UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya laporan tugas mata kuliah Perancangan Pabrik dengan judul “Pembuata Vanilin Sintetik dari Eugenol” dapat terselesaikan dengan baik. Adapun tujuan umum dari pembuatan tugas ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah yang bersangkutan. Sedangkan tujuan khusus dari pembuatan tugas ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah perancangan pabrik vanilin sintetik dari eugenol, baik dari segi bahan baku, teknologi proses, peralatan, dan detail biaya yang dibutuhkan. Termasuk di dalamnya menyusun analisis kelayakan ekonomi dari pabrik kami. Pada kesempatan kali ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tugas Perancangan Pabrik kami, diantaranya: 1. Prof. Djumali M. dan Dr. Erliza Noor selaku pembimbing utama dan dosen pengajar mata kuliah Perancangan Pabrik yang telah memberikan segala ilmu dan masukan dalam penyusunan tugas kami. 2. Dr. Dwi Setyaningsih selaku dosen nara sumber yang telah memberikan segala masukan dan saran. 3. Perpustakaan Departemen TIN dan Pusat Informasi Teknologi Pertanian, IPB yang telah menyediakan berbagai sumber pustaka sebagai acuan kami dalam mengerjakan tugas. 4. Kecanggihan teknologi internet yang membuat kami mengetahui hal-hal baru terkait tugas perancangan pabrik ini. 5. Seluruh teman-teman TIN 44 atas kebersamaan dan keceriaan dalam pengerjaan tugas perancangan pabrik ini. 6. Serta seluruh pihak lain yang tidak dapat disebut satu per satu atas segala bantuan dan dukungannya dalam pengerjaan tugas perancangan pabrik ini. Kami menyadari betul atas segala kekurangan dalam pembuatan laporan tugas Perancangan Pabrik ini, sehingga kami membuka pintu saran dan kritik yang membangun agar dapat menyempurnakan laporan Perancangan Pabrik ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Bogor, Januari 2011

Penulis

RINGKASAN

Ada tiga alternatif proses sumber bahan baku untuk pembuatan vanilin sintetik yaitu dari lignin, koniferin dan cengkeh. Proses dari lignin melalui tahapan isolasi lignin dari black liquor limbah industri pulp dan paper, kemudian dioksidasi, dan difiltrasi menggunakan membran, setelah itu dilakukan proses ion exchange yang menghasilkan vanilin kasar yang masih mengandung pereaksi dari sisa proses pembuatan pulp dan paper. Proses ini tidak dipilih karena lignin dari limbah industri pulp telah dibatasi oleh negara maju, menggunakan banyak sekali macam reagen beracun, sehingga separasi produk akhir menjadi sulit, dan menggunakan energi tinggi dan tekanan tinggi 10 bar yang berpotensi dapat mendekomposisi produk. Alternatif sumber bahan baku yang ke dua adalah dari koniferin, yang tahapan prosesnya meliputi penyadapan getah tanaman, kemudian ekstraksi koniferin, dan dioksidasi dengan asam kromat menjadi glukovanilin, setelah itu diasamkan dan menghasilkan glukosa dan vanilin. Proses sintetis vanilin dari koniferin ini tidak dipilih karena keterbatasan dalam bahan baku dari tanaman yang memiliki koniferin, yang nantinya dapat berimbas pada tingginya harga produk dari vanilin sintetik. Alternatif ke tiga yaitu sintetis vanilin dari cengkeh, yang memiliki tiga alternatif bahan baku awal yaitu dari daun cengkeh, minyak cengkeh, atau eugenol. Bahan baku dari cengkeh untuk vanilin sintetik ini dipilih karena supplai bahan baku tersedia. Alternatif pertama untuk bahan baku awal proses sintetis vanilin dari cengkeh yaitu daun cengkeh. Prosesnya melewati tahapan proses ekstraksi, isolasi, oksidasi, dan ekstraksi vanilin yang mengakibatkan biayanya paling tinggi jika dibandingkan dengan alternatif lain. Alternatif yang ke dua yaitu bahan baku awal dari minyak cengkeh yang tahapannya melewati proses isolasi, isomerisasi, oksidasi dan ekatraksi, yang biayanya masih tinggi. Alternatif yang ke tiga yaitu bahan baku awal dari eugenol yang tahapan prosesnya yaitu isomerisasi, oksidasi dan ekstraksi vanilin yang biayanya paling murah. Dengan demikian, bahan baku awal yang digunakan adalah eugenol, karena biayanya paling murah jika dibandingkan dari mengolah daun cengkeh atau minyak cengkeh menjadi vanilin. Tahapan perancangan selanjutnya adalah penentuan bahan pereaksi dan sumber energi dari alternatif-alternatif yang ada yaitu alternatif katalis dan energi. Katalis dalam isomerisasi digunakan KOH, karena harganya lebih murah daripada katalis RhCl3.3(H2O). Adapun sumber energi yang dipilih adalah gelombang mikro, karena jika menggunakan steam akan membutuhkan waktu yang sangat lama ( dalam hitungan jam), sedangkan menggunakan microwave, prosesnya akan selesai dalam hitungan menit. Jadi pada tahapan isomerisasi digunakan katalis KOH, dan sumber energi untuk proses isomerisasi dan oksidasinya adalah dengan menggunakan microwave. Secara umum tahapan proses sintetis bivanilin dari eugenol meliputi isomerisasi eugenol dan reaksi dengan kalium hidroksida menjadi K-isoeugenolat, kemudian dioksidasi dengan nitrobenzen yang terlarut dalam dimetil sulfo oksida menjadi Kvanilat, setelah itu, pengasaman dengan asam klorida mengsalikan vanilin dan garam

kalium klorida. Vanilin tersebut diekstraksi dengan dietil eter dan dimurnikan dengan teknik separasi destilasi, sehingga didapatkan vanilin murni yang rendemennya 7%. Mesin utama yang digunakan untuk proses diatas adalah microwave untuk sumber energi dan destilator untuk separasi dalam proses pemurnian. Penentuan skala besar dari daya untuk alat tersebut digunakan teknik scale up dengan menggunakan perhitungan bilangan nirmatra. Setelah dilakukan perhitungan scale up pada alat microwave, didapatkan hasil bahwa dengan meningkatkan diameter microwave menjadi 2 kalinya maka kebutuhan daya akan meninkat menjadi 8 kali dari sebelumnya yaitu menjadi sebesar 6,4 kW. Perancangan ini juga menganalisis aspek ekonomi dengan penghitungan proyeksi arus kas dan asumsi kapasitas produksi dalam satu tahun yaitu 12600 kg. Hasil analisis finansial didapatkan dari modal untuk investasi sebesar Rp. 50.921.633.648,00 dan biaya produksi total sebesar Rp. 50.551.306.324,00. Vanilin dijual dengan harga Rp. 4.700.000,00/kg sehingga penerimaan dalam waktu setahun sebesar Rp. 59.220.000,00 dan keuntungan kotor yang diperoleh Rp. 8.668.693.676,00/tahun. Hasil analisis kelayakan ekonomi meliputi Gross B/C ratio 1,0168, Net B/C ratio 1,1275, NPV sebesar Rp. 6.492.256.280,12 dan pay back periode adalah selama 14,4 bulan (1 tahun 2,4 bulan). Dari semua kriteria kelayakan tersebut menunjukan bahwa secara finansial produksi vanilin sintetik dari eugenol cengkeh ini layak. Dengan demikian perancangan pabrik untuk produksi vanilin sintetik dari eugenol dapat dilakukan, karena penilaian secara teknis dapat direalisasikan, dan secara finansial layak diterapkan. Kelayakan tersebut merupakan proyeksi yang dapat berubah jika harga baha baku atau harga produk berfluktuasi, sehingga direkomendasikan untuk terus melakukan inovasi proses untuk menekan biaya produksi dan tetap mengutamakan kualitas dari vanilin sintetik yang dihasilkan.

I. PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI PRODUK YANG AKAN DIPRODUKSI, KEGUNAAN PRODUK, PROSPEK PERDAGANGAN DALAM NEGERI DAN INTERNASIONAL Vanillin adalah senyawa glikosida yang diperoleh dari buah vanila (vanillin alami) atau dibuat secara sintetis dari sumber lainnya (vanillin sintetik) dan merupakan komponen aroma utama yaitu sebesar 85% dari total senyawa volatil. Selain itu, vanillin juga merupakan senyawa yang dapat diturunkan dari eugenol. Eugenol merupakan komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh. Secara komersial pun produk vanillin dibedakan menjadi dua jenis yaitu, vanillin alami dan vanillin sintetik. Pada umumnya kegunaan dari vanillin sintetik dan vanillin alami tidak berbeda yaitu, berfungsi sebagai bahan serbaguna yang banyak digunakan sebagai flavor (82%) oleh industri makanan dan minuman (es krim, cokelat, gula-gula, permen, pudding, kue dan soft drink), produk farmasi (13%) dan produk wewangian (5%) (Tidco, 2005). Vanilin dapat dipakai sebagai bahan baku pembuatan obat, antara lain L-dopa yaitu suatu asam amino untuk pengobatan penyakit Parkinson, keracunan mangan dan distonia muskulari juga dipakai untuk sintesis trimethapriim, suatu chemoterapeutikum untuk penanggulangan infeksi saluran kencing dan saluran pernafasan (Sastrohamidjojo, 2002). Mahalnya biaya produksi dan harga produk vanilin alami menyebabkan industriindustri pengguna vanilin (makanan dan minuman, farmasi dan parfum) di Indonesia lebih memilih menggunakan vanilin sintetik yang diimpor dari Negara lain. Produksi vanillin sintetik dunia diperkirakan sebesar 3000 ton per tahun, sedangkan total permintaan pasar global vanillin sintetik mencapi 3500 ton. Seiring dengan berkembangnya industri makanan, minuman dan farmasi diperkirakan kebutuhan vanillin sintetik dunia akan terus meningkat dengan laju 8-9% per tahun dengan pangsa pasar USA 27%, Eropa 45%, Asia 21%, dan lainnya 7%. Untuk menghemat devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap impor vanilin, maka diperlukan usaha produksi vanilin di dalam negeri dengan teknologi proses yang efisien dan kualitas produk yang tinggi.
B. BAHAN BAKU YANG DIPILIH, PROSES YANG TERLIBAT, HASIL SAMPING, BAHAN TAMBAHAN DAN ATAU BAHAN PENOLONG

Vanillin sintetik dapat dihasilkan dari beberapa cara atau metode yaitu, sintetis vanillin dari lignin, sintetis vanillin dari coniferin, dan sintetis vanillin dari eugenol yang berasal dari minyak cengkeh. Metode yang dipilih untuk menghasilkan produk vanillin

Alternatif bahan baku dan proses yang terlibat Pilihan Bahan Baku Daun Cengkeh Minyak Cengkeh Eugenol Proses Ekstraksi √ Isolasi √ √ Isomerisasi √ √ √ Oksidasi √ √ √ Ekstraksi √ √ √ Vanilin Sintetik Produk Akhir Berdasarkan uraian proses produksi yang dijelaskan pada tabel di atas. proses isomerisasi. yaitu sebesar 90-95%. untuk rinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Dalam tanaman cengkeh sendiri.sintetik adalah sintetis vanillin dari eugenol. Dengan asumsi bahwa semakin sedikit proses yang terlibat maka biaya produksi yang dibutuhkan dan limbah yang dihasilkan akan semakin kecil dan sebaliknya. proses produksinya menggunakan bahan dasar eugenol yang didapatkan dari minyak cengkeh dan ketersediaannya melimpah di Indonesia. Sementara kandungan eugenol pada daun cengkeh sebesar 79-90% dan pada kuncup bunga 85-95%. proses oksidasi dan proses ekstraksi. bahan baku yang dipilih untuk pembuatan vanillin sintetik adalah eugenol karena proses yang terlibat relatif lebih sedikit dibandingkan dengan yang lain. minyak cengkeh mengandung eugenol sebanyak 70-90%. Ketaren (1985) menyebutkan bahwa kandungan eugenol paling banyak terdapat pada bagian tangkai bunga. . Menurut Sastrohamidjojo (2002). terdapat beberapa alternatif jenis bahan baku dan proses yang terlibat dalam memproduksi vanillin sintetik. Namun demikian. Hal ini dikarenakan. Adapun alternatif lain yang dapat dijadikan sebagai dasar pemilihan bahan baku pembuatan produk vanilin sintetik yaitu dapat disajikan pada tabel di bawah ini. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui proses-proses yang terlibat pada pembuatan vanillin sintetik dari eugenol yaitu. Eugenol sebenarnya terdapat pada beberapa jenis tanaman tetapi yang menghasilkan rendemen paling besar adalah tanaman cengkeh.

ekstraksi. dan HCl serta pada proses ekstraksi dibutuhkan pelarut dietil eter. garam. isomerisasi. . Lalu.619.907.595. hasil samping yang dihasilkan dari proses ekstraksi adalah residu (nitrobenzene. nitrobenzene. ekstraksi Fermentasi Rende men (%) 0.045 25. Kemudian. pelarut dimetil sulfoksida (DMSO). DMSO. bahan baku yang memiliki estimasi total biaya paling rendah adalah eugenol.000 Bio vanillin Dari tabel diketahui bahwa rendemen paling tinggi dihasilkan dari bahan baku eugenol.31 1 431. Masing-masing proses akan menghasilkan hasil samping yaitu. isolasi.907.59 730.000 7 0. Isolasi.000 Produk Vanilin sintetik Minyak cengkeh Eugenol Glukosa dan Asam ferulat 2. dan air. pada proses isomerisasi akan menghasilkan air dan sisa eugenol yang tidak bereaksi. ekstraksi. Isomerisasi.81 1 - 6. bahan baku yang paling cocok digunakan untuk pembuatan vanilin sintetik adalah eugenol. oksidasi. yaitu pada proses isomerisasi dibutuhkan KOH dan pada proses oksidasi dibutuhkan oksidator nitrobenzene. Lalu. Berdasarkan hal-hal tersebut. azobenzene. Mekanisme pemilihan alternatif proses Bahan Baku Daun cengkeh Proses yang terlibat Penyulingan.Tabel 2. Di bawah ini adalah tabel rincian dari hasil samping setiap proses produksi. asam vanilat) dan dietil eter. Kemudian. oksidasi. garam.05 Estimasi total biaya (Rp) 825.400. Adapun bahan tambahan yang digunakan pada proses produksi vanilin sintetik.173. asetaldehid. isomerisasi. DMSO dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi. pada proses oksidasi akan menghasilkan hasil samping antara lain. bahan baku yang memiliki nilai tambah paling besar dimiliki oleh bahan baku eugenol.31 1 Nilai tambah (Rp) 1. oksidasi.

6 ton/tahun = 1. dan air residu (nitrobenzene. Sehingga efisiensi yang didapatkan dengan pemakaian gelombang mikro untuk proses pemanasan akan diperoleh lebih tinggi. Pembuatan vanilin sintetik ini menggunakan pemanasan gelombang mikro. DMSO dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi. garam. D. proses oksidasi dan proses ekstraksi. yaitu pada proses isomerisasi dan proses oksidasi. PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI Kapasitas produksi vanilin sintetik ditentukan berdasarkan perhitungan di bawah ini: Permintaan terhadap vanilin sintetik = 3500 ton/tahun Permintaan vanilin untuk farmasi = 13% x 3500 ton = 455 ton/tahun Market share = 2. nitrobenzene. asam vanilat) C.05 ton/bulan = 1050 kg/bulan = 15 batch = 1050 kg/ 15 batch = 70 kg/ batch Dalam 1 bulan total produksi sebanyak Sehingga.77% x 455 ton/tahun = 12. Hasil samping dari setiap proses produksi Proses produksi Isomerisasi Oksidasi Ekstraksi Hasil samping air dan sisa eugenol yang tidak bereaksi asetaldehid. garam. PROSES PRODUKSI DENGAN PEMANASAN GELOMBANG MIKRO Proses yang dipilih untuk pembuatan produk vanilin sintetik dengan bahan baku eugenol ini terdiri atas tiga tahapan proses. azobenzene. DMSO. Pemakaian gelombang mikro untuk aktivasi reaksi telah diketahui dapat mempercepat laju reaksi dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan pemanasan konvensional. produk yang dihasilkan Untuk menghasilkan produk sebanyak 70 kg produk digunakan bahan baku (eugenol) sebanyak 1020 kg.77% = 2.Tabel 3. Rincian perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: . yaitu proses isomerisasi.

KOH Beberapa senyawa alkohol juga memiliki sifat-sifat toksik.5 kg = 1000 kg k-isoeugenolat 56. antara lain KOH. oleh karena itu.5 kg vanilin kasar dari 1000 kg k-isoeugenolat 1000 kg kisoeugenolat dari 1020 kg euegnol 98. Dengan kata lain rendemen vanilin murni yaitu : Basis 70 kg vanilin sintetik : • vanilin sintetik = 12. Gugus alkohol menyebabkan senyawa ini bersifat iritasi yang lebih besar dan narkose atau sebagai pembius.25 % • 1000 kg = 1020 kg eugenol yang dibutuhkan 98. dibutuhkan 1020 kg eugenol sebagai bahan baku.4 % dari vanilin kasar 70 kg = 562.Tabel 4. mereka dengan sengaja dilepaskan ke atmosfer setelah penggunaan.25% Jumlah yang dihasilkan untuk satu batch 70 kg vanilin murni dari 562.5 kg vanilin kasar 12. a. Disisi lain.04% Sehingga untuk mendapatkan 70 kg produk vanilin. .4 % 56. Derajat konversi pada setiap tahapan proses produksi Tahap proses Proses ke 3 (Ekstraksi) Proses ke 2 (Oksidasi) Proses ke 1 (Isomerisasi) Tahapan konversi vanilin kasar menjadi vanilin murni kisoeugenolat menjadi vanilin kasar eugenol menjadi kisoeugenolat Derajat konversi atau rendemen 12. TOKSISITAS BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKALN DAN KEAMANAN Banyak pelarut dan pereaksi yang digunakan dalam pembuatan vanilin sintetik ini. salah satunya adalah KOH. tetapi sifat-sifat ini tidak terdapat pada alkohol dengan molekul lebih besar.4% • 562. alkohol dengan molekul besar larut dalam lemak. nitrobenzene. DMSO. Di bawah ini adalah rincian mengenai toksisitas dari masing-masing pelarut yang digunakan pada pembuatan vanilin sintetik.5 kg vanilin kasar 562. dan HCl.04% Jadi rendemen vanilin sintetik dari eugenol sebesar : 70 kg x 100 % = 7 % 1020 kg E. Pereaksi dan pelarut ini mudah menguap.

Nitrobenzene Nitrobenzene adalah senyawa yang mudah menguap dan terpapar secara luas dalam bentuk uap. terutama kanker darah (leukimia). tetapi memiliki sifat toksik yang rendah. Para pekerja yang terpapar secara berlebihan (overexposed workers) menderita anemia dan menurunnya jumlah sel darah putih. Karena derajat penguapannya relatif rendah. oleh karena itu ditemukan dalam penggunaan yang khusus. Lebih signifikan lagi. Paparan nitrobenzene ke dalam tubuh menyebabkan kerusakan susunan syaraf pusat. dan memiliki uap bersifat berbahaya. Ia bersifat polar. d. DMSO masuk ke kulit (penetrasi) secara efektif. menyediakan dokter perusahaan. dan beberapa pekerja menjadi lebih sensitif. melengkapi pekerja dengan masker dan sarung tangan. tersedianya sarana air pembilas di tempat-tempat strategis. Dalam lingkungan industri. Namun. Kontak dalam waktu yang lama dengan kulit menyebabkan kerusakan kulit mirip luka bakar. Selain itu juga diusahakan upaya pengamanan seperti menyediakan tempat penyimpanan yang aman. dan sebagainya. Karbon disulfida sangat mudah menguap. dan merusak organ-organ bagian dalam (to damage internal organs). DMSO Dimetilsulfoksida adalah suatu solven yang juga sering digunakan. dan sumsum tulang yang membentuk sel-sel darah merah. tetapi sering dianggap berlebihan karena mengeluarkan biaya lebih banyak dan tidak menghasilkan nilai tambah yang nyata pada produk. Prinsip kerja secara aman adalah penting. ia membawa bahan-bahan kimia yang bercampur dengannya melewati kulit dan dapat menyebabkan konsekuensi yang serius bila ia bercampur dengan suatu toksikan yang kuat. DMSO dapat terinhalasi atau diabsorbsi melalui kulit sehingga merusak lever. saluran pencemaan. Ia juga berkontribusi terhadap penyakit jantung koroner (coronary heart disease). ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun.Sebagai akibatnya. Walaupun asam. maka masalah serius terhadap inhalasi uap KOH tidak umum terjadi. mereka tinggal lebih lama di dalam tubuh. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. . ia menyebabkan kerusakan yang serius terhadap otak dan susunan syaraf perifer (peripheral nervous system). Pencegahan terjadinya keracunan dalam proses produksi di industri ini dapat dilakukan dengan mengurangi bahaya dan resiko yang mungkin dapat ditimbulkan pada pekerja dan lingkungan. pencegahan merupakan tindakan yang lebih baik daripada membiarkan terjadi keracunan. HCl Asam klorida adalah asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Antisipasi dan tindakan keamanan harus merupakan upaya pertama. asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik. c. Oleh karena alasan inilah. b. Studi epidemiologi terhadap para pekerja yang terpapar benzene dalam periode waktu yang lama menunjukkan bertambahnya pekerja yang menderita kanker.

DIAGRAM ALIR PROSES DAN NERACA MASSA A. Di bawah ini adalah gambar diagram alir proses produksi vanillin sintetik. Eug KOH = 6500 kg Gelombang mikro Isomer sambil p K-Isoe Gambar 1.II. Proses produksi vanillin sintetik terbagi menjadi 3 macam proses. DMSO = 2000 kg Gelombang mikro . proses oksidasi dan proses ekstraksi. DIAGRAM ALIR PROSES Pembuatan produk vanillin sintetik menggunakan bahan baku eugenol yang berasal dari minyak cengkeh. yaitu proses isomerisasi. Diagram blok proses produksi vanillin sintetik Nitrobenzene = 1000 kg.

103 % Perhitungan untuk mendapatkan daya optimum yang digunakan.24 ml = 1726. Proses isomerisasi Perbandingan antara massa bahan eugenol (proses isomerisasi) dengan massa maksimum alat. 6000 watt  1726.4 watt = 82 watt Sehingga dapat disimpulkan.24 ml.8 ml.6 ml : 23000 ml = 1: 974.10%. Dan massa bahan yang dapat diproses adalah sebanyak Maka.24 ml.6 ml digunakan daya sebanyak 82 watt. 1.58 = 1.8 ml. yaitu: = 23. Kemudian. Diketahui: Kapasitas maksimum daya pada alat = 800 watt Karena massa yang digunakan hanya sebesar 0. Rosi ( 2006). Massa total eugenol adalah 1020 kg = 962. MEKANISME PERHITUNGAN KONVERSI BAHAN DARI SKALA LAB KE SKALA INDUSTRI Data-data skala lab yang digunakan berasal dari penelitian Cisadae. Dapat dibuat persamaan seperti di bawah ini: 82 watt  23. Berdasarkan hasil scale up alat microwave rotary diketahui bahwa alat tsb membutuhkan daya sebesar 6000 watt.6 ml = 230. maka daya yang digunakan secara optimal adalah sebesar 800 watt x 0.B.24 ml  15 menit Perhitungan untuk mendapatkan 230. Untuk massa sebanyak 23. sebagai berikut: (6000 watt : 800 watt) x 230.6 ml  15 menit 800 watt  230.103% = 82.8 ml  15 menit. sebagai berikut: (800 watt : 82 watt) x 23.03 x 10-3 x 100% = 0.500 ml. .5 kali-nya daya sebelumnya (800 watt). Dimana 6000 watt adalah 7. Perhitungan untuk mendapatkan 1726.

sekali proses menghabiskan waktu 15 menit.356 ml : 1726.8 ml = 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa: Proses isomerisasi.Maka. = 29. proses produksi (isomerisasi) yang dilakukan sebanyak = 118 kali x 5 alat = 590 kali. . massa bahan yang dimasukkan sebesar. Total massa yang digunakan adalah 962.500 ml. maka diasumsikan bahwa total proses oksidasi selama 29. Sehingga untuk 5 alat. Kemudian.500 ml : 590 kali = 1631. maka setiap satu kali proses.5 jam. = 107 kali x 15 menit = 1665 menit = 27. yaitu = 1631. maka untuk 1 alat akan membutuhkan waktu. 962. Masing-masing alat melakukan proses produksi (isomerisasi) sebanyak 118 kali. Maka masing-masing alat akan dikenai proses sebanyak = 557 kali : 5 alat = 107 kali. = 962. 1 kali proses menghabiskan waktu 15 menit. maka dalam 1770 menit terjadi proses sebanyak = 1770 menit : 15 menit = 118 kali Karena ada 5 alat yang digunakan maka totalnya adalah = 118 kali x 5 alat = 590 kali. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.5 jam = 1770 menit 1 kali proses membutuhkan waktu 15 menit.47 % = 95%. karena alat tidak bisa mengkonversi bahan sebanyak 100 %.356 ml. Sehingga dapat diketahui besarnya konversi alat.8 ml = 557 kali Alat yang dimiliki sebanyak 5 alat. Sehingga.75 jam Namun.500 ml : 1726.9447 x 100% = 94.

maka daya yang digunakan secara optimal adalah sebesar 800 watt x 0.5 kali-nya daya sebelumnya (800 watt). yaitu: = 2.012%.6 watt  2.6 watt Sehingga dapat disimpulkan. Diketahui: Kapasitas maksimum daya pada ala t= 800 watt Karena massa yang digunakan hanya sebesar 0.83 ml = 235.6 watt) x 2.2. Berdasarkan hasil scale up alat microwave rotary diketahui bahwa alat tsb membutuhkan daya sebesar 6000 watt. Dapat dibuat persamaan seperti di bawah ini: 9. Proses oksidasi Perbandingan antara massa bahan isoeugenol (proses oksidasi) dengan massa maksimum alat. Dimana 6000 watt adalah 7.83 ml  4 menit 800 watt  236 ml  4 menit Perhitungan untuk mendapatkan 236 ml. sebagai berikut: (800 watt : 9. .83 ml = 236 ml.83 ml : 23000 ml = 1: 8127 = 1.83 ml digunakan daya sebanyak 9. Dan massa bahan yang dapat diproses adalah sebanyak 6000 watt  1770 ml  4 menit Perhitungan untuk mendapatkan 1770 ml. Untuk massa sebanyak 2.012% = 9.6 watt.23 x 10-4 x 100% = 0.012 % Perhitungan untuk mendapatkan daya optimum yang digunakan. sebagai berikut: (6000 watt : 800 watt) x 236 ml = 1770 ml.

karena alat tidak bisa mengkonversi bahan sebanyak 100 %. maka diasumsikan bahwa total proses oksidasi selama 7. Maka. 1 kali proses menghabiskan waktu 4 menit. Maka masing-masing alat akan dikenai proses sebanyak = 535 kali : 5 alat = 107 kali.5 jam = 450 menit 1 kali proses membutuhkan waktu 4 menit. massa bahan yang dimasukkan sebesar. = 947. maka setiap satu kali proses. Kemudian. . Sehingga.000 ml : 565 kali = 1676 ml.000 ml. maka dalam 450 menit terjadi proses sebanyak = 450 menit : 4 menit = 112. Massa total isoeugenol adalah 1000 kg = 947.5 jam.Kemudian. 947.000 ml : 1770 ml = 535 kali Alat yang dimiliki sebanyak 5 alat.1 jam Namun. Total massa yang digunakan adalah 947.000 ml.5 kali = 113 kali Karena ada 5 alat yang digunakan maka totalnya adalah = 113 kali x 5 alat = 565 kali. = 107 kali x 4 menit = 428 menit = 7. = 7. maka untuk 1 alat akan membutuhkan waktu.

Reaksi isomerisasi ini dipercepat dengan ditambahkannya proses pemanasan dengan gelombang mikro. yaitu = 1676 ml : 1770 ml = 0. NERACA MASSA Masing-masing dari proses produksi Di bawah ini adalah neraca massa dari masing-masing tahapan proses produksi: 1. Reaksi kimia dari proses isomerisasi yaitu. seperti di bawah ini Eugenol + KOH = K-isoeugenolat + H2O .Sehingga dapat diketahui besarnya konversi alat. Sehingga untuk 5 alat.7 % = 95%. Masing-masing alat melakukan proses produksi (oksidasi) sebanyak 113 kali. Sehingga dapat disimpulkan bahwa: Proses oksidasi. Input awal eugenol adalah 1020 kg dengan penambahan KOH sebagai alkali kuat sebanyak 6500 kg pada saat pengadukan (suhu 120oC). Proses Isomerisasi Pada proses isomerisasi dilakukan konversi dari eugenol menjadi K-Isoeugenolat. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.947 x 100% = 94. C. proses produksi (oksidasi) yang dilakukan ada sebanyak = 113 kali x 5 alat = 565 kali. Output dari reaksi ini adalah K-Isoeugenolat sebanyak 1000 kg. sekali proses menghabiskan waktu 4 menit.

eugenol = 20 kg = 1000 kg 2. Neraca massa proses isomerisasi Output Limbah K-Isoeugenolat H20 = 6500 kg. Input Eugenol = 1020 kg KOH = 6500 kg Tabel 5. dan campuran dari . Perbandingan antara penggunaan nitrobenzene dengan DMSO adalah 1:2. Proses oksidasi Pada proses oksidasi.Di bawah ini adalah gambar neraca massa dari proses isomerisasi. Penggunaan nitrobenzene sebanyak 1000 kg dan DMSO sebanyak 2000 kg. Eugenol = 20 kg K-Isoeugenolat = 1000 kg Gambar 2. Neraca massa proses isomerisasi Keterangan gambar: : Limbah yang dihasilkan namun belum dikeluarkan K-Isoeugenolat yang dihasilkan sebesar 1000 kg yaitu 98% dari massa eugenol. Nitrobenzene sebagai oksidator yang baik untuk reaksi oksidasi K-Isoeugenolat menjadi vanillin. Eugenol = 1020 kg KOH = 6500 kg Gelombang mikro Isomerisasi dan pemanasan sambil pengadukan (600rpm) H20 = 6500 kg. Proses selanjutnya adalah pemanasan yang dilakukan dengan gelombang mikro. Kemudian. Pada proses ini dihasilkan limbah yang terdiri atas asetaldehid 1000 kg. input yang digunakan adalah KIsoeugenolat sebanyak 1000 kg yang merupakan output dari proses isomerisasi. proses oksidasi dengan penambahan nitrobenzene dan pelarut DMSO. Di bawah ini adalah tabel neraca massa pada proses isomerisasi. azobenzen 500 kg.

5 kg dan H2O 1250 kg hingga akhirnya didapatkan output berupa vanillin kasar sebesar 562.5 kg. DMSO. H2O 1250 kg Vanilin kasar = 562. DMSO. . Kemudian.nitrobenzene.5 kg Gambar 3. dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi 1800 kg. Di bawah ini adalah gambar neraca massa dari proses oksidasi. campuran dari nitrobenzene. dilanjutkan proses netralisasi dengan penambahan HCl sebanyak 5000 kg. Setelah pemanasan selesai. Pada proses netralisasi atau pelepasan K ini dihasilkan limbah yang terdiri atas garam (KCl) 3887. dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi 1800 kg.5 kg. Neraca massa proses oksidasi Keterangan gambar: : Limbah yang dihasilkan namun belum dikeluarkan. K-Vanilat = 700 kg HCl = 5000 kg Netralisasi/ pelepasan K garam (KCl) 3887. maka didapatkan K-Vanilat sebanyak 700 kg. azobenzen 500 kg. DMSO = 2000 kg Gelombang mikro Oksidasi dan pemanasan asetaldehid 1000 kg. K-Isoeugenolat = 1000 kg Nitrobenzene = 1000 kg.

Oksidator Nitrobenzene = 1000 kg Pelarut DMSO = 2000 kg K-Vanilat = 700 kg HCl 25% = 5000 kg Vanilin kasar = 562. H2O 1250 kg Perhitungan neraca massa dari proses oksidasi dengan menggunakan literatur dari penelitian Rosi (2007) adalah sebagai berikut. Nitrobenzene.12% sehingga hasil proses oksidasinya adalah sebgai berikut: 2 DMSO + 2 Nitrobenzene + 2 K-isoeugenolat  2 k-vanilat (70.Di bawah ini adalah tabel neraca massa dari proses oksidasi. .12 % dari k-isoeugenolat)+ 500kg azobenzene + 1000kg asetaldehid + 1800 (DMSO. Penentuan massa di atas berdasarkan reaksi kimia oksidasi k-isoeugenolat menjadi k-vanilat yaitu dengan perbandingan massa bahan baku dan produk reaksi yang dihasilkan. 1000 kg azobenzen 500 kg. Namun faktanya hasil percobaan hanya menghasilkan 70. 2000kg DMSO+ 1000kg Nitrobenzene+ 1000kg K-isoeugenolat  700kg k-vanilat (70. dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi 1800 kg. Reaksi kimia ideal: 2 DMSO + 2 Nitrobenzene + 2 K-isoeugenolat  2 k-vanilat + 1 azobenzene+ 2 asetaldehid. DMSO.5 kg garam (KCl) 3887. K-isoeugenolat).5 kg. campuran dari nitrobenzene. Neraca massa dari proses oksidasi Input Output Limbah K-Isoeugenolat = K-Vanilat = 700 kg asetaldehid 1000 kg. Tabel 6.12 % dari k-isoeugenolat) + 1 azobenzene + 2 asetaldehid + sisa rektan yang tidak bereaksi Sehingga.

0028 kg isoeugenol : 0. input vanillin kasar yang didapat dari hasil proses oksidasi adalah sebesar 562. HCl yang dibutuhkan = 0. Proses ekstraksi Pada proses ekstraksi vanillin kasar. DMSO.5 kg. garam.4 kg Campuran vanillin dan dietel eter = 7641 kg Distilasi/ penguapan pelarut Dietil eter = 7070 kg Vanilin sintetik = 70 kg Gambar 4.25% = 56.014 kg HCl.12% = 70/100 x 1000 K-Isoeugenolat = 700 kg. Neraca massa proses ekstraksi .014 kg HCl /0. asam vanilat) = 63. Rendemen vanillin kasar = 56.25/100 x 1000 K-Isoeugenolat = 562.5 k g=3887.8 ml isoeugenol : 14 ml HCl = 0.4 kg.5 kg 3. Kemudian. Vanilin kasar = 562.5 kg. didistilasi untuk menguapkan pelarut dan pelarut yang diuapkan sebanyak 7070 kg hingga akhirnya didapatkan output vanillin sintetik sebanyak 70 kg. Limbah dari proses netralisasi yaitu: Air dari larutan HCL 25% yaitu 25%x5000 =1250kg Garam KCL = (k-vanilat 700kg+HCL 5000kg).Perbandingan isoeugenol dan HCl = 2.air 1250kg – vanillin 562. Rendemen K-Vanilat = 70. Maka. Vanilin kasar ini.5 kg Dietil eter = 7142 kg Ekstraksi Residu (nitrobenzene. diekstraksi dengan menggunakan pelarut dietil eter sebanyak 7142 kg dan didapatkan output sebesar 7641 kg dan residu sebanyak 63.0028 kg isoeugenol x 1000 kg isoeugenol = 5000 kg HCl. Di bawah ini adalah gambar neraca massa dari proses ekstraksi.

4 kg residu = 7641 kg.020 kg dietil eter / 0. 2. DMSO. garam. Dietil eter yang diuapkan sebanyak 99% = 99/100 x 7142 kg dietil eter = 7070 kg.8 ml isoeugenol : 20 ml dietil eter = 0.5 kg vanillin kasar + 7142 kg dietil eter – 63. Output dari proses ekstraksi adalah campuran vanillin dan dietil eter = 562. 1.020 kg. . Rendemen vanillin sintetik 7% = 7/100 x 1000 kg isoeugenol = 70 kg. Perbandingan isougenol dengan larutan dietil eter = 2.Di bawah ini adalah tabel neraca massa dari proses ekstraksi. asam vanilat) = 63. dietel eter yang dibutuhkan adalah 0.0028 kg isoeugenol x 1000 kg isoeugenol = 7142 kg dietil eter. Input Vanilin kasar = 562.5 kg Pelarut Dietil eter = 7142 kg Tabel 7.4 kg Campuran vanillin dan dietil eter = 7641 kg Vanilin sintetik = 70 kg Dietil eter = 7070 kg Perhitungan neraca massa dari proses ekstraksi dengan menggunakan literatur dari penelitian Rosi (2007) adalah sebagai berikut. Neraca massa dari proses ekstraksi Output Limbah Vanilin kasar = 562.0028 kg : 0. 4. Maka.5 kg Residu (nitrobenzene. 3.

Berdasarkan literatur di atas maka pada tahap oksidasi ini ditambahkan pula DMSO dan dipanaskan dalam oven gelombang mikro. jumlah oksidator dan pelarut yang digunakan harus melebihi jumlah bahan yang akan direaksikan. Reaksi oksidasi isoeugenol dengan oksidator nitrobenzene dalam suasana basa menghasilkan kalium vanilat seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Reaksi oksidasi k-isoeugenolat menjadi vanilin menggunakan oksidator nitrobenzene. Di bawah ini adalah gambar dari reaksi yang terjadi. Agar reaksi berjalan sempurna. . Sastrohamidjojo (2002) mengatakan reaksi oksidasi isoeugenol dapat dilakukan dengan menggunakan oksidator nitrobenzene. + H2O K-isogeunolat Gambar 5. DESKRIPSI PROSES Tahap pertama pembuatan vanilin sintetik adalah proses isomerisasi yaitu. Reaksi oksidasi ini berlangsung dalam fase organik. Proses ini menggunakan katalis basa kuat kalium hidroksida (KOH) yang proses konversi atau reaksi isomerisasinya terjadi pada sekitar suhu 120oC. sehingga untuk membawa oksidator nitrobenzene ke dalam fase organik dibutuhkan pelarut Dimetil sulfoksida (DMSO). Di dalam oven gelombang mikro terjadi radiasi gelombang mikro yang diserap oleh bahan dan mengubah energi radiasi menjadi energi panas yang akan memanaskan larutan sampel secara langsung sehingga akan menaikkan suhu larutan dan terjadi reaksi oksidasi. tahap kedua adalah proses oksidasi. Reaksi perubahan eugenol menjadi isoeugenol dengan KOH Setelah itu. Proses isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol dilakukan dengan menggunakan panas dari gelombang mikro yang didapatkan pada alat microwave. Nitrobenzene tersebut digunakan untuk mengubah K-isoeugenolat menjadi K-vanilat dan menghasilkan hasil samping berupa azobenzene dan asetaldehid.III. mengubah eugenol menjadi K-isoeugenolat dalam suasana basa.

asetaldehid. Pada tahapan ini ion K+ pada senyawa vanilat digantikan oleh ion OH.Gambar 6. Gambar 7. dietil eter mempunyai tingkat volatil tinggi dan titik didih yang rendah (350C) sehingga mudah digunakan pada saat proses penguapan. . Dietil eter digunakan untuk memisahkan komponen vanilin dari air dan campuran lain hasil oksidasi yang ikut tercampur seperti nitrobenzene. Reaksi hidrolisis vanilin dapat dilihat pada gambar di bawah ini.dan garam KCl hasil reaksi terendapkan sehingga dapat dipisahkan dari komponen vanilin. azobenzene dan asetaldehid. Reaksi oksidasi menggunakan nitrobenzene Untuk merubah kalium vanilat menjadi vanilin maka dilakukan tahapan hidrolisis menggunakan asam. DMSO dan reaksi hasil samping lainnya. Di bawah ini adalah gambar dari diagram alir proses produksi vanilin sintetik. sehingga vanilin terikat dengan pelarutnya (dietil eter). Kemudian dilakukan destilasi atau penguapan pelarut untuk memisahkan campuran vanillin dan pelarut dietil eter. Reaksi pengasaman kalium vanilin dengan HCl Hasil akhir dari tahapan hidrolisis adalah terbentuknya dua lapisan yaitu lapisan atas (air) yang mengandung vanilin dan lapisan bawah yang mengandung azobenzene. Vanilin yang terdapat pada lapisan atas hasil reaksi oksidasi dan hidrolisis selanjutnya diekstraksi menggunakan dietil eter. dimetil sulfoksida. sehingga pada akhirnya akan didapatkan produk vanillin sintetik. Menurut Carey (2003).

Keterangan: : Proses isomerisasi Nitrobenze + DMSO Kolom destilator Kolom destilator : Proses oksidasi : Proses ekstraksi HCL Tangki sementara (k-isoeugenolat) Boiler dalam destilator Boiler dalam destilator Tangki penampung vanilat kasar Tangki penampung produk Rotary microwave Rotary microwave Rotary microwave Rotary microwave Rotary microwave Feed tank (eugenol + KOH) Gambar 8. Diagram alir untuk proses pembuatan vanilin sintetik .

Sehingga untuk 5 alat. sekali proses menghabiskan waktu 210 menit (3. 1.5 jam = 11 jam (dibulatkan). sekali proses menghabiskan waktu 15 menit. Proses isomerisasi dengan Rotary Microwave P E = 6000 W = 6 kW =Pxtxn = 6 kW x 29. proses produksi (oksidasi) yang dilakukan ada sebanyak = 113 kali x 5 alat = 565 kali. Proses isomerisasi.5 7. Kebutuhan dari masing-masing peralatan produksi disajikan pada tabel di bawah ini.5 jam. Berdasarkan data pada tabel diatas dapat dilakukan perhitungan kebutuhan energi untuk setiap proses produksi. Karena dilakukan 3 kali proses maka total waktu proses produksi = 3 kali x 210 menit = 630 menit = 10. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat. sehingga proses produksi (destilasi) selesai dalam waktu = 11 jam : 2 alat = 5. Proses oksidasi.6 x 106 J/kWh .5 Konversi (%) 95 95 95 Di bawah ini adalah penjelasan dari perhitungan masing-masing proses. yaitu: 1. sekali proses menghabiskan waktu 4 menit. Tabel 8 Kebutuhan Peralatan Proses Produksi Alat Rotary Microwave Destilator Proses Isomerisasi Oksidasi Ekstraksi Jumlah (unit) 5 2 Kapasitas (L) Max 90 1500 Daya (Watt) 6000 26000 Waktu setiap proses (menit) 15 4 210 Banyak nya proses 590 kali 565 kali 3 kali Total Waktu Produksi (jam) 29. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.5 jam). Masing-masing alat melakukan proses produksi (oksidasi) sebanyak 113 kali.5 jam x 5 = 885 kWh x 3. 3. KEBUTUHAN ENERGI PERALATAN UTAMA PRODUKSI Pembuatan produk vanilin sintetik didukung dengan adanya penggunaan peralatan produksi dengan kapasitas yang sesuai. proses produksi (isomerisasi) yang dilakukan sebanyak = 122 kali x 5 alat = 610 kali. Masing-masing peralatan tersebut memiliki kebutuhan energi yang berbeda-beda. Proses ekstraksi. Alat yang dimiliki ada sebanyak 2 alat. 2. Sehingga untuk 5 alat.5 5. Masing-masing alat melakukan proses produksi (isomerisasi) sebanyak 122 kali.IV.

3 x 106 6 810 x 10 40.5 x 2 = 286 kWh x 3.= 3186 x 106 J 2.49 x 106 Ouput (Joule) 3026. selanjutnya neraca energi dapat diketahui seperti yang disajikan pada tabel di bawah ini.8 x 106 14.7 x 106 769. Tabel 9.5 x 106 275.31 x 106 Input energi merupakan kebutuhan energy dari masing-masing proses. .5 jam x 5 = 225 kWh x 3. Kemudian loss adalah hasil kali dari nilai konversi dengan kebutuhan energi dari masing-masing proses.5 x 106 289.6 x 106 J/kWh = 810 x 106 J 3. Setelah diketahui kebutuhan energy dari masing-masing proses. Neraca Energi Proses Produksi Alat Rotary Microwave Destilator Proses Isomerisasi Oksidasi Ekstraksi Energi (Joule) Input Loss 6 3186 x 10 159.6 x 106 J/kWh = 1030 x 106 J Sehingga didapatkan hasil bahwa pada proses isomerisasi dengan menggunakan alat Rotary Microwave sebanyak 5 alat membutuhkan energi total sebesar 3186 x 106 J dan pada proses oksidasi dengan menggunakan alat Rotary Microwave sebanyak 5 alat mebutuhkan energi total sebesar 810 x 106 J serta pada proses ekstraksi dengan menggunakan destilator sebanyak 2 alat membutuhkan energi total sebesar 1030 x 106 J. Proses oksidasi dengan Rotary Microwave P E = 6000 W = 6 kW =Pxtxn = 6 kW x 7. Proses ekstraksi dengan destilator P = 26000 = 26 kW E =Pxtxn = 26 kW x 5. Sehingga didapatkan nilai ouput yang merupakan selisih dari nilai input dan loss.

74 liter dan membutuhkan diameter wadah 16 cm). D1 = 8 cm. SCALE UP Hubungan antara peningkatan diameter (D) terhadap tenaga (P). Perhitungan scale up: P = k Da Nb ρ c µd Dimensi untuk tiap variabel: P = ML2T-3 D=L ρ = ML-3 µ = ML-1T-1 M : 1 = c+d L : 2 = a-3c-d T : -3 = -b-d Sehingga.V. dan D2 = 2D1 (ini terkait dengan kapasitas produksi per satu kali operasi yaitu 1. P1 = 800 w. µ adalah konstan. P berbanding lurus dengan N2 . . a = 5-2d b = 3-d c = 1-d P berbanding lurus dengan N2 P=N2 ~ N2=N 3-d 2=3-d d=1 P2/D25N13ρ P1/D15N23ρ = k = D12N1ρ /µ D22N2ρ /µ Untuk cairan yang sama ρ . Berdasarkan eksperimen.

4 kw.4 kw Jadi. P2 P1 P2 P1 P2 P1 = D15N13 D25 N23 = D12N1 D22N2 = N22D23 N12D13 = D23 D13 (2D1)3 D13 = 8 P2 = 8P1 P2 = 8 x 800 w = 6400w = 6. .P2 P1 Atau P2 P1 Jika D2=2D1 Maka. dengan meningkatkan D2 = 2D1 maka kebutuhan P2 akan meningkat menjadi 8 kali dari P1 yaitu menjadi 6.

5 maximum. Pada proses isomerisasi dan oksidasi digunakan alat microwave untuk proses pemanasan. watts 6000 Operating frequency. Tabel 10. Spesifikasi alat rotary microwave Microwave generator power. mm Hg 50 – 760 3 phase. Gambar 8. controlled. kW ≤ 3. kW ~ 2. dm Max 150 Working volume. % ≥ 0. % ≤ 50 Final humidity.7 3 Drying chamber volume. Mesin rotary microwave Spesifikasi dari alat di atas disajikan pada tabel di bawah ini.php . SPESIFIKASI PERALATAN Ada beberapa peralatan utama yang digunakan untuk proses produksi vanilin sintentik.01 Drying temperature 100 . Di bawah ini adalah gambar dari microwave yang digunakan. kg ~ 220 Sumber: http://microwavetech/pharmamicro. 380 volt. MHz 2450 ± 50 Starting humidity.VI. mm 1680×1050×1750 Dryer weight. 50 Hz: average.1000 °C pressure in drying chamber. dm3 Max 90 Footprint.

Kapasitas produksi tangki yang dibutuhkan ada beberapa macam yaitu. Feed Water Aprox 1500L 3.Pada proses ekstraksi digunakan alat untuk ekstraksi yaitu destilator. 8000 L. Gambar 10. Alat tangki . 1.situsmesin. Di bawah ini adalah gambar dari tangki yang digunakan. 100 L. Gambar 9. dan 16000 L. Electrically operated Built in Boiler 24 Kw for Boiler Sumber: http://www. Cooling Water Aprox SOL and 80L 4. Electric Consumption 2 Kw for Pump 6. Steam Consumption I 5 Kg & 26 Kg/hr 5. Alat destilator Di bawah ini adalah spesifikasi dari mesin destilator.com/ Peralatan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pada proses produksi vanillin sintetik adalah tangki. Multi Column 2. Di bawah ini adalah gambar dari alat destilator yang digunakan. Tangki ini digunakan untuk mewadahi bahan yang sedang menunggu waktu untuk diproduksi dan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan baku sementara.

pada umumnya digunakan di setiap proses produksi. dibutuhkan juga alat timbangan untuk proses pengukuran berat bahan baku yang akan digunakan pada proses produksi vanilin sintetik.indonetwork.Spesifikasi dari gambar tangki di atas disajikan pada tabel di bawah ini: Tabel 11. .co. higienis Triple Four Bone Dirancang dengan konsep triple bone yg diposisikan di empat posisi vital tangki guna memperkuat dinding dan mencegah tangki pecah PVC & Stainless Steel Dilengkapi dengan PVC (inlet) dan Stainless Steel Fitting (outlet) bulkhead fitting sebagai aksesoris standard yang kuat. Gambar alat timbangan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.id/2044927/penguin-stainless-steel-water-tanktangki-stainless-penguin. Keunggulan dari timbangan ini adalah dapat dengan mudah dibawa-bawa atau dengan kata lain timbangan yang mendatangi bahan yang akan ditimbang. Spesifikasi tangki Spesifikasi Keterangan Kapasitas alat tangki 100 L. tidak korosif dan berfungsi untuk mencegah terjadinya penyebaran karat di area saluran minyak masuk dan keluar Large Manhole Terisedia lubang tutup yang cukup besar untuk mempermudah proses inspeksi. pemeliharaan dan perawatan Kunci Pengait Tutup dapat dikunci sebagai pengamanan untuk mencegah masuknya objek yang tidak diinginkan. Alat timbangan ini. mencegah korosi Steel Bahan material Stainless steel grade SS304.htm Selain itu. tahan korosi. Sumber: http://sap88. dan 18000 L Kaki Penopang Stainless Dudukan tangki berbahan Stainless. ringan. tahan segala cuaca. 9000 L.

Gambar 11.php?t=2362649&page=5 .us/showthread. antara lain: Kapasitas alat: 150 kg Merek Hanher Berat 18 kg Sumber: www. Alat timbangan Spesifikasi dari alat timbangan di atas.kaskus.

000.000 Rp 1.pipaku.htm 1 150 kg Rp 1. Peralatan produksi Microwave rotary Tangki 8000 L Tangki 16000 L Tangki 100 L Timbangan Destilator Pipa IPAL Peralatan pendukung lain Tabel 12.150.850.000 http://www.co.php? t=2362649&page=5 2 1500 L Rp 75.000 /penguin-stainless-steel-water-tank1 100 L Rp 2.000 Total biaya peralatan produksi Rp 1.id/2044927 1 18000 L Rp 45.000 Rp 2. PRAKIRAAN BIAYA PERALATAN Proses produksi vanilin sintetik dibutuhkan berbagai macam peralatan. Adapun prakiraan biaya dari masing-masing peralatan yang dibutuhkan yaitu disajikan pada tabel di bawah ini.150.000 www.000.885.000.us/showthread.indonetwork.850.000 www.000.000 Berdasarkan tabel di atas.situsmesin.000 http://microwavetech/pharmamicro.000 http://sap88.000.000. Daftar prakiraan biaya peralatan produksi vanilin sintetik Unit Kapasitas Harga per unit Harga peralatan Sumber alat produksi 5 90 L Rp 80.com Rp 1.000 Rp 22.000.600.000 Rp 1.000 tangki-stainless-penguin.400.VII.800.000 Rp 400.php 2 9000 L Rp 11.600.com/ 1 Rp 1.185.000 Rp 45.000.000 Rp 1. diketahui bahwa total prakiraan biaya peralatan produksi adalah sebesar Rp 1.kaskus.850.000. .000 Rp 150.850.

Prakiraan yang dipakai dikembangkan oleh Peters dan Timmerhaus (1981). Rincian dari prakiraan biaya investasi dan biaya produksi tersebut adalah sebagai berikut: BIAYA INVESTASI I BIAYA M icrow .VIII. PRAKIRAAN BIAYA INVESTASI DAN BIAYA POKOK Dalam melakukan perancangan sebuah pabrik diperlukan adanya perhitungan mengenai prakiraan biaya investasi dan biaya produksi dari pembuatan vanilin sintetik.

Biaya Ba *Jumlah b .BIAYA PRODUKSI I A BIAYA PR BIAYA PR a.

II PENGEL .

.A. Sumber Cost : . cost adalah biaya produksi total. b.Untuk periode ke-1 hingga periode ke-20. ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI Perancangan pabrik ini juga diperlukan suatu analisis kelayakan ekonomi agar dapat diketahui layak atau tidaknya pembangunan pabrik jika dilihat dari aspek ekonomi. Rincian dari perhitungan analisis kelayakan ekonomi adalah sebagai berikut: Asumsi : a.Cost pada periode ke-0 didapatkan dari harga investasi total. Sumber Penerimaan : Penerim Harga j P e r io d e Jumlah 0 Berikut adalah aliran kasnya : .

Periode 0 PV (B) .

Perhitun akumulas akumulas . Hal ini ditunjukan oleh kriteria kelayakan yaitu net present value lebih dari nol.19 = 1.4 bulan Maka pay back periode adalah selama 14. yaitu pada saat terjadi perubahan dari akumulasi PV negatif ke akumulasi PV positif: x = PBP = 1. Dengan demikian perancangan pabrik untuk produksi vanilin sintetik dari eugenol dapat dilakukan. dan secara finansial layak diterapkan. net B/C dan gross B/C lebih dari satu.Perhitungan Pay Back Period (PBP) Pay back period dicari dengan menggunakan interpolasi.4 bulan).4 bulan (1 tahun 2. yang menunjukan bahwa produksi vanilin sintetik dari eugenol cengkeh ini layak. karena penilaian secara teknis dapat direalisasikan.2 tahun x 12 bulan/tahun = 14.2 tahun 1.

kualitas vanilin yang dihasilkan. Vanilin memiliki berbagai manfaat. Reaksi oksidasi k-isoeugenolat menjadi vanilin menggunakan DMSO dan oksidator nitrobenzene. Proses isomerisasi mengubah eugenol menjadi Kisoeugenolat dalam suasana basa. proses sintesis vanilin dari eugenol meliputi isomerisasi. vanilin dari coniferin. dan ekstraksi. Untuk menghemat devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap impor vanilin. DMSO dan reaksi hasil samping lainnya. Dari pertimbangan ketersediaan bahan baku. Hasil akhir dari tahapan hidrolisis adalah terbentuknya dua lapisan yaitu lapisan atas (air) yang mengandung vanilin dan lapisan bawah yang mengandung azobenzene. .B. dan vanilin dari eugenol yang berasal dari minyak cengkeh. Di dalam oven gelombang mikro terjadi radiasi gelombang mikro yang diserap oleh bahan dan mengubah energi radiasi menjadi energi panas yang akan memanaskan larutan sampel secara langsung sehingga akan menaikkan suhu bahan dan terjadi reaksi oksidasi. maka diperlukan usaha produksi vanilin di dalam negeri dengan teknologi proses yang efisien dan kualitas produk yang tinggi. maka dipilih alternatif proses sintesis vanilin dari eugenol menggunakan teknologi gelombang mikro. sehingga permintaanya di dunia terus meningkat hingga 15 persen tiap tahunnya. Secara komersial terdapat produk vanilin alami. Untuk merubah kalium vanilat menjadi vanilin dilakukan tahapan hidrolisis menggunakan asam yaitu HCl sehingga garam KCl hasil reaksi terendapkan dan dapat dipisahkan dari komponen vanilin. Vanilin merupakan glikosida yang diperoleh dari Vanilla atau dibuat secara sintetik dari sumber lainnya. Terdapat tiga alternatif bahan baku vanilin semi sintetis. Nitrobenzene tersebut digunakan untuk mengubah Kisoeugenolat menjadi K-vanilat dan menghasilkan hasil samping berupa azobenzene dan asetaldehid. yaitu: vanilin dari lignin. Secara garis besar. asetaldehid. semi sintetik dan sintetik. dan efisiensi proses. PENUTUP A. oksidasi. Proses isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol dilakukan dengan menggunakan panas dari gelombang mikro Proses ini menggunakan katalis basa kuat kalium hidroksida (KOH) yang proses konversi atau reaksi isomerisasinya terjadi pada suhu 120oC. biasanya berbentuk jarum dan mempunyai bau (aroma) yang khas. KESIMPULAN Vanilin (4-hidroksi-3-metoksi benzaldehida) merupakan padatan kristal berwarna putih atau sedikit berwarna kuning. Namun permintaan tersebut tidak semua terpenuhi.

00/kg sehingga penerimaan dalam waktu setahun sebesar Rp. Rotary Microwave yang dipilih menggunakan daya 6 kW.551.648. B. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan industri ini layak untuk didirikan. laba rugi.4 bulan). serta manajemen strategik harus dipelajari. sehingga pada akhirnya akan didapatkan produk vanillin sintetik. Produksi bersih dan pengendalian limbah sangat baik untuk diterapkan sebagai langkah menjaga lingkungan hidup. 50.676. pengembangan karir.693. Mengacu pada hasil perhitungan scale up yaitu kebutuhan daya microwave sebesar 6. pelatihan. manajemen mutu. 59. . 4. Kebutuhan energi rotary microwave pada proses isomerisasi sebesar 3186 x 106 joule.4 kW. manajemen keuangan.000. Sedangkan manajemen produksi dan operasi mengatur penjadwalan pemesanan bahan baku.00/tahun. Pada proses isomerisasi dan oksidasi digunakan alat rotary microwave untuk proses pemanasan. produksi.000. masalah lingkungan juga perlu diperhatikan untuk menciptakan sustainable development. Vanilin dijual dengan harga Rp. Selain itu.700. dan lain-lain. sehingga vanilin terikat dengan dietil eter. dikembangkan dan diaplikasikan. Managemen SDM mengatur segala hal yang berhubungan dengan SDM mulai dari perekrutan.1275. Kemudian dilakukan destilasi atau penguapan pelarut untuk memisahkan campuran vanillin dan pelarut dietil eter.12 dan pay back periode adalah selama 14. dan lainlain. industri vanilin sintetik memerlukan manajemen yang baik untuk dapat mempertahankan eksistensi di dunia industri. Manajemen sumber daya manusia.280.00.4 bulan (1 tahun 2. manajemen keuangan mengatur keuangan meliputi arus kas.00 dan biaya produksi total sebesar Rp. manajemen produksi dan operasi. REKOMENDASI Seperti industri lain.220. Pada proses ekstraksi digunakan destilator. Koordinasi antara seluruh bagian tersebut dalam perusahaan akan memperkuat eksistensi.00 dan keuntungan kotor yang diperoleh Rp.921.668. sedangkan pada proses oksidasi membutuhkan energi sebesar 810 x 106 joule. penentuan harga produk. 8.492.0168. 6. NPV sebesar Rp. Hasil analisis kelayakan ekonomi meliputi Gross B/C ratio 1.Vanilin yang terdapat pada lapisan atas hasil reaksi oksidasi dan hidrolisis selanjutnya diekstraksi menggunakan dietil eter.324. Net B/C ratio 1.306. yaitu sebesar 1030 x 106 joule. Destilator membutuhkan energi lebih kecil.633. dan jumlah bahan baku yang dipasok maupun produk yang harus dihasilkan. Manajemen pemasaran mengatur strategi dalam memasarkan produk.256. Dietil eter digunakan untuk memisahkan komponen vanilin dari air dan campuran lain hasil oksidasi yang ikut tercampur. Pembuatan vanilin sintetik dengan proses tersebut membutuhkan modal untuk investasi sebesar Rp. 50. manajemen pemasaran. Ada beberapa peralatan utama yang digunakan untuk proses produksi vanilin sintentik.

Seperti diketahui bahwa man (manusia) merupakan salah satu sumber daya dalam pelaksanaan suatu proyek selain money. material. untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal hendaknya dalam pelaksanaannya nanti dibuat semacam Standard Operating Procedure (SOP) agar didapat keteraturan dan keseragaman pelaksanaan proses produksi. Sehingga pada akhirnya akan mendatangkan profit yang optimal bagi perusahaan. Sumber daya manusia yang digunakan hendaknya yang benar-benar kompeten di bidang industri kami. dan machine. sehingga penggunaannya harus benar-benar efisien. maka akan tercipta kegiatan industri yang baik pula. management. diharapakan dapat dilakukan manajemen dengan baik. supaya produk yang dihasilkan memenuhi spesifikasi yang yang sudah ditetapkan oleh bagian quality control dan memenuhi keinginan konsumen. Mengingat biaya investasi yang dibutuhkan cukup besar. dalam bidang manajemen sumber daya manusia pun perlu dilakukan pengaturan dengan baik. Selain itu. . yaitu sintesis vanilin dari eugenol. Diharapkan dengan manajemen yang baik.Kemudian dalam praktiknya nanti. Manajemen yang dimaksud misalnya dalam bidang produksi.

2010. S. Sintesa Vanilin Dari Eugenol Minyak Daun Cengkeh. PN Balai Pustaka. 1985. Disertasi. Ketaren. London Sastrohamidjojo. 2010. 2007. New York. A Study of Some Indonesian Essential Oils. 1981. F. Bogor. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri.indonetwork. Fakultas Teknologi Pertanian Bogor. 1973. Balai Penelitian Kimia. Fourth Edition. Organic Chemestry.com/ Anonim. Bogor .com Anonim. http://www.pipaku. http://sap88. http://microwavetech/pharmamicro. 2010. Pembuatan Vanilin Semi Sintetik dari Isoeugenol Minyak Cengkeh dengan Pemanasan Gelombang Mikro. Greenwood and Son. 1922. Scott. 2010. 2010.com/tidcodocs/tn/Opportunities/vanilin. Tidco. www. McGraw-Hill. Parry. J. II. E.htm Anonim. 2003.id/2044927/penguin-stainless-steel-watertank-tangki-stainless-penguin. Skripsi.A. Cisadesi. www.php?t=2362649&page=5 Carey..tidco. Rosi. http://www. 2005.situsmesin. Universitas Gajah Mada.co. H.us/showthread. Jakarta Soemadhiharga et al. Vanilin.php Anonim.DAFTAR PUSTAKA Anonim. The Chemestry of Essential Oils and Artificial Perfumes Vol.kaskus. Yogyakarta. Fifth Edition. Institut Pertanian Bogor.

TUGAS AKHIR MATA KULIAH PERANCANGAN PABRIK PERANCANGAN PENDIRIAN PABRIK VANILIN SINTETIK DARI EUGENOL Oleh: Andini Widya Astuti F34070010 Eny Rohmayani Nunung Nuriyah Alisia Rahmaisni Ratih Purnamasari Laras Sukmawati F34070022 F34070014 F34070034 F34070061 F34070094 2011 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR .