INISIATIF LOKAL MASYARAKAT NELAYAN DALAM EKSPLOITASI DAN KONSERVASI SUMBER DAYA HAYATI PERAIRAN DI KABUPATEN TAKALAR (Studi

Kasus Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara) LOCAL INITIATIVE OF FISHERMAN COMMUNITY IN BIOAQUATIC RESOURCES EXPLOITATION AND CONCERVATION IN TAKALAR DISTRICT (Tamasaju Village Case Study, North Galesong Subdistrict) Andi Adri Arief1 Harnita Agusanty2
1)

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Makassar

ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk : 1) mengetahui pengaruh system budaya local dalam eksploitasi dan konservasi sumberdaya hayati perairan, 2) mengetahui bentuk inisiatif local nelayan dalam eksploitasi dan konservasi, 3) mengetahui dampak inisiatif local nelayan dalam eksploitasi dan konservasi terhadap keberlanjutan sumberdaya hayati perairan Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh system budaya local menempatkan hubungan internal antara nelayan dan alam fisik yang sarat dengan nilai-nilai konservasi. Dalam inisiatif lokalnya baik eksploitasi maupun konservasi pengetahuan local berupa erang passimombalang dan erang pakboya-boyang, masih tetap dipertahankan dan menjadi bagian dari adapt penangkapan di lapangan. Dari dampak inisiatif local nelayan, secara ekologis keberlanjutan sumberdaya hayati dapat terjaga namun secara ekonomis usaha dan hasil yang diperoleh masih bersifat subsisten. Kata Kunci : Masyarajat Nelayan, Inisiatif Lokal, Eksplotasi, Konservasi. ABSTRACT This research intens to studies : 1) Local cultural system influence in bioaquatic resources exploitation and conservation 2) local initiative form of in exploitation and conservation 3) Local initiative fisherman in exploitation and conservation on sustainability of bioaquatic resources.
1)

Contact Person : Dr. Andi Adri Arief, S.Pi, M.Si. Program Studi Sosial Ekonomi, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin. Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10 Tamalanrea, Makassar 90245.

2

) Contact Person : Harnita Agusanty, S.Pi, M.Si. Staf Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar, Departemen Kelautan dan Perikanan

1

The results indicate that the influence of local cultural system place utilization internal relation between fisherman and loaded physical nature with the conservation values. In their’s initiative both exploitation and conservation of indigeneous knowledge in the form of groaning passimombalang and groan the pakboya-boyang, are still praticed and remain as a part of fishing activities. Local initiative impacts of fishermen show that ecological resources could be sustained, however economically their efforts and yields through fishing activities appeared, remain on subsistentively level. This is compatible with their fishing activity custums. Their incomes are considered still low because of market forces. Market remain controlled by the midlemen, fishermen pay more for fishing operation, however obtain lower prices of their production. Key words : Fisherman Community, Local initiative, Exploitation, Conservation. PENDAHULUAN Secara fisik, Indonesia adalah negeri kepuluan terbesar di dunia, terdiri atas 17.508 buah pulau dan perairan lautnya sekitar 3,1 juta km persegi atau 62% dari luas seluruh teritorialnya. Indonesia mempunyai hak atau kewenangan memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas 2,7 juta km persegi, untuk eksplorasi, ekploitasi, pengelolaan sumber daya hayati dan non hayati, penelitian, yurisdiksi mendirikan instalasi atau pulau buatan (Dahuri, 2002). Salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menjadikan sektor perikanan sebagai sektor andalan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakatnya adalah Kabupaten Takalar khususnya Desa Tamasaju, dimana mata pencaharian penduduknya didominasi sebagai nelayan dan juga sekaligus sebagai petani yang aktifitasnya dilakukan baik secara paruh waktu maupun purnah waktu. Mencermati fenomena tersebut, maka salah satu masalah fungsional yang penting dan harus diatasi oleh masyarakat nelayan untuk dapat bertahan hidup (survive), tumbuh dan berkembang (develop) adalah masalah “adaptasi”. Masalah adaptasi ialah bagaimana seharusnya atau searifnya alam fisik dimanfaatkan oleh manusia, masyarakat kawasan pantai dalam mengeksploitasi sumberdaya alamnya di satu pihak sebagai aktivitas eksteren dan interaksi dinamika interen dikalangan kelompok-kelompok nelayan itu sendiri dalam melestarikan aktifitas-aktifitas secara tradisional sebagai nilai dan norma budaya berdasarkan kontekstual lokal dalam mendukung pemanfaatan sumberdaya hayati perairan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem budaya lokal dalam eksploitasi dan konservasi sumberdaya hayati perairan, mengetahui bentuk dan dampak inisiatif lokal terhadap keberlanjutan sumberdaya hayati perairan dan perkembangan kesejahteraan masyarakat nelayan di wilayah studi kasus.

2

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2007 di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat responsif dan kreatif sesuai dengan bentuk ritme dan kemungkinan yang ada di lapangan melalui pengamatan terlibat aktif dengan berusaha memperlama keberadaan dalam komunitas. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap sejumlah informan yang dipilih dengan teknik efek snowball dengan prinsip triangulasi (Miles dan Huberman, 1992) serta observasi. Strategi untuk mencapai tujuan penelitian adalah dengan metode studi kasus (Yin, 1996). Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan informan. Selama penelitan ini berlangsung telah ditemui dan diwawancarai 7 orang punggawa darat (pa’palele), 8 orang punggawa laut (juragan), 5 orang sawi, dan 3 orang nelayan mandiri sehingga keseluruhan informan adalah 23 orang. Sementara untuk data sekunder diperoleh dari instansi terkait, laporan penelitian, literatur, dan karya ilmiah. Data yang telah diperoleh dianalsisi secara holistik (a holistic perspective) dengan pendekatan induktif secara menyeluruh (the entire individual) melalui ekstraksi “teks-teks” hasil wawancara dengan tujuan membangun abstraksi deskriptif terhadap realitas sosial yang kasuistik dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

3

NILAI

SISTEM BUDAYA LOKAL

NORMA

PENGETAHUAN/ TEKNOLOGI

PERLAMBANGAN/ SIMBOL

KEPERCAYAAN

PERSEPSI MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN SUMBER DAYA HAYATI PERAIRAN

INISIATIF LOKAL EKSPLOITASI KONSERVASI

PERENCANAAN PELAKSANAAN HASIL DAN MANFAAT MONITORING & EVALUASI

KELESTARIAN SUMBER DAYA HAYATI PERAIRAN & KESEJAHTERAAN MASYARKAT NELAYAN

Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian

4

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Sistem Budaya Lokal dalam Eksploitasi dan Konservasi Sumberdaya Hayati Perairan.

Guna mengetahui dan memahami serta menginterpretasikan secara baik berbagai gejala dan peristiwa yang terdapat dalam suatu lingkungan tertentu, kebudayaan memiliki model-model kognitif yang berperan sebagai kerangka untuk memahaminya. Oleh karenanya pola-pola kelakuan tertentu yang diwujudkan oleh manusia adalah sesuai dengan rangsangan dan tantangan yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, suatu kebudayaan merupakan serangkaian aturan, nilai struktur, kepercayaan, strategi, pengetahuan maupun pentunjuk yang merupakan model-model kognitif yang dipakai oleh manusia yang memilikinya guna menghadapi dan mengadaptasi lingkungannya (Soekanto, 2000). Keterhubungan sistem budaya lokal terhadap eksploitasi dan konservasi sumber daya hayati perairan oleh masyarakat nelayan di Desa Tamasaju, diuraikan dalam tiap-tiap unsur budaya serta hubungannya satu sama lain sebagai berikut : (a) Nilai-nilai (value) Nilai-nilai adalah suatu yang abstrak. Dalam penetrasinya ke dalam sistem sosial mendasari peranan, pelaksanaan peranan (tingkah laku) dalam rangka interaksiinteraksi dalam struktur sosial masyarakat. Nelayan Desa Tamasaju masih memandang dirinya dan masyarakatnya bersama dengan aturan-aturannya sebagai mikrokosmos (sesuatu yang kecil), yang harus menyesuaikan diri (berorientasi) kepada lingkungan alam bersama dengan aturan-aturanya sebagai makrokosmos (sesuatu yg besar) yang terkontekskan melalui adat perikanan yang berlaku dalam ruang sosial masyarakat sehingga tampilan hubungan yang terjadi antara nelayan dengan sumberdaya alam adalah hubungan persuasif. Cara berpikir yang demikian (participating way of thinking) berdampak pada adanya keselarasan dari nilai ekspoitasi dan nilai konservasi dalam memperlakukan alam fisik. (b) Norma (norm) (1) Struktur Sosial. Nelayan-nelayan setempat telah terorganisasi dalam kelompok-kelompok kerja (working group) yang diistilakan sebagai kelompok punggawa-sawi yang bersifat fungsional (Sallatang, 1983). Hubungan kerja antara pemilik sarana/alat produksi (perahu dan alat tangkap) dengan pekerja (yang tidak menguasai/memiliki alat produksi dan bekerja pada pemilik) membentuk sistem sosial nelayan berdasarkan kedudukan dan peranan yang masing-masing dimiliki dan sekaligus merupakan dasar pembentukan struktur dalam kelompok sosial. Pemimpin kelompok ini di sebut (bergelar) punggawa dan para pengikutnya disebut sawi.

5

Secara umum gambaran fungsi dan peranan kelompok sosial punggawa-sawi di Desa Tamasaju dapat terlihat pada gambar 2.

Punggawa Peranan

• • • •

Fungsi : Pembuka lapangan kerja Pendidikan informal Pengkreditan Asuransi (jaminan sosial)

Sawi Peranan

• • • • Gambar 2.

Memimpin kelompok • Melaksanakan fungsi produksi/ menangkap Mencari dan menentukan ikan sahi • Merawat/memelihara Menyediakan modal (fixed peralatan produksi : capital dan working capital) perahu, mesin dan alat Memasarkan hasil produksi Peranan dan Fungsi Kelompok Punggaha-Sahi Masyarakat Nelayan di Pulau Kambuno.

(2) Hubungan Sosial Kekerabatan. Kelompok kekerabatan terbentuk melalui dua pola yakni pola kelahiran dan perkawinan. Oleh karena itu sistem bilateral atau parental termanifestasi dalam kelompok kerja usaha mereka (nelayan Desa Tamasaju). Disamping itu prinsip “siri na,pacce” juga terpraktekkan dalam interasi kelompok sosial sebagai landasan nilai-nilai budaya yang mengandung arti kepercayan, kesatuan, kebersamaan, kekeluargaan, yang harus dijunjung tinggi dalam menanggung rasa suka dan duka yang dialami dan ditanggung secara bersama. (3) Pranata Ekonomi. Personifikasi peran alat-alat produksi melalui bagian alat-alat produksi seperti bagian perahu, mesin, terkontekskan sehingga peranan menjadi sumber pendapatan. Artinya semakin besar peranan seseorang maka semakin besar pula pendapatan yang diperolehnya. Sistem bagi hasil yg berlaku secara umum pada setiap unit kelompok kerja (working group) di desa ini adalah “sistem bagi tiga”, yaitu pihak punggawa mendapat kan 2 (dua) bagian, satu bagian untuk perahu dan satu bagian untuk alat tangkap, semertara sawi (termasuk juragan) mendapatkan satu bagian yang dibagi berdasarkan banyak anggota sawi yang ikut dalam kelompok kerja. Pemberian istilah ”bonus” kepada anggota kelompok juga terperagakan jika kegiatan penangkapan dianggap berhasil yang diberikan oleh punggawa sebagai pemilik alat produksi.

6

(c) Kepercayaan (belieft) Terjadi sinkritisasi antara kepercayaan lama yang bersifat imanensi dengan kepercayaan dari agama profetis, khususnya Islam yang bersifat transendensi. Kekuatan nilai kepercayaan diwujudkan pada sikap pandangan dan cara berpikir komunitas nelayan Desa Tamasaju dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Mereka memandang nilai-nilai kepercayaan merupakan hal yang fundamental dalam proses pemanfaatan sumberdaya laut sehingga yang banyak dijumpai dalam kegiatan kenelayan di desa ini adalah tindakan yang berkaitan dengan mitos, kultus, ritus serta fetis dan magis. (d) Simbolisasi (simbolization) Komunikasi dengan alam fisik juga terperagakan dalam akitivitas keseharian mereka khususnya dalam kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan “simbolsimbol alam” yg berupa tanda-tanda alam seperti bunyi burung tertentu,gerak awan dan sebagainya yang ditafsirkan akan maknanya akan keberadaan gerombolan ikan serta “simbol-simbol tingkah laku”seperti tangisan anak pada waktu tertentu yang istilakan sebagai pamali. Serta adat pelarangan dalam menyebut nama hewan-hewan tertentu seperti tedong (kerbau), asu (anjing) pada saat berada dilaut yang dapat membawa malapetaka atau kurangnya hasil tangkapan yang diperoleh. (d) Pengetahuan (knowledge) Komunitas nelayan di desa ini mengenal dua macam “erang”, yang merupakan penjabaran dari “pangngassengang” (pengetahuan) yang diturunkan dari generasi tua mereka, yaitu : (1) erang passimombalang, (pengetahuan pelayaran), yang mencakup : pengetahuan tentang musim, iklim, cuaca, tata cara pelayaran, dan keselamatan pelayaran, (2) erang pakboyang-boyang, adalah mencakup : pengetahaun mengenai sistem penangkapan ikan, manajemen usaha, dan teknologi. Kedua hal tersebut merupakan satu kesatuan yang mengandung ilmu lahir dan bathin yg terdiri dua unsur, yaitu : “baca” (mantera) dan “pappasang” (nasehat). (e) Teknologi (technology) Penggunaan keterangan-keterangan yang ada pada pengetahuan (knowledge) lokal nelayan Desa Tamasaju, telah melahirkan teknologi baik teknologi cara maupun alat (software and hardware tehcnology). Oleh karena itu, jauh sebelum adanya ilmu (science) atau ilmu pengetahuan modern, telah ada teknologi di dalam masyarakat nelayan di desa ini khususnya yang berhubungan dengan aktifitas mata pencaharian. Oleh karena itu, beberapa model alat yang dipergunakan dalam ekspolitasi hingga saat ini diperkirakan relatif sama (warisan dari generasi ke generasi) dengan apa yang pernah di gunakan oleh para leluhur mereka yang bersifat partisipatif, assosiatif, analogik dan orientif seperti pakkaja, pancing dan sebagainya. B. Bentuk Inisiatif Lokal dalam Eksploitasi Sumberdaya Hayati Perairan

7

Bentuk inisiatif lokal (prakarsa) masyarakat nelayan Desa Tamasaju dalam mengeksploitasi sumberdaya hayati perairan dapat diterangkan dengan mengadopsi pendasaran yang dilakukan oleh Misra (1984) mengenai tahapan-tahapan keterlibatan aktif masyarakat secara sukarela dalam tahapan proses pembangunan yang tertampilkan dalam empat substansi pokok kegiatan berupa : keterlibatan secara sukarela dalam perencanaan kegiatan, pelaksanaan, penerimaan manfaat serta keterlibatan secara sukarela dalam pemantauan dan evaluasi. Adapun bentuk inisiatif local yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Desa Tamasaju, dalam eksploitasi dan konservasi sumberdaya hayati perairan, sedikitnya dapat diuraikan dalam tahapan-tahapan sebagai berikut : (1) Perencanaan a. Persiapan. Pencarian modal sebanyak Rp. 10-20 juta, melalui pemimjaman dari pengusaha modal (tengkulak/bos) atau melalui penjualan perhiasan emas yang telah dipersiapkan sebelumnya, sebagai biaya produksi dalam kegiatan penangkapan ikan, termasuk panjar kepada para sawi. b. Mencari dan menentukan sawi. Pencarian sawi dengan sistem bilateral atau parental, dengan prinsip “siri’na pacce”, dan bila tidak di temukan baru mendatangkan dari desa lain (eksogami). c. Perbaikan/pemeliharaan alat. Perbaikan dan penggantian alat operasional yang pengerjaannya dilakukan oleh juragan, biayanya ditanggung oleh punggawa darat (pappalele) d. Menyiapkan bokong (bahan). Pembelian bahan makanan, seperti kopi, beras, rokok dan lain-lain termasuk bahan bakar kapal, biayanya ditanggung sementara oleh punggawa darat (pappalele) yang diperhitungkan kemudian sebagai ongkos (biaya produksi) yang harus di tanggung bersama oleh anggota kelompok. e. Surat-surat. Pengurusan surat keterangan dari Kepala Desa sebagai surat keterangan bepergian (pas jalan), sebagai pemberitahuan resmi secara tertulis kegiatan yang dilakukan kepada pemerintah (daerah tujuan penangkapan). f. Selamatan. Upacara “barasanji” dan upacara “attoana turungan” (penghormatan kepada leluhur), dilakukan dengan tujuan untuk menghindari murkanya alam dan memperoleh hasil tangkapan yg banyak. Konteks ini merupakan manifestasi terhadap harmonisasi mikro kosmos terhadap makrokosmos bersama dengan tatatertibnya. g. Waktu Pemberakatan. Untuk kelompok pa’rengge, bulan Oktober/November dan untuk kelompok pa’torani, bulan Maret/April. Kegiatan ini dikenal dengan istilah “assawakung” meninggalkan desa mencari daerah tangkapan (fishing ground). Penetapan ”hari baik” berdasarkan kepercayaan yang diyakininya juga tertampilkan. Hari senin dan kamis merupakan hari yang dipercayai oleh masyarakat nelayan di desa ini sebagai ”hari baik” untuk melakukan ”assawakung” (2) Pelaksanaan

8

a. Pemberangkatan. Kegiatan upacara berupa “baca” (harapan-harapan berupa bait-bait kalimat) dan “gaukang” (gerakan-gerakan yg mengandung makna) yang dilakukan oleh punggawa laut sebagai apresiasi dari “erang pakboya-boyang” dan “erang passimombalang” yang bertujuan untuk memperoleh hasil tangkapan yang banyak dan keselamatan dalam aktifitas penangkapan yang akan dilakukan. Salah satu bentuk upacara pemberangkatan yang dilakukan oleh punggawa laut adalah mengambil air laut dan meminumnya lalu mengucapkan kalimat ”Nabi Helere Nabinya air, kutelang kamu, kamu tidak telang aku, barakka A” b. Operasi Penangkapan. Menggunakan alat tangkap pakkaja (pa’torani) di lengkapi dengan balla-balla yang terbuat dari bambu dan pelepah daun kelapa, dan dalam pengoperasiannya disertai dengan “baca” yang bertujuan memanggil ikan-ikan terbang untuk bertelur pada pakkaja yang telah disediakan. Bait-bait itu antara lain :
” pole torani...,pole torani..,pole torani..., riallakna bombang, ritekona arusu, ribelebenna taka. Battuasengmako mae, mannuntung itimboro-irawa, irawa-rate, ripasekre-sekreanna, ripakkare-kareanna, ribennenu, i pantarammintu tulolona satannga lompowa pungkukna. Ia riolo, iangngallae bungasakna, ia riboko, iangngalle pallatea” (”datanglah, datanglah, datanglah, wahai ikan terbang, diselasela ombak, dari gerakan-gerakan arus dan gunung-gunung karang. Datanglah semua kemari, baik yang berada di utara, selatan maupun dibagian bawah, bagian atas (permukaan air), datanglah kemari tempat berkumpul dan tempat bermainnya istri-istrimu. (Data Primer Setelah di Olah, 2007).

Konteks ini merupakan bagian dari pelaksanaan “erang pakboya-boyang”. Perilaku magis terpahami oleh masyarakat sebagai upaya memobilisasi dan memanipulasikan kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam metafisik, sehingga magis seolah-olah atau menyerupai atau mengara-arah kepada kelengkapan dari teknologi alat (hardware).

Gambar 3. Alat Tangkap Pakkaja yang di Pergunakan Nelayan Pattorani Desa Tamasaju. (3) Pemanfaatan

9

Penentuan harga dan penjualan ikan dilakukan oleh punggawa darat (pappalele) sebagai bagian dari peranannya memimpin dan mengorganisasikan kelompok dengan mekanisme pembagian hasil produksi ”sistem bagi tiga”.

(4) Pemantauan dan Evaluasi Evaluasi terhadap pelaksanaan “erang pakboya-boyang” dan “erang passimombalang” melalui intropeksi diri khususnya bagi punggawa laut setelah operasi penangkapan dianggap berakhir. Konteks ini dimaksudkan sebagai bahan acuan (koreksi) untuk kegiatan penangkapan musim berikut. Jika dianggap terjadi penyimpangan-penyimpangan atau hal-hal yang tidak dikehendaki pada saat kegiatan operasional atau hasil yang diperoleh dianggap sedikit, maka sesampainya didarat seringkali dilakukan pemulihan melalui upacara-upacara ritual yang berkenang dengan masa lampau. Disamping itu perlakuan sanksi adat kenelayanan atau adat perikanan kepada anggota kelompok yang melanggar juga diberlakukan melalui sanksi dikeluarkannya atau tidak dilibatkan lagi dalam kegiatan penangkapan musim berikut. Konteks ini merupakan kongkritisasi dari penerapan prinsip nilai “siri’na pacce” yang masih dianggap sebagai pedoman bertingkah laku dalam mendinamisasi kehidupan komunitas nelayan di desa ini. C. Bentuk Inisiatif Lokal dalam Konservasi Sumberdaya Hayati Perairan (1) Perencanaan Serangkaian kegiatan upacara yang dilakukan sebelum melakukan kegiatan eksploitasi, dimaksudkan sebagai pengakuan akan eksistensi alam fisik sebagai bagian dari dirinya yang hendak dimanfaatkan (cara berpikir partisipatif). Hal ini menggambarkan adanya kesadaran ekologis terhadap pemanfaatan sumberdaya alam yakni digunakan sesuai dengan daya dukung atau peruntukannya. (2) Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan eksploitasi yang menggunakan teknologi cara (soft ware technology) yang sesuai dengan “kehendak alam” (tidak merusak). Situasi ini menunjukkan hubungan internal yg persuasif antara manusia dan alam fisik, dan keperluan komunikasi antara manusia (nelayan) dengan alam fisik yg hendak dimanfaatkan, dipergunakanlah “simbol-simbol alam” dan “simbol-simbol tingkah laku”. (3) Pemanfaatan Pegunaan teknologi cara (soft ware technology) maupun teknologi alat (hard ware technology) yang diciptakan relatif lebih bersifat protektif terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan, sehingga sumberdaya yg ditangkap, relatif tidak

10

begitu banyak (over fishing) dibanding dengan penggunaan teknologi yang sifatnya destructive (objectivating way of thingking). (4) Pemantauan dan Evaluasi Pengawasan yang dilakukan oleh nelayan baik secara individu maupun secara kelompok terhadap penggunaan alat tangkap yang sifatnya merusak keseimbangan alam didukung oleh adat kenelayanan atau adat penangkapan yang telah menjadi kaidah-kaidah sosial yang melembaga dan merupakan bagian dari warisan leluhur mereka yang senantiasa selalu menjaga kesesuaian, keserasian dan keharmonisan antara manusia dengan alam fisik. D. Dampak Inisiatif Lokal Nelayan dalam Eksploitasi dan Konservasi terhadap Keberlanjutan Sumberdaya Hayati Perairan. (1) Eksploitasi (a) Keberlajutan Sumberdaya Hayati Perairan. Keberlanjutan sumberdaya hayati perairan dapat terjamin karena masyarakat nelayan tidak menggunakan alat atau bahan yang dapat merusak keberlanjutan ekosistem. “Pengetahuan asli” (indigeneous knowledge) yang juga berkaitan erat dengan “kepercayaan lama” yang mereka anut memperkecil kemungkinan pemakaian alat yang dapat merusak keberlanjutan ekosistem sumberdaya hayati perairan. (b) Kesejahteraan Nelayan. Karena faktor- faktor produksi termasuk modal yang dipergunakan sebagian besar atau hampir seluruhnya dari usahanya sendiri dan dimensi hubungan produksi masih diwarnai oleh dimensi sosial-ekonomi, maka usaha penangkapan yang dilakukan tujuan utamanya hanya untuk memenuhi kebutuhan (subsistensi) nelayan dan keluarganya saja. Sifat subsistensi atau semi-komersil masih sangat kental mewarnai usaha dan kehidupan komunitas nelayan di desa ini yang dalam pandangan Scot (1994) bahwa konsep perilaku ekonomi kaum peasant senantiasa masih diatur oleh moralitas tertentu yang umum dikenal sebagai etika subsistensi komunitas local. Sementara Weber (1978) menyebutnya sebagai tindakan tradisional (traditional rationality) dimana individu bertindak berdasarkan kebiasaan yang muncul sebagai praktek yang telah mapan dan menghormati otoritas yang ada. (2) Konservasi (a) Keberlajutan Sumberdaya Hayati Perairan. Pengetahuan asli (indigeneous knowledge) yang juga dapat disebut “pengetahuan lokal” (local knowledge) yang mereka miliki, berakar jauh ke dalam sikap pandangan dan cara berpikir yang berorientasi kepada “kesesuaian dan keserasian atau keharmonisasian (partisipating way of thingking), sehingga melahirkan “teknologi persuasif” dari dasar penggunaan keterangan yang bersifat partisipatif, asosiatif, analogik dan

11

orientif yang seringkali dikatikan dengan kepercayaan lama yang bersifat imanensi dengan mengasumsikan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan penjabaran dari nilainilai yang dihendaki oleh Sang Pencipta. (b) Kondisi Masyarakat Nelayan. Secara umum para nelayan tersebut akan mewariskan tradisi menangkap ikan dari generasi ke generasi berikutnya, khususnya perangkat lunak (software) yang merupakan cara-cara sebagai suatu yang bersifat non material yang selanjutnya terwujud dalam perangkat keras (hardware) berupa alatalat sebagai suatu yang bersifat material dan merupakan fasilitas yang senantiasa mengedepankan harmonisasi mikrokosmos terhadap makrokosmos bersama tatatertibnya. KESIMPULAN

1. Pengaruh sistem budaya lokal telah melahirkan cara berpikir dan bertindak yang
memandang hubungan manusia dan alam fisik adalah hubungan internal yang bersifat persuasif, sehingga mendukung dari keberlanjutan sumberdaya hayati perairan. 2. Bentuk inisiatif lokal masyarakat nelayan dalam eksploitasi masih tetap mempertahankan indigeneous knowledge berupa erang passimombalang dan erang pakboyang-boyang. Sedang bentuk konservasinya, telah tergeneralisasi dalam tindakan-tindakan eksploitasi yang dilakukan. 3. Dampak inisiatif lokal, secara ekologis keberlanjutan dan kelestarian sumberdaya hayati perairan dapat terjaga, dan secara ekonomis usaha dan penghasilannya masih bersifat subsisten atau semi-komersil. DAFTAR PUSTAKA Arief, A. Adri. 2002. Pemberdayaan Kelembagaan Masyarakat Nelayan di Kabupaten Maros (Studi Kasus Desa Pajukukang, Kec. Maros Utara). (Tesis) PPS-UNHAS. Makassar. Dahuri, Rohmin. 2002. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu. Pradnya Paramita. Jakarta. . Mattulada. 1997. Sketsa Pemikiran Tentang Kebudayaan, Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup. Hasanuddin University Press. Ujung Pandang. Miles, B. Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Misrah, S.N. 1984. Participation and Development. NBO Publisher Distibutors. New Delhi.

12

Popkin, Samuel. 1979. The Rational Peasant: The Political Econimic of Rural Society in Vietnam. California University Pres. California. Rahim, Rahman. 1992. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Lephas. Ujung Pandang. Russel, James W. 1989. Mode of Production in World History. London and New York: Routledge. Sallatang, M. Arifin. 1983. Pinggawa-Sawi : Suatu Studi Sosiologi Kelompok Kecil. Depdikbud. Jakarta. Salman, Darmawan. 2002. Pendekatan Partisipatoris dalam Perencanaan Pembangunan Daerah. Makalah Dipresentasikan dalam “Diklat Program Kepemimpinan Bappeda dalam Era Otonomi Daerah”, Depdagri. Jakarta. Scot, James C., 1994. Moral Ekonomi Petani : Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. LP3ES. Jakarta. Soekanto, Sarjono. 2000. Jakarta. Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Perkasa.

Yin, Rober K. 1996. Studi Kasus : Desain dan Metode. Rajawali Pers. Jakarta.

Studi ini bertujuan : 1) mengetahui pengaruh sistem budaya lokal dalam eksploitasi

13