KINETIKA SAPONIFIKASI ETILASETAT

A. Tujuan Percobaan Menentukan Orde reaksi, konstanta laju reaksi dan faktor pre-eksonansial dari reaksi saponifikasi ester dengan metode konduktometri. B. Pendahuluan Sabun merupakan garam logam alkali dengan rantai asam monocarboxilic yang panjang. Larutan alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun keras adalah C. Dasar Teori 1. kinetika Kimia Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu Kimia Fisika yang mempelajari tentang kecepatan reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-reaksi yang bersangkutan. Tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara kinetik. Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion atau pembakaran dan reaksi-reaksi yang sangat lambat seperti pengkaratan, tidak dapat dipelajari secara kinetik. Diantara kedua jenis ini, banyak reaksi-reaksi yang kecepatannya dapat diukur. Ditinjau dari fase zat yang bereaksi, dikenal dua macam reaksi, yaitu : 1. Reaksi homogen, yaitu reaksi dimana tidak terjadi perubahan fase. 2. Reaksi heterogen, yaitu reaksi dimana terjadi perubahan fase. Kecepatan reaksi adalah kecepatan perubahan konsentrasi terhadap waktu, jadi tanda negatif menunjukkan bahwa konsentrasi berkurang bila waktu bertambah. (sukarjo. 1997 : 323324) Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari laju dan mekanisme reaksi kimia. Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab daripadadalam udara kering, makanan lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan, kulit bule lebih cepat menjadi gelap dalam musim panas daripada dalam musim dingin.I n i m e r u p a k a n t i g a c o n t o h ya n g l a z i m d a r i p e r u b a h a n k i m i a ya n g k o m p l e k s dengan laju yang beraneka menurut kondisi reaksi . (www.chem-is-try.org/10/11/2011).

2.

Laju Reaksi

Bidang kimia yang mengkaji kecepatan , atau laju terjadinya reaksi kimia dinamakan kinetika kimia ( chemical kinetics ). Energi kinetik adalah energi yang tersedia karena gerakan suatu benda. Laju reaksi yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (M/s) (Chang, 2004; 30).

Setiap reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan umum : Reaktan produk

Persamaan ini, memberitahukan bahwa ,selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk. Sehingga dapat diamati jalanya reaksi dengan cara memamntau menurunnya konsentrasi reaktan atau meninggkatnya konsentrasi produk . A B

Menurunnya jumlah molekul A dan meningkatnya molekul B seiring dengan waktu. Secara umum, akan lebih mudah apabila menyatakan laju dalam perubahan konsentrasi terhadap waktu. Jadi , untuk reaksi diatas dapat dinyatakan laju sebagai Laju = atau laju =

Dengan ∆[A] dan ∆[B] adalah perubahan konsentrasi ( dalam molalitas ) selama waktu ∆t. Karena konsentrasi A menurun selama selang waktu , ∆[A] merupakan kuantitas negatif. Laju reaksi adalah kuantitas positif, sehingga tanda minus diperlukan dalam rumus laju agar lajunya positif. Sebaliknya ,pada laju pembentukan produk tidak memerlukan tanda minus sebab ∆[B] adalah kuantitas positif (konsentrasi B meningkat seiring waktu) (Chang, 2004; 30). Untuk menentukan laju dari reaksi kimia yang diberikan, harus ditentukan seberapa cepat perubahan konsentrasi yang terjadi pada reaktan atau produknya. Secara umum, apabila terjadi reaksi A → B, maka mula-mula zat yang A dan zat B sama sekali belum ada. Setelah beberapa waktu, konsentrasi B akan meningkat sementara konsentrasi zat A akan menurun (Partana, 2003 :47). Hukum Laju , dalam membahas reaksi kesetimbangan kimia telah ditekankan bahwa reaksi ke kanan maupun ke kiri dapat terjadi begitu produk terbentuk, produk ini dapat bereaksi kembali menghasilkan reaktan semula. Laju bersih ialah: Laju bersih = laju ke kanan – laju ke kiri Dapat dikatakan, pengukuran konsentrasi memberikan laju bersih, bukannya sekedar laju ke kanan. Bagaimanapun, sesaat sebelum reaksi yang dimulai dari reaktan murni, konsentrasi reaktan jauh lebih tinggi dibandingkan produknya sehingga laju ke kiri dapat diabaikan. Selain itu, banyak reaksi berlangsung sempurna (K>>1) sehingga laju yang terukur hanyalah reaksi ke kanan atau eksperimen dapat diatur agar produknya dapat dialihkan jika terbentuk. Dalam subbab ini, persamaan diberikan pada laju ke kanan saja (www.chem-istry.org/10/11/2011) . Hukum laju dapat ditentukan pula dengan melakukan serangkain eksperimen secara sistematik pada reaksi A + B → C, untuk menentukan orde reaksi terhadap A maka konsentrasi A dibuat tetap sementara konsentrasi B divariasi kemudian ditentukan laju reaksinya pada variasi konsentrasi tersebut. Sedangkan untuk menentukan orde reaksi B, maka konsentrasi B dibuat tetap sementara itu konsentrasi A divariasi kemudian diukur laju reaksinya pada variasi konsentrasi tersebut (Partana, 2003 :49).

3.

Orde Reaksi

Orde dari suatu reaksi menggambarkan bentuk matematika dimana hasil perubahan dapat ditunjukkan. Orde reaksi hanya dapat dihitung secara eksperimen dan hanya dapat diramalkan jika suatu mekanisme reaksi diketahui seluruh orde reaksi yang dapat ditentukan sebagai jumlah dari eksponen untuk masing-masing reaktan, sedangkan hanya eksponen untuk masing-masing reaktan dikenal sebagai orde reaksi untuk komponen itu. Orde reaksi adalah jumlah pangkat faktor konsentrasi dalam hukum laju bentuk diferensial. Pada umumnya orde reaksi terhadap suatu zat tertentu tidak sama dengan koefisien dalam persamaan stoikiometri reaksi (Hiskia, 2003). Orde suatu reaksi ialah jumlah semua eksponen (dari) konsentrasi dalam persamaan laju. Jika laju suatu reaksi berbanding luus dengan pangkat suatu konsentrasi dari hanya satu pereaksi Laju = k[A] Ada beberapa macam orde reaksi : a. Reaksi orde nol Reaksi dinyatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila perubahan konsentrasi pereaksi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya asalkan terdapat jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu tidak mempengaruhi laju reaksi. Bila dinyatakan dalam laju reaksi : V == k [A]o ( keenan, 1989; ).

Integrasinya diperoleh = [A] = -kt + [Ao] Dengan membuat plot [A] terhadap t akan diperoleh garis-garis lurus dengan slope (kemiringan) = -k. Reaksi orde nol dapat digambarkan dengan grafik sebagai berikut :

Pemetaan garis lurus reaksi orde nol → hasil reaksi. [A] berkurang dari maksimum [A]o pada waktu t=0 menjadi [A] = 0 pada waktu t = [A]o/k . tetapan laju = k ,kemiringan kurva (petrucci,1987; ). b. Reaksi orde pertama

Ialah reaksi yang lajunya bergantung pada konsentrasi reaktan dipangkatkan dengan satu. Dalam reaksi pertama dari jenis reaksinya ialah: A Laju = Dari hukum laju, juga mengetahui bahwa, laju = k [A] = k [A] k= = -kt ln [A] – ln [A]o = -kt orde pertama = ln [A] = -kt + ln [A]o dengan grafik produk

slope =-k ( Chang, 2004;36-37). c. Reaksi orde dua Ialah reaksi yang lajunya bergantung pada konsentrasi salah satu reaktan dipangkatkan dua atau pada konsentrasi dua reaktan berbeda yang masing-masing dipangkatkan satu. Jenis paling sederhana hanya melibatkan satu molekul reaktan : A Dengan Dari hukum laju laju = laju = k[A]2 =k [A]2 ∫ = k∫ = kt + produk

Dengan grafik,

(Chang ,2004;41-42).

4. Faktor – faktor yang memengaruhi laju Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi diantaranya adalah konsentrasi, sifat dasar zat yang bereaksi, suhu, katalisator, dan juga ukuran partikel. a. Konsentrasi Semakin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi makin cepat reaksinya berlangsung. Makin besar konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga semakin besar kemungkinan terjadi tumbukan dengan demikian makin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi (www.chem-is-try.org/10/11/2011) . b. Sifat dasar zat yang bereaksi Zat-zat berbeda secara nyata dalm lajunya mereka mengalami perubahan kimia. Molekul hidrogen dan flour bereaksi secara meledak, bahkan pada temperatur kamar, dengan menghasilkan molekul hidrogen flourida H2 + F2 2HF ( sangat cepat pada suhu kamar)

Pada kondisi serupa, molekul hidrogen dan oksigen bereaksi begitu lambat, sehingga tak nampak sesuatu perubahan kimia : 2H2 + O2 2H2O (sangat lambat pada suhu kamar)

Suatu reaksi dapat bersifat sederhana, artinya perubahan energi bebasnya, ∆G negatif. Selisih kereaktifan dapat diterangkan dalam perbedaan sruktur yang berlainan dari atom dan molekul bahan yang bereaksi. Jika suatu reaksi melibatkan dua spesi molekul dengan atom yang sudah terikat oleh ikatan kofalen yang kuat ,tabrakan antara molekul-molekul ini pada temperatur biasa mungkin tak menyediakan cukup energi untuk memutuskan ikatan-ikatan ini (Keenan.1984; ). c. Suhu Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat apabila suhu dinaikan. Dengan menaikan suhu maka energi kinetika molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih dari energi aktifasi. Dengan demikian lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadan transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi menjadi lebih besar (www.chem-is-try.org/10/11/2011). d. Katalisator

Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam reaksi dengan maksud memperbesar reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi. Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya( mempercepat reaksi) dengan energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan menurunkan energi pengaktifasi maka pada suhu yang sama dapat berlangsung lebih cepat (www.chem-istry.org/10/11/2011). e. Ukuran partikel Semakin luas permukaan maka semakin banyak tempat bersentuhan untuk berlangsungnya reaksi. Luas permukaan dapat dicapai dengan cara memperkecil ukuran zat tersebut (www.chem-is-try.org/10/11/2011). 5. Persamaan Arhenius Setiap molekul yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin cepat gerakannya semakin besar energi kinetiknya. Jika energi kinetik awalnya besar, molekul yang bertumbukan akan bergetar kuat sehingga memutuskan beberapa ikatan kimianya. Putusnya ikatan merupakan langkah pertama pembentukan produk. Jika energi kinetik awalnya kecil, molekul hanya akan terpental tetapi masih utuh. Dari segi energi, ada semacam energi tumbukan minimum yang harus tercapai agar terjadi reaksi (Keenan,1984). Untuk bereaksi, molekul yang bertumbukan harus memiliki energi kinetik total sama dengan atau lebih besar daripada energi aktivasi (activation energy) (Ea), yaitu jumlah minimum energi yang diperlikan untuk mengawali reaksi kimia. Spesi yang terbentuk sementara oleh molekul reaktan sebagai akibat tumbukan sebelum membentuk produk dinamakan kompleks teraktifkan (activated complex) (juga dinamakan keadaan transisi). Energi aktivasi adalah energi yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan transisi. A+B C

Reaksi Eksotermik

Reaksi Endotermik ( Chang , 2004; 44 ).

6. Konduktometri

Konduktometri merupakan metode analisis kimia yang didasarkan pada daya hantar listrik suatu larutan analat. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion didalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion didalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Salah satu bagian penting dari konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang elektroda yang terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi dengan logam platina untuk menambah efektifitas permukaan elektroda. Metode konduktometri dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen suatu titrasi. Sedangkan metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen (Khopkar,1990;385387). Suatu metode yang penting untuk menentukan derajat ionisasi, didasarkan atas pengukuran konduktivitas elektrolit tersebut (metode konduktivitas). Metode ini berkaitan fakta, bahwa arus listrik dibawa oleh ion-ion yang terdapat dalam larutan, jumlah relatif ionion ini yang sangat erat kaitannya dengan derajat disosiasi akan menentukan konduktivitas larutan itu. Konduktivitas adalah suatu besaran yang diturunkan, karena ia tak dapat diukur langsung. Untuk menentukan konduktivitas, harus mengukur resistan spesifik dari larutan itu (Vogel,1985;13). Prinsip kerja dari konduktometri ini adalah sel hantaran dicelupkan kedalam larutan ion positif dan negative yang ada dalam larutan menuju sel hantaran menghasilkan sinyal listrik berupa hambatan listrik larutan. Hambatan listrik dikonversikan oleh alat menjadi hantaran listrik larutan (Anonim,2011). 7. Saponifikasi Saponifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan sabun dan gliserol, dengan menghidrolisa dengan basa, suatu lemak atau minyak. (Keenan.1992 :679) Hidrolisis suatu ester dalam basa atau penyabunan (saponifikasi) merupakan suatu reaksi tak reversibel. Karena tak reversibel penyabunan seringkali menghasilkan asam karboksilat dan alkohol dengan rendemen yang lebih baik daripada hidrolisis asam. Asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu lamak atau minyak disebut asam lemak. Karena hidrolisis berlangsung pada suasana basa, hasil penyabunan ialah garam karboksilat. Asam bebas akan diperoleh bila larutan itu diasamkan. Kata saponifikasi berasal dari kata “sabun” (Fessenden,1984;127-128). 8. Sifat Fisik Kimia Bahan a. NaOH 0,5M Natrium hidroksida merupakan padatan putih,tersedia di serpih, butiran dan sebagai larutan 50% jenuh. Sangat larut dalam air , dari larutan berair pada 12,3-61,8oC mengkristal di monohidrat dengan titik lebur 65,1oC dan densitas 1,829 g/cm3. NaOH mempunyai sifat ∆H pembubaran untuk diencerkan berair -44,45 kJ/mol (anonim;2010). b. CH3COOC2H5 Nama lain dari etilasetat adalah asam ester etil asetat atau etil etanoat dan merupakan cairan bening yang memiliki bau seperti buah. Memiliki berat molekul 88 g/mol, titik didih 77oC dan memiliki titik leleh sebesar -83oC. Apabila dilepaskan ke dalam tanah, bahan ini

akan larut dalam tanah, dan bahan ini memiliki log oktanol-air koefisiensi partisi kurang dari 3,0 (anonim,2010).

D. Alat dan Bahan 1. Alat Alat – alat yang digunakan dalm percobaan ini adalah Kondutometer, stopwatch, gelas arloji besar, labu takar 500ml, gelas beker 250ml, termometer, hotplate, statip dan klem, magntic stirer, pinset, gelas beker 150ml, botol aquades, bola hisap, gelas beker 500ml, piet ukur 1ml, gelas ukur 100ml, pipet volum 25ml dan corong gelas. 2. Bahan Bahan – bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah NaOH 0,5 M, CH3COOC2H5 dan aquades. E. Cara Kerja Cara kerja dari percobaan ini adalah 25 mL NaOH 0,5M diambil yang kemudian diencerkan dengan aquades menjadi 500mL pada labu takar, dikocok-kocok sampai tercampur (homogen). Setelah itu disiapkan pula 1,2 mL CH3COOC2H5 pekat dan diencerkan juga dengan aquades menjadi 500mL dalam labu takar 500mL kemudian dikocok-kocok juga. Setelah itu diambil 100mL larutan NaOH dan 100mL larutan CH3COOC2H5 .Kedua larutan tersebut dipanaskan sampai mencapai suhu yang diinginkan yaitu pada suhu 30oC maka diletakan juga termometer ke dalam larutan . Setelah mencapai suhu tersebut kedua larutan tersebut dicampurkan diatas hot plate. Selanjutnya dipasang konduktometernya dalam larutan yang dicampur, kemudian diamati daya hantar dalam setiap 1 menitnya selama 30 menit. Kemudian diulangi pada suhu selanjutnya yaitu suhu 40oc, 50oC, dan 60oC dan suhu ruang dengan langkah-langkat yang sama . F. Data Pengamatan 1. a. Tabel konduktifitas larutan pada suhu 30°C K∞ = 1, 733 x 10-3 ms/cm
Waktu (menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Daya Hantar (ms/cm) 2,52 2,49 2,47 2,44 2,42 2,40 2,38 2,36 2,34 2,33 2,32 Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 0,787 0,757 0,737 0,707 0,687 0,667 0,647 0,627 0,607 0,597 0,587 1/Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 1,270 1,321 1,356 1,414 1,455 1,499 1,545 1,594 1,647 1,675 1,703

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

2,31 2,29 2,28 2,28 2,27 2,26 2,25 2,25 2,24 2,23 2,23 2,21 2,21 2,20 2,20 2,19 2,19 2,18 2,18

0,577 0,557 0,547 0,547 0,537 0,527 0,517 0,517 0,507 0,497 0,497 0,477 0,477 0,467 0,467 0,457 0,457 0,447 0,447

1,733 1,795 1,828 1,828 1,862 1,897 1,934 1,934 1,972 2,012 2,012 2,096 2,096 2,141 2,141 2,188 2,188 2,237 2,237

b. Grafik t Vs 1/kt-k∞

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1)
2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 10 20 30 40 1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm1) Linear (1/kt-k∞ (103Ω-1cm-1)) Linear (1/kt-k∞ (103Ω-1cm-1)) y = 0.0329x + 1.3097 R² = 0.9856

2. a. Tabel konduktifitas larutan pada suhu 40°C Waktu (menit) 1 2 3 4 5 Daya Hantar (ms/cm) 2,71 2,69 2,65 2,62 2,57 Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 0,977 0,957 0,917 0,887 0,837 1/Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 1,023 1,044 1,090 1,127 1,194

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

2,52 2,49 2,46 2,44 2,42 2,40 2,39 2,37 2,35 2,34 2,33 2,31 2,30 2,29 2,29 2,28 2,27 2,26 2,25 2,25 2,24 2,24 2,23 2,23 2,23

0,787 0,757 0,727 0,707 0,687 0,667 0,657 0,637 0,617 0,607 0,597 0,577 0,567 0,557 0,557 0,547 0,537 0,527 0,517 0,517 0,507 0,507 0,497 0,497 0,497

1,270 1,321 1,375 1,414 1,455 1,499 1,522 1,569 1,620 1,647 1,675 1,733 1,763 1,795 1,795 1,828 1,862 1,897 1,934 1,934 1,972 1,972 2,012 2,012 2,012

b. Grafik t Vs 1/kt-k∞

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1)
2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 10 20 30 40 y = 0.0357x + 1.0593 R² = 0.9718

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm1) Linear (1/kt-k∞ (103Ω-1cm-1))

3. a. Tabel konduktifitas larutan pada suhu 50°C Waktu (menit) 1 Daya Hantar (ms/cm) 3,15 Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 1,417 1/Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 0,705

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

3,10 3,05 3,02 2,99 2,97 2,95 2,94 2,93 2,92 2,91 2,90 2,89 2,89 2,88 2,88 2,88 2,88 2,87 2,87 2,87 2,87 2,86 2,86 2,86 2,85 2,85 2,85 2,85 2,85

1,367 1,317 1,287 1,257 1,237 1,217 1,207 1,197 1,187 1,177 1,167 1,157 1,157 1,147 1,147 1,147 1,147 1,137 1,137 1,137 1,137 1,127 1,127 1,127 1,117 1,117 1,117 1,117 1,117

0,731 0,759 0,777 0,795 0,808 0,821 0,828 0,835 0,842 0,849 0,856 0,864 0,864 0,871 0,871 0,871 0,871 0,879 0,879 0,879 0,879 0,887 0,887 0,887 0,895 0,895 0,895 0,895 0,895

b. Grafik t Vs 1/kt-k∞

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1)
1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 10 20 30 40 y = 0.0051x + 0.7693 R² = 0.7936

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm1) Linear (1/kt-k∞ (103Ω-1cm-1))

4. a. Tabel konduktifitas larutan pada suhu 60°C Waktu (menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Daya Hantar (ms/cm) 3,23 3,19 3,12 3,06 3,01 2,99 2,97 2,95 2,94 2,93 2,92 2,92 2,93 2,93 2,92 2,92 2,92 2,91 2,91 2,91 2,91 2,91 2,91 2,91 2,92 2,92 2,92 2,92 2,92 2,92 Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 1,497 1,457 1,387 1,327 1,277 1,257 1,237 1,217 1,207 1,197 1,187 1,187 1,197 1,197 1,187 1,187 1,187 1,177 1,177 1,177 1,177 1,177 1,177 1,177 1,187 1,187 1,187 1,187 1,187 1,187 1/Kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1) 0,668 0,686 0,720 0,753 0,783 0,796 0,808 0,821 0,828 0,835 0,842 0,842 0,835 0,835 0,842 0,842 0,842 0,849 0,849 0,849 0,849 0,849 0,849 0,849 0,842 0,842 0,842 0,842 0,842 0,842

b. Grafik t Vs 1/kt-k∞

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm-1)
1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 10 20 30 40 y = 0.0041x + 0.7563 R² = 0.5305

1/kt-k∞ (10-3Ω-1cm1) Linear (1/kt-k∞ (103Ω-1cm-1))

5.a.Tabel ln kr vs 1/T T (Kelvin) 303 313 323 333 1/T 0,0033 0,0032 0,0031 0,003 0,0329 0,0357 0,0051 0,0041 kr Ln kr -3,41 -3,33 -5,27 -5,49

b. grafik ln kr vs 1/T

1/T
0.00335 0.0033 0.00325 0.0032 0.00315 0.0031 0.00305 0.003 -6 -5 -4 -3 -2 0.00295 -1 0 1/T Linear (1/T) y = 0.0001x + 0.0036 R² = 0.8225

G. Pembahasan Percobaan yang ini yaitu tentang kinetika saponifikasi etilasetat yang bertujuan untuk menentukan orde reaksi, konstanta laju reaksi, energi aktivasi, dan faktor pre-eksonensial dari suatu reaksi saponifikasi ester dengan metode konduktometri. Prinsip kerja yang dilakukan pertama kali yaitu melakukan pengenceran NaOH 0.5M. Sebanyak 25 mL larutan NaOH diambil diletakkan dalam labu takar dan diberi aquades sampai 500 mL, dikocok dan dimasukkan gelas beker. Tujuan diencerkannya NaOH 0,5 M dengan aquades yaitu untuk dapat mengikat air(senyawa polar) sehingga mnghasilkan persamaan reaksi : NaOH(aq) + H2O(l) Na+ + OH-

Selanjutnya, diambil pula larutan CH3COO2H5 pekat sebanyak 1.2 mL diencerkan menjadi 500 mL, dikocok dan kemudian dimasukkan dalam gelas beker. Pengenceran ini bertujuan untuk menyiapkan larutan yang kurang pekat dari larutan yang lebih pekat, karena larutan CH3COOC2H5 yang digunakan merupakan larutan asam lemah pekat. Prinsip kerja yang kedua yaitu kedua larutan yang sudah diencerkan tersebut dicampurkan dalam gelas beker kemudian diamati daya hantarnya setiap 1 menit selama 30 menit dengan menggunakan konduktometer. Proses pencampuran kedua larutan ini secara tidak langsung menjelaskan prinsip dari saponifikasi yaitu reaksi hidrolisis asam lemah (CH3COO2H5) oleh adanya basa lemah (NaOH). Sehingga diperoleh persamaan reaksi sebagai berikut : CH3COO2H5 + NaOH → CH3COONa + CH3CH2OH menghasilkan produk natrium asetat dan etilalkohol. Pada percobaan ini dilakukan variasi suhu yaitu pada suhu 30˚C, 40˚C, 50˚C, dan 60˚C. Berdasarkan tabel F.1.a pada suhu 30˚C, diperolah grafik linear yang berarti berada pada orde kedua, dimana semakin banyak waktu (t) yang diperlukan maka semakin meningkat nilai 1/[A]t, sehingga antara 1/[A]t dengan t berbanding lurus. Persamaan garisnya yaitu y = 0,0329x + 1,3097. Berdasarkan tabel F.2.a pada suhu 40˚C, juga diperoleh grafik dengan garis linear. Dimana semakin banyak waktu (t) yang diperlukan maka semakin meningkat nilai 1/[A]t, sehingga antara 1/[A]t dengan t berbanding lurus dengan persamaan garisnya yaitu y = 0,0357x + 1,0593. Berdasarkan tabel F.3.a pada suhu 50˚C, juga diperoleh grafik linear namun tidak sempurna. Hal ini dikarenakan sulitnya mengkonstankan suhu untuk tetap sehingga daya hantar listriknya menjadi naik dan kadang tetap. Persamaan grafik yang diperoleh yaitu y = 0,0051x + 0,7693.

Berdasarkan tabel F.4.a pada suhu 60˚C, juga diperoleh grafik linear namun tidak sempurna. Hal ini disebabkan juga karena kurang bisanya mengkonstankan suhu dan larutan pada suhu tetap. Persamaan grafik yang diperoleh yaitu y = 0,0041x + 0,7563. Dalam percobaan ini harus diketahui nilai [A]t , dapat dicari dengan menggunakan persamaan: [A]t = kt - k∞ dengan k~ = 1,733 x 10-3 Ω-1cm-1

yang masing-masing nilai k-nya sudah diketahui

Setelah dihitung keempat suhu tersebut maka akan diperoleh masing-masing nilai krnya, yang nilai kr ini akan digunakan untuk menghitung penentuan nilai energi aktifasi dan faktor pre-eksonensial. Pada prinsip kerja yang terakhir yaitu penentuan energy aktivasi (Ea) dan factor preeksonensial, dengan diketahuinya nilai T dan kr perhitungan ini dapat dijelaskan. Nilai kr diperoleh berdasarkan grafik dari 4 suhu yang berbeda tadi. Untuk grafiknya ln kr Vs 1/T , jadi suhu dalam bentuk celcius diubah dalam bentuk Kelvin dan untuk kr diubah dalam bentuk ln. Nilai ln kr sendiri adalah minus (-), sehingga diperoleh persamaan y = 0,0001x + 0,0036 Untuk perhitungan menentukan energi aktivasi (Ea), pada persamaan garis diketahui nilai Ea/R adalah 0,0001, nilainya kecil karena dipengaruhi oleh nilai ln kr-nya negative. Sehingga dari persamaan tersebut diperoleh nilai Ea = -8,341 x 10-4 , sedangkan nilai preeksonensial (A) diperoleh dari nilai ln A = 0,0036. karena nilai A pada persamaan garis tersebut masih dalam bentuk ln A maka dikembalikan menjadi ℮0,0036, sehingga hasil yang diperoleh yaitu 1,003. Pada persamaan Arhenius diatas minus untuk eksponen Ea/RT, maka konstanta laju menurun dengan meningkatnya energi aktivasi dan meningkat dengan meningkatnya suhu. Dalam percobaan ini juga di bahas reaksi saponifikasi. Reaksi saponifikasi ini merupakan reaksi tak reversibel atau searah, jadi akan bereaksi mendekati sempurna dan rendemen yang dihasilkan akan lebih banyak . pada reaksi saponifikasi tersebut dihasilkan garam karboksilat (CH3COONa)karena reaksinya dalam suasana basa, dengan OH- bukan sebagai katalis melainkan sebagai pereaksi. Dengan mekanisme reaksi : Tahap 1 (adisi OH- lambat )

Tahap 2 (eliminasi –OC2H5 dan transfer proton, cepat)

H. Kesimpulan

Pada percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : Pada percobaan ini untuk menentukan orde reaksi dapat dilihat dari grafik yang diperoleh yaitu garis linear yang itu membuktikan bahwa reaksi berlangsung pada orde dua. Untuk konstanta laju reaksi dapat dilihat pada grafik yang masing-masing telah ada nilai kr-nya, diantaranya: T1 = 303 T2 = 313 T3 = 323 T4 = 333 kr = 0,0329 kr = 0,0357 kr = 0,0051 kr = 0,0041

Kemudian untuk energy aktivasi dapat dilihat pada grafik terakhir yang dengan persamaan garis y = 0,0001x + 0,0036 , dengan –Ea/R = 0,0001 , jadi nilainya Ea adalah 8,341 x 10-4, dan factor pre-eksonensialnya A = 1,003 dengan reaksi saponifikasi pada percobaan: CH3COOC2H5 + NaOH CH3COONa + CH3CH2OH

I. Daftar Pustaka

Fessenden, Ralph.J dan Joan S.Fessenden . 1982 . Fessenden dan Fessenden Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 2 . Jakarta : Erlangga. Khopkar,S.M. 2008 . Konsep Dasar Kimia Analitik . Jakarta : Universitas Indonesia (UIPress).

Keenan,dkk. 1984 . Edisi Keenam Kimia Untuk Universitas Jilid 2 . Jakarta : Erlangga. Chang, Raymond. 2003 . Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2 . Jakarta : Erlangga. Sukarjo. 1997. Kimia Fisika. Jakarta: PT Aneka Cipta Svehla, G. 1985 . Bagian 1 Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Kelima . Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka. www.chem-is-try.org/materi-kimia/kimia-industri/saponifikasi/ , di akses tanggal 26 oktober 2012 jam 13.30

J. Lampiran

1.Perhitungan a.Penentuan nilai Ea (energy aktivasi) ln kr = -Ea/R x 1/T + ln A y = 0,0001x + 0,0036 -Ea/R = 0,0001 -Ea/8.314 = 0,0001 Ea = -R x 0,0001 = -8.314 x 0,0001= - 8,341 x 10-4 b.Penentuan nilai A (pre-eksonensial) ln A = 0,0036 A = ℮0,0036= 1,003

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful