TINGKAT KESADARAN Pengertian Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari

lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi : 1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.. 2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriakteriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. 6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian). Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign. Penyebab Penurunan Kesadaran Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika 1. 2. 3. 4. 5. 6. Otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) Kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok) Penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) Pada keadaan hipo atau hipernatremia Dehidrasi; asidosis, alkalosis Pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak) 7. Infeksi (encephalitis); epilepsi. Mengukur Tingkat Kesadaran Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran

dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive). Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness)

BAB II PEMBAHASAN A. Cedera Kepala, Leher, dan Tulang Belakang Cedera tulang belakang terutama mempengaruhi orang dewasa muda, dengan cedera yang paling tinggi terjadi antara usia 16 dan 30. Namun, jumlah cedera tulang belakang pada orang dewasa yang lebih tua adalah jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun terakhir. Lebih dari 80% dari cedera tulang belakang terjadi pada laki-laki (NSCISC, 2009).

Tanda dan Gejala Cedera Pasien tidak menunjukkan tingkat kesadaran yang berubah dan mereka yang tidak mengganggu cedera atau defisit neurologis mungkin menunjukkan kelembutan atau nyeri pada palpasi atau dengan gerakan. Jangan pernah memindahkan pasien atau meminta mereka untuk bergerak atau melakukan rentang gerak (ROM) latihan untuk mendapatkan respon nyeri. Nyeri yang independen dari gerakan atau palpasi dapat terwujud tidak hanya di tulang belakang tetapi juga di kaki apakah ada pembengkakan atau cedera pada saraf di sepanjang tulang belakang. Nyeri juga dapat disebabkan oleh kontraksi otot yang dapat berubah di alam. Deformitas tulang belakang yang jelas untuk dapat dicatat pada palpasi. Tergantung pada derajat kelainan bentuk, ini dapat menimbulkan masalah ketika menempatkan pasien terlentang pada papan tulang panjang. Masalah ini biasanya dapat diatasi dengan padding papan untuk mengakomodasi deformitas. Tanda-tanda cedera neurologis: • Mati rasa, kelemahan atau kesemutan pada ekstremitas • Kelumpuhan dalam satu atau lebih ekstremitas atau di bawah tingkat cedera • Hilangnya sensasi pada satu atau lebih ekstremitas atau di bawah tingkat cedera • Inkontinensia • Priapisme • Pernapasan kesulitan

pemindahan penderita harus dilakukan dengan hati-hati dan tidap dapat dilakukan sendirian. long spine board dan neck colar untuk menstabilkan posisi penderita. Dalam memiringkan juga perlu dilakukan secara bersama yang disebut dengan teknik log roll. Pilih mobil dengan kriteria sebagai berikut: · Pilih mobil yang bisa membawa pasien dengan tidur terlentang tanpa memanipulasi pergerakan tulang belakang. penolong leluasa bergerak untuk memberikan pertolongan bila selama perjalanan terjadi sesuatu. Berjongkok.B. tengah. Stabilisasi. penanganan yang telah dan sedang dilakukan termasuk meminta petunjuk dari petugas pelayanan gawat darurat rumah sakit tentang apa yang harus dikerjakan bila menemui . Tubuh sedekat mungkin dengan beban yang harus diangkat Pada pasien dengan trauma servikal dan tulang belakang. Pemilihan sarana transportasi yang salah juga bisa menimbulkan cedera yang lebih parah pada pasien. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penolong saat melakukan pemindahan adalah: a. Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita. Idealnya transportasi pasien cedera kepala adalah menggunakan ambulan dengan peralatan trauma. jika tidak mampu jangan paksakan b. dan Tulang Belakang Kebanyakan para penolong yang tidak tahu cara-cara pengangkatan dan pemindahan akan membuat cedera semakin parah pada saat pemindahan korban. Tetapi untuk daerah yang akses pertolongan pertama oleh ambulan tidak bisa cepat. Untuk menghindari cedera sekunder gunakan bidai. Hal yang juga penting selama perjalanan adalah komunikasi dengan pihak rumah sakit. Kedua kaki berjarak sebahu kita. satu kaki sedikit di depan kaki sebelahnya c. jangan berlama-lama untuk menunggu datangnya ambulan. Evakuasi. Tiga penolong dengan masing-masing penyangga bagian atas. dan bawah akan mengurangi kemungkinan cedera lebih parah. jangan membungkuk saat mengangkat d. Leher. Dengan melaporkan kondisi korban. dan Transportasi pada Trauma Kepala.

CVP harus dipasang untuk memonitor pemasukan cairan secara hati hati. Karenanya . c. dalam waktu 2 jam. 3. long spine board harus dilepaskan secepatnya setelah diagnosa cedera tulang belakang ditegakkan. hanya untuk maintenance saja. Imobilisasi dengan long spine board pada penderita yang mengalami paralisis akan meningkatkan resiko terjadinya ulcus dekubitus pada titik penekanan. Penggunaan Steroid Penggunaan kortikosteroid. pemasangan kolar servikal semi rigid dan long back board. dan melepaskan long spine board secepatnya. Resusitasi Cairan dan Monitoring Monitoring CVP Cairan intravena yang dibutuhkan umumnya tidak terlampau banyak. 2. Kateter Lambung Kateter lambung harus dipasang pada seluruh penderita dengan paraplegia dan kuadriplegia untuk mencegah distensi gaster dan aspirasi. bila memungkinkan dipergunakan bagi penderita dengan defisit neurologist yang disebabkan bukan karena luka tembus kurang dari 8 jam pasca trauma. b. Perlindungan terhadap trauma lebih lanjut Penderita yang diduga mengalami cedera tulang belakang harus dilindungi terhadap trauma lebih lanjut. dan Tulang Belakang 1. Pihak unit gawat darurat juga dapat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pertolongan korban sesampainya di rumah sakit. Obat pilihan adalah metilprednisolon (30 mg/kg). Prinsip Terapi Bagi Penderita Trauma Kepala. diberikan secara intravena dalam waktu kurang . kecuali untuk keperluan pengelolaan syok. melakukan modifikasi teknik log roll untuk mempertahankan kesegarisan bagi seluruh tulang belakang. untuk memonitor output urine dan mencegah terjadinya distensi kandung kencing. Kateter urin Pemasangan kateter dilakukan pada primary survey dan resusitasi.kesulitan. Perlindungan ini meliputi. contoh. Leher. a.

b.lebih 15 menit. kecuali jika ditemukan adanya komplikasi. seperti pada long spine board: (1) satu untuk mempertahankan imobilisasi segaris kepala dan leher penderita. Tali pengikat atau plester dipergunakan untuk memfiksasi kepala dan leher penderita ke long spine board. d.4 mg/kg per jam untuk 24 jam berikutnya dimulai antara 3 jam pasca trauma. Tungkai bawah penderita diluruskan secara hati-hati dan diletakkan dalam posisi kesegarisan netral sesuai dengan tulang belakang. . Kedua pergelangan kaki diikat satu sama lain dengan plester. Saat melakukan prosedur ini. diatas krista iliaka. e. tetapi masih terdapat gerakan minimal pada tulang belakang. dan diatas pergelangan kaki. Lengan penderita diluruskan dan diletakkan di samping badan. kemudian dipasang kolar servikal semirigid. Orang ke tiga memasukkan tangan dan memegang panggul penderita dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain memegang plester yang mengikat ke dua pergelangan kaki. paha. c. (3) satu untuk pelvis dan tungkai. Dilakukan in line imobilisasi kepala dan leher secara manual. dan (4) satu mengatur prosedur ini dan mencabut spine board. Prinsip Melakukan Imobilisasi Tulang Belakang Dan Log Roll Penderita dewasa Empat orang dibutuhkan untuk melakukan prosedur modifikasi log roll dan imobilisasi penderita. Prosedur ini mempertahankan seluruh tubuh penderita dalam kesegarisan. Tali pengikat ini dipasang pada bagian toraks. imobilisasi sudah dilakukan pada ekstremitas yang diduga mengalami fraktur. Dosis awal dilanjutkan dengan dosis maintenance 5. Pertahankan kesegarisan kepala dan leher penderita sewaktu orang kedua memegang penderita pada daerah bahu dan pergelangan tangan. Long spine board dengan tali pengikat dipasang pada sisi penderita. (2) satu untuk badan (termasuk pelvis dan panggul). atau untuk 48 jam bila pemberian awal antara 3 dan 8 jam pasca trauma. a.

Juga dipasang plester di atas kolar servikal untuk menjamin tidak adanya gerakan pada kepala dan leher.f. g. Untuk mencegah terjadinya hiperekstensi leher dan kenyamanan penderita. Harap diingat. hanya diperlukan pemutaran minimal untuk meletakkan spine board di bawah penderita. dan dilakukan log roll ke arah spine board. Bantalan. maka diperlukan bantalan yang diletakkan dibawah kepala penderita. Kesegarisan badan penderita harus dipertahankan sewaktu menjalankan prosedur ini. dan kepala penderita diikat ke long spine board. h. Dengan komando dari penolong yang mempertahankan kepala dan leher. dilakukan log roll sebagai satu unit ke arah ke dua penolong yang berada pada sisi penderita. i. Spine board diletakkan dibawah penderita. spine board hanya digunakan untuk transfer penderita dan jangan dipakai untuk waktu lama. selimut yang dibulatkan atau alat penyangga lain ditempatkan di kiri dan kanan kepala dan leher penderita. .

sehingga kepala yang besar pada anak tidak menyebabkan fleksi tulang leher. penderita dapat mengalami dekubitus pada oksiput. • Proporsi kepala anak jauh lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. sehingga dapat mempertahankan kesegarisan tulang belakang anak. Oleh karena itu. dan tumit. skapula. maka dapat menggunakan long spine board untuk dewasa dengan gulungan selimut diletakkan di seluruh sisi tubuh untuk mencegah pergerakan ke arah lateral. Bila tidak ada. dan apabila keadaan penderita mengizinkan secepatnya long spine board dilepas. Melepas Long Spine board . Bantalan dipasang dari tulang lumbal sampai ujung bahu dan kearah lateral sampai di ujung board. sakrum. Komplikasi Bila penderita dalam waktu lama (kurang lebih 2 jam atau lebih lama lagi) diimobilisasi dalam long spine board.Penderita Anak-anak Untuk imobilisasi anak diperlukan long spine board pediatrik. secepatnya bantalan harus dipasang dibawah daerah ini. oleh karena itu harus dipasang bantalan dibawah bahu untuk menaikkan badan.

Untuk mengurangi resiko kerusakan medula spinalis. b. skapula. c. Sewaktu penderita di imobilisasi dengan spine board. karena penderita akan mudah diangkat beserta dengan spine boardnya. pergerakan tipe shearing ke berbagai arah harus dihindarkan. Proteksi harus dipertahankan sampai adanya cedera tulang belakang yang tidak stabil di singkirkan. Secara umum hal ini dilaksanakan pada saat penanggulangan prehospital dan penderita datang ke rumah sakit sudah dalam sarana transfer yang aman. maka diperlukan pencegahan secara mekanis untuk seluruh penderita yang mempunyai resiko. Yang terbaik untuk mengontrol . Seperti sebelumnya dibicarakan. fleksi. Spine board harus dilepaskan secepatnya. ekstensi. pada penderita dilakukan pemeriksaan foto servikal. tumit ). Sebelum dipindahkan dari spine board.Pergerakan penderita yang mengalami cedera tulang belakang yang tidak stabil akan menyebabkan atau memperberat cedera medula spinalisnya. Pergerakan yang aman bagi penderita dengan cedera yang tidak stabil atau potensial tidak stabil membutuhkan kesegarisan anatomik kolumna vertebralis yang dipertahankan secara kontinyu. Rotasi. pelvis sesuai dengan indikasinya. sakrum. melakukan imobilisasi penderita dengan long spine board adalah teknik dasar membidai (splinting) tulang belakang. sangat penting untuk mempertahankan imobilisasi kepala dan leher dan badan secara berkesinambungan sebagai satu unit. a. toraks. Tali pengikat yang dipergunakan untuk imobilisasi penderita ke spine board janganlah dilepas dari badan penderita sewaktu kepala masih terfiksir ke bagian atas spine board. bending lateral. waktu yang tepat untuk melepas long spine board adalah sewaktu dilakukan tindakan log roll untuk memeriksa bagian belakang penderita. Spine board tanpa bantalan akan menyebabkan rasa tidak nyaman pada penderita yang sadar dan mempunyai resiko terhadap terjadinya dekubitus pada daerah dengan penonjolan tulang (oksiput. Oleh karena itu penderita harus dipindahkan dari long spine board ke tempat dengan bantalan yang baik dan permukaan yang nyaman secepatnya bisa dilakukan secara aman.

e. Sebagai contoh alat ini dapat digunakan untuk transfer penderita dari satu alat traspor ke alat lain atau ke tempat khusus misalnya meja ronsen. Modifikasi tehnik log roll. penderita harus tetap dalam imobilisasi sampai cedera tulang belakang disingkirkan. Diperlukan empat asisten: (1) satu untuk mempertahankan imobilisasi in line kepala dan leher. Tandu Sekop (Scoop Stretcher) Alternatif melakukan modifikasi teknik log roll adalah dalam penggunaan scoop stretcher untuk transfer penderita. d. Alat ini menyebabkan pemeriksa harus memikirkan adanya cedera tulang vertebra servikal atau torakolumbal. dan (4) satu untuk menentukan arah prosedur ini dan melepas long spine board. . Scoop stretcher bukanlah alat untuk imobilisasi penderita. Modifikasi teknik log roll. Pada penderita dengan cedera multipel dengan penurunan tingkat kesadaran. Penggunaan yang tepat alat ini akan mempercepat transfer secara aman dari long spine board ke tempat tidur. karena akan melekuk di bagian tengah dengan akibat kehilangan kesegarisan dari tulang belakang. alat perlindungan harus dipertahankan sampai cedera pada tulang belakang disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan radiologis. dipergunakan untuk melepas long spine board. Imobilisasi untuk penderita dengan kemungkinan cedera tulang belakang Penderita umumnya datang ke bagian gawat darurat dengan alat perlindungan tulang belakang. Setelah penderita ditransfer dari backboard ke tempat tidur dan scoop stretcher dilepas.kepala dan leher adalah dengan imobilisasi inline manual. Harap diingat. Scoop stretcher bukanlah alat transport. Tidak ada bagian tubuh penderita yang boleh melekuk sewaktu penderita dilepaskan dari spine board. (2) satu untuk badan penderita ( termasuk pelvis dan panggul ). dan jangan mengangkat scoop stretcher hanya pada ujung-ujungnya saja. penderita harus di reimobilisasi secara baik ke ranjang/tandu. berdasarkan dari mekanisme cedera. (3) satu untuk pelvis dan tungkai bawah.

tidak mengeluh adanya nyeri leher atau nyeri pada tulang belakang.Bila penderita diimobilisasi dengan spine board dan paraplegia. Jika dicurigai adanya cedera spinal. Pemindahan pasien ke ambulans dilakukan dalam 4 tahap berikut o o o o Pemilihan alat yang digunakan untuk mengusung pasien. harus diduga adanya ketidakstabilan tulang belakang dan perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk mengetahui letak dari cedera tulang belakang. Pada beberapa kasus tertentu. Stabilisasi pasien untuk dipindahkan Memindahan pasien ke ambulans Memasukkan pasien ke dalam ambulans 5. . Pada saat ambulans datang anda harus mampu menjangkau pasien sakit atau cedera tanpa kesulitan. misalnya pada keadaan lokasi yang berbahaya atau pasien yang memerlukan prioritas tinggi maka proses pemindahan pasien harus didahulukan sebelum menyelesaikan proses pemeriksaan dan penanganan emergensi diselesaikan. Bila penderita sadar. Penderita yang menderita cedera multipel dan dalam keadaan koma harus tetap diimobilisasi pada usungan dan dilakukan tindakan log roll untuk mengetahui foto yang diperlukan untuk menyingkirkan adanya suatu fraktur. 4. Memindahkan pasien ke ambulans 1. 3. melakukan prosedur penanganan emergensi di tempat dia terbaring. dan tidak terdapat nyeri tekan pada saat palpasi tulang belakang. Kemudian penderita dapat ditransfer secara hati-hati dengan menggunakan prosedur tersebut di atas ke tempat tidur untuk bantuan ventilasi yang lebih baik. memeriksa kondisinya. 2. dan kemudian memindahannya ke ambulans. kepala harus distabilkan secara manual dan penyangga leher (cervical collar) harus dipasang dan pasien harus diimobilisasi di atas spinal board. neurologis normal. Pasien sakit atau cedera harus distabilkan agar kondisinya tidak memburuk. pemeriksaan radiologis tulang belakang dan imobilisasi tidak diperlukan.

dan seluruh balut serta bidai harus diperiksa sebelum pasien diletakkan di alat pengangkut pasien. Perawatan luka dan cedera lain yang diperlukan harus segera diselesaikan. 3. Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. kapanpun seorang pasien dikategorikan dalam prioritas tinggi. Posisikan dan amankan pasien. dan menjaga privasi. dan yang ketiga setinggi tungkai. pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. segera transpor dengan cepat. 10. Pada pasien tak sadar yang tidak . benda yang menusuk harus difiksasi. 9. Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway). 8. Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. 7. 2. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. Selama pemindahan ke ambulans. Amankan posisi tandu di dalam ambulans. yang kedua setinggi pinggang atau panggul. Kadang-kadang digunakan empat tali pengikat di mana dua tali disilangkan di dada. Jika penderita/korban tidak mungkin diangkut dengan tandu misalnya pada penggunaan spinalboard dan hanya bisa diletakkan di atas tandu/usungan ambulans (ambulance stretcher). Pada prinsipnya.maka disyaratkan untuk menggunakan tali kekang yang dapat mencegah pasien tergelincir ke depan jika ambulans berhenti mendadak Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi 1. pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan. mencegah paparan cuaca. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Penyelimutan pasien membantu menjaga suhu tubuh. Yang pertama diletakkan setinggi dada.6. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk merawat pasien dengan cedera yang sangat buruk atau korban yang telah meninggal. Alat angkut (carrying device) pasien harus memiliki tiga tali pengikat untuk menjaga posisi pasien tetap aman.

Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans. 7. jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Periksa bidainya. . 6. Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung. Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga.memiliki potensi cedera spinal. Periksa perbannya. letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada tempatnya. 4. Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba. Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya. ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Melonggarkan pakaian yang ketat. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri. termasuk memperbaiki pakaian pasien. 5. 8. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng.

maka prosedur tersebut harus dilanjutkan selama perjalanan ke rumah sakit.Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. dan sensasinya. Perawatan Pasien selama Perjalanan 1.karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan. memeriksa perban dan bidai. atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta.biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi-bukan di ruang pasien. fungsi motorik. Jika dompet. pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. 9. Lanjutkan perawatan medis emergensi selama dibutuhkan. pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. Naikkan barang-barang pribadi. bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit. maka tahap persiapan. 11. Jika usaha bantuan hidup (life support) telah dimulai sebelum memasukkan pasien ke dalam ambulans. tas. Jika barang pasien telah Anda bawa. beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. Pertahankan pembukaan jalan . Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 12. Tenangkan pasien. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi. melonggarkan pakaian.\ 10. Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit. Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan. koper. menenangkan pasien. Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan ke ambulans. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya.

5. lakukan resusitasi. Periksa ulang perban dan bidai. maka Anda dapat mulai mencari informasi baru dari pasien. Jika pasien sudah sadar dan Anda telah mempertimbangkan bahwa perawatan emergensi selanjutnya tidak akan terganggu. 3. dapat menandakan syok yang dalam. Beritahu setiap perubahan kondisi pasien yang telah Anda amati.nafas. Gabungkan informasi tambahan pasien. Jika terdapat tanda-tanda henti jantung. 6. 2. 7. Memindahkan Pasien Ke Unit Gawat Darurat 1. Beberkan informasi hasil pemeriksaan dan penanganan pasien yang sudah Anda lakukan. Dampingi staf UGD bila dibutuhkan dan berikan laporan lisan atas kondisi pasien Anda. Peningkatan denyut nadi secara tiba-tiba misalnya. Beritahu fasilitas medis yang menjadi tujuan Anda. berikan dukungan emosional. Pastikan bahwa UGD mengetahui adanya henti jantung. dan beri tahu perkiraan waktu kedatangan Anda. Segera setelah Anda tidak lagi menangani pasien. Lakukan penilaian ulang vital sign setiap 5 menit untuk pasien tidak stabil dan setiap menit untuk pasien stabil. dan lakukan hal lain yang diperlukan termasuk mencatat temuan baru dari usaha pemeriksaan awal (initial assesment) pasien. . Bicaralah dengan pasien. 4. Adalah hal yang sangat membantu jika Anda memang secara rutin selalu meletakkan bantalan keras di antara matras pelbet (cot) dan punggung pasien yang memiliki resiko tinggi mengalami henti jantung. Catat vital sign dan laporkan perubahan yang terjadi pada anggota staf bagian emergensi segera setelah mencapai fasilitas medis. siapkan laporan perawatan pra rumah sakit. minta pengemudi untuk menghentikan ambulans sementara Anda melakukan Resusitasi dan memberikan AED (defibrilator). Lakukan pemeriksaan menyeluruh dan monitor terus vital sign. 2. tapi kendalikan emosi Anda. Beri tahu pengemudi untuk menjalankan ambulans lagi setelah memastikan bahwa henti jantung telah teratasi. Bercakap-cakap terkadang berguna untuk menenangkan pasien yang ketakutan.

Mempunyai peralatan bantu untuk mengeluarkan penderita dari jepitan/reruntuhan.3. Mempunyai peralatan bantu untuk mempertahankan keadaan penderita selama perjalanan. antara lain : § gergaji/pemotong besi § dongkrak peregang besi dll. Serahkan barang-barang pribadi pasien ke pihak rumah sakit. Tidak memperberat keadaan penderita. Mudah dikenal oleh masyarakat .. § Untuk ambulans mobil. karoserinya harus tinggi sehingga petugas bisa berdiri di dalamnya. udara maupun laut. 5. masih terdapat heberapa hal yang memerlukan perbaikan. Karena penggunaan alat transportasi untuk membawa penderita gawat darurat memerlukan persyaratan khusus yang berlaku baik pada penggunaan alat transportasi darat. tentang standarisasi pelayanan ambulans. 4. antara lain: § Memiliki tabung oksigen § Memiliki suction § Memiliki ambu-bag § Cairan infus dan perlengkapannya dll. antara lain: § Suspensinya § Kebisingan minimal § Getaran minimal § Kecepatan tertentu 2. Jika benda-benda berharga pasien dipercayakan penuh pada penjagaan anda. 3. Alat Transportasi Walaupun telah dikeluarkan Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik. Persyaratan tersebut antara lain : 1. Memiliki ruangan dimana tenaga medis/paramedis dapat bekerja di dalamnya. segera serahkan kepada staf UGD yang bertanggung jawab.

tetapi juga digunakan oleh personel darurat khusus seperti lifeguards . Scoop stretcher Scoop Stretcher (tandu ortopedi Roberson) adalah sebuah perangkat yang digunakan khusus untuk mengangkat korban. dan kemudian dibawa bersama-sama sampai klip penahan di bagian atas dan bawah kedua terlibat. longboard. . Hal ini paling sering digunakan untuk mengangkat pasien terlentang dari tanah. atau papan. Dilengkapi dengan petugas/crew ambulans yang mempunyai pengetahuan dalam § mengemudikan kendaraan § menggunakan alat komunikasi Long spine board Sebuah papan belakang. Paling sering digunakan oleh layanan ambulans. di mana ia digunakan sebagai alat memindahkan antara tanah dan perangkat menahan seperti long spine board atau vacuum mattress. oleh staf seperti teknisi darurat medis dan paramedis. cedera terutama tulang belakang. Dua bagian ditempatkan secara terpisah kedua sisi pasien. dengan berbentuk 'pisau' terhadap pusat yang bisa dibawa bersama-sama di bawah pasien. baik karena ketidaksadaran atau untuk menjaga stabilitas dalam kasus trauma. Sebuah Scoop Stretcher memiliki struktur yang dapat dibagi secara vertikal ke dalam dua bagian. dirancang untuk immobilisasi gerakan dari pasien dengan cedera tulang belakang atau anggota badan yang diduga. juga dikenal sebagai papan tulang panjang (LSB).§ Mempunyai ciri tertentu (bentuk dan warna tulisan) 6. spineboard. Long Spine Board terutama diindikasikan dalam kasus trauma di mana tenaga medis atau penyelamatan percaya bahwa ada kemungkinan cedera tulang belakang. adalah sebuah perangkat penanganan pasien digunakan terutama dalam pra-rumah sakit.

karena mereka mempertahankan pasien dalam keselarasan terlentang selama transfer ke papan atau tandu. Tapi untuk alasan kenyamanan. Scoop Stretcher dapat digunakan untuk transportasi pasien. . asalkan pasien diikat. disarankan untuk mentransfer pasien ke long spine board.Tandu sendok mengurangi kemungkinan gerakan yang tidak diinginkan dari area cedera selama transfer pasien trauma.

Pada pasien dengan trauma servikal dan tulang belakang.000 kasus baru setiap tahun (NSCISC .BAB III PENUTUP Pada tahun 2006 Cord Injury Jaringan Informasi Spinal memperkirakan bahwa kejadian tahunan cedera tulang belakang. Tiga penolong dengan masing-masing penyangga bagian atas. atau sekitar 12. sekitar 40 kasus per juta penduduk di Amerika Serikat. tengah. pemindahan penderita harus dilakukan dengan hati-hati dan tidap dapat dilakukan sendirian. 2009). tidak termasuk mereka yang meninggal di tempat kecelakaan itu. dan bawah akan mengurangi kemungkinan .

long spine board dan neck colar untuk menstabilkan posisi penderita.cedera lebih parah. Untuk menghindari cedera sekunder gunakan bidai. KEPERAWATAN GAWAT DARURAT Reaksi: Tidak ada komentar: Poskan Komentar Tulis Komentnya Disini yaxc!!!! Link ke posting ini Buat sebuah Link Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Search Here!!! welcome . Dalam memiringkan juga perlu dilakukan secara bersama yang disebut dengan teknik log roll. Pemilihan sarana transportasi yang salah juga bisa menimbulkan cedera yang lebih parah pada pasien. You might also like: • ASUHAN KEPERAWATAN SYOK NEUROGENIK • ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA • ASUHAN KEPERAWATAN SYOK DISTRIBUTIVE : SYOK SEPTIC • FATIGUE • FISIOLOGI TIDUR DAN MASALAH TIDUR PADA PASIEN GAWAT DARURAT LinkWithin Diposkan oleh Cicilia UzhouMackie YoSungBanGeuD di 21:22 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: ASUHAN KEPERAWATAN. Idealnya transportasi pasien cedera kepala adalah menggunakan ambulan dengan peralatan trauma.

Get Your Own Hi5 Scroller Here Seuntai Kisah Cicilia UzhouMackie YoSungBanGeuD aQu adalah Sperti Apa yG orG laeN LiHat!!!!!! Lihat profil lengkapku Where am i????? Cicilia UZoemacki Bangerd Buat Lencana Anda By TwitterButtons. Pimp-My-Profile...Build a Slideshow BanGeuD's Time .com .. All about...com FoLLoWww My BloG.

nafasku akan berhenti. 13 ] Jendela UzhouMacKie YoSungBangeud . 11] Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas. hlm. aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat. apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku. [Bung Karno penyambung lidah rakyat. [Menggali api Pancasila.Virtual Pet Cat for Myspace cReate yOuR Own Message AnimatiOn Sosok Yg Kan Slalu dirinDukan Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. hlm. Aku besar karena rakyat.

.

..GO..TIMNAS!! ....GO.GO.

• • Bambang Pamungkas (official website) Jakmania 4Ever .

SupErB2sTBanG20 .

2day : Greyson Chance.Waiting Outside The Lines Gratisan Musik My Visitors .

N BLUE (7) CERITA LUCU (6) DAVID ARCHULETA (17) DISASTER NURSING (8) DOWNLOAD IMAGES (4) DOWNLOAD MP3 (38) EMINEM (4) FAKTA UNIK DAN AMAZING (4) GARUDA DI DADAKU (11) GREEN DAY (7) .Daftar Tamu Label • • • • • • • • • • • • • • • 2PM (1) ASUHAN KEPERAWATAN (73) B1A4 (5) B2ST/BEAST (39) BIGBANG (23) C.

..• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • HEALTHY (3) ILMU DASAR KEPERAWATAN 5 (9) ILMU DASAR KEPERAWATAN 6 (15) ILMU DASAR KEPERAWATAN 7 (5) IMAGES : BIGBANG (2) IMAGES : SUPER JUNIOR (22) JASON MIRAZ (1) JESSE MCCARTNEY (3) KEPERAWATAN ANAK (10) KEPERAWATAN DEWASA 1 (18) KEPERAWATAN DEWASA 2 (15) KEPERAWATAN DEWASA 3 (20) KEPERAWATAN GAWAT DARURAT (23) KEPERAWATAN JIWA (16) KETERAMPILAN DASAR DALAM KEPERAWATAN (10) KISAH ABU NAWAS (34) KISAH HIKMAH (16) KOLEKSI KOMIK: CANDY-CANDY (3) KOLEKSI KOMIK: DEATH NOTE (1) LIRIK (49) MAHER ZAIN (6) MANAJEMEN KEPERAWATAN (2) MY CHEMICAL ROMANCE (15) NANDA NOC NIC (33) NARUTO (3) NURSING CARE PATIENT WITH NAPZA HIV/AIDS (2) NURSING INFORMATIK (2) ONE REPUBLICK (1) OST GOD OF STUDY (2) OST YOU'RE BEAUTIFUL (7) PATIENT SAFETY (3) PENDIDIKAN KESEHATAN (8) SAINS (2) SEAMO (1) SEHAT-SAKIT (1) SEJARAH HIDUP NABI MUHAMMAD SAW ( Muhammad Husain Haekal) (14) SUPER JUNIOR (16) Ada kesalahan di dalam gadget ini ThaNkZ... Hope U enJoy My BloG . [Tutup] WasSaLam.

.Template Awesome Inc. Diberdayakan oleh Blogger..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful