You are on page 1of 6

Diabetes Mellitus Sebagai Faktor Resiko terjadinya Osteoporosis

Laporan Kasus Blok elektif Oleh : Sandri NPM : 110 2009 258 Kelompok 3 Bidang Kepeminatan Geriatri Tutor : Dr. Eri Dian Marhasy M.Kes

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Tahun 2012/2013

Abstrak Latar Belakang : Diabetes mellitus merupakan suatu faktor resiko terhadap osteoporosis. Dilihat dari berbagai penelitian yang menyatakan bahwa faktor resiko osteoporosis meningkat sampai 12 kali daripada pasien yang tidak mengidap diabetes. Presentasi kasus : Ny. S umur 60 tahun dari magelang mengidap diabetes tahun 2005 dan akhirnya terkena osteoporosis tahun 2010. Diskusi dan Kesimpulan : Pada prinsipnya, kelainan pada tulang dan mineral pada pasien dengan DM dapat disebabkan langsung oleh efek kekurangan insulin atau resistensi insulin, hiperglikemia pada tulang dan sumsum tulang, kelainan pada produksi sitokin dan apokin serta gangguan interaksi neuromuskular. Sehingga terjadi peningkatan faktor resiko osteoporosis pada penderita diabetes mellitus Latar Belakang Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Menurut definisi secara medis DM adalah kumpulan aspek gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya penigkatan kadar gula darah akibat kekuran insulin (Badawi,2009).Data terbaru menunjukkan bahwa 12,9% dari penduduk AS yang berusia dewasa lebih dari 20 tahun memiliki DM, yang 39,8% adalah terdiagnosis. DM tipe 2 (T2DM) terdiri dari 90% dari semua kasus sindrom DM.. Jumlah penderita diabetes melitus menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar di dunia. Pasien dengan diabetes melitus memiliki beberapa gangguan pada tulang dan rangka, termasuk osteoporosis atau osteopenia. Pada prinsipnya, kelainan pada tulang dan mineral pada pasien dengan DM dapat disebabkan langsung oleh efek kekurangan insulin atau resistensi insulin, hiperglikemia pada tulang dan sumsum tulang, kelainan pada produksi sitokin dan apokin serta gangguan interaksi neuromuskular. Osteoporosis adalah gangguan tulang yang paling penting pada pasien dengan diabetes melitus. Sebuah survey dilakukan pada 32.089 wanita postmenopause di Iowa Women's Health Study menunjukkan bahwa wanita dengan diabetes melitus tipe 1 12 kali lebih banyak terkena patah pinggang daripada wanita tanpa DM tipe 1. Sedangkan pada wanita dengan Diabetes melitus tipe 2 memiliki 1.7 kali lebih banyak patah pinggang dibandingkan dengan wanita tanpa DM tipe 2. Untuk mengoptimalkan kesehatan tulang pada pasien dengan diabetes maka kesadaran akan epidemiologi, dan melakukan pencegahan serta perawatan yang tepat sangat dibutuhkan.

Presentasi Khusus Ny. S, umur 60 tahun dengan tinggi 148 cm serta berat badan 56kg berasal dari magelang dengan pekerjaan sebagai tukang urut dan memiliki riwayat medis fraktur hepatika, osteoporosis dan diabetes mellitus.

Ny. S mengidap DM sejak tahun 2005, berawal dari kecelakaan pada tahun 1980 yang menyebabkan Ny. S harus kehilangan 2/3 hatinya, fraktur lengan dan dirawat di RS selama 2 bulan. Karena Ny. S hanya memiliki 1/3 hatinya, maka dokter yang menangani Ny. S menyarankan Ny. S untuk mengkonsumsi air sirup sebanyak 2 botol setiap hari untuk menambah stamina. Lalu Ny. S menuruti saran dokter untuk meminum air sirup selama bertahun-tahun sampai akhirnya ketika beliau mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di desanya pada tahun 2005 pasien akhirnya mengetahui bahwa Ny. S terkena penyakit Diabetes Mellitus. Nyonya S masuk ke panti sosial tresna werdha pada tahun 2009, pada saat itu Ny. S memiliki GDS 168 mg/dl dan diberi obat Glibenklamid yang merupakan antidiabetik golongan sulfonilurea yang mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, Ny. S diharuskan meminum obat ini 1 x sehari. Lalu pada pemeriksaan kesehatan tahun 2010, ditemukan Ny. S terkena penyakit osteoporosis dan pada saat itu Ny. S diberi suplemen kalsium, Bifosfonat, dan calcitriol. Tettapi obat ini hanya diberikan selama 2 bulan saja oleh klinik di panti sosial. Setelah itu Ny. S tidak lagi meminum obat untuk osteoporosisnya. Diskusi Diabetes melitus merupakan penyakit gangguan kronik pada metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, disebabkan oleh defisiensi insulin relative atau absolut. Sedangkan osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang Dalam berbagai penelitian disebutkan bahwa diabetes mellitus dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya osteoporosis, hal itu dijelaskan sebagai berikut : Fungsi Osteoklas Pada pasien yang terkena diabetes mellitus ditemukan bahwa jumlah sel osteoklasnya meningkat yang artinya meningkatkan sel penghancur tulang sehingga dapat mengakibatkan osteopenia dan osteoporosis. Serta DM merangsang terjadinya peningkatan produksi tumor necrosis factor (TNF)-  , macrophage colony stimulating factor (MCSF), dan receptor activator of nuclear factor ligand (RANKL), yang dimana semua ini dapat menyebabkan teraktivasinya proliferasi dan diferensiasi osteoklas. Fungsi Osteoblas Pada pasien DM terjadi penekanan fungsi dan proliferasi osteoblas dengan menurunkan runt-related transcription factor (runx)-2, serta penurunan ekspresi osteocalcin dan osteonectin.

Mikrosirkulasi Tulang Pada pasien DM terjadinya penurunan neovaskularisasi di tulang yang akhinya dapat mengakibatkan penurunan pembentukan tulang serta penurunan perbaikan tulang. Diferensiasi sel mesenkim Terjadinya peningkatan sel adiposa pada sel stem mesenkim yang sebagai indikasi ekspresi berlebihan dari diferensiasi adiposa marker, termasuk dengan peningkatan peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR)-  , peningkatan adipocyte fatty acid binding protein (aP2), serta peningkatan adipsin dan resistin. Dan terjadinya penurunan diferensiasi osteoblas, sehingga pada akhirnya terjadi penurunan pembentukan tulang. Peningkatan AGE Terjadinya penurunan kualitas tulang sebagai akibat dari peningkatan advanced glycation end products (AGE), yang menghasilkan terjadinya penurunan kolagen tipe 1 dan penurunan kekakuan tulang. Untuk mencegah terjadinya osteoporosis pada DM maka perlunya dilakukan pemeriksaan dini kesehatan tulang pada pasien DM yaitu dengan cara pemeriksaan densitas tulang. Pemeriksaan densitas tulang bisa dilakukan dengan berbagai cara, tetapi untuk saat ini gold standard pemeriksaan massa tulang menurut WHO adalah Bone Densitomery DXA, karena DXA memiliki tingkat akurasi dan presisi yang baik serta paparan radiasi yang rendah. Menurut WHO seseorang dinyatakan terkena osteoporosis apabila memiliki densitas tulang lebih dari 2,5 standar deviasi dibawah rata-rata wanita muda normal (T<-2,5). Selain melakukan pemeriksaan dini densitas tulang, perlu juga dilakukannya upaya lain untuk mencegah terjadinya Osteoporosis pada penderita DM dengan cara meminum obat hipoglikemik oral (OHO) dan melakukan aktivitas fisik secara teratur. Melakukan aktivitas fisik secara teratur seperti senam di pagi hari, berperan utama dalam pengaturan kadar gula darah. Karena pada DM masalah utamanya adalah kurangnya respons reseptor insulin terhadap insulin, sehingga insulin tidak dapat masuk kedalam sel-sel tubuh kecuali otak, Otot yang berkontraksi atau aktif tidak memerlukan insulin untuk memasukkan glukosa kedalam sel, karena pada otot yang aktif sensitivitas reseptor insulin meningkat, sehingga berkurangnya kebutuhan insulin eksogen. Latihan atau aktivitas fisik ini paling baik dilakukan sekita 30-40 menit di pagi hari dan dilakukan 5 kali seminggu untuk medapatkan efek metabolik yang optimal.. Kondisi pasien saat ini tidak bisa berdiri dengan sempurna dikarenakan pernah mengalami fraktur di ekstremitas bawah sehingga dilihat dari sisi islam setiap muslim yang dikaruniai kesehatan oleh Allah swt, wajib melakukan ibadah sesuai ketentuan syariat Islam, begitupula pada keadaan yang sakit. Karena Allah tetap memerintahkan

bagi setiap muslim untuk shalat meskipun dalam keadaan sedang sakit. Tetapi Allah dengan sifat Nya yang Maha Penyayang, memberikan kemudahan dan keringanan bagi seorang muslim yang sedang sakit dalam melaksanakan shalat.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."(Al Baqarah: 286) Ketentuan-ketentuan dalam beribadah tetap sama, tetapi caranya saja yang berbeda. Bersuci tetap menjadi syarat sebelum melakukan ibadah. Apabila dalam keadaan sehat, setiap orang diwajibkan menggunakan air dalam berwudhu ketika membersihkan najisnya, maka bagi orang yang sakit, yang khawatir apabila menggunakan air maka penyakitnya akan kambuh, maka diperbolehkan menggunakan debu atau bertayammum. Jika bertayammum saja sulit, maka orang lain bisa membantu mentayammumkannya. Dalam keadaan ini masih merasa kesulitan, maka sholatlah dalam keadaan yang demikian saja. Pelaksanaan solat dilakukan dengan berdiri bagi yang mampu, jika tidak, maka seseorang yang sakit bisa menggunakan alat bantu seperti tongkat, menyandarkan diri ke tembok. Apabila cara itu masih dirasa berat, maka langkah selanjutnya adalah melakukan shalat dengan posisi duduk bersimpuh, berbaring dengan menghadap ke kiblat dengan miring disisi kanan. Seseorang yang menderita penyakit berat dan tidak sanggup menggerakkan badannya, maka solatnya cukup dengan telentang menggunakan isyarat kepala atau mata. Dengan demikian, tidak ada alasan apapun untuk bisa meninggalkan sholat walau pun hanya satu waktu. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun sholat masih akan menjadi kewajiban selama masih menghirup udara di dunia.

Kesimpulan Diabetes mellitus dan osteoporosis merupakan dua masalah kesehatan yang selalu meningkat prevalensinya pada usia lanjut. Hiperglikemia pada DM secara langsung menekan produksi osteoblas yang berguna untuk mmbentuk tulang, sedangkan hiperglikemia DM membantu meningkatkan produksi osteoklas yang berguna untuk penghancuran tulang, lalu juga membantu meningkatkan diferensiasi adiposa di sel mesenkim yang dapat menurunkan kualitas tulang yang bisa berujung pada fraktur tulang. Saran Perlu dilakukan pencegahan dan treatment pada pasien penderita DM dengan cara

mengkontrol level glikemik untuk menghindari terjadinya osteoporosis. Menurunkan glukosa plasma dengan cara meminum obat anti diabetes dan menjalankan pola hidup yang benar seperti melakukan olahraga diharapkan dapat membantu meningkatkan fungsi osteoblas, meningkatkan neovaskularisasi, serta meningkatkan perfusi tulang dan membantu menurunkan akumulasi lemak di rongga sumsum yang pada akhirnya bisa membantu meningkatkan kesehatan tulang pada penderita DM. Acknowledgement Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada panti sosial tresna werdha dan Ibu Ati yang telah memberikan izin untuk melakukan kunjungan di panti. Kepada dr. Eri Dan Marsyfah M.Kes yang telah memberikan bimbingannya sehingga case report ini dapat terselesaikan. Tidak lupa kepada dr. Faisal, SpPD selaku koordinator kepeminatan geriatri dan juga kepada dr. Hj. Riyani Wikaningrum, DMM. MSc., dr. Hj. Susilowati, M.kes sebagai koordinator pelaksana blok elektif dan DR. Drh. Hj. Titiek Djannatun sebagai koordinator penyusun blok elektif dan teman sejawat Universitas Yarsi.