BIOREMEDIASI TANAH TERCEMAR DIAZINON SECARA EX SITU DENGAN MENGGUNAKAN KOMPOS LIMBAH MEDIA JAMUR (SPENT MUSHROOM COMPOST

)

JUMBRIAH

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Bioremediasi Tanah Tercemar Diazinon Secara Ex Situ dengan Menggunakan Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost) adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2006

Jumbriah NIM F351030251

ABSTRAK
JUMBRIAH. Bioremediasi Tanah Tercemar Diazinon Secara Ex Situ dengan Menggunakan Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost). Dibimbing oleh NASTITI SISWI INDRASTI, MOH. YANI dan M. AHKAM SUBROTO. Pestisida merupakan senyawa asing (xenobiotik) dan sulit terdegradasi pada kondisi tertentu (rekalsitran) sehingga perlu penanganan yang serius agar tidak membawa dampak negatif bagi lingkungan dan manusia. Salah satu metode yang dapat dilakukan yaitu dengan teknik bioremediasi menggunakan spent mushroom compost (SMC). Tanah dicemari diazinon dengan konsentrasi 500 ppm,1000 ppm, dan 1500 ppm kemudian ditambahkan SMC sebanyak 10%, 20%, dan 30% lalu diinkubasi selama 28 hari. Penurunan konsentrasi diazinon diukur setiap minggu dengan cara mengestraksi sampel dengan etil asetat dan dianalisis dengan spektrofotometer. Pengolahan data menggunakan metoda respon permukaan (RSM). Dari hasil analisis diperoleh pada hari ke-14 titik maksimum penurunan konsentrasi diazinon mencapai 88.1% pada perlakuan kombinasi jumlah kompos 30% dan konsentrasi diazinon 1000 ppm. Pada hari ke-21 penurunan konsentrasi diazinon mencapai 91.8% pada perlakuan kombinasi jumlah kompos 25% dan konsentrasi diazinon 1000 ppm. Pada hari ke-28 penurunan konsentrasi diazinon sebesar 97.5% pada perlakuan kombinasi jumlah kompos 26% dan konsentrasi diazinon 1000 ppm. Proses degradasi diazinon yang efektif dapat dilakukan selama 21 hari dengan penambahan kompos pada tanah sebesar 15-30% pada konsentrasi diazinon 1000 ppm. Beberapa jenis bakteri telah diisolasi dari SMC antara lain Bacillus mycoides, Bacillus cereus, Bacillus brevis, Pseudomonas stutzeri, dan Chromobacterium spp. Bakteri tersebut mampu tumbuh pada media padat yang mengandung diazinon hingga 500 ppm kecuali Bacillus brevis. Kemampuan bakteri mendegradasi diazinon dicirikan dengan pembentukan zona jernih di sekeliling koloni yang ditumbuhkan pada media padat mineral salt peptone yeast (MSPY) yang mengandung diazinon. Bacillus cereus mampu mendegradasi diazinon sampai 1700 ppm.

it is only Bacillus cereus is able to degrade diazinon up to 1700 ppm. Bacillus brevis. 1000 ppm and1500 ppm. with 1000 ppm of diazinon within 21 days incubation. The ability of bacteria to degrade diazinon based on their properties is forming a clear zone around the colony which is growth in solid medium of mineral salt peptone yeast (MSPY). . The diazinon contaminated soil whith the concentration of 500 ppm. Under the direction of NASTITI SISWI INDRASTI. One of the methods which can be utilized is bioremediation technique which is utilizing fresh spent mushroom compost (SMC). that were. it was obatined on the 14th. MOH. Some of bacteria have been isolated from SMC. It was the result from combination of 25% compost and 1000 ppm diazinon. Pesticide is a xenobiotic compound and rexalcytran which should be handled seriously in order to prevent human and environment from those negative effects. The reduction of diazinon concentrate was analyzed every week through extracted sample with etyl acetat and measured by spectrophotometer. Apparently. except Bacillus brevis.8%. result from the treatment of 26% compost and 1000 ppm diazinon. Those bacteria were able to growth in solid medium which contains diazinon up to 500 ppm. 20% and 30%. YANI dan M. On the 21st day the diazinon concentration reduction was 91. Bacillus cereus. the diazinon concentration reduction was 97. Ex Situ Bioremediation of Diazinon Contaminated Soil by Using Spent Mushroom Compost. The data processing was conducted by using respon surface method (RSM). then incubated for 28 days. Based on this analysis. the maximum point of diazinon concentrate reduction was 88% with the treatment of combination of 30% compost and 1000 ppm diazinon. The diazinon degradation process can be effectively ferformed by adding 15-30% compost. was added with SMC of 10%. Bacillus mycoides.5%. AHKAM SUBROTO.ABSTRACT JUMBRIAH. dan Chromobacterium spp. Pseudomonas stutzeri. On 28th day.

dan sebagainya . sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun. microfilm. baik cetak.© Hak cipta milik Jumbriah. fotokopi. tahun 2006 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor.

BIOREMEDIASI TANAH TERCEMAR DIAZINON SECARA EX SITU DENGAN MENGGUNAKAN KOMPOS LIMBAH MEDIA JAMUR (SPENT MUSHROOM COMPOST) JUMBRIAH Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Teknologi Industri Pertanian SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 .

Moh. M.Sc. M. Ahkam S. Ir. Ir. Dr. Tanggal Ujian: 16 Februari 2006 Tanggal Lulus: .Judul Tesis : Bioremediasi Tanah Tercemar Diazinon Secara Ex Situ dengan Menggunakan Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost) : Jumbriah : F351030251 Nama NIM Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Ir. Nastiti Siswi Indrasti Ketua Dr. Syafrida Manuwoto.Sc.APU Anggota Diketahui Ketua Program Studi Teknologi Industri Pertanian Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. M.App. Irawadi Jamaran Prof. Ir.Eng Anggota Dr. M. Yani.

disirami dengan air yang sama. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan tidak bercabang. Kami melebihkan sebahagian tanaman-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan. Ar-Ra’d (13): 13-14) Kupersembahkan buat Ayah dan Ibu yang tercinta Yang telah membesarkan & mendidik Dengan penuh pengorbanan yang tak ternilai . Allah menutupkan malam kepada siang. dan kebun-kebun anggur. (Qs.

Terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga penulis ucapkan kepada Bapak koordinator Proyek Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Melalui Sistem Bioremediasi (RUT: 01.Eng dan Bapak Dr. M. Bapak Dr. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Kepada rekan-rekan di Laboratorium Bioproses IV Bioteknologi LIPI-Cibinong yang banyak membantu selama melakukan penelitian ini penulis ucapkan terima kasih. Ir. Bogor. M. Ahkam Subroto. Terima kasih juga kepada rekan-rekan mahasiswa TIP khususnya angkatan tahun 2003 yang banyak membantu dan memberi dorongan serta motivasi. penulis menyampaikan terima kasih. Amin. MSc selaku koordinator Laboratorium Taksonomi LIPI-Bogor yang banyak membantu dan memberikan bimbingan mengenai identifikasi bakteri. Kepada semua pihak yang telah membantu secara moril maupun materil. Yani. dan masukan selama penulis melakukan penelitian dan penyusunan tesis ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Ibu Atit Kanti. perhatian.App. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang dilaksanakan pada bulan April-Oktober 2005 di Laboratorium Bioproses IV Puslit Biotek-LIPI Cibinong dengan judul: Bioremediasi Tanah Tercemar Diazinon Secara Ex Situ dengan Menggunakan Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost). Ungkapan terima kasih yang tulus dan ikhlas disampaikan kepada ayah dan ibu serta adik-adikku atas segala doa dan kasih sayangnya. arahan.APU selaku anggota komisi pembimbing yang banyak memberi bimbingan. Februari 2006 Penulis . M.Sc.6401) tahun anggaran 2005 atas pendanaan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis sehingga penelitian ini dapat terlaksana. Ir. Moh. Ir..PRAKATA Bismillahirrahmaanirrahim. semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal. Nastiti Siswi Indrasti selaku ketua Komisi Pembimbing.

Sekolan Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Pendidikan sarjana ditempuh di jurusan Teknik Kimia. Lade Tellana dan ibu Hj. Pada tahun 2003. penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan pascasarjana di Program Studi Toknologi Industri Pertanian.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bone pada tanggal 1 September 1968 dari ayah H. Teknik Optimasi Prima (TOP) Consultant-Kendari. Penulis merupakan putri pertama dari empat bersaudara. Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia Makassar dan lulus pada tahun 1994. Penulis bekerja sebagai dosen yayasan di Universitas Lakidende dan karyawan di PT. . Nabang D.

.............2......................................................... 21 3......................... Proses Biodegradasi Diazinon .....................4.... Ruang Lingkup ...... 20 2.........................7.................3........2.. xv 1.......................... TINJAUAN PUSTAKA 2............................................1....................... 24 3.........................5...... Penelitian Tahap I ................................................................................................2.................................. 25 3.....................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............ Tempat dan Waktu Penelitian ..... PENDAHULUAN 1. Desain Penelitian................4....................................................................................................................................................................................... Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost).............6.......... 5 2....... Degradasi Residu Pestisida Diazinon .................... Hipotesis... 4 1......................... Latar Belakang ............1............... METODE PENELITIAN 3........................ Bioremediasi Menggunakan Kompos ............................. 1 1......................... Permasalahan ..... 26 3........................ xiv DAFTAR LAMPIRAN ...............1................... Pengambilan Sampel untuk Perlakuan ...................................................... 25 3........................ 24 3........................................................................ Tujuan Penelitian ..................................................................................... 27 ..3..................... 8 2........................... Analisis Kadar Diazinon ... Alat ............5.........................3.. 24 3.......................... 4 2.................................6............................................................................. Bioremediasi dan Biodegradasi .............................. 25 3............................. Alat dan Bahan ............. 19 2.........5.................... Bahan ................3.......... 4 1....... Pestisida ........ Kompos ........... 24 3.....2........................... xiii DAFTAR GAMBAR ..6.......... 27 3.............4....................................................... 11 2. 2 1........ Diazinon ..... 14 2............................................................1.... Penelitian Tahap II .........................................................................3.............................................4..2... Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ................1................ 25 3...............................1.............2..................

.2......................................... Pembuatan Media NA Adaptasi .............1..................................................2.........2............................ Determinasi dan Identifikasi ... 29 3.................................... Komposting ................7.............. Analisis Degradasi Diazinon dengan KLT ..................................3.............3...........4... 29 3...... 42 4.......2..... 66 SIMPULAN DAN SARAN ......... 58 4...........................7...................5......................7.......1.......................7............. Rancangan Percobaan .......................... Nutrien Agar (NA) .................. Isolasi Mikroba dan Identifikasi ............................................................................... Uji Kemampuan Degradasi Diazinon .....7........... 42 4........7........................ Potato Dextrose Agar (PDA) ..................... 69 DAFTAR PUSTAKA .................................6...............1............ 37 3.....4...................... 28 3......................................................5. 28 3................................... Analisis Diazinon .................. HASIL DAN PEMBAHASAN 4..... 62 4...........3.. Pewarnaan Bakteri ............ Isolasi Mikroba (Bakteri dan Kapang) ........................ 28 3....9............ Analisis Penurunan Konsentrasi Diazinon dengan Spektrofotometer ............7........... Isolasi dan Identifikasi Bakteri dari SMC ........... Analisis Aktivitas Mikroba dengan Fuorescein Diacetate (FDA) Assay ..1.................................... 28 3...7.....7....................... 38 3.... 43 4....................... 75 ....................... 38 3........ 33 3.................... 39 3..... Spektrofotometer UV-VIS .......... 60 4......................................................1........5.......................... Pembuatan Media MSPY ........ Uji Kemampuan Degradasi Diazinon .............................................................................7.5.................1...............1.........8........................... 40 4................ Uji Aktivitas Mikroba .......................2...... 70 LAMPIRAN .............................2..1.............. 31 3...... Pembuatan Media ....1...........

...... 65 11.................................. 62 8........... 40 5...................... Penemuan toksikologi dan evaluasi pada insektisida tertentu ................................................ 66 ................. 52 7............................... 41 6........... 64 10.... Kisaran dan taraf peubah uji pada optimasi bioremediasi ........................... Hasil analisis unsur hara pada sampel (tanah + kompos) ..... 63 9............................................... Hasil analisis unsur hara SMC yang digunakan.DAFTAR TABEL Halaman 1.. Komposisi kompos limbah media jamur ...... Pembentukan zona jernih oleh Bacillus cereus.... Standar kualitas unsur makro kompos berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI-19-7030-2004) ........ Bebarapa data degradasi diazinon ........................ 23 4. 22 3.. Karakteristik kompos limbah media jamur . 10 2.............................................. Jumlah populasi................................................................ aktivitas mikroba dan degradasi diazinon ..................................................... Matriks satuan percobaan ...........

................ 49 11............... 57 17........... Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-28 ........... 56 16.............................................. 51 13... 37 5................................... 48 10...................................... Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-7 .............................................................. 53 15.............. Diagram tahapan penelitian ............................................................................................. Kromatogram hasil KLT .............DAFTAR GAMBAR Halaman 1.. 45 8............ Produk-produk degradasi diazinon ............. Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-14 ................................... Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-21 ....... 42 6.............................. 17 3...... Rumus bangun diazinon ... Kurva jumlah populasi dan aktivitas mikroba ............................................. 9 2.................................................. Grafik interaksi ratio kompos dengan waktu terhadap aktivitas mikroba ... Tahapan isolasi dan identifikasi bakteri ............................ Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-21 ............. Pertumbuhan bakteri pada media NA padat 100 ppm diazinon ............ 44 7.... 58 18.... Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-14 ..... Bentuk bakteri hasil identifikasi . 59 19.................. 47 9....... 52 14......................... 26 4.................................... Grafik interaksi tiga faktor terhadap hasil degradasi diazinon. 60 ............................... Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-7 ..... 50 12........................ Probabilitas normal hasil degradasi diazinon dengan tiga faktor ............ Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-28 ...

........... Deskripsi hasil identifikasi bakteri .................... 81 6......................................................... 82 7................................... 80 5..... 87 . Hasil analisis degradasi diazinon kombinasi waktu........... Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-7 ........................................ Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-28 ........................................ rasio kompos...... Analisis aktivitas mikroba dan kurva standar ...... Data pengamatan analisis diazinon dan kurva standar ...........................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-21 .......... 79 4........................ 76 2.................. 83 8.... 78 3......................................... Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-14 ................ dan konsentrasi diazinon .........................................

makanan dan air minum. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan . Dalam proses adaptasi tersebut terjadi sintesis enzim dan plasmid yang dibutuhkan untuk mendegradasi senyawa rekalsitran (Gumbira-Said dan Fauzi. PENDAHULUAN 1.co. dan udara (www. Dampak negatif lain yang ditimbulkan adalah masalah keracunan yang terjadi lebih dari 400 ribu kasus pertahun. karena tidak memiliki enzim yang dibutuhkan untuk mendegradasi senyawa-senyawa rekalsitran ataupun bahan pencemar tersebut. Hal ini disebabkan mikroorganisme perombak tidak pernah berhubungan dengan senyawa tersebut sehingga mikroorganisme perombak belum berpengalaman dalam perombakan senyawa-senyawa yang belum dikenal sebelumnya. tetapi juga berbahaya bagi kesehatan manusia. mengembangkan teknologi mikroorganisme efektif. 1996). pencemaran lingkungan yang mencakup kontaminasi terhadap tanah. Latar Belakang Pestisida sering juga disebut obat-obatan antiparasit atau bahan fitofarmasi yang mempunyai peranan penting dalam usaha peningkatan produksi pertanian. biokimia dan fisika.1.1. air permukaan. Permasalahan dalam pendegradasian pestisida adalah adanya senyawasenyawa pestisida yang kuat menetap di lingkungan dan sulit terdegradasi (rekalsitran) oleh mikroorganisme. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan pola pengendalian hama terpadu.tempo. biji-bijian. tanah ataupun terbawa dalam perairan. melalui pernapasan. Namun di sisi lain akan menimbulkan dampak negatif karena adanya sejumlah residu pestisida yang tertinggal pada tanaman. Melalui proses kimia. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengurangi dan memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida pada sektor pertanian di satu sisi akan memberi hal yang positif yaitu dapat meningkatkan produksi tanaman. maka lambat laun mikroorganismemikroorganisme tersebut dapat beradaptasi dan melakukan perombakan. Residu pestisida yang tertinggal tidak hanya berbahaya bagi lingkungan. Secara langsung ataupun tidak langsung sejumlah bahan kimia tersebut dapat mencapai manusia. dan menggunakan pestisida yang berasal dari tanaman atau pestisida nabati.id/medika). air tanah.

produk-produk minyak. pelarut. Permasalahan Residu pestisida merupakan salah satu limbah kimia berbahaya dan beracun yang bersifat persisten (sulit terdegradasi pada kondisi tertentu) di alam. 1. logam berat. sehingga akan membantu dalam pertumbuhan tanaman (CPIS 1992). Kompos merupakan salah satu pupuk organik yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan pupuk sintetis. namun peristiwa degradasi yang terjadi sangat lambat karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung. pestisida. bahan-bahan kimia pengawet kayu. Penggunaan kompos dalam proses bioremediasi efektif dalam mendegradasi banyak jenis kontaminan seperti hidrokarbon terklorinasi dan tak terklorinasi. Salah satunya yakni dengan berkembangnya teknik bioremediasi baik secara in situ maupun secara ex situ. Fenomena yang perlu mendapatkan perhatian dalam mengoptimalisasikan aktivitas mikroorganisme untuk bioremediasi adalah interaksi antara beberapa . Pemakaian kompos akan menambah kemampuan tanah dalam menyimpan air dan menyerap pupuk. karena selain dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah. EPA 1999. 1999. 1998). Secara alamiah lingkungan tercemar tersebut mengandung aneka ragam mikroorganisme (mikroba indigenous). memulihkan dan meningkatkan kesuburan tanah. Akan tetapi bukan berarti tidak dapat terdegradasi sama sekali. Teknik bioremediasi ini banyak diminati karena lebih praktis dan ekonomis dibanding dengan teknik bioremediasi lainnya (US-EPA. Di negara-negara barat saat ini telah dikembangkan teknik bioremediasi dengan menggunakan kompos (compost bioremediation).2. kompos juga mempunyai kandungan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman serta merupakan absorban yang sangat baik untuk senyawa-senyawa organik dan anorganik.teknologi saat ini telah banyak teknologi alternatif untuk mengatasi dan memperbaiki kondisi lingkungan yang telah terkena polutan. Baker & Bryson 2002 ). 1997. Gray et al. Mikroorganisme tersebut diperlukan dalam penanganan limbah atau polutan sebagai pendegradasi dan untuk menguraikan bahan organik menjadi bahan yang lebih sederhana. bahan peledak dan senyawa-senyawa senobiotik lainnya (EPA 1997.

sehingga mikroorganisme akan terbiasa dengan lingkungan yang mengandung pestisida. Hingga saat ini usaha untuk penanganan pencemaran pestisida khususnya diazinon baru dilakukan secara konvensional ataupun dengan teknik bioremediasi secara in situ maupun secara ex situ. Penelitian selanjutnya yang . hasilnya cepat diketahui dan sifat persistensinya rendah. fenitrition. Diazinon adalah salah satu jenis pestisida golongan organofosfat yang banyak digunakan oleh petani untuk mengendalikan dan memberantas hama tanaman padi. jagung dan tanaman hortikultura lainnya. Mikroorganisme tersebut terlebih dahulu harus diadaptasikan dengan lingkungan yang terdapat pestisida agar secara genetik plasmid di dalam sel mikroorganisme akan mengeluarkan enzim untuk melawan pestisida. mampu mendegradasi organofosfat isoxathion melalui reaksi hidrolisis menjadi 3-hidroksi-5-fenilisoxazol dan asam dietiltiofosforik.galur mikroorganisme di lingkungan. tembakau. dan malation dengan menjadikannya sebagai sumber karbon dan atau sumber fosfor. tebu. Bila hal ini tidak mendapat perhatian secepatnya maka akan menimbulkan dampak yang semakin buruk dan merusak lingkungan maupun kesehatan manusia karena hal ini sangat berpotensi untuk masuk ke dalam rantai makanan. paration. Salah satu cemaran yang perlu mendapatkan penanganan yang serius saat ini adalah cemaran pestisida jenis diazinon. Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suherman (2000) telah dapat diisolasi mikroba indigenous galur B3 yang dapat mendegradasi diazinon. fenitrotion. khlorphyrifos dan ethoprofos. Arthrobacter sp. paration. karena diazinon mempunyai sifat pestisida dengan spektrum yang luas. Chen dan Mulchandani (1998) dalam penelitiannya menemukan bahwa Pseudomonas putida dapat mendegradasi pestisida golongan organofosfat seperti diazinon. sehingga dapat membahayakan bagi kesehatan manusia. Menurut Ohshiro et al. Isolat tersebut menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan diazinon sampai konsentrasi 1000 ppm dalam media agar. (1996). juga dapat menghidrolisis diazinon. isofenfos. Isolat galur B3 yang di peroleh belum murni dan hanya diidentifikasi secara visual dari bentuk penampakan koloninya yang masih merupakan campuran koloni-koloni bakteri. Namun hal ini belum berhasil dengan baik yang disebabkan oleh faktor teknis dan faktor ekonomi.

Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah (1) Untuk memberikan alternatif penggunaan kompos dalam bidang pengolahan tanah/lahan yang tercemar pestisida.3. Hipotesis 1. Isolasi dan identifikasi bakteri dari SMC yang diduga dapat mendegradasi diazinon. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menentukan jumlah pencampuran kompos yang terbaik untuk mendegradasi diazinon dalam tanah. Bioremediasi untuk menentukan pengaruh jumlah kompos. (3) Mengetahui kemampuan bakteri yang terdapat pada SMC dalam mendegradasi diazinon. konsentrasi diazinon dan waktu inkubasi. (2) Memberi informasi bagi masyarakat tentang cara mengeliminasi pencemaran pestisida dalam tanah.dilakukan oleh Ningsih (2001) menunjukkan bahwa isolat B3 mampu hidup dalam lingkungan yang mengandung diazinon dengan konsentrasi 200 ppm. Penentuan kondisi terbaik untuk proses bioremediasi tanah tercemar diazinon 3. . dan waktu serta interaksinya berpengaruh terhadap tingkat degradasi diazinon pada teknik bioremediasi secara ex situ (pengomposan) 2. Degradasi diazinon oleh isolat B3 menghasilkan suatu senyawa namun senyawa tersebut belum dapat diidentifikasi secara jelas.5. Jumlah kompos. konsentrasi diazinon. Pada biodegradasi diazinon dengan menggunakan kompos (compost bioremediation) diazinon. Ruang Lingkup Penelitian 1. 1. 2. 1. terdapat konsorsium bakteri yang dapat mendegradasi 1.4. (2) Memperoleh galur bakteri dari kompos limbah jamur tiram (spent mushroom compost /SMC) yang mampu mendegradasi diazinon.

tanah dan air. Pestisida merupakan pilihan utama yang sering digunakan untuk melindungi tanaman dari hama serta memberantas organisma pengganggu pada budidaya suatu tanaman sebab pestisida mempunyai daya bunuh yang tinggi.2. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman. bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian 2. Namun bila aplikasinya kurang bijaksana dapat membawa dampak negatif pada pengguna. Memberantas atau mencegah hama luar pada hewan piaraan dan ternak 5. maupun terhadap lingkungan. 7 tahun 1973. Pestisida adalah semua zat yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan hama. Memberantas rerumputan 3.1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman. masalah yang utama bagi kesehatan manusia adalah adanya residu pestisida dalam makanan karena hal ini dapat melibatkan sejumlah besar orang selama jangka waktu yang panjang. bangunan dan alat-alat pengangkutan 8. penggunaannya mudah. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah. Oleh karena itu efektivitas dengan . Memberantas atau mencegah hama-hama air 6. tidak termasuk pupuk 7. Pestisida Pestisida berasal dari bahasa latin yaitu pestis (hama) dan caedo (pembunuh). dan hasilnya cepat diketahui. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan 4. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada menusia atau binatang yang perlu dilindungi penggunaan pada tanaman. hama sasaran. pestisida adalah semua zat kimia dan bahan-bahan lain serta jasad-jasad renik dari virus yang digunakan untuk: 1. TINJAUAN PUSTAKA 2. dapat diterjemahkan menjadi racun untuk mengendalikan jasad pengganggu atau yang biasa juga disebut organisma pengganggu tanaman (OPT).

fungisida untuk membasmi jamur. Penggunaan pestisida dalam jumlah yang sangat kecilpun dapat menimbulkan permasalahan apalagi dalam jangka waktu yang sangat panjang. organofosfat. karbamat serta pestisida lain yang mengandung substansi organik. sebagian besar jenis pestisida termasuk senyawa-senyawa hidrokarbon siklik berklor. Permasalahan tersebut dapat terjadi karena potensi racun (toksisitas) kimia. sifat keawetan di alam maupun substrat. tetapi dalam bidang dan kegiatan lainpun memerlukan pestisida untuk mengatasi permasalahannya. bakterisida untuk membasmi bakteri dan nematisida untuk membasmi cacing. Pestisida tidak hanya dibutuhkan dalam bidang pertanian saja. (Tarumengkeng 1992). moluskisida untuk membasmi siput. Berdasarkan jenis hama dan sasarannya. Penggunaan lain yaitu dalam bidang perikanan dan peternakan. Misalnya penggunaan dalam bidang kesehatan masyarakat. air dan mahluk hidup lainnya . aromatik berklor. pestisida digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit demi kesehatan manusia dan lingkungannya yakni terdapatnya jenis-jenis penyakit yang dapat disebarkan oleh hewan-hewan perantara yang merupakan potensi bahaya bagi manusia. variasi pemakaian dan penyiapan yang tidak sesuai serta adanya kecenderungan untuk biomagnifikasi. ester.penggunaan pestisida hanya berdasarkan sifat-sifat racunnya dan direkomendasikan dalam dosis yang tepat pada batas yang aman (safety margins). sehingga perlu dilakukan pengendalian ataupun pemberantasan populasi agar dapat mengurangi menyebaran penyakit. alkil halida pendek (fumigan) dan fosfat organik (Ekha 1991. ataupun untuk melindungi ternak dari beberapa penyakit hewan yang disebabkan oleh serangga dan hewan lain misalnya cacing. pestisida dibagi atas empat golongan yaitu organoklorin. Sedang berdasar jenis bahan kimia penyusunnya. rodentisida untuk membasmi tikus. Tarumengkeng 1992). pestisida terdiri atas beberapa kelompok yakni insektisida untuk membasmi serangga. Usaha yang telah dilakukan untuk memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida adalah menerapkan pola pengendalian Akumulasi pestisida karena adanya absorpsi oleh alam melalui tanah. pestisida ini digunakan untuk melindungi dan mengawetkan ikan. herbisida untuk membasmi gulma.

disulfoton (4 minggu). (2) karakteristik fisiologis berbagai spesies (misalnya perilaku makan. Kontribusi pemerintah dalam usaha ini adalah memberikan izin penggunaan pada jenis pestisida yang mempunyai spektrum sempit serta mencabut subsidi pestisida agar harga pestisida menjadi mahal. Dengan demikian peningkatan produksi pertanian masih tergantung pada penggunaan pestisida. akan lebih mudah hilang setelah adanya fase tenggang permulaan tetapi pemakaian senyawa kimia yang sama secara periodik akan menyebabkan terakumulasinya bahan yang digunakan tergantung keawetan pestisida tersebut. Misalnya keawetan insektisida golongan organofosfat yang sangat beracun dalam tanah sangat rendah yaitu tidak akan tahan lebih dari tiga bulan seperti diazinon (3 bulan). Namun kenyataannya para petanipun masih menggunakan pestisida dalam jumlah yang cukup banyak. bahan organik. Pemakaian pestisida dalam jumlah yang sedikitpun namun secara terus menerus akan menyebabkan penimbunan residu dalam tanah dan menyebabkan meningkatnya penyerapan senyawa kimia tersebut oleh tanaman sehingga membahayakan bagi ternak dan manusia ataupun lingkungan. misalnya Klordan (5 tahun). kelarutan dalam air). forat (2 minggu). Apabila pestisida tersebut digunakan pada tanah yang baru diusahakan. pH. jalur pengambilan. volatilisasi. dan habitat). mengembangkan teknologi mikroorganisme efektif. . DDT (4 tahun). karena dengan menggunakan pestisida produksi pertanian mereka akan meningkat. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan dan penyerapan pestisida dalam sistem biologis dikaitkan dengan antara lain (1) sifat fisik dan kimia inheren dan pestisida (misalnya. malation dan paration (sampai 2 minggu).hama terpadu. Sebaliknya beberapa insektisida hidrokarbon terklorinasi dapat tetap bertahan sampai waktu yang lama (4-5) tahun. BHC (3 tahun) heptaklor epoksida dan dieldrin (1-3 tahun) (Rao 1994). suhu. struktur jaring makanan). dan menggunakan pestisida yang berasal dari tanaman atau pestisida nabati. (3) sifat spesifik ekosistem (misalnya jenis sistem aliran. Keawetan pestisida dengan pemakaian normal dalam tanah sangat bervariasi tergantung pada struktur dan sifat senyawanya. Lenyapnya suatu pestisida tergantung pada konsentrasi awal senyawa kimianya di dalam tanah.

fotodekomposisi dan erosi tanah oleh air dan angin juga ikut menyumbang hilangnya pestisida dalam tanah. cenderung mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi karena mampu bertahan tersimpan lama dalam lemak tubuh. organoklorin. fungisida ditiokarbamat. Diazinon Diazinon merupakan salah satu pestisida yang termasuk golongan organofosfat dari grup fosforotioat/fosforotionat (Chambers 1992). tebu. 2. tremor dan kejang-kejang. Street 1981 dalam Lu 1995). lalat. metilparation. Diazinon merupakan insektisida yang sangat efektif digunakan untuk memberantas dan membasmi. parakuat. iritabilitas. dan mengurangi pusat germinal pada limpa. DDT. (2) bertindak sebagai sistem penyangga. wereng. Diazinon mempunyai nama kimia O. terganggunya keseimbangan. Sedangkan golongan Organofosfat (OP) dan Karbamat tidak bersifat karsinogenik tetapi dapat menghambat asetilkolinesterase sehingga mengganggu sistem saraf yang dapat menyebabkan kelumpuhan. mengganggu fagositosida leukosit. Namun proses pengangkutan paling menonjol yang berhubungan dengan tanah dan sedimen adalah penyerapan (adsorpsi) dan pencucian (Connel 1995).2. dan herbisida mengubah berbagai fungsi imun. karbaril. Beberapa organofosfat. dan sebagainya. dan kelenjar limpa (Koller 1979. serta dapat merangsang sistem saraf dan menyebabkan parestesia. jagung. ataupun mengendalikan hama-hama tanaman seperti kutu daun. karbamat. Diazinon umumnya digunakan pada tanaman buah. Tanah dan sedimen juga sangat berperanan penting dalam pengangkutan dan penghilangan pencemaran di lingkungan dengan (1) menyediakan permukaan penyerapan. misalnya malation. Toksisitas pestisida tergantung pada golongan pestisida itu sendiri misalnya insektisida organoklorin (OC) bersifat karsinogenik. padi. peka terhadap perangsangan. dan dikuat telah terbukti dapat menekan pembentukan antibodi. Kandungan . dan (3) sebagai pencuci pencemar. kumbang penggerek padi. dan tembakau serta tanaman hortikultura.O-diethyl-O(2-isoprophyl-4-methyl-6pyrimidinyl)-phosphorithioate dengan rumus empiris C12H21N2O3PS.

Walaupun masih sulit untuk menentukan dosis yang masih dapat diterima oleh manusia. Kelarutan dalam air 0. dan toluena. P 10. stabil pada lingkungan alkali tetapi secara perlahan-lahan dapat terhidrolisis dalam air dan asam lemah tetapi dapat terhidrolisis dengan cepat dalam lingkungan yang asam (Hayes dan Laws 1991). Diazinon 60 EC. sedang diazinon teknis berwarna kecoklatan dan berbentuk cairan.35 g/mol.4 x 10-4 mmHg pada suhu 20oC. Diazinon murni tidak berwarna dan berbentuk cairan. Toksisitas akut secara oral adalah Lethal Dosis (LD50) pada tikus berkisar antara 66-600mg/kg. namun FAO/WHO telah menetapkan batas . 1996). dan tekanan uap sebesar 1. (McEwen dan Stephenson 1979).C 47. Diazinon mempunyai bobot molekul 304. petrolium eter. titik didih antara 83 – 84oC pada 258 mPa. Agrostar 600 EC.6 mg/m3 pada 40oC (Marck Index.4-8 μg/ml (Sumner et al.004% pada suhu 20oC.4 mg/m3 pada 20oC dan 17. Gambar 1 Rumus bangun diazinon Diazinon dikenal dengan beberapa nama formulasi (dagang) antara lain: Basudin. Spectracide. Nucidol. Diazinon mempunyai waktu paruh (waktu tinggal) 30 hari (Wauchope et al. 1992 dalam Leland 1998). H 6.20%. N 9. dietil eter. Diazinon 10 G. O 15. mudah terurai di atas suhu 100oC. Diazinon lebih toksik pada burung dan ikan yaitu LD50 pada beberapa spesies burung 3-40 mg/kg dan pada beberapa spesies ikan LD50 0.54%.77%. aseton. sikloheksana. larut dalam pelarut organik seperti alkohol. Gardentox. 1985 dalam Leland 1998). volatilitas 2. Diazinon mempunyai spektrum daya bunuh yang luas terhadap serangga dan berbagai cacing tanah. Sidazinon 600 EC. Dazzel. Sensitif terhadap oksidasi dan suhu tinggi. Knox Out. diklorometana.36%. benzen.95%.18% dan S 10. dan Prozinon 600 EC. Kayazal. dan rumus bangunnya seperti terlihat pada Gambar 1.

02 0.01 0.4 0.025 0 0.1 0.0625 1.06 ADI (mg/kg) 0.1 630 2.75 1375 5 0.025 0.8 0.1 0.25 Metoksiklor 6000 10 Sumber: Lu (1995).01 0.02 0.05 0.375 0.25 Endrin 18 0.05 0.25 50 0.02 0.ambang aman (no observed effect level/NOEL) kadar diazinon dalam makanan adalah 0.005 0.005 0.05 Aldrin/dieldrin 40 0.002 0.001 0. Beberapa penemuan toksikologi dan evaluasi pada beberapa jenis insektisida seperti ditunjukkan pada Tabel 1.05 Heptaklor 100 0.125 15 0.0015 0.1 0.2 6. - . Tabel 1 Penemuan toksikologi dan evaluasi pada insektisida tertentu Pestisida Azinfosmetil Klorfenvinfos Diazinon Diklorvos Dimetoat Disulfoton Malation Mevinfos Paration Paration-metil Triklorfon Aldikarb Karbaril Propoksur LD50 NOEL (mg/kg) mg/kg Tikus Anjing Manusia 13 0.004 0.1 DDT 113 0.02 80 0.001 0.014 13 0.02 mg/kg.02 0.025 0.5 0.25 Lindan 88 1.6 0.2 6.002 0.075 0. sedang asupan harian yang dapat diterima (Acceptable Daily Intake/ADI) adalah 0.5 1.125 850 10 83 12.033 215 0.001 0.025 Klordan 335 0.25 0.05 108 0.05 14 0.125 0.02 0.025 0.01 0.002 0.0005 0.0002 0.0025 0.005 0.002 mg/kg/hari (Gallo & Lawryk 1991.8 0. Lu 1995).

Di bawah kondisi tertentu diazinon dapat membentuk senyawa yang berbahaya khususnya jika pelarut hidrokarbon terkontaminasi oleh sejumlah kecil air (0.1-2.0%) dan terkena udara, suhu, dan intensitas cahaya yang tinggi. Pada kondisi ini akan membentuk formasi monothiotepp (O,S-TEPP) dan Sulfotepp (S,S-TEPP). Senyawa-senyawa ini memiliki toksisitas yang tinggi dan mempunyai pengaruh yang kuat sebagai inhibitor pada sistem enzim kolinesterase (Allender dan Britt 1994). Diazinon mempunyai gugus organofosfat yang terikat dengan gugus nitrogen heterosiklik melalui ikatan ester, yang bersifat aromatik dan efektif mempengaruhi sistem saraf dimana diazinon akan menghambat asetilkolinesterase (AChE) sehingga terjadi akumulasi asetilkolin (ACh) dan tidak dapat berfungsi lagi sebagai neurotransmitter, kemudian akan mengakibatkan kontraksi otot yang diikuti dengan kelemahan, hilangnya refleksi (kelumpuhan) dan paralisis jaringan (Lu 1995; EPA 1999). Selanjutnya saraf tidak dapat berfungsi sebagai pengatur atau pusat koordinasi pergerakan tubuh, dimana koordinasi pergerakan tubuh yang tidak teratur dapat mengakibatkan kematian . 2.3. Bioremediasi dan Biodegradasi Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik secara biologis dalam kondisi terkendali, umumnya melibatkan mikroorganisme (khamir, fungi, dan bakteri). Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan biodegradasi adalah dengan cara: (1) Menggunakan mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik), (2) Memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi dan aerasi (biostimulasi), (3) Penambahan mikroorganisme (bioaugmentasi), (www.ipard.com). Menurut Yani et al. (2003) bioremediasi merupakan bagian dari bioteknologi lingkungan yang memanfaatkan proses alami biodegradasi dengan menggunakan aktivitas mikroba yang dapat memulihkan lahan tanah, air dan sedimen dari kontaminasi terutama senyawa organik. Citroreksoko (1996) menerangkan bahwa bioremediasi merupakan proses degradasi bahan organik berbahaya secara biologi menjadi senyawa lain misalnya CO2, metan, air, garam

anorganik, biomassa dan hasil samping yang sedikit lebih sederhana dari senyawa semula. Sedang menurut Gumbira-Said dan Fauzi (1996) bioremediasi merupakan proses penyehatan (remediasi) secara biologis terhadap komponen tanah dan air yang telah tercemar oleh kegiatan manusia. Bahan pencemar tersebut biasanya merupakan senyawa xenobiotik (asing di alam) misalnya residu pestisida, deterjen, limbah eksplorasi dari pengolahan minyak bumi dan residu amunisi. Senyawa-senyawa tersebut bersifat rekalsitran (sulit terdegradasi) sehingga senyawa tersebut memiliki ketahanan yang tinggi di alam. Lebih lanjut Subroto (1996) menerangkan bahwa bioremediasi merupakan proses dekontaminasi yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih murah dibanding dengan metode penanganan limbah lain yang telah ada. Beberapa dekade terakhir, teknik bioremediasi adalah merupakan salah satu cara penanganan secara cepat dalam pengolahan limbah dalam suatu industri, karena teknik bioremediasi merupakan suatu metode yang efektif dan ekonomis sebagai suatu alternatif untuk membersihkan tanah, permukaan air dan kontaminasi air tanah yang mengandung sejumlah bahan beracun seperti rekasitran dan kimia. Bioremediasi tidak hanya mendegradasi polutan tetapi juga digunakan untuk menyerap bahan-bahan logam dan mineral dan memisahkan zatzat yang tidak diinginkan dalam udara, air, tanah dan bahan baku proses produksi (industri). Proses bioremediasi didasarkan pada siklus karbon untuk mendaur ulang senyawa organik dan anorganik melalui reaksi oksidasi dan reduksi. Bioremediasi dapat dilakukan secara in situ ataupun secara ex situ. Secara in situ yaitu bioremediasi dilakukan langsung di lingkungan yang tercemar sedang secara ex situ yaitu bioremediasi dilakukan di luar lingkungan yang tercemar dengan membuat lingkungan baru berupa bioreaktor yang dikondisikan dengan menggunakan inokulan yang dapat mendegradasi cemaran kontaminan organik (Citroreksoko 1996). Proses bioremediasi didasari oleh dekomposisi bahan organik di biosfer yang dilakukan oleh mikroorganisme (bakteri, kapang, khamir, dan jamur heterotropik) yang memiliki kemampuan memanfaatkan senyawa organik alami

sebagai sumber karbon dan nitrogen. Teknologi bioremediasi dapat dimanfaatkan sebagai salah satu teknik dalam penanganan limbah senyawa kimia sintetis seperti pestisida senyawa kloroaromatik, senyawa kloroalipatik, dan sebagainya. Biodegradasi merupakan penguraian suatu senyawa menjadi senyawa yang lebih sederhana oleh mikroba (Ohshiro et al. 1996). Sedang Gumbira-Said dan Fauzi (1996) menerangkan bahwa biodegradasi merupakan transformasi struktur dalam senyawa oleh pengaruh biologis sehingga terjadi perubahan integritas molekuler. Dalam proses degradasi kondisi lingkungan harus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme. Berbagai reaksi enzimatik yang terjadi dalam proses bioremediasi dapat berupa reaksi oksidasi, hidrolisis, dehalogenasi dan reaksi gugus nitro. Reaksi ini dikenal dengan proses kometabolisme dimana mikroorganisme tidak memanfaatkan kontaminan sebagai sumber substrat tetapi kontaminan tersebut dapat terdegradasi. Keberhasilan proses degradasi banyak ditentukan oleh aktivitas enzim. Aktivitasnya dioptimasikan dengan pengaturan kondisi dan pemberian suplemen yang sesuai. Faktor-faktor lain yang berpengaruh dan mendukung proses biodegradasi adalah: 1. Oksigen Keberadaan digunakan untuk oksigen merupakan faktor pembatas hidrokarbon laju degradasi cara hidrokarbon dan juga dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri aerob. Oksigen mengkatabolisme senyawa dengan mengoksidasi substrat dengan katalisis enzim oksidase. Ketersediaan oksigen dalam tanah tergantung pada kecepatan konsumsi oleh mikroorganisme tanah, tipe tanah dan kehadiran substrat lain juga bereaksi dengan oksigen. 2. Kelembaban Kelembaban tanah juga dapat mempengaruhi keberadaan kontaminan, transfer gas dan tingkat toksisitas dari kontaminan. Kelembaban sangat penting untuk hidup, tumbuh dan aktivitas metabolik mikroorganisme. Namun kandungan air dalam tanah yang terlalu tinggi selama proses bioremediasi berlangsung akan mengakibatkan sulitnya oksigen untuk masuk ke dalam tanah.

pH Tingkat keasaman (pH) juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan mikroorganisme.4. Kebanyakan bakteri dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH netral (pH 6. telah banyak ditemukan upaya untuk meningkatkan kinerja mikroba indigenous. Nutrisi Mikroorganisme membutuhkan nutrisi sebagai sumber karbon. keragaman populasi dan aktivitas enzim). energi dan keseimbangan metabolisme sel. Misalnya P. Struktur molekul dan konsentrasi kontaminan mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam proses bioremediasi serta tipe transformasi bakteri yang terjadi.1. sekunder atau kometabolit. kelembaban. tersedianya akseptor elektron sebagai sumber karbon dan energi).0 dan mampu bertahan pada kisaran 5.0. aeruginosa mampu tumbuh pada kisaran pH 6.3.6– 8. dan faktor lingkungan (pH. suhu. 2. Suhu Suhu akan berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia. 4.5–7. Degradasi Residu Pestisida Diazinon Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya keinginan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan bebas polutan. meskipun senyawa tersebut dipakai sebagai substrat primer. sedangkan bakteri tanah Rhizobium mampu bertahan pada kisaran pH 3.5). substrat (karakteristik fisikokimia.4– 8.6–7. kecepatan degradasi oleh mikroorganisme serta komposisi komunitas mikroorganisme selama proses degradasi. yang dilakukan dengan rekayasa kondisi lingkungan sehingga menjadi optimum. 5. struktur molekul dan konsentrasi). Hal ini dapat dilakukan secara in situ yaitu dengan pengkayaan terhadap kondisi lingkungan tercemar ataupun secara ex situ yaitu dengan mengisolasi mikroba indigenous untuk kemudian dipekerjakan pada suatu bioreaktor yang telah diatur kondisi optimum . Boopathy (2000) menerangkan bahwa hasil dari setiap proses degradasi tergantung pada mikroorganisme (konsentrasi biomassa.

(1988) mengisolasi bakteri dari tanah dan diidentifikasi sebagai genus Pseudomonas sp yang dapat mendegradasi parathion dan metil parathion. Pseudomonas. dan ethoprophos (Oshiro et al. Aerobacter. Streptococcus. fenithrothion. Fusarium. Residu pestisida secara alamiah dapat hilang atau terurai baik dalam lingkungan abiotik maupun dalam lingkungan biotik. parathion. cahaya dan dengan degradasi baik secara kimia. Rani dan Lalithakumari (1994) dalam penelitiannya diperoleh Pseudomonas putida yang mampu mendegradasi pestisida organofosfat metil parathion. Aldrin diubah menjadi dieldrin (namun sifat-sifat Clostridium. pencucian. dan Pseudomonas. Escherichia. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Shelton et al. pertumbuhan. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam penguraian pestisida adalah penguapan. pelapukan. Erwinia. isophenfos. clorpyrifos. biologi. Penicillium. Arthrobacter sp merupakan mikroba indigenous yang diisolasi dari tanah mampu mendegradasi pestisida organofosfat isoxathion. Menurut Rao (1994) bahwa beberapa genus mikroorganisme yang mampu menguraikan pestisida golongan organoklorin jenis DDT menjadi DDD dalam tanah antara lain: dan Achromobacter. Penggunaan pestisida secara luas telah mengundang problem-problem yang disebabkan oleh interaksi antara zat-zat tersebut dengan sistim biologis alam. Kecepatan degradasi pestisida di alam ataupun di dalam tumbuhan mengikuti kinetika ordo pertama yaitu kecepatan degradasi dipengaruhi oleh banyaknya pestisida dan faktor waktu. maupun secara fotokimia. (1996) dilaporkan bahwa hampir seluruh herbisida dapat ditransformasikan oleh Streptomyces sp lebih dari 50% dari konsentrasi awalnya.lingkungannya untuk melakukan degradasi residu pestisida dari areal yang tercemar. Agrobacterium. Kurthia. Residu pestisida dalam tanaman atau hewan menurun atau hilang akibat metabolisme yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman atau hewan tersebut. Pestisida yang banyak tertinggal di alam harus didegradasi agar menjadi berkurang atau hilang secara keseluruhan. insektisidanya tidak hilang) oleh mikroorganisme genus Trichoderma. Streptonebacterium. Heptaklor diubah menjadi heptaklor epoksida . EPN. diazinon. 1996). Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Chaudhry et al. Bacillus.

kimiawi dan faktor mikrobial. reduksi.. Faktor yang sangat berpengaruh dalam proses transformasi dan degradasi diazinon yaitu faktor fisik. Streptomyces. Bacillus. Sedangkan Bacillus cereus dapat mendegradasi pestisida jenis piretroid (Cookson 1995). Setiap reaksi tersebut merupakan bagian dari berbagai kegiatan metabolisme yang berlangsung dalam tubuh organisme. . Selain sebagai sumber karbon dan energi juga dapat terjadi gangguan mikrobial yakni terjadinya transformasi kometabolisme reaksi konjugasi dan akumulasi pestisida dalam sel mikroba itu sendiri dan dapat menyebabkan terbentuknya senyawa-senyawa yang lebih toksik dari pada senyawa asalnya (Bollag 1974). Reaksi perubahan zat racun yang mungkin terjadi ialah oksidasi. hidrolisis dan sintesis. Trichoderma. Tahap primer (proses non sintesis) melalui reaksi oksidasi. dan Micromonospora. Chlorella. Fusarium. Penicillium. Sedangkan pestisida golongan organofosfat diketahui dapat diuraikan oleh mikroorganisme genus Torulopsis.oleh Rhizopus. Thiobacillus. Nocardia. Mikroba yang ada dalam SMC diharapkan mampu melakukan degradasi terhadap diazinon. Dalam penelitian ini diharapkan agar biodegradasi yang terjadi adalah degradasi yang melibatkan metabolisme mikroba dimana mikroba tersebut mampu menggunakan senyawa diazinon sebagai sumber karbon dan energi. hidrolisis dan kegiatan enzimatik yang menghasilkan produk-produk yang bersifat polar. Proses detoksifikasi zat racun berlangsung dalam dua tahap yaitu tahap primer dan sekunder. dan Trichoderma. Namun kenyataannya sulit untuk membedakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh karena struktur tanah yang kompleks. Aktivitas bersama Pseudomonas stutzeri dan Pseudomonas aeruginosa dapat mendegradasi paration. Penelitian yang dilakukan oleh Britton (1984) dalam Cookson (1995) melaporkan bahwa Bacillus sp dan Pseudomonas sp dominan untuk mendegradasi hidrokarbon demikian pula Chromobacterium sp dan Azetobacteri sp juga mempunyai kemampuan seperti Pseudomonas sp dalam mendegradasi hidrokarbon. hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya proses absorpsi molekul pestisida ke dalam zat-zat yang ada dalam tanah ataupun yang ada dalam jaringan tumbuhan (Bollag 1974). Pseudomonas.

menghasilkan sulfotepp (S. + a d fotolisis oksidasi fotolisis/ hidrolisis a e fa asetilasi a c dekomposisi Diazinon dekomposisi a g a a a b Gambar 2 Produk-produk degradasi diazinon .Sedang tahap sekunder (proses sintesis) adalah reaksi yang menghasilkan konjugat-konjugat sebagai produk sintesis (Tarumengkeng 1995). kedua senyawa tersebut mempunyai sifat toksik yang lebih tinggi dan merupakan inhibitor enzim kolinesterase terutama O.S-TEPP) seperti pada Gambar 2 (a dan b). Formulasi diazinon terdegradasi menjadi sejumlah tetraetilpirofosfat. Pelepasan diazinon ke dalam tanah diharapkan tidak terikat pada tanah akan tetapi bergerak mengalir dalam tanah.S-TEPP yaitu 14000 kali lebih toksik dari pada diazinon (Allender dan Britt 1994). Fotolisis diazinon terjadi pada permukaan tanah yang membentuk produk berupa senyawa 2-(1-hidroksi-1-metil)etil-4-metil6-hidroksipirimidin (Gambar 2d). Secara umum diazinon mempunyai rute degradasi mencakup pemutusan ikatan P – O – Pirimidin oleh aktivitas NADPH-dependent oksidase. Komponen heterosiklik diazinon dapat diaktivasi oleh enzim monooksidase yang membentuk derivatif P = O menghasilkan diazoxon (Gambar 2c) yang juga bersifat lebih toksik dari diazinon karena adanya aktivitas anti asetilkholinesterase (Zhang dan Pehkonen.S-TEPP) dan monothiotepp (O. 1999).

Menurut Machin et al. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Ningsih (2001) menunjukkan bahwa isolat B3 mampu hidup dalam lingkungan yang mengandung diazinon pada konsentrasi 200 ppm. Oleh karena itu perlu suatu adaptasi dimana dalam proses adaptasi mikroba tersebut berusaha mengeluarkan enzim dan plasmid yang dapat mendetoksifikasi senyawa yang akan didegradasi. Produk hidrolisis dan fotolisis tersebut diidentifikasi sebagai senyawa yang sifat toksiknya menurun dibanding dengan senyawa diazinon (Bollag 1974).Proses pembentukan metabolit diazinon (reaksi transformasi enzimatik) terjadi melalui reaksi primernya yaitu hidrolisis yang diikuti oleh reaksi pemecahan rantai cincin diazinon. (1971) dalam Gallo dan Lawryk (1991) bahwa irradiasi sinar ultraviolat pada diazinon selama 2 jam maka dapat mensubstitusi gugus isopropil pada cincin menjadi gugus asetil (Gambar 2g) . Isolat tersebut menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan diazinon sampai konsentrasi 1000 ppm dalam media agar. Senyawa tersebut merupakan inhibitor kolinesterase tidak langsung dan lebih kuat dari pada diazinon. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suherman (2000) telah dapat diisolasi mikroba indigenous galur B3 yang dapat mendegradasi diazinon. Mikroba indigenous membutuhkan waktu yang sangat lama untuk beradaptasi dengan bahan/senyawa pencemar (residu pestisida). . yang disebabkan karena mikroba tersebut tidak pernah berhubungan langsung dengan residu pestisida tersebut. Secara alamiah di lingkungan yang tercemar diazinon mengandung beraneka ragam mikroorganisme sehingga polutan yang ada di lingkungan tersebut dapat didegradasi. sehingga diazinon terdegradasi pada reaksi primer menjadi 2-isopropil-4-metil-6-pirimidinol (IMP) dan tiofosfonat. (1997) bahwa dekomposisi diazinon secara hidrolisis dan fotolisis berkaitan erat dengan pH dan intensitas cahaya ultraviolet yang membentuk senyawa IMP dan tiofosfonat (Gambar 2e dan 2f). Menurut Ku et al. Tapi sebaliknya sering pula terjadi aktivasi yaitu zat racun lebih dimodifikasi dan dikonversi menjadi zat yang lebih beracun. Degradasi diazinon tidak hanya dilakukan oleh mikroba yang ada di lingkungan tersebut (mikroba indigenous). tetapi dengan adanya cahaya diazinon juga dapat terdegradasi.

Isolat B3 yang diisolasi dari areal persawahan mampu menurunkan konsentrasi residu diazinon sebesar 55. termasuk kotoran hewan. sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi.82% pada konsentrasi diazinon 50 ppm.5. besi. 2. dan mangan. Pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah.75% pada konsentrasi diazinon 200 ppm. serta mengandung zat-zat organik yang dibutuhkan tanaman. Ningsih 2001). menaikkan kondisi kehidupan dalam tanah. Bahan organik berasal dari tanaman maupun hewan. cara pengomposan. Kandungan utama kompos selain bahan organik. fosfat. Susunan unsur hara yang dikandung oleh kompos bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan yang dikomposkan. dan tidak berbau. kalium. dan cara penyimpanan (US-EPA 1994).82 ppm) selama kurun waktu 27 jam (Suherman 2000).52% pada konsentrasi 50 ppm (54. kompos merupakan bahan yang dihasilkan dari proses degradasi bahan organik yang dapat berguna bagi tanah-tanah pertanian seperti memperbaiki sifat kimia. Sifat kimia tanah yang diperbaiki di antaranya adalah meningkatkan ketersediaan unsur hara tanah seperti nitrogen. sebesar 79. Kandungan unsur hara . kompos juga mengandung unsur-unsur hara makro dan mikro seperti nitrogen. warna kehitam-hitaman. dan sebesar 36. fosfor. kalium. ternyata isolat B3 dapat menurunkan konsentrasi diazinon 54. Penambahan bahan organik dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik. tingkat kematangan. magnesium.34% untuk konsentrasi 100 ppm (118. Menurut Bollag (1974) diazinon mempunyai masa persistensi selama 9 hari di dalam tanah. dan sulfur. kimia.98 ppm) dan sebesar 68. Kompos Menurut Indriani (1999) kompos adalah bahan organik yang telah mengalami degradasi/penguraian/pengomposan sehingga berubah bentuk dan sudah tidak dikenali bentuk aslinya.66% pada konsentrasi diazinon 100 ppm. Menurut Indrasti (2003). fisika dan biologi tanah. menaikkan daya serap tanah terhadap air. sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan konsenstrasi diazinon diakibatkan karena terdegradasinya diazinon secara mikrobial (Suherman 2000. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ningsih (2001) yakni untuk melihat kemampuan isolat B3 dalam mendegradasi diazinon. dan biologi tanah.

Bioremediasi Menggunakan Kompos Beberapa tahun terakhir di negara-negara barat telah dikembangkan teknik bioremediasi menggunakan kompos (compost bioremediation). tetapi porsi pupuk organik perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas produksi. nisbah C/N yang rendah. pelarut. tidak menyebabkan bau. 1999. 2. selain karena kandungan unsur-unsur yang tinggi juga karena kemudahan dalam pengaplikasiannya. Kompos yang telah matang memiliki kandungan bahan organik yang dapat terdekomposisi dengan mudah. Beberapa penelitian terdahulu dilaporkan bahwa penggunaan kompos dalam proses bioremediasi telah terbukti efektif dalam mendegradasi banyak jenis kontaminan seperti hidrokarbon terklorinasi dan tak terklorionasi.dalam kompos relatif kecil bila dibandingkan dengan pupuk kimia. benih rumput dan patogen). pestisida. Oleh karena itu kombinasi penggunaan pupuk organik) kompos dengan pupuk anorganik masih merupakan salah satu solusinya.6. namun di Indonesia belum berkembang sama sekali. bahan-bahan kimia pengawet kayu. Tetapi penggunaan pupuk kimia tersebut akan memberikan efek yang merugikan karena dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahaya residu bahan kimia terhadap kesehatan manusia (Indrasti et al. kadar air yang memadai dan tidak mengandung unsur-unsur yang merugikan bagi tanaman (phytotoxic. EPA 1999. bahan peledak dan senyawa-senyawa senobiotik lainnya (EPA 1997. Bioremediasi menggunakan kompos (compost bioremediation) merupakan upaya penanganan masalah limbah dan pencemaran lingkungan dengan menggunakan mikroorganisme yang ada dalam kompos tersebut untuk . Perkembangan yang telah ada masih terfokus pada proses bioremediasi in situ yaitu dengan melakukan pengkayaan terhadap kondisi optimum lingkungan tercemar. produk-produk minyak. maupun secara ex situ yaitu dilakukan dalam suatu reaktor dengan mengisolasi mikroba kemudian dikondisikan dengan lingkungan untuk melakukan degradasi dari areal tercemar. Oleh karena itu pupuk kimia lebih banyak digunakan oleh petani. Kualitas kompos sangat dipengaruhi oleh kematangan kompos. 2005). logam berat. Baker & Bryson 2002). Gray et al.

dimetabolisme dan diubah menjadi humus dan produk-produk akhir seperti CO2. Kontaminan tersebut dicerna. Kompos tidak mengandung hama dan penyakit serta tidak membahayakan pertumbuhan atau produk tanaman 4. SMC adalah merupakan limbah media pembibitan jamur dimana selama dijadikan sebagai media taman maka bahan tersebut mengalami proses pengomposan. hemiselulosa dan lignin. Aplikasi teknik bioremediasi menggunakan kompos mempunyai beberapa keunggulan dan lebih ekonomis dibanding dengan teknik bioremediasi lainnya sehingga teknologi bioremediasi menggunakan kompos lebih disenangi dan diminati (US-EPA 1997. Dalam proses bioremediasi menggunakan kompos. Kompos tidak mengakibatkan pencemaran dalam tanah. . mikroorganisme dalam kompos akan mengkonsumsi kontaminan dalam tanah. gypsum dan kapur (CaCO3). Kompos dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit 5. Tingginya aktivitas mikroba dalam proses yakni sekitar 20-40 kali lebih aktif dalam hal aktivitas dehidrogenasi dibanding dengan aktivitas dalam tanah yang subur 3. Kompos mempunyai keragaman populasi mikroba yang terlibat dalam proses degradasi yakni sekitar 5-10 kali lebih banyak dibandingkan dengan kandungan mikroba dalam tanah yang subur 2. air dan garam-garam.7. 1998). sehingga limbah substrat (media) tanam jamur masih mengandung sejumlah besar unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. dedak. Kompos merupakan absorben yang sangat baik untuk senyawa-senyawa organik maupun anorganik. Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost/SMC) Miselia jamur sebagian besar tersusun atas selulosa. 2. Formula substrat (media) yang digunakan adalah berupa serbuk gergaji. air tanah. serta vitamin dan mineral. Beberapa keunggulan teknik bioremediasi menggunakan kompos antara lain: 1. air ataupun udara 6. SMC ini masih merupakan kompos setengah matang yang dapat mendegradasi diazinon menjadi beberapa produk turunan.mendegradasi kontaminan air atau tanah. permukaan tanah maupun udara.

Br. ternyata kompos limbah media jamur dapat mendegradasi polyciclyc aromatic hydrocarbon (PAHs) dengan sempurna menjadi napthalene. Ca. boron. P. Kompos limbah media jamur (spent mushroom compost/SMC) ini banyak mengandung nutrisi (kandungan bahan organik tinggi) di antaranya sebagai sumber fosfor. • Meningkatkan aktivitas biologis tanah • Berasal dari rerumputan dan tanaman patogen • Sumber bahan organik N. nitrogen. sulfur dan unsur-unsur lainnya seperti besi.i]perylene. Tabel 2 Karakteristik kompos limbah media jamur Sifat fisik Bahan organik 65 % Keuntungan • Meningkatkan struktur dan tekstur tanah. dan benzo[g. struktur.SMC merupakan limbah hasil industri budidaya jamur yang berlimpah sehingga sangat memungkinkan untuk gunakan dalam proses bioremediasi. dan Zn. mangan. Mn.h. kalium. dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dan cacing tanah sehingga memudahkan dalam penghancuran tanah pada saat diolah (Anonim 2003). 2003). dan S • Sumber bahan organik Fe. tekstur. kalsium. natrium. K. . phenanthrene. tembaga. Na. Bakteri yang diisolasi dari kompos jamur Pleurotus pulminarius mampu toleran hingga 100 ppm PCP namun bakteri ini belum diketahui identitasnya (Lau et al. porositas. SMC juga dapat menghilangkan polutan penthaclorophenol (PCP) dan dapat digunakan sebagai pengganti humus pada sistem biobed yang menggunakan bahan organik untuk mengadsorpsi dan mendegradasi pestisida. dan seng sehingga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Bebas dari polutan Kandungan nutrisi utama Unsur lain (dalam jumlah kecil) Sumber: Anonim (2003) Spent Mushroom Compost (SMC) telah diaplikasikan pada kontaminasi organopolutan. benzo[a]pyrene. Karakteristik kompos limbah media jamur seperti ditunjukkan pada Tabel 2. PCP dapat dimineralisasi apabila diinkubasi dengan kompos setelah masa pengkayaan yang sesuai. Cu.

kalsium.5 6. besi. sulfur. dan seng (Anonim 2003).7 (mg/kg) 2153 376 37 46 273 Sumber: Anonim (2003) . SMC mempunyai beberapa keuntungan bila digunakan dalam proses bioremediasi dibanding jika menggunakan karbon aktif dan bakteri karena SMC mudah didapatkan dan biaya yang murah serta cara memproduksinya relatif simpel. boron.6 750 (mg/l) 62 49 31 2130 253 118 319 31.0 Total kandungan nutrien Nitrogen (N) Phosphor (P) Kalium (K) Calsium (Ca) Magnesium (Mg) Sulphur (S) Natrium (Na) Besi (Fe) Mangan (Mn) Boron (B) Cu Seng (Zn) (g/kg) 22. fosfor.7 15. Komposisi kompos limbah media jamur seperti ditunjukkan pada Tabel 3.9 2. SMC ini sangat baik digunakan untuk memperbaiki sifat dan struktur tanah karena kaya akan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah seperti nitrogen. mangan.5 35. tembaga.5 12.Penggunaan kompos limbah media jamur dalam proses bioremediasi pestisida merupakan salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan dapat meningkatkan nilai tambah limbah yang dihasilkan dari industri budidaya jamur. kalium.0 72. Tabel 3 Komposisi kompos limbah media jamur Ketersediaan nutrien pH EC (mS/m) Nitrogen nitrat Nitrogen amonia Phosphor (P) Kalium (K) Natrium (Na) Klorida (Cl) Kerapatan massa (g/l) % Bahan kering (DM) Kadar abu (%) 6. natrium.5 25.

Na2MoO4.2. plat silika gel 60 F254 dan spektrofometer UV-VIS. aquadest. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Oktober 2005. botol Schott. larutan pencuci (Gram C). dan pestisida organofosfat merek diazinon 60EC yang mengandung 600. 3. K2HPO4. larutan Mordan Lugol’s iodin (Gram B). gelas ukur. larutan pewarna . alkohol.2. spirtus.7H2O. Nutrien Agar (NA). Bahan Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah yang tidak tercemar diazinon. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioproses IV Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI Cibinong. lampu spirtus.45 μm (millipore). neraca analitik. CaCl2. 3. bak fermentor/inkubator. KH2PO4. obyek glass. labu erlenmeyer. nistatyn. etil asetat teknis.1. filter ukuran 0.2.000 ppm diazinon (teknis). labu ukur.2H2O. shaker. kompos limbah media jamur tiram (Pleuorotus ostreatus).7H2O. MnSO4. kertas saring. dan Yeast Extract. gelas piala. FDA. pH meter. analisis kompos dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanah Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Bogor.2. Bakto Peptone. thermometer. aseton. Analisis kadar diazinon dan isolasi bakteri dilakukan di Laboratorium Bioproses IV Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong. Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cawan petri. identifikasi bakteri dilakukan di Laboratorium Taksonomi Bidang Mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor. NaWo2. NaCl. Bahan-bahan lain yang dibutuhkan yaitu media Potato Dekstrose Agar (PDA).a. corong. METODE PENELITIAN 3. mikropipet Eppendorf 100 dan 1000 μl. metanol p.3. sentrifugase. mikroskop. Aquabidest dan air destilata. plastik untuk penutup bak fermentor/inkubator. jarum ose. Alat dan Bahan 3. autoklaf.1. khloramphenikol. FeSO4. MgSO4. larutan pewarna Hucker’s violet (Gram A).

Media khusus Gram Mac Conkey Agar. Bagan alir tahapan penelitian seperti ditunjukkan pada Gambar 3. H2O2.4. methyl red. Kemudian dilakukan uji kemampuan degradasi diazinon. Penelitian Tahap I Penelitian tahap I melakukan proses bioremediasi dengan menggunakan kompos limbah media jamur (SMC) dan menentukan kondisi terbaik untuk proses degradasi diazinon.1. media nutrien cair/broth. Desain Penelitian 3.sapranin (Gram D).4. terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap residu pestisida dalam tanah dan kompos. Penelitian Tahap II Penelitian tahap II melakukan isolasi bakteri dan kapang serta mengidentifikasi bakteri dari kompos limbah media jamur tiram (Pleurotus ostreatus) untuk mengetahui jenis bakteri yang terdapat dalam SMC tersebut yang dapat mendegradasi diazinon. 293 . phenol red. 3. Pengambilan Sampel untuk Perlakuan Pengambilan sampel dipilih daerah yang relatif bebas pestisida.4.3. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah dan kompos tersebut tidak mengandung residu pestisida diazinon maupun jenis pestisida lainnya. Sterilisasi tanah yang bebas diazinon pada suhu 121 oC selama 15 menit. kemudian dicemari dengan diazinon masing-masing konsentrasi 0 ppm. Kompos yang digunakan adalah kompos limbah media jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang diperoleh dari petani jamur di Desa Galuga Kecamatan Cibungbulang. Sebelum digunakan. 3. Bogor. bromtymol biru.2. 3. Oleh karena itu dipilih sekitar lokasi laboratorium bioteknologi-LIPI cibinong karena daerah ini masih relatif bebas pestisida terutama pestisida jenis diazinon. NNNN tetramethyl-pphenylene diamine dihydrochloride (C6H4[N(CH3)2]22HCl. Penelitian tahap I dilakukan seperti berikut: 1.

dan 1707 ppm dengan jumlah kompos dalam tanah 6%. Analisis hasil fermentasi/inkubasi (kadar diazinon. 5. 30% dan 35%. 20%. 1500 ppm. KTK.KTK. Identifikasi bakteri Uji kemampuan degradasi diazinon Gambar 3 Diagram tahapan penelitian 3. Proses Biodegradasi Diazinon Sampel tanah yang belum dicemari dengan diazinon terlebih dahulu disterilisasi pada suhu 120 oC dalam autoklaf selama 15 menit setelah dingin tanah dicemari dengan pestisida organofosfat merk diazinon 60EC. pH. pH. Kadar air. Tanah Sterilisasi tanah Diazinon EC 60 Kompos limbah media jamur Pencampuran Analisis Kompos (C/N. KTK. kadar abu. pH. kadar air. aktivitas mikroba Isolasi Mikroba (bakteri & kapang) Analisis: kadar diazinon. unsur hara. kadar pestisida. kadar abu. dan aktivitas mikroba. TPC. unsur hara. Sebelum . C/N. 1000 ppm. dan kadar pestisida. 4. kemudian tanah tersebut dicampur dengan kompos dengan perbandingan tertentu. 2. TPC. dan aktivitas mikroba).5. TPC. C/N.ppm. 500 ppm. kadar air. aktivitas mikroba) Fermentasi/inkubasi T = suhu ruang Kadar air bahan = 30-60% Waktu = 28 hari Sampling: satu kali seminggu untuk analisis penurunan kadar diazinon. 10%. unsur hara. Fermentasi/inkubasi pada suhu ruang dengan kadar air bahan 30-60% selama 28 hari. kadar abu. TPC. C/N. Pencampuran kompos dengan tanah yang telah dicemari diazinon. Analisis kompos (SMC) yang meliputi: TPC. aktivitas mikroba. unsur hara. KTK. pH. 3. kadar abu. kadar air.

Larutan ditotolkan berupa bercak. terlebih dahulu dilakukan pengujian mutu kompos tersebut. campuran yang akan dipisahkan berupa larutan. KTK.1. 3.6. TPC. Selama proses inkubasi berlangsung sampel ditutup dengan plastik untuk mengurangi terjadinya penguapan dan tidak terkena cahaya. selain analisis penurunan kadar diazinon juga dilakukan pengujian C/N. Campuran tersebut kemudian diaduk hingga homogen lalu diinkubasi selama 28 hari dengan kadar air bahan 30-60% pada suhu kamar (28-32 oC) dan pH 7-8. kadar abu. Derajat retensi pada KLT dinyatakan sebagai “Retention Factor” (Rf) yang dinyatakan dengan rumus sebagai berikut: Jarak titik pusat bercak dari titik awal Rf = Jarak garis depan dari titik awal ……………………. kemudian plat diletakkan dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak) yang telah dijenuhkan. pH. Parameter yang diuji adalah C/N. dan kadar pestisida. KTK. Sampel diambil satu kali seminggu di lima titik dengan dua kali pengambilan kemudian digabung menjadi satu dan diaduk hingga homogen (sistem komposit) kemudian dianalisis penurunan kadar diazinonnya. kadar abu. dan aktivitas mikroba. kadar air. Analisis Kadar Diazinon Analisis kadar diazinon menggunakan metode seperti yang dilakukan oleh Ningsih (2001) yaitu menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan plat silika gel 60 F254 dan spektrofotometer UV/VIS Beckman DU 650 pada panjang gelombang 241 nm.6.(1) . Pemisahan terjadi selama perambatan fase gerak.kompos dicampur dengan tanah. TPC. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Kromatografi Lapis Tipis adalah metode pemisahan fisikokimia yang lapisan pemisahan terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam) dan ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas logam atau lapisan yang cocok. 3. pH. aktivitas mikroba. unsur hara. kadar air. Pada akhir proses inkubasi. unsur hara.

6. metanol. Potato Dekstrose Agar (PDA). . Larutan yang diperoleh diuapkan kemudian dilarutkan kembali dengan 2 ml metanol p. yaitu dilakukan dengan cara mengekstraksi sebanyak 10 gram sampel dengan etil asetat sebanyak 20 ml.7. dan eter. Isolasi Mikroba dan Identifikasi bakteri 3. Analisis diazinon dengan metode spektrofometri ini merupakan modifikasi yang dilakukan oleh Bavcon et al.1. Media ini digunakan untuk menginokulasi kapang dari SMC. Pelarut yang sering digunakan adalah air.a. 3. Pembuatan Media 3. minyak bumi. (2003) dengan metode yang dilakukan oleh Ningsih (2001). 3. Lalu didiamkan hingga eluen naik sampai batas garis.1. Analisis kadar diazinon dengan metode KLT ini menggunakan plat silika gel 60 F254. eluen pengembang heksana:etilasetat dengan perbandingan 10:1 (v/v) dan pewarna digunakan serium (II) sulfat. Kemudian dilakukan pembacaan pada spektrofotometer UV-VIS (Beckman DU 650) dengan sinar UV pada panjang gelombang 241 nm. KLT dilakukan dengan cara mentotolkan sampel pada plat kemudian dimasukkan kedalam bejana yang berisi heksana dan etyl asetat dengan perbandingan 10:1 (v/v) yang telah dijenuhkan selama 30 menit. etanol.Metode ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui adanya atau tidaknya produk turunan hasil degradasi diazinon dalam sampel. Absorbansi yang diperoleh kemudian diplot pada kurva standar untuk menghitung konsentrasi diazinon dalam sampel. Spot yang terbentuk dapat dilihat dengan menggunakan sinar ultraviolet dan pewarnaan dengan menggunakan serium (II) sulfat. Spektrofotometer UV-VIS Spektrofotometri adalah suatu metode pengukuran serapan radiasi elektromegnetik pada panjang gelombang tertentu yang sempit dan mendekati monokromatik dan diserap oleh zat.7.7. sampel disonifikasi agar larutan tersebut tercampur dengan baik (homogen).2.1. n-heksana.

Isolasi Mikroba (Bakteri dan Kapang) Mikroba yang terdapat dalam SMC masih merupakan koloni campuran sehingga perlu dilakukan isolasi untuk mendapatkan isolat/biakan murni (koloni tunggal). Cara pembuatan: 1. kemudian dipanaskan sambil diaduk.1. Nutrien Agar (NA) Media ini digunakan untuk menginokulasi bakteri dari SMC. Isolasi mikroba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: .5 g.7. 4.3 g dan agar powder 0.Cara pembuatan: 1. Kedua bahan tersebut dicampur dan ditambahkan dengan aquadest sebanyak 100 ml. 3.7. 3. dan didinginkan 6. Ditimbang PDA sebanyak 3.2.2. kemudian dipanaskan sambil diaduk. Media dituang ke dalam petri steril ± 1-2 ml. Media didinginkan (hangat kuku) lalu ditambahkan nistatyn 50 ppm sebanyak 1 ml yang telah disterilkan dengan millipore 0. Setelah mendidih dan homogen media disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121 oC selama 15 menit. Media dituang ke dalam petri steril ± 1-2 ml. Setelah mendidih dan homogen media disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121 oC selama 15 menit. Media didinginkan (hangat kuku) lalu ditambahkan khloramphenikol 50 ppm sebanyak 1 ml yang telah disterilkan dengan millipore 0. Kedua bahan tersebut dicampur dan ditambahkan dengan aquadest sebanyak 100 ml. Setelah padat petri ditutup dan dibalik agar uap air tidak jatuh ke atas permukaan agar.45 μm.45 μm. 5. 4. 5. 3.5 g. dan didinginkan 6. 2. Ditimbang NA sebanyak 2. 2.9 g dan agar powder 0. Setelah padat petri ditutup dan dibalik agar uap air tidak jatuh ke atas permukaan agar. 3.

Menimbang SMC sebanyak 1gram lalu di larutkan dengan air steril sebanyak 10 ml kemudian di goyang (shaker) selama 30 menit. Pada media padat NA ditambahkan zat antibiotik nistatyn yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme kapang dan khamir sedangkan pada media padat PDA ditambahkan dengan khloramphenikol untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Inokulasi mikroba ini dilakukan dengan dua metode yaitu cair dan padat: 1. Setelah 2-3 hari isolat yang tumbuh pada media awal dipindahkan dan dipisahkan berdasarkan perbedaan bentuk dan morfologinya ke media padat NA dan PDA lainnya yang tidak . Masing-masing cawan petri diinkubasi dengan posisi terbalik pada suhu kamar selama 24-48 jam. Metode Cawan Gores (Streak Plate Method) Metode dilakukan dengan cara menginokulasi medium agar yang sedang mencair pada temperatur 50oC dengan suspensi bahan yang mengandung bakteri dan menuangkannya ke dalam cawan petri. atau radian. Bakteri dan kapang yang tumbuh dipindahkan pada media padat lain untuk memperoleh biakan murni. Metode goresan ini dapat dilakukan dengan metode goresan lurus. setelah diinkubasi akan terlihat kolonikoloni yang tersebar di permukaan agar. kuadran. Ditimbang kompos sebanyak 5 gram lalu ditabur kedalam cawan petri yang yang berisi media PDA dan NA. 2. Setelah diinkubasi pada bekas goresan akan tumbuh koloni-koloni yang terpisah yang mungkin berasal dari satu sel bakteri.1. supernatan yang diperoleh dipipet sebanyak 100 μl lalu dituang kedalam cawan petri yang berisi media PDA dan NA 2. sehingga dapat diisolasi lebih lanjut. Metode Cawan Tuang/Taburan (Puor Plate Method) Metode ini dilakukan dengan cara menggoreskan suspensi bahan yang mengandung bakteri pada permukaan medium agar yang sesuai dalam cawan petri. Dalam penelitian ini isolasi mikroba dilakukan dengan metode cawan tuang/gores yaitu dengan menginokulasi SMC pada media padat Nutrient Agar (NA) dan Potato Dekstrose Agar (PDA).

Oleh karena itu substrat organik (lipid. kapsel. dan karbohidrat) akan mempengaruhi pewarnaan bakteri. Substrat. aseton. (5) Dapat membunuh bakteri secara cepat dengan tidak menyebabkan perubahan-perubahan bentuk atau strukturnya. sehingga dapat diamati berbagai bentuk (morfologi). asam nukleat. (2) Mempertinggi sifat reaktif gugusan-gugusan karboksilat. karena sitoplasma sel mempunyai indeks bias yang hampir sama dengan indeks bias lingkungannya (Lay 1992). Fiksasi. sulfihidril. Sehingga dapat dibedakan sel-sel yang (1) basofil. serta sel-sel bakteri (spora. Pewarnaan bakteri Pewarnaan bakteri dimaksudkan untuk melihat struktur sel bakteri dengan seksama. Hasil pewarnaan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: a. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga diperoleh isolat yang murni. Kemudian diinkubasi selama 3 hari pada suhu ruang lalu disimpan dalam lemari pendingin. Fiksasi berfungsi untuk (1) Mencegah mengkerutnya globula-globula protein sel. asam kromat-asam osmiat). Fungsi pewarnaan bakteri terutama memberi warna pada sel dan bagian-bagiannya agar lebih kontras dan tampak lebih jelas. Isolat yang telah murni dipindahkan ke dalam media agar miring (NA dan PDA) dengan cara membuat garis zig zag. b. 3.7. protein. atau flagela). sebelum bakteri diwarnai terlebih dahulu dilakukan fiksasi dengan menggunakan cara fisik (pemanasan atau dengan freeze drying) ataupun menggunakan agen kimia (asam pikrat. amino primer. (6) Melekatkan bakteri di atas gelas benda. (4) Mencegah terjadinya otolisis sel. jenis (gram positif atau gram negatif).mengandung nistatyn dan khloramphenikol.3. tiap pewarna asam maupun basa dapat bereaksi dengan konstituen sel. Isolat-isolat tersebut dipindahkan dengan menggunakan jarum ose kemudian menggoreskannya pada media padat untuk memisahkan isolat-isolat tersebut agar diperoleh koloni tunggal (single coloni). Sel-sel bakteri yang tidak diwarnai pada umumnya sukar diamati dengan mikroskop cahaya biasa. susunan bakteri. alkohol. Koloni tersebut diinkubasi selama 3 hari pada suhu ruang. yaitu sel-sel yang dapat mengikat pewarna . (7) Membuat sel lebih kuat (keras). (3) Merubah afinitas pewarna bakteri.

Dinding sel dan membran sitoplasma bakteri Gram positif mempunyai afinitas yang besar terhadap kompleks pewarna kristal violet dan iodium. dan pewarnaan negatif (Lay 1992). Pengintensifan pewarna utama dengan menambahkan larutan mordan (JKJ) 3. Pada sel bakteri Gram positif zatzat ini membentuk senyawa yang sukar larut. Pemberian pewarna utama (larutan pewarna kristal violet. (2) Bakteri Gram negatif ialah bakteri yang daya ikat terhadap pewarna utama tidak kuat. Dengan pengamatan mikroskopik sel bakteri ini tampak berwarna merah. yaitu sel-sel yang dapat mengikat pewarna bakteri asam. digunakan untuk mendapatkan kontras yang baik pada bayangan mikroskop. Sifat Gram terutama ditentukan oleh sifat-sifat fisik dan kimia dinding sel dan membran sitoplasma. tidak larut dalam peluntur. Pencucian (dekolorisasi) dengan alkohol 70% 4. pewarnaan deferensial. pewarnaan Gram. yaitu sel-sel yang dapat mengikat pewarna bakteri yang dapat larut dalam minyak. Pewarnaan gram meliputi 4 tingkatan yaitu: 1. dilakukan dengan mempertinggi kadar pewarna.bakteri basa. sehingga dapat dilunturkan dan diwarnai oleh pewarna lawan. warna ungu) 2. d. dan tidak diwarnai oleh pewarna penutup sedang bakteri Gram negatif tidak demikian. Pada waktu pewarnaan. c. Intensifikasi Pewarnaan. temperatur pewarnaan (60-90 oC) atau menambah suatu mordan. Pemberian pewarna penutup (pewarna lawan. pewarnaan Ziehl Neelsen (acid fast). Pada penelitian ini dilakukan pewarnaan bakteri dengan menggunakan metode pewarnaan Gram. larutan kristal violet dan iodium menembus sel bakteri. counterstain) larutan pewarna safranin yang berwarna merah. sedang pada Gram negatif tidak. (2) asidofil atau oksifil. Pelunturan pewarna bakteri (Decolorizer). Dengan menggunakan mikroskop sel-sel bakteri ini tampak berwarna violet. (3) sudanolfil. . Beberapa cara pewarnaan bakteri yang biasa dilakukan ialah pewarnaan sederhana. Dengan pewarnaan Gram maka dapat dibedakan bakteri yang bersifat positif dan bersifat negatif: (1) Bakteri Gram positif ialah bakteri yang mengikat pewarna utama dengan kuat sehingga tidak dapat dilunturkan dan diwarnai oleh pewarna lawan.

pengamatan dengan mikroskop dengan pembesaran 100 kali. sifat fisiologis (biokimia). perlu diamati morfologi koloni serta morfologi individual. diratakan dan dikering-anginkan 3. sifat-sifat pewarnaan. lalu dipanggang di atas nyala api dan dinginkan 2.4. Lalu diberi larutan pewarna penutup (Gram D) dibiarkan 2 menit lalu dicuci dan dikeringkan 8. Bakteri Gram positif berwarna violet dan Gram negatif berwarna merah. Lalu ditetesi dengan larutan mordan Lugol (Gram B) dibiarkan 1 menit. dicuci dan dikeringkan 6. dicuci dan dikeringkan 7. Biakan diambil dengan ose secara aseptik ke atas gelas objek. Determinasi dan Identifikasi Bakteri Untuk identifikasi dan determinasi suatu biakan murni dari hasil isolasi. pH. patonogenesitas dan serologinya. Morfologi sel individual meliputi: ♦ Ukuran. 1994 ). 3. Pada identifikasi bakteri yang pertama-tama harus dilakukan adalah pengamatan terhadap morfologi individual dan pertumbuhannya pada bermacam-macam media. dan rangkaian sel . Sifat Morfologi Bakteri: 1. Preparat yang telah kering difiksasi dengan cara melewatkan di atas api 4. Karena bakteri tidak dapat dideterminasi hanya berdasarkan sifat-sifat morfologinya saja tapi perlu pula diteliti sifat-sifat biokimia dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya (media. Pada preparat diteteskan pewarna utama (Gram A) 1-2 tetes.7. Kemudian dicuci dengan larutan peluntur (Gram C) selama 30 detik. Gelas objek dibersihkan dengan alkohol 70%.Pewarnaan Gram dilakukan dengan cara : 1. Pada pengujian untuk identifikasi bakteri digunakan pedoman Bergey’s Manual of Determinative Bakteriology (Holt et al. dan temperatur). bentuk. dibiarka 1 menit lalu dicuci dan dikeringkan 5.

Pada tahap ini dilakukan dengan mengamati kultur biakan dan koloni yang tumbuh pada permukaan agar (kasar. kemudian dilakukan pengamatan morfologi pada Media Khusus Gram Negatif (Mac Conkey Agar). Sifat Biokimia Bakteri: Pengujian sifat biokimia bakteri meliputi: 1. Selain menggunakan media tersebut diatas juga dapat menggunakan media selektive artinya bakteri . Pembentukan figmen (pigmen akan tampak bila ada O2 bebas/aerob. Perubahan karbohidrat (daya fermentasi terhadap zat-zat gula dan hidrolisis terhadap pati) 2. kedudukan. metilen blue atau indikator direduksi menjadi tidak berwarna. Pengujian biokimia khusus lainnya. dan kedudukan spora ♦ Ada tidaknya flagela. tekstur.♦ Ada tidaknya spora. warna koloni. tipe medium. Isolat bakteri yang akan diuji dibiakkan pada media cair dan dilanjutkan dengan media agar padat. Tahapan identifikasi bakteri adalah sebagai berikut: 1. halus) serta besarnya koloni (mm). ukuran. Reduksi bermacam-macam unsur (bakteri anaerob dapat mereduksi garam nitrat menjadi nitrit atau amonia. Bakteri bersifat aerob obligat dapat mereduksi H2O2 menjadi H2O dan O2) 5. setelah pertumbuhan lengkap sesuai lamanya inkubasi biakan pada suhu ruang (30-37 oC) bahkan pada suhu thermofilik hingga 50 oC. selanjutnya diamati morfologi koloninya. dan dalam keadaan anaerob pigmen akan hilang) 6. Morfologi koloni meliputi bentuk. dan jumlah flagela ♦ Ada tidaknya kapsula ♦ Reaksi-reaksi pengecatan (pewarnaan) 2. Penguraian protein (tiap-tiap spesies bakteri mempunyai daya hidrolisis dan penguraian protein yang berbeda-beda) 4. Hidrolisis lemak (bakteri dapat menghidrolisis lemak menjadi gliserol dan asam lemak) 3.

b. Tes Oksidase (Oxidase Test) Menggunakan NNNN-tetramethyl-p-phenylene diamine dihydrocloride (C6H4[N(CH3)2]22HCl) dicamper dengan asam askorbat (ascorbic acid). BRC). Motility-Slide a. kultur terlebih dahulu dibiakkan semalam setelah terjadi kekeruhan ditambahkan reagen methyl red 50-100 μL. Reaksi positif bila berwarna merah dan negatif bila berwarna kuning. Indole Indol merupakan zat yang berbau busuk yang dihasilkan oleh bakteri yang ditumbuhkan dalam medium yang mengandung asam amino triptofan. Metode kedua yaitu menggunakan agar setengah padat yang ditempatkan pada tabung. Uji indol dengan menggunakan pepton cair pada tabung dengan bantuan pereaksi reagent kovac’s akan terlihat warna merah. larutan tersebut diteteskan pada kertas saring. XLD agar. Biakan yang tumbuh pada media cair/broth diambil dengan ose dan diletakkan pada cover glass. Methyl Red-Voger Proskaur (MRVP) Pengujian ini dapat dilihat pada media methyl red pada tabung berwarna bening teh. Bila dalam beberapa detik terjadi perubahan warna biru/violet menandakan Oxidase positive 3. 1. object glass. Tes Katalase (Catalase Test) Menggunakan H2O2 3% dengan cara meneteskan larutan tersebut pada permukaan objek glass. 4. bila dalam hitungan detik terdapat gelembung udara menandakan catalase positive. Biakan murni diambil dengan ose lalu digoreskan pada kertas saring tersebut.yang akan diamati akan tumbuh pada media khusus (SS agar. biakan murni diambil dengan ose lalu disentuhkan pada tetesan tersebut. Kultur diambil lalu ditusukkan pada media dari atas ke bawah. Sedang untuk pengujian Vorges Proskaur . Pergerakan positif terlihat bergerak dan berlarian dengan cepat sedang yang negatif hanya bergerak dan diam ditempat. 5. 2. Setelah diinkubasi selama 24 jam terlihat penyebaran ke arah menyamping seperti warna keruh berarti menandakan positif.

2-7. 7.5-1%. Setelah penambahan gula-gula dilakukan sterilisasi dengan steam selama 10 menit. Lactose. perubahan warna menjadi biru jika positif. dilakukan pengujian secara biokimia dengan menggunakan berbagai macam uji gula-gula dengan menggunakan medium Pepton water sebagai dasar medium digunakan Pepton 10 g. Xylose dengan masing-masing konsentrasi antara 0. Maltose. Perubahan warna menjadi kuning bila positif. Reaksi dapat dilihat setelah 20-30 menit berwarna merah jika positif VP. Secara keseluruhan tahapan proses isolasi mikroba dan determinasi/identifikasi bakteri seperti ditunjukkan pada Gambar 4.(VP) ke dalam media yang sama ditambahkan α-naphtol sebanyak 500-600 μL lalu dikocok dan ditambahkan KOH 40% sebanyak 200 μL. . Trehalose. dan o aquadest 1000 ml lalu ditambahkan indikator phenol red (pH 7. Nitrate Reaction Menggunakan nutrien broth yang ditambahkan KNO3. Sucrose. Salicin. Setelah pengujian di atas. 6. Biakan murni ditumbuhkan selama semalam setelah keruh menandakan cukup pertumbuhan dengan menambahkan reagen Nitrate soln A dan soln B terjadi perubahan warna menjadi merah terang. Rafinose.4) kemudian disterilisasi pada 115 C selama 20 menit. Fructose. Penambahan gula-gula seperti Aesculine. Untuk yang negatif di reinkubasi beberapa hari hingga terjadi perubahan. Arabinoce. Dulcitol. Rhamnose. NaCl 5g. Inisitol. Galactose. Citrate Menggunakan media agar miring pada tabung yang berwarna hijau ditambahkan bromthymol blue. Biakan digereskan pada permukaan agar lalu diinkubasi 24-72 jam. Sorbitol.

Persiapan Sampel Pembuatan Media (PDA & NA) Pembiakan (inokulasi) mikroba Pembiakan Bakteri dalam media NA Pembiakan Kapang/Khamir dalam media PDA Isolasi Bakteri Isolasi Kapang/Khamir Koloni tunggal Koloni tunggal Determinasi/identifikasi bakteri Pewarnaan bakteri Uji sifat Biokimia Genus/Spesies Gambar 4 Tahapan isolasi dan identifikasi bakteri 3. .7. Karena dalam proses adaptasi tersebut terjadi sintesis enzim yang dibutuhkan unuk mendegradasi senyawa-senyawa rekalsitran (Gumbira-Said dan Fauzi 1995).5. Uji Kemampuan Degradasi Diazinon Mikroorganisme dapat mendegradasi pestisida apabila mikroorganisme tersebut diadaptasikan terlebih dahulu dengan lingkungan yang mengandung pestisida.

025 g. Bakteri yang tumbuh kemudian dilakukan uji pembentukan zona jernih untuk menguji kemampuannya dalam mendegradasi diazinon. 3. NaWo2 0.5 g. Kemudian bakteri diinokulasikan dan diinkubasi pada suhu 30 oC selama 3 hari. dan Yeast extract 2. K2HPO4 0. 1000 ppm. Pembuatan Media MSPY.2 g.2 g.3 g dan agar powder 0. 3. Setelah mendidih dan homogen media disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121 oC selama 15 menit.1.0 (pH netral). Na2MoO4. Pembuatan media MSPY dilakukan dengan cara melarutkan KH2PO4 0. NaCl 0.05 g.5 g ke dalam 100 ml air destilata kemudian dipanaskan sambil diaduk. kemudian disterilkan dalam autoklaf (Oshiro 1996). Pembuatan Media NA adaptasi. Media steril tersebut kemudian ditambahkan diazinon dengan konsentrasi masingmasing.0005 g.7.2 g. 0.005 g.5.Bakteri yang diperoleh dari hasil identifikasi lalu diujikan pertumbuhannya. MgSO4.7H2O 0. 1500 ppm.0 g.0 g. ke dalam gelas piala yang berisi 1 liter air destilata kemudian diaduk sambil mengatur pH pada kisaran 7. CaCl2. Media yang digunakan adalah media MSPY (Mineral Salt Pepton Yeast) yang mengandung diazinon 1000 ppm. Menurut Margot dan Stammbach (1964). bahwa diazinon menguap pada suhu 83-84 o C.2H2O 0. Cara pembuatan media ini yakni dengan menimbang NA sebanyak 2. sensitif terhadap oksidasi pada suhu di atas 100 oC dan terdegradasi pada di atas 120 oC sehingga diazinon tidak dapat disterilkan dengan .2. Lalu larutan media dipindahkan ke dalam erlenmeyer yang berukuran 1 liter dan diisi bacto agar sebanyak 15 g. 1500 ppm. Setelah padat petri ditutup dan dibalik agar uap air tidak jatuh ke atas permukaan agar. Media pertumbuhan dan adaptasi yang digunakan adalah Nutrient Agar (NA) padat yang mengandung 100 dan 500 ppm diazinon.0005 g. Bakteri tersebut diinokulasi selama empat hari untuk melihat aktivitasnya dalam mendegradasi diazinon. Kemudian media didinginkan (hangat kuku) lalu ditambahkan diazinon 100 dan 500 ppm lalu dituang ke dalam petri steril. dan 1700 pm.7H2O 0. FeSO4. Bakto peptone 1. MnSO4 0. dan 1700 ppm.5.7.

. 0.6) dan larutan FDA 0. Intensitas warna ditentukan dengan menggunakan spektofotometri.5. Larutan disentrifugasi dengan kecepatan 6000 rpm selama 10 menit. Penentuan FDA dilakukan dengan cara menginkubasi sampel dalam larutan buffer.0399 gram FDA ke dalam 100 mL aseton.1. masing-masing erlenmeyer ditambah 50 mL buffer fosfat. Larutan standar diinkubasi dengan penggoyangan (rotary shaker) pada kecepatan 120 rpm selama satu jam kemudian ditambahkan 50 mL aseton untuk menghentikan reaksi hidrolisis. Larutan standar FDA dibuat dengan melarutkan 0. lalu disaring dengan millipore (0.45 μm (millipore).8. 0. Sampel di timbang masingmasing 10 gram ke dalam erlenmeyer lalu ditambah 50 ml buffer fosfat (pH 7.3. Larutan didekantasi (pindahkan) ke dalam tabung sentrifugasi dan disetrifugasi dengan kecepatan 6000 rpm selama 10 menit.45 μm). Absorban filtrat diukur dengan spektrofotometri UV-VIS (Beckman DU 650) pada panjang gelombang (λ) 490 nm. FDA tidak digunakan untuk menghitung biomassa mikrobial tetapi untuk membandingkan aktivitas mikroba hydrolitik dalam satu ekosistem yang sama. yang bertindak sebagai penerima elektron yang menurunkan warna fluorescein. 1.0 dan 1. Perlakuan pada sampel dilakukan dengan cara menimbang FDA 0.2.5 mL kemudian diinkubasi dengan rotary shaker pada kecepatan 120 rpm selama satu jam kemudian ditambahkan 50 mL aseton. Analisis Aktivitas Mikroba dengan Fluorescein Diacetate (FDA) Assay Analisis aktivitas mikroba dilakukan dengan menggunakan metode seperti yang dilakukan oleh Eggen (1999). Absorban diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang (λ) 490 nm. 0.autoklaf. 0. Kemudian ditimbang 10 gram kompos ke dalam erlenmeyer yang telah diisi dengan larutan standar FDA masing-masing 0. Oleh karena itu diazinon harus disterilkan melalui proses sterilisasi penyaringan yakni dengan menggunakan filter ukuran 0.200 gram lalu dilarutkan dengan aseton kemudian ditambah dangan “deionized water” (aquabidest) hingga 100 mL sebagai larutan stok. yaitu menggunakan Fluorescein Diacetate (FDA) Assay. 3.5 mL. lalu disaring.

(2) .9.. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan ini dilakukan dengan menggunakan dua faktor yaitu konsentrasi diazinon (x1) dan perbandingan tanah dengan kompos (x2). Pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode permukaan respon (Respons Surface Method/RSM) mengikuti Rancangan Komposit Fraksional..1991) dengan 3 ulangan pada titik pusat sehingga memenuhi model kuadratik. masing-masing peubah uji terdiri dari tiga taraf dengan rincian seperti ditunjukkan pada Tabel 4. Matriks satuan-satuan percobaan pada proses bioremediasi dalam unit dan nilai asli seperti disajikan pada Tabel 5.3. Tabel 4 Kisaran dan taraf peubah uji pada optimasi bioremediasi Jenis Perlakuan Nilai faktor terendah (-1) 500 10 Nilai faktor tengah 0 1000 20 Nilai faktor tertinggi (+1) 1500 30 Konsentrasi diazinon (ppm) Rasio kompos dalam tanah (%) Dalam penelitian ini digunakan Central Composite Design (CCD) (Montgomery... Dimana nilai asli diperoleh dengan rumus Nilai asli =[(nilai tertinggi/rendah–nilai tengah) x nilai kode + nilai tengah] .. nilai pusat perlakuan digunakan konsentrasi diazinon 1000 ppm dan rasio kompos dalam tanah 20%.

………………. 500 10 P4 1000 20 P51 1000 20 P52 1000 20 P53 1707 20 P6 293 20 P7 1000 35 P8 1000 6 P9 1000 0 K1 1000 0 K2 Dengan dua peubah uji tersebut maka model kuadratiknya seperti bentuk persamaan berikut: Yi = bo + b1x1i + b2x2i + b11x1i2 +b22x2i2 +b12x1i + ri Keterangan: Y X b r = Respon dari masing-masing perlakuan = (x1: konsentrasi diazinon. dan tanah disterilisasi tanpa kompos (K2) dengan masing-masing konsentrasi diazinon 1000 ppm. x2: rasio kompos dalam tanah) = Koefisien parameter = error ………. (3) Parameter respon utama yang digunakan adalah penurunan konsentrasi diazinon.41 0 0 Kompos 1 1 -1 -1 0 0 0 0 0 1. Sebagai kontrol digunakan tanah tidak disterilisasi dan tanpa penambahan kompos (K1).414 -1.Tabel 5 Matriks satuan percobaan pada optimasi proses bioremediasi rancangan komposit fraksional Kode No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Diazinon 1 -1 1 -1 0 0 0 1.. .414 Nilai asli Diazinon Kompos(%) Keterangan (ppm) 1500 30 P1 500 30 P2 1500 10 P3.414 -1.

Analisis Degradasi Diazinon dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Untuk memastikan ada atau tidaknya senyawa turunan hasil degradasi diazinon oleh aktivitas mikroba yang berasal dari SMC maka dilakukan analisis diazinon dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT).1. Pada sampel hari ke-14 (3) ada tujuh spot dan satu diantaranya berwarna merah muda dan pada hari ke-0 (4) ada tiga spot dengan masing-masing nilai Rf 0.4.8 ini diduga adalah merupakan senyawa turunan .67 dan 0. Hasil analisis dengan KLT dapat dilihat pada Gambar 5.24 dan satu spot berwarna kuning kemungkinan merupakan pelarut dari senyawa diazinon tersebut. (4) sampel P5 (Ho) Dari Gambar 5 secara kualitatif terlihat bahwa diazinon teknis pekat (1) dan stok diazinon 1000 ppm (2) terdapat satu spot berwarna merah muda dengan masing-masing nilai Rf 0. sedang spot yang berwarna coklat kemungkinan terbentuk dari kotoran yang berasal dari tanah atau kompos.1. (3) sampel P5 (H14). v/v) (1) diazinon teknis pekat. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Analisis Diazinon 4.28 sama dengan stok diazinon 1000 ppm dan diazinon teknis pekat. Pada sampel hari ke-14 (3) terdapat spot berwarna kuning keemasan dan orange dengan Rf 0.24 dan 0.28 dan 0.1. (2) stok diazinon 10000 ppm. 1 2 3 4 Gambar 5 Kromatogram hasil KLT dengan eluen heksana : etyl asetat (10:1.

21. Proses reaksi transformasi enzimatik oleh mikroba terhadap diazinon terjadi melalui reaksi primernya yaitu reaksi hidrolisis yang diikuti oleh reaksi pemecahan rantai cincin diazinon menjadi 2-isopropil-4-metil-6-pirimidinol (IMP) dan tiofosfonat. Komponen heterosiklik diazinon dapat diaktivasi oleh enzim monooksidase yang membentuk derivatif P = O menghasilkan diazoxon tetapi senyawa ini dapat terhidrolisis membentuk 2-isopropil-4-metil-6-hidroksipirimidin (IMHP). 7. diazinon juga terdegradasi secara kimiawi melalui reaksi hidrolisis dengan adanya sejumlah air sehingga hal ini mengakibatkan diazinon mengalami proses degradasi dengan cepat.0002DzKp ……………(4) . maka diazinon tersebut dapat terdegradasi secara mikrobial melalui proses hidrolisis. Di alam.009Kp2 + 0.hasil degradasi diazinon oleh SMC namun senyawa ini belum dapat diindentifikasi dengan jelas. dan 28. 14. Secara umum diazinon mempunyai rute degradasi mencakup pemutusan ikatan P – O – pirimidin oleh aktivitas NADPH-dependent oksidase.1. Pengambilan sampel untuk analisis diazinon dilakukan pada hari ke0.069 – 0. pada kondisi asam atau alkali diazinon dapat terdegradasi dengan cepat.728Kp + 0 + 0. 1974). Selain degradasi secara mikrobial. 4.032Dz + 0.2. Analisis Penurunan Konsentrasi Diazinon dengan Spektrofotometer Analisis diazinon secara kualitatif juga dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer. yang bertujuan untuk mengetahui effisiensi penurunan konsentrasi diazinon dan waktu terbaik yang akan digunakan untuk bioremediasi yang efektif. Hasil metabolisme mikroba tersebut diidentifikasi sebagai senyawa yang mempunyai sifat toksik yang lebih kecil dari pada diazinon (Bollag. Proses degradasi dalam penelitian ini berlangsung dalam keadaan pH netral (pH 7-8) sehingga secara alami diazinon akan lambat terdegradasi tetapi dengan bantuan aktivitas bakteri ataupun mikroba lainnya yang terdapat dalam SMC. Hasil analisis hari ke-7 (Lampiran 2) membentuk persamaan respon permukaan seperti berikut Y7 = 29. tetapi lambat pada kondisi netral (McEwen and Stephenson 1979). asam tiofosfonat dan etanol.

Dimana: Y7 = Respon terhadap degradasi diazinon pada hari ke-7 Dz = Konsentrasi diazinon Kp = Rasio kompos Berdasarkan persamaan (4) diperoleh bentuk permukaan respon interaksi antara konsentrasi diazinon dengan rasio kompos dalam tanah terhadap penurunan konsentrasi diazinon (Gambar 6). Sedangkan konsentrasi diazinon memberikan pengaruh negatif terhadap penurunan konsentrasi diazinon dimana semakin tinggi konsentrasi diazinon maka sifat toksik semakin besar sehingga menyebabkan diazinon mengalami penurunan konsentrasi makin kecil. Gambar 6 Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-7 Penurunan konsentrasi diazinon pada hari ke-7 pada kombinasi konsentrasi diazinon 1000 ppm dengan rasio kompos 20% hanya mencapai 32. Dari Gambar tersebut terlihat bahwa rasio kompos berpengaruh positif secara linear terhadap penurunan konsentrasi diazinon dimana semakin banyak kompos dalam tanah maka penurunan konsentrasi diazinon juga semakin besar. hal ini disebabkan karena jumlah mikroba yang berperan dalam proses degradasi juga semakin banyak.1%. Hal ini .

15. dimana nilai P total model sebesar 0. Plot kenormalan seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Interaksi antara konsentrasi diazinon (Dz) dengan rasio kompos (Kp) memberi pengaruh positif terhadap penurunan diazinon dengan nilai signifikan sebesar 92.05. Hasil uji kenormalan galat menggunakan Kolmogorov-Smirnov Normality Test menunjukkan bahwa galat model telah terdistribusi secara normal dan saling bebas dengan keragaman relatif homogen dengan nilai P>0. Lambat laun mikroorganisme-mikroorganisme tersebut akan beradaptasi dan melakukan perombakan terhadap senyawa diazinon karena dalam proses adaptasi tersebut terjadi sintesis enzim dan plasmid yang dibutuhkan untuk mendegradasi diazinon dengan mendetoksifikasi menjadi zat yang kurang atau tidak beracun. Ini berarti bahwa semakin banyak kompos yang ditambahkan maka akan semakin besar penurunan konsentrasi yang terjadi.58 lebih besar dari taraf signifikan 0. Oleh karena itu mikroorganisme tersebut masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri (beradaptasi). Analisis keragaman penurunan konsentrasi diazinon (Lampiran 2) menunjukkan ketidaksesuaian model yang dikembangkan.disebabkan karena mikroorganisme dalam SMC belum pernah berhubungan langsung dengan senyawa diazinon sehingga mikroorganisme tersebut belum memiliki enzim yang dapat melakukan perombakan terhadap senyawa diazinon.8%. Gambar 7 Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-7 .

... Rasio memberikan pengaruh positif terhadap penurunan konsentrasi diazinon karena jumlah mikroorganisme yang berperan dalam proses degradasi diazinon semakin banyak. Pada Gambar 8 terlihat bahwa nilai optimum pada hari ke-14 diperoleh pada kombinasi konsentrasi diazinon 1000 ppm dengan kompos dalam tanah 30% yang dapat menurunkan konsentrasi diazinon sebesar 88%..022 Dz – 0. Pada kombinasi konsentrasi diazinon 1000 ppm dengan rasio kompos 20% penurunan konsentrasi diazinon sebesar 80..005 Kp2 + 0... Mikroorganisme dalam SMC mampu tumbuh dan berkembang biak dengan menggunakan sellulosa. Sehingga dengan penambahan kompos akan meningkatkan laju degradasi diazinon..(5) Persamaan (5) memberikan informasi bahwa semakin tinggi konsentrasi diazinon memberikan pengaruh negatif terhadap penurunan konsentrasi diazinon. .001 Dz Kp .Hasil analisis hari ke-14 (Lampiran 3) membentuk persamaan respon permukaan seperti berikut Y14 = 82.757 + 0.8%..313 Kp – 0 – 0. lignosellulosa ataupun lignin dalam kompos sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya sehingga jumlah populasi mikroba semakin meningkat dan menyebabkan aktivitas mikroba juga mengalami peningkatan.. ini berarti bahwa semakin besar konsentrasi diazinon akan menghambat proses degradasi dan menyebabkan penurunan konsentrasi diazinon yang terjadi juga kecil. Hal ini disebabkan karena konsentrasi diazinon yang tinggi memiliki sifat toksik yang tinggi untuk terhadap mikroorganisme senyawa sehingga menghambat kompos mikroorganisme menguraikan diazinon....

029 kurang dari taraf signifikan 0.0% dari total keragaman yang tidak terjelaskan oleh model. Nilai koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0.05. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 62. Plot kenormalan seperti ditunjukkan pada Gambar 9. . Hasil analisis tersebut juga menunjukkan adanya kesesuaian model yang dikembangkan dimana nilai P total model sebesar 0.15.Gambar 8 Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-14 Dari hasil analisis keragaman penurunan konsentrasi diazinon (Lampiran 3) menunjukkan bahwa secara linear dan kuadratik rasio kompos berpengaruh nyata terhadap penurunan konsentrasi diazinon. Hasil uji kenormalan galat menggunakan Kolmogorov-Smirnov Normality Test menunjukkan bahwa galat model telah terdistribusi secara normal dan saling bebas dengan keragaman relatif homogen dengan nilai P>0.79 menunjukkan relatif tingginya korelasi antara nilai-nilai observasi dan nilai dugaan.8% yang menunjukkan bahwa ada 37. Nilai P interaksi kedua faktor sebesar 0.405 tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf 95%.

.8%.001DzKp ……….. Mikroorganisme juga dapat mengakumulasikan racun hasil metabolisme dalam selnya sehingga terjadi penurunan konsentrasi.007Kp2 + 0.01Dz + 0.145 + 0. Pada kombinasi konsentrasi diazinon 1000 ppm dengan rasio kompos 20% penurunan konsentrasi diazinon mencapai 89.6%...Gambar 9 Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-14 Hasil analisis hari ke-21 (Lampiran 4) membentuk persamaan respon permukaan seperti berikut Y21 = 84. Menurut Barker dan Bryson (2002) bahwa degradasi kontaminan dalam tanah dapat dipercepat dengan penambahan kompos karena meningkatkan substrat untuk kometabolisme. Penurunan konsentrasi diazinon mencapai titik optimum pada kombinasi diazinon 1000 ppm dengan rasio kompos 25% yang dapat menurunkan konsentrasi diazinon sebesar 91. ... Dari Gambar tersebut dapat diketahui bahwa rasio kompos yang ditambahkan akan mempengaruhi penurunan konsentrasi diazinon.(6) Berdasarkan persamaan (6) diperoleh bentuk permukaan respon interaksi antara konsentrasi diazinon dengan rasio kompos dalam tanah terhadap penurunan konsentrasi diazinon seperti ditunjukkan pada Gambar 10.093Kp – 0 – 0.

Hasil analisis juga menunjukkan kesesuaian model yang kembangkan dimana nilai P total model kurang dari tarat signifikan 0.05. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 80.170 tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf 95%.Gambar 10 Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-21 Dari hasil analisis keragaman penurunan konsentrasi diazinon pada hari ke21 (Lampiran 4) secara linear dan kuadratik menunjukkan bahwa rasio kompos berpengaruh nyata terhadap penurunan konsentrasi diazinon. Nilai P interaksi kedua faktor sebesar 0.89 menunjukkan relatif tingginya korelasi antara nilai-nilai observasi dan nilai dugaan. Hasil uji kenormalan galat menggunakan Kolmogorov-Smirnov Normality Test diperoleh nilai P<0.0% menunjukkan bahwa ada 20% dari total keragaman yang tidak terjelaskan oleh model. . Nilai koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0.15. Plot kenormalan dapat dilihat pada Gambar 11.

6%. Penurunan konsentrasi diazinon mencapai titik optimum pada kombinasi diazinon 1000 ppm dengan rasio kompos 26% yang dapat menurunkan konsentrasi diazinon mencapai 97.Gambar 11 Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-21 Hasil analisis hari ke-28 (Lampiran 5) membentuk persamaan respon permukaan seperti berikut Y28 = 85.002Dz + 0...……(7) Berdasarkan persamaan (7) diperoleh bentuk permukaan respon pengaruh interaksi kedua faktor terhadap penurunan konsentrasi diazinon seperti ditunjukkan pada Gambar 12. Dari Gambar tersebut dapat diketahui bahwa rasio kompos sangat mempengaruhi penurunan konsentrasi diazinon dimana rasio kompos yang rendah memberikan efek penurunan konsentrasi diazinon juga rendah.499Kp – 0 – 0.5%. .008Kp2 + 0.0003DzKp …. Pada kombinasi rasio kompos 20% dengan konsentrasi diazinon 1000 ppm mengalami penurunan konsentrasi diazinon sebesar 92.507 – 0.

Plot kenormalan dapat dilihat pada Gambar 13. Nilai P interaksi kedua faktor tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf 95%.15. .81 menunjukkan relatif tingginya korelasi antara nilai-nilai observasi dan nilai dugaan.Gambar 12 Grafik permukaan respon hasil degradasi diazinon hari ke-28 Dari hasil analisis keragaman penurunan konsentrasi diazinon pada hari ke28 (Lampiran 5) menunjukkan bahwa secara kuadratik rasio kompos berpengaruh nyata terhadap penurunan konsentrasi diazinon.8% ini berarti bahwa ada 34. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 65.2% dari total keragaman yang tidak terjelaskan oleh model.001 kurang dari tarat signifikan 0. Hasil analisis juga menunjukkan kesesuaian model yang dikembangkan dimana nilai P total model sebesar 0. Nilai koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0. Hasil uji kenormalan galat menggunakan Kolmogorov-Smirnov Normality Test menunjukkan bahwa galat model telah terdistribusi secara normal dan saling bebas dengan keragaman relatif homogen dengan nilai P>0.05.

88 91.5x105 4. sehingga terjadi peningkatan jumlah populasi dan aktivitas mikroba. dan menurut Rao (1994) keawetan diazinon dalam tanah normal adalah 3 bulan.26 87. Selama pertumbuhan mikroorganisme tersebut secara terus menerus akan memproduksi enzim yang dapat mendetoksifikasi diazinon.6x106 Aktivitas mikroba (FDA/g) 0. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penurunan konsentrasi diazinon terjadi karena kometabolisme yang dilakukan bakteri dan mikroba lainnya yang ada dalam SMC.5x105 3.15 .0320 0. Tabel 6 Jumlah populasi dan aktivitas mikroba serta degradasi diazinon Hari ke0 7 14 21 28 TPC (cfu/g) 2.2299 Penurunan konsentrasi diazinon (%) 0 28.Gambar 13 Probabilitas normal hasil degradasi diazinon hari ke-28 Diazinon adalah salah jenis pestisida golongan organofosfat yang paling stabil di dalam tanah.5x106 4.1090 0. 1992 dalam Leland 1998).65 93. Waktu paruh diazinon adalah 30 hari (Wauchope et al.2484 0.0355 0. Jumlah populasi dan aktivitas mikroba serta hasil degradasi diazinon pada kombinasi konsentrasi diazinon 1000 ppm dengan rasio kompos 20% seperti ditunjukkan pada Tabel 6.7x106 4. Mikroba tersebut menggunakan bahanbahan organik dalam kompos sebagai sumber karbon dan energi.

Gambar 14 (a dan b) menunjukkan bahwa jumlah populasi dan aktivitas mikroba cenderung mengikuti pola kurva pertumbuhan mikroba. Pada hari ke-7 pertambahan jumlah populasi dan aktivitas mikroba masih relatif kecil karena mikroba dalam SMC tersebut masih dalam tahap pertumbuhan dan penyesuaian, sehingga proses degradasi diazinon relatif lambat dan mengakibatkan penurunan konsentrasi diazinon jadi terhambat.
5000000 4000000 TPC (cfu/g) 3000000 2000000 1000000 0 0 7 TPC 14 Hari ke21 28 100 80 60 40 20 0 Penurunan konstr diazinon (%)
Penurunan konstr diazinon (%)

Penurunan konstr diazinon

(a)
0.3 0.25 Produk FDA 0.2 60 0.15 40 0.1 0.05 0 0 7 14 Hari keAktivitas mikroba Penurunan konstr diazinon (%) 21 28 20 0 100 80

(b) Gambar 14 (a) Kurva jumlah populasi dan hasil degradasi diazinon, (b) Aktivitas mikroba dan hasil degradasi diazinon

Peningkatan jumlah populasi dan aktivitas mikroba terjadi karena didukung oleh faktor suhu dan pH yang optimum serta sumber karbon yang cukup untuk pertumbuhan bagi mikroorganisme. Dalam proses bioremediasi temperatur sangat berpengaruh terhadap kecepatan reaksi kimiawi ataupun secara enzimatik. Suhu optimum untuk proses bioremediasi adalah 10-42 oC. Suhu yang terlalu tinggi dan pH yang terlalu asam akan menyebabkan aktivitas mikroorganisme terhambat. Dalam penelitian ini proses degradasi pada pH 7-8 dengan kadar air 30-50% dan suhu 28-32 oC. Dimana kondisi ini merupakan kondisi yang optimum untuk pertumbuhan bagi mikroorganisme sehingga mendukung terjadinya peningkatan jumlah populasi dan aktivitas mikroba. Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik pada kondisi pH netral karena pada kondisi tersebut zat-zat makanan bagi mikroorganisme mudah larut dalam air yang ada dalam tanah dan kerja enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme menjadi maksimal. Dalam pertumbuhannya, mikroba tersebut diharapkan dapat memproduksi enzim yang mampu melakukan perombakan (mendetoksifikasi) senyawa diazinon secara sempurna sehingga membentuk suatu produk senyawa turunan yang mempunyai sifat toksik yang rendah dari senyawa asalnya (diazinon). Mekanisme transformasi dan degradasi pestisida yang tidak sempurna kadang terdapat gangguan mikrobial misalnya transformasi kometabolik, reaksi konjugasi, dan akumulasi pestisida di dalam sel mikroba itu sendiri, hal ini dapat menyebabkan terbentuknya senyawa baru yang lebih berbahaya dari pestisida asalnya (Bollag 1974; Ku et al. (1998). Pada hari ke-28 pertambahan jumlah populasi relatif kecil dan aktivitas mikroba mengalami penurunan karena berada pada tahap kematian (death phase). Oleh karena itu laju degradasi menurun sehingga menghambat penurunan konsentrasi diazinon. Akan tetapi penurunan konsentrasi diazinon yang terjadi hari ke-7 sampai hari ke-28 masih mengalami peningkatan, karena selain terjadi proses degradasi secara enzimatik, proses degradasi juga terjadi secara fisik dan kimiawi melalui reaksi hidrolisis, oksidasi dan penguapan. Pengadukan yang dilakukan setiap minggu memungkinkan terjadinya proses oksidasi dan penguapan. Sehingga hal ini dapat membantu laju degradasi dan menyebabkan penurunan konsentrasi diazinon yang terjadi semakin besar.

Penurunan konsentrasi diazinon semakin besar karena selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan (suhu, pH, kadar air) yang optimum, waktu juga sangat berpengaruh terhadap penurunan konsentrasi diazinon, dimana semakin lama waktu remediasi maka penurunan konsentrasi diazinon juga semakin besar. Hasil analisis pengaruh interaksi antara tiga faktor (waktu, rasio kompos, dan konsentrasi diazinon) (Lampiran 6) diperoleh persamaan dan permukaan respon sebagai berikut Y = -44.295 – 0.015Dz + 1.333Kp + 11.591t – 0 – 0.012Kp2 – 0.250t2 + 0.0004DzKp + 0.0006Dz t - 0.036 Kpt Dimana: Y = Respon terhadap degradasi diazinon Dz = Konsentrasi diazinon (ppm) Kp = Rasio kompos (%) t = Waktu (hari ke-) Bentuk permukaan respon dari pengaruh interaksi ketiga faktor terhadap penurunan konsentrasi diazinon seperti ditunjukkan pada Gambar 15. Dari Gambar tersebut diketahui bahwa dengan bertambahnya waktu dan rasio kompos yang optimal akan mempengaruhi penurunan konsentrasi diazinon dimana semakin lama waktu remediasi maka penurunan konsentrasi diazinon juga semakin besar, akan tetapi konsentrasi awal diazinon juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses dekomposisi. Interaksi antar waktu dengan rasio kompos mencapai titik optimum penurunan konsentrasi diazinon setelah hari ke-14 dengan rasio kompos antara 16-39% pada konsentrasi diazinon 1000 ppm. Penurunan konsentrasi diazinon dapat mencapai 89.5%. Plot permukaan respon seperti ditunjukkan pada Gambar 15. …..……………………………(8)

rasio kompos.5% menunjukkan kesesuaian model dimana hanya 13. Plot kenormalan dapat pada 16.15.                      Hasil uji kenormalan galat menggunakan Kolmogorov-Smimov Normality Test menunjukkan bahwa galat model telah terdistribusi secara normal dan saling bebas dengan keragaman relatif homogen dengan nilai P>0.93 menunjukkan relatif tingginya korelasi antara nilai-nilai observasi dan nilai dugaan. Nilai P interaksi ketiga faktor tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf 95%. Nilai koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0. dan konsentrasi diazinon) (Lampiran 6).05. Menunjukkan bahwa secara kuadratik rasio kompos berpengaruh nyata terhadap penurunan konsentrasi diazinon.001 kurang dari tarat signifikan 0.Gambar 15 Grafik interaksi tiga faktor terhadap hasil degradasi diazinon Analisis keragaman penurunan konsentrasi diazinon akibat interaksi ketiga faktor (waktu.       dilihat Gambar . Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 86. Dari hasil analisis menunjukkan kesesuaian model yang dikembangkan dimana nilai P total model sebesar 0.5 dari total keragaman yang tidak terjelaskan oleh model.

Proses perombakan kontaminan oleh mikroba dapat terjadi melalui proses metabolisme secara internal maupun melalui komponen yang berpengaruh seperti enzim yang diproduksi oleh mikroba tersebut selama proses adaptasi. Menurut Judoamidjojo et al. Pada hari ke-7 merupakan tahap adaptasi dan pertumbuhan sehingga aktivitas mikroba masih terhambat. Selain faktor ketersediaan sumber karbon. Aktivitas mikroba mencapai titik optimal setelah hari ke-14 dengan rasio kompos 15-30%. serta meningkatkan jumlah dan aktivitas enzim biodegradatif yang akan mendukung terjadinya proses dekontaminasi. Proses degradasi diazinon dapat terjadi melalui reaksi hidrolisis dimana yang berperanan adalah enzim hidrolase yang dihasilkan selama proses adaptasi (misalnya karboksilesterase. pada kondisi ini lebih optimal sebagai sumber karbon terhadap pertumbuhan mikroba. fosfatase dan esterase tipe A). Enzim-enzim tersebut dapat mengikat dan mentransfor xenobiotik. dalam proses degradasi ini berlangsung pada suhu 28-32 oC dan pH 7-8 yang merupakan kondisi yang optimum untuk pertumbuhan mikroba dan melakukan aktivitas. . (1989) dalam Suherman (2000) bahwa suplai karbon merupakan faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan optimal.                        Gambar 16 Probabilitas normal degradasi diazinon dengan tiga faktor Interaksi rasio kompos dengan waktu degradasi terhadap aktivitas mikroba pada konsentrasi diazinon 1000 ppm seperti ditunjukkan pada Gambar 17. Rasio kompos yang tinggi akan menghambat pertumbuhan mikroba sehingga aktivitasnya dapat terhambat. tetapi apabila sumber karbon melewati kebutuhan mikroba maka akan menimbulkan efek penghambatan terhadap pertumbuhan.

dan asam tiofosforik serta etanol. Aktivitas . Hasil identifikasi ditemukan galur bakteri Pseudomonas stutzeri. Dari beberapa penelitian terdahulu ditemukan bahwa Pseudomonas sp dan Bacillus sp dapat mendegradasi pestisida golongan organofosfat. Deskripsi hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 7. Metabolik IMHP ini akan terkonjugasi dalam binatang dan tanaman. Bacillus cereus.Gambar 17 Grafik interaksi rasio kompos dengan waktu degradasi terhadap aktivitas mikroba Secara kimiawi dan biologis diazinon dapat mengalami oksidasi yang akan menghasilkan diazoxon tetapi dengan adanya sejumlah air diazoxon dapat terhidrolisa dan akan menghasilkan IMHP (2-isopropyl-4-methyl-6hydroxipyrimidine). 4. serta terdegradasi menjadi CO2 dalam tanaman dan tanah. Bacillus mycoides. Isolasi dan Identifikasi Bakteri dari SMC Isolasi bakteri dari SMC dilakukan untuk memperoleh galur bakteri yang murni untuk selanjutnya diidentifikasi. Bacillus brevis dan Chromobacterium spp (Gambar 18). Dari hasil isolasi ini ditemukan 14 isolat kemudian diidentifikasi.2.

3. Sedangkan Bacillus cereus dapat mendegradasi pestisida jenis piretroid (Cookson 1995). Pseudomonas stutzeri Bacillus mycoides Bacillus cereus Bacillus brevis Chromobacterium spp Gambar 18 Bentuk bakteri hasil identifikasi 4.bersama Pseudomonas stutzeri dan Pseudomonas aeruginosa dapat mendegradasi paration. Uji Kemampuan Degradasi Diazinon .

Bakteri tersebut kemudian ditumbuhkan lagi pada media padat NA yang mengandung diazinon 500 ppm dan ternyata hanya Bacillus cereus yang mampu tumbuh pada media padat tersebut. Ternyata bakteri jenis Pseudomonas stutzeri. Bacillus cereus.Bakteri yang telah diidentifikasi kemudian ditumbuhkan pada media padat NA yang mengandung diazinon 100 ppm sebagai media adaptasi. Pertumbuhan bakteri seperti terlihat pada Gambar 19. dan Chromobacterium spp dapat tumbuh dengan baik sedangkan Bacillus brevis tidak dapat tumbuh pada media tersebut. Bacilllus mycoides Bacilllus cereus Chromobacterium spp Pseudomonas stutzeri Gambar 19 Pertumbuhan bakteri pada media NA padat 100 ppm diazinon . Bacillus mycoides.

Diazinon mempunyai kelarutan dalam air 0. Jika diazinon terdegradasi akan menghasilkan suatu senyawa turunan yang lebih sederhana dan bersifat polar serta mempunyai kelarutan dalam air yang lebih tinggi. Bacillus cereus mampu membentuk zona jernih di sekelilingnya. Kemampuan pembentukan luas zona jernih seperti ditunjukkan pada Tabel 7. Bacillus cereus ditumbuhkan pada media MSPY yang mengandung diazinon 1000 ppm. maka di sekeliling koloni bakteri akan membentuk zona jernih (Margot & Stammbach 1964). yaitu dicirikan dengan terbentuknya zona jernih/bening di sekeliling bakteri yang tumbuh. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas sehingga terjadi suatu proses perombakan (degradasi) diazinon menjadi senyawa yang lebih sederhana. (1996). Akan tetapi bakteri lainnya hanya dapat menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dalam media yang mengandung diazinon dan mengakumulasikannya dalam sel atau menggabungkan diazinon dengan senyawa yang terdapat di alam. 1500 ppm. sehingga media akan menjadi jernih. .004% pada suhu 20oC. Oleh karena itu dilakukan uji degradasi diazinon dengan menggunakan metode seperti yang dilakukan oleh Oshiro et al. Dengan kelarutan yang lebih tinggi dalam air akan menyebabkan hilangnya sifat opaque.Namun demikian belum dapat dipastikan bahwa bakteri yang tumbuh pada media tersebut adalah yang berperan dalam mendegradasi diazinon karena tidak semua bakteri yang dapat tumbuh dalam media yang mengandung diazinon adalah bakteri yang langsung dapat mendegradasi diazinon. dan 1700 ppm dan diinkubasi selama empat hari. Dari Tabel tersebut terlihat adanya peningkatan luas zona jernih yang terbentuk. sehingga bila diazinon ditambahkan dalam media yang kandungan terbesarnya adalah air maka media tersebut akan membentuk suspensi dan menimbulkan sifat opaque (buram). Oleh karena itu jika suatu koloni bakteri yang mampu mendegradasi diazinon menjadi senyawa yang lebih sederhana ditumbuhkan diatas permukaan media padat.

Aktivitas Bacillus cereus pada media diazinon 1000 ppm mengalami peningkatan yang lebih besar dibanding dengan pada media 1500 ppm dan 1700 ppm karena pada media yang mengandung diazinon 1500 dan 1700 ppm mempunyai sifat yang lebih toksik terhadap bakteri tersebut. Pengomposan (komposting) adalah suatu proses aerobik thermofilik yang secara umum digunakan untuk proses daur ulang residu organik. hemiselulosa maupun lignin sebagai sumber energi . Akan tetapi Bacillus cereus masih mampu melakukan aktivitas untuk mendegradasi diazinon hingga mencapai 1700 ppm.Tabel 7 Pembentukan zona jernih oleh Bacillus cereus Konsentrasi diazinon (ppm) 1000 1500 1700 Luas zona jernih (cm2) Hari ke-2 Hari ke-4 10.0048 1.6 1. Gradien oksigen. 4. sehingga limbah substrat (media) tanam jamur masih mengandung sejumlah besar unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. hemiselulosa dan lignin.8 1. nutrien dan temperatur dalam kompos akan mendukung peningkatan populasi mikroba dan mempercepat konversi bahan organik (Reddy & Michel 1999).4.8 Bacillus cereus mampu menggunakan diazinon sebagai sumber karbon dan energi untuk pertumbuhannya sehingga terjadi peningkatan aktivitas bakteri. Hasil analisis unsur hara SMC seperti ditunjukkan pada Tabel 8.2 6. Bacillus dan Pseudomonas dapat memanfaatkan bahan organik seperti selulosa.0048 4. Selain terjadi proses degradasi juga diharapkan terjadi proses komposting karena adanya aktivitas mikroba. Miselia jamur sebagian besar tersusun atas selulosa. Komposting SMC yang digunakan dalam penelitian ini adalah kompos setengah matang dan segar yang telah mengalami proses pengomposan selama media tersebut dijadikan sebagai media pembibitan jamur. serta vitamin dan mineral.

36 0.7 td 0. dimana pemanfaatan bahan organik oleh mikroorganisme tersebut akan menurunkan kandungan karbon.44 0. 1994). H2O.51 1. Tabel 8 Hasil analisis unsur hara SMC yang digunakan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Parameter pH N-organik (%) N-NH4 (%) N-NO3 (%) N-total (%) P2O5 (%) K2O (%) Na (%) Ca (%) Mg (%) S (%) C-organik (%) Fe (ppm) Al (ppm) Mn (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm) B (ppm) Pb (ppm) Cd (ppm) Cr (ppm) Ni (ppm) Co (ppm) KTK (meq/100g) C/N Kadar air (%) Kadar abu (%) Komposisi 7 0. CH4.4 70.45 Tabel 9 menunjukkan bahwa sebelum dan sesudah proses bioremediasi terjadi penurunan nilai C/N dan perubahan kandungan unsur-unsur hara lainnya. Bahan organik tersebut akan menghasilkan CO2.4 262.5 10.3 td 1. SO4.sehingga terjadi proses dekomposisi. Penurunan nilai C/N berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme pengurai yang membebaskan CO2.98 1035 1777 291 29 22 54 9.07 td 0. Sedangkan kandungan nitrogen . NO3.03 6053 59 1.56 25.08 0. dan H2S (Rao.99 35.

19 7.02 0.02 0.08 0.02 0.14 0. sehingga hal ini menyebabkan terjadinya penurunan nilai C/N.31) adalah kondisi yang optimum untuk pertumbuhan bakteri.4 44.397.22 0.8 135.18 0.04 0.4 114.02 < 0.bertambah dan kadar amonium mengalami penurunan karena terjadi fiksasi.85 34.68 0.1 0.07 7. Kondisi pH (7.39 7.67 0. Tabel 9 Hasil analisis unsur hara pada sampel (tanah + kompos) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Parameter pH N-organik (%) N-NH4 (%) N-NO3 (%) N-total (%) P2O5 (%) K2O (%) Na (%) Ca (%) Mg (%) S (%) C-organik (%) Fe (ppm) Al (ppm) Mn (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm) B (ppm) Pb (ppm) Cd (ppm) Cr (ppm) Ni (ppm) Co (ppm) KTK (meq/100g) C/N Kadar air (%) Komposisi/jumlah Awal (H+0) Akhir (H+28) 7. Rasio C/N awal bahan yang komposkan mempengaruhi proses pengomposan dimana dengan rasio kompos yang tinggi maka proses pengomposan akan lambat.9 17.68) dan kadar air (33.7 15.31 .01 0.1 0.8 td <1 1.14 0.9 td td 17.23 0.01 0.5 33.5 51.02 0.16 0.6 0.8-34.11 0.12 33447 25678 99516 53790 <1 259 11 34 57 66 40 22 14.

Tabel 7 menunjukkan beberapa perbandingan hasil degradasi atau biotransformasi diazinon selama pengomposan. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme dalam SMC sangat berperan dalam proses degradasi diazinon tersebut. diazinon akan terurai dengan cepat dan bahkan hampir seluruhnya dapat diuraikan. Penurunan konsentrasi yang terjadi pada penelitian ini jauh lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan bahan organik.80-7.40 9. sedangkan sampel yang tidak terkena cahaya tidak ditemukan adanya hasil degradasi. dilaporkan bahwa setelah 21 hari diazinon mengalami dekomposisi secara fotolisis sebesar 30%.10 >0. .20 6. dan kandungan air dalam kompos (Reddy & Michel 1999). Dengan keragaman dan aktivitas mikroba yang tinggi dalam pengomposan.49 Dalam proses pengomposan. Volatilisasi diazinon tergantung pada konsentrasi diazinon yang ditambahkan.Dengan adanya bakteri Bacillus dan Pseudomonas maka bahan-bahan organik SMC akan mengalami proses dekomposisi tapi butuh waktu yang lama untuk memperoleh kompos yang memenuhi standar kualitas kompos yaitu sesuai dengan SNI 19-7030-2004 (Tabel 10). maka akan menyebabkan peningkatan degradasi (Barker & Bryson 2002).00 10-20 >0. rasio kompos.80-32. Dengan pengomposan diazinon lebih cepat mengalami degradasi dibanding dalam tanah secara alamiah karena temperatur yang tinggi dan kandungan air yang besar. Tabel 10 Standar kualitas unsur makro kompos berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-7030-2004) Kandungan Bahan organik (%) Kadar air (%) Total N (%) Karbon (%) Rasio C/N P (%) K (%) pH Baku 27-58 <50 >0. bahan yang digunakan. Penelitian yang dilakukan oleh Bavcon (2003) dengan menggunakan bahan organik.

Uji Aktivitas Mikroba Peningkatan aktivitas mikroba juga dapat dilihat dari hasil analisis dengan menggunakan Fluorescein Diacetate (FDA) Assay.5. Hasil uji aktivitas mikroba (Lampiran 8) menunjukkan bahwa aktivitas mikroba cenderung mengkuti pola kurva pertumbuhan mikroba yaitu melewati fase lamban (lag phase). dan fase mati (death phase). eksponensial dan stasioner. Semakin banyak FDA yang dihasilkan berarti semakin besar pula aktivitas mikrobanya. fase eksponensial (exponential phase). Peningkatan jumlah FDA yang dihasilkan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas mikroba.9 30 0 Bavcon (2003) Bavcon (2003) Reddy dan Michel (1999) Reddy dan Michel (1999) Reddy dan Michel (1999) 10 10 >97 10 100 100 10 9 99 21 1000 90 *Hasil dari penelitian ini. . Menurut Gumbira-Said (1997) bahwa pertumbuhan mikroba diukur dengan pendekatan massa sel dan kurva pertumbuhan yang mempunya tiga fase yang berbeda yaitu fase awal. fase diam (stasionary phase). 4.Tabel 11 Beberapa data degradasi diazinon Metode Waktu (hari) 120 Konsentrasi awal (ppm) Penurunan konsentrasi (%) 75-100 Keterangan Alami Bahan organik terkena cahaya matahari Bahan organik tanpa cahaya Komposting (sistem windrow) Komposting (pupuk.9 6. serbuk gergaji dengan cahaya) Komposting (rumput dengan cahaya) Komposting (SMC tanpa cahaya)* Rao (1994) 21 21 6.

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa mikroorganisme menggunakan bahan-bahan organik dalam SMC sebagai sumber karbon dan energi untuk pertumbuhannya sehingga populasi mikroba dan aktivitasnya meningkat yang akan meningkatkan kemampuan mikroba untuk mendegradasi senyawa diazinon. Hal ini dapat menyebabkan penurunan aktivitas mikroba sehingga kecepatan degradasi oleh mikroba juga menurun dan akan mengakibatkan laju penurunan konsentrasi diazinon terhambat. Dalam proses adaptasi ini akan mengalami perubahan komposisi kimia sebelum mampu memulai pertumbuhannya dan mikroba akan mensintesis enzim untuk melawan dan mendetoksifikasi senyawa diazinon. ataupun karena adanya sifat toksik sistem inhibisi oleh akumulasi hasil metabolisme beracun. Fase ini merupakan tahap adaptasi dan pertumbuhan. Hal ini juga dapat dilihat dari hasil analisis penurunan konsentrasi diazinon bahwa pada hari ke-7 penurunan konsentrasi diazinon yang terjadi masih relatif kecil. Tetapi selain terjadi proses degradasi secara biologis. dalam hal ini adaptasi dilakukan terhadap keberadaan senyawa diazinon. diazinon juga mengalami reaksi kimia secara hidrolisis karena adanya sejumlah air dalam bahan yang tercemar diazinon. Pada hari ke. Pada hari ke-28 aktivitas mikroba mulai menurun dan sebagian cenderung mati. . Selain itu. Populasi mikroba jarang dipertahankan pertumbuhannya pada fase eksponensial dalam waktu yang lama karena dibatasi oleh sumber energi.14 hingga hari ke-21 aktivitas mikroba berada pada fase eksponensial. Pada hari ke-28 aktivitas mikroba berada pada tahap stasioner dan menuju ke tahap kematian. karena faktor waktu juga sangat berpengaruh dalam degradasi diazinon sehingga hal ini menyebabkan penurunan konsentrasi diazinon pada hari ke-28 semakin besar. Oleh karena itu penurunan konsentrasi pada hari ke-14 dan hari ke-21 mengalami laju penurunan yang besar karena aktivitas mikroba yang tinggi. terlihat pada sampel (P9) yang rasio komposnya relatif lebih kecil dengan konsentrasi diazinon yang tinggi sehingga kemampuan hidup pada kondisi tersebut sangat kecil karena sifat toksik yang dimiliki. dimana pada fase ini mikroba melakukan metabolisme yang optimal.Dari hasil uji aktivitas mikroba menunjukkan bahwa pada hari ke 0-7 masih berada pada fase awal.

Akan tetapi dalam waktu tertentu pertumbuhan mikroba akan berada pada tahap stasioner dan menyebabkan jumlah populasi dan aktivitas mikroba akan mengalami penurunan sehingga kemampuan mendegradasi diazinon juga terhambat. .

mengidentifikasi senyawa turunan hasil biodegradasi dan melakukan uji toksisitas untuk mengetahui pengaruh pestisida (diazinon) dan turunannya terhadap tanaman 2. Kondisi optimum untuk bioremediasi tanah tercemar diazinon yang efektif dan ekonomis yakni dengan rasio kompos 15-32% pada konsentrasi diazinon teknis 1000 ppm selama 14-21 hari yang dapat menurunkan konsentrasi diazinon 80-92%. Bakteri tersebut menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh dan beradaptasi pada media padat NA yang mengandung 100 ppm diazinon. Bacillus cereus. Pseudomonas stutzeri. kecuali Bacillus brevis. . Bacillus cereus mampu mendegradasi diazinon pada media padat MSPY yang mengandung 1700 ppm diazinon.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Penambahan jumlah kompos dalam tanah dan waktu remediasi sangat berpengaruh dalam proses biodegradasi dan memberi pengaruh positif pada penurunan konsentrasi diazinon. Saran 1. Bacillus brevis dan Chromobacterium spp adalah galur bakteri yang diisolasi dari SMC (spent mushroom compost). Bacillus mycoides. Dalam proses degradasi ini melibatkan beragam mikroorganisme sehingga perlu studi lanjut dengan menggunakan isolat tunggal untuk mengetahui kemampuan mendegradasi diazinon yang ada dalam tanah. Perlu penelitian lebih lanjut menggunakan SMC dan mengaplikasikannya dilapangan. Sedangkan Bacillus cereus mampu tumbuh hingga 500 ppm diazinon.

Bioremediation.htm. [Anonim]. Determination of Residues of 16 Common Pesticides Apllied In Apple Fruit by Gas Chromatography.ac.co. Penggunaan Pestisida di Luar Usaha Budidaya Pertanian. Microbial Vol. Investigation of The Determination and Tranformation of Diazinon and Malation Under Environmental Conditions Using Gas Chromatography Coupe with a Flame Ionisation Detector. Gray NCC Moser LE. 2000. Extension Toxicology Network. http://extoxnet. The Scientific World. .660. http://edmart.php?mesid=20&kata_kunci=pestis ida. 18:75-130.tempo. [4 Januari 2005]. penemu. Compost Decontamination of DDT Contaminated Soil. 2:407-420. [19 Juni 2004]. [Anonim]. Pesticide Information Profil.id/detailarticle. [Anonim].edu/pips/diazinon.DAFTAR PUSTAKA [Anonim]. Bulletin Environmental Contamination and Toxicology. Zupancic-Kralj L. 1994. Diane SH. Barker AV. Baker HB. Analyses of Liquid Diazinon Formulation and Breakdown Products: An Australia-Wide Survey. Review paper. Appl. 26 Agustus 1997. http://www. Peruraian Pestisida Organofosfor dalam Tanah Sawah.ugm. http://www. 2003. Microbial Transformation of Pesticides.asp.612. Ireland: Developing Horticulture. Bryson GM.orst. 53:902-906. 2002. Boophaty R. [27 Oktober 2004]. 2003. Adv. 5. Liapis KS. [Anonim]. Trebse P. United States Patent.htm. Factor Limiting Bioremediation Technology. Aplikasi Bioteknologi dalam Upaya Peningkatan Efisiensi Agribisbis yang Berkelanjutan. 1974. 1994.ipard. Bioremediation of Heavy Metals and Organic Toxicant By Composting. Bavcon M. Britt AG. Bord Glas Mush Book: Enrich Your Business with Spent Mushroom Compost. Bollag JM. 74: 63-67. Allender WJ.staff. Pesticides Residues Laboratory: Benakl Phytopathological Institute. Chemosphere 50:595-601.id/medika/arsip/07001/war-3. Bioresource Technology. [20 Oktober 2005]. Bernier RL.com/art perkebn/dhg1. New York: McGraw-Hill. Bempelou ED.

Prosiding Pelatihan dan Lokakarya “Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan”. The Use of Biocatalysts For Pestisida Detoxification. Gumbira-Said E. Eggen T. Handbook of Pesticide Toxicology. Hal 1-5. San Diego: Academic Press. 1999. . Ekha I.902. Cibinong. 1991. Bioremediasi dengan Mikroorganisme. 16: 71-76. New York: Lippincott Williams and Wilkins. United States Patent. Ninth edition. Gumbira-Said E. 24-28 Juni 1996. CPIS. penemu. Fauzi AM. Bergey’s Manual of: Determinative Bacteriology. New York: John Wiley and Sons Inc. Pengantar Bioremediasi. Jakarta: Center for Policy and Inplementation Study. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Rome: FAO. 1992. Terjemahan dari: Chemistry and Ecotoxicology of Pollution. A Manual of Rural Composting. 1994. Organophosphates: Chemistry. San Diego: Academic Press.744. LIPI/BPPT/HSF. Prosiding Pelatihan dan Lokakarya “Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan”. Chen W. Mulchandani A. Hayes WJ. Application of Fungal From Commersial Mushroom Production Pleuorotus ostreatus For Bioremediation of Creosote Contaminated Soil. Cibinong. Tibtech. Sneath PHA. Staley JT. Bioindustri: Penerapan Teknologi Fermentasi. 1996. Krieg NR. LIPI/BPPT/HSF. Moser GP. 1987. International Biodeterioration and Biodegradation 44: 117-126. Tragedi Revolusi Hijau.. Medyatama Sarana Perkasa. 1983. Yanti Koestoer. Statistical for Experiments. Gaur AC. Yogyakarta: Kanisius. penerjemah. Laws ER. 1996. editor. Connel DW. Gray NCC. Moser LE. 5. 11 Mei 1999Compost Decontaminating of Soil Contaminated With Chlorinated Toxicants. Jakarta: UI-Press. Gregory JM. Teori dan Aplikasi. Dilema Pestisida. Holt JG. Panduan Teknik Pembuatan Kompos dari Sampah. 24-28 Juni. 1991. Jakarta: PT. 1992. and Effect. Fate. 1998. Patricia EL. Williams ST. Hal 1117. Inc. Citroreksono P. Chambers JE.Box GEP. The United Nation. 1995. 1978. Hunter JS.

Edi Nugroho. 2003. Tsang YY. Ku Y. Smyth S. Water. 6. 1991.738. Terjemahan dari: Basic Toxikology: fundamentals. Membuat Kompos Secara Kilat. Toksikologi Dasar: Asas. Fakultas Teknologi Pertanian. Lu FC. Leland JE. 2005. Bogor: Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Dodd V. Lau KL.033. Gannon DJ. Institut Pertanian Bogor. Design and Analysis of Experiment.998. Penyusunan Standar Mutu dan Sistem Pemasaran Kompos. Sheng-Chyi. Montgomery DC. Gannon DJ. and risk assesment. Purwoko. and RDX with Aerobic and Anaerobic Microorganism. Jurnal Teknologi Industri Pertanian.Indrasti NS. Moser GP. Ireland: Agricultural and Food Engineering Department.199. Compost Decontamination of Soil Contaminated with PCP using Aerobic and Anaerobic Microorgnisms. Indrasti NS. 5. and Soil Pollution. New York. Indriani YH. 7 Maret 2000. Aplikasi Linear Programming dalam Formulasi Pupuk Organik Berbasis Kompos untuk Berbagai Tanaman.108:445-456. United States Patent. University College Dublin Earlsfort Terrate.738. United States Patent. Moser GP. penerjemah. 1999. Jakarta: Penebar Swadaya. Lay BW. 1998. 1995. Vol. 15 (2): 60-71. HMX. Magette W. Moser GP. Sugyo H. 1998. 52:1539-1546. 6. . Margot A. Evaluating the Hazard of Land Applying Composted Diazinon Waste Using Earthworm Biomonitoring [thesis] Virginia: Faculty of the Virginia Polytechnic Institute and State University. Chemosphere. Suherman. Laporan Akhir. Chiu SW. Gray NCC. Stammbach K. Mikrobiologi. Air.083. Compost Decontamination of Soil Contaminated with PCB using Aerobic and Anaerobic Microorgnisms. penemu. 1992. target organs. Organ Sasaran dan Penilaian Risiko. Analitycal Method for Pesticides Plant Growth Regulation. Gray NCC. Jay-Lin C. 7 Desember 1999. 4 Juli 2000. Compost Decontaminating of Soil Contaminated With TNT. United States Patent. Use of Spent Mushroom Compost to Bioremediate PAH-Contaminated Samples. Gray NCC. penemu. New York: Academic Press Inc. 1964. penemu. Logistical Consideration for Spent Mushroom Compost Utilisation. Effect of Solution pH on the Hydrolisys and Photolisys of Diazinon in Aquous Solution. Jakarta: Rajawali Press. Jakarta: UI-Press. 2003.

Handbook of Bioremediation. 24-28 Juni 1996. Fermor TR. Semple KT. Reddy CA. The Use and Significance of Pesticides in The Environment. Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik.oldcollege. 1989. Hoshino T.McEwen FL. penerjemah. 1999. Mikrobiologi Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Review. Oshiro K. New York: John Wiley and Sons. Manurung H. Environmental Pollution 112: 269-283. Sakai T. Prosiding Pelatihan dan Lokakarya “Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan. Herawati Susilo. Degradasi Pestisida dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Canada: Atlantic Canada Society for Microbial Ecology. 2004. Bioremediation of Oganophosphorus Insecticides by Bacteria Isolated From Turf Green Soil.ab. 2001. Michel Jr. Badan Standarisasi Nasional. Uchiyama T. Buletin Penelitian 28:28-32. Dynamics of Environmental Bioprocesses: Modelling and Simulation.ca). 1985. Fate of Xenobiotics During Composting. 1995. Old College Composting Technology Centre. Canada: A Wiley-Interscience Publication. London: Lewis Publishers. Penurunan Kadar Residu Diazinon dan Kinetikanya Selama Proses Pemanasan Wortel (Daucus carota L) yang Disemprot dengan Diazinon 60 EC [Tesis]. Reid BJ. Hirota H. Issues in Composting Based Bioremediation (www. 1992. 1996. Jakarta: UI-Press. Ningsih D. Soebroto MA. Organic Waste Recycling. Bioremediasi Diazinon Secara Ex Situ Menggunakan Mikrob Indigenous Isolat B3 [skripsi] Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. 2001. Kakuta T. et al. Porparest C. Institut Pertanian Bogor. . Fitoremediasi. 1996. 1994. Dunn IJ. Impact of Composting Strategies on The Treatment of Soil Contaminated with Organic Pollutants. Snape JB. Proceeding of the 8th Interntional Symposium on Microbial Ecology. Prenosil JE. 2004. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Norris I. Bioeng 82: 299-305. 1979. hlm 51-59. Ingham J. J Ferment. Rahayu SP. Cibinong. SNI 19-7030. New York: VCH Publishers. 1994. Terjemahan dari Soil Microorganisms and Plant Growth. Inc. Cibinong: LIPI/BPPT/HSF. FC. Stephenson GR. Rao NSS.

[20 Oktober 2005] Vidali M. 1997. Edisi revisi. Sifat. Petunjuk Penggunaan Pestisida. 24-28 Jun 1996. Geological Survey. US-EPA. 12th Ed. Wudianto R. Inc. Bogor: Forum Bioremediasi IPB-PKSPL-IPB.usga. 1996. Fakultas Teknologi Pertanian. Drugs. Yani M. 1992. U. US-EPA.S. Composting Yard Trimming and Municipal Solid Waste.gov/wid/html/bioremed. USA: Published by Merch Research Laboratories Division of MERCK & CO. Cibinong. Fauzi AM. Insektisida.htlm). Cibinong: LIPI/BPPT/HSF. 1996 : An Encyclopedia of Chemical. Jakarta: Universitas Kristen Widya Kencana. Suherman AD. Strategi Pengembangan Penelitian Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan dan Pembangunan di Indonesia. Bioremediation: Nature’s Way To A Cleanner Environment. Tarumengkang. 1994. and Biologicals. US-EPA. R. EPA530-R-94-003. 1997. 2003.C. hlm 220-231. 20 Peb 2003. Bogor. Bioremediation. Prosiding Pelatihan dan Lokakarya Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan. 2001. Jakarta: Penebar Swadaya. . Institut Pertanian Bogor. Bioremediasi Pestisida Organofosfat Diazinon Secara Ex Situ dengan Menggunakan Mikroba Indigenous dari Areal Persawahan [skripsi] Bogor: Jurusan Teknologi Industri Pertanian. 73:1163-1172. Aribowo F. The Marck Index. Seminar Bioremediasi dan Rehabilitasi Lahan Sekitar Pertambangan dan Perminyakan. An Analysis of Composting as An Environmental Remediation Technology EPA-530-R-98-008. Innovative Uses of Compost Bioremediation and Pollution Prevention EPA-530-F-97-042. Chem. (www.. 2000.Soerjani M. Pure Appl. 1998. Bioremediasi Lahan Terkontaminasi Senyawa Hidrokarbon. Mekanisme Kerja dan Dampak Penggunaannya.

LAMPIRAN .

9653 0.4444 0.0000 0.3280 0.6707 0.0000 0.0648 kurva std Absorbansi 1.Lampiran 1 Data pengamatan analisis diazinon dengan spektrofotometri pada panjang gelombang (λ) = 241 nm a.0648 rata-rata 0.9653 1.3284 0.0000 0 1000 2000 konsentrasi diazinon (ppm) y = 0.6711 0.0000 0.3282 0.0007x + 0.5000 1.0648 1.4446 0.0386 1.6715 0.9703 absorbansi rata-rata Linear (absorbansi rata-rata) .5000 0.3282 0.2206 0.2197 0.0405 1.6711 0.2197 0.0405 1.4444 0.0213 R2 = 0.9650 1.4451 0.9645 1. Kurva standar diazinon Konsentrasi diazinon (ppm) 0 250 500 750 1000 1250 1500 1750 I 0.0399 1.2200 0.0000 0.0000 0.0648 absorbansi II III 0.

09 9175.52 4198.85 5840.4 92.45 92.52 7621.07 1.93 91.52 22942.18 88.29 60.28 7091.75 11656.24 59385.46 33604.85 19352.02 69104.70 62680.24 3920.62 25.27 6262.70 8737.54 12177.79 25.69 92.23 11382.b.90 2663. Hasi l analisis degradasi diazinon Konsentrasi efektif hari ke0 7 14 21 28 99561.87 76828.59 64239.09 110961.98 54491.97 55857.01 71.32 44358.37 5449.46 88.00 3935.03 96.18 73.79 50.83 87.8 72.14 4316.97 83.09 39090.82 87.28 5609.27 30805.00 4509.81 75199.85 20.49 94.03 91.49 .81 71380.9 89.95 91.63 9.85 188.19 70747.58 95.78 15.97 42.93 49271.04 4258.93 61661.28 7699.73 80.57 20409.85 48.19 8160.59 19938.77 89.69 58599.51 18614.18 Penurunan konsentrasi hari ke7 14 21 22.08 32496.12 7754.03 6520.11 95.41 11454.55 38.08 89.74 46609.99 91.95 63085.82 8.52 6855.69 45014.23 42225.87 82147.03 70.43 4567.72 89.04 7385.86 Sampel P1 P2 P3 P4 P51 P52 P53 P6 P7 P8 P9 K1 K2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 92.08 30.39 93.73 99.58 14.40 7.14 12819.52 77.11 13.65 76.62 62585.62 46.57 46.25 83.95 5323.88 56693.44 28.51 8649.41 37034.69 23495.71 87019.25 28.

77 13.45 136. kp The analysis was done using coded units.7284 -0.78 Lampiran 2 Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-7 (output minitab versi 14) Response Surface Regression: H7 versus dz.0824 0.393 0.916 Residual -27.720 686.60 2059.570 Fit 48.711 0.14 3.14 3.36 Coef 29.0484254 -4.0688 0.54 23.671 0.914 F 0.010 Unusual Observations for H7 Obs 2 StdOrder 2 H7 20.0020 T 0.03 0.890 68. Estimated Regression Coefficients for H7 Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz S = 20. Estimated Regression Coefficients for H7 using data in uncoded units Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz Coef 28.928 R-Sq = 44.83 3763.825 0.572 3.83 Adj MS 337.183 -0.0000 0.590 6.35914E-05 1.05 Adj SS 1689.928 0.01 99.59951E-11 1.111 0.853 0.0002 SE Coef 64.76 2073.0% Analysis of Variance for H7 Source Regression Linear Square Interaction Residual Error Lack-of-Fit Pure Error Total DF 5 2 2 1 5 3 2 10 Seq SS 1689.764 414.095 P 0.17 23.1029 0.16 0.9826 0.89241E-08 .862 0.30 P 0.0092 0.558 St Resid -2.586 0.0813 0.0000 0.9% R-Sq(adj) = 0.973 0.60 2059.81 0.4007 3.086 11.55362E-05 4.17 R R denotes an observation with a large standardized residual.128 SE Fit 15.0319 0.45 1662.916 0.451 0.76 2073.77 13.232 0.

30 23.3125 0.89 177.47 531.78 110.0000 0.71 53.910 P 0.62 91.18 Adj SS 934.622 0.34497E-08 .69 283.94 26.8% R-Sq(adj) = 25.79 Lampiran 3 Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-14 (output minitab versi 14) Response Surface Regression: H14 versus Kp.83 15.062 Estimated Regression Coefficients for H14 using data in uncoded units Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz Coef 83.78 554. Estimated Regression Coefficients for H14 Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz S = 10.3018 2.7568 -0.69 0.59 F 1.526 -0.554 0.485 -0.94255E-05 -2.78 554.38244E-05 -5.53122E-11 9.0010 SE Coef 33.0420 0.28 P 0.405 R-Sq = 62.30 23.152 0.28 0.911 0. Dz The analysis was done using coded units.17 1489.0000 0.10 11.71 559.795 0.290 0.405 0.118 -1.1593 -0.0426 0.0011 T 2.0050 -0.53 Coef 82.356 0.0206702 2.885 0.0594 0.055 0.5% Analysis of Variance for H14 Source Regression Linear Square Interaction Residual Error Lack-of-Fit Pure Error Total DF 5 2 2 1 5 3 2 10 Seq SS 934.41 283.24 91.24 1.17 Adj MS 186.47 531.70 141.181 0.0221 -0.24 91.

724 19.800 Fit 88.08992E-05 -2.724 98.446 2.17 1. Estimated Regression Coefficients for H21 Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz S = 4.420 36.8% R-Sq(adj) = 59.585 SE Fit 3.91133E-08 .230 R-Sq = 79.560 -0.00761943 1.600 0.061 Unusual Observations for H21 Obs 9 StdOrder 9 H21 82.0004 T 5.919 0.0006 SE Coef 14.790 78.0179 0.436 Coef 84.337 4.366 P 0.9875 0.791 6.0000 0.362 -1.420 36.678 31.724 98.0282 0.96912E-11 5.181 Adj SS 389.0930 0.648 78.96 0.8675 0.0065 -0.791 274.28612E-05 -3. Estimated Regression Coefficients for H21 using data in uncoded units Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz Coef 83.0177 0.337 4.230 0.210 36.785 St Resid -2.52 P 0.0099 -0.732 0.87 15.980 1.395 39.846 0. kp The analysis was done using coded units.7% Analysis of Variance for H21 Source Regression Linear Square Interaction Residual Error Lack-of-Fit Pure Error Total DF 5 2 2 1 5 3 2 10 Seq SS 389.079 0.998 0.390 94.498 Residual -5.027 F 3.390 94.105 0.231 0.053 Adj MS 77.053 488.0000 0.80 Lampiran 4 Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-21 (output minitab versi 14) Response Surface Regression: H21 versus dz.1447 0.958 3.99 1.107 0.002 0.12 R R denotes an observation with a large standardized residual.

307 6.135 -0.8% R-Sq(adj) = 31.307 6.08 R R denotes an observation with a large standardized residual.133 4.069 F 1.426 85.7% Analysis of Variance for H28 Source Regression Linear Square Interaction Residual Error Lack-of-Fit Pure Error Total DF 5 2 2 1 5 3 2 10 Seq SS 164.001 0.47281E-08 .054 27.864 5.13 0.566 R-Sq = 65.63660E-06 -3. kp The analysis was done using coded units.294 0. Estimated Regression Coefficients for H28 using data in uncoded units Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz Coef 84.653 0.0596 0.426 85.318 153.044 2.0003 SE Coef 13.272 St Resid 2.0165 0.241 2.93 0.072 Unusual Observations for H28 Obs 8 StdOrder 8 H28 96.585 4.0022 -0.884 0.257 Residual 5.0167 0.130 Coef 85.0359241 -3.79484E-05 -4.138 Adj MS 32.426 17.898 0.7899 0.154 6.748 0.271 81.244 0.0004 T 6.547 0.0000 0.318 10.566 0.0080 -0.178 SE Fit 3.589 Adj SS 164.617 -0.133 4.564 0.450 Fit 91.5073 0.138 249.481 4.271 81.478 -0.0000 0.38 13.614 P 0. Estimated Regression Coefficients for h28 Term Constant Kp Dz Kp*Kp Dz*Dz Kp*Dz S = 4.4987 -0.8076 0.81 Lampiran 5 Hasil analisis degradasi diazinon hari ke-28 (output minitab versi 14) Response Surface Regression: h28 versus dz.07 P 0.31 0.10542E-12 2.780 0.

64 2.717 SE Fit 6.942 5.5% R-Sq(adj) = 82.545 0.2301 0.000 0.9% Analysis of Variance for Rs Source Regression Linear Square Interaction Residual Error Lack-of-Fit Pure Error Total DF 9 3 3 3 34 26 8 43 Seq SS 29677.728 6.000 0.2504 0.0152 11.52 176.68 136.031 73.542 47. jumlah kompos dan konsentrasi diazinon Response Surface Regression: rs versus Dz.59 16.0261 0.7 6690.73927E-08 .33675E-04 8.611 -6.570 60.92 5.0251 1.0004 -0.84 P 0.20 8843.20677E-11 -0.00227144 4.53652E-05 -1.08 2.000 0.000 Unusual Observations for Rs Obs 2 9 10 15 StdOrder 2 9 10 15 Rs 20.4786 0.0006 SE Coef 24.084 -0.31522E-08 -2.548 0.0006 0.000 0.15 21.0356 0.40 R R R R R denotes an observation with a large standardized residual.000 0.47 2947.839 -0.0236 0.366 1.82 Lampiran 6 Hasil analisis kombinasi waktu.0982521 -2.3331 -0.286 0.2949 1.440 71.68 Coef -44.39058E-05 1.83 2230.0 4641.8 34318.6 4599.820 98.803 1.5907 -0.898 24.0116 -0.228 R-Sq = 86.676 6.836 19.0000 -0.4 539. t The analysis was done using coded units.789 25. Estimated Regression Coefficients for Rs using data in uncoded units Term Constant Kp Dz t Kp*Kp Dz*Dz t*t Kp*Dz Kp*t Dz*t Coef -66.05 4641.2762 0. Kp.625 0.34 1.64 4599.82 41.080 0.493 -0.8 Adj SS 29677.181 0.966 0.32 33.23 F 24.0005 T -1.0359 0.810 Fit 46. Estimated Regression Coefficients for rs Term Constant Kp Dz t Kp*Kp Dz*Dz t*t Kp*Dz Kp*t Dz*t S = 11.406 40.757 -1.454 0.093 St Resid -2.229 P 0.183 Residual -25.83 Adj MS 3297.15 179.607 7.2 22447.0000 0.18808 -5.285 0.44 539.5692 1.49 6690.8 41.69 2.

C Catalase Oxidase Glukose O/F Pertumbuhan pada Mac Conkey Motility Hemolysis Citrate MR Test VP test Indole Gelatin H2S pada TsiA Lysine decarboxylase Ornithine decarboxilase Urease Nitrase Aesculin hydrolysis Pertumbuhan pada NA/Broth Glukose Adonitol Arabinose Dulcitol Glycerol Inocitol Lactose Maltose Mannitol Raffinose Rhamnose Salicin Sorbitol Sukrose Trehalose Xylose o o 2 G+Ve btg + 3 G+Ve btg + 4 G+Ve btg + 5 G+Ve btg + G+Ve btg + - - - - - + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + - + - + - + - + - - - - - d - - - - - ..83 Lampiran 7 Deskripsi hasil identifikasi bakteri 1 Coloni Morfologi Gram stain Pertumbuhan pada 37 C Pertumbuhan pada .

.84 Lampiran 7 Lanjutan 6 Coloni Morfologi Gram stain Pertumbuhan pada 37 C Pertumbuhan pada . C Catalase Oxidase Glukose O/F Pertumbuhan pada Mac Conkey Motility Hemolysis Citrate MR Test VP test Indole Gelatin H2S pada TsiA Lysine decarboxylase Ornithine decarboxilase Urease Nitrase Aesculin hydrolysis Pertumbuhan pada NA/Broth Glukose Adonitol Arabinose Dulcitol Glycerol Inocitol Lactose Maltose Mannitol Raffinose Rhamnose Salicin Sorbitol Sukrose Trehalose Xylose o o 7 G-Ve btg + + + 8 G+Ve btg + 9 G+Ve btg + 10 G+Ve btg + G+Ve btg + - + + + + - - - + + + + + + + + + + + + + + + + + + + - + + - + - + - + - d - .

85 Lampiran 7 Lanjutan 11 Coloni Morfologi Gram stain Pertumbuhan pada 37 C Pertumbuhan pada 30 C Catalase Oxidase Glukose O/F Pertumbuhan pada Mac Conkey Motility Hemolysis Citrate MR Test VP test Indole Gelatin H2S pada TsiA Lysine decarboxylase Ornithine decarboxilase Urease Nitrase Aesculin hydrolysis Pertumbuhan pada NA/Broth Glukose Adonitol Arabinose Dulcitol Glycerol Inocitol Lactose Maltose Mannitol Raffinose Rhamnose Salicin Sorbitol Sukrose Trehalose Xylose o o 13 G+Ve btg + + 14 G-Ve btg + + + + G+Ve btg + + - - + + + - + + + + + + + + + - + d + - - - d - + .

Bacillus mycoides 2. Bacillus cereus 6. Bacillus mycoides 3. Bacillus brevis 10. Bacillus brevis 11. Chromobacterium spp 8. Bacillus brevis 14. Pseudomonas stutzeri . Bacillus cereus 5.86 Lampiran 7 Lanjutan Keterangan hasil identifikasi bakteri: 1. Bacillus cereus 4. Bacillus cereus 9. Bacillus cereus 7. Bacillus cereus 13.

5445 0.2711 0.7000 0.2720 0.2119 0.5000 0.2025 0.5 Absorban y = 0.5417 0.2 0.3000 0.0000 0.6021 0.3188 0.1986 0.3 0.6000 0.2171 0.6031 Absorbansi II III 0.6046 rata-rata 0.3000 0.2521 Sampel P1 Produk FDA Produk FDA 0. Kurva standar FDA 0.87 Lampiran 8 Analisis aktivitas mikroba dengan spektrofotometri pada panjang gelombang (λ) = 490 nm a.9674 1.5 Vol FDA (ml) 2.1782 R2 = 0.0 1.3186 0.0628 0.5406 0.5 I 0.1943 0.1973 0.2700 0.3184 0.1000 0.2424 0.1946 0.2712 0.0 0.2000 0.2155 0.1995 0.1105 0.2151 0.1000 0.4000 0.1942 0.2721 0.5 1.1942 0.1 0.1973 0.0651 0. Uji aktivitas mikroba pada sampel Sampel P1 Hari Absorban ke0 7 14 21 28 0.0 b.4000 0.0000 0 10 Hari Ke- 20 30 .0 0.5423 0.2000 0.6033 Kurva Standar FDA 0.3081 0.3048x + 0.2143 0.0 1.3195 0.1980 0.

1897 0.0016 0.0300 0.0800 0.2386 Produk FDA 0.0706 0.1797 0.0000 0 Sampel P51 10 Hari Ke.1979 0.0648 0.0276 0.3000 0.1000 0.20 30 .4000 0.0605 0.3480 0.0000 0 Sampel P3 10 Hari Ke- 20 30 Sampel P4 Produk FDA Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.2500 0.2819 0.0000 0 Sampel P4 10 Hari Ke.2843 0.1982 0.2000 0.0696 0.0060 0.0400 0.0049 0.0681 0.2641 Produk FDA 0.1479 0.1788 0.1800 0.1787 0.1994 Produk FDA 0.2067 0.2634 0.0800 0.1875 0.0019 0.1866 0.0200 0.2585 0.0200 0.2000 0.0600 0.88 Sampel P2 Produk FDA Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.1500 0.3000 0.0400 0.0500 0.1966 Produk FDA 0.1997 0.1990 0.0600 0.20 30 Sampel P51 Produk FDA Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0000 0 Sampel P2 10 Hari Ke- 20 30 Sampel P3 Produk FDA Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0935 0.0379 0.1873 0.1000 0.2233 0.1966 0.0305 0.0604 0.

1384 0.0000 0 10 Sampel P52 Hari Ke- 20 30 Sampel P53 Produk FD A Sampel P53 Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0358 0.0500 0.0400 0.2317 0.2546 0.2273 0.0374 0.1909 0.1000 0.1886 0.0200 0.1000 0.1881 0.2001 Produk FDA 0.2136 0.1901 0.1000 0.0000 0 10 Hari Ke- 20 30 Sampel P7 Produk FDA Sampel P7 Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0391 0.0418 0.0275 0.2000 0.0500 0.1901 0.0100 0.2558 0.1998 0.1879 0.2072 0.1163 0.0000 0 10 Hari Ke- 20 30 .1500 0.0342 0.1891 0.2080 0.2204 0.1866 0.2391 Produk FDA 0.3000 0.1896 0.2000 0.20 30 Sampel P6 Produk FDA Sampel P6 Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0851 0.0500 0.0718 0.2475 0.1878 Produk FDA 0.0951 0.2488 Produk FDA 0.1500 0.0392 0.2500 0.0318 0.89 Sampel P52 Produk FDA Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0300 0.2041 0.0000 0 10 Hari Ke.0325 0.0314 0.0979 0.

0500 0 -0.1000 -0.0200 0.1503 0.1785 0.1500 -0.2112 0.1150 Produk FDA -0.1082 0.0006 0.3696 0.0830 -0.0050 0.2046 0.1593 0.0600 -0.0753 -0.0000 0 10 Hari Ke- 20 30 Sampel P9 Sampel P9 Produk FDA Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.1784 0.1000 -0.2000 0.0685 -0.2872 0.4000 0.2500 Hari ke- 10 20 30 .1529 0.1768 0.2072 0.1765 0.1695 0.0009 0.0150 Hari Ke- 10 20 30 Sampel K1 Sampel K1 Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0000 -0.3576 0.0056 -0.0865 0.1058 0.1000 0.1200 10 20 30 Hari Ke- Sampel K2 Produk FDA Sampel K2 Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0005 -0.0004 -0.0100 -0.0000 -0.3000 0.0050 -0.1783 0.0619 -0.1552 0.1459 Produk FDA Produk FDA 0.0915 -0.1551 0.0000 0 -0.1783 0.2908 Produk FDA 0.0800 -0.2000 -0.90 Sampel P8 Produk FDA Sampel P8 Hari ke0 7 14 21 28 Absorban 0.0044 -0.0284 -0.0400 -0.0119 0.2255 0.1746 Produk FDA 0.0200 0 -0.1573 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful