You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL

A. DEFINISI Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi denganorang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, ataukegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan denganorang lain, yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak adaperhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain.(Balitbang, dalam Fitria, 2010, hlm. 29)Isolasi sosial adalah keadaan ketika seorang individu mengalamipenurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan oranglain disekitarnya. (Keliat dan Akemat, 2009, hlm. 93)Selain itu isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasidengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klienmengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lainyang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman. (Yosep, 2009, hlm. 229) B. FAKTOR PREDISPOSISI Menurut Fitria (2009, hlm. 33-35) ada empat faktor predisposisi yangmenyebabkan Isolasi Sosial, diantaranya: 1. Faktor Tumbuhan Kembang Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugasperkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalamhubungan sosial. Bila tugas perkembangan tidak terpenuhi maka akanmenghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapatmenimbulkan masalah sosial. 2. Faktor Sosial BudayaIsolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosialmerupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungansosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut olehkeluarga di mana setiap anggota keluarga yang tidak produktif sepertilanjut usia, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan darilingkungan sosialnya.

3. Faktor Biologis Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukungterjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapatmempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, misalnyapada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosialmemiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, sertaperubahan ukuran dan bentuk sel sel dalam limbik dan daerah kortikal.4. 4. Faktor Komunikasi dan Keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukungterjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yangtermasuk dalam masalah berkomunikasi sehingga menimbulkanketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluargamenerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersama atauekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga C. FAKTOR PRESIPITASI Menurut Stuart (2007, hlm. 280) faktor presipitasi atau stresor pencetuspada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stresseperti kehilangan, yang memenuhi kemampuan individu berhubungan denganorang lain dan menyebabkan ansietas. Faktor pencetus dapat dikelompokkandalam dua kategori yaitu sebagai berikut: Stresor Sosiokultural. Stress dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitasunit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti. Stresor Psikologi. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat ataukegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan.

D. POHON MASALAH

E. FAKTOR LAIN YANG DAPAT MENYEBABKAN ISOLASI SOSIAL 1. Penilaian Terhadap Stresor Rasa sedih karena suatu kehilangan atau beberapa kehilangan dapatsangat besar sehingga individu tidak tidak mau menghadapi kehilangandimasa depan, bukan mengambil resiko mengalami lebih banyak kesedihan. Respon ini lebih mungkin terjadi jika individu mengalamikesulitan dalam tugas perkembangan yang berkaitan dengan hubungan.(Stuart, 2007, hlm. 280) 2. Mekanisme KopingMenurut Stuart (2007, hlm. 281) individu yang mengalami responsosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas.Mekanisme tersebut berkaitan dengan dua jenis masalah hubunganyang spesifik yaitu sebagai berikut: a. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian antisosial Proyeksi merupakan keinginan yang tidak dapat ditoleransi,mencurahkan emosi kepada orang lain karena kesalahan sendiri.(Rasmun, 2004, hlm. 35) Spliting atau memisah merupakan kegagalan individu

dalammenginterpretasikan dirinya dalam menilai baik buruk.(Rasmun, 2004, hlm. 36) b. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang Splitting Formasi reaksi Proyeksi

3. Sumber

Isolasi merupakan perilaku yang menunjukan pengasingan diridari lingkungan dan orang lain. (Rasmun, 2004, hlm. 32) Idealisasi orang lain Merendahkan orang lain Identifikasi proyeksi KopingMenurut Stuart (2007, hlm. 280) sumber koping yang

berhubungandengan respon sosial maladaptif adalah sebagai berikut : a. Keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman. b. Hubungan dengan hewan peliharaan yaitu dengan mencurahkanperhatian pada hewan peliharaan. c. Penggunaan kreativitas untuk mengekspresikan stres interpersonal(misalnya: kesenian, musik, atau tulisan)Menurut Stuart & Laraia (2005, hlm. 432) terkadang ada beberapaorang yang ketika ada masalah mereka mendapat dukungan dari keluargadan teman yang membantunya dalam mencari jalan keluar, tetapi ada jugasebagian orang yang memiliki masalah, tetapi menghadapinya denganmenyendiri dan tidak mau menceritakan kepada siapapun, termasuk keluarga dan temannya. 4. Rentan Respon Bagan rentang respon pada pasien dengan isolasi sosial dapat dilihat pada skema 2.2 dibawah ini: a. Respon Adaptif Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima olehnormanorma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku.Menurut Fitria (2009, hlm. 32) yang termasuk respon adaptif adalahsebagai berikut: Menyendiri, merupakan respon yang dibutuhkan seseoranguntuk

merenungkan apa yang telah terjadi dilingkungan sosialnya Otonomi, merupakan kemampuan individu untuk menentukandab

menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan dalam hubungansosial Bekerja sama, merupakan kemampuan individu yang salingmembutuhkan orang lain. Interdependen, saling ketergantungan antara individu denganorang lain dalam membina hubungan interpersonal.

b. Respon Maladaptif Respon yang diberikan individu menyimpang dari norma sosial.Yang termasuk kedalam rentang respon maladaptif adalah sebagaiberikut: Menarik Diri Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membinahubungan secara terbuka dengan orang lain. Ketergantungan Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehinggatergantung dengan orang lain. Manipulasi Seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individusehingga tidak dapat menerima hubungan sosial secaramendalam. Curiga Seseorang gagal dalam mengembangkan rasa percaya terhadaporang lain.

F. TANDA DAN GEJALA a. Menurut Budi Anna Kelia (2009), tanda dan gejala ditemui seperti: 1. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul. 2. Menghindar dari orang lain (menyendiri). 3. Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat. 4. Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk. 5. Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas. 6. Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. 7. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. 8. Posisi janin saat tidur. b. Penyebab Menurut Budi Anna Keliat (2009), salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri

dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan. Tanda dan Gejala : 1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi). 2. 3. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri). Gangguan hubungan sosial (menarik diri).

4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan). 5. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. c. Akibat Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat adanya terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa

stimulus/rangsangan eksternal. Tanda dan gejala ; 1. Bicara, senyum dan tertawa sendiri. 2. Menarik diri dan menghindar dari orang lain.

3. Tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata. 4. Tidak dapat memusatkan perhatian. 5. Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut. 6. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Metode Biologik Metode biologik yang digunakan pada pasien dengan isolasi sosialadalah sebagai berikut: a. Terapi PsikofarmakaTerapi psikofarmaka yang akan diberikan ditujukan pada gangguanfungsi neurotransmitter sehingga gejala-gejala klinis dapat dihilangkanatau dengan kata lain skizofrenia dapat diobati (Hawari,2006, hlm. 96).Obat antipsikotik terpilih untuk skizofrenia terbagi dalam dua golongan(Hawari, 2006, hlm. 97-99)

yaitu antipsikotik tipikal (Klorpromazim,Trifluferazin, Haloperidol) dan antipsikotik atipikal (Klozapin,Risperidon). Antipsikotik golongan tipikal tersebut bekerja denganmemblokir reseptor dopamin terpilih, baik diarea striatal maupun limbik diotak dan antipsikoti atipikal menghasilkan reseptor dopamin dan serotonin selektif yang menghambat sistem limbik. Memberikan efek antipsikotik (gejala positif) dan mengurangi gejala negatif.

b. Metode PsikososialMenurut Hawari (2006, hlm. 105-111) ada beberapa terapi untuk pasien skizofrenia, diantaranya adalah sebagai berikut: Psikoterapi Psikoterapi pada penderita skizofrenia baru dapat diberikan apabilapenderita dengan terapi psikofarmaka sudah mencapai tahapandimana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih danpemahaman diri sudah baik. (Hawari, 2006, hlm. 105) Terapi Psikososial Dengan terapi psikososial ini dimaksudkan agar penderita mampukembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampumerawat diri, mampu mandiri tidak bergantung pada orang lainsehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat.(Hawari, 2006, hlm. 108-109) c. Terapi Psikoreligius Terapi keagamaan terhadap penderita skizofrenia ternyatamempunyai manfaat. Diantaranya yaitu gejala-gejala klinis gangguan jiwalebih cepat hilang, lamanya perawatan lebih pendek, hendaya lebih cepatteratasi, dan lebih cepat dalam beradaptasi dengan lingkungan. Terapikeagamaan yang dimaksud adalah berupa kegiatan ritual keagamaanseperti sembahyang, berdoa, shalat, ceramah keagamaan, kajian kitab sucidan lain sebagainya. (Hawari, 2006, hlm. 110-111)

A. ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN Menurut Keliat (2010, hlm.93) untuk melakukan pengkajian padapasien dengan isolasi sosial dapat menggunakan teknik wawancara danobservasi. a. Pengkajian yang ditemukan pada teknik wawancara adalah sebagaiberikut: Pasien mengatakan malas bergaul dengan orang lain. Pasien mengatakan dirinya tidak ingin ditemani perawat danmeminta untuk sendirian. Pasien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain. Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan oranglain. Pasien merasa tidak aman dengan orang lain. Pasien mengatakan tidak bisa melangsungkan hidup. Pasien mengatakan merasa bosan dan lambat menghabiskanwaktu.

b. Pengkajian yang ditemukan dari hasil observasi adalah sebagai berikut: Ekspresi wajah kurang berseri Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri Mengisolasi diri Tidak ada/kurang kontak mata Aktivitas menurun Asupan makanan dan minuman terganggu Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan. Tampak sedih, afek tumpul

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Diagnosa utama : Isolasi social b. Diagnosa lain yang menyertai diagnosa isolasi sosial menurut Keliat(2006, hlm. 20 ) adalah sebagi berikut: Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri Gangguan konsep diri: harga diri rendah

Ketidakefektifan penatalaksanaan program teraupetik Defisit perawatan diri Ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan keluargamerawat pasien dirumah. Gangguan pemeliharaan kesehatan

3. RENCANA TINDAKAN a. Diagnosa I : perubahan sensori persepsi halusinasi Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan Tujuan khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk kelancaran hubungan interaksi seanjutnya Tindakan : 1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara : a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. Perkenalkan diri dengan sopan c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai d. Jelaskan tujuan pertemuan e. Jujur dan menepati janji f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien 2. Klien dapat mengenal halusinasinya Tindakan : 2.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap 2.2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara dan tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ kedepan seolah-olah ada teman bicara 2.3 Bantu klien mengenal halusinasinya a. Tanyakan apakah ada suara yang didengar b. Apa yang dikatakan halusinasinya

c. Katakan perawat percaya klien mendengar suara itu , namun perawat sendiri tidak mendengarnya. d. Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti itu

e. Katakan bahwa perawat akan membantu klien 2.4 Diskusikan dengan klien : a. Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam)

2.5 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah, takut, sedih, senang) beri kesempatan klien mengungkapkan perasaannya 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya Tindakan : 3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur, marah, menyibukkan diri dll) 3.2 Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat ber pujian 3.3 Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi: a. b. c. d. Katakan saya tidak mau dengar Menemui orang lain Membuat jadwal kegiatan sehari-hari Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak bicara sendiri 3.4 Bantu bertahap 3.5 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih 3.6 Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil 3.7 Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi, realita, stimulasi persepsi 4. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya Tindakan : 4.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi 4.2 Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan rumah): a. Gejala halusinasi yang dialami klien klien memilih dan melatih cara memutus halusinasinya secara

b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah, diberi kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama d. Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat bantuan : halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai diri atau orang lain 5. Klien memanfaatkan obat dengan baik Tindakan : 5.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat minum obat 5.2 Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya 5.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping minum obat yang dirasakan 5.4 Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi 5.5 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar. b. Diagnosa 1: Isolasi sosial: menarik diri Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi Tujuan Khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : 1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara : a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. Perkenalkan diri dengan sopan c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai d. Jelaskan tujuan pertemuan e. Jujur dan menepati janji f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien

2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri Tindakan: 2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya. 2.2 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul 2.3 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang muncul 2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Tindakan : 3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur, marah, menyibukkan diri dll) 3.2 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain a. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain c. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain 3.3 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain a. beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain b. diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain c. beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain

4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial Tindakan: 4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain 4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap : Klien Perawat Klien Perawat Perawat lain Klien Perawat Perawat lain Klien lain K Keluarga atau kelompok masyarakat

4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai. 4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan 4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu 4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan 4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan 5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain Tindakan: 5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain 5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain. 5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain 6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga Tindakan: 6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga : Salam, perkenalan diri Jelaskan tujuan Buat kontrak Eksplorasi perasaan klien

6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang : Perilaku menarik diri

Penyebab perilaku menarik diri Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi Cara keluarga menghadapi klien menarik diri

6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain. 6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu 6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga

c. Diagnosa 2 : harga diri rendah Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan : 1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara : a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. Perkenalkan diri dengan sopan c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai d. Jelaskan tujuan pertemuan e. Jujur dan menepati janji f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien 2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan: 2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien 2.2 Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif 2.3 Utamakan memberikan pujian yang realistik 3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan Tindakan:

3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. 3.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya. 4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang

dimiliki Tindakan: 4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan Kegiatan mandiri Kegiatan dengan bantuan sebagian Kegiatan yang membutuhkan bantuan total

4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien. 4.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya Tindakan: 5.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien. 5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan: 6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. 6.2 Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat. 6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah