhan Keperawatan Anak Usia Tiga Tahun Dengan Meningitis”. Keperawatannya. Makalah kami jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran akan sangat kami butuhkan. Demikianlah makalah ini kami buat. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Dengan tujuan agar mahasiswa lebih mengetahui tentang meningitis pada anak lebih dalam dan mengetahui Asuhan tugas mata kuliah

Penyusun

Jakarta, Oktober 2011

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i DAFTAR ISI..............................................................................................ii BAB I ......................................................................................................ii PENDAHULUAN......................................................................................iii LATAR BELAKANG...............................................................................iii TUJUAN................................................................................................2 BAB II .....................................................................................................3 KONSEP DASAR PENYAKIT......................................................................3 A.DEFINISI...........................................................................................3 ANATOMI.............................................................................................3 B.ETIOLOGI..........................................................................................4 PATOFISIOLOGI referensi.....................................................................8 KLASIFIKASI.......................................................................................11 MANIFESTASI KLINIS..........................................................................12 KOMPLIKASI.......................................................................................14 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK...............................................................15 PENATALAKSANAAN..........................................................................16 PENCEGAHAN....................................................................................18 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN.......................................................................19 A.PENGKAJIAN...................................................................................19 B.DIAGNOSIS KEPERAWATAN............................................................24 C.INTERVENSI KEPERAWATAN...........................................................24 D.EVALUASI.......................................................................................29 BAB IV PENUTUP..............................................................................................30 A.KESIMPULAN..................................................................................30 B.SARAN............................................................................................30 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................31

BAB I
ii

atau parasit yang menyebar ke dalam darah ke cairan otak. Penyakit ini mempunyai insiden tinggi pada anak dibawah usia 5 tahun. iii . sering terjadi gejala sisa berupa lumpuh. Pada 1996. Hardiono Pusponegoro. atau tanda-tanda dan gejala-gejala flulike. bakteri. dengan puncak insiden pada anak usia 3 sampai 5 tahun.000 orang menderita penyakit ini dengan 25. Dr. Penyebabnya adalah bakteri atau virus. Staf Divisi Syaraf Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dan pendiri klinik Anakku. jamur. Bila dapat disembuhkan. tenggorokan. sumsum tulang belakang. Penyakit meningitis merupakan penyakit yang menyerang selaput otak dengan angka kematian mencapai 50%.PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Meningitis adalah peradangan selaput otak.A (K) mengungkapkan. terjadi wabah meningitis dimana 250. Sp. Apabila daya tahan tubuh rendah. Sejumlah kuman Neisseria meningitidis merupakan penyebab yang sering menyebabkan terjadinya meningitis. Balita dan orang dewasa merupakan pembawa (carrier) bakteri Pneumokokus dalam saluran pernafasan dan mereka mendapatkannya di luar rumah maupun tempat-tempat umum. Daerah “sabuk meningitis” di Afrika terbentang dari Senegal di barat ke Ethiopia di timur. tuli. meningitis merupakan salah satu pembunuh bayi dan balita di negara berkembang. Daerah ini ditinggali kurang lebih 300 juta manusia. epilepsi dan retardasi mental. Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus. atau keduanya. Bentuk meningitis yang berat yaitu meningococcemia yang dimulai dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian.000 korban jiwa. meningitis sering didahului oleh infeksi pernafasan. bakteri dalam tenggorokan tersebut dapat menyebar & menyebabkan penyakit.

tanda. khususnya di Jakarta merupakan penyakit yang cukup banyak. Meningitis pada bayi dan anak di Indonesia. dari 4.6 persen yang mendapat vaksin meningitis. hanya 0. 2 . HOSPITALISASI TUJUAN TUK N TUM Penulisan makalah ini ditujukan untuk mengetahui dan memahami definisi. 10% dari penyebab meningitis pada balita adalah bakteri Pneumokokus yang angka kesembuhannya rendah dan dapat mengakibatkan cacat permanen. komplikasi serta asuhan keperawatan anak dengan meningitis. gejala. patofisiologis. diagnosis. Pada 2005. Sejak tahun 2006 IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) telah menganjurkan penggunaan vaksin IPD dalam upaya mencegah meningitis pada bayi mulai usia dua bulan hingga sembilan tahun. Umumnya penderita berusia di bawah 5 tahun dan pada 70% kasus terjadi pada anak-anak usia 2 tahun. penanganan. setiap 1.Selain itu.6 juta kelahiran hidup tiap tahun. Tingkat penderita meningitis di Indonesia tergolong cukup tinggi. cara penularannya sangat mudah karena carrier akan menyebarkan melalui udara.000 kelahiran hidup terdapat 36 kasus meningitis. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi IPD (Invasive Pneumococcal Disease). Di Indonesia.

. cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat ( Suriadi & Rita. virus. 1996 ). yang dapat terjadi secara akut dan kronis (Kapita Selekta kedokteran ). disebabkan oleh bakteri. Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen. Streptokok.3 BAB II KONSEP DASAR PENYAKIT A. Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis. Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges. bakteri atau organ-organ jamur ( Smeltzer. atau protozoa. biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok. DEFINISI ANATOMI Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Hemophilus influenza dan bahan aseptis ( virus ) ( Long. 2001 ). Stafilokok. Meningitis adalah radang umum pada araknoid dan piameter. riketsia. Meningitis adalah radang pada meningen ( membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis ) dan disebabkan oleh virus. Meningokok. 2001 ).

bahkan kematian. virus. araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis. Dimana meningitis menunjukkan reaksi peradangan yang mengenai satu atau semua lapisan selaput otak yang membungkus jaringan otak dan sumsum tulang belakang. pikiran. Pada umumnya infeksi tidak hanya terbatas pada selaput otak namun juga mengenai jaringan otak (ensefalitis) dan pembuluh darah (vaskulitis). B. Berdasarkan beberapa definisi di atas. Dalam arti yang terbatas menunjukkan infeksi difus yang mengenai lapisan piamater dan arakhnoid (lepto meningitis).4 Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater. ETIOLOGI . riketsia atau protozoa sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak. dapat dirumuskan bahwa meningitis adalah suatu radang yang terjadi pada meningen dan selaput medula spinalis yang disebabkan oleh bakteri.

tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak. hilangnya pendengaran. akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius. bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh . maka meningitis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan meningitis serosa. infeksi.dijelasin Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya.operasi otak atau sum-sum tulang belakang. kurangnya kemampuan belajar. Seperti disebutkan diatas bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri.5 Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme. misalnya kerusakan otak.

Penyebab meningitis antara lain: 1. Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis diantaranya: a. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil.6 jamur sangat jarang. c. Nersseria. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus). . telinga dan rongga hidung (sinus). batang gram negatif dan streptokokus grup B. Eschericia colli. Bakteri Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza. Bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae. Streptokokus group A. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. organisme primer penyebab meningitis adalah basil enteric gram negatif. Haemophilus influenzae (haemophilus). Klebsiela dan Pseudomonas. Pada anak yang berusia 3 bulan sampai 5 tahun. monosit dan limfosit. Meningitis pada anak yang lebih besar umumnya disebabkan oleh infeksi Neisseria meningitidis atau infeksi stafilokokus. fibrin dan leukosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. organisme primer penyebab meningitis adalah haemophilus influenzae tipe B. jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS. Diplokokus pneumonia. Bakteri ini yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-anak. Jenis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia. b. Neisseria meningitidis (meningococcus). Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri. Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah. Pada neonatus. Stapilokokus Aurens. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.

herpes simplex virus tipe 2 (dan kurang umum tipe 1). Contohnya: coccidioides dan candida. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari sistem kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus. 3. Bakteri lainnya yang juga dapat menyebabkan meningitis adalah Staphylococcus aureus dan Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat ditemukan dibanyak tempat. varicella zoster virus (dikenal sebagai penyebab cacar air dan ruam saraf). HIV. dan LCMV. Jenis virus ini sebagai penyebabnya infeksi pernafasan bagian atas. d. dalam debu dan dalam makanan yang terkontaminasi.7 Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis. Listeria monocytogenes (listeria). Pemberian vaksin (Hib vaccine) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat. Makanan ini biasanya yang berjenis keju. Ini merupakan salah satu jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan meningitis. seperti. Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”. virus gondok. Peradangan terjadi pada seluruh korteks cerebri dan lapisan otak. . telinga bagian dalam dan sinusitis. hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan). e. 2. Jamur Meningitis karena jamur yang biasanya menyerang SSP pada pasien dengan AIDS. Virus Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. enterovirus. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. gondok.

Anak dengan kelainan sistem saraf pusat. defisiensi imunoglobulin.  Trauma kepala dan pengaruh imunologis 5. mastoiditis. • Neonatus: Escherchia Coli. Anak di bawah umur 4 tahun: • • • 3. Pneumokokus.8 4. Hemofilus influenza. PATOFISIOLOGI referensi . • • Anak diatas 4 tahun dan orang dewasa: Meningokokus. Faktor Maternal Ruptur membran fetal. Penyebab meningitis pada beberapa golongan umur: 1. 6.  Otitis media.  Anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain. anak yang mendapat obat-obat imunosupresi. Meningokokus.  Prosedur bedah saraf baru. • • Streptokokus Influenza. pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan sistem persarafan. 7. Listeria monositogenes. infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan. 2. Faktor Imunologi Defisiensi mekanisme imun. Faktor Predisposisi  Infeksi jalan nafas bagian atas. Pneumokokus.

arachnoid.9 Otak dilapisi oleh tiga lapisan. . dan piamater. yaitu: duramater. direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang.

daerah pertahanan otak ( barier otak ). Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial. anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain. yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi ( pada sindromWaterhouse – Friderichssen ) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks. semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar). Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas. yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah. vaskulitis dan hipoperfusi. trauma kepala dan pengaruh imunologis. prosedur bedah saraf baru. mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen . edema serebral dan peningkatan TIK. . mastoiditis. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia. yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral.10 Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis. memasuki cairan otak melalui aliran darah di dalam pembuluh darah otak. cairan otak dan ventrikel. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal. arachnoid. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior. otitis media. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen.

sedangkan jenis virus lain bisa menyebabkan gangguan produksi enzyme neurotransmitter. S. Gejala klinisnya bia disertai demam atau . virus ini akan mengganggu metabolisme sel. Pada herpes simplex.pneumoniae.Influenzae. Meningitis karena jamur Meningitis cryptococcal merupakan meningitis karena jamur yang paling sering. Streptokokus.Coli. Meningitis Virus. mumps. Stafilokokus. Meningitis bakterial Bakteri non spesifik : meningokokus. H. Tuberkulosa. 3. Bakteri spesifik : M.11 KLASIFIKASI Meningitis berdasarkan penyebab dapat dibagi menjadi: 1. herpes simplex dan herpes zoster. Inflamasi terjadi pada korteks serebri. terjadi sebagai akibat akhir/sequele dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus seperti campak. Disebut juga dengan meningitis aseptik. S. Pada meningitis virus ini tidak terbentuk eksudat dan pada pemeriksaan CSF tidak ditemukan adanya organisme. biasanya menyerang SSP pada pasien dengan AIDS. dimana hal ini akan berlanjut terganggunya fungsi sel dan akhirnya terjadi kerusakan neurologis. Gejala klinisnya bervariasi tergantungdari sistem kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi. 2.Typhosa. Terjadinya kerusakan jaringan otak tergantung dari jenis sel yang terkena. E. white matter dan lapisan meninges.

misalkan penyebabnya adalah virus).referensi MANIFESTASI KLINIS Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK: 1. Mengalami foto fobia. dan koma. atau sensitif yang berlebihan pada cahaya. Sakit kepala dan demam ( gejala awal yang sering ) 2. Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher. amoeba. hasilnya negative. nausea. 3. 4. 3. Meningitis purulenta/meningitis bakterial akut (Penyebab adalah bakteri non spesifik). Meningitis karena parasit. muntah dan penurunan status mental. tidak responsif. 5. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb: * Rigiditas nukal ( kaku leher ).12 tidak. misalkan penyebabnya adalah bakteri pneumococcus). Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat pada sisi ektremitas yang berlawanan. 2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan . * Tanda brudzinki: bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Berdasarkan pemeriksaan cairan serebrospinalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. 4. Meningitis aseptik (Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan kultur lumbal pungsi hasilnya positif . kaki tidak dapat diekstensikan sempurna. tetapi hampir semua klien ditemukan sakit kepala. seperti toksoplasma. Meningitis serosa (Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan lumbal pungsi. * Tanda kernik positif: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadaan fleksi kearah abdomen.

2 tahun: • Gambaran klasik (-) • Hanya panas. iritabel. mengantuk. gelisah. kejang berulang. mudah lelah dan menangis meraung-raung. kejang-kejang dan apnoe terjadi bila tidak diobati/ditangani Anak umur 2 bulan . kejang-kejang. • Ketegangan . 7. iritabel. • Fontanel menonjol . Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal. syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata. • Kadang-kadang “ high pitched cry “. RR yang tidak teratur/apnoe. nafsu makan menurun. pernafasan tidak teratur. lesi purpura yang menyebar. 6.13 karakteristik tanda-tanda vital (melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi ). muntah. pergerakan melemah dan kekuatan menangis melemah • Hypothermia/demam. fontanel menonjol mungkin ada atau tidak • Leher fleksibel • Kolaps kardiovaskuler. sianosis dan kehilangan BB. Manifestasi berdasarkan tingkat usia sebagai berikut: Neonatus: • Sukar untuk diketahui  manifestasinya tidak jelas dan tidak spesifik  ada kemiripan dengan anak yang lebih tua • Menolak untuk makan • Kemampuan menelan buruk • Muntah dan kadang-kadang ada diare • Tonus otot lemah. • Manifestasi klinisnya biasanya tampak pada anak umur 3 bulan sampai 2 tahun • Adanya demam. sakit kepala. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tibatiba muncul. joundice. muntah dan penurunan tingkat kesadaran.

tingkah laku yang agresif atau mengantuk stupor dan koma • Gejala pada respiratori atau gastrointestinal • Adanya tahanan pada kepala jika difleksikan • Kekakuan pada leher (Nuchal Rigidity) • Kulit dingin dan sianosis • Peteki/adannya purpura pada kulit  infeksi meningococcus (meningo cocsemia) • Keluarnya cairan dari telinga  meningitis peneumococal • Congenital dermal sinus  infeksi E. disebabkan mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk . nyeri kepala. Colli Gejala yang sering terlihat: • Keluhan penderita mula-mula nyeri kepala yang menjalar ke tengkuk dan punggung • Kesadaran menurun • Kaku kuduk. • Sakitnya tiba-tiba. delirium. • Terdapat tanda kernig dan Brundzinski yang positif.14 • Nuchal Rigidity  tanda-tanda brudzinki dan kernig dapat terjadi namun lambat Anak umur > 2 tahun: • Panas . • Gangguan kesadaran. muntah. sakit kepala. kejangkejang • Anak menjadi irritable dan agitasi dan dapat berkembang photopobia. menggigil. panas dingin. • Tanda-tanda rangsang meningeal: kaku kuduk. tanda Brudzinski dan kernig. adanya demam. halusinasi. KOMPLIKASI • Dapat dikurangi dengan diagnosis yang awal dan pemberian terapi antimikrobial dengan cepat. .

000) pada kausa bakteri didominasi . daerah yang dibatasi oleh akumulasi cairan dan tekanan pada otak). • Komplikasi post meningitis pada neonatus: o Ventriculitis (yang menghasilkan kista. cacat mental. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. o Cerebral palsy. kelemahan/paralysis dari otot-otot wajah atau otot-otot yang lain pada kepala dan leher  penyebaran infeksi pada daerah syaraf kranial • Komplikasi yang serius biasanya diakibatkan oleh infeksi : meningococcal sepsis atau meningococcemia • Syndrom water haouse-Friderichsen diperjelas o Overwhelming septic shock o DIC o Perdarahan o Purpura • SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone ). adanya pendekatan pada bagian yang sempit  obstruksi cairan cerebrospinal  hydrocephalus • Perubahan yang dekstruktif ada pada korteks serebral dan adanya abses otak  infeksi langsung. subdural effusion. o Hemiparesis dan quadriparesis  arthritis/thrombosis. pus yang banyak (kental). penurunan perhatian. herniasi dan hydrocephalus. pendengaran dan kelemahan nervus yang lain. Pemeriksaan Laboratorium     Pungsi lumbal Warna mengabur sampai keruh (tergantung sifat eksudat) Tekanan cairan serebrospinal meningkat Jumlah sel meningkat (100. gangguan hiperaktivitas dan adanya kejang. • Ketulian. kejang-kejang. Atau melalui penyebaran pembuluh darah. gangguan belajar. edema serebral. kebutaan.60. o Gangguan yang menetap dan penglihatan.15 • Bila infeksi meluas ke ventrikel.

PAP.  Pemeriksaan lengkap • CRP darah dan cairan serebrospinalis • Peningkatan kadar laktat cairan cerebrospinalis • Penurunan pH cairan cerebrospinalis • LDH.  Khusus untuk meningitis tuberkulosis kultur dilakukan 2 kali yaitu setelah 3-4 hari pengobatan dilakukan oleh kultur ulangan hasil positif sulit diperoleh. 2.  Darah • • • AL normal atau meningkat tergantung etiologi. Protein meningkat: 35 mg% Kadar gula turun: 40 mg% (bisa sampai 0 ). hemoragik  Rontgent kepala: mengindikasikan infeksi intracranial PENATALAKSANAAN 1 . BCG. Medikamentosa Meningitis Antibiotik dapat diobati dengan obat anti jamur. Radiologi  CT Scan/MRI: melihat lokasi lesi.    Reaksi pandi (+). Uji PPD. hematom. untuk TBC 2% (+). seperti: Organisme Chlorampenikol Haemofilus influenza .Imuzim.Apelt (+). • Khusus kausa TBC:      Kurasan lambung. ukuran ventrikel. CPK.16 oleh sel polimorfonuklear). Hitung jenis didominasi sel polimorfonuklear atau limfosit Kultur 80-90% . Kadar gula CSS normal = separo kadar gula darah). Ro Thorax CT scan kepala (kalau ada indikasi khusus sepeerti hidrosephalus) Funduskopi untuk melihat tuberkel di retina. Takahashi. GOT. Kultur: bila prosedur baik 90% biakan positif. Nonne.

yaitu 40-45 Kkal/Kgbb o Protein tinggi. Syarat diet: o Energi tinggi . 15-25 % dari kebutuhan energi total. yaitu 2. protein tinggi (ETPT) atau TKTP. yaitu sisa dari kebutuhan energi total. • Amfoterisin B: obat yang sangat manjur.Energi 3.600 Kkal . Diet yang diberikan: o Diet ETPT I .000 Kkal . tetapi obat ini dapat merusak ginjal. o Menambah berat badan sehingga mencapai berat badan normal. o Vitamin dan mineral cukup. Diet ETPT mengandung energi dan protein di atas kebutuhan normal.5 gr/Kgbb o Lemak cukup.Protein 100 gr ( 2 gr/Kgbb) o Diet ETPT II . o Makanan diberikan dalam bentuk mudah cerna sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. Tujuan diet: o Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh. obat ini disuntikkan atau diinfus secara perlahan.0-2. memiliki efek samping yang parah tetapi dapat dikurangi dengan memakai obat semacam ibuprofen. Diet Diet yang diberikan adalah energi tinggi. sesuai dengan kebutuhan normal. o Karbohidrat cukup.5 gr/ Kgbb) .17 • Flukonazol: berbentuk pil atau suntikan dalam pembuluh darah (intravena/IV) • Itrakonazol: dipakai pada orang yang tidak tahan dengan flukonazol. 2.Protein 125 gr ( 2.Energi 2.

dan IPD. Jaga sistem imun agar berfungsi dengan baik dengan cukup istirahat. berhati-hatilah dengan apa yang dikonsumsi. . Langkah dalam mencegah meningitis antara lain: • Cuci tangan secara benar untuk menghindari terkena penyebab infeksi. Vaksin ini mencakup polisakarida grup A. untuk membantu mencegah penyebaran virus. termasuk vaksin-vaksin seperti HiB. W135 dan Y. minuman atau alat makan. • Jika sedang hamil. vaksin mengingokokus yang telah diijinkan di Amerika Serikat dapat digunakan sebagai pencegahan.18 PENCEGAHAN Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit virus atau bakteri penyebab meningitis. Ajari anak-anak dan orang-orang sekitar untuk selalu cuci tangan. Pada orang dewasa.C. terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi. Selain itu lengkapi juga imunisasi si kecil. MMR. •Tutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk. olahraga teratur dan makan makanan sehat dan bergizi. Usahakan pula untuk tidak berbagi makanan. • Tetap sehat.

2. atau fraktur tulang tengkorak. * Apakah pernah menderita penyakit ISPA dan TBC ? * Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ? * Pernahkah operasi daerah kepala ? Neonatus Meningitis pada bayi baru lahir dan bayi prematur benar-benar sulit untuk didiagnosa. dll. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan. sembuh atau bertambah buruk.Bagaimana riwayat imunisasi.Apakah pernah mengalami prosedur neurosurgital? . Setelah itu yang perlu diketahui adalah status kesehatan masa lalu untuk mengetahui adanya faktor prediposisi seperti infeksi saluran napas. Bayi-bayi ini biasanya tampak sehat ketika lahir.Apakah pernah menderita inpeksi saluran pernafasan akut (ISPA)? .Adakah kelainan bawaan (spina bifida)? . tetapi dalam beberapa hari kemudian . Riwayat penyakit dan pengobatan Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Biodata klien.Bagaimana riwayat kesehatan ibu selama hamil? . PENGKAJIAN 1. Manifestasinya samar-samar dan tidak spesifik.Bagaimana riwayat kesehatan keluarga? . dll.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Riwayat kesehatan yang lalu: Mencakup beberapa pertanyaan sebagai berikut: .Apakah pernah menderita trauma yang mencederai kepala? .

kurang . kemampuan mengisap buruk.tampak mulai melemah. Tonus otot melemah (hipotonus). Mereka tidak mau makan. bisa muntah atau diare.

21 . leher menjadi kaku kuduk sampai kepalanya tertarik kebelakang / hiperekstensi (opitotonus). dan dapat berkembang menjadi fotofobia. dan berat badan menurun. dan apnea. sakit kepala. serangan kejang berulang. muntah yang disertai /dengan cepat diikuti oleh perubahan sensoris. stupor. mudah terangsang. kejang. Ubun-ubun menonjol. Kadang-kadang infeksi sebelumnya yang telah diobati menutupi atau memperlambat tanda-tanda meningitis. Anak jadi mudah terangsang. Tanda Kernig positif. Tanda-tanda lain yang nonspesifik yang dapat muncul meliputi hipotermia atau demam (bergantung pada kematangan bayi). mengantuk. meskipun mereka memperlihatkan hiperaktivitas. mengantuk. tangisan melemah. apnea. Kadang-kadang datangnya gejala perlahan-lahan. Sering kali gejala awal nya berupa kejang yang berulang karena penyakitnya memburuk. ikterik. bahkan koma. Anak menolak fleksi dari leher dan karena penyakit bertambah buruk. Penyakit ini ditandai secara khas dengan demam. kelakuan yang agresif/maniak. kejang. Bayi dan Balita Gambaran klasik meningitis jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan – 2 tahun. sering kali didahului oleh gejala-gejala gastrointestinal selama beberapa hari. yang disertai tangisan merintih. Anak dan Adolesens Timbulnya penyakit mungkin tiba-tiba. Ubun-ubun besar yang menonjol merupakan penemuan yang paling bermakna dan kaku kuduk dapat muncul/tidak. tidak nafsu makan muntah. Bila tidak diobati kondisi anak cenderung menurun hingga kolaps sistem kardiovaskuler. Tanda-tanda Brudzinski dan Kernig biasanya tidak membantu diagnostik karena sulit untuk menemukannya dan mengevaluasinya pada anak-anak usia ini. Brudzinski positif. peka terhadap rangsangan. delirium. sianosis. Kulit mungkin dingin dan sianotik dengan perfusi perifer yang buruk. tegang dapat muncul atau tidak sampai akhir perjalanan penyakit.gerak. Respons-respons refleks bervariasi. demam. gelisah. napas tidak teratur. halusinasi.

turgor kulit jelek dan membran mukosa kering. * Makanan / cairan Gejala: Kehilangan nafsu makan. seperti Diplopia ( fase awal dari beberapa infeksi ). Kehilangan memori. terasa kaku pada semua persarafan yang terkena. nadi menurun dan tekanan nadi berat (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor ). * Eliminasi Tanda: Inkontinensi atau retensi. Adanya halusinasi penciuman / sentuhan. muntah. Pareslisia. kehilangan sensasi ( kerusakan pada saraf cranial ). Hiperalgesia / meningkatnya sensitifitas ( minimitis ). Fotopobia ( pada minimtis ). delusi dan halusinasi / psikosis organik ( encephalitis ). Tanda: Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ). * Neurosensori Gejala: sakit kepala ( mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat ). Tanda: anoreksia. Timbul kejang ( minimitis bakteri atau abses otak ) gangguan dalam penglihatan. letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma. Afasia / kesulitan dalam berkomunikasi. distritmia ( pada fase akut ) seperti distrimia sinus (pada meningitis ). seperti endokarditis. Tanda: tekanan darah meningkat. 22 . Ketulian ( pada minimitis / encephalitis ) atau mungkin hipersensitifitas terhadap kebisingan. * Sirkulasi Gejala: adanya riwayat kardiologi.3. perubahan mental ( letargi sampai koma ) dan gelisah. beberapa penyakit jantung konginetal ( abses otak ). Takikardi. Riwayat kesehatan sekarang * Pernafasan Gejala: riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda: status mental / tingkat kesadaran. sulit mengambil keputusan ( dapat merupakan gejala berkembangnya hidrosephalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial ). sulit menelan.

* Aktivitas Gejala: Perasaan tidak enak ( malaise ). abdomen atau kulit. nistagmus ( bola mata bergerak terus menerus ). perubahan pada fungsi motorik dan sensorik ( saraf cranial V dan VII terkena ). Otot mengalami hipotonia /flaksid paralisis ( pada fase akut meningitis ). nyeri pada gerakan ocular. perilaku distraksi /gelisah menangis / mengeluh. Imunisasi yang baru saja berlangsung . terpajan oleh campak. Tanda: Tampak terus terjaga. Kejang lobus temporal. herpes simplek. Kejang umum atau lokal ( pada abses otak ). abses gigi. pembedahan. Tanda: Ataksia. fraktur pada tengkorak / cedera kepala. Tanda brudzinski positif dan atau tanda kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal ( fase akut ) Regiditas muka ( iritasi meningeal ). masalah berjalan. brudzinski positif. Hemiparese hemiplegic ( meningitis / encephalitis ). gigitan binatang. * Higiene Tanda: Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri. tenggorokan nyeri. * Nyeri Gejala: sakit sakit kepala ( berdenyut dengan hebat. Spastik ( encephalitis). Refleks abdominal menurun. Ptosis ( kelopak mata atas jatuh ). frontal ) mungkin akan diperburuk oleh ketegangan leher /punggung kaku. Refleks tendon dalam terganggu. fungsi lumbal.Mata ( ukuran / reaksi pupil ): unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya ( peningkatan TIK ). kelumpuhan. meliputi mastoiditis telinga tengah sinus. keterbatasan dalam rentang gerak. benda asing yang terbawa. terpajan pada meningitis. Karakteristik fasial (wajah ). kelemahan secara umum. gerakan involunter. * Keamanan Gejala: Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain. Gangguan penglihatan atau pendengaran 23 .

diaphoresis. b. Timbulnya tanda klinis terus menerus merupakan indikasi 24 . Ansietas / ketakutan berhubungan dengan pemisahan dari sistem pendukung ( hospitalisasi ). Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. 4. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan adanya proses inflamasi / infeksi. C. Rasional: Terapi obat akan diberikan terus menerus selama lebih 5 hari setelah suhu turun ( kembali normal ) dan tanda-tanda klinisnya jelas. pengunjung. Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi. Resiko tinggi terhadap ( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh. B. mencegah pemajanan pada individu terinfeksi ( mis: individu yang mengalami infeksi saluran napas atas ). Rencana Tindakan: a. menggigil. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Diagnosis I Tujuan: penyebaran infeksi tidak terjadi Kriteria hasil: mencapai masa penyembuhan tepat waktu. Mengontrol penyebaran sumber infeksi. Rasional: menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Pantau dan catat secara teratur tanda-tanda klinis dari proses infeksi. 5. DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. 3. maupun staf. Pertahankan teknik aseptik dan cuci tangan baik pasien. tanpa penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. tonus otot flaksid atau plastic. 2. Kelemahan secara umum . Gangguan sensoris.Tanda: suhu badan meningkat.

Rasional: Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat menyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak. jamur. Diagnosis II Tujuan: • Pasien kembali pada. Rencana Tindakan: a. d. amoeba. 2. Rasionalisasi: Mobilisasi sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan. dan kejernihan dan bau Rasionalisasi: sepsis.keadaan status neurologis sebelum sakit • Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris. Catat karakteristik Urine urine. Kriteria Hasil: • Tanda-tanda vital dalam batas normal • Rasa sakit kepala berkurang • Kesadaran meningkat • Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat. Kolaborasi tim medis Rasional: Obat yang dipilih tergantung pada infeksi dan sensitifitas individu. seperti warna. statis. c. Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS. Pasien bed rest total dengan posisi tidur telentang tanpa bantal. Rasional: Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut. b. e. Ubah posisi pasien dengan teratur tiap 2 jam. dehidrasi kelemahan umum meningkatkan resiko terhadap infeksi kandung kemih / ginjal / awitan 25 . Catatan: obat kranial mungkin diindikasikan untuk basilus gram negative.perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu minggu / berbulan bulan atau penyebaran pathogen secara hematogen / sepsis.

Kolaborasi • Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.c. e. Diagnosis III 26 . vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral. Aminofel. • Berikan terapi sesuai petunjuk dokter seperti: Steroid. Menurunka metabolik sel / konsumsi dan kejang. Rasional: Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Monitor tanda-tanda vital seperti TD. Rasional: Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral. nausea yang menurunkan intake per oral. f. 3. Rasional: Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler. Monitor intake dan output. • Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur. d. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava. Antibiotika. batuk. Respirasi dan hatihati pada hipertensi sistolik. Rasional: hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadar. Suhu. Rasional: Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi. Rasional: Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Nadi. Menurunkan edema serebri. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan diastolik. Bantu pasien untuk membatasi muntah.

menunjukkan postur rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat. berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat. Catatan : narkotik merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidakakuratan dalam pemeriksaan neurologis. Rasional: mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat. Rasional: menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri. Diagnosis IV Tujuan: Klien tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan hipertermi. Kriteria hasil: • Tidak terjadi serangan kejang ulang. ruangan agak gelap sesuai indikasi.Tujuan: nyeri hilang atau terkontrol Kriteria Hasil: melaporkan nyeri hilang / terkontrol. d. Rencana Tindakan: a. 4. • Suhu 36. Berikan lingkungan yang tenang. 36 – 37. c. 100-110 x/menit (anak) • Respirasi 30 – 40 x/menit (bayi). b. 27 . Berikan analgetik.5 º C (anak) • Nadi 110 – 120 x/menit (bayi). Rasional: menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat / relaksasi.5 º C (bayi). 24 – 28 x/menit (anak) • Kesadaran compos mentis. Tingkatkan tirah baring. seperti asetaminofen dan kodein. Rencana Tindakan : b. bantulah kebutuhan perawatan yang penting.5 – 37. Berikan latihan rentang gerak aktif / pasif secara aktif dan massage otot daerah leher /bahu. Longgarkan pakaian. Rasional: dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang menimbulkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.

Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi tentang prognosa penyakit.Rasional: proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap keringat. 28 . 5. Batasi aktivitas selama anak panas. Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam. mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu dan menurunkan ansietas. Rasional: gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaannya. c. Rencana Tindakan: a. Berikan ekstra cairan (susu. Catat adanya tanda-tanda verbal atau non verbal. g. mengungkapkan kekurang pengetahuan tentang situasi. Kriteria Hasil: mengikuti dan mendiskusikan rasa takut. Berikan kompres dingin. Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai indikasi Rasional: Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai propilaksis. e. Rasional: perpindahan panas secara konduksi. Rasional: aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan panas. Diagnosis V Tujuan: ansietas bekurang dan keluarga memahami tentang penyakit klien. dll). sari buah. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien / keluarga. d. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu. Rasional: Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang akan dilakukan. Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala. tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi. c. Rasional: saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat. Rasional: meningkatkan pemahaman. b. f.

4. diri dan meningkatkan perasaan kontrol terhadap kehidupan sehari-hari. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik / sensorik. Tidak mengalami kejang bila berhubungan dengan hipertemi. 3. 2. D. meningkatkan kemandirian. mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil. EVALUASI 1. Libatkan pasien / keluarga dalam perawatan. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat. ketulusan dan informasi yang akurat dapat memberikan keyakinan pada pasien dan juga keluarga. perencanaan mungkin. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang serta mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi. membuat keputusan sebanyak Rasional: e. 29 . Tidak terjadi penyebaran infeksi dan mencapai masa penyembuhan tepat waktu. Lindungi privasi pasien jika terjadi kejang. 5.Rasional: penting untuk menciptakan kepercayan karena diagnosa meningitis mungkin menakutkan. Rasional: memperhatikan kebutuhan privasi pasien memberikan peningkatan akan harga diri pasien dan melindungi pasien dari rasa malu. d.

Gejala yang sering terlihat pada meningitis adalah keluhan penderita mulamula nyeri kepala yang menjalar ketengkuk dan punggung. Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit virus atau bakteri penyebab meningitis. disebabkan mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bentuk meningitis yang berat yaitu meningococcemia yang dimulai dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. kaku kuduk. Selain itu juga. perawat haruslah memahami dan menjelaskan secara rinci mengenai tujuan medis. serta mampu meningkatkan pelayanan kesehatan terutama pada penyakit meningitis pada anak. dengan puncak insiden pada anak usia 3 sampai 5 tahun. tata cara yang akan dilakukan dan resiko yang akan mungkin terjadi. kesadaran menurun. Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme. Bila dapat disembuhkan.operasi otak atau sumsum tulang belakang. . tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak. B.30 BAB IV PENUTUP A. tuli. sering terjadi gejala sisa berupa lumpuh. infeksi. SARAN Seorang perawat haruslah mampu mengetahui pengertian dan penyebab dari penyakit meningitis pada anak. Penyakit ini mempunyai insiden tinggi pada anak dibawah usia 5 tahun. epilepsi dan retardasi mental. terdapat tanda kernig dan Brundzinski yang positif. Penatalaksanaan pada meningitis adalah dengan medikasi dan program diet sesuai indikasi. KESIMPULAN Penyakit meningitis merupakan penyakit yang menyerang selaput otak dengan angka kematian mencapai 50%.

blogspot.blogspot.com/asuhan-keperawatan-askep-meningitis-20101007801.blogspot.html http://www.com/doc/32554290/Asuhan-Keperawatan-Meningitis http://artikel-info-kesehatan.html http://asuhan-keperawatan-anak. Buku Ajar Neurologi Klinis.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-anak-denganmeningitis/ http://www.html#more http://www. http://lizanurviana. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Harsono.Brenda G. Smeltzer.bayisehat.com/2010/10/askep-mengitis.com/2010/12/askep-meningitis.scribd.Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. N Made Sumarwati.irwanashari. Alih Bahasa. ( 2001 ).html http://file. 8. dkk. Jakarta. dkk.31 DAFTAR PUSTAKA Doenges. Yasmin asih.html http://fkunhas.cegahipd.com/2009/11/penyakit-meningitis. Ed.com/immunization-mainmenu-36/509-waspadalahterhadap-serangan-meningitis.blog.Alih bahasa. Kapita Selekta Kedokteran FKUI.detail_kegiatan .anaapa. ( 1999 ). (1999) Media Aesculapius. Jakarta : EGC.com/2010/11/28/askep-meningitis/ http://kliknelti. Suzanne C & Bare. ( 1996 ). 3. Jakarta : EGC. Monica Ester. Monica Ester. Ed. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Editor edisi bahasa Indonesia. I Made Kariasa. Ed. Agung Waluyo.blogspot.com/458/meningitis-bakterial.com/2011/05/asuhan-keperawatan-anakdengan.html http://proudnursing.com/berita-kegiatan.html http://www. Editor edisi bahasa Indonesia. Marilyn E. I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful