BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Angka harapan hidup di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat. Hal itu berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) dibanding jumlah penduduk secara keseluruhan. Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan, jika tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%) maka pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat (66,2 tahun). Pada tahun 2010 perkiraan penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun. Penurunan fungsi tubuh akan menurun seiring bertambahnya umur seseorang. Hal itu membuat lansia sangat identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung. Kadar asam lambung lansia biasanya mengalami penuruna hingga 85%. Penurunan tersebut akan membuat lansia rentan menderita penyakit. Lansia akan memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Semakin banyak penyakit pada lansia, semakin banyak jenis obat yang diperlukan. Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain kemungkinan memerlukan ketaatan atau menimbulkan kebingungan dalam menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat. Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sering bersendawa. Kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Jika tidak diantisipasi dengan
1

Apa saja pengkajian yang perlu dilakukan pada pasien lansia dengan dispepsia? 4. 4. Apa diagnosa yang sering muncul pada pasien lansia dengan dispepsia? 5. peningkatan jumlah penduduk lansia harus diimbangi dengan peningkatan pelayanan kesehatan. Untuk mengetahui pathway dan pemeriksaan penunjang dispepsia. manifestasi. Untuk mengetahui diagnosa yang sering muncul pada pasien lansia dengan dispepsia 5. Bagaimana patofisiologi (pathway) dan pemeriksaan penunjang dispepsia? 3. etiologi. Tujuan 1. Apa definisi. B. Untuk mengetahui intervensi apa saja yang dapat diterapkan pada pasien lansia dengan dispepsia. Rumusan masalah 1. 2. salah satunya adalah dispepsia.deteksi dini dan tindakan yang tepat. manifestasi. 3. Intervensi apa saja yang dapat diterapkan pada pasien lansia dengan dispepsia? C. Harapannya agar terjadi peningkatan kualitas hidup lansia dan memperkecil resiko lansia yang menderita penyakit. dan komplikasi dispepsia. dan komplikasi dispepsia? 2. Untuk mengetahui pengkajian yang perlu dilakukan pada pasien lansia dengan dispepsia. 2 . Oleh karena itu. Untuk mengetahui definisi. etiologi. maka dapat berakibat fatal bagi lansia.

2. mual. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III. rasa penuh atau cepat kenyang. Biasanya berhubungan dengan pola makan yang tidak teratur. obat-obatan tertentu. asam. yaitu : 1. bila tidak jelas penyebabnya. dan sering bersendawa. muntah. Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium. kembung. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organberdasarkan pemeriksaan klinis. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinisyang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalamikekambuhan. dan lain-lain. kopi. dan endoskopi (teropong saluranpencernaan). Pengertian dispepsia terbagi dua. makanan yang pedas. Definisi Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan. 2000). 3 . 2006). atau dispesia nonulkus (DNU). ataupun kondisi emosional tertentu misalnya stress (Wibawa. Dispepsia organik. bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. radiologi. minuman bersoda. radang empedu.Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnyatukak (luka) lambung. usus dua belas jari. radang pankreas. kini tidak lagi termasuk dispepsia. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional.BAB II PEMBAHASAN A. laboratorium.

anoreksia. 2006). kembung. Gambar 1. 4 . maupun pada sistem bilier seperti hepatitis. c. Penyakit pada hati. Gangguan penyakit dalam lumen saluran cerna: tukak gaster atau duodenum. aspirin. 26) B. pankreatitis. cepat kenyang. gastritis. Infeksi bakteri H. digitalis. hal. mual. terutama pada ketahanan mukosa lambung (Wibawa.Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan lain. pankreas. Etiologi Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan. teofilin dan sebagainya. perut terasa penuh. dan beberapa keluhan lainnya (Warpadji Sarwono. sendawa. infeksi bakteri Helicobacter pylori. beberapa jenis antibiotik. Dispepsia dapat disebabkan oleh kelainan organik. regurgitasi. muntah. 1996. et all. Kadar asam lambung lansia biasanya mengalami penuruna hingga 85%. perasaan panas di dada daerah jantung (heartburn). Obat-obatan: anti inflamasi non steroid (OAINS). kolesistitis kronik. yaitu : a. tumor. Pylori b.

D. c. Manifestasi Klinis a. Dispepsia non-spesifik yaitu bila gejalanya tidak sesuai dengan dispepsia mirip ulkus maupun dispepsia mirip dismotilitis. kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung. h. 2010). Penyakit sistemik seperti diabetes melitus. penyakit jantung koroner. e. 5 . kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung. b. pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong. sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan. Rasa perih di ulu hati. zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres. b. Dispepsia mirip dismotilitas bila gejala dominan adalah kembung. Nyeri perut (abdominal discomfort). mual. Dispepsia fungsional dibagi 3. Rasa lekas kenyang. Perut kembung. cepat kenyang. d.d. penyakit tiroid. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba). Nafsu makan berkurang. Pylori sangat besar pada kasus-kasus dengan kelainan organik (Panchmatia. Dispepsia mirip ulkus bila gejala yang dominan adalah nyeri ulu hati. obat-obatan yang tidak jelas. Mual. kadang-kadang sampai muntah. Rasa panas di dada dan perut. Peranan pemakaian OAINS dan infeksi H. yaitu : a. c. Patofisiologi Perubahan pola makan yang tidak teratur. C. f. g.

muntah. Bila keadaan dispepsia ini terus terjadi luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi pendarahan 6 .Pathway DISPEPSIA Dispepsia Organik Merokok DISPEPSIA Fungsional Stress Kopi & alkohol Sel epitel kolumner (-) prduksinya Perangsangan saraf simpatis NV (Nervus Vagus) Kecemasan b/d perubahan status kesehatan Respon mukosa lambung vaso dilatasi mukosa gaster ↑ Produksi HCL di lambung HCL kontak dengan mukosa gaster Perubahan keseimbngan cairan & elektrolit b/d adanya mual& muntah Mual. Salah satunya komplikasi dispepsia yaitu luka di dinding lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam lambung. Komplikasi Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan. anoreksia Nyeri Nutrisi kurang dari kebutuhan Eksfeliasi (Pengelupasan) Nyeri epigastrium b/d iritasi pd mukosa lambung E.

penyakit epitellium Barret. Sebagian pasien memiliki resiko kanker yang rendah dan dianjurkan untuk terapi empiris tanpa endoskopi. dan ulkus peptikum. sekaligus menegakkan diagnosis bila mungkin. Tes Darah Hitung darah lengkap dan LED normal membantu menyingkirkan kelainan serius. pylori merupakan pendekatan bermanfaat pada penanganan kasus dispepsia baru. atau perdarahan yang diduga sangat mungkin terdapat penyakit struktural. disfagia.pylori (tes CLO) (Davey. terutama kanker lambung. Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar berwarna hitam terlebih dulu yang artinya sudah ada perdarahan awal. a. endoskopi direkomendasikan sebagai investigasi pertama pada evaluasi penderita dispepsia dan sangat penting untuk dapat mengklasifikasikan 7 . Hasil tes serologi positif untuk Helicobacter pylori menunjukkan ulkus peptikum namun belum menyingkirkan keganasan saluran pencernaan. pemeriksaan H. Namun. Biopsi antrum untuk tes ureumse untuk H. Pemeriksaan endoskopi diindikasikan terutama pada pasien dengan keluhan yang muncul pertama kali pada usia tua atau pasien dengan tanda alarm seperti penurunan berat badan. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang harus bias menyingkirkan kelainan serius. muntah. b. Endoskopi (esofago-gastro-duodenoskopi) Endoskopi adalah tes definitive untuk esofagitis. Menurut Tytgat GNJ. di mana merupakan pertanda yang timbul belakangan.Patrick. Pemeriksaan endoskopi adalah aman pada usia lanjut dengan kemungkinan komplikasi serupa dengan pasien muda.saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah. Tapi komplikasi yang paling dikuatirkan adalah terjadinya kanker lambung yang mengharuskan penderitanya melakukan operasi. F. Endoskopi adalah pemeriksaan terbaik masa kini untuk menyingkirkan kausa organic pada pasien dispepsia. 2006).

Pemeriksaan Fisik Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dyspepsia yang belum diinvestigasi terutama hasrus ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan organik sebagai kausa dispepsia. Penurunan Berat Badan (weight loss). yang termasuk keluhan alarm adalah: 1.R. profil kimia. Pasien dengan alarm symptoms perlu dilakukan endoskopi segera untuk menyingkirkan penyakit tukak peptic dengan komplikasinya. GERD (gastroesophageal reflux disease). c. penilaian esofagitis (Pierce.Borley.keadaan pasien apakah dispepsia organik atau fungsional. anemia defisiensi besi. Menurut Wibawa (2006). Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium termasuk hitung darah lengkap. cepat penuh). 2004).atau fecal occult blood). laju endap darah. Jika terdapat emesis atau pengeluaran darah lewat saluran cerna maka dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan barium pada saluran cerna bgian atas (Schwartz. Tanda obstruksi saluran cerna atas (muntah. 2006). I Dewa Nyoman. Disfagia. melena. atau keganasan. amylase. Bukti perdarahan saluran cerna (hematemesis. hematochezia. Pasien dispepsia dengan alarm symptoms kemungkinan besar didasari kelainan organik. Dengan endoskopi dapat dilakukan biopsy mukosa untuk mengetahui keadaan patologis mukosa lambung (Wibawa.A. 4. EGD : Tumor. dan pemeriksaan ovum dan parasit pada tinja. DPL : Anemia mengarahkan keganasan d. 8 . PUD. 3.Grace & Neil. M William. G. lipase. 2. 2006) e.

I. nadi. Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur. d. Dada dan paru-paru : bentuk dan frekuensi napas. Kuku : keadaan kuku dan warna kuku. Riwayat Kesehatan a. h. Telinga : fungsi pendengaran. umur. gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung. Biodata a. pantang rokok. c. Pencegahan Pola makan yang normal. suku / bangsa. dan kelainan. Keluhan Utama 3. g. suhu. Mulut : funsi pengecapan. sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang berkadar asam tinggi. konjungtiva. alamat. agama. reflek cahaya. hubungan dengan pasien. Penampilan umum : lemah atau tidak 5. kebersihan gigi dan kelainan bibir. Riwayat kesehatan yang lalu c. misalnya sakit kepala. bentuk dan keadaan telinga. Riwayat kesehatan sekarang b. umur. alamat. pendidikan. cabai. jenis kelamin. b. dan respirasi. jenis kelamin. 2. Identitas Pasien : nama. kelainan. Mata : sklera. c. b. 9 . Hidung : fungsi penciuman. Tingkat kecemasan b. Keadaan Umum a. keadaan rambut dan kulit kepala. f. e. Kulit : warna kulit dan tekstur kulit. Riwayat kesehatan keluarga 4. serumen. alkohol dan. Tanda-tanda vital : tekanan darah. agama. kelainan. pekerjaan. bentuk. bila harus makan obat karena sesuatu penyakit.H. Identitas penanggung jawab : nama. Kepala : bentuk kepala. Pemeriksaan a. pekerjaan. dan teratur. pupil.

Personal hygiene  Frekuensi mandi  Sikat gigi  Frekuensi keramas 3 Eliminasi A. trisep.i. Aktivitas Daily Living No Jenis Aktivitas 1. Eliminasi fecal  Warna urine  Konsistensi urine  Kelainan B. Aspek Sosial c. Minum  Jenis air minum  Frekuensi  Kesulitan 2. Aspek Spritual 7. j. Kekuatan otot : reflek bisep. Abdomen : Nyeri tekanan Genitalia : keadaan rectum k. Euminasi urine  Warna urine  Konsintensi urine  Kelainan 4 Istirahat / tidur  Mulai tidur  Lamanya tidur  Sering terjaga 10 Saat Sehat/ Di Rumah Saat Sakit/ Di RS . Aspek Psikologis b. 6. Aspek Psiko-Sosial-Spiritual a. patella dan babyn sky.

Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. c. 11 . d. Program terapi No Hari. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan. Pemeriksaan diagnostic No Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal b. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya.8. b. Tanggal Nama Obat Dosis Yang Diberikan Diagnosa Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada klien dengan dispepsia antara lain : a. anoreksia. muntah. Daftar Penunjang a.

Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya 5. Berikan istirahat dengan posisi semifowler Rasional 1. kemajuan penyembuhan 2. Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri Kriteria Hasil : klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri. beratnya (skala 010) 2. Observasi TTV tiap 24 jam 4. Dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan menurunkan aktivitas peristaltik 12 . Kaji tingkat nyeri.Rencana dan intervensi keperawatan a. Mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium. Intervensi 1. 4. Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang 3. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain 3. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam lambung. 5. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik 6. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi 7. Sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. Berguna dalam pengawasan kefektifan obat. 6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol 7.

Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. 5. 13 . konsistensi Buang Air Besar (BAB). anoreksia. timbang berat badan. 6. 6. dan mengurangi iritasi gaster 4. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit. mual. adanya bising usus. 7. Berikan makanan sedikit tapi sering 3. Untuk mengidentifikasi indikasi atau perkembangan dari hasil yang diharapkan 2. Meminimalkan anoreksia. meningkatkan intake diet klien. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai. riwayat mual/rnuntah atau diare. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan 4.b. kemampuan menelan. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik. integritas mukosa mulut. Timbang BB klien Rasional 1. 7. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan. Monitor intake dan output secara periodik. volume. Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat 3. Catat adanya anoreksia. muntah. Kriteria Hasil : menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi Intervensi 1. Awasi frekuensi. 5. Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat 2. kemajuan penyembuhan. dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam pengawasan kefektifan obat.

Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual. Berikan/awasi hiperalimentasi IV 5. 14 . 4. status membran mukosa. Tujuan : menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan. Membantu klien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan atau penggunaan laksatif/diuretik mencegah kehilangan cairan lanjut. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. pengisian kapiler. Kriteria Hasil : mempertahankan/menunjukkan perubaan keseimbangan cairan. Tindakan daruat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan elektroli 4. muntah. Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan optimal misalnya : jadwal masukan cairan. Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasi seluler. 3. membran mukosa lembab.c. Klien tidak mengkomsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit. Awasi tekanan darah dan nadi. ukur haluaran urine dengan akurat. dibuktikan stabil. 5. turgor kulit baik. 2. 2. Melibatkan klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk berhasil. Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan laksatif/diuretik. Rasional 1. Intervensi 1. turgor kulit. 3.

Kriteria Hasil : menyatakan pemahaman tentang penyakitnya. Rasional 1. 3. masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.d. Kaji tingkat kecemasan. Berikan dorongan spiritual 4. Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal tundakan yang diberikan. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Intervensi 1. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan semua keluhannya. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan. Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien sehingga memudahkan dlam tindakan selanjutnya. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya. 2. Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan. 4. 3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam perawatannya. 15 . 2.

 Etiologi dari dispepsia karena kelainan organik. dan rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan. yaitu: a. dan sering bersendawa. g. f. kembung. Penyakit pada hati. 16 . mual. kolesistitis kronik. b. rasa penuh atau cepat kenyang. obat-obatan yang tidak jelas. Perut kembung. maupun pada sistem bilier seperti hepatitis. Mual. Nafsu makan berkurang.  Komplikasi dari dispepsia yaitu luka di dinding lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam lambung. dan kanker lambung. d. Rasa perih di ulu hati. Rasa lekas kenyang. muntah. Kesimpulan  Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium. sehingga peningkatan produksi HCL akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung. c. yaitu gangguan atau penyakit dalam lumen saluran cerna. serta penyakit sistemik  Manifestasi klinis dari dispepsia. zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres. obat-obatan. pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong. Rasa panas di dada dan perut. pankreatitis. h.  Patofisiologi dari dispepsia yaitu adanya perubahan pola makan yang tidak teratur. e. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).BAB III PENUTUP A. kadang-kadang sampai muntah. Nyeri perut (abdominal discomfort). pankreas. dan mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung.

2. muntah.  Diagnosa dari dispepsia. laju endap darah. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan. serta dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium termasuk hitung darah lengkap. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya. sangat diperlukan kerja sama keluarga dan pasien itu sendiri guna memperoleh data yang bermutu untuk menentukan tindakan sehingga memperoleh hasil yang diharapkan. Untuk Institusi Sebagai sekolah yang bergerak di bidang kesehatan. Saran 1. 17 . b. lipase. b. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual. EGD. hendaknya dapat memberi pendidikan yang lebih baik lagi kepada siswanya dalam praktik pelayanan kesehatan dan menyediakan buku-buku penunjang sebagai acuan dalam melakukan asuhan keperawatan. yaitu : a. Untuk Keluarga Dalam proses asuhan keperawatan. DPL. c. B. amylase. profil kimia. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.  Pemeriksaan penunjang dari dispepsia yaitu ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan organik sebagai kausa dispepsia. dan pemeriksaan ovum dan parasit pada tinja. endoskopi (esofago-gastro-duodenoskopi). Pemeriksaan penunjang dari dispepsia yaitu dengan tes darah. anoreksia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful