Kaki DM

KEPANITERAAN KLINIK STATUS ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA SMF ILMU BEDAH RS IMANUEL LAMPUNG

Tanda tangan Nama NIM : Mohamad Athaullah Bin Ismail : 10 2008 310 ........................................

Pembimbing : dr. Budi Suanto, Sp.B .........................................

IDENTITAS PASIEN

Nama Usia Status Pekerjaan Alamat

: Ny. M : 61 tahun : Menikah :

Jenis kelamin : Perempuan Suku bangsa : Indonsesia Agama Pendidikan : Kristen :

: Jl Kupang Teba No 144 Gg Melati 2

I. ANAMNESIS

Dari: Autoanamnesis Tanggal: 03 Maret 2012 Jam : 11.00 WIB

Keluhan utama: Luka pada kaki kiri

[Type text]

Page 1

Keluhan tambahan: Mual, muntah, batuk kering

Riwayat penyakit sekarang: Sejak 1 minggu yang lalu, kaki kiri luka. Keluar cairan bening dari luka. Luka terasa nyeri dan bengkak. Pasien merasa mual dan muntah berisi air sebanyak 1 kali. Pasien juga mengalami batuk kering. Keluhan pilek disangkal. Buang air kecil jarang, sebanyak 1-2 kali sehari berwarna kekuningan, tidak nyeri dan tidak ada darah. Buang air besar sebanyak 1 kali sehari, konsistensi padat. Keluhan kembung perut disangkal pasien. Kadang pasien merasa badan lemas dan menggigil. Keluhan demam dan sesak nafas disangkal. Riwayat penyakit dahulu : Pasien menderita Diabetes Mellitus sudah 2 tahun, minum obat metformin selama 1 minggu. Hipertensi sejak 3 tahun yang lalu (tahun 2010). Riwayat Hidup Riwayat kelahiran: (+ ) Di Rumah Ditolong oleh ( ) Dokter ( ) Bidan ( +) Dukun ( ) Lainnya… ( ) Rumah Sakit ( ) Rumah Bersalin

Riwayat Makanan Frekuensi/hari : 3x/hari Variasi/hari Jumlah/hari : bervariasi : cukup

Nafsu makan : baik

Riwayat Imunisasi ( - ) BCG ( - ) Hep B ( - ) DPT ( - ) Campak ( - ) Polio

Kesan : pasien tidak mengetahui status imunisasinya

[Type text]

Page 2

Penyakit Dahulu (Tahun) ( - ) Wasir/Hemorrhoid ( - ) Batu Ginjal / Saluran Kemih ( - ) Batu ginjal/saluran kemih ( - ) Hernia ( - ) Typhoid (waktu kecil) ( - ) Batu empedu ( - ) Tifus abdominalis ( - ) Ulkus ventrikuli ( - ) ISK ( - ) Patah tulang ( - ) Appendisitis ( - ) Tumor ( - ) Penyakit Prostat ( - ) Diare Kronis ( + ) DM ( - ) Kelainan kongenital ( - ) Colitis ( - ) Tetanus ( - ) Volvulus ( - ) Hepatitis ( - ) Fistel ( - ) Struma tiroid ( - ) Penyakit jantung bawaan ( - ) Perdarahan otak ( - ) Gastritis ( + ) Hipertensi ( - ) Hipotensi ( - ) Abses hati

( - ) Penyakit pembuluh darah( - ) Luka bakar

Lain-lain :

( - ) Operasi ( - ) Kecelakaan

Riwayat Keluarga

Hubungan

Umur (tahun)

Jenis Kelamin L P P L

Keadaan Kesehatan

Penyebab Meninggal

Ayah Ibu Saudara

Meninggal Meninggal

-

Anak-anak

[Type text]

Page 3

Adakah Keluarga /Kerabat Yang Menderita:

Penyakit Alergi Asma Tuberkulosis Hipertensi Diabetes Jantung Ginjal

Ya -

Tidak -

Hubungan -

ANAMNESIS SISTEM Kulit ( - ) Bisul ( - ) Kuku ( - ) Rambut ( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Keringat malam ( - ) Sianosis

Kepala ( - ) Trauma ( - ) Sinkop ( - ) Sakit kepala ( - ) Nyeri pada sinus

Mata ( - ) Nyeri ( - ) Sekret ( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Radang ( - ) Gangguan penglihatan ( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga ( - ) Nyeri ( - ) Sekret ( - ) Tinitus ( - ) Gangguan pendengaran ( - ) Kehilangan pendengaran

[Type text]

Page 4

) Konstipasi ( .) Nyeri leher thorax (Jantung / Paru) ( .) Epistaksis ( .) Batuk darah ( .) Sesak napas ( + ) Batuk ( .) Mukosa Tenggorokan ( .) Nyeri tenggorokan ( .) Perubahan suara Leher ( .) Nyeri kolik ( .) Benjolan ( .) Gusi ( .) Tinja berdarah ( .) Mengi ( .) Berdebar-debar Abdomen (Lambung / Usus) ( + ) Mual ( .) Trauma ( .) Sekret ( .) Lidah ( .Hidung ( .) Nyeri ( .) Gangguan penciuman ( .) Rhinnorhea ( .) Benda asing (foreign body) Mulut ( .) Nyeri dada ( .) Benjolan ( + ) Muntah ( .) Diare ( .) Hesistancy [Type text] Page 5 .) Nyeri epigastrium ( .) Tinja berwarna dempul Saluran Kemih / Alat kelamin ( .) Gejala penyumbatan ( .) Bibir ( .) Disuria ( .

) Kolik ( .) Riwayat trauma ( .) Sianosis BERAT BADAN Berat badan rata-rata (Kg) Berat tertinggi (Kg) Berat badan sekarang (Kg) Tetap Turun Naik : 50 kg : : (-) (-) (-) I. STATUS GENERALIS : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital TD Nadi RR T [Type text] : 160/90 mmHg : 80 x/mnt :20x/menit : 37.) Deformitas ( .( .) Nyeri ( .) Urgency ( .) Retensio urin Saraf dan Otot ( .) Bengkak Ekstremitas (+) Bengkak (+) Nyeri ( .) Kencing batu ( .) Hematuria ( .1 ⁰C Page 6 .) Nokturia ( .

tidak ada darah. ronki -/-. Mata : konjungtiva tidak anemis.Kepala normocephali. tidak ada sekret : T1 T1 tenang. Telinga : normotia. distribusi rambut merata. tidak ada lesi kulit atau bekas operasi : teraba iktus cordis pada sela iga V di linea midklavikula kiri : Batas kanan Batas kiri Batas atas : sela iga VI linea sternalis kanan. wheezing -/- Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi : pulsasi iktus cordis tidak terlihat. pupil isokor diameter 3mm. tidak ada darah. tidak ada pus. dalam batas normal. hiperemis : ada gigi yang tanggal : KGB tidak teraba membesar Thorax Paru-paru : Inspeksi : paru kiri kanan simetris. murmur (-). gallop (-) [Type text] Page 7 . Hidung Tenggorokan Gigi dan Mulut Leher : normocepta. vesikuler. fremitus +/+ : sonor dalam batas normal di kedua lapang paru Auskultasi : suara nafas. 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri. tidak ada pus. Auskultasi : BJ I dan BJ II regular. : sela iga V. sela iga normal (kanan dan kiri). wajah simetris. terdapat sedikit serumen dan ada refleks cahaya di kedua liang telinga. sclera tidak ikterik. tidak mudah rontok. : sela iga II linea parasternal kiri. tidak ada retraksi sela iga tidak ada benjolan Palpasi Perkusi : tidak teraba benjolan.

ballottement (-/-). hipertimpani Auskultasi : Bising usus nomal Hati Limpa Ginjal : tidak teraba pembesaran : tidak teraba pembesaran : tidak teraba. sikatrik.distensi(-) Palpasi Perkusi : ballotement (-). darm steifung (-).Abdomen : Inspeksi : Darm contour (-). nyeri tekan (-). tanda radang -. nyeri ketok CVA (-/-) Lain-lain : tidak ada Colok Dubur Tidak dilakukan Extremitas (lengan dan tungkai): Tonus Massa Sendi Gerakan : normotonus : (+) pada kaki kiri : normal : aktif Kekuatan : +5 +5 Sensori : + + +5 +4 + + Edema : - - Cyanosis : - - - + - - Lain-lain : Turgor kulit baik [Type text] Page 8 . tidak ada bekas luka operasi. massa (-) : CVA (-).

nyeri tekan (+).900/uL : 77 % (N : 11-15) (N : 37-54) (N : 3.5) (N : 150-350) (N : 5.3 g/dL : 25.5-5.Lain – lain : Refleks Tendon Bisep Trisep Patella Archiles Kremaster Refleks kulit Refleks patologis Kanan + + + + + Tidak dilakukan + Tidak dilakukan Kiri + + + + + Tidak dilakukan + Tidak dilakukan II. pulsasi arteri dorsalis pedis (+) III. atrofi otot (-). STATUS LOKALIS Extremitas (Kaki Kiri) Inspeksi Palpasi : Deformitas (-).000-10. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hematologi (22 Februari 2013. luka (+).82 juta/uL : 382 ribu/uL : 13.20 Wib)       HB HT Eritrosit Trombosit Leukosit Segmen : 8. gerakan aktif. 09. Pk. oedema (+) : akral hangat.2 % : 2.000) (N : 50-70) Page 9 [Type text] .

2 fl (N : 25-40) (N : 2-8) (N : 31-36) (N : 27-32) (N : 77-94) (N : 6-12) Kimia Darah          GDS Glukosa 2 jam PP Sodium/Na Potasium/K SGOT SGPT Urea BUN Kreatinin : 223 mg/dL : 194 mg/dL : 133 Meq/L : 4.5 : 3+ : 1+ : Negatif : 1+ : Negatif (N : Negatif) (N : Negatif) (N : Negatif) (N : 1.09 mg/dL : 1.4 fl : 10.2 mg/dL : 50.9 g/dL : 29.94 Meq/L : 20 u/L : 17 u/L : 107.2) (N : < 32) (N : 9-43) (N : 10-50) (N : 6-20) (N : 1.025 : 5.030) (N : 5-8) (N : Negatif) (N : <1EU/dL) (N : Negatif) (N : Negatif) (N : Negatif) [Type text] Page 10 .4 pg : 89.1) Urinanalisa Urin Lengkap            Warna Gula Bilirubin Keton Berat Jenis PH Protein Urobilinogen Nitrit Darah Lekosit : Kuning/Keruh : Negatif : Negatif : Negatif : 1.15mg/dL (N : 70-200) (N : 76-140) (N : 137-150) (N : 3.6-5.003-1.      Limfosit Monosit MCHC MCH MCV MPV : 16 % : 7% : 32.

oedema (+). GDS : 223 mg/dL 1 DIAGNOSIS KERJA Diagnosis : 1. Pemeriksaan fisik : Tampak sakit sedang. TD : 160/90 mmHg. datang dengan keluhan luka pada kaki kiri. Hasil pemeriksaan Laboratorium : GDS : 223 mg/dL . Nyeri tekan (+) 3.Foto Thorax (26 Februari 2013) Kesan : Gambaran cardiomegaly & suspek Post KP minimal tampak tenang. CM. 2.luka terasa nyeri dan bengkak. BU (+). GD 2 Jam PP : 194mg/dL [Type text] Page 11 . air kecil sebanyak 1-2 kali sehari berwarna kekuningan. nyeri (+). Kadang pasien merasa badan lemas dan menggigil. Abdoment : supel. Cor: BJ1-2 reguler. Pulmo suara napas vesikuler. RR : 20 x/menit. USG : Hepatomegali ringan non spesifik Pemeriksaan Lab : Hematologi : HB : 8. Foto Thorax: Gambaran cardiomegaly & suspek Post KP minimal tampak tenang. Oedem(+) .3 g/dL.82 juta/uL.2 %. HT : 25. Eritrosit: 2. Ultrasonografi Abdomen (23 Februari 2013) Kesan : Hepatomegali ringan non spesifik IV. Nadi : 80 x/menit. Pasien merasa mual dan muntah berisi air sebanyak 1 kali. luka sejak 1 minggu belum sembuh.900/uL. Leukosit: 13. Abses DM plantar Pedis Sinistra Dasar diagnosis : 1. Pada anamnesis pasien mengatakan mempunyai riwayat DM dan sedang mengkomsusi obat DM. Suhu : 37. Trombosit: 382 ribu/uL. RINGKASAN (RESUME/SAILENT FEATURES) Seorang perempuan berusia 61 tahun.1oC. Pasien juga mengalami batuk kering. Ekstremitas : pada kaki kiri luka (+). Pasien mempunyai riwayat hipertensi dan DM. Pada pemeriksaan fisik : Ekstermitas : Luka (+) .

9% 500ml/8jam Oral Virinon tab Oral Hemobion tab IV Clavamox 2 X 1mg Oral avelox 1 X 1mg GV 2X/hari Konsul Spesialis Bedah Debridement VII. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam Ad functionam : dubia ad bonam Ad sanationam : dubia ad bonam Operasi  26 Februari 2013  Jenis Operasi : Debridement  Anestesi Laporan Operasi :  Pasien tidur terlentang di meja operasi dengan general anestesi.  Dilakukan asepsis dan antiseptik didaerah operasi [Type text] Page 12 : GA .               PENATALAKSANAAN Bedrest Diet DM 1900 kalori IV Pranzal 1X 40 mg IV Humulin R Oral Amcor Tab 1 X 5mg Oral Bicnat 3 X 1 IV NS 0.VI.

nyeri luka (-). regular. Muntah 10x. murmur (-).0 Cor: : Bunyi Jantung I-II. bising usus (+) A: Post debridement abses DM plantar pedis sinistra hari I P: GV 2x sehari Captopril 3 x 25 mg Humulin Amcor 1 x 5 mg Bicnat 3 x 1 tab Captopril 3 x 25 mg Vometa 3 x 1 tab Narfoz 3 x 1 amp inj Codetam 3 x 1 tab Ovelox 1 x 1 tab Follow Up 28 Januari 2013 S: mual (+). gallop (-) Pulmo: Suara Napas Vesikuler. pusing (+). baal (+) O: Kesadaran : Compos Mentis Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang TD : 170/80mmHg Nadi : 80x/menit Pernapasan : 20x/menit Suhu : 35. regular.8OC Cor : Bunyi Jantung I-II. Dilakukan debridement di daerah plantar pedis sinistra dan dilakukan pemotongan jaringan nekrotik  Luka operasi dikompres dengan kasa + NS  Operasi selesai. mual (+). Nyeri tekan (-). berdenyut (-) O: Kesadaran: Compos Mentis Keadaan umum : Tampak sakit sedang TD: 160/80mmHg RR: 18x/menit Nadi: 78x/menit Suhu: 37. luka tidak sakit. Nyeri lepas (-). Follow Up 27 Februari 2013 S: Muntah 5x sejak semalam. gallop (-) [Type text] Page 13 . wheezing -/-. murmur (-). rhonki -/Abdomen: Supel.

regular. wheezing -/-.7OC Cor : Bunyi Jantung I-II. murmur (-). Nyeri lepas (-). bising usus (+) Luka operasis tetrtutup kasa kering A: Post debridement hari II P: GV 2x sehari Captopril 3 x 25 mg Humulin Amcor 1 x 5 mg Bicnat 3 x 1 tab Captopril 3 x 25 mg Vometa 3 x 1 tab Narfoz 3 x 1 amp inj Codetam 3 x 1 tab Ovelox 1 x 1 tab Dsyshafil 1 x 1 tab Follow Up 01 Maret 2013 S: Mual dan muntah tidak ada. baal (-).Nyeri tidak ada. rhonki -/Abdomen: Supel Nyeri tekan (-). bising usus (+) Luka operasi tertutup kasa kering. Nyeri tekan (-). gallop (-) Pulmo: Suara Napas Vesikuler. berdenyut (+).Pulmo: Suara Napas Vesikuler. wheezing -/-. tidak nyeri O: Kesadaran : Compos Mentis Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang [Type text] Page 14 . baal. rhonki -/Abdomen: Distensi (-). pusing kalau duduk O: Kesadaran : Compos Mentis Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang TD : 180/80mmHg Nadi : 86x/menit Pernapasan : 20x/menit Suhu : 36. Nyeri lepas (-). tidak merembe A: Post debridement abses DM hari III P: GV 2x sehari Captopril 3 x 25 mg Amcor 1 x 5 mg Bicnat 3 x 1 tab Captopril 3 x 25 mg Vometa 3 x 1 tab Dsyshafil 1 x 1 tab Follow Up 02 Maret 2013 S: mual. muntah.

gallop (-) Pulmo: Suara Napas Vesikuler. tidak merembes A: Post Debridement abses DM plantar pedis sinsitra hari IV P: GV 2x sehari Captopril 3 x 25 mg Amcor 1 x 5 mg Bicnat 3 x 1 tab Captopril 3 x 25 mg Vometa 3 x 1 tab Dsyshafil 1 x 1 tab [Type text] Page 15 . regular. bising usus (+) Luka operasi tertutup kasa kering.0OC Cor : Bunyi Jantung I-II. wheezing -/-. murmur (-). rhonki -/Abdomen: Distensi (-). Nyeri tekan (-). Nyeri lepas (-).TD : 180/70mmHg Nadi : 84x/menit Pernapasan : 20x/menit Suhu : 36.

1 [Type text] Page 16 . 1 Salah satu komplikasi menahun dari DM adalah kelainan pada kaki yang disebut sebagai kaki diabetik. 1 Komplikasi kaki diabetik adalah penyebab amputasi ekstremitas bawah nontraumatik yang paling sering terjadi di dunia industri. pada tahun 1996 di dunia terdapat 120 juta penderita diabetes mellitus yang diperkirakan naik dua kali lipat pada tahun 2025. Risiko amputasi ekstremitas bawah 15 – 46 kali lebih tinggi pada penderita diabetik dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes mellitus. berjumlah 25% dari seluruh rujukan diabetes di Amerika Serikat dan Inggris. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di negara berkembang prevalensi kaki diabetik didapatkan jauh lebih besar dibandingkan dengan negara maju yaitu 2-4%. prevalensi yang tinggi ini disebabkan kurang pengetahuan penderita akan penyakitnya. Pengelolaan kaki diabetes mencakup pengendalian gula darah. dan obat-obat vaskularisasi serta amputasi. pemberian antibiotik. kurangnya perhatian dokter terhadap komplikasi ini serta rumitnya cara pemeriksaan yang ada saat ini untuk mendeteksi kelainan tersebut secara dini. Kenaikan ini disebabkan oleh pertambahan umur. Sebagian besar komplikasi kaki diabetik mengakibatkan amputasi yang dimulai dengan pembentukan ulkus di kulit. kelebihan berat badan (obesitas).debridemen/membuang jaringan yang rusak.REFERAT DIABETIC FOOT BAB I PENDAHULUAN Diantara penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa mendatang adalah diabetes mellitus. dan gaya hidup. Lagi pula komplikasi kaki adalah alasan tersering rawat inap pasien dengan diabetes.

nasib penyandang kaki diabetes menjadi lebih cerah. Komplikasi ini terjadi karena terjadinya kerusakan saraf. Angka kematian dan angka amputasi dapat ditekan samapai sangat rendah. dengan gejala dan tanda sebagai berikut : 1 1. menurun sebanyak 49-85% [Type text] Page 17 . Sering kesemutan/gringgingan (asmiptomatus).3 II. rasa sakit pun berkurang. dan adanya klinik kaki diabetes yang aktif mengelola sejak pencegahan primer. 2 Epidemiologi Di Negara maju kaki diabetes memang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar. 4. Nyeri saat istirahat. Kerusakan jaringan (necrosis. 2. 3. Suatu penyakit pada penderita diabetes bagian kaki. pasien tidak dapat membedakan suhu panas dan dingin.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Jarak tampak menjadi lebih pendek (klaudilasio intermil).1 Definisi Diabetes mellitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin relatif atau absolut dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh. 1 Kaki diabetik adalah kelainan pada tungkai bawah yang merupakan komplikasi kronik diabetes mellitus. Salah satu komplikasi yang sangat ditakuti penderita diabetes adalah kaki diabetik. tetapi dengan kemajuan cara pengelolaan. ulkus).

dan sebanyak 37% akan meninggal 3 tahun pasca amputasi. Manifestasi angiopati pada pembuluh darah penderita DM antara lain berupa penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer (yang utama). tertusuk duri. Keadaan ini akan mengakibatkan neuropati. kaki DM 50% akan mengalami infeksi akibat munculnya lingkungan gula darah yang subur [Type text] Page 18 . 1 Gangguan mikrosirkulasi akan menyebabkan berkurangnya aliran darah dan hantaran oksigen pada serabut saraf yang kemudian menyebabkan degenarasi dari serabut saraf.1 II. Pertama. Sebanyak 14. lecet akibat pemakaian sepatu/sandal yang sempit dan bahan yang keras. 1 Kedua.dari sebelumnya. perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi nekrosi/gangren yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan tindakan amputasi. berkurangnya sensasi rasa nyeri setempat (neuropati) membuat pasien tidak menyadari bahkan sering mengabaikan luka yang terjadi karena tidak dirasakannya. masing-masing sebesar 16% dan 25% (data RSUPNCM tahun 2003). Angka kematian dan angka amputasi masih tinggi. Upaya yang dilakukan untuk mencegah perluasan infeksi terpaksa harus dilakukan amputasi (pemotongan tulang). 1 Di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo. masalah kaki diabetes masih merupakan masalah besar. Jika tidak dilakukan perawatan akan sampai ke tulang yang mengakibatkan infeksi tulang (osteomylitis).3% akan meninggal dalam setahun pasca amputasi. Sering terjadi pada tungkai bawah (terutama kaki). sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel pembuluh darah. Tahun 2005 International Diabetes Federation mengambil tema tahun kaki diabetes meningat pentingnya pengelolaan kaki diabetes dikembangkan. Luka timbul spontan sering disebabkan karena trauma misalnya kemasukan pasir. Sebagian besar perawatan penyandang DM selalu menyangkut kaki diabetes. dari kasus ulkus/gangren diabetes. Mulanya hanya kecil. Akibatnya. Nasib para penyandang DM pasca amputasi pun masih sangat buruk. Di samping itu. kemudian meluas dalam waktu yang tidak begitu lama. Luka akan menjadi borok dan menimbulkan bau yang disebut gas gangren.3 Faktor Risiko Terjadinya Kaki Diabetik Ada 3 alasan mengapa orang diabetes lebih tinggi risikonya mengalami masalah kaki.

Oklusi vaskular Faktor risiko demografis : Usia Semakin tua semakin berisiko Jenis kelamin Laki-laki dua kali lebih tinggi. psikologis. bakteri-bakteri yang akan tumbuh subur terutama bakteri anaerob. Karena kekurangan suplai oksigen.Luka kecelakaan . mungkin juga dari psikologis Etnik Beberapa kelompok etnik secara signifikan berisiko lebih besar terhadap komplikasi kaki. nutrisi dan oksigen jaringan tidak cukup. Mekanismenya tidak jelas. ini yang disebut sepsis (kondisi gawat darurat). atau transportasi menuju klinik terdekat. Secara umum penderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi. Ini menyebabkan luka sukar sembuh dan kuman anaerob berkembang biak.Kondisi kulit atau kuku . Hal ini karena plasma darah penderita diabetes yang tidak terkontrol baik mempunyai kekentalan (viskositas) yang tinggi.Trauma sepatu . Sehingga aliran darah menjadi melambat.Iatrogenik . [Type text] Page 19 . Kuman pada borok akan berkembang cepat ke seluruh tubuh melalui aliran darah yang bisa berakibat fatal.Trauma panas . Hal ini dikarenakan kemampuan sel darah putih „memakan‟ dan membunuh kuman berkurang pada kondisi kadar gula darah (KGD) diatas 200 mg%. Kemampuan ini pulih kembali bila KGD menjadi normal dan terkontrol baik.Stress berulang . 1 Ketiga. berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. atau berhubungan dengan status sosial ekonomi. bisa dari faktor perilaku. Infeksi ini harus dianggap serius karena penyebaran kuman akan menambah persoalan baru pada borok. 1 Sejumlah peristiwa yang dapat mengawali kerusakan kaki pada penderita diabetes sehingga meningkatkan risiko kerusakan jaringan antara lain : 1 .untuk berkembanguya bakteri patogen. Akibatnya. Mekanisme perbedaan jenis kelamin tidak jelas – mungkin dari perilaku.

metabolik dan faktor risiko yang lain. Dalam kondisi ini. akibatnya terjadi gaangguan peredaran pembuluh darah besar dan kecil. sehingga menyebabkan luka tidak sembuh-sembuh. pemberian makanan dan oksigenasi kurang dan mudah terjadi penyumbatan aliran darah terutama derah kaki. Sirkulasi yang buruk ikut berperan terhadap timbulnya kaki diabetik dengan menurunkan jumlah oksigen dan nutrisi yang disuplai ke kulit maupun jaringan lain. Kadar glukosa yang tinggi (hiperglikemia) ternyata mempunyai dampak negatif yang luas bukan hanya terhadap metabolisme karbohidrat. 2 Angiopati diabetes disebabkan oleh beberapa faktor yaitu genetik. Ini berhubungan dengan perhatian terhadap kerentanan. Faktor risiko lain : II.. 2 [Type text] Page 20 . Berbagai kelainan seperti neuropati. terjadi penyempitan di sekitar arteri yang sering menyebabkan penurunan sirkulasi yang signifikan di bagian bawah tungkai dan kaki. yang mengakibatkan sirkulasi darah yang kurang baik. 2 Kondisi kaki diabetik berasal dari suatu kombinasi dari beberapa penyebab seperti sirkulasi darah yang buruk dan neuropati. angiopati yang merupakan faktor endogen dan trauma serta infeksi yang merupakan faktor eksogen yang berperan terhadap terjadinya kaki diabetik. tetapi juga terhadap metabolisme protein dan lemak yang dapat menimbulkan pengapuran dan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis).- Situasi sosial Hidup sendiri dua kali lebih tinggi Faktor risiko perilaku : Ketrampilan manajemen diri sendiri sangat berkaitan dengan adanya komplikasi kaki diabetik. 4 Ulserasi terdahulu (inilah faktor risiko paling utama dari ulkus) Berat badan Merokok Patogenesis Kaki Diabetik Diabetes seringkali menyebabkan penyakit vaskular perifer yang menghambat sirkulasi darah.

parut. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani. panas. Diabetes yang menderita neuropati dapat berkembang menjadi luka. maka akan mengurangi risiko yang serius bagi kondisi kakinya. dan dingin. Infeksi sendiri sangat jarang merupakan faktor tunggal untuk terjadinya kaki diabetik. atau luka karena tekanan yang tidak disadari akibat adanya insensitivitas. [Type text] Page 21 . 2 Sirkulasi yang buruk juga dapat menyebabkan pembengkakan dan kekeringan pada kaki. Salah satu bentuk deformitas pada kaki diabetik. dan kondisi serius pada kaki. Infeksi lebih sering merupakan komplikasi yang menyertai kaki diabetik akibat iskemia atau neuropati. lepuh. 2 Dari faktor-faktor pencetus diatas faktor utama yang paling berperan dalam timbulnya kaki diabetik adalah angiopati. Yang sangat penting bagi diabetik adalah memberi perhatian penuh untuk mencegah kedua kaki agar tidak terkena cedera. observasi setiap hari terhadap kaki merupakan masalah kritis. dan ditambah kaki diabetik akibat infeksi.Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya kemampuan untuk merasakan nyeri. Karena adanya konsekuensi neuropati. maka akibatnya dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi. neuropati juga dapat menyebabkan deformitas seperti Bunion. infeksi. neuropati dan infeksi. dan Charcot Foot. 2 Gambar 1. Hammer Toes (ibu jari martil). Pencegahan komplikasi pada kaki adalah lebih kritis pada pasien diabetik karena sirkulasi yang buruk merusak proses penyembuhan dan dapat menyebabkan ulkus. Secara praktis kaki diabetik dikategorikan menjadi 2 golongan : kaki diabetik akibat angiopati / iskemia dan kaki diabetik akibat neuropati. Jika pasien diabetes melakukan penilaian preventif perawatan kaki.

1 Kaki Diabetik akibat angiopati / iskemia 2 Penderita hiperglikemia yang lama akan menyebabkan perubahan patologi pada pembuluh darah. dan memudahkan terbentuknya trombosit pada dinding arteria yang sudah kaku hingga akhirnya terjadi gangguan sirkulasi. sehingga menghantarkan pelekatan (adhesi) dan pembekuan (agregasi). Manifestasi angiopati pada pembuluh darah penderita DM antara lain berupa penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer (yang utama).tidak ada rambut pada tungkai dan kaki bawah. Menurut kepustakaan. nyeri yang terjadi pada telapak atau kaki depan pada saat istirahat atau di malam hari. hiperglikemia juga menyebabkan lekosit DM tidak normal sehingga fungsi khemotoksis di lokasi radang terganggu. atau berjuntai. kemerahan pada area yang terkena ketika tungkai diam. Selain itu. Akibatnya. penebalan kuku.II. Ini dapat menyebabkan penebalan tunika intima “hiperplasia membran basalis arteria”.4. namun juga diperberat oleh rheologi darah yang tidak normal. Hal tersebut akan diperoleh lagi oleh tidak saja kekakuan arteri. kulit menipis atau berkilat. akan menyebabkan tingginya agregasi sel darah merah sehingga sirkulasi darah menjadi lambat. dan pucat ketika kaki diangkat. tidak ada denyut popliteal atau denyut tibial superior. oklusi (penyumbatan) arteria. perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi nekrosis/gangren yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan/tindakan amputasi. adanya peningakatan kadar fripronogen dan bertambahnya reaktivitas trombosit. sukar untuk dimusnahkan oleh sistem plagositosis-bakterisid intraseluler. atrofi jaringan lemak subkutan . Tanda-tanda dan gejala-gejala akibat penurunan aliran darah ke tungkai meliputi klaudikasi. [Type text] Page 22 . Sering terjadi pada tungkai bawah (terutama kaki). Demikian pula fungsi fagositosis dan bakterisid intrasel menurun sehingga bila ada infeksi mikroorganisme (bakteri). dan hiperkeragulabilitas atau abnormalitas tromborsit.

anhidrosis. lepuh. kaki DM 50% akan mengalami infeksi akibat munculnya lingkungan gula darah yang subur untuk berkembanguya bakteri patogen. hilangnya sensibilitas. pembentukan kalus. dari kasus ulkus/gangren diabetes. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani. dan Charcot Foot. dan dingin. parut. ulkus tropik. perubahan bentuk kaki karena atrofi otot ataupun perubahan tulang dan sendi seperti Bunion.2 Kaki Diabetik akibat neuropati2 Pasien diabetes mellitus sering mengalami neuropati perifer. Secara radiologis akan nampak adanya demineralisasi. osteolisis atau sendi Charcot. Diabetes yang menderita neuropati dapat berkembang menjadi luka. Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya kemampuan untuk merasakan nyeri. nyeri radikuler. panas. terutama pada pasien dengan gula darah yang tidak terkontrol. Secara klinis dijumpai parestesi. hilangnya reflek tendon.II. bakteri-bakteri yang akan tumbuh subur terutama bakteri anaerob. Hammer Toes (ibujari martil). Karena kekurangan suplai oksigen. atau luka karena tekanan yang tidak disadari akibat adanya insensitivitas. maka akibatnya dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi. Di samping itu.4. [Type text] Page 23 . hiperestesi.

panas dan raba sehingga penderita mudah terkena trauma akibat keadaan kaki yang tidak sensitif ini. Faktor-faktor yang berperan terhadap timbulnya neuropati ditentukan oleh : Respon mekanisme proteksi sensoris terhadap trauma Macam. Gangguan saraf otonom ini akan mengakibatkan peningkatan aliran darah. Dengan demikian peran saraf otonom terhadap timbulnya kaki diabetik neuropati dapat disimpulkan sebagai berikut : neuropati otonom akan menyebabkan produksi keringat berkurang. 2 Hilangnya tonus vaskuler disertai dengan adanya peningkatan aliran darah akan menyebabkan distensi vena-vena kaki dan peningkatan tekanan parsial oksigen di vena.Gambar 2. Kerusakan sensoris akan menyebabkan penurunan sensoris nyeri. besar dan lamanya trauma Peranan jaringan lunak kaki Neuropati perifer pada kaki akan menyebabkan terjadinya kerusakan saraf baik saraf sensoris maupun otonom. produksi keringat berkurang atau tidak ada. Predileksi paling sering terjadinya ulkus pada kaki diabetik adalah bagian dorsal ibu jari dan bagian proksimal & dorsal plantar metatarsal. 3 Gangguan saraf otonom disini terutama diakibatkan oleh kerusakan serabut saraf simpatis. sehingga menyebabkan kulit penderita akan mengalami dehidrasi serta menjadi [Type text] Page 24 . hilangnya tonus vaskuler.

kering dan pecah-pecah yang memudahkan infeksi. Selain itu neuropati otonom akan mengakibatkan penurunan nutrisi jaringan sehingga terjadi perubahn komposisi. fungsi dan keelastisitasannya sehingga daya tahan jaringan lunak kaki akan menurun yang memudahkan terjadinya ulkus.3 Kaki diabetik akibat infeksi Pada prinsipnya penderita diabetes melitus lebih rentan terhadap infeksi daripada orang sehat. 2 Faktor-faktor yang merupakan risiko timbulnya infeksi yaitu: a. Keadaan infeksi sering ditemukan sudah dalam kondisi serius karena gejala klinis yang tidak begitu dirasakan dan diperhatikan penderita. Distribusi tempat terjadinya kaki diabetik secara anatomik :2 50% ulkus pada ibu jari 30% pada ujung plantar metatarsal 10 – 15% pada dorsum kaki 5 – 10% pada pergelangan kaki Lebih dari 10% adalah ulkus multipel II. Gambar 3. Gangren jari kaki.4. faktor imunologi produksi antibodi menurun peningkatan produksi steroid dari kelenjar adrenal daya fagositosis granulosit menurun Page 25 [Type text] . dan selanjutnya timbulnya selullitis ulkus ataupun gangren.

pecah Luka sulit sembuh Atropi Kehilangan bantalan lemak Trauma Tumpuan berat yang baru Sindrom jari biru Gangren mayor INFEKSI Gangren ULKUS AMPUTASI Gambar 4. berdasarkan letak serta penyebabnya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: (Goldberg dan Neu. 1987) 1. Pathogenesis terjadinya ulkus DM [Type text] Page 26 . 2 Pada kaki diabetik yang disertai infeksi. selulitis atau flegmon non supuratif dorsum pedis dan abses dalam rongga telapak kaki. faktor metabolik hiperglikemia benda keton mengakibatkan asam laktat menurun daya bakterisidnya glikogen hepar dan kulit menurun faktor angiopati diabetika faktor neuropati Beberapa bentuk infeksi kaki diabetik antara lain: infeksi pada ulkus telapak kaki. Pada ulkus yang mengalami gangren atau ulkus gangrenosa ditemukan infeksi kuman Gram positif. nutrisi. Selulitis non supuratif dorsum pedis 3. Ulkus perforasi pada telapak kaki DIABETES MELLITUS Penyakit pembuluh darah tepi Sumbatan Aliran oksigen. c. d. negatif dan anaerob. antibiotik Neuropati otonom  Keringat Aliran darah Resorpsi tulang Kerusakan sendi Kerusakan kaki Neuropati perifer Indera raba Kehilangan rasa sakit Gerak Kult kering. Abses pada deep plantar space 2.b.

Kalus disebabkan gesekan atau tekanan berulang pada daerah yang sama. Kulit melepuh dapat berkembang menjadi infeksi. Disebabkan penggunaan sepatu yang kurang pas atau tanpa kaus kaki. Kalus dapat menjadi berkembang menjadi infeksi. 1 Kuku kaki yang tumbuh ke dalam Terjadi ketika ujung kuku tumbuh ke dalam kulit dan menimbulkan tekanan yang dapat merobek kulit sehingga kulit menjadi kemerahan dan terinfeksi. Namun bagi penyandang diabetes dengan kadar gula darah yang tidak terkendali. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam dapat terjadi jika anda memotong kuku sampai ke ujungnya. gunakan kikir untuk meratakannya. atau kelainan kulit. 1 Pembengkakan ibu jari kaki [Type text] Page 27 . distribusi berat tubuh yang tidak seimbang.1 Kulit melepuh Dapat terjadi jika sepatu selalu menggesek kaki pada daerah yang sama. karena kulit melindungi lepuhan dari infeksi. sepatu yang tidak sesuai. masalah kaki ini dapat mengarah kepada terjadinya infeksi dan konsekuensi yang lebih serius seperti amputasi.5 Masalah Kaki Pada Penyandang Diabetes Setiap orang dapat mengalami masalah pada kaki seperti di bawah ini. dapat pula disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu ketat atau trauma kaki karena aktivitas seperti berlari dan aerobik. Hal penting untuk menangani kulit melepuh adalah dengan tidak meletuskannya.II.1 Kalus Merupakan penebalan kulit yang umumnya terjadi di telapak kaki. Jika ujung kuku kaki anda kasar.

Dengan gula darah anda yang tinggi. Pecahnya kulit di antara jari kaki memungkinkan kuman masuk ke dalam kulit dan menimbulkan infeksi. kekuningan. dan pecahnya kulit. Infeksi dapat meluas sampai ke kuku kaki sehingga membuatnya tebal. 1 Kulit kaki kering dan pecah Dapat terjadi karena saraf pada kaki tidak mendapatkan pesan dari otak (karena neuropati diabetik) untuk berkeringat yang akan menjaga kulit tetap lembut dan lembab. Otot yang lemah dapat menyebabkan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan tulang) di kaki memendek sehingga jari kaki menjadi bengkok. Dapat juga disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu pendek.Terjadi jika ibu jari kaki condong ke arah jari di sebelahnya sehingga menimbulkan kemerahan. 1 Jari kaki bengkok Terjadi ketika otot kaki menjadi lemah. 1 Plantar warts Kutil terlihat seperti kalus dengan titik hitam kecil di pusatnya. Kerusakan saraf karena diabetes dapat menyebabkan kelemahan ini. Dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki karena penggunaan sepatu berhak tinggi dan ujung yang sempit. 1 [Type text] Page 28 . 1 Athlete's foot (kaki atlet) Disebabkan jamur yang menimbulkan rasa gatal. dan sulit dipotong. Akan menimbulkan masalah dalam berjalan dan kesulitan menemukan sepatu yang tepat. kemerahan. Kulit yang kering dapat pecah. Pembengkakan yang menimbulkan rasa sakit dan deformitas (perubahan bentuk) kaki dapat diatasi dengan pembedahan. dan infeksi. Dapat berkembang sendiri atau berkelompok. Adanya pecahan pada kulit dapat membuat kuman masuk dan menyebabkan infeksi. Timbulnya kutil disebabkan oleh virus yang menginfeksi lapisan luar telapak kaki. kuman akan mendapatkan makanan untuk berkembang sehingga memperburuk infeksi. rasa sakit.

Derajat Derajat 0 Derajat I Derajat II Derajat III Dearjat IV Derajat V Lesi Tidak ada lesi terbuka. Wagner. yaitu. Masalah kaki pada penyandang diabetes II. kulit utuh dan mungkin disertai kelainan bentuk kakiUlkus superficial dan terbatas di kulit Ulkus dalam mengenai tendo sampai kulit dan tulang Abses yang dalam dengan atau tanpa ostemoielitis Gangren jari kaki atau kaki bagian distal dengan atau tanpa selulitis Gangren seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah [Type text] Page 29 .6 Klasifikasi Kaki Diabetik Menurut berat ringannya lesi.Gambar 5. 2 Tabel 1. sistem klasifikasi kaki diabetik. kelainan kaki diabetik dibagi dalam enam derajat menurut Wagner.

Gambar 6. modifikasi Brodsky Kedalaman Luka 0 1 2 3 Luas Daerah Iskemik A B C Tanpa iskemik Iskemik tanpa gangrene Partial gangrene Definisi Kaki berisiko tanpa ulserasi Ulserasi superfisial. tanpa ulserasi Ulserasi yang dalam sampai mengenai tendon Ulserasi yang luas/abses Definisi [Type text] Page 30 . Kaki diabetik derajat V Tabel 2. Sistem klasifikasi kaki diabetic.

kalus. asimptomatis atau gejala tidak khas (semutan atau geringgingan).2 Gangren diabetik akibat mikroangiopati disebut juga sebagai gangren panas karena walaupun terjadi nekrosis. 2 Deskripsi ulkus DM paling tidak harus meliputi. Pemeriksaan Fisik Melakukan penilaian ulkus kaki merupakan hal yang sangat penting karena berkaitan dengan keputusan dalam terapi. menentukan ada tidaknya infeksi. Penilaian ini digunakan untuk menilai kemajuan terapi. 2 a. kulit hangat. yaitu Pada stadium I. Paleness. stadium II. terjadi klaudikasio intermiten. berupa manifestasi kerusakan jaringan karena anoksia (ulkus). Bila sumbatan terjadi secara akut. Paresthesia. Pemeriksaan fisik diarahkan untuk mendapatkan deskripsi karakter ulkus. fisura. kedalaman. Pada ulkus yang dilatarbelakangi neuropati ulkus biasanya bersifat kering.7 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dengan penentuan tipe angiopati dan neuropati berupa kelainan mikroangiopati atau makroangiopati. dan status vaskuler. stadium III. 2 Proses makroangiopati menyebabkan sumbatan pembuluh darah. ukuran. yaitu Pain. adanya pulsasi arteri tungkai dan pedis. klasifikasi ulkus dan melakukan pemeriksaan neuromuskular untuk menentukan ada/ tidaknya deformitas. warna kulit normal dan lokasi biasanya di plantar tepatnya sekitar kaput metatarsal I-III. menentukan hal yang melatarbelakangi terjadinya ulkus (neuropati. Pulselessness dan Paralisis dan bila terjadi sumbatan secara kronis. kulit dingin dan lokasi tersering adalah [Type text] Page 31 .D Complete foot gangrene II. timbul nyeri saat istirahat dan stadium IV. Sedangkan lesi akibat iskemia bersifat sianotik. lesi sering berupa punch out. daerah akral akan tampak tetap merah dan terasa hangat oleh peradangan dan biasanya teraba pulsasi arteri dibagian distal. bau. bentuk dan lokasi. gangren. emboli akan memberikan gejala klinis berupa 5P. sifat obstruksi. obstruksi vaskuler perifer. akan timbul gambaran klinik menurut pola dari Fontaine. trauma atau deformitas).

Pada umumnya jika pulsasi arteri tibialis posterior dan dorsalis pedis teraba normal. Berdasarkan penelitian Reiber. ada/tidak pus. tibialis posterior harus dinilai dan kekuatannya di kategorikan sebagai aneurisma. daerah plantar (metatarsal dan tumit: 37%) dan daerah dorsum pedis (11%). pemeriksaan dengan garpu tala. Selain itu terdapat fisura dan kulit pecah-pecah. Penderita diabetik lebih sering didapatkan menderita gangguan infra popliteal dan karena itu meskipun teraba pulsasi pada arteri femoral dan poplitea tapi tidak didapatkan pulsasi distalnya. arteri poplitea. Hasil tes dikatakan tidak normal apabila pasien tidak dapat merasakan sentuhan nilon monofilamen. Uji monofilamen merupakan pemeriksaan yang sangat sederhana dan cukup sensitif untuk mendiagnosis pasien yang memiliki risiko terkena ulkus karena telah mengalami gangguan neuropati sensoris perifer. eksudat. tumit dan dan di antara metatarsal dan tumit) dan sisi dorsal. 2 Sedangkan untuk menentukan faktor neuropati sebagai penyebab terjadinya ulkus dapat digunakan pemeriksaan refleks sendi kaki. edema atau kalus. perfusi pada level ini menggambarkan patensi aksial normal. dasar. Penderita dengan claudicatio intermitten mempunyai gangguan arteri femoralis superfisialis. dorsalis pedis. Bentuk ulkus perlu digambarkan seperti. Pemeriksaan ABI sangat murah. 2 Pemeriksaan pulsasi merupakan hal terpenting dalam pemeriksaan vaskuler pada penderita penyakit oklusi arteri pada ekstremitas bagian bawah. atau dengan uji monofilamen. tepi. mengetahui ulkus melibatkan tendon. Bagian yang dilakukan pemeriksaan monofilamen adalah di sisi plantar (area metatarsal.di jari. Probe dapat membantu untuk menentukan adanya sinus. Pemeriksaan ABI dilakukan seperti kita mengukur tekanan darah menggunakan manset tekanan [Type text] Page 32 . Kedalaman ulkus perlu dinilai dengan bantuan probe steril. normal. Pulsasi arteri femoralis. dan karena itu meskipun teraba pulsasi pada lipat paha namun tidak didapatkan pulsasi pada arteri dorsalis pedis dan tibialis posterior. lemah atau hilang. sehingga mudah terluka dan kemudian mengalami infeksi. tulang atau sendi. mudah dilakukan dan mempunyai sensitivitas yang cukup baik sebagai marker adanya insufisiensi arterial.2 Ankle brachial index (ABI) merupakan pemeriksaan non-invasif untuk mengetahui adanya obstruksi di vaskuler perifer bawah. pemeriksaan sensoris. lokasi ulkus tersering adalah di permukaan jari dorsal dan plantar (52%). 2 Gangguan saraf otonom menimbulkan tanda klinis keringnya kulit pada sela-sela jari dan cruris.

ABI 0. 3 Apabila diagnosis adanya penyakit obstruksi vaskuler perifer masih diragukan. (karena kalsifikasi pembuluh darah). atau apabila direncanakan akan dilakukan tindakan revaskularisasi maka pemeriksaan digital subtraction angiography. Pemeriksaan DSA perlu dilakukan bila intervensi endovascular menjadi pilihan terapi. 2 b.71–0. Pemeriksaan lainnya ialah transcutaneous oxygen tension (TcP02). Pada keadaan di mana terjadi stenosis arteri di tungkai bawah maka akan terjadi penurunan tekanan. Jika ABI >0. USG color Doppler atau menggunakan pemeriksaan invasif seperti. magnetic resonance angiography (MRA) atau computed tomography angoigraphy (CTA). CTA atau MRA perlu dikerjakan.70 telah terjadi obstruksi vaskuler sedang. 3 Pemeriksaan foto polos radiologis pada pedis juga penting untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi osteomielitis. 3 [Type text] Page 33 . fungsi hepar. Dalam keadaan normal tekanan sistolik di tungkai bawah (ankle) sama atau sedikit lebih tinggi dibandingkan tekanan darah sistolik lengan atas (brachial). digital subtraction angiography (DSA).2 sehingga angka ABI tersebut tidak menjadi petunjuk diagnosis. harga normal dari ABI adalah >0.2 Pasien diabetes melitus dan hemodialisis yang mempunyai lesi pada arteri kaki bagian bawah. ABI dihitung berdasarkan rasio tekanan sistolik ankle dibagi tekanan sistolik brachial. pemeriksaan gula darah. Pasien dengan ABI kurang dari 0. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk menegakkan diagnosis secara pasti adalah dengan melakukan pemeriksaan lengkap yakni pemeriksaan CBC (Complete Blood Count). ABI 0. 3 Untuk menentukan patensi vaskuler dapat digunakan beberapa pemeriksaan non invasif seperti. Pada foto tampak gambaran destruksi tulang dan osteolitik.darah.5 dianjurkan operasi (misalnya amputasi) karena prognosis buruk. elektrolit.41–0.40 telah terjadi obstruksi vaskuler berat.00–0. Gold standard untuk diagnosis dan evaluasi obstruksi vaskuler perifer adalah DSA. fungsi ginjal.6 dapat diharapkan adanya manfaat dari terapi obat dan latihan. (ankle brachial index/ ABI) yang sudah dijelaskan pada pemeriksaan fisik. Dalam kondisi normal.90 terjadi iskemia ringan. maka ABI menunjukkan lebih dari 1.9. ABI 0. kemudian adanya tekanan yang berasal dari arteri akan dideteksi oleh probe Doppler (pengganti stetoskop).

8 Gambaran Klinis Kaki Diabetik Gambaran klinis dibedakan: neuropatik dan iskemik 1.1 Gambaran neuropatik gangguan sensorik perubahan trofik kulit ulkus plantar atropati degeneratif (sendi Charcot) pulsasi sering teraba sepsis (bakteri/jamur) II. Perbedaan klinis iskemia dan neuropati pada kaki diabetik 3 Iskemia Gejala Klaudikasio Nyeri saat istirahat Inspeksi Tergantung rubor Perubahan Tropik Neuropati Biasanya tidak nyeri Kadang nyeri neuropati Lenngkung tinggi Kuku-kuku jari kaki Tak tropic [Type text] Page 34 ada perubahan .8.8.3 II.2 Gambaran iskemia nyeri saat istirahat ulkus yang nyeri disekitar daerah yang tertekan riwayat klaudikasio intermiten pulsasi tidak teraba sepsis ( bakteri/jamur) Tabel 3.II.

Selain itu setiap tekanan pada luka menciptakan kondisi iskemia pada daerah yang sakit dan sekitarnya sehingga penyembuhan menjadi semakin sulit.1 Umum  Istirahat Istirahat tempat tidur mutlak pada setiap penderita kelainan kaki diabetes. Stadium dari Fontaine Stadium I II IIa IIb III IV 3 Gejala dan Tanda Klinis Gejala tidak spesifik seperti kesemutan . [Type text] Page 35 .2 II.Palpasi Dingin Tak teraba nadi Hangat Nadi teraba Tak nyeri Plantar Ulserasi Nyeri Tumit dan jari kaki Tabel 4. rasa berat Claudicatio intermitten yaitu sakit bila berjalan. sehingga akan menghalangi penyembuhan.9.9 Penatalaksanaan Pengobatan kelainan kaki diabetik terdiri dari penobatan umum yaitu pengendalian diabetes dan pengobatan khusus yaitu penanganan terhadap kelainan kaki. Dengan berjalan akan memberi tekanan pada daerah ulkus dan merusak jaringan fibroblas. hilang bila istirahat Bila keluhan sakit pada jarak jalan >200 m Bila keluhan sakit pada jarak jalan <200 m Rest pain : sakit meskipun waktu istirahat (malam hari) Ulkus / gangrene II.

Dalam mengelola diabetes mellitus langkah yang harus dilakukan adalah pengelolaan non farmakologis. berupa perencanaan makanan dan kegiatan jasmani. salah satu. Pengendalian Diabetes (dengan insulin) Langkah awal penanganan pasien dengan kaki diabetik adalah dengan melakukan manajemen medis terhadap penyakit diabetes secara sistemik karena kebanyakan pasien dengan kaki diabetik juga menderita malnutrisi. Perencanaan makanan pada penderita diabetes mellitus masih tetap merupakan pengobatan utama pada penatalaksanaan diabetes mellitus. Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi kronik diabetes. Jika kadar glukosa darah dapat selalu dikendalikan dengan baik. diharapkan semua komplikasi yang akan terjadi dapat dicegah. Dari salah satu penelitian di New England Deaconess [Type text] Page 36 . Biakan kuman mutlak harus dilakukan untuk mendapat jenis antibiotik yang sesuai.Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase . tinggi asam lemak tidak jenuh berikatan tunggal. yaitu. hampir setiap infeksi menghasilkan biakan kuman ganda. atau b). dilanjut-kan dengan langkah berikutnya. dan infeksi kronis. paling sedikit dihambat. rendah lemak.Golongan Insulin Sensitizing  Antibiotik Setiap luka pada kaki membutuhkan antibiotik. Pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) . tinggi serat.nya adalah terjadinya gangren diabetik. Perencanaan makanan yang memenuhi standar untuk diabetes umumnya berdasarkan dua hal. walaupun demikian tidaklah berarti pemberian antibiotik boleh dilakukan secara serampangan.Golongan Sulfonylurea . Baru kemudian kalau dengan langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian diabetes yang ditentukan belum tercapai. a). Tinggi karbohidrat. yaitu dengan penggunaan obat atau pengelolaan farmakologis.Golongan Biguanid . penyakit ginjal kronik. Tinggi karbohidrat. Dari pengalaman. meskipun sudah sedemikian majunya riset dibidang pengobatan diabetes dengan ditemukannya berbagai jenis insulin dan obat oral yang mutakhir. Sarana pengendalian secara farmakologis pada penderita diabetes mellitus dapat berupa .

Perawatan kuku yang dianjurkan pada penderita diabetes mellitus adalah kuku-kuku harus dipotong secara transversal untuk mengurangi risiko terjadinya kuku yang tumbuh kedalam dan menusuk jaringan sekitar. perawatan kulit.2 Khusus (pengendalian kaki) A. prognosis umumnya buruk. Strategi pencegahan meliputi edukasi kepada pasien. II. hanya saja sepatu yang digunakan tidak sempit atau sesak. Pada infeksi kaki yang memburuk. Strategi pencegahan 2 Fokus utama penanganan kaki diabetik adalah pencegahan terhadap terjadinya luka. sebaiknya pilihan antibiotik (sambil menunggu hasil biakan) ialah pemberian intravena. Sepatu atau sandal dengan bantalan yang lembut dapat mengurangi risiko terjadinya kerusakan jaringan akibat tekanan langsung yang dapat memberi beban pada telapak kaki. Oleh karena infeksi pada diabetes cenderung untuk cepat memburuk. gram negatif coccus dan kelompok anaerob. ampisilin dan klindamisin atau sefalosporin dan kloramfenikol. Bila infeksi yang berat ditemukan adanya jenis gram negatif Proteus.Hospital selalu ditemukan 3 kelompok kuman. Tampaknya semakin buruk keadaan infeksi. Enterococcus. Pada penderita diabetes mellitus dengan gangguan penglihatan sebaiknya memilih kaos kaki yang putih karena diharapkan kaos kaki putih dapat memperlihatkan adanya luka dengan mudah. yaitu: gram positif coccus.9. kuku dan kaki dan penggunaan alas kaki yang dapat melindungi. [Type text] Page 37 . Pada penderita dengan risiko rendah diperbolehkan mengguna-kan sepatu. dan Pseudomonas. semakin banyak pula jenis kuman gram negatif. pengobatan antibiotik sebaiknya segera dimulai. Gas gangren harus dicurigai sebagai tanda adanya infeksi oleh kuman anaerob. Dua kelompok kombinasi yang dianggap baik yaitu kombinasi aminoglikosida.

Kaki harus dibersihkan secara teliti dan dikeringkan dengan handuk kering setiap kali mandi. dapat dengan menggunakan cermin. Kaki harus dilindungi dari kepanasan.Edukasi tentang pentingnya perawatan kulit. Gambar 7. c. Kaki harus dilindungi dari kedinginan. f. kuku dan kaki serta penggunaan alas kaki yang dapat melindungi dapat dilakukan saat penderita datang untuk kontrol. Setiap infeksi meskipun kecil merupakan masalah penting sehingga menuntut perhatian penuh. b.batu atau pasir panas dan api. e. [Type text] Page 38 . Sepatu harus cukup lebar dan pas. Kaki harus diinspeksi setiap hari termasuk telapaknya. yaitu :4 a. Jenis alas kaki yang direkomendasikan Pencegahan kaki diabetik. d.

j. Kalus ini terbentuk karena rangsangan dari luar pada ujung jari atau penekanan oleh ujung tulang. Berhenti merokok.  Tingkat 0 : Penanganan meliputi edukasi kepada pasien tentang alas kaki khusus dan pelengkap alas kaki yang dianjurkan. perawatan lokal luka dan pengurangan beban. Penanganan Ulkus 2 Ulkus pada kaki neuropati biasanya terjadi pada kalus yang tidak terawat dengan baik.  Tingkat I : Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius.  Tingkat II : Memerlukan debridemen. Sepatu atau sandal yang dibuat secara khusus dapat mengurangi tekanan yang terjadi. Kuku dipotong secara lurus.g. antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur. Penanganan ulkus diabetik dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan. Kaus kaki harus cocok dan dikenakan secara teliti tanpa lipatan. i. h. [Type text] . Nekrosis terjadi dibawah kalus yang kemudian membentuk rongga berisi cairan serous dan bila pecah akan terjadi luka yang sering diikuti oleh infeksi sekunder. Alas kaki tanpa pegangan. perawatan lokal luka dan teknik pengurangan beban yang lebih berarti. Bila pada kaki terdapat tulang yang menonjol atau adanya deformitas.  Tingkat III : Page 39 B. k. pita atau tali antara jari. yaitu. Dianjurkan memakai kaus kaki setiap saat. biasanya tidak dapat hanya diatasi dengan pengguna-an alas kaki buatan umumnya memerlukan tindakan pemotongan tulang yang menonjol (exostectomy) atau dengan pembenahan deformitas.

Adapun risiko untuk terjadinya ulcus meliputi penderita dengan diabetes > 10 tahun. Setelah dibersihkan. karena air hangat dapat menambah kebutuhan metabolisme jaringan sehingga memperburuk iskemia.1 Amputasi Perkataan amputasi selalu menakutkan bagi setiap penderita diabetes. luka dapat dikompres dengan larutan Betadine (pengenceran 4 kali) atau larutan Neomisin 1%. imobilisasi yang lebih ketat. Kedua larutan ini baik sekali untuk luka bernanah.  Tingkat IV : Pada tahap ini biasanya memerlukan tindakan amputasi sebagian atau amputasi seluruh kaki. dan pemberian antibiotik parenteral yang sesuai dengan kultur. Dengan sendirinya hal ini tidak selalu benar. Sebaiknya jangan merendam kaki yang sudah gangren. Tindakan ini tidak hanya mengeluarkan jaringan tetapi juga membuka jalur-jalur di sekitar nanah agar drainase menjadi baik. oleh karena selalu dikaitkan dengan pikiran tidak bisa berjalan lagi. sebaiknya dilakukan dua kali sehari.Memerlukan debridemen jaringan yang sudah menjadi gangren. Debridemen Debridemen berarti menggunakan alat untuk mengeluarkan sebanyak mungkin jaringan nekrotik. adanya [Type text] Page 40 . Pada luka yang bernanah sangat banyak. laki – laki. amputasi jari kaki saja dengan sendirinya tidak mengganggu kegiatan jalan. amputasi sebagian. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan amputasi adalah tindakan ini harus dilakukan pada daerah di mana sirkulasi masih baik dan bebas infeksi agar luka dapat sembuh. Identifikasi faktor Risiko Identifikasi risiko adalah hal yang penting dalam managemen pencegahan secara efektif pada kaki pasien diabetes. 1 C. di bawah lutut dan di atas lutut. Tindakan amputasi pada diabetes dapat pada jari kaki. kontrol gula darah yang buruk. transmetatarsal.

komplikasi kardiovaskuler. yang dapat berlanjut menjadi sumber gangren. Perlu dicari adanya penebalan kulit. kejadian yang meningkatkan tekanan pads kaki. baik oleh dokter maupun penderita. penya kit vaskuler perifer (penurunan pulsasi arteri pada pedis). fisura atau ulserasi. hal -hal yang berhubungan dengan peningkatan risiko antara lain neuropati perifer dengan hilangnya sensasi protektif. kelainan kuku yang berat. riwayat pernah dapat ulkus atau amputasi. Dengan pemeriksaan radiologis. Sepatu yang sempit sering mengakibatkan lecet pada kulit kaki. Charcot joint tidak jarang menyerupai artritis degeneratif. Dengan cara tersebut kemungkinan masuk rumah sakit atau amputasi akan jauh berkurang. sebab pada penderita dengan neuropati diabetik adanya infeksi yang ringan kadang-kadang tidak disertai rasa sakit. retina. Dari beberapa penelitian klinik ternyata frekuensi pemeriksaan kaki oleh dokter di klinik penyakit dalam maupun klinik diabetes hanya berkisar antara 19% dari pengunjung dibandingkan dengan pemeriksaan tekanan darah misalnya mencapai 76. Bentuk kaki Pembengkakan pada kaki perlu dicari penyebabnya.9% penderita. Jadi jelas bahwa perhatian penderita bahkan dokter sekalipun untuk perawatan kaki sangat minim. perubahan biomekanik. di samping pemeriksaan kaki oleh dokter. Dianjurkan agar para dokter selalu memperhatikan: 1.10 Perawatan Kaki Diabetik Sebagian besar penderita kelainan kaki diabetes umumnya baru mencari pertolongan dokter setelah keadaan kaki sudah terlalu jelek. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tindakan pencegahan. Kulit kaki / kuku Tidak jarang penderita pun mengalami infeksi pada kuku/kulit. dan ginjal. diagnosis dapat ditegakkan. Cara terbaik untuk pencegahan ialah mengajak penderita untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan terjadinya kelainan kaki. 2.5 II. Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. kalus. [Type text] Page 41 .

infeksi pada kaki/kuku. Palpasi nadi kaki Pulsasi nadi kaki harus selalu diraba.3. Telitilah kelainan yang terjadi misalnya lecet oleh karena sepatu. 2) Khusus pada kuku agar harus dipotong pendek. Bahkan antara kaki betis dan paha untuk mengetahui derajat suplai darah ke perifer. Ada baiknya bila setelah dikeringkan digosok dengan bahan berminyak seperti minyak krim (cream oil) agar kaki [Type text] Page 42 . Bagi penderita usia lanjut dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan rutin. Palpasi suhu kaki Perlu palpasi perbandingan suhu kaki kiri dan kanan. Status sensorik-motorik kaki Pemeriksaan neurologis ini penting sekali. Pemakaian Doppler Ultrasound recorder sangat banyak membantu menemukan kelainan pembuluh darah arteri di kaki. 3) Kaki harus setiap hari dibersihkan dan segera dikeringkan. 4. Agaknya tidaklah terlalu sulit kalau pada semua penderita diabetes perlu diberikan pendidikan/informasi yang berkaitan dengan terjadinya kaki diabetes Beberapa saran umum yang dapat diberikan pada penderita ialah : 1) Periksalah kaki anda setiap hari. Keadaan sepatu Sebaiknya mempergunakan sepatu yang agak lebar. Potonglah kuku secara garis lurus agar tidak memberi luka pada sudut kuku. terutama arteri tibialis posterior. Tes vibrasi kaki kiri kanan dan pemeriksaan refleks sebaiknya dikerjakan secara rutin. 6. Selain itu juga mudah dilakukan. jangan yang lancip. 5.

5) Gantilah kaos kaki setiap hari. 4) Pakailah sepatu yang agak lebar. dalam kurun waktu 2 tahun terdapat 36% penderita meninggal. lamanya menderita diabetes mellitus. adanya infeksi yang berat. Khususnya wanita. jangan yang lancip.11 Prognosis Menurut penelitian pada penderita kaki diabetik yang telah dilakukan amputasi transtibial. II. Jangan mempergunakan kaos kaki yang terlalu ketat/elastik. 2 Prognosis penderita kaki diabetik sangat tergantung dari usia karena semakin tua usia penderita diabetes mellitus semakin mudah untuk mendapatkan masalah yang serius pada kaki dan tungkainya. dan keterampilan dari tenaga medis atau paramedis. sebaiknya kaos kaki wool. jangan gunakan sepatu tinggi. Jangan sekali-kali merendamkan kaki pada air hangat/panas. 2 [Type text] Page 43 . derajat kualitas sirkulasi. sebab perubahan-perubahan temperatur dapat menambah beban metabolisme jaringan kaki. Khusus pada wanita dianjurkan untuk tidak memakai stocking.tidak terlalu kering.

Inc 9. Pankreas Metabolisme Glukosa Dan Diabetes Mellitus. 1991. Cole et al. http://www. Fauci et al. [Type text] Page 44 . Buku II. Edisi 9. Jakarta : EGC. Arthur C Guyton. Textbook of surgery. 1997. Schteingart. 2005. 2008. Dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Diakses tanggal 04Maret 2012. Kaki diabetes dalam : Sudoyo Aru W dkk Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.163 : 117-1119 5. W. 78 : 1234-1236 6. Cunha. Dalam Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. McGraw Hill. USA: The McGraw-Hill Companies. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI : 2006 . International edition. 3. Sabiston. BA. Jakarta : EGC. 2.com/med/topic3547.. the biological basis of modern surgical practice fourteenth edition.Daftar Pustaka 1. Doherty. 1970. D. the biological basis of modern surgical practice fourteenth edition. 1997.emedicine. Harrison‟s Principal Of Internal Medicine Volume 1.htm. 2006. Guyton&Hall. Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment 12ed. Textbook of surgery. Sylvia AP. Appelton-Century Corp. Waspadji Sarwono. Diabetic Foot Infections. Edisi 4. Insulin.B. W. Edisi IV. eds. Jilid III.B. Cole and Zollinger Textbook of Surgery 9th Edition.Glukagon. Gerard. Saunders 7. Lorraine MW.dan Diabetes Mellitus. Hal 784-795 8. 1991. Sabiston. International edition. Saunders 4. John E Hall.

1. [Type text] Page 45 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful