You are on page 1of 19

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI DAN PERALATAN ABSORPSI Pembimbing : Bpk. Budi S.

KELOMPOK 5 ISMI SITI HANIFAH (101431017) ISTI KOYOMI SYAHIDINI (101431018) KAMILATULHUDA (101431019) MUCHLAS SOBARI N. (101431020) Tanggal Praktikum : 09 Maret 2012

Tanggal Penyerahan Laporan : 16 Maret 2012

Jurusan Teknik Kimia Program Studi Kimia Analis POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

ABSORPSI
I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah praktikum ini dikhususkan mahasiswa/i dapat: 1. Menentukan kurva penyerapan gas oleh air melalui kolom isian 2. Menentukan jumlah tahap ideal pada percobaan dengan metoda McCabe-Thile 3. Menentukan pengaruh laju alir dan suhu air terhadap karbondioksida pada proses absorpsi karbondioksida oleh air 4. Menentukan titik jenuh pada proses penyerapan karbondioksida oleh air

II.

DASAR TEORI Absorbsi merupakan salah satu proses separasi dalam industri kimia dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap tertentu sehingga satu atau lebih komponen gas tersebut larut dalam cairannya. Dalam percobaan ini digunakan larutan NaOH sebagai cairan penyerap untuk mengabsorbsi gas CO2 dan packing tower sebagai alat absorbsi dengan packing jenis rashig rings berdiameter 1 inch. A. Absorpsi CO2 Absorpsi karbon dioksida (CO2) merupakan proses yang penting bagi industri untuk membersihkan campuran gas dari kandungan CO2 atau untuk mendapatkan kembali C02dari campuran gas. Untuk penyerapan CO2 dari aliran gas buang dengan volume tinggi, absorpsi dalam absorben cair merupakan pendekatan proses yang tepat, misalnya air (H2O). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa distribusi CO2 di dalam gas dan di dalam H2O yang terjadi di dalam packed column. Agar dapat menganalisa kinerja dari packed column untuk proses absorpsi ini, perlu di formulasikan perumusan (model) matematika yang menggambarkan fenomena yang terjadi pada packed column. Model matematis dari proses absorpsi tersebut diselesaikan secara matematis dengan menggunakan Metode Beda Hingga. Pada peristiwa absorpsi CO2 dengan menggunakan H2O dalam Packed Column, maka kita harus menggunakan trial and error jika ingin mengetahui distribusi konsentrasi CO2 di tiap-tiap titik pada kolom absorpsi.

B. Kolom Absorbsi 1. Bagian atas: input larutan NaOH sebagai tempat masuknya cairan ke dalam reaktor. 2. Bagian tengah: Packed tower untuk memperluas permukaan sentuh sehingga mudah untuk diabsorbsi. 3. Bagian bawah: Input gas sebagai tempat masuknya gas ke dalam reaktor.

Gambar 01. Skema Proses Absorpsi CO2 C. Prinsip Kerja Kolom Absorbsi 1. Kolom absorbsi adalah sebuah kolom, dimana ada zat yang berbeda fase mengalir berlawanan arah yang dapat menyebabkan komponen kimia ditransfer dari satu fase cairan ke fase lainnya, terjadi hampir pada setiap reaktor kimia. Proses ini dapat berupa absorpsi gas, destilasi,pelarutan yang terjadi pada semua reaksi kimia. 2. Campuran gas yang merupakan keluaran dari reaktor diumpankan kebawah menara absorber. Didalam absorber terjadi kontak antar dua fasa yaitu fasa gas

dan fasa cair mengakibatkan perpindahan massa difusional dalam umpan gas dari bawah menara ke dalam larutan NaOH yang diumpankan dari bagian atas menara. D. Aplikasi Absorbsi Absorbsi dalam dunia industri digunakan untuk meningkatkan nilai guna dari suatu zat dengan cara merubah fasenya. 1. Proses Pembuatan Formalin Formalin yang berfase cair berasal dari formaldehid yang berfase gas dapat dihasilkan melalui proses absorbsi.Teknologi proses pembuatan formalin Formaldehid sebagai gas input dimasukkan ke dalam reaktor. Output dari reaktor yang berupa gas yang mempunyai suhu 182oC didinginkan pada kondensor hingga suhu 550C,dimasukkan ke dalam absorber.Keluaran dari absorber pada tingkat I mengandung larutan formalin dengan kadar formaldehid sekitar 37 40%. Bagian terbesar dari metanol, air,dan formaldehid dikondensasi di bawah air pendingin bagian dari menara, dan hampir semua removal dari sisa metanol dan formaldehid dari gas terjadi dibagian atas absorber dengan counter current contact dengan air proses. 2. Proses Pembuatan Asam Nitrat Pembuatan asam nitrat (absorpsi NO dan NO2).Proses pembuatan asam nitrat Tahap akhir dari proses pembuatan asam nitrat berlangsung dalam kolom absorpsi. Pada setiap tingkat kolom terjadi reaksi oksidasi NO menjadi NO2 dan reaksi absorpsi NO2 oleh air menjadi asam nitrat. Kolom absorpsi mempunyai empat fluks masuk dan dua fluks keluar. Empat fluks masuk yaitu air umpan absorber, udara pemutih, gas proses, dan asam lemah. Dua fluks keluar yaitu asam nitrat produk dan gas buang. Kolom absorpsi dirancang untuk menghasilkan asam nitrat dengan konsentrasi 60% berat dan kandungan NOx gas buang tidak lebih dari 200 ppm.

Aplikasi absorbsi lainnya seperti proses pembuatan urea, produksi ethanol, minuman berkarbonasi, fire extinguisher,dry ice,supercritical carbon dioxide dan masih banyak lagi aplikasi absorbsi dalam industri. III. ALAT DAN BAHAN 3.1 Alat Nama Alat Alat Absorpsi Gas CO Koil pemanas Buret 50 ml Statif dan klem Labu Erlenmeyer 250 ml Gelas kimia 500 ml Gelas kimia 250 ml Batang pengaduk Spatula Corong Labu ukur 250 ml Pipet 25 ml Pipet 10 ml Tissue Kertas Hisap 1 set 1 tabung 1 set 1 buah 1 set 7 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 gulung Secukupnya Jumlah

3.2 Bahan Nama Bahan Larutan NaOH 0,1 N Larutan NaOH 0,01 N Air Kran Larutan Asam Oksalat Jumlah 250 ml 250 ml 60 Liter 250 ml

( H2C2O4.2H2O) 0,1 N Phenophtalien 1 botol

6 7 1

5 2 3 4

Gambar 02. Rangkaian Alat Adsorpsi CO2 Keterangan: 1. Tabung gas karbondioksida 2. Kompresor 3. Pompa air 4. Tangki umpan 5. Kolom absorpsi 6. Rotameter air 7. Rotameter udara 8. Rotameter gas karbondioksida (CO2)

IV.

PROSEDUR KERJA 4.1 Prosedur Kerja pada Proses Besar Memasukan air sebanyak 20 L ke dalam tangki tandon

Mengambil 10 mL sampel air dari tendon sebagai sampel ke nol

Mengoperasikan pompa air sehingga air mengalir melalui bagian atas kolom melewati isian kembali di tangki penampungan

Mengoperasikan kompresor udara, mengalirkan gas karbondioksida dari tabung , dan terus mengalirkan air

Mengambil sampel kembali pada menit ke 5, 10, 15, 20, 25, dan 30

Menitrasi sampel dengan larutan NaOH 0,1 N untuk menentukan kadar karbondioksida yang terserap ke dalam air

Mengulangi percobaan dengan laju alir yang berbeda 5 macam, laju udara 5 macam, dan temperature air 3 macam

4.2 Prosedur Kerja untuk Proses Analisis Membakukan larutan NaOH 0,1 N dengan menggunakan asam oksalat sebagai titran

Menitrasi sampel pada proses absorpsi CO2 untuk setiap RUN nya,terdiri dari 3 RUN dengan variasi suhu yakni 25oC, 30oC,dan 35oC.

Sampel yang didapat masing-masing 7 sampel untuk setiap RUN yakni pada 0 menit, 5, 10, 15,20, 25, dan 30 menit terakhir,

V.

DATA PENGAMATAN Laju alir air Laju alir udara Laju alir CO2 CO2 Udara tekan V air total : 3 L/menit : 40 L/menit : 4 L/menit : 1,385 gr/mL : 60 bar : 20 liter = 20.000 mL

VI.

PERHITUNGAN 6.1 Percobaan pertama T V umpan N NaOH = 250C = 25 mL = 0,1 N

Perhitungan pembuatan NaOH 0,1 N , 250 mL

0,1 0,1

= =

Gram NaOH = 1 gram Perhitungan pembuatan asam oksalat 0,1 N, 250 mL 0,1 0,1 Gram NaOH = = = 1,575 gram

Pembakuan NaOH 0,1 N Vasam oksalat x N asam oksalat = V NaOH 10 ml N NaOH H2O + CO2 Mgrek CO2 Mr CO2 x 0,1 N x N NaOH

= 10,15 ml x N NaOH = 0,0985 N H2 CO3 = Mgrek H2O = 44 gr/L

No

Waktu (menit)

Vol NaOH (mL) Berat CO2 (gram) dalam 20.000 mL H2O

0,3

V NaOH x N NaOH = 0,3 mL x 0,0985 N = 0,03 mgrek = 0,03 mmol

0,03 mgrek x Be CO2 = 0,03 x 44 = 1,32 mg x

= = 1056 mg = 1,056 gr

0,3

V NaOH x N NaOH = 0,3 mL x 0,0985 N = 0,03 mgrek = 0,03 mmol

0,03 mgrek x Be CO2 = 0,03 x 44 = 1,32 mg x

= = 1056 mg = 1,056 gr

10

0,35

V NaOH x N NaOH = 0,35 mL x 0,0985 N

0,035 mgrek x Be CO2 = 0,035 x 44

= 0,035 mgrek = 0,035 mmol

= 1,54 mg

= 1232 mg = 1,232 gr

15

0,5

V NaOH x N NaOH = 0,5 mL x 0,0985 N = 0,05 mgrek = 0,05 mmol

0,05 mgrek x Be CO2 = 0,05 x 44 = 2,2 mg x

= = 1760 mg = 1,76 gr

20

0,6

V NaOH x N NaOH = 0,6 mL x 0,0985 N = 0,06 mgrek = 0,06 mmol

0,06 mgrek x Be CO2 = 0,06 x 44 = 2,64 mg x

= = 2112 mg = 2,112 gr

25

0,7

V NaOH x N NaOH = 0,7 mL x 0,0985 N = 0,07 mgrek = 0,07 mmol

0,07 mgrek x Be CO2 = 0,07 x 44 = 3,08 mg x

= = 2464 mg = 2,464 gr

30

0,3

V NaOH x N NaOH = 0,3 mL x 0,0985 N = 0,03 mgrek = 0,03 mmol

0,03 mgrek x Be CO2 = 0,03 x 44 = 1,32 mg x

= = 1056 mg = 1,056 gr

Volume NaOH vs waktu


0.8 0.7 Volume NaOH (ml) 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 5 10 15 20 25 30 35 waktu (menit) Series1

Gambar 03. Kurva Pengaruh Waktu terhadap Volume NaOH pada Run 1 (T=25oC)

6.2 Percobaan kedua T V umpan N NaOH = 30oC = 10 mL = 0,01 N

Pembuatan NaOH 0,01 N,500 ml (Mengencerkan dari NaOH 0,1 N) V NaOH x N NaOH = V NaOH x N NaOH 500 ml x 0,01 N = V NaOH x 0,1 N V NaOH H2O + CO2 Mgrek CO2 Mr CO2 = 50 ml H2 CO3 = Mgrek H2O = 44 gr/L

No

Waktu (menit)

Vol NaOH (mL) Berat CO2 (gram) dalam 20.000 mL H2O

0,75

V NaOH x N NaOH

0,0075 mgrek x Be CO2

= 0,75 mL x 0,01N = 0,0075 mgrek = 0,0075 mmol 2 5 1,1 V NaOH x N NaOH = 1,1 mL x 0,01N = 0,011 mgrek = 0,011 mmol 3 10 1,25 V NaOH x N NaOH = 1,25 mL x 0,01N = 0,0125 mgrek = 0,0125 mmol 4 15 1,0 V NaOH x N NaOH = 1,0 mL x 0,01N = 0,01 mgrek = 0,01 mmol 5 20 1,2 V NaOH x N NaOH = 1,2 mL x 0,01N = 0,012 mgrek = 0,012 mmol 6 25 1,1 V NaOH x N NaOH = 1,1 mL x 0,01N = 0,011 mgrek = 0,011 mmol 7 30 1,1 V NaOH x N NaOH = 1,1 mL x 0,01N = 0,011 mgrek = 0,011 mmol

= 0,0075 x 44 = 0,33 mg

= 660 mg = 0,66gr

0,011 mgrek x Be CO2 = 0,011 x 44 = 0,484 mg x

= = 968 mg = 0,968gr

0,0125 mgrek x Be CO2 = 0,0125 x 44 = 0,55 mg x

= = 1100 mg = 1,1 gr

0,01 mgrek x Be CO2 = 0,01 x 44 = 0,44 mg x

= = 880 mg = 0,88 gr

0,012 mgrek x Be CO2 = 0,012 x 44 = 0,528 mg x

= = 1056 mg = 1,056 gr

0,011 mgrek x Be CO2 = 0,011 x 44 = 0,484mg x

= = 968 mg = 0,968 gr

0,011 mgrek x Be CO2 = 0,011 x 44 = 0,484mg x

= = 968 mg = 0,968 gr

volume NaOH vs waktu


1.4 1.3 1.2 1.1 1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 5 10 15 20 25 30 35 waktu (menit)

volume NaOH (ml)

Series1

Gambar 03. Kurva Pengaruh Waktu terhadap Volume NaOH pada Run 2 (T=30oC)

6.3 Percobaan ketiga T V umpan = 350C = 25 mL

N NaOH = 0,01 N H2O + CO2 Mgrek CO2 Mr CO2 H2 CO3 = Mgrek H2O = 44 gr/L

No

Waktu (menit)

Vol NaOH (mL) Berat CO2 (gram) dalam 20.000 mL H2O

2,3

V NaOH x N NaOH = 2,3 mL x 0,01 N = 0,023mgrek = 0,023 mmol

0,023 mgrek x Be CO2 = 0,023 x 44 = 1,012 mg x

= = 809,6 mg = 0,8096 gr

3,6

V NaOH x N NaOH = 3,6 mL x 0,01 N = 0,036 mgrek = 0,036 mmol

0,036 mgrek x Be CO2 = 0,036 x 44 = 1,584 mg x

= = 1267,2 mg = 1,2672 gr

10

4,3

V NaOH x N NaOH = 0,43 mL x 0,01 N = 0,043 mgrek = 0,043 mmol

0,043 mgrek x Be CO2 = 0,043 x 44 = 1,892 mg x

= = 1513,6 mg = 1,5136 gr

15

3,6

V NaOH x N NaOH = 3,6 mL x 0,01 N = 0,036 mgrek = 0,036 mmol

0,036 mgrek x Be CO2 = 0,036 x 44 = 1,584 mg x

= = 1267,2 mg = 1,2672 gr

20

5,05

V NaOH x N NaOH = 5,05 mL x 0,01 N = 0,0505mgrek = 0,0505 mmol

0,0505 mgrek x Be CO2 = 0,0505 x 44 = 2,222 mg x

= = 1777,6 mg = 1,7776 gr

25

4,6

V NaOH x N NaOH = 4,6 mL x 0,01 N = 0,046 mgrek = 0,046 mmol

0,046 mgrek x Be CO2 = 0,046 x 44 = 2,024 mg x

= = 1619,2 mg = 1,6192 gr

30

5,85

V NaOH x N NaOH = 5,85 mL x 0,01 N = 0,0585 mgrek = 0,0585 mmol

0,0585 mgrek x Be CO2 = 0,0585 x 44 = 2,574 mg x

= = 2059,2 mg = 2,0592 gr

volume NaOH vs waktu


6.5 6 5.5 5 4.5 volume NaOH (ml) 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 5 10 15 20 25 30 35 waktu (menit) Series1

Gambar 03. Kurva Pengaruh Waktu terhadap Volume NaOH pada Run 2 (T=30oC) Menurut literatur : Kelarutan CO2 dalam air berbagai suhu (saat kesetimbangan) Suhu (oC) 25 30 35 Gram CO2 / 100 ml H2O 0,1449 0,1257 0,1105

Berdasarkan praktikum : T = 25 0C Waktu (menit) 0 0,3 x = 0,00528 gr V NaOH (ml) Gram CO2 / 100 ml H2O

5 T = 30oC Waktu (menit) 5 25 30 T = 35oC Waktu (menit) 5 15

0,3

V NaOH (ml)

Gram CO2 / 100 ml H2O

1,1 1,1 1,1

x = 0,00484 gr

V NaOH (ml)

Gram CO2 / 100 ml H2O

3,6 3,6

x = 0,00634 gr

VII.

PEMBAHASAN Praktikum absorpsi yang berarti penyerapan gas oleh cairan yang dilakukan yaitu

penyerapan/pengikatan gas CO2 oleh air dengan variasi suhu yang berbeda-beda (250C, 300C, dan 350C). Selain itu juga dilakukan variasi waktu yang digunakan dalam sampling hasil absorpsi. Pengikatan CO2 yang dilakukan yaitu dengan menampung air sebanyak 20 L dalam tangki tendon. Dengan mengoperasikan pompa air, perlahan air mengalir melalui bagian atas kolom melewati isian kembali ke dalam tangki penampungan. Gas karbondioksida dialirkan ke dalam air dalam tendon sehingga air mengikat gas karbondioksida tersebut. Peristiwa itu disebut peristiwa absorpsi. Reaksi yang terjadi yaitu: H2O + CO2 H2CO3 Terurai kembali menjadi H2O dan CO2 H2CO3 terurai kembali menjadi H2O dan CO2 , karena H2CO3 merupakan senyawa yang tidak stabil, terutama karena perubahan suhu. Alangkah lebih baik apabila digunakan larutan NaOH untuk mengikat CO2, karena senyawa yang terbentuk, yaitu Na2CO3 memiliki sifat yang lebih stabil dibandingkan dengan H2CO3 yang cepat terurai, sehingga penentuan berat CO2 yang terikat dalam larutan menjadi tidak terukur dengan stabil. Untuk menentukan berat CO2 yang terikat dalam air, dilakukan titrasi dengan menggunakan NaOH sebagai titran. NaOH merupakan senyawa baku sekunder, maka harus distandarisasi terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam oksalat yang merupakan larutan baku primer. Sifat H2CO3 yang asam, maka dilakukan titrasi asam basa dengan titran NaOH untuk menentukan konsentrasi CO2 yang terikat dalam larutan. Dari hasil praktikum dengan variasi lamanya waktu absorpsi, didapatkan bahwa semakin lama waktu absorpsi, maka berat CO2 yang dihasilkan juga semakin banyak. Artinya, waktu berbanding lurus dengan massa CO2 yang dihasilkan. Selain waktu, dilakukan juga variasi temperatur untuk melihat efisiensi CO2 yang di absorpsi. Semakin tinggi temperatur yang digunakan untuk absorpsi, maka berat CO2 semakin sedikit didapatkan. Jadi, temperatur berbanding terbalik dengan berat CO2 yang terikat dalam air.

Beberapa penyimpangan yang terjadi pada hasil praktikum ini dapat disebabkan oleh faktor kesalahan berikut : 1. Sifat H2CO3 yang tidak stabil mengakibatkan CO2 terurai ke udara, sehingga hasil yang didapatkan tidak benar-benar merupakan hasil maksimum. Untuk itu, waktu tenggang dalam melakukan analisis sangat penting untuk diperhatikan. Perbedaan waktu tenggang dalam analisis sampel satu dengan yang lainnya akan mempengaruhi kestabilan hasil analisis. Waktu pendiaman yang lebih lama akan menyebabkan banyaknya CO2 lebih sedikit terabsorpsi dalam analisis yang dilakukan. 2. Air kran yang digunakan dalam proses memiliki pH asam, sehingga absorpsi CO2 tidak dapat berlangsung maksimal. 3. Pada praktikum digunakan labu erlenmeyer dengan volume yang berbeda-beda, sehingga pembacaan titik akhir titrasi menjadi sedikit berbeda dari perbedaan volume erlenmeyer tersebut. 4. Dengan semakin lama waktu yang digunakan untuk proses ini, maka absorpsi dapat berjalan lebih sempurna. Kemudian setelah tercapai kesetimbangan reaksi, maka berat CO2 akan didapatkan berat yang konstan. .

VIII. KESIMPULAN 1. Dari praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa, Suhu (oC) 25 30 35 Berat CO2 ( gr/100 mL H2O ) 0,00528 gr 0,00484 gr 0,00634 gr

2. Hal-hal yang mempengaruhi absorpsi CO2 dalam air pada praktikum ini adalah waktu dan themperatur. 3. Waktu absorpsi berbanding lurus, sedangkan suhu berbanding terbalik dengan absorpsi CO2 dalam air.

IX.

DAFTAR PUSTAKA http://tekimerzitez.wetpaint.com/page/Absorbsi+CO2+Dengan+NaOH (diakses 13 Maret 2012) http://www.co2crc.com.au/images/imagelibrary/cap_diag/solvent_absorption_media.j pg (diakses 13 Maret 2012) http://digilib.its.ac.id/ITS-Undergraduate-3100005021751/13195 (diakses 13 Maret 2012) http://lab.tekim.undip.ac.id/proses/2010/03/04/absorbsi-co2-dengan-menggunakanlarutan-naoh/ (diakses 13 Maret 2012) http://bestbuydoc.com/id/doc-file/13011/praktikum-unit-proses-materi-absorbsi-gasco2-dengan-naoh-disusun-oleh-fransisca-selvy-group-b-21-rekan-kerja.html (diakses 13 Maret 2012) http://www.scribd.com/yulia_maharani/d/82863202-ABSORPSI-kel-7 (diakses 13 Maret 2012) http://www.scribd.com/doc/51091372/ABSORBSI-GAS (diakses 13 Maret 2012)

X.

LAMPIRAN