You are on page 1of 13

LAPORAN PRAKTIKUM MANDIRI KIMIA DASAR II INHIBITOR ALAMI (08 Mei 2012

)

DISUSUN OLEH:

1. NUR AZIZAH PUTRI 2. VIVI SEFTARI 3. DESSY MAULIDINA

(1111016200004) (1111016200012) (1111016200038)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

A. JUDUL B. TUJUAN

: Inhibitor Alami : Mencegah Korosi dengan menggunakan Inhibitor Alami.

C. DASAR TEORI : Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam yang dari biji mineralnya. Contohnya biji besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida satau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida). Deret volta dan persamaan Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Reaksi reduksi oksidasi merupakan reaksi yang disertai pertukaran elektron antara pereaksi, yang menyebabkan keadaan oksidasi berubah. Dari sejarahnya, istilahoksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian pengangkapan hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen harus disebut dengan oksidasi. Sekali lagi reaksi-reaksi lain dimana baiik oksigen maupun hidrogen yang tidak ambil bagian belum bisa dikelompokkan sebagai oksidasi atau reduksi sebelum definisi oksidasi dan reduksi yang paling umum, yang didasarkan pada pelepasan dan pengambilan electron. (Svehla, 1990). Korosi dapat digambarkan sebagai sel galvanik yang mempunyai hubungan pendek dimana beberapa daerah permukaan logam bertindak sebagai katoda dan lainnya sebagai anoda, dan rangkaian listrik dilengkapi oleh aliran elektron menuju besi itu sendiri. Sel elektrokimia terbentuk pada bagian logam dimana terdapat pengotor atau di daerah yang terkena tekanan (Oxtoby, dkk., 1999). Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3. xH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah. Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi. Fe(s) ↔ Fe2+(aq) + 2eEº = +0.44V

Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.

O2(g) + 2H2O(l) + 4e- ↔ 4OH-(aq) atau O2(g) + 4H+(aq) + 4e- ↔ 2H2O(l)

Eº = +0.40V

Eº = +1.23V

Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe2O3. xH2O, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu. (Nana Sutresna,2007) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju korosi : 1. Faktor metalurgi (berhubungan dengan nature dari materialnya 2. Faktor termodinamika (berkaitan dengan tingkat energi internal

daneksternal) 3. Faktor Lingkungan (berkaitan dengan jenis media) 4. Faktor fisik (berkaitan dengan bebtuk dan sifat fisiknya) dan, 5. Faktor kimia (berkaitan dengan komposisi kimia) Untuk melindungi komponen suatu logam dapat menggunakan inhibitor. inhibitor menguntungkan untuk menangani logam-logam besi karena Bahan dapat

menghambatlaju korosi. Inhibitor merupakan metoda perlindungan yang fleksibel, yaitu mampu memberikan perlindungan dari lingkungan yang kurang agresif sampai pada lingkungan yang tingkat korosifitasnya sangat tinggi, mudah diaplikasikan (tinggal tetes), dan tingkat keefektifan biayanya paling tinggi karena lapisan yang terbentuk sangat tipis sehingga dalam jumlah kecil mampu memberikan perlindungan yang luas pada logam. Inhibitor yang saat ini biasa digunakan adalah sodium nitrit, kromat, fosfat, dan garam seng. Penggunaan sodium nitrit yang harus dengan konsentrasi besar (300-500 mg/l) menjadikannya inhibitor yang tidak ekonomis, berdasarkan hasil penelitian kromat dan seng ditemukan bersifat toksik, dan fosfat merupakan senyawa yang dianggap sebagai polusi lingkungan, karena menyebabkan peningkatan kadar fosforous dalam air. Sehingga inhibitor-inhibitor tersebut perlu digantikan dengan senyawa lain yang bersifat nontoksik dan mampu terdegradasi secara biologis, namun tetap bernilai ekonomis dan mampu mengurangi laju korosi secara signifik.

D. ALAT DAN BAHAN Alat dan Bahan Kuantitas

4 buah

Paku

1 buah

Parutan

4 buah

Botol aqua

1 buah

Lumang dan Alu

1 buah

Kompor

1 buah

Pisau

1 buah

Gunting

1 buah

Teflon

1 buah

Wadah

10 buah

Inti Biji Mangga

E. PROSEDUR KERJA DAN HASIL PENGAMATAN.

Gambar Prosedur

Hasil pengamatan

Sulit untuk dibuka karena mangga yang sudah tua.

Biji berwarna putih.

Ukuran biji menjadi lebih kecil

Penggilingan berlangsung dengan cepat karan biji yang lunak. Inti biji mengeluarkan air ekstrak.

Ekstrak berwana putih susu.

5 ml ekstrak untuk 1 paku yang direndam selama 2 jam. 5 ml ekstrak untuk 1 paku yang direndam selama 2 hari.

Setelah direndam selama 2 hari warna cairan ekstrak berubah jadi hitam.

5 ml ekstrak untuk paku yang direbus. Api kecil.

1 menit pemanasan, ekstrak menjadi kental dan mengeluarkan bau harum.

Selama pemanasan ekstrak menghasilkan buih yang banyak.

Ekstrak berubah warna menjadi lebih coklat. Paku tidak mengalami perubahan warna.

F. PEMBAHASAN Pada praktikum mandiri ini bertujuan untuk mencegah korosi dengan inhibitor alami. Inhibitor alami yang kita pakai di sini adalah biji mangga. Kita akan menguji apakah biji mangga bisa mencegah korosi pada paku. Dengan cara mengambil ekstrak biji mangga sebagai medianya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap buah mangga di Mesir, inti buah mangga per 100 gram protein mengandung asam amino essensial sebesar 32.1 ± 2.2 gram, berupa leucine, isoleucine, methionine, phenylalanine, lysine, threonine, tyrosine, valine, asam amino non esensial 52.2 ± 2.1gram, berupa aspartic, glutamic, serine, proline, glycine, alanine, histidine, arginine (dalam 100 g serbuk kering mengandung protein 6,7% g). Kandungan total polifenolnya sebesar 112 mg per 100 gram serbuk kering. Polifenol yang terdapat pada inti buah mangga berupa tannin, gallic acid, caffeic acid, ferulic acid, cinnamic acid, coumarin, dan mangiferin. Pada percobaan ini kita mengambil ekstrak biji mangga dengan cara memeraut inti biji mangga dengan pemarut keju. Kemudian hasil parutan tersebut di haluskan dengan lumpang dan alu sehingga ekstraknya keluar membentuk cairan berwarna putih susu. Ekstrak ini lah yang kita jadikan media uji pada praktikum ini. Perlakuan yang di berikan pada paku ada 4 perlakuan. Yang pertama paku tidak diberi perlakuan apa-apa. Kedua, paku direndam dalam ekstrak inti biji mangga selama 2 jam. Ketiga paku direndam dalam ekstrak inti biji mangga selama 2 hari. Keempat paku direbus dalam ekstrak inti biji mangga. Ternyata paku yang direndam dalam ekstrak inti biji mangga selama 2 hari tidak mengalami korosi. Biji mangga, dalam hal ini memiliki peluang yang besar untuk digunakan sebagai inhibitor korosi, karena mengandung asam amino dan polifenol yang dapat mengurangi laju korosi, bahan tersedia melimpah, tidak bersifat toksik, dan

pemanfaatannya membantu mengurangi produksi sampah. .Asam amino memiliki cincin alifatik atau aromatik yang berikatan dengan grup amine dan asam karboksilik, polifenol juga memiliki cincin aromatik yang berikatan dengan gugus hidroksil. Dibawah ini adalah gambar struktur beberapa senyawa yang terdapat dalam inti biji mangga.

valine

leucin

isoleucin

n = 1, aspartic n = 2 glutamic

caffeic acid

gallic acid

ferulic acid

Perlindungan logam oleh polifenol dan asam amino terjadi melalui tiga mekanisme, yaitu adsorpsi secara fisika, adsorpsi secara kimia, dan pembentukan lapisan pada permukaan logam. Adsorpsi secara fisika berlangsung dengan cepat, karena interaksi elektrostatik antara permukaan logam yang memiliki charge positif dengan polifenol yang memiliki charge negatif, reaksi yang terjadi bersifat reversible. Adsorpsi secara fisika ini mudah terlepas akibat gangguan mekanis dan peningkatan temperatur. Sedangkan adsorpsi secara kimia bersifat lebih stabil, tidak sepenuhnya reversible, dan berlangsung dengan lambat. Semakin tinggi temperatur biasanya mengakibatkan peningkatan adsorpsi dan inhibisi. Adsorpsi secara kimia merupakan aktivitas transfer atau berbagi elektron antara polifenol atau asam amio dan permukaan logam, sehingga menentukan kemampuan inhibisi.

Pada percobaan ini kita memakai mekanisme adsorpsi secara kimia. Dimana ekstark biji mangga yang mengandung asam amino atau polifenol mengalami tramsfer elektron dengan permukaan paku, sehingga terlihat pada paku berwarna hitam dan juga pada ekstrak biji mangga mengalami perubahan warna, yang tadi warnanya putih susu menjadi warnacoklat. Ini terbukti bahwa asam amino atau polefenol denga permukaan paku terjadi transfer elektron. Sehingga paku yang di rendam dengan ekstrak biji mangga selama 2 minggu masih belum berkarat.

G. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum inhibitor alami, dapat disimpulkan: 1. Besi yang direndam dalam ekstrak mangga selama 2 hari mengalami penghambatan korosi lebih lama dibandingkan dengan yang direndam selama 2 jam. 2. Besi yang direbus dengan ekstrak mangga selama 5 menit tidak memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan korosi.

DAFTAR PUSTAKA
Junedi, Edi. 2001. Pemanfaatan Biji Mangga Sebagai Inhibitor Korosi Pada Logam.http://www.scribd.com/doc/52122642/Pemanfaatan-Biji-Mangg Sebagai-Inhibitor-Korosi. Diakses pada tanggal 29 Juni 2012 Oxtoby, D. W., dkk. 1999. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga Sutresna, Nana. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Bandung : Grafindo Media Pratama Suryandar, Ade Sonya. 2008. Korosi. http://catatanhariansonya.blogspot.com/2008/12/korosi.html. Diakses pada tangga 29 Juni Svehla. G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.