Draft ke-3, Oktober 2009 Untuk diskusi kalangan internal Tidak untuk disebarluaskan

KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN 2010-2014

DEWAN KETAHANAN PANGAN JAKARTA (Oktober 2009)

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014 ini disusun sebagai penyempurnaan dari KUKP 2005-2009 yang telah dijadikan referensi berharga oleh para perumus dan pelaksana kebijakan di lapangan, pelaku ekonomi dan masyarakat madani pada umumnya. Pada intinya KUKP 2010-2014 masih menggunakan argumen utama yang tidak berubah, bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang pada tingkat rumah tangga, daerah, nasional sepanjang waktu dan merata melalui pemanfaatan sumberdaya dan budaya lokal, teknologi inovatif dan peluang pasar, serta memperkuat ekonomi pedesaan dan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. KUKP 2010-2014 mempertimbangkan beberapa perubahan yang terjadi pada tingkat global seperti pergerakan harga-harga pangan strategis, baik sebagai dampak berantai dari kenaikan harga mi`nyak bumi dunia, sebagai dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global, maupun sebagai dampak dari krisis finansial global yang mempengaruhi daya beli konsumen miskin, terutama di negara-negara berkembang. KUKP ini juga mempertimbangkan fenomena dan dinamika kondisi internal di dalam negeri, seperti perubahan mendasar setting kebijakan dan aransemen kelembagaan ketahanan pangan pada tingkat daerah, terutama sebagai konsekuensi dari ketentauan terbaru bahwa ketahanan pangan adalah urusuan wajib pemerintah daerah. Disamping itu, sebagai konsekuensi dari implementasi kebijakan dan kesepakatan pimpinan daerah di tingkat provinsi 1

dan di tingkat kabupaten/kota, Indonesia juga sedang berupaya mengembangkan suatu kebijakan yang mengarah pada satu sasaran strategis tentang “Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015”. Beberapa tahun terakhir, cukup banyak kebijakan khusus baik di tingkat pusat, maupun di tingkat daerah yang telah mengarah pada beberapa fenomena baru dan perubahan mendasar tersebut di atas. Pada KUKP 2010-2014, secara esensial dapat dikatakan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa melaksanakan kebijakan ketahanan pangan dan bertanggungjawab terhadap penyelengaraan ketahanan pangan di wilayahnya masing-masing dengan memperhatikan pedoman, norma, standar dan kriteria yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah masih sangat penting dalam mencapai ketahanan pangan, walaupun akhir-akhir ini terdapat kecenderungan semakin pentingnya fungsi sektor swasta dan kelembagaan pasar. Pemerintah pusat menentukan arah kebijakan, strategi yang akan ditempuh, dan sasaran yang akan dicapai menuju tingkat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Ketidakjelasan dan keterputusan antara hierarki level politis-strategis, organisasi, dan implementasi sangat mempengaruhi perjalanan serta kualitas ketahanan pangan, yang meliputi dimensi ketersediaan, aksesibilitas dan stabilitas harga, serta utilisasi produk pangan di Indonesia. Sistem produksi, produktivitas dan efisiensi pada pangan strategis seperti beras, gula, jagung dan kedelai masih cukup lemah, baik karena faktor musim, cuaca, serta ketidakpastian lainnya, maupun karena faktor perubahan teknologi yang tidak sebagus pada dekade 1970 dan 1980an. Sistem produksi pangan yang demikian, baik di sektor hulu maupun di sektor hilir, ditambah sistem distribusi yang tidak memberikan balas jasa yang fair di antara pelaku ekonomi dan stakeholders, 2

jalan negara dan lain-lain. dokumen kebijakan yang disertai rencana aksi pada periode 2010-2014 diharapkan menjadi common platform bagi para setakholders tersebut di atas tentang peran dan upaya yang dapat dilaksanakan. produksi gula. dengan siapa bersinergi.2 Tujuan Penyusunan Dokumen Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014 ini disusun untuk dapat dijadikan acuan bagi para stakeholders pangan. Akan tetapi. pedagang. industri pengolah. mulai dari instansi pemerintah. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). penyedia jasa lain dan masyarakat umum. minimal sinergi kebijakan ketahana pangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.masih mempengaruhi produktivitas dan penyediaan pangan di dalam negeri. Sistem organisasi dan enforcement. Misalnya dalam hal kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam rehabilitasi infrastruktur pertanian dan pedesaan yang dikenal dengan istilah O&M (operation and maintenance) jaringan irigasi. saluran drainase. beras dan jagung justru masih perlu mengandalkan impor dari pasar dunia karena tingkat produksi dan produktivitas di dalam negeri masih cukup rendah. untuk memberikan kontribusi yang optimal dalam mewujudkan 3 . serta kapan dan dimana harus berperan. perguruan tinggi. nelayan. sektor swasta. jalan produksi. Desentralisasi ekonomi adalah titik tolak untuk memperbaiki kerjasama. Secara khsus. paling tidak terdapat mekanisme pengawasan untuk menetapkan prioritas alokasi anggaran pusat dan daerah yang mampu menunjang pencapaian ketahanan pangan. dan terutama petani. 1. jalan desa dan tentunya jalan propinsi. Produksi beras saat ini mungkin telah mencapai tingkat swasembada dan kemandirian yang cukup baik karena tingkat ketergantungan kepada pasokan beras impor tidak terlalu eksesif dan pada waktu tertentu ketika cadangan pangan nasional tidak mencukupi. rasa tanggung jawab pejabat pusat dan daerah perlu diperbaiki.

swasta dan elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. yang meliputi ketersediaan. Ketahanan pangan mengalami dinamika dan tantangan baru yang semakin kompleks seiring dengan beberapa perubahan yang terjadi pada tingkat global dan dinamika perkembangan ekonomi nasional.3 Ruang Lingkup dan Proses Penyusunan Ruang lingkup dokumen KUKP 2010-2014 ini merupakan penjabaran dari strategi besar Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa kebijakan umum ini diharapkan menjadi acuan dasar bagi lembaga pemerintah dan BUMN untuk membangun sinergi. Substansi dasar yang disampaikan dalam dokumen ini adalah aspek keseimbangan ketahanan pangan. 1. Substansi dan kerangka dasar dalam dokumen Kebijakan Ketahanan Umum Ketahanan Pangan ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budiaya Tanaman. integrasi dan koordinasi. UU 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. pembahasan RPJM juga sedang berlangsung. PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Pangan beserta perangkat peraturan kebijakan di bawahnya yang tidak bertentangan. yang pada saat Draft Kebijakan Umum Ketahanan Pangan ini dibuat. Substansi penting lainnya adalah butir-butir kebijakan umum ketahanan pangan yang terdiri dari 15 elemen penting yang diharapkan menjadi panduan bagi pemerintah. regional wilayah dan skala nasional. tingkat wilayah dan tingka nasional. dan maksimal agar mampu mencapai tujuan ketahanan pangan.ketahanan pangan sebagai tujuan bersama. Matriks agenda aksi yang merupakan penjabaran rinci dengan target atau sasaran yang jelas dari setiap elemen 4 . baik dalam skala rumah tangga. aksesibilitas dan stabilitas harga pangan. minimal agar saling informed tentang kegiatan yang dilaksanakannya.

alur pembahasan. Diskusi publik telah melibatkan unsur lembaga pemerintah. Tim perumus mengolah kembali saran dan masukan dari peserta diskusi publik untuk menyempurnakan subtansi argumen. Draf awal KUKP 2010-2014 telah dibahas berkali-kali dalam berbagai diskusi publik. sampai ada “pembagian tugas”dan tanggung jawab stakeholders. perumusan.kebijakan akan menjadi semacam panduang berharga bagi para stakeholders yang telah disebutkan di atas. langkah aksi. diskusi internal dan pertemuan dengan para stakeholders. identifikasi masalah. perguruan tinggi. organisasi profesi. studi pustaka. swasta. lembaga swadaya masyarakat. 5 . Tim ini bertugas menyusun konsep awal dokumen kebijakan melalui penelitian. prioritisasi kebijakan. mulai dari pengenalan. Proses penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 dilakukan oleh suatu Tim Penyusun yang dibentuk oleh Menteri Pertanian selaku Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan. pemilihan serta susunan kata-kata yang digunakan dalam penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 ini. organisasi kemasyarakatan lainnya. jika dimungkinkan. Tahap terakhir proses ini adalah diskusi internal instansi pemerintah yang terlibat dalam proses formalisasi dokumen ini menjadi suatu kebijakan umum yang. akan dituangkan dalam suatu Peraturan Presiden (Perpres).

pada akhir tahun. walaupun belum menyamai lonjakan harga pada tahun 2008. yang pasti mengganggu stabilitas dan sinyal-sinyal insentif yang dimiliki para pelaku. pada semester kedua 2008. harga pangan kembali naik secara perlahan. beberapa komoditas pangan strategis mengalami kejatuhan harga yang signifikan. hampir semua orang meresahkan lonjakan harga komoditas pangan berlipat-lipat dan sempat mengganggu stabilitas politik di beberapa negara berkembang. terutama karena harga beberapa komoditas pangan naik tajam pada semester pertama dan turun tajam pada semester kedua. Pada tahun 2009. peruabahan iklim yang semakin menjadi nyata. masyarakat juga resah karena harga-harga produk pertanian cenderung anjlok. banyak analis mengira bahwa “the era of cheap price is over”. tapi pasti. politik pangan dan kebijakan pertanian di banyak negara cenderung merupakan respon terhadap fenomena pergerakan harga pangan yang cukup liar. Semula. serta beberapa kecenderungan atau respons dari negara-negara produsen pangan yang cenderung semakin protektif. Pergerakan harga pangan pada tahun 2008 yang cukup merumitkan. Kemudian. Namun demikian. TANTANGAN BARU KETAHANAN PANGAN Tantangan baru ketahanan pangan lebih banyak diwarnai perubahan yang demikian cepat terjadi pada lingkungan global. Pergerakan dari satu sisi ekstrim ke sisi ekstrim lainnya jelas menimbulkan kejutan yang tidak terduga. Pada awal tahun. Kesimpulan itu tidak sepenuhnhya salah karena sejak tahun 2008. seperti kenaikan harga minyak bumi yang sangat fluktuatif. walaupun tidak sedramatis tahun-tahun sebelumnya. Petani atau pelaku ekonomi lain pasti bekerja berdasarkan ekspektasi – untuk memperoleh tambahan pendapatan yang lebih tinggi.BAB 2. Apabila ekspektasi positif ini tidak dapat terpenuhi. maka agak sulit bagi siapa pun untuk berharap bahwa 6 .

sehingga sangat mempengaruhi akses dan kualitas konsumsi pangan yang mereka lakukan. Louisiana. yang bukan merupakan konsumen besar beras. Hawaii. Misalnya. dari pada harus mengekspornya ke pasar global. Tidak secara kebetulan apabila negara-negara produsen beras ini juga sekaligus konsumen besar beras dunia. dan lain-lain lebih diutamakan untuk tujuan ekspor. Dari beberapa penjelasan di atas. Berbeda halnya dengan Amerika Serikat (AS).petani akan termotivasi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. eskalasi harga pangan strategis yang sangat tinggi diperkirakan mengubah struktur perdagangan global. Indonesia dan lain-lain ternyata lebih mengutamakan konsumsi di dalam negerinya. Produksi beras yang dihasilkan di negara bagian California. sehingga dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu. India. terutama dari golongan berpenghasilan rendah semakin sulit untuk menjangkau peningkatan harga-harga pangan. fakta empiris kelak yang akan menjawabnya. produsen utama beras dunia seperti Cina. KUKP 2010-2014 ini dapat dianggap memadai apabila kebijakan yang dapat menjadi insentif positif bagi petani untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan dan pertanian secara umum. 2. perubahan pola dan struktur perdagangan komoditas pangan global tidak dapat dilepaskan dari tiga faktor penting berikut: (1) fenomena perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi pangan 7 . Vietnam. AS telah menjadi negara eksportir nomor 3 atau 4 terbesar dunia.1 Dinamika Ekonomi Pangan Global Berdasarkan penelusuran beberapa analisis dan literatur yang berkembang. bergantian dengan India. Sementara itu konsumen pangan. bahkan tingkat laku yang ditunjukkan oleh beberapa reaksi protektif oleh beberapa produsen pangan global. Thailand. Apakah fenomena baru perdagangan dunia ini akan menjadi insentif bagi Amerika Serikat untuk meningkatkan penguasaan dan perluasan pangsa pasar beras ke Asia.

beras. persediaan stok pangan menjadi sulit diprediksi secara baik. Perubahan iklim bahkan telah dianggap sebagai salah satu kontributor pada laju eskalasi harga pangan dan pertanian saat ini. dan (3) aksi para investor (spekulan) global karena kondisi pasar keuangan yang tidak menentu. karena telah mengakibatkan gangguang besar pada sistem produksi pangan. Sulit dilukiskan betapa dahsyat dampak sosial-ekonomi yang terjadi. tidak hanya untuk memenuhi 8 . daging. dan bencana kekeringan akan menjadi menu sehari-hari di negara-negara tropis dan sub-tropis. yang juga telah mendorong permintaan terhadap minyak nabati dunia menjadi meningkat pesat.strategis. perubahan iklim telah menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau yang makin kacau. akan menurunkan produksi pertanian China dan Bangladesh 30 persen nanti pada tahun 2050. Kebijakan pengembangan biofuel di negaranegara maju (dan negara-negara berkembang) telah menyebabkan perubahan fokus pemanfaatan komoditas pangan dan pertanian. dan lingkungan tentang dampak pemanasan global. sehingga pola tanam dan estimasi produksi pertanian. sosial. Sekitar 30 persen garis pantai di dunia akan lenyap pada tahu 2080. dan susu. seperti yang terjadi pada pangan strategis seperti gandum. seorang pakar berkebangsaan Inggris Nicholas Stern (2006) mengemukakan risiko ekonomi. misalnya jika tiba-tiba tinggi air laut meningkat sampai 3 meter. Dalam laporan berjudul “Stern Review on the Economic of Climate Change”. Sebagian besar negara yang memeliki sumberdaya alam agak berlimpah. Penjelasan singkat dari faktor di atas diuraikan berikut ini: Pertama. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa setiap kenaikan suhu udara 2 derajat Celsius. Kedua. (2) peningkatan permintaan komoditas pangan karena konversi terhadap biofuel. saat ini sedang mengembangkan bahan bakar biologi (biofuels). kenaikan harga minyak dunia sejak 2007 itu sempat melonjakkan harga-harga pangan secara dramatis.

Walaupun masih harus dicermati dalam rentang waktu yang agak panjang. Tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa akan 9 . Faktor melesunya pasar keuangan global atau bursa saham di pasar-pasar besar dunia. yang sebenarnya tidak mencerminkan prinsip-prinsip klasik perdagangan. Ketiga. harga dunia komoditas minyak dan lemak yang dapat digunakan untuk energi menjadi meningkat tajam. Akibatnya. bahkan ketika hargaharga pangan lain cenderung menurun. suatu Laporan yang dipublikasi oleh International Institute for Sustainable Development (IISD. yang sekaligus menunjukkan terjadinya tingkat volatilitas pasar yang sangat tinggi. dibandingkan dengan pasar keuangan global yang sedang diliputi ketidakpastian.kebutuhan pangan. yaitu 36 miliar galon konsumsi bahan bakar biofuel pada tahun 2022. fenomena saat ini juga dikenal sebagai low inventory stocks. tingkat harga pangan di pasar global menjadi ”tersandera” oleh keputusan segelintir investor (spekulan) skala besar. Dalam istilah pasar keuangan global. kecenderungan melonjaknya nilai investasi (spekulasi) komoditas pangan di pasar komoditas global. yang sekaligus telah mengkonversi 20 persen dari produksi jagung di dalam negerinya. namun beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan bukti-bukti awal dari pergeseran fokus perdagangan komoditas global. Target yang lebih besar juga dicanangkan oleh Amerika Serikat. yang berdasar pada perbedaan keuntungan komparatif dalam memproduksi komoditas pangan. Akibat berikutnya. dan diperkirakan akan naik menjadi 32 persen pada tahun 2016. serta melemhanya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain di dunia. 2007) menyebutkan bahwa Amerika Serikat mengeluarkan anggaran US$ 7 milliar untuk mendukung pengembangan etanol. Uni Eropa juga telah mentargetkan 10 persen dari konsumsi bahan bakar di sektor transportasi pada tahun 2020 akan berasal dari biofuel. juga ikut mempengaruhi keputusan para investor yang mulai meminati pasar komoditi global. Misalnya. tapi juga untuk memenuhi energi.

kini mulai lebih realistis dengan mulai menerapkan prinsip-prinsip ekonomi kelembagaan dengan karakter keteraturan aturan main. terutama dalam rentang jangka panjang. Implikasi lain dari perubahan pola dan struktur perdagangan global saat ini adalah semakin berkembangnya strategi intervensi yang dilakukakan oleh negara dalam rangka stabilisasi harga pangan. Kini. beberapa kelompok kepentingan ( vested 10 . kutub arus tengah sampai sekarang masih konsisten menolak keras campur tangan pemerintah dalam stabilisasi harga beberapa bahan pangan. serta interaksi antara keputusan ekonomi dan keputusan non-ekonomi yang lebih bervisi pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat. ekonom yang semula berada pada kutub arus tengah. perdebatan itu disemarakkan oleh semakin berkembangnya mazhab teori ekonomi kelembagaan yang menekankan pada kebekerjaan (workability) dari suatu intervensi yang dilakukan negara. kontroversi lama tentang suatu dampak distortif dari kebijakan intervensi pasar masih akan berlanjut. Biaya transaksi (transaction cost) yang ditimbulkan oleh upaya intervensi pemerintah tersebut ternyata sangat besar Korupsi kronis yang senantiasa menyertai strategi stabilisasi harga bahan pangan di kebanyakan Dunia Ketiga adalah salah satu bentuk biaya transaksi yang harus ditanggung masyarakat luas. Di tingkat akademik. hanya digantungkan pada pasar keuangan dan pasar komoditas global. Pada intinya. walaupun tidak akan sekeras perdebatan pada era 1980-an. Kutub perbedabatan mungkin akan bergeser. yang pasti menimbulkan dampak ketidakmerataan dan ketimpangan yang mengkhawatirkan. tidak hanya antara ekonom arus tengah (neoklasik) dan ekonom yang menekankan pada perencanaan sentralistik. Terlebih lagi. bahkan negatif. Bahkan.sangat berisiko tinggi apabila perdagangan pangan. Argumen yang dikemukakan kutub ini adalah bahwa manfaat yang dapat dipetik dari tindakan upaya stabilisasi harga umumnya sangat kecil. pengelolaan biaya transaksi.

menjadi sangat tergantung pada pasokan pangan global. argumen pentingnya stabilisasi inilah yang menjadi falsafah utama kebijakan harga dasar gabah dan harga atap beras. termasuk menghilangkan tarif impor dan bea masuk beras dan beberapa komoditas strategis sampai 0 persen. terutama dari perspektif makro. Ketika pangsa perdagangan komoditas pangan global semakin banyak dikuasai oleh negara-negara maju. tidak sedikit dari ekonom arus tengah ini yang melihat betapa pentingnya suatu langkah stabilisasi harga bahan pangan yang harus ditempuh pemerintah. apalagi jika dimaksudkan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. terutama tentang betapa pentingnya arti stabilitas harga bahan pangan pada bangsa-bangsa Asia. tingkat harga beras sebagai pangan pokok menjadi lebih berfluktuatif. melainkan untuk kepentingannya sendiri. yang sebagian besar juga masih miskin. dalam hal ini Amerika Utara dan Eropa Barat. pada tahap awal ekonomi pembangunan. Di Indonesia. serta sebagai justifikasi pendirian lembaga logistik nasional. Stabilisasi 11 . Menariknya. Misalnya. beberapa ekonom menolak tegas simplifikasi dan kesalahan persepsi para ekonom arus tengah di atas. Indonesia pernah mencoba melakukan liberalisasi perdagangan pangan.interest) yang selalu melingkupi proses perumusan kebijakan intervensi negara tersebut justru memanfaatkannya bukan untuk tujuan implementasi stabilisasi harga semata. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan Asia pada akhir 1990-an telah memberikan pelajaran berarti bahwa liberalisasi perdagangan pangan bukanlah resep mujarab yang mampu menjawab persoalan fluktuasi dan stabilisasi harga pangan. Akibat yang paling mencolok adalah bahwa pasca liberalisasi kebijakan pangan tersebut. Telah cukup banyak studi yang menunjukkan bahwa stabilisasi harga bahan pangan sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. maka negara-negara berkembang. yang kini menjadi Perum Bulog. Atas saran untuk melakukan reformasi ekonomi dan keuangan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia.

fluktuasi harga pangan yang luar biasa tinggi.2 Penyediaan Pangan Strategis Krisis finasial global sekarang ini terasa lebih berat bagi ekonomi Indonesia karena bersamaan dengan lonjakan harga minyak bumi dunia. Sebaliknya pula. kini justru menjadi pengkritik terdepan tentang kebijakan stabilisasi tersebut. Pada tingkat makro global. Di Indonesia dan negara berkembang lain. 2. fluktuasi harga pangan yang sangat tinggi dapat mengganggu stabilitas kehidupan ekonomi yang tentu saja sangat mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi. Menariknya. setidaknya sampai tercipta suatu fase di mana pangsa pengeluaran terhadap bahan makanan tidak lagi menjadi bagian yang sangat dominan. para ekonom yang sebelumnya secara konsisten menganjurkan intervensi pemerintah untuk melakukan stabilisasi harga pangan serta mempertahankannya secara konsisten. pangan merupakan bagian terbesar dari komponen konsumsi penduduk. banyak ekonom arus tengah yang juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari poses globalisasi dan perdagangan bebas komoditas pangan. serta variabilitas cuaca yang semakin tidak bersahabat. Upaya pemerintah dalam stabilisasi harga pangan dianggap masih cukup relevan. ternyata sulit terbukti di lapangan. Lembaga-lembaga internasional yang bervisi arus tengah dan juga liberal tersebut– sehingga sering disebut neoliberal – nampak tidak terlalu memahami lebih dalam tentang persoalan struktural yang melingkupi perdagangan komoditas pangan strategis di Indonesia. kini bahkan mengkritik keras pendekatan dan paradgima yang diusulkan lembaga keuangan global tersebut. fenomenal perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi. mungkin saja krisis finansial menjadi salah satu pemicu percepatan pergeseran kekuatan ekonomi global dari negaranegara maju ke arah negara-negara berkembang progresif atau yang lebih dikenal 12 .harga yang dihipotesiskan oleh IMF dan Bank Dunia akan tercipta setelah pasar pangan domestik terhubung dengan pasar global.

Maknanya. Di tingkat global. Kenaikan produksi di India. pada bidang pangan dan pertanian. 13 . ketahanan pangan. Cina. Myanmar dan Indonesia diperkirakan cukup signifikan untuk meningkatkan produksi beras dunia tahun 2007. Persoalan menjadi agak kompleks ketika produktivitas beras rata-rata dunia nyaris tidak bertambah pada beberapa tahun terakhir dan tercatat hanya 4. Menurut laporan Program Pangan Dunia (2008). terutama karena pertambahan penduduk. Di pihak lain. Ditambah lagi. produksi beras sebenarnya tidaklah terlalu buruk. saat ini terdapat kecenderungan di antara negara-negara berkembang untuk semakin mementingkan urusan pangan di dalam negerinya sendiri. Produksi beras global diperkirakan sekitar 643 juta ton pada tahun 2007. pengangguran. posisi negara-negara berkembang yang notabene memiliki jumlah penduduk lebih besar dari negara-negara maju. Angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan produksi beras 581 juta ton pada tahun 2006 atau dari perkiraan Food Outlook FAO sebelumya pada edisi Juni 2007. betapa rendahnya tingkat perubahan teknologi. Akan tetapi.dengan “new emerging markets”. masih belum dapat melepaskan diri dari permasalahan struktural dalam sistem produksi dan konsumsi. kualitas pendidikan dan lain-lain. bencana kekeringan dan gelombang panas juga melanda beberapa tempat di Asia. sebanyak 57 negara (29 di Afrika.1 ton per hektar. aplikasi benih baru dan teknologi lain di sektor pangan pokok ini. bahkan dengan menerapkan strategi proteksi yang cenderung berlebihan. pemanasan global dan ketidakpastian iklim serta ancaman ekologis karena keterlambatan adaptasi dan mitigasi peruabahan iklim. walau memang sedang mengalami stagnansi atau pelandaian (leveling-off) karena peningkatan produksi lebih banyak hanya mengandalkan pertambahan areal panen. Eropa. kemiskinan. 19 di Asia dan 9 di Amerika Latin) juga terkena terpaan banjir dan bencana ekologis yang menakutkan. Ancaman krisis pangan di belahan bumi lain bahkan lebih menakutkan.

Kelompok rawan pangan ini bertambah sekitar 4 juta jiwa per tahun. sesuatu yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Tidak heran jika kondisi suplai gandum dunia agak terganggu dan melonjakkan harga gandum di pasar global. Variabel yang diukur 14 . Apabila karena kemarau panjang. bencana kekeringan tahun 2007 lalu telah menurunkan produksi gandum sekitar 40 persen atau 4 juta ton.71 persen dari 60. dan hampir seluruh wilayah di Indonesia mengalami anomali cuaca yang merata. Badan Pusat Statistik (BPS) meramalkan produksi beras 2009 mencapai 62.6 juta ton gabah kering giling (GKG). Badan Meteorologi.3 juta ton padi. atau meningkat 3. sehingga kenaikan harga pangan dunia saat ini benar-benar di luar jangkauan mereka dari kelompok lapis paling bawah tersebut. Pencapaian Indonesia dalam peningkatan produksi pangan pokok (beras) mungkin perlu diapresiasi.3 juta ton produksi tahun 2008. ramalam produksi beras tahun ini diperkirakan sama dengan tahun lalu.Mozambik dan Uruguay. sekalipun masih terdapat kontroversi statistik dan metode penghitungan. musim kemarau panjang tahun ini yang diperkirakan menurunkan produksi pangan strategis. Agustus dan September (JAS) 2009 mecapai 82 persen. Di dalam negeri. Inilah tantangan paling besar bagi siapa pun yang peduli tentang ekonomi pangan dan pencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG). hal itu berarti terdapat potensi kenaikan produksi 2. Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi musim kering tahun ini akan terjadi sampai sampai Januari 2010. International Research Institute for Climate and Society (IRI) Columbia University (New York) menyebutkan bahwa peluang kekeringan pada bulan Juli. yang menjadi salah satu produsen gandum dunia. ketahanan pangan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena beberapa kecenderungan global di atas. Laporan WFP tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar 854 juta jiwa di seluruh dunia terancam kelaparan. Di Australia.

Hal yang agak positif adalah bahwa penggunaan benih unggul jagung hibrida. Lampung. yang seharusnya telah tercapai sejak tahun 2007. produksi jagung diramalkan 17 juta ton. peningkatan produksi jagung hibrida juga sekaligus mampu mendukung sektor peternakan karena industri pakan ternak ikut tumbuh pasca stagnansi yang cukup serius pada puncak krisis ekonomi. dan Sumatera Utara. Bersamaan dengan itu.dari ENSO Forecast (El-Nino Southern Oscillation) untuk daerah NINO 3. Musim kering tahun ini serasa lebih menyengat karena terjadi bersamaan dengan dampak fenomena moda positif di Samudra Hindia atau dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD). Gorontalo.8 juta ton tahun 1998. terutama karena peningkatan luas panen di Propinsi Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Akan tetapi. April. Produksi bahan pangan penting menunjukkan kecenderungan peningkatan. Mei 2010 (MAM 2010). Musim basah baru terjadi Maret. Angka tersebut memang masih belum mampu mencapai target swasembada jagung. Minimnya uap air di atas Indonesia dan sekitarnya karena fenomena anomali cuaca di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia telah menjadi catatan sejarah rekor buruk impor beras Indonesia yang mencapai 5. dan April 2010 (FMA 2010). Pada tahun 2009 ini. berkisar 80 persen sampai dengan Februari. 15 . Membaiknya produksi jagung domestik sedikit membantu mengurangi ketergantungan sektor peternakan kecil terhadap pakan impor. kecuali kedelai yang mengalami penurunan sejak dekade 1990an. terutamabuah hasil bioteknologi pertanian. Maret. dan sempat memberikan ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi.4 (Indonesia dan sekitarnya) tersebut masih tetap tinggi. Konsep penelitian model variasi iklim yang dikembangkan Japan Agency for MarineEarth Science and Technology (JAMSTEC) telah menjelaskan gejala cuaca abnormal atau perubahan iklim global saat kekeringan hebat tahun 1997. karena Indonesia masih harus memenuhi konsumsi jagung dari pasar impor.

786.000 6.147.630.925 62.900 2. Kinerja Produksi Pangan Strategis Indonesia.391 12.454.47 3.266.252 17.041.435 60.299.62 4. Indonesia masih harus mengandalkan jagung impor dalam jumlah yang cukup signifikan.215 Kedelai 701. yaitu 20 persen.08 6. tidak hanya sebagai sumber tambahan pendapatan petani.32 Produktivitas (ton/ha) 1.94 Produktivitas (ton/ha) 4. 2006-2009 2006 2007 2008 2009 Padi Luas Panen (ha) 11.26 Produktivitas (ton hablur/ha) 5.287.66 4.000 Sumber: Produksi padi.637 12.325.668. terakhir Aram 2 Juli 2009 Kinerja produksi gula dari Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI).609.89 Produksi (ton GKG) 54.345.29 1. Namun demikian. suatu peningkatan signifikan dibandingkan angka produksi tahun 2008 yang hanya tercatat 590 tibu ton (Tabel 1).527 16.71 4.90 6. tapi juga untuk meningkatkan kualitas dan 16 .840.000 410.146 Jagung Luas Panen (ha) 3.805 3.401.16 Produktivitas (ton/ha) 3. jagung dan kedelai dari BPS.611 592.392 Luas Panen (ha) 580.000 Luas Panen (ha) 384.937 57.31 924.000 Produksi (ton gula) 2. Hal ini terlihat dari penurunan areal panen kedelai yang cukup signifikan.096. Indonesia melaksanakan suatu program sistematis untuk meningkatkan produksi dan produktivitas palawija.989 4.001.600 2.karena laju konsumsi jagung yang tumbuh lebih cepat. 2008 Produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan mendekati 701 ribu ton biji kering. Saat ini agak sulit meyakinkan petani Indonesia untuk kembali menanam kedelai ketika tingkat permintaan terhadap kebutuhan pokok seperti beras dan komoditas bernilai timbah tinggi lain semain meningkat.20 2.542.324 4.838 4.463 13. Tabel 1.317. Pada dekade 1980an.956 1.116 590.561.724 4.381 775.29 1. kinerja produksi beberapa tahun terakhir adalah penurunan permanen dari angka produksi di atas 1.000 395.534 459.430 12.08 Produksi (ton pipilan kering) 11.710 Gula (Tebu) 415.511 Produksi (ton biji kering) 747.157.5 juta ton pada awal 1990an.

1 juta industri besar dan 1. persoalan teknik keprasan yang berulang sampai belasan kali juga menjadi masalah tersendiri karena insentif pendanaan pembongkaran ratoon cukup pelik untuk dapat dicerna petani tebu.05 juta ton industri kecil dan usaha kecil menengah (UKM). terdiri dari 1. atau untuk membedakan dengan “gula industri”. Nampaknya. akurasi prediksi dan statistik produksi dan konsumsi gula mengalami persoalan yang sama peliknya dengan statistik beras dan beberapa pangan strategis lain. sehingga mengurangi biaya penggunaan pupuk kimia buatan. peluang tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara baik di Indonesia. Apakah target swasembada gula tersebut tercapai atau tidak. Konsumsi gula industri diperkirakan sekitar 2. tanaman dari kelompok legum (kacangkacangan) mampu mengikat Nitrogen dari udara.28 ton/ha atau setengah dari produktivitas kedelai di luar negeri. Disamping itu.84 juta ton (Tabel 1) sehingga tercapainya swasembada gula konsumsi masyarakat dapat tercapai. yang masih dilakukan oleh industri gula rafinasi mengandalkan bahan baku impor gula mentah. basis 17 . Produktivitas kedelai di Indonesia hanya 1. Saat ini konsumsi gula rata-rata di Indonesia mencapai lebih dari 12 kg per kapita per tahun.15 juta ton. nampaknya masih menarik untuk diterlusuri secara mendalam karena tingkat konsumsi gula yang meningkat pesat. terutama karena pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pendapatan masyarakat (baca: pertumbuhan ekonomi) Indonesia. Produksi gula pada tahun 2009 ini diperkirakan mencapai 2. Definisi “gula konsumsi” sengaja digunakan oleh pemerintah untuk memperhalus pencapaian target swasembada. Argentina dan Amerika Serikat.85 juta ton atau lebih. sehingga total konsumsi gula di Indonesia diperkirakan 4. Secara agronomis. serta sensitivitas usahatani tebu (lahan basah) terhadap fenomena perubahan iklim juga dapat menjelaskan fluktuasi produksi tebu di Indonesia. Pada skala tebu rakyat. teknik budidaya. seperti di Brazil. Aplikasi teknologi produksi.kesuburan tanah. Namun demikian.

beserta perlakuannya yang sangat mencolok antara importir produsen (IP) dan importir terdaftar (IT). pengolah dan konsumen. Kedua aspek ini perlu dibenahi secara bersamaan karena tidak mungkin berharap peningkatan efisiensi pabrik gula apabila kualitas rendemen gula dalam tebu petani ternyata sangat rendah. Indonesia memiliki potensi swasembada gula. serta peningkatkan efisiensi teknis dan ekonomis pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia menjadi hampir mutlak untuk mencapai tujuan swasembada gula yang lebih beradab. yaitu sekitar 7 persen lebih sedikit. sehingga lengkaplah sudah persoalan struktural di sektor hulu produksi gula. Termasuk di sini adalah intervensi dan keputusan impor. “industri” gulanya. dukungan permodalan dari sektor perbankan dan lembaga non-bank lain cukup lemah. walaupun terdapat kecenderungan persaingan penggunaan lahan antara padi dan gula. Lebih buruk lagi. Sebenarnya. Titik sentral persoalannya adalah apakah segenap energi bangsa dan wisdom dalam mengambil keputusan intervensi kebijakan dapat saling mendukung dengan target swasembada gula tersebut. Rekonstruksi basis produksi dalam sistem usahatani tebu. Dalam konteks inilah maka. Dalam kondisi biasa-biasa saja. terutama padi. intervensi kebijakan atau pemihakan pada sistem produksi gula di Indonesia menjadi salah satu prasyarat pencapaian swasembada gula.usahatani tebu semakin tergeser oleh komoditas lain. Sekali lagi. palawija dan hortikultura yang menghasilkan pendapatan ekonomi tinggi berlipat. mulai dari petani. persoalan utama bukan terletak pada positioning apakah Indonesia harus protektif atau liberal dalam pengembangan Konsistensi sebuah intervensi kebijakan jelas sangat diperlukan untuk memberikan sinyal insentif yang tepat bagi segenap pelaku. pedagang. karena kedua tanaman memerlukan jenis tanah dan iklim yang mirip. mustahil berharap peningkatan produksi dan produktivitas tebu apabila insentif harga beli demikian rendah karena pabrik gula telah menderita inefisiensi teknis dan ekonomis. 18 .

yang selama ini hanya sekitar 7 persen atau kurang. pengendalian organisme pengganggu. sehingga muncullah pilihan-pilihan rasional untuk pemanfaatan tebu lahan kering. pengaturan kebutuhan air. dalam bidang penggilingan. langkah pemcapaian swasembada gula dapat ditempuh dengan langkah besar peningkatan rendemen. maka usahatani tebu di lahan kering dengan dukungan aktivitas ekonomi luar usahatani yang lebih produktif akan dapat meningkatkan pendapatan petani di Jawa dan berkontribusi besar bagi pengentasan masyarakat dari kemiskinan serta pengembangan wilayah secara umum. Secara teknis. penebangan tebu secara bersih dan pengangkutan tebu secara cepat. Dalam bidang panen dan pasca panen. dan sebagainya. penentuan tingkat optimasi kapasitas giling dapat mengurangi kehilangan gula selama proses di pabrik. maka terdapat potensi tambahan produksi gula lebih dari 300 ribu ton. bahkan di Luar Jawa. Kapasitas sumberdaya pabrik dan sumberdaya manusia masih sangat memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas hablur menjadi 8 ton per hektar. pemupukan berimbang. berupa perbaikan varietas. Pemerintah perlu lebih serius dalam menindaklanjuti hasil-hasil analisis kebijakan alternatif atu perubahan pola tanam usahatani seperti itu. misalnya dengan pemantauan tingkat kemasakan. Strategi tersebut dapat ditempuh dengan “metode konvensional” dalam bidang budida ya. penyediaan bibit sehat dan murni. penentuan awal giling yang tepat. Kenaikan rendemen 1 persen saja.Beberapa studi sebenarnya telah banyak dilakukan untuk mengantisipasi pergeseran usahatani tebu tanaman ekonomis lainnya. yang tentu saja dapat berkontribusi pada pencapaian swasembada gula Indonesia. Pada sistem produksi ini. optimalisasi waktu tanam. penentuan kebun tebu yang ditebang juga sangat mempengaruhi produktivitas. Sedangkan pemantauan 19 . karena langkah kebihakan tersebut dapat berkontribusi bagi pemandirian petani dan desentralisasi ekonomi atau otonomi daerah yang lebih beradab. Benar bahwa pendapatan luar usahatani sangat penting bagi sebagian besar petani di Jawa.

Untuk itu. maka tidak mustahil rendemen gula pada perkebunan tebu di Indonesia dapat mencapai 13 persen atau lebih. mulai dari sistem bagi hasil. sehingga analisis ekonomi politik yang diperlukan adalah bagaimana gula Indonesia dapat masuk ke segenap pasar-pasar gula strategis di belahan lain di dunia. maka Indonesia tidak perlu risau lagi dengan persoalan swasembada gula. pengukuruan kualitas tebu. Bahkan. Maksudnya. peningkatan rendemen dapat ditempuh dengan “metode terobosan yang lebih komprehensif” seperti memperbaiki sistem insentif manajemen produksi tebu. terutama yang berada dalam skema pengelolaan BUMN induknya PT Perkebunan Nusantara (PTPN).tentang kelancaran giling dapat mengurangi kehilangan gula di stasiun gilingan dan pengolahan. 20 . Kelompok Kebun Agung dan sebagainya. seperti pembentukan sistem blok. Pada kondisi inilah. sistem transfer tebu. karena produksi gula dalam negeri dapat melampaui 3 juta ton. Kelompok Gunung Madu Plantations (GMP). maka pencapaian rendemen gula sampai 11 persen bukanlah sesuatu yang sulit. Selain “metode konvensional” di atas. kebijakan revitalisasi industri gula dan restrukturisasi agro-industri di tingkat makro perlu juga lebih diarahkan pada upaya peningkatan daya saing industri secara keseluruhan. apabila metode tersebut secara konsisten dilaksanakan. insentif harga dan kebijakan lain seperti pendanaan kredit yang lebih dapat diandalkan. Apabila kedua metode peningkatan rendemen tersebut dapat dikombinasikan secara baik. sampai pada aspek konsolidasi lahan pabrik gula. langkah-langkah pembenahan aspek mikro bisnis dan reposisi strategi mengarah pada perubahan budaya perusahaan (corporate culture) wajib segera dilakukan untuk pabrik gula di Jawa. Tidaklah tabu untuk belajar dari strategi bisnis dan manajemen pabrik gula skala besar dengan teknologi modern seperti di Kelompok Usaha Sugar Group di Lampung.

2004-2008 (dalam juta ton) Negara Indonesia Malaysia Thailand Negara Lain Total Dunia 2004 12.35 37.76 3. bahkan sering bergulir ke ranah politik.17 4. Produksi Minyak Sawit Dunia.88 0. Walaupun.80 4.38 13.97 0. 2008 Produksi minyak goreng di Indonesia saat ini lebih banyak mengandalkan bahan baku minyak kelapa sawit (CPO).30 1.Tabel 2. Bahkan. Petani sawit sebenarnya juga memperoleh manfaat “windfall profit” atas semakin tingginya harga CPO di pasar global. Kesulitan akses konsumsi minyak goreng. Estimasi yang dikeluarkan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).02 Sumber: Oil World dan GAPKI.02 4.70 15.05 15. dengan berbasis data Oil World menunjukkan bahwa produksi CPO Indonesia tahun 2008 ini mencapai 18. produksi CPO juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. kenaikan harga minyak goreng saat ini juga terasa memberatkan bagi seorang petani kelapa sawit. terutama dari kelompok berpenghasilan rendah tentu merupakan salah satu bahan kontroversi politik dan kebijakan publik.6 juta 21 .14 2007 16.99 2005 13.68 2006 16.82 1.13 2008 18. kontribusi kenaikan harga minyak goreng terhadap inflasi masih sanagt kecil (tidak sampai 2 persen).59 38.60 17. atau terjadi pergeseran dari proses produksi minyak goreng pada dekade 1980-an yang masih mengandalkan bagan baku minyak kelapa dalam (CCO=Crude Coconut Oil). posisi minyak goreng memang cukup strategis. maka harga eceran minyak goreng di dalam negeri juga melambung tinggi karena tingginya harga bahan baku CPO kepada industri minyak goreng di dalam negeri. Apabila harga CPO di pasar global meningkat.88 30.11 33.80 0. yang juga berhak untuk memperoleh harga yang layak atas kebutuhan pokok sehari-harinya.86 4.95 42.97 14.

sapi gila. sehingga Indonesia tetap mengimpor sekitar 520 ekor sapi setiap tahun. minyak kanola. terutama dari Australia. seperti penyakit mulut dan kuku (PMK). antraks. yaitu mencapai 993 ribu ton. analisis mendalam masih harus diakukan terhadap psosis komoditas pesaing dari CPO dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia: seperti minyak kedelai.ton. Selandia Baru dan negara-negara lain yang bebas penyakit hewan. minyak matahari dan lain-lain. posisi dan tingkah laku Indonesia dan Malaysia tentu sangat strategis dalam peta perdagangan CPO dunia. daging ayam dan produk sektor peternakan atau yang menjadi sumber protein hewani di Indonesia sebenarnya tidaklah terlau besar untuk memenuhi kebutuhan daging yang masih akan meningkat setiap tahun. Akibatnya. Produksi daging sapi hanya 352 ribu ton.2 pangsa CPO Malaysia. Akan tetapi. minyak jagung bahkan minyak kelapa.3 persen dari total produksi CPO dunia. Produksi daging pada tahun 2008 tercatat 2. atau melampaui produksi CPOO Malaysia 17.2 juta ton. Produksi daging sapi.3 juta ton (Tabel 2). dengan dominasi daging ayam ras pedaging yang demikian besar. Dengan pangsa total di atas 85 persen. 22 . Indonesia masih harus menggantunkan pada daging impor. dan lain-lain. apakah Indonesia dan Malaysia mampu “mendominasi” harga keseimbangan pasar CPO di tingkat global. Pangsa atau kontribusi produksi CPO Indonesia kini telah mencapai 44. lebih tinggi dari 41.

Tabel 3.062. sekitar 2. Telur dan Produk Peterakan Lain.382.051. 2008 Saat ini.2 294.1 536.484. Ketersediaan Daging.4 2004 Daging Ayam ras pedaging Ayas ras petelur Ayam Buras Sapi potong Babi Lainnya Telur Itik Ayam buras Ayam ras Susu segar 2.6 217.3 1.0 175.9 861. Departemen Pertanian.7 158.1 45.2 301.1 567.4 447.7 173.3 kilogram per kapita untuk daging ayam broiler.204.020.4 235.069.7 992.817.027.9 339.5 944. Perbedaan statistik peningkatan konsumsi yang mencapai 2-3 kali lipat di 23 .7 239.6 341.3 57.2 172.2 1.8 196. dan sebagainya.4 681. Demikian pula untuk konsumsi susu yang meningkat 105 juta ton di negara berkembang dan hanya 50 juta ton di negara maju.5 942.169.2 1.0 210.4 173. sekitar 3.9 1.8 58.4 296.1 48.0 779.7 187.6 194. Disamping itu. 2004-2008 (ribu ton) 2008 2.7 Sumber: Ditjen Peternakan. Tingkat konsumsi daging dan susu di Indonesia dan negara berkembang memang tergolong memang masih 4-5 kali lebih rendah disbanding tingkat konsumsi di negara-negara maju.0 2006 2. sementara di negaranegara maju hanya 26 juta ton.9 2005 1.15 kilogram per kapita per tahun untuk daging sapi.3 kilogram per kapita untuk susu.0 549. sebagian besar tingkat konsumsi protein hewani Indonesia masih lebih besar dari kemampuan penyediaannya.7 58.5 352.6 223.3 395.5 230.4 846. dan 9.107.3 1.8 616.1 207. tingkat konsumsi produk hewani per kapita di Indonesia masih sangat kecil. kecuali telur ayam yang menujukkan surplus.1 762.6 574.9 208.9 1.3 kilogram per kapita.5 195.5 225. sekitar 1.5 2007 2. Namun laju peningkatan konsumsi daging di negara berkembang pada periode 1971-1995 tercatat 70 juta ton.2 307.4 193.4 358.0 816.6 194.

Revolusi Peternakan ditandai oleh berkembang pesatnya industri ayam petelur.atas juga cukup konsisten apabila diukur dengan indikator lain seperti nilai konsumsi dan kuantitas kalori yang dihasilkan. sering dinamakan Revolusi Peternakan (Livestock Revolution). Tidak kalah pentingnya. Sektor peternakan memang sejak awal perkembangannya tumbuh dan berkembang karena merespons tingginya permintaan terhadap daging. yang sebenarnya telah dimulai sejak awal 1970-an. telur dan produk berkualitas lainnya. bahka di seluruh sistem agribisnis berbasis peternakan. dan persyaratan kualitas nutrisi dan kesehatan lainnya. yang ditandai dengan maju dan membaiknya tingkat efisiensi. 24 . ayam pedaging dan ayam kampung sendiri. sejak akhir 1970an. Revolusi peternakan didorong oleh sisi permintaan (demand-driven) karena perubahan konsumsi dari sumber kalori berbasis karbohidrat menjadi berbasis kandungan protein tinggi. Tingginya angka pertumbuhan yang juga terjadi di belahan lain di muka bumi. Tidak berlebihan untuk disampaikan bahwa sektor peternakan adalah salah satu sektor andalan dalam sistem dan usaha agribisnis di Indonesia yang telah menerapkan strategi demand-driven yang sebenarnya. Di Indonesia. pupuk. Sektor stratgis yang melibatkan usaha rumah tangga dan menyerap jutaan lapangan kerja di pedesaan dan perkotaan tersebut tidak semata menjalankan sistem produksi dengan supplyoriented yang sangat rentan tehadap anjloknya harga karena kelebihan penawaran. industri pakan ternak yang umumnya terkait dengan investasi asing dan beroperasi dengan skala besar juga tumbuh pesat. pestisida dan sebagainya. suatu pergeseran sangat substansial dari pangan berbasis karbohidrat menjadi berbasis protein dan kandungan nutrisi tinggi. Revolusi Peternakan amat berbeda secara fundamental dengan Revolusi Hijau (Green Revolution) di sektor tanaman biji-bijian yang lebih banyak didorong oleh sisi suplai (supply driven) produksi dengan karakter perubahan teknologi baru biologi dan kimiwai seperti varietas unggul.

keterbatasan lahan pertanian dan tuntutan kualitas higienis produk peternakan serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Disamping itu. Sektor peternakan tercatat sebagai salah satu sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkages) yang tinggi. perubahan lingkungan eksternal yang demikian cepat tersebut pastilah menuntut kemampuan ekstra para perumus kebijakan dan para pelaku ekonomi untuk mengantisipasi kompleksitas proses transformasi tersebut yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan penduduk. Demikian pula. Dengan demikian pemerintah dapat mampu mencurahkan perhatian secara all-out terhadap wabah flu burung dan sektor peternakan umumnya. Ketergantungan dan tingkat sensitivitas yang demikian tinggi antara keduanya telah mewarnai pasang-surut sektor peternakan Indonesia. Maksudnya. Untuk itu. ketidak-mampuan para peternak kecil-menengah untuk memenuhi pakan ternak karena melonjaknya harga pakan ternak impor pada puncak krisis ekonomi turut berkontribusi pada anjloknya kinerja peternakan. apabila terganggu sedikit saja. keterkaitan ke depan (forward linkages) sektor 25 . yang mencatat angka pertumbuhan negatif 2 persen per tahun pada periode 1997-2001. Sesuatu yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa industri pakan ternak ini nyaris identik dengan investasi dan kapasitas produksi domestik. terutama subsektor unggas dengan industri pakan ternak. Kinerja cukup baik dengan tingkat pertumbuhan di atas 6 persen per tahaun pada dekade 1980an sampai awal 1990an pasti tidak dapat dilepaskan dari kemampuan dan kegigihan para peternak dalam mengantisipasi perubahan dan inovasi baru dalam teknologi sektor peternakan. yang tentu saja mensyaratkan perbaikan tingkat efisiensi ekonomi.Dalam ekonomi pembangunan. fenomena tersebut dikenal dengan istilah Revolusi Peternakan karena pada saat bersamaan industri pakan ternak skala kecil dan besar pun berkembang cukup besar. peningkatan permintaan. maka strategi untuk memperkuat fondasi pemulihan ekonomi juga pasti terganggu.

yaitu mencapai 8. maupun tingkat intenasional. yang masih belum mampu menjawab tantangan struktural di dalamya. sosial dan politik. (3) kedelai akan merespon signal insentif harga baik di tingkat domestik. Hal tersebut 26 . Dalam hal ini. pulih kembali pasca krisis dengan laju permintaan 9. (6) terigu akan menyesuaikan diri dengan peningkatan permintaan.25 persen per tahun pada masa puncak krisis ekonomi.83 persen per tahun selama tiga dasa warsa terakhir. yaitu: (1) beras akan terus menempati posisi strategis secara ekonomi. angka kesempatan kerja dan devisa yang dihasilkan karena keterkaitan ke depan ini pun sangat besar. terutama industri perunggasan dengan industri hasil makanan. beras merupakan pangan pokok dan memberikan peran hingga sekitar 45 persen dari total food-intake. Berikut ini akan diuraikan secara rinci karakter menonjol dari seluruh tujuh komoditas pangan strategis di tingkat nasional. industri hotel dan restoran dan sektor pariwisata lainnya juga cukup tinggi. maupun berupa disinsentif karena anjloknya harga dan lainnya. atau sekitar 80 persen dari sumber karbohidrat utama dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. angka laju permintaan atau konsumsi terhadap daging ayam sangat tinggi. Mislanya.75 persen per tahun pada tingkat konsumsi sekitar 820 ribu ton per tahun. dan (7) daging akan terus mencari titik keseimbangan baru produksi. baik karena faktor historis. maupun karena ideologis dan emosional sebagian besar penduduk Indonesia. serta tingkat konsumsi yang akan berkembang pesat. Laju permintaan pernah anjlok minus 5. baik berupa insentif karena tingginya harga. walaupun sulit berharap banyak dari gandum domestik. (5) minyak goreng akan mengalami transisi konsumsi yang lebih responsif terhadap harga bahan baku CPO. (4) gula akan mengalami komptisi internal gula tebu dengan gula rafinasi. impor dan negara asal. (a) Beras dan Karakter Komoditas Strategis Di Indonesia. (2) jagung akan mengalami transisi yang cukup signifikan dari posisi komoditas pangan menjadi bahan baku industri pakan.peternakan.

walaupun lebih banyak terfokus pada kebijakan harga. baik di tingkat akademik. Segmentasi pasar beras terjadi karena perubahan rezim kebijakan itu sendiri. Bali-Nusa Tenggara) pada masa Orde Baru (1975-1997) telah terintegrasi secara spasial. Pemerintah bahkan perlu secara berkala megeluarkan interensi kebijakan perberasan. walau tidak penuh. pasar beras semakin tersegmentasi dalam rezim Pasar Bebas dan Pasar Terbuka Terkendali. pola konsumsi masyarakat. sosial. dinamika pembangunan daerah dan sebagainya. Kemudian. atau untuk berkontribusi pada stabilitas harga pangan pokok ini. Sulawesi. Data time series bulanan selama 29 tahun di 24 propinsi menunjukkan kecenderungan sebagai berikut: Pertama pasar beras di lima wilayah kepulauan di Indonesia (Sumatera. disparitas harga.relatif merata diseluruh Indonesia. maupun di tingkat politis. Diantaranya adalah bahwa kebijakan pangan Indonesia harus menempatkan kebijakan perberasan sebagai salah satu pilar utamanya. distribusi (tataniaga). tepatnya penentuan harga pembelian pemerintah (HPP). mulai dari sistem produksi. sekaligus perlindungan untuk konsumen miskin. Kondisi ini sebenarnya merupakan hasil perekayasaan kultural yang memberi konsekuensi luas. serta karna faktor infrastruktur yang kurang baik. maksudnya secara nutrisi. karakter strategis komoditas beras tidak dapat dilepaskan dari struktur perdagangan beras yang relatif tidak sehat. perdagangan ekspor dan impor. penyelundupan yang makin marak. ekonomi. Jawa. Kedua. Landasan perundangan terakhir yang dikeluarkan pemerintah adalah kebijakan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2008. dan lalu lintas barang yang tidak lancar akibat dari hambatan peraturan daerah. beras tetap merupakan pangan terpenting bagi sebagian besar masyarakat. dan budaya. Kalimantan. yang juga dimaksudkan untuk memberikan insentif produksi dan perlindungan kepada petani beras. kinerja stabilisasi harga yang diukur dari tingkat 27 . Namun demikian. Beras dapat dikatakan sebagai komoditas pangan yang paling banyak mendapat perhatian.

yang bersifat pokok ini. juga menunjukkan hasil yang tidak terlalu mengejutkan. sebagaimana bagian dari instrumen pengendalian laju inflasi. Studi tentang cadangan pangan ini menemukan bahwa pengadaan gabah oleh Bulog atau kebijakan operasi pembelian gabah petani 28 . Pada daerah-daerah dengan kondisi fisik-geografis sulit dicapai dan sosial-politik tidak stabil. harga dasar gabah (floor price) dan harga atap (ceiling price) beras tidak lagi di-enforced dan Bulog tidak lagi memiliki kekuasaan monopoli dalam impor beras. Perubahan harga beras konsumen tidak direspons secara cepat oleh harga gabah petani. maksudnya perubahan harga gabah petani cepat sekali mempengaruhi harga beras konsumen. Hal yang sebaliknya tidak terjadi. Cadangan pangan di Indonesia meliputi cadangan tetap (iron stock). tapi petani tidak banyak menerima manfaat dari kenaikan harga beras tersebut. cadangan penyanggah ini perlu lebih besar. sehingga diharapkan mampu benar-benar menyanggah kemungkinan gejolak harga dan kuantitas pangan. Hasil analisis ini sekaligus merupakan konfirmasi anggapan umum bahwa selama ini kebijakan stabilisasi harga yang ad-hoc seperti sekarang ini memang lebih banyak difokuskan stabilitas harga beras konsumen. Transmisi harga dari gabah petani ke beras konsumen lebih cepat terjadi. kerentanan terhadap fenomena alam dan moda atau karakter transportasi pada lokakitas tertentu misalnya. Integrasi pasar secara vertikal hanya terjadi pada rezim Orde Baru dan tidak sama sekali pada rezim Pasar Bebas dan pada rezim Pasar Terbuka Terkendali. lokasi geografis. Komoditas beras mengalami permasalahan struktural tentang ketidakjelasan fungsi stok penyangga. Stok penyangga berbeda menurut daerah. pasar gabah dan pasar beras menjadi agak liar setelah Presiden Soeharto berhenti menjadi Kepala Negara. yang harus tersedia.integrasi vertikal antara pasar gabah dan pasar beras. Walaupun harga beras melonjak sangat tinggi. dan cadangan penyanggah (buffer stock). Maksudnya. terutama untuk mengatasi kondisi darurat.

Walaupun pangsa produksi yang berasal dari Pulau Jawa masih lebih dominan. peran peningkatan areal tanam di Luar Jawa: terutama Sumatera dan Sulawesi adalah kontributor penting peningkatan produksi jagung di Indonesia.hanya efektif dalam masa Orde Baru. jagung lebih banyak digunakan untuk 29 . Areal panen bertambah sangat signifikan lebih 8 persen per tahun. Ketika pada dekade 1980-an. Pengaruh musim terhadap jumlah beras tidak terlalu signifikan. tapi tidak efektif pada Pasar Bebas dan Pasar Terbuka Terkendali. (b) Jagung dan Fenomena Hibrida Peningkatan produksi jagung dengan laju lebih 14 persen per tahun dalam beberapa tahun terakhir tentu tidak dilepaskan dari peran jagung hibrida. dan tidak pada rezim Pasar Bebas dan Terbuka Terkendali. Maksudnya Bulog berperan cukup baik sebagai lembaga stabilisasi harga harga gabah tingkat petani hanya pada masa Orde Baru. Areal panen dan produksi palawija masih mengandalkan lahan pertanian di Jawa. yang mulai banyak ditanam di Indonesia sejak dekade 1990-an. Saat ini jumlah beras untuk operasi pasar murni mulai dikurangi dan sejak 2004 telah dimodifikasi menjadi Program Raskin (beras untuk keluarga miskin). faktor operasi pasar murni signifikan pada bulan Januari. dan tidak banyak berperan pada masa Pasar Bebas dan Pasar Terbuka Terkendali seperti sekarang ini. karena pada bulan-bulan lain tidak terlihat pengaruh yang nyata. Pada rezim Pasar Terbuka Terkendali. yang semakin diminati oleh masyarakat dan para pengambil kebijakan. kecuali pada bulan Februari dan Maret pada rezim Orde Baru. yang secara teoritis dan empiris tidak akan mampu menopang beban-beban produksi pertanian dan bahan pangan di Indonesia. Hal yang cukup menarik adalah bahwa peran Bulog dalam stabilisasi harga beras konsumen tidak ada sama sekali pada ketiga rezim atau sepanjang periode observasi. sedangkan produktivitas juga bertambah sektiar 4 persen per tahun.

di Jawa dan Lampung sebagai pangan dan bahan baku industri. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur Tujuan produksi jagung di Sumatera Utara sebagian besar untuk dijual (tujuan komersial). jagung lokal dengan varietas genjah juga ditanam pada lahan dengan intensitas pompa air lebih dari 42 hektar per pompa. konsumsi. Jawa Timur. 1 milyar ekor per tahun ayam broiler dan petelur. plus puluhan juta bebek. yaitu: Sumatera Utara. Jawa Tengah. khususnya unggas. Relevansi jagung hibrida dalam sistem pangan di Indonesia adalah posisinya sebagai bahan baku industri pakan ternak. burung dan lain-lain.pangan. Di Madura. Jumlah populasi unggas (standing population) yang diperkirakan 630 juta ekor per tahun ayam kampung. Demikian pula. Jagung lokal umumnya digunakan untuk pangan dan tidak dapat dijadikan bahan baku industri pakan. tujuan produksi jagung di Sulawesi juga digunakan untuk bahan baku industri makanan ternak. kemitraan antara petani kecil dan usaha agribisnis. Sesuatu yang perlu ditekankan di sini adalah jagung lokal dan jagung hibrida adalah dua komoditas yang berbeda. tentulah memerlukan penyediaan pakan ternak yang 30 . sehingga sangat berpengaruh pada sistem produksi. kini sebagian besar dari produksi jagung Indonesia digunakan untuk pakan ternak atau sebagai bahan baku industri pakan ternak. Pola kerja sama petani swasta dengan petani. harga dan perdagangan ternak. jagung hibrida digunakan untuk bahan baku industri dan tidak dapat digunakan sebagai pangan. sistem produksi jagung yang terintegrasi dengan industri pakan ternak adalah beberapa perkembangan terkini yang mewarnai ekonomi jagung Indonesia sekarang. Karakter jagung hibrida yang banyak ditanam di lahan sawah dan lahan kering dengan curah hujan tinggi sebenarnya merupakan perkembangan yang sangat menarik. Pasca masuknya jagung hibrida. dan di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi sebagai pangan pokok. Sentra produksi jagung di Indonesia sebenarnya relatif tidak banyak berubah. Lampung.

Secara genetis. Tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa faktor heterosis pada jagung hibrida jauh lebih tinggi dari padi hibrida dengan faktor heterosis 10-20 persen saja. Sebenarnya. potensi peningkatan produktivitas jagung hibrida di Indonesia masih sangat tinggi mengingat perbedaan produksi – atau disebut tingkat heterisis – jagung hibrida dan non-hibrida mencapai 75-100 persen. Produksi rata-rata jagung non-hibrida masih berkisar 3-4 ton biji kering per hektar.5 – 3 juta ton per tahun. serta perkembangan industri pengolahan dengan baku kedelai seperti tahu.5 persen per tahun. (c) Kedelai dan Kesalahan Insentif Penyediaan kedelai di Indonesia sebenarnya masih akan tetap prospektif karena produksi dalam negeri tahun 2008 sekitar 700 ribu ton masih sangat jauh dari kebutuhan konsumsi kedelai nasional yang mencapai 2. Teknologi benih hibrida adalah upaya manusia untuk merekonstruksu seluruh pasangan gen pada tanaman menjadi heterozigot. sedangkan jagung hibrida berkisar 7-8 juta ton. Hal ini tentu sangat berbeda dengan padi yang menyerbuk sendiri (self-pollination) dan memiliki pasangan gen samasepadan atau homozigot. Produktivitas jagung hibrida pasti lebih tinggi dibanding jagung non-hibrida karena fenomena heterosis tersebut. dengan jalan membuat benih berasal dari persilangan.memadai. Indonesia masih harus mengandalkan kedelai impor untuk memenuhi permintaan di dalam negeri. karena sektor ini mampu menyerap lebih dari 10 juta tenaga kerja dengan omzet lebih dari US$ 30 miliar per tahun. selain karena pertumbuhan penduduk yang mencapai 1. Dengan kata lain. Laju konsumsi kedelai masih akan terus meningkat. Sewaktu harga kededai 31 . sehingga agak sulit jika dijadikan sebagai tumpuah utama peningkatan produksi padi di Indonesia saat ini. tempe. kecap dan sebagainya. tanaman jagung berkembang biak dengan penyerbukan silang (cross pollination) dengan susunan pasangan gen yang tidak sepadan atau heterozigot.

impor masih cukup murah, sekitar US$ 240 per ton, para pelaku industri, baik skala kecil menengah maupun skala besar, tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku kedelai impor. Ketika harga kedelai di pasar dunia tibatiba melambung sangat tinggi mencapai US$ 520 per ton per Januari 2008, dari hanya US$ 306 per ton pada Januari 2007, Indonesia nyaris dilanda krisis kedelai di dalam negeri. Pada masa Orde Baru Indonesia memang pernah memberikan keleluasaan kepada Bulog untuk melakukan monopoli impor kedelai dengan pertimbangan untuk stabilitas harga dan pasokan kedelai, terutama bagi pelaku usaha kecil dan koperasi pengrajin tahu-tempe Indonesia (Kopti). Fluktuasi harga kedelai di pasar dunia ikut mempengaruhi harga kedelai di pasar domestik, walaupun pada tingkat harga yang rendah. Kondisi ini tidak memberikan insentif kepada petani kedelai untuk berproduksi sebanyak 2,1 juta ton/tahun agar tercapai target swasembada kedelai. Pada puncak krisis ekonomi, atas saran Dana Moneter Internasional (IMF), pemerintah meliberalisasi perdagangan kedelai dengan memberlakukan bea masuk 0 persen. Pedagang besar diuntungkan oleh kebijakan penghapusan monopoli, karena marjin bruto riil kedelai pada periode pasca monopoli lebih besar. Secara umum marjin perdagangan kedelai lebih stabil menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif untuk para pedagang kedelai pada periode pasca monopoli. Pada kondisi harga internasional yang rendah, keteraturan pasokan kedelai dan rendahnya harga riil kedelai impor menguntungkan pengarjin tahu dan tempe dan industri pengolahan kedelai. Sekali lagi, harga kedelai yang

rendah tidak menguntungkan usahatani kedelai, dan bahkan koperasi (Kopti) yang masih diliputi masalah internasl kelembagaan, karena secara umum kalah bersaing dengan pedagang besar. Sebenarnya, tidak ada yang mustahil di bumi Indonesia untuk dapat menghasilkan kedelai dengan produktivitas yang lebih baik dari saat ini, yang

32

hanya tercatat 1,31 ton per hektare. Angka produktivitas itu hanya setengah dari produktivitas kedelai di luar negeri. Tentu tidak seimbang membandingkan produktivtias kedelai Indonesia dengan kedelai AS yang memperoleh full-support dari pemerintahnya karena besarnya kekuatan lobi politik asosiasi kedelai di sana (American Soybean Association). Sementara di Indonesia, kekuatan lobi kedelai adalah perajin tahu-tempe atau yang tergabung dalam koperasi tahu-tempe, yang nota bene merupakan konsumen kedelai, bukan petani kedelai. Mereka menjadi gamang sendiri, dan tidak jarang serba salah, mengingat agenda yang diperjuangkan adalah untuk menurunkan harga kedelai di dalam negeri, bukan untuk memberikan insentif pagi peningkatan produksi. Potret demografis dan kondisi sosio-psikologis perajin tahu-tempe saat ini berbeda dengan potret orang tua atau generasi pearjin tahu-tempe pada era 1990-an. Jika pada dekade lalu, perajin tahu-tempe masih merangkap sebagai petani kedelai, generasi saat ini umumnya hanya menjalankan profesi sebagai perajin saja, dan hanya sedikit yang memiliki lahan usahatani kedelai. Fenomena spesifikasi usaha seperti itu menjadi faktor „terbelahnya‟ sistem insentif di sektor hulu (produksi) dengan di sektor hilir (distribusi dan konsumsi). Tidak terlalu heran jika koordinasi dan integrasi kebijakan antara Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan memang merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan di Indonesia. Indonesia sebenarnya memiliki banyak pemulia tanaman (breeder) kedelai yang telah mampu menghasilkan galur harapan varietas kedelai, yang sekaligus tahan serangan penyakit virus kerdil (SSV=soybean stunt virus). Di tingkat percobaan, produktivitas kedelai galur ini mampu menghasilkan biji kedelai 2,8 ton per ha, suatu pekerjaan penelitian panjang yang tidak sia-sia. Sekarang, semua terpulang kepada pemerintah, apakah berminat (1) untuk mengembangkan varietas kedelai lokal yang telah dihasilkan oleh peneliti-peneliti terbaik di negeri ini, atau (2) akan terus mengandalkan kedelai impor AS yang sangat mungkin

33

menggunakan benih rekayasa genetika (transgenik) yang kontroversial tersebut. Jika langkah pertama yang ingin diambil, pemerintah perlu segera melakukan terobosan dalam uji adaptasi, uji multilokasi, dan memberikan insentif bagi pemerintah daerah yang melaksanakan misi nasional sangat penting ini. Jika langka kedua yang ingin diambil, seperti misalnya melanjutkan kebijakan tarif impor 0%, secara semu akan terlihat bahwa keteraturan pasokan kedelai akan terjamin dan harga riil kedelai impor akan murah. Langkah ini dikatakan semu karena petani kedelai benar-benar diadu langsung dengan petani luar negeri, koperasi tahu-tempe lambat-laun akan mati, dan sokoguru ekonomi Indonesia dikuasai pedagang besar. (d) Gula dan Kemelut Struktural Sistem produksi gula sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari karakter sistem usahatani tebu skala kecil yang sangat dominant di Jawa dan berafiliasi dengan PT Perkebunan Nusantara dengan persoalan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Pada sisi ekstrem lainnya, sistem produksi agribisnis perkebunan gula skala besar di Luar Jawa menjadi sangat dominan dalam penguasaan lahan, manajemen distribusi sumber daya alam dan penguasaan informasi dan lain-lain. Berhubung masalah yang melingkupi komoditas gula bersifat struktural, langkah peningkatan produksi tebu di tingkat usahatani, upaya intervensi melalui kebijakan tataniaga dan strategi revitalisasi industri gula di dalam negeri, semuanya belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Demikian pula, manajemen perdagangan atau sistem tataniaga gula dan bahan pangan lain yang bersifat strategis sebenarnya bukanlah barang baru di Indonesia karena sejarah ekonomi pertanian di negeri ini juga lahir dan berkembang bersama legasi sebuah lembaga parastatal yang melibatkan manajemen kebijakan negara. Kebijakan yang awalnya dimaksudkan untuk “mengatur” aktivitas impor gula melalui Surat Keputusan Menteri Perindustrian

34

dan Perdagangan (SK No. 643/MPP/Kep/9/2002) tentang Tataniaga Impor Gula (TIG) ternyata telah menimbulkan reaksi dan hasil akhir yang sangat beragam. Kebijakan tataniaga itu memberikan privilis kepada importir produsen (IP) untuk mengimpor gula mentah (raw sugar) dan kepada importir terdaftar (IT) untuk mengimpor gula putih (white sugar) yang tidak lain adalah perkebunan gula yang memiliki perolehan bahan baku 75 persen berasal dari petani. Perusahaan

perkebunan yang memenuhi kualifikasi sebagai IT adalah empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masuk kualifikasi, yaitu: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, PTPN X, PTPN XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI). Pada sisi lain, kebijakan itu juga memberikan peluang bagi pengembangan industri gula rafinasi, yang khusus memutihkan gula mentah impor yang umumnya tidak layak untuk dikonsumsi secara langsung. Catatan penting dari SK 643/2002 terebut adalah bahwa gula mentah dan gula rafinasi (refined sugar) yang diimpor oleh importir produsen (IP) hanya dipergunakan sebagai bahan baku untuk proses produksi pengolahan gula, dan dilarang diperjualbelikan serta dipindahtangankan. Walaupun debat publik yang berkembang seakan serempak memberi peringatan atas rekam jejak (track record) perkebunan gula yang tidak memiliki pengalaman dalam aktivitas impor, kebijakan tataniaga itu tetap dilaksanakan. Analisis kritis terhadap sistem

tataniaga gula tersebut pasti selalu menarik karena keterburuan kebijakan dan berbagai entry barriers yang justru menimbulkan “jalan pintas” bagi para pemburu rente. Kemudian, upaya perbaikan kebijakan pengaturan impor gula dengan penerbitan Kepmen baru yaitu Nomor 527MPP/Kep/9/2004 tertanggal 17 September 2004 tentang Ketentuan Impor Gula (KIG). di antaranya dengan

kembali melibatkan BUMN Perum (Perusahaan Umum) Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) dalam perdagangan gula di Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan kinerja kebijaikan

35

tataniaga gula dalam lima tahun terakhir adalah bahwa mandat kebijakan tersebut terlalu berat untuk dicapai oleh sistem administrasi pemerintahan yang sedang mengalami persoalan besar transparansi dan akuntabilitas yang mengganggu. Dalam lima tahun terakhir, ekonomi pergulaan Indonesia semakin kompleks setelah langkah restrukturisasi industri gula domestik juga disertai perkembangan indsurtri gula rafinasi (refinary) yang lumayan cepat. Selain untuk mendongkrak nilai tambah ekonomi, industri rafinisasi gula memiliki pangsa pasar yang berbeda dengan industri gula putih biasa, karena ia lebih banyak tertuju pada industri makanan dan minuman di dalam negeri. Tidak dapat disangsikan, bahwa investasi baru dan pengembangan industri gula rafinasi akan menjadi peluang besar bagi peningkatan kapasitas industri domestik dan penyerapan lapangan kerja. Untuk investasi baru dalam bidang gula rafinasi, pemerintah menerapkan kebijakan bea masuk lima persen selama dua tahun pertama, seperti dinyatakan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor. 135/KMK.05/2000. Ketentuan yang sama tentang keringana bea masuk ini juga berlaku kepada industri rafinasi yang melakukan perluasan usahanya. Hasilnya, dalam waktu relatif singkat, industri gula rafinasi berkembang sangat pesat, dengan lima industri besar di Jawa yang berkapasitas sekitar dua juta ton. Kerumitan baru dengan kehadiran industri rafinasi di Indonesia tidak sebatas karena diskriminsasi bea masuk atau keleluasaannya melakukan impor gula mentah, tapi keterkaitannya dengan kinerja industri bahan makanan dan minuman, yang umumnya milik asing. Industri gula rafinasi di Indonesia yang memasok gula putih ke perusahaan besar makanan dan minuman dituntut untuk selalu konsisten menghasilkan produk gula dengan spesifikasi yang ditentukan oleh perusahaan induknya di luar negeri. Pada situasi karakter usahatani tebu saat ini, kecil kemungkinan industri gula rafinasi akan menggunakan bahan baku gula tebu dari petani di dalam negeri, apalagi yang berskala kecil. Dalam istilah

36

dikhwatirkan dapat menekan harga gula di tingkat petani.37 persen. di sinilah terdapat “interlocking system” yang tidak memihak petani kecil di dalam negeri akibat dari ketidakmatangan kebijakan pengembangan industri gula rafinasi di Indonesia. fenomena aliran gula mentah impor ini ke pasar bebas. maka tak seorang pun dapat menjamin bahwa gula mentah yang diimpor oleh industri rafiniasi (atau oleh mitra dagang yang bersangkutan) tidak akan merembes ke pasar domestik. minyak goreng menghadapi permasalahan instabilitas pasar minyak sawit mentah (CPO). industri minyak makan di dalam negeri mengalami kesulitan bahan baku CPO karena para petani. Situasi menjadi semakin rumit ketika industri makanan dan minuman sekala besar juga memperoleh status sebagai importir produsen (IP) gula dan memiliki privilis untuk mengimpor gula mentah. pemilik kebun dan agribisnis kelapa sawit skala besar telah memilih pasar ekspor sebagai tujuan akhir pemasarannya. Benar bahwa kontribusi kenaikan harga minyak goreng terhadap inflasi tidak setinggi kenaikan harga beras. Ketika harga CPO dunia mencapai US$ 1200 per ton. membiarkan masyarakat menerima pukulan bertubi-tubi seperti 37 . (e) Minyak Goreng dan Instabilitas Pasar CPO Sebagai salah satu komoditas strategis. Akan tetapi. yang sangat jauh dibanding pengeluaran rumah tangga terhadap biji-bijian (beras) 11.97 persen. Harga minyak goreng yang tinggi sangat memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah dan industri makanan skala mikro dan kecil. Dengan karakter penegakan hukum yang lemah atau kualitas administrasi kebijakan yang masih banyak bermasalah.ekonomi politik. tentu saja dengan ketentuan bea masuk impor yang sama dengan pabrik gula tebu dan pabrik gula rafinasi. Hasil Survai Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS) terbatas tahun 2006 menyebutkan bahwa kontribusi pengeluaran rumah tangga terhadap minyak dan lemak hanya 1. Pada musim giling. sampai ke pelosok di sentra produksi tebu.

Sebagian besar produsen (dan pedagang) CPO melakukan sistem penjualan produknya ke pasar dunia dengan cara tiga bulan ke depan (forward) dan memperdagangkannya di pasar berjangka (futures). Ditambah lagi. melaksanakan suatu command and order seperti pada masa lalu tersebut ternyata tidak mudah. Skema kebijakan lain coba diambil. Dalam skema DMO ini. Rumah tangga miskin dan industri makanan skala kecil cenderung memakai ulang minyak goreng sisa (jelantah) berkali-kali melebihi ambang batas toleransi tubuh manusia terhadap makanan berlemak sangat jenuh tersebut. Untuk mengatasi lonjakan harga minyak goreng tersebut. Di sinilah. sebenarnya masyarakat juga telah cukup letih dengan pengalaman industri pupuk yang menghadapi masalah sejenis. karena lembaga negara tidak terlibat secara sistematis. Sangat sulit berharap efektivitas PSH di tengah situasi pasar yang tidak normal. Akan tetapi. walaupun sulit untuk dilaksanakan secara baik di lapangan.melambungnya harga beras dan kebutuhan pokok lainya tentu sulit diterima akal sehat. 38 . amat berharap bahwa pemerintah mampu berwibawa mengawal dan melaksanakan wajib pasok kepada kebutuhan industri domestik. misalnya dengan mewajibkan kalangan industri untuk memasok kebutuhan CPO dalam negeri (DMO=domestic market obligation). dan kemungkinan underestimasi konsumsi minyak goreng 300 ribu ton per bulan tersebut. Tidak terlalu mengherankan apabila transaksi pasar fisik dan spot CPO jauh lebih berkembang dibandingkan dengan komoditas hasil perkebunan lain di Indonesia. dampak berantai kenaikan minyak goreng adalah terancamnya kualitas kesehatan masyarakat lapis bawah. Strategi stabilitasi yang tanpa strategi pasti tidak akan menghasilkan apa-apa karena dilakukan dengan setengah hati dan ”atas belas kasihan” pengusaha. pemerintah sebenarnya telah mencoba melakukan langkah intervensi dengan melaksanakan program stabilisasi harga (PSH) dan melibatkan produsen minyak goreng.

dari harga di atas US$ 1200 per ton pada bulan Juni 2008. Berbeda halnya dengan petani yang telah menjalin kemitraan dengan BUMN atau swasta besar.kekhawatiran bahwa kebijakan DMO dapat menjadi “subsidi harga terselubung” dari petani sawit dan industri skala kecil-menengah terhadap industri besar CPO yang juga memiliki pabrik minyak goreng. Akibatnya. petani sawit terpaksa harus menerima kenyataan bahwa harga tandan buah segar (TBS) di lapangan hanya dihargai Rp 350 per kilogram. maupun karena produksi minyak nabati lain di AS dan UE yang sedang membaik. karena pasar saham dan pasar keuangan yang juga anjlok. Petani sawit Indonesia tentu agak sulit untuk memahami bahwa Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) mengurangi permintaan impor CPO – baik karena dampak krisis keuangan global. Pelaku ekonomi skala besar ini umumnya mementingkan penyerapan produksi TBS dari kebunnya sendiri atau maksimal dari petani plasmanya sendiri. suatu penurunan di luar akal sehat karena pada bulan Juni 2008 harga TBS masih terjual di atas Rp 1800 per kilogram. Sekadar catatan. Seandainya berbagai instrumen perlindungan harga komoditas pertanian (seperti instrumen resi gudang atau mekanisme pasar lelang) 39 . walaupun juga mengalami penurunan harga. ketika pasar CPO internasional menjadi lesu. petani sawit yang paling terpukul adalah petani yang bekerja sendiri (stand-alone) atau yang tidak menjalin kemitraan dengan BUMN atau agribisnis swasta skala besar. Kemudian. untuk kemudian membeli TBS dari petani sawit dalam program kemitraan. yang umumnya memperoleh harga beli yang agak lebih tinggi. Petani tunggal ini harus mencari pembeli atau pedagang pengumpul TBS dengan harga yang agak layak dan harus berpacu dengan waktu untuk mengurangi derajat rusak atau derajat busuk dari hasil panennya. harga CPO di pasar dunia tiba-tiba anjlok di bawah batas psikologis US$ 700 per ton.

Pengembangan gandum domestik masih belum mengalami kemajuan yang berarti. Institut Pertanian Bogor (IPB) dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia dengan dukungan Indofood melakukan uji tanaman gandum di 24 lokasi yang tersebar di Sumatera Barat. dan (2) curah hujan. yaitu: (1) ketinggian tempat. menentukan ketersediaan air yang berhubungan dengan waktu tanam (temporal). dan Nusa Tenggara Timur. sekitar 2 juta hektar sangat cocok untuk ditanam gandum. Hasil-hasil penelitian tersebut secara ringkas dapat disimpulkan bahwa dari sekitar 20 juta hektar lahan pertanian di Indonesia. tingkat konsumsi tepung terigu di Indonesia meningkat sangat pesat. (f) Terigu dan Kompleksitas Gandum Domestik Walaupun tidak memproduksi gandum sendiri. baik dalam bentuk konsumsi terigu langsung oleh masyarakat. Sulawesi Selatan. mungkin petani sawit tidak harus menanggung dampak buruk penurunan harga seperti saat ini.di dalam negeri telah berkembang. maupun dalam bentuk konsumsi pangan olahan yang terbuat dari terigu. Studi ekonomi gandum di Indonesia lebih banyak berkisar tentang hegemoni atau struktur pasar gandum impor yang monopolis karena berhubungan dengan proses pengambilan keputusan kebijakan pada masa Orde Baru. Dengan karakter pembatas utama itu. maka daerah-daerah pegunungan yang memiliki suhu rendah seperti Bukit Barisan di Sumatera dan daerah pegunungan Pulau Jawa Bagian Selatan dapat dijadikan sentra produksi gandum dengan produksi tinggi. walaupun Kelompok Usaha Indofood sebagai pengolah gandum terbesar telah melakukan inisiasi “Proyek Gandum 2000” untuk mengenalkan tanaman gandum kepada petani Indonesia. 40 . Peta pewilayahan produksi gandum di Indonesia memiliki dua pembatas utama. menentukan suhu udara yang berhubungan dengan sebaran lokasi spasial.

menentukan mutu ekspor gandum dan tepung terigu (Pakistan). negara-negara produsen gandum dunia telah memberlakukan larangan ekspor gandum (seperti Bolivia.7 kilogram daging sapi menurut Asosiasi Produsen 41 . Estimasi data konsumsi daging di Indonesia berbeda menurut lembaga. melarang ekspor gandum ke Belarussia (Rusia).Ketika harga bahan bakar minyak di pasar global naik sangat tinggi. Meksiko. sekitar 1. dan lain sebagainya. dan tepung jagung (seperti yang ditempuh Bolivia). menghapus tarif gandum tepung terigu (Ekuador. Maroko. Indonesia masih harus menggantungkan kebutuhan daing sapi dari pasar luar negeri. dengan pertimbangan agar komoditas pangan yang dihasilkan negara-negara berkembang. tepung gandum dan beras.6 kilogram per kapita per tahun menurut (Survai Sosial Ekonomi Nasional . kebijakan yang diambil Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah menghapus tarif bea masuk gandum (dan kedelai). beberapa negara juga menerapkan kuota perdagangan gandum. Korea. Negara-negara importir gandum lain juga merespon harga pangan global dengan menghapus pajak impor gandum. maka ongkos angkut untuk bahan pangan berbasis biji-bijian. sedang coba menetapkan kuota ekspor tepung terigu dan tepung jagung. Rusia. termasuk gandum. kini telah melonjak menjadi US$ 100 per ton. melarang ekspor gandum ke Afganistan (Pakistan).Badan Pusat Statistik (Susenas BPS). Negara-negara Uni Eropa menunda pajak impor pangan biji-bijian. Untuk merespon kenaikan biaya angkut di atas. namun berkisar total 2. Bahkan. mempertimbangkan untuk mengubah tarif impor gandum (Brzil. dan tepung beras (Cina). Selain itu. Pakistan dan lain-lain). Turki dan lain-lain). mkisalnya pembatasan ekspor gandum (seperti Kasazkhtan). India. dll). walau sempat dipertanyakan masyarakat. terutama dari Australia dan Selandia Baru. (g) Daging dan Kontroversi Asal Impor Berhubung produksi daging di dalam negeri tidak mencukupi.

Bahkan. 42 . mengingat kemampuan pengawasan di dalam negeri begitu lemah. Misalnya.620/8/2006 tertanggal 22 Agustus 2006 yang agak longgar.Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO) plus 4. sapi gila.2 kilogram daging sapi plus 3. serta 1.5 kilogram daging ayam menurut Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI). Estimasi data mana pun yang dipakai. suatu penyederhanaan masalah tanpa perhitungan. Spanyol. tentang impor daging dan meat bone meal (MBM) yang diputuskan dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor 482/Kpts/ PD. Kelompok pertama adalah mereka yang selama ini menjadi bagian dari atau berhubungan langsung dan tidak langsung dengan proses impor daging dari Australia dan Selandia Baru. Namun. Studi-studi dan diskusi publik tentang daging umumnya berhubungan dengan kontroversi asal daging impor. ada argumen bahwa liberalisasi impor daging akan menekan peredaran daging ilegal di pasar domestik. penyakit mulut dan kuku (PMK) dan sebagainya. faktaya adalah bahwa tingkat konsumsi daging yang masih tergolong rendah juga menjadi insentif menarik bagi siapa pun untuk mendorong dan meningkatkan konsumsi daging di Indonesia. Brazil. Kelompok kedua adalah mereka yang mencoba memberikan alternatif pemenuhan daging impor dari negara-negara lain seperti India. karena dua kubu yang saling berlawanan dalam memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri.1 kilogram daging ayam menurut Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian (Deptan). masyarakat mempermasalahkan akurasi substansi dari SK No 482/2006. Kebijakan itu menggantikan SK No 745/1992 yang hanya membolehkan Indonesia mengimpor produk daging dari Australia dan Selandia Baru. Argentina dan lain-lain yang masih tidak terbebas dari kemungkinan tertular penyakit berbahaya seperti antraks. Kalangan yang mendukung berargumen bahwa pelonggaran (liberalisasi) impor daging dimaksudkan untuk mengurangi posisi hegemoni atau monopoli kedua negara eksportir daging tersebut.

suatu siklus tahunan yang seharusnya telah diketahui oleh pemerintah dan pelaku ekonomi sektor peternakan ini. seiring dengan membaiknya tingkat pendapatan masyarakat dan kesadaran meningkatkan kecukupan protein hewani. Liberalisasi produk daging yang amat gegabah itu mengandung risiko yang harus ditanggung masyarakat menjadi amat berat.000 dan tersebar di sepanjang pantai dan daerah perbatasan. Risiko yang tidak kalah besarnya. Biayanya tentu sangat besar. juga jadi alasan tersendiri tentang sulitnya penegakan hukum. peluang peningkatan konsumsi daging yang juga besar. Pintu-pintu masuk impor tidak resmi lebih dari 3. Potensi pasar daging di Indonesia yang memang besar. Jika PMK kembali mewabah di Indonesia. diperlukan waktu lebih dari 100 tahun untuk membebaskan PMK. sebagian besar untuk digunakan sebagai sapi potong dan sebagian kecil digunakan sebagai bakalan 43 . maka Indonesia membutuhkan sekitar 350 – 400 ribu ekor sapi per tahun. Komisi Kesehatan Hewan Departemen Pertanian yang mengacu pada ketentuan Badan Kesehatan Hewan Internasional (Office International des Epizooties/OIE) sebenarnya tidak memberikan rekomendasi pembukaan impor MBM. Indonesia bebas PMK. Pola permintaan daging umumnya meningkat menjelang hari-hari besar nasional seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Selama dua dasawarsa terakhir.Wilayah Indonesia yang begitu luas dan terdiri atas 704 pelabuhan formal sering dijadikan alasan pembenaran (excuse) untuk tidak mampu melakukan pengawasan perdagangan produk daging berbahaya. Keputusan kebijakan perdagangan produk daging berbahaya tersebut sungguh merupakan tragedi terbesar sektor peternakan. Dengan basis konsumsi daging sapi per kapita seperti diuraikan di atas dan asumsi 200 kilogram daging per ekor yang dapat dikonsumsi. Catatan tentang impor sapi dari Australia mencapai lebih dari 520 ribu ekor pada tahun 2007. kesan negatif masyarakat bahwa pemerintah tidak memihak peternaknya.

sebagai salah satu eksportir sapi terbesar di dunia (23 persen pangsa) selain Australia (22 persen). Kanada (10%). dari petani. dan Spanyol sebagai wakil Uni Eropa. Brasil. Namun. Sebenarnya Amerika Serikat juga merupakan produsen daging terbesar di dunia (24 persen). konsumen dan pengampu kepentingan lainnya. bersama Brazil (15 persen). yang akhirnya sampai kepada otoritas tertinggi pada masa administrasi pemerintahan sebelumnya. India (9 persen). total konsumsi daging di dalam negerinya tidak terlalu besar. AS. Apabila dampak buruk yang harus ditanggung masyarakat banyak justru lebih dahsyat bagi kesehatan dan keselamatan jiwa. maka pemerintah dituntut untuk lebih teliti dan hati-hati. Pengambilan keputusan sebaiknya dikembalikan kepada hakikat kesejahteraan masyarakat di dalam negeri Indonesia. khususnya bagi kegairahan peternak meningkatkan produksi dan produktivitasnya. Uni Eropa (6 persen) dan lain-lain. sehingga Australia menjadi salah satu eksportir daging terbesar di dunia. Masih segar ingatan masyarakat tentang kasus "tekan-menekan" impor paha ayam atau chicken leg-quarter (CLQ) dari Amerika Serikat. Cina (15 persen). Dalam beberapa tahun terakhir. tidak kurang dari 68 negara sedang antre mencoba mengekspor daging dan produk daging ke Indonesia. Uruguay. Akhir-akhir ini Indonesia berupaya untuk mengimpor daging sapi dari Brazil. Argentina (5 persen) dan lain-lain. Kontribusi produksi daging Australia di pasar dunia sebenarnya cukup kecil. Dengan potensi pasar yang sangat besar itulah.(induk) untuk penggemukan di Indoensia. beberapa otoritas pelabuhan di Indoensia telah disibukkan untuk membongkar dan memusnahkan daging impor ilegal dari India. karena jumlah penduduk Australia yang tidak terlalu besar. hanya 4 persen. termasuk jika Indonesia akan memperketat perizinan impor produk daging yang berbahaya. Uni Eropa (15 persen). 44 . Argentina. bahkan melarang sama sekali produk daging dari negara yang tidak terbebas penyakit PMK dan sapi gila.

spread harga atau marjin antara harga gabah di tingkat petani dan harga beras di tingkat konsumen melebar sangat besar.2. Hal itu dapat juga diterjemahkan bahwa sistem pasca panen dan distribusi beras di dalam negeri tidak efisien dan menyisakan 45 . penggilingan padi dan pelaku lain. pemikiran kebijakan pangan murah tersebut memperoleh kritik yang cukup keras. argumen yang berkembang adalah fakta hasil Survai Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1999 yang menyebutkan bahwa sebagian besar (76 persen) rumah tangga Indonesia adalah konsumen beras (net consumer) dan hanya 24 persen sisanya produsen beras (net producer). Pada intinya. karena dianggap tidak memberikan insentif yang cukup kepada petani padi dan bahan pangan lain untuk meningkatkan produksi dan produktivitasnya. karena beras juga merupakan makanan pokok dengan karakteristik permintaan yang tidak elastis – perubahan harga tidak terlalu berpengaruh terhadap konsumsi beras – maka kelompok miskin itulah yang menderita cukup parah karena perubahan harga beras. Implikasinya adalah bahwa nilai tambah pengolahan dan perdagangan beras tidak dinikmati oleh petani dan konsumen. Di daerah perkotaan. Dalam perjalanannya. Waktu itu. Program raskin sendiri adalah penyempurnaan dari instrumen operasi pasar murni (OPM) dan operasi pasar khusus (OPK) karena penurunan daya beli sejak krisis ekonomi 1997. tapi lebih banyak oleh pedagang. dari sekitar Rp 400 sampai melebihi Rp 2000 per kilogram. net consumer beras adalah 96 persen atau hanya 4 persen saja yang merupakan net producer beras. net consumer beras sekitar 60 persen atau hanya 40 persen penduduk desa yang merupakan net producer beras. Sejak krisis ekonomi itu. Di daerah pedesaan.3 Akses Pangan dan Pengentasan Kemiskinan Akses pangan sering didekati dari kebijakan pangan murah (cheap food policy) yang konon pro-rakyat miskin dan selama 10 tahun terakhir telah dilaksanakan melalui program beras untuk keluarga miskin (raskin).

Persentase penduduk yang sangat rawan pangan menurun dari 13. Beberapa ekonom pertanian sebenarnya telah mengusulkan strategi kebijakan kecukupan pangan (food adequacy). Konsumsi energi dan protein sebenarnya telah semakin meningkat dalam lima tahun terakhir dan bahkan melebihi AKG yang disebutkan di atas.1% tahun 2002 menjadi 11. aksesibilitas dan stabilitas. khususnya di tingkat mikro rumah tangga. yang masih memberikan keuntungan bagi usaha penggilingan padi dan perdagangan beras.1 juta jiwa pada tahun 2008 (Departemen Pertanian. Indonesia memiliki standar AKG yang dihasilkan dari Widyakarya Pangan dan Gizi (WNPG) ke-VII. Di tingkat rumah tangga. Fokus kebijakan pangan di Indonesia perlu diarahkan untuk meningkatkan harga gabah dan menurunkan harga beras atau untuk mengurangi spread harga gabah dan beras. Strategi ini adalah bagian tak terpisahkan dari seluruh dimensi ketahanan pangan. Meski menurun jumlah penduduk yang defisit energi tingkat berat (sangat rawan pangan) diperkirakan masih sekitar 25. karena ketahanan pangan mencakup tiga aspek penting: ketersediaan. untuk menjamin ketersediaan dan kecukupan pangan di seluruh wilayah Indonesia. yaitu 2.1% tahun 2008.fenomena asimetri pasar yang menjadi kendala serius dalam pembangunan ekonomi. kedua paket kebijakan pangan murah dan 46 . 2008). tingkat ketersediaan pangan (atau tepatnya kecukupan pangan) diukur dengan membandingkan tingkat konsumsi enegeri dan protein dengan angka kecukupan gizi (AKG).200 kilokalori (kkal) dan 57 gram protein per kapita per hari. Terjadinya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan ini diikuti pula dengan penurunan persentase rumahtangga yang defisit energi tingkat berat (konsumsi energi < 70% angka kecukupan gizi) yang juga dikenal sebagai sangat rawan pangan. Implikasinya adalah bahwa dalam konteks kebijakan pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan. pada Juni 2008. yang dapat dijangkau dan aman dikonsumsi masyarakat luas.

Apabila pembangunan ketahanan pangan difokuskan langsung pada kelompok miskin ini. Perbaikan keterkaitan (linkages) aktivitas ekonomi di pedesaan dan perkotaan diharapkan mampu meningkatkan arus pergerakan produk dan jasa. Pengentasan kemiskinan perlu mempertimbangkan aspek kepemilikan atau penguasaan lahan yang amat marjinal. sekaligus dapat menciptakan lapangan kerja produktif di pedesaan dan perkotaan. Bagaimana mungkin suatu daerah lumbung beras yang memiliki surplus produksi beras tapi banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap pangan. maka manfaatnya akan terlihat secara jelas ketika kelompok pendapatan rendah ini telah mampu memenuhi kecukupan pangan. pembangunan pertanian dapat meningkatkan ketahanan pangan. sampai setengahnya pada tahun 2015 nanti. Dimensi lain yang perlu dicover adalah struktur usahatani keluarga. sebagaimana komitmen Indonesia dan negara-negara lain di dunia dalam melaksakan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millineum Development Goals =MDGs. yang sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja baru. yaitu mengurangi proporsi penduduk yang hidup kemiskinan dan kelaparan. akses terhadap faktor produksi dan teknologi baru.kecukupan pangan masih belum cukup. Secara teoritis. Hal ini pun merupakan langkah penting dalam upaya mengeluarkan petani dari kemiskinan. Kasus ledakan gizi buruk dan dan gizi kurang yang semakin banyak dijumpai di Indonesia adalah salah satu dari contoh buruknya sinergi antara ketersediaan pangan di tingkat makro dan aksesibilitas individu dan rumah tangga terhadap bahan pangan. melalui peningkatan jumlah ketersediaan pangan dan perbaikan akses 47 . Pengentasan kemiskinan perlu bervisi pemberdayaan masyarakat. dan sebagainya. sampai pada aspek distribusi dan tataniaga beras yang sangat tidak berpihak pada petani produsen. baik energi maupun proteinnya. sistem produksi yang tidak efisien. Mereka inilah yang masuk dalam kategori penduduk miskin dan memiliki akses buruk terhadap pangan.

Sektor pendukung industri dan jasa yang selama itu mampu mengimbangi naiknya 48 . sehingga akses dan daya beli terhadap bahan pangan juga meningkat.4 persen karena proteksi besar-besaran pada sektor industri. Sektor pertanian mengalami fase dekonstruktif dan tumbuh rendah sekitar 3. Ketangguhan sektor ini yang sempat dibanggakan pada saat puncak krisis moneter akhirnya tidak mampu bertahan lebih lama karena pembangunan pertanian dan proses transformasi ekonomi tidak dapat hanya disandarkan pada kenaikan harga-harga (inflasi) semata. Akan tetapi. pembangunan pertanian Indonesia tidak mampu melepaskan dari jebakan kemiskinan yang memang lebih bersifat struktural. setelah “berhasil” dalam periode tumbuh tinggi sampai pertengahan tahun 1980-an. Ketika krisis ekonomi menimbulkan pengangguran besar dan limpahan tenaga kerja dari sektor perkotaan tidak mampu tertampung di sektor pedesaan. lonjakan produksi peternakan dan perikanan telah terbukti mampu mengatasi persoalan kelaparan dalam tiga dasa warsa terakhir. akses terhadap bahan pangan. Pergerakan tenaga kerja dari pedesaan ke perkotaan – dan sebaliknya – yang berlangsung cukup mulus sebelum krisis ekonomi tidak dapat lagi terjadi tanpa biaya sosial yang cukup tinggi. apalagi berlangsung melalui proses konglomerasi yang merapuhkan fondasi ekonomi yang sebenarnya.atau daya beli terhadap pangan. pertanian pun harus menanggung beban ekonomi-politik yang tidak ringan. Sejarah pembangunan pertanian di Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tanaman pangan melalui verietas unggul. pada awal dekade 1990-an. Peningkatan produktivitas dan perbaikan pendapatan petani telah berkontribusi pada perbaikan ekonomi pedesaan. Cukup banyak strategi pengentasan kemiskinan telah mengedepankan aspek penyediaan pangan. penganekaragaman pangan pun berlangsung cukup baik sehingga kualitas dan pemenuhan gizi seimbang juga lebih terjamin. baru kemudian memfokuskan pada stabilitas harga pangan atau strategi pembangunan jangkan panjang lainnya. Dalam konteks ini.

92 25.40 25.46 21.148 131.256 146.72 17. Paradoks seperti di atas memang cukup menyakitkan karena secara teoritis dan empiris. yang telah berjuang keras mengangkat harkat dan martabat bangsa.42 12. 1998-2009 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bulan) Kota Desa 96.499 138.20 13.803 143.60 31.65 18.19 34.75 14. kapasitas dan aktivitas produksi yang memperluas kesempatan kerja.632 100.845 91.10 37.05 12.50 14.011 130.40 22.70 35. serta turut serta berkontribusi pada keberhasilan sistem ekonomi-politik nasional.93 15.50 19. yang umumnya berkait dengan sektor pertanian.30 12.10 11.90 14.15 11.91 20.64 40.38 19.420 73.permintaan aggregat karena pertumbuhan penduduk.97 12.90 49.27 13.37 19.29 24.780 74.97 15.09 20.409 89. yangs secara ironis harus juga ditanggung oleh sektor pertanian dan pedesaan.717 175.80 36.942 204.37 16.10 37.888 108.648 80. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin. sejak krisis ekonomi belum mengalami pemulihan yang berarti karena rendahnya investasi.70 9.10 13.10 18.10 38. ternyata tidak mampu menikmati keberhasilan tersebut secara baik.40 8.95 18.66 11.77 22.40 38. para ahli dan pejuang sektor pertanian merasa sangat yakin bahwa 49 . Tabel 4 menyajikan perkembangan terakhir data kemiskinan.90 17.17 11.959 92. termasuk potret kemiskinan di daerah pedesaan.837 161.64 32.259 127.43 15.23 17.57 20.20 25.30 25.61 37.56 23.799 167.63 27.41 26.58 13.60 29.14 12.58 22.33 18.382 96.324 187.40 24.76 39.36 21.896 222.272 69.30 12.835 Persentase Penduduk Jumlah Penduduk Miskin (%) Miskin (Juta Jiwa) Kota Desa Kota+ Kota Desa Kota+ Desa Desa 21.03 22.42 12.35 14. Petani sebagai konstituen paling besar terbesar dari pembanguan pertanian tersebut.123 72.22 18.11 16.53 Tahun Des-1998 Mar-1999 Agus-1999 2000 2001 2002 2003 2004 Feb-2005 Jul-2005 Mar-2006 Mar-2007 Mar-2008 Mar-2009 Sumber: Badan Pusat Statistik (berbagai tahun) Fenomena itulah yang juga berkontribusi pada peta kemiskinan akhirakhir ini.51 15.725 117.03 23.40 13.30 37.33 47.23 17.512 105.831 179.30 26.52 20. Tabel 4.455 150.17 12.62 32.13 20.96 10.76 24.72 24.

50 .sektor vital tersebut telah dipercaya sebagai pengganda pendapatan (income multiplier) yang paling efektif dalam pengentasan masyarakat dari kemiskinan. sebenarnya telah amat jelas bahwa sektor pertanian sangat potensial untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja pedesaan. karena tingkat pengeluaran terhadap produk-produk non-farm juga meningkat. Pembangunan pertanian menjadi landasan utama menuju modernisasi pembangunan ekonomi. melalui intensifikasi penggunaan lahan dan pemanfaatan sumberdaya ekoomi secara optimal. Empat poin lainnya juga secara tidak langsung berhubungan dengan ketahan pangan dan pembangunan pertanian. tanpa berlebihan untuk saling bersubsitusi (trade-off) antara sektor pertanian. peningkatan pendapatan yang diperoleh dari perbaikan produktivitas pertanian dapat digunakan untuk memacu investasi pendidikan anak-anak dan pengembangan sumberdaya manusia dan sebagainya. Apabila pendapatan petani ikut meningkat – sekalipun tingkat harga tidak berubah – maka ekonomi pedesaan akan berputar lebih baik. Pembangunan pertanian yang menjadi basis pembangunan ekonomi hampir seluruh negara di dunia akan meningkatkan produktivitas tanaman. Paling tidak. yaitu mengurangi proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. meningkatkan peranan wanita. empat dari delapan poin dalam MDGs berhubungan langsung dengan pembangunan ketahanan pangan dan pertanian secara umum. menjamin keberlanjutan lingkungan hidup dan mengembangkan kemitraan tingkat global (Lihat Kotak 1). industri dan jasa. misalnya akses terhadap pangan bermutu akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. terutama bahan pangan. Secara teoritis dan empiris.

2 juta (53. malaria. Reduce child mortality 5. Jumlah petani gurem pun ikut meningkat dari 10. Potret petani sebaliknya terjadi terjadi di Luar Pulau Jawa. Hasil Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga pertanian meningkat menjadi 25. Improve maternal health 6. sebagian besar dari petani gurem tersebut berada di Jawa karena 75 persen petani Jawa tergolong gurem atau meningkat dari 70 persen pada tahun 1993. Maksudnya.8 juta (52. Promote gender equality and empower woman 4. Combat HIV/AIDS.8 juta pada tahun 1993 atau meningkat sebesar 2.4 juta dari sekitar 20. 1990-2015 1.5 hektar semakin lama semakin banyak.7 persen) menjadi 13. and other disease 7.developmentgoals. including market access  Reduce average tariffs on agricultural products  Reduce domestic and export agricultural subsidies in OECD countries Sumber: http://www.2 persen per tahun.org Bagi Indonesia persoalan menjadi lebih pelik karena jumlah petani gurem dengan lahan tidak sampai 0. Achieve universal primary education 3. Ensure environmental sustainability  Integrate sustainable development into country policies and reverse loss of environmental resources 8. Millenium Development Goals. Rumah tangga petani 51 . Sebagaimana dapat diduga.Kotak 1. saat ini hanya 25 persen dari seluruh petani di Jawa yang dapat dikatakan berkecukupan dan tidak terjerat kemiskinan.2 persen) rumah tangga. Eradicate extreme poverty and hunger  Halve the proportion of people with less than US$ 1 a day  Halve the proportion of people who suffer from hunger 2. Develop a global partnership for development.

5 hektar tercatat 9.260 unit rumah tangga usahatani atau 53. Proses pemiskinan petani seperti ini – walaupun terasa terlalu simplistik – jelas dapat berimplikasi sangat luas. dan hanya 34 persen dari rumah tangga petani di sana yang tercatat menguasai lahan di bawah 0. tidak hanya fakta bahwa petani tidak memiliki penghasilan yang memadai atau “akibat” dari suatu kemiskinan. Komposisi penguasaan lahan di Indonesia sampai saat ini tidak banyak berubah. produktivitas dan kesejahteraan petani dapat menjadi semakin besar. Persentase jumlah rumah tangga petani dengan skala usaha tidak ekonomis ini cukup konsisten dengan hasil Sensus 2003.5 persen dari total RUT. Implikasinya bagi pembangunan pertanian adalah bahwa persoalan struktural yang belum terpecahkan selama beberapa dekade terakhir. Kalimantan.545. jumlah rumah tangga usahatani (RUT) tahun 2009 ini adalh 17. Perssentase petani tanaman pangan yang miliki luas areal kurang dari 0. terutama bahwa pertanian pangan di Indonesia masih mengandalkan usahatani skala kecil. jika tidak dikatakan telah meningkat.5 hektar. masih akan menjadi salah satu kendala cukup serius dalam perbaikan akses pangan. politik dan sosial kemasyarakatan. kecenderungan peningkatan jumlah petani gurem di Luar Jawa ini pun – karena pada Sensus Pertanian 1993 tercatat 31 persen – perlu diperhatikan dengan seksama mengingat.5 hektar. Menurut Hasil Pendapatan Usahatani (PUT) yang dilakukan Badan Pusta Statisktik (BPS) tanggal 31 Juli 2009. Sulawesi. namun lebih banyak tentang 52 . Di dalam literatur ekonomi pembangunan sebenarnya telah disebutkan bahwa petani miskin karena mereka tidak memiliki kemampuan (entitlement) bahkan tidak memiliki kemerdekaan (freedom) untuk melakukan sesuatu bagi keluarga dan bangsanya.8 juta rumah tangga. Namun demikian.di Sumatra. di bawah 0. baik secara ekonomi. walau pun cukup kecil. Sen berupaya memberikan penjelasan yang lebih komprehensif. terutama apabila ancaman penurunan produksi. dan tentu saja dalam upaya untuk meningkatkan diversifikasi pangan. Papua dan lain-lain umumnya menguasai lahan rata-rata cukup besar.

pendidikan. Pada kondisi keterbukaan ekonomi yang 53 . Catatan lain adalah bahwa interpretasi terhadap perubahan kecenderungan di atas perlu dilakukan secara hati-hati. karena total pendapatan rumah tangga secara umum juga meningkat. perbankan. Selama dekade terakhir. pangsa transaksi lain di pedesaan seperti kiriman uang dari sanak famili dari luar pedesaan. penyuluhan. pemasaran. tengah. melihat kecenderungan pergeseran dominasi peran aktivitas luar usahatai (off-farm) yang cukup konsisten. hilir dan pendukung seperti akses pasar. produktivitas dan pendapatan petani tidak akan mencapai hasil optimal. penerimaan dari sewa aset. apabila petani tidak memiliki akses terhadap lahan sebagai faktor produksi terpenting dalam suatu budidaya pertanian (agriculture). perbaikan akses ini menjadi begitu krusial dan sangat vital dalam dimensi bisnis pertanian (agribusiness) yang sangat mengedepankan kesatuan sistem dan tata-nilai yang utuh dari hulu.buruknya akses atau “sebab” terjadinya suatu kemiskinan. Pangsa pendapatan rumah tangga yang berasal dari upah juga meningkat seiring dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih besar karena skala ekonomi yang juga meningkat. pastilah upaya peningkatan produksi. Lebih-lebih lagi. Hal tersebut juga sangat berkaitan erat dengan kenaikan tingkat permintaan efektif (effective demand) di pedesaan. serta transaksi keuangan di pedesaan juga mengalami peningkatan yang sangat pesat. diversikasi pendapatan rumah tangga pedesaan memang semakin besar dan dalam. dampak berantai yang pasti terjadi. dan kebijakan pemerintah yang relevan. terutama setelah aktivitas usaha kecil menengah. penjelasan di atas tidak akan memberikan kesimpulan yang berbeda. perdagangan dan jasa lainnya semakin masuk ke hampir seluruh pelosok pedesaan. mengingat perbedaan penggunaan data dari suatu aktivitas yang berbeda (Sensus Pertanian dan Survai Sosial Ekonomi Nasional-Susenas) walaupun masih dalam lingkup Badan Pusat Statistik-BPS. Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa selama sepuluh tahun terakhir. Namun demikian. Dapat dibayangkan.

umumnya tidak mampu menikmati manfaat besar dari efisiensi usahatani. Kedua. yang identik dengan semakin berkembangnya usahatani paruh waktu (part-time farming) dan efisiensi usahatani yang lebih baik. meningkatnya dominasi off-farm nyaris identik dengan upaya survival bagi mereka dengan skala usaha ekonomi tidak memadai. Dua implikasi penting dari pergesaran dominasi aktivitas off-farm ini adalah sebagai berikut: Pertama. Dengan demikian.cukup besar seperti saat ini. Singkatnya. maka petani tanaman pangan pokok seperti padi dan palawija akan sangat sulit mengandalkan ekonomi rumah tangganya hanya dari sektor usahatani on-farm. 54 . perubahan teknologi pertanian yang terjadi pada tiga dekade terakhir juga telah berkontribusi pada peningkatan efisiensi usahatani. Amerika Serikat dan negara maju lain. Kedua fenomena di atas tentu masih jauh dibandingkan dengan pergeseran pangsa pendapatan luar usahatani di Jepang. sehingga penerimaan ekonomi dari kelompok ini juga tidak besar bahkan tidak cukup mampu menopang ekonomi rumah tangganya. perubahan komposisi pendapatan rumah tangga pedesaan ini seharusnya menjadi referensi penting bagi pengembangan kelembagaan ketahanan pangan dan pembangunan pertanian secara umum. semakin besarnya dominasi aktivitas off-farm dapat juga berarti semakin membaiknya tingkat permintaan efektif (effective demand) di pedesaan karena aktivitas perdagangan. maka semakin jelaslah bahwa pembangunan ketahanan pangan perlu menjadi satu kesatuan dengan proses pembangunan ekonomi atau transformasi struktural ekonomi secara umum. Selain karena semakin murahnya harga komoditas tanaman pangan secara relatif dan bahkan komoditas pertanian lainnya secara umum. jasa dan usaha lain juga meningkat. Petani skala kecil dan tidak mampu menggapai skala ekonomi usahatani. Petani skala kecil inilah harus mengandalkan aktivitas ekonomi dari luar usahatani untuk mempertahankan kehidupan rumah tangganya.

partisipasi masyarakat dan lain-lain. penanganan pasca panen. 3.BAB 3. swasta dan elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. sarana dan prasarana produksi pangan dan mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif dan memanfaatkan potensi sumberdaya lokal. diversifikasi usaha dan penganekaragaman pangan. keamanan pangan. kerangka waktu berikut focal point yang paling bertanggung jawab. aksesibilitas. distribusi. Ketersediaan pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi rumah tangga dengan bertumpu pada kemampuan produksi dalam negeri melalui pengembangan sistem produksi. KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN Substansi kebijakan umum ketahanan pangan yang terdiri dari 15 elemen penting yang diharapkan menjadi panduan bagi pemerintah. penangulangan risiko. penataan aspek pertanahan dan tata ruang daerah dan wilayah.1 Konsep Kebijakan Umum 1. kerjasama internasional. teknologi produksi pangan. 55 . pencegahanan kerawanan pangan. Langkah nyata yang berhubungan dengan hal-hal berikut menjadi sangat mutlak: penyediaan. penelitian dan pengembangan. pemerintah berperan menjabarkan secara rinci kebijakan-kebijakan lain yang mampu memberikan insentif dari hulu sampai hilir atau perlindungan kepada petani dan konsumen sekaligus. Selain memberikan arah kebijakan yang lebih jelas dan mudah dicerna. efisiensi sistem usaha pangan. tingkat wilayah dan tingka nasional. suatu maktriks agenda aksi disusun sedemikian rupa sebagai penjabaran rinci dari setiap elemen kebijakan dengan sasaran yang jelas. dan stabilitas harga pangan. Menjamin Ketersediaan Pangan. Untuk menjabarkannya menjadi suatu agenda aksi yang dapat dilaksanakan di tingkat lapangan.

Peningkatan produktivitas komoditas pangan agar tercapai lonjakan produksi pangan yang dapat dihasilkan di dalam negeri. 56 . b. serta rehabilitasi lahan-lahan usaha pertanian dan kehutanan secara luas. mendorong pemanfaatan teknologi dan peralatan tersebut melalui penyediaan insentif bagi pelaku usaha.Pemerintah memberikan dukungan peningkatan produktivitas pangan. Rencana aksi yang dilakukan adalah: a. perkebunan. d. termasuk pemanfaatan sumberdaya lahan dan air. peternakan. sekaligus untuk menjaga tingkat efisiensi pada sistem produksi. Pengembangan konservasi dan tehabilitasi lahan. Pemanfaatan sumberdaya lahan. terutama yang “tertidur” dan tidak produktif. peningkatan kesadaran dan kemampuan petani/nelayan untuk memanfaatkan teknologi pasca panen dan pengolahan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. untuk mendukung penyediaan lahan berkelanjutan seluas 15 juta hektar untuk produksi pangan strategis. Peningkatan efisiensi penanganan pasca panen dan pengolahan melalui perakitan dan pengembangan teknologi pasca panen dan pengolahan tepat guna spesifik lokasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. terutama pangan pokok. Perluasan areal tanaman pangan. khususnya skala kecil. terutama ke Luar Jawa. e. dan peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan kerusakan. perikanan dan kehutanan. meliputi usaha-usaha berbasis pertanian. sebagai sumber penghasil pangan strategis dan bersifat pokok. c. melalui pemberian insentif khusus bagi mereka yang akan memanfaatkan sumberdaya lahan terbengkalai tersebut.

Aktivitas perbaikan pertanahan dan tata ruang wilayah dapat diwujudkan melalu rencana aksi sebagai berikut: a. g. Pemerintah memfasilitasi pelestarian ketidakadilan sumberdaya air. serta penyebarluasan penerapan teknologi ramah lingkungan pada usaha-usaha yang rnemanfaatkan sumberdaya air dan daerah aliran sungai. rehabilitasi daerah aliran sungai dan lahan kritis. Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai. Pengembangan reforma agraria yang lebih berkeadilan tanpa harus mengganggu kepentingan petani. untuk mewujudkan kebijakan pengelolaan lahan pertanian yang lebih beradab. membangun dan memelihara jaringan irigasi. dan memperbaiki tata ruang. menimbulkan administrasi dan sertifikasi pertanahan agar tidak baru. aman dan berkelanjutan. Petaan lahan dan air diarahkan untuk menjamin penyediaan pangan yang cukup. melalui penegakan peraturan untuk menjamin kegiatan pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan. 57 . Menata Pertanahan dan Tata Ruang dan Wilayah. Perbaikan jaringan irigasi dan drainase. pengembangan infrastruktur pengairan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. dan bersama masyarakat mengelola pemanfaatan sumberdaya air secara adil dan berkelanjutan.f. Pemerintah mengembangkan lahan pertanian produktif. dengan fokus pada rehabilitasi 700 ribu hektar saluran irigasi terutam di daerah lumbung pangan sekaligus melalui pemanfaatan dana stimulus fiscal serta upaya lain untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi global. konservasi air dalam rangka pemanfaatan curah hujan dan aliran permukaan. mencegah alih fungsi lahan pertanian subur berigasi teknis. 2.

3. bukan sekadar prediksi. budaya dan kelestarian sumberdaya alam. dan atau membiarkan lahan pertanian terlantar. Kegiatan ini meliputi perbaikan Rencana Tata Ruang Daerah dan Wilayah (RTRW) tingkat provinsi secara terkoordinasi antar daerah/wilayah dengan mempertimbangkan unsurunsur sosial. Penerapan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur melalui penyusunan peraturan dan penerapannya secara tegas bidang perpajakan atas lahan atau usaha yang dapat menghambat/memberatkan setiap upaya mengkonversi lahan pertanian subur. ekonomi. Langkah rehabilitasi kerusakan karena dampak kekeringan dan perubahan iklim (reaktif) akan jauh lebih mahal dibandingkan dengan langkah adaptasi dan mitigasi bencana 58 . Melakukan Antisipasi. e. Pemanasan global telah menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau yang makin kacau. Perbaikan administrasi pertanahan dan sertifikasi lahan yang murah. d. c. disertai penerapannya secara tegas dan konsisten. Pemberian sanksi yang sangat berat bagi pelaku konversi lahan subur beririgasi teknis menjadi kegunaan lain di luar pertanian agar dapat menahan laju konversi lahan subur beririgasi yang dapat menimbulkan fenomena ketidakdilan baru. Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Pemanasan global adalah fakta. apalagi mitos khayal. dengan sasaran jelas yakni terciptanya administrasi petanahan yang memadai dan tidak memberatkan rakyat. Penyusunan tata tuang daerah dan wilayah.b. dengan penerapan sanksi terhadap pelanggaran. sebagai amanat dari UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. persediaan stok pangan menjadi sulit diprediksi secara baik. sehingga pola tanam dan estimasi produksi pertanian.

langkah hemat air dan pemanenan air setiap ada hujan. sumur resapan dan channel reservoir yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Perbaikan manajemen sistem irigasi. mulai dari tingkat teknis pola tanam pangan.pemanasan global itu (antisipatif). Rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi serta melanjutkan program sejenis yang belum selesai pada periode sebelumnya. c. Menjamin Cadangan Pangan Pemerintah dan Masyarakat. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu langkah sekecil apa pun – bukan bersilang pendapat – yang dapat berkontribusi pada kejayaan ekonomi pertanian dan kesejahteraan rakyat. 4. merumuskan skema perlindungan petani produsen (dan konsumen) secara sistematis. Penyusunan sistem peringatan dini. g. pengelolaan air dan rehabilitasi sumbersumber air air secara berkelanjutan menjadi sangat penting. Realisasi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian. b. minimal untuk mengurangi dampak kekeringan yang lebih hebat d. sampai pada pelestarian sumber-sumber air di hulu sungai dan hutan konservasi. Pengurangan secara sistematis terhadap luas. Program penyiapan dan pemberian bantuan darurat bahan pangan dan air minum/air bersih jika kekeringan melanda. Untuk itu diperlukan suatu upaya serius untuk mengerahkan birokrasi dan aparat pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk menyampaikan secara rinci serangkaian langkah berikut: a. misalnya dengan memasyaratkan hasil-hasil studi jenis tanaman dan pola tanam yang hemat air. intensitas. e. dan durasi musim kemarau karena perubahan iklim di Indonesia. misalnya dengan “injeksi” air dengan dam parit. Pencegahan penurunan produksi pangan. f. 59 .

Fasilitasi dilakukan dalam aspek manajemen kelompok maupun aspek teknis pengelolaan pangan sehingga kualitas dan nilai ekonominya dapat ditingkatkan. Cadangan pangan 60 . Peningkatan kerjasama antar-daerah otonom. Pada keadaam darurat. Pengembangan lumbung pangan di tingkat masyarakat agar tercipta dan terintegrasi sistem cadangan pemerintah dan masyarakat. kabupaten/kota sampai tingkat desa untuk membantu mewujudukan cadangan pangan yang bersifat pokok di setiap daerah dan di setiap desa dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. gejolak harga dan/atau keadaan darurat. masing-masing kelompok masyarakat mampu memanfaatkan dan mengelola sistem cadangan pangannya untuk mengatasi masalah kerawanan pangannya secara mandiri dan berkelanjutan. c. kabupaten/kota dan desa menyediakan dan mengelola cadangan pangan tertentu yang bersifat pokok. agar terjalin kerjasama antar daerah dengan satuan kluster ekonomi yang saling mendukung d.Cadangan pangan dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pangan. Pengembangan cadangan di setiap lapis pemerintah: dari tingkat pusat. kelebihan pangan. Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan dan mengelola cadangan pangan masyarakat sesuai dengan kearifan dan budaya lokal. terutama aliran pangan pokok dari daerah surplus ke daerah defisit pangan. Cadangan pangan diutamakan berasal dari produksi dalam negeri dan pemasukan atau impor pangan dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri tidak mencukupi. provinsi. b. propinsi. pemerintah dapat direalisasikan melalui rencana aksi berikut: a. Pemerintah pusat.

Pengawasan sistem persaingan pedagang yang tidak sehat dengan sasaran jelas. 6. pengolah. d. Pengawasan dan pengembangan standar mutu pangan. Pemerintah mengembangkan sarana. Sistem distribusi pangan yang adil dan efisien dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. Penghapusan retribusi produk pertanian yang masih mentah dengan sasaran jelas. Mengembangkan Sistem Distribusi Pangan yang Adil dan Efisien.5. b. prasarana dan pengaturan distribusi pangan serta mendorong partispasi masyarakat dalam mewujudkan sistem distribusi pangan. untuk mendukung terjaminnya mutu produk pangan. Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan. yakni berkurangnya kolusi harga antar pedagang yang merugikan petani. Pemberdayaan organisasi petani di tingkat pedesaan untuk membantu meningkatkan posisi tawar petani di hadapan pedagang pengumpul dan tengkulak. pedagang. jalan desa dan jalan usahatani agar tercapai target pengerasan jalan desa dan jalan usahatani. c. yakni hlangnya pajak atau retribusi yang memberatkan petani dan pedagang kecil. e. 61 . dan konsumen. Sistem distribusi pangan menyangkut pengelolaan mekanisme yang adil antar pelaku mulai dari petani produsen. Sistem distribusi pangan dilaksanakan untuk menjamin penyediaan pangan setiap rumah tangga di seluruh wilayah sepanjang waktu secara efisien dan efektif. dengan prioritas pada daerah lumbung pangan. Pengembangan infrastrukturk distribusi yang meliputi pembangunan dan rehabilitasi sarana dasar.

Peningkatan efektivitas program subsidi pangan seperti beras untuk keluarga miskin (raskin) agar tingkat salah-sasaran semakin berkurang dan kriteria tepat lainnya semakin baik. pemberian bantuan pangan dan pangan bersubsidi. peningkatan daya beli. kerawanan pangan. 62 . b. dan d. Identifikasi secara dini dan pemantauan berkala gejala kurang pangan dan surplus pangan. yakni tersedianya peta defisit dan surplus pangan di seluruh Indonesia 7. Penguatan kelembagaan di tingkat desa untuk membantu aksesibilitas. kelancaran distribusi pangan. dengan sasaran jelas. Pemerintah memantau dan mengidentifkasi secara dini tentang kekurangan dan surplus pangan. Menjaga Stabilitas Harga Pangan. agar semakin solid rasa saling percaya di antara masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan. agar semakin terintegrasi budaya dan kearifan pangan lokal dengan pengentasan kemiskinan secara umum. Pengembangan pangan lokal untuk meningkatkan pendaptaan rumah tangga dan daya beli masyarakat.Akses rumah tangga terhadap pangan diwujudkan melalui pengendalian stabilitas harga pangan. c. dan ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangannya serta melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan yang diperlukan. Pemerintah melakukan pemantauan dan stabilisasi harga pangan tertentu yang bersifat pokok melalui pengelolaan pasokan pangan. Rencana aksi untuk memperbaiki aksesibilitas pangan dapat diikhtisarkan sebagai berikut: a. Stabilitas harga pangan tertentu yang bersifat pokok diarahkan untuk menghindari terjadinya gejolak harga yang mengakibatkan keresahan masyarakat. Bantuan pangan dan pangan bersubsidi disalurkan kepada kelompok rawan pangan dan keluarga miskin untuk meningkatkan kualitas gizinya.

Pencegahan keadaan rawan pangan dan gizi dilakukan melalui pengembangan dan pemantapan sistem isyarat dini dan intervensi yang memadai. Penanggulangan keadaan rawan pangan dan gizi dilakukan melalui pemberian bantuan pangan dan pelayanan kesehatan serta penguatan kapasitas individu dan kelembagaan masyarakat perdesaan dan perkotaan. (SKPG dan sejenisnya) agar tercipta sistem isyarat dini yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan oleh segenap lapisan masyarakat. 8.kebijakan perdagangan. Pemantauan secara mingguan dan bulanan harga pangan strategis (beras. Pemerintah melakukan pencegahan dan penanggulangan keadaan rawan pangan dan gizi akibat kemiskinan dan keadaan darurat karena bencana alam. 63 . Pengembangan sistem isyarat dini keadaan rawan pangan dan gizi. c. Pengembangan sistem pangadaan pangan pokok yang melibatkan lembaga usaha ekonomi pedesaan. kedelai dan daging) agar tersedia data yang konsisten serta sebaran harga pangan strategis di tingkat produsen dan tingkat konsumen yang dapat dipercaya. konflik sosial dan paceklik yang berkepanjangan. Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyanggah untuk menjaga stabilitas harga pangan. agar kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengadaan pangan semakin meningkat. terutama pada saat paceklik. gula. Mencegah dan Menangani Keadaan Rawan Pangan dan Gizi. Rencana aksi untuk mencegah dan menangani keadaan rawan pangan dan gizi di atas dapat dirinci sebagai berikut: a. pemanfaatan cadangan pangan dan intervensi pasar apabila diperlukan. gagal panen dan bencana alam. agar tersedia pasokan pangan. b. Rencana aksi untuk mewujudkan stabilitas harga pangan tersebut dapat ditempuh melalui: a. jagung.

terutama petani. agar tersedianya pangan dengan kandungan gizi seimbang yang mudah dijangkau. Diversifikasi pangan sebenarnya meliputi diversifikasi produksi dan diversifikasi konsumsi pangan. dan f. Peningkatan keluarga sadar gizi melalui penyuluhan dan bimbingan sosial kepada keluarga yang membutuhkan melalui sistem komunikasi. c. karena gagal panen dan paceklik. peternak dan nelayan kecil melalui pengembangan usahatani terpadu. Fasilitasi pemerintah daerah untuk membangun kemampuan merespon isyarat tersebut secara tepat dan cepat untuk mencegah dan mengatasi terjadinya kerawanan pangan. untuk membangkitkan kembali kelembagaan masyarakat dengan sistem monitoring sederhana yang dilakukan oleh setiap rumah tangga di seluruh Indoensia. pengelolaan sumberdaya air. Melakukan Diversifikasi Pangan. dan keanekaragaman hayati. Diversifikasi produksi (usaha) diarahkan untuk meningkatkan pendapatan produsen. Pemantauan secara berkala tentang perkembangan pola pangan rumah tangga. pelestarian sumberdaya alam. Pemanfaatan cadangan pangan pemerintah di seluruh lapisan untuk dapat menanggulangi keadaan rawan pangan dan gizi untuk mempercepat langkah penanganan gejala rawan pangan. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk peningkatan gizi keluarga. Diversifikasi konsumsi pangan diarahkan untuk mencapai konsumsi pangan yang bergizi seimbang.b. informasi dan edukasi yang sesuai dengan situasi sosial budaya dan ekonomi setempat. d. Pemerintah memfasilitasi diversifikasi usaha dan konsumsi pangan melalui pengembangan teknologi dan industri pangan sesuai 64 . konservasi lingkungan hidup. terutama pada kantong-kantong kemiskinan di perdesaan dan perkotaan 9. e.

Diversifikasi usaha atau produksi pangan dan diversifikasi konsumsi pangan dapat ditempuh melalui rencana aksi sebagai berikut: a. b. Meningkatkan Keamanan dan Mutu Pangan. Pelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati di daerah kawasan hutan sebagai sumber pangan alternatif bagi masyarakat miskin. kelembagaan dan budaya lokal. dan fisik yang berbahaya bagi kesehatan. dan f. informasi dan edukasi (KIE) gizi untuk mewujudkan pangan alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pangan pokok seperti beras.sumberdaya. Penanganan keamanan dan mutu pangan diarahkan untuk menjamin produksi dan konsumsi pangan masyarakat agar terhindar dari cemaran biologis. Pengembanga pangan lokal sesuai dengan kearifan dan kekhasan daerah untuk mengembangkan pangan lokal. 10. Pemerintah melakukan 65 . perikanan dan lain-lain untuk ”menyebar-ratakan” risiko gagal panen karena iklim dan cuaca serta karena fluktuasi harga yang sulit diantisipasi. terutama yang memiliki sifat khas dan eksotis. perkebunan. Pengembangan diversifikasi usaha melalui usahatani terpadu bidang pangan. terutama yang berada di sekitar kawasan hutan. Pengembangan teknologi pangan untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka diverisikasi pangan untuk semakin mengembangkan sumber energi dan protein dari pangan alternatif yang ada. d. kimia. Perbaikan sistem komunikasi. peternakan. Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dan prinsip gizi seimbang agar tercipta sinergi saling menguntungkan antara diversifikasi pangan dan pengembangan pangan lokal. c. e.

mutu pangan. kehalalan. penegakan hukum bagi penanggulangan dampak pangan yang tidak aman untuk menekan peredaran pangan tidak mutu dan tidak aman dan tidak berkualitas. kehalanan pangan dalam sistem perdagangan pangan. produsen pangan besar dan usaha kecil menengah tentang pangan bermutu dan aman bagi kesehatan. Rencana aksi peningkatan keamanan dan mutu pangan dapat diwujudkan sebagai berikut: a. Pemberian fasiltias. c. kehalalan. Penetapan standar keamanan dan mutu pangan.pencegahan dan penanggulangan dampak pangan yang tidak aman bagi masyarakat melalui penetapan standar keamanan dan mutu pangan. kimia. Penelitian dan pengembangan bidang pangan diarahkan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi. 11. Pemerintah memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan terutama melalui alokasi anggaran yang memadai serta mendorong peran-serta sektor swasta dalam penelitian dan pengembangan ketahanan pangan dan gizi. 66 . penghargaan dan dukungan politis pada kegiatan penelitian dan pengembangan. Pembinaan sistem produksi dan konsumsi pangan masyarakat agar terhindar dari cemaran biologis. untuk meningkatkan pemahaman masyarakat. b. Pencegahan dini. sekaligus untuk menciptakan mekanisme penanganan dampak negatif pangan. dan fisik yang berbahaya. untuk secara keserluruhan meingkatkan kualitas kemananan. Rencana aksi untuk mendukung aktivitas penelitian dan pengembangan dapat diwujudkan melalui: a. untuk mewujdukan hasil-hasil penelitian yang dapat digunakan untuk mengembangkan produksi dan efisiensi usaha pangan. kemudahan. Memfasilitasi Penelitian dan Pengembangan. serta perdagangan pangan. serta perdagangan.

keadilan dan kedaulatan yang bermartabat. dan Asia Pasifik. Penggalangan kerjasama ekonomi baik dalam kerangkan bilateral maupun multilateral. Kerjasama internasional pembangunan ketahanan pangan dilakukan melalui diplomasi ekonomi. Alokasi anggaran negara yang memadai untuk penelitian dan pengembangan. sampai 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Peningkatan produktivitas melalui perbaikan genetis dan teknologi budidaya. meningkatkan efisiensi ke arah zero waste. Rencana aksi menuju kerjasama internasional yang lebih beradab dan saling menguntungkan dapat dirinci sebagai berikut: a. Peningkatan kerjasama dan kemitraan antara lembaga penelitian. universitas dan sektor swasta dalam pencarian dan pengembangan inovasi penelitian untuk membuka ruang dan semangat bagi sektor swasta berpartisipasi dalam penelitian dan pengembagan pangan. Pemerintah menetapkan kebijakan perdagangan pangan. 67 . untuk memperkokoh posisi Indonesia dalam perdagangan pangan di ASEAN.b. Pemerintah memetakan kekuatan daya saing usaha pangan nasional secara berkala untuk acuan pengembangan ketahanan pangan dalam dinamika ekonomi global. Melaksanakan Kerjasama Internasional. berupa perakitan teknologi untuk menghasilkan varietas unggul spesifik lokasi untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas usaha pertanian. terutama pangan pokok dan yang bersifat strategis untuk melindungi kepentingan petani produsen dan konsumen. memperbaiki/ mempertahankan kesuburan lahan dan meningkatkan pendapatan petani. 12. serta untuk perbaikan teknologi budidaya untuk menekan senjang hasil antara tingkat penelitian dan tingkat petani. politik dan budaya dengan prinsip kesetaraan. perikanan dan kehutananan. c. dan d.

Peran serta masyarakat diarahkan untuk mewujudkan ketahanan pangan. b. informasi. Meningkatkan Peran Serta Masyarakat. seperti lembaga simpanpinjam desa dan usaha kecil menengah (UKM) serta koperasi. Pengembangan lembaga dan kebijakan pendukung. dan edukasi pangan dan gizi. Peningkatan jumlah atase pertanian dan perdagangan yang berkualtias dan bertanggung jawab agar mampu membawa misi kepentingan nasional dalam kancah internasional. melalui pengembangan aktivitas produksi. perdagangan dan distribusi pangan. Rencana aksi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dapat dirinci sebagai berikut: a. pengeloalaan cadangan pangan. 13. c. agar masyarakat semakin bergairah untuk berpartisipasi membantu menanggulangi masalah pangan dan gizi. Pemerintah memfasilitasi keikutsertaan masyarakat melalui komunikasi. 68 . konsumsi pangan bergizi seimbang. yakni semakin dihormatinya Indonesia dalam arena perdagangan dan kerjasama ekonomi tingkat internasional. agar semakin besar tingkat kapasitas kelembagaan masyarakat di perdesaan dan perkotaan. sosial dan budaya untuk meningkatkan ketahanan pangan domestik dengan sasaran jangka menengah yang jelas. Pemberian insentif bagi mereka yang berjasa pada pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi. Diplomasi ekonomi. untuk berkontribusi pada bangkitnya kembali lembaga simpan pinjam desa dan partisipasi UKM dan koperasi dalam penyediaan pangan. serta peningkatan kapasitas dan motivasi masyarakat. serta pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. Peningkatan motivasi masyarakat dan kapasitas dan kelembagaan yang mendukung proses pencapaian ketahanan pangan. c.b. politik.

pelatihan dan penyuluhan pangan yang lebih komprehensif. pelatihan dan penyuluhan pangan secara lebih komprehensif agar tersusun program pendidikan. pelatihan dan penyuluhan secara lebih komprehensif. penataan kelembagaan penyuluhan pertanian. Mengembangkan Sumberdaya Manusia. Pengembangan sumberdaya manusia di bidang pangan dan gizi dilakukan melalui pendidikan. Pemerintah merevitalisasi sistem penyuluhan melalui kerjasama sinergis dengan lembaga penelitian. Rencana aksi yang dapat dilaksanakan untuk menunjang pengembangan sumberdaya manusia (SDM) meliputi: a. lembaga swasta. perguruan tinggi. peningkatan ketenagaan penyuluhan pertanian. dan lembaga pengembangan swadaya masyarakat yang lebih beradab. b. dan penerapan secara meluas pendekatan pemberdayaan/pendampingan kepada kelompok masyarakat petani/ nelayan c. dan lembaga masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi. Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan untuk meningkatklan kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini. Perbaikan program pendidikan. Penyusunan dan sosialisasi peraturan penyuluhan.14. Peningkatan kerjasama dengan lembaga non-pemerintah (LSM) dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) agar tercipta suatu kerjasama sinergis antara lembaga pemerintah. d. bertanggung jawab dan menjunjung nilai-nilai kebenaran. 69 . peningkatan mutu penyelenggaraan penyuluhan pertanian.

b. Kebijakan fiskal yang memberikan insentif bagi usaha pertanian. Untuk negara agraris dan basis sumberdaya seperti Indonesia. melalui peningkatan kapasitas. yaitu: beras.15. c. kepedulian dan pemberian pemahaman serta umpan balik kepada lembaga pemerintah yang berkompeten termasuk lembaga legislatif. 70 . a. Melaksanakan Kebijakan Makro dan Perdagangan yang Kondusif Falsafah utama dari kebijakan makro dan kebijakan perdaganga yang kondusif adalah integrasi strategi ekonomi makro ke dalam pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. Langkah ini dapat dilakukan melalui penerapan berbagai instrumen dan regulasi perdagangan secara arif untuk melindungi dari persaingan yang tidak menguntungkan dan memberikan dukungan terhadap peningkatan daya saing produk pertanian strategis nasional. apa pun kondisinya. Alokasi anggaran negara dan anggaran daerah yang memadai untuk pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. kedelai dan tebu (plus daging) sebagaimana disampaikan secara resmi oleh Indonesia kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kebijakan proteksi perdagangan. jagung. misalnya dengan pemberian keringanan pajak bagi para pelaku usaha di bidang pertanian dan pengolahan pangan untuk mendorong pertumbuhan investasi usaha berbasis pertanian dan pangan. seluruh elemen kebijakan moneter dan kebijakan fiskal pasti amat terkait dengan pembangunan pertanian. minimal untuk empat komoditas utama dalam special products (SPs).

Pembinaan ketahanan pangan di daerah dan provinsi. pengolahan dan pemasaran hasil. peternakan. perkebunan. koordinasi kebijakan pangan dan pertanian antar daerah otonom. misalnya pada saat neraca pangan berada dalam keadaan negatif atau pada masa paceklik karena kekeringan dan/atau bencana alam lainnya. 1.2 Prasyarat Koordinasi dan Integrasi Kebijakan Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional bertumpu pada sumberdaya pangan lokal yang mengandung keragaman antar daerah dan produksi domestik. pengalokasian dana alokasi ketahanan pangan. Saat ini paling tidak terdapat 20 lembaga pemerintah dan badan usaha milik negara yang terlibat langsung dan tidak langsung terhadap kebijakan ketahanan pangan. pengelolaan lahan dan air irigasi. Pemerintah Propinsi. Departemen Pertahanan. sampai Pemerintah Desa dan masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Departemen Dalam Negeri. Impor pangan hanya dilakukan pada keadaan yang memaksa. dalam kaitannya dengan fasilitasi penyusunan anggaran daerah.jawaban dan pengawasan keuangan daerah. 2. serta mengurangi ketergantungan pada pemasukan atau impor pangan. Kebijakan produksi pangan.3. pengamanan 71 . sebagai prasyarat penting. peningkatan produktivitas. penelitian dan pengembangan serta koordinasi pemantapan ketahanan pangan. pendidikan dan latihan). Departemen Pertanian. Pembinaan strategi dan interdependensi daerah dalam mewujudkan dan memantapkan ketahanan pangan. pemberian insentif perwilayahan komoditas pangan. pertanggung. mulai dari Pemerintah Pusat. pengembangan sumberdaya manusia (penyuluhan. 3. Pemerintah Kabupaten/ Kota. Seluruh sektor dan bidang dalam pemerintahan berperan secara aktif dan berkoordinasi secara rapi.

Departemen Keuangan. kebijakan agroindustri. tataniaga produk pertanian strategis. 7. pemanfaatan lahan hutan untuk produksi pangan dan pertanian sepanjang saling mendukung konservasi sumberdaya alam. terutama bidang pangan dan pertanian. perdagangan internasional produk pangan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Perdagangan. Departemen Kehutanan. 5. skema perdagangan berjangka bagi komoditas pangan tertentu serta kerjasama internasional atau diplomasi ekonomi yang dibutuhkan untuk memantapkan ketahanan pangan. Strategi perlindungan hutan. pengembangan 72 .jaringan distribusi dan stok pangan nasional. 4. 8. pengembangan industri kecil dan menengah. Sistem distribusi pangan dan pertanian di dalam negeri. pelestarian plasma-nutfah sumberdaya hutan untuk pemantapan ketahanan pangan. konservasi sumber daya alam. pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan. bea masuk. pengawasan komoditas pangan yang keluar dan masuk batas wilayah negara. dan lainnya serta pembiayaan ketahanan pangan dalam skema anggaran pendapatan dan belanja negara negara. Pengembangan perikanan tangkap dan perikanan budidaya untuk mendukung ketahanan pangan. serta standarisasi teknis komoditas hasil industri pangan. 6. Departemen Perindustrian. dan pembinaan lembaga keuangan yang berhubungan dengan aktivitas pangan dan pertanian. rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial untuk ketahanan pangan. pengembangan ekspor komoditas pangan dan pertanian. Segmen ketahanan pangan seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari strategi petahanan dan pertahanan nasional. Strategi industrialisasi yang mendukung produksi dan produktivitas industri pangan. Penerimaan negara dari pajak.

pelayanan pelabuhan. Pencegahan gejala dan penanggulangan kasus rawan pangan. informasi dan edukasi (KIE) pangan dan gizi. 13. 14. pemahaman masyarakat terhadap kebutuhan energi. pemberdayaan masyarakat untuk menghadapi insekuritas pangan. pengamanan mutu pangan. mutu pangan dan gizi masyarakat. Peningkatan kualitas kesehatan. Penyeberluasan kebijakan ketahanan pangan. kebijakan peningkatan produksi UKM 73 . khususnya tentang konsep pangan bermutu dan bergizi seimbang melalui rangkaian strategi komunikasi. sarana dan prsaranan lain dalam perhubungan laut. pengawasan makan (dan obat). Pengembangan infrastruktur perhubungan. jaringan irigasi dan drainase. Strategi pengembangan peran-serta kelembagaan koperasi dan UKM dalam pemantapan ketahanan pangan. protein. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah (UKM). sampai pada segenap lapisan masyarakat. jembatan. terutama tentang kandungan bahan. 9. Pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana (infrsatruktur).masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil serta pembinaan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. darat dan udara. rehabilitasi dan rekonstruksi daerah bencana. penanggulangan kemiskinan dan kekurangan pangan akut. zat penyusun serta waktu kadaluarsa bahan pangan. Departemen Sosial. strategi penyusunan kebijakan tata ruang dan wilayah yang akan bermanfaat pada “perwilayahan” komoditas pangan dan pertanian. Departemen Kesehatan. Departemen Pekerjaan Umum. 10. vitamin dan mineral. untuk mendukung kelancaran sistem distribusi pangan. 12. Departemen Komunikasi dan Informasi. Departemen Perhubungan. pengawasan pergerakan komoditas pangan. mulai dari jalan. 11.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi. pertumbuhan dan kepadatan penduduk. tingkat dan kedalaman kemiskinan. terutama di bidang pangan. desentralisasi kebijakan pembangunan secara umum. 16. perikanan dan kehutanan. Peningkatan kepastian usaha produksi pangan. kebijakan pangan dan pertanian. 19. Kementerian Negara Koordinator Bidang Perekonomian. 17. derajat kesehatan dan kualitas gizi masyarakat. 74 . Badan Pertanahan Nasional. kebijakan tataruang daerah dan wilayah. Strategi dan kebijakan perencanaan pembangunan pangan yang terintegrasi dan terkoordinasi antar-instansi pemerintah serta antara pusat dan daerah. serta dukungan strategi pengembangan dan restrukturisasi UKM. dari hulu tingkat bahan baku dan produksi sampai hilir serta rekayasa teknologi pangan-pertanian untuk mendukung penemuan varietas unggul dan teknologi baru yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi komoditas pangan serta mampu mendorong aplikasi teknologi di tengah masyarakat. Strategi pengembangan riset dan teknologi bidang pangan. 18. 15. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan. Koordinasi strategi dan kebijakan pembangunan pangan antar-instansi pemerintah dalam lingkup perekonomian. antara pusat dan daerah. Akurasi dan konsistensi data produksi dan konsumsi pangan dan pertanian. kebijakan perbaikan pemasaran dan jaringan usaha pangan. terutama dalam kerangka revitalisasi pertanian. koordinasi publikasi data dengan instansi lain dari tingkat pusat sampai tingkat daerah.bidang pangan dan pertanian. melalui pencegahan konversi lahan pertanian subur beririgasi dan pemberian sanksi yang setimpal bagi pelanggar ketentuan konversi lahan. Badan Pusat Statistik.

terutama yang bersifat pokok dan strategis. Perum Bulog. swasta.20. khususnya pangan pokok beras dan pangan pokok lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam rangka ketahanan pangan. perguruan tinggi lembaga swadaya masyarakat dan kalamngan masyarakat umum. sekaligus merupakan penjabaran rinci dari setiap elemen kebijakan dengan sasaran yang jelas. terutama lembaga pemerintah yang paling bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Rinician inilah yang seharusnya menjadi semacam panduan berharga bagi para stakeholders ketahanan pangan dari lembaga pemerintah.3 Rencana Aksi Ketahanan Pangan 2010-2014 Rencana aksi ketahanan pangan periode 2010-2014 adalah suatu panduan pelaksanaan kebijakan umum tersebut di tingkat lapangan. pengelolaan cadangan pangan Pemerintah dan distribusi pangan pokok kepada golongan masyarakat tertentu. Memperoleh penugasan pemerintah untuk melaksanaan pengadaan pangan. Selengkapnya. 3. BUMN. melakukan pengamanan harga pangan pokok. matriks rencana aksi ketahanan pangan 20102014 tersebut akan diuraikan berikut ini: 75 . berikut focal point.

Pendukung: KLH. Pendukung: Deptan Kadin.00 ha saluran irigasi. terutama yang lama “tertidur” dan tidak termanfaatkan. pengamanan UU Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Utama: Menko Ekon. Pendukung: Deptan. terutama ke luar Jawa Pengembangan konservasi dan rehabilitasi lahan melalui pemberian insentif dan sanksi Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai Peningkatan efisiensi penangan pasca panen Utama: Deptan Pendukung: Deperin. Kadin. Pemanfaatan sumberdaya lahan. kedelai.Matriks Rencana Aksi Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Tahun 2010-2014 No Tujuan Kebijakan Program Kegiatan Lembaga Relevan Indikator keberhasilan (output) 1 Menjamin Ketersediaan Pangan Peningkatan produktivitas untuk swasembada komoditas pangan strategis (beras. Pendukung: Deptan. KLH Utama: Dephut. tebu. Ristek. Pemprov Utama: Dephut. Kadin. meliputi subsidi input pertanian (pupuk dan benih) dan permodalan usaha pertanian. Utama: Deptan. Perbankan Utama: Dep PU. KLH. jagung. Perluasan areal tanaman pangan. perbankan Utama: Deptan. terutama di daerah lumbung pangan 55 . masyarakat Tercapainya swasembada pangan strategis yang berbasis peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha. Pendukung: Deptan. swasta Utama: Deperin. Semakin memadainya insentif sistem produksi bagi petani untuk meningkatkan produksi-produktivitas Tersedianya lahan baru untuk produksi bahan pangan strategis Tersedianya lahan pangan secara berkelanjutan 15 juta hektar untuk produksi pangan Berkurangnya degradasi lahan. Pendukung: Dep PU. Pendukung: BPN Dephut. terutama pada lahan marjinal/kritis Menurunnya degradasi lahan dan tersedianya air pada musim kemarau Meningkatnya efisiensi pasca panen Perbaikan jaringan irigasi-drainase Rehabilitasi 700. Deptan. daging) Pemberian insentif sistem produksi.

Pemda Utama: Bappenas. Pemprov dan Pemda Indikator keberhasilan (output) Terwujudnya kebijakan pengelolaan lahan pertanian yang lebih beradab Terselesaikannya sengketa lahan. Pendukung: Dep PU. ekonomi. Berkurangnya laju konversi lahan sawah (berkelanjutan) menjadi kegunaan lain di luar pertanian 56 . Deptan. Pemprov Utama: Bappenas. Bappenas Depdagri. BPN. Perbaikan Rencana Tata Ruang Daerah dan Wilayah (RTRW) tingkat provinsi secara terkoordinasi antar daerah/wilayah.No 2 Tujuan Kebijakan Menata Pertanahan dan Tata Ruang dan Wilayah Program Kegiatan Pengembangan reforma agraria yang lebih berkeadilan tanpa harus mengganggu kepentingan petani Perbaikan administrasi pertanahan dan serifikasi lahan yang murah Pemberian sanksi yang sangat berat bagi pelaku konversi lahan subur beririgasi teknis menjadi kegunaan lain di luar pertanian Penyusunan tata ruang daerah dan wilayah yang memapu mendukung pewilayahan komditas unggulan Penyusunan tata tuang daerah dan wilayah. sebagai amanat dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Bappenas. terutama tentang administrasi lahan Terhentinya fenomena konversi lahan subur beririgasi yang dapat menimbulkan fenomena ketidakdilan baru. Penerapan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur melalui penyusunan peraturan dan penerapannya secara tegas bidang perpajakan atas lahan atau usaha yang dapat menghambat/memberatkan konversi lahan pertanian subur Lembaga Relevan Utama: BPN. Pendukung: Deptan. Pemda Utama: BPN. Pendukung: Deptan. Pendukung: Dep PU BPN. Pemprov dan Pemda (Kab/kota) Utama: Depkum. Pemda Utama: Dep PU Pendukung: Deptan. Terciptanya administrasi petanahan yang memadai dan tidak memberatkan rakyat Tersusunnya RUTRW yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Semakin jelasnya RTRW Provinsi dan Daerah dengan mempertimbangkan unsur-unsur sosial. Deptan. budaya dan kelestarian sumberdaya alam. BPN. Pendukung: BPN. Depdagri. Pendukung: Depkum. BPN. Pemprov Utama: Dep PU.

Pendukung: Deptan. adaptasi dan mitigasi perubahan iklim Program Kegiatan Penyusunan sistem peringatan dini. Pemda Utama: Deptan. sampai pelestarian sumber-sumber air di hulu sungai dan hutan konservasi. Penelitian dan pengembangan varietas pangan yang tahan kekeringan dan efisiensi pemakaian air permukaan dan air tanah Lembaga Relevan Utama: Bappenas.No 3 Tujuan Kebijakan Melakukan antisipasi. Depdagri. langkah hemat air dan pemanenan air setiap ada hujan. BMKG. Pendukung: Deptan... misalnya dengan “injeksi” air dengan dam parit. Utama: Deptan.karena petani telah dilindungi dari beberapa macam risiko. swasta dan Pemda Terselesaikannya pembangunan proyek infrastruktur. Pendukung:Depdagri. dan durasi musim kemarau karena perubahan iklim. Pendukung: BMKG Depdagri. mulai dari aspek pola tanam sampai pada pemanenan air Tersedianya basis data bagi penyaluran bantuan darurat bahan pangan/air bersih pada saat kekeringan melanda. Pendukung:Depdagri. terutama pada sistem kemarau. Kadin. Pendukung: Deptan Depdagri. Depdagri. Perbaikan manajemen sistem irigasi. minimal untuk mengurangi dampak kekeringan yang lebih hebat Pengurangan secara sistematis terhadap luas. pengelolaan air dan rehabilitasi sumbersumber air air secara berkelanjutan. terutama yang tidak sempat selesai pada 2009 Berkurangnya kemungkinan produksi pagan. perumusan skema perlindungan petani produsen (dan konsumen) secara sistematis. mulai dari tingkat teknis pola tanam pangan. Pendukung: Deptan. Membaiknya sistem pengelolaam air di daerah. Depdagri dan Pemda Utama: Depsos. Rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi serta melanjutkan program sejenis yang belum selesai pada periode sebelumnya. Tersedianya varietas baru yang unggul sekaligus mampu adaptasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Program penyiapan dan pemberian bantuan darurat bahan pangan dan air minum/air bersih jika kekeringan melanda. Pemda Terselenggarakannya sistem injeksi air. 57 . dam parit. Pemda Utama: Dep PU. intensitas. Utama: Dep PU. Pencegahan penurunan produksi pangan. Universitas. sumur resapan yang dikelola langsungoleh masyarakat. Pemda Indikator keberhasilan (output) Tersusunnya dokumen sistem peringatan dini. Pemda Utama: Deptan. sumur resapan dan channel reservoir .

No 4 Tujuan Kebijakan Menjamin Cadangan Pangan Pemerintah dan Masyarakat Program Kegiatan Pengembangan cadangan di setiap lapis pemerintah: daerah dan desa Pengembangan lumbung pangan di tingkat masyarakat Peningkatan kerjasama antar-daerah otonom. LKMD masyarakat Utama: Menkop Pendukung: Deptan. terutama aliran pangan pokok dari daerah surplus ke daerah defisit pangan Pengelolaan sistem cadangan pangan oleh masyrakat. masing-masing kelompok masyarakat Fasilitasi aspek manajemen kelompok dan fasiltiasi aspek teknis pengelolaan pangan Lembaga Relevan Utama: Bulog. terutama pada keadaam darurat. Bulog Pemda. Pemda. Meningkatnya kualitas kehidupan masayarakat nilai ekonomi cadangan pangan masyarakat. masyarakat Indikator keberhasilan (output) Tersedianya cadangan pangan pokok di setiap daerah (jika perlu setiap desa) Terintegrasinya sistem cadangan pemerintah dan cadangan masyarakat Semakin terintegrasinya kerjasama antar daerah dengan satuan kluster ekonomi yang saling mendukung Terkelolanya cadangan pangan masayrakat untuk mengatasi masalah kerawanan pangannya secara mandiri dan berkelanjutan. LKMD. Pemda Utama: Depdgari. Pemda Utama: Depdagri. 58 . Pendukung: Deptan Depdagri. Pendukung: Deptan. Pem Desa. Pendukung: Deptan Utama: Depdagri Pendukung: Deptan.

dengan prioritas pada daerah lumbung pangan Meningkatnya posisi tawar petani di hadapan pengumpul dan tengkulak Berkurangnya kolusi harga antar pedagang yang merugikan petani Terjaminnya mutu produk pangan Hilangnya retribusi memberatkan petani dan pedagang kecil. Depdagri. Pendukung: Deptan. jalan desa dan jalan usahatani Pemberdayaan organisasi petani di tingkat pedesaan Pengawasan sistem persaingan pedagang yang tidak sehat Pengawasan dan pengembangan standar mutu produk pangan Penghapusan retribusi produk pertanian yang masih mentah Lembaga Relevan Utama: Dep PU. Pendukung: Pemda. Pendukung: Depkes. Deperin. Pendukung: Dephub. Pendukung: Deptan. Pemprov dan Pemda Utama: Depdag. Depdagri Utama: Deptan. Depdag. BP POM Utama: Depkeu. Pendukung: KPPU. Pemda Utama: Depdagri.No 5 Tujuan Kebijakan Mengembangkan Sistem Distribusi Pangan yang Adil dan Efisien Program Kegiatan Pengembangan (pembangunan dan rehabilitasi) sarana dasar. Menko Kesra Utama: Bulog. swasta. Dep PU Utama: Depdag. Pemda. Pemda Utama: Deptan. universitas Indikator keberhasilan (output) Target pengerasan jalan desa dan jalan usahatani. Pendukung:Depdagri. masyarakat Utama: Depkes. Pemda. Semakin solidnya rasa saling percaya di antara masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan Terintegrasinya budaya dan kearifan pangan lokal dengan pengentasan kemiskinan secara umum Berkurangnya tingkat ”salah-sasaran” dan meningkatkanya kriteria tepat lainnya Tersedianya peta defisit dan surplus pangan di seluruh Indonesia 6 Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan Penguatan kelembagaan di tingkat desa untuk membantu aksesibilitas masyarakat miskin terhadap pangan strategis Pengembangan pangan lokal untuk meningkatkan pendaptaan rumah tangga dan daya beli masyarakat Peningkatan efektivitas program beras untuk keluarga miskin-raskin Identifikasi secara dini dan pemantauan berkala gejala kurang pangan dan surplus pangan 59 . Pendukung: Pemda. Pendukung: Menko Kesra.

Pendukung: Deptan. Pemda. Depdagri. Pemda. gula. Utama: Bulog. Pemprov Utama: Bulog. terutama pada saat paceklik. Bulog. gagal panen dan bencana alam Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat di tingkat desa dalam pengadaan pangan pokok Terciptanya sistem isyarat dini yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan oleh segenap lapisan masyarakat Bangkitnya kembali kelembagaan masyarakat dengan sistem monitoring sederhana yang dilakukan oleh setiap rumah tangga di seluruh Indoensia Tersedianya pangan dengan kandungan gizi seimbang yang mudah dijangkau Cepatnya penanganan gejala rawan pangan. Pendukung: Depkes. Indikator keberhasilan (output) Tersedianya data dan sebaran harga pangan strategis Siap sedianya pasokan pangan pada. kedelai) Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyanggah untuk menjaga stabilitas harga pangan Pengembangan sistem pangadaan pangan pokok yang melibatkan lembaga usaha ekonomi pedesaan Lembaga Relevan Utama: Depdag. Pendukung: Deptan. Pemda. Pendukung: Deptan. Depkes. univesitas Utama: Depkes. Pendukung: BPS. Deptan. Pendukung: Deptan. pemda Utama: Deptan. Pendukung: Depkes. Pemda Utama: Depdag. karena gagal panen dan paceklik Pemanfaatan lahan pekarangan untuk peningkatan gizi keluarga Pemanfaatan cadangan pangan pemerintah di seluruh lapisan untuk dapat menanggulangi keadaan rawan pangan dan gizi 60 . Pengembangan sistem isyarat dini keadaan rawan pangan dan gizi Pemantauan secara berkala tentang perkembangan pola pangan rumah tangga.No 7 Tujuan Kebijakan Menjaga Stabilitas Harga Pangan Program Kegiatan Pemantauan secara mingguan dan bulanan harga pangan strategis (beras. terutama pada kantong-kantong kemiskinan di perdesaan dan perkotaan 8 Mencegah dan Menangani Keadaan Rawan Pangan dan Gizi. Depdagri. jagung. Depdagri. Bappenas Utama: Depdagri.

Depkominfo Utama: Depkes. Pelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati di daerah kawasan hutan Pengembanga pangan lokal sesuai dengan kekhasan daerah Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dan prinsip gizi seimbang Pengembangan teknologi pangan untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka diverisikasi pangan Perbaikan sistem komunikasi. Berkembangnya pangan lokal. informasi dan edukasi (KIE) gizi Lembaga Relevan Indikator keberhasilan (output) Utama: Deptan. mengurangi ketergantungan terhadap Kadin. dan terciptanya mekanisme penanganan dampak negatif pangan. masyarakat Teresdianya sumber pangan alternatif bagi masyarakat miskin. Pendukung: POM Deprin. iklim dan cuaca serta karena fluktuasi Pemprov. Meningkatnya pemahaman masyarakat Pendukung:Depdagri tentang gizi seimbang Pemda. Tersebarnya risiko gagal panen karena Pendukung:Depdagri. Penetapan standar keamanan dan mutu pangan. Pendukung: Deptan. Depdag. masyarakat pangan pokok seperti beras Utama: Depkes. dan fisik yang berbahaya. Dep Bertambahnya pemahaman masyarakat. Deptan Utama: Depkes. 61 . perikanan dsb. kimia. Pendukung: Deprin. Pencegahan dini. produsen pangan besar dan usaha kecil menengah tentang pangan bermutu dan aman bagi kesehatan Berkurangnya pangan tidak mutu dan tidak aman. terutama pada kawasan hutan Utama: Deptan.No 9 Tujuan Kebijakan Melakukan Diversifikasi Pangan Program Kegiatan Pengembangan diversifikasi usaha melalui usahatani terpadu bidang pangan. Pemda. mutu pangan. Pendukung: Dephut. Depdagri. masyarakat Utama: Depkes. Dinas2 harga yang sulit untuk diantisipasi Utama: Deptan. Deprin. Deptan Utama: Depkes. penegakan hukum penanggulangan dampak pangan yang tidak aman. KLH. yang memiliki sifat khas dan eksotis Pemda. Meningkatnya kualitas kemananan. perkebunan. Pemda Berkembangnya sumber energi dan protein dari pangan alternatif yang ada Utama: Menristek Tersedianya pangan alternatif yang dapat Pendukung: Deperin. peternakan. terutama Pendukung:Depdagri. perdagangan pangan. kehalanan pangan dalam sistem 10 Meningkatkan Mutu dan Keamanan Pangan Pembinaan sistem produksi dan konsumsi pangan masyarakat agar terhindar dari cemaran biologis. kehalalan.

Pendukung:Depdag. kemudahan. universitas.No 11 Tujuan Kebijakan Memfasilitasi Penelitian dan Pengembangan Program Kegiatan Pemberian fasiltias. Pendukung:Depdag. Deptan Utama: Deplu. Deptan Indikator keberhasilan (output) Meningkatnya hasil-hasil penelitian yang dapat digunakanlangsung untuk mengembangkan produksi dan efisiensi usaha pangan Terwujudnya alokasi anggaran dana penelitian dan pengembangan bidang pangan sampai 1 persen dari PDB Semakin besarnya semangat sektor swasta untuk berpartisipasi dalam penelitian dan pengembagan pangan Semakin kokohnya posisi Indonesia dalam perdagangan pangan di ASEAN. dan dukungan politis untuk penelitian dan pengembangan Alokasi anggaran negara yang memadai untuk penelitian dan pengembangan Peningkatan kerjasama dan kemitraan antara lembaga penelitian. universitas dan sektor swasta dalam pencarian dan pengembangan inovasi penelitian Lembaga Relevan Utama: Ristek. Pendukung: Deptan. Deperin Utama: Deplu. Depkeu. Depdag. Pendukung:Depdag. swasta. Dephan. Pendukung: Deptan. politik. masyarakat Utama: Ristek. dan Asia Pasifik Bertambahnya secara signifikan jumlah atase pertanian dan perdagangan yang mampu membawa misi kepentingan nasional dalam kancah internasional Semakin dihormatinya Indonesia dalam arena perdagangan dan kerjasama ekonomi tingkat internasional 12 Melaksanakan Kerjasama Internasional Penggalangan kerjasama ekonomi baik dalam kerangkan bilateral maupun multilateral Peningkatan jumlah atase pertanian dan perdagangan Diplomasi ekonomi. masyarakat Utama: Ristek. sosial dan budaya untuk meningkatkan ketahanan pangan domestik 62 . Deptan Utama: Deplu. Pendukung: Deptan. Depkeu.

Menko Perekonomi Kembali bangkitnya lembaga simpan pinjam desa dan semakin besarnya partisipasi UKM dan koperasi dalam penyediaan pangan 14 Mengembangkan Sumberdaya Manusia (Pangan-Pertanian) Perbaikan program pendidikan. pemberdayaan/ pendampingan kepada kelompok masyarakat petani/ nelayan Utama: Diknas Pendukung:Deptan. lembaga Depdagri. Pendukung: Deptan Depdag. Pendukung:Depdagri. Utama: Deptan. Pemda Semakin mningkatnya kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini. Depdagri.No 13 Tujuan Kebijakan Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Program Kegiatan Pemberian insentif bagi mereka yang berjasa pada pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi Peningkatan motivasi masyarakat dan kapasitas dan kelembagaan yang dapat mendukung proses pencapaian ketahanan pangan Pengembangan lembaga dan kebijakan pendukung. Dinas2 lebih komprehensif. Meningkatnya motivasi dan kapasitas Pendukung:Depdagri kelembagaan masyarakat di perdesaan dan perkotaan Utama: Menkop. Meningkatannya mutu. pelatihan dan penyuluhan pangan yang Pemprov. penataan kelembagaan penyuluhan pertanian. pelatihan dan penyuluhan pangan secara lebih komprehensif Penyusunan dan sosialisasi peraturan penyuluhan. antara lembaga pemerintah. Utama: Menko Kesra terciptanya suatu kerjasama sinergis Pendukung: Deptan. Pemda swasta. akseptabilitas Pendukung:Depdagri penyelenggaraan penyuluhan Pemprov. dan lembaga masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi. Dinas2 pertanian. Pendukung: Pemda. dll Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan Peningkatan kerjasama dengan lembaga non-pemerintah (LSM) dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) Utama: Deptan. peningkatan ketenagaan penyuluhan pertanian. Tersusunnya program pendidikan. seperti lembaga simpan-pinjam desa dan usaha kecil menengah (UKM) serta koperasi Lembaga Relevan Utama: Depdagri. 63 . Pemda Indikator keberhasilan (output) Semakin bergairahnya masyarakat untuk berpartisipasi membantu menanggulangi masalah pangan & gizi Utama: Deptan.

Kadin. jagung. Kadin. untuk menjadikan sektor pangan dan pertanian sebagai landasan penting pembangunan ekonomi Indonesia Semakin membaiknya instrumen dan regulasi perdagangan untuk melindungi petani Indonesia dari persaingan global yang tidak menguntungkan. Pendukung: Deptan. kedelai dan tebu (plus daging) sebagaimana disampaikan secara resmi Indonesia kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pemprov Utama: Depkeu. minimal untuk empat komoditas utama dalam special products (SPs). Depdagri. Deptan. melalui peningkatan kapasitas. Deptan. misalnya dengan pemberian keringanan pajak bagi para pelaku usaha di bidang pertanian dan pengolahan pangan Alokasi anggaran negara dan anggaran daerah yang memadai untuk pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. kepedulian dan pemberian pemahaman Kebijakan proteksi perdagangan. 64 . Pendukung: Depkeu. Pemprov Utama: Depdag. Depdagri. anggota parlemen. Pendukung: BKPM. Pemprov Indikator keberhasilan (output) Semakin bergairahnya investasi usaha berbasis pangan dan pertanian.No 15 Tujuan Kebijakan Melaksanakan Kebijakan Makro dan Perdagangan yang Kondusif Program Kegiatan Kebijakan fiskal yang memberikan insentif bagi usaha pertanian. yaitu: beras. Depdagri. dari hulu sampai hilir Semakin meningkatnya kesadaran para perumus kebijakan. Kadin. Kebijakan proteksi (dan promosi ini) danpat memberikan dukungan peningkatan daya saing produk strategis nasional Lembaga Relevan Utama: Depkeu.

dalam skema operasi pasar. Di tingkat normatif. Dimensi aksesibilitas dapat dipenuhi dengan strategi kecukupan pangan (food adequacy). yang dapat dijangkau dan aman dikonsumsi masyarakat luas. Dimensi ketersediaan dapat dipenuhi dengan konsistensi strategi peningkatan produksi pangan di dalam negeri. yang berdimensi ketersediaan pangan. Stok besi yang aman minimal setara satu bulan total konsumsi atau sekitar 300 ribu ton.BAB 4. Dimensi stabilitas dapat dipenuhi dengan pelaksanaan strategi implementasi kebijakan stabilisasi harga. maupun dengan pembenahan aspek kelembagaan dari pasar pangan di dalam negeri. sehingga diperlukan sekitar 3. sebagai penjabaran dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.6 juta ton per tahun. aksesibilitas dan stabilitas harga pangan dan utilisasi pangan. baik dengan dukungan penuh anggaran negara. memperkuat cadangan pangan pemerintah yang merupakan manifestasi dari konsep stok besi (iron stock) atau cadangan yang harus ada sepanjang waktu. PENUTUP: PENAJAMAN KEBIJAKAN Secara umum. bahkan kemandirian pangan. untuk mengurangi ketergantungan kepada pangan impor. falsafah cadangan pangan ini telah diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Selain itu. Perum Bulog mengelola cadangan 65 . penajaman kebijakan ketahanan pangan yang dapat mewadahi berbagai macam kepentingan yang berkembang menurut pelaku ekonomi dan segenap stakholders adalah berlandaskan falsafah dasar ketahanan pangan. cadangan pangan pokok juga perlu disimpan dalam bentuk stok penyangga (buffer stock) untuk pengendalian gejolak harga. terutama untuk mengatasi kondisi darurat. untuk menjamin ketersediaan dan kecukupan pangan di seluruh wilayah Indonesia. Penajaman kebijakan ketahanan pangan dapat ditempuh melalui berapa langkahh berikut: Pertama. sekaligus meningkatkan kemandirian pangan dan kedaulatan bangsa.

66 . dan indikator untuk mewujudkan cadangan pangan regional ini memang perlu secara rinci dirumuskan. bahkan kemandirian pangan di Indonesia. agar meminimalisir upaya perburuan rente dari para petualang. kriteria. Apabila saat ini Bulog mampu melakukan pengadaan beras dalam negeri mencapat 2 juta ton atau lebih. terutama pada musim paceklik. Upaya pengelolaan cadangan pangan oleh pemerintah daerah dapat menjadi komplemen dari cadangan beras pemerintah (CBP) di tingkat pusat (yang dikelola Perum Bulog).beras pemerintah (CBP) dan stok penyangga. Pemerintahan Daerah Provinsi. walau pun tidak terbatas pada romantisasi lumbung pangan seperti pada masa lalu. karena kemampuan Bulog hanya 7-8 persen dari produksi beras nasional. memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan cadangan pangan yang bersifat pokok. terutama untuk menjalankan program beras untuk keluarga miskin (raskin). hal itu adalah batas bawah tingkat aman untuk mengantisipasi gejolak peningkatan harga. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota). Dalam hal ini kata kuncinya adalah pemerintah dan pemerintah daerah (plus masyarakat) perlu bahumembahu meningkatkan cadangan pangan. mengurani risiko karena faktor ketidakpastian iklim. demi terciptanya ketahanan pangan. Sebagian besar stok pangan di Indonesia itu dikelola masyarkat sendiri dan kalangan dunia usaha. Prasyarat. Kapasitas gudang Bulog di seluruh Indonesia mencapai 4 juta ton lebih. Di satu sisi. Kedua. secara administratif telah ditegaskan bahwa ketahanan pangan adalah “urusan wajib” bagi pemerintahan daearah (Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Pertanggungjawaban Pemerintahan Daerah dan PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. sehingga strategi pengadaan pangan (dari) dalam negeri hampir perlu memperoleh perhatian memadai. dan mengembangkan skema lindung nilai yang mampu mengurangi risiko finansial.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan lain-lain]. kelembagaan dan budaya lokal. karena mampu menjangkau ribuan titik distribusi di segenap pelosok tanah air. yang dihasilkan melalui perjalanan panjang penelitian dan pengembangan (R and D). sehingga daya saing Imdonesia akan meningkat berlipat-lipat. Hanya dengan R-and-D dan R-for-D inilah. dalam menghadapi kondisi darurat. langkah engembangan teknologi dan industri pangan disesuaikan dengan kandungan sumber daya. yang sebenarnya tersebut di segenap pelosok Indonesia. terutama yang berbasis pemanfaatan teknologi dan industri pangan. serta penelitian untuk pengembangan (R for D). subsidi harga pangan [dalam format Program Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin). Lebih penting lagi. Diversifikasi pangan yang berbasis kearifan dan budaya lokal akan sangat kompatibel dengan strategi pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang sesuai dengan kondisi demografi Indonesia yang plural heterogen. skema subsidi pangan perlu pula dilihat sebagai investasi negara untuk memperkuat 67 . meningkatkan produksi dan produktivitas pangan di dalam negeri melalui aplikasi teknologi baru. inovasi baru akan tercipta. dengan cara memperbaiki manajemen kebijakan perdagangan dalam negeri dan luar negeri. Sebagaimana disinggung sebelumnya. Pada kondisi tidak normal tersebut. Sistem Kepaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). maka pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus mampu menjaga stabilitas harga pangan pokok. Keempat. Dunia usaha dan sektor swasta Indonesia secara umum perlu secara nyata melaksanakan kemitraaan strategis dengan peguruan tinggi dan pusat-pusat penelitian pangan. pemerintah perlu memobilisasi cadangan pangan pemerintah dan cadangan pangan masyarakat serta melakukan dan melibatkan industri pangan nasional. mungkin masih diperlukan. menjamin kelancaran manajeman distribusi pangan pokok. Dunia usaha dapat pula untuk menjadi aktor terdepan dalam mengembangkan diversifikasi pangan. Dalam hal ini.Ketiga.

bernilai ekonomi tinggi. melaksanakan strategi diversifikasi pangan secara lebih serius. eksotik. dan kemudahan lainnya. Falsafah dasar tentang ”pemenuhan pangan beragam dan gizi seimbang” dapat dijadikan pintu masuk ke dalam strategi diversifikasi pangan yang berbasis tepungtepungan. untuk mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras. insentif perpajakan. vitamin dan bergizi baik. mengandung protein. pengindustrian pangan lokal ini harus memperoleh dukungan kebijakan yang memadai. yang mudah sekali dijumpai di pelosok tanah air. sekaligus untuk berkontribusi pada pembangunan sumberdaya manusia Indonesia yang lebih komprehensif. Langkah awal dapat dimulai dengan pengembangan sumber pangan lokal. yang bersumber dari pangan lokal. yang saat ini sangat tinggi dan sering mempengaruhi tekanan permintaan terhadap beras. 68 . Kampanye ”makan ikan” dan ”minum susu” akan mampu memperbaiki kecukupan protein dan vitamin. mulai dari skema pembiayaan. bahkan menjadi cikal-bakal pelaksanaan food-stamp atau bantuan pangan. yang dapat saja mengurangi tekanan konsumsi terhadap bahan karbohidrat seperti beras yang sangat sensitif secara ekonomi dan politik. Kemudian. Kelima.jaringan distribusi program bahan pangan bersubsidi lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful