KATA PENGANTAR Dengan nama Allah yang maha penyasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji beserta syukur kita panjatkan kehadhirat Allah swt, yang telah memberikan kesehatan, kesempatan dan umur panjang sehingga penulis telah dapat menyelesaikan penulisan Laporan Praktek Lapang ini dengan judul “.......................“. Shalawat beriring salam kita persembahkan keharibaan Nabi Besar Muhammad saw, yang telah merubah peradaban manusia menjadi ummat yang berbudi luhur dan berilmu pengetahuan. Bersama ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak…………. selaku dosen pembimbing…………… yang telah

mengarahkan kepada penulis dalam menyelesaikan Laporan Praktek Lapang ini. Selanjutnya kepada kawan-kawan seperjuangan yang telah membantu penulis tentang bagaimana tata cara penulisan Laporan Praktek Lapang yang baik. Dalam hal ini

penulis menyadari tidak dapat membalasnya melainkan hanya do’a yang penulis memohonkan semoga segala jerih payah mereka semua mendapat ridha dari Allah swt, dengan limpahan pahala bagi mereka semuanya. Penulis menyadari dalam penulisan Laporan Praktek Lapang ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh karenanya kritikan dan saran-saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan Laporan Praktek Lapang penulis dimasa yang akan datang. Akhirnya harapan penulis, semoga Loparan Praktek Lapang ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi sumbangan penulis dalam

rangka meningkatkan khazanah dan kualitas umat Islam terutama dalam bidang Pertanian. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin

Takengon, 15 Februari 2013

Penulis

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bawang merah merupakn komoditi holtikultural yang tergolong sayuran rempah. Sayuran rempah ini banyak dibutuhkan terutama sebagai pelengkap bumbu masakan guna menambah cita rasa dan kenikmatan makanan. Hampir setiap masakan menggunakan bawang merah sebagai pelengkap bumbu penyedapnya. Walaupun penambahannya tidak begitu banyak, tetapi belum memakai bawang merah masakan belumlah terasa nikmat. Selain sebagai bumbu masak, banyak bermanfaat untk kesehatan. Bawang merah dikenal hampir di setiap negara dan daerah di wilayah tanah air. Kalangan internasional menyebutkan shallot. Bawang merah memiliki nama ilmiah Allium cepa var. ascalonicum atau cukup disebut Allium ascalonicum. Bawang yang semarga denagn bawang daun, bawang putih, dan bawang bombay. Ini termasuk family Liliaceae. Bawang merah tergolong tanaman semusim atau setahun. Tanamannya berbentuk rumpun, akarnyaa serabut, batangnya pendek sekali yang hampir tidak tampak. Daunnya memanjang dan berbentuk silindris, pangkal daun berubah bentuk dan fungsinya yakni membengkak membentuk umbi lapis. Umbi tersebut dapat membentuk tunas baru yang kemudian tumbuh membesar dan dewasa menjadi umbi kembali.

Karena sifat tumbuhnya yang demikian maka dari satu umbi dapat membentuk rumpun tanaman yang berasal dari hasil peranakan umbi. Tanaman bawang merah lebih banyak dibudidayakan di daerah dataran rendah yang beriklim kering dengan suhu yang agak panas, dan cuaca cerah. Tanaman ini tidak menyukai tempat-tempat yang tergenang air apalagi becek. Walaupun bawang merah tidak menyukai tempat yang tergenang air, tetapi tanaman ini banyak membutuhkan air, tetutama dalam masa pembentukan umbi. Dengan tuntulan seperti ini tanaman bawang merah banyak ditanam pada musim kemaruan yang normalnya terjadi pada bulan April-Otober. Pada bulan-bulan tersebut produksi bawang merah melimpah. Daerah yang mempunyai kondisi seperti di atas dan menjadi sentral produksi bawang merah yaitu Brebes, Probolinggo, Majalengka, tegal, Nganjuk, Cirebon, Kediri, Bandung, dan Pemalang. Daerah-daerah tersebut termasuk ke dalam urutan 10 besar sentral produksi bawang merah di Indonesia. Daerah sentral produksi dan pengusahaan bawang merah perlu ditingkatkan mengingat permintaan konsumen dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal ini sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan daya belinya. Selain itu, dengan berkembangnya industri makanan maka akan terkaid pula peningkatan kebutuhan terhadap bawang merah yang berperan sebagai salah satu bahan pembantunya.

Mengigat kebutuhan terhadap bawang merah yang kian terus meningkat maka pengusahaannya memberikan gambaran (prospek) yang cerah. Prospek tersebut tidak hanya bagi petani dan pedagang saja, tetapi juga bagi semua pihak yang ikut terlibat di dalam kegiatan usahanya, dari mulai penanaman sampai ke pemasaran. Cerahnya produksi bawang merah juga didukung oleh tidak adanya bahan pengganti (barang subtitusinya), baik yang sintetis maupun alami. Yang dimaksud dengan pengganti tersebut yaitu berupa komoditi lain yang sifat dan fungsinya sama dengan bawang merah. Dengan demikian keberadaan bawang merah tentunya akan tetap banyak dibutuhkan. Bawang merah tergolong komoditi yang mempunyai nilai jual tinggi di pasaran. Keadaan ini berpengaruh baik terhadap perolehan pendapatan. Apalagi didukung dengan cepatnya perputaran modal usaha bawang merah. Pada umur 60-70 hari tanaman sudah bisa dipanen. Dengan demikian keuntungan bisa diraih dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat. Permintaan pasar terhadap bawang merah dari tahun ke tahun terus meningkat, luas areal budidaya bawang merah di Indonesia juga semakin bertambah. Sentral penanaman bawang merahpun bermunculan, namun hingga saat ini masih banyak kendala yang dialami oleh para petani bawang merah yaitu mulai dari masalah penerapan tehnik budidaya yang tepat juga masalah hama dan penyakit pada tanaman bawang merah tersebut. Salah satu yang kerap dikhawatirkan oleh para petani dalam membudidaya bawang merah adalah serangan hama dan penyakit yang sangat sering

menyerang tanaman bawang merah baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah umumnya tidak berbeda, oleh karena itu cara pengendaliannya pun sama. Hama adalah sejenis hewan yang mengganggu tanaman bawang merah sekaligus bisa menyebabkan kerusakan pada buah bawang merah, jenis hama yang menyerang tanaman bawang merah cukup banyak karena itu perlu penanganan yang tepat untuk bisa mengatasi hama-hama tersebut. Cara penanganan yang kurang tepat seperti penggunaan pestisida yang berlebihan dan diagnosis hama yang salah bisa menyebabkan rendahnya produksi bawang merah. B. Tujuan Praktek Lapang Praktek lapang ini bertujuan: 1. Untuk mengetahui pentingnya kegiatan penanganan pengendalian Hama dan penyakit tanaman bawang merah. 2. Untuk mengetahui sejauh mana petani di pedesaan melakukan langkah-langkah dalam menangani penyendalian hama dan penyakit tanaman bawang merah. 3. Untuk mengetahui hambatan yang dialami para petani dalam penanganan pengendalian hama dan penyakit tanaman bawang merah.

C. Metode Praktek Lapang Dalam pelaksanaan praktek lapang ini cara yang ditempuh untuk mendapatkan data adalah:

1. Pengumpulan data primer, metode ini adalah observasi langsung ke lapangan dengan mewawancarai para petani 2. Pengumpulan data sekunder, metode ini adalah dengan menghubungi kantor kepala Desa, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat dan instansi lain yang terkait di samping literatur yang ada. D. Tempat dan Waktu Praktek Lapang Praktek lapang ini dilaksanakan di Desa Toweren Toa Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah, Desa yang diamati sebagai lokasi praktek ini didasarkan atas alternative banyaknya petani bawang merah, letak, dan topografi yang cukup mendukung.

II. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Aceh Tengah merupakan salah satu Kabupaten yang berada ditengah-tengah Provinsi Aceh dengan ketinggian rata-rata 1200 meter dari permukaan laut (dpl). Letak geografis berada pada posisi 04 10 33 – 05 57 50 lintang Utara dan 95 15 40 – 97 20 25 Bujur Timur. Kampung Toweren Toa merupakan salah satu kampong yang berada di Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah, dengan ketinggian rata-rata 1200 meter dari permukaan laut (dpl), letak geografis berada pada posisi 04 10 – 05 58 Lintang Utara dan 96 18 – 96 22 Bujur Timur. Kampung Toweren Toa berbatas dengan batasbatas wilayah sebagai berikut: Sebelah utara berbatas dengan Kebayakan Sebelah selatan berbatas dengan Kampung Toweren Antara Sebelah timur berbatas dengan Kampung Gunung Suku Rawe Sebelah barat berbatas dengan Kampung Wak

1. Keadaan dan Luas Wilayah Luas daerah Kampung Toweren Toa + 31,66 km dengan ketinggian 1200 meter dari permukaan laut (dpl). Suhu rata-rata 18 – 28 kelembaban udara 75 % arah angin pada siang hari dari utara dan pada malam hari dari selatan, lama penyinaran 10 jam dan curah hujan 278 mm per tahun.

Tabel 1. Keadaan Jumlah Penduduk Kampung Toweren Toa Berdasarkan Jenis Kelamin. No Uraian 1 2 3 Laki-laki Perempuan Kepala Keluarga Jumlah Jumlah (Jiwa) Persentase 275 318 91 593 100 50,55 49,45 Keterangan

Sumber data: Kantor Kepala Kampung Toweren Toa Tahun 2013 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk pada daerah praktek lapang, yaitu Kampung Toweren Toa terdiri dari jumlah penduduk laki-laki sebanyak 275 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebannyak 318 jiwa, total keseluruhan 593 jiwa dan jumlah kepala keluarga 91 jiwa. 2. Keadaan Tanah dan Topografi Usaha tani tanah merupakan salah satu factor produksi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, maupun waktu dan cara bercocok tanam. Keadaan tanah di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya, begitu pula halnya dengan keadaan tanah dan topografi di Kampung Toweren Toa. Kesuburan tanah dipengaruhi oleh jenis dan kandungan gabungan antara jenis tanah vulkanik dan andosol yang merupakan tanah pertanian terbaik. Dalam usaha tani keadaan topografi akan mempengaruhi biaya produksi, dimana pada topografi berat akan memperbesar biaya pengolahan tanah karena sulit menggunakan alat-alat mekanis, sehingga akan

berpengaruh pada pendapatan usaha tani. Keadaan tanah dan topografi di Kampung Toweren Toa pada umumnya lempung berpasir dan lempung berdebu. Faktor alam secara langsung mempengaruhi kehidupan manusia, tumbuhtumbuhan dan hewan adalah faktor iklim, perbedaan faktor iklim akan menyebabkan perbedaan vegetasi, oleh karena itu untuk menentukan jenis tanaman yang cocok di suatu daerah perlu mempelajari keadaan iklim setempat. Kampung Toweren Toa tergolong keadaan iklim tropis yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau, unsure-unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah curah hujan, suhu, angin, dan kelembaban udara. Keadaan rata-rata curah hujan di Kampung Toweren Toa adalah 278 mm per tahun dengan jumlah rata-rata 136 hari per tahun. Musim kemarau biasanya jatuh pada bulan Mei dan Agustus dan musim hujan antara bulan September sampai bulan Maret atau April. Suhu rata-rata berkisar antara 20 -27 C dan 13 C- 20 C dengan kelembaban relative 80 % dan angka maksimal 92.

Tabel 2. Luas Wilayah Kampung Toweren Toa Kabupaten Aceh Tengah Menurut Tata Guna Tanah Tahun 2009. No. Status Penggunaan Tanah 1 2 3 4 Sawah Bangunan Perkebunan Lain-lain Jumlah Luas Lahan (Ha) 11,5 6,5 19,5 1 38,5 Persentase 30,2 17,5 51,4 1 100,1

Sumber: Kantor Kepala Kampung Toweren Toa tahun 2011 Dari tabel di atas dapat dilihat luas areal yang dimanfaatkan masyarakat Kampung Toweren Toa adalah persawahan 11,5 hektar, perkebunan 19,3 hektar, tanah bangunan 6,5 hektar, dan lain-lain 1 hektar. 3. Keadaan Petani dan Pertanian Petani di Kampung Toweren Toa selain membudidaya tanaman holtikultura juga tanaman perkebunan, tanaman pangan dan sebagainya, kemudian disektor peternakan dan perikanan. Pengaruh teknologi maju sedikit banyak terlihat pada perilaku petani dalam melakukan usaha taninya. Adanya tumpang sari tanaman dan pergiliran tanaman dan mengatur waktu tanam diharapkan dapat dilakukan pemanenan secara bervariasi dan bertahap.

4. Prasarana Perhubungan (Transportasi) Pembangunan perhubungan, kurang pertanian baiknya sangat erat hubungannya mengakibatkan dengan biaya prasarana transportasi

hubungan

tinggi,sehingga harga imput atau sarana produksi menjadi lebih mahal dan sebaliknyadapat menyebabkan output atau hasil produksi bertumpuk disuatu tempat, sehingga hasil produksi tersebut akan turun harganya, dengan demikian harga input tidak sesuai dengan harga output, yang akhirnya dapat mengakibatkan kurang adanya rangsangan bagi petani dalam berproduksi. Keadaan jalan di Kampung Toweren Toa sangat bagus sehingga sangat mudah dilalui, di samping itu transportasi atau angkutan sudah tersedia dan masuk keseluruh kampung-kampung yang ada pada Kampung Toweren.

B. Karakteristik Petani Karakteristik yang dimaksud dalam praktek lapang ini adalah umur, pendidikan, pengalaman dalam berusaha tani, luas lahan garapan usaha tani bawang merah, dan besarnya tanggungan dalam keluarga (jiwa). Karakteristik petani akan menentukan tahapan kemampuan bekerja dari seorang petani dalam usaha meningkatkan produksi, di samping faktor-faktor fisik dan faktor ekonomi lainnya. Petani merupakan orang yang berfungsi sebagi manajer dalam pengambilan keputusan danpengaturan penggunaan sumber-sumber produksi, yang ada dalam usaha tani secara efektif sehingga dapat menghailkan produksi. Namun demikian petani sebagai manajer juga sekaligus menjadi juru tani.

Petani mengelola usaha taninya harus memiliki kemampuan dan ketrampilan, sehingga petani mau dan mampu melaksanakan pengolahan tanah, pemeliharaan tanaman, pemanenan, dan pemasaran hasil usaha taninya dengan sebaik-baiknya. Peranan petani dalam mengelola usaha taninya dengan berbagai factor produksi bertujuan untuk menghasilkan produksi dan pendapatan, diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan hidup patani beserta keluarganya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan. Oleh sebab itu kemampuan ketrampilan petani dalam mengelola usaha taninya sangat bergantung kepada umur, pendidikan, pengalaman yang cukup dalam mengelola usaha taninya, maka diharapkan petani akan memperoleh produktivitas usaha taninya yang cukup. Untuk lebih jelasnya keadaan karakteristik petani pada usaha tani bawang merah pada daerah praktek dapat dilihat pada Tabel berikut ini: Tabel 3. Keadaan Karakteristik Petani Sampel Usahatani Bawang Merah Pada Daerah Penelitian 2013. No. Uraian 1 2 3 4 5 Luas Lahan Umur Pendidikan Lama Berusaha Tanggungan Satuan Ha Tahun Tahun Tahun Jiwa Jumlah 5 27 11 5 2

Sumber: Kantor Kepala Kampung Toweren Toa Tahun 2013

Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata luas lahan petani usahatani bawang merah adalah 5 Ha, sedangkan umur petani 27 tahun, pendidikan 11 tahun. Hal ini berarti tingkat pendidikan petani yaitu SMU, lama bertani 5 tahun dan tanggungan 2 jiwa.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bawang Merah Bawang merah merupakan tanaman semusim (setahun) yang membentuk rumpun, daunnya panjang-panjang menyerupai pipa (Rachmawaty, dkk., 1987: Anonymous, 1987). Daun bawang merah hanya ada satu permukaan, bentuknya bulat kecil memanjang dan berlubang. Tinggi tanaman mencapai 15-50 cm, ujung daun meruncing tetapi bagian bawahnya melebar seperti kelopok dan membengkok, daun berwarna hijau muda. Kelopok daun yang sebelah luar melingkar dan menutup daun yang di dalamnya. Demikian seterusnya sehingga bila dipotong melintang akan tanpak lapisan-lapisan seperti cincin. Pada pangkal daun atau di atas umbi, daun masih saling membungkus dan mengecil sehingga bila dilihat sepintas menyerupai batang, batang ini disebut batang semu (Wibowo, 1989). Zat makanan yang tersimpan di dalam pangkal daun yang membengkok, dikenal dengan sebutan umbi bawang. Umbi bawang tersebut terbentuk umbi lapis (bulbus), bila ditinjau dari asalnya umbi ini, maka umbi lapis bawang merah merupakan jelmaan dari batang dan daunnya. Umbi lapis ini duduknya tepat di atas cakram atau subang (discus). Cakram atau subang ini merupakan batang yang sebenarnya. Batangnya kecil dengan ruas-ruas yang sangat pendek (Tjitrosoepomo, 1992). Di bawah subang (discus) tempat tumbuhnya akar-akar serabut yang tidak terlalu panjang dan tidak dalam. Setiap suing dapat membentuk umbi baru, umbi samping sampai terbentuknya rumpun yang terdiri dari 3-8 umbi baru (Rismunandar, 1989).

Menurut Sunarjono dan Soedomo (1989), setiap umbi bawang merah dapat menjadi beberapa umbi (2-20 anakan). Pada cakram diantara lapis kelopak daun terdapat mata tunas yang mampu menjadi tanaman baru yang dikenal sebagai tunas lateral (anakan), sedangkan tunas yang terdapat ditengah cakram terdapat tunas utama (inti tunas) yang nantinya tumbuh lebih dulu, dalam keadaan lingkungan yang mendukung tunas inti ini dapat tumbuh bakal bunga (Primordia bunga). Selanjutnya Rahayu dan Berlian (1996) menjelaskan, tangkai bunga keluar dari tunas apical yang merupakan tunas utama atau tunas inti. Tiap tangkai taandan bunga mengandung 50-200 kuntum bunga, pemanjangan tangkai bunga akan berhenti setelah tepung sari mekar semua. Bunga bawang merah termasuk sempurna, terdiri dari 5-6 helai benang sari dan sebuah putik, daun bunga berwarna hijau keputih-putihan atau putih. Bakal buah duduk di atas membentuk bangunan segi tiga dan mirip kubah. Bakal buah terbentuk dari 3 daun buah (kalpel) dengan membentuk 3 buah ruang, setiap ruang mengandung 2 bakal biji (ovulum). Benang sari tersusun membentuk 2 lingkaran yaitu lingkaran dalam dan lingkaran luar dengan masing-masing lingkaran terdapat 3 helai benang sari. Benang sari pada lingkaran dalam lebih cepat matang dari pada yang terdapat pada lingkaran luar, selang waktu 2 atau 3 hari biasanya tepung sari sudah matang semuanya. Biji tanaman bawang merah sewaktu muda berwarna putih dan setelah tua menjadi hitam. Menurut Pulle: Jones dan Mann dalam Sunarjono dan Soedomo (1989), menjelaskan bahwa lebih dari 500 species yang termasuk ke dalam genus Allium, hanya

7 kolompok yang sudah dibudidayakan, salah satunya adalah bawang merah. Di dalam klasifikasi tumbuh-tumbuhan termasuk ke dalam: Divisio : Spermatophyta

Sub division : Angiospermae Klas Ordo Famili Genus Species : Monocotyledonae : Liliflorae : Liliaceae : Allium : Allium ascolanicum L.

Dalam budidaya bawang merah dikenal berbagai varietas atau lazim disebut dengan kultivar. Dari berbagai kultivar mempunyai keistimewaan tersendiri, baik tinggi tanaman, umur panen, ketahanan terhadap penyakit tertentu, produksi persatuan luas, dan kesesuaian tempat bercocok tanam.

B. Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah 1. Tanah Derajat keasaman tanah berpengaruh terhadap tanaman, baik pengaruh langsung atau tidak langsung. Tanah pada pH di bawah 4,0 atau di atas 10,0 dapat menyebab kerusakan pada tanaman, sedangkan pengaruh yang tidak langsung yaitu masalah tersedianya unsur hara atau kemungkinan timbulnya keracunan pada tanaman (Sapoetra, dkk., 1987). Menurut Anonymous (1987), bahwa pH yang cocok antara 5,5-6,5. Jika pH

terlalu rendah tanaman bawang merah akan tumbuh kerdil dan pada pH yang terlalu tinggi umbi yang dihasilkannya akan kecil-kecil sehingga hasilnya menjadi rendah. Bawang merah tidak menyukai tanah yang padat dikarenakan dapat menghambat perkembangan umbinya (Anonymous, tt). Selanjutnya Wibowo (1989) mengatakan, tanah yang disukai oleh bawang merah adalah tanah yang lempung berpasir atau berdebu, dimana fraksi pasir, liat dan debu dalam keadaan seimbang. Tanah alluvial dan latosol yang berpasir juga cukup baik untuk pertumbuhan tanaman ini, dengan struktur bergumpal tidak becek, banyak mengandung humus, mempunyai aerasi dan drainase yang baik juga gembur dan subur. Derajat keasaman pada pH 5,5-7,0 masih dapat digunakan untuk penanaman bawang merah, namun yang paling baik pada kisaran 6,06,8. Daya adaptasi tanaman bawang merah tergolong tinggi, karena dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1000 M di atas permukaan laut, hasil yang optimum dapat dicapai pada ketinggian 250 M di atas permukaan laut (Maryati dan Wiryatmi, 1986). 2. Iklim Suhu udara yang dikehendaki oleh tanaman bawang merah berkisar antara 25-32 C dengan iklim kering, dan lebih baik lagi bila suhu rata-rata tahunan berada pada 30 C. Tanaman bawang merah akan sulit membentuk umbi atau bahkan tidak dapat membentuk umbi kalau saja suhu udaranya kurang dari 22 C. Sedangkan kelembaban

udara yang dibutuhkan oleh bawang merah adalah kelembaban sedang yaitu 50% - 70% (Nazaruddin, 1995).

C. Hama Hama dan penyakit tanaman merupakan faktor pembatas dalam usha produksi pertanian, agar produksi pertanian memberikan hasil yang memuaskan, maka tanaman harus bebas dari serangan hama dan penyakit, oleh karena itu apabila tanaman terganggu oleh serangan hama dan penyakit perlu dlakukan ttindakan pemberantasan hama dan penyakit, hal ini dikarenakan untuk menjamin tidak terjadinya kerusakan yang mengakibatkan kerugian dibidang pertanian (Rukmana, 1995). Berbagai cara pemberantasan dapat dilakukan tergantung pada jenis tanaman, jenis hama dan penyakit serta lingkungan. Ada beberapa cara pengendlian hama dan penyakit yairu cara mekanis, pemberantasan factor-faktor biologis, penggunaan festisida dalam usaha pengendalian hama dan memelihara kondisi dimana hama dan penyakit tidak menimbulkan kerugian pada tanaman (Anonymous, 2005). Walaupun pemberantasan hama dan penyakit tanaman tidak seharusnya dengan menggunkan pestisida akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa dalam teknologi pertanian yang maju pada saat ini kita tidak dapat bisa lepas dari penggunaan pestisida dan dengan menggunakan pestisida yang efektif akan memberikan hasil yang memuaskan bagi petani.

Hama-hama yang menyerang tanaman bawang merah: 1. Ulat Tanah atau Uret (Agrotis ipsilon Hufnatel) Hama ulat tanah atau uret menyerang tanaman dengan cara memotong bagian dasar tanaman dan kadang-kadang memakan daun bawang. Ulat ini menyerang pada malam hari. Pada siang hari bersembunyi di dalam tanah. Hidupnya di bawah atau di dekat permukaan tanah, berwarna hitam, kelabu suram, atau cokelat. Musuh alaminya pada stadium ulat adalah jenis serangga Apanteles sp., Tritaxys braueri, dan cupbocera varia, sedangkan yang berupa jamur adalah jenis Botrytis sp. Dan Metarrbizium sp. Pengendaliannya dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan ulat yang ada. Secara kimiawi dengan insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron 500 EC. 2. Ulat Grayak atau Ulat Tertara (Spodoptera litura Fabricius) Hama ulat grayak atau ulat tentara menyerang tanaman dengan cara bergerombol memakan daun, sehingga menyebabkan daun menjadi berlubanglubang, dan selanjutnya mengganggu proses fotosintesis. Telur-telur ulat grayak sering ditemukan berada di daun. Pengendaliannya dengan cara memasang perangkap menggunakan cahaya lampu yang bagian bawahnya diberi baskom yang berisi air dan minyak tanah. Cara ini sangat efektif, karena pada stadium ngengat, ulat grayak menyenangi cahaya. Cara lainnya dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan ulat yang ada. Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida Midic 10 WP, Midic 200 F, Buldok 25 EC, atau Curacron 500 EC.

3. Kutu Bawang (Thrips tabaci Lindeman) Serangga ini menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan sel tanaman, baik pada daun maupun pada bagian tanaman lainnya. Serangan pada daun akan menyebabkan daun berubah warna menjadi kuning, kemudian putih keperakan atau cokelat, mengerut atau keriting, akhirnya daun layu dan rontok. Pengendaliannya dengan cara membakar sisa-sisa tanaman setelah panen. Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida Voltage 560 EC.

D. Penyakit 1. Bercak Ungu (Purple Blotch) Penyakit bercak ungu disebabkan oleh jamur Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala penyakit yang muncul mula-mula terjadi pada daun, terutama pada daun tua, berupa bercak-bercak kecil, melekuk, berwarna putih hingga kelabu. Jika membesar bercak tersebut tampak bercincin, berwarna agak keunguan, tepinya agak kemerahan atau keunguan, dikelilingi oleh lingkaran berwarna kuning yang dapat meluas agak jauh dari bercak. Selanjutnya ujung daun akan mongering. Serangan pada umbi bawang terjadi saat dan setalah panen, ditandai dengan umbi yang membusuk dan tampak berair. Pembusukan dimulai dari leher, yang berwarna kuning hingga merah kecokelatan. Pengendaliannya dengan cara pemupukan yang seimbang dan penyiraman yang cukup, sehingga pertumbuhan tanaman optimal, mengatur drainase yang baik

disekitar tanaman, dan melakukan pergiliran tanaman. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan fungisida Antracol 70 WP, Dithane M45, Kocide 60 WDG, Rovral 50 WP, Derosal 500 SC, Derosal 60 WP, atau Score 250 ED. Dalam pemakaian fungisida ini dianjurkan untuk menggunakan perekat, misalnya Agristik atau Tenac Sticker, karena permukaan daun bawang berlilin. 2. Busuk Daun (Downy Mildew) Penyakit busuk daun disebabkan oleh jamur Peronospora destructor (Berk.) Casp. Gejalanya muncul saat tanaman mulai membentuk umbi lapis, berupa munculnya bercak berwarna hijau pucat di dekat ujung daun. Jika kelembaban udara di sekitar tanaman meningkat, pada permukaan daun akan berkembang kapang atau jamur yang berwarna putih keunguan. Selanjutnya daun akan menguning, layu, kering, dan akhirnya akan mati. Pengendaliannya dengan cara menjaga kelembaban di sekitar tanaman dan menggunakan benih yang tahan terhadap penyakit ini. Jika serangannya berat, setelah panen daun-daun dibakar dan lahan tidak ditanami bawang selama 3 tahun. Secara kimiawi dengan menggunakan fungisida Daconil 75 WP, Dithane M45, Antracol 70 WP yang dicampur dengan perekat daun. 3. Antraknosa Penyakit ini disebabkan oleh jamur Collektotrichum gloeosporioides Penz. Gejalanya tanaman akan mati mendadak, dan jika diamati daun-daunnya di bagian bawah rebah karena pangkal daun mengecil karena serangan jamur. Pengendaliannya

dengan cara melakukan rotasi tanaman. Secara kimiawi dengan menggunakan fungisida Derosal 60 WP atau Derosal 500 SC. 4. Mati Ujung Penyakit ini disebabkan oleh jamur phytophthora porri Foister. Gejalanya ditandai dengan ujung-ujung daun busuk, kebasah-basahan, dan berkembang hingga ke bagian bawah. Kemudian bagian tersebut berubah menjadi cokelat, kemudian putih, dan pada akhirnya akan mati. Pengendaliannya dengan cara menjaga kelembaban disekitar tanaman, pengelolaan air yang tepat, pengaturan drainase yang benar, dan menggunakan fungisida Dithane M45 atau Antracol 70 WP. 5. Busuk Leher Batang Penyakit busuk leher batang disebabkan oleh jamur Botrytis allii Munn. Gejalanya mula-mula terlihat pada umbi lapis ketika panen, yakni umbi menjadi lunak, berwarna kelabu, berbatas tegas, dan bagian yang terserang tampak melengkuk. Pengendaliannya dengan cara menjaga kelembaban disekitar tanaman, pengelolaan air, dan pengaturan drainase yang tepat. Secara kimiawi dengan penyemprotan fungisida Antracol 70 WP, Dithane M 45, atau Score 250 EC. 6. Penyakit Busuk Pangkal Batang Fusarium Penyakit ini banyak dijumpai pada bawang bombay, misalnya di Afrika Selatan, Amerika Serikat, Italia, dan Jepang. Selain menyerang bawang bombay juga menyerang bawang putih dan bawang merah. Gejala: pada bawang bombay dan bawang putih semula menyerang dan sampai ke umbi. Umbi menjadi kemerahan atau ungu kemerahan mulai pada awal musim.

Bila umbi sakit dipotong maka terlihat cokelat berair. Pada pangkal batang terlihat miselium putih, sedangkan pangkal batangnya berwarna cokelat. Kadang-kadang gejala belum terlihat sampai saat panen, tetapi selama penyimpanan pembusukan berkembang. Penyebab: jamur Fusarium oxysporum Schlechtend.: Fr f.sp. cepae (H.N. Hans.) w.C. Snyder & H.N. Hans. Menghasilkan klamidiospora, makrokonidi, dan sedikit mikrokonodi. Makrokonodi bengkok mempunyai 3-4 sekat. Meskipun isola F.o. cepae menunjukkan variasi tingkat keganasannya, tidak ada ras yang dicirikannya. Patogen ini dapat menyerang umbi pada berbagai tingkat umur. Klamidospora adalah alat bertahan di dalam tanah dan menyerang umbi melalui luka yang biasanya disebabkan oleh lalat Delia antiqua (Meigen) dan Delia platura (Meigen). Penyakit jarang terlihat pada suhu di bawah 15 C, tetapi setelah suhu mencapai 25-28 C penyakit berkembang cepat. Penyebaran penyakit dari umbi ke umbi dalam penyimpanan tidak begitu terlihat. Penyakit yang berkembang dalam penyimpanan berasal dari lapangan, serangan berat menyebabkan penurunan berat dan siungannya terpecah-pecah. Pengendalian: penggunaan jenis tahan, pencelupan benih sebelum ditanam, rotasi dengan tanaman bukan inang selama 4 tahun atau lebih, dan penyimpanan pada suhu 4 C (Harvey, cit. Schwartz. & Mohan, 1995).

7. Penyakit Busuk Pangkal Fusarium Penyakit busuk pangkal pada bawang putih dapat menimbulkan kerugian sampai 40 % dan terdapat di Kalifornia, Kolombia, Inggris, Nevada, dan Oregon. Gejala: umbi dan daun yang disimpan dapat membusuk dangan warna kemerahan. Penyebab: Jamur Fusarium culmorum (Wm. &. Sm.) Sacc. Sinonim F. Roseum (L.) Snyd. & Hans. Var. Culmorum (Schwabe) Snyd. & Hans. Tidak membentuk mikrokonidi. Makrokonidi kebanyakan bersekat jelas, bengkok, dan berdinding tebal. Konidiofor tidak bercabang. Klamidiospora sangat banyak dan dapat terbentuk sendiri atau dalam rantaian. Pada medium PDA miselium udara putih atau kuning sampai kuning jerami tumbuh cepat. Sporodosium berwarna merah sampai cokelat tampak pada biakan yang tua. Sisi bawah permukaan cenderung berwarna merah karmin (cerah). Pengendalian: jangan merotasi bawang dengan sereal. Gunakan fungisida benomil untuk perlakuan benih. Perlakuan dengan air atau larutan formalin panas dapat menurunkan penyakit sampai 50%. 8. Penyakit Busuk Arang Penyakit ini menyerang bawang bombay dan bawang putih di Australia, India, Texas, dan Turki. Jamur ini dapat menyerang paling sedikit 284 spesies tanaman inang. Jamur banyak dijumpai di daerah tropis dan subtropis, tetapi jarang di zona temperate.

Jamur bertahan di dalam tanah berupa sklerosium selama 10 bulan dan dalam bahan organik selama 16-18 bulan, juga dapat bertahan pada sisa tanaman atau tumbuhan gulma. Patogen dapat menyerang bawang bombay melalui luka, tetapi untuk bawang merah minimum 10 C, optimum 25-30 C, dan maksimum 40 C membentuk. Gejala: umbi dalam penyimpanan berwarna seperti abu. Apabila sisik (kulit) bagian luar dilepas pada satu atau dua sisik timbul gejala gelap dan berwarna arang. Gejala mungkin dapat tertutup oleh sklerespora berupa titik-titik hitam. Sisik yang sakit kadang—kadang kering dan tidak menyatu. Pada bawang merah helaian sisik menjadi massa berwarna cokelat keras dan kehilangan bau khas bawang putih. Penyebab: jamur Macrophomina phaseolina (Tassi) Goidanich sinonim Sclerotium bataticola Taubenhaus. Pada biakan, piknidium berdiameter 123-132 um, konidiofornya sederhana, konodi hialin, silindris, membulat pada ujung, dan satu sel dengan ukuran 22-23 x 8-10 um. Jamur sangat variabel dan isolatnya jarang membentuk piknidium. Anastomosis sendiri antara hifa dalam talus tunggal kuat (sering). Miselium bersekat, semula putih kemudian menjadi putih keabu-abuan. Sklerotium bulat, keras, mengkilat, dan berwarna hitam dengan ukuran 50-150 um. Tidak (belum) dijumpai tingkat sempurnanya (teleomorph). Pengendalian: di zona temperate tidak perlu pengendalian. Penanganan sejak tanam, pemeliharaan, panen, dan pascapenen harus hati-hati agar tidak terjadi luka. Penyimpanan umbi pada suhu di bawah 10 C. Untuk mengurangi potensi sklerosium

dapat dilakukan solarisasi tanah. Kalau mungkin tanah dibiarkan kosong selama 1-2 musim, sebab sukar digunakan rotasi tanaman yang bukan jadi inang patogen. 9. Penyakit Busuk Sklerotinia Penyakit sering dijumpai pada bawang bombay yang disimpan di Florida, Hawaii, Indaho, California, Michigan, Ohio, Taiwan, Virginia Barat, dan Washington. Penyakit lebih umum pada iklim dingin, basah, dan dapat menyerang 360 spesies tanaman sukulen, termasuk kubis-kubisan, sebangsa mentimun, selasa, kacang-kacangan, tomat, bunga, gulma, dan semak. Sklerotium dapat bertahan di dalam tanah sampai beberapa tahun atau pada sisa tanaman. Sklerosium dapat menghasilkan apothesium dekat atau pada permukaan tanah, yang membentuk askospora yang dipencarkan oleh angin. Askospora hanya tahan beberapa jam, tetapi kalau jatuh ke tanaman yang rentan dan kondisi lingkungan cocok dapat segera menyerang tanaman tersebut. Jamur memerlukan suhu dingin (0 C-28 C) dan lembab. Gejala: gejala tidak pernah ditemukan pada bawang Bombay. Pada sayuran lain, gejala penyakit dicirikan dengan busuk lunak berair dengan pertumbuhan miselium putih mengapas pada permukaan gejala. Kadang-kadang sklerosium hitam, besar, dan panjang sampai satu cm atau lebih dihasilkan pada permukaan gejala. Penyebab: jamur Sclerotinia sclerotiorum (Lib.) de Bary, yang menghasilkan sklerosium bulat sampai silindris, besar, berukuran 2-15x2-30 mm, dengan kulit luar hitam dan kulit dalam putih. Sklerosium yang tumbuh dapat membentuk satu sampai

beberapa apothesium bentuk cawan, putih, kuning, kuning jerami, atau cokelat. Askus berisi 8 spora dengan ukuran 9-13x4-5 um, elips, hialin, dan tidak bersekat. 10. Penyakit Busuk Putih Penyakit ini merpakan penyakit terpenting pada bawang yang disebabkan oleh jamur karena tersebar luas dan sangat merusak semua jenis spesies Allium. Penyakit terdapat dimana pun bawang tumbuh sepanjang pertumbuhan inang menjadi pada musim dingin yang kondusif untuk pertumbuhan dan perbanyakan pathogen. Dalam kondisi semacam itu penyakit busuk putih umumnya menjadi faktor terbesar pembatas kesinambungan produksi bawang komersial. Di Amerika Serikat dan Kanada penyakit busuk putih sangat merusak di daerah penghasil bawang Bombay dan bawang putih di bagian barat dan timur laut serta sekitarnya dan di utara Great Laker. Telah dilaporkan dari penanaman lewat musim dingin di Louisiana yang menimbulkan masalah yang gawat di sebagian Meksiko. Penyakit busuk putih kehilangan hasil terbesar di banyak daerah pertumbuhan bawang Bombay dan bawang putih meliputi Eropa, Asia, Afrika, TimutTengah, Amerika Tengah dan Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Gejala: Dimulai dengan tumbuhnya miselium putih pada batang asli yang meluas ke sekitar pangkal umbi dan bahkan naik ke umbi dan ke arah dalam dari daun simpanan ke daun simpanan yang lain.Sklerotium terbentuk pada jaringan kecil sebesar biji. Massa Sklerotium yang melimpah dapat terbentuk. Pada pelepah daun bawang Bombay segera dikontaminasi oleh jamur lain, sedangkan pada

pelepah daun bawang putih kontaminasi jamur lain dihambat hingga lebih memudahkan diagnosis. Penyebab: penyakit ini disebabkan oleh jamur Sclerotium ceviporum Berk., yang afinitasnya menyerupai Ascomycetes, tetapi deskripsi tingkat sempurna belum ada. Tidak dikenal fungsi sporanya, meskipun fialospora menyerupai spermatium dibentuk pada agar air. Satu-satunya struktur perbanyakan adalah sklerotium, yang umumnya bulat seragam dengan diameter antara 0,35 mm – 0,50 mm. Telah dilaporkan beberapa isolate dengan sklerotium sebesar 0,75 mm dengan bentuk tidak beraturan. Sklerotium besar, sering memanjang, dan tidak beraturan berukuran 5 mm – 25 mm yang kadang-kadang dibentuk disekitar batang asli dalam

asosiasinya dengan sklerotium yang berukuran normal. Sklerotium yang besar telah dilaporkan di Mesir, Selandia Baru, dan Amerika Serikat (Oregon). Sklerotium yang memiliki kedua tipe berdinding tebal, terdiri dari 2-5 sel yang kompak, hitam, licin, dan miselium yang menyebar. Sklerotium yang kecil umumnya hanya berkecamba sekali, meskipun 1-2 % nya dapat membentuk satu atau beberapa sklerotium kedua yang lebih kecil. Akan tetapi, tampaknya sklerotium kedua (sekunder) dan yang berukuran besar tidak member sumbangan yang nyata pada terjadinya penyakit busuk putih. Sklerotium yang disterilisasi permukaannya berkecambah dan jamur tumbuh pada berbagai medium kultur. Pengendalian: penggunaan tanah bebas pathogen sangat dianjurkan, untuk dapat melaksanakan hal ini perlu adanya peta lokasi tanaman sakit pada musim sebelumnya. Bila tanaman yang sakit baru sedikit, dilakukan pembasmian dan

tanah bekas tanaman difumigasi. Selain itu, perlu dilakukan monitoring secara teratur dan cermat. Di daerah iklim sedang penanaman bawang pada musim semi dapat mengurangi jumlah sklerotium karena banyak sklerotium yang berkecambah, tetapi karena suhunya terlalu tinggi tidak mampu menyerang tanaman hingga akhirnya mati. Hal ini sangat membantu mengurangi penyakit pada pertanaman musim gugur.Kalau perlu dapat digunakan fungisida atau fumigan. Penggenangan dapat mengurangi populasi sklerotium, sekalipun tidak dapat menurunkan serangan pathogen (Crowe, F.). 11. Penyakit Busuk Leher Penyakit ini merupakan penyakit pascapanen yang utama. Penyakit ini telah beberapa kali menimbulkan epidemic di berbagai gudang. Penyakit ini dianggap merupakan penyakit yang berbahaya karena baru menunjukkan gejala setelah bebepara bulan penyimpanan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwajamur ini masuk ke umbi saat panen atau dekat sebelumnya. Penyakit ini dapat dikurangi dengan jalan mengeringkan umbi dengan cepat segera setelah panen. Dahulu diduga jamur ini menular dari umbi bawang yang lembab, terkontaminasi tanah, atau tanaman inang pengganti dan benih yang mengandung penyakit. Setelah diketahui pathogen dan epidemiologinya, barulah disadari bahwa kecil sekali kemungkinannya untuk mengurangi atau menghilangkan penyakit dalam periode pascapanen sebab pathogen sudah berada di dalam benih yang dipanen dari induknya.

Dari pengujian dengan menggunakan medium agar dapat diketahui bahwa sekitar 40-70% contoh benih myang diperdagangkan mengandung pathogen. Patogen ini terdapat baik pada permukaan benih maupun di dalam benih. Apabila disimpan pada kelembapan 50% dan suhu 10 C, jamur pada benih ini dapat bertahan selama 3 tahun. Jadi, kalau benih yang dipatogen yang berasal dari panen pada musim sebelumnya ditanam pada suatu musim, maka jelas patogennya masih hidup. Gejala: penyakit ini terutama terjadi pada umbi dalam simpanan. Bibit bawang yang sakit menjadi pucat dan bila diperiksa dengan pengecatan di bawah mikroskop pada jaringan hijau daun kotiledon terdapat jamur B. alili. Dari tempat ini jamur berkembang kea rah bawah atau pangkal dan kadang-kadang menghasilkan nekrosis yang lanjut. Namun demikian, pendukung konidium jamur hanya dibentuk pada jaringan daun bawang yang nekrosis. Kadang-kadang dari pangkal daun kotiledon yang sakit jamur menjalar ke jaringan hidup daun pertama dan terus menjalar kea rah ujung. Infeksi pada ujung daun dan kadang-kadang juga di tempat lain dapat pula terjadi karena spora yang dibebaskan dari konidiofor. Pada kecamba kadang-kadang gejala belum terlihat, untuk merangsang timbulnya gejala dapat dilakukan dengan memberikan kondisi meningkatkan kelembapan. Dari bagian tanaman di atas tanah, setelah umbi menjelang dipanen, pathogen dapat turun dan menyerang umbi tersebut.

Penyebab: penyakit ini disebabkan oleh Botrytis allii Munn. Yang mirip sekali dengan jamur B. byssoidea. Miselium bersekat, bercabang, dan hialin sewaktu muda. Konidium dan konidiofo berupa massa seperti asap kelabu. Konidium lonjong, berukuran 4-8x6-16 um, tetapi kebanyakan 5-6x7-11 um. Konidium dibentuk pada konidiofo cokelat dengan cabang samping pada ujung, masing-masing mempunyai banyak ampullae yang berangsur-ansur mengembang pada ujung untuk membentuk konidium pada lenticles halus. Sklerotium memanjang hingga bentuknya tidak beraturan, sering kali terbentuk pada bahu umbi yang sakit dan mungkin panjangnya sampai 10 mm. Kadang-kadang sklerotium menjadi kerak yang keras di sekitar daerah leher. B. allii dapat membentuk konidium hampur pada semua medium buatan, yang sangat berbeda dengan B. squamosa, yang stimulasi sporulasinya sangat sulit. Jamur bertahan selama musim dingin pada umbi atau bebas dalam tanah berupa sklerotium. Pengendalian: hanya dapat dilakukan secara preventif dengan perawatan benih (seed dressing) menggunakan benomil baik dalam bentuk serbuk maupun cairan kental (Mande dan Preslye, 1977). E. Faktor-faktor Yang Mendukung Perkembangan Hama dan Penyakit Sama seperti halnya manusia dan hewan, tumbuhan dapat diserang oleh berbagai macam penyakit. Akibat serangan penyakit ini tanaman bisa menjadi fatal, dan ilmu pertanian tanaman menjadi sakit atau disebut kerusakan tanaman, sebenarnya tidak

karena serangan hama atau karena fisiologis yang kesemuanya mengakibatkan kerusakan pada tanaman (AAK, 2005). Faktor-faktor yang mendukung perkembangan hama dan penyakit adalah: 1. Keadaan lingkungan, keadaan iklim yang menguntungkan seperti tanah terlalu lembab dapat menyebabkan perkembangan tanah dan penyakit, misalnya terjadi luka-luka pada buah dan ini dapat terjadi karena serangan serangga, hujan lebat, angin kencang, dan panas terik. 2. Diadakannya rotasi tanaman yang bertujuan untuk menekan petumbuhan hama dan penyakit yang menyerang tanaman bawang merah. 3. Kekurangan air menyebabkan tanaman menjadi layu karena penguapan terlalu cepat pada hari-hari panas, sehinga angkutan air di dalam tanaman kalah cepat dengan cepatnya penguapan. Mungkin juga angkutan air terganggu karena tanaman terlalu terkena akat keras (sabit, cangkul) serangan serangga atau juga pembuluh kayu tersumbat. 4. Penanaman benih yang tidak berkualitas misalnya, benih yang ditanam tidak berasal dari pohon yang sehat dan benih tersebut tidak terbebas dari virus yang menyebabkan terbawanya hama dan penyakit. 5. Penggunaan alat-alat pertanian, seperti handsprayer, dari jenis atau tanaman ke jenis tanaman lain yang dapat menyababkan terbawanya pathogen.

IV. Hasil Praktek Lapang dan Pembahasan A. Hasil Pengamatan Dari hasil pengamatan praktek lapang yang telah dilaksanakan di Kampung Toweren Toa Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah, dalam pengendalian hama penyakit yang dilakukan oleh petani di Desa tersebut mulai dari penanaman sampai dengan berbuah (panen) jauh berbeda dengan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah. Teknik pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani di Desa tersebut adalah mesyarakat tidak pernah melakukan teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman bawang merah secara efektif dan efesien. Seperti kita ketahui pengendalian penyakit adalah salah satu untuk mengatasi kerusakan pada tanaman, penyakit dapat dengan mudah diketahui apabila tanaman sudah bereaksi terhadap serangan patogen dengan mengeluarkan subtansi pertanahan. Jenis penyakit dan pengendaliannya antara lain: 1. Antraknosa Disebabkan oleh keadaan cuaca yang lembab akibat terjadinya hujan yang terus menerus, selain itu disebabkan oleh gulma yang banyak tumbuh di sekitar tanaman bawang merah dan serangan penyakit ini diperkirakan mampu menurunkan produksi bawang merah hingga 75 %.

Untuk mengatasi penyakit Antraknosa biasanya petani di Kampung Toweren Toa melakukan penyemprotan dengan menggunakan fungngisida feranimol dan triazole dengan dosis 0,1 ml/liter air yang diberikan setiap 7 hari sekali dan melakukan penyiangan gulma bagi petani yang tidak menggunakan mulsa plastik. 2. Busuk Daun Yang disebabkan oleh jamur Phytoptora investan, gejala serangan jika terjadi hujan lebat dan terus menerus hingga kelembaban meningkat, maka jamur akan berkembang dengan baik dan jamur ini akan bertahan hidup pada sisa tanaman yang telah terserang penyakit. Untuk mengatasi penyakit tersebut biasanya petani di Kampung Toweren Toa melakukan penyemprotan dengsn menggunakan fungisida seperti Manjet 82 WP dengan dosis 0,25-0,5 gram perliter air. 3. Bercak Daun Penyakit ini disebabkan oleh jamur Alternaria solani, jamur ini bisa bertahan hidup diberbagai musim ataupun di dalam biji hingga 2-3 tahun. Khusus pada batang penyakit ini disebut dengan busuk lebar, bercak pada batang berbentuk lonjang memanjang, cekung dan Nampak membesar dengan panjang sekitar 2 cm, serangan pada batang bisa menyebabkan batang roboh atau patah. Sementara itu serangan pada buah menyebabkan permukaan buah menjadi sedikit cekung, pecah, dan ukurannya terus bertambah besar. Awalnya jamur penyebab penyekit ini menyerang pangkal buah dengan diameter 5-20 mm dan

menutupi pangkal buah dengan sekelompok spora hitam, jika bunga ikut terinfeksi biasanya akan langsung gugur. Untuk mengatasi penyakit ini petani bisa melakukan penyemprotan dengan menggunakan fungngisida Athonik dengan dosis 0,3 ml/liter air yang diberikan setiap 4-7 hari. 4. Retak buah Disebabkan oleh pergantian cuaca dan juga bisa terjadi ketika penyiraman dilakukan pada siang hari yang panas dan langsung mengena pada buah. Untuk mengatasi terjadinya retak pada buah biasanya petani melakukan penyemprotan dengan menggunakan Athonik dengan dosis 0,10/liter air. 5. Busuk ujung buah Disebabkan oleh kekeringan secara tiba-tiba pada tanaman yang sedang tumbuh subur dan mulai berbunga, sehingga sel-sel pada ujung buah menjadi rusak dan kekurangan kapur akibat pemupukan N dan K yang berlebihan, juga kekurangan kalsium yang bisa mempercepat kerusakan jaringan sel. Untuk mengatasi terjadinya busuk pada ujung buah, petani bisa melakukan penyemprotan dengan menggunakan kalsium klorida (CaC12) dengan dosis 10-15 gram/15 liter air.

B. Permasalah Para Petani Dalam mengusahakan tanaman bawang merah, petani menghadapi masalah yang cukup besar yaitu serangan yang diakibatkan oleh keadaan cuaca yang tidak menentu,

seperti hujan yang terus menerus yang dengan mudah timbulnya penyakit antraknosa yang dengan mudahnya berkembang karena lingkungan yang lembab, serangan penyakit ini dapat menyerang buah yang matang dan bagian tanaman, seperti batang dan akar sehingga lama-kelamaan menyebabkan tanaman akan mati.

V. Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Dari hasil penelitian pada praktek lapang yang menggunakan larutan Insektisida, pada tanaman bawang merah lebih menguntungkan dari pada tanpa menggunakan larutan Insektisida, hal ini dilihat dari: 1. Jumlah hama dan penyakit pada tanaman bawang merah yang disemprot larutan Insektisida lebih sedikit hal ini ditunjukan dari hasil penggunaan larutan Insektisida. 2. Persentase kematian hama dan penyakit pada tanaman bawang merah yang disemprotkan larutan Insektisida lebih tinggi karena larutan Insektisida mampu menekan siklus pertumbuhan hama dan penyakit pada tanaman bawang merah. 3. Jumlah produksi pada tanaman bawang merah yang disemprot larutan Insektisida menghasilkan jumlah yang banyak, dibandingkan tanpa menggunakan larutan Insektisida yang hasilnya lebih sedikit.

B.Saran 1. Disarankan kepada petani yang membudidayakan bawang merah sebaiknya dapat beralih kepenggunaan bahan organic sebagai pupuk maupun bahan Insektisida yang bertujuan untuk meningkatkan produksi.

2. Disarankan kepada petani untuk meningkatkan potensi budidaya tanaman bawang merah dengan melakukan upaya-upaya seperti perbaikan cara tanam, pemberian pupuk, dan pemakaian Insektisida.

Daftar Pustaka

AAK. 2005, Pedoman Bercocok Tanam, Balai Pustaka, Jakarta. Anonymous, 1985, Petunjuk Singkat Bercocok Tanam Sayuran, Departemen Pertanian. Bip Daerah Istimewa Aceh. ---------------, 1987, Budidaya Bawang Merah, Departemen Pertanian, Bagian PIP, Irian Jaya. ----------------, tt, Usaha Tani Bawang Merah, Liptan BPTP Gedung Johor, Medan. ----------------, 2005, Dasar-Dasar Bercocok Tanam, Kanisius, Jakarta. Ameriana dan Sutiarso, 1995, Teknologi Produksi Bawang Merah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Holtikultural, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Endah H. dan Novizan, 2005, Mengendalikan Hama & Penyakit Tanaman, Agro Media Pustaka, Jakarta Hardjowogeno, S., 1987, Ilmu Tanah, Mediatama sarana Perkasa, Jakarta. Indranada, H.K., 1986, Pengolahan Kesuburan Tanah, Bina Aksara, Jakarta. Kloppenburg, J. dan Versteegh, 1983. Petunjuk Lengkap Mengenai Tanam-Tanaman di Indonesia dan Khasiatnya Sebagai Obat-Obatan Tradisionil. Terjemahan Oleh Wiyanto, Yayasan Dana Sejahtera dan CD RS. Bethesda, Yogyakarta. Maryati dan Wiryatmi, 1996, Budidaya Bawang Merah di Yogyakarta, Dep. Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Unggaran, Yogyakarta. Mulyono, 2002, Pengembangan Kultur Tanaman Berkhasiat Obat, Rineka Cipta, Jakarta. Martoredjo, T, 2009, Ilmu Penyakit Pascapanen, Bumi Aksara, Jakarta. Nurhartuti dan R.M. Sinaga, 1991, Pemanfaatan Bawang Merah Dalam Bentuk Olahan. Nazaruddin, 1995, Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah, Penebar Swadaya, Jakarta.

Rachmawaty, dkk., 1987, Menanam Bawang Merah, Departemen Pertanian. BIP, Ujung Pandang. Rismunandar, 1989, Membudidaya 5 Jenis Bawang, Sinar Baru, Bandung. Rahayu, E., dan Nurberlian V.A., 2008, Bawang Merah, Penebar Swadaya, Jakarta. Sarief, E.s., 1986, Konservasi Tanah dan Air, Pustaka Buana, Bandang. Soesono, 1989, Pengendalian Serangan Hama Penyakit dan Gulma, Kanisius, Yogyakarta. Sunarjono, H., dan Soedomo, P., 1989, Budidaya Bawang Merah (Allium ascalonicum L. ), Sinar Baru, Bandung. Sunarjono, H., 1994, Kunci Bercocok Tanam Sayur-Sayuran Penting di Indonesia, Sinar Baru, Bandung. Wibowo, S., 1989, Budidaya Bawang, Bawang Merah, Bawang Putih, Bawang Bombay, Penebar, Jakarta. Widodo, P., 1993, Telaah Kesuburan Tanah, Angkasa, Bandung.