DEPARTEMEN KEHUTANAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN

BALAI PENELITIAN KEHUTANAN SOLO

LAPORAN HASIL PENELITIAN (LHP) TAHUN ANGGARAN 2007

MODEL REHABILITASI LAHAN DAN KONSERVASI TANAH PANTAI BERPASIR

Penanggung Jawab Kegiatan : Ir. Beny Harjadi, MSc.

SURAKARTA, DESEMBER 2007

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN HASIL PENELITIAN

MODEL REHABILITASI LAHAN DAN KONSERVASI TANAH PANTAI BERPASIR
Tahun 2007
Surakarta, Desember 2007

Diperiksa oleh : Kepala Seksi EP,

Diperiksa oleh : Ketua Kelti KTA,

Disusun oleh, Ketua Tim Pelaksana

Drs. Prapto Suhendro NIP. 710 000 452

Ir. Sukresno, MSc NIP. 710 001 486

Ir. Beny Harjadi, MSc NIP. 710 017 594

Disahkan oleh : Kepala BPK Solo,

Ir. Edy Subagyo, MP. NIP. 710 008 439

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

ii

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

KATA PENGANTAR Laporan kegiatan penelitian lahan pantai berpasir tahun 2007 yang berjudul : Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir merupakan kegiatan pengembangan dan sosialisasi hasil penelitian yang pernah dilakukan di Samas, Yogyakarta. Judul tersebut merupakan bagian dari UKP Teknologi dan Kelembagaan Rehabilitasi Lahan Terdegradasi. Laporan ini berisikan informasi mengenai kegiatan pengembangan pada lahan pantai berpasir dengan mengembangkan berbagai macam tanaman tanggul angin yang terdiri dari cemara laut, tanaman buah-buahan dan tanaman kehutanan. Disamping itu juga dengan tanam tanaman semusim dan kelengkapan sarana dan prasarana untuk pengamatan berbagai macam fisik tanah dan iklim, meliputi evaporasi, kecepatan angin, erosi tanah, dan lain-lain. Sehingga tujuan penelitian ini adalah : untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif yang memuat kegiatan-kegiatan antara lain : 1) Mengembangkan jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia. 2) Mengembangkan sarana pengairan berupa sumur bak renteng. 3) Mengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai. 4) Meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat 5) Meningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata. Dengan selesainya laporan ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan untuk penelitian yang sejenis baik di rumah kaca maupun di lapangan. Selanjutnya ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh Tim Peneliti, Pemimpin Proyek serta rekan-rekan di BPK Solo yang telah memberikan saran dan kritik. Surakarta, Desember 2007

Kepala Balai,

Ir. Edy Subagyo, MP NIP. 710 008 439

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

iii

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir Oleh : Beny Harjadi, S.Andy Cahyono, Dona Octavia, Gunawan, Arif Priyanto, dan Siswo ABSTRAK Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/Men/2002 tentang pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu; dan UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya; dan pentingnya pesisir pantai yang kaya akan SDA dan jasa lingkungan, hendaknya pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim dan tanaman keras serta buah-buahan yang sesuai dan bernilai ekonomis. Pada wilayah pantai berpasir, dimana berlangsung erosi angin yang terjadi secara terus menerus, kondisi lahannya marginal dan cenderung diabaikan. Peristiwa tersebut menjadikan lahan pantai berpasir menjadi semakin kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai. Pada wilayah pantai berpasir berlangsung erosi angin yang terjadi terus menerus, kondisi lahannya marginal dan tidak terurus. Peristiwa tersebut menjadikan lahan pantai berpasir menjadi semakin kritis. Metode penelitian meliputi : (a) Kegiatan penetapan lokasi, pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain : patok, meteran, kompas, peta dasar. (b).Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain : Casuarina equisetifolia (cemara laut). (c) Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain : bawang merah dan jagung (Zea mays L.). (d).Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida. (e).Kegiatan pengembangan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain berupa bak renteng, pralon, gembor, selang, pompa air. (f).Kegiatan pengamatan perlakuan, antara lain: Sand trap, evaporimeter, ombrometer, anemometer, termometer udara, dan termometer tanah. tanaman tanggul angin yang dikembangkan di pantai berpasir yaitu cemara laut (Casuarina equisetifolia). Tinggi cemara laut dari umur satu tahun sampai 7 tahun tahun rata-rata ketinggiannya berurutan : 58,7; 126,4; 130; 125,2; 320, 530, 810 cm. Hasil produksi bawang merah tahun 2007 20,3 ton/ha dengan harga jual Rp. 96.425.000,- dan untuk cabe merah Rp 24 ton/ha dengan harga jual Rp 96.000.000,-. Kondisi iklim pantai berpasir desa Karanggadung, kecamatan Petanahan kabupaten Kebumen adalah : suhu udara 2736 oC,, suhu tanah 33-36 oC, evaporasi 0,9 mm/hari, kecepatan angin 12 km/jam dan erosi angin 15,24 g/bulan. Curah hujan berlangsung selama 6 bulan dari bulan Oktober sampai Maret dengan rata-rata 113 – 566 mm/hari. Kata Kunci : Rehabilitasi, Konservasi Tanah, Pantai Berpasir, Erosi angin, Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

iv

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................................................... iii DAFTAR ISI............................................................................................................... v DAFTAR TABEL...................................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. x DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. x DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. xii I. PENDAHULUAN ................................................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2 C. Tujuan dan Sasaran UKP ................................................................................... 2 D. Tujuan dan Sasaran PPTP .................................................................................. 3 E. Tujuan dan Sasaran RPTP Tahun 2007 .............................................................. 3 F. Luaran Tahun 2007 ............................................................................................. 4 G. Ruang Lingkup Tahun 2007............................................................................... 4 H. Hasil yang Telah Dicapai ................................................................................... 5 II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 8 A. Lahan Kritis dan Upaya Rehabilitasi ................................................................. 8 B. Erosi Angin......................................................................................................... 9 1. Proses Erosi Angin......................................................................................... 9 2. Faktor-faktor Penyebab Erosi Angin ........................................................... 11 3. Erosi Angin Pada Lahan Pantai Berpasir ..................................................... 11 C. Model Pengendalian Erosi Angin..................................................................... 12 1. Metode Pengendalian Kecepatan Angin ...................................................... 12 2. Metode Pengendalian Faktor Tanah............................................................. 13 D. Teknik Budidaya Tanaman yang Dikembangkan ........................................... 15 1. Tanaman Tanggul Angin ............................................................................ 15 1.1. Cemara Laut (Casuarina equisetifolia).................................................. 15

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

v

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

1.2. Pandan (Pandanus tectorius) ................................................................. 16 2. Tanaman Tahunan........................................................................................ 17 2.1. Keben (Barringtonia asiatica) = Lecythidaceae/Barringtoniaceae ....... 17 2.2. Bintangur (Calophyllum inophyllum) = Guttiferae ................................ 17 2.3. Waru (Hibiscus tilliaceus) = Malvaceae ................................................ 18 2.4. Ketapang (Terminalia catappa) = Combretaceae .................................. 18 3. Tanaman Budidaya...................................................................................... 19 3.1. Semangka (Citrullus vulgaris) ............................................................... 19 3.2. Terong Ungu (Solanum melongena) ...................................................... 19 3.3. Bawang Merah (Allium cepa) ................................................................ 20 3.4. Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum) ............................................ 20 3.5. Kacang Panjang (Vigna sinensis)........................................................... 21 E. Sosial, Ekonomi dan Budaya............................................................................ 21 1. Adopsi .......................................................................................................... 21 2. Pengertian Partisipasi ................................................................................... 23 3. Perencanaan Partisipatif ............................................................................... 25 III. BAHAN DAN METODE ................................................................................... 30 A. Lokasi Penelitian dan Tata Waktu .................................................................. 30 B. Bahan dan Metode.......................................................................................... 33 1. Jenis Kegiatan .............................................................................................. 33 2. Tahapan Kegiatan......................................................................................... 33 2.1. Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen Casuarina equisetifolia di Samas dan pengembangan jalur tanaman TA di Kebumen ................. 33 2.2. Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng .................. 36 2.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai....... 36 2.4. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat ...................................... 36 2.5. Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata.......................... 37 3. Parameter ..................................................................................................... 37 3.1. Tanaman TA sebagai Pengendali Erosi Pasir ........................................ 37 3.2. Pengembangan sarana pengairan berupa sumur bak renteng................. 37

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

vi

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai........ 37 3.4. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat ......................................... 38 3.5. Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata............................. 38 4. Pengambilan Data ........................................................................................ 39 4.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia.................................................... 39 4.2. Sarana Pengairan................................................................................... 39 4.3. Model Tanaman Budidaya .................................................................... 39 4.4. Tingkat Pendapatan Masyarakat ............................................................ 39 4.5. Kenyamanan Lingkungan Wisata ......................................................... 40 5. Pengolahan dan Analisa Data....................................................................... 41 5.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia................................................... 41 5.2. Sarana pengairan berupa sumur bak renteng ........................................ 41 5.3. Model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai................................ 41 5.4. Tingkat pendapatan masyarakat............................................................ 41 5.5. Kenyamanan lingkungan sekitar wisata................................................. 42 IV. BIAYA DAN ORGANISASI PELAKSANA .................................................... 43 V. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................... 45 A. Pengembangan Jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia ................ 45 a. Pertumbuhan Cemara Laut............................................................................ 45 b. Tanggul Angin Sementara............................................................................. 48 B. Pengembangan Sarana Pengairan Berupa Sumur Bak Renteng....................... 49 a. Kondisi Biofisik ............................................................................................ 49 i. Kesuburan Tanah ....................................................................................... 49 ii. Suhu Tanah ............................................................................................... 54 b. Perubahan Iklim ............................................................................................ 56 i. Evaporasi.................................................................................................... 56 ii. Curah Hujan .............................................................................................. 60 iii. Kecepatan angin....................................................................................... 60 iv. Suhu Udara............................................................................................... 61 c. Instalasi Air ................................................................................................... 62

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

vii

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

C. Pengembangan Model Pola Tanam Tanaman Budidaya yang Sesuai.............. 63 a. Tanaman Semusim ........................................................................................ 63 b. Teknik Budidaya Tanaman Semusim ........................................................... 65 i. PENANAMAN PADI GOGO ................................................................... 65 ii. PENANAMAN JAGUNG ........................................................................ 66 iii. PENANAMAN KACANG TANAH....................................................... 67 iv. PENANAMAN LOMBOK/CABE .......................................................... 68 v. PENANAMAN BAWANG MERAH....................................................... 69 D. Peningkatan Tingkat Pendapatan Masyarakat.................................................. 71 a. Kelompok Tani Pasir Makmur ..................................................................... 71 b. Masyarakat Karanggadung .......................................................................... 77 c. Kelembagaan ................................................................................................ 81 E. Peningkatan Kenyamanan Lingkungan Sekitar Wisata................................... 83 a. Kunjungan Wisata ........................................................................................ 84 b. Pendapatan Wisata ....................................................................................... 84 VI. KESIMPULAN................................................................................................... 85 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 87

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

viii

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR TABEL Tabel 1. Perbandingan Evaluasi Konvensional dan Partisipatif ............................... 29 Tabel 2. Jadwal Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir 2007 .......................................................................................... 32 Tabel 3. Tim Pelaksana Kegiatan Tahun 2007 ......................................................... 44 Tabel 4. Tinggi Cemara Laut Tahun 2005 sampai 2007 di Karanggadung, Kebumen ................................................................................................................. 46 Tabel 5. Tinggi tanaman Cemara Tahun 1994 sampai 2003 di Samas, Bantul ....... 47 Tabel 6. Perbandingan Unsur Kandungan Unsur Hara Lahan Pantai Berpasir di Kebumen dan Bantul............................................................................... 50 Tabel 7. Kriteria Tingkatan Kandungan Unsur Hara Tanah ..................................... 51 Tabel 8. Data Suhu Tanah Ke dalaman 15, 30 dan > 30 cm di Kebumen Tahun 2007 ................................................................................................................. 54 Tabel 9. Data Evaporasi Dekat Pantai Tahun 2007 di Kebumen............................. 57 Tabel 10. Data Evaporasi Jauh dari Pantai Tahun 2007 di Kebumen...................... 58 Tabel 11. Data Kecepatan Angin Siang dan Malam Hari di Pantai Berpasir kebumen ................................................................................................................. 60 Tabel 12. Suhu Udara pada Siang dan Malam Hari Tahun 2007 di Kebumen........ 61 Tabel 13. Data Produksi tanaman Bawang Merah (Brambang) dan Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Bantul.................................................................... 64 Tabel 14. Anggota Kelompok Tani Pasir Makmur, Karanggadung, Petanahan....... 76 Tabel 15. Mata pencaharian utama penduduk Desa Karanggadung ........................ 79 Tabel 16. Kunjungan Obyek Wisata di Karanggadung Tahun 2006 dan 2007 ....... 83

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

ix

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses Penyusunan Rencana ................................................................... 26 Gambar 2. Lokasi Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Samas, Bantul sejak Tahun 1994 dan Karanggadung, Kebumen Sejak Tahun 2005....................... 30 Gambar 3. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Sejak Tahun 2005 ....... 31 Gambar 4. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Srigading, Kecamatan Samas, Kabupaten Bantul, Sejak Tahun 1994 ..................................... 31 Gambar 5. Layout Pengembangan Demplot Tanaman Budidaya dan Tanaman Tanggul Angin ..................................................................................... 35 Gambar 6. Sebaran Probabilitas Normal Cemara Laut di Kebumen (KT0-KT2) dan Bantul (KU1-KU4)............................................................................... 45 Gambar 7. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 2005 – 2007 di Karanggadung, Kebumen .............................................................................................. 46 Gambar 8. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 1994 – 2003 di Samas, Bantul............ 47 Gambar 9. Tanaman Tanggul Angin dari Tanaman Jagung, sudah mengering...... 48 Gambar 10. Kadar Hara Lahan Pantai : N, K, DHL, K tertukar, Kadar Lengas dan Fe total di Kebumen dan Bantul........................................................... 52 Gambar 11. Kadar Hara Lahan Pantai : Na ttk, Ca ttk, Mg ttk, KPK (Kapasitas Pertukaran Kation), pH di Kebumen dan Bantul ................................. 52 Gambar 12. Kadar Hara Lahan Pantai : Cu total, Zn total, KB (Kejenuhan Basa), Mn total dan P total di Kebumen dan Bantul....................................... 53 Gambar 13. Suhu Tanah pada Ke dalaman 0 - 15 cm Tahun 2007 di Kebumen..... 55 Gambar 14. Suhu Tanah pada Ke dalaman 15 - 30 cm Tahun 2007 di Kebumen... 55

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

x

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 15. Suhu Tanah pada Ke dalaman > 30 cm Tahun 2007 di Kebumen....... 56 Gambar 16. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Dekat Pantai....... 59 Gambar 17. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Jauh dari Pantai.. 59 Gambar 18. Data Hujan : Maximum Hujan, Rerata, Hari Hujan, Jumlah dan Minimum.............................................................................................. 60 Gambar 19. Kecepatan Angin Siang dan Malam Tahun 2007 di Kebumen ............ 61 Gambar 20. Suhu Udara Tahun 2007 Malam dan Siang Hari di Kebumen............. 62 Gambar 21. Instalasi Air untuk Distribusi Kebutuhan Air Tanaman semusim. ...... 63 Gambar 22. Hasil Produksi Bawang Merah dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul ................................................................................................... 65 Gambar 23.. Hasil Produksi Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul 67 Gambar 24. Studi Banding KT. Pasir Makmur di Lahan Berpasir Bantul .............. 71 Gambar 25. Ternak Besar sebagai pemasok Pupuk Kandang bagi Tanaman di pantai Berpasir oleh KT. Mandiri, Srigading, Bantul..................................... 73 Gambar 26. Komposisi Tempat Tinggal Anggota Kelompok Tani......................... 74 Gambar 27. Komposisi Kelas Umur Anggota KT. Pasir Makmur ........................... 75 Gambar 28. Penggunaan Lahan di Desa Karang Gadung Kecamatan Petanahan . 77 Gambar 29. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin Desa Karang Gadung78 Gambar 30 Komposisi penduduk berdasarkan usia produktif .................................. 78 Gambar 31. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Karanggadung............................. 80 Gambar 32. Jumlah Pengunjung Wisata di Obyek Wisata Pantai Karanggadung... 84 Gambar 33. Pendapatan Dari Obyek Wisata Tahun 2006 dan 2007......................... 84

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

xi

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kerangka Logis Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir (RPTP 2007)................................................... 87

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

xii

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pantai yang luas. Bentuk lahan (landform) wilayah pantai secara umum dikelompokkan atas wilayah pantai berlumpur (muddy shores), pantai berpasir (sandy shores), dan pantai berbatu karang atau andesit (Bloom, 1979). Pada wilayah pantai berpasir (bergisik), pola penggunaan lahan yang umum merupakan pola berulang cekungan antara beting pantai (swale) dan punggung pantai (beach ridge) yang berupa lahan kosong (tanpa taaman), bertekstur tanah kasar (pasir), atau diusahakan untuk tegalan (Tim UGM, 1992). Wilayah ini bersifat dinamis dimana terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan, sehingga pasokan pasir terjadi terus-menerus. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Kondisi lahan yang kritis tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik semata yang secara alami telah kritis, tetapi juga upaya penanganan yang ada masih belum optimal, sehingga bila tidak segera ditangani, dampak negatif yang akan terjadi akan semakin luas. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/Men/2002 tentang pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu; UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya; dan pentingnya pesisir pantai yang kaya akan SDA dan jasa lingkungan, hendaknya pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis. Dengan model pengelolaan tersebut dimana hasilnya dapat mengubah lahan yang tadinya terlantar

menjadi lahan yang potensial untuk dapat diusahakan sebagai lahan budidaya, maka perlu dikembangkan dengan model demplot.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

1

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

B. Rumusan Masalah Pada wilayah pantai berpasir, biasanya berlangsung erosi angin yang terjadi secara terus menerus, kondisi lahannya marginal, dan cenderung diabaikan. Peristiwa tersebut menjadikan lahan pantai berpasir menjadi semakin kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Dampak peristiwa erosi pasir yang nyata antara lain : 1) tanah pada lahan pantai bertekstur kasar dan bersifat lepas sehingga sangat peka terhadap erosi angin, 2) hasil erosi berupa endapan pasir (sand dune) dapat menutup wilayah budidaya dan pemukiman di daerah di belakangnya, dan 3) butiran pasir bergaram yang dibawa dari proses erosi angin dapat merusak dan menurunkan produktivitas tanaman budidaya. Kondisi tersebut jika tidak segera ditangani dengan serius maka akan berdampak buruk pada lingkungan dan pengaruh negatif yang terjadi akan semakin meluas. Adanya pemanfaatan lahan pantai berpasir secara baik dan benar akan berfungsi ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis. Dengan model pengelolaan tersebut diharapkan hasilnya dapat mengubah lahan yang tadinya terlantar menjadi lahan yang potensial sebagai lahan budidaya. C. Tujuan dan Sasaran UKP Kegiatan ini merupakan bagian dari UKP Teknologi dan Kelembagaan Lahan Terdegradasi yang bertujuan untuk menyediakan informasi dan teknologi tepat guna, kajian sosial ekonomi serta rekomendasi kebijakan/kelembagaan rehabilitasi lahan terdegradasi agar lahan terdegradasi dapat berfungsi kembali sebagai habitat flora, fauna, dan secara keseluruhan sebagai penyangga kehidupan, termasuk didalamnya dapat meningkatkan perekonomian rakyat dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dari mulai perencanaan, kegiatan pelaksanaan, dan pengelolaan pada pasca rehabilitasi lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model-model rehabilitasi lahan terdegradasi yang tepat guna dengan pendekatan social forestry. Adapun sasaran kegiatan ini adalah pengembangan model rehabilitasi lahan pantai berpasir, dengan melibatkan peran masyarakat secara aktif. Dampak yang

diharapkan yaitu masyarakat sekitar pantai berpasir tetap dapat melanjutkan secara
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 2

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

mandiri pemanfaatan lahan pantai untuk usaha produktif sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian alam dan konservasi tanah dan air. D. Tujuan dan Sasaran PPTP

Tujuan kegiatan pada Proposal Penelitian Tim Peneliti (PPTP) adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif dan inovatif serta memuat kegiatan-kegiatan antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) Mengembangkan jalur tanaman tanggul angin Mengembangkan sarana pengairan air tawar Mengembangkan model pola tanam tanaman semusim dan tahunan Meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat Meningkatkan kenyamanan kawasan wisata dan sekitarnya.

Sasaran kegiatan adalah agar pelaksanaan Kepres No. 32 tahun 1990 tentang kawasan lindung sempadan pantai yang ditentukan minimal 100 m dari titik tertinggi pasang-surut kearah daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No. 550/246/Kpts/4/1984 dan No. 082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan kawasan hutan untuk pengembangan usaha budidaya pertanian dan jalur hijau hutan pantai yang dipertahankan lebarnya 200 m dapat terwujud, yaitu melalui pengembangan model tanaman tanggul angin Casuarina equisetifolia (pembiakan dan pola tanam), model pengelolaan tanaman budidaya (bawang merah, cabe, semangka, terong, dll) yang ditanam di antara tanaman tanggul angin. Keluaran yang diharapkan adalah berupa demplot sesuai petunjuk teknis seluas 1- 2 ha. Dampak yang diharapkan adalah masyarakat dapat menerima dan melaksanakan teknik konservasi lahan pantai berpasir dengan model pengendali erosi angin sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan terlantar.

E. Tujuan dan Sasaran RPTP Tahun 2007 Tujuan kegiatan dalam Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP) adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 3

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Sasaran kegiatan tahun 2007 antara lain : 1) Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen di Samas dan pengembangan jalur tanaman TA di Kebumen. 2) 3) 4) 5) Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata.

Kegiatan penelitian pantai berpasir ini sesuai pelaksanaan Kepres No. 32 tahun 1990 tentang kawasan lindung sempadan pantai yang ditentukan minimal 100 m dari titik tertinggi pasang-surut kearah daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No. 550/246/Kpts/4/1984 dan No. 082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan kawasan hutan untuk pengembangan jalur hijau hutan pantai, yaitu melalui pengembangan model tanaman tanggul angin Casuarina equisetifolia (pembiakan dan pola tanam) dan model pengelolaan tanaman budidaya yang ditanam di antara tanaman tanggul angin (bawang merah, cabe, semangka, terong, dll) yang dilakukan bersama masyarakat dan instansi terkait.

F. Luaran Tahun 2007 Luaran yang diharapkan dapat dihasilkan antara lain : 1. Tersedianya informasi pertumbuhan tanaman C. equisetifolia sebagai tanaman jalur TA dan informasi efektivitas jalur TA sebagai pengendali erosi pasir. 2. 3. Tersedianya informasi sistem pengairan yang sesuai untuk lahan pantai pasir. Tersedianya informasi pertumbuhan dan hasil jenis-jenis tanaman semusim yang sesuai untuk lahan pantai berpasir. 4. Tersedianya analisis finansial model rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang dikembangkan pada lahan pantai berpasir. 5. Tersedianya informasi kelembagaan, tingkat adopsi dan partisipasi

masyarakat terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah) lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu. G. Ruang Lingkup Tahun 2007 Ruang lingkup pengembangan meliputi :
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 4

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

1.

Rehabilitasi lahan melalui perbaikan beberapa sifat tanah yang dimungkinkan dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama.

2.

Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam pada lahan marginal pantai berpasir.

3.

Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam lahan pantai, dengan kombinasi antara tanaman TA: cemara laut, buah-buahan, dan kayu-kayuan dengan tanaman hortikultura bawang merah, cabe, jagung, sorghum, melon dll.

4. 5.

Analisis biaya dan pendapatan usahatani dari perlakuan yang dicoba. Tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat serta kelembagaan dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.

H. Hasil yang Telah Dicapai Penanganan lahan pantai berpasir melalui upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) telah dilakukan uji coba oleh BP2TPDAS Surakarta (1997-2000), yaitu dengan menerapkan model tanam tanaman tanggul angin (windbreak) dengan tanaman budidaya (semusim) yang ditanam di antara jalur tanaman tanggul angin (TA). Hasil yang diperoleh berupa Pedoman Teknis Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir, yang memuat antara lain (Sukresno, 1996b) : 1) Jenis tanaman TA permanen yang sesuai adalah jenis tanaman-tanaman bergetah seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia), Glirisidae, pandan, dan mete; 2) Jenis tanaman TA sementara yang sesuai adalah tanaman semusim seperti jagung, ketela pohon dan sorghum; 3) Jenis tanaman budidaya yang sesuai untuk ditanam di antara jalur tanaman TA adalah semangka, terong, bawang merah, cabe, dan kacang panjang; 4) Penggunaan pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha telah memberikan hasil semangka sebanyak 20 ton/ha pada lahan pantai berpasir yang baru dibudidayakan, 21 ton/ha pada lahan tahun kedua, dan 25 ton/ha pada lahan tahun ketiga; 5) Lahan bekas tanaman semangka yang ditanami terong hasil produksinya sebesar 26 ton/ha; 6) Produksi bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan cabe merah keriting dan kacang panjang, hasilnya masing-masing sebesar 7.5 ton/ha, 5 ton/ha, dan 26 ton/ha; 7) Hasil analisis inputoutput atau benefit cost per satuan luas pada tanaman-tanaman budidaya yang dicobakan, pola bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan kacang panjang dan cabe merah hasilnya lebih tinggi dibanding dengan pola semangka-terong.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 5

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Teknik Rehabilitasi Lahan Pantai Berpasir di Desa Sri Gading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bagian Selatan, luas daerah pengembangan + 1-2 ha untuk tanaman semusim dan 500 m untuk tanaman tanggul angin dengan lebar jalur 15 m, yang dilaksanakan tahun 2003 antara lain : a. Tanaman Casuarina equisetifolia terbukti efektif sebagai tanaman tanggul angin permanen di lahan pantai berpasir, dimana bibitnya dapat dikembangkan sendiri oleh masyarakat (petani) setempat dengan cara pembiakan vegetatif metode merunduk (layering). b. Tanaman tanggul angin dan tanaman budidaya yang dikembangkan, sangat nyata dapat mengendalikan erosi pasir dan memperbaiki iklim mikro setempat (kecepatan angin, suhu tanah, dan laju evaporasi lebih rendah). Secara finansial, kombinasi tanaman budidaya yang paling layak dikembangkan adalah kombinasi bawang merah, terong dan ketimun. c. Teknik rehabilitasi lahan pantai berpasir ini akan sulit dikembangkan oleh masyarakat sekitar secara swadaya. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya untuk pembangunan sarana pendukung (infrastruktur) bagi penerapan teknik

rehabilitasi tersebut, sehingga perlu ada campur tangan pemerintah. Namun demikian, sampai saat ini belum terbangun suatu pola pengembangan lahan pantai berpasir yang komprehensif dari berbagai instansi terkait. Jalur tanaman tanggul angin yang dikembangkan di Pantai Petanahan, Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen berupa Cemara laut cangkok (69,5% hidup) dan biji (98% hidup) serta Pandan (100% hidup), dan tanaman kehutanan Mahoni (100% hidup), Akasia (100% hidup), dan buah-buahan Rambutan (100% hidup), Mangga (100% hidup). Curah hujan rata-rata di pasir berpantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen adalah 35 mm/hari. .Evaporasi berkisar antara 0,3 mm/hari (Desember) sampai 0,9 mm/hari (September). Suhu tanah semakin dalam maka semakin menurun, pada malam hari suhu tanah 33 oC dan pada siang hari 36 oC. Suhu udara siang hari antara 27 – 36 oC dan pada malam hari 20 oC sampai 24 oC. Kecepatan angin antara 2 sampai 12 km/jam, dengan Erosi angin 0,5 sampai 3,5 g yang tertangkap pada diameter sandtrap 10 cm. Anggota kelompok tani yang sebagian besar bermata pencaharian utama petani mempunyai mata pencaharian sampingan sebagai penderes gula kelapa dan
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 6

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

tukang. Mayoritas anggota kelompok tani adalah tenaga produktif, sehingga tidak selalu mempunyai banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di lahan pantai bepasir. Pemahaman tentang konsep Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di lahan pantai berpasir perlu ditingkatkan, pendampingan dari tenaga penyuluh maupun dari instansi pemerintah kabupaten yang terkait masih sangat diperlukan. Kerjasama Dinas Pariwisata dengan kelompok tani dalam pengelolaan lahan pantai berpasir yang berorientasi konservasi dan dapat meningkatan pendapatan masyarakat, tetap perlu dilaksanakan dan dibina khususnya di sekitar lokasi lahan pantai berpasir di desa Karanggadung, Petanahan.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

7

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Lahan Kritis dan Upaya Rehabilitasi Lahan kritis menurut Departemen Kehutanan (2000) didefinisikan sebagai lahan yang tidak mampu lagi berperan menjadi unsur produksi pertanian baik sebagai media pengatur tata air maupun sebagai perlindungan alam lingkungan. Lahan kritis disebabkan oleh proses degradasi pada lahan. Degradasi lahan didefinisikan sebagai hilangnya atau berkurangnya kegunaan atau potensi kegunaan lahan untuk mendukung kehidupan. Kehilangan atau perubahan kenampakan tersebut menyebabkan fungsinya tidak dapat diganti oleh yang lain (Barrow,1991 dalam Widjajanto, 2003). Faktor-faktor utama penyebab degradasi lahan adalah: 1) bahaya alami, 2) perubahan jumlah populasi manusia, 3) marjinalisasi tanah, 4) kemiskinan, 5) status kepemilikan tanah, 6) ketidakstabilan politik dan masalah administrasi, 7) kondisi sosial ekonomi, 8) masalah kesehatan, 9) praktek pertanian yang tidak tepat, 10) aktifitas pertambangan dan industri. Erosi pantai yang merupakan salah satu penyebab terjadinya degradasi biofisik sumberdaya pesisir pantai disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya penambangan pasir, penebangan bakau, energi gelombang dan pola arus pasang, degradasi DAS, dan meluasnya DAS kritis. Rehabilitasi adalah proses pengembalian ekosistem atau populasi yang telah rusak ke kondisi yang tidak rusak, yang mungkin berbeda dari kondisi semula. Salah satu upaya rehabilitasi lahan kritis adalah revegetasi. Tujuan revegetasi adalah memperbaiki lahan yang labil, tidak produktif, dan mengurangi erosi. Dalam jangka panjang rehabilitasi lahan diharapkan dapat memperbaiki iklim mikro,

meningkatkan biodiversitas dan memperbaiki lahan agar menjadi lebih produktif. Upaya dengan revegetasi antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan reboisasi, penghijauan, dan pembangunan hutan rakyat. Selain itu, ada juga upaya peningkatan produktivitas lahan kritis melalui penambahan bahan organik berupa hijauan tanaman maupun pupuk kandang yang telah banyak diteliti oleh Puslit Tanah dan Agroklimat (Purnomo, dkk, 1992).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

8

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Menurut Setiadi dan Prematuri (1998), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rehabilitasi lahan kritis adalah : 1. Pemilihan jenis pohon, hendaknya dipilih jenis pohon dengan karakteristik: a. Adaptif (pohon sesuai dengan lingkungan setempat) b. Cepat tumbuh, cepat menutup tanah (tajuk melebar), perakaran intensif c. Teknik silvikultur diketahui d. Ketersediaan bahan tanaman e. Bersimbiosis dengan mikroba 2. Perbaikan kondisi tanah yang meliputi : a. Perbaikan ruang tumbuh b. Perbaikan top soil dan bahan organik Namun demikian, upaya rehabilitasi lahan ini seyogyanya dikombinasikan dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air terutama di lahan-lahan berlereng curam, serta berbagai teknik tanam.

B. Erosi Angin 1. Proses Erosi Angin Angin, seperti halnya jatuhan hujan dan aliran air, memiliki gaya yang dapat melepaskan (detach) dan memindahkan (transport) butiran tanah dari satu tempat ke tempat lain yang baru untuk diendapkan (deposition). Kemampuan melepaskan butiran tanah oleh angin ini besarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi kekasaran permukaan tanah dan besar butiran partikel tanahnya. Adapun kemampuan angin untuk memindahkan butiran tanah dipengaruhi oleh besarnya kecepatan angin, bentuk agregat, dan komposisi ukuran partikel tanah. Sedang jarak tempuh perpindahan partikel tanah hasil erosi tersebut besarnya dipengaruhi oleh kuat-lemahnya kecepatan angin, ukuran, dan berat partikel dan agregat tanah. Perpindahan partikel-partikel tanah oleh proses erosi angin secara prinsip adalah sama seperti pada proses erosi tanah oleh jatuhan hujan, yaitu: 1) merayap (creep) untuk partikel tanah berukuran 0,5 - 2,0 mm, 2) meloncat-loncat (saltation) untuk partikel tanah berukuran 0,05 - 0,50 mm atau lebih umum antara 0,10 - 0,15 mm, dan 3) dalam bentuk

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

9

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

suspensi partikel tanah halus dengan ukuran < 0,1 mm dan untuk beberapa waktu tetap dalam bentuk suspensi di udara karena aliran turbulen dan pusaran arus angin.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

10

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2. Faktor-faktor Penyebab Erosi Angin Seperti yang diperlihatkan dalam proses erosi tanah oleh gaya angin, maka beberapa faktor utama yang berpengaruh terhadap terjadinya erosi angin adalah: 1) 2) 3) Faktor iklim, seperti: temperatur, distribusi hujan, kecepatan dan arah angin. Faktor tanah, seperti: ukuran butir, kelengasan, dan kekasaran permukaan. Faktor vegetasi, seperti: bentuk, tinggi, kerapatan, dan distribusi.

3. Erosi Angin Pada Lahan Pantai Berpasir Berdasarkan prinsip yang umumnya berlaku pada proses erosi angin dan faktorfaktor penyebabnya, maka proses erosi angin yang terjadi pada lahan pantai berpasir juga mengikuti prinsip-prinsip tersebut. Contoh kasus adalah endapan pasir yang terjadi di sepanjang pantai Kedu Bagian Selatan (Jawa Tengah) hingga pantai Parangtritis (DIY) berasal dari pasir volkanik Gunung Merapi yang terbawa melalui Sungai Progo (Tim UGM, 1992). Endapan pasir ini membentuk gisik dengan lebar antara 700 hingga 1500 meter yang diukur dari garis pantai. Hembusan angin laut di musim kemarau merubah posisi endapan pasir dari kedudukannya semula sehingga membentuk bukit-bukit pasir (sand dune). Daerah di belakang gisik biasanya berupa laguna, beting gisik dan dataran aluvial pantai. Oleh karena permeabilitas lahan pantai berpasir ini sangat tinggi sehingga seluruh air permukaan meresap ke dalam tanah, gisik dan bukit-bukit pasir pantai ini miskin akan tumbuhan. Sedang daerah di belakangnya dimana tanah dan airnya memungkinkan sebagai media tumbuh tanaman, banyak dimanfaatkan untuk tegal, sawah, dan pemukiman yang suatu ketika dapat terkena dampak hasil erosi angin berupa endapan pasir bersalinitas tinggi.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

11

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

C. Model Pengendalian Erosi Angin Erosi angin berlangsung jika kondisinya memungkinkan untuk melepaskan dan memindahkan partikel tanah untuk selanjutnya pasir tersebut diendapkan di tempat lain. Besar erosi angin sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor erodibilitas tanah, kekasaran permukaan tanah, kondisi iklim (kecepatan angin dan kelembaban), panjang permukaan tanah terbuka, dan penutupan tanaman. Metode pengendalian erosi angin melalui upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) di lahan pantai berpasir, secara umum yaitu: 1) 2) 3) Menurunkan kecepatan angin di atas permukaan tanah. Menurunkan tingkat erodibilitas tanah. Melindungi tanah permukaan dengan tanaman, mulsa, dan bahan tidak mudah tererosi lainnya. 4) Meningkatkan kekasaran tanah permukaan. Mengingat bahwa metode pengendalian erosi angin disini berkaitan dengan permasalahan erosi angin di lahan pantai berpasir maka untuk selanjutnya yang dimaksud 'tanah' adalah lahan pantai berpasir (tanah berpasir).

1. Metode Pengendalian Kecepatan Angin Laju kecepatan angin untuk berbagai ketinggian di atas permukaan tanah yang homogen menunjukkan hubungan yang kwadratik. Dari persamaan ini dapat diketahui bahwa laju kecepatan angin akan bertambah besar seiring dengan peningkatan posisinya di atas permukaan tanah pada kondisi tanah yang homogen. Besar kecepatan angin yang tinggi pada posisi tertentu di atas permukaan tanah adalah berkaitan dengan kondisi kekasaran permukaan tanahnya. Upaya pengendalian kecepatan aliran angin prinsipnya membuat bangunan penahan aliran angin yang berupa tanggul angin (windbreak). Bentuk tanggul angin (TA), yaitu model mekanis dan model vegetatif. Pada model mekanis bentuknya dapat berupa anyaman bambu atau anyaman daun kelapa (perlindungan sementara). Pada model tanggul angin vegetatif dimana lebih murah dibanding model mekanis, secara alami akan lebih tahan. Ketahanan model vegetatif, efektivitasnya tergantung pada kondisi pertumbuhan tanaman yang diterapkan sebagai jalur tanggul angin. Bentuk TA vegetatif yang umum
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 12

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

adalah berupa kelompok jalur-jalur tanaman baik yang bersifat sementara (dengan tanaman semusim) maupun permanen (dengan tanaman pohon, semak atau perdu) harus sesuai dengan kondisi setempat. Untuk lahan pantai berpasir jenis tanaman TA sementara, yaitu jagung, ketela pohon, dan cantel. Sedang jenis yang permanen untuk tanaman pohon, antara lain., Casuarina equisetifolia (cemara laut), Calophyllum inophyllum (nyamplung), Terminalia catapa (ketapang), Barringtonia asiatica (rawang), Hibiscus tiliaceus (waru), Glirisidae; untuk tanaman semak dan perdu, antara lain.: Pandanun tectorius (pandan), Cyperus martima (teki laut), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola taccada (gabusan), Thuarea involuta (rumput glinting), Ximenia americana (widuri) dan jenis-jenis tanaman bergetah lainnya (Kartawinata, 1979). Bentuk tanggul angin yang paling efektif dalam mengendalikan laju kecepatan angin adalah menggunakan model vegetatif yang tidak terlalu rapat. Tanggul angin model rapat menyebabkan arus balik (putar) di belakang tanggul angin dimana justru menimbulkan erosi pasir. Bila model mekanis yang akan digunakan, dalam praktek harus diupayakan agar bentuk tanggul angin (misal dengan anyaman bambu) harus diberi anginangin (permeabilitas angin) sebesar 35-40 %. Disamping itu beberapa faktor lain yang juga berpengaruh terhadap efektivitas pengendalian laju kecepatan angin ini, antara lain.: 1) lebar, 2) tinggi, dan 3) jarak antar tanggul angin.

2. Metode Pengendalian Faktor Tanah Prinsip pengendalian faktor tanah terhadap tekanan gaya erosif angin adalah: 1) 2) Menurunkan tingkat erodibilitas tanah. Melindungi tanah permukaan yang terbuka dengan tanaman, mulsa, dan bahan tidak mudah tererosi lainnya. 3) Meningkatkan kekasaran tanah permukaan.

Upaya pengendalian faktor tanah dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu: metode konservasi lengas tanah dan metoda perbaikan agregat tanah lapisan atas (top soil). Pengendalian lengas tanah dapat dilakukan dengan melindungi tanah

permukaan dengan penutupan oleh tanaman, mulsa, atau bahan tidak mudah tererosi lainnya. Agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik (mudah dan cepat tumbuh),
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 13

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

sehingga lahan pantai berpasir yang arealnya banyak terbuka dan peka erosi angin menjadi berkurang luasnya, dapat dilakukan dengan penerapan berbagai perlakuan ameliorasi tanah dan pemilihan jenis-jenis tumbuhan yang sesuai dengan kondisi setempat (Sukresno, 1998). Dalam praktek usaha pengendalian kelengasan tanah ini, antara lain, dilakukan dengan usaha budidaya pada areal lahan di antara jalur tanggul angin (jalur tanaman cemara dan pandan) dengan menanami tanaman semusim bernilai ekonomi tinggi (semangka, mentimun, bawang merah, cabe keriting tampar, terong, dll). Upaya perbaikan agregat tanah pasiran lapisan permukaan (top soil) di lahan pantai berpasir dilakukan dengan metode pemberian ameliorat bahan organik (pupuk kandang) dan tanah liat ke areal budidaya yang letaknya berada di antara jalur tanggul angin (Sukresno, 1998). Secara teknis pemberian ameliorat pupuk organik dan tanah liat untuk perbaikan agregat adalah untuk meningkatkan kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman dan hasil tanaman. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara membenamkan ameliorat tersebut ke tanah berpasir sedalam + 10 - 30 cm. Hal ini dimaksudkan agar kelengasannya tetap terjaga dan beratnya yang ringan bila kering tidak mudah tererosi (Sukresno, 1998). Berbagai upaya pengendalian erosi angin telah diuji oleh BTPDAS pada tahun 1997/1998 secara nyata hasilnya telah meningkatkan kondisi tanah dan produktivitas lahan pasir pantai menjadi lebih baik (Sukresno, 1998), antara lain.: 1) Pertumbuhan tanaman tanggul angin (Casuarina equisetifolia, Glirisidae dan Pandanun tectorius) mencapai > 60% sehingga bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas tanaman-tanaman budidaya (semangka, mentimun dan jagung), 2) Dampak penerapan jalur tanggul angin dan tanaman-tanaman budidaya secara positip memperbaiki iklim mikro setempat (suhu tanah dan laju evaporasi yang lebih rendah), 3) Perlakuan vegetatif yang diterapkan pada lahan pasir pantai memberikan dampak yang baik pada perbaikan sifat-sifat fisik dan kimia tanahnya, antara lain.: bahan organik tanah lebih tinggi, BV dan BJ lebih rendah, Na tersedia lebih tinggi sebagai akibat dari tertangkapnya pasir bergaram oleh tanaman, 4) Hasil produksi tanaman semangka (jenis New Dragon) yang ditanam di antara tanaman tanggul angin tertinggi sebesar 31,6 t/ha (perlakuan kombinasi tanah liat 45 t/ha dan pupuk kandang 36 t/ha) dengan rata-rata hasil antara 20-30 t/ha).
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 14

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Dari kegiatan kajian tahun 1998/1999, hasil yang dicapai (Sukresno, 1999), antara lain.: 1) Tanaman Casuarina equisetifolia (cemara laut) sangat sesuai sebagai tanaman tanggul angin di lahan pantai berpasir serta dapat dikembangkan melalui pembiakan vegetatif cara merunduk. 2) Tanaman tanggul angin dan tanaman budidaya di antara jalur tanggul angin bermanfaat sangat nyata baik dalam mengendalikan erosi pasir maupun memperbaiki iklim mikro setempat. 3) Tanaman budidaya yang ditanam di antara jalur tanggul angin (semangka, terong, bawang merah, cabe merah keriting tampar dan kacang panjang) secara nyata dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan bila beberapa perlakuan diterapkan, seperti: pemakaian tanah liat sebagai alternatif pengganti pupuk kandang, pengaturan jarak tanam, pengaturan waktu tanam yang sesuai, dan pengaturan pemberian air yang sesuai. 4) Di antara tanaman-tanaman budidaya yang dicobakan di lahan pantai berpasir, perlakuan model pertanaman bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan cabe merah keriting tampar dan kacang panjang atau model pertanaman terong, memberikan prospek dampak yang positip baik pada aspek ekonomi (peningkatan hasil per satuan luas) maupun lingkungan (pengendalian erosi pasir (dipanen secara bertahap sampai 180-210 HST).

D. Teknik Budidaya Tanaman yang Dikembangkan 1. Tanaman Tanggul Angin 1.1. Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) Tanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia) merupakan tanaman berumah satu (monocious) yang dapat mencapai tinggi 50 m dan diameter batang 100 cm. Kulit kayu berwarna hijau kecoklatan-coklat gelap. Spesies ini banyak diketemukan dekat dengan wilayah pantai berpasir di Kalimantan. Kayunya sangat berat, sangat keras dengan BJ 1.04-1.18 g/cm3, kelas awet II-III, kelas kekuatan I-II, sehingga sesuai untuk bangunan, lantai, dinding, bantalan, tiang listrik, perkapalan, dan arang. tanaman cemara laut

merupakan tanaman yang tahan terhadap garam, kekeringan, dan keasaman tanah.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 15

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

tanaman ini dapat mengikat N dari udara sebanyak 50-80% sehingga akumulasi hara pada lantai hutan sangat tinggi, yaitu 1600 kg N/ha dan 85 kg P/ha. Untuk pemanfaatan Casuarina equisetifolia sebagai tanaman TA yang terbaik, tanaman cemara laut tersebut ditanam pada lahan pantai berpasir dengan jarak tanam 3 m x 3 m dengan sistem selang-seling (gigi belalang) dengan posisi tegak lurus menghadap arah angin. Untuk mengembangbiakan tanaman yang dapat dilakukan sebelum tanaman menghasilkan biji adalah melalui metode vegetatif, yaitu dengan cara merunduk (layering). Untuk memperoleh bibit yang lebih cepat terbentuk, pada bagian batang yang dirundukkan diberi perlakuan pengupasan secara melingkar, kemudian pada ujung kulit kayu terkupas bagian atas diberikan pasta zat perangsang pertumbuhan jenis rootone-F (Sukresno, 2000).

1.2. Pandan (Pandanus tectorius) Tanaman pandan adalah jenis perdu yang paling banyak tumbuh di daerah pantai berpasir. Akarnya berupa akar tunjang yang tumbuh lurus mengikuti pangkal batang sehingga bentuk tanaman seperti kerucut. Daunnya panjang-panjang dan berduri di tepi kedua sisinya. Buah berupa buah majemuk yang berbentuk seperti bola panjang berwarna kuning hingga merah jingga (Kartawinata, 1979). Sebagai tanaman perdu untuk mengendalikan erosi pasir, maka tanaman ini ditanam secara rapat menurut jalur yang tegak lurus arah angin. Untuk areal budidaya tanam tanaman ini dilakukan pada jalur yang merupakan batas antar pemilik penggarap (Sukresno, 1999b).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

16

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2. Tanaman Tahunan 2.1. Keben (Barringtonia asiatica) = Lecythidaceae/Barringtoniaceae Barringtonia asiatica KURZ (B. speciosa FORST.). Di Jawa dikenal dengan nama: Butun, Keben. Pohon dari Asia Tenggara,tinggi hingga 17 m dan gemangnya 50 cm, pada umumnya agak bengkok, bercabang-cabang rendah dekat tanah, tumbuhnya berpencarpencar di pantai-pantai yang berpasir dan berkarang, kadang-kadang ditanam karena daunnya yang bagus dan bunga-bunganya yang indah. Kayunya lunak dan tidak awet. Namun di Kediri menurut pemberitahuan secara lisan, kayu ini dapat digunakan untuk membangun rumah. Buah-buahnya yang persegi empat dan sebesar kepalan tangan itu terdiri atas kulit yang berserabut, dibawahnya yang tanpa tempurung terdapat sebutir biji yang juga sedikit banyak bersegi empat. Biji ini keras, di dalamnya putih dan agak berlendir. Biji ini, oleh masyarakat Ternate biasa digunakan untuk menangkap ikan-ikan di sungai. Di Ternate, biji yang dilumatkan ini dioleskan pada ruam seperti kudis guna membasmi parasit-parasit yang menjadi penyebabnya. Abu biji-bijinya yang dipirik menjadi serbuk dicampur dengan ramuan-ramuan lain, digunakan sebagai obat dalam maupun luar terhadap kolik/mulas (Rumphius dalam Heyne, 1987). Penemuan baru membuktikan biji keben berupa obat tetes dapat dipakai untuk mengobati penyakit katarak (Trubus No.434, Januari 2006 XXXVII). 2.2. Bintangur (Calophyllum inophyllum) = Guttiferae Calophyllum inophylum LINN., di Indonesia dikenal dengan nama Bintangur dan di Jawa dikenal dengan nama Nyamplung. Pohon agak tinggi mencapai 20 m dengan diameter batang yang besar hingga 1.50 m, dengan batangnya sangat pendek, bercabang rendah dekat permukaan tanah. Pohon ini tersebar di seluruh daerah tropis, hampir khusus di sepanjang pantai dan biasanya tumbuh sedikit mengelompok. Kayu memiliki berat agak ringan hingga sedang, tetapi padat dan agak halus struktumya, berurat kusut, sehingga tak dapat dibelah. Karena kayu ini tidak membelah maka baik digunakan untuk roda, poros dan alas meriam berat. Kayu juga dipakai untuk memangkal perahu, karena bagian luarnya lebih awet di dalam air laut. Karena
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 17

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

keawetannya yang tinggi, kekuatan serta lukisan kayunya yang indah maka di Jawa kayu ini bernilai tinggi. Gelam kayu berpotensi sebagai obat. Jika dihilangkan lapisan luarnya, direbus dalam air dengan gelam Intsia amboinensis, samama (Anthocephalus macrophyllus HAVIL.) dan gayang laut serta rebusannya diminum, mempunyai khasiat pembersih untuk wanita bersalin, mengobati kencing berdarah dan penyakit kencing nanah (Heyne, 1987). Pohon ini menghasilkan damar yang berguna mengobati rematik (encok), sendisendi kaku dan pereda kejang yang mujarab. Air rendaman daun dapat dipakai untuk mencuci mata yang meradang . Bijinya mengobati ruam seperti kudis. setelah disalai juga dapat dipakai untuk

2.3. Waru (Hibiscus tilliaceus) = Malvaceae Hibiscus tiliaceus LINN. Di Jawa dikenal dengan nama: Waru. Tumbuhan ini ditemukan di daerah-daerah tropis, terutama tumbuh di pantai-pantai berpasir atau di dekat pesisir, biasanya berkelompok. Di Jawa pohon ini ditanam di pekarangan dan di pinggir-pinggir jalan daerah pesisir, namun jarang sekali di daerah pedalaman. Tumbuhan ini dianjurkan agar dibudidayakan untuk menghasilkan kayu bakar pada tanah-tanah tak berguna yang berpasir, kering dan asin, terutama sekali di sekitar pantai. Rebusan akar Waru setelah dicampur dengan akar tapakliman (daun mangkokan) dapat digunakan sebagai obat dalam untuk penurun panas (demam). Di Madura, daun waru telah digunakan sebagai makanan ternak pada waktu kekurangan makanan lain, sakit panas pada saat demam. Daun waru yang dilumatkan dan ditaruh pada bisul menjadi obat pematang dan pemecah bisul tersebut. Kepala yang dicuci dengan air remasan daun waru muda akan mendatangkan rasa sejuk serta menambah kesuburan rambut. Rebusannya pun dianggap berkhasiat mengobati sulit kencing. 2.4. Ketapang (Terminalia catappa) = Combretaceae Terminalia cattapa LINN., di Jawa dikenal dengan nama Ketapang. Raksasa rimba memiliki tinggi hingga 40 m dan gemang batangnya 2 m; tingginya 20 m dan gemangnya 1 m, tumbuh liar di dataran rendah nusantara. Di Jawa hanya di pantai atau
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 18

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

di tanah masin dekat pesisir; pohon ini ditanam hingga kurang lebih 800 m di atas permukaan laut, tetapi terutama sekali di daerah panas dan dekat pesisir. Kulit kayu yang kaya akan damar sering digunakan sebagai obat penutup luka sariawan dan dapat menyembuhkan radang selaput lendir usus. Biji buah ketapang yang dibudidayakan dapat dimakan mentah seperti biji kenari, lebih kering dan rasanya lebih enak.

3. Tanaman Budidaya 3.1. Semangka (Citrullus vulgaris) Tanaman semangka termasuk dalam keluarga buah labu-labuan (Cucurbitaceae) yang berasal dari Afrika tropika. Daya tarik budidaya semangka terletak pada nilai ekonominya yang tinggi, berumur relatif singkat (70-80 hari). Keuntungan yang dapat diperoleh dari budidaya semangka di lahan pantai berkisar antara 1-2 kali lipat dari investasinya. Hasil rata-rata semangka jenis New Dragon per hektar di lahan sawah mencapai 24 ton. Tanaman semangka yang ditanam di antara jalur tanaman TA di pantai berpasir Samas, DIY menggunakan bedengan dengan jarak tanam 4 m x 0.65 m dan jarak antar bedeng 0.6 m. Dengan pemberian pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha, ZA 500 kg/ha, urea 150 kg/ha, KCl 350 kg/ha, dan TSP 500 kg/ha dapat memberikan hasil pada tahun I, II, dan III masing-masing sebesar 20 ton/ha, 21 ton/ha, dan 25 ton/ha (Sukresno, 1999a).

3.2. Terong Ungu (Solanum melongena) Tanaman terong sudah lama dikenal dan dibudidayakan baik untuk lalapan maupun sayuran karena banyak mengandung gizi, terutama vitamin A. Jenis dan varietas terong mempunyai aneka bentuk, ukuran, dan warna buah dengan varietas lokal maupun unggul. Varietas unggul yang banyak ditanam petani adalah jenis Farmers Long (Taiwan) dan Money Maker No.2 (Jepang). Ciri-ciri jenis Farmer Long adalah umur tanaman pendek, pertumbuhannya tegak, tahan penyakit layu Fusarium, buahnya panjang-lurus, warna ungu-kemerah merahan, dan berserat halus. Produksi rata-rata terung hibrida adalah 30 ton/ha.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

19

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tanaman terong yang ditanam sebagai tanaman budidaya setelah semangka di antara jalur tanaman TA di pantai Samas, DIY adalah jenis hibrida (ungu), jarak tanam seperti semangka 4 m x 0.65 m dan jarak antar bedeng 0.6 m, hasil yang diperoleh 26.4 ton/ha (Sukresno, 1999a).

3.3. Bawang Merah (Allium cepa) Tanaman bawang merah termasuk keluarga Liliaceae dengan ciri berumbi lapis, berakar serabut, dan berdaun silindris. Umbi lapis tersebut berasal dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang-batang semu serta berubah bentuk dan fungsinya. Sebagai tanaman semusim berbentuk rumput yang tumbuh tegak, tingginya dapat mencapai 15-20 cm dan membentuk rumpun. Karena sifat perakaran yang berbentuk serabut maka bawang merah kurang tahan (peka) terhadap kekeringan. Dari satu umbi yang ditanam dapat membentuk tunas-tunas lateral sebanyak 2-20 tunas, yang akhirnya akan menjadi umbi sebagai hasil panennya. Hasil panen bawang merah yang pertumbuhannya baik dan ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dapat mencapai 10-15 ton/ha. Tanaman bawang merah yang ditanam di lahan pantai berpasir di Samas, ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, pupuk kandang 30 ton/ha memberikan hasil 7.5 ton/ha (Sutikno dkk., 1998).

3.4. Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum) Tanaman cabe adalah tanaman hortikultur, mudah dikenal, banyak manfaat, dan merupakan tanaman semusim. tanaman berbentuk perdu dengan ketinggian antara 70-110 cm, memiliki banyak cabang dan pada setiap percabangan akan muncul buah cabe. Ukur dan bentuk buah tergantung dari jenis dan varietasnya. Untuk jenis cabe cerah dengan bentuk ramping-memanjang, umur dapat mencapai 115 HST, dan pedas adalah sesuai untuk ditanam dari dataran rendah-dataran tinggi. Produksi rata-rata dari cabe hibrida dengan pertumbuhan baik dapat mencapai 30 ton/ha dan untuk cabe lokal berkisar antara 10-15 ton/ha. Pemanfaatan lahan pantai berpasir di Samas dengan tanaman cabe besar yang ditanam dengan jarak tanam 15 cm x 25 cm, pupuk kandang 36 ton/ha, dan diberi mulsa jerami 6 ton/ha, memberikan hasil sebesar 44.2 ton/ha (Sutikno dkk., 1998). Sedang pada tanam tumpang gilir cabe merah keriting dengan kacang panjang yang ditanaman setelah
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 20

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

bawang merah dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm memberikan hasil 5 ton/ha (Sukresno, 1999a).

3.5. Kacang Panjang (Vigna sinensis) Tanaman kacang panjang sudah umum dibudidayakan di antara kacang tunggak, kacang uci dan kacang hibrida. Kacang panjang yang merupakan tanaman semusim jenis merambat dan setengah membelit memiliki batang yang panjang, liat dan sedikit berbulu serta berbuku-buku. Buah kacang panjang berbentuk polong dengan ukuran panjang dan ramping, berwarna hijau keputih-putihan (muda) atau kemerah-merahan, namun menjadi putih kekuning-kuningan atau hijau kekuning-kuningan (tua). Sistem perakaran Tanaman ini dapat menembus lapisan olah tanah hingga ke dalaman 60 cm. Tanaman kacang panjang termasuk jenis tanaman yang akar-akarnya dapat bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat N dari udara. Unsur N terikat dari bintil-bintil akarnya dapat mencapai 198 kg bintil akar/tahun atau setara dengan 440 kg urea. Produksi polong muda kacang panjang dapat mencapai 20 ton/ha. Tanam tanaman kacang panjang yang ditanam dengan cabe merah keriting pada lahan pantai berpasir dengan jarak tanam 30 cm x 60 cm, memberikan hasil sebesar 19 ton/ha (Sukresno, 1999a).

E. Sosial, Ekonomi dan Budaya 1. Adopsi Adopsi dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun ketrampilan (psychomotoric) pada diri seseorang setelah menerima inovasi. Mengingat adopsi adalah suatu proses perubahan maka ada beberapa tahapan yang dilalui (Pusat Penyuluhan Kehutanan, 1997) yaitu : a) Awareness (kesadaran) yaitu sasaran mulai sadar tentang inovasi yang ditawarkan b) Interest yaitu tumbuhnya minat yang ditandai oleh keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan inovasi.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

21

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

c) Evaluation yaitu penilaian terhadap baik/buruk atau manfaat inovasi yang meliputi aspek teknis, ekonomi, sosial budaya dan kesesuaiannya dengan kebijaksanaan pembangunan. d) Trial yaitu masyarakat mulai mencoba dalam skala kecil untuk lebih meyakinkan penilaiannya. e) Adoption yaitu menerima/menerapkan dengan penuh keyakinan berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah dilakukan sendiri. Menurut Pusat Penyuluhan Kehutanan (1997), kecepatan masyarakat mengadopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu : a. Sifat inovasi yang ditawarkan yaitu sifat intrinsik (yang melekat pada inovasinya) antara lain keunggulan teknis, ekonomis dan budaya, mudah tidaknya

dikomunikasikan dan diamati, serta sifat ekstrinsik yang mencakup kesesuaian lingkungan setempat dan tingkat keunggulan relatif dibanding teknologi yang sudah ada. b. Sifat sasaran yaitu cepat atau tidaknya sasaran mengadopsi suatu inovasi yang menurut dibagi dalam 5 kelompok yaitu : (a) Golongan perintis; (b) Golongan penerap dini/pelopor; (c) Golongan penganut dini; (d) Golongan penganut lambat dan (e) Golongan kolot/penolak. c. Cara pengambilan keputusan, dimana secara individu lebih cepat dibandingkan secara kelompok. d. Saluran komunikasi yang digunakan dapat berupa media masa, kelompok atau media antar pribadi. e. Keadaan penyuluh yaitu tergantung bagaimana kegigihan dan kerajinan penyuluh dalam menyampaikan inovasi. f. Sumber informasi yang antara lain media masa, penyuluh, teman, tetangga, serta pedagang.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

22

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2. Pengertian Partisipasi Secara harfiah, partisipasi berarti turut berperan serta dalam suatu kegiatan; keikutsertaaan atau peran serta dalam suatu kegiatan; peran serta secara aktif atau proaktif dalam suatu kegiatan. Partisipasi dapat didefinisikan secara luas sebagai bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela, baik karena alasanalasan dari dalam dirinya (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) dalam keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan (Irfani, 2004). Sedang menurut Keith Davis (1962) dalam Karyana (2004), participation can be defined as mental and emotional involvement of a person in group situation which encourages to contribute to group goals and share responsibility in them. Dalam definisi tersebut terdapat tiga gagasan yang penting yaitu : a) Dalam partisipasi bukan semata-mata keterlibatan secara jasmaniah, tetapi juga keterlibatan mental dan perasaan. b) Adanya kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha untuk mencapai tujuan kelompok. c) Adanya tanggung jawab bersama. Partisipasi sebagai suatu proses dimana seluruh pihak terkait (stakeholder) secara aktif terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Pelibatan semua kelompok tidak selalu berarti secara fisik terlibat, tetapi yang penting adalah prosedur pelibatan menjamin seluruh pihak dapat terwakili kepentingannya. Partisipasi harus sudah dimulai sejak evaluasi sumberdaya yang ada sebelum perencanaan disusun. Menurut Irfani (2004), pendekatan partisipatif lahir sebagai kritik terhadap metode penelitian konvensional antara lain penelitian yang banyak menggunakan logika sains dan penelitian etnometodologis. Penelitian konvensional dirasa mengandung beberapa kelemahan antara lain : 1) hanya menghasilkan pengetahuan yang empirisanalitis dan cenderung tidak mendatangkan manfaat bagi obyek (masyarakat) dan 2) banyak bermuatan kepentingan teknis untuk melakukan rekayasa sosial (social enginering). Sebagai alternatif muncul pendekatan partisipatif. Kepentingan pendekatan ini adalah pelibatan masyarakat. Metode yang menggunakan pendekatan partisipatif antara lain Participatory Rural Appraisal (RRA) dan Participatory Action Research
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 23

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

(PAR). Pendekatan ini menekankan pentingnya proses sharing of knowledge antara peneliti dengan masyarakat di lokasi penelitian. Proses analisa dilakukan bersama peneliti dan masyarakat. Hasil analisa langsung dikembalikan kepada masyarakat untuk disusun rencana tindakan bersama. Oleh karena itu, pendekatan ini juga disebut riset aksi, dimana ukuran dari pendekatan adalah terjadinya perubahan sosial. Melalui PAR, pihak terkait menarik pelajaran dan pengalaman melalui observasi, perencanaan, aksi dan refleksi secara bersama dan terus-menerus. Proses interaksi antara pihak terkait melalui siklus belajar PAR dijadikan dasar observasi. Dalam hal ini, alat bantu observasi utama adalah dokumentasi proses (Kusumanto, 2002). Partisipasi dalam pembuatan keputusan berarti mendefinisikan permasalahan, memilih alternatif pemecahan masalah yang memuaskan bagi masyarakat dan menetapkan bagaimana melaksanakan keputusan tersebut. Pelibatan masyarakat dalam suatu proses perencanaan perlu menganut prinsip dasar proses partisipatif, yaitu : 1. Partisipasi penuh (Full Participation), dimana proses pengambilan keputusan melibatkan seluruh pihak terkait dan terkena program, termasuk pihak-pihak yang selama ini diabaikan. 2. Saling pengertian ( Mutual Understanding) dimana kesepakatan kegiatan harus bersifat awet. Para pihak yang terlibat dalam kegiatan perlu menerima secara terbuka pikiran dan harapan yang berkembang dalam proses pengambilan keputusan. 3. Solusi yang diterima semua pihak (Inclusive Solution) dimana solusi yang diciptakan berangkat dari proses integrasi antara perspektif dan kebutuhan semua pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan. Dengan demikian solusi yang diciptakan bisa sesuai dengan visi dan karakteristik yang terlibat dalam kegiatan.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

24

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3. Perencanaan Partisipatif Perencanaan adalah suatu proses menyusun langkah-langkah untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam konsteks suatu komunitas (masyarakat), perencanaan berarti himpunan langkah untuk memecahkan persoalan dan kebutuhan komunitas tersebut, guna mencapai maksud dan tujuan tertentu yang bisa diidentifikasikan sebagai keadaan yang lebih baik. Sedang perencanaan partisipatif adalah perencanaan yang dalam tujuannya melibatkan kepentingan rakyat dan dalam prosesnya melibatkan rakyat (Abe, 2002). Menurut Abe (2002), tahap-tahap untuk menyusun perencanaan dari bawah adalah penyelidikan, perumusan masalah, menentukan tujuan dan target,

mengidentifikasi sumberdaya (daya dukung), merumuskan rencana kerja, dan menentukan anggaran yang hendak digunakan dalam realisasi rencana. 1. Penyelidikan Penyelidikan adalah sebuah proses untuk mengetahui, menggali dan mengumpulkan persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat. Dalam proses ini, keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci. Melalui proses ini, masyarakat diajak untuk mengenali secara seksama problem-problem yang mereka hadapi. 2. Perumusan masalah Perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penyelidikan. Untuk mencapai perumusan perlu dilakukan suatu proses analisis atas informasi yang ada, untuk menemukan keterkaitan antara satu fakta dengan fakta yang lain. Masyarakat harus terlibat dalam proses, agar rumusan masalah dapat mencerminkan kebutuhan dari komunitas dan bukan sekedar keinginan. (catatan : pendamping/petugas diharapkan mampu menjadi teman diskusi/fasilitator yang baik sehingga perumusan masalah yang diperoleh merupakan hal yang dapat dicarikan jalan keluarnya).

Pengorganisasian masalah perlu juga dilakukan untuk menyusun kembali masalah, menyeleksi masalah, melihat hubungan sebab-akibat dari masalah tersebut, mendiskusikan prioritas masalah dan menggalinya, menganalisis alternatif pemecahan masalah, dan pengembangan potensi sosial. Pengorganisasian masalah merupakan tahapan yang sangat kritis dalam proses pembangunan masyarakat,
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 25

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

karena apabila terjadi kesalahan dalam menganalisis dapat mengakibatkan kebutuhan riil masyarakat tidak dapat diketahui (Hikmat, 2001). 3. Identifikasi daya dukung Daya dukung bukan hanya sekedar dana konkrit, tetapi keseluruhan aspek yang memungkinkan terselenggaranya aktivitas dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Daya dukung ini bisa merupakan daya dukung konkrit, aktual, ada tersedia dan daya dukung yang merupakan potensi (akan ada atau bisa diusahakan). Pemahaman mengenai daya dukung ini diperlukan agar rencana kerja yang disusun tidak bersifat asal-asalan tetapi merupakan hasil perhitungan yang masak (Gambar 1).

Proses Perencanaan - Mendefinisikan masalah - Menetapkan tujuan dan target - Identifikasi sumberdaya pendukung - Merumuskan rencana tindakan - Menyusun anggaran

Diskusi intensif yang melibatkan masyarakat

Rumusan Rencana - Situasi, kondisi dan kebutuhan - Perubahan yang diinginkan - Peluang dan sumberdaya yang tersedia - Rincian rencana kerja - Anggaran

Gambar 1. Proses Penyusunan Rencana 4. Perumusan tujuan Tujuan adalah kondisi yang hendak dicapai (suatu keadaan yang diinginkan) dan karenanya dilakukan sejumlah upaya untuk mencapainya. 5. Menetapkan langkah-langkah Proses membuat rumusan yang lebih utuh perencanaan dalam sebuah rencana tindakan. Umumnya suatu rencana tindakan akan memuat : 1) apa yang hendak dicapai; 2) kegiatan yang hendak dilakukan; 3) pembagian tugas atau pembagian tanggung jawab; dan 4) waktu (kapan dan berapa lama kegiatan akan dilakukan).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

26

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

6. Anggaran Perencanaan anggaran bukan berarti menghitung uang, melainkan suatu usaha untuk menyusun alokasi anggaran atau sumber daya yang tersedia. Hal ini sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah perencanaan. Dalam konteks perencanaan partisipatif (Abe, 2002), tahapan tersebut bisa dikembangkan menjadi tahap-tahap berikut : 1) Melakukan identifikasi peserta, sehinga ada pengenalan yang lebih seksama terhadap mereka yang ingin dilibatkan dalam proses perencanaan. 2) Melakukan identifikasi persoalan-persoalan desa, potensi dan masa depan yang hendak dicapai. Sebaiknya tim awal telah mempersiapkan suatu penyelidikan. 3) Setelah bahan terkumpul dan dipilah-pilah bersama, apa yang menjadi masalah terutama untuk keperluan menemukan sebab dasar dan kaitan antara satu masalah dengan masalah lain. 4) Melakukan analisis tujuan. Disebut analisis karena dalam proses ini dilakukan penggalian mengenai apa yang hendak dituju dengan menggunakan pohon masalah. Tujuan bisa bermakna penyelesaian masalah atau rumusan yang ingin dicapai. 5) Memilih tujuan untuk persoalan yang komplek sehingga diperlukan langkahlangkah sistematik agar tujuan utama dapat tercapai. Memilih tujuan mengandung maksud menetapkan apa yang paling mungkin dilakukan, dengan mempertimbangkan sumberdaya. 6) Menganalisis kekuatan dan kelemahan. 7) Melakukan perumusan hasil-hasil dalam sebuah matrik program. Dalam matriks telah disusun dengan lebih seksama yakni tujuan, target, jenis aktivitas, waktu, tahap kerja, penanggung jawab, sampai pada biaya yang dibutuhkan. Matriks sebaiknya juga dilengkapi dengan detail kegiatan yang akan dilakukan. 8) Menyiapkan organisasi kerja. Rumusan perencananan hanya akan menjadi sekedar rencana bila tidak diikuti dengan kejelasan organisasi kerja. Untuk itu, semua potensi yang terlibat diharapkan bisa menjadi bagian dari organisasi kerja.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

27

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Partisipasi warga masyarakat dalam melaksanakan gerakan pembangunan harus selalu didorong dan ditumbuhkembangkan secara bertahap, ajeg dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip penerapan partisipasi (Hikmat, 2001) yang harus dilakukan adalah : 1) Masyarakat dipandang sebagai subyek dan bukan obyek 2) Praktisi berusaha menempatkan diri sebagai insider bukan outsider 3) Praktisi berperan sebagai fasilitator, sedang masyarakat yang harus

mengidentifikasi masalah, mendiskusikan, menganalisis, menyeleksi prioritas masalah, menyajikan hasil dan merencanakan kegiatan aksi. 4) Pelaksanaan evaluasi termasuk penentuan indikator keberhasilan dilakukan secara partisipatif. Perencanaan partisipatif dapat dilaksanakan jika praktisi pembangunan tidak berperan sebagai perencana untuk masyarakat tetapi sebagai pendamping dalam proses perencanaan yang dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat yang mempunyai peran utama sebagai pengelola perencanaan dari mulai tahap identifikasi masalah dan kebutuhan, identifikasi potensi lokal, pendayagunaan sumber-sumber lokal, penyusunan dan pengusulan rencana hingga evaluasi dari mekanisme perencanaan. Menurut Hikmat (2001), untuk menjadi pendamping yang baik, ada beberapa ketrampilan dasar yang harus dimiliki dalam rangka untuk menciptakan kemampuan internal masyarakat antara lain : 1) Kemampuan melakukan diskusi kelompok yang terarah 2) Kemampuan memfasilitasi analisis pola keputusan yang dilakukan masyarakat dalam proses perencanaan. 3) Negosiasi yaitu keahlian meningkatkan kemampuan masyarakat dalam penawaran program, proyek dan kegiatan yang diusulkan kepada sumbersumber lokal. 4) Pengambilan keputusan yaitu keahlian meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan secara demokratis, transparan dan memperhatikan akuntabilitas masyarakat. 5) Pelibatan berbagai pihak (stakeholders) di tingkat lokal, yaitu keahlian meningkatkan kemampuan mengidentifikasi semua untur masyarakat yang seharusnya memiliki peran yang optimal dalam pembangunan. Stakeholders ini
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 28

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

harus diidentifikasi bersama masyarakat (siapa, apa perannya dan apa kontribusinya terhadap pembangunan). Dalam fungsi manajemen, monitoring dan evaluasi harus dilakukan dari mulai penyusunan rencana sampai ke pelaksanaan kegiatan untuk memberi masukan pada setiap tahap kegiatan. Ada beberapa perbedaan antara evaluasi konvensional dan partisipatif (Tabel 1).

Tabel 1. Perbandingan Evaluasi Konvensional dan Partisipatif Aspek Siapa Apa Evaluasi Konvensional Ahli dari luar Evaluasi Partisipatif Anggota masyarakat, staf proyek, fasilitator Masyarakat mengidentifikasi sendiri indikator keberhasilan termasuk hasil yang dicapai Evaluasi sendiri, metode sederhana yang diadaptasi dengan budaya lokal, terbuka, ada diskusi hasil dengan melibatkan partisipan dalam proses evaluasi

Indikator keberhasilan, efisiensi biaya dan keluaran hasil/produk yang telah ditentukan Bagaimana Fokus pada ”obyektivitas ilmiah”, ada jarak antara evaluator dan partisipan, ada pola seragam, prosedur kompleks, akses terbatas pada hasil Bergantung pada proses Kapan Biasanya tergantung jadwal, perkembangan masyarakat dan kadangkala juga ada evaluasi intensitas relatif sering midterm Mengapa Pertanggungjawaban biasanya Pemberdayaan masyarakat lokal sumatif, menentukan biaya untuk inisiasi, mengontrol, selanjutnya melakukan tindakan koreksi. Sumber : Narayan, Deepa. 1993. Participation Evaluation. World Bank Technical Paper Number 207. Washington, D. : The World Bank dalam Hikmat, H. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

29

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

III.

BAHAN DAN METODE

A. Lokasi Penelitian dan Tata Waktu Lokasi pengembangan adalah lahan pantai berpasir yang secara administratif terletak di Desa Petanahan, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Secara geografi berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000 terletak pada 109o 35’ 01,9” BT , 07o 46’ 31,3” LS sampai 109o 35’ 34,9” BT , 07o 46’ 39,1” LS (lihat Gambar 2 sampai Gambar 4).. Kondisi Geologi berupa endapan alluvium pasiran dan jenis tanah yang terbentuk adalah jenis tanah regosol yang berasal dari endapan pasiran dengan topografi umumnya berombak. Puncak hujan pada bulan Oktober dan November dengan curah hujan rata-rata 3378 mm, bulan basah 8.3 bulan dan bulan kering (hujan < 50 mm/bl) selama 3 bulan. Bulan kering pada bulan Juli, Agustus dan September, bulan lembab Mei dan Juni, sedangkan lainnya adalah bulan basah mulai dari Oktober. Untuk kegiatan pengembangan dipilih pantai berpasir yang letaknya berdekatan dengan garis pantai pada areal seluas ± 11 Ha.

Gambar 2. Lokasi Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Samas, Bantul sejak Tahun 1994 dan Karanggadung, Kebumen Sejak Tahun 2005
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 30

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 3. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Sejak Tahun 2005

Gambar 4. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Srigading, Kecamatan Samas, Kabupaten Bantul, Sejak Tahun 1994

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

31

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir tahun 2007 dilaksanakan dengan tata waktu sebagaimana disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir 2007 No

KEGIATAN
1 2 3

BULAN PELAKSANAAN
4 5 6 7
8

9

10

11

12

A. KEGIATAN KANTOR 1 Persiapan - Pengadaan ATK dan Opers. Komputer - Bahan perlengkapan lapangan - Bahan penelitian B. KEGIATAN LAPANGAN 2. Perjalanan Dinas - Konsultasi/Koordinasi - Orientasi lapangan - Pelaksanaan lapangan 3. Pengamatan & Pengukuran - Pengumpulan data tanm - Data erosi pasir dll C. KEGIATAN LABORAT 4. Analisa data - Analisa data 5. Penyusunan laporan - Ft.copy/penggandaan - Rapat intern

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

32

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

B. Bahan dan Metode Bahan dan peralatan kegiatan pengembangan meliputi : a. Kegiatan penetapan lokasi, pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain : patok, meteran, kompas, peta dasar. b. Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain : Casuarina equisetifolia (camara laut) dan jagung (Zea mays L.). Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain : terong, bawang merah, cabe merah, dan ketimun, dll. d. Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida. e. Kegiatan pengembangan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain berupa bak renteng, pralon, gembor, selang, pompa air. f. Kegiatan pengamatan perlakuan, antara lain: Sand trap, evaporimeter, ombrometer, anemometer, termometer udara, dan termometer tanah. g. Kegiatan sosialisasi masyarakat berupa blanko/kuisioner yang relevan.

1. Jenis Kegiatan Kegiatan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian lahan pantai di Samas yang berlangsung sejak tahun 1997. Disamping itu juga merupakan sarana sosialisasi pada masyarakat di Kebumen dan juga dicobakan tanam tanaman kehutanan yang berfungsi sebagai tanggul angin sekaligus juga sebagai tanaman permanen yang membuat kondisi lingkungan semakin nyaman dan iklim mikro semakin baik.

2. Tahapan Kegiatan 2.1. Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen Casuarina equisetifolia di Samas dan pengembangan jalur tanaman TA di Kebumen Pemeliharaan dan pengamatan tanaman TA permanen cemara laut di Samas. Sedangkan untuk kegiatan di Kebumen rancangan demplot pengembangan yang akan dilakukan pada tahun dinas 2007. Upaya rehabilitasi lahan pantai berpasir dilakukan
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 33

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

untuk mengendalikan erosi angin, memperbaiki iklim mikro dan meningkatkan produktivitas lahan. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan pada lahan pantai berpasir di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen tanaman yang tepat sebagai tanggul angin permanen adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia), lihat Gambar 5 Tanam tanaman Casuarina equisetifolia sebagai tanaman tanggul angin permanen sepanjang 500 m searah garis pantai selebar 15 m. tanaman tersebut berfungsi sebagai tanaman penghijauan untuk melindungi tanaman budidaya yang ditanam di antara jalur tanaman tanggul dari pengaruh erosi pasir, tiupan angin dan kadar garam. Metode tanam tanaman tanggul tersebut dilakukan dengan jarak tanam 5 m x 5 m setiap jalurnya, dengan model ‘gigi belalang’ dengan 3 jalur tanam. Tanaman tanggul angin sementara yang ditanam pada batas antar petak digunakan tanaman-tanaman seperti: jagung (Zea mays L.), sorghum (Sorghum L.), atau ubi kayu karet (Manihot utillisima).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

34

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 5. Layout Pengembangan Demplot Tanaman Budidaya dan Tanaman Tanggul Angin

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

35

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2.2. Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng Pemeliharaan sarana pengairan dengan menggunakan bak tampung dari buis beton yang dipasang secara berentengan. Sumur renteng tersebut dipakai untuk persediaan cadangan air tawar sepanjang waktu. Khususnya pada masa pertumbuhan tanaman

diperlukan penyiraman air tawar rutin sehari dua kali pagi dan sore.

2.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai Sedang tanaman budidaya terdiri dari bawang merah, terong, cabe merah, kacang panjang, ketimun, dan semangka dengan beberapa kombinasi. Oleh karena itu, pola yang diterapkan dalam pembuatan demplot untuk upaya pengembangan rehabilitasi lahan pantai berpasir di Desa Patanahan akan mengacu pada hasil uji coba yang telah dilakukan. Tanaman budidaya di antara jalur tanaman tanggul angin untuk sementara adalah : bawang merah, terong, cabe merah, kacang panjang, ketimun, dan semangka. Adapun kebutuhan bibit per hektar dari masing-masing tanaman budidaya tersebut, yaitu: a) Terong sebanyak 10 bungkus (2 kg), b) Bawang merah sebanyak 200 kg, c) Cabe merah keriting sebanyak 50 pak (5 kg), benih jagung 20 kg. Dosis ameliorat pupuk kandang untuk meningkatkan produktivitas tanamantanaman budidaya tersebut sebanyak 20 t/ha untuk MT I. Sedang dosis pupuk kimia per hektar seperti ZA, urea, KCl, dan TSP masing-masing sebanyak 200kg.

2.4. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat Untuk tanaman budidaya terlebih dahulu akan dilakukan identifikasi untuk mengetahui jenis yang relatif sesuai dengan kondisi fisik, minat masyarakat dan kebutuhan pasar. Demplot akan dibangun pada lahan seluas ± 1 Ha yang akan dibagi dalam blok-blok yang merupakan petak milik petani penggarap dengan luas masing-masing 1.000 m2.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

36

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2.5. Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata Menyediakan sarana terpadu dalam bentuk tempat-tempat berteduh para wisatawan yang nyaman untuk menikmati pemandangan pantai dan juga hasil tanaman yang dibudidayakan di sekitar pantai berpasir.

3. Parameter 3.1. Tanaman TA sebagai Pengendali Erosi Pasir Pengembangkan jalur TA antara lain dengan tanaman Casuarina equisetifolia dimaksudkan untuk mengendalikan erosi angin. Parameter biofisik yang dikumpulkan adalah curah hujan, kecepatan angin, erosi pasir, evaporasi, kandungan garam, suhu tanah, pertumbuhan dan daya tumbuh tanaman cemara laut, serta input dan produksi tanaman budidaya.

3.2. Pengembangan sarana pengairan berupa sumur bak renteng Agar perawatan tanaman dapat berjalan dengan baik perlu disediakan sarana penyediaan air antara lain dalam bentuk pengembangkan sarana pengairan berupa sumur bak renteng. Setiap tandon air dari bius beton akan diamati berapa kali sehari air harus dipompa untuk mengisi bak-bak penampung, dan berapa volume air yang diperlukan untuk menyirami tanaman tanggul angin, tanaman semusim dan tanaman kehutanan serta buah-buahan setiap harinya. Kebutuhan air tersebut dibandingkan pada saat musim

kemarau (tidak ada hujan) dengan musim penghujan (ada tambahan air dari air hujan). Sehingga perlu diketahui tinggi hujan setiap hari dengan memasang penakar hujan ombrometer (manual).

3.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai dan untuk meningkatakan produktivitas lahan. Parameter data yang dikumpulkan dari lapangan tentang tanaman budidaya sebagai indikator perubahan tingkat produktivitas lahan, antara lain dengan melakukan pengamatan baik secara : a). vegetatif pertumbuhan tanaman dan 2). generatif dengan perhitungan dan penimbangan hasil panen.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

37

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3.4. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat lahan pantai berpasir antara lain juga diamati perubahan kondisi ekonomi masyarakat, yaitu : Investasi awal pengembangan lahan pantai berpasir, jaringan irigasi sumur renteng, pembangunan tanggul angin permanen dan sementara, pembangunan site budidaya pertanian dan buah-buahan. Input output usahatani (tenaga kerja, bibit, pupuk, racun hama penyakit, output usahatani pokok dan sampingan) dalam volume dan harganya. Kondisi ekonomi masyarakat pantai dan kondisi ekonomi rumah tangga petani pelaksana plot pengembangan. Pemanfaatan lahan pantai selama ini. Minat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi dan pemanfaatan lahan pantai berpasir untuk usaha tani. Minat masyarakat terhadap jenis-jenis tanaman budidaya yang akan ditanam dan potensi pasar bagi jenis-jenis tanaman budidaya tersebut.

3.5. Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata antara lain dapat ditinjau dari iklim mikro, keberadaan kelembagaan dan kebijakan yang berlaku : Perubahan kondisi iklim mikro sekitar lokasi pengembangan Akses jalan menuju ke lokasi dalam bentuk sarana dan prasarana yang memadai untuk memudahkan pengunjung wisata Institusi yang terlibat dalam pengembangan lahan pantai selama ini dan peranannya dalam pengembangan lahan pantai. Potensi dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan pantai berpasir. Rencana pengembangan lahan pantai berpasir yang ada. Peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir. Status lahan pantai berpasir yang akan dikembangkan dan prediksi persoalan yang timbul kedepan. Respon pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

38

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

4. Pengambilan Data Data yang diambil berupa data primer dengan cara pengamatan langsung di lapangan dan wawancara. 4.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia - Prosentase daya tumbuh pembibitan tanaman tanggul angin, kayu-kayuan, dan buah-buahan - Prosentase daya tumbuh, pertumbuhan dan perkembangan tinggi tanaman tanggul angin, kayu-kayuan, buah-buahan dan tanaman semusim. - Produksi hasil tanaman semusim dengan cara ubinan ukuran 1 m2 diulang masing-masing 3 kali. - Pengamatan dilakukan selama lima tahun

4.2. Sarana Pengairan - Pengukuran tinggi hujan (mm) harian melalui penakar hujan manual (ombrometer) dan diamati pada setiap jam 07.00 pagi. - kebutuhan air setiap jenis tanaman dalam satuan volume air cm3 (cc). - Kecepatan angin, erosi angin, evaporasi, dan suhu tanah, kandungan garam dan lain-lain faktor iklim diukur pada pagi dan sore setiap hari.

4.3. Model Tanaman Budidaya - Pengamatan pertumbuhan tanaman semusim selama lima tahun. Produksi tanaman budidaya dikumpulkan setiap panen, dalam hal ini juga dilakukan pemantauan terhadap volume dan frekuensi pemanenan dari masingmasing jenis tanaman budidaya. - Input tanaman budidaya dikumpulkan mulai tanam sampai dengan panen. Selain itu, juga dihitung input untuk tanam tanaman TA.

4.4. Tingkat Pendapatan Masyarakat Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat dengan mengamati kondisi sosial dan budaya masyarakat. Data sosial budaya yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan survei, observasi, diskusi mendalam,
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 39

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

dan pendampingan/pengamatan terhadap kelompok tani.

Survei dilakukan dengan

bantuan kuisioner pada masyarakat sekitar pantai dan petani plot. Pencatatan input output usahatani dan investasi pengembangan lahan pantai dilakukan secara rutin pada petani contoh. Data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data, informasi, perundangan dan sebagainya pada instansi terkait seperti BPS, pemerintah daerah, intansi terkait dan sebagainya.

4.5. Kenyamanan Lingkungan Wisata Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata dengan mengamati kondisi ekonomi dan kelembagaan di masyarakat. Data ekonomi yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan survei, observasi, diskusi mendalam, dan pendampingan/pengamatan terhadap kelompok tani. Survei dilakukan dengan bantuan kuisioner pada masyarakat sekitar pantai dan petani plot. Harga input dan output dilakukan dengan observasi dan wawancara di lapangan. Minat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi dan pemanfaatan lahan pantai serta jenis yang akan ditanam dilakukan melalui focus group discussion dan wawancara mendalam dengan masyarakat yang akan menjadi peserta dalam pembuatan demplot. Pemantauan terhadap: dinamika kelompok tani (kehadiran, keaktifan, inisiatif) institusi yang terlibat dalam pengembangan lahan pantai selama ini dan peranannya dalam pengembangan lahan pantai. Potensi dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan lahan pantai berpasir Peraturan dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan lahan pantai berpasir. Status lahan pantai berpasir yang akan dikembangkan dan prediksi persoalan yang timbul kedepan. Respon pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

40

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

5. Pengolahan dan Analisa Data 5.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia Data biofisik akan dianalisis secara deskriptif untuk menunjukkan perlakuan yang paling efektif. Dengan mengamati prosentase tumbuh tanaman TA cemara laut (Casuarina equisetifolia) dan mengamati pertumbuhan setiap bulannya.

5.2. Sarana pengairan berupa sumur bak renteng Menyiapkan instalasi saluran irigasi dalam bentuk sumur bak renteng untuk mengairi tanaman semusim, tahunan dan tanaman TA dengan air tawar. Menyediakan sarana penampungan air dan melengkapi peralatan penyiraman tanaman dengan gembor, atau dengan selang plastik.

5.3. Model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai Pengembangan pola tanam tanaman budidaya dengan tanam tanaman semusim antara lain Semangka (Citrullus vulgaris), Terong Ungu (Solanum melongena),

Bawang Merah (Allium cepa), Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum), Kacang Panjang (Vigna sinensis) dan tanaman tahunan antara lain : Keben (Barringtonia asiatica), Bintangur (Calophyllum inophyllum), Waru (Hibiscus tilliaceus), Ketapang (Terminalia catappa). Mengamati prosentase tanaman yang tumbuh, dan pengamatan pertumbuhan tanaman setiap bulannya. Setiap masa panen dilakukan pengkuran hasil produksi dengan cara melakukan pengubinan yang berukuran 1 m2 dan diulang 3 kali.

5.4. Tingkat pendapatan masyarakat Data sosial ekonomi dan budaya dianalisis secara deskriptif, sedang data input dan output untuk sementara hanya akan dilakukan analisis biaya pendapatan. Data sosek yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dianalisis. Data disajikan dalam

bentuk tabel dan grafis. Data dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis yang dilakukan antara lain analisis finansial, analisis kependudukan.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

41

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

5.5. Kenyamanan lingkungan sekitar wisata Menyediakan kenyamanan rekreasi di sekitar lingkungan pengembangan tanaman sekitar pantai berpasir sebagai sarana informasi kepada khalayak ramai yang berkunjung ke pantai. Penyediaan sarana dengan melibatkan masyarakat sekitar pantai berpasir, dinas pariwisata dan pemerintah daerah. Data yang dikumpulkan berupa tingkat frekuensi kunjungan masyarakat ke tempat wisata dan lingkungan sekitarnya.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

42

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

IV. BIAYA DAN ORGANISASI PELAKSANA Biaya penelitian tahun 2007 sebesar Rp. 74.600.000,- (Tujuh Empat Enam Ratus Ribu Rupiah) dengan perincian biaya penelitian tahun 2007 sebagai berikut : A. Belanja Barang Operasional Lainnya (Rp. 7.200.000,-)
No

Jenis Kegiatan Analisa data Pengumpulan data vegetasi Pengumpulan data erosi Rapat intern

Satuan

Volume Kebthn

1 2 3 4

LS LS LS OH

1 1 3 20

Biaya Satuan 1.000.000 1.500.000 1.400.000 25.000

Jumlah Biaya (Rp) 1.000.000 1.500.000 4.200.000 500.000

B. Belanja Bahan (Rp. 29.650.000,-)
No

Jenis Kegiatan Foto copy dan dokumentasi ATK dan Operasional komputer Bahan perlengkapan lapangan Bahan penelitian

Satuan

1 2. 3 4

LS LS LS LS

Vol. Kebt 1 1 1 1

Biaya Satuan 750.000 1.000.000 2.900.000 25.000..000

Jumlah Biaya (Rp) 750.000 1.000.000 2.900.000 25.000..000

C. Belanja Perjalanan Biasa (Rp. 37.750.000,-)
No

Jenis Kegiatan Perjalanan dalam rangka konsultasi dan koordinasi ke Bogor

Satuan

1

OT

Vol. Kebt 1

Biaya Satuan 4.450.000

Jumlah Biaya (Rp) 4.450.000

2

Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegaitan ke Kebumen

OT

10

3.330.000

33.300.000

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

43

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Susunan organisasi pelaksana tugas dalam rangka menyelesaikan kajian tentang Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Tim Pelaksana Kegiatan Tahun 2007 No. Nama Jabatan Pendidikan Bidang Keahlian Kedudukan dalam TIM

1.

Ir. Beny Harjadi,MSc

Peneliti Madya

S2Penginderaan Jauh

Pedologi dan Ketua Tim/ Penginderaan Peneliti Jauh

2.

S.Andy Cahyono, MSi Dona Octavia, S.Hut Arif Priyanto

Peneliti Pertama

S2- Sosial Ekonomi

Ekonomi Kehutanan

Anggota/ Peneliti

3.

Calon Peneliti

S1 – Kehutanan

Silvikultur

Anggota/ Peneliti

4.

Calon Teknisi Tek Litkayasa Pelaksana

S1-Pertanian

Pertanian

Anggota

5.

Gunawan

STM Pertanian

Pertanian

Anggota

6.

Siswo

Tek Litkayasa Pelaksana

SKMA Kehutanan

Kehutanan

Anggota

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

44

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengembangan Jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia a. Pertumbuhan Cemara Laut Perbandingan Cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang ditanam di Samas, Bantul dengan yang ditanam di Karanggadung, Kebumen menunjukkan pertumbuhan yang sama karena kedua lokasi pantai berpasir sesuai untuk pertumbuhan tanaman cemara laut. Di Samas, Bantul kegiatan telah dilakukan sejak tahun 1994 sampai 2003, sedangkan di Karanggadung, Kebumen ditanam sejak tahun 2005 sampai 2007. Dari sebaran probabilitas normal Cemara relatif lurus keatas tidak nampak perbedaan antara satu tanaman dengan tanaman lainnya (KT0-KT2) di Kebumen (lihat Gambar 6). Sedangkan di Bantul menunjukkan sebaran yang relatif beda antara

pertumbuhan satu dengan lainnya (KU1-KU4).

Gambar 6. Sebaran Probabilitas Normal Cemara Laut di Kebumen (KT0-KT2) dan Bantul (KU1-KU4)

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

45

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tanaman cemara laut yang baru ditanam tahun 2007 tingginya 58,7 cm pada umur bibit 6 bulan, tanaman cangkok (T1c) pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan tanaman dari bibit (T1b), keterangan yang lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 7. Tabel 4. Tinggi Cemara Laut Tahun 2005 sampai 2007 di Karanggadung, Kebumen

Nomer Tanaman

2007 T0

2006 T1b

2006 T1c
103 100 122 143 99 182 114 136 159 142 130

2005 T2
152 170 92 159 148 121 161 67 138 44 125,2

1 40 109 2 63 147 3 55 141 4 73 105 5 66 148 6 41 99 7 81 135 8 41 127 9 63 129 10 64 124 Rerata 58,7 126,4 Keterangan : T1b = tanaman satu tahun dari biji T1c = tanaman satu tahun dari cangkok

140 120 Tinggi Cemara Laut (cm) 100 80 60 40 20 0 2007

126,4

130

125,2

58,7

2006 b 2006 c 2005 Tahun Tanam Cemara di Kebumen

Gambar 7. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 2005 – 2007 di Karanggadung, Kebumen
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 46

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tinggi cemara laut di Bantul yang ditanam sejak tahun 1994 atau tanaman berumur 14 tahun rata-rata tingginya 8,1 m (Tabel 5 dan Gambar 8). Cemara laut di Bantul yang ditanam berasal dari cangkok lebih cepat rimbun tapi tidak bisa tumbuh meninggi. Tabel 5. Tinggi Tanaman Cemara Tahun 1994 sampai 2003 di Samas, Bantul

Nomer Tanaman
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rerata

2003 KU1
2,9 2,05 3,35 3,5 3,9 2,65 3,9 4,25 3,4 2,45 3,2

2000 KU2
6,2 6,15 4,05 5,06 5,45 4,45 5,1 5,55 6,15 4,4 5,3

1997 KU3
6,1 5,65 5,35 6,4 4,85 4,1 4,35 4,1 5,35 4,2 5,0

1994 KU4
7,6 8,15 8,25 8,1 7,9 8,05 8,5 8,3 8,2 7,9 8,1

9,0 8,0 Tinggi Cemara Laut (m) 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 2003 2000 1997 1994 Tahun Tanaman Cemara di Bantul

Gambar 8. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 1994 – 2003 di Samas, Bantul.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 47

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

b. Tanggul Angin Sementara Tanggul angin sementara dapat secara mekanis ataupun vegetatif. Tanggul angin sementara secara mekanis antara lain dengan daun kelapa, gedek bambu. Prinsip

pembuatan tanggul angin sementara angin dapat menembus tetapi tidak sampai merusak tanaman, karena kecepatan angin sudah terhalang oleh tanggul, disamping itu juga mampu mengurangi bahaya kadar garam yang dibawa oleh uap air (Gambar 9). Begitu juga tanggul angin sementara dapat dilakukan dengan vegetatif tanaman semusim yang cepat tumbuh dan lebih tinggi dari tanaman utamanya, misalnya : jagung, sorghum dll.

Gambar 9. Tanaman Tanggul Angin dari tanaman Jagung, sudah mengering.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

48

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

B. Pengembangan Sarana Pengairan Berupa Sumur Bak Renteng a. Kondisi Biofisik i. Kesuburan Tanah Kesuburan tanah yang diamati di dua lokasi Bantul dan Kebumen meliputi daerah tepi pantai, pada tanaman tanggul angin cemara laut, dan tanaman semusim. Dari sampel tanah yang diambil pada lapisan olah 0 – 30 cm dilakukan analisis untuk beberapa parameter sifat fisik tanah antara lain : kadar lengas (KL), kemasaman tanah (pH), daya hantar listrik (DHL), N total, P total, Fe total, Cu total, Mn total, Zn total, Kalium tertukar (K ttk), Kalsium tertukar (Ca ttk), Natrium tertukar (Na ttk), Magnesium tertukar (Mg ttk), Kapasias Pertukaran Kation (KPK), Kejenuhan Basa (KB), lihat Tabel 6 dan Tabel 7. Sebagian besar ketersediaan hara dalam tanah sangat rendah (SR) sampai rendah (R), hanya beberapa unsur hara memiliki kandungan hara yang tinggi yaitu untuk P total, Mn total, Mg tertukar dan kejenuhan basa (KB). Pada lahan yang ditanami tanaman semusim kandungan hara tanah relatif lebih tinggi, antara lahan pasir yang ditanami cemara laut dengan lahan pasir yang terbuka kandungan unsur hara dalam tanah relatif sama (keterangan yang lebih lengkap dapat dilihat pada Gambar 10, 11 dan Gambar 12).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

49

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 6. Perbandingan Unsur Kandungan Unsur Hara Lahan Pantai Berpasir di Kebumen dan Bantul

KANDUNGAN HARA LAHAN BERPASIR
KL% 0,5 KL% 2 pH DHL Ntotal Ptotal Ktotal Fe total Cu total Mn total Zn total K ttk Ca ttk Na ttk Mg ttk KPK KB 0,5 mm 2 mm H2O mS % ppm % % ppm ppm ppm me/100 g me/100 g me/100 g me/100 g me/100 g %

KARANGGADUNG,PETANAHAN,KEBUMEN

SRI GADING, SAMAS, BANTUL

Pantai KP
0,33 0,54 7,3 0,07 0,01 417,71 0,06 0,81 34,26 223,89 76,34 0,16 2,66 1,2 2,73 7,21 93,62 R S S SR SR ST SR R SR T R R R ST T R ST

Semusim KS
1,16 1,51 6,1 0,1 0,07 462,99 0,05 0,45 38,16 170,16 74,14 0,13 1,76 1,09 1,19 5,4 77,22 ST ST R R SR ST SR R SR T R R SR ST S R ST

Cemara Laut KC
0,4 0,38 7 0,05 0,01 390,33 0,05 0,97 30,02 197,33 73,8 0,13 4,53 2,43 2,7 18,23 53,7 S R S SR SR ST SR R SR T R R R ST T S T

Pantai BP
0,27 0,28 6,8 0,05 0,01 355,29 0,04 0,47 27,68 253,47 96,36 0,14 1,55 1,42 1,55 5,25 88,76 R R S SR SR ST SR R SR ST R R SR ST S R ST

Semusim BS
0,56 0,46 6,1 0,12 0,05 418,29 0,03 0,85 29,54 279,87 100,97 0,18 3,53 1,18 1,04 6,68 88,77 S R R R SR ST SR R SR ST S R R ST S R ST

Cemara Laut BC
0,22 0,49 6,3 0,25 0,02 748,69 0,05 0,37 32,47 259,27 92,3 0,13 3,41 1,36 2,43 8,61 85,13 R R R R SR ST SR SR SR ST R R R ST T R ST

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

50

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 7. Kriteria Tingkatan Kandungan Unsur Hara Tanah SR Sg.Renda h 1 < 0,1 < 0,2 5 < 0,1 <0,1 < 50 < 10 < 0,4 < 50 < 50 < 50 < 0,1 <2 <0,1 < 0,4 <1 <20 R Rendah 2 0,1 - 0,3 0,2 - 0,5 6 0,1 - 0,3 0,1-0,2 51 - 100 10 - 20 0,4 - 1 51 - 100 51 - 100 51 - 100 0,1 - 0,3 2-5 0,1 - 0,3 0,4 - 1 1 - 10 20 - 35 S Sedang 3 0,4 - 0,5 0,5 - 0,9 7 0,4 - 0,5 0,21-0,5 101 -150 21 - 40 1,1 - 2 101 -150 101 -150 101 -150 0,4 - 0,5 6 - 10 0,4 - 0,7 1,1 - 2 10 - 20 36 - 50 T Tinggi 4 0,6 - 1 0,9 - 1,2 8 0,6 - 1 0,51-0,75 151 - 250 41 - 60 2,1 - 6 151 - 250 151 - 250 151 - 250 0,6 - 1 11 - 20 0,8 - 1 2,1 - 6 20 - 30 51 - 70 ST Sg.Tinggi 5 >1 >1,2 9 >1 >0,75 > 250 > 60 >6 > 250 > 250 > 250 >1 > 20 >1 >6 > 30 > 70

TINGKATAN KADAR HARA K.Lengas (%) 0,5 K.Lengas (%) 2 pH DHL (mS) N total (%) P total (ppm) K total (%) Fe total (%) Cu total (ppm) Mn total (ppm) Zn total (ppm) K ttk (me/100 g) Ca ttk (me/100 g) Na ttk (me/100 g) Mg (me/100 g) KPK (me/100 g) KB (%)

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

51

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

1,6 1,4 Kadar Hara Pantai Berpasir 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 KP KS KC

Ntotal Ktotal DHL K ttk KL% 0,5 KL% 2 Fe total

BP

BS

BC

Kebumen (K) dan Bantul (B)

Gambar 10. Kadar Hara Lahan Pantai : N, K, DHL, K tertukar, Kadar Lengas dan Fe total di Kebumen dan Bantul
20 18 16 Kadar Hara Pantai Berpasir 14

Na ttk

Ca ttk

Mg ttk
12 10 8 6 4 2 0 KP KS KC BP Kebumen (K) dan Bantul (B) BS BC

KPK

pH

Gambar 11. Kadar Hara Lahan Pantai : Na ttk, Ca ttk, Mg ttk, KPK (Kapasitas Pertukaran Kation), pH di Kebumen dan Bantul
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 52

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

800 700 Kadar Hara Pasir Berpantai 600 500 400 300 200 100 0 KP KS KC

Cu total

Zn total

KB

Mn total

Ptotal

BP

BS

BC

Kebumen (K) dan Bantul (B)

Gambar 12. Kadar Hara Lahan Pantai : Cu total, Zn total, KB (Kejenuhan Basa), Mn total dan P total di Kebumen dan Bantul.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

53

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

ii. Suhu Tanah Suhu tanah semakin ke dalam semakin dingin yaitu dari 33 oC menuju ke 31
o

C, begitu juga untuk suhu tanah malam hari (32 oC) lebih rendah dibandingkan siang

hari (35 oC), (Tabel 8 dan Gambar 13 sampai Gambar 15).

Tabel 8. Data Suhu Tanah Ke dalaman 15, 30 dan > 30 cm di Kebumen Tahun 2007

Keterangan : nomer menunjukkan bulan ke- (10=Oktober, 11=November, 12=Desember, 1=Januari, 2=Februari, 3=Maret,4=April)
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 54

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

37 36 Suhu Tanah (0 - 15 cm) 35 34 33 32 31 30 29 28 10 11 12 1 Bulan Pengamatan 2 3 4 MALAM Max Min SIANG Max Min

Gambar 13. Suhu Tanah pada Ke dalaman 0 - 15 cm Tahun 2007 di Kebumen

37 36 Suhu Tanah (15 - 30 cm) 35 34 33 32 31 30 29 28 27 10 11 12 1 2 3 4 Bulan Pengam atan MALAM Max Min SIANG Max Min

Gambar 14. Suhu Tanah pada Ke dalaman 15 - 30 cm Tahun 2007 di Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

55

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

40 35 Suhu Tanah (> 30 cm) 30 25 20 15 10 5 0 10 11 12 1 2 3 4 Bulan Pengam atan MALAM Max Min SIANG Max Min

Gambar 15. Suhu Tanah pada Ke dalaman > 30 cm Tahun 2007 di Kebumen b. Perubahan Iklim i. Evaporasi Evaporasi diamati pada waktu siang dan malam hari, dimana siang hari merupakan proses penguapan pada waktu sepanjang pagi hari (06.00-12.00), sedangkan pengamatan lama hari sebagai hasil penguapan sepanjang siang hari sampai sore (12.00 – 18.00). Oleh karena itu tinggi evaporasi malam hari (rata-rata 0,4 mm) selalu lebih tinggi dari pada siang hari (rata-rata 0,3 mm), (Tabel 9 dan Tabel 10). Begitu juga yang dekat pantai lebih tinggi penguapannya dibandingkan yang jauh dari pantai, karena kecapatan angin membantu penguapan disamping panas mathari (Gambar 16 dan Gambar 17).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

56

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 9. Data Evaporasi Dekat Pantai Tahun 2007 di Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

57

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 10. Data Evaporasi Jauh dari Pantai Tahun 2007 di Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

58

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 16. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Dekat Pantai

Gambar 17. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Jauh dari Pantai

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

59

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

ii. Curah Hujan Curah hujan tertinggi pada bulan Februari (1400 mm) dan curha hujan terendah pada bulan Oktober (30 mm), dengan bulan basah selama 6 bulan dari bulan Oktober sampai Februari (Gambar 18).

Gambar 18. Data Hujan : Maximum Hujan, Rerata, Hari Hujan, Jumlah dan Minimum iii. Kecepatan angin Kecepatan angin siang hari (> 5 km/jam) lebih cepat dibandingkan malam hari (< 1 km/jam), dan pada malam hari sering 0 km/jam karena saat itu berhembus angin dari daratan ke lautan, pada siang hari ngin berhembus dari lautan (Tabel 11 dan Gambar 19). Dengan bantuan ombak kecepatan angin di siang hari meningkat sampai 20 km/jam. Tabel 11. Data Kecepatan Angin Siang dan Malam Hari di Pantai Berpasir kebumen Kecepatan Angin (km/jam) SIANG Maximum Rerata Minimum MALAM Maximum Rerata

JAN 20 7,7 5 20 10,9

FEB 10 5,9 3 10 6,3

MRT 8 4,6 3 8 5,2

APR 5 4,6 4 5 4,5

SPT 10 8,6 5 2 0,125

OKT 12 7,9 6 0 0

NOV 9 5,9 5 0 0

DES 10 5,2 2 0 0
60

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Minimum

5

3

3

4

0

0

0

0

Gambar 19. Kecepatan Angin Siang dan Malam Tahun 2007 di Kebumen

iv. Suhu Udara Suhu udara di pantai berpasir terendah 20 oC pada malam hari sampai tertinggi 36 oC pada siang hari, dengan rata-rata suhu pada malam hari 22 oC dan siang hari 34 oC (lihat Tabel 12). Tabel 12. Suhu Udara pada Siang dan Malam Hari Tahun 2007 di Kebumen SPT MALAM Maximum Rerata Minimum SIANG Maximum Rerata Minimum 34 32,1 28 34 31,0 30 36 32,8 30 35 33,7 32 36 32,13 24 35 31,96 27 34 32,84 31 38 35,17 34
61

OKT

NOV

DES

JAN

FEB

MRT

APR

24 22,53 20

23 22,03 22

24 22,9 20

24 22,94 22

23 22,52 20

23 22,25 22

23 22,19 22

22 22 22

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Suhu udara tertinggi pada bulan April karena saat itu sudah tidak ada turun hujan lagi, padahal panas matahari dapat meningkatkan suhu uap air yang ada di dalam tanah yang mengakibatkan suhu udara ikut naik di siang hari (Gambar 20). Sebaliknya suhu terendah pada bulan November dan Januari, malam hari bisa turun sampai 20 oC.

Gambar 20. Suhu Udara Tahun 2007 Malam dan Siang Hari di Kebumen c. Instalasi Air Sumur di pantai berpasir pada ke dalaman 6 m sudah mengeluarkan air tawar, selanjutnya dibuat saluran dengan pralon untuk instalsi distribusi air. Instalasi air dengan menggunakan bius beton, dimaksudkan untuk memudahkan pengambilan air pada saat penyiraman tanaman semusim (bawang merah dan jagung). Pengangkatan air sumur dilakukan dengan diesel dengan bahan bakar bensin, yaitu untuk 1 liter dapat untuk menyirami selama 2 jam, dengan debit 5 liter air/detik. Sehingga selama 2 jam air yang diperlukan untuk menyirami tanaman kurang lebih = 2 x 60 x 60 x 5 l = 36000 l/2 jam = 36 m3/ 2 jam untuk 1 ubin (14 m2). Pada tanaman semusim kebutuhan penyiraman dilakukan setiap hari, karena pada msuim hujan maupun kemarau tetap selalu disirami.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 62

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Apalagi pada saat sehabis hujan maka pagi harinya harus segera disiram air, untuk mengurangi uap air panas dari tanah (Gambar 21).

Gambar 21. Instalasi Air untuk Distribusi Kebutuhan Air Tanaman semusim. C. Pengembangan Model Pola Tanam Tanaman Budidaya yang Sesuai a. Tanaman Semusim Tanaman semusim yang dapat dikembangkan di pantai berpasir antara lain bawang merah, cabe, jagung, semangka dan lain-lain. Data pencatatan hasil produksi di Bantul dari tahun 2000 sampai 2007 menunjukkan hasil yang fluktuatif yaitu kadang tinggi dan kadang menurun (Tabel 13). Hasil bawang merah tertinggi pada bulan Januari 2007 (29 ton/ha) dan terendah pada bulan Januari 2000 (10 ton/ha). Hasil cabe tertinggi pada bulan Mei 2002 (26,7 ton/ha) dan terendah pada bulan Januari 2003 (8 ton/ha). Begitu juga harga kedua komoditi tersebut juga fluktuatif naik turun, yaitu untuk bawnag merah harga terendah Rp 2.500,-/kg dan harga tertinggi bis amencapai Rp 6.000,-/kg, sedangkan harga cabe jauh lebih fluktuatif yaitu harga terendah Rp 2.500,-/kg dan harga tertinggi bisa mencapai Rp 10.000,-/kg (Gambar 22 dan 23).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

63

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 13. Data Produksi Tanaman Bawang Merah (Brambang) dan Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Bantul
TANAM BRAMBANG 10/01/2000 10/07/2000 05/01/2001 05/07/2001 05/10/2001 10/01/2002 10/05/2002 10/07/2002 05/01/2003 05/07/2003 10/10/2003 10/01/2004 10/07/2004 10/10/2004 05/01/2005 05/07/2005 05/10/2005 10/01/2006 05/10/2006 05/01/2007 10/07/2007 HARGA Rp/kg 4000 3500 5000 6000 5500 6000 5000 4000 3500 5000 6000 5000 4500 4000 5000 4000 6000 2500 3000 5000 4750 HASIL Ton/Ha 10,0 16,7 16,7 21,7 16,7 20,0 21,7 26,7 20,5 22,5 19,0 24,0 26,0 23,0 18,0 19,0 19,5 16,0 22,0 29,0 20,3 HARGA Rp/Ha 40000 58333 83333 130000 91667 120000 108333 106667 71750 112500 114000 120000 117000 92000 90000 76000 117000 40000 66000 145000 96425 TANAM CABE 10/01/2000 10/07/2000 10/10/2000 05/01/2001 05/07/2001 05/10/2001 10/01/2002 10/05/2002 10/07/2002 05/01/2003 05/07/2003 10/10/2003 10/01/2004 10/07/2004 10/10/2004 05/01/2005 05/07/2005 05/10/2005 10/01/2006 05/01/2007 10/07/2007 HARGA Rp/kg 3000 6000 4500 4500 7000 9000 3250 7000 4500 2500 4000 9000 3500 7500 8500 3000 2500 10000 2500 4000 3700 HASIL Ton/Ha 13,3 10,0 8,3 16,7 18,3 18,7 23,3 26,7 20,0 8,0 9,5 8,1 9,0 11,0 8,0 15,0 16,0 17,0 13,0 24,0 15,5 HARGA Rp/Ha 40000 60000 37500 75000 128333 168000 75833 186667 90000 20000 38000 72900 31500 82500 68000 45000 40000 170000 32500 96000 57350

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

64

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

30,0

25,0

Hasil Bawang Merah (ton/ha)

20,0

15,0

10,0

5,0

0,0
00 nJa 00 01 nulJ Ja 01 02 nulJ Ja 02 03 nulJ Ja 03 04 nulJ Ja 04 05 nulJ Ja 05 06 nulJ Ja 06 07 nulJ Ja 07 ulJ

Gambar 22. Hasil Produksi Bawang Merah dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 65

Hasil Cabe (ton/ha)
10 15 20 25 30 0 5

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

Ja n0 M 0 ei -0 S 0 ep -0 Ja 0 n0 M 1 ei -0 S 1 ep -0 Ja 1 n0 M 2 ei -0 S 2 ep -0 Ja 2 n0 M 3 ei -0 S 3 ep -0 Ja 3 n0 M 4 ei -0 S 4 ep -0 Ja 4 n0 M 5 ei -0 S 5 ep -0 Ja 5 n0 M 6 ei -0 S 6 ep -0 Ja 6 n0 M 7 ei -0 7

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

66

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 23.. Hasil Produksi Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

67

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

b. Teknik Budidaya Tanaman Semusim i. PENANAMAN PADI GOGO A. Persiapan Lahan Tegalan dibersihkan dari rumput dengan cara dicabut agar sampai pada akar rumput Tanah tegalan dicangkul secara merata Tanah diratakan dengan garon Tanah yang sulit dipecah atau diratakan dengan garon dipecah dengan alat pemecah tanah (gitik) Setelah tanah rata lalu dibajak tahap pertama Tanah diratakan lagi dengan garon Tanah dibajak tahap kedua Tanah diratakan lagi dengan garon Tanah diratakan dengan alat pemecah atau perata tanah (gitik) Tanah yang telah merata lalu ditebarkan pupuk dasar, yaitu pupuk kandang per 100 ubin 2 sampai 3 colt atau 2-3 m3, ditambah pupuk NPK 20 kg, lalu tanah dibiarkan 1 minggu Satu atau dua hari sebelum disebar padi tanah disemprot dengan rondap agar rumput tumbuh duluan. Tanah siap disebari dengan padi

B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk Per 100 ubin diperlukan bibit 6 – 7 kg Pupuk kandang 2 sampai 3 colt Pupuk SP36 = 30 kg Pupuk Urea = 45 kg

C. Penyebaran Padi Tanah dibajak di belakang si pembajak, 1 orang penyebar padi dan 1 orang lain penyebar pupuk SP36 dan urea Setelah penyebaran biji selesai, tanah diratakan lagi dengan garon dan tanah yang sulit dipecah dengan garon dipecah dengan alat pemecah tanah atau gitik. Per 100 ubin dibutuhkan waktu pengerjaan 2 sampai 3 jam

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

65

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

D. Pemeliharaan Setelah umur 10-15 disampar, sambil mengatur barisnya padi yang tumbuh Setelah padi umur 20-25 padi diatur jaraknya 20-22 cm Setelah selesai lalu didangir tahap I Kalau ada hujan dipupuk dengan urea sebanyak 25 kg Setelah padi umur 35-40 hari didangir tahap II Setelah padi umur 60 hari dilihat perkembangan pertumbuhan padi, kalau diperkirakan butuh pemupukan tambahan diberikan maksimal 15 kg. Hasilnya 6 kw kering gabah per 100 ubin. ii. PENANAMAN JAGUNG A. Persiapan Lahan Tanah Tegalan Tanah dibersihkan dari rumput dengan cara dicabut Tanah dicangkul seperlunya (minimum tillage) Kalau perlu tanah dicangkul 2 kali agar tanah tidak menggumpal Tanah dibuat parit kecil untuk tempat pupuk dasar (kandang) Pupuk kandang disebar diparit-parit kecil yang telah tersedia sebanyak 23 colt Pupuk kandang ditutup lagi dengan tanah dibiarkan selama 1 minggu Sehari sebelum jagung ditanam disemprot dengan rondap Gol Tanah siap ditanami jagung

B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk Bibit jagung 8 kg per 100 ubin Pupuk kandang 3 colt Pupuk SP36 = 30 kg per 100 ubin

C. Tanam dan Pemeliharaan Jarak tanaman jagung 30 x 60 cm (atau 70 cm) Tanah dilubangi atau diceblok Per lubang ditanami 1 biji jagung Ditutup kembali dengan tanah Setelah tanaman jagung berumur 10 sampai 20 hari didangir sekitar tanaman dan dipupuk urea tablet 1 per pohon

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

66

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

-

Jagung berumur 30 – 40 hari tanaman jagung diurug dengan dengan tanah secukupnya.

-

Jagung dipancu bila kelobot (kulit jagung) kelihatan putih mengering Jagung siap dipancu dengan hasil 8 kwintal per 100 ubin. iii. PENANAMAN KACANG TANAH

A. Persiapan Lahan tanah dibuat parit dengan ukuran 2 cangkul sedalam 50-60 cm, sebagai urug lahan (urug bedengan) ukuran bedengan 2,25 m lebar dan panjang sepanjang tegalan disebar pupuk dasar dengan pupuk kandang secukupnya (1 ½ sampai 2 colt) tanah dibiarkan 2 – 3 hari Tanah siap ditanami

B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk Pupuk kandang 1 ½ sampai 2 colt Pupuk Urea = 30 kg Pupuk SP 36 = 20 kg Bibit 26 kg kacang kering standard benih

C. Pemeliharaan Pupuk SP 36 40 kg diaduk dengan urea 15 kg terus disebar atau ditabur secukupnya. Tanah dibuat lubang untuk menanam biji kacang. Diceblok dengan lebar 20 cm dan pajang sepanjang bedengan. Biji kacang ditanam dilubang yang telah tersedia dan diurug kembali Setelah kacang umur 15 – 18 didangir secukupnya untuk tahap I. Kacang umur 22 – 25 hari dipupuk urea 15 kg dengan cara ditebar merata secukupnya. Kacang umur 30 hari didangir tahap II Kacang umur 78 – 83 hari siap dipanen Hasil yang diperoleh 4,5 kwintal/100 ubin.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

67

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

iv. PENANAMAN LOMBOK/CABE A. Persiapan Lahan Lahan pasir pantai diolah seperlunya dengan minimum tillage dan dibuat bedengan dengan lebar 60 cm dan ketinggian 20 cm, sepanjang bedengan. Arah bedengan sebaiknya berganti-ganti arah dapat mengarah timur barat atau utara selatan, hasilnya panennya sama saja. Tidak perlu menggunakan plastik mulsa, karena jika air pasang maka suhu plastik akan meningkat drastis dan menyebabkan tanaman terbakar dan bisa menyebabkan kekeringan permanen. Pemberian pupuk kandang dan ameliorat atau tanah liat agar tanah tidak terlalu sarang. Tanah dibiarkan selama satu minggu untuk siap ditanami cabe.

B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk benih cabe yang diperlukan sebanyak 500 gr per hektar Pupuk untuk tahap I yang diberikan pada saat 10 HST (Hari Setelah tanam) untuk per hektarnya : 200 kg TSP, 100 kg Urea, dan 100 kg KCl. Pupuk untuk tahap II yaitu 20 HST untuk per hektarnya 100 kg TSP, 100 kg Urea, dan 100 kg KCl. Pupuk susulan jika diperlukan untuk pemupukan tahap III per hektarnya yaitu : 50 kg TSP, 50 kg Urea dan 50 kg KCl. Racun HPT (Hama Penyakit Tanaman) yang harus diberikan antara lain Scar untuk jamur atau fungisida dengan warna ada kuningnya. PPC Nuhgro (Gandasil), Konfidor, Renfik

C. Pemeliharaan Tanam cabe sebaiknya dilakukan pada bulan Januari atau Juli dengan berselang-seling antara bawang merah dengan cabe. Tanam dengan jarak tanam 6 x 4 cm Penyiraman tanaman dilakukan sehari dua kali pagi dan sore Pemanenan dilakukan setiap 5 hari sekali dan dapat dipanen kurang lebih 9 kali, baru dilakukan tanam cabe yang baru.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

68

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

v. PENANAMAN BAWANG MERAH A. Persiapan lapangan − Areal lahan atau lokasi dibersihkan dari rumput atau tumbuhan yang tidak berguna atau tumbuhan pengganggu, dan tanah pasir diolah atau dicangkul ringan sambil diratakan. − Pemberian pupuk kandang yang telah matang dengan cara disebar dan dicampurkan dengan ameliorat tanah mineral masing-masing setiap 1000 m2 diberi 2000 kg ( 20 ton/ha). − Pembuatan bedengan dengan ukuran 120 cm x 14 m (atau disesuaikan dengan panjang lahan) untuk ukuran satu ubin dengan pemberian bibit brambang 1 ½ kg. Buatlah parit antar bedengan dengan lebar 40 cm, sambil membuat parit antar bedengan, tanah pasir diletakkan kekanan dan kekiri. Selanjutnya tanah pasir dicangkul ringan dengan tujuan untuk membenamkan pupuk kandang dan tanah yang sudah disebar. Permukaan bedengan diusahakanmerata agar apabila kena air hujan tidak mudah hanyut. B. Penanaman − Siapkan bibit brambang dengan baik yang diambil dari tempat penyimpangan pada gantangan supaya brambang tetap kering udara. Bibit dalam satu rumpun jangan dipisahkan dan biarkan bergerombol sesuai aslinya. − Sebelum ditanam pangkas ujung bibit brambang dengan pisau yang tajam, brambang ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 15 cm dengan mengusahakan setiap bedengan ditancapkan 6 bibit brambang. Bibit

brambang ditimbun dengan tanah seperlunya dimana ujungnya masih nampak di atas tanah. − Apabila tidak ada hujan bedengan disiram terlebih dahulu, sebelum bibit brambang ditanam. Kondisi tanah sebelum tanaman umur 5 hari harus selalu dalam keadaan lembab teurs agar tunas cepat keluar tunasnya. C. Pemeliharaan Tanaman − Pemupukan, (1) Pemupukan I (Pupuk dasar), diberikan sebelum tanam dengan cara menyebar pupuk NPK dicampur dengan tanah dan pasir

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

69

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

dengan alat cangkul atau sebilah bambu. Pupuk dasar per hektar : SP36 = 500 kg, Urea = 100 kg, KCl = 100 kg dan ZA = 100 kg. (2) Pemupukan II (Pupuk pertumbuhan/vegetatif), pupuk NPK 200 kg/ha diberikan 15 HST dengan disebar merata dalam tanah. (3) Pemupukan III (Pupuk produksi/generatif), pupuk NPK 200 kg/ha diberikan 25 HST. − Penyiraman, dilakukan setiap hari dengan cara dibentuk regu penyiraman dan perawatan tanaman dari KT Pasir Makmur. Apabila terjadi hujan maka besuk paginya tetap dilakukan penyiraman dengan tujuan untuk menetralisir suhu yang sangat panas dari penguapan panas bumi, agar tanaman bawang merah tetap sehat. − Penyemprotan HPT (Hama Penyakit Tanaman) 1. Umur kurang 2 HST (Hari Setelah Tanam) untuk pemberantasan gulma atau rumput pengganggu, dengan GOAL 2 E sebanyak 1 ½ tutup untuk 1 tangki air . 2. Umur 15 sampai 25 hari, penyemprotan dilakukan setelah 15 hari untuk interval waktu setiap 5 hari (15, 20 dan 25 hari), dengan : a. PPC = 10 cc (1 tutup racun hpt) b. Larvin = 1 sendok c. Danvil 50 SC = 10 cc (1 tutup) d. Barer = 10 cc (1 tutup) 3. Umur 25 sampai 45 hari a. N-Balancer = 10 cc b. Manzate 200 = 1 sendok makan c. Puanmur 50 SP = 1 sendok sirup d. Larvin+Danvil+Barer+N-Balancer+Manzate+Puanmur, dicampur untuk 1 tangki (12-17 liter). − Pemanenan Pemanenan dapat dilakukan pada saat bawang merah (brambang) umur 55 HST untuk dikonsumsi, jika brambang mau digunakan untuk bibit dipanen setelah umur 60 hari.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

70

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

D. Peningkatan Tingkat Pendapatan Masyarakat a. Kelompok Tani Pasir Makmur Dalam rangka meningkatkan pengalaman para petani KT Pasir Makmur Kebumen diadakan studi banding ke KT Srigading, Samas dengan melihat keberhasilan tanaman tanggul angin, semusim dan peternakan (Gambar 24).

Gambar 24. Studi Banding KT. Pasir Makmur di Lahan Berpasir Bantul Adanya kegiatan rehabilitasi lahan telah membangkitkan kembali kelompok tani yang hampir mati (tidak ada aktivitas anggota). Pada awalnya tingkat kehadiran cukup tinggi, namun setelah ada persoalan intern kelompok tani dan waktu jeda yang berkaitan dengan keproyekan maka tingkat kehadiran rendah. Hal ini disebabkan belum ada kegiatan pada lahan pantai pasir. Tingkat kehadiran anggota kelompok tani cukup rendah sekitar 30—40% dari jumlah anggota kelompok tani. Pada tahun kedua, kondisi tidak berubah. Sosialisasi

dan pengalaman petani yang telah berusahatani di pantai pasir pada tahun pertama didengar pula oleh kelompok tani lain. Apalagi terdapat bantuan teknis dan non teknis yang diberikan oleh BPK Solo. Hal tersebut mendorong

Kelompok Tani Ternak Bhakti Usaha untuk bergabung dengan Kelompok Tani Pasir Makmur. Setelah pengabungan tersebut, tingkat kehadiran anggota

kelompok tani meningkat menjadi 70—80% per pertemuan. Selain itu, dinamika dan aktivitas kelompok makin meningkat. Kelompok tani ternak Bhakti Usaha memberi kekuatan baru bagi kegiatan rehabilitasi lahan pantai. Apalagi dengan
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 71

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

mengintegrasikan tanaman tanggul angin, tanaman semusim, agrowisata, wisata pantai, dan ketersediaan ternak untuk konservasi lahan dan pendapatan maka akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Adanya ternak selain akan meningkatkan pendapatan juga menyediakan bahan untuk rehabilitasi lahan pantai melalui kotorannya. Penggabungan KT Pasir Makmur dengan KTT (Kelompok Tani Ternak) Bhakti Usaha dapat semakin menggairahkan upaya pengelolaan lahan pantai berpasri, hal tersebut karena memang komponen antara ternak, pertanian dan tanggul angin saling mendukung. Gairah bekerja semakin meningkat setelah Kelompok Tani (KT) diajak studi banding ke Samas, Bantul yang sudah mulai maju dalam pertanian di lahan pantai berpasir. Salah satunya dengan upaya mengupayakan KTT Mandiri yang dilakukan KTT di Samas, Bantul (Gambar 25). Kelompok Tani dengan anggotanya sebagai pelaku utama dalam merubah kebiasaan dan tata lingkungan sekitar pantai berpasir. Sehingga dalam merencanakan RLKT pantai berpasir tidak hanya sekedar mengerahkan massa, dana, dan layout rencana tanam, maka semua akan selesai. Permasalahan yang paling utama merubah persepsi pola pikir anggota kelompok tani untuk menyadari bahwa lahan pantai berpasir yang selama ini ditelantarkan dapat dikelola dengan baik.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

72

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 25. Ternak Besar sebagai pemasok Pupuk Kandang bagi Tanaman di pantai Berpasir oleh KT. Mandiri, Srigading, Bantul.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

73

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Peserta yang tergabung dalam anggota kelompok tani hampir merata dibeberapa RT dan RW, yaitu meliputi 7 RT dari 3 RW yang ada (Gambar 26). Oleh karena itu peserta yang menjadi anggota kelompok tani sudah dipilih menjadi anggota kelompok tani adalah orang-orang yang memiliki kemamuan keras untuk menciptakan kondisi nyaman disekitar wisata disamping untuk mengusahakan produksi lahan pantai berpasir. Penyebaran anggota peserta

kelompk tani nantinya memudahkan dalam mensosialisasikan lahan pantai berpasir pada saat pengembangan dalam skala yang lebih luas. Peserta yang paling banyak menjadi anggota kelompok tani yaitu dari Rt 2/ Rw III (38%), sebaliknya yang paling sedikit dari Rt 1/ Rw I dan Rt 3/ Rw II (3%).

KELOMPOK TEMPAT TINGGAL RT/RW
14 12

13

Jumlah Anggota KT

10

8
8

6
6 4 2 0 3/II 2/IIII 2/II 2/I 1/III 1/II 1/I

3 2 1 1

Alamat Tinggal Rt/RW
Gambar 26. Komposisi Tempat Tinggal Anggota Kelompok Tani

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

74

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Komposisi umur anggota kelompok tani mayoritas masih dalam usia produktif yaitu berkisar di atas 30 tahun sebanyak 13 orang (38% ) dan yang berumur di atas 40 tahun sebanyak 9 orang (26%). Keadaan tersebut dalam satu sisi anggota kelompok tani mayoritas sebagai tulang punggung keluarga, namun disisi lain mereka mempunyai kapasitas dan semangat kerja yang tinggi. Kekurangan waktu yang harus dikorbankan dari anggota kelompok tani yang produktif ditutupi dari beberapa anggota kelompok tani yang kurang produktif dan tidak menjadi tulang punggung utama dalam keluarga, yaitu sebanyak 4 orang untuk yang berusia di atas 60 tahun (12%) dan sebanyak 5 orang untuk yang berusia di atas 50 tahun (15%), lihat Gambar 27.

TINGKATAN UMUR KT. PASIR MAKMUR
14 12

13

Jumlah Anggota KT.

10 8 6

9

5 4

4

2
2 0
>60 >50 >40 >30 >20 >10

1

Kelompok Umur Anggota (Tahun)

Gambar 27. Komposisi Kelas Umur Anggota KT. Pasir Makmur

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

75

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Mata pencaharian masyarakat yang tergabung Kelompok Tani (KT) Pasir Makmur sebagian besar petani dan buruh tani dengan mata pencaharian sampingan pedagang dan penderes gula kelapa (lihat Tabel 14). Tabel 14. Anggota Kelompok Tani Pasir Makmur, Karanggadung, Petanahan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 NAMA LENGKAP Samikun Hadi Warsito Mujiono E.Prayim Suparman Saring Tukimin Wiwit Hadiwarno Tukiran Wujiyo Agus Basuki Darso Priyono Yusroni Murgiyanto Wigiyatno Atmo Suwito Sarno Mahmudin Sarwono Sugeng Dawal Parwito S.Puji Prayitno Yasa Wikromo Rusmono Purwadi Marsidi Sacan Sudirdjo Muji Mukson Rokandi Dalwono Agung UMUR PENDK (TH) TRKHR 30 SLTA 48 SD 49 SD 49 SMP 50 SD 40 SD 52 SD 30 SD 64 SD 52 SD 47 SD 35 SLTA 35 SMP 52 SD 32 SMP 30 SD 48 SD 26 SD 33 SD 38 SMA 35 SMP 34 SMP 32 SMP 58 SLTA 65 SD 64 SLTA 30 SMP 45 SD 49 SD 62 SD 45 SD 28 SD 30 SD 19 SLTA JML KEL 5 3 5 2 4 3 3 3 2 4 5 4 4 2 3 4 6 3 4 4 5 3 4 5 4 2 3 4 4 4 4 5 3 MATA PENCAHARIAN UTAMA SAMPINGAN Tani Pedagang Tani Penderes Tani Pedagang PNS Pedagang Tani Pedagang Tani Penderes Tani Penderes Tani Penderes Tani Penderes Tani Penderes Tani Penderes Tani Pedagang Tani Pedagang Tani Pedagang Tani TKW (istri) Tani Penderes Tani Pedagang es Tani Pedagang tahu Tani Pedagang KaDes Tani Penderes Tani Penderes Tani Penderes PNS Tani Tani Tani Tani Tani Tukang kayu Tani Tani Tani Tani Tani RT/ RW 1/III 2/III 2/III 2/III 2/III 2/III 2/III 1/III 1/III 1/III 1/III 2/III 2/III 2/III 2/III 1/II 1/II 1/II 1/II 2/I 2/II 1/III 1/II 2/IIII 2/IIII 2/IIII 1/II 3/II 1/III 1/III 2/I 2/II 2/II 1/I

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

76

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

b. Masyarakat Karanggadung Desa Karanggadung Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah merupakan lokasi kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir. Desa Karanggadung merupakan salah satu dari 3 desa di Kecamatan Petanahan1 yang berada dipinggir Pantai Laut Selatan. Desa Karanggadung terletak 2 km dari Kecamatan Petanahan, 23 Km dari ibukota Kabupaten Kebumen dan 199 dari ibukota Jawa Tengah. Luas Desa Karanggadung adalah 287 Ha dan sebagian besar merupakan lahan kering. Luas penggunaan lahan Desa Karanggadung disajikan pada Gambar 28.

Gambar 28. Penggunaan Lahan di Desa Karang Gadung Kecamatan Petanahan Penduduk Desa Karanggadung berjumlah 2.254 orang dengan perincian 1.179 pria dan 1.075 wanita. Jumlah rumah tangga di desa tersebut sebanyak 561 keluarga dengan 25 keluarga berbatasan dengan pantai. penduduk sebesar 791 jiwa/km2. Kepadatan

Komposisi penduduk berdasarkan jenis

kelamin di Desa Karang Gadung disajikan Gambar 29 berikut:

1 Kecamatan Petanahan memiliki 21 desa, 3 desa yaitu Desa Karanggadung, Karangrejo dan Tegalretno berada di pinggir pantai. Ketiga desa tersebut bertopografi datar dengan ketingian 6,3 di atas permukaan laut.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

77

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 29. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin Desa Karang Gadung Penduduk di Desa Karanggadung terdiri dari penduduk yang berusia produktif dan penduduk berusia tidak produktif. Dilihat dari usia produktif, sebagian besar penduduk di Desa Karanggadung berusia produktif (Gambar 30).

Gambar 30 Komposisi penduduk berdasarkan usia produktif Berdasarkan Gambar di atas, maka terdapat potensi yang besar untuk mengelola lahan pantai berpasir dengan prinsip rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. Usia penduduk yang sebagian besar produktif merupakan potensi tenaga kerja untuk kegiatan rehabilitasi lahan. Matapencaharian penduduk di sekitar lahan pantai akan menentukan keikutsertaan dan antusiasme dalam mengelola lahan. Mata pencaharian penduduk di Desa Karanggadung disajikan Tabel 15.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

78

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 15. Mata pencaharian utama penduduk Desa Karanggadung MATA PENCAHARIAN Buruh petani Petani Pedagang Pengrajin PNS Tukang kayu Tukang batu Guru swasta Penjahit Sopir Karyawan swasta Total JUMLAH (Orang) 1055 1686 32 6 5 65 65 6 4 3 6 2933 PERSENTASE (%) 35.97 57.48 1.09 0.20 0.17 2.22 2.22 0.20 0.14 0.10 0.20 100

Meskipun di Desa Karanggadung tidak terdapat sawah baik teknis maupun semi teknis, namun banyak penduduknya yang bermatapencaharian sebagai petani. Lebih dari 57% penduduk bermatapencaharian sebagai petani di lahan kering. Bagi yang tidak memiliki lahan mereka menjadi buruh tani atau mencari pekerjaan lainnya. Banyaknya penduduk yang mengantungkan

hidupnya dari pertanian merupakan potensi bagi rehabilitasi lahan yang dikaitkan dengan tanam tanaman semusim ataupun tanaman pertanian. Perlu dibuat

sebuah ketergantungan bahwa rehabilitasi lahan sangat penting bagi kehidupan mereka. Sebuah simbiosis mutualisme antara rehabilitasi dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tanpa adanya tanggul angin dan rehabilitasi lahan maka mereka tidak akan mendapatkan tambahan penghasilan dari usahataninya. Tidak ada penduduk di desa tersebut yang bermatapencaharian utama sebagai nelayan meskipun penduduk berada di sekitar pantai. Hal ini disebabkan ombak di Laut Pantai Selatan yang besar sehingga sulit untuk melaut. Dalam merubah pola pikir persepsi masyarakat perlu pendekatan secara individual maupun dalam bentuk kelompok. Pendekatan secara individual

dengan mendekati para TOGA (Tokoh Agama) TOMAS (Tokoh Masyarakat). Sedangkan pendekatan secara kelompok perlu melihat tingkat pendidikan dalam kelompok tani Pasir Makmur. Dari 34 anggota kelompok tani 65% lulusan SD (22 orang), 21% lulusan SMP (7 orang), dan 15% lulusan SMA (5 orang).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

79

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Komposisi perbandingan yang berpendidikan setelah SMA hanya sedikit, maka perlu ada penjelasan secara berulang-ulang pada saat pertemuan kelompok tani, minimal seminggu sekali. Disamping dalam memberikan teori tidak usah terlalu rumit dan detil, tetapi lebih banyak persiapan untuk pelaksanaan lapangan (Gambar 31).
Tingkat pendidikan penduduk Desa Karanggadung
1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Tidak tamat SD Tamat SD SLTP SLTA D1 D2 D3 S1

Jumlah (org)

Pendidikan

Gambar 31. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Karanggadung Tingkat pendidikan seseorang umumnya mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin responsif dan lebih terbuka terhadap inovasi dan wawasan baru. Sebagian besar masyarakat di Desa Karanggadung tidak tamat sekolah dasar dan tamat sekolah dasar. Tingkat pendidikan yang relatif rendah akan membuat penerimaan terhadap informasi yang sulit menjadi relatif membutuhkan waktu lama. Kondisi ini mengimplikasikan bahwa, untuk itu penyampaian informasi dan inovasi harus mempergunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, berulang-ulang serta mengandalkan praktik lapangan. Setiap pagi dan sore hari petani menderes manggar kelapa, rata-rata per orang 10-15 kelapa. Satu kelapa 2 sampai 3 manggar dan setiap manggar dideres selama 1 bulan. Deresan pagi diambil sore hari (12 jam) dan deresan sore diambil pagi hari (12 jam). Deresan pagi dan sore dimasak pada siang hari selama 1 jam dan dicetak sampai keras selama setengah jam dengan setengah batok kelapa. Perolehan hasil deresan rata-rata 5 kg/hari dengan harga lokal Rp 3.500,- dan harga di pasar Rp.5.000,-, sehingga setiap bulan pemasukkan dari
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com 80

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

menderes = 30 hari x 5 kg x Rp.3.500,- = Rp. 525.000,-. Kualitas kelapa deres lebih baik pada musim kemarau dari pada musim penghujan, namun kuantitas menurun pada musim kemarau yaitu hany 2-3 kg/hari sedangkan musim penghujan 3-5 kg/hari. Kelapa yang di deres ada yang milik sendiri, milik oranglain dengan sistem maro, dan milik wisata dengan cara minta ijin dengan Kepala Wisata, dengan biaya sewa per pohon Rp 1500,-. Untuk 20 pohon harus bayar pemilik pohon kelapa sebanyak 20 pohon x Rp 1.500,- = Rp. 30.000,-. Kelapa legen deresan ada yang berwarna hitam coklat yang berasal dari asli kelapa saja, putih untuk campuran pasir gula, dan basah untuk kecap. Kegiatan rutin muslim setiap malam jum’at ada yasinan dari rumah ke rumah secara bergiliran. Setiap yasinan yang hadir 20-30 orang mulai jam 08.30 sampai 11.00 WIB, dipimpin oleh Kyai Barnawi. Khusus malam jum’at kliwon banyak pengunjung yang datang dari luar kota yang datang ke tempat wisata (Punden/Makam) dengan membayar secara sukarela, dengan juru kunci Pak Manten Abdur Rachman. c. Kelembagaan Belum ada kelembagaan yang mapan dalam pengembangan dan rehabilitasi lahan pantai berpasir. Kelembagaan yang ada di Desa Karanggadung merupakan tipikal kelembagaan desa yang ada di Pulau Jawa. Kelompok

yasinan, pengajian dan kelompok informal lainnya cukup berperan dalam mempererat silaturahmi antar warga. Institusi formal desa cenderung mengatasi persoalan administrasi dan yang berkaitan dengan pemerintahan. Tidak ada

kelembagaan yang lahir dari bawah berkaitan dengan pengelolaan dan rehabilitasi lahan pantai. Kondisi tersebut dikarenakan batas juridiksi lahan

pantai berpasir merupakan kewenangan Dinas Pariwisata yang memfokuskan kegiatannya pada pengembangan wisata pantai. Belum ada rencana secara khusus untuk pengembangan lahan pantai berpasir di Kebumen. Pemda baru mengembangkan tanaman kelapa disekitar pantai untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penderesan pohon kelapa untuk dijadikan gula kelapa. Belum ada upaya yang dilakukan

pemerintah daerah untuk mengatasi degradasi lahan pantai berpasir. Rehabilitasi

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

81

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

lahan masih dianggap sebagai cost center yang belum menjadi prioritas dalam program pembangunan. Kelembagaan rehabilitasi lahan pantai berpasir membutuhkan

dukungan peraturan perundangan yang menjadi dasar pengambil keputusan dan aturan main dalam pengembangan dan rehabilitasi lahan pantai. Belum terdapat peraturan daerah yang secara khusus mengatur dalam pengelolaan dan pengembangan lahan pantai berpasir. Rancangan Tata Ruang dan Tata Wilayah hanya menyebutkan bahwa daerah tersebut merupakan lahan pantai yang dapat dikembangkan untuk wisata tanpa memberi penjelasan menyeluruh bagaimana operasionalisasinya. Kepres No 32 tahun 1990 tentang kawasan lindung sempadan pantai yang ditentukan minimal 100 meter dari titik tertinggi pasang-surut kearah daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No 550/246/Kpts/4/1984 dan No 082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan kawasan hutan untuk pengembangan usaha budidaya pertanian dan jalur hijau hutan pantai yang dipertahankan lebarnya sebesar 200 meter. Peraturan perundangan ini belum di tindaklanjuti dengan peraturan dibawahnya. Pengembangan rehabilitasi lahan pantai berpasir akan lambat dilakukan apabila hanya dilakukan oleh masyarakat sekitar pantai secara swadaya. Tingginya biaya pembangunan sarana infrastruktur, cukup tingginya resiko dan ketidakpastian hasil, sehingga perlu ada campur tangan pemerintah. Namun, campur tangan pemerintah yang terlalu dominan akan mematikan aspirasi dan daya juang masyarakat. Sehingga perlu dikembangkan system sharing antara masyarakat dan pemerintah baik berbagi biaya, berbagi peran, berbagi tanggungjawab dan berbagi hasil. Pemerintah daerah (Dinas Kehutanan

Kebumen) cukup responsive terhadap pengembangan lahan pantai berpasir. Hal ini dikarenakan pengambangan lahan pantai berpasir pada dasarnya merupakan permintaan Dinas Kehutanan Kebumen, namun dukungan yang diberikan baru sebatas pendampingan dan pengikutsertaan Penyuluh Kehutanan Lapang. Belum ada dukungan program dan anggaran yang jelas untuk membantu berbagi biaya dalam rehabilitasi lahan pantai.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

82

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

E. Peningkatan Kenyamanan Lingkungan Sekitar Wisata Gairah wisatawan yang berkunjung di pantai Karanggadung, Petanahan Kebumen dari tahun 2006 sampai 2007 mengalami peningkatan. Peningkatan semakin memuncak pada bulan Oktober bersamaan dengan bulan puasa dan hari libur idul fitri yaitu bulan Oktober, tahun 2006 pengunjung 5000 orang dan tahun 2007 meningkat menjadi 11000 orang (Tabel 16). Pengunjung menurun pada bulan Januari 2007 dibandingkan Januari 2006, karena pada saat itu baru saja ada bencana Tsunami sepanjang pantai selatan, termasuk juga di lokasi wisata Karanggadung, Kebumen.

Tabel 16. Kunjungan Obyek Wisata di Karanggadung Tahun 2006 dan 2007 OBYEK Pengunjung WISATA Orang Januari 4000 Februari 500 Maret 1000 April 1300 Mei 1500 Juni 1200 Juli 1100 Agustus 300 September 400 Oktober 5000 November 3000 Desember 1800
KUNJUNGAN WISATA 2006 Harga Pendapatan Tiket-Rp (Rp) KUNJUNGAN WISATA 2007 Pengunjung Harga Pendapatan Orang Tiket-Rp (Rp)

1500 1500 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 3000 4000

6000000 750000 2000000 2600000 3000000 2400000 2200000 600000 800000 10000000 9000000 7200000

2100 700 1000 1400 1300 2800 2750 750 600 11000 700

1500 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 4000 2000

3150000 1400000 2000000 2800000 2600000 5600000 5500000 1500000 1200000 44000000 1400000

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

83

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

a. Kunjungan Wisata Kunjungan wisata tertinggi bulan Oktober dan terendah pada bulan agustus, karena sebagian besar sedang memeriahkan hari kemerdekaan di kampungnya masing-masing (Gambar 32).
12000 Jumlah Wisatawan 10000 8000 6000 4000 2000 0
I JU N T FE B R T KT JU L AG S JA N M R M E AP SP O O N D ES V

2006 2007

Bulan Kunjungan Wisata

Gambar 32. Jumlah Pengunjung Wisata di Obyek Wisata Pantai Karanggadung b. Pendapatan Wisata Pendapatan dari wisatawan tertinggi pada bulan Oktober 2007 (44 juta) dan terendah pada bulan Agustus 2006 (600 ribu), lihat Gambar 33.
45000000 Pendapatan Wisata (Rp.) 40000000 35000000 30000000 25000000 20000000 15000000 10000000 5000000 0
FE B M R T AP R I JU N T KT JU L AG S JA N M E SP O O N D ES V

2006 2007

Bulan Kunjungan Wisata

Gambar 33. Pendapatan Dari Obyek Wisata Tahun 2006 dan 2007

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

84

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

VI. KESIMPULAN Pengembangkan jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia.dapat meningkatkan produksi tanaman semusim dibelakangnya, seperti bawang merah dari 11,2 ton/ha di Kebumen menjadi 20,3 ton/ha di Samas, atau terjadi peningkatan hasil 81,25%. Begitu juga kondisi tanaman cemara laut yang umurnya lebih tua akan rindang dan membuat iklim mikro semakin baik, yaitu menurunkan penguapan evaporasi dan suhu udara, sehingga suasana menjadi sejuk dan ketersediaan air tanah cukup bagi tanaman. Penanaman cemara laut disarankan pada bulan Desember saat lahan sudah lembab karena hujan turun mulai bulan Oktober dan masih ada guyuran hujan selama 3 bulan lagi. Bibit dari biji dengan umur bibit antara 6 sampai 10 bulan dengan diameter batang berkisar 0,5-1 cm. Pengembangkan sarana pengairan berupa sumur bak renteng, telah dilakukan dengan membuat sumber air yang terbuat dari bius beton dan pralon. Penyediaan air sumur renteng untuk tanaman semusim, karena tanaman semusim seperti bawangmerah dan cabe yang ditanam selalu butuh air tambahan baik pada musim hujan (Januari) maupun pada bulan kemarau (Juli). Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai, tanam tanaman budidaya berupa bawang merah dan cabe sangat cocok untuk lahan berpasir, terutama jika fungsi cemara laut sebagai tanaman tanggul angin sudah nyata. Pengaruh cemara laut antara lain dapat menghalangi uap air yang mengandung garam-garaman, mengurangi penguapan evaporasi air, dan mengurangi erosi angin. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat antara lain dari pendapatan tanaman bawang merah dan cabe, serta kunjungan wisatawan. Dengan

berkembangnya tanaman tanggul angin cemara laut pantai berpasir di belakangnya dapat diusahakan untuk budidaya tanaman semusim. Disamping itu peningkatan pendapatan masyarakat juga dapat diperoleh dari banyaknya pengunjung wisata, yaitu dengan kondisi iklim yang teduh dan sejuk akan menciptakan suasana yang nyaman pada lingkungan wisata, para pengunjung dapat tinggal berlama-lama di lokasi wisata. Dengan demikian usaha jualan makanan dan perparkiran serta MCK (Mandi Cuci Kakus) semakin menggairahkan bagi masyarakat.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

85

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata dilakukan dengan membuat suasana sekitar lokasi wisata indah, sejuk dan nyaman sehingga para wisatawan berkunjungnya tidak hanya pada bulan Ramadhan dan hari raya saja, tetapi juga pada hari-hari libur biasa. Selama ini puncak kedatangan pengunjung hanya pada hari-hari besar dan bulan Ramadhan saja.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

86

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR PUSTAKA

Abe, A. 2002. Perencanaan Daerah Partisipatif. Pondok Edukasi. Solo. Bloom, A. L. 1979. Geomorphology: A Systematic Analysis of Late Cenozoic Landforms. Prentice-Hall of India, ND 110001. Departemen Kehutanan. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Ditjen RLPS, Dep. Kehutanan, Jakarta Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan . Jakarta. Hikmat, H. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung. Irfani, R. 2004. Partisipasi Manipulatif : Catatan Refleksi tentang Pendekatan PRA dalam Pembangunan Masyarakat. Kartawinata, K. 1979. The Classification and Utilization of Forests in Indonesia. Dalam Capenter, R. A. (ed). Assessing Tropical Forest Lands: Their Suitability for Sustainable Uses. Tycooly Int. Pub. Ltd., Dublin, Ireland. Karyana, A. 2004. Pembangunan Partisipatoris dalam Pengelolaan DAS. akaryana@yahoo.com Kusumanto, Y. 2002. Sebuah Perjalanan Bersama dalam Pengelolaan Hutan : Konsep, Penelitian Partisipatoris dan Praksis. Langkah. Warta Penelitian Aksi Bersama ACM CIFOR. Bungo-Jambi. Purnomo. Y., Mulyadi. I., Amien dan H. Suwardjo. 1992. Pengaruh Berbagai Bahan Hijau Tanaman Kacang-Kacangan terhadap Produktivitas Tanah Rusak. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk No. 10 : 61 – 64. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Pusat Penyuluhan Kehutanan. 1997. Buku Pintar Penyuluhan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Setiadi, Y dan R. Prematori. 1998. Prospek Pengembangan Cendawan Mikoriza Arbuskula untuk Rehabilitasi Lahan Kritis. Kumpulan Makalah

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

87

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Ekspose Hasil Penelitian Teknik Rehabilitasi dan Reboisasi Lahan Kritis, Wanariset II Kuok, Balai Penelitian Pematang Siantar. Sukresno. 1998. Pemanfaatan Lahan Terlantar di Pantai Berpasir Samas-Bantul DIY dengan Budidaya Semangka. Prosiding. Seminar Nasional dan Pertemuan Tahunan Komisariat Daerah Himpunan Ilmu Tanah Indonesia, HITI Komda Jawa Timur, Malang. Sukresno. 1999a. Model Pemanfaatan Lahan Tidur Berkelanjutan Melalui Pengembangan Beberapa Tanaman Konservasi dan Tanaman Budidaya di Lahan Berpasir Pantai Selatan DIY. Prosiding Seminar Sehari Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional VII: Teknologi Pengembangan Lahan dan Air untuk Peningkatan Produktivitas Pertanian. HATTA dan FOPI, Puspitek Serpong, Serpong. Sukresno. 1999. Kajian Konservasi Tanah dan Air pada Kawasan Pantai Berpasir di DIY, Proyek P2TPDAS KBI, BTPDAS, Badan Litbang Kehutanan, Surakarta. Sukresno, 2000. Kajian Pengembangan Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir dalam Rangka Peningkatan Produksi Tanaman Pangan di Pantai Selatan DIY. Laporan Penelitian BTP-DAS Surakarta. Badan Litbang Kehutanan. Sutikno, S. Padmowiyoto, dan Sukresno. 1998. Model Konservasi Terpadu dan Pemanfaatan Mikorisa sebagai Upaya Pengamanan dan Peningkatan Produktivitas Lahan Berpasir di Wilayah Pantai Selatan DIY. Laporan Riset, Riset Unggulan Terpadu (RUT) III, Bidang Teknologi Perlindungan Lingkungan (1994-1997). Kantor Menristek, DRN, Serpong. Tim UGM. 1992. Rencana Pengembangan Wilayah Pantai Jawa Tengah. F. Geografi UGM Yogyakarta-BRLKT Wilayah V, Ditjen RRL, Dephut, Semarang. Trubus, 2006. Karena Keben Sembuh Katarak. Trubus No.434 Januari, XXXVII. Widjajanto, D. 2003. Degradasi Lahan di Kawasan Taman Nasional Lore-Lindu dan Sekitarnya. rudyct.tripod.com/sem2_023/danang_widjajanto.pdf

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 08122686657, adbsolo@yahoo.com

88

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

KERANGKA LOGIS PENELITIAN Lampiran 1. Kerangka Logis Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir (RPTP 2007) NARASI Tujuan : Untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif Sasaran : 1) Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen di Samas dan pengembangan jalur tanaman TA di Kebumen. 2) Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng 3) Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai. 4) Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat 5) Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata. Output : Tersedianya demplot teknik rehabilitasi lahan terdegradasi lahan pantai berpasir yang tepat guna dan dapat diadopsi oleh masyarakat. Tersedianya : 1. Informasi kondisi tanaman TA dan pembibitan tanaman TA 2. Sarana pengairan air tawar untuk penyiraman tanaman pagi dan sore 3. Informasi model pola tanaman budidaya yang sesuai 4. Informasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat 5. Informasi sarana untuk wisata dan lingkungan secara terpadu 1. Plot-Plot Pengembangan 2. Pengukuran dan Pengamatan lapangan 3. Survey dan evaluasi terhadap masyarakat dan lembaga terkait Kenampakan di lapangan Sumber dana tersedia, ada pertisipasi masyarakat INDIKATOR-INDIKATOR SASARAN CARA VERIFIKASI ASUMSI

Perlakuan pengembangan yang dicobakan berhasil dan sesuai dengan kondisi setempat

1. Tersedianya informasi pertumbuhan 1. tanaman C. equisetifolia sebagai tanaman jalur TA dan informasi efektivitas jalur TA sebagai pengendali erosi pasir . 2. 2. Tersedianya informasi sistem pengairan yang sesuai untuk lahan pantai pasir. 3.

Rehabilitasi lahan melalui perbaikan beberapa sifat tanah dalam waktu yang tidak lama. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam Rehabilitasi lahan dengan

1. Plot-Plot Pengembangan 2. Evaluasi kondisi lapangan

1. Dana dan tenaga tersedia 2. Koordinasi berjalan baik

87

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3. Tersedianya informasi pertumbuhan dan hasil jenis-jenis tanaman semusim yang sesuai untuk lahan pantai berpasir. 4. 4. Tersedianya informasi kondisi sosial budaya masyarakat pantai berpasir 5. Tersedianya analisis finansial model 5. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang dikembangkan pada lahan pantai. 6. Tersedianya informasi kelembagaan, tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah) lahan pantai yang mendukung wisata lingkungan terpadu. Aktivitas : 1.1. Pengembangkan model rehabilitasi lahan 1.2. Pengamatan prosen tumbuh dan pengukuran pertumbuhan tanaman TA 2.1. Penyediaan air tawar untuk perawatan tanaman dengan penyiraman 2.2. Pengumpulan data iklim 3.1. Pengukuran pertumbuhan tanaman kayukayuan dan buah-buahan 3.2. Pengukuran produksi tanaman semusim 4.1. Data primer dan sekunder kondisi sosial ekonomi masyarakat 5.1. Melakukan wawancara, kuisioner, dll 6.2. Pengumpulan data partisipasi masyarakat dalam rahabilitasi lahan 6.3. Pengumpulan data kelembagaan upaya rehabilitasi lahan

tanaman hortikultura bawang merah, cabe, jagung, sorghum,dll. Analisis biaya dan pendapatan usahatani dari perlakuan yang dicoba. Tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat serta kelembagaan dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.

1. Perlakuan Rehabilitasi lahan pantai berpasir 2. Data kecepatan angin & erosi angin 3. Data evapotranspirasi 4. Data suhu tanah 5. Data curah hujan & kadar garam 6. Data pertumbuhan tanaman 7. Data produksi tanaman 8. Analisa biaya dan pendapatan 9. Data tingkat adopsi masyarakat 10. Data partisipasi masyarakat 11. Kelembagaan rehabilitasi lahan

1. Plot Rehabilitasi lahan 2. Pengukuran dan Pengamatan lapangan 3. Survey terhadap masyarakat dan lembaga terkait 4. Diskusi kelompok 5. Temu lapang dengan petani

Data, dana dan tenaga tersedia

88

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

BIODATA BENY HARJADI
Data Diri :
Nama : Ir. Beny Harjadi, MSc. Tempat/Tanggal Lahir: Surakarta, 17 Maret 1961 NIP/Karpeg : 19610317.199002.1.001/ E.896711 b Pangkat/Golongan : Pembina / IV Jabatan : Peneliti Madya

Riwayat Pendidikan : TK : TK Aisyiyah Premulung, Surakarta (1967)
SD : SD Negeri 94 Premulung, Surakarta (1973) SMP : SMP Negeri IX Jegon Pajang, Surakarta (1976) SMA : SMA Muhammadiyah I, Surakarta (1980) S1 : IPB (Institut Pertanian Bogor), Jurusan Tanah/Fak.Pertanian,BOGOR (1987) Kursus LRI (Land Resources Inventory) kerjasama dengan New Zealand selama 9 bulan untuk Inventarisasi Sumber Daya Lahan (1992), INDONESIA-NEW ZEALAND S2 : ENGREF (École Nationale du Génie Rural, des Eaux et des Forêst), Jurusan Penginderaan Jauh Satelit/ Fak.Kehutanan, Montpellier, PERANCIS (1996) PGD : Post Graduate Diplome Penginderaan Jauh, di IIRS (Indian Institute of Remote Sensing) di danai dari CSSTEAP (Centre for Space Science & Technology Education in Asia and The Pasific) Affiliated to the United Nations (UN/PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa), Dehradun – INDIA (2005).

Riwayat Pekerjaan :
1. Staf Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Surakarta (1989). 2. Ajun Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB (Balai Teknologi Pengelolaan DAS – Wilayah Indonesia Bagian Barat), 1998. 3. Peneliti Muda Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB (Balai Teknologi Pengelolaan DAS – Wilayah Indonesia Bagian Barat), 2001. 4. Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BP2TPDAS-IBB (Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS - Indonesia Bagian Barat), 2005. 5. Peneliti Madya Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh pada BPK (Balai Penelitian Kehutanan) Solo, 2006

Riwayat Organisasi :
1. Menwa Mahawarman, Jawa Barat (1980 – 1985) 2. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), (1980 – 1983) 3. Ketua ROHIS BP2TPDAS-IBB, 2 periode (2000-2006)

Penghargaan :
1. Satya Lancana Karya Satya 10 tahun, No. 064/TK/Tahun 2004

Alamat Penulis :
1. Kantor : BPK SOLO, d/a Jl.Ahmad Yani Pabelan, Po.Box.295, Surakarta. Jawa Tengah, Telp/Fax : 0271–716709, 715969. E-mail: bpksolo@indo.net.id 2. Rumah : Perumahan Joho Baru, Jl.Gemak II, Blok T.10, Rt 04/ Rw VIII, Kel.Joho, Sukoharjo, Jawa Tengah. Telp : 0271- 591268. HP : 081.22686657 E-mail : adbsolo@yahoo.com

89

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful