ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KASUS CHF ( CONGESTIVE HEART FAILURE) BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang Saat ini Congestive Hearth Failure (CHF) atau yang biasa disebut gagal jantung kongestif merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan yang akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit (readmission) meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal (R. Miftah Suryadipraja). CHF adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh (Ebbersole, Hess, 1998). Risiko CHF akan meningkat pada orang lanjut usia(lansia) karena penurunan fungsi ventrikel akibat penuaan. CHF ini dapat menjadi kronik apabila disertai dengan penyakit-penyakit seperti: hipertensi, penyakit katub jantung, kardiomiopati, dan lainlain. CHF juga dapat menjadi kondisi akut dan berkembang secara tiba-tiba pada miokard infark. CHF merupakan penyebab tersering lansia dirawat di rumah sakit (Miller,1997). Sekitar 3000 penduduk Amerika menderita CHF. Pada umumnya CHF diderita lansia yang berusia 50 tahun, Insiden ini akan terus bertambah setiap tahun pada lansia berusia di atas 50 tahun (Aronow et al,1998). Menurut penelitian, sebagian besar lansia yang dididiagnosis CHF tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun (Ebbersole, Hess,1998). Dalam makalah ini membahas CHF pada lansia disertai penanganan dan asuhan Keperawatan pada pasien dengan CHF. B. Tujuan penulisan 1.tujuan umum Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah agar mampu menerapakan asuhan keperawatan pada tn. F dengan kasus CHF di ruangan cempaka atas RSUP Persahabatan Jakarta timur. 2. tujuan khusus Adapun tujuan khusus dalam penulisaj ini adalah sebagai berikut : a. Dapat melakukan pengkajian pada tn. F dengan kasus CHF dan dapat mengetahui masalah yang dihadapi oleh klien b. Dapat merumuskan diagnose keperawatan pada tn F sesuai dengan data-data yang berhasil didapat selama pengkajian c. Dapat menentukan perencanaan keperawatan pada tn F dengan kasus CHF d. Dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan yang telah direncanakan sesuai dengan kebutuhan klien e. Dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam penerapapan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kepada Tn F dengan kasus CHF f. Dapat mendokumentasikan hasil dari

Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Gagal jantung kongetif adalah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. termasuk perubahan dalam volume darah. beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. Patofisiologi Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik. . Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Pengertian Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. seperti transfusi yang berlebihan atau anuria. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal. Gagal sirkulasi. Penanganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penyakit yang mendasarinya. Defenisi ini mencakup segala kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai. kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebtuhan metabolik tubuh. tonus vaskuler dan jantung. Etiologi Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada infark miokardium dan kardiomiopati. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium . C. gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung. tetapi mekanisme kompensatorik sirkulasi dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya. mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel. Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia. dimana akhirnya akan terjadi kongestif sistemik dan edema. Serentetan kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri. yang hanya berarti kelebihan beban sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal jantung atau sebab-sebab diluar jantung. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik.BAB II KAJIAN TEORITIS A. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung. B. juga akan terjadi pada jantung kanan.

Sonogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik. Kini telah diketahui bahwa kelemahan otot rangka dapat meningkatkan intoleransi terhadap latihan fisik. Juga mengkaji potensi arteri koroner. Scan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding. meningkatnya beban awal akibat aktivasi sistem rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel. Tetapi kelainan pada kerja ventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan beraktivitas. 1. perubahan dalam fungsi/struktur katup atau area penurunan kontraktilitas ventricular. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katup atrioventrikularis atau perubahanperubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang. Kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya aneurisme ventricular. dan stenosis katup atau insufisiensi. meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik. E.Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katup-katup trikuspidalis atau mitralis bergantian. Tetapi harus diperhatikan jangan sampai memaksakan larangan yang tak perlu untuk menghindari kelemahan otot-otot rangka. Rejimen penanganan secara progresif ditingkatkan sampai mencapai respon klinik yang diinginkan. Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga mekanisme primer yang dapat dilihat. Eksaserbasi akut dari gagal jantung atau perkembangan menuju gagal jantung yang berat dapat menjadi alasan untuk dirawat dirumah sakit atau mendapat penanganan yang lebih agresif . penyimpangan aksis. iskemia dan kerusakan pola mungkin terlihat. Pemberian antikoagulansia mungkin diperlukan padapembatasan aktifitas yang ketat untuk mengendalikan gejala. Tirah baring dan aktifitas yang terbatas juga dapat menyebabkan flebotrombosis. fibrilasi atrial. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung. Pemeriksaan Diagnostik EKG : Hipertrofi atrial atau ventrikuler. 2. D. pada keadaan istirahat. baik secara sendiri-sendiri maupun gabungan dari : beban awal. . Pembatasan aktivitas fisik yang ketat merupakan tindakan awal yang sederhana namun sangat tepat dalam penanganan gagal jantung. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini. Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran abnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontraktilitas.Penanganan biasanya dimulai ketika gejala-gejala timbul pada saat beraktivitas biasa. Kateterisasi jantung : Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan verus sisi kiri. kontraktilitas dan beban akhir. Dengan berlanjutnya gagal jantung maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif. Penanganan Gagal jantung ditangani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium. 4. 3. Disritmia mis : takhikardi.

dispnea pada saat istirahat. 4. a. mungkin dependen. Nadi apical . pucat abu-abu. kebiruan. Tekanan Nadi . 5. endokarditis. . anemia. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 3. penyakit jantung . ketakutan dan mudah tersinggung. Tanda : Gelisah. insomnia. mungkin sempit. penambahan berat badan signifikan. krekels. telapak kaki. Sirkulasi Gejala : Riwayat HT. IM baru/akut. mungkin rendah (gagal pemompaan). Eliminasi Gejala : Penurunan berkemih. Takikardia. Bunyi napas . urine berwarna gelap. abdomen. umum atau pitting khususnya pada ekstremitas. S1 dan S2 mungkin melemah. Punggung kuku . diare/konstipasi. diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretik. Warna . sianosis. PMI mungkin menyebar dan merubah posisi secara inferior ke kiri. 2. Makanan/cairan Gejala : Kehilangan nafsu makan. Edema . pembengkakan pada ekstremitas bawah. marah. Frekuensi jantung . mis : ansietas. Murmur sistolik dan diastolic. Irama Jantung . S4 dapat terjadi. 1. b. Pengkajian Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibatkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik . Integritas ego Gejala : Ansietas. b. Tanda : TD . Karenanya diagnostik dan terapeutik berlanjut . mual/muntah. S3 (gallop) adalah diagnostik. Aktivitas/istirahat Gejala : Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari. tanda vital berubah pada aktivitas. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis) Tanda : Berbagai manifestasi perilaku. episode GJK sebelumnya. a. GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas. pakaian/sepatu terasa sesak. pucat atau sianosis dengan pengisian kapiler lambat. a. b. bedah jantung . bengkak pada kaki. a. syok septik. berkemih malam hari (nokturia). nyeri dada dengan aktivitas. kuatir dan takut.BAB III KAJIAN KEPERAWATAN A. Disritmia. pembesaran/dapat teraba. perubahan status mental mis : letargi. ronkhi. Hepar . Bunyi jantung .

e. kegelisahan. nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot. kehilangankekuatan/tonus otot. Perubahan struktural. 12. riwayat penyakit kronis. b. Perubahan frekuensi. penggunaan otot asesori pernapasan. Mungkin bersemu darah.krakles. kusut pikir. Peningkatan frekuensi jantung (takikardia) : disritmia. gelisah. Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik. Sputum . d. episode pingsan. Mungkin menurun. Tujuan a. batuk dengan/tanpa pembentukan sputum. Tanda : Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum. 6. Pucat dan sianosis. kelelahan selama aktivitas Perawatan diri. pening. Higiene Gejala : Keletihan/kelemahan. a. penggunaan bantuan pernapasan. 7. Neurosensori Gejala : Kelemahan. edema dan nyeri dada. b. perubahan perilaku dan mudah tersinggung. Keamanan Gejala : Perubahan dalam fungsi mental. kulit lecet. letargi. b. Tanda : Bukti tentang ketidak berhasilan untuk meningkatkan. a. tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal. 1. pembesaran hepar. B. Tanda : Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal. Tanda : Pernapasan. Pernapasan Gejala : Dispnea saat aktivitas. tekanan dan pitting). Interaksi sosial Gejala : Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 10. b. g. fokus menyempit dan perilaku melindungi diri. perubahan gambaran pola EKG Perubahan tekanan darah (hipotensi/hipertensi). napas dangkal. angina akut atau kronis. 8. ditandai dengan . diorientasi. a. irama dan konduksi listrik. 11. Bunyi ekstra (S3 & S4) Penurunan keluaran urine Nadi perifer tidak teraba Kulit dingin kusam Ortopnea. dependen. b. f. Tanda : Letargi. b. misalnya : penyekat saluran kalsium. a. takipnea. Diagnosa Keperawatan Penurunan curah jantung berhubungan dengan . Warna kulit . Batuk : Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pembentukan sputum. Tanda : Tidak tenang. merah muda/berbuih (edema pulmonal) Bunyi napas . Pembelajaran/pengajaran Gejala : menggunakan/lupa menggunakan obat-obat jantung. Nyeri/Kenyamanan Gejala : Nyeri dada. Fungsi mental. . Mungkin tidak terdengar.b. a. 9. c.

dispnea berkeringat dan pucat. sedang atau kronis tekanan darah dapat meningkat. Intervensi Auskultasi nadi apical . Implementasi program rehabilitasi jantung/aktivitas (kolaborasi) . Perubahan tanda vital. dorsalis. dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan. angina. d. b. perpindahan cairan (diuretik) atau pengaruh fungsi jantung. berkeringat. Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas. Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi). c. catat takikardi. Irama Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah keserambi yang distensi. Banyak obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup. Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur. Tirah baring lama/immobilisasi. pedis dan posttibial. Rasional : Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas. Aktivitas intoleran berhubungan dengan : Ketidak seimbangan antar suplai oksigen. Sianosis dapat terjadi sebagai refrakstori GJK. b. d. Kelemahan umum. Rasional : Penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dapat menyebabkan peningkatan segera frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen juga peningkatan kelelahan dan kelemahan. kaji frekuensi. a. Murmur dapat menunjukkan Inkompetensi/stenosis katup. Klien akan : Menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung . iram jantung Rasional : Biasanya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel. khususnya bila klien menggunakan vasodilator. pucat. memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti. Ditandai dengan : Kelemahan. Area yang sakit sering berwarna biru atau belang karena peningkatan kongesti vena. 2. popliteal.diuretik dan penyekat beta. Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas. Tujuan /kriteria evaluasi : Klien akan : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan. Intervensi Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas. Palpasi nadi perifer Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan. c. Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis Rasional : Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung. e. Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tidak dapat normal lagi. Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung. f. kelelahan.a. Catat bunyi jantung Rasional : S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. disritmia. Melaporkan penurunan episode dispnea. adanya disritmia. memenuhi perawatan diri sendiri. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi) Rasional : Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia. Dispnea. vasokontriksi dan anemia. Pantau TD Rasional : Pada GJK dini.

Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut. Intervensi : Pantau pengeluaran urine.3. Distres pernapasan. Rasional : Pengeluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi ginjal. b. Pemberian obat sesuai indikasi (kolaborasi) Konsul dengan ahli diet. Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA. bunyi jantung S3. Rasional : Posisi tersebut meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis. a. Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif. hipertensi. a. Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima klien yang memenuhi kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium. Peningkatan berat badan. distensi abdomen dan konstipasi. catat jumlah dan warna saat dimana diuresis terjadi. Tujuan /kriteria evaluasi. bunyi jantung abnormal. Pantau TD dan CVP (bila ada) Rasional : Hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan cairan dan dapat menunjukkan terjadinya peningkatan kongesti paru. Menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual. Kaji bising usus. Catat keluhan anoreksia. catat krekles Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut. Rasional : membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen. mual. c. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan : perubahan membran kapileralveolus. bunyi nafas bersih/jelas. gagal jantung. c. b. Posisi terlentang membantu diuresis sehingga pengeluaran urine dapat ditingkatkan selama tirah baring. e. f. ditandai dengan : Ortopnea. d. Klien akan : Mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran. Rasional : Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia. berat badan stabil dan tidak ada edema. . Tujuan /kriteria evaluasi. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan : menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air. Intervensi : Pantau bunyi nafas. edema. Dorong perubahan posisi. bila fungsi jantung tidak dapat membaik kembali. 4. tanda vital dalam rentang yang dapat diterima. Rasional : Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan. nadi oksimetri. Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam Rasional : Terapi diuretic dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema/asites masih ada. nafas dalam. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan/situasi. d.. g. Rasional : Kongesti visceral (terjadi pada GJK lanjut) dapat mengganggu fungsi gaster/intestinal. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung dibawah stress. Oliguria.. Klien akan : Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi dekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan.

Kuatkan rasional pengobatan. terulangnya episode GJK yang dapat dicegah. e. b. c. Rasional : Klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan resiko eksaserbasi gejala. minimalkan dengan kelembaban/ekskresi. Mengidentifikasi stress pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani. 5. b. adanya edema. Rasional : Hipoksemia dapat terjadi berat selama edema paru. 6. Intervensi Diskusikan fungsi jantung normal Rasional : Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan. b. Rasional : Memberikan waktu adekuat untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal. Berikan perawtan kulit. meminimalkan hipoksia jaringan. Pijat area kemerahan atau yang memutih Rasional : meningkatkan aliran darah. Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Rasional : Memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah. Anjurkan makanan diet pada pagi hari. bantu latihan rentang gerak pasif/aktif. Rasional : Terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan. d. Rasional : Kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer. Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu. d.e. catat penonjolan tulang. Mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit. Tujuan/kriteria evaluasi Klien akan : Mempertahankan integritas kulit. Tujuan/kriteria evaluasi Klien akan : Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi. edema dan penurunan perfusi jaringan. Hindari obat intramuskuler Rasional : Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi. Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi. imobilisasi fisik dan gangguan status nutrisi. c. a. c. a. Intervensi Pantau kulit. ditandai dengan : Pertanyaan masalah/kesalahan persepsi. area sirkulasinya terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus. Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi Rasional : dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan dirumah. . a..

DATA · · · DS Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak DO TTV : TD : 140/90 mmHg. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-42012 Hasil/kesan : irama sinus.9 13 15 Hematokrit : 35 40 48 EKG : Tanggal : 11-42012 Hasil/kesan : irama sinus. ST elevasi pada V4. axis. RR : 20 x/ menit. HR 110x/ mnt ireguler. N : 100 x/menit reguler . LAD ANALISA DATA ETIOLOGI Disfungsi miocard Kontraktilitas PROBLEM Penurunan curah jantung Gagal pompa ventrikel · Curah jantung ( COP) · · · · · .T : 36.5 oC Leher: pembesaran vena jugularis (+) Laboratorium Hb : 11.

Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 124-2012 Hasil/kesan : irama sinus.15 Hematokrit : 35 40 .DATA ETIOLOGI drh Nutrisi PROBLEM Intoleransi aktifitas · · · · · · · · · DS Suplai Klien mengeluh sesak kejaringan nafas sejak 2 hari SMRS & O2 sel Klien mengatakan ketika Metabolisme sel melakukan aktifitas sehariLemah & letih hari bertambah sesak Tajam penglihatan menurun DO Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb : 11.9 13 . ST elevasi pada V4.48 EKG : Tanggal : 11-42012 Hasil/kesan : irama sinus.T : 36. N : 100 x/menit reguler . axis. RR : 20 x/ menit. HR 110x/ mnt ireguler.5 oC . LAD TTV : TD : 140/90 mmHg.

LAD Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan ditandai dengan: DS Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak Tajam penglihatan menurun DO Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb : 11.15 Hematokrit : 35 40 . HR 110x/ mnt ireguler. axis.T : 36.9 13 .DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. axis. LAD TTV : TD : 140/90 mmHg. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.48 · EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. HR 110x/ mnt ireguler. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.9 13 . · · · · · · · . RR : 20 x/ menit.T : 36.5 oC 2.48 EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.5 oC · Leher: pembesaran vena jugularis (+) · Laboratorium Hb : 11. N : 100 x/menit reguler . RR : 20 x/ menit. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial ditandai dengan : DS · Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS · Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS · Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak DO · TTV : TD : 140/90 mmHg. N : 100 x/menit reguler . ST elevasi pada V4. ST elevasi pada V4.15 Hematokrit : 35 40 .

tanda-tanda vital dalam batas normal. HR 110x/ mnt ireguler. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-42012 Hasil/kesan : irama sinus. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial ditandai dengan : DS · Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS · Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS · Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak DO · TTV : TD : 140/90 mmHg.RENCANA PERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. INTERVENSI Kaji dan catat 1. LAD 2. ST elevasi pada V4.AGD dalam batas normal .tidak ada distensi vena jugularis 4.N:60-100 2. . .P: 16-20 x/mnt.sianosis.tidak ada hipotensi 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan ditandai dengan: DS TUJUAN Setelah dilakukan 1. RR : 20 x/ menit.TD:100-120/8090 mmHg. tindakan keperawatan kondisi klien dapat membaik denga kriteria: .9 13 15 Hematokrit : 35 40 48 · EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.5 oC · Leher: pembesaran vena jugularis (+) · Laboratorium Hb : 11. x/mnt.ira ma dan denyut jantung Intruksikan untuk menjaga keseimbangan intake dan output Jelaskan tentang penggunaan dosis frekuensi dan efek samping obat Kolaboratif: diuretic dan antibiotic RASIONAL . tekanan darah. axis. N : 100 x/menit reguler .T : 36.

15 Hematokrit : 35 40 . Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-42012 Hasil/kesan : irama sinus. Evaluasi -TTV dalam batas motivasi klien normal terhadap -klien mampu peningkatan mendemonstrasikan aktifitas aktifitas dan self care -keseimbangan antara aktifitas dan istirahat 5. LAD TTV : TD : 140/90 mmHg. RR : 20 x/ menit.T : 36. . ST elevasi pada V4. axis. HR 110x/ mnt ireguler.5 oC 6. N : 100 x/menit reguler . Kaji respon emosional sosial dan spiritual 6. Intruksikan aktifitas klien dapat teknik relaksasi teratasi denga criteria selama aktifitas hasil: 8.9 13 .48 EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. Monitor respon cardiorespiratory Setelah dilakukan terhadap tindakan keperawatan kelelahan diharapkan intoleransi 7.· · · · · · · Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas seharihari bertambah sesak Tajam penglihatan menurun DO Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb : 11.

09:50 4.NO HARI/ JAM DX TANGGAL 1 11. HR: 122 x/mnt regular.irama dan denyut jantung hasil: TD: 120/90. HR: 110 x/mnt. 3. INTERVENSI mengkaji dan catat tekanan darah. ireguler. axis. RR: 20 x/mnt mengintruksikan untuk menjaga keseimbangan intake dan output hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan menjelaskan tentang penggunaan A. dosis frekuensi dan efek samping obat hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan mengkolaborasi pemberian diuretic dan antibiotic hasil: klien minum obat EVALUASI S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. EKG: irama sinus. reuler. LAD masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi KET 09:30 2. 10:00 .RR: 22 x/mnt.04 2012 09:00 1.N: 116 x/mnt.sianosis.

INTERVENSI EVALUASI S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. ireguler. selama aktifitas hasil: klien paham dengan intruksi yang diberikan 09:47 8.N: 116 x/mnt. menintruksikan teknik relaksasi B. dah jantung tidak teratur .sesak nafas. LAD masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi KET mengkaji respon emosional dan spiritual klien hasil: motivasi klien terhadap aktifitas baik 09:30 6. mengevalu si motivasi kilen terhadap peningkatan aktifitas hasil: klien mangatakan mudah merasa lelah.RR: 22 x/mnt. EKG: irama sinus. memonitor cardiorespiratory terhadap kelelahan hasil: TTV: T: 120/90 mmHg HR: 116 x/mnt regular RR: 22 x/mnt 09:45 7. reuler.NO HARI/ JAM DX TANGGAL 2 11-04-2012 09:00 5. HR: 110 x/mnt. axis.

menjelaskan tentang penggunaan dosis frekuensi dan efek samping obat hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan 10:00 4.N: 116 x/mnt. reguler. axis. HR: 110 x/mnt.04 2012 JAM INTERVENSI EVALUASI S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. RR: 22 x/mnt capillary 09:30 refill 3 detik 2. LAD masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi KET 09:00 1. mengkaji dan catat tekanan darah.sianosis. mengintruksikan untuk menjaga keseimbangan intake dan output hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan C. EKG: irama sinus. HR: 110 x/mnt regular.RR: 22 x/mnt. ireguler.irama dan denyut jantung hasil: TD: 120/90. 09:50 3. mengkolaborasi pemberian diuretic dan antibiotic hasil: klien minum obat .NO DX 1 HARI/ TANGGA L 12.

EKG: irama sinus. LAD masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi .sesak nafas. selama aktifitas hasil: klien paham dengan intruksi yang diberikan 09:47 9. dah jantung tidak teratur S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. mengkaji respon emosional dan spiritual klien hasil: motivasi klien terhadap aktifitas baik 09:30 7. reuler.RR: 22 x/mnt. INTERVENSI EVALUASI KET 09:00 6. mengevalu si motivasi kilen terhadap peningkatan aktifitas hasil: klien mangatakan mudah merasa lelah. memonitor cardiorespiratory terhadap kelelahan hasil: TTV: T: 120/90 mmHg HR: 110 x/mnt regular RR: 20 x/mnt 09:45 8.NO DX 2 HARI/ TANGGA L 12-042012 JAM5.N: 116 x/mnt. ireguler. HR: 110 x/mnt. menintruksikan teknik relaksasi D. axis.

kontraktilitas dan beban akhir. o Gagal jantung ditangani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium. . Kesimpulan o Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan o Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia. baik secara sendirisendiri maupun gabungan dari : beban awal. infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru.BAB IV PENUTUP A. B. SARAN Sangat diharapkan agar terhindar dari penyakit gagal jantung kongestif ini dilakukan dengan menghindari penyebab dari penyakit ini misalnya menjaga gaya hidup yang sehat terutama pada makanan yang dikonsumsi diharapkan tidak yang melihat enaknya saja tetapi juga mempertimbangkan gizi yang terkandung dalam. makanan tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful