MAKALAH CRYPTOGAMAE “ALGAE COKLAT (PHAEOPHYTA) SEBAGAI SUMBER ALGINAT”

Diajukan untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah Cryptogamae yang dibimbing oleh Bapak Dr. M. Agus Salim, Drs. MP.

Nama : Rifki Muhammad Iqbal NIM : 1211702067 Kelas/Semester : IV B

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan sesuai rencana yang ditentukan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah yang diberikan yaitu mata kuliah Cryptogamae. Tersusunya makalah ini tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah mendukung dan membantu, sehingga saya ucapkan terima kasih. Penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca. Makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis selalu mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Atas kritik dan saran kami sampaikan terima kasih banyak.

Bandung, 6 Maret 2013

Penyusun

ii

..…………….......… ii BAB I PENDAHULUAN ………………………………. 14 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………...........….4 2..............………….......................... 12 iii .....................................…........................……………………………….............. 13 3.3 Tujuan ……………………………………………………....2 BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………..........…........................ 3 2..........................................…………...........……...........1 Kesimpulan …………….... 8 BAB III PENUTUP …………………………………………........... Latar Belakang ……………………………….......……………....................…………….............................2 Ekstraksi Senyawa Antibakteri ..........…………………...…………………..... 1 1.....1 1. i Daftar Isi ……………………………………….....1 ............…………………….............….DAFTAR ISI Kata Pengantar ……………............3 Aktivitas Antibakteri ...3 2........................2 1....……....1 Komposisi Kimia Dunaliella sp ............................2 Saran ……………………………………………………....………................….......…...........……………...........…………...........………..................... 13 3...2 Rumusan Masalah ………………………………...........……………………………………………………..............................

vitamin. Aplikasi bioteknologi sumberdaya perairan berperan dalam mengetahui sekaligus menghasilkan bahan aktif termasuk antimikroba sehingga diperoleh bahan aktif yang dapat dimanfaatkan untuk manusia dan lingkungan. Mikroalga merupakan mikroorganisme atau jasad renik dengan tingkat organisasi sel termasuk dalam tumbuhan tingkat rendah. Bahan-bahan bioaktif yang telah diketahui dapat dihasilkan dari mikroalga yaitu antioksidan. maka disebut sebagai produsen primer. protein. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. sehingga pemanfaatan sumberdaya laut selayaknya dilakukan secara optimal. air dan karbon dioksida dengan adanya energi surya dari matahari dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat. Spesies biota laut yang memiliki potensi 1 . pigmen. Seiring perkembangan bioteknologi mikroalga. toksin. Mikroalga dikelompokkan dalam filum Thallophyta karena tidak memiliki akar. (Nontji 1993). Wilayah perairan Indonesia mencapai sekitar 5. dan zat pengatur pertumbuhan. dalam artian bahwa semakin tinggi keanekaragaman hayati yang terkandung.BAB I PENDAHULUAN 1. batang. bahan obat-obatan. enzim. Karena kemampuannya membentuk zat organik dari zat anorganik. semakin besar potensi yang dapat dikembangkan (Dahuri 2003). Selain itu.1. Mikroalga sebagai salah satu komoditi hasil perairan dewasa ini telah menjadi alternatif untuk dikembangkan karena memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan. (Kabinawa 2001). dan bahan-bahan bioaktif lain. Tingginya keanekaragaman hayati di laut dapat merefleksikan potensi ekonomi perairan pesisir dan lautan tersebut.000 km. dan daun sejati. namun memiliki zat pigmen klorofil yang mampu melakukan fotosintesis.8 juta km2 serta mempunyai garis pantai yang panjangnya sekitar 81. sejumlah penelitian mulai ditujukan untuk menghasilkan produk bermanfaat yang bernilai tinggi diantaranya sebagai sumber bahan kimia yang dapat menghasilkan produk seperti gliserol. Latar Belakang Keanekaragaman sumberdaya di perairan Indonesia merupakan kekayaan alam yang kemungkinan besar masih sangat sedikit dimanfaatkan oleh manusia. (Kabinawa 1994).

diketahui memiliki potensi sebagai antibakteri. Potensi sumber daya alam terutama mikroalga belum banyak diungkap dan diteliti. 1. Pratt (1942) menemukan bahwa Chlorella sp. sehingga informasi yang dapat diperoleh masih sangat terbatas.3. 1993).Rumusan Masalah 1. Shklar dan Schwartz 1988 diacu dalam Chang et al. Dunaliella salina juga dapat dimanfaatkan sebagai jasad pakan yang cukup baik (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995). Bacillus subtilis.000 spesies (Dahuri 2003). Berbagai hasil penelitian mengenai bahan aktif termasuk antimikroba dari mikroalga telah dilaporkan oleh para pakar. terhadap bakteri patogen. Chang et al. Pemanfaatan Dunaliella cukup beragam mulai dari sebagai makanan kesehatan seperti yang telah dipasarkan di negara-negara maju. Ekstrak Dunaliella tertiolecta menunjukkan hasil positif sebagai antibakteri (Becker 1994). Jumlah yang besar tersebut seyogyanya dimanfaatkan seoptimal mungkin.2. Bacillus cereus. 1988. (Hashimoto 1979 diacu dalam Indhira 2004).000 dan yang dimanfaatkan baru sekitar 5. Chlorella vulgaris mengandung zat antibakteri yang disebut chlorellin. Dunaliella sp. dan Enterobacter aerogenes. Dunaliella merupakan salah satu mikroalga yang cukup banyak diteliti terutama sebagai sumber β-karoten dan gliserol. Penelitian tentang aktivitas senyawa antibakteri dari mikroalga masih sedikit (Matsueda et al. pada umur panen yang Komposisi kimia apa yang terdapat pada Dunaliella sp? Bagaimana mendapatkan senyawa antibakteri dari Dunaliella sp? Bagaimana pengaruh antibakteri ekstrak Dunaliella sp terhadap bakteri patogen? 2 .Tujuan Mengetahui komposisi kimia Dunaliella sp. Mempelajari aktivitas antibakteri ekstrak Dunaliella sp.menghasilkan obat-obatan diperkirakan lebih dari 35. Mendapatkan senyawa antibakteri dari berbeda. (1993) telah melakukan pemurnian sebagian komponen antibiotik Dunaliella primolecta yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

dan karbohidrat dari Dunaliella sp.17 18. 6. karbohidrat. jasad pakan yang cukup baik. Hasil analisis proksimat Dunaliella sp. dapat dilihat pada Tabel 1. (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995). dan mineral. Kandungan kimia suatu mikroalga dapat dilihat dari kandungan protein. vitamin. 18. (Winarno 3 .1. Protein mempunyai peranan penting untuk pertahanan fungsi jaringan secara normal. Tabel 1. Kandungan kimia tiap mikroalga berbeda-beda yang dipengaruhi oleh zat hara.75 %).30 %). Komponen penyusun protein adalah asam amino. (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995). suhu. Komposisi kimia Dunaliella sp. Kandungan protein Dunaliella sp. Lemak merupakan sumber energi paling tinggi. sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram.12 % dan asam amino menentukan kualitas protein. abu.12 %.22 %.17 %. (49.89 Kandungan air. dan lain-lain. Beberapa mikroalga dianggap sebagai sumber protein karena kandungannya yang tinggi seperti Chlorella vulgaris (35. adalah 65. 1. Manfaat Dunaliella cukup beragam mulai dari sebagai antibakteri.12 1. Komposisi Kimia Dunaliella sp. dan 8. Pembentukan asam amino Dunaliella sp. adalah 18.89 %.BAB II PEMBAHASAN 2. lama pencahayaan. mengganti sel-sel yang rusak dan pembentukan sel-sel baru. Dunaliella salina (57 %). kondisi lingkungan seperti intensitas cahaya.60 %.60 8. diperoleh dari unsur hara yang terdapat pada medium tumbuhnya. Senyawa kimia Air Abu Protein Lemak Karbohidrat Jumlah (%) 65. lemak. sumber gliserol dan βkaroten hingga sebagai makanan kesehatan seperti halnya dengan Chlorella karena kandungan proteinnya yang tinggi. Satu gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal. lemak. protein.22 6. perawatan jaringan tubuh. Tetraselmis sp.

Kualitas lemak pada Dunaliella sp. (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995). 2. Tetraselmis suecica akan menghasilkan kandungan lemak yang rendah dan terus memproduksi karbohidrat bila lingkungannya terganggu. Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.1997). Kultur Dunaliella sp.. Unsur hara dan faktor lingkungan dapat mempengaruhi kandungan asam lemak. Beberapa mikroalga seperti Dunaliella sp. (Sudarmadji et al. 2000). senilai 1. Mineral berperan dalam menjaga tekanan osmosis.60%. Ekstraksi Senyawa Antibakteri Penelitian ini menggunakan pelarut heksana. Oleh karena itu. asam organik. karbohidrat Dunaliella sp. sebesar 6. alkohol (Metting dan Pyne 1986 diacu dalam Setyaningsih et al. Peningkatan kadar abu seiring dengan meningkatnya kandungan mineral. Kandungan lemak Dunaliella sp.2. Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya. polisakarida. juga ditentukan oleh asam lemak pembentuknya. metanol dalam mengekstrak senyawa antibakteri dari Dunaliella sp. Kandungan abu yang dimiliki Dunaliella sp. etil asetat. Unsur hara dan faktor lingkungan seperti diketahui memiliki pengaruh terhadap kandungan senyawa Dunaliella sp. komponen penting pembentuk struktur tulang dan gigi. karbohidrat sangat dipengaruhi oleh kandungan zat gizi lainnya. polisakarida. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Kandungan senyawa kimia Dunaliella sp. Kadar karbohidrat ini tergantung pada faktor pengurangannya yaitu kadar air.17 %. Komponen penyusun antibiotik dari alga diketahui terdiri dari asam lemak. (Becker 1994). menjaga keseimbangan asam dan basa tubuh. Lemak disusun atas beberapa asam lemak yang merupakan komponen pembentuk. tannin. Ekstraksi adalah suatu proses penarikan komponen yang diinginkan dari suatu bahan ataupun proses pemisahan satu atau beberapa zat yang diinginkan dari campurannya dengan bantuan pelarut. penghambat fenolat. dipanen pada hari ke-7 yang mewakili fase log dan hari ke-14 yang mewakili fase stasioner. 4 . Medium tumbuh Dunaliella sp. abu. dan golongan senyawa dipeptida. Pada fase log dihasilkan produk Kadar metabolit primer yang dapat berpotensi sebagai antibakteri seperti asam lemak.89 % yang dilakukan secara by difference. adalah 8. terpenoid. 1989). yang digunakan dalam penelitian ini masih terdiri dari unsur teknis seperti pemakaian vitamin B12. berkaitan dengan medium tumbuhnya. Pada fase stasioner terjadi akumulasi produk toksik yang merupakan inhibitor (Mckane dan Kandel 1985). protein dan lemak. bromofenol.

Pengeringan beku dilakukan dengan menggunakan freeze dryer pada suhu -75 ºC agar komponen bioaktif yang terkandung tidak rusak. sedangkan produk yang diekskresikan ke medium tumbuhnya disebut metabolit ekstraseluler (Stewart 1974). Teknik pemisahan biomassa dan filtrat dengan menggunakan sentrifuse merupakan salah satu cara yang sangat efisien (Vonshak 1990). dan terakhir pelarut metanol (pelarut polar). memperbesar kemungkinan tumbukan antar partikel sehingga komponen yang telah keluar dapat terikat dan larut dalam pelarut. Kemudian biomassa kering dilakukan proses pemecahan sel dengan menggunakan glass bead. dengan jenis pelarut dapat dilihat pada Tabel 2. Selanjutnya dilakukan pengadukan (stirring) menggunakan pengaduk magnet (magnetic stirrer) dengan tujuan memecah sel sehingga komponen yang diinginkan dapat keluar. Penggunaan berbagai pelarut ini dilakukan agar zat aktif yang terkandung dan belum diketahui sifatnya dapat terekstrak secara optimal sesuai kepolarannya. Penguapan pelarut ini dengan menggunakan rotary evaporator vacuum pada suhu 35 ºC. kemudian pelarut etil asetat (pelarut semi polar). Maserasi ini dilakukan secara terus menerus selama 24 jam untuk memperbesar kemungkinan reaksi antara senyawa yang diinginkan dengan pelarut. Metabolit intraseluler tersebut terdapat pada biomassa sedangkan metabolit ekstraseluler terdapat pada filtrat. 5 . Berat ekstrak Dunaliella sp. Ekstraksi pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pelarut yang berbeda yang diawali dari pelarut heksana (pelarut non polar). serta memperbesar pengikatan komponen dengan pelarut yang digunakan. 1987). (Harborne. disajikan pada Gambar 13. Hasil dari proses pengeringan beku tersebut berupa filtrat dan biomassa kering. Penggunaan rotary evaporator vacuum untuk memekatkan larutan dalam volume kecil sebaiknya menggunakan suhu antara 30-40 ºC agar komponen bioaktif yang terkandung tidak rusak. Biomassa dan filtrat dikeringbekukan untuk menghilangkan komponen air dan menghindari kerusakan komponen bioaktif yang terkandung dalam bahan.Pemisahan biomassa sel dengan filtrat dilakukan menggunakan sentrifuse. Filtrat dan biomassa kering Dunaliella sp. Mikroalga memiliki substansi organik yang berlimpah di dalam selnya yang disebut metabolit intraseluler. Tahap selanjutnya adalah evaporasi yang bertujuan menguapkan pelarut dan memperoleh senyawa hasil ekstraksi yang diinginkan.

94 % 2. Hal yang sama juga terjadi pada fase stasioner. 0. 0. dengan jenis pelarut Berat biomassa basah Berat biomassa kering Rendemen ekstrak kering (%) 1.03 gram 0.29 % 1.54 gram Etil asetat Methanol Rendemen ekstrak kering pada fase log yang diperoleh dari ekstraksi dengan pelarut metanol (5.02 gram 0. Selain itu.59 % Umur panen Volume (liter) Jenis pelarut Heksana Berat ekstrak 0. pelarut metanol diketahui sebagai pelarut yang mampu mengekstraksi kelompok senyawa gula. air dalam jumlah dan proporsi berbeda-beda sehingga diperoleh hasil ekstraksi metanol cukup besar. heksana. etil asetat. ekstrak-etil asetat.54 %) dan pelarut heksana (1.54 % 5.29 %). protein. (Houghton dan Raman 1998).04 gram Fase log 10 liter 3. etanol. lemak. dimana rendemen ekstrak kering yang dihasilkan dari ekstraksi dengan pelarut metanol (2.02. Pada fase log terjadi metabolisme primer dimana polisakarida.10 gram Etil asetat Methanol Heksana Fase stasioner 10 liter 5. Tabel 2.59 %) lebih besar dibandingkan rendemen ekstrak dari ekstraksi dengan pelarut etil asetat (1.Berat biomassa kering yang dihasilkan pada umur panen fase stasioner (1. Berat ekstrak-heksana. glikosida.06 gram.04 gram 1. dan asam nukleat merupakan produk metabolit 6 .05.94 %) dan juga pelarut heksana (1. lebih banyak mengandung senyawa yang dapat larut dalam pelarut polar.45 % 1. asam-asam amino.10 gram). pada fase stasioner lebih tinggi dibandingkan pada fase log. juga dapat melarutkan kelompok senyawa yang larut dalam petroleum eter. Hal ini menunjukkan bahwa Dunaliella sp.78 gram 1. meskipun laju pertumbuhan pada fase stasioner mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh jumlah sel Dunaliella sp.81 % 4.02 gram 0.05 gram 0.45 %) lebih besar dibandingkan dengan rendemen ekstrak dari ekstraksi pelarut etil asetat (4. kloroform.81 %). Jumlah sel pada fase stasioner cenderung tetap karena sel stelah mencapai titik jenuh.06 gram 0.54 gram) lebih besar dibandingkan pada fase log (1. ekstrak-metanol yang diperoleh pada fase log berturut-turut nilainya adalah 0. Berat ekstrak Dunaliella sp.

jingga. ekstrak-metanol yang diperoleh pada fase stasioner berturut-turut nilainya adalah 0. Pelarut non polar misalnya heksana mampu mengekstrak hidrokarbon. dan ekstraksi dengan pelarut metanol menghasilkan ekstrakmetanol berwarna hijau tua. Karotenoid adalah pigmen berwarna kuning. komponen fenolik. dan terpenoid. Berat ekstrak-heksana. Pelarut-pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi menghancurkan membran sel dan melarutkan pigmen yang terkandung dalam bahan sehingga menghasilkan warna tersebut (Shahidi dan Naczk 1995). Produk senyawa metabolit sekunder seperti senyawa fenol. 0. terjadinya penumpukan produk beracun dan kehabisan nutrien (Pelczar dan Chan 2005). atau merah yang terdapat di berbagai macam plastid berwarna (kromoplas) (Salisbury dan Ross 1995). Pada fase stasioner terjadi metabolisme sekunder yang merupakan keseluruhan proses sintesis dan perombakan produk metabolit primer (Herbert 1995). Ekstrak yang diperoleh dari proses ekstraksi Dunaliella sp. Ekstraksi dengan pelarut heksana menghasilkan ekstrak-heksana berwarna coklat kekuningan.04 gram. Demikian juga ekstrak-etil asetat yang berwarna kecoklatan diduga karena kandungan karotenoid. serta menghasilkan komponen-komponen yang berfungsi untuk pertahanan hidup . asam lemak. 7 . 0. karotenoid. Hasil dari ekstraksi tahap awal ini masih berupa ekstrak kasar dan umumnya ekstraksi dengan pelarut tidak dapat menghasilkan komponen yang diinginkan secara sempurna kecuali dilanjutkan dengan pemurnian. ekstraksi dengan pelarut etil asetat menghasilkan ekstrak-etil asetat berwarna kecoklatan. dan tanin (Harborne 1987). Pelarut semi polar misalnya etil asetat mampu mengekstrak senyawa fenol dan terpenoid. Pelarut polar misalnya metanol mampu mengekstrak senyawa alkaloid kuartener. ekstrak-etil asetat. Klorofil merupakan zat hijau daun yang penting dalam fotosintesis. kloroform. (Salisbury dan Ross 1995). Komponen-komponen tersebut merupakan penyusun utama suatu makhluk hidup (Manitto 1992).primer. asetogenin. Ekstrak-metanol yang berwarna hijau tua diduga disebabkan oleh klorofil yang terekstrak.03. alkaloid. Pigmen warna ini mudah diekstraksi dalam pelarut lipid seperti heksana. Ekstrak-heksana yang berwarna kuning kecoklatan diduga karena kandungan karotenoid. dan terpen. berbentuk pasta dengan warna yang berbeda-beda.02. Penelitian Sugiastuti (2002) mendapatkan ekstrak-etanol daun sirih berwarna hijau kehitaman yang juga disebabkan oleh kandungan klorofil dari daun sirih.

Diameter zona bening dari ekstrak-etil asetat dengan bakteri uji tersebut. dan Vibrio harveyi (0. 3.65). Konsentrasi masing-masing ekstrak yang diteteskan pada paper disc adalah 300 µg/disc. Hasil uji aktivitas antibakteri Dunaliella sp. 4. Ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji walaupun kemampuannya tergolong lemah. dan 3 mm. Tabel 3.64). Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak-heksana. ekstrak-metanol dari metabolit intraseluler (biomassa) dan metabolit ekstraseluler (filtrat). Kloramfenikol digunakan sebagai kontrol positif. 8 . Bacillus cereus. Optical Density (OD600) masing-masing bakteri adalah Staphylococcus aureus (0. disajikan pada Tabel 3. dan 5 mm. 2. terhadap bakteri patogen Umur panen Ekstrak Diameter zona hambat (mm) pada bakteri uji S. 2.67).3. cereus 4 2 2 3 20 E. Escherichia coli (0. berturut-turut adalah 2. aures Fase log Heksana Etil asetat Methanol Ekstraseluler Fase stasioner Heksana Etil asetat Methanol Ekstraseluler Kloramfenikol 3 2 2 2 19 B. harveyi 5 3 4 4 26 Pengujian ekstrak-heksana pada fase log terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus. Ekstrak-metanol dan ekstraseluler tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. coli 3 2 1 2 24 V. Besarnya aktivitas antibakteri ditunjukkan oleh besarnya zona bening yang terbentuk di sekitar paper disc. dan Vibrio harveyi menghasilkan diameter zona bening di sekitar paper disc berturut-turut sebesar 3. Aktivitas Antibakteri Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri Gram positif. ekstrak-etil asetat. yaitu Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus serta bakteri Gram negatif.2.68). yaitu Escherichia coli dan Vibrio harveyi. Escherichia coli. Bacillus cereus (0. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak Dunaliella sp.

Ekstrak- heksana diduga mengandung asam lemak dan terpen. tanin. dan 4 mm. linolenat terhadap Clostridium welchii. asam fenolat. (Davis dan Stout 1971). (Harborne 1987). Senyawa yang berperan sebagai antibakteri dalam ekstrak-etil asetat diduga adalah fenol dan terpenoid tersebut. flavonoid kuinon. (Riguera 1997). stilbena. Kelompok fenolik merupakan aneka ragam senyawa yang terdiri dari fenol. 3. 2000). 2. dan terpen. Escherichia coli. polaritas pelarut metanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri. 1983). asetogenin. Pelarut polar misalnya metanol mampu mengekstrak kelompok senyawa alkaloid kuartener. serta pigmen . (Robinson 1995). dan Vibrio harveyi juga termasuk dalam kriteria lemah (rata-rata diameter zona hambat < 5 mm) dengan diameter zona hambat masing-masing sebesar 2. pigmen flavonoid. antosianin.Berdasarkan diameter zona hambat yang dihasilkan. karotenoid. 2. Sejumlah komponen penyusun antibiotik dari alga laut diketahui diantaranya terdiri dari terpenoid dan penghambat fenolat. flavonol dan flavon. dan 4 mm. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat pada fase stasioner terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus. Bacillus cereus. Senyawa terpen contohnya triterpenoid merupakan golongan yang berpotensi sebagai antimikroba terutama banyak digunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit. Ekstrak-metanol pada penelitian ini tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. 1. (Harborne 1987). fenilpropanoid. Pelarut semi polar misalnya etil asetat mampu mengekstrak senyawa fenol dan terpenoid (Harborne 1987). (1998) diacu dalam Parhusip (2006) menyatakan bahwa polaritas suatu senyawa mempengaruhi aktivitas antibakteri seperti 6-gingerol yang mempunyai rantai alkil lebih polar daripada 10-gingerol memberikan penghambatan lebih rendah terhadap 9 minor. Komponen aktif yang dapat diekstrak dari suatu bahan tergantung pada kepolaran pelarut yang digunakan. ekstrak-heksana dan etil asetat termasuk kategori yang memiliki aktivitas lemah (rata-rata diameter zona hambat < 5 mm). xanton. Selain itu. (Kabara. serta 2. Hiserodt et al. (Metting dan Pyne 1986 diacu dalam Setyaningsih et al. komponen fenolik. Senyawa yang terikat pada pelarut non polar misalnya heksana antara lain hidrokarbon. asam lemak. arakhidonat. adalah senyawa yang bersifar non polar dan semi polar. Hal ini dapat diduga bahwa senyawa aktif yang terdapat pada Dunaliella sp. dan tanin. Beberapa jenis asam lemak bebas yang terbukti memiliki daya hambat antibakteri diantaranya linoleat.

(Metting dan Pyne 1986 diacu dalam Setyaningsih et al. dilakukan pada hari ke-7 yang waktunya mendekati fase awal stasioner sehingga selain dihasilkan produk metabolit primer juga mulai dihasilkan produk metabolit sekunder. yang dipanen pada umur 7 hari yang mewakili fase log dan umur 14 hari yang mewakili fase stasioner memiliki aktivitas antibakteri walaupun tergolong lemah. dihasilkan pada fase log dan stasioner. Resistensi mikroorganisme terhadap beberapa jenis antibiotik dapat 10 . alkaloid. Panen Dunaliella sp.Mycobacterium avium. asam mevalonat. Selain itu. pigmen. asam organik. (Manitto 1992). flavonoid. 2000). Beberapa produk metabolit primer ini dapat berpotensi sebagai antibakteri seperti asam lemak. asetil koenzim. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa polar seperti metanol juga cenderung mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih rendah. tannin. Selain itu. (Schlegel dan Schmidt 1994). dan nukleotida. Selama fase log dihasilkan produk metabolit primer seperti polisakarida. Metabolit sekunder yang diproduksi selama fase stasioner misalnya senyawa terpen. Ekstrak Dunaliella sp. Hal ini diduga bahwa metabolit ekstraseluler yang terdapat pada filtrat menguap karena perlakuan freeze drying dan pada penelitian ini. terpenoid. (Manitto 1992). Komponen penyusun antibiotik dari alga diketahui terdiri dari asam lemak. Ekstraseluler tidak menunjukkan aktivitas antibakteri. alkohol. hasil ekstraseluler tidak dilakukan maserasi. Senyawa antibakteri pada Dunaliella sp. Bakteri memiliki kerentanan terhadap sarana fisik dan bahan kimia yang berbeda. terjadi akumulasi produk toksik yang merupakan inhibitor. polisakarida. Dunaliella sp. alkaloid. juga dapat berpotensi sebagai antibakteri. Produk antibakteri alami sering juga berasal langsung dari senyawaan pembangun metabolit primer seperti golongan senyawa dipeptida. (Quinn 1988 diacu dalam Lailati 2007). polisakarida. Selama fase stasioner. penghambat fenolat. Pigmen Dunaliella sp. diduga tidak mensekresikan substansi organik yang berfungsi sebagai komponen aktif ke medium tumbuhnya. Produk antibakteri alami umumnya berasal dari hasil senyawaan metabolit sekunder dari berbagai kelompok yaitu senyawa fenol. dan golongan senyawa dipeptida. bromofenol. Banyak mikroorganisme berpigmen yang memiliki sifat-sifat antibiotik. gula. asam amino.terpenoid. (Quinn 1988 diacu dalam Lailati 2007). senyawa antibakteri diproduksi karena sel bertahan untuk hidup dengan nutrien semakin berkurang dan populasi yang padat. asam lemak. Perbedaan-perbedaan aktivitas antibakteri dapat disebabkan oleh sifat kerentanan dari masing-masing bakteri.

dan sulfonamid. dan kloramfenikol tetapi resisten terhadap polimiksin dan polynes. Beberapa hal yang dapat menyebabkan mikroorganisme dapat rentan terhadap antibiotik adalah struktur sel yang kurang lengkap. Membran luar sel Escherichia coli merupakan protein asam yang dibuat bila lingkungannya tidak mendukung pertumbuhan terutama jika bakteri keluar dari saluran pencernaan. dan jenis antibiotik. Ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat diduga mampu menghambat aktivitas enzim protease.disebabkan oleh sifat yang dimiliki oleh mikroorganisme itu sendiri. (Russel 1991 diacu dalam Parhusip 2006). Senyawa antibakteri dapat merusak sistem metabolisme di dalam sel dengan cara menghambat sintesis protein bakteri dan menghambat kerja enzim intraseluler. 1989). dinding sel yang impermeabel. (Tortora et al. Staphylococcus aureus juga tidak memiliki molekul reseptor spesifik dan susunan matrik sistem dinding selnya relatif terbuka sehingga penetrasi oleh senyawa antibakteri akan lebih mudah. (Pelczar dan Chan 2005). Sistem enzim yang terpengaruh 11 . Rawel et al. (Kim et al. Bakteri ini termasuk bakteri Gram positif yang mampu menghasilkan enzim protease. Escherichia coli sensitif terhadap antibiotik jenis kloramfenikol. Selain itu. Zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak heksana dan etil asetat terhadap bakteri Escherichia coli lebih kecil bila dibandingkan dengan zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Staphylococcus aureus termasuk bakteri Gram positif yang peka terhadap ekstrak non polar karena bakteri ini mempunyai lapisan peptidoglikan yang mengandung asam amino dan bersifat hidrofobik sehingga lebih mudah ditembus senyawa non polar. Ketahanan Escherichia coli diduga karena menghasilkan protease serin yang aktivitasnya berkorelasi dengan tingkat infeksi yang ditimbulkan. Ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Bacillus cereus. Menurut Nikaido dan Vaara (1985) diacu dalam Parhusip (2006). (Pelczar dan Chan 2005). (Franklin dan Snow 1989 diacu dalam Parhusip 2006). bakteri Escherichia coli juga termasuk bakteri Gram negatif yang memiliki susunan dinding sel lebih kompleks (berlapis tiga) dibandingkan dengan dinding bakteri Gram positif yang berlapis satu. kanamisin. bakteri Escherichia coli termasuk golongan bakteri enterik dan mempunyai membran luar yang sangat efektif dalam mempertahankan dirinya dibandingkan bakteri Gram negatif lainnya. (Budiarti dan Suhartono 1999). tetrasiklin. penisilin. 1995. (Brock dan Madigan 2003). 2001 diacu dalam Parhusip 2006). Staphylococcus aureus umumnya sensitif terhadap antibiotik β-laktam.

karvakrol. Setiap enzim yang terdapat di dalam sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu senyawa antibakteri yang akan bersaing dengan substrat sehingga enzim tidak aktif. Senyawa organik lain dapat menurunkan aktivitas zat antibakteri dengan cara menginaktivasi dan mengganggu kontak antara zat antibakteri dengan sel bakteri sehingga dapat melindungi bakteri dari zat antibakteri tersebut. Kloramfenikol bekerja dengan cara menghambat sintesa protein sel bakteri yang berlangsung di ribosom. dan hampir semua antibiotik. (Masini et al. thyme. kloramfenikol. gelatinase. oregano. resorcyclic acid dan dopamine) dan antibiotik streptomisin. Ekstrak Dunaliella sp. 12 . Kloramfenikol sebagai kontrol positif menghasilkan diameter zona hambat lebih besar daripada diameter zona hambat masing-masing ekstrak dengan konsentrasi yang sama. perlu dimurnikan untuk mendapatkan aktivitas antibakteri yang lebih baik. Bacillus cereus termasuk bakteri yang peka terhadap minyak atsiri (cinnamon. (Pelczar dan Chan 2005). elastase. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel. Hal ini disebabkan kloramfenikol merupakan zat antibakteri murni sedangkan ekstrak Dunaliella sp. 2004 diacu dalam Parhusip 2006). (Greenwood et al.akan mengakibatkan gangguan pada produksi energi penyusun sel dan sintesis komponen sel secara struktural. (Pelczar dan Chan 2005). (Friedman et al. perilaldehyde. Vibrio harveyi menghasilkan enzim protease. lipase. Ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat mempunyai aktivitas yang spesifik terhadap Vibrio harveyi dengan terbentuknya zona hambat yang lebih besar daripada bakteri lainnya. (Setiabudy dan Ganiswara 1995). penisilin G. dan urease yang berperan dalam proses metabolisme . Vibrio harveyi sensitif terhadap antibiotik rifampisin. oksitetrasilin. 2007). 1995). Ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat diduga dapat menghambat enzim yang dihasilkan Vibrio harveyi sehingga menyebabkan metabolisme bakteri tersebut terganggu. masih berupa ekstrak kasar (crude extract) yang mengandung bahan organik lain selain antibakteri.

ekstrak-etil asetat sebanyak 4 dan 3 komponen.10 gram). 4.1. 3 mm. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat pada fase stasioner terhadap bakteri uji yang sama berturut-turut nilainya adalah 2.54 %. 2. dan 2.81 %. yang dipanen pada umur 7 hari (fase log) dan umur 14 hari (fase stasioner) menunjukkan adanya aktivitas antibakteri walaupun kemampuannya tergolong lemah. lemak. Bacillus cereus. 13 . 5 mm. dan pelarut metanol berturut-turut sebesar 1. 4 mm.60 %. 3. fase penurunan laju pertumbuhan (hari ke-9 sampai ke-11). Rendemen ekstrak kering pada fase stasioner yang dihasilkan dari ekstraksi dengan pelarut heksana. 1. dan Vibrio harveyi menghasilkan diameter zona bening di sekitar paper disc berturut-turut sebesar 3. serta 2. 2. serta 2.59 %. Escherichia coli. kandungan air. 6. dan karbohidrat dari Dunaliella sp. pelarut etil asetat. fase stasioner (hari ke-12 sampai ke-29). adalah 65. Ekstrak-metanol dan ekstraseluler tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. Kesimpulan Pada penelitian ini.45 %. Ekstrak-heksana dan etil asetat dari Dunaliella sp.29 %. 18.89 %.12 %. 1. Rendemen ekstrak kering pada fase log yang diperoleh dari ekstraksi dengan pelarut heksana. Pengujian KLT menunjukkan bahwa jumlah komponen aktif yang terdapat pada ekstrak-heksana.17 %. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak-heksana dan ekstrak-etil asetat pada fase log terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus. protein. 2. 4. pola pertumbuhan Dunaliella sp. dan pelarut metanol berturut-turut nilainya adalah 1.94 %. dan 5. abu.54 gram) lebih besar dibandingkan pada fase log (1. 3. 4 mm. dan 8. 2. Berat biomassa kering yang dihasilkan pada umur panen fase stasioner (1. dimulai dari fase log (hari ke-0 sampai ke-8). pelarut etil asetat. Berdasarkan uji proksimat.22 %.BAB III PENUTUP 3. 1. serta fase menuju kematian (hari ke-30 sampai ke-34).

22(4): 659-665. Peranan protease pada bakteri patogen. Dahuri R. Mexico: Prentice Hall International. 1995. Hadioetomo RS. Komar. 14 . 1987. Ohta S. Miyata H. 1971. Makalah dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia. Kondo M. Sixth edition. Slack RCB. Dunaliella primolecta. Kashimoto T. 3-4 Agustus 1999. Darusman LK Sajuthi D. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. editor. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Peutherer JF. Bandung: ITB. Iwang S. Biology of Microoganisms. 1993. 1993. Jakarta: UI Press Harborne JB. 1994. Greenwood D. Journal of Microbiology. Antibiotic substances produced by a marine green alga. Naskah seminar: Ekstraksi komponen bioaktif sebagai obat dari kerang-kerangan. Brock TD. Terjemahan dari: Phytochemical Methods. Chang T. Suhartono MT. Keanekaragaman Hayati Laut. Kosasih P. 2003. 1999. Bioresource Technology. Pamungkas.IPB. Disc plate method of microbiological antibiotic assay. bunga karang dan ganggang laut di perairan pulau Pari kepulauan Seribu. 44: 149-153. Budiarti S. Ed ke-14. Davis WW. Microalgae Biotechnology and Microbiology. Metode Kimia. penerjemah. 2003. Padang. Madigan MT. Stout TR.DAFTAR PUSTAKA Becker EW. Hongkong: ELBS. 1995. Ikegami N. Buletin Kimia. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. USA: Cambridge University Press. Medical Microbiology. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia.

An Introduction to Separation. Biosintesis Metabolit Sekunder. Kurniastuty. Laboratory Handbook for the Fractionation of Natural Extracts. 1994. 1973. 1998. 2001. 2007. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kultur Mikroalga: Aspek dan Prospek. Antimicrobial in Foods. Semarang: IKIP Semarang Press. penerjemah. Bogor: Teknologi Hasil Perikanan. Inc Kabinawa INK. Semarang: IKIP Press. 10:1016. Jakarta: Djambatan. 1(1): 27-30. Water Research. Jurnal Perikanan Fakultas Teknologi Kelautan dan Perikanan Univ Hang Tuah Surabaya. Masini et al. Terjemahan dari: The Edisi kedua. Di dalam: Branen AL. Metode ekstraksi dan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak Chaetoceros gracilis [skripsi].LIPI. Synder L. Medium-chain fatty acids and esters. Indhira TA. Bogor: Puslitbang-Biotek. Biosintesis Produk Alami. Institut Pertanian Bogor. 1993. Edisi ke-2. 1993. 2007. Brisbane: John dan Sons. Second edition. Bogor: Puslitbang-Biotek. Bambang Srigandono. New York: Marcel Dekker. Houghton PJ. 1995. Research and characterization of pathogenic vibrios from bathing water along the conera Riviera (Central Italy). Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi Mikroalga. 1992. Koensoemardiyah. Hosvarth C.Herbert RB. ___________. 2004. penerjemah. Yogyakarta: Kanisius Kabara JJ. Isnansetyo A. London: Chapman and Hall. Prospek Bioteknologi Sumberdaya Akuatik dalam Industri Farmasi. Biosynthesis of Secondary Metabolites. Lailati N. Karger BL. Raman A. Nontji A. Mikroalga Sebagai Sumber Daya Hayati Perairan Dalam Perspektif Bioteknologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Manitto P. 15 . LIPI. 1995. Terjemahan dari: Biosynthesis of Natural Products. Davidson PM. Laut Nusantara. Pakan Alami untuk Pembenihan Organisme Laut.

Haryono B. Institut Pertanian Bogor. Chan ECS. 1995. Hadioetomo RS. Jakarta: FKUI Setyaningsih I. Purwantyastuti. 2005. Robinson. Edisi ke-4. Kajian mekanisme antibakteri ekstrak andaliman (Zanthoxylum Bogor: acanthopodium DC) terhadap bakteri patogen pangan.2. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Lancester: Technomic Publishing Co. 1974. 1995. Terjemahan dari: Plant Physiology. Suhardi.nhm. Food Phenolic. Jakarta: Indonesia. Suwandi R. Tokyo: Kogusha Co.Parhusip AJN. penerjemah. Yogyakarta: Liberty Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Schmidt.http://www. Ltd. Program Pasca Sarjana. Schlegel. Di dalam: Ganiswara SG. Ibrahim B.uk/hosted sites/ina/CoDENET/documents/culture. and its application on fresh fish. Fisiologi Tumbuhan. Probert I. [disertasi]. Di dalam: Proceeding of International Symposium on Marine Biotechnology (ISMB). 2006. Setiabudy R. Setiabudy R. Ross CW. Di dalam: Naidu AS. 1989.Inc Stewart WDP. Sudarmadji S. Sumaryono. Imas T. 1994. Mikrobiologi Umum. Lukman DR. Natural Food Mycrobial System. Pelczar MJ. Algal Physiology and Biochemistry. Klaas C.ac. Volume ke-1. USA: CRC Press. Tedja Baskara. Terjemahan dari: Elemen of Microbiology. 1999.rtf (1 Desember 2007). Ganiswara VHS. Bandung: ITB. penerjemah. Pengantar antimikroba. Suptijah P. 1979. 1995. Nafrialdi. Phyto-chemistry in plants. Pelczar MJ. Microbiology. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Dasar-dasar Mikrobiologi. Farmakologi dan Terapi. Tjitrosomo SS. 2000. Suyatna FD. penerjemah. Angka SL. Microalga culturing. Publ. 29-31 May 2000 Shahidi F. Salisbury FB. 1995. Extraction of bioactive compound from Chlorella sp. Reid RD. London: Blackwell Scientific 16 . Naczk M.

17 . Biotechnology adv. 1973. Kimia Pangan dan Gizi. 1990. Winarno FG. Institut Pertanian Bogor. Recent Advances in Microalgal Biotechnology. Ekstraksi.Vonshak A. 1997. Fardiaz D. Fardiaz S. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Bogor : Fakultas Pertanian. Britain: Pergamon Press Winarno FG. Vol 8. Kromatografi dan Elektroforesis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful