TOLERANSI BERAGAMA MAHASISWA

(Studi tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri)

Editor : H. Bahari, MA

Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan Jakarta, 2010

Perpustakaan Nasional: katalog dalam terbitan (KDT) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Toleransi Beragama Mahasiswa (Studi tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri) Ed. I. Cet. 1. ------Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama 2010 xiii + 171 hlm; 21 x 29 cm ISBN 978-979-797-287-5

Hak Cipta 2010, pada Penerbit
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara menggunakan mesin fotocopy, tanpa izin sah dari penerbit

Cetakan Pertama, September 2010 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama

TOLERANSI BERAGAMA MAHASISWA (STUDI TENTANG PENGARUH KEPRIBADIAN, KETERLIBATAN ORGANISASI, HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA, DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN TERHADAP TOLERANSI MAHASISWA BERBEDA AGAMA PADA 7 PERGURUAN TINGGI UMUM NEGERI)

Editor: H. Bahari, MA Desain cover dan Lay out oleh: H. Zabidi
Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an Museum Istiqlal Komplek Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Telp/Fax. (021) 87790189, 87793540 Diterbitkan oleh: Maloho Jaya Abadi Press, Jakarta Anggota IKAPI No. 387/DKI/09 Jl. Jatiwaringin Raya No. 55 Jakarta 13620 Telp. (021) 862 1522, 8661 0137, 9821 5932 Fax. (021) 862 1522

ii

 

SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG DAN DIKLAT KEMENTERIAN AGAMA RI asalah toleransi beragama adalah masalah yang selalu hangat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sampai dewasa ini masih banyak kelompok masyarakat yang melakukan perbuatan intoleransi. Oleh karenanya, sikap intoleransi harus dideteksi sejak dini dan dijadikan dasar untuk mengembangkan budaya toleransi, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam realitasnya, konflik akibat intoleransi sampai saat ini masih sering terjadi dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mungkin juga termasuk mahasiswa. Padahal, mestinya kenyataan adanya perbedaan agama, paham, penafsiran dan organisasi keagamaan haruslah diterima sebagai kenyataan yang harus diterima. Solusi yang harus diupayakan adalah bagaimana mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan dalam kehidupan sosial keagamaan dan mencerminkan kedewasaan beragama dalam kerangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sejak dini harus sudah ditanamkan kesadaran kepada anak-anak, pelajar, pemuda dan mahasiswa tentang adanya realitas kemajemukan bangsa ini. Mahasiswa sebagai harapan masa depan bangsa dalam mengemban amanah kepemimpinan dan agen perubahan sosial, kiranya harus dibekali dengan pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan yang cukup dalam menyikapi pluralitas bangsa yang memang sangat tinggi. Untuk itulah sangat perlu dilakukan penelitian berkaitan dengan toleransi umat berbeda agama di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, kami menyambut baik diterbitkannya buku Toleransi

M

Beragama Mahasiswa (Studi tentang Pengaruh Kepribadian,
  iii

tawasuth. Abdul Djamil. Pertama. Hasil Belajar Pendidikan Agama. Selama ini belum diketahui benar. Semoga buku ini dapat memberikan kontribusi dalam membangun pemahaman masyarakat yang moderat. bagaimana sikap para mahasiswa terhadap pandangan keagamaanya ber-kaitan dengan toleransi kehidupan beragama. dapat memberikan informasi tentang berbagai pandangan keagamaan para mahasiswa berkaitan dengan toleransi kehidupan beragamaan.Keterlibatan Organisasi. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri). Dengan pemahaman seperti itu diharapkan mendorong para mahasiswa untuk dapat memahami dirinya akan perlunya membangun toleransi kehidup-an keagamaan yang lebih baik di masa depan. MA. NIP: 19570414 198203 1 003 iv   . Kedua. dalam hal ini Puslitbang Kehidupan Keagamaan. Dr. Jakarta. September 2010 Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. penerbitan buku ini merupakan salah satu media untuk mensosialisasikan hasil-hasil pengembangan yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. tawazun dan toleran. ketika akan mengelola negeri di segala bidang kehidupan. H. Dengan diterbitkannya hasil penelitian ini diharapkan dapat tersosialisasikan dengan baik bagaimana sebenarnya sikap mahasiswa berkaitan dengan pandangan keagamaan yang berhubungan dengan toleransi kehidupan beragama.

Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah Menengah Umum (SMU). institut. baik pelajar. birokrat maupun mahasiswa. Usia saat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. terutama bila kemajemukan tersebut tidak disikapi dan dikelola secara baik. akademi. dari tingkat anakanak. toleransi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh kelompok masyarakat. dan sebagainya. Salah satu komponen penting masyarakat dalam rangka menjaga tetap bekerjanya prinsip-prinsip toleransi adalah para mahasiswa. Lebih dari itu. dewasa. hingga orang tua. pada sisi lain. kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam konteks kemajemukan agama di Indonesia tersebut. Pendidikan tersebut dapat berupa perguruan tinggi. sekolah tinggi.KATA PENGANTAR KEPALA PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN emajemukan agama bangsa Indonesia pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang kaya bagi proses konsolidasi demokrasi. Namun. toleransi beragama merupakan isu penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Toleransi merupakan elemen dasar yang dibutuhkan untuk menumbuh kembangkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada. remaja. umumnya   v K . pegawai. prinsip-prinsip toleransi harus betul-betul bekerja mengatur perikehidupan masyarakat secara efektif. Agar tidak terjadi konflik antarumat beragama. serta menjadi entry point bagi terwujudnya suasana dialog dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat.

termasuk dalam hal hubungan antarumat beragama. dari kalangan mahasiswa akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan berperan dominan dalam perkembangan masyarakat. Dalam masyarakat. Tongkat estafet kepemimpinan ini akan diteruskan oleh mahasiswa. Dari hasil penelitian dapat ditarik gambaran sementara bahwa setiap upaya meningkatkan toleransi di kalangan mahasiswa masih perlu dilakukan.berkisar antara 18-21 tahun. ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. Di samping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi cara pandang. usia ini sangat rentan terhadap segala sesuatu. Education is slow but a powerful force. wawasan dan daya kritis yang memungkinkan mahasiswa untuk memikirkan masa depan masyarakat tempat mereka hidup. Karena tingkat pendidikan yang tinggi ini. mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi sub elemen penting masyara-kat sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu bentuk tatanan tertentu. Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi idealisme. meminjam istilah William Fulbright. Mahasiswa dianggap tunas-tunas baru yang akan menggantikan peran para pemimpin di masa yang akan datang. Beberapa sosiolog pendidikan. Di tangan para mahasiswa masa depan bangsa ini akan bergantung. kendati survei SETARA Institute menunjukkan hasil menggembirakan terhadap kondisi toleransi kaum muda berbeda agama. pada akhirnya nanti. namun pada sisi lain masih ditemukan konflik sosial yang melibatkan vi   . Potensi ini dipunyainya tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang tergolong tinggi dalam masyarakat. Sebab. kejiwaan yang belum mapan dan selalu memegang idiom ketokohan. seperti Halsey dan Psacharopoulos menyatakan bahwa pendidikan memainkan bagian penting dalam determinan-determinan status dan penghasilan. Secara fisiologis.

Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan yang telah memberi sambutan dan arahan untuk terbitnya buku ini. Mudah-mudahan buku ini menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi para peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan khususnya dan pembaca pada umumnya. kami dengan senang hati akan menerima masukan dan kritik dari pembaca sekalian. sehingga menjadi buku yang layak terbit.mahasiswa. Demi sempurnanya buku ini. Amien. Abd. Juli 2010 Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Prof. Semoga Allah selalu memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sekalian.D NIP. Ph. H. Rahman Mas`ud. Jakarta. Dari penelitian ini diketahui toleransi dan apresiasi antarmahasiswa. maka diperlukan sebuah penelitian tentang toleransi mahasiswa berbeda agama pada perguruan tinggi. baik intra maupun antarumat beragama. Kemudian tak lupa kami sampaikan terima kasih juga kepada Editor yang telah mengkoreksi ulang hasil penelitian ini. Bertolak dari berbagai masalah dan kenyataan serta harapan seperti dikemukakan di atas. 19600416 198903 005   vii . sebagai modal akademis guna mengarahkan kehidupan sosial yang lebih kohesif di masa depan.

viii   .

Sebagai hasil penelitian ilmiah. diseminasi hasil penelitian. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada Perguruan Tinggi Umum Negeri (Studi di 7 Universitas) dengan baik. dengan harapan penelitian berjalan sesuai harapan. penyusunan ulang kuesioner hasil uji coba. yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada tahun anggaran 2009.PENGANTAR EDITOR A lhamdulillahi Rabbi al-`alamin. dan penyusunan laporan penelitian. pengumpulan data. Hasil Belajar Pendidikan Agama. penelitian ini telah mampu menggambarkan bagaimana Pengaruh Kepribadian. Dalam tahapan penelitian ini pastilah terasa agak berat mengingat bahwa penelitian bercorak kuantitaif saat ini relatif merupakan tradisi baru di Puslitbang Kehidupan Keagamaan. kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa. Hasil Belajar Pendidikan Agama. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda   ix . Puslitbang Kehidupan Keagamaan cukup konsisten untuk terus mengembangkan pendekatan kuantitatif dalam beberapa penelitiannya. penyusunan pedoman wawancara. penyusunan kuesioner. Penelitian ini merupakan 1 di antara 3 penelitian yang menggunakan pendekatan kuan-titatif. uji coba kuesioner. analisis data. validitasi dan reliabilitasi kuesioner. Dengan adanya penelitian ini. Penyusunan desain operasional penelitian terutama berkaitan dengan kerangka teorinya tentu sangat melelahkan dibandingkan dengan penelitian yang bercorak kualitatif. Penelitian ini terasa dilakukan dengan cara cukup serius. yang telah mem-berikan kekuatan pada kami sehingga bisa menyelesaikan editorial tentang laporan penelitian Pengaruh Kepribadian. display data. Keterlibatan Organisasi. Keterlibatan Organisasi.

Bahari. tetapi substansi dapat dicerna sendiri oleh para pembaca dalam buku ini. bagaimana sikap para mahasiswa di perguruan tinggi umum yang berkaitan dengan toleransi beragama. M. mengingat bahwa terjadinya ketidakrukunan di berbagai tempat di Indonesia selama ini selalu diawali oleh kaum muda. Editor. yang selama ini belum dilakukan. kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengedit buku hasil penelitian ini. H. Buku ini secara substansial memang sudah pernah terdengar dilakukan penelitian meskipun dengan judul yang berbeda. MA x   .Agama pada Perguruan Tinggi Umum Negeri. Nah dari buku ini akan terlihat. sehingga hasil penelitian ini juga membantu saya memahami sikap mahasiswa berkaitan dengan toleransi beragama itu. Jakarta. Namun hasil penelitian ini tetap menarik untuk tetap dibaca. Juli 2010 Drs. Demikian semoga bermanfaat. Terakhir. bahkan terkadang juga para mahasiswa. Kami tidak perlu menyimpulkan atau membuat ringkasan mengenai hasil penelitian ini.

.... Variabel Toleransi Beragama (Y) ................ Variabel Keterlibantan Organisasi (X2) .. Metode dan Desain Penelitian ............. Pembatasan Masalah ..DAFTAR ISI Sambutan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ...................... 1....... A............. B.............................. Variabel Kepribadian (X1) .............................. C...... Hipotesis Penelitian ... Variabel Hasil Belajar Pendidika Agama (X3) ................................. Identifikasi Masalah ........................... 4.......................................................................................... Pengantar Editor ............ D........................ F.................................................................. Populasi dan Sampel ....... Penyusunan Kerangka Teoritik dan Pengajuan Hipotesis ........... Kegunaan Hasil Penelitian ................................ Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... Tujuan Penelitian ......................... Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) ...   ........ Hasil Penelitian yang Relevan ............... A.................................. D. C...................... 2.......... C........................ Kerangka Berpikir ............................... iii v ix xi 1 1 12 26 27 28 28 Bab II 31 31 31 39 43 44 50 61 80 90 91 91 92 93 xi Bab III Metodologi Penelitian .............. Latar Belakang Masalah ............. Bab I Pendahuluan ......... B.............................................. Deskripsi Teoritik .. A........................ Perumusan Masalah ...... 5.................................................................................... Daftar Isi .................... E.............. Kata Pengantar Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan ....................... B....................................................................... 3............

................................................ Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) ............. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar .. Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan............... 3............................ A.... 5..... 7..... Variabel Kepribadian (X1) . Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama... Kepribadian ... 2... 5................... Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi ..... Teknik Analisis Data ..... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama ....................... C.. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) .......... 8................ Instrumen Penelitian ................. xii   105 105 107 108 110 116 117 119 121 121 122 124 125 126 127 127 129 ............................................ Deskripsi Data dan Temuan ............ 95 2........ 102 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan .. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama 4................................ Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama 7 Universitas ................. Analisis Inferensial .......... 2...... 94 1.......................... Hasil Belajar Pendidikan Agama . 97 4.................... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan............................ 6. 100 E............................... 3.D.............. Profil Responden ................. 1............ B........................................ 96 3.... 1.................. Lingkungan Pendidikan ... 98 5...................................................................... 4. Pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan...................... Keterlibatan Organisasi .............. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) .................... Variabel Toleransi Beragama (Y) .....................................

........................................................... Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama ... D....... 129 129 131 134 141 141 143 144 115 145 153 153 154 155 Daftar Pustaka ........................... A............................................................................................................................................. Daftar Pustaka .................... Hasil Penelitian Kualitatif ................................................................. E...... Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama .......................................................... Model Empiris Hubungan Antar Variabel .. Kesimpulan ............................................. Bab V Penutup ........... Daftar Pertanyaan (Kuesioner) .................... Pembahasan ................... Lampiran ....... Pedoman Wawancara ........... C..............................................   xiii . Rekomendasi ................................................................................... B. 10................................................9........ Implikasi............

xiv   .

religious demography di Indonesia menunjukkan 213 juta jiwa penganut agama yang berbeda dengan komposisi 88. dan 0. etnis. baik dari sisi budaya.79%). 109 kelompok etnis berada di Indonesia belahan barat.1% Katolik. Katolik (3. 5.2% agama serta kepercayaan lainnya. di negara ini hidup berbagai agama besar di dunia. dan Konghucu.60%).10%). yaitu pemeluk Islam (88. dan Papua. Data tersebut mengungkapkan bahwa penduduk beragama Islam merupakan mayoritas secara nasional. Kristen (5.BAB I PENDAHULUAN A. Pada sensus tahun 2000.12%). Katolik.2% pemeluk Islam. sedangkan 1 . Kristen.58%). dan agama.1 I                                                              1Dari sisi etnis. tumbuh dan berkembang pula berbagai aliran atau kepercayaan lokal yang jumlahnya tidak kalah banyak. Sulawesi Utara. di Indonesia terdapat lebih kurang 658 etnis. Dari enam ratusan etnis itu. Kalimantan Barat. Sedangkan di Sumatera Utara. Khonghucu (0. Buddha. yaitu Islam. Buddha (0. 1. Latar Belakang Masalah ndonesia adalah bangsa yang majemuk.8% Buddha. dan Maluku Utara penduduk Kristen merupakan minoritas tetapi dengan jumlah signifikan. 3.73%). Dari sisi agama.9% Kristen. dan lainnya (0. bahasa. Pada Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005 juga masih menunjukkan angka yang hampir sama. Agama-agama tertentu lainnya menunjukkan jumlah mayoritas penduduk di propinsi tertentu seperti Hindu di Bali serta Kristen di Nusa Tenggara Timur. Hindu. Selain itu. 0. namun tidak demikian dalam sebaran perpropinsi atau kabupaten/kota.8% Hindu.08%). Komposisi jumlah penduduk Islam dan Kristen cukup berimbang di Maluku. Hindu (1.

al. Jakarta: LIPI Press. prinsip-prinsip toleransi harus betul-betul bekerja mengatur perikehidupan masyarakat secara efektif. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik.Kemajemukan agama tersebut pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa Indonesia karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang sangat kaya bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lebih dari itu.2 Dalam konteks kemajemukan agama di Indonesia tersebut. hingga orang tua. 2006. toleransi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh kelompok masyarakat. pada sisi lain. pegawai. maka toleransi beragama---dalam pengertian kesediaan umat beragama hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain---merupakan isu penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. baik pelajar. Dari 549 etnis itu 300 lebih di antaranya menyebar di Papua. Toleransi merupakan elemen dasar yang dibutuhkan untuk menumbuhkembangkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada. dewasa. dari tingkat anak-anak. 1. Namun. 34. Volume V No. birokrat maupun mahasiswa.     2 . “Kekerasan Komunal di Indonesia: Sebuah Tinjauan Umum” dalam Jurnal Dignitas. 2Muhammad Hisyam et. terutama bila kemajemukan tersebut tidak disikapi dan dikelola secara baik. Salah satu subelemen penting masyarakat dalam rangka menjaga tetap bekerjanya prinsip-prinsip toleransi adalah para mahasiswa. Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah                                                                                                                                Indonesia timur terdiri atas 549 etnis. serta menjadi entry point bagi terwujudnya suasana dialog dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat. Dengan kata lain. 1 Tahun 2008. hlm. kemajemukan etnis di belahan timur lebih tinggi dari belahan barat. remaja. Agar tidak terjadi konflik antarumat beragama. Amiruddin al Rahab. hlm.

umumnya berkisar antara 18-21 tahun. kejiwaan yang labil dan selalu memegang idiom ketokohan. termasuk dalam hal hubungan antarumat beragama. hlm. akademi. Dalam masyarakat. Mahasiswa dianggap tunas-tunas baru yang akan menggantikan peran para pemimpin di masa yang akan datang. wawasan dan daya kritis yang memungkinkan mahasiswa untuk memikirkan masa depan masyarakat tempat mereka hidup. Tongkat estafet kepemimpinan ini akan diteruskan oleh mahasiswa. Beberapa sosiolog pendidikan. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi cara pandang. seperti Halsey dan Psacharopoulos menyatakan bahwa pendidikan memainkan bagian penting dalam determinan-determinan status dan penghasilan. mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi subelemen penting masyarakat sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu bentuk tatanan tertentu. Di tangan para mahasiswa masa depan bangsa ini akan bergantung.   3 . dan sebagainya. dari kalangan mahasiswa akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan berperan dominan dalam perkembangan masyarakat.4                                                              3“Menggugat Intelektualisme Mahasiswa” dalam http:// bermula. Usia saat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Pendidikan tersebut dapat berupa perguruan tinggi. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta.3 Potensi ini dipunyainya tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang tergolong tinggi dalam masyarakat.   4Lucia Ratih Kusumadewi. Skripsi. Depok: FISIP UI. wordpress.Menengah Umum (SMU). ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi idealisme. Secara fisiologis. 1999. institut. Karena tingkat pendidikan yang tinggi ini. pada akhirnya nanti. 11-12. usia ini sangat rentan terhadap segala sesuatu.com/ 2008/06/25/menggugat-intelektualisme-mahasiswa/. sekolah tinggi. Di samping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini.

hlm. mahasiswa adalah calon-calon pemimpin bangsa.Andreas A. yaitu: Pertama. mempengaruhi masyarakat supaya dapat bersikap dan berperilaku yang mengarah pada toleransi yang tinggi antarpemeluk agama. Dia memberikan 4 (empat) alasan. bersikap dan berperilaku terhadap pemeluk agama lain yang secara konkret mendukung dan dapat menciptakan toleransi antarpemeluk agama. 31-32. dan Kedua.google.   4 . Pertanyaan kemudian muncul. Yewangoe dalam Agama dan Kerukunan. Saling pengertian yang dicapai hari ini di antara para mahasiswa berbeda-beda agama merupakan modal yang berharga apabila mereka nanti menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. dengan idealismenya yang tinggi.5 Banawiratma mengatakan bahwa selayaknya kaum terdidik (baca: mahasiswa) dapat menjadi fasilitator dalam mencoba untuk membaca dan menilai situasi hidup nyata ini. untuk: Pertama. paling tidak ditinjau dari sejarah kemahasiswaan di Indonesia selama ini masih belum terkontaminasi oleh berbagai tekanan di mana agama-agama cenderung diperalat. dan Keempat. selalu berupaya mewujudkan persatuan dan kesatuan melalui perbuatan nyata. mahasiswa. telah terdapat sikap-sikap yang berpotensi mendukung terciptanya toleransi antarumat                                                              5 http://books.co.id/books. mahasiswa. dibutuhkan kesadaran penuh dari kalangan terdidik. termasuk hubungan antarumat beragama secara rasional dan berkepala dingin. begitu pula untuk menemukan langkah maju dalam kehidupan antarumat beragama. mahasiswa adalah calon-calon intelektual yang diharapkan dapat meninjau berbagai relasi antar manusia. Kedua. Untuk mewujudkannya. optimis akan peran yang dapat dimainkan mahasiswa dalam meningkatkan kerukunan umat beragama. Ketiga. apakah dari kalangan terdidik sendiri (baca: mahasiswa).

Dengan mengetahui gambaran tersebut diharapkan dapat disajikan kerangka pandang yang cukup memadai dalam usaha-usaha menuju kepada kehidupan antarumat beragama yang lebih baik. Ambon (1999). mengingat masalah hubungan antarumat beragama yang baik merupakan syarat bagi terciptanya integrasi sosial. konflik sosial. Mukhsin Jamil. memperlihatkan bahwa Universitas Pattimura menjadi basis perlawanan kalangan Kristiani. xviii-xxi. Sebab. dengan memanfaatkan peralatan yang ada membuat senjata-senjata rakitan. Tasikmalaya (26 Desember 1996). 2007. Heru Cahyono. Pekalongan (24-26 Maret 1997). Di Fakultas Teknik.6 Pertanyaan di atas sangat penting untuk dijawab. Mediasi dan Resolusi Konflik. Konflik Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Meretas Perdamaian. Di sana para mahasiswa Kristiani menggalang kekuatan dan turut terlibat secara aktif dalam konflik bernuansa agama tersebut. dan lain-lain. sikap-sikap yang diperlihatkan berpotensi untuk menciptakan intoleransi antarumat beragama. Banjarnegara (9 April 1997).   Konflik bernuansa agama yang terjadi di Indonesia. Wilayah kampus tersegregasi antara mahasiswa dari kalangan Kristen dan dari kalangan Islam. M. hlm. Konflik bernuansa etnik misalnya peristiwa Sanggauledo (Januari dan Februari 1997) dan peristiwa Sampit pada 7 Maret 1999 yang kemudian merembet ke Kualakapuas. misalnya peristiwa Situbondo (10 Oktober 1996). anak panah.   6 7 5 . Sikap serupa dilakukan pula oleh para mahasiswa muslim di STAIN Ambon atau mereka yang terlibat dalam organisasi                                                              Ibid. baik yang bernuansa agama. Ataukah justru sebaliknya. Semarang: Walisongo Mediation Centre. 2008. Temanggung (6 April 1997). Ed. Konflik bernuansa agama di Ambon misalnya. yang pernah terjadi di Indonesia7 ternyata melibatkan banyak pihak. dan tombak bermata besi. khususnya di kalangan terdidik. strata dan jenis kelamin---dan itu berarti---mahasiswa juga patut diduga terlibat di dalamnya. etnis. maupun politik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan P2P-LIPI.beragama.

Mereka pun berkumpul menuju asrama putri meminta pertanggungjawaban. misalnya kasus bentrok antara warga Kampung Pulo dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (SETIA) pada 25 Juli 2008. namun kedatangan warga justru disambut lemparan batu. www.com. Bentrokan 25 Juli 2008 lalu bermula dari tertangkapnya seorang mahasiswa SETIA yang diduga melakukan pencurian mesin pompa di salah satu rumah warga. Mahasiswa SETIA diduga sering terlibat bentrok antarsuku. serpihan kaca. Suasana menegang ketika ada teriakan provokasi dari dalam kampus yang tidak terima si pencuri dibawa ke kantor polisi.   6 . mengundang reaksi warga.9                                                              8“Gerakan Baku Bae Maluku Perlawanan terhadap Penganjur Perang” dalam Ambon Berdarah On-Line.id.8 Konflik bernuansa agama yang melibatkan mahasiswa terjadi pula di Jakarta.co. Setelah melakukan pelemparan. sebagaimana dituturkan Abu Bakar Riri. Sempat terjadi lempar batu tetapi berhenti setelah dilerai pihak kepolisian. Kelakuan mahasiswa kriminal ini. pelaku lari menuju asrama putri. Pemicu terjadinya konflik disebabkan keberadaan SETIA dan perilaku mahasiswa yang sering meresahkan warga. bahkan warga sering menemukan kondom dan celana dalam di sepanjang jalan sepi tempat mahasiswa biasa jalan-jalan. mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang belakangan menjadi aktivis rekonsiliasi Gerakan Baku Bae Maluku. dalam www. pencurian. yang saat itu tengah diadakan pengajian.sabili.kemahasiswaan. geocities. ketapel dan anak panah besi. Sesaat kondisi keamanan terkendali tetapi selang sehari kemudian kembali menegang ketika tiba-tiba ada seorang mahasiswa SETIA melempar Masjid Baiturrahim yang berjarak 50 meter dari kampus. pacaran.   9“Mahasiswa Kriminal Picu Konflik Kampung Pulo”.

Naman Kalimalang. pada 15 Januari 2008. pada Ahad sore puluhan mahasiswi putri dievakuasi ke Kantor Kecamatan Makasar. rektor dan pimpinan Aras Gereja Nasional (AGN) menyambangi perwakilan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS) di Komisi VII DPR. sekitar 200 mahasiswa SETIA didampingi beberapa dosen. Jakarta: The Interseksi Foundation. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia. Mereka mengadu ke DPR agar tetap bisa kuliah di kampusnya. Jakarta Timur.10 Konflik sosial yang melibatkan mahasiswa terjadi pula di D. seperti penyerangan asrama mahasiswa Papua oleh orang tidak dikenal. atau bentrokan antar mahasiswa di sebuah tempat kos di Tambakbayan. Kecamatan Depok.   10 11 7 . Ed. “Minoritas.   Multikulturalisme adalah gagasan yang merujuk pada sebuah truisme bahwa masyarakat-masyarakat manusia niscaya memiliki budaya yang beragam. dan baru pada hari Jumat (1/8) sekitar 400 mahasiswa SETIA dievakuasi ke Wisma Transito. hlm. 2005. Selasa (29/7). Mereka menginap selama dua malam di Komplek DPR/MPR Senayan Jakarta.11 Kali ini bernuansa etnis. Modernitas” dalam Hikmat Budiman. apa pun alasannya. 3. tanggal 29 Juni 2007. Hikmat Budiman. Babarsari. Proses evakuasi berlangsung aman tanpa diganggu warga. Kab. pada 23 November 2004 dan penyerangan asrama mahasiswa Sulawesi Selatan. sebuah kota budaya dan kota pendidikan yang selama ini dikenal sebagai miniatur Indonesia dan tempat persemaian multikulturalisme. Jakarta Timur. Sleman. Yogyakarta.I. tutup dan bubarkan Yayasan SETIA dari Kampung Pulo.                                                              Ibid.Menjaga kondisi yang tak diharapkan sebab kemarahan warga meningkat. yaitu pergi. Pascabentrokan warga menuntut tiga hal. Jl. Multikulturalisme.

  8 .12 Konflik antarmahasiwa yang bisa mengarah pada sentimen keagamaan terjadi antara mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) dan Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia (UPI YAI) patut juga dicatat.id. konflik terjadi antara: (a) kelompok mahasiswa pendatang dengan penduduk asli.Catatan yang dibuat berdasarkan pemberitaan media massa dan juga sejumlah penelitian sosial dari lingkungan perguruan tinggi. dan (c) kelompok mahasiswa pendatang dengan kelompok profesi tertentu (misalnya pengemudi becak). Sempat mesra pada saat menurunkan Soeharto hingga tahun 2000. (b) kelompok mahasiswa pendatang dari suatu daerah atau suatu etnis dengan kelompok mahasiswa dari daerah/etnis lain. seperti saat pertandingan olahraga. memperlihatkan adanya pola yang berulang. dengan kelompok mahasiswa dari etnis lain dari luar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pertama. konflik antaretnis justru sangat jarang terjadi antara kelompok mahasiswa asli Yogyakarta dan juga Jawa Tengah. biasanya tidak berkembang menjadi konflik dalam skala cukup besar. misalnya dalam bentuk perusakan. Sebuah temuan menarik. Kalaupun kadang-kadang terjadi konflik antaretnis dari luar Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan kelompok mahasiswa asli Yogyakarta atau Jawa Tengah.antara. konflik meletup hanya karena penyebab yang sangat sepele. Kedua. konflik mulai terjadi ketika YAI membeli tanah kosong milik Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang berada persis di kampus tersebut. Hampir semua konflik antaretnis mahasiswa di Yogyakarta disebabkan oleh kesalahpahaman belaka. Tanah kosong tersebut pada mulanya digunakan                                                              12 www.co. penyebabnya pun hanya berupa gesekan kecil. Pada umumnya.

vivanews. www. Sejak peristiwa itu muncul sentimen-sentimen antarmahasiswa kedua kampus yang berujung pada tawuran. pihak kepolisian menurut Kepala Kepolisian Resort Makassar. Hasilnya.com. yang dilakukan oleh mahasiswa senior terhadap yunior bahwa mahasiswa UKI adalah yang terbaik. www. Ditambah lagi ada semacam doktrin menurut penuturan Mangapul Silalahi. 16 Oktober 2008.14 Paparan beberapa kasus konflik yang melibatkan mahasiswa di atas hanya beberapa contoh yang barangkali                                                              13“Mahasiswa UKI dan YAI Sempat ‘Mesra’ di Era Reformasi”.nasional. 19 November 2008. arogan. yang terjadi tanggal 19 November 2008. seorang mahasiswa bernama Mursal luka berat karena tikaman di bagian leher dan anak panah juga menancap di sekitar perutnya. kemudian yang berhadap-hadapan bukan antara Satpol PP dengan mahasiswa GMNI tetapi antara mahasiswa UKI dan YAI.   14“Polisi Temukan Senjata Tajam dalam Kampus”. yang jelas. misalnya bentrok antara mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik Universitas 45 Makassar. dan sombong. sedangkan dua mahasiswa lain mengalami luka ringan. Ini menyebabkan sikap mahasiswa yunior cenderung reaksioner. Ajun Komisaris Besar Kamaruddin.   9 . Akibat tawuran tersebut. Tidak bisa dipastikan bagaimana mulanya.13 Bentrok antarmahasiswa juga terjadi di Sulawesi Selatan. Buntut tawuran antarfakultas tersebut. menemukan beberapa senjata tajam dan botol bekas minuman keras di wilayah kampus. Tawuran bisa terjadi meski hanya saling pandang atau bersenggolan.com.tempointeraktif.untuk para pedagang berjualan. Perlawanan muncul saat mahasiswa Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)--sebagian besar mahasiswa UKI---mengadvokasi para pedagang yang sering bentrok dengan Satpol PP Jakarta Pusat. polisi melakukan razia di dalam kampus.

terhadap sejumlah mahasiswa di Jakarta. sudah terkontaminasi dan sarat kepentingan sehingga cenderung bersikap emosional primordial. 2006. pemahaman agama yang sempit. agama. tidak mampu memahami persoalan secara utuh. Kondisi di atas sangat mungkin terjadi pada semua orang. membeda-bedakan orang berdasarkan suku. Sebab. mahasiswa tidak mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. hasil penelitiannya membuktikan lain. Penelitian Melissa. ia mengasumsikan mahasiswa sebagai golongan muda yang kritis. khususnya dalam memilih presiden wanita. Bandung: Pustaka Setia.bisa menjadi dasar pemikiran bahwa usia yang relatif matang dan tingkat pendidikan yang tinggi ternyata tidak menjamin mahasiswa lepas dari konflik. yaitu bahwa untuk mahasiswa. menunjukkan kemungkinan kecenderungan seperti itu. Dalam penelitiannya. tidak mengubah pola pikir mereka jika menyangkut agama. Jika temuan                                                              15 Enung Fatimah. Namun. Psikologi Perkembangan. agama tetap merupakan hal yang tidak dapat dikritik. tidak terkecuali pada mahasiswa sebagai komunitas terdidik.15 Konflik muncul ketika mahasiswa tidak mampu berpikir secara rasional dan berkepala dingin. Beberapa literatur psikologi memang menjelaskan bahwa tidak selalu bertambahnya usia itu membuat seseorang semakin dewasa---dalam arti--seseorang itu mampu berpikir abstrak serta bertindak mandiri dan sistematis. ras dan golongan. Dengan demikian. sehingga bebas prasangka.   10 . berarti bahwa faktor rasio yang seharusnya sudah terasah melalui proses pendidikan tinggi. ada juga orang yang tinjau dari usia dianggap dewasa tetapi sikap dan perilakunya kekanakkanakkan. atau punya pengalaman buruk dengan orang lain sehingga cenderung berprasangka (prejudice) pada satu etnis atau umat agama tertentu. termasuk prasangka agama.

juga merupakan keprihatinan mereka.4% responden dapat menerima fakta                                                              16Sarlito Wirawan Sarwono. Jakarta: RajaGrafindo Persada.Melissa ini benar dan berlaku umum.16 Namun demikian. 2006. Hasilnya menunjukkan. Sebab.id/books. hlm.   11 . bahwa sebanyak 87. agama.co. melainkan sudah merupakan gejala global.17 Argumen tentang masih pentingnya posisi mahasiswa dalam ikut serta mengembangkan sikap toleransi beragama dapat merujuk pada hasil survei yang dilakukan SETARA Institute tahun 2008 terhadap 800 responden yang berumur antara 17-22 tahun dengan latar belakang agama beragam. Psikologi Prasangka Orang Indonesia.1% responden tidak menjadikan perbedaan agama dalam berteman sebagai halangan dan 67. 40. Pergaulan mereka yang secara umum cenderung tidak membeda-bedakan suku. khususnya yang menyangkut kehidupan antarumat beragama. Andreas A. bangsa ini akan menghadapi kesulitan yang cukup serius di masa yang akan datang. 92. sehingga persoalan-persoalan yang dikemukakan di atas. mahasiswa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.google. hlm. kiranya dapat membantu untuk mengambil jarak dari persoalan-persoalan dan sanggup pula memberikan solusi-solusi yang dapat menolong semua orang.   17http://books. ras dan golongan. Mahasiswa sebagai sebagai orang-orang intelektual dan masih muda tentu diharapkan akan sanggup memilih dan memilah persoalan dengan kritis dan obyektif. Yewangoe tetap memandang positif dan meyakini bahwa mahasiswa mampu tampil sebagai garda depan pengembangan toleransi dalam rangka peningkatan kerukunan umat beragama. Hal yang lebih mencemaskan adalah bahwa gejala ini bukan hanya tipikal Indonesia.

Minusnya transformasi nilai-nilai Pancasila. baik intra maupun antarumat beragama. sebagai modal akademis guna mengarahkan kehidupan sosial yang lebih kohesif di masa depan. dan keterbatasan teladan dari para penyelenggara negara. Bertolak dari berbagai masalah dan kenyataan serta harapan seperti dikemukakan di atas. Identifikasi Masalah Setelah memaparkan posisi penting mahasiswa dalam mengembangkan sikap toleransi. Dengan penelitian ini diharapkan akan diketahui toleransi dan apresiasi antarmahasiswa. maka diperlukan sebuah penelitian tentang toleransi mahasiswa berbeda agama pada perguruan tinggi. modal sosial itu tidak berkembang dan terpasung. karena para penyelenggara negara. kendati survei SETARA Institute menunjukkan hasil mengembirakan terhadap kondisi toleransi kaum muda berbeda agama. Jakarta: SETARA Institute. modal sosial (social capital) toleransi kaum muda sangat kuat sebagaimana teruji dalam beberapa indikator yang diajukan. namun pada sisi lain masih ditemukan konflik sosial yang melibatkan mahasiswa. pola indoktrinasi pendidikan kewarganegaraan. termasuk partai politik tidak menjalankan fungsinya dengan baik. telah membentuk pemahaman kaum muda akan Pancasila mengalami kontradiksi. Dengan demikian. B. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. menurut SETARA Institute. Namun demikian. Dalam perspektif psikologi diketahui                                                              18Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan.   12 . 2008. Sebab.18 Dari elobarasi di atas dapat ditarik gambaran sementara bahwa setiap upaya meningkatkan toleransi di kalangan mahasiswa masih perlu dilakukan. berikut akan ditelusuri faktor-faktor yang diduga menjadi sebab munculnya sikap toleransi dan intoleransi.perpindahan agama.

dirasakan. secara umum. emosi. munculnya sikap toleransi dan intoleransi pada seseorang atau kelompok masyarakat dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan pengalaman. penyesuaian diri. yang terungkap melalui perilaku. jenis kelamin. 77. hlm. Aspek kepribadian meliputi watak. kelas sosial. dan perasaan yang negatif dan tidak fair terhadap seseorang atau kelompok masyarakat yang lain (etnis. hlm. bisa dikatakan muncul dari apa yang dipikirkan. 2008. baik di tingkat sikap. yang tumbuh di tengah masyarakat. dan motivasi. Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat. partai politik. 3. Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. 92. Sedangkan secara sosiologis.21 Artinya. op.   20Sarwono. dan diperbuat. dirasakan. 2005. organisasi tertentu. sikap.20 Artinya. dan lain                                                             19Saiful Mujani dkk. keyakinan dan juga tindakan. pandangan. hlm. Ainul Yaqin sebagai “sebuah penilaian akhir yang tidak dilandasi dengan bukti-bukti terdahulu”. kewarganegaraan. prejudice adalah sebuah opini. Ia adalah sikap individu yang muncul ketika ia berhadapan dengan sejumlah perbedaan dan bahkan pertentangan. Kata prejudice diartikan M. Psikologi Pendidikan. keluarga. sikap dan perilaku intoleran misalnya. sikap.   21Djaali. minat. sifat. ras.19 Kurt Lewin menyatakan bahwa sikap dan perilaku manusia merupakan fungsi dari kepribadian (personality) dan pengalaman (experience). salah satunya disebabkan adanya prasangka negatif (negative prejudice). Jakarta: Bumi Aksara. kepercayaan.bahwa toleransi dan intoleransi adalah karakteristik mental yang merupakan bagian dari perilaku manusia (behavior).   13 .cit. Gagasan tersebut memberikan gambaran kesan tentang apa yang dipikirkan. Jakarta: Nalar. agama. dan kemudian diperbuat seseorang terhadap orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya.

  14 . Beberapa di antara pengelompokan sosial yang paling sering dilakukan adalah ras. atau aku murid STM. menyatakan bahwa ada tiga hal yang dilakukan manusia dalam proses itu. dan status sosial. tentunya ada proses tertentu. Turner dan Tajfel. jenis kelamin. Dalam kategorisasi sosial. semata-mata karena orang atau orang-orang itu merupakan anggota kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya sendiri.lain). aku muslim. prasangka merupakan suatu evaluasi negatif seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain. Ainul Yaqin. etnik. seperti dikutip Sarlito Wirawan Sarwono. dalam kehidupan.                                                              22M. Pendidikan Multikultural. Dengan demikian. seperti etnik. yaitu: (1) kategorisasi. Yogyakarta: Pilar Media. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. (2) identifikasi. manusia menyederhanakan dunia sosial dengan menggolong-golongkan berbagai hal yang dianggap mempunyai karakteristik yang sama ke dalam suatu kelompok tertentu. misalnya aku orang Jawa. 199-203. Bandingkan dengan Alo Liliweri. serta pendidikan juga berarti mencakup siapa yang bukan dirinya. Untuk sampai pada identifikasi dan definisi diri itu. definisi sosial mengenai siapa dirinya. agama. Yogyakarta: LKiS. 17. Menurut Turner dan Hogg. dan (3) membandingkan. individu selalu akan mengindentifikasikan dan mendefinisikan diri berdasarkan kelompok sosialnya. individu akan memasukkan dirinya ke dalam salah satu kelompok yang sudah diimajinasikannya sendiri. hlm. dan golongan sosial. Selanjutnya.22 Nelson mengatakan. agama. 2005. atau tidak tertutup kemungkinan bahwa orang melakukan pengelompokan sosial berdasarkan hal-hal lain. Hal ini kemudian dapat menciptakan munculnya persepsi ingroup-outgroup dalam perilaku kelompok.

Kecenderungan berpikir seperti itu merupakan bentuk dari outgroup homogeneity dan ingroup bias. lebih baik. Kedua anggapan yang tidak berdasar dari kedua pemeluk agama yang berbeda ini adalah contoh dari prejudice                                                              23 Sarwono. dan lebih positif dibanding anggota outgroup yang hampir selalu dipandang secara lebih negatif. ada anggapan dari sebagian masyarakat muslim bahwa orang Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah merelakan orang Islam hidup dalam damai dan mencapai kemajuan.cit. Hal ini kemudian menyebabkan individu melakukan bias dalam memandang outgroup sehingga muncul stereotipe terhadap kelompok outgroup. tidak menghargai HAM. tidak menghargai perempuan. 17-26.Selanjutnya. tidak melindungi nilai-nilai moral.23 Prejudice biasanya cenderung melakukan generalisasi dalam melihat dan menilai seseorang atau kelompok lainnya tanpa memperdulikan kenyataan bahwa setiap individu mempunyai ciri-ciri dan karakter yang berbeda-beda. karena kemajuan Islam dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Prejudice dalam masalah agama misalnya. Islam bukan agama damai. membandingkan adalah bahwa anggota ingroup selalu akan memandang kelompoknya sendiri lebih menyenangkan. adanya prasangka atau anggapan umum dari sebagian masyarakat non-muslim di Barat bahwa orang Islam lebih suka melakukan kekerasan terhadap pengikut agama lain sebagai wujud dari pengamalan “jihad” dalam Islam. Sebaliknya.   15 . op. mereka mempersepsi anggota kelompoknya memiliki keunikan dan berbeda dibandingkan kelompok lainnya. hlm. Selanjutnya. dan lain sebagainya. tidak toleran terhadap non-muslim. ketika individu berada dalam ingroupnya.

Persoalannya sekarang. selain adanya mahasiswa yang bertindak kriminal. fanatisme agama menjadi salah satu pemicunya. dalam kasus bentrok antara mahasiswa UKI dan YAI ada unsur fanatisme kelompok yang menganggap kelompoknya lebih hebat dibandingkan kelompok lain. Aspek agama meliputi fanatisme agama dan ketaatan serta penyiaran agama. Tampak jelas. tidak terkecuali para mahasiswa. bahwa aspek agama dan nonagama dapat menjadi sebab sikap intoleran di kalangan umat beragama. politik.24 Prejudice yang kemudian tampil dalam bentuk sikap dan perilaku intoleran dapat dimiliki siapapun. Fanatisme agama dan ketaatan merupakan aktualisasi jiwa keagamaan yang dibentuk dari tradisi keagamaan. dan lainlain. sikap ini diwariskan oleh para senior ke yuniornya. Sedangkan dalam kasus bentrok antara masyarakat dan mahasiswa SETIA.                                                              24Yaqin. Selengkapnya baca Robert Spencer. budaya. juga ketidaktoleran mahasiswa terhadap lingkungan dengan membuang barang-barang yang dianggap tabu secara sembarangan di jalan kampung. ketika mencermati bahwa beberapa konflik sosial di masyarakat ternyata melibatkan mereka. loc. Secara umum telah disinggung di atas. yang membuat masyarakat marah. Islam Ditelanjangi: Pertanyaan-pertanyaan Subversif Seputar Doktrin dan Tradisi Kaum Muslim (Islam Unveiled). Penerjemah Mun`im A. Asumsi ini tidak terlalu berlebihan. Dalam kasus di Yogyakarta. Sirry. sosial. Dalam kasus konflik di Ambon dan penelitian Melissa. tombol sentimen kesukuan dihidupkan sebagai pemicu bentrok.cit. sedang aspek nonagama meliputi ekonomi.  16 . Jakarta: Paramadina. mengapa prejudice dan sikap toleran atau intoleran itu muncul di kalangan mahasiswa. Ironisnya. 2003.yang sangat menyesatkan dan berbahaya bagi penciptaan kerukunan umat beragama.

Hubungan ini menurut tesis Erich Fromm berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. dan (3) arahan orang lain (other directed). 1 Vol. Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan dalam pembentukan kepribadian. No.Mengacu kepada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi. aspek emosional dipandang sebagai unsur dominan. Tetapi tulis Gardon Allport. Dalam menyikapi tradisi keagamaan juga tak jarang munculnya kecenderungan seperti itu. Jika kecenderungan taklid keagamaan tersebut dipengaruhi unsur emosional yang berlebihan. dan Plomin. Suatu tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). 88-96. David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter. yaitu: (1) arahan tradisi (tradition directed). (2) arahan dalam (inner directed). seperti institusi keagamaan dan sejenisnya. Barbour dalam Issues in                                                              25M. Amin Abdullah. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agama agaknya tak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional. terjadi hubungan dengan benda-benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi).   17 . David Riesman25 melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu di mana seseorang harus melakukan apa yang telah dilakukan nenek moyang. maka terbuka peluang bagi pembenaran spesifik (truth claim) yang cenderung mengabaikan dialog yang jujur dan argumentatif. sebagai jabaran tipe karakter. IV Th. hlm. perkembangan emosional merupakan sentral bagi konsep temperamen dan kepribadian. Selain itu juga. “Keimanan Universal di Tengah Pluralisme Budaya: Tentang Kebenaran Agama dan Masa Depan Ilmu Agama” dalam Ulumul Qur’an. 1993. Buss. Sikap eksklusif ini yang oleh Ian G.

Dengan kata lain.   28Zakiyuddin Baidhawy. Namun.28 Kemudian. Guna menjelaskan tentang pentingnya pendidikan keluarga bagi pembentukan sikap seseorang. ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (inner direct) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama. “Relevansi Studi Agama di Era Pluralisme Agama” dalam Mohammad Sabri. xiii. melalui pendidikan pula dilakukan pembentukan sikap keagamaan tersebut. Ketika ditemukan. Sebab.Science and Religion disebut-sebut sebagai ingridient yang paling dominan dalam proses pembentukan sikap dogmatism dan fanaticism. 1999. hlm. 288-289. Yogyakarta: Ittaqa Press. (2) pendidikan kelembagaan. Keberagamaan yang Saling Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial. yaitu: (1) pendidikan keluarga. Jalaluddin menyebutkan tiga lingkup pendidikan yang berpengaruh.27 Berdasarkan argumen di atas maka penelitian ini mengasumsikan bahwa tradisi keagamaan berpengaruh terhadap pembentukan sikap toleransi dan intoleran seseorang. Sifat ini dibedakan dari ketaatan. Jakarta: Erlangga. kedua bayi tersebut tidak menunjukkan kemampuan yang                                                              26M.26 Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama. dan (3) pendidikan di masyarakat. pada umumnya para ahli mengakui peran pendidikan dalam menanamkan rasa dan sikap keberagamaan pada manusia. op. Amin Abdullah.   18 .cit. hlm. kedua bayi manusia itu sudah berusia kanak-kanak.   27Jalaluddin. Jalaluddin mengutipkan kisah dua ahli psikologi anak Prancis bernama Itard dan Sanguin yang pernah meneliti anak-anak asuhan serigala. 2007. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. . Selain tradisi keagamaan. pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. Mereka menemukan dua orang bayi yang dipelihara oleh sekelompok serigala disebuah gua.

kecuali suara auman layaknya seekor serigala. Setelah dikembalikan ke lingkungan masyarakat manusia. baik dalam bentuk pemeliharaan ataupun pembentukan kebiasaan terhadap masa depan perkembangan seorang anak. Keduanya juga berjalan merangkak dan makan dengan cara menjilat. ternyata kedua anak-anak hasil asuhan serigala tersebut tak dapat menyesuaikan diri.seharusnya dimiliki oleh manusia pada usia kanak-kanak. 19 . anak yang ditemukan dalam asuhan serigala yang kemudian diberi nama Manu itu pun akhirnya mati. Apakah anak akan bersikap terbuka (inklusif) atau tertutup (eksklusif). namun di lingkungan pemeliharaan serigala potensi tersebut tidak berkembang. sangat bergantung bagaimana orang tua menanamkan sikap keberagamaan kepada sang anak. Kondisi seperti itu tampaknya menyebabkan manusia memerlukan pemeliharaan. Peristiwa yang serupa pernah terjadi pula di India. Meskipun Manu seorang bayi manusia yang dibekali potensi kemanusiaan. Dan terlihat pertumbuhan gigi serinya paling pinggir lebih runcing menyerupai taring serigala. akhirnya mati. toleran atau intoleran. karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia pada umumnya. Di sinilah peran penting pendidikan keluarga---di mana orang tua sebagai pendidiknya---memberikan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan sang anak. pengawasan dan bimbingan yang serasi dan sesuai agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat berjalan secara baik dan benar. Sebagaimana juga terjadi di Prancis. bahkan dia ditemukan pada usia 14 tahun. Contoh di atas menunjukkan bagaimana pengaruh pendidikan. dogmatisme dan fanatisme. Tak seorang di antara keduanya yang mampu mengucapkan katakata.

Sebagai contoh adalah adanya tokoh-tokoh keagamaan yang dihasilkan oleh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan khusus seperti pondok pesantren. seminari maupun vihara. Young menulis bahwa pendidikan keagamaan (religious pedagogyc) sangat mempengaruhi tingkah laku keagamaan (religious behavior).)---menghendaki adanya norma-norma kesopanan atau sikap toleransi dan intoleransi pula pada orang lain.cit. dapat diartikan bahwa sikap toleran dan intoleran akan lebih efektif jika seseorang berada dalam                                                              29 30 Jalaluddin. Ibid. Berdasarkan penelitian Gillesphy dan Young. barangkali pendidikan agama yang diberikan di kelembagaan pendidikan ikut berpengaruh dalam pembentukan jiwa keagamaan anak. op.29 Pendidikan keluarga dan kelembagaan mempunyai masa asuhan yang terbatas. hlm. Menurut Emerson. lingkungan masyarakat akan memberi dampak dan besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan sebagai bagian dari aspek kepribadian yang terintegrasi dalam pertumbuhan psikis.30 Dengan demikian.Adapun mengenai pendidikan kelembagaan. walaupun latar belakang agama di lingkungan keluarga lebih dominan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak. Kenyataan sejarah menunjukkan kebenaran itu. 269-270. . 273. sedangkan masa asuhan pendidikan di masyarakat berlangsung selamanya. para ahli mengaku kesulitan mengungkapkan secara tepat mengenai seberapa jauh pengaruh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan terhadap perkembangan jiwa keagamaan para anak. Jiwa keagamaan yang memuat normanorma kesopanan tidak akan dikuasai hanya dengan mengenal saja. norma-norma kesopanan--dan itu berarti juga termasuk sikap toleransi dan intoleransi (pen.     20 . Oleh sebab itu.

Pengetahuan adalah semua buah pikiran dan pemahaman kita tentang dunia.31 Dari penjelasan di atas maka dapat diasumsikan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap pembentukan sikap toleran dan intoleran. yakni pengetahuan (aspek kognitif). hasil penelitian Masri Singarimbun terhadap kasus kumpul kebo di Mojolama. Artinya apa. 274. dan keterampilan (aspek psikomotorik). yang diperoleh tanpa melalui daur hipotetiko-dedukto-verikatif (gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesa). patut diduga dia mempunyai toleransi yang tinggi. patut diduga pula dia mempunyai toleransi yang tinggi. bahwa situasi dan kondisi pergaulan seseorang akan sangat menentukan tingkat toleransinya. Dalam ilmu psikologi sosial dinyatakan bahwa perilaku seseorang dapat dibedakan menjadi tiga aspek penyusunnya.   21 . sikap (aspek persuasif). Apabila dia hidup dalam sebuah keluarga atau kerabat yang mungkin menganut agama yang beragam. Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu. di mana kasus seperti itu mungkin akan lebih kecil di lingkungan masyarakat yang menentang pola hidup seperti itu.lingkungan yang menjunjung tinggi sikap-sikap tersebut. namun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri                                                              31 Ibid. Sebagai contoh. Apabila mahasiswa banyak berkecimpung dalam kegiatan intrakurikuler atau ekstrakulikuler yang di dalamnya tidak sedikit melibatkan mahasiswa beda agama. atau tanpa metode ilmiah. Apabila mahasiswa tinggal di lingkungan masyarakat yang beragam pula . Ia menemukan 13 kasus kumpul kebo ini ada hubungannya dengan sikap toleran masyarakat terhadap hidup bersama tanpa nikah.

Oleh sebab itu. dan mengatakan bahwa semua ajaran (agama) yang berbeda dan bertentangan dengan agamanya adalah ajaran yang salah. Lebih spesifik lagi keterampilan ini dapat bermakna kemampuan (ability) yang menggambarkan suatu sifat (bawaan atau dipelajari) yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang bersifat mental atau fisik. yaitu faktor agama dan faktor nonagama. 22 . Alimron menjelaskan. keyakinan ini harus diletakkan dalam sisi subyektifitas dan obyektifitas. Dalam taksonomi Bloom. Namun pada sisi obyektif. Namun demikian. secara garis besar. Faktor agama meliputi fanatisme sempit dan pelaksanaan misi atau dakwah agama.manusia itu. Keberagamaan manusia erat kaitannya dengan masalah keyakinan yang bersifat subyektif dan emosional. penyebab munculnya intoleransi terbagi ke dalam dua faktor. Hubungan antara sikap dan perilaku seseorang. fanatisme sempit. Pertama. Secara subyektifitas seorang penganut suatu agama lebih jauh akan meyakini bahwa agamanyalah sebagai satu-satunya agama yang benar. orang tersebut harus memberi hak kepada pemeluk agama lain untuk berkeyakinan dan mengatakan hal yang serupa. keterampilan ini merupakan terjemahan dari psychomotor yaitu kompetensi yang berkaitan dengan tugas dalam suatu sistem dan perilaku sistematis yang relevan untuk mencapai tujuan. Sikap tersebut bersama-sama dengan norma subyektif yang mereka miliki selanjutnya melahirkan intensi untuk berperilaku. setiap pemeluk agama musti meyakini agamanya sebagai kebenaran yang mutlak (absolut). menurut Ajzen (1988) bahwa keyakinan tentang konsekuensi perilaku dan penilaian tentang keyakinan akan menumbuhkan sikap seseorang terhadap sesuatu obyek.

fanatisme ini seringkali melahirkan sikap keberagamaan yang eksklusif. Dalam tataran praktis. Tesis. positif dan negatif. Fanatisme positif adalah sikap fanatik yang bertolak dari pemahaman dan penghayatan ajaran agama. ada kategori fanatisme. 1999. Sedangkan fanatisme negatif adalah sikap fanatik yang tidak didasarkan pada pemahaman dan penghayatan ajaran agama yang benar atau hanya berdasarkan taqlid semata. Tugas ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh pemeluk agama yang bersangkutan.Tidak bisa dipungkiri bahwa semua pemeluk agama mempunyai keyakinan sebagai tersebut di atas. juga mau mengerti dengan pengalaman beragama orang lain. demi untuk mempertahankan ekstensinya atau untuk menyelamatkan                                                              32Alimron. intoleran. Memang dalam penganutan suatu agama harus didukung dengan fanatisme ini. merasa benar sendiri. Misi atau dakwah agama merupakan tugas suci bagi tiap pemeluk agama. pelaksanaan misi atau dakwah agama. Dalam hal ini. serta cenderung lebih mengutamakan konfrontatif dengan pihak lain. Implikasi dari fenomena ini adalah lahirnya sikap eksklusif yang tertutup. Jika tidak agama tersebut akan kehilangan nilai dan makna bagi penganutnya bahkan besar kemungkinan akan terancam eksistensinya.32 Kedua. tetapi pada waktu yang sama. otoriter. hlm. defensif. Toleransi Antarumat Beragama dalam Perspektif al-Quran.   23 . sehingga terbentuk pribadi yang teguh dalam memegang ajaran agamanya. Dalam hal ini permasalahan akan muncul jika masing-masing umat beragama hanya mengutamakan sisi subyektifitasnya dan mengabaikan obyektifitas. dan tidak toleran terhadap perbedaan. Padang: IAIN Imam Bonjol. Hal ini sikap eksklusivisme agama. atau bahkan berupaya memaksakan kemutlakan subyektif kepada orang lain. 21-25. dan reaktif.

apalagi kalau agama yang bersangkutan diklaim sebagai agama yang universal.manusia dari kesesatan. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari keyakinan akan kemutlakan ajaran agamanya. Selain itu. jarang ada pertentangan atau ketegangan yang terjadi adalah ketegangan antara sesama agama misioner. bagi Islam dan Kristen. dapat menimbulkan intoleransi beragama dan mengakibatkan tegangnya hubungan antara kedua masyarakat pemeluk agama bersangkutan. Didorong oleh keinginan untuk memberi petunjuk kepada orang lain yang dianggap sesat dan untuk menyelamatkan sesama manusia. Oleh karena itu. yang lebih mengutamakan pada aspek pembinaan pribadi pemeluknya. dan Khonghucu misalnya. pemeluk agama itu tidak akan mencapai keselamatan. karena keyakinan bahwa agamanyalah yang benar. Buddha. karena keduanya sama-sama mengklaim sebagai agama universal. penyebaran agama merupakan konsekuensi logis dan bagian inherent dalam agama masing-masing. timbullah usaha-usaha untuk menunjukkan kesalahankesalahan agama orang lain sambil menyatakan kebenaran agamanya sendiri yang kemudian dilanjutkan lagi dengan usaha-usaha untuk menarik pemeluk agama lain untuk mengubah agamanya. yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. jika perlu dengan paksaan. Dari agama-agama yang ada. dibumbui dengan ungkapan-ungkapan. Upaya-upaya ini pada mulanya mungkin didasari niat baik. Pemeluk agama demikian merasa dirinya berkewajiban untuk menyiarkan agamanya kepada seluruh manusia. Dalam hal ini ketegangan dalam penyebaran agama muncul ketika caracara yang digunakan dirasakan kurang wajar itu. sifat misionaris ini paling konkret memang terlihat pada Islam dan Kristen. yakni Islam dan 24 . tulisan maupun lisan yang mnyudutkan atau merendahkan agama lain. Karena itu. Berbeda dengan agama Hindu. ia memandang agama lain salah.

berbagai kerusuhan dan konflik yang melibatkan antarumat beragama di Indonesia. melainkan bertolak dari pengertian dan pemahaman ajaran agama yang kurang utuh dan benar (kaffah). melainkan bertolak dari pengertian dan pemahaman ajaran agama.33 Berdasarkan elaborasi di atas dapat diidentifikasi beberapa faktor yang diduga mempengaruhi sikap toleran                                                              33 Ibid. secara hakiki. pada dasarnya tidak ada agama di dunia ini yang lahir untuk bermusuhan. Oleh karena itu. Dalam hal ini faktor agama sebenarnya hanya menempel saja pada faktor-faktor tersebut. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. sebagaimana telah disinggung di atas. pada dasarnya lebih didominasi oleh faktor-faktor eksternal tersebut. sentimen agama telah dijadikan alat atau pemicu untuk membangkitkan emosi masyarakat sehingga termobilasi untuk melakukan tindakan destruktif dan kekerasan. munculnya intoleransi antarumat beragama pada hakikatnya bukanlah berasal dari ajaran agama. dengan kata lain. Sedangkan faktor nonagama dijelaskan Alimron.Kristen. menghina atau menjelek-jelekkan agama atau penganut agama lain. termasuk tentang tata cara dan kode etik penyiaran agama. ekonomi. dan sosial budaya yang lain. Sebagai contoh. Baik pada agama samawi (agama dengan kitab suci dari nabi) maupun agama ardhi (agama tanpa kitab suci dan nabi). seperti politik.   25 . maka perlu diwujudkan adanya modus vivendi (cara hidup bersama) yang mengatur hubungan atau pergaulan antarumat beragama. serta cara keberagamaan para pemeluknya. Selain karena sentimen keagamaan di atas. intoleransi dalam kehidupan beragama juga dapat timbul karena adanya pengaruh dari faktor-faktor lain.

pemahaman keagamaan. Pembatasan Masalah Sebagaimana telah diuraikan di atas. dan lain-lain. penelitian ini hanya membatasi diri pada upaya untuk mengkaji lebih jauh                                                              34Agus Purnomo. tradisi keagamaan. sosial-budaya. usia. dan sebagainya). sikap inklusifeksklusif. politik. di antaranya kepribadian (personality).dan intoleran mahasiswa. masyarakat). Artinya. dalam rangka lebih fokus.   26 . pola pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga. interaksi dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler. akademik. pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda. Namun. masalah ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja tetapi harus dilihat dari berbagai sudut pandang. prasangka (prejudice). ekonomi. serta eksternal mahasiswa. jenis kelamin. lingkungan pendidikan (keluarga. 2009. faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya sikap toleransi dan intoleransi cukup banyak. Ideologi Kekerasan: Argumentasi Teologis-Sosial Radikalisme Islam. seperti pengalaman. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press & Pustaka Pelajar. tradisi keagamaan. pekerjaan. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi internal mahasiswa. Pribadi dan kepribadian bisa meliputi aspek genetis. C. fanatisme keagamaan. pesantren). Sedangkan kondisi eksternal---pengalaman--bisa meliputi aspek pendidikan kelembangaan (sekolah. pengetahuan dan pemahaman keagamaan. pendapatan. atau pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda. seperti pribadi dan kepribadian.34 Banyaknya faktor yang diduga mempengaruhi sikap toleran dan intoleran mahasiswa menunjukkan bahwa masalah toleransi merupakan masalah yang kompleks. persepsi ingroup-outgroup. penyiaran agama. pendidikan di masyarakat (lingkungan homogen atau heterogen.

hasil belajar pendidikan agama.mengenai pengaruh kepribadian. dan lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama. identifikasi. Apakah keterlibatan organsiasi berpengaruh langsung terhadap hasil belajar? 4. Apakah hasil belajar pendidikan agama berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 10. D. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap keterlibatan organisasi? 2. Apakah keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 6. Apakah keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 9. dan pembatasan masalah di atas. maka rumusan masalah penelitian ini dikonstruksikan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 8. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap hasil belajar? 3. keterlibatan organisasi. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 5. Apakah lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 27 . Apakah hasil belajar berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 7.

Bagi Pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama). Pengaruh keterlibatan organsiasi terhdap hasil belajar 4. Pengaruh hasil belajar terhadap pendidikan 7. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar 3. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan 6. Pengaruh keprbadian terhdap lingkugan pendidikan 5. Pengaruh kepribadian terhada keterlibatan organisasi 2. penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan bagi penyusunan dan pengembangan kurikulum nasional pendidikan agama di perguruan tinggi umum. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan 28 . Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama 10. yaitu mengkaji: 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah guna menjawab 10 butir rumusan masalah di atas. Pengaruh beragama keterlibatan organisasi terhadap toleransi 9. 2.E. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama 8. Bagi Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Kegunaan Hasil Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi para pihak berkepentingan mengetahui gambaran toleransi mahasiswa berbeda agama perguruan tinggi umum negeri. Pengaruh pendidikan terhadap toleransi beragama F. yaitu: 1.

Bagi Perguruan Tinggi Umum. Bagi Mahasiswa. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam menyusun model pembinaan keagamaan dalam rangka menciptakan toleransi beragama di kalangan mahasiswa berbeda agama. penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan sosialisasi nilai-nilai kerukunan dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab dalam memberikan penyadaran tentang toleransi beragama. 29 . penelitian ini diharapkan sebagai bahan renungan bersama dan pengetahuan bagi mahasiswa untuk mengembangkan wawasan toleransi beragama di komunitas mereka. 5. Selain itu. 4. Bagi Masyarakat.terukur dalam menggali akar masalah intoleransi beragama di kalangan mahasiswa perguruan tinggi umum. 3. Agama untuk menyediakan data bagi pemerintah dalam perumusan kebijakan pendidikan agama di perguruan tinggi umum. penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penyusunan kurikulum lokal pendidikan agama yang berbasis kemajemukan. penelitian ini juga sebagai pengejawantahan tugas dan fungsi Badan Litbang dan Diklat Dep. Selain itu.

30 .

yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Deskripsi Teoritik ebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa terdapat lima variabel penelitian. yaitu variabel kepribadian. dan (d) identity. keterlibatan organisasi. (c) individuality. yaitu sifat kedirian sebagai suatu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (unity and persistance of personality). 2008. sehubungan penelitian ini. Jakarta: RajaGrafindo Persada. di antaranya adalah: (a) mentality.BAB II PENYUSUNAN KERANGKA TEORITIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A.1                                                              1Jalaluddin. Oleh karena itu. pengertian dari masing-masing variabel tersebut perlu dijelaskan terlebih dahulu guna menghindari kesalahpahaman terhadap pengertian dan batasan konsep lima variabel penelitian tersebut. yang secara konseptual barangkali tidak banyak diketahui. Variabel Kepribadian (X1) Disiplin ilmu psikologi menjelaskan bahwa istilah yang dikenal untuk kepribadian bermacam-macam. hasil belajar pendidikan agama.   S   31 . 191. hlm. dan toleransi beragama. (b) personality. adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainnya. 1. lingkungan pendidikan. yang dalam Webters Dictionary dijelaskan sebagai the totality of personality’s characteristic dan an integrated group of constitution of trends behavior tendencies act. Psikologi Agama.

dan motivasi. Aspek kepribadian meliputi watak. kepribadian adalah organisasi (susunan) dinamis dari sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. Thorp. kepribadian merupakan                                                              2Djaali.2 Hariwijaya menyatakan. Gagasan tersebut memberikan gambaran dan kesan tentang apa yang dipikirkan. hlm. atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai perseorangan. Hartmann. Banyak definisi tentang kepribadian sebagaimana dikemukakan oleh Mark A. yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. pribadi (persona. Jakarta: Bumi Aksara. Woodworth. 3. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris person.H. sedang kepribadian (personality. diri manusia atau diri orang sendiri. personalidad) adalah pola perilaku seseorang di dalam dunia.W. minat. Morrison. sikap. dan diperbuat. Psikologi Pendidikan. penyesuaian diri. L. yang terungkap melalui perilaku. dirasakan. Dikatakan bahwa. sifat. emosi. Sumber lain melihat. personeidad) adalah akar struktural dari kepribadian. 2008. tetapi uraian paling lengkap adalah yang dikemukakan oleh G. dan C.P. Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang.Personality atau kepribadian berasal dari kata persona yang berarti topeng. Judd.   32   . May. Allport. dirasakan. dan diperbuat yang terungkap melalui perilaku. David Lykken mengatakan bahwa kepribadian sebagai suatu perangai dan langkah serta semua kekhasan yang membuat orang berbeda dari orang lain. Di sini muncul gagasan umum bahwa kepribadian adalah kesan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang dipikir. Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pribadi adalah “aku yang sejati” dan kepribadian merupakan “penampakan sang aku” dalam bentuk perilaku tertentu.

Yogyakarta: Media Ilmu. Hariwijaya. Tes Kepribadian. sosok tubuh. Adanya kedua unsur yang membentuk                                                              hlm. Berdasarkan elaborasi di atas. terdapat dua unsur pembentuk kepribadian yang saling mempengaruhi. yaitu hereditas (fisik dan mental) dan lingkungan. Sedangkan contoh karakteristik mental adalah kebijaksanaan. 1.kesatuan unik dari ciri-ciri fisik dan mental yang ada dalam diri seseorang. seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang. (d) kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis. 2009.3 Selanjutnya Wetherington menjelaskan bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya. Contoh karakteristik fisik misalnya pandangan mata. Dengan perkataan lain. dan sebagainya. senyum. dan (e) kepribadian tidak berkembang secara pasif saja. (c) kata kepribadian menyatakan ketentuan tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.   33 . maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah perangai atau perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi dinamis antara karakteristik fisik dan mental pada diri individu yang berkembang sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya. Kombinasi yang muncul dari keduanya merupakan kepribadian seseorang. toleransi dan ketekunan. setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial. perangai. (b) kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dan keseluruhan itu.   3M.

M. M. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan. hlm. Pada diri yang introvert umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri.   5Jalaluddin. Carl Gustav Jung menjelaskan bahwa kepribadian dalam individu dapat dibedakan antara dua sisi yang introvert dan extrovert.5 Berkenaan dengan kepribadian. 14-18 Juli 2003. hlm. Denpasar. dan cenderung tertutup secara sosial. atau peristiwa. sehingga segala minat. pemalu. Sebaliknya karakter menunjukkan bahwa kepribadian manusia terbentuk berdasarkan pengalaman dengan lingkungan. “Tipologi dan Praktek Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”. Beranjak dari pemahaman tersebut. Hukum dan HAM RI. Extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dari dirinya. tetapi rajin. berminat terhadap keanekaan. dan suka bekerja kelompok. benda-benda. Billah. sigap dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaan yang lamban. maka para psikolog cenderung berpendapat bahwa tipologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kepribadian yang unik dan bersifat individu yang masing-masing berbeda.   34   . diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Dep. keputusan yang diambil lebih ditentukan oleh                                                              4Tipologi (typology) adalah satu skema klasifikatori. hati-hati dalam mengambil keputusan.kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi4 dan karakter. 4. sikap. sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan. suka bekerja sendiri. bebas dan terbuka secara sosial. yang merupakan hasil dari proses mentipekan (typication) yang mengacu pada ciri tipikal kualitas individu atau orang. tenang. Makalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII. 282-283.cit. op. oleh karenanya tipologi merupakan satu kategori niskal yang memiliki acuan empirikal. Individu yang extrovert pada umumnya memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar.

Umumnya orang introvert tidak suka diinterupsi apabila sedang bekerja dan cenderung melupakan muka dan nama orang. dan keputusan yang diambil selalu didasarkan perasaan. suka berteman. Minat. Adapun tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. rajin. serta berupaya untuk mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan lingkungan. kebudayaan. Meskipun demikian baik extrovert dan introvert hanya merupakan suatu tipe reaksi yang terus menerus. bekerja sendiri. dan pengalamannya sendiri. mereka tenang. Pada perkembangan melalui adaptasi maupun intervensi terhadap lingkungan. pemikiran. keduanya masing-masing memiliki kecenderungan ciri stable dan unstable. pengambilan keputusan agak terlepas dari kendala dan penelaahan mengenai situasi. sikap. introvert menunjukkan tempat tertutup dan lebih berhati-hati. sebagian individu mengadakan penyesuaian. sehingga menjadi sifat yang   35 . aktif. perorangan atau benda di sekitar mereka. dan bila seseorang menunjukkan reaksi semacam itu secara kontinyu atau dengan kata lain reaksi semacam itu lelah menjadi kebiasaan. Meskipun demikian. Umumnya mereka sudah senada dengan kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Pada dasarnya orang yang introvert cenderung pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri. dan agak tertutup secara sosial.peristiwa yang terjadi di luar dirinya. dan ramah tamah. Di samping penampakkan umum tersebut. maka barulah dapat dianggap seseorang mempunyai kepribadian satu dari kedua tipe itu. Pada dasarnya orangorang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar.

yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar periang. sulit menyesuaikan diri.6 Berbeda dengan Jung. bereaksi negatif dan agresif. Sifat-sifat lainnya mudah tersinggung (emosional). dan stabil. tidak stabil. dan (d) Plegmatis. Bandung: Sekolah Pascasarjana & Remaja Rosdakarya. hlm. netral (tidak ada warna perasaan yang jelas). dan suka menepati janji. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pendiam.ambivalen. dan banyak inisiatif (usaha). Demkian juga seseorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan tetapi percaya diri yang semakin berkurang akan cenderung bergerak ke arah introvert. 2008. 11-12. bersifat lambat. kurang mempunyai rasa humor. pesimistis. suka membuat provokasi. Seseorang yang mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke arah extrovert. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pemurung. sedih. dingin hati (tak mudah terharu). kurang dapat dipercaya karena kurang begitu konsekuen. cenderung beroposisi. tidak mau mengalah. sangat hemat. (c) Koleris. tidak sabaran. kurang percaya diri.cit. Sifat lainnya merasa cukup puas. tenang. Sifat perasaannya mudah menyesuaikan diri. yakni sifat di antara introvert dan extrovert. Juntika Nurihsan. baik hati. tidak serius. (b) Melankolis. dan tertib/teratur. 36   . dan percaya diri.   7Syamsu 6Djaali. hlm.   Yusuf LN dan A. optimistis. konsekuen. berhati-hati. pasif. tidak mempunyai banyak minat.7                                                              op. tidak peduli (acuh tak acuh). yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar selalu merasa kurang puas. Sifat lainnya merasa tertekan dengan masa lalunya. jauh sebelumnya Galenus membagi secara umum kepribadian manusia menjadi empat kriteria yaitu: (a) Sanguinis. Teori Kepribadian. tidak toleran. 26.

pandai bicara. meski ia bukan pendendam dan cepat minta maaf jika merasa bersalah. sadar perincian. serius dan tekun. teratur   37 . Bukan hanya pandai mengontrol emosinya sendiri. ia juga pandai memainkan emosi orang lain. penuh kesadaran. lugu dan polos dalam sikap. orang Melankolis berorientasi pada jadwal. Di dalam hubungan dengan pekerjaan. antusias dan ekspresif. pandai menghidupkan forum dan punya rasa humor yang hebat. kreatif dan inovatif. perasa terhadap orang lain. orang Sanguinis mudah berteman karena ia mencintai orang. Ia mempunyai ingatan kuat untuk warna. Sebagai rekan. Ia akan memendam emosinya demi menjaga harmoni. perfeksionis. suka dipuji dan selalu tampak menyenangkan. Ia cenderung jenius. berhati tulus dan kadang kekanak-kanakan. serta mampu mengilhami orang lain untuk ikut serta. punya energi dan antusiasme. artistik atau musical. periang dan penuh semangat. Karena itu ia sering dicemburui orang lain. Ciri emosi orang Melankolis adalah pemikir yang mendalam. idealis. tertib dan terorganisasi. suka berkorban. Kepalanya penuh dengan rasa ingin tahu. analitis. rasa dan gaya. gigih dan cermat. secara fisik mampu memukau pendengar. mudah diubah jika memang ada ide yang lebih baik. standar tinggi. Di dalam forum. filosofis dan puitis. mulai dengan cara cemerlang. Ia pandai untuk mempesona dan mendorong orang lain untuk bekerja. berbakat dan kreatif. tampak hebat di permukaan. memikirkan kegiatan baru. emosional dan demonstratif. Ia sangat menghargai dan menjunjung tinggi keindahan. Seorang Sanguinis adalah sukarelawan untuk tugas.Sedangkan Hariwijaya menjelaskan. hidup di masa sekarang. Ia realistis dalam cita-cita. Ia adalah orator yang baik di panggung. Ia mempunyai daya improvisasi yang tinggi sehingga pintar mencegah saat-saat membosankan dengan kegiatan spontan. bahwa emosi orang Sanguinis umumnya menarik.

Keduanya menguntungkan bagi dia. Dalam pengeluaran ia ekonomis. progresif memperbaiki kesalahan. menekankan pada hasil. Salah satu sifat penting orang Koleris adalah disiplin tinggi. Ia akan memperoleh banyak pendukung dari teman-teman dekatnya. bagan. mendelegasikan pekerjaan. mencari pemecahan praktis. berkemauan kuat dan tegas. dan bisa menjalankan apa saja. Ia fleksibel.dan rapih. merangsang kegiatan. bisa memecahkan masalah orang lain. sangat memerlukan perubahan. mau mendengarkan keluhan. biasanya selalu benar dan paling bijak. sangat memperhatikan orang lain. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyaman dan bergerak menuju tujuan mereka. Seorang Koleris berorientasi target. Kendali emosinya sangat tinggi. Emosinya sangat terjaga jika tidak dimulai oleh suatu pelanggaran kode etik yang mengganggu pribadinya. Orang melankolis hati-hati dalam berteman. Ia lebih puas tinggal sebagai orang kedua dalam sebuah organisasi dan menghindari perhatian. berorganisasi dengan baik. bebas dan mandiri. Ciri emosi orang Koleris berbakat sebagai pemimpin karena ia dinamis dan aktif. daftar. Pemimpin yang berjiwa Koleris adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakan orang lain untuk melangkah. berkembang karena saingan. melihat masalah secara cermat hingga mendapat pemecahan kreatif. membuat target. mencari teman hidup ideal. mau bekerja untuk kegiatan. mampu bekerja sendiri maupun berkelompok. memancarkan keyakinan. grafik. melihat seluruh gambaran. unggul dalam keadaan darurat. mau memimpin dan mengorganisasi. suka diagram. bergerak cepat untuk bertindak. perlu menyelesaikan apa yang dimulai. Meski demikian orang Melankolis setia dan berbakti. Mereka mampu 38   . Seorang Koleris tidak terlalu perlu teman. tidak mudah patah semangat. tidak emosional bertindak. terharu oleh air mata penuh dengan belas kasihan.

antusiasme. Psikologi Kepribadian. sebagaimana dikutip Sismarni. op. 22.cit. Miftah Thoha mengatakan bahwa dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain.blogspot. manusia menginginkan penampilannya sebaik mungkin agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain.lppbifiba. Daya tarik ini ditimbulkan oleh adanya interaksi antara sesama organisasi. kehidupan kampus melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan atau sejenisnya. Oleh karena itu. atau bagi mahasiswa. 118-130. hlm. ditentukan oleh adanya daya tarik.com.     39 . Bila seseorang jarang melihat atau berbicara dengan pihak lain. Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) Salah satu sikap manusia ditentukan oleh pengalaman. 2008.8 2. Hariwijaya. Kesempatan                                                              8M. dan tindakan para pengikut. op.9 Dalam hidup bersama atau berkelompok. suatu proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu. Pengayaan pengalaman ditentukan oleh seberapa besar keinginan seseorang terlibat dalam kegiatan sosialkemasyarakatan. 195. dan Taufik Hadi. Keinginan untuk terlibat dalam organisasi kemahasiswaan sesungguhnya merupakan pemenuhan kebutuhan untuk hidup bermasyarakat (live of society) ataupun kehidupan berkelompok (live of group). “Teori Partisipasi dalam Dinamika Sosial” dalam www. Agus Sujanto.   9Soerjono Soekanto (1993: 355). Jalaluddin. akan sulit dapat tertarik. keterlibatan seseorang dalam berorganisasi atau berkelompok. Keterlibatan atau partisipasi menurut Soerjono Soekanto merupakan setiap proses identifikasi atau menjadi peserta. hlm.cit. Halem Lubis. Jakarta: Bumi Aksara.membangkitkan gairah. hlm.

keterlibatan itu didasarkan atas teori kedekatan. akan mengelompok atas alasan ekonomi. misalnya. dikemukakan oleh George Hommans yang melihat keterlibatan itu didasarkan pada aktifitas-aktifitas.berinteraksi ini secara langsung mempunyai pengaruh terhadap daya tarik dan pembentukan kelompok. Yang terpenting dalam teori ini adalah bahwa kelompok-kelompok itu cenderung memberikan kepuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial yang mendasar dan substansial dari orang-orang yang mengelompok tersebut. maka semakin banyak pula kemungkinan ditularkannya aktifitasaktifitas dan interaksi-interaksi. teori persamaan sikap dan teori saling melengkapi. Kemudian semakin banyak interaksi antara seseorang dengan yang lainnya. Selanjutnya Thoha menyebutkan keterlibatan juga didasarkan atas alasanalasan praktis (practicalities of group formation). seseorang tersebut dapat berhubungan dengan orang lain karena adanya kedekatan ruang dan daerahnya (spatial and geographical proximity). Menurut teori ini. maka semakin banyak kemungkinan aktifitas dan sentimen yang ditularkan kepada orang lain. semakin banyak aktifitas yang ditularkan kepada orang lain dan semakin banyak sentimen seseorang dipahami oleh orang lain. interaksi-interaksi dan sentimen-sentimen (perasaan ataupun emosi). Ketiga elemen ini saling berhubungan secara langsung dengan alasan bahwa semakin banyak dilakukan aktifitas seseorang dengan hal yang berhubungan dengan orang lain. Teori lain. Menurut teori 40   . Menurut Thibaut dan Kelly. keamanan dan sosial. Karyawankaryawan suatu organisasi. Di samping itu juga. semakin beraneka interaksinya dan juga semakin kuat tumbuhnya sentimen-sentimen mereka. bahwa terbentuknya suatu organisasi didasarkan atas teori tukar menukar. Dan yang terakhir.

                                                             10Ibid. pangan. Dasar lainnya ialah karena organisasi merupakan mobilitas bagi usaha pencapaian tersebut.tukar menukar ini. air. Seseorang selalu mendapatkan imbalan berupa kepuasan atau terpenuhinya sebahagian kebutuhannya. pada hakikatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. interaksi dalam suatu kelompok terjadi dalam proses tukar-menukar antara imbalan (reward) dengan ongkos (cost) dalam setiap terjadinya interaksi. gagasan dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan sosial. seseorang menciptakan dan memelihara hubungan antarperorangan karena ia berpendapat bahwa imbalan yang diperolehnya masih lebih besar daripada ongkos yang harus ia keluarkan. Kemudian keterlibatan juga untuk memenuhi kebutuhan biologis seperti sandang. seseorang akan mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya termasuk apa yang baik. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya. perumahan. organisasi juga menjadikan seseorang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan atau menyempurnakan barang-barang (dalam arti luas) yang termasuk dalam tujuan pribadi. Menurut teori tukar menukar ini. menurut Helbert dan Ray keterlibatan seseorang dalam berorganisasi didasarkan pada keinginan untuk memuaskan tujuan-tujuan pribadinya.10] Sementara itu. Festinger mengatakan bahwa orang yang memasuki suatu kelompok sosial. yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan. Organisasi dapat menuntunnya untuk mencapai cita-citanya yang tidak dapat dicapai dengan sendirian.     41 . Dengan memasuki suatu organisasi. Di samping itu. Hal itu akan sulit atau kurang memungkinkan untuk diselesaikan tanpa keterlibatan organisasi.

justru akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain. Dengan demikian.                                                              11Ibid. Artinya. proses untuk mencapai tujuan tersebut dapat melalui kerjasama dan berfikir secara bersama-sama pula. juga untuk mengharapkan sejumlah keuntungan atau kontribusi tertentu dari organisasi dan menyempurnakan tujuan-tujuan tertentu.   42   . tidak dapat dilakukan sendirian melainkan harus dilakukan secara bersama-sama. sehingga akan terwujud saling pengertian dan toleransi antaranggota.11 Paparan di atas menggambarkan keuntungan yang dapat diperoleh oleh seseorang bila terlibat dalam organisasi. Sementara itu. Adanya perbedaan. keterlibatan seorang dalam kelompok didasarkan karena hasratnya untuk bersatu dengan manusia-manusia yang lain disekitarnya. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. Karena itu. tetapi justru karena adanya perbedan-perbedaan yang tercipta.udara dan lain-lain guna mempertahankan hidupnya. selain akan memperoleh informasi berharga. Selain itu. menurut Witch bahwa tertariknya seseorang untuk melakukan interaksi di tentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary). dalam usaha untuk memenuhi kehendak dan kepentingan tersebut. Karena naluri manusia itu ingin hidup bersama atas kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. tanggapan dan saran. Para mahasiswa yang terlibat dalam organisasi diasumsikan memiliki cakrawala pandang yang luas dan toleran terhadap orang lain. Menurut Abdulsyani. ide-ide berharga. dalam merasakan kekurangan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. Melalui keterlibatan organisasi. misalnya. seseorang tertarik untuk mengadakan interaksi bukan karena adanya kesamaan sikap.

pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi.13 Sedangkan keagamaan artinya “yang berhubungan dengan agama”. Senat Mahasiswa Fak. 3. Pengetahuan ini meliputi emosi.israq. dan lain-lain. 2005.Sedangkan organisasi (organization) artinya sistem disiplin yang mengatur sejumlah manusia dalam melaksanakan usaha sosial atau politik berdasarkan azas-azas dan mengikuti metode-metode yang terarah. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui. yang dalam kaca mata Wade Clark Roof sebagai hasil pengembangan gagasan Durkheim memiliki unsur: (a) kepercayaan (beliefs). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). informasi. Hlm. pengetahuan keagamaan dapat didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang diketahui. Dalam konteks kemahasiswaan. ada dua jenis organisasi kemahasiswaan. Dengan demikian. akidah. seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Substansi dan Definisi Pengetahuan” dalam www.     43 . yaitu yang bersifat intrakampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan. 1121.12 Definisi lain. kepandaian atau segala sesuatu yang berkenaan                                                              12Tim Penyusun. Lembaga Dakwah Kampus. tradisi. kepandaian atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran).com. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). dan lain-lain serta ekstrakampus. persentuhan. dan (c) komunitas moral.wordpress.   13Israq. dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitar. keterampilan. (b) ritus (ibadah). dan pikiran-pikiran. Badan Eksekutif Mahasiswa.

  14Bandingkan 44   . 4. D = 1. Huruf A diasosiasikan sebagai simbol yang mewakili penguasaan pengetahuan keagamaan yang tertinggi (kategori sangat baik). dan E (sangat kurang). bila mendapat huruf E maka diasumsikan mempunyai penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat kurang.dengan agama yang meliputi aspek kepercayaan. Artinya. Dengan penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat baik maka diasumsikan mempunyai sikap toleransi beragama yang sangat baik pula. B = 3. Sebaliknya. C (cukup). C = 2. sebab                                                              dengan pengertian pengetahuan keagamaan menurut Endang Saifuddin Anshari dalam Ilmu. Asumsi di atas tentu tidak baku. penguasaan pengetahuan keagamaan diukur melalui huruf dan angka tertentu. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) Memahami lingkungan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan. karena antara aspek kognitif (pengetahuan keagamaan) dan psikomotorik (toleransi beragama) tidak selalu mempunyai hubungan sebab-akibat. dengan penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat kurang maka diasumsikan mempunyai sikap toleransi beragama yang sangat kurang pula. Banyak faktor---sebagaimana akan diuraikan pada penjelasan tentang toleransi beragama---yang mempengaruhi sikap toleransi beragama seseorang. 1987. ritus. baru menyusul kemudian peringkat di bawahnya B (baik). bila ada mahasiswa memperoleh nilai A maka yang bersangkutan diasumsikan mempunyai penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat baik. D (kurang). hlm. Surabaya: Bina Ilmu.14 Dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi. 46. Filsafat dan Agama. Sebaliknya. dan komunitas moral”. E = 0. biasanya dalam 5 kategori: A = 4.

16 Berdasarkan pendapat di atas. Mury Yusuf. mengatakan bahwa: “Pendidikan itu adalah merupakan (1) suatu proses (sejumlah proses secara bersamasama) perkembangan. Realita kegiatannya sengaja atau tidak sengaja akan berwujud organisasi atau kegiatan kelompok manusia sebagai suatu sistem yang bersifat tetap berlaku universal. dan lembaga pendidikan formal lainnya”. sikap dan bentuk tingkah laku lainnya yang berlaku dalam masyarakat di mana ia hidup. 23. Jakarta: Ghalia Indonesia. ditolong dan diarahkan agar mencapai kedewasaannya masing-masing sebagai tujuan.  16Hadari Nawawi. Muri Yusuf. Dalam Dictionary of Education yang dikutip oleh A. dan tidak terkait pada organisasi yang lain.pendidikan itu merupakan suatu proses yang berlanjut dan berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan. Dengan demikian interaksi dalam diri individu dan dengan masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan/ kemampuan. (2) suatu proses di mana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan terpilih dan terkontrol (misalnya kampus) sehingga ia dapat mengembangkan diri pribadi secara optimum dan kompeten dalam kehidupan masyarakat (sosial). Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. 1985. Pengantar Ilmu Pendidikan.    45 . minat maupun pengalamannya”15 Sehubungan dengan lingkungan pendidikan. 1996. hlm. kegiatan kependidikan seperti itu antara lain diwujudkan dalam keluarga. 7. oleh Hadari Nawawi dijelaskan bahwa: “Di dalam kegiatan kependidikan sekurang-kurangnya dua orang atau lebih yang masing-masing menjalankan fungsi sebagai pendidik dan si terdidik atau anak yang harus dibantu. Jakarta: Gunung Agung. pada dasarnya lingkungan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi:                                                              15A. kemampuan. sekolah/kampus. hlm.

rasa keagamaan. 62. lingkungan sekolah. Dengan demikian sebuah keluarga tidak hanya sekadar berstatus sebagai lembaga sosial akan tetapi juga merupakan lembaga pendidikan informal. maka anak akan tumbuh dan                                                              17A. kemauan.lingkungan keluarga. Di samping itu pula dilengkapi bahwa keluarga perlu meletakkan kerangka berpikir pada diri si anak. Ayah dan Ibu sebagai pimpinan keluarga memberikan suatu konsekuensi berupa tanggung jawab memelihara dan mendidik setiap anak yang dilahirkannya. op. (2) berkewajiban meletakkan dasar pendidikan.cit. 18Slameto.18 Pentingnya pendidikan anak-anak dalam keluarga sangat menentukan perkembangan anak itu pada fase-fase selanjutnya.  lot cit. Mury Yusuf. Raymond W. Konsekuensi itu didasarkan pada norma-norma sosial dan norma agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk individual. kecakapan berekonomi. hlm. pengetahuan penjagaan pada diri si anak. Tanpa adanya pendidikan anak yang terorganisasi dalam keluarga. hlm. Murray menyatakan fungsi keluarga sebagai berikut: (1) kesatuan turunan biologis dan juga kebahagiaan bermasyarakat. Lingkungan Keluarga Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat yang merupakan persekutuan hidup antarsekelompok orang dan mempunyai kepentingan masing-masing dalam mendidik. sosial dan bermoral. 26.  46   .”17 Selanjutnya status keluarga sebagai lembaga pendidikan dijelaskan Sutjipto Wirawidjojo dengan pernyataannya: “Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama”. a. rasa kesukaan pada keindahan. dan lingkungan masyarakat (sosial).

berkembang secara tidak sewajarnya. yakni terbentuknya mental. b. Dari konteks inilah sehingga kampus diimplementasikan sebagai lingkungan pendidikan. Peranan Sekolah/Perguruan Tinggi sebagai institusi dinyatakan sebagai berikut: “peranan sekolah/kampus sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia. Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana. Karena tujuan pendidikannya untuk membina. Dengan demikian mahasiswa yang mendapat keluarga yang baik akan mampu mengidentifikasikan pola sikap dan tingkah laku yang baik dalam keluarganya dan dalam konteks yang lebih luas (lingkungan sosial). Perguruan Tinggi pada prinsipnya merupakan salah satu wadah tempat berlangsungnya pendidikan yang memiliki peranan dan kedudukan sebagai lembaga pendidikan. terarah dan sistematik guna memncapai tujuan tertentu. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. membimbing dan mengarahkan kepada tujuan suci. Oleh sebab itu Perguruan Tinggi dinamakan juga sebagai lembaga atau institusi. Di dalamnya terdapat pengelompokan yang berbeda-beda tetapi merupakan satu kesatuan yang integral sebagai komponen-komponen yang saling berinteraksi. baik secara individual maupun sebagai anggota masayarakat. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. Lingkungan Perguruan Tinggi (Kampus) Perguruan Tinggi adalah organisasi kerja sebagai wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. tujuan itu harus mengandung nilai-nilai yang serasi 47   .

Muhlas.”19 Melalui Perguruan Tinggi mahasiswa dipersiapkan menjadi manusia yang memiliki pengetahuan. yaitu: dimensi jangka pendek. berarti Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab mempersiapkan mahasiswa agar mampu meneruskan sejarah dan tata cara kehidupan manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Oleh sebab itu Perguruan Tinggi diharapkan bukan sekadar berfungsi untuk mempertahankan kebudayaan yang ada sesuai dengan martabat manusia yang selalu dituntut dengan kebutuhan yang selalu meningkat. dan jangka panjang. 27. dimensi jangka menengah diartikan sebagai proses penyiapan sumber daya manusia. Dimensi jangka pendek pendidikan diartikan sebagai proses kegiatan belajar mengajar. Nawawi. hlm.                                                              19Hadari 2009. 48   .dengan kebudayaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan sebagai lembaga pendidikan. Karena kebudayaan itu bukanlah sesuatu yang statis akan tetapi terus menerus berkembang secara dinamis.20 Berdasarkan uraian di atas. dan dimensi jangka panjang adalah sebagai proses pengembangan budaya.  Pendidikan Profesi Guru.cit.  20Muhlas. menyatakan bahwa pendidikan memiliki tiga dimensi. keteram pilan/keahlian di dalam mengola lingkungannya yang terdiri atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial guna menciptakan berbagai kelengkapan untuk memper mudah dan menyenangkan kehidupannya. Jakarta: Irjen Dikti Depdiknas. Dilihat dari sudut sosial dan spiritual Perguruan Tinggi berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan. op. jangka menengah.

c. sebagai akibat belum lengkapnya (mantapnya) apa yang mereka terima dalam sekolah atau dalam keluarga. Mury Yusuf. pelatihan. yaitu berorientasi untuk melengkapi kemampuan keterampilan kognitif. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak”. dan kegiatan dalam suatu organisasi kemasyarakatan. Tidak semua ilmu pengetahuan. Lingkungan Masyarakat Menurut A. maka bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. organisasi..21 Dalam pendapat tersebut di atas terlihat bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat adalah sebagai: (1) komplemen. dan agama). Misalnya mengadakan kursuskursus. yakni menyediakan pendidikan bukan sekadar tambahan atau pelengkap. sikap. Berdasarkan pembahasan di atas. dan (3) sebagai suplemen terhadap pendidikan yang diberikan oleh lingkungan yang lain yakni penambahan pengetahuan keterampilan. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yang berarti dalam diri anak apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. penerimaan.cit. hlm. lingkungan masyarakat adalah lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak. dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. karena keterbatasan dan kelengkapan lembaga tersebut. perfomansi seseorang. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk dan jenis lingkungan pendidikan tidak bisa                                                              21A. keterampilan maupun performansi dapat dikembangkan oleh sekolah/kampus ataupun dalam keluarga. tingkah laku. op. tetapi mengadakan pendidikan yang sama dengan sekolah. Muri Yusuf. (2) substitusi. 34    49 .

. Reese. dan sebagainya).diabaikan sebagai faktor penting dalam mengukur toleransi beragama di kalangan mahasiswa. New York: Humanity Books. mengutip Perez Zagorin. membiarkan. toleransi adalah sifat atau sikap toleran. dan tabah”.   23www. ras. p.23 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 5.   24Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam bahasa Inggris. 1999. New York: The World Publishing Company. Gularnic. William L. membolehkan) pendirian (pendapat.S. kepercayaan. misalnya toleransi agama (ideologi. 1959. kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. 2005. Variabel Toleransi Beragama (Y) Dalam Webster’s World Dictionary of American Language. 799. membetahkan. dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan”. hlm. pandangan. kebiasaan. Pengabaian terhadap masalah ini barangkali dapat membuat pembacaan terhadap toleransi beragama di kalangan mahasiswa itu tidak utuh (bias). membiarkan. W.wikipedia. yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai.org. 50   . kata itu berubah menjadi tolerance yang berarti “sikap membiarkan. tolerare yang berarti “menahan.id. p. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought.24                                                              22David G. Wikipedia Ensiklopedia. Webster’s World Dictionary of American Language.J. 1204.22 kata “toleransi” secara etimologis berasal dari bahasa Latin. menanggung. Expanded Edition. menjelaskan bahwa toleransi adalah terminologi yang berkembang dalam disiplin ilmu sosial. mengakui. Jakarta: Balai Pustaka. 774-775. Poerwadarminta.

  26A. Pierson. Sullivan. Beirut: Maktabah Lubnan. kata toleransi---mengutip Kamus alMunawir---biasa disebut dengan istilah tasamuh yang berarti sikap membiarkan atau lapang dada. sehingga mengizinkan berlapang dada terhadap adanya perbedaan pendapat dan keyakinan dari setiap individu. Bandung: Arasy. 702.   25Ahmad Warson Munawir. 2006. 1982.     51 .25 A. Hutabarat. www. Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama.Dalam bahasa Arab. `Ala Abu Bakar. 426. Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme. tasamuh (toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beranekaragam. penerimaan. dan penghargaan atas keragaman budaya dunia yang kaya. 702. sebagaimana dikutip Saiful Mujani. Zaki Badawi. Kamus al-Munawir. toleransi didefinisikan sebagai a willingness to “put up with” those things one rejects or opposes. dan cara-cara menjadi manusia. berbagai bentuk ekspresi diri. dan Marcus. hlm.com. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Mu`jam Musthalahat al-`Ulum al-Ijtima`iyat. yakni                                                                                                                                Kamus Umum Bahasa Indonesia. meskipun tidak sependapat dengannya. Kamus tersebut juga menggambarkan toleransi sebagai “kemampuan untuk menanggung penderitaan atau rasa sakit”. 2003. 1994. Zaki Badawi mengatakan. Jakarta: Balai Pustaka. 1989. Lebih lanjut dijelaskan bahwa toleransi ini erat kaitannya dengan masalah kebebasan atau kemerdekaan hak asasi manusia dalam tata kehidupan bermasyarakat.26Kamus Oxford menegaskan bahwa toleransi adalah kemampuan untuk menenggang rasa atas keyakinan dan tindakan orang lain dan membiarkan mereka melakukannya. hlm.google. Islam yang Paling Toleran: Kajian tentang Fanatisme dan Toleransi dalam Islam. Toleransi adalah kerukunan dalam perbedaan”. Yogyakarta: PP Krapyak. Deklarasi Prinsip-prinsip Toleransi UNESCO menyatakan bahwa “toleransi adalah rasa hormat. Binsar A. Khaled Abou El Fadl. hlm.

P. Chaplin mengatakan. Juga tidak berarti acuh tak acuh terhadap kebenaran dan kebaikan. dapat disanggah. Public Religion and the Pancasila-Based State of Indonesia mengutip David Little membagi pengertian toleransi dalam dua bagian: Pertama. Kamus Filsafat. Muslim Demokrat: Islam.29 Benyamin Intan dalam bukunya. toleransi bisa didefinisikan sebagai “(sebuah) jawaban                                                              27Saiful Mujani. dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru. yang pada awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima. atau menghormati segala sesuatu yang ditolak atau ditentang oleh seseorang”. Chaplin. Paul Edwards. 512.   29Lorens Bagus. toleransi adalah satu sikap liberalis. 1996. Sikap semacam ini tidak berarti setuju terhadap keyakinan-keyakinan tersebut. 2007. hlm 143. yaitu “jawaban pada seperangkat kepercayaan. dan tidak harus didasarkan atas agnostisisme. tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. atau bahkan keliru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.   52   . dalam bentuknya yang paling kuat.28 Lorens Bagus menjelaskan. 1111-1112.“kesediaan untuk menghargai. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2006. melainkan lebih pada sikap hormat terhadap pluriformitas dan martabat manusia yang berbeda. menerima. Budaya Demokrasi.P. atau tidak mau campur tangan dan tidak mau campur tangan dan tidak mengganggu tingkah laku dan keyakinan orang lain. toleransi adalah sikap seseorang yang bersabar terhadap keyakinan filosofis dan moral orang lain yang dianggap berbeda. atau skeptisisme. dengan ketidaksetujuan. 1967. “Toleration” in The Encyclopedia of Pholosophy.27 J. praktik atau atribut. hlm. hlm. Volume 7 and 8 Paul Edwars (New York & London: Macmillan Publisher. hlm. dalam definisinya yang minimal. 162. Editor in Chief.   28J. Kamus Lengkap Psikologi. Dengan sikap itu ia juga tidak mencoba memberangus ungkapan-ungkapan yang sah keyakinankeyakinan orang lain tersebut.

kepada seperangkat kepercayaan. seperti hubungan antara kakak dan adik.commongroundnews. muncul karena kita tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan.     53 . keyakinan. toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai. orangtua dan anak. betapapun besarnya ketidaksepakatan yang ada”.30 Dengan menggunakan perspektif psikologi sosial. suatu kehidupan yang saling memberi dan menerima. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan. namun tak ada kebersamaan. nilai. tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. sesuatu yang membangun. hidup bersama itu diwarnai dengan kebersamaan. serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita. perjuangan dalam bersikap toleran demi hidup bersama yang lebih baik. baik di dalam bagian kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang itu sendiri atau di dalam proses memberi-menerima yang terjadi di antara para pendukung ide-ide yang sedang bertikai. Dalam definisi Little yang pertama ada hidup bersama. sedang dalam definisi yang kedua. Kehidupan bersama yang harmonis tentu saja mensyaratkan penerimaan definisi yang kedua. Dengan demikian. “ketidaksetujuan yang disublimasi” adalah “ada sesuatu yang bisa dinilai. dengan ketidaksetujuan yang disublimasi. dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal. jelaslah. Yayah Khisbiyah menjelaskan. Intoleransi adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran. Menurut Little. yang awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima. gairah. praktik atau atribut. sikap toleran itu bukan hanya membutuhkan kesadaran.org. tetapi juga semangat. suami                                                              30www.

tetapi kehadirannya tidak bermakna apa-apa. koeksistensi damai kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki sejarah. mengambil pendekatan berbeda ketimbang para pemikir yang sibuk mencari kaidah-kaidah universal. Di situ sang liyan diakui ada.   31Yayah 54   . sebagaimana dikutip Trisno Sutanto. tetapi juga keterbukaan pada yang lain. Jelas ini tidak cukup dan karenanya dapat dicandra gerak dinamis menuju matra kedua: ketidakpedulian yang lunak pada perbedaan. Toleransi sebagai suatu sikap. Surakarta: PSB-PS UMS. bangsa. dan ideologi. Matra keempat bukan saja memperlihatkan pengakuan. koeksistensi damai itu dapat mengambil bentuk pengaturan politik yang berbeda-beda. Menepis Prasangka. Memupuk Toleransi untuk Multikulturalisme: Dukungan dari Psikologi Sosial. merujuk pada berbagai matra di dalam suatu garis kontinum. budaya. Soalnya.31 Penjelasan menarik tentang konsep dan praktik toleransi diungkapkan Walzer. sederhananya. 4.dan isteri. tetapi juga mau mendukung atau bahkan merawat dan                                                              Khisbiyah. Pertama. Baginya praktik-praktik toleransi---atau. Walzer. atau setidaknya keingintahuan untuk lebih dapat memahami sang liyan. 2007. Matra ketiga melangkah lebih jauh: ada pengakuan secara prinsip bahwa sang liyan punya hak-hak sendiri sekalipun mungkin ekspresinya tidak disetujui. agama. antarteman. tidak sekadar mengakui dan terbuka. menurut Walzer. hlm. masing-masing dengan implikasinya sendiri-sendiri. dan identitas berbeda---harus selalu diletakkan dalam situasi historis-konkret. misalnya suku. yakni matra kelima. atau antarkelompok. Posisi paling jauh dalam kontinum ini. yang mencerminkan toleransi keagamaan di Eropa sejak abad ke 16 dan 17 adalah sekadar penerimaan pasif perbedaan demi perdamaian setelah orang merasa capek saling membantai.

34 Jadi. 2007. hlm. yakni Yahudi dan Kristen. membiarkan. 159. toleransi merujuk pada sikap dan perilaku kaum muslim terhadap nonmuslim. Kristen.                                                              32Trisno Sutanto. entah karena alasan estetika-religius (keragaman sebagai ciptaan Tuhan) entah karena keyakinan ideologis (keragaman merupakan tanah subur bagi perkembangan umat manusia).33 Toleransi beragama pertama kali ditelaah oleh John Locke dalam konteks hubungan antara gereja dan negara di Inggris. Jakarta: Paramadina.net. dkk. Dalam masyarakat muslim. Toleransi di sini mengacu pada kesediaan untuk tidak mencampuri keyakinan. Toleransi tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dengan yang lain. dan tindakan orang lain. 346-353. “Melampaui Toleransi?: Merenung Bersama Walzer” dalam Ihsan Ali-Fauzi.merayakan perbedaan. toleransi berarti menghargai. dan juga tidak boleh ditangani oleh kelompok agama tertentu. membolehkan kepercayaan. Hubungan antara kaum muslim.     55 . Secara historis. meskipun mereka tak disukai. dan sebaliknya. Demi Toleransi Demi Pluralisme. toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain. toleransi secara khusus mengacu pada hubungan antara kaum muslim dan para pengikut agama Semitis lainnya. Negara tidak boleh terlibat dalam urusan agama. dan Yahudi sangat rumit dan mengalami pasang surut dari abad ke abad. 32 Dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan. agama yang berbeda itu tetap ada.   34Saiful Mujani.cit. sikap. tetapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada. hlm.   33www.in-christ. walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang. op.

melainkan lebih dari itu. Karl Rahner. tatanan kemasyarakatan maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu. hlm. prinsip tersebut mengandung pengertian. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. Wellwood. semua penganut agama setuju untuk hidup rukun dengan tetap memelihara eksistensi semua agama yang ada.                                                              35Tim Penyusun. toleransi beragama adalah sikap bersedia menerima keanekaragaman dan kebebasan beragama yang dianut dan kepercayaan yang diyakini oleh pihak atau golongan lain. 1721-1726. ia tidak harus menimbulkan pertentangan. yakni toleransi yang bersifat aktif dan dinamis. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan dan eksistensi suatu golongan. Tunbridge Wells. Dengan demikian. toleransi antarumat beragama bukan hanya sekadar hidup berdampingan secara pasif tanpa adanya saling keterlibatan satu sama lain. Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. tetapi juga perbedaan-perbedaan dalam cara penghayatan dan peribadatannya yang sesuai dengan alasan kemanusiaan yang adil dan beradab.Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dijelaskan. yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan saling menghargai dan menghormati. dan bekerjasama dalam membangun masyarakat yang harmonis.   36Istilah agree in desagreement dipopulerkan oleh Menteri Agama. 1993.36 Perbedaan tidak harus mengakibatkan permusuhan. berbuat baik dan adil antarsesama. 1996. Kent: Burns & Oates.35 Dalam toleransi ini semua umat beragama harus berpegang pada prinsip agree in disagreement (setuju dalam perbedaan). agama atau kepercayaan. baik dalam tatanan kenegaraan. karena bagaimanapun perbedaan akan selalu ada di dunia ini. A. Pengakuan tersebut tidak terbatas pada persamaan derajat. p. Mukti Ali. Dalam konteks ini. Ensiklopedi Nasional Indonesia. diakui atau dihormati oleh pihak lain. 384. Ed. rukun dan damai. North Farm Road.   56   . Jilid XVI.

Hal ini membuat seseorang pada aspek kedalaman dari agama terdapat titik-titik temu yang lebih banyak dari agamaagama. No. Oleh karenanya. Dengan kata lain. Toleransi dogmatis adalah toleransi yang terbatas atau hanya menyangkut ajaran agama. menjalankan ibadat dan praktik keagamaan lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. kebijaksanaan dan bertanggung jawab. hlm. sebagaimana dikemukakan Djohan Effendi. Dalam toleransi beragama. Sedangkan dalam toleransi praktis. Hardjana. 29-30. menurut Anwar Harjono. Sebab. 128 Tahun XII/1988.M. toleransi beragama terdiri atas dua kategori. kedua macam toleransi tersebut dapat bergabung atau terpisah. “Persahabatan Lebih Penting Daripada Kesepakatan Formal” dalam Mimbar Ulama. para penganut agama saling membiarkan dalam mengungkapkan iman. setiap pemeluk agama hendaknya dapat menghayati ajaran agamanya secara mendalam. misalnya ajaran. penghayatan terhadap aspek kedalaman dari agama akan dapat membuat seseorang lebih mampu bersikap menghormati orang lain secara lebih manusiawi. dapat menentang di bidang yang satu. Para penganut agama dapat saling toleran dalam kedua hal itu. menurut A. Dalam hal ini para penganut agama tidak saling mengambil pusing akan ajaran agama orang lain. ada dua hal                                                              Effendi. Dalam aplikasinya. yaitu toleransi dogmatis dan toleransi praktis.Sejalan dengan pendapat di atas. dibutuhkan adanya kejujuran.   37Djohan   57 .37 Meskipun demikian dalam kaitannya dengan toleransi antarumat beragama. kebesaran jiwa. tetapi membiarkan praktiknya dan sebaliknya. aspek kedalaman dari agama itulah yang membuat seseorang lebih toleran terhadap orang lain. hingga menumbuhkan perasaan solidaritas dan mengeliminir egoistis golongan.

Jakarta: Gema Insani Press.                                                              38Anwar Harjono. baik terbuka maupun terselubung. Kedua. Indonesia Kita: Pemikiran Berwawasan Iman-Islam. akibatnya akan terjadi “perang agama” secara permanen. Dicari-carilah persamaan-persamaan di antara agama-agama yang ada. yaitu: Pertama. Semangat demikian kelihatannya sangat luhur karena didorong oleh motif suci melaksanakan perintah agama yang ganjarannya adalah surga.38 Bahaya pertama akan mendorong seseorang kepada penyiaran agama tanpa mengindahkan peraturan yang ada. Muhammad Ali menjelaskan. 1995. Berdasarkan persamaanpersamaan itu. apabila kita terlalu bersemangat menjalankan toleransi sehingga kita menganggap semua agama sama saja. Bahaya kedua. Akan tetapi. hlm.yang sama besar bahayanya. apabila kita hanya terpaku kepada tugas-tugas dalam lingkungan agama kita sendiri tanpa menghiraukan hak-hak golongan agama lain. dalam menjalankan toleransi setiap umat beragama hendaknya berpedoman kepada prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh ajaran agamanya masing-masing. Guna lebih jelasnya perhatikan skema berikut.   58   . supaya tidak terjebak atau terjerumus kepada bahaya di atas. sama benarnya. mereka merumuskan apa yang disebut sebagai “hakikat” atau “intisari” agama---jika tidak diwaspadai--bahkan berpotensi pula untuk menegasikan agama yang sesungguhnya. sehingga siapa saja dijadikan sebagai sasaran penyiaran agama. Oleh sebab itu. akan mendorong seseorang melakukan pendangkalan terhadap ajaran agama. toleran merupakan satu sikap keberagamaan yang terletak antara dua titik ekstrim sikap keberagamaan. atau sama salahnya. yaitu eksklusif dan pluralis. 153. jika semua orang begitu keyakinan dan perilakunya.

Sebaliknya. namun masih secara pasif. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. hlm. Sehubungan hal tersebut. tetapi tidak                                                              39Muhammad Ali. toleransi dalam bentuk hanya sebatas memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memeluk agama yang diyakininya. dan menerima kemungkinan kebenaran yang lain.40 Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa toleransi sebenarnya tidaklah bersifat pasif. gesekan. yaitu sikap pluralis. tetapi dinamis. Namun demikian.39 Dari uraian di atas diketahui bahwa kendati toleransi merupakan sikap keberagamaan yang positif.xii.   40Ibid. dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama. 2003. tidak toleran (intolerant) merupakan satu sikap yang harus dijauhi karena dapat menimbulkan ketegangan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. bahkan konflik antarumat beragama. Ada yang bersikap toleran: membiarkan yang lain. serta lebih jauh lagi.     59 . tanpa kehendak memahami. namun masih bersifat pasif sebab hanya sekadar membiarkan yang lain (the other).Eksklusif Toleran Pluralis Pada titik paling kiri. siap bekerja sama secara aktif di tengah perbedaan itu. tanpa kehendak memahami. al-Qardhawi mengategorikan toleransi keagamaan dalam tiga tingkatan. Pertama. konsep tersebut tidak mengurangi nilai penting sikap toleran sebagai satu sikap yang sangat penting untuk dimiliki setiap warga negara demi terwujudnya kerukunan umat beragama. sambil berusaha memahami. ada mereka yang eksklusif: menutup diri dari (seluruh atau sebagian) kebenaran pada yang lain. Bersikap toleran sangat dekat dengan sikap selanjutnya pada titik paling kanan. dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama. Yakni sikap meyakini kebenaran diri sendiri. menghargai.

Ketiga. kemudian tidak memaksanya mengerjakan sesuatu sebagai larangan dalam agamanya. 95-97. Penerjemah Muhammad Baqir. Kedua. skala toleransi beragama sesungguhnya tidak mengalami perubahan yang berarti. termasuk penolakannya kepada kelompok beragama lain. 2009. maka pertama. Hlm. konsep tentang toleransi mengandaikan pondasi nilai bersama sehingga idealitas bahwa agama-agama dapat hidup berdampingan secara koeksistensi harus diwujudkan. Bandung: Mizan. Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan: Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah. Kedua. Minoritas Nonmuslim di dalam Masyarakat Islam.43                                                              41Yusuf al-Qardhawi. Terlepas dari kegaduhan dan ketegangan yang ditimbulkan oleh aktivitas-aktivitas berbagai kelompok partisan di ranah publik. hlm.memberinya kesempatan untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan yang diwajibkan atas dirinya. memberinya hak untuk memeluk agama yang diyakininya.   60   . 2008.41 Berdasarkan elaborasi di atas. meskipun hal tersebut diharamkan menurut agama kita. tidak mempersempit gerak mereka dalam melakukan hal-hal yang menurut agamanya halal. FISIP Universitas Indonesia. toleransi beragama sebenarnya merujuk kepada suatu situasi relasional yang relatif damai di antara berbagai umat beragama yang berlainan. secara konseptual dan metodologis. Malang: UMM Press. 1. hlm. Sebab itu berapapun besar dan jauhnya perbedaan tidak menggambarkan kondisi toleransi beragama. toleransi tidak merujuk kepada perbedaan. 160. 1985.   42Resume Studi Toleransi dan Kerentanan Religi di 4 Kota Jawa.42 Hal tersebut berarti. Ini seharusnya merujuk kepada salah satu indikator demokrasi yang memungkinkan siapa pun bebas mengekspresikan diri dalam ruang publik.   43Biyanto. dari Labsosio Departemen Sosiologi. tetapi penerimaan terhadap perbedaan. sepanjang mereka tidak benar-benar menolak apalagi menghilangkan eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain.

dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik. dan membolehkan pendirian. Sampel dalam   61 . kepercayaan. dan penelitian yang menjadikan isu toleransi beragama sebagai temanya. Hasil Penelitian yang Relevan Perhatian para sarjana terhadap isu-isu toleransi beragama di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya cukup intens. menghormati. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. Beberapa penelitian berusaha untuk mengukur toleransi masyarakat dengan menentukan indikator yang akan diukur dan dilakukan dengan menggunakan pendekatan survei.Berangkat dari beberapa penjelasan mengenai pengertian toleransi beragama tersebut. perilaku. Sebagian besar hasil kegiatan tersebut sudah dipublikasikan secara luas. Penelitian tentang toleransi---termasuk toleransi beragama---banyak jenisnya dan bergantung pada pokok masalah dan metodenya. baik dalam bentuk buku maupun press release yang dimuat di media massa. Dalam rangka memperkaya penelitian ini berikut akan disajikan beberapa publikasi dimaksud. lokakarya. Hal itu setidaknya ditunjukkan dengan digelarnya banyak seminar. B. maka dapat disimpulkan bahwa toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. membiarkan. keyakinan. Sungguh menarik apa yang diakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini di mana pada tahun 2008 telah mensurvei 800 responden yang dipilih secara acak sistematik. Penelitian yang layak disebut di sini misalnya penelitian yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat SETARA Institute. pandangan.

4% responden dapat menerima fakta perpindahan agama. modal sosial toleransi kaum muda sangat kuat. telah membentuk pemahaman kaum muda akan Pancasila mengalami kontradiksi. Kontradiksi pertama terkait dengan kebolehan negara melakukan intervensi dalam urusan agama/keyakinan. toleransi kesalahan (margin of error) penelitian lebih kurang 3. pola indoktrinasi pendidikan kewarganegaraan. merupakan gejala baru yang tidak berbasis pada karakter 62   . Persetujuan kaum terhadap munculnya peraturan-peraturan daerah yang berbasis agama adalah kontradiksi kedua yang muncul dalam survei ini. Sementara pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan panduan kuesioner. Namun demikian. Dengan demikian. Kaum muda menganggap sebaiknya urusan agama/keyakinan diatur oleh negara. Perda-perda. Dengan jumlah sampai 800 orang. dan keterbatasan teladan dari para penyelenggara negara.penelitian adalah generasi muda yang berumur 17-22 tahun dengan latar belakang agama majemuk.1% responden tidak menjadikan perbedaan agama dalam berteman sebagai halangan dan 67. modal sosial itu tidak berkembang dan terpasung. yang secara substantif mengancam kebangsaan Indonesia. Atas fenomena ini penelitian mengkonstatasikan bahwa kecenderungan menurunnya semangat kebangsaan yang direpresentasikan oleh pandangan responden terhadap soal kebebasan beragama/berkeyakinan dan sikap akomodatifnya terhadap perda-perda berbasis agama. Minusnya transformasi nilai-nilai Pancasila. karena para penyelenggara negara. disetujui oleh sebagian besar kaum muda. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 87. Pandangan kaum muda muncul oleh karena teladan kontradiktif yang dipraktikkan para penyelenggara negara. termasuk partai politik tidak menjalankan fungsinya dengan baik.5% pada tingkat kepercayaan 95%.

dasar kaum muda. Kategori sikap lainnya. merupakan pandangan yang membahayakan bagi kaum muda Indonesia. Pemicu yang hadir di tengah masyarakat yang bingung akibat tidak adanya panduan berbangsa dan bernegara serta fakta menguatnya fundamentalisme menjadi efektif memantik massa untuk berkonflik. Organisasi-organisasi tertentu yang sering melakukan tindakan kekerasan atas nama agama niscaya akan sulit diterima oleh kaum muda.44 Penelitian serupa dilakukan oleh Lucia Ratih Kusumadewi yang mengambil sampel di Universitas Indonesia. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional.8%). Namun demikian. Penelitian mengungkapkan pula bahwa konflik dan kekerasan yang bernuansa agama dipahami oleh kaum muda sebagai sesuatu yang bukan disebabkan oleh faktor kebencian antarumat beragama ataupun karena persaingan ekonomi umat beragama. 2008. yaitu non-pluralis yang terdiri atas sikap                                                              Penyusun. Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. Fundamentalisme adalah salah satu alat pasung toleransi yang saat ini berkembang. Hampir tak seorang pun di kalangan kaum muda yang dapat membenarkan atau menerima konflik dan kekerasan atas nama agama. pembenaran intervensi negara dalam urusan agama dan persetujuannya terhadap perda berbasis agama. dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara menunjukkan bahwa sikap pluralisme merupakan sikap yang dominan dimiliki oleh kalangan mahasiswa (55. Jakarta: SETARA Institute. di mana keduanya dianggap tidak bertentangan dengan Pancasila. Sebagian besar kaum muda menilai konflik bernuansa agama dipicu oleh adanya provokasi pihak-pihak tertentu. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah).   44Tim   63 .

Tema-tema yang menjadi indikator bagi pengukuran sikap adalah sikap terhadap kebenaran ajaran agamanya dan agama lain. temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi yaitu sebesar 61.7% dan selebihnya sejumlah 38.3% dari 120 responden yang memiliki tingkat toleransi yang rendah. misalnya kitab suci dan nabi/rasul.8%).2%). anggapan terhadap kedudukan ajaran agamanya terhadap nilai-nilai universal.inklusif dan eksklusif mendapat angka 44. Selanjutnya.2%. faktor-faktor apakah yang turut mempengaruhi terjadinya kondisi di atas? Kusumadewi telah menentukan 64   . Keseluruhan pengukuran terhadap variabel toleransi secara umum itu. toleransi berkaitan dengan hal perpindahan agama dan toleransi berkaitan dengan hal kawin beda agama. perpindahan agama mendapat prosentasi yang sedikit lebih besar (75%) dan kawin beda agama mendapat toleransi yang paling tinggi (85. anggapan sebagai orang/golongan terpilih. Angka yang ditunjukkan untuk toleransi dalam hal keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama berada pada tingkat toleransi yang tinggi (74. didapat berdasarkan penjumlahan terhadap pengukuran tema-tema toleransi yang dirumuskan. Temuan di atas berkaitan dengan variabel sikap keberagamaan di kalangan mahasiswa. Sedangkan yang berkaitan dengan variabel toleransi beragama di kalangan mahasiswa. Kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan data di atas adalah bahwa tema kawin beda agama merupakan tema yang paling dapat ditolerir dibanding perpindahan agama dan keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama. Tema-tema tersebut adalah toleransi berkaitan dengan hal keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama. anggapan terhadap kehidupan setelah mati bagi pemeluk agamanya dan pemeluk agama lain serta anggapan terhadap perangkat keagamaannya dari agama lain.

Namun karena beragamnya sosialisasi ajaran karena banyaknya aliran pemikiran.   45Lucia   65 .45 Selanjutnya survei nasional yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002. Kedua hal ini kemudian menimbulkan kondisi sosialisasi agama yang cenderung inklusif dan beragam dalam Islam. 1999. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. Sedang faktor komunitas kampus disimpulkan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Skripsi. Agama Islam. memiliki ajaran yang dekat dengan sifat-sifat inklusifistik dan struktur institusinya tidak terikat. hlm. 65-78. mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia (67%) menyatakan kebencian dan karenanya tidak bersedia hidup                                                              Ratih Kusumadewi. Sedang agama Katolik yang memiliki ajaran yang bersifat pluralis dengan struktur institusi yang hirarkis sentralistis menghasilkan sikap cenderung pluralis dalam kelompoknya. Pada dua agama yang diteliti yaitu Islam dan Katolik. terdapat juga ekskluisif dan pluralis.dua faktor yaitu agama dan komunitas kampus. Jakarta: FISIP-UI. Sikap-sikap keberagamaan yang dimiliki kelompok ini kemudian cenderung inklusif. Dua di antara banyak dimensi agama yang dapat dilihat adalah ajaran dan institusi agama. kedua hal ini diidentifikasikan dapat melahirkan sikap keberagamaan yang berbeda dan tingkat toleransi yang berbeda pula. Dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa agama adalah faktor dominan yang memiliki andil besar dalam pembentukan sikap keberagamaan setidaknya di kalangan mahasiswa yang diteliti. penjelasan ini setidaknya dapat diajukan. Sikap keberagamaan ini sedikit banyak kemudian mempengaruhi terciptanya toleransi pada tingkat tertentu.

kalau orang Kristen melakukan kebaktian di daerah sekitar tempat tinggal responden (31%). Survey yang melibatkan 1200 responden yang dipilih secara random lewat metode multistage random sampling dengan                                                              46Saeful Mujani. Khusus menyangkut hubungan dengan kaum Kristen. Hanya 29% yang menyatakan selalu atau sering percaya pada orang lain. dan menunjukkan masih tipisnya budaya kewargaan kalau dilihat sisi saling percaya sesama warga.46 Survey lain dilakukan kembali oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. satu kultur politik masyarakat yang juga bisa berdampak positif bagi penciptaan demokrasi di Indonesia. Anggota masyarakat yang membolehkan orang Kristen menjadi Presiden hanya 22%. Islam dan God Goverment. jangan mudah percaya (86%). Hasilnya terdapat cukup banyak warga Indonesia yang setuju dengan kegiatan aktivis Islam. selanjutnya Yahudi (7%) dan Kristen (3%). dan jika di lingkungan tersebut didirikan gereja.berdampingan dengan kelompok sosial-politik dan keagamaan lain khususnya komunis. kondisi kurang toleran bisa dijelaskan sebagai berikut. bersama Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal tentang orientasi sosial politik Islam pada tahun 2004. mereka yang tidak keberatan jika orang Kristen menjadi guru di sekolah umum juga kurang dari separuhnya (42%). Dalam hal ini kultur politik masyarakat Indonesia tidak begitu mendukung. persentase persetujuan tampak meningkat (40%). Proporsi ini sangat besar. Pada umumnya masyarakat menyatakan bahwa setiap orang harus hati-hati terhadap orang lain.  66   . 2002. yang selama ini dianggap radikal. Di samping itu. Begitu pula gambaran serupa terjadi menyangkut saling percaya sesama warga (interpersonal trust). Jakarta: PPIM IAIN Syarif Hidayatullah.

Sedangkan dalam hal tingkat toleransi terhadap Kristen-Katolik. pernah terlibat dalam kegiatan demonstrasi sebagai bentuk solidaritas. Data menunjukkan ada sekitar 40% responden yang setuju dengan agenda Islamis. data menunjukkan ada sekitar 6% responden dalam 5 tahun terakhir yang pernah ikut dalam kegiatan boikot produk atau jasa yang bertentangan dengan Islam. meliputi sikap masyarakat terhadap aturan di mana perempuan tidak boleh jadi presiden. setuju kegiatan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI).terlebih dahulu menetapkan proporsionalitas populasi yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan. hukum rajam. soal tindakan yang dilakukan aktivis Islam. proporsi laki-laki dan perempuan. Selain itu ada 2% yang pernah ikut merazia tempat-tempat maksiat dan 2% lainnya. yang dianggap menindas umat Islam di dunia. nyaris separuh responden setuju bahwa masyarakat Nasrani tidak boleh melakukan kebaktian di lingkungan yang mayoritas beragama Islam dan separuh responden juga tidak setuju bila orang Kristiani membangun gereja di lingkungan muslim. dan kegiatan maksiat atau hiburan malam di Bulan Ramadhan. poligami. Hasil survey lain yang juga menarik adalah sikap para responden terhadap agenda Islamis dan tingkat toleransi terhadap Kristen-Katolik. 15% masyarakat responden mendukung kegiatan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). kemudian pelarangan bunga bank. Bahkan ada sekitar 16% responden yang mendukung aksi pengeboman sebagai bentuk pembelaan terhadap Islam. Dari hasil penelitian. dan hukuman potong tangan. Pe-   67 . dan proporsi populasi di seluruh propinsi. seperti merazia tempat judi. serta 13% setuju dengan Jamaah Islamiyah (JI) melakukan tindakan kekerasan terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Data hasil penelitian itu menunjukkan 18% responden. 5% mendukung kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memperjuangkan diterapkannya Syariat Islam.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (a) bentuk-bentuk toleransi antar umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung-Bali. Pengumpulan data pada                                                              47“Umat Islam Indonesia Dukung Radikallisme” dalam Harian Tempo. 12 November 2004  68   . Bali.nelitian ini juga mengukur tingkat pendidikan masyarakat dengan pengaruh dukungan terhadap aktivis muslim. makin besar kemungkinannya untuk setuju dengan kegiatan aktivis Islam. meski bukan menjadi kekuatan mayoritas.47 Penelitian yang mencoba melihat hubungan antara Islam dan agama lain dengan pendekatan kualitatif pernah pula dilakukan. Hal tersebut memperlihatkan adanya dukungan yang cukup luas terhadap kelompok-kelompok Islamis. Masyarakat muslim Indonesia terbelah dalam mensikapi agendaagenda Islami dan itu ternyata cukup membuat banyak kaum muslim bersikap tidak toleran kepada umat Kristiani. sifat-sifat serta karakteristik yang khas dari kasus. (b) faktor-faktor penghambat adanya sikap toleransi di Kamung Lebah Kabupaten Klungkung Bali. semakin tinggi pendidikan seseorang. Saiful Mujani menganalisis bahwa cukup banyak di antara masyarakat muslim Indonesia yang terlibat dalam aktivitas Islamis. Pendekatan yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut adalah pendekatan studi kasus yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang merupakan studi kasus di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung Bali. seperti yang dilakukan oleh Nurhayati berjudul Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. Kesimpulannya. dan (c) faktor-faktor penghambat adanya toleransi dan solusi untuk menghadapi adanya hambatan toleransi di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung-Bali.

Kabupaten Klaten.48 Penelitian sejenis dengan penelitian di atas dilakukan oleh Anis Faranita Dhanik Rachmawati berjudul Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. serta toleransi generasi muda dalam pergaulan. Kecamatan Ceper. Kabupaten Klaten. wawancara dan dokumentasi. adanya sistem kekerabatan antara umat Islam dan Hindu. Sumberdata diperoleh dari informan yang terdiri dari: masyarakat Muslim dan Hindu serta para pemuka agama baik Islam maupun Hindu.   69 . dan adanya kegiatan-kegiatan yang melibatkan antara umat Islam dan Hindu. Melalui penelitian tersebut akhirnya diketahui bentuk-bentuk toleransi antarumat beragama khususnya Islam dan Hindu berupa toleransi dalam hal suka dan duka. 2005. adanya ajaran dalam agama Hindu yang menguatkan mereka untuk bersikap toleransi. Dalam proses penelitiannya peneliti menggunakan field research yang terdiri dari data primer yaitu sumber utama penelitian ini adalah                                                              Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. kecemburuan sosial yang terjadi antara penduduk asli dengan pendatang dan adanya krisis moralitas remaja. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Penghambat adanya toleransi berupa. Bali.penelitian ini menggunakan metode observasi. Sedangkan solusi dalam menghadapi hambatan tersebut dengan diberlakukannya hukum adat atau yang biasa disebut dengan awig-awig. Desa Pasungan. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) apa yang menjadi faktor terciptanya toleransi antara umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran. Adapun faktorfaktor pendukung adanya toleransi yaitu. Kecamatan Ceper. (2) seberapa jauh umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran memahami makna toleransi.  48Nurhayati. Skripsi. Desa Pasungan. toleransi pada saat hari raya.

(3) dokumentasi.tokoh-tokoh agama dan masyarakat di Dukuh Kasaran. Semarang: IAIN Walisongo. Selain itu dipengaruhi pula oleh faktor eksternal yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan masyarakat. Sumber                                                              Faranita Dhanik Rachmawati. dan observasi. Metode dalam pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan metode: (1) observasi. Pokok persoalan yang dibahas adalah: (1) bagaimana kehidupan beragama di kalangan komunitas Slankers Semarang.49 Penelitian lainnya berjudul Toleransi Beragama Di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi BASIS Slankers Club oleh Teguh Setyawan. dan (3) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sikap toleransi beragama di antara mereka.   49Anis 70   . (2) bagaimana sikap atau pandangan mereka terhadap toleransi beragama. Kecamatan Ceper. Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. rasa tanggung jawab. masyarakat Dukuh Kasaran dapat hidup berdampingan secara damai. Sebagai data pendukung yaitu buku-buku yang berkaitan dengan masalah tersebut. 2006. Toleransi yang terbentuk pada masyarakat Dukuh Kasaran adalah berupa amalanamalan dan perbuatan yang bersifat positif yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama. dan selalu mengedepankan aspek toleransi dalam segala hal. Di dalam pengumpulan data digunakan metode interview. Desa Pasungan. (2) interview. faktor pengalaman keagamaan. dan faktor pengetahuan. Skripsi. Penelitian tersebut menemukan: (1) faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya toleransi antara umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran adalah terdiri dari faktor internal yaitu faktor keimanan. Kabupaten Klaten. (2) bahwa umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran memahami betul tentang toleransi antarumat beragama. dan (4) angket. angket.

tidak menggunakan atau memakai narkoba dan ibadah lainnya (kebaktian). Mereka tidak pernah membeda-bedakan teman yang berbeda agama apalagi berkelahi gara-gara beda keyakinan/agama. Sasaran penelitian adalah komunitas Slankers Semarang.data diperoleh melalui wawancara terhadap 20 orang informan yang terdiri atas: Islam 10 orang. Mengenai kehidupan beragama di antara mereka. yang tergabung dalam organisasi BASIS Slankers Club. Sedangkan mengenai sikap atau pandangan komunitas Slankers Semarang terhadap toleransi beragama di antara mereka. Bentuk toleransi beragama di antara mereka adalah berbentuk seperti amalan-amalan yang dilakukan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat agamis. Sebuah komunitas yang jelas keberadaannya dan diresmikan oleh Slank pada tanggal 12 Februari 2005 di Hotel Graha Santika Semarang. Di organisasi BASIS Slankers Club dalam merekrut anggotanya menggunakan pola terbuka. Dengan keterbukaan di antara mereka maka toleransi akan muncul dengan sendirinya. karena mereka selalu menerima siapa saja yang mau menjadi anggotanya. puasa.   71 . Hal ini ditandai dengan mereka mau menjalankan perintah agamanya seperti: shalat. yang terdiri dari pelajar( SMP. menunjukkan adanya kehidupan beragama yang dapat dikatakan baik. Anggota yang tergabung dalam organisasi ini adalah rata-rata berasal dari kalangan anak muda. karena dipengaruhi oleh tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Tuhannya. Mahasiswa dan pekerja. SMU). Kristen 5 orang dan Katolik 5 orang. Walaupun dalam menjalankannya tidak selalu mulus. Pada dasarnya anggota Slankers menerima sikap toleransi. berdasarkan hasil pengisian angket dan interview dengan anggota BASIS Slankers Club. tidak memandang dari mana asalnya atau agama yang diyakininya. hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap saling menghormati dan menghargai.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi. Sedangkan faktor ekstern (lingkungan di mana anggota Slankers bersosialisasi dengan sesamanya) adalah nilai-nilai PLUR (Peace. Depok. pengalaman keagamaan yang dimiliki oleh setiap anggota Slankers serta pemahaman dan pengetahuan tentang Slank. ada dua faktor yaitu: faktor intern dan ekstern.Pandangan para Slankers mengenai toleransi. wawancara. pada intinya mereka tahu tentang toleransi walaupun belum menyamai wacana toleransi yang sesungguhnya. Unity dan Respect). Yogyakarta. Faktorfaktor yang mempengaruhi sikap toleransi di antara mereka. 2007. Faktor intern (dari diri anggota Slankers) seperti: pengetahuan yang ada pada diri Slankers. yang mengasumsikan bahwa manusia diperlukan sebagai abstrak yang menduduki status dan peran yang membentuk lembaga-lembaga atau struktur sosial dan secara implisit manusia sebagai pelaku yang memainkan                                                              Setiawan. dan dokumentasi dengan pendekatan emik yaitu upaya memahami fenomena sosial dengan pemahaman dunia pelakunya sendiri. Sleman.50 Penelitian berikutnya dilakukan oleh Fathurrahman berjudul Toleransi Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. seperti yang pernah diungkapkan oleh para agamawan dan cendekiawan. Teori yang digunakan adalah fungsionalisme struktural yang dikonstruksikan oleh Robert K. Penelitian ini berusaha mengungkapkan tentang bagaimana interaksi sosial antara pengguna jasa dengan para penyedia jasa kos yang beda agama dan bagaimana model (bentuk) toleransi yang dibangun oleh penyedia dengan pengguna jasa kos beda agama. Toleransi Beragama di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi Basis Slankers Club. Love. Skripsi. Desa Catur Tunggal. Semarang: IAIN Walisongo.   50Teguh 72   . Merton.

Yogyakarta.   51Fathurrahman. penelitian ini menganalisis sejauhmana aktor-aktor masyarakat sipil dan organisasi masyarakat sipil (OMS) Indonesia mempraktikkan dan mempromosikan toleransi dalam aktivitas mereka sehari-hari.Toleransi   73 . Afrika Selatan. dengan biaya dari ACCESS (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme). untuk itu masalah-masalah yang bersifat ketuhanan (suci) merupakan hak mutlak bagi setiap individu akan tetapi masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan merupakan tanggung jawab bersama. 2008.ketentuan-ketentuan yang telah dirancang sebelumnya. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Pendekatan dan metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut dikembangkan oleh organisasi masyarakat sipil tingkat internasional CIVICUS (World Alliance for Citizen Participation) yang berkantor di Johannesburg. sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan masyarakat. Berkenaan dengan subbagian toleransi. yaitu dalam rangka mengukur Indeks Masyarakat Sipil Indonesia (IMSI). yang dilakukan antara akhir tahun 2005 hingga pertengahan tahun 2006. Depok. Skripsi.51 Penelitian menarik terkait toleransi dilakukan pula oleh YAPPIKA. Sleman. sebuah Aliansi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Demokrasi. dan ini juga yang diadopsi oleh para pendatang (pengguna jasa kos). Penelitian ini merupakan subbagian dari agenda penelitian yang lebih besar.                                                              Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. Desa Catur Tunggal. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuk (terwujudnya) toleransi beragama yang ada di Dusun Papringan karena adanya nilai budaya setempat yakni ewuh pakewuh yang diwarisi kepada setiap individu secara turun-temurun. Dengan nilai budaya ini maka melahirkan kebebasan bagi setiap individu untuk memeluk agama menurut keyakinannya masing-masing.

toleransi dalam arena masyarakat sipil. seks. ras. Kalau pun ada sifatnya sangat marginal dan akan dikecam komunitas OMS yang lain. diskriminasi dan tidak toleran hampir tidak pernah ditemukan dalam pemberitaan media mengenai aktivitas Ornop. termasuk agama. Sementara sangat menarik bahwa hampir sepertiga (30%) responden menyatakan tidak tahu atau tidak bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan. Kode etik yang disepakati sekitar 250 LSM pada tahun 2002 misalnya secara tegas menyatakan bahwa LSM adalah lembaga nonsektarian dan membebaskan dirinya dari prasangkaprasangka atas dasar segala perbedaan. Hasilnya. suku. Namun demikian. Pada tingkat masyarakat. pada umumnya kalangan OMS menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan mempraktikkannya dalam aktivitas sehari-hari. diskriminatif atau tidak toleran tersebut tidak signifikan atau hanya terbatas. Hanya sekitar seperlima yang berpendapat bahwa kekuatan tersebut ada (16%) atau signifikan (5%). yakni toleransi dalam arena masyarakat sipil dan aktivitas OMS dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi. Sikap-sikap seperti rasis. Berkenaan dengan aksi 74   . tidak dapat disangkal bahwa ada kekuatan-kekuatan dalam arena masyarakat sipil yang kurang toleran terutama dalam perbedaan agama seperti yang mengakibatkan terjadinya perusakan rumah ibadat agama minoritas Kristen/Katolik maupun terhadap pemeluk Islam Ahmadiyah. golongan. RSS (Regional Stakeholder Survey) 2006 mengungkapkan bahwa hampir separuh responden (49%) berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan dalam masyarakat yang secara eksplisit menunjukkan kecenderungan rasis. adanya prasangka-prasangka atas dasar agama dan etnis tampaknya masih cukup tinggi yang ditandai dengan terjadinya kekerasan-kekerasan sosial di beberapa daerah di Indonesia. dan gender.Ada dua indikator yang digunakan untuk mengukurnya.

hlm.     75 . Meskipun OMS Indonesia cukup aktif dalam mempromosikan toleransi di dalam masyarakat. Survei organisasi peace building tahun 2002 menemukan bahwa 129 (27%) dari 465 OMS yang disurvei menyatakan bahwa mempromosikan toleransi dan pluralisme dalam masyarakat merupakan salah satu dari lima kegiatan utama yang mereka lakukan dalam dua tahun terkahir (2000-2002). Indeks Masyarakat Sipil Indonesia. Salah satu contoh yang banyak dikemukakan adalah perlunya meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia. Jakarta: YAPPIKA. Surakarta dan Cianjur) pada tahun 2006. Juga terdapat OMS yang secara khusus mengkaji dan mempromosikan kerjasama antaragama dalam masyarakat Indonesia. Di Indonesia ada beberapa OMS yang khusus bekerja untuk menghapuskan diskriminasi rasial.masyarakat sipil untuk mempromosikan toleransi. Survei                                                              52Tim Peneliti. Sikap dan Perilaku Stakeholders terhadap Organisasi Masyarakat Sipil. 2006. Jakarta: LP3ES dan YAPPIKA. RSS 2006 menemukan bahwa hampir dua pertiga responden berpendapat bahwa mereka dapat mengingat contoh-contoh kampanye publik ataupun aktivitas OMS yang ditujukan untuk mempromosikan toleransi. 90-91. sejumlah OMS Indonesia menempatkan promosi toleransi sebagai bagian dari kegiatan pokok mereka. Laporan Hasil Survei Pengetahuan. Sebanyak 41% responden berpendapat bahwa peran OMS dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi tersebut cukup (35%) atau signifikan (7%).52 Survei lain dilakukan oleh Tim LIPI di tiga daerah (Bogor. Sebanyak 42% menyatakan bahwa mereka dapat menunjukkan satu atau dua contoh. Tim Peneliti. 21% dapat menunjukkan beberapa contoh dan 7% dapat menunjukkan banyak contoh. Sementara yang berpendapat bahwa peran tersebut terbatas atau tidak signifikan dinyatakan oleh 45% responden. hasilnya dirasakan masih belum signifikan. 2006.

7%. Ed. dan sisanya 6. 2007. proporsi dukungan responden adalah 38. Proporsi responden yang membolehkan ucapan salam (assalamu`alaikum) kepada nonmuslim sangat kecil (8. Secara umum bisa dikatakan bahwa kesediaan muslim Indonesia untuk hidup sejajar dengan pemeluk agama lain masih rendah. Jakarta: LIPI.0%).9% untuk praktik silaturrahmi di luar hari besar keagamaan nonmuslim. Namun proporsi tersebut meningkat menjadi 59. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman Konflik.6%) yang mendukung.2006.   53Muhammad 76   .53 Penelitian toleransi yang tidak boleh dilewatkan adalah apa yang telah dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI).2%) tidak mendukung.menunjukkan bahwa sebagian kalangan muslim Indonesia masih memiliki persoalan menyangkut proses konsolidasi demokrasi. Idem.173                                                              Hisyam.9%.3% tidak bersikap.4%. 4-5. sementara sebagian besar (72.200 orang responden yang ditentukan dengan metode multistage random sampling yang tersebar di 33 propinsi dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar lebih kurang 2. sementara mereka yang tidak membolehkan mencapai angka 85. misalnya terhadap praktik memberi ucapan selamat kepada pemeluk agama lain yang merayakan hari besar keagamaan mereka. yakni 40. Persentase tersebut konsisten dengan jawaban responden yang mendukung gagasan bahwa sebaiknya kaum muslim hanya berteman dekat dengan orang yang sama-sama memeluk agama Islam saja. hlm. hanya sebagian kecil responden (15. Praktik silaturrahmi dengan nonmuslim di hari besar keagamaan mereka. yang antara tanggal 23-27 Januari 2006 melakukan suvei opini publik tentang toleransi sosial masyarakat Indonesia. Sampel akhir yang valid dan dianalisis sebanyak 1. Survei dilakukan terhadap 1.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. Jakarta: LIPI.

Temuan lain menyatakan: warga non-muslim di Indonesia memandang masyarakat muslim Indonesia pada umumnya sangat toleran terhadap mereka (78. yakni dimensi sosial keagamaan dan dimensi sosial politik.orang responden. hal sangat terlihat dalam toleransi hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda etnis (di atas 90-an %). Khusus tentang toleransi beragama. kelompok lain. Temuan tentang toleransi sosial kemasyarakatan yang ditunjukkan dari hasil survei ini menunjukkan pola yang sangat menarik. Sedang yang diukur dalam dimensi sosial politiknya adalah: pandangan masyarakat terhadap orang lain. Sedangkan   77 . pihak yang menyatakan keberatan cukup besar (42. meskipun tidak mayoritas (pihak yang menyatakan tidak keberatan sebanyak 38.3%). ditanyakan juga kesediaan mereka untuk membiarkan pihak yang berkeyakinan beda untuk melaksanakan dan membangun sarana ibadat. sikap terhadap perjuangan hak oleh kelompok lain. dan semakin rendah terhadap pihak lain yang dianggap memiliki orientasi dan perilaku seks yang berbeda seperti kaum waria (61.1%). Dalam hal toleransi terhadap orang yang berbeda agama untuk melaksanakan dan membangun rumah ibadat mereka dalam lingkungan di sekitar responden. dan pandangan terhadap kebudayaan barat. Survei ini menetapkan bahwa sikap toleransi dan pandangan tentang pluralisme masyarakat Indonesia diukur dalam dua dimensi. namun toleransi dengan orang yang berbeda agama lebih rendah (hanya 80-an %). Indikator yang diukur dalam dimensi sosial keagamaan adalah: bagaimana kesediaan masyarakat untuk hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda (the other) baik dari agama dan etnis.7%). survei ini juga mengungkap derajat social trust dalam masyarakat Indonesia.7%) dan homo seks (43.7%). Selain itu. Meski secara umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cukup toleran.

Jakarta: LSI.untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan/kebaktian yang menyatakan tidak keberatan cukup besar (48%) dan yang menyatakan keberatan hanya 36. salah satunya berusaha mengungkapkan perilaku sosial-keagamaan para aktivis gerakan Islam fundamentalis di UNSRI. Harto melalui penelitiannya ini. Salah satu penyebab intoleransi adalah paham keagamaan yang cenderung tertutup (eksklusif) sebagai akibat pengajaran doktrin keagamaan yang menekankan tentang kebenaran tunggal. Kuatnya doktrin keagamaan mereka memunculkan keyakinan akan kebenaran tunggal. 2006.54 Beberapa penelitian di atas cukup bisa memberi gambaran bahwa sikap toleransi sangat diperlukan oleh masyarakat guna menciptakan harmonisasi antarumat beragama. Hasil penelitiannya berkesimpulan bahwa perilaku sosial kelompok-kelompok keagamaan di UNSRI terhadap masyarakat muslim mainstream. rata-rata mereka punya kecenderungan sikap eksklusif dan intoleran. apalagi dengan non-muslim. yakni kebenaran Islam kelompok sendiri. Sebaliknya sikap intoleran bisa mengancam terciptanya harmonisasi antaraumat beragama. Kesimpulan ini didukung pula oleh hasil penelitian Kasinyo Harto yang setelah dibukukan berjudul Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang.   78   .7%. Dari beberapa penelitian di atas diketahui pula bahwa banyak faktor yang mendorong sikap toleran tetapi tidak sedikit pula yang mendorong sikap intoleran. tidak cukup disukai keberadaannya. Kelompok atau gerakan yang tidak                                                              54Tim Peneliti. Data tersebut dapat dipahami bahwa keberadaan rumah ibadat sebagai simbol adanya umat agama tertentu di suatu wilayah. Survei Opini Publik: Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia.

mereka tidak menegasikan agama di luar Islam yang juga dapat memberikan keselamatan (salvation) bagi pemeluknya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008. 215. Dengan cara pandang ini. Hubungan Muslim dan Kristen yang menjadi fokus studi Husein merupakan topik penting sekaligus sensitif. Dalam pandangan Husein.   56Kasinyo Harto. Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag. Muslim inklusif bersikap lebih terbuka terhadap kelompok agama lain.sepaham dipersepsikan sebagai golongan yang tersesat dan harus didakwahi agar kembali ke jalan yang benar. Konflik dan kekerasan sering mewarnai perkembangan Islam dan Kristen di Indonesia.56 Sekadar mempertegas definisi eksklusivisme                                                              55Mujiburrahman. relasi antara Islam dan Kristen tidak bisa dilepaskan dari cara pandang masing-masing pemeluk agama tersebut terhadap agamanya sendiri maupun agama kelompok lain. Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia: The Exclusivist and Inclusivist Muslim Perspectives (2005). hlm. 2008. Muslim eksklusif memiliki keyakinan Islam sebagai agama terakhir untuk mengoreksi (kesalahan) agama lain. Pengantar Karel A.55 Kesimpulan bahwa sikap keberagamaan yang terbuka (inklusif) cenderung membuat orang toleran dan sikap keberagamaan yang tertutup (eksklusif) cenderung membuat orang intoleran merupakan kesimpulan penelitian Fatimah Husein. Sedangkan Muslim inklusif memiliki keyakinan bahwa Islam merupakan agama yang benar. Cara pandang ini menurut Husein menimbulkan sikap tidak toleran (intolerance) terhadap keberadaan agama lain.     79 . yakni: eksklusif (exclusive) dan inklusif (inclusive). Mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi. Meskipun begitu. Steenbrink. Dalam studinya Husein mengungkap dua cara pandang dominan di kalangan Muslim yang mempengaruhi relasi Islam dan Kristen.

Dengan seseorang mempunyai kepribadian extrovert. tenang. Pada diri yang introvert umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri. dan cenderung tertutup secara sosial. yakni sikap keagamaan yang menganggap bahwa satu-satunya agama yang benar hanya agama dan keyakinan yang dipeluknya. dan suka bekerja kelompok. tetapi rajin. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kepribadian introvert cenderung tertutup secara sosial dan suka bekerja sendiri sehingga tidak senang terlibat dalam sebuah kelompok atau organisasi. dia akan senang terlibat dalam sebuah kelompok atau organisasi karena keterlibatan nya dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain dan bekerja kelompok. bebas dan terbuka secara sosial. sedangkan agama dan kepercayaan lain salah. aktif. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. sementara lainnya inklusif? Apakah cara pandang tersebut dipengaruhi oleh doktrin agama? Dari hasil penelitian Kasinyo Harto di atas sikap eksklusif dan inklusif sangat dipengaruhi doktrin keagamaan yang dikonstatasi oleh kelompoknya. pemalu. suka berteman. Mengapa ada yang berpandangan eksklusif. Pengruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Kepribadian dalam individu dapat dibedakan antara dua sisi yang introvert dan extrovert. suka bekerja sendiri. perlu dikutip juga penjelasan Joseph Runzo (2003) apa yang disebut dengan religious exclusivism. sigap dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaan yang lamban. berminat terhadap keanekaan. Berdasarkan 80   .dari Husein. hati-hati dalam mengambil keputusan. Sebaliknya individu yang extrovert pada umumnya memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar. C. dan ramah tamah. Kerangka Berpikir 1.

Di sisi lain hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah pengetahuan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidikan agama. sikap dan motivasi) yang baik maka akan memiliki hasil belajar pendidkan agama yang tinggi karena termotivasi untuk memperdalam pelajaran agama. penyesuaian diri. emosi. penyesuaian diri. toleransi dan ketekunan). perangai. dan motivasi. Jadi di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama. Pengayaan pengalaman ditentukan oleh seberapa besar keinginan seseorang terlibat dalam kegiatan sosialkemasyarakatan. senyum. 2. Kepribadian juga merupakan kesatuan unik dari ciri-ciri fisik (pandangan mata. dapat di duga bahwa terdapat pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organsiasi. sosok tubuh. yang terungkap melalui perilaku. Aspek kepribadian meliputi watak. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. dan diperbuat. dirasakan. emosi. sikap. sifat. minat. atau bagi mahasiswa melalui kegiatan   81 . Berdasarkan uraian di atas. dan sebagainya) dan mental yang ada dalam diri seseorang ( kebijaksanaan. sifat. Kombinasi yang muncul dari keduanya merupakan kepribadian seseorang.uraian di atas. 3. Gagasan tersebut memberikan gambaran dan kesan tentang apa yang dipikirkan. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar Salah satu sikap manusia ditentukan oleh pengalaman. dapat di lihat bahwa seseorang yang memiliki kepribadian (watak.

suka berteman.organisasi kemahasiswaan atau sejenisnya. seseorang akan mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya termasuk apa yang baik. Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Berkenaan dengan kepribadian. Pada intervensi 82   perkembangan melalui terhadap lingkungan. yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan termasuk dalam hal pengetahuan agama islam. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat introvert akan menciptakan lingkungan yang tertutup dan individualis. dan ramah tamah. orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. aktif. Umumnya mereka sudah senada dengan kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya. pada hakikatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. Dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berorganisasi adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain Di sisi lain orang yang memasuki suatu kelompok sosial. Dengan memasuki suatu organisasi. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organsiasi terhadap hasil belajar pendidikan agama 4. cenderung pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri. Sebaliknya pada tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. serta berupaya untuk mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan lingkungan. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert akan menciptakan lingkungan yang terbuka dan saling menghargai. adaptasi sebagian maupun individu .

Seseorang yang mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke arah extrovert. Di sisi nlain seseorang tertarik untuk mengadakan interaksi bukan karena adanya kesamaan sikap. yakni sifat di antara introvert dan extrovert. Karena naluri manusia itu ingin hidup bersama atas kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. Kesempatan berinteraksi ini secara langsung mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kelompok. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya dan gagasannya sesuai dengan kenyataan social yang ada di lingkungan kampus atau masyarakatnya. Adanya   83 . Karena itu. Demkian juga seseorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan tetapi percaya diri yang semakin berkurang akan cenderung bergerak ke arah introvert. Dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain. tidak dapat dilakukan sendirian melainkan harus dilakukan secara bersama-sama. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan. dalam usaha untuk memenuhi kehendak dan kepentingan tersebut. Dengan demikian. Keterlibatan seorang dalam kelompok didasarkan karena hasratnya untuk bersatu dengan manusia-manusia yang lain disekitarnya. tetapi justru karena adanya perbedan-perbedaan yang tercipta. proses untuk mencapai tujuan tersebut dapat melalui kerjasama dan berfikir secara bersama-sama pula. sehingga menjadi sifat yang ambivalen. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan.mengadakan penyesuaian. 5.

Melalui keterlibatan organisasi. justru akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain. karena 84   . selain akan memperoleh informasi berharga. kampus dan masyarakat (sosial). tanggapan dan saran. Paparan di atas menggambarkan keuntungan yang dapat diperoleh oleh seseorang bila terlibat dalam organisasi. ide-ide berharga. dan komunitas moral. kepandaian atau segala sesuatu yang berkenaan dengan agama yang meliputi aspek kepercayaan. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan. Hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah kemampuan pendidikan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidika agama. misalnya. ritus. dalam merasakan kekurangan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. sehingga akan mempengaruhi lingkungan kampus yang lebih nyaman dan jauh dari gejolak akibat perbedaan pendapat. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok.perbedaan. Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan Pengetahuan keagamaan adalah segala sesuatu yang diketahui. diharapkan dapat mengembangkan pribadi mahasiswa secara optimum dan kompeten dalam kehidupan di lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga. hasil belajar pendidikan agama yang di dapat mahasiswa diharapkan dapat memberikan suatu konsekuensi berupa tanggung jawab memelihara norma-norma sosial dan norma agama. Hasil belajar Pendidikan agama yang meliputi aspek kognitif (pengetahuan keagamaan) dan psikomotorik yang di miliki mahasiswa. 6.

pesimistis. optimistis. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan. membiarkan. Adapun tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. 7. dan stabil. (c) Koleris. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pendiam. (b) Melankolis. netral (tidak ada warna perasaan yang jelas). Di sisi lain toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. diharapkan hasil belajar pendidikan agama yang dimiliki mahasiswa dapat berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan beragama di lingkungan kampus. dan ramah tamah. pandangan. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi agama Secara umum kepribadian manusia menjadi empat kriteria yaitu: (a) Sanguinis. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar.. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar selalu merasa kurang puas. dan (d) Plegmatis. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar periang. dan membolehkan pendirian. kurang mempunyai rasa humor. suka berteman. sedih. keyakinan.   85 . suka membuat provokasi. dan banyak inisiatif (usaha). dan percaya diri. tidak sabaran. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pemurung. bereaksi negatif dan agresif. cenderung beroposisi. tidak mau mengalah.sebuah keluarga tidak hanya sekadar berstatus sebagai lembaga sosial akan tetapi juga merupakan lembaga pendidikan informal. Begitu juga melalui Perguruan Tinggi. tidak toleran. tenang. aktif. menghormati. Sifat-sifat lainnya mudah tersinggung (emosional). kurang percaya diri..

nilai. Toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai. tanggapan dan saran. Intoleransi 86   . dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik. Dengan demikian orang-orang yang bersifat ekstrovert biasanya lebih mempunyai toleransi beragama yang baik karena sifatnya yang lebih terbuka secara sosial dan berminat terhadap keanekaan termasuk menerima keaneka ragaman agama yang ada di sekitar lingkungan dari pada orang-orang yang bersifat introvert yang cederung lebuh menarik diri dari lingkungan. Tertariknya seseorang untuk melakukan interaksi di tentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary). gagasan dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan social. 8. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama. keyakinan. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. Melalui keterlibatan organisasi. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama Keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok akan memberikan kesempatan berinteraksi dengan pihak lain. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya. selain akan memperoleh informasi berharga. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. ide-ide berharga. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan. sehingga akan terwujud saling pengertian dan toleransi antar anggota. serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik.kepercayaan. perilaku.

seperti hubungan antara kakak dan adik. 9. Pengaruh hasil belajar terhadap toleransi beragama Hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah kemampuan pendidikan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidika agama. muncul karena kita tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan. dan ideologi. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama. kebijaksanaan dan bertanggung jawab. kebesaran jiwa. Oleh karenanya. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal. Dari hasil belajar pendidikan agama yang dimiliki. aspek kedalaman dari agama itulah yang membuat seseorang lebih toleran terhadap orang lain. antarteman.   87 . hingga menumbuhkan perasaan solidaritas dan mengeliminir egoistis golongan. dibutuhkan adanya kejujuran. diharapkan mahasiswa mempunyai penghayatan terhadap aspek kedalaman dari agama sehingga dapat membuat mahasiswa lebih mampu bersikap menghormati orang lain secara lebih manusiawi. Dengan kata lain. agama. orangtua dan anak. Hal ini membuat seseorang pada aspek kedalaman dari agama terdapat titik-titik temu yang lebih banyak dari agama-agama.adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran. suami dan isteri. Dalam toleransi beragama. setiap pemeluk agama hendaknya dapat menghayati ajaran agamanya secara mendalam. atau antarkelompok. misalnya suku. bangsa.

ia tidak harus menimbulkan pertentangan. yakni toleransi yang bersifat aktif dan dinamis. Di sisi lain pendidikan adalah suatu proses di mana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan terpilih dan terkontrol (misalnya kampus) sehingga ia dapat mengembangkan diri pribadi secara optimum dan kompeten dalam kehidupan masyarakat (sosial). Dalam konteks ini. lingkungan sekolah. sebab pendidikan itu merupakan suatu proses yang berlanjut dan berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan. toleransi antarumat beragama bukan hanya sekadar hidup berdampingan secara pasif tanpa adanya saling keterlibatan satu sama lain.Dalam toleransi ini semua umat beragama harus berpegang pada prinsip agree in disagreement (setuju dalam perbedaan). Perbedaan tidak harus mengakibatkan permusuhan. Oleh karena itu. prinsip tersebut mengandung pengertian. karena bagaimanapun perbedaan akan selalu ada di dunia ini. Dengan demikian. dan lingkungan masyarakat (sosial). berbuat baik dan adil antarsesama. semua penganut agama setuju untuk hidup rukun dengan tetap memelihara eksistensi semua agama yang ada. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh hasil belajar organisasi terhadap toleransi beragama. 10. rukun dan damai. melainkan lebih dari itu. yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan saling menghargai dan menghormati. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama Memahami lingkungan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan. Pada dasarnya lingkungan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi: lingkungan keluarga. Tujuan 88   . dan bekerjasama dalam membangun masyarakat yang harmonis.

yakni terbentuknya mental. tingkah laku. organisasi. tujuan itu harus mengandung nilai-nilai yang serasi dengan kebudayaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan sebagai lembaga pendidikan. Peranan Sekolah/Perguruan Tinggi sebagai institusi dinyatakan sebagai berikut: “peranan sekolah/kampus sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia. baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. dan agama). bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. Dengan demikian mahasiswa yang mendapat keluarga yang baik akan mampu mengidentifikasikan pola sikap dan tingkah laku yang baik dalam keluarganya sehingga muncul sikap saling toleran masing-masing anggota keluarga. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk dan jenis lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan sebagai faktor penting dalam mengukur toleransi beragama di kalangan mahasiswa. Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana. Berdasarkan pembahasan di atas. maka bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. dilihat dari sudut sosial dan spiritual. berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan. Dengan demikian pendidikan di Perguruan Tinggi. terarah dan sistematik guna mencapai tujuan tertentu. penerimaan.pendidikan di keluarga. Pengabaian terhadap masalah ini barangkali dapat membuat pembacaan terhadap toleransi beragama di kalangan mahasiswa itu tidak utuh   89 . dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun.

maka hipotesis penelitian ini adalah: 1. Keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 9. Keterlibatan organsiasi berpengaruh langsung terhadap hasil belajar 4. Hasil belajar berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 7. Hasil belajar pendidikan agama berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 10. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 5.(bias). Kepribadian berpengaruh langsung terhadap keterlibatan organisasi 2. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka berpikir di atas. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 8. Keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 6. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh lingkungan belajar terhadap toleransi beragama D. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap hasil belajar 3. Lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 90   .

(3) 7 universitas tersebut diduga mempunyai kegiatan intra dan ekstra kampus yang cukup baik sehingga dapat membantu membentuk karakter mahasiswa yang tidak semata-mata pandai secara akademis tetapi juga baik sosialisasinya di masyarakat. membutuhkan waktu kurang lebih 4 bulan yaitu dari bulan September s. Universitas Hasannuddin. Alasan dipilihnya 7 universitas tersebut sebagai lokasi penelitian adalah: (1) selama ini 7 universitas tersebut menjadi ajang perebutan bagi para mahasiswa baru menuntut ilmu karena dianggap berkualitas baik secara akademis maupun sosial sehingga menghasilkan sumber daya manusia mahasiswa atau lulusan yang kompetitif. pelaksanaan. pengolahan hasil penelitian. Universitas Udayana. yaitu Universitas Indonesia.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Universitas Gadjah Mada. sehingga secara otomatis mahasiswanya heterogen dari sisi agama dan etnis. Lokasi dan Waktu Penelitian enelitian berlokasi di 7 perguruan tinggi umum negeri. dan pelaporan. mulai dari tahap persiapan. baik laten maupun manifes. (2) karena prestasinya tersebut. diseminasi hasil penelitian. P Penelitian ini. Universitas Diponegoro.d. Heterogenitas itu diasumsikan berpotensi memunculkan konflik bernuansa agama atau etnis di kalangan mahasiswa. Desember 2009. Universitas Padjadjaran. dan Universitas Nusa Cendana. 91 . 7 universitas tersebut mempunyai mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Imam Chourmain. keterlibatan organisasi (X2). Teknik analisis data dengan menggunakan metode analisis deskriptif.                                                                92 . Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei cross-sectional yaitu survei yang dirancang untuk sekali waktu. Teknik ini dipergunakan untuk menganalisis hubungan antara 4 (empat) variabel bebas (independent variable). yang juga berfungsi sebagai dasar dalam penyusunan instrumen penelitian dalam bentuk kuesioner. hasil belajar pendidikan agama (X3). Model Hipotesis penelitian berbentuk pengaruh kausal (sebab akibat) sesuai dengan model teori yang digunakan. yaitu kepribadian (X1). analisis korelasional dan analisis jalur (path analysis). Survei cross-sectional tidak punya maksud membuat perbandingan atau melihat perubahan pendapat dan perilaku. 2007.S. Survei cross-sectional hanya ingin memotret pendapat atau perilaku masyarakat pada satu periode waktu tertentu. 8. Metode Penelitian dengan Analisis Jalur (Metode Path Analysis).   2 M. Jakarta: t. yaitu toleransi beragama (Y). 2009.B. dan lingkungan pendidikan (X4) dengan 1 (satu) variabel terikat (dependent variable). dan pandangan dari berbagai pakar.1 Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. dalam setiap variabel penelitian telah dibangun konstruk dan indikator. hlm. seperti gambar berikut X1 X3 Y X2 X4 1 Eriyanto dkk. Bagaimana Merancang dan Membuat Survei Opini Publik. teori.2 Berdasarkan konsep.p.A. Jakarta: AROPI.

dan Nusa Tenggara Timur (Universitas Nusa Cendana). Konghucu) di fakultas eksakta seperti teknik. Kristen. hasil belajar pendidikan agama. hasil belajar pendidikan agama. perikanan. lingkungan pendidikan. Katolik. MIPA. kedokteran gigi.Keterangan: X1 = Kepribadian X2 = Keterlibatan organsiasi X3 = Hasil Belajar PA X4 = Lingkungan pendidikan Y = Toleransi beragama Dari skema di atas dapat dijelaskan bahwa variabel kepribadian. kepribadian juga diasumsikan mempengaruhi toleransi beragama melalui keterlibatan organisasi. filsafat. Jawa Tengah (Universitas Diponegoro). keterlibatan organisasi. kehutanan. hukum. Buddha. Jawa Barat (Universitas Padjadjaran). yang terdapat di perguruan tinggi tersebut. ekonomi. Hindu. ilmu komputer). pertanian. Sulawesi Selatan (Universitas Hasanuddin). Sedangkan populasi terjangkaunya adalah mahasiswa yang berbeda agama (Islam. lingkungan pendidikan. kedokteran umum. lingkungan pendidikan diasumsikan mempengaruhi secara langsung toleransi beragama. DI Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada). hasil pendidikan agama mempengaruhi toleransi beragama melalui lingkungan pendidikan. psikologi. farmasi. Selain itu. keguruan. C. ilmu budaya. dan fakultas sosial seperti ilmu sosial dan politik. kesehatan masyarakat. Bali (Universitas Udayana). 93 . keterlibatan organisasi mempengaruhi toleransi beragama melalui hasil belajar pendidikan agama. Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah mahasiswa perguruan tinggi umum negeri di wilayah DKI Jakarta (Universitas Indonesia).

Universitas Gadjah Mada 45.000-an orang. yaitu variabel 94 .000-an orang. proyeksi 100 responden diberikan kepada Universitas Hasanuddin. Sampel Responden Penetapan jumlah masing-masing responden universitas sebesar itu ditentukan setelah melihat jumlah mahasiswa keseluruhan dari masing-masing universitas. Universitas Hasanuddin sebanyak 30.000-an orang.000-an orang. Universitas Udayana sebanyak 18. Universitas Diponegoro sebanyak 28. dan Universitas Nusa Cendana sebanyak 15.000-an orang. Instrumen Penelitian Penyusunan instrumen penelitian didasarkan pada “matrik pengembangan instrumen” dan “kisi-kisi instrumen” yang merujuk kepada 5 variabel yang diukur. Dari hasil pelacakan melalui internet diketahui bahwa mahasiswa Universitas Indonesia sebesar 40.Sampel penelitian secara keseluruhan sebanyak 610 mahasiswa dan penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive dengan perincian sebagai berikut: Perguruan Tinggi Jumlah Sampel Universitas Indonesia 100 Universitas Padjadjaran 80 Universitas Diponegoro 81 Universitas Gadjah Mada 98 Universitas Hasanuddin 101 Universitas Udayana 80 Universitas Nusa Cendana 70 610 Jumlah Tabel 1.000-an orang. namun karena pertimbangan keterwakilan wilayah Timur. Universitas Padjadjaran sebanyak 45.000-an. D. Dari data tersebut mestinya Universitas Padjadjaran memperoleh 100 responden.

Kisi-kisi Instrumen Variabel Kepribadian (X1) No. 2. dan plegmatis. Metode Penelitian Kuantitatif. 4. Melankolis. dan toleransi beragama. Plegmatis. Definisi Operasional Kepribadian adalah skor yang diperoleh dari instrumen kepribadian dengan indikator yang mengukur temperamental seseorang apakah ia tergolong ekstrovert. Kisi-kisi Tabel 3.   3 95 . Kualitatif dan R & D. c. 3. 1. Sanguinis.3 1. Dimensi Ekstrovert atau introvert. Variabel Kepribadian (X1) a. sanguinis.1. melankolis. Koleris. keterlibatan organisasi. berdasarkan instrumen yang sudah baku.kepribadian. Bandung: Alfabeta. 2008. b. Definisi Konseptual Kepribadian adalah perangai atau perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi dinamis antara karakteristik fisik dan mental pada diri individu yang berkembang sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya. hlm. koleris. hasil belajar pendidikan agama. 5. 8. Nomor Soal 13 14 15 16 17 Jumlah Jumlah Butir 15 15 15 15 15 75                                                              Sugiyono. lingkungan pendidikan. introvert.

setelah instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konstruksi instrumen variabel kepribadian dilakukan dengan menggunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Pengetahuan 18 1 2. Dime Nomor Soal Jumlah nsi Butir 1. b. c. 25 6 3. kualitas dalam kegiatan organisasi. 22. komunikasi atau kegiatan bersama individu atau kelompok dalam organisasi. 27. Instrumen variabel kepribadian diadaptasi dari instrumen uji kepribadian yang sudah baku dilakukan oleh kalangan psikolog.2. Kisi-kisi Instrumen Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) No. dan manfaat organisasi. Kedudukan 19 1 2. kedudukan dalam organisasi. pengambilan keputusan di organisasi. 21. Keterlibatan 20. Manfaat 26. 23. 28 3 Jumlah 11 96 . Dalam hal ini. maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli. 2. Definisi Operasional Keterlibatan organisasi adalah skor yang diperoleh dari instrumen keterlibatan organisasi dengan indikator yang mengukur kuantitas dalam pengetahuan organisasi. Kisi-kisi Tabel 3. Definisi Konseptual Keterlibatan organisasi adalah setiap proses identifikasi. Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) a. 24.d.

d. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen keterlibatan organisasi dengan cara mengonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. Selanjutnya, untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. Hasil uji coba instrumen keterlibatan organisasi diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 4 butir pernyataan tidak diterima. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 7 butir. Adapun pernyataan 4 butir yang ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini adalah, yaitu nomor 22, 25, 26 dan 27. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0.877. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel keterlibatan organisasi adalah instrumen final yang terdiri atas 7 butir. 3. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) a. Definisi Konseptual Hasil belajar pendidikan agama adalah prestasi akademik yang diperoleh mahasiswa dalam mata kuliah pendidikan agama di perguruan tinggi. 97

b. Definisi Operasional Hasil belajar pendidikan agama adalah skor yang diperoleh dari instrumen pengetahuan agama dengan indikator yang mengukur prestasi akademik mata kuliah pendidikan agama. c. Kisi-kisi Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) No. Dimensi Nomor Butir Jumlah 1. Nilai 29 1 Jumlah 1 d. Validitasi Instrumen

Validitasi instrumen dilakukan dengan membandingkan antara pengakuan responden dan hasil belajar yang dikeluarkan oleh pihak fakultas yang bersangkutan. 4. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) a. Definisi Konseptual Lingkungan pendidikan adalah tempat di mana individu atau kelompok mendapatkan pengaruh konsepsional dan perilaku terhadap pandangan atau aturan tertentu yang kemudian menjadi pandangan dan perilaku dirinya. b. Definisi Operasional Lingkungan pendidikan adalah skor yang diperoleh dari instrumen lingkungan pendidikan dengan indikator yang mengukur pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (sosial) terhadap toleransi beragama.

98

c. Kisi-kisi Tabel 4.1. Kisi-kisi Instrumen Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) No. 1. Dimensi Keluarga Nomor Butir Jumlah 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 18 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 10 55, 56, 57 58, 59, 60, 61 4 Jumlah 32

2. 3.

Kampus Masyarakat.

d. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen variabel lingkungan pendidikan dengan cara mengkonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. Selanjutnya, untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. Hasil uji coba instrumen keterlibatan organisasi diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 23 butir pernyataan tidak diterima. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 9 butir. Adapun pernyataan 23 butir yang ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian 99

57. 45. 31. 46. 43. 41. 58. pandangan. dan membolehkan pendirian. 44. 100 . Definisi Operasional Toleransi beragama adalah skor yang diperoleh dari instrumen toleransi beragama dengan indikator yang mengukur kebebasan beragama. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. keyakinan agama. 32. 34. dan kerjasama sosial. menghormati. Variabel Toleransi Beragama (Y) a. 48. 56. membiarkan.877. 53.ini adalah. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel keterlibatan organisasi adalah instrumen final yang terdiri atas 9 butir. 5. 51. 37. penghormatan terhadap pelaksanaan ritual dan pendirian rumat ibadat. 59 dan 61. yaitu nomor 30. keyakinan. Definisi Konseptual Toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. 54. 47. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0. 33. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik. 42. perilaku. 35. kepercayaan. b.

4. untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. 84. 86. Kisi-kisi Instrumen Variabel Toleransi Beragama (Y) No. 90. 8 67. 63. Dimensi 1. 73. 88.5. 74 5 75. 81 25 82. 65. 96. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 7 butir pernyataan tidak diterima. Kisi-kisi Tabel 3. 95. 85. 98. 76. 72. 64. 77. 104. 99. 91. 97. 71. 3.c. 78. Hasil uji coba instrumen toleransi beragama diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 38 butir. 2. 69 70. 83. 68. 87. 100. 79. 106 Jumlah 45 d. Kebebasan beragama. 89. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen toleransi beragama dengan cara mengonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. 93. 105. 94. 101. 7 80. 66. 102. 103. Adapun pernyataan 7 butir yang 101 . Keyakinan agama Ritual dan pendirian rumah ibadat Kerjasama sosial Nomor Butir Jumlah 62. Selanjutnya. 92.

Teknis Analisis Data Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. 65. 68. 79. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. Selanjutnya skor setiap variabel yang diperoleh dari hasil penelitian diklasifikasi menurut kategori berikut: Variabel Kepribadian Ekstrovert-Introvert 26-30 sangat luar biasa ekstrovert 9-12 agak ekstrovert 22-25 Sangat ekstrovert 5-8 sangat intrivert 18-21 Agak ekstrovert 0-4 sangat luar biasa introvert 13-17 Seimbang Sanguinis 26-30 sangat luar biasa sanguinis 9-12 Sedikit sanguinis 22-25 Sangat sanguinis 5-8 Tidak begitu sanguinis 18-21 Di atas Rata-rata 0-4 Bukan sanguinis 13-17 Rata Rata 102 . median. frekuensi. Statistik deskriptif tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran karakteristik penyebaran skor setiap variabel yang diteliti dengan menghitung nilai rata-rata (mean). E.87.ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini adalah. dan 84. yaitu nomor 62. standar deviasi. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel toleransi beragama adalah instrumen final yang terdiri atas 38 butir. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0. dan histogram. 66. 64.

Melankolis 26-30 sangat luar biasa artistik 9-12 Dibawah rata rata 22-25 Sangat artistik 5-8 Tidak begitu artistik 18-21 agak artistik 0-4 tidak artistik 13-17 Rata Rata Koleris 26-30 Imajinasi yang kuat 9-12 Dibawah rata rata 22-25 Imajinasi yang bagus 5-8 kekurangan imajinasi 18-21 Agak imajinatif 0-4 tidak punya imajinasi 13-17 Rata Rata Plegmatis 26-30 luar biasa asertif 9-12 sangat lembut 22-25 sangat asertif 5-8 Tenang 18-21 Agak aserif 0-4 Sangat tenang 13-17 lembut Variabel Keterlibatan Organisasi Kurang terlibat apabila skor: 0 -20 Cukup terlibat apabila skor: 21 – 40 Terlibat apabila skor: 41 – 60 Sangat terlibat apabila skor: 61 – 80 Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama A = 4, B = 3, C = 2, D = 1, dan E = 0 Variabel Lingkungan Pendidikan Kurang kondusif apabila skor: 9 – 18 Cukup kondusif apabila skor: 19 – 27 Kondusif apabila skor 28: – 36 Sangat Kondusif apabila skor: 37 – 45

103

Variabel Toleransi Beragama Rendah apabila skor: 39 – 78 Sedang apabila skor: 79 – 117 Baik apabila skor: 118 – 156 Baik sekali apabila skor: 157 – 195 Analisis selanjutnya adalah dengan statistik inferensial (induktif), yaitu teknik analisis jalur. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis data yang terdiri dari uji normalitas galat taksiran dan uji homogenitas varians. Pengujian normalitas galat taksiran masing-masing dilakukan terhadap taksiran Y atas X1, X2, X3 dan X4. Sedangkan pengujian homogenitas varians masing-masing dilakukan terhadap varians pengelompokan nilai Y atas kesamaan nilai variabel bebas Kepribadian (X1), Keterlibatan Organisasi (X2), Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3), dan Lingkungan Pendidikan (X4).

104

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
A. Profil Responden 1. Sebaran Responden esponden penelitian ini tersebar di 7 (tujuh) universitas negeri di Indonesia yang tergolong universitas besar. Sebaran responden di 7 universitas tersebut adalah sebagai berikut:

R

Dari data di atas, penyumbang responden terbesar adalah Universitas Hasanuddin sebesar 16.6%, berikutnya kemudian Universitas Indonesia sebesar 16.4%, Universitas Gadjah Mada sebesar 16.1%, Universitas Diponegoro sebesar 13.3%, Universitas Padjadjaran sebesar 13.1%, Universitas Udayana sebesar 13.1%, dan Universitas Nusa Cendana sebesar 11.5%.

 

105

Kristen sebanyak 133 orang (21. dan Khonghucu sebanyak 2 orang (0. Jenis Kelamin Responden Ditinjau dari jenis kelamin. Buddha sebanyak 34 orang (5.5%). 106   . responden kebanyakan pemeluk agama Islam dengan 273 orang (44.3%).8%).6%).5%).8%).9%). Dari tabel di atas diketahui bahwa responden perempuan sebanyak 295 orang (48%) dan responden laki-laki sebanyak 314 orang (51. Agama Responden Ditinjau dari sisi agama. sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut. Hindu sebanyak 76 orang (12.2. 3. sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut. responden antara laki-laki dan perempuan hampir seimbang. Katolik sebanyak 91 orang (14.

sebagaimana terlihat pada tabel berikut. Adapun paparan data dari variabel-variabel penelitian disajikan sebagai berikut:   107 . dan lingkungan pendidikan (X4). dan semester 7 sebanyak 128 orang (21. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel toleransi beragama beragama beragama dalam penelitian ini ditetapkan secara teoritis dan empiris.0%). responden sebagian besar berasal dari semester 3 sebanyak 234 orang (38. keterlibatan organisasi (X2).4. hasil belajar pendidikan agama (X3). B.5%). Semester Ditinjau dari sisi semester.4%). Deskripsi Data dan Temuan Deskripsi data hasil penelitian meliputi variabel terikat (Y) yaitu toleransi beragama beragama beragama dan variabel bebas (X) meliputi kepribadian (X1). semester 5 sebanyak 180 orang (29.

7500 136. rata-rata toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas negeri berada dalam kategori baik (118-156).6531 140.3375 145.07573 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Berdasarkan kategori yang telah ditetapkan.8429 140. Toleransi beragama Agama 7 Universitas beragama Mahasiswa Berbeda Berdasarkan hasil uji instrumen toleransi beragama beragama beragama yang diberikan kepada 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas negeri diperoleh data toleransi beragama mahasiswa. Data tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu kategori rendah (39 – 78).0393 Std. kategori sedang (79 – 117). Deskripsi data toleransi beragama beragama beragama mahasiswa disajikan pada tabel berikut: Descriptive Statistics Dependent Variable: Toleransi_Y Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 144. Deviation 13. 108   . dengan skor 140.0792 139.98305 23. dan kategori baik sekali (157 – 195). Perolehan rata-rata skor tersebut berada di atas rata-rata skor teoritik dari variabel toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa.63689 16.1.2963 136. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan skor toleransi beragama beragama secara visual berikut ini.69239 17.68631 13.84730 18.78053 23.8600 138.32473 19. kategori baik (118 – 156).

Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan toleransi beragama   109 .00 0 Toleransi_Y Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor toleransi beragama beragama condong ke kanan atau sebagian besar skor toleransi beragama beragama di atas rata-rata.00 150.056 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square F 1012.010 .658 12184326. Dev.832.400 2.398 215530.000 . ternyata rata-rata skor toleransi beragama di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.010 < 0. dan p-value = 0.00 100.537 1012. R Squared = .018) Dari tabel di atas diperoleh F= 2.0 221605. =19.010 a.Toleransi_Y 100 80 Frequency 60 40 20 Mean =140. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.96 32995. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Toleransi_Y Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 6074.00 200.431 Sig.0 6074.05.076 N =610 0. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian.04 Std.832 357.400 2.832 11793614. .398a 11793615.00 50.027 (Adjusted R Squared = .

dengan kategori skor sebagaimana telah disinggung di bab tiga. Deskripsi data kepribadian mahasiswa disajikan pada tabel berikut: 110   . Data tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 5 dimensi kepribadian. Kepribadian Berdasarkan hasil uji instrumen kepribadian yang diberikan kepada 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas negeri diperoleh data kepribadian mahasiswa. dan plegmatis. 2. Hal ini berarti karakteristik universitas tempat penelitian ini dilakukan berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama beragama beragama. yaitu ekstrovert dan introvert. koleris. sanguinis. melankolis.beragama beragama di kalangan mahasiswa di 7 universitas.

50229 3.50449 3.83513 3.3143 14.23066 4.9125 15.0988 14. Deviation 4.1980 14.62340 4.5100 15.52589 4.08226 4.9802 15.8429 20.Descriptive Statistics EKS_INTRO Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 17.68612 3.18875 4.5750 15.2286 16.71486 4.83589 3.51595 5.91420 3.63973 4.35970 4.59775 4.5248 19.4557 15.78602 N 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 SAGUINIS MELANKOLIS KOLERIS PLEGMATIS   111 .63630 4.25231 3.70952 4.74711 3.4574 Std.1429 15.97368 3.58725 3.7750 13.2871 18.61934 4.1525 14.9796 14.4321 16.19069 4.46205 4.10848 4.3000 19.5429 14.4898 16.82889 3.73814 4.9604 17.4444 17.52912 3.62890 4.5500 19.76306 3.5750 15.2346 17.3673 19.0625 15.77477 4.3082 19.67040 3.5500 18.7901 14.0625 16.99226 4.89840 5.7800 14.66726 4.2375 20.2571 17.1800 17.44126 4.59955 4.3265 18.5475 20.21990 4.6000 18.0500 16.

dimensi melankolis dalam kategori rata-rata (13 – 17). dan dimensi plegmatis dalam kategori lembut (13 – 17).00 10.462 N =610 0. dimensi sanguinis dalam kategori di atas rata-rata (18 – 21).55 Std. Dev. =4. dimensi koleris dalam kategori agak imajinatif (18 – 21).00 0 EKS_INTRO 112   .00 30. Gambaran umum secara visual dapat dilihat pada grafik berikut ini.00 20. EKS_INTRO 60 50 40 Frequency 30 20 10 Mean =16. Perolehan rata-rata skor dimensi-dimensi variabel kepribadian di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas secara umum di atas rata-rata skor teoritik. rata-rata kepribadian dalam dimensi ekstrovert-introvert di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas berada dalam kategori seimbang (13 – 17).Berdasarkan kategori yang telah ditetapkan.

00 30.00 0.SAGUINIS 60 Frequency 40 20 0 -10.189 N =610 SAGUINIS MELANKOLIS 60 50 40 Frequency 30 20 10 Mean =15.00 0 MELANKOLIS   113 . =4.00 Mean =19.00 10. Dev. =4.31 Std.46 Std.00 30.00 10.667 N =610 -10.00 20.00 0.00 20. Dev.

KOLERIS

60

50

40

Frequency

30

20

10 Mean =18.15 Std. Dev. =4.502 N =610 -10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00

0

KOLERIS

PLEGMATIS

80

60

Frequency

40

20

0 0.00 10.00 20.00 30.00

Mean =14.46 Std. Dev. =3.786 N =610

PLEGMATIS

Dari grafik-grafik di atas tampak bahwa dimensi sangunitas dan plegmatis di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas merupakan dimensi yang cukup menonjol dibandingkan 3 dimensi yang lain. Jika dikomparasi antar 7 universitas ternyata hanya dimensi sanguinis dan koleris yang berbeda secara signifikan. Dengan kata lain, 114  

karakteristik universitas hanya berpengaruh nyata terhadap dimensi sangunitas dan koleritas. Hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tests of Between-Subjects Effects Type III Sum Source Dependent Variable of Squares Corrected Model EKS_INTRO 181.583a SAGUINIS 710.489b MELANKOLIS 54.653c KOLERIS 334.466d PLEGMATIS 153.014e Intercept EKS_INTRO 164054.815 SAGUINIS 227311.089 MELANKOLIS 140661.735 KOLERIS 198559.466 PLEGMATIS 125885.198 Kode_UN EKS_INTRO 181.583 SAGUINIS 710.489 MELANKOLIS 54.653 KOLERIS 334.466 PLEGMATIS 153.014 Error EKS_INTRO 11943.538 SAGUINIS 9974.816 MELANKOLIS 13211.406 KOLERIS 12010.356 PLEGMATIS 8576.378 Total EKS_INTRO 179156.000 SAGUINIS 241586.000 MELANKOLIS 156214.000 KOLERIS 213347.000 PLEGMATIS 136229.000 Corrected Total EKS_INTRO 12125.121 SAGUINIS 10685.305 MELANKOLIS 13266.059 KOLERIS 12344.821 PLEGMATIS 8729.392 a. R Squared = .015 (Adjusted R Squared = .005) b. R Squared = .066 (Adjusted R Squared = .057) c. R Squared = .004 (Adjusted R Squared = -.006) d. R Squared = .027 (Adjusted R Squared = .017) e. R Squared = .018 (Adjusted R Squared = .008) df 6 6 6 6 6 1 1 1 1 1 6 6 6 6 6 603 603 603 603 603 610 610 610 610 610 609 609 609 609 609 Mean Square F 30.264 1.528 118.415 7.158 9.109 .416 55.744 2.799 25.502 1.793 164054.815 8282.726 227311.089 13741.466 140661.735 6420.136 198559.466 9969.010 125885.198 8850.913 30.264 1.528 118.415 7.158 9.109 .416 55.744 2.799 25.502 1.793 19.807 16.542 21.909 19.918 14.223 Sig. .166 .000 .869 .011 .098 .000 .000 .000 .000 .000 .166 .000 .869 .011 .098

 

115

3. Keterlibatan Organisasi Berdasarkan data skor keterlibatan organisasi yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 perguruan tinggi umum diperoleh rata-rata sebesar 22,51. Dengan menggunakan kategori: Kurang terlibat (0 – 20), Cukup terlibat (21 – 40), Terlibat (41 – 60), dan Sangat terlibat (61 – 80), maka skor keterlibatan organisasi yang diperoleh dalam penelitian ini berada dalam kategori cukup terlibat. Deskripsi data keterlibatan organisasi mahasiswa disajikan pada tabel berikut:
Descriptive Statistics Dependent Variable: Terlibat_Organisasi_X2 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 24.6750 22.9571 22.0891 19.1700 22.2716 21.6500 25.1633 22.5098 Std. Deviation 7.87847 7.73742 8.07354 7.25865 8.61541 8.20173 7.20637 8.03670 N 80 70 101 100 81 80 98 610

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor keterlibatan organisasi kurang terlibat hingga sangat terlibat berturut-turut adalah UGM, Udayana, Undana, Unhas, Undip, Unpad, dan UI. Keterlibatan organisasi disajikan secara visual pada histogram berikut.
Histogram

80

60

Frequency

40

20

Mean =22.51 Std. Dev. =8.037 N =610 0 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00

Terlibat_Organisasi_X2

116  

Hal ini berarti karakteristik universitas tempat penelitian ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa.058 (Adjusted R Squared = . dan p-value = 0.290 379.099 37058. C. R Squared = .457 F 6.192 6.Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor keterlibatan organisasi condong ke kiri atau sebagian besar skor tersebut di bawah rata-rata empiris. Dengan menggunakan skala 1 – 5 (A. Deskripsi data hasil   117 . .441 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 379. Hasil Belajar Pendidikan Agama Berdasarkan data hasil belajar pendidikan agama yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas umum negeri diperoleh rata-rata sebesar 3.342 348417.000 < 0. maka rata-rata hasil belajar pendidikan agama pada mahasiswa yang menjadi responden penelitian tergolong tinggi. ternyata rata-rata skor keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.173. D. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Terlibat_Organisasi_X2 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 2276.048) Dari tabel di atas diperoleh F= 6.000 . Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian. dan E).000 .350 305328. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa di 7 universitas.290 2276.000 39334.350 61.173 Sig.099a 305328.000 a.173 4968. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.05.49. B. 4.

60460 . =0.70106 . Dev.00 4. UI.69631 .64386 .70933 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar pendidikan agama tertinggi ke terendah berturutturut diperoleh Unhas.81131 . Histogram 400 300 Frequency 200 100 0 -1. UGM.00 0. dan Undip.00 1.5000 3. Udayana.6250 3.00 2.49 Std.68132 . Undana.00 5.709 N =610 Hasil_Belajar_Agama_X3 Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor hasil belajar pendidikan agama condong ke kanan atau sebagian besar skor tersebut di atas rata-rata empiris.4286 3. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian.4885 Std. ternyata rata-rata skor hasil belajar pendidikan agama di 118   .00 3.80885 .belajar pendidikan agama mahasiswa disajikan pada tabel berikut: Descriptive Statistics Dependent Variable: Hasil_Belajar_Agama_X3 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 3.6634 3. Deviation . Kecenderungan data hasil belajar pendidikan agama disajikan secara visual pada histogram berikut. Unpad.4000 3.00 Mean =3.3827 3.4082 3.

194 7288. Dengan menggunakan kategori lingkungan pendidikan: Kurang kondusif (9 – 18). R Squared = .163a 7288. Kondusif (28 – 36).05. dan p-value = 0. .000 306.565 1. Lingkungan Pendidikan Berdasarkan data skor lingkungan pendidikan yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 perguruan tinggi umum diperoleh rata-rata sebesar 35.026 .406 Sig.406. 5.406 14686. dan Sangat Kondusif (37 – 45).257 7730.000 .014) Dari tabel di atas diperoleh F= 2.026 < 0.163 299.565 7.420 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 1. Cukup kondusif (19 – 27). Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Hasil_Belajar_Agama_X3 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 7.026 a. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan hasil belajar pendidikan agama di kalangan mahasiswa di 7 universitas. Hal ini berarti universitas-universitas tempat penelitian ini dilakukan berpengaruh nyata terhadap hasil belajar pendidikan agama mahasiswa.92.496 F 2.409 2.kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.194 . Deskripsi data lingkungan disajikan pada tabel berikut: pendidikan mahasiswa   119 . Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.023 (Adjusted R Squared = . maka skor lingkungan pendidikan tersebut berada dalam kategori kondusif.

00 10. Kecendrungan data lingkungan pendidikan disajikan secara visual pada histogram berikut.1939 35.00 Mean =35.50181 3.52463 3. UGM.57991 5.00 50. Dev.14747 3. Ditinjau dari 120   .00 20.00 40.58835 3. Histogram 150 100 Frequency 50 0 0.153 N =610 Lingkungan_Pendidikan_X4 Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor lingkungan pendidikan condong ke kanan atau sebagian besar skor tersebut di atas rata-rata empiris.92 Std.5185 35.Descriptive Statistics Dependent Variable: Lingkungan_Pendidikan_X4 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 36.00 30. Udayana.2857 36.15321 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor lingkungan pendidikan terkondusif hingga ke kurang kondusif berturut-turut diperoleh Undana.19684 4.9164 Std. Unhas. Deviation 3.9500 35. Undip. dan UI.50753 5.0594 34.6250 37. Unpad.1000 36. =4.

R Squared = .736 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 56.032 (Adjusted R Squared = . Hal ini berarti universitas-universitas tempat penelitian ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap lingkungan pendidikan mahasiswa.003 < 0. dan p-value = 0.761 16.568a 775287.502 340. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.000 .003 a. Analisis Inferensial 1. C.universitas-unversitas lokasi penelitian.023) Dari tabel di atas diperoleh F= 3.168 797397.761 775287.568 10164. .367 Sig. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi terangkum pada tabel berikut. yaitu (px21).856 F 3.000 10504. Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi di analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan keterlibatan organisasi (X2). Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan lingkungan pendidikan di kalangan mahasiswa di 7 universitas.367 45994. ternyata rata-rata skor lingkungan pendidikan di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.   121 . Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Lingkungan_Pendidikan_X4 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 340.05.751 3.367.502 56.003 .

621 df 1 608 609 Mean Square 1377.122 Std.000 .032 .633 57.115 . Kepribadian b Dependent Variabel: Keterlibatan organisasi Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) Kepribadian 26. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p21) adalah signifikan.902.000 a Dependent Variabel: Keterlibatan organisasi Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (p21) = 0. 2. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan hasil belajar (X3).000(a) a Predictors: (Constant).195 terhadap keterlibatan organisasi. p-value = 0.902 Sig.788 .05. Error . 24. Error 2.195 Standardized Coefficients Beta t B 12.195 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 4. yaitu (p31).025 .665 4.000 <0. Variabel kepribadian memberi pengaruh sebesar 0.633 34853. Dengan kata lain kepribadian mahasiswa berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama beragama beragama.ANOVA(b) Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 1377.989 36231. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar terangkum pada tabel berikut: 122   .326 F Sig. Std.

000 1.103 2.002 .170 Sig.196 . Std.006(b) a Predictors: (Constant).390 F 5. .003 .112 2.657 . Kepribadian b Predictors: (Constant).395 df 2 607 609 1 608 609 Mean Square 2.026 236.003 Sig.006 t . Keterlibatan organisasi.632 .006(a) 7.990 .017 . Keterlibatan organisasi c Dependent Variabel: Hasil belajar Coefficients(a) Standardi zed Coefficie nts Beta .767 a Dependent Variabel: Hasil belajar   123 .000 . B Error 20.405 240.395 2.067 .003 .098 Model 1 2 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi (Constant) Keterlibatan organisasi Unstandardize d Coefficients Std.013 . B Error 3.124 .049 .008 4.177 .369 240.ANOVA(c) Model 1 Regression Residual Total 2 Regression Residual Total Sum of Squares 4.399 33.621 .389 2.009 .990 237.929 .

Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama Karena ada koefisien jalur yang tidak signifikan.067 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1. Correlation Statistics Toleranc Toleranc Tolerance e e Tolerance Tolerance Beta In Kepriba dian .632.962 2 a Predictors in the Model: (Constant). Dengan kata lain kepribadian tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pendidikan agama. Keterlibatan organisasi.Excluded Variabels(b) Model Partial Collinearity t Sig.012 . Keterlibatan organisasi Dari tabel tersebut diperoleh koefisien jalur (p31) = 0. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Hasil belajar Model Summary Model 1 2 R .103 . yaitu mengeluarkan variabel kepribadian dari model dan perhitungan koefisien jalur model 1 diulang. yaitu variabel kepribadian ke variabel hasil belajar pendidikan agama.103>0. Kepribadian b Predictors: (Constant).62488 a Predictors: (Constant).014 .05. Error of the Estimate .011 Std. p-value = 0.112(b) Adjusted R Square R Square . Dengan demikian H0 diterima atau koefisien jalur (p31) adalah tidak signifikan.017 .632 . Hasilnya ditunjukkan oleh model2 dan 124   . 3.129(a) . maka perlu dilakukan trimming.067(a) 1.62402 .066 .

4. Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan (X1). p-value = 0.767.006 < 0. yaitu (p32). Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p32) adalah signifikan.112 dengan statistik ujit diperoleh: thit = 2. Dengan kata lain keterlibatan organisasi berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil pengujian terangkum pada tabel coefficients bagian 3. Hasil pengujian pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama terangkum pada tabel di atas.512 6 10418. Hasil belajar. . yaitu (p41). ANOVA(b) Mode l 1 Regres sion Residu al Total Sum of Squares 412.000(a) 10006. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (p32) = 0. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Lingkungan pendidikan   125 .05.85 609 9 a Predictors: (Constant).518 df F 8.553 Mean Square 3 137.328 Sig.diperoleh hasil bahwa pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar di analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar (X3). Kepribadian.30 606 16.

000 .921 . dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3.05.502.079 3. Std.072 .000 < 0.073 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1.05.049 a Dependent Variabel: Lingkungan pendidikan Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p41) = 0.014 .143.073 1.645 16.Coefficients(a) Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients t Std. Dengan kata lain kepribadian berpengaruh nyata terhadap lingkungan pendidikan 5.840 1. B Error Beta B 27.025 . yaitu (p42).000 . Dengan kata lain variabel keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan 126   .022 .800 .502 1. Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p42) = 0. Error .520 .143 .072 > 0.800. p-value = 0. p-value = 0.264 .969 Model 1 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi Hasil belajar Sig. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p41) adalah signifikan.077 . Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dengan lingkungan pendidikan agama (X4).

403 Sig.22 3 Mean Square 8277. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama beragama beragama terangkum pada tabel berikut. . Pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel hasil belajar pendidikan agama (X3) dengan lingkungan pendidikan (X4). Kepribadian.27 6 247104. Dengan kata lain variabel hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan 7.708 Model 1 Regression Residual Total df 4 605 609 F 23. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan toleransi beragama (Y).73 7 353.6. dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1. Lingkungan pendidikan. p-value = 0.000(a) a Predictors: (Constant). yaitu (p43).049 < 0.969. yaitu (py1). Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p43) = 0. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Toleransi beragama beragama Beragama   127 . ANOVA(b) Sum of Squares 33110.05. Hasil belajar.947 213993.079.

000 .498 1.147 .Coefficients(a) Unstandardized Model Coefficients Std.003 . p-value = 0. 128   . Hasil belajar.227 .310 Error 9.134 Adjusted R Square . Error . Error of the Estimate 18.188 .80712 Predictors: (Constant).269 6.000<0.128 Std.063 .969 a Dependent Beragama Variabel: Toleransi beragama beragama Model Summary Model 1 a R .366(a) R Square .010 Standardized Coefficients t Sig.740 .000 .147 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3.109 -2.05.791 3.851 . B 1 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi Hasil belajar Lingkungan pendidikan 65. Keterlibatan organisasi Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py1) = 0.240 .791. Kepribadian. Std. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py1) adalah signifikan. Dengan kata lain kepribadian mahasiswa berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama.005 .240 .102 1.000 -.114 3.118 Beta B 7.308 -3. Lingkungan pendidikan.

05. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py4) adalah signifikan.   129 . p-value = 0.003 <0. 10.010. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py2) = 0.969.118 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py3) = -0. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py3) adalah signifikan. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py2) adalah signifikan.005 <0.05.851. maka dapat diindikasikan apabila ingin meningkatkan toleransi beragama dapat dilakukan dengan memperbaiki lingkungan pendidikan. Dengan kata lain lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama. yaitu (py4).05. Pengaruh hasil belajar toleransi beragama pendidikan agama terhadap Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel hasil belajar pendidikan agama (X3) dan toleransi beragama (Y). yaitu (py2). Dengan kata lain keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama.8.000 <0. p-value = 0. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py4) = 0. p-value = 0. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dan toleransi beragama (Y). 9. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel lingkungan pendidikan (X4) dan toleransi beragama (Y). yaitu (py3).109 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = -2.269 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 6. Dengan kata lain hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama.

767 0.791 0.195 t hitung p-value Keputusan 4.000 ditolak 6 H H 0 1 : p 43 = 0 : p 43 > 0 0.502 0.067 1.00 ditolak Memiliki pengaruh langsung 130   .800 0.079 1.103 diterima Tidak memiliki pengaruh langsung 3 H H 0 1 : p 32 = 0 : p 32 > 0 0.000 ditolak Kesimpulan Memiliki pengaruh langsung 2 H H 0 1 : p 31 = 0 : p 31 > 0 0.Rekapitulasi Hasil Pengujian Hipotesis No 1 Hipotesis Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama beragama beragama Uji Statistik H H 0 1 : p 21 = 0 : p 21 > 0 Koefisien Jalur 0.049 ditolak Memiliki pengaruh langsung 7 H H 0 1 : p : p y1 y1 = 0 > 0 0.073 1.112 2.143 3.006 ditolak Memiliki pengaruh langsung 4 H H 0 1 : p 41 = 0 : p 41 > 0 0.072 diterima Tidak memiliki pengaruh langsung Memiliki pengaruh langsung 5 H H 0 1 : p 42 = 0 : p 42 > 0 0.969 0.902 0.53 0.147 3.

000 ditolak Memiliki pengaruh langsung D.851 0. maka diketahui skor dari masing-masing variabel sebagai berikut.195 = 0.003 ditolak Memiliki pengaruh langsung H H 0 1 : p : p y3 y3 = 0 > 0 -0. Model Empiris Hubungan Antar Variabel Berdasarkan hasil penghitungan di atas.269 6.005 ditolak Memiliki pengaruh langsung H H 0 1 : p : p y4 y4 = 0 > 0 0.073 = 0.112 p42 = 0.269 p31 = py2 0.147 = 0.143 p43 = 0. Nilai-nilai koefisien jalur p21 p41 py1 py4 = 0.969 0.067 = 0.8 9 10 Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama beragama beragama Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama beragama beragama Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama beragama beragama H H 0 1 : p : p y2 y2 = 0 > 0 0.109 -2.118 3.109   131 .118 p32 = 0.079 py3 = -0.010 0.

Dengan kata lain bahwa kepribadian tidak berpengaruh langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama dan kepribadian juga tidak berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan. Karena model awal tidak terbukti.103>0. jalur p31 mempunyai tanda yang tidak sinifikan (p-value = 0. maka harus dicari model lain.05) dan jalur p42 juga mempunyau tanda yang tidak signifikan (p-value = 0. 132   .Kepribadian X1 XX X3 Hasil Belajar PA Y Toleransi beragama b X2 Keterlibatan Organisasi X4 Lingkungan Pendidikan Gambar 2: Skor Analisis Jalur (Path Analysis) Dari hasil perhitungan di atas terlihat dalam model 1. Dengan demikian model 1 perlu dimodifikasi dengan menghilangkan jalur pengaruh X1 terhadap X3 dan jalur pengaruh X1 terhadap X4.103>0. Oleh karena itu dapat di simpulkan model awal atau satu tidak memenuhi persyaratan analisis jalur.05).

147 = 0.112 p42 py2 = 0.118 Y Toleransi beragama b 0.Hasil perhitungan koefisien jalur memberikan nilai-nilai sbb: Nilai-nilai koefisien jalur p21 p43 py3 = 0.109 p32 py1 py4 = 0. maka model 2 atau model baru empiris hubungan antar variabel dapat dikonstruksikan sebagai berikut X1 XX Kepribadian X3 Hasil Belajar PA 0.109 0.079 Organisasi -0.195 X4 Lingkungan Pendidikan 0.269 Dengan memasukkan angka koefisien jalur pada masing-masing jalur hubungan.269 .118 = 0.143 = 0. sehingga persyaratan pertama telah terpenuhi.195 = 0.079 = -0. Selanjutnya perlu di uji   133 0.143 Gambar 3: Model Baru Empiris Hubungan Antar Variabel Dari model 2 di atas dapat diketahui bahwa nilai masing-masing koefisen jalur di atas t hit< t tabel.147 X2 Keterlibatan 0.

yaitu dengan menggunakan uji ketepatan model dengan menggunakan program Software LISREL.022 0. Untuk mengetahui apakah nilai hitung ketepatan model (goodness fit statistics) mendukung model 2 maka akan digunakan analisis dengan menggunakan stastistik chi-square.1122= 0.112 = 0.00 dengan p-value sebesar 1 dan tidak perlu digunakan uji statistik yang lain lagi karena nilai chi-square sudah nol dan secara otomatis statistik uji yang lain akan menerima model 2 di atas. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data hasil perhitungan koefisen dan pengujian hipotesis. Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1 dan X2) terhadap variabel Endogen X3 pada substruktur 1 Variabel Langsung Terhadap Hasil belajar (X3) 0.195 x 0. E.lagi dengan menggunakan persyaratan ke dua. oleh Karena itu dapat di ambil kesimpulan bahwa model analisis jalur di atas sudah sempurna artinya sangat sesuai dengan data dan dapat di gunakan untuk penelitian ini.022 0.013 Kepribadian (X1) Keterlibatan Organisasi (X2) 134   .013 Tidak Langsung Total Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) 0. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai chi-square sebesar 0. maka selanjutnnya dapat dianalisis perhitungan langsung dan tidak langsung variabel eksogen (variabel yang mempengaruhi/sebab) terhadap variabel endogen (variabel yang dipengaruhi/akibat) dalam model struktural yang terbagi menjadi 4 substruktur.

112 x 0.7%.006   135 .Dalam substruktur 1 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu hasil belajar dan 2 buah vaiabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi. Adapun pengaruh kepribadian (X1) dan keterlibatan organisasi (X2) secara bersama-sama terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0.029 0. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 8.3% dengan koefisien jalur 0. X2 dan X3) terhadap variabel Endogen X4 pada Variabel substruktur 2 Tidak Langsung Langsung Terhadap Melalui Lingkungan Keterlibatan Pendidikan Organsiasi (X2) (X4) 0. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3).0792= 0.006 Tidak langsung melaluiHasil Belajar PA (X3) 0.195 x 0.028 0.028 0.98. Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1.1432=0.020 0.079 = 0.2%.9%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0.112.983 atau 98% dengan koefisien pε31= 0.39%. hasil belajar juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0. Disamping ke dua variabel eksogen tersebut.009 Total Kepribadian (X1) Keterlibatan Organisasi (X2) Hasil Belajar PA (X3) 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2.013 atau 1. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 1.143 = 0.017 atau 1.

02 atau 2% dengan koefisien jalur 0.40 atau 40%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung hasil belajar (X3) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0. Sedangkan hasil belajar PA memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terkecil terhadap lingkungan pendidikan. 136   .60 atau 60% dengan koefisien pε41= 0.8%.8%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0.60.006 atau 0.143.Dalam substruktur 2 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu lingkungan pendidikan dan 3 buah variabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi dan hasil belajar PA. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2. lingkungan pendidikan (X4) juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa keterlibatan organisasi memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terbesar terhadap lingkungan pendidikan. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4). Pengaruh tidak langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap lingkungan pendidikan (X4) melalui hasil belajar PA (X3) sebesar 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2. Adapun pengaruh kepribadian (X1).6% dengan koefisien jalur 0. Disamping ke dua variabel eksogen tersebut.9%.079. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organisasi (X2) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2.9%. keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar PA (X3) secara bersama-sama terhadap hasil belajar (X3) adalah sebesar 0.

079 x 0.051 0.072 0.033 0.269 = 0.118 dian = 0.2%.2%. X2. X4) terhadap variabel Endogen Y pada substruktur 3 Variabel Langsung Terhadap Toleransi beragama beragama (Y) Tidak Langsung Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) Tidak langsun g melalui Hasil Belajar PA (X3) Tidak langsung melalui Lingkungan pendidikan (X4) Tidak Langsung Melalui Keterlibat an Organsias i (X2) dan Hsl Belajar (X3) 0.042 0.0.195 x 0.2692=0.038 0.023 (X1) Keterlib atan Organis asi (X2) Hasil Belajar PA (X3) Lingkun gan Pendidi kan (X4) 0.021 0.112 x 0.143 x 0.3%.022 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap   137 .Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1.1182=0. X3.195 x 0.079 x 0.= 0.012 0. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 2.112 x .008 0.014 0.195 x 0.269 = 0.1472=0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) dan hasil Belajar (X3) sebesar 0.112 x 0.002 Tidak Langsung Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) dan lingk. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2.012 0.109 = 0.1092=0.Pddkn (X4) Kepriba 0.002 0.269 = 0.269 0.Pddkn (X4) Total Tidak Langsung Melalui Hasil Belajar PA (X3) dan lingk.072 Dalam substruktur 3 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu toleransi beragama dan 4 buah variabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi.109 = .143 x 0. hasil belajar PA dan lingkungan pendidikan.

2%.2%. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 5. Adapun pengaruh kepribadian (X1).1%.1%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 1.8%.8%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung lingkungan pendidikan (X4) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 7.toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) dan lingkungan pendidikan (X4)sebesar 0.3%. Dengan demikian pengaruh total hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 3. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar PA (X3) dan lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar (X3) sebesar -1. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui lingkungan pendidikan (X4) sebesar 3.4%.2%.1%. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar PA (X3) dan lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 1.2%. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 5. Pengaruh tidak langsung hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) melalui lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2. keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar PA (X3) lingkungan pendidikan (X4) secara bersama-sama terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 0.4%.134 atau 13.2%. Disamping ke dua 138   .

  139 .6% dengan koefisien pεy1= 0.87. Sedangkan hasil belajar PA memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terkecil terhadap toleransi beragama.variabel eksogen tersebut. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terbesar terhadap toleransi beragama.866 atau 86. lingkungan pendidikan (X4) juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0.

140   .

195.112.6% dengan nilai koefisien jalur adalah 0.0% dengan nilai koefisien jalur adalah 0.079. Tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama. Terdapat Pengaruh langsung lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama sebesar 7. Terdapat Pengaruh langsung kepribadian terhadap keterlibatan organisasi sebesar 3.BAB V PENUTUP A.4 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0.118.147. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan sebesar 0. Terdapat Pengaruh langsung kepribadian terhadap toleransi beragama sebesar 2.109.269. Terdapat Pengaruh langsung hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama sebesar 1.3% dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Kesimpulan 1. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama sebesar 1.143.2 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama sebesar 1. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan sebesar 2.8% dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara kepribadian terhadap lingkungan pendidikan.2% dengan nilai koefisien jalur adalah -0.2 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0. 141 B erdasarkan hasil analisis data dan perhitungan statistik dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: .

sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. Dengan kata lain toleransi beragama pada mahasiswa di perguruan tinggi dapat meningkat jika di dukung atau ditumbuh suburkan oleh lingkungan pendidikan yang kondusif. lingkungan sekolah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel lingkungan pendidikan merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama mahasiswa di perguruan tinggi. 3. Lingkungan pendidikan meliputi: lingkungan keluarga.2. Variabel Kepribadian mahasiswa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan. hasil belajar dan lingkungan pendidikan mempunyai pengaruh langsung terhadap toleransi beragama. yakni terbentuknya mental. Dengan demikian jenis 142 . tetapi kepribadian mahasiswa akan lebih efektif perananya terhadap hasil pendidikan agama jika mahasiswa terlibat alam organisasi. Variabel kepribadian mahasiswa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama. dan lingkungan masyarakat (sosial).Tujuan pendidikan di keluarga. tetapi kepribadian mahasiswa akan lebih efektif perananya terhadap lingkungan pendidikan jika di dukung oleh keterlibatan mahasiswa dalam organisasi. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. 4. jika dilihat dari sudut sosial dan spiritual. Secara umum variabel kepribadian. berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan di kampus dan di lingkungan masyarakat. keterlibatan organsiasi. Variabel lingkungan pendidikan mempunyai pengaruh langsung terbesar terhadap toleransi beragama. Peranan Sekolah/ Perguruan Tinggi sebagai.

3. penerimaan. B. organisasi. 4. 6. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada peningkatan terhadap hasil belajar pendidikan agama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan sebagai faktor penting mengukur toleransi di kalangan mahasiswa. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. Peningkatan hasil belajar pendidikan agama akan berdampak pada perbaikan lingkungan pendidikan. Implikasi 1.lingkungan sangat menen tukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. 8. 7. Perbaikan kepribadian akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. 9. tingkah laku. Perbaikan kepribadian akan berdampak tidak langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama melalui keterlibatan organisasi. dan agama). 143 . Perbaikan kepribadian akan berdampak pada peningkatan keterlibatan organisasi mahasiswa di perguruan tinggi. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada perbaikan lingkungan pendidikan. 5. Perbaikan kepribadian akan berdampak tidak langsung terhadap lingkungan pendidikan melalui keterlibatan organisasi. 2. Peningkatan hasil belajar pendidikan agama akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama.

masyarakat melalui peningkatan revitalisasi peran dan komunikasi orang tua.10. dan 5. 4. C. sebagai acuan penyusunan kebijakan pemeliharaan toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa dengan penyempurnaan lebih lanjut. Menggunakan model empiris toleransi beragama di kalangan mahasiswa dari temuan penelitian ini. Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan harmonis bagi penciptaan toleransi beragama beragama di lingkungan keluarga. 2. dosen tidak mengajarkan doktrin agama yang cenderung intoleran terhadap umat yang berbeda agama. perguruan tinggi. Menciptakan kepribadian mahasiswa yang terbuka terhadap perbedaan melalui pengembangan program pendidikan dan pelatihan kepribadian yang dikelola oleh organisasi intra dan ekstra kampus. yang mampu menciptakan suasana yang sejuk bagi persemaian benih-benih toleransi beragama beragama dan kerukunan umat beragama. dan tokoh masyarakat. 3. 144 . dosen. maka rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan di atas. Mengembangkan kurikulum pendidikan agama yang bernuansa multikulturalisme di Perguruan Tinggi. Meningkatkan sikap toleran di kalangan mahasiswa melalui keteladanan orang tua dalam memberikan perilaku yang toleran terhadap orang beda agama. Perbaikan lingkungan pendidikan akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama.

hlm. Ala Abu Bakar. Jakarta: Gema Insani Press. New York: The World Publishing Company. Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. Webster’s World Dictionary of American Language. Yogyakarta: LKiS. Psikologi Pendidikan. “Kekerasan Komunal di Indonesia: Sebuah Tinjauan Umum” dalam Jurnal Dignitas. 153. Gularnic. hlm. Mu`jam Musthalahat al-`Ulum al-Ijtima`iyat. 1994. hlm. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. Jakarta: Bumi Aksara. 160. Yogyakarta: PP Krapyak. Islam yang Paling Toleran: Kajian tentang Fanatisme dan Toleransi dalam Islam. 3. Indonesia Kita: Pemikiran Berwawasan Iman-Islam. 145 . Tesis. Kamus al-Munawir. Volume V No. hlm. Jakarta: Ghalia A. 702. 2009. 1999. 2006. 799. 1995. Toleransi Antarumat Beragama dalam Perspektif al-Quran. hlm. 34. Anwar Harjono. Agus Purnomo. David G. Pengantar Ilmu Pendidikan. Padang: IAIN Imam Bonjol. p. Kecamatan Ceper. A Muri Yusuf. Alimron. 21-25. 199-203. 2009. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press & Pustaka Pelajar.DAFTAR PUSTAKA Amiruddin al Rahab. Kabupaten Klaten. Biyanto. Anis Faranita Dhanik Rachmawati. Jakarta: Balai Pustaka. 1 Tahun 2008. Ideologi Kekerasan: Argumentasi Teologis-Sosial Radikalisme Islam. 1204. Djaali. hlm. Alo Liliweri. Ahmad Warson Munawir. Skripsi. Semarang: IAIN Walisongo. Desa Pasungan. 2006. 1959. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Malang: UMM Press. Zaki Badawi. hlm. Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan: Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah.

Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Heru Cahyono.Djohan Effendi. 2008. Jalaluddin. Bagaimana Merancang dan Membuat Survei Opini Publik. Enung Fatimah. “Persahabatan Lebih Penting Daripada Kesepakatan Formal” dalam Mimbar Ulama.israq. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Endang Saifuddin Anshari dalam Ilmu. 2008. geocities. 1985. Bandung: Pustaka Setia. Depok. hlm. hlm. 1987. Israq.com. 7. hlm. Skripsi. Ed. No. Hadari Nawawi. 512. “Minoritas. 2006. J. Ed. Chaplin. 8. Kamus Lengkap Psikologi. hlm. Psikologi Perkembangan. Modernitas” dalam Hikmat Budiman. hlm. 3. Sleman. 2009. hlm. “Gerakan Baku Bae Maluku Perlawanan terhadap Penganjur Perang” dalam Ambon Berdarah On-Line. Jakarta: Raja Grafindo Persada.com. www. Multikulturalisme. Konflik Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Meretas Perdamaian. Mukti Ali. 46. Jakarta: The Interseksi Foundation. Fathurrahman. Desa Catur Tunggal. Istilah agree in desagreement dipopulerkan oleh Menteri Agama. Jakarta: Gunung Agung. Surabaya: Bina Ilmu. 2008. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia. Yogyakarta. Psikologi Agama. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. hlm. 2005.P. Hikmat Budiman. A. “Substansi dan Definisi Pengetahuan” dalam www. Filsafat dan Agama. Jakarta: AROPI. 146 . 128 Tahun XII/1988. 191. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan P2P-LIPI. 29-30.Toleransi Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. Eriyanto dkk. wordpress. 2006.

65-78. 88-96. M. 1993. Bandung: Arasy. Skripsi. Khaled Abou El Fadl. Mediasi dan Resolusi Konflik. Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme. 1. Lorens Bagus. Skripsi. Lucia Ratih Kusumadewi. 1996. No. M. Wellwood. 2003. M. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. Depok: FISIP UI. “Relevansi Studi Agama di Era Pluralisme Agama” dalam Mohammad Sabri. 1 Vol. Keberagamaan yang Saling 147 . Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag. Kamus Filsafat. hlm. 2008. Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. Yogyakarta: Pilar Media. hlm.com/2008/06/25/menggugat-intelektualisme mahasiswa/. Semarang: Walisongo Mediation Centre. 1993. Tunbridge Wells. “Keimanan Universal di Tengah Pluralisme Budaya: Tentang Kebenaran Agama dan Masa Depan Ilmu Agama” dalam Ulumul Qur’an. Ainul Yaqin. 2007. 17. 1999. 11-12. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. Lucia Ratih Kusumadewi. Mukhsin Jamil. Amin Abdullah. Jakarta: FISIP-UI. Muhammad Hisyam et. hlm. Menggugat Intelektualisme Mahasiswa” dalam http:// bermula. Ed. IV Th. North Farm Road. Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. Pendidikan Multikultural. xviii-xxi. Amin Abdullah. 215. 1111-1112. Kasinyo Harto. 1721-1726. wordpress. hlm. p. 2006. Jakarta: LIPI Press. 2005. 1999. hlm. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kent: Burns & Oates. hlm.Karl Rahner. M.al. hlm. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. hlm.

1999. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. www. “Tipologi dan Praktek Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”. Idem. Halem Lubis. Billah. Jakarta: Bumi Aksara. Hariwijaya. Imam Chourmain. Mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi.co. Hukum dan HAM RI. Steenbrink. Skripsi. hlm. Yogyakarta: Media Ilmu.cit. hlm. 16 Oktober 2008. 2009. Yogyakarta: Ittaqa Press. 2009. “Mahasiswa Kriminal Picu Konflik Kampung Pulo”. 2008. 2007. 2003. dalam www. Nurhayati. Agus Sujanto. diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Dep. Muhammad Ali. Metode Penelitian dengan Analisis Jalur (Metode Path Analysis). hlm. Denpasar. 2008.p. xiii. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Muhlas. M. op. Ed.S.2006. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. Jakarta: t. Tes Kepribadian. dan Taufik Hadi. Jakarta: Irjen Dikti Depdiknas. Psikologi Kepribadian. hlm. 148 . Pendidikan Profesi Guru. M.id. Bali.sabili. Pengantar Karel A. Hariwijaya. 118-130. Muhammad Hisyam. Makalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII. 195. “Mahasiswa UKI dan YAI Sempat ‘Mesra’ di Era Reformasi”. Jalaluddin.tempointeraktif. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 1.cit. Mujiburrahman.com. Jakarta: LIPI. 2005.M.A. Jakarta: LIPI.Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial. 14-18 Juli 2003 M. . 2007. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman Konflik. Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. op.

2008. 1. hlm. Jakarta: Nalar. Syamsu Yusuf LN dan A. 8. Psikologi Prasangka Orang Indonesia. Sarlito Wirawan Sarwono. 2007. Sugiyono.lppbifiba. Islam dan God Goverment. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 2006. 92. FISIP Universitas Indonesia. Jakarta: PPIM IAIN Syarif Hidayatullah. hlm 143. hlm. Semarang: IAIN Walisongo. Metode Penelitian Kuantitatif. hlm.com. 1967.Paul Edwards. sebagaimana dikutip Sismarni. Jakarta: LSI. Skripsi.co. dari Labsosio Departemen Sosiologi. 149 . 2002. Juntika Nurihsan. “Toleration” in The Encyclopedia of Pholosophy. Volume 7 and 8 Paul Edwars (New York & London: Macmillan Publisher. Soerjono Soekanto (1993: 355). 162. Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat. Bandung: Alfabeta. Survei Opini Publik: Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia. Editor in Chief.vivanews. Budaya Demokrasi. Resume Studi Toleransi dan Kerentanan Religi di 4 Kota Jawa. dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru. hlm. Muslim Demokrat: Islam. 92.id/books.com.nasional. Saiful Mujani. Bandung: Sekolah Pascasarjana & Remaja Rosda-karya. Saiful Mujani dkk. 2008. 19 November 2008. http://books. “Teori Partisipasi dalam Dinamika Sosial” dalam www. 2006. 2007. Toleransi Beragama di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi Basis Slankers Club. 2005. www. 40. Teguh Setiawan. Tempo. 26. Teori Kepribadian. hlm. 12 November 2004 Tim Peneliti. 2008. Saeful Mujani. Kualitatif dan R & D. hlm. “Polisi Temukan Senjata Tajam dalam Kampus”.google.blogspot.

id. Jakarta: Balai Pustaka. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. hlm. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. Jilid XVI.S. 2005. Ensiklopedi Nasional Indonesia. New York: Humanity Books. Jakarta: YAPPIKA. 1121. Reese.J.wikipedia.org.net. 2007. Memupuk Toleransi untuk Multikulturalisme: Dukungan dari Psikologi Sosial. Jakarta: SETARA Institute. 90-91. “Melampaui Toleransi?: Merenung Bersama Walzer” dalam Ihsan Ali-Fauzi. Poerwadarminta. Sikap dan Perilaku Stakeholders terhadap Organisasi Masyarakat Sipil. Jakarta: Balai Pustaka. 1999. hlm. Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought. “Umat Islam Indonesia Dukung Radikallisme” dalam Harian Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. p. Expanded Edition. hlm. Menepis Prasangka. Tim Peneliti. William L.id. Indeks Masyarakat Sipil Indonesia. 150 . Hlm. 2008. Jakarta: SETARA Institute.. 2008.org. 1996. Tim Penyusun. Binsar A.antara. 2006. Trisno Sutanto.co. hlm. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. 384. www. Tim Penyusun. Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. Hutabarat. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1989.google.commongroundnews. Jakarta: Paramadina.Tim Peneliti. 2007. www. Jakarta: LP3ES dan YAPPIKA. Tim Penyusun. Laporan Hasil Survei Pengetahuan. W. 4. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. www.com. Demi Toleransi Demi Pluralisme. Yayah Khisbiyah. dkk. 774-775. www. 702.in-christ. www. Surakarta: PSB-PS UMS.

151 . Minoritas Nonmuslim di dalam Masyarakat Islam. Bandung: Mizan. 1985. Zakiyuddin Baidhawy.Yusuf al-Qardhawi. Jakarta: Erlangga. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Hlm. 95-97. 2007. Penerjemah Muhammad Baqir.

152 .

dan lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama para mahasiswa.. Jawaban kuesioner merupakan informasi utama yang akan menentukan kesimpulan penelitian sekaligus sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijakan pembinaan kerukunan umat beragama di Indonesia.... DAFTAR PERTANYAAN (KUESIONER) PENELITIAN TENTANG MAHASISWA BERBEDA AGAMA DI PERGURUAN TINGGI UMUM TOLERANSI Hai teman-teman mahasiswa..................... pengetahuan agama...............Lampiran Nomor : .. Kami peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama sedang menyelenggarakan penelitian tentang Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama di Perguruan Tinggi Umum.. Sehubungan hal tersebut.... Surveyor : ................... kami mohon bantuan teman-teman untuk mengisi kuesioner ini......... Atas bantuan teman-teman..................................... Perguruan Tinggi : .... Tujuan penelaitian adalah untuk mengkaji pengaruh kepribadian...... kami ucapkan terima kasih................ 153 ...... keterlibatan organisasi.........

Teman-teman mahasiswa dimohon menjawab/merespon pertanyaan atau pernyataan di bawah ini dengan sejujurnya.……….. Apabila ada yang tidak jelas... baca dengan teliti pertanyaan atau pernyataannya.... Hindu e.. Perempuan : a.. tanyakan kepada petugas pengumpul data..Petunjuk Pengisian a. Sebelum menjawab... 6... Katolik d. e.. Untuk jawaban isian mohon ditulis secara jelas dan ringkas... Khonghucu d. Jenis kelamin 3.... Daerah Asal : ………………………. b.. Buddha f.... SMA b. 7. Agama : . tahun : a. Laki-laki b.... SMK c. I. Bubuhkan tanda silang (x) atau lingkaran (O) pada huruf a... c...... b. e.. Islam b. Anak ke : ……… dari …. bersaudara Asal Sekolah : a.. Umur 2. Dimohon untuk menjawab/merespon semua pertanyaan atau pernyataan. Madrasah Aliyah 154 .. c. 4. 5.. Suku (yang dominan) : . dan/atau seterusnya untuk jawaban yang teman-teman anggap paling tepat.. Jawaban teman-teman dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.. Identitas Responden 1. d. Kristen c.

.. Transportasi ke kampus: a. Mobil d. j. 10. g. c. Semester : ……. b. Fakultas : ………………. Motor c. k. i. Berjalan kaki 155 . a. n.... d. Biaya hidup perbulan : ………………………... 9.……………………….. l. m.. Bersepeda e. e. o.. h. Pertanyaan Apakah kamu pernah cidera saat berolahraga berbahaya? Apakah kamu suka bermain langsung di atas pentas? Apakah kamu suka menjadi seorang pilot? Apakah kamu akan mempelajari sesuatu jika kamu dihukum penjara? Apakah kamu pernah mengkomplain ke pemilik toko atau penjaga toko? Apakah kamu suka ambil bagian dalam reli jalanan? Apakah kamu mau mengetuai kereta hias dalam suatu arak-arakan? Apakah kamu punya banyak kawan? Apakah kamu suka kehidupan malam? Apakah kamu popular di lingkungan kampus? Apakah kamu suka bekerja di bidang keuangan di satu kota besar? Apakah kamu suka menjadi politikus? Apakah kamu suka menyentuh orang? Apakah kamu suka menjadi seorang dokter? Apakah kamu seorang yang energik? Jawaban Anda Tidak Tida Ya Tahu k 8. f. Angkutan umum b.No.

e. Pekerjaan Ibu : ………………………. Kepribadian 13. 156 . Pertanyaan a. Pekerjaan Bapak 12. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom terhadap pertanyaan-pertanyaan di kiri! 14.. h. i.11. sebelah kanan kolom sebelah sebelah kanan kolom sebelah II.. g. d. f. b. : ………………………. Apakah kamu menjadi kacau kalau terganggu? Apakah kamu merasa khawatir jika ada pekerjaan yang belum diselesaikan? Apakah kamu membasuh tangan kamu lebih dari empat kali sehari? Apakah betul kamu tidak pernah berjalan di bawah tangga? Apakah kamu memerintahkan menyimpan surat-surat dengan ketat? Apakah kamu selalu tahu berapa uang yang ada di dompet kamu? Apakah kamu merencanakan liburan dengan baik? Apakah kamu segera mencuci piring setelah makan? Apakah kamu mengucapkan selamat hari raya pada sahabat Jawaban Kamu Tidak Ya Tidak Tahu c. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom terhadap pertanyaan-pertanyaan di kiri! No...

e. 157 . c. g. l. i. k. f. j. b. Pertanyaan Apakah kamu bisa menulis puisi? Apakah kamu percaya ada makhluk asing di jagat raya ini? Apakah kamu percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural? Apakah kamu dapat menulis buku cerita kanak-kanak? Apakah kamu berani tinggal di rumah angker sendirian di malam hari? Apakah kamu percaya setelah kematian ada kehidupan? Apakah kamu percaya adanya roh-roh jahat? Apakah kamu sering bermimpi pada malam hari? Apakah kamu percaya kepada spiritualisme? Apakah kamu pernah berencana seandainya kamu memenangkan lotere? Apakah kamu percaya ada hantu di sekitar rumahmu? Apakah kamu takut kalau keluar rumah di waktu malam? Apakah kamu suka hidup di Jawaban Kamu Tidak Tidak Ya Tahu d. l. k.j. a. lebih dahulu? Apakah kamu mencantumkan tanggal surat-surat kamu? Apakah kamu pernah tidak menepati janji? No. m. h.

abad ke-19? Apakah kamu suka pergi ke bulan? Apakah kamu mimpi di siang bolong? m. d. Pertanyaan Apakah kamu membaca majalah desain interior untuk mendapatkan ide untuk rumah kamu? Apakah kamu berpariwisata ke kawasan yang indah pemandangannya? Apakah kamu seorang yang modis? Apakah kamu pernah mengikuti kelas merangkai bunga? Apakah kamu punya kartu anggota perpustaakan? Apakah kamu pelukis cat air? Apakah kamu pernah menulis cerita pendek? Jawaban Kamu Tidak Tidak Ya Tahu b. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! No. o. f. a. e. 158 . Apakah kamu selalu memastikan pintu terkunci ketika malam? Apakah sepatu kamu selalu tampak bersih? Apakah kamu tidak pernah kehilangan kunci? Apakah kamu segera bersihbersih setelah bekerja? 15. c. g. n. o.n.

jika hidangan satu restoran tidak ada yang kamu sukai? b.h. Apakah kamu pernah mengunjungi rumah yang megah? Apakah kamu sering mengunjungi galeri seni? Apakah kamu suka berpuisi? Apakah kamu gemar berkebun? Apakah kamu gemar fotografi? Apakah kamu bagus jika tampil di pentas? Apakah kamu suka menjadi seorang arsitek? Apakah kamu suka menjadi illustrator untuk penerbitan komik? 16. jika kamu menerima telepon ketika hendak keluar? 159 . k. i. j. Apakah kamu takut dengan orang yang punya wewenang? c. Apakah kamu menolak jika dikehendaki menjabat ketua sebuah klub? d. l. o. Apakah kamu akan komplain. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! 17. n. Apakah kamu akan mengatakan untuk menghubungi kembali. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! Jawaban Kamu No. Pertanyaan Tidak Tidak Ya Tahu a. m.

h. g. i. jika buah yang kamu beli ada yang busuk? Apakah kamu akan menolak.e. jika perlengkapan kantor ternyata rusak? Apakah kamu akan memakan sekotak coklat pemberian seseorang. Apakah kamu akan komplain. f. jika seorang sales tidak memperhatikan permintaan kamu? 160 . m. o. j. jika tetangga kamu memanasi motornya? Apakah kamu akan komplain untuk diulang. jika kamu tidak puas dengan perbaikan kendaraan kamu? Apakah kamu keberatan. n. jika tetangga kamu meminjam kendaraan? Apakah kamu tetap bisa bekerja. l. k. jika kamu disuruh menunggu giliran di salah satu klinik gigi? Apakah kamu akan marah. jika seekor kucing tetangga menggali rumput taman kamu? Apakah kamu keberatan. padahal kamu berusaha untuk diet? Apakah kamu akan komplain. jika ada penumpang yang merokok di kereta api non-merokok? Apakah kamu merasa sulit untuk menerima nasihat dari orang lain? Apakah kamu akan komplain.

........................... Keterlibatan Organisasi 18.... ..................... 161 .............. b.................. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) f................ Himpunan Mahasiswa Jurusan Senat Mahasiswa Fakultas Badan Eksekutif Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) e......................................... Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) h... Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ......... ............................................ Pemuda Khonghucu m...... .. ....... Apakah ada organisasi-organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra di kampus kamu seperti berikut? Keterangan Tidak Ada Ada Organisasi a......................... Pemuda Katolik j.....................III........................ c....... Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) g.......... Pemuda Hindu k.. d........ Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI) i....... Pemuda Buddha l....................

.. Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI) i........... Pemuda Khonghucu m..... Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) .. Pemuda Hindu k.......... Badan Eksekutif Mahasiswa d..... Himpunan Mahasiswa Jurusan b............19.. Apakah kamu pernah atau sedang menduduki posisi tertentu di organisasi-organisasi kemahasiswaan berikut? Terlibat sebagai Organisasi a.............. Peng urus Anggota aktif Anggota Tidak aktif Bukan Anggota 162 ....... Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) h.......... Pemuda Buddha l....... Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) g.... Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) f.... Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) e....... ......... Pemuda Katolik j. Senat Mahasiswa Fakultas c.........

20. Berapa banyak kamu memimpin rapat/diskusi dalam pertemuan organisasi kemahasiswaa di kampus? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 21. Berapa banyak kamu mengemukakan pendapat dalam setiap rapat/diskusi dalam pertemuan organisasi kemahasiswaan di kampus? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 22. Berapa banyak kamu menengahi perdebatan yang terjadi di antara teman-teman organisasi kemahasiswaanmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 23. Berapa banyak kamu mendukung teman yang hendak menduduki jabatan ketua di organisasi kemahasiswaanmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 24. Cara pandangmu terhadap masalah lebih arif sejak terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah

IV. Hasil Belajar Pendidikan Agama 25. Berapakah nilai mata kuliah agama kamu? a. A b. B c. C d. D e. E

163

V. Lingkungan Pendidikan 26. Apakah kamu terganggu belajar karena penghuni tempat tinggal kamu cukup banyak? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 27. Apakah hubungan antara orang tua dan kamu dilandasi rasa kasih sayang? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 28. Apakah hubungan antara orang tua dan saudara kamu dalam suasana keakraban? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 29. Apakah hubungan antara kamu dan saudara kamu dalam suasana keakraban? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 30. Apakah pengetahuan agama yang diperoleh di kampus dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari di tempat tinggalmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 31. Apakah kamu merasa tertarik dengan cara dosen kamu mengajar tentang perbedaan agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah

164

32. Apakah kamu diberi kesempatan untuk memberi pandangan berbeda saat pembelajaran agama berlangsung di ruang kuliah? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 33. Apakah dosen kamu mendukung sikap mahasiswa yang ekstrim? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 34. Apakah di lingkungan tempat tinggal kamu melakukan kegiatan sosial yang melibatkan anggota masyarakat berbeda agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah VI. Toleransi Beragama Pilih salah satu pernyataan di bawah ini yang dianggap paling sesuai dengan hati nurani kamu. 35. Kebebasan beragama berarti berhak memeluk atau tidak memeluk suatu agama. a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju 36. Kebebasan beragama berarti setiap orang atas kesadaran dan keyakinannya sendiri, leluasa memeluk suatu agama tanpa tekanan, intimidasi atau paksaan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

165

Sangat tidak setuju 40. Kebebasan beragama seseorang tidak boleh melanggar kebebasan beragama orang lain. a. Hanya ajaran agama kamu saja yang perlu diketahui dan dipelajari. Hanya agama kamu yang paling benar. a. Setuju c. Tidak setuju e. Setuju c. Setuju c. a. a. Tidak setuju e. Tidak setuju e. Netral d. Sangat setuju b.37. Setuju c. Satu-satu umat terpilih adalah mereka yang seagama denganmu. Sangat setuju b. Setuju c. Sangat tidak setuju 38. Sangat setuju b. Kebebasan beragama berarti bebas mengembangkan dan memelihara hakikat ajaran agama yang dianut. Sangat setuju b. Tidak setuju e. a. Netral d. Setuju c. Hanya kitab suci agama kamu yang paling benar. Sangat setuju b. Setuju c. a. Netral d. Hanya yang memeluk agama kamu yang dijamin keselamatannya. Tidak setuju e. Sangat setuju b. Sangat tidak setuju 39. Sangat tidak setuju 166 . Netral d. Sangat tidak setuju 41. Tidak setuju e. a. Sangat tidak setuju 43. Sangat setuju b. Netral d. Tidak setuju e. Netral d. Sangat tidak setuju 42. Netral d.

Kamu bersedia diajak mengunjungi tempat suci agama lain. Pernah e. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di masyarakat luas. Sering c. Sangat sering b. a. a. Sangat setuju b. Kamu tidak keberatan pendirian rumah ibadat agama lain di lingkungan RT-mu. Setuju c. Sangat tidak setuju 45. 167 . b. b. e.44. e. Tidak pernah 46. c. c. a. d. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama dalam satu kamar. Jarang d. Memberi ucapan selamat pada teman berbeda agama atas perayaan hari besar agamanya. Tidak setuju e. Netral d. Menghadiri undangan teman berbeda agama dalam perayaan hari besar agamanya. a. berbeda berbeda berbeda berbeda berbeda 47. Tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari besar teman berbeda agama dan tidak menyukai acara itu dilangsungkan. Tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari besar teman berbeda agama tetapi tidak mengganggunya. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di lingkungan tempat tinggal. Berkunjung dan memberi ucapan selamat pada teman berbeda agama atas perayaan hari besar agamanya. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di Kampus. d. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama dalam satu rumah.

Tidak pernah 50. Kamu mengikuti kegiatan doa bersama dengan orang berbeda agama? a. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama di masyarakat luas. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu lingkungan tempat tinggal. a. Sangat sering b. Kamu mengizinkan teman berbeda agama menginap di kamar kamu. d. d. Setuju tidak perduli dengan teman berbeda agama. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama yang satu kampus. b. Jarang d. a. e. d. c. Pernah e. Sering c. Setuju membantu teman yang berbeda agama. Jarang d. Pernah e. Pernah e. a. b. Tidak pernah 168 . 52. Sering c. Setuju berorganisasi dengan teman berbeda agama. Setuju bergaul dengan teman berbeda agama. Jarang b. c. Tidak pernah 49. Kamu membantu tenaga/dana dalam perayaan keagamaan umat agama lain? a. e. Sangat sering b. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu kamar. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu rumah. Sering c. Sangat sering b. Setuju mempunyai kelompok belajar dengan teman yang berbeda agama.48. 51.

a. a. Jarang d. Jarang b. Sangat sering b. Kamu tidak ikut berdoa jika pembacaan doa dipimpin pemuka agama lain. Kamu menitipkan kunci kamar kepada teman yang berbeda agama jika kamu ada acara ke luar kota. Tidak pernah 54. Sering c. Kamu bersedia memberikan alamat dan nomor telepon kamu kepada orang berbeda agama. Tidak pernah 57. Sering c. a. Jarang d. Sangat sering b. a.53. Sangat sering b. a. Pernah e. Kamu meminta tolong dibelikan sesuatu kepada teman berbeda agama yang pergi berbelanja. Pernah e. Tidak setuju e. Netral d. Sangat sering b. Sangat setuju b. Pernah e. d. Sangat sering b. Sering c. Sering c. Tidak pernah 58. Sangat sering b. Jarang d. a. Kamu menghadiri upacara pernikahan di rumah ibadat agama lain. Jarang d. Sangat tidak setuju 169 . Tidak pernah 56. Tidak pernah c. Pernah e. Sering c. Sering d. Setuju c. Tidak pernah 55. Pernah e. Pernah e. Jarang 59. a. Kamu menghadiri undangan pesta orang berbeda agama. Kamu ragu menikmati makanan yang dihidangkan teman berbeda agama.

Sangat sering b. Sangat sering b. Tidak pernah 65. Sangat sering b. a. Kamu meminjamkan buku/uang kepada teman berbeda agama. Tidak pernah 64. Tidak pernah 63. Jarang d. Jarang d. Sering c. Kamu memberi bantuan untuk pendirian rumah ibadat agama lain. a. Pernah e. Pernah e. Sering c. Pernah e. Tidak setuju e. Kamu menjawab semua ucapan salam keagamaan yang diucapkan oleh penganut agama lain. a. Tidak pernah 66. Kamu melakukan ibadat di rumah temanmu yang berbeda agama. Netral d. Tidak pernah 170 . Sering c. Sering c. a. Sangat tidak setuju 61. Pernah e. Jarang d. Pernah e. Sangat sering b. Kamu menghadiri upacara pemakaman penganut agama lain. a. Pernah e. Tidak pernah 62. Kamu membantu jika ada teman berbeda agama mendapat musibah. Sangat sering b. Kamu akan memilih orang yang berbeda agama untuk menjadi ketua organisasi kampus? a. Jarang d. Sangat sering b. Sering c. Sangat setuju b. Jarang d. Setuju c. a.60. Sering c. Jarang d.

Sering c. Pernah e. Pernah e. Jarang b. Kamu meminjamkan kendaraan milikmu kepada orang berbeda agama? a. Kamu bertukar pikiran dengan orang berbeda agama. d. Tidak pernah 73. Tidak pernah 71. Pernah e. Sangat sering b. Pernah e. Sangat sering b. Sangat sering b. Sangat sering b. Tidak pernah 69. Kamu mengikuti nasihat yang diberikan teman berbeda agama. Tidak pernah 171 . Jarang d. Pernah e.67. Kamu bertamu ke rumah orang berbeda agama? a. a. Pernah e. Pernah e. Tidak pernah 72. Sangat sering b. Sangat sering b. Sering c. a. Sering c. Jarang d. Tidak pernah 70. Sangat sering b. Jarang d. Sering c. Kamu melakukan pinjam-meminjam barang/uang dengan orang berbeda agama? a. Tidak pernah 68. Sering c. a. Jarang d. Sering c. Kamu menolak tawaran bantuan dari teman berbeda agama? a. Kamu bertemu dan berbicara dengan orang lain yang berbeda agama. Jarang d. Jarang d. Sering c.

172 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful