BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan inklusif adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak berpartisipasi penuh dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan inklusif juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagai kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, proses pembelajaran, serta menentukan seberapa jauh keterlibatan dalam pelaksanaannya. Saat ini banyak sekali sekolah yang berupaya memberikan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun sayangnya tidak semua sekolah tersebut dapat memenuhi kebutuhan siswa-siswanya. Dahulu upaya-upaya tersebut hanya sebatas penyediaan layanan pendidikan dengan sistem segregrasi, hingga akhirnya pada saat ini muncullah paradigma baru di mana anak berkebutuhan khusus memerlukan suatu bentuk pendidikan yang mengikut sertakan mereka di dalam berbagai kegiatan dengan masyarakat luas. Oleh karena itu diperlukan suatu layanan pendidikan yang mampu mengakomodir segala kebutuhan ABK tanpa adanya bentuk diskriminasi dalam hal apapun. Maka diterapkanlah suatu pendidikan inklusif di berbagai sekolah reguler, agar ABK dapat ikut serta mengoptimalkan kemampuannya bersama dengan anak-anak pada umumnya. Pelaksanaan sekolah inklusif telah banyak dilakukan, tetapi masih banyak hambatan, hal ini dapat dipandang dari sisi kebutuhan setiap anak yang heterogen, karena siswa yang bersekolah tersebut tidak hanya terdiri dari anak berkebutuhan khusus, tetapi juga anak pada umumnya. Prinsip pendidikan inklusi menyebabkan adanya tuntutan yang besar terhadap guru regular maupun guru anak berkebutuhan khusus. Hal ini menuntut pergeseran besar dari tradisi pembuatan program dan penyampaian materi yang merata bagi semua anak kini berubah menjadi penyusunan program dan pembelajaran individual sesuai dengan kebutuhan anak. Beberapa waktu terakhir, masalah pendidikan inklusif sedang hangat diperbincangkan. Tidak hanya itu anjuran untuk menerapkan model layanan inklusif ini pun makin gencar, mulai dari tingkat PAUD sampai dengan bangku Universitas. Dalam sebuah seminar Alison Atwell menyatakan bahwa pendidikan inklusif itu bukanlah soal memindahkan satu anak berkebutuhan khusus kedalam lingkungan Sekolah luar biasa ke sekolah reguler saja, tetapi juga bagaimana anak tersebut dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya dalam setting sekolah reguler tanpa memandang siapa anak
1

guru

3. yaitu: 1. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada implementasi layanan pendidikan inklusif di Sekolah Dasar yang ada di Padang. Sekolah tersebut termasuk sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif atau tidak. Jumlah anak yang mengalami kesulitan belajar/lambat belajar/cerdas bakat istimewa. label atau bahkan hanya sebagai mimpi saja akan tetapi juga benar. Alasan peneliti memilih fokus kajian di atas didasarkan pada pemikiran bahwa pelaksanaan layanan pendidikan inklusif pada saat ini sudah mulai dicanangkan namun dalam kenyataannya masih memerlukan perhatian khusus.tersebut (diskriminasi). 4. Proses pelaksanaan penerimaan siswa baru. Banyaknya sekolah yang ingin menjalankan layanan pendidikan inklusif namun banyak kendala yang dihadapi. Jumlah siswa dan jenis kelamin. 8. Pendapat kepala sekolah atau guru tentang pendidikan inklusif. Sehingga layanan pendidikan inklusif tidak hanya menjadi semboyan. 2 . 5. 6. label atau bahkan hanya sebagai mimpi saja akan tetapi juga benar -benar dapat dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. ada pula yang mungkin belum dapat menjalankannya dengan baik atau bahkan tidak tahu atau tidak dapat menjalankan program layanan pembelajaran inklusif ini di sekolahnya. Identitas sekolah. Namun dari kesekian banyak sekolah yang menjalankannya atau bahkan sekolah yang mengklaim sebagai sekolah inklusif ternyata tidak semuanya sesuai harapan. yang meliputi beberapa ruang lingkup. Berangkat dari masalah-masalah tersebut serta dari studi pendahuluan. 7. Jumlah anak cacat. Sehingga layanan pendidikan inklusif tidak hanya menjadi semboyan. Masalah ini dianggap penting untuk diangkat dan diteliti karena menurut peneliti hasil penelitian ini akan memberikan solusi bagi sekolah-sekolah lain baik yang telah menjalankan layanan pendidikan inklusif maupun yang belum menjalankan. Mungkin beberapa sekolah dapat dikatakan telah menjalankannya dengan baik. Lampiran foto sekolah dan aktifitas sekolah. B. 2. Benar dapat dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia peneliti hasil penelitian ini akan memberikan solusi bagi sekolah-sekolah lain baik yang telah menjalankan layanan pendidikan inklusif maupun yang belum menjalankan.

Apakah Sekolah tersebut termasuk sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif atau tidak? 6. Berapa Jumlah siswa laki-laki dan perempuan mulai dari kelas VII s/d IX ? 3. Adakah anak cacat di sekolah yang diobservasi? 5. Dimana alamat sekolah yang diobservasi? d. atau dengan kata lain tidak adanya diskriminasi di dalam lingkungan itu. Fenomena Seperti yang seharusnya dilakukan oleh sebuah lingkungan yang inklusif itu harus dapat mengakomodasi segala kebutuhan anggotanya sesuai dengan karakteristik yang ada. Apa nama sekolah yang diobservasi? b. Adakah anak yang mengalami kesulitan belajar/lambat belajar/cerdas bakat istimewa? 4. Fenomena yang diteliti dalam penelitian ini adalah implementasi layanan pendidikan inklusif yang dilakukan di Sekolah Menengah Pertama yang ada di Padang. Honor. Apakah ada kemitraan disekolah tersebut? 2. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian di atas. tanpa harus memperhatikan kekurangan atau kelebihan anggotanya.C. dan TU)? f. guru bidang studi. Guru pembimbing Khusus. D. Berapa jumlah guru di sekolah yang diobservasi(Negeri. Bagaimana Pendapat kepala sekolah atau guru tentang pendidikan inklusif? 7. selanjutnya dikembangkanlah beberapa masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Apa status sekolah yang diobservasi? e. Bagaimana Proses pelaksanaan penerimaan siswa baru? 3 . Apa jenis dan jenjang pendidikan sekolah yang dikelola? c. Identitas sekolah: a.

Sekolah tersebut memiliki image positif di mata masyarakat. Tempat Penelitian Lokasi yang dipilih untuk melakukan penelitian ini adalah SMP LUKI Padang. Sekolah tersebut memiliki siswa-siswa yang merupakan ABK. peneliti berharap akan adanya peningkatan mutu layanan inklusif di sekolah lainnnya dalam melaksanakannya. 4 . Informasi dalam penelitian ini diperoleh dari dua sumber yaitu sumber utama yang terdiri dari guru. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor esensial yang ada di Sekolah Menengah Pertama dalam melaksanakan pendidikan inklusif. 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan teknik studi kasus yang bersifat eksploratif. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Ada beberapa alasan mengapa peneliti memilih sekolah tersebut sebagai objek penelitian. Dari beberapa Sekolah Menengah Pertama reguler yang ada di kota Padang sebagai objek penetilitian. antara lain : 1.E. 2. karena penelitian ini menekankan pada upaya investigatif untuk mengaji secara natural (alamiah) fenomena yang tengah terjadi dalam keseluruahan kompleksitasnya. Alasan penggunaan metode ini. Manfaat Penelitian Dengan ditemukannya faktor-faktor esensial yang ada dalam pelaksanaan layanan pendidikan inklusif di Sekolah Menengah Pertama. dan kepala sekolah. G. Sehingga akan muncul sekolah-sekolah inklusif lainnya dengan menjadikan faktor-faktor esensial ini sebagai bahan pedoman tambahan dalam melaksanakannya dan dapat menyediakan layanan bagi setiap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). dalam hal ini menggarap kasus implementasi layanan pendidikan inklusif yang ada di Sekolah Menengah Pertama. F. Sumber tambahan yang berasal siswa. agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dan atau bahan masukan kepada Sekolah Menengah Pertama reguler lainnya dalam menjalankan program layanan pendidikan inklusif di sekolahnya inklusif di sekolahnya.

Laki-laki : 26 orang b. IQ rendah b. Guru Honor 12 Orang. Kelas II: a. Tuna Laras (emosi tinggi) c. B. Perempuan : 9 Orang 2. 6. 1. Nama sekolah adalah SMP LUKI Padang. Anak yang mengalami kesulitan belajar/lambat belajar/cerdas bakat istimewa. IQ rendah b. tenaga TU 3 Orang. Perempuan : 18 orang Jumlah siswa laki-laki : 119 orang Jumlah siswa perempuan : 41 orang C. 3. Rabun berat 2. Lambat Belajar 3. guru BK 1 Orang. Jumlah guru di sekolah yang diobservasi: guru PNS 5 Orang. 2. satpam 1 Orang. Kemitraan disekolah yang diobservasi tidak ada. Kelas I: a. 4. Jenis dan jenjang pendidikan sekolah yang dikelola adala Sekolah Menengah Pertama.BAB II PEMBAHASAN A. Identitas sekolah: 1. Status sekolah yang diobservasi adalah Swasta Terakreditasi C. kelas I: a. IQ rendah b. Jumlah siswa laki-laki dan perempuan mulai dari kelas VII s/d IX: 1. guru pembimbing khusus tidak ada. Kelas II: a. guru bidang studi terdiri dari jumlah guru PNS dan guru Honor. Komite sekolah hanya 1 Orang Ketua. Perempuan : 14 orang 3. Kelas III: a. alamat sekolah yang diobservasi: Jalan Raya Indarung No 14 Bandar Buat Padang. 5. Laki-laki : 41 orang b. Laki-laki : 52 orang b. Lambat Belajar : 4 orang : 1 orang : 2 orang : 15 orang : 1 orang : 2 orang : 4 orang : 1 orang 5 . Anak broken home c. Kelas III: a.

Pendapat kepala sekolah atau guru tentang pendidikan inklusif: 1. Hambatan: tidak memiliki pembimbing khusus. 2. Di sekolah yang diobservasi oleh penulis tidak terdapat anak-anak yang cacat E. F. Keuntungan: membuat ABK lebih terarah dan terbimbing dalam mencapai keberhasilannya dalam belajar sama seperti anak normal lainnya. Proses pelaksanaan penerimaan siswa baru dilaksanakan secara manual dan tidak ada tes. G. Sekolah tersebut tidak termasuk sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif. guru-guru di sekolah belum mendapatkan pelatihan tentang penddikan inklusif. 3. 6 . sehingga ABK tidak dapat terpantau dengan baik.D. Usaha-usaha: belum ada usaha yang dilakukan dalam menerapkan pendidikan inklusif. namun anak-anak tersebut tetap mendapatkan perhatian khusus dari guru meskipun tidak melalui pendidikan inklusif.

Kesimpulan Dari beberapa pembahasan diatas dapat di ambil kesimpulan: 1. 2.BAB III PENUTUP A. Pendidikan inklusif sangat di perlukan oleh semua sekolah yang ada di Indonesia dari TK bahkan sampai SMA. 2. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang di selanggarakan untuk anak yang berkebutuhan khusus. Kami mengharapkan sekolah yang kami observasi supaya lebih memperhatikan pelajar serta anak yang berkebutuhan khusus. Prestasi yang sudah ada dipertahankan. 7 . B. Saran Saran yang dapat kami sampaikan: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful