agustianto.niriah.

com

BAB 8 IJTIHAD 9.1 Pengertian Ijtihad 9.1.1 Pengertian Ijtihad Secara Etimologi Ijtihad secara bahasa berasal dari kata al-jahd, al-juhd,(‫ )اﻟﺠﻬﺪ‬dan ath-thaqat, yang artinya kesulitan, kesusahan, dan juga berupa suatu kesanggupan atau kemampuan (almasyaqat). Kata Al-Juhd menunjukkan pekerjaan yang sulit dilakukan,(lebih dari pekerjaan biasa) Sabda Nabi Saw :‫ﺻﻠﻮا ﻋﻠﻲ وﺟﺘﻬﺪوا ﻓﻲ اﻟﺪﻋﺎء‬ Artinya: Bacalah shalawat padaku dan bersungguh-sunguhlah dalam berdo’a Ijtihad adalah masdar dari ‫ اﺟﺘﻬﺪ‬Penambahan huruf alif dan ta, berarti “usaha itu lebih sunguh-sungguh”. Oleh sebab itu ijtihad berarti usaha keras atau pengerahan daya upaya untuk mendapatkan sesuatu. Sebaliknya, usaha yang tidak dilakukan secara maksimal (tidak mengunakan daya yang keras), tidak disebut sebagai ijtihad Ijtihad menurut istilah yaitu suatu aktivitas untuk memperoleh pengetahuan (isthimbath) hukum syara’ dari dalil terperinci dalam syari’at. 9.1.2 Pengertian Ijtihad Secara Terminologi Ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan seorang faqih (pakar hukum Islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum sesuatu melalui dalil syara’ (agama) Kenyataan menunjukkan bahwa ijtihad dilakukan di berbagai bidang, yang mencakup aqidah, muamalah dan falsafat. 9.2 Perkembangan Ijtihad Ijtihad telah berkembang sejak masa Rasul. Sepanjang fiqih mengandung pengertian tentang hokum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, maka ijtihad akan terus berkembang. Sumber hukum Islam di masa Nabi hanya 2, yaitu Al-Quran dan Sunnah Jika muncul suatu kasus, Rasul menunggu wahyu diturunkan,Jika wahyu tidak turun, maka beliau berijtihad. Hasil Ijtihad ini disebut dengan hadits (Sunnah). Hasil Ijtihad Nabi juga disebut Wahyu (An_Najm : 4).

1

agustianto.niriah.com

Di masa Nabi, seringkali para sahabat dilatih berijtihad dalam berbagai kasus, seperti: a. Kasus Shalat Ashar di Bani Quraizah, b. Kasus tawanan perang, dan c. Kasus Tayamum Ibnu Mas’ud dan Umar bin Khaththab. Ijtihad tersebut ada yang ditaqrir (diakui) Nabi (Kasus a), ada yang turun ayat tentangnya (Kasus b) ada yang dibenarkan Nabi (Kasus c). Selain menggunakan nash, ijtihad juga dapat dilakukan dengan ra’yu, hal ini disebabkan tidak semua masalah ada nash-nya. Ijtihad dengan ra’yu pemikiran telah diizinkan Rasulullah Saw, yang memberi izin kepada Mu’az untuk berijtihad pada saat Mu’az diutus ke Yaman. Umar bin Khattab juga dikenal sering berijtihad dengan menggunakan ra’yu apabila tidak menemukan ketentuan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Pada jaman Imam syafi’I, cara penggunaan ra’yu disitematiskan sehingga ada kerangka acuan yang jelas, seperti yang dikenal dengan metode qiyas. Qiyas dijadikan sebagai alat penggalian hukum yang shahih. Para tabi’in juga melakukan hal yang sama sehingga muncul ahli ra’yu dan ahli hadits Ahli ra’yi lebih banyak menggunakan ra’y (rasio) dibanding ahli hadits dalam mengistimbath hukum. Sedangkan ahli hadits dalam menyelesaikan berbagai kasus berusaha mencari illat hukum, sehingga dengan illat ini mereka dapat menyamakan hukuman kasus yang dihadapi dengan kasus yang ada nash-nya. Mereka juga sering mencari rahasia dan maqashid suatu dalil syara, seperti benda zakat yang bisa diganti dengan uang Kebutuhan akan Ijtihad ini terus berkembang, hal ini dikarenakan: a. Setelah Rasul wafat, beliau meninggalkan Al-Quran dan Sunnah. Nash Al-quran dan Sunnah tersebut jelas tidak akan bertambah, sementara persoalan dan masalah yang dihadapi kaum muslimin dari zaman ke zaman terus berkembang, karena itu kebutuhan akan ijtihad menjadi sebuah yang niscaya. b. Ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas, ke Persia, Syam, Mesir, Afrika Utara bahkan sampai ke spanyol, Turki dan India, permasalahan yang dihadapi ulama semakin kompeks,maka ijtihad semakin berperan dalam mengistimbath hukum.

2

agustianto.niriah.com

9.3 Dasar Hukum Ijtihad a. An-Nisaa ayat 105 ‫إ ﱠﺂَﻧﺰﻟْ َﺂ إﻟﻴْﻚ اﻟْﻜ َﺎب ِﺎﻟْﺤﻖ ﻟﺘﺤْﻜﻢ ﺑﻴْﻦ اﻟ ﱠﺎس ﺑ َﺂأ َاك اﷲ وﻻﺗ ُﻦ ﻟﻠْ َﺂﺋ ِﻴﻦ ﺧ ِﻴ ًﺎ‬ ‫ِﻧ أ َ ﻨ َِ َ ِﺘ َ ﺑ َ ﱢ ِ َ ُ َ َ َ ﻨ ِ ِﻤ َر َ ُ َ َ َﻜ ﱢ ﺨ ِﻨ َ َﺼ ﻤ‬ Artinya: Sesungguhnya Kami turunkan Kitab kepadamu secara hak, agar kamu dapat menghukumi di antara manusia, dengan rasio yang diberikan Allah kepadamu

‫ان ﻓﻲ ذاﻟﻚ اﻷﻳﺎت ﻟﻘﻮم ﻳﺘﻔﻜﺮون‬ Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir Dalam ayat-ayat tersebut terdapat penetapam ijtihad berdasarkan qiyas

a. diriwayatkan oleh Umar ra.

Hadits

Nabi

SAW.

yang

‫اذا ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎ آﻢ ﻓﺎﺟﺘﻬﺪ ﻓﺄﺻﺎب ﻓﻠﻪ أﺟﺮان واذا ﺣﻜﻢ ﻓﺎﺟﺘﻬﺪ ﺛﻢ أﺟﻄﺄ ﻓﻠﻪ أﺟﺮ‬ Artinya: Jika seorang hakim menghukumi sesuatu, dan benar, maka ia mendapat dua, dan bila salah maka ia mendapat satu pahala. b. Muadz ibnu Jabal untuk menjadi hakim di Yaman. Rasulullah Saw bertanya, “Dengan apa kamu menghukum?” ia menjawab, “Dengan apa yang ada dalam kitab Allah Swt. Rasulullah bertanya lagi, “Jika kamu tidak mendapatkan dalam Kitab Allah?” Dia menjawab, “Aku memutuskan dengan apa yang diputuskan oleh Rasulullah”. Rasul bertanya lagi, “Jika tidak mendapat dalam ketetapan Rasulullah?” berkata Muadz,” Aku berijtihad dengan pendapatku.”Rasulullah bersabda,” Aku bersyukur kepada Allah yang telah menyepakati utusan dari Rasul-Nya. Hirarki hadist yang melegitimasi Ijtihad Mu’az 1) Al-Quran 2) Sunnah 3) Ijtihad Hadits Nabi SAW. Kepada

3

agustianto.niriah.com

9.4 Macam-macam Ijtihad 9.4.1 Menurut Imam syafi’i: Ijtihad menurut Imam Syfi’i adalah dengan menyamakan ijtihad dengan qiyas. Beliau tidak mengakui ra’yu yang didasarkan pada istihsan dan maslahah mursalah . Sedangkan ulama lain, ijtihad mencakup ra’yu, qiyas, dan akal, sehingga termasuk istihsan dan maslahah.

9.4.2 Menurut Dr. Dawallibi dan Asy-Syatibi Dr. Dawallibi dan Asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat membagi ijtihad kepada tiga bagian: a. Ijtihad al-Batani yaitu ijtihad untuk menjelaskan hukum-hukum syara’ dari nash b. Ijhad al-Qiyasi yaitu, ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dengan menggunakan metode qiyas c. Ijtihad al-Istishlah yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dengan menggunakan ra’yu berdasarkan kaidah istishlah.

9.4.3 Menurut Taqyuddin Al-Hakim Menurut Taqyuddin Al-Hakim ijtihad terbagi atas: a. Ijtihad al-Aqli Yaitu ijtihad yang hujjahnya Didasarkan pada akal,Tidak menggunakan dalil syara’. Mujtahid bebas menggunakan berfikir dengan kaedah. Misalnya, menjaga kemudratan, hukuman itu jelek jika tidak disertai dengan penjelasan ,dll b.Ijtihad Syar’iy Yaitu ijtihad yang didasarkan pada syara’, termasuk dalam pembagian ini, ijma’ qiyas, istihsan, Istislah, ‘uruf, istishab

4

agustianto.niriah.com

9.5 Syarat-syarat Mujtahid a. b. c. d. e. f. g. h. i. Menguasai dan mengetahui arti ayat-ayat hukum al-Qur’an secara bahasa dan syari’ah Menguasai dan mengetahui hadits-hadits hukum baik secara bahasa maupun syari’at Mengetahui nasakh dan mansukh ayat al-Qur’an dan Sunnah Mengetahui hal atau kasus yang telah ijma ulama Mengetahui metode qiyas Menguasai bahasa Arab dan ilmu bahasa. Mengetahui ilmu ushul fiqh. Mengetahui masalah (kasus) yang diijtihadi. Mampu mengetahui kaidah-kaidah maqasidus-syariah.

Maqashi Syari’ah adalah, mewujudkan kemaslahatan dan menghindarkan kemudratan yang berada dalam koridor syari’ah. Maqashid Syari’ah merupakan upaya memelihara 5 macam kebutuhan dasar manusia, yakni agama, jiwa, akal, keturunan dan harta (tujuan maqsith syaria’ah) sebagaimana terlihat pada gambar berikut:

Gambar 9.1 Maqasith Syariah Dalam hal ini kita sebagai manusia harus menjaga agama, akal jiwa, keturunan dan harta kita tetap berada dalam koridor syariah (hukum Islam) guna kemaslahatan dunia dan akhirat dan terhindar dari kemudharatan.

5

agustianto.niriah.com

9.6 Objek Kajian Ijtihad Objek kajian ijtihad adalah hukum syara’ yang tidak memiliki dalil yang qath’iy. Dengan demikian, syaria’at Islam dalam kaitannya dengan ijtihad terbagi atas: a. Hal-hal yang boleh dijadikan sebagai objek kajian ijtihad adalah hukum yang didasarkan pada dalil zhanni, baik petunjuknya, (dilalahnya) maupun tsubutnya sSerta hukum-hukum yang belum ada nashnya dan belum ada ijma’ ulama tentangnya. b. Sedangkan hal-hal yang tidak boleh dijadikan objek kajian ijtihad, ialah hukum-hukum yang telah dimaklumi sebagai landasan pokok Islam, berdasarkan pada dalil-dalil qath’i. seperti melaksanakan shalat, zakat, puasa, ibadah haji, haramnya berzinah, mencuri, dll.

9.7 Objek Ijtihad Berikut ini adalah objek kajian ijtihad: a. b. c. d. Muamalat Filsafat Hukum yang dasarnya dalil zhanniy Ijtihad Bidang politik, aqidah, tasawuf, filsafat (Menurut Harun Nst)

9.8 Hukum Melakukan Ijtihad Mayoritas Ulama fiqih dan ushul, diperkuat oleh at-Taftazani dan ar-Ruhawi mengatakan, “ijtihad tidak boleh dalam masalah qath’iyat dan masalah akidah”. Minoritas Ulama (al.Ibnu Taimiyah dan Al-Hummam) membolehkan adanya ijtihad dalam akidah. Hukum melakukan ijtihad bagi orang yang telah memenuhi syarat dan kriteria ijtihad: a. Fardu ‘ain untuk melakukan ijtihad untuk kasus dirinya sendiri dan ia harus mengamalkan hasil ijtihadnya sendiri. b. Fardu ‘ain juga menjawab permasalahan yang belum ada hukumnya. Dan bila tidak dijawab dikhawatirkan akan terjadi kesalahan dalam melaksanakan hukum tersebut, dan habis waktunya dalam mengetahui kejadian tersebut. c. Fardhu kifayah jika permasalahan yang diajukan kepadanya tidak dikhawatirkan akan habis waktunya, atau ada lagi mujtahid yang lain yang telah memenuhi syarat. d. Dihukumi sunnah, jika berijtihad terhadap permasalahan yang baru, baik ditanya ataupun tidak. e. Hukumnya haram terhadap ijtihad yang telah ditetapkan secara qath’I karena bertentangan dengan syara’.

6

agustianto.niriah.com

9.9 Tingkatan Mujtahid Mujtahid memiliki beberapa tingktan, yaitu: a. Mujtahid mustaqil yaitu orang yang bebas membuat kaidahnya sendiri, menyusun fiqihnya sendiri, dan ber beda dengan madzhab lain. b. Mujtahid muthlaq ghairu mustaqil yaitu orang yang mempunyai kriteria mujtahid mustaqil tetapi mengikuti salah satu mazhab. c. Mujtahid muqayyad/takhrij yaitu orang yang diberi kebebasan untuk menentukan landasannya berdasarkan dalil, tetapi tidak boleh keluar dari kaidah-kaidah yang dipakai imamnya. d. Mujtahid tarjih yaitu sangat faqih, hapal kaidah-kaidah imamnya, mengetahui dalil-dalilnya, cara memutuskan hukumnya, bisa mengetahui cara mencari dalil yang kuat, dll. e. Mujtahid fatwa yaitu orang yang hafal dan paham kaidah-kaidah imam mazhab, mampu menguasai permasalahan yang sudah jelas atau yang sulit, namun masih lemah menetapkan suatu putusan berdasarkan dalil serta lemah dalam menetapkan qiyas. Menurut imam Nawawi kriteria ini masih sangat bergantung pada fatwa yang telah disusun imam mazhab.

9.10 Tertutup Dan Terbukanya Pintu Ijtihad Pada abad 4 hijriyah ada anggapan bahwa pintu berijtihad telah tertutup karena umat islam terpecah pada ketaatan dan pengagungan pada masing-masing madzhabnya. Dan adanya perasaan mereka bahwa mereka tidak akan mampu untuk menandingi para imam madzhab pada waktu itu. Jumhur ulama, para imam madzhab, sunni dan syi’ah, telah sepakat bahwa pintu ijtihad tidak akan pernah tertutup dan akan selalu terbuka. Pendapat yang sebenarnya adalah pintu ijtiahad tetap terbuka dan tidak pernah tertutup dalam sejarah. Untuk menjawab problematika ekonomi Islam, pintu ijtihad senantiasa terbuka.

7

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful