You are on page 1of 15

2.1 PELVIC INFLAMMATORY DISEASE 2.1.

1 Definisi Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi pada traktur reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur penunjang pelvis.1 PID merupakan sebuah spektrum infeksi pada traktus genitalia wanita yang termasuk di dalamnya endometritis, salpingitis, tuba-ovarian abses, dan peritonitis.2 PID biasanya disebabkan oleh kolonisasi mikroorganisme di endoserviks yang bergerak ke atas menuju endometrium dan tuba fallopi. Inflamasi dapat timbul kapan saja dan pada titik manapun di traktus genitalia.3 2.1.2 Epidemiologi dan Faktor Resiko Epidemiologi PID adalah masalah kesehatan yang cukup sering. Sekitar 1 juta kasus PID terjadi di Amerika Serikat dalam setahun dan total biaya yang dikeluarkan melebihi 7 juta dollar per tahun. Lebih dari seperempat kasus PID membutuhkan rawatan inap. PID menyebabkan 0,29 kematian per 1000 wanita usia 15-44 tahun.4 Diperkirakan 100000 wanita menjadi infertil diakibatkan oleh PID.2 WHO mengalami kesulitan dalam menentukan prevalensi PID akibat dari beberapa hal termasuk kurangnya pengenalan penyakit oleh pasien, kesulitan akses untuk merawat pasien, metode subjektif yang digunakan untuk mendiagnosa, dan kurangnya fasilitas diagnosti pada banyak negara berkembang, dan sistem kesehatan masyarakat yang sangat luas.1 Faktor Resiko Terdapat beberapa faktor resiko terjadinya PID, namun yang utama adalah aktivitas seksual. PID yang timbul setelah periode menstruasi pada wanita dengan aktivitas seksual berjumlah sekitar 85%, sedangkan 15% disebabkan karena luka pada mukosa misalnya akbiat AKDR atau kuretase.4

PID sering muncul pada usia 15-19 tahun dan pada wanita yang pertama kali berhubungan seksual. Trachomatis. gonorrhea dan C.4 Peningkatan resiko PID ditemukan pada etnik berkulit putih dan pada golongan sosioekonomik rendah.Resiko juga meningkat berkaitan dengan jumlah pasangan seksual. Secara klinis. tidak menggunakan kontrasepsi. etnik. menstruasi. Pemakaian AKDR meningkatkan resiko PID 2-3 kali lipat pada 4 bulan pertama setelah pemakaian. 2 C.1 Pasien yang digolongkan memiliki resiko tinggi untuk PID adalah wanita berusia dibawah 25 tahun. Wanita dengan lebih dari 10 pasangan seksual cenderung memiliki peningkatan resiko sebesar 3 kali lipat. infeksi bakterial vaginosis.3 N. Gonorrhea dan C.4 Factor resiko lainnya yaitu pemasangan kontrasepsi. trachomatis adalah bakteri intraseluler patogen. Mikroorganisme tersebut termasuk bakteri anaerob seperti prevotella dan peptostreptokokus seperti G. Trachomatis telah diduga menjadi agen etiologi utama PID. dan tinggal di daerah yang tinggi prevalensi penyakit menular seksual.1 2. Mikroorganisme endogen yang ditemukan di vagina juga sering ditemukan pada traktus genitalia wanita dengan PID. vaginalis. Wanita yang tidak berhubungan seksual secara aktif dan telah menjalani sterilisasi tuba.3 Etiologi PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab penyakit menular seksual seperti N. Bakteri tersebut bersama dengan flora vagina menyebar secara asenden dan secara enzimatis merusak barier mukosa serviks. infeksi akibat parasit intraseluler obligat ini bermanifestasi dengan servisitis mukopurulen. memiliki pasangan seksual yang multipel.4 Usia muda juga merupakan salah satu faktor resiko yang disebabkan oleh kurangnya kestabilan hubungan seksual dan mungkin oleh kurangnya imunitas. baik secara tunggal maupun kombinasi. PID juga sering timbul pada wanita yang pertama kali berhubungan seksual. memiliki resiko yang sangat rendah untuk PID.1 .1. dan merokok. namun kemudian resiko kembali menurun. status postmarital dimana resiko meningkat 3 kali dibanding yang tidak menikah.

Bakteri dapat terbawa bersama sperma menuju uterus dan tuba. Streptokokus agalactiae. Pembukaan serviks selama menstruasi dangan aliran menstrual yang retrograd dapat memfasilitasi pergerakan asenden dari mikrooragnisme. Gangguan suasana servikovaginal dapat timbul akibat terapi antibiotik dan penyakit menular seksual yang dapat mengganggu keseimbangan flora endogen. namun efek dari barier ini mungkin berkurang akibat pengaruh perubahan hormonal yang timbul selama ovulasi dan mestruasi. PID mungkin disebabkan juga oleh salpingitis granulomatosa yang disebabkan Mycobakterium tuberkulosis dan Schistosoma. Patogen nongenital lain yang dapat menyebabkan PID yaitu haemophilus influenza dan Haemophilus parainfluenza.4 Patofisiologi PID disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke traktus genital atas dari vagina dan serviks. Penyakit menular seksual yang menyebabkannya mungkin asimptomatik.2 Banyak kasus PID timbul dengan 2 tahap. Yang termasuk diantaranya adalah Gardnerella vaginalis. Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas penyebaran tersebut tidak diketahui. Peptostreptokokus. Tahap pertama melibatkan akuisisi dari vagina atau infeksi servikal. serta ureaplasma genital. namun aktivitas seksual mekanis dan pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh. dan mycoplasma genital. Mukosa serviks menyediakan barier fungsional melawan penyebaran ke atas. Tahap kedua timbul oleh penyebaran asenden langsung mikroorganisme dari vagina dan serviks.2 Actinomices diduga menyebabkan PID yang dipicu oleh penggunaan AKDR. Hubungan seksual juga dapat menyebabkan infeksi asenden akibat dari kontraksi uterus mekanis yang ritmik.2 2. Bakteroides. menyebabkan organisme nonpatogen bertumbuh secara berlebihan dan bergerak ke atas.1.1 .Bakteri fakultatif anaerob dan flora endogen vagina dan perineum juga diduga menjadi agen etiologi potensial untuk PID. Pada negara yang kurang berkembang.

1 Pada traktus bagian atas.1 Micro-organisms originating in the endocervix ascend into the endometrium.1. sehingga menjadi predisposisi terjadi infeksi.2 Usia muda mengalami peningkatan resiko akibat dari peningkatan permeabilitas mucosal serviks. causing pelvic inflammatory disease (endometritis. riwayat pelecehan seksual. pernah PID.2 Kontrasepsi oral justru mengurangi resiko PID yang simptomatik.1 Figure 16. Infeksi tuba awalnya melibatkan mukosa. dan peningkatan perilaku beresiko.3 AKDR telah diduga merupakan predisposisi terjadinya PID dengan memfasilitasi transmisi mikroorganisme ke traktus genitalia atas. punya riwayat penyakit menular seksual sebelumnya. berhubungan seksual usia muda. zona servical ektopi yang lebih besar.salpingitis. jumlah mikroba dan factor host memiliki peranan terhadap derajat inflamasi dan parut yang dihasilkan. tapi inflamasi . proteksi antibody chlamidya yang masih rendah. mungkin dengan meningkatkan viskositas mukosa oral. namun dapat lebih invasive pada uterus yang gravid atau postpartum. Infeksi uterus biasanya terbatas pada endometrium. menurunkan aliran menstrual antegrade dan retrograde.peritonitis).1 Prosedur pembedahan dapat menghancurkan barier servikal. fallopian tubes.Faktor resiko meningkat pada wanita dengan pasangan seksual multipel. dan mengalami tindakan pembedahan. and peritoneum. dan memodifikasi respon imun local.

demam. pyosalping.transmural yang dimediasi komplemen yang bersifat akut dapat timbul cepat dan intensitas terjadinya infeksi lanjutan pun meningkat. Gejala meliputi nyeri perut bawah dan nyeri pelvis yang akut. Gonorhea dan C. trachomatis. tirah baring. Komplikasi berupa hidrosalping. Jika massa tidak mengecil setelah 2-3 minggu terapi antibiotic.4 Penatalaksanaan adalah dengan antimicrobial terapi. dan diberi pengobatan empirik. dan takikardi. Nyeri dapat menjalar ke kaki.1 2. mual.1.4 . Penatalaksanaan awal dengan antibiotik. muntah.4 Abses Tuba Ovarian Abses ini dapat muncul setelah onset salpingitis.5 Jenis .4 Prognosis bergantung pada terapi antimicrobial spectrum luas dan istirahat yang total.4 Diagnosa diferensial yaitu kista ovarium. Infeksi dapat pula meluas oleh tumpahnya materi purulen dari tuba fallopi atau via penyebarana limfatik dalam pelvis menyebabkan peritonitis akut atau perihepatitis akut.Jenis Beberapa jenis inflamasi yang termasuk PID dan sering ditemukan adalah : Salpingitis Mikroorganisme yang tersering menyebabkan salpingitis adalag N. namun lebih sering akibat infeksi adnexa yang berulang. Pasien dapat asimptomatik atau dalam keadaan septic shock. Pasien harus dihospitalisasi. normal. dan periapendiceal abses. Dapat timbul sekresi vagina. Salpingitis timbul pada remaja yang memiliki pasangan seksual multiple dan tidak menggunakan kontrasepsi. Inflamasi dapat meluas ke struktur parametrial.4 Temuan laboratorium yaitu normal leukosit atau leukositosis. neoplasma ovarium. Onset ditemukan 2 minggu setelah menstruasi dengan nyeri pelvis dan abdomen. Leukosit dapat rendah. muntah. dan nyeri kepala. dan infertilitas. termasuk usus. Gejala tambahan berupa mual. atau sangat meningkat. kehamilan ektopik. Seluruh abdomen tegang dan nyeri. merupakan indikasi pembedahan. abses tubaovarian.

olahraga. nyeri pelvik. dan adanya demam. dan konstan. bilateral.1.4 . nyeri pada gerakan serviks. saat ini telah terdapat beberapa variasi gejala dan tanda yang membuat diagnosis PID lebih sulit. dan nyeri tekan adnexa.3 Table 16.1 Nyeri dapat juga dirasakan seperti tertusuk.4 Clinical Criteria for the Diagnosis of Pelvic Inflammatory Disease3 Gejala Tidak penting Tanda Nyeri tekan organ pelvis Leukorrhea dan mucopurulen endoservisitis Kriteria tambahan untuk meningkatkan spesifisitas diagnose Biopsy endometrium yang menunjukkan endometritis Paningkatan C-reactive protein atau erythrocyte sedimentation rate Suhu lebih dari 38°C Leukositosis Test Positif untuk gonorrhea atau chlamydia Criteria rumit Ultrasound menunjukkan tubo-ovarian abscess Laparoscopi menunjukkan konfirmasi salpingitis Penegakan diagnosa dimulai dengan anemnese.1. atau koitus.2.2 Nyeri diperburuk oleh gerakan.1 Nyeri abdomen bagian bawah dijumpai pada 90% kasus dengan kriteria nyeri tumpul.3 beberapa wanita yang mengidap PID bahkan tidak bergejala. Nyeri biasanya berdurasi <7 hari. dimana pasien dapat mengeluhkan gejala yang bervariasi. Namun. Gejala muncul pada saat awal siklus menstruasi atau pada saat akhir menstruasi.6 Diagnosis Secara tradisional. diagnosa PID didasarkan pada trias tanda dan gejala yaitu. terbakar. atau kram.

1 .2 Hitung leukosit mungkin normal.2 Beberapa tanda tambahan adalah : Pemeriksaan Laboratorium • Pada pemeriksaan darah rutin dijumpai jumlah leukosit lebih dari 100.1.2 Urinalisis harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi saluran kemih. meningkat. dan disuria. nyeri pada pergerakan serviks.4 • • • • Peningkatan erythrocyte sediment rate digunakan untuk membantu diagnose namun tetap tidak spesifik.5 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik. Adanya nyeri pada pergerakan serviks menandakan adanya inflamasi peritoneal yang menyebabkan nyeri saat peritoneum teregang pada pergerakan serviks dan menyebabkan tarikan pada adnexa. nyeri tekan uteri.000 pada 50% kasus. demam. nyeri tekan adnexa yang bilateral2 • • Mungkin ditemukan adanya massa adnexa2 Suhu oral lebih dari 38ºC1.1.1. nyeri tekan adnexa. biasanya didapati : • • Nyeri tekan perut bagian bawah1.Sekresi cairan vagina terjadi pada 75% kasus. Demam dengan suhu >38º.1 Pemeriksaan DNA dan kultur gonorrhea dan chlamidya digunakan untuk mengkonfirmasi PID.2 Peningkatan c-reaktif protein. atau menurun. nyeri punggung bawah.2 Nyeri organ pelvis dijumpai pada PID. mual. sekresi cairan vagina.3 PID dapat didiagnosa dengan riwayat nyeri pelvis. dan peningkatan leukosit. dan muntah.2 Pada pemeriksaan pelvis dijumpai : sekresi cairan mukopurulen. tidak spesifik. dan tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan PID.2 gejala tambahan yang lain meliputi perdarahan per vaginam.

dll. rupture apendiks. penebalan ligament uterosakral. salpingitis. cairan mengisi tuba fallopi.2 Penemuan CT scan tidak spesifik pada kasus PID dimana tidak bukati abses. Darah ditemukan pada ruptur kehamilan ektopik.6 Pada pemeriksaan ini PID akut Nampak dengan adanya ketebalan dinding tuba lebih dari 5 mm. kista korpus luteum.5 • CT digunakan untuk mendiagnosa banding PID.4 Criteria minimum pada laparoskopi untuk mendiagnosa PID adalah edema dinding tuba. Namun jika digunakan akan terlihat penebalan. hyperemia permukaan tuba. dan adanya abses atau kumpulan cairan pelvis.1 Endometrial biopsi dapat dilakukan untuk mendiagnosa endometritis secara histopatologis. ooforitis. termasuk ovaroium.1. atau abses uterin. Pus menunjukkan adanya abses tubaovarian. Mengevaluasi cairan di dalam abdomen dilakukan untuk menginterpretasi kerusakan.6 • MRI jarang mengindikasikan PID.1 2.2 Tuba fallopi normal biasanya tidak terlihat pada USG.7 Diagnosa Differensial Beberapa diagnosa banding untuk PID adalah : • tumor adnexa1 . uterus.1. tuba yang berisi cairan dengan atau tanpa cairan pelvis bebas atau kompleks tubaovarian. dan tanda cogwheel. Massa pelvis akibat abses tubaovarian atau kehamilan ektopik dapat terlihat. Penemuan CT pada PID adalah servisitis. dan adanya eksudat pada permukaan tuba dan fimbriae.2 Prosedur Lain Laparoskopi adalah standar baku untuk diagnosis defenitif PID. adanya septa inkomplit dalam tuba. mestruasi retrograde.1.Pemeriksaan Radiologi • Transvaginal ultrasonografi : pemeriksaan ini memperlihatkan adnexa.

1 4.1 3. terutama chlamidya. Mengadakan penapisan terhadap pria perlu dilakukan untuk mencegah penularan kepada wanita.• • • • • • • • appendicitis1 servisitis1 kista ovarium1 torsio ovarium1 aborsi spontan1 infeksi saluran kemih1 kehamilan ektopik1 endometriosis1 2.8 Pencegahan Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1. dan terapi juga dilakukan terhadap pasangannya untuk mencegah penularan kembali. penapisan rutin.2 2. termasuk setia terhadap satub pasangan. serta penanganan yang tepat terhadap infeksi chlamidya berpengaruh besar dalam menurunkan angka PID. menghindari aktivitas seksual yang tidak aman. Semua wanita berusia 25 tahun ke atas harus dilakukan penapisan terhadap chlamidya tanpa memandang faktor resiko. Pencegahan dapat dilakukan dengan mecegah terjadi infeksi yang disebabkan oleh kuman penyebab penyakit menular seksual.2 5. Peningkatan edukasi masyarakat.2 .1. Kontrasepsi oral dikatakan dapat mengurangi resiko PID.1. Adanya program penapisan penyakit menular seksual dapat mencegah terjadinya PID pada wanita. Edukasi hendaknya focus pada metode pencegahan penyakit menular seksual. Pasien yang telah didiagnosa dengan PID atau penyakit menular seksual harus diterapi hingga tuntas. dan menggunakan pengaman secara rutin. diagnosis dini. Wanita usia remaja harus menghindari aktivitas seksual hingga usia 16 tahun atau lebih.2 6.

Grup 1 : minimum kriteria dimana terapi empiris diindikasikan bila tidak ada etiologi yang dapat dijelaskan. atau kompleks tuba-ovarian. namun terdapat indikasi untuk dilakukan hospitalisasi yaitu : • • • • • • • • Diagnosis yang tidak jelas Abses pelvis pada ultrasonografi Kehamilan Gagal merespon dengan perawatan jalan Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap regimen oral Sakit berat atau mual muntah Imunodefisiensi Gagal untuk membaik secara klinis setelah 72 jam terapi rawat jalan . ultrasonografi transvaginal yang memperlihatkan penebalan. tuba yang terisi cairan dengan atau tanpa cairan bebas pada pelvis.1.9 Penatalaksanaan1 CDC memperbaharui panduan untuk diagnosis dan manajemen PID. dan endometrial biopsy yang memperlihatkan endometritis. 3. Grup 2 : kriteria tambahan mengembangkan spesifisitas diagnostic termasuk kriteria berikut : suhu oral >38. peningkatan c-reactif protein. adanya bukti laboratorium infeksi servikalis oleh N.2. peningkatan erythrocyte sedimentation rate. 2. trachomatis. gonorhea atau C. Kriterianya yaitu adanya nyeri tekan uterin atau adnexa dan nyeri saat pergerakan serviks. Panduan CDC terbaru membagi criteria diagnostic menjadi 3 grup : 1. Grup 3 : kriteria spesifik untuk PID didasarkan pada prosedur yang tepat untuk beberapa pasien yaitu konfirmasi laparoskopik. adanya secret mukopurulen dari servical atau vaginal. Kebanyakan pasien diterapi dengan rawatan jalan.3ºC.

antipiretik. Penanganan juga termasuk penanganan simptomatik seperti antiemetic. . Pasien dengan terapi intravena dapat digantika dengan terapi per oral setelah 24 jam perbaikan klinis. Regimen B : berikan cefoxitin 2 gr im dosis tunggal dan proibenecid 1 gr per oral dosis tunggal atau dosis tunggal cephalosporin generasi ketiga tambah dozisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari. lalu mulai doxisiklin 100 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari. Jika terdapat AKDR.Terapi dimulai dengan terapi antibiotik empiris spectrum luas. gunakan metronoidazole atau klindamisin untuk menutupi bakteri anaerob. dan terapi per oral 100 mg doxisiklin dilanjutkan hingga 14 hari. Terapi terbagi menjadi 2 yaitu terapi untuk pasien rawat inap dan rawat jalan. Dan dilanjutkan hingga total 14 hari. Terapi iv dihentikan 24 jam setelah pasien membaik secara klinis. dan terapi cairan. analgesia. Terapi pasien rawatan inap Regimen A : berikan cefoxitin 2 gram iv atau cefotetan 2 gr iv per 12 jam ditambah doxisiklin 100 mg per oral atau iv per 12 jam. Jika terdapat abses tubaovarian. Regimen B : berikan clindamisin 900 mg iv per 8 jam tambah gentamisin 2 mg/kg BB dosis awal iv diikuti dengan dosis lanjutan 1. harus segera dilepas setelah pemberian antibiotic empiris pertama. dengan atau tanpa metronidazole 500 mg 2 kali sehari selama 14 hari. Terapi pasien rawatan jalan Regimen A : berikan ceftriaxone 250 mg im dosis tunggal tambah doxisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari. Lanjutkan regimen ini selama 24 jam setelah pasien pasien membaik secara klinis.5 mg/kg BB per 8 jam.

abses yang tidak respon terhadap pengobatan. dan bilateral salpingooforektomi. Panduan CDC untuk penatalaksanaan PID3 . Penanganan dapat pula berupa salpingoooforektomi. Idealnya.Terapi Pembedahan Pasien yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus dievaluasi ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan. Laparotomi digunakan untuk kegawatdaruratan sepeti rupture abses. pembedahan dilakukan bila infeksi dan inflamasi telah membaik. histerektomi. drainase laparoskopi.

tapi dapat juga sebagai akibat perlengketan atau hidrosalping.2 BAB 3 . termasuk nyeri pelvis kronik.1 2.10 Prognosis Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Penyebab kematian yang utama adalah rupturnya abses tuba-ovarian.1 Kehamilan ektopik 6 kali lebih sering terjadi pada wanita dengan PID. Nyeri ini disangka berhubungan dengan perubahan siklus menstrual.1.29 pasien per 100000 kasus pada wanita usia 15-44 tahun. Terapi pembedahan lebih lanjut dibutuhkan pada 15-20% kasus.1. dan kegagalan implantasi dapat timbul pada 25% pasien. dan timbul pada sekitar 15-30% wanita yang dirawat inap di RS.11 Komplikasi Abses tuba ovarian adalah komplikasi tersering dari PID akut. Gangguan fertilitas adalah masalah terbesar pada wanita dengan riwayat PID. Resiko kehamilan ektopik meningkat pada wanita dengan riwayat PID sebagai akibat kerusakan langsung tuba fallopi. Rerata infertilitas meningkat seiring dengan peningkatan frekuensi infeksi.2 Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan dapat menyebabkan sekuele seperti infertilitas.1. Sekuele yang berkepanjangan.2 Terapi dengan antibiotik memiliki angka kesuksesan sebesar 33-75%. Lebih dari 100000 wanita diperkirakan akan mengalami infertilitas akibat PID. Mortalitas langsung muncul pada 0. kehamilan ektopik. infertilitas. Nyeri pelvis kronik timbul oada 25% pasien dengan riwayat PID.2.

Terapi dimulai dengan terapi antibiotik empiris spectrum luas. dan terapi cairan. Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas penyebaran tersebut tidak diketahui. diagnose PID didasarkan pada trias tanda dan gejala yaitu. PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab penyakit menular seksual seperti N. DAFTAR PUSTAKA . dan adanya demam. tuba fallopi. Gonorrhea dan C. Pasien yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus dievaluasi ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan. dan struktur penunjang pelvis. Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. nyeri pada gerakan serviks. dan nyeri tekan adnexa. termasuk uterus. Trachomatis.KESIMPULAN Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi pada traktur reproduksi bagian atas. Secara tradisional. Laparoskopi adalah standar baku untuk diagnosis defenitif PID. namun aktivitas seksual mekanis dan pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh. antipiretik. PID disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke traktus genital atas dari vagina dan seviks. nyeri pelvic. analgesia. Penanganan juga termasuk penanganan simptomatik seperti antiemetic.

Pelvic Inflammatory Disease. 2009. Berek. Martin L. California : Lippincott William & Wilkins. Reyes. 2001. Pernoll. Shikha. Pelvic Inflammatory Disease dalam Benson & Pernoll’s handbook of Obstetric and Gynecology 10th edition. Iris.com/article/256448-print [diperbaharui tanggal 4 Februari 2010] 2. London : Blackwell Publishing. 6.1. 2010. The Role of Ultrasound in Gynaecology dalam Dewhurst’s Textbook of Obstetric and Gynaecology 7th edition. Pelvic Inflammatory Disease/Tubo-ovarian Abscess. 2007. 2007. Diunduh dari : http://emedicine. Pelvic Inflammatory Disease. 4. 5. Diunduh dari : http://emedicine.com/article/796092-print [diperbaharui tanggal 10 September 2010] 3.com/article/404537print [diperbaharui tanggal 10 Agustus 2009] .medscape. Mudgil. Keith D. Shepherd. Suzanne M. 2010.medscape. Diunduh dari : http://emedicine. Jonathan S. Edmonds.medscape. Pelvic Inflammatory Disease dalam Berek & Novak’s Gynekology 14th Edition. USA : McGrawhill Companies.