BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Fertilitas (kesuburan) adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya. Jadi, fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup. Berdasarkan definisi diatas maka dapatlah dimengerti bahwa untuk menghasilkan keturunan, penilaian terhadap kesuburan tidak hanya dilakukan sepihak, namun kedua belah pihak. Baik itu dari istri maupun suami. Terjadinya suatu konsepsi membutuhkan berfungsinya berbagai sistem fisiologik secara memadai pada kedua pasangan. Infertilitas (ketidaksuburan) dapat terjadi akibat suatu defisiensi mayor (misalnya penyumbatan tuba) atau berbagai defisiensi minor. Sebelum dan sesudahnya tidak seorangpun tahu, apakah pasangan itu fertil atau tidak. Riwayat fertilitas sebelumnya sama sekali tidak menjamin fertilitas di kemudian hari, baik pada pasangan itu sendiri, maupun berlainan pasangan. Disebut infertilitas primer kalau istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Disebut infertilitas sekunder kalau istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Mengingat sangat kompleksnya proses reproduksi, sungguh mengherankan bahwa 80 % pasangan mencapai konsepsi dalam waktu satu tahun. Lebih tepatnya, 25 % mengalami konsepsi dalam bulan pertama, 60 % dalam 6 bulan, 75 % pada 9 bulan dan 90 % pada 18 bulan. Laju konsepsi bulanan yang terus menurun yang diperlihatkan oleh angka-angka ini kemungkinan besar mencerminkan rentang spektrum fertilitas dari pasangan yang sangat subur hingga pasangan dengan infertilitas relatif. Infertilitas dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: 1. Faktor laki – laki (produksi sperma cacat, kesulitan inseminasi), 30 – 40 %. 2. Faktor ovulasi, 5 – 25 %.

3. Faktor tuba atau uterus, 15 – 25 %. 4. Faktor serviks / imunologik, 5 – 10 %. 5. Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi, 10 – 25 %. Pada seperempat kasus diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat. Diantara pelbagai faktor penyebab tersebut ada yang bisa dicegah dan diobati. Karena itu, pemeriksaan dini kesehatan reproduksi bagi pria dan wanita perlu dalam upaya mendapatkan keturunan. Dari latar belakang diatas, maka dapat diketahui bahwa fertilitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Investigasi dan evaluasi sebaiknya dilakukan untuk mengetahui etiologi dan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Hysterosalpingografi merupakan salah satunya. Dengan pemeriksaan radiologis yang menggunakan bahan kontras ini dapat ditegakkan diagnosa infertilitas karena adanya kelainan pada tuba fallopii atau uterus. I.2 Perumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapatlah ditarik suatu pokok permasalahan yaitu bagaimana cara menegakkan diagnosa infertilitas dengan pemeriksaan Hysterosalpingografi. I.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui pemeriksaan Hysterosalpingografi pada infertilitas.

istri atau kedua-duanya. Karena itu tidak mengherankan bila 10 sampai 15 % pasangan mengalami infertilitas. Jadi. 3. sistem reproduksi pria dan wanita secara anatomik dan secara fisiologi harus utuh. Agar peristiwa ini terjadi. populasi yang di investigasi. 2. dan prosedur rujukan. Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi. Pada seperempat kasus diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat. . “fertilitas wanita”. Faktor ovulasi. lebih dari 40 % embrio yang dihasilkannya bersifat abnormal dan tidak berkembang atau tidak dapat hidup sesaat setelah implantasi. kesulitan inseminasi). Faktor – faktor yang mungkin mempengaruhi infertilitas pasangan sangat bergantung pada keadaan lokal.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Suatu pasangan mungkin akan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan apabila selama setahun berhubungan badan secara normal tanpa kontrasepsi tetapi tidak terjadi kehamilan. 10 – 25 %. Fertilitas sendiri mengandung arti kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilkannya. Dengan demikian tidak ada istilah “fertilitas pria”. Faktor laki – laki (produksi sperma cacat. 4. Sekalipun pembuahan terjadi. Faktor tuba atau uterus. 5 – 10 %. diikuti dengan pemindahan konseptus ke rongga rahim pada saat endometrium dapat memberi sokongan terhadap kelanjutan perkembangannya dan implantasi. dan koitus harus cukup sering dilakukan agar air mani dapat diendapkan dalam selang waktu yang dekat dengan pelepasan oosit dari folikel. Analisis yang dilaporkan oleh beberapa klinik yang meliputi jumlah pasien yang banyak dalam dua dekade lalu adalah sebagai berikut: 1. 5 – 25 %. ataupun “infertilitas wanita” mengingat fertilitas dan infertilitas itu merupakan kemampuan sepasang suami istri sebagai satu kesatuan biologik. fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup. 5. Infertilitas (ketidaksuburan) bisa berasal dari suami. Faktor serviks / imunologik. 15 – 25 %. 30 – 40 %. Konsepsi membutuhkan penjajaran gamet pria dan wanita pada stadium pematangannya yang optimal. “infertilitas pria”.

Citomegalo-virus. tumor testis. yaitu jaringan rahim endometrium keluar menyeberang saluran indung telur dan bebas berkeliaran di luar rahim. anjing. Endometriosis gejala klinisnya disertai rasa sakit dan akan timbul bila daya tahan tubuh wanita menurun. di rongga perut. Infertilitas wanita • • Banyak wanita yang masa suburnya tidak teratur. Ketidakteraturan ini merupakan faktor infertilitas yang sering terjadi pada wanita. terdapat perlengketan jaringan dalam rongga di sekitar indung telur atau di dalam tuba fallopi – atau akibat adanya infeksi. Impotensi dan komplikasi atau efek samping suatu penyakit seperti diabetes. Rubella. dipinggul dsb. Adanya sumbatan saluran sperma dan infeksi secara tidak langsung dapat menyebabkan gangguan kesuburan pria. yaitu Toksoplasma (parasit yang biasa menumpang hidup pada hewan piaraan seperti kucing. atau kanker. Setiap . • Selain itu ada juga Endometriosis. • • Kelainan fungsi reproduksi wanita seperti ada tumor di kandungan. Kelainan genetik dan kerusakan pada testis yang disebabkan virus atau bahan kimia di lingkungan sekitar. maka perlu dilakukan berbagai investigasi pada pasangan yang mengeluh sulit untuk memperoleh keturunan.Pendapat lain juga menjelaskan berbagai macam faktor yang mempengaruhi infertilitas: A. Pengeluaran telur yang tidak teratur dipengaruhi hormon. ketidakseimbangan hormon wanita Infeksi yang dikenal dengan istilah TORCH. B. burung). Adanya kerusakan organ tubuh bagian dalam akibat kecelakaan atau berolahraga. yang kesemuanya bisa menggagalkan kehamilan. Untuk menyingkirkan berbagai etiologi yang mempengaruhi infertilitas. Infertilitas pria • • • • • Pada pria terjadi jumlah sperma yang sedikit dan sperma tidak dapat “berlari” menembus sel telur. Herpes dan jamur.

Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila : a. maka tidak diperlukan lagi pemeriksaan pada wanita. pernah mengalami bedah ginekologik 2. Cairan semen yang normal seharusnya terkumpul dalam jumlah yang cukup (3 ml). diketahui mengidap kelainan endokrin c. mengandung sperma yang cukup (lebih dari 20 juta per ml) dan sebagian besar (50 %) harus dalam keadaan aktif dan selalu bergerak.pasangan infertil harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. gangguan ereksi). Istri yang berumur antara 31 – 35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter. dan d.  Memeriksa kadar hormon tertentu dalam darah.  Memeriksa indung telur dengan ultrasonografi pada masa ovulasi. Istri yang berumur antara 20 – 30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri atau anaknya. Itu berarti kalau istri saja yang diperiksa sedangkan suami tidak diperiksa maka pasangan itu tidak diperiksa. kemudian dilakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah wanita tersebut menghasilkan sel telur (ovulasi) dan memeriksa apakah tuba fallopii tersumbat. 4. Tahap selanjutnya biasanya analisa cairan semen karena bila didalam semen tidak terdapat sperma. pernah mengalami keguguran berulang b. masalah menstruasi. Pemeriksaan ovulasi meliputi :  Memeriksa suhu badan melalui mulut setiap pagi waktu bangun tidur dan mencatatnya dalam suatu grafik khusus (tanda ovulasi apabila terjadi sedikit kenaikan suhu badan pada pertengahan siklus haid). Kemudian dilakukan pemeriksaan darah untuk meneliti ketidakseimbangan hormon tertentu. Berikut adalah pemeriksaan yang dilakukan pada pasangan infertil: • Pemeriksaan infertilitas seharusnya mengikutsertakan kedua pasangan dan selalu dimulai dengan riwayat medis secara lengkap dan riwayat reproduksi (misal paparan terhadap penyakit kelamin. 3. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36 – 40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini. Apabila hasil pemeriksaan semen normal. Dengan alat sinar X atau dengan • • • . Adapun syarat – syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut: 1. Cairan yang akan diperiksa sebaiknya dikumpulkan kedalam tabung plastik setelah 3 hari tidak berhubungan badan dan diperiksa dalam beberapa jam setelah dikumpulkan. pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut.  Memeriksa perubahan cairan leher rahim.  Sumbatan pada tuba fallopii bisa diketahui dengan cara menyuntikkan zat pewarna khusus kedalam rahim (uterus).

. Infeksi pelvis. Mungkin diperlukan obat untuk memacu ovulasi. Cara pembuahan in-vitro (bayi tabung) dan inseminasi buatan mungkin merupakan pilihan yang terbaik bagi pasangan. bisa terlihat sejumlah sperma yang bergerak aktif. Tindakan bedah bisa dilakukan untuk menghilangkan penyumbatan tuba. endometriosis dan ketidakseimbangan hormon akan memerlukan pengobatan yang khusus. Pengobatan pada infertilitas berupa pengenalan dan perbaikan dari penyebab dasar infertilitas. maka perlu pemeriksaan sesudah hubungan badan (post-coital) pada saat mendekati masa ovulasi. • Untuk melihat apakah cairan leher rahim dari wanita tersebut bersifat melawan sperma. Cairan leher rahim diambil dalam 6 jam setelah berhubungan badan dan diperiksa dibawah mikroskop. maka bisa dilihat aliran zat pewarna tersebut melalui rahim dan keluar dari tuba. Pada keadaan normal.peralatan laparoskop (yang dimasukkan melaui dinding perut untuk memeriksa isi rongga perut).

fistulografi dan untuk saluran-saluran yang halus misalnya saluran air mata. kebanyakan HSG dilakukan hanya untuk tujuan diagnostik karena efek terapeutiknya yang masih kontroversial. Disamping itu. III. HSG dilakukan 2 – 5 hari setelah menstruasi berakhir dan sebelum ovulasi untuk memastikan bahwa pasien tidak dalam keadaan hamil saat prosedur dilakukan. Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur. Penggunaan urografin 60 % (meglumin diatrizoate 60 % atau .2 Bahan Kontras Pada tahun-tahun yang terakhir ini dipakai juga bahan kontras lipiodol ultrafluid untuk pemeriksaan HSG.1 Deskripsi Pemeriksaan Hysterosalpingografi (HSG) adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui cervik uteri. Biasanya. Kadang pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosa penyebab nyeri pelvis yang berasal dari dalam uterus atau memberikan informasi keberhasilan operasi tuba beberapa minggu atau bulan pasca operasi. Bahan kontras ini juga dipakai untuk limfografi. fungsi cavum uteri meningkat. Hal ini menyatakan bahwa HSG dapat mempunyai aplikasi terapi.BAB III PEMBAHASAN III. Suatu penelitian terbatas menyatakan bahwa fertilitas meningkat setelah HSG dilakukan dengan kontras minyak. Kekurangan lipiodol ialah bahwa resorpsi kembali berlangsung lama sekali jika kontras ini masuk ke dalam rongga peritoneum. mucus menghilang dan kemampuan otot polos meningkat. sialografi. Tapi. HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas atau keguguran yang berulang. adhesi berkurang. Sekarang oleh ahli radiologi di Indonesia lebih banyak di pakai bahan kontras cair dalam air. Hipotesis tersebut menyatakan bahwa setelah pemberian.

Untuk menentukan apakah IUD (Intra Uterine Device) masih ada dalam cavum uteri. Proses inflamasi yang akut pada abdomen. Abortus habitualis dalam trimester II. memberikan opasitas yang memuaskan dan mudah masuk kedalam tuba dan menimbulkan pelimpahan kontras kedalam rongga peritoneum dengan segera. dengan HSG dapat diketahui lebar dan konfigurasi uteri internum. Pada perdarahan pervaginam sedikit. Hamil muda. 3. 2. Perdarahan pervaginam yang berat. untuk melihat potensi tuba. Kelainan bawaan uterus atau adhesi bila kanalis servisis dan cavum uteri yang dapat menyebabkan abortus. 6.3 Indikasi HSG Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam bidang ginekologi. adenomatorus. karena bahaya terjadinya abortus.4 Kontra Indikasi HSG 1. 4. 2. Sterilitas primer maupun sekunder. Tumor maligna cavum uteri.sodium diatrizoate 10 %). Setelah curettage atau dilatasi kanalis servisis. misalnya yang disebabkan mioma uteri. Lipiodol ultrafluid :  urografin 60% (meglumin diatrizoate 60% atau sodium diatrizoate 10%)  hipaque 50% (sodium diatrizoate)  endografin (meglumine iodipamide)  diaginol viscous (sodium acetrizoate plus dextran)  Salpix (sodium acetrizoate plus polyvinyl pyrolidone)  isopaque (metrizoate) III. Bahan kontras ini sifatnya encer. Penyakit ginjal dan jantung yang lanjut . 3. 5. 5. III. polip endometrium. yaitu : 1. 4.

tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat : • • • • Alergi terhadap bahan X-ray. Prosedur : • • Pasien diminta membuka pakaian dan berbaring pada meja pemeriksaan Kemudian pemeriksa. Rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam beberapa jam.6 Prosedur Pelaksanaan Sebelum pemeriksaan dilaksanaan. menempatkan sebuah tabung kedalam servik.5 Komplikasi HSG Umumnya komplikasi HSG hanya ringan saja. Kadang-kadang timbul keadaan pra-renjatan (pre-shock) karena pasien sensitiv terhadap kontras. Keluhan utama ialah rasa nyeri pada waktu pemeriksaan dilakukan. obat – obatan atau makanan. Asma Sedang dalam terapi Kelainan perdarahan Jika pasien mempunyai infeksi pelvis.III. . lalu kontras di injeksikan kedalam uterus • • • Kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii dan akhirnya akan tumpah memenuhi cavum pelvis disekeliling uterus dan tuba Beberapa foto akan diambil selama pemeriksaan berlangsung Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan fluoroskopi. dapat ahli radiology atau ginekolog akan memasukkan speculum kedalam vagina. sebaiknya diberikan antibiotik sebelum tes dilakukan. III.

5 cc. balon dikembangkan dengan mengisi udara sebanyak 1.TEKNIK PEMERIKSAAN HSG MENGGUNAKAN CATETER • • • • • • • • • • • • Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan.pada saat memasukkan cateter dibantu dengan alat cocor bebek dan lampu sorot Setelah cateter fix. dan menentukan apakah kedua tuba uterine terisi bahan kontras atau belum. bagian bokong diberi alas kain steril Pasien diposisikan lithotomi. Poly cateter dimasukkan perlahan sampai canalis cervikalis. speculum vagina dilepas perlahan-lahan Kaki pasien diluruskan dan pasien digeser perlahan ke arah cranial (pertengahan meja) Fluoroscopy pada bagian pelvis. daerah vulva dibersihkan dengan betadine Speculum dimasukkan ke dalam vagina secara perlahan Cervix dibersihkan menggunakan kassa steril dan betadine Sonde uterus digunakan untuk mengetahui arah fleksi dan dalamnya cavum uteri Cateter yang digunakan adalah polycateter yang mempunyai dua cabang pada pangkalnya. cabang yang kedua untuk memasukkan bahan kontras. kemudian cateter ditarik untuk memastikan balon telah menatap dan sempurna. satu untuk memasukkan udara sehingga menahan bahan kontras agar tidak keluar. sambil memasukkan bahan kontras yang telah terisi didalam spuit 10 cc Bahan kontras dimasukkan kira-kira 3 cc sampai terlihat spill sehingga dapat terlihat cavum uteri. jika tidak terlihat maka tambahkan lagi bahan kontras 1 cc Setelah terlihat spill maka balon cateter dikempiskan dan cateter dilepaskan perlahanlahan lalu di ekspos .

 Kaset ukuran : 18X24 cm diletakkan melintang : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dengan sympisis pubis  CR Pembersihan bahan kontras. tungkai bawah kiri lurus. Antero Posterior View Criteria gambar yang tampak adalah tampak pengisian bahan kontras kedalam tuba fallopi. Posisi Oblique ke arah kanan . 3. 2. kedua tangan di atas kepala. meja dalam keadaan trendelenberg. tampak gambaran corpus uteri dan spill pada peritoneal cavity ( rongga peritoneal ).  Kaset ukuran : 18X24 cm dipasang melintang  CR : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dan sympisis pubis e ke arah kiri : supine. Posisi Oblique kearah kanan  Posisi pasien : supine. panggul bagian kanan diangkat bagian kanan. Posisi Obliqu  Posisi pasien kira-kira 45º. panggul bagian kanan merapat ke meja pemeriksaan. tungkai kanan lurus.7 Teknik radiografi 1. kedua tangan diatas kepala. pervis rapatpada meja pemeriksaan. posisi sama dengan plan foto III. kedua tangan diatas kepala. panggul bagian kiri merapat ke meja pemeriksaan. lalu di eksposi 2. panggul bagian kiri diangkat kirakira 45º. posisi meja trendelenberg. Antero Posterior  Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan dengan kedua tungkai lurus.III.8 Gambar dan Kriteria Gambar 1. meja pemeriksaan diposisikan trendelenberg  Kaset ukuran : 18X24 cm dipasang melintang  Bahan kontras : disuntikkan 2-5 cc  CR : pada symphisis pubis.

dan spill pada rongga peritoneum. . Pemakain semprot.9 Efek Samping Hal-hal yang mungkin timbul setelah pemeriksaan Hysterosalpingografi antara lain: 1. 3. 4. Bercak darah pervaginal selama beberapa hari 2. tuba uterus bagian kanan dan kiri serta spill di sekitar fimbrae. Nyeri atau rasa kram yang moderat mungkin dapat timbul beberapa jam setelah beberapa jam post pemeriksaan 3. Gejala-gejala ini sebaiknya dilaporkan kepada dokter jika menetap lebih dari beberapa jam. III.. Posisi Oblique ke arah kiri Criteria gambar yang tampak adalah tampak pengisian bahan kontras pada cavum uteri. atau tampon vagina sebaiknya ditunda hingga 48 jam setelah prosedur. Demam atau nyeri yang persisten dapat merupakan indikasi berkembangnya infeksi. tuba uterine. sanggama.Criteria gambar yang tampak adalah tampak pada pengisian bahan kontras pada cavum uteri.

.

.

.

.

.

.

kesulitan inseminasi). Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii -yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur.  Berbagai macam tes dan pemeriksaan dapat dilakukan untuk mengetahui etiologi dari infertilitas.  Hal-hal yang dapat mempengaruhi infertilitas antara lain :  Faktor laki-laki (produksi sperm cacat. 5 – 25 %  Faktor tuba atau uterus.BAB IV KESIMPULAN  Fertilitas (kesuburan ) adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya. sebaiknya dilakukan investigasi dan evaluasi agar diagnosa dapat ditegakkan. salah satunya adalah dengan Hysterosalpingofrafi (HSG). 5 – 10 %  Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi. 10 – 25 %  Untuk mengetahui etiologi infertilitas pada satu pasangan. 30 – 40 %  Faktor ovulasi. 15 – 25 %  Faktor serviks / imunlogik. Disamping itu. HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas dan keguguran berulang. .  Hysterosalpingografi adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui servik uteri.

Com.Com. 16 Oktober 2000 Kompas-Online. 1995. Infertilitas. Jakarta . Hysterosalpingogram Gani Ilyas & Sudarmo Saleh Purwohudoyo. Meldrum. Radiologi Diagnostik FKUI.Com Edisi Senin. Hal 234 – 238. Hipokrates Derek Llwellyn – Jones. 2000. Pelbagai penyebab kemandulan. 6. Sistem reproduksi wanita. Yayasan Bina Pustaka Sarwono prawirohardjo. Infertilitas. Infertilitas. 2000. Jakarta Infokes. 2. 2. Hipokrates EcureMe. 2002. Dasar – dasar obstetrik dan ginekologi. 2003. Ilmu Kandungan.Com. 2002. Kemandulan.DAFTAR PUSTAKA Abington Reproductive Medicine.Com. 1995. Infokes. 1997. Hal 309 – 321. Kompas-Online Edisi Jum’at. Essensial Obstetri dan ginekologi. Hal 496 – 533. Hysterosalpingography David E. Ed. Ed. Ed. 28 Juni 2002 Suradji Sumapraja. Gaya baru. Hal 598 – 610.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful