TOLERANSI BERAGAMA MAHASISWA

(Studi tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri)

Editor : H. Bahari, MA

Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan Jakarta, 2010

Perpustakaan Nasional: katalog dalam terbitan (KDT) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Toleransi Beragama Mahasiswa (Studi tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri) Ed. I. Cet. 1. ------Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama 2010 xiii + 171 hlm; 21 x 29 cm ISBN 978-979-797-287-5

Hak Cipta 2010, pada Penerbit
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara menggunakan mesin fotocopy, tanpa izin sah dari penerbit

Cetakan Pertama, September 2010 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama

TOLERANSI BERAGAMA MAHASISWA (STUDI TENTANG PENGARUH KEPRIBADIAN, KETERLIBATAN ORGANISASI, HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA, DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN TERHADAP TOLERANSI MAHASISWA BERBEDA AGAMA PADA 7 PERGURUAN TINGGI UMUM NEGERI)

Editor: H. Bahari, MA Desain cover dan Lay out oleh: H. Zabidi
Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an Museum Istiqlal Komplek Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Telp/Fax. (021) 87790189, 87793540 Diterbitkan oleh: Maloho Jaya Abadi Press, Jakarta Anggota IKAPI No. 387/DKI/09 Jl. Jatiwaringin Raya No. 55 Jakarta 13620 Telp. (021) 862 1522, 8661 0137, 9821 5932 Fax. (021) 862 1522

ii

 

SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG DAN DIKLAT KEMENTERIAN AGAMA RI asalah toleransi beragama adalah masalah yang selalu hangat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sampai dewasa ini masih banyak kelompok masyarakat yang melakukan perbuatan intoleransi. Oleh karenanya, sikap intoleransi harus dideteksi sejak dini dan dijadikan dasar untuk mengembangkan budaya toleransi, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam realitasnya, konflik akibat intoleransi sampai saat ini masih sering terjadi dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mungkin juga termasuk mahasiswa. Padahal, mestinya kenyataan adanya perbedaan agama, paham, penafsiran dan organisasi keagamaan haruslah diterima sebagai kenyataan yang harus diterima. Solusi yang harus diupayakan adalah bagaimana mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan dalam kehidupan sosial keagamaan dan mencerminkan kedewasaan beragama dalam kerangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sejak dini harus sudah ditanamkan kesadaran kepada anak-anak, pelajar, pemuda dan mahasiswa tentang adanya realitas kemajemukan bangsa ini. Mahasiswa sebagai harapan masa depan bangsa dalam mengemban amanah kepemimpinan dan agen perubahan sosial, kiranya harus dibekali dengan pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan yang cukup dalam menyikapi pluralitas bangsa yang memang sangat tinggi. Untuk itulah sangat perlu dilakukan penelitian berkaitan dengan toleransi umat berbeda agama di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, kami menyambut baik diterbitkannya buku Toleransi

M

Beragama Mahasiswa (Studi tentang Pengaruh Kepribadian,
  iii

MA. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri). Dengan pemahaman seperti itu diharapkan mendorong para mahasiswa untuk dapat memahami dirinya akan perlunya membangun toleransi kehidup-an keagamaan yang lebih baik di masa depan.Keterlibatan Organisasi. Selama ini belum diketahui benar. Dr. penerbitan buku ini merupakan salah satu media untuk mensosialisasikan hasil-hasil pengembangan yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Hasil Belajar Pendidikan Agama. dalam hal ini Puslitbang Kehidupan Keagamaan. Abdul Djamil. September 2010 Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Kedua. dapat memberikan informasi tentang berbagai pandangan keagamaan para mahasiswa berkaitan dengan toleransi kehidupan beragamaan. Pertama. tawazun dan toleran. H. bagaimana sikap para mahasiswa terhadap pandangan keagamaanya ber-kaitan dengan toleransi kehidupan beragama. Semoga buku ini dapat memberikan kontribusi dalam membangun pemahaman masyarakat yang moderat. ketika akan mengelola negeri di segala bidang kehidupan. Jakarta. tawasuth. NIP: 19570414 198203 1 003 iv   . Dengan diterbitkannya hasil penelitian ini diharapkan dapat tersosialisasikan dengan baik bagaimana sebenarnya sikap mahasiswa berkaitan dengan pandangan keagamaan yang berhubungan dengan toleransi kehidupan beragama.

dewasa. Salah satu komponen penting masyarakat dalam rangka menjaga tetap bekerjanya prinsip-prinsip toleransi adalah para mahasiswa. sekolah tinggi. serta menjadi entry point bagi terwujudnya suasana dialog dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat. prinsip-prinsip toleransi harus betul-betul bekerja mengatur perikehidupan masyarakat secara efektif. Lebih dari itu. baik pelajar. pegawai. Dalam konteks kemajemukan agama di Indonesia tersebut. pada sisi lain. kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah Menengah Umum (SMU). umumnya   v K . dari tingkat anakanak. dan sebagainya. birokrat maupun mahasiswa. terutama bila kemajemukan tersebut tidak disikapi dan dikelola secara baik. hingga orang tua.KATA PENGANTAR KEPALA PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN emajemukan agama bangsa Indonesia pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang kaya bagi proses konsolidasi demokrasi. toleransi beragama merupakan isu penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Namun. remaja. akademi. Pendidikan tersebut dapat berupa perguruan tinggi. Toleransi merupakan elemen dasar yang dibutuhkan untuk menumbuh kembangkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada. Usia saat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Agar tidak terjadi konflik antarumat beragama. toleransi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh kelompok masyarakat. institut.

kendati survei SETARA Institute menunjukkan hasil menggembirakan terhadap kondisi toleransi kaum muda berbeda agama. termasuk dalam hal hubungan antarumat beragama. mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi sub elemen penting masyara-kat sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu bentuk tatanan tertentu. Education is slow but a powerful force. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi cara pandang. Karena tingkat pendidikan yang tinggi ini.berkisar antara 18-21 tahun. Tongkat estafet kepemimpinan ini akan diteruskan oleh mahasiswa. kejiwaan yang belum mapan dan selalu memegang idiom ketokohan. dari kalangan mahasiswa akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan berperan dominan dalam perkembangan masyarakat. Secara fisiologis. Dalam masyarakat. Di tangan para mahasiswa masa depan bangsa ini akan bergantung. ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. Mahasiswa dianggap tunas-tunas baru yang akan menggantikan peran para pemimpin di masa yang akan datang. Di samping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini. Potensi ini dipunyainya tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang tergolong tinggi dalam masyarakat. namun pada sisi lain masih ditemukan konflik sosial yang melibatkan vi   . Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi idealisme. seperti Halsey dan Psacharopoulos menyatakan bahwa pendidikan memainkan bagian penting dalam determinan-determinan status dan penghasilan. Dari hasil penelitian dapat ditarik gambaran sementara bahwa setiap upaya meningkatkan toleransi di kalangan mahasiswa masih perlu dilakukan. meminjam istilah William Fulbright. Beberapa sosiolog pendidikan. usia ini sangat rentan terhadap segala sesuatu. Sebab. pada akhirnya nanti. wawasan dan daya kritis yang memungkinkan mahasiswa untuk memikirkan masa depan masyarakat tempat mereka hidup.

Ph. H. Kemudian tak lupa kami sampaikan terima kasih juga kepada Editor yang telah mengkoreksi ulang hasil penelitian ini. maka diperlukan sebuah penelitian tentang toleransi mahasiswa berbeda agama pada perguruan tinggi. Juli 2010 Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Prof. kami dengan senang hati akan menerima masukan dan kritik dari pembaca sekalian. Abd. Rahman Mas`ud. baik intra maupun antarumat beragama. 19600416 198903 005   vii . Mudah-mudahan buku ini menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi para peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan khususnya dan pembaca pada umumnya.D NIP. sebagai modal akademis guna mengarahkan kehidupan sosial yang lebih kohesif di masa depan. Amien. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan yang telah memberi sambutan dan arahan untuk terbitnya buku ini. sehingga menjadi buku yang layak terbit. Semoga Allah selalu memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sekalian. Jakarta. Demi sempurnanya buku ini. Bertolak dari berbagai masalah dan kenyataan serta harapan seperti dikemukakan di atas. Dari penelitian ini diketahui toleransi dan apresiasi antarmahasiswa.mahasiswa.

viii   .

PENGANTAR EDITOR A lhamdulillahi Rabbi al-`alamin. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada Perguruan Tinggi Umum Negeri (Studi di 7 Universitas) dengan baik. Puslitbang Kehidupan Keagamaan cukup konsisten untuk terus mengembangkan pendekatan kuantitatif dalam beberapa penelitiannya. penyusunan kuesioner. dengan harapan penelitian berjalan sesuai harapan. penyusunan ulang kuesioner hasil uji coba. dan penyusunan laporan penelitian. yang telah mem-berikan kekuatan pada kami sehingga bisa menyelesaikan editorial tentang laporan penelitian Pengaruh Kepribadian. penyusunan pedoman wawancara. Penelitian ini merupakan 1 di antara 3 penelitian yang menggunakan pendekatan kuan-titatif. Keterlibatan Organisasi. analisis data. diseminasi hasil penelitian. Penyusunan desain operasional penelitian terutama berkaitan dengan kerangka teorinya tentu sangat melelahkan dibandingkan dengan penelitian yang bercorak kualitatif. kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa. Dengan adanya penelitian ini. Dalam tahapan penelitian ini pastilah terasa agak berat mengingat bahwa penelitian bercorak kuantitaif saat ini relatif merupakan tradisi baru di Puslitbang Kehidupan Keagamaan. Keterlibatan Organisasi. yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada tahun anggaran 2009. Hasil Belajar Pendidikan Agama. Hasil Belajar Pendidikan Agama. uji coba kuesioner. penelitian ini telah mampu menggambarkan bagaimana Pengaruh Kepribadian. Penelitian ini terasa dilakukan dengan cara cukup serius. Sebagai hasil penelitian ilmiah. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda   ix . display data. pengumpulan data. validitasi dan reliabilitasi kuesioner.

mengingat bahwa terjadinya ketidakrukunan di berbagai tempat di Indonesia selama ini selalu diawali oleh kaum muda. sehingga hasil penelitian ini juga membantu saya memahami sikap mahasiswa berkaitan dengan toleransi beragama itu. Bahari. Buku ini secara substansial memang sudah pernah terdengar dilakukan penelitian meskipun dengan judul yang berbeda. bagaimana sikap para mahasiswa di perguruan tinggi umum yang berkaitan dengan toleransi beragama. M. Jakarta. bahkan terkadang juga para mahasiswa. Juli 2010 Drs. kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengedit buku hasil penelitian ini. Editor. Nah dari buku ini akan terlihat. MA x   . tetapi substansi dapat dicerna sendiri oleh para pembaca dalam buku ini. H. yang selama ini belum dilakukan.Agama pada Perguruan Tinggi Umum Negeri. Namun hasil penelitian ini tetap menarik untuk tetap dibaca. Terakhir. Kami tidak perlu menyimpulkan atau membuat ringkasan mengenai hasil penelitian ini. Demikian semoga bermanfaat.

........... 1....................... Metode dan Desain Penelitian ... Perumusan Masalah ................. B................... E.................. F.................................... 4........... Daftar Isi .................................... D.........................................   ....................... C............ Kata Pengantar Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan ......................................................................... Bab I Pendahuluan .................................... C. Deskripsi Teoritik ..................................................... A.................................................................. 3................................ A.............. Variabel Toleransi Beragama (Y) .. Variabel Kepribadian (X1) ................ Lokasi dan Waktu Penelitian .... Pembatasan Masalah ... Identifikasi Masalah ...................... Hipotesis Penelitian ............................................... Variabel Hasil Belajar Pendidika Agama (X3) .. C...... B.............................. Kerangka Berpikir ......... 5..... A....... Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................ Pengantar Editor .............................................. B. Populasi dan Sampel ....... Tujuan Penelitian ....... Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) .............. D............... Kegunaan Hasil Penelitian .............DAFTAR ISI Sambutan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama .............. iii v ix xi 1 1 12 26 27 28 28 Bab II 31 31 31 39 43 44 50 61 80 90 91 91 92 93 xi Bab III Metodologi Penelitian ... Latar Belakang Masalah ............................................... Variabel Keterlibantan Organisasi (X2) ................................ 2..... Penyusunan Kerangka Teoritik dan Pengajuan Hipotesis ..........................................................................

... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan. Teknik Analisis Data .... 2............ Deskripsi Data dan Temuan ......................... 8................................ 2................................... 6............................... Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama........ Variabel Kepribadian (X1) ......D.......... B....................... Analisis Inferensial ...... Lingkungan Pendidikan ........ Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) ............... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama ... Profil Responden .................. 1..... 96 3......... Instrumen Penelitian .......... Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan.. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar ........ Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) ...................... Variabel Toleransi Beragama (Y) .......... 97 4........................................ 3............... 102 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan .... 100 E.. A..... Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) ...... Pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan................................................... Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi .......................... Keterlibatan Organisasi ...... Hasil Belajar Pendidikan Agama ............ Kepribadian .. xii   105 105 107 108 110 116 117 119 121 121 122 124 125 126 127 127 129 ........ Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama 4...................... 4.................... 5................................ 94 1.. 5........................................... C................ 95 2.......................................... 3........................ 7...... 1...... Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama 7 Universitas ................ 98 5..........................

.. Kesimpulan ...................................................... Daftar Pertanyaan (Kuesioner) ............................................................ Lampiran ....... B.. A..9................................ Rekomendasi ................................................................. Implikasi....... Hasil Penelitian Kualitatif ... Pedoman Wawancara ............................. E............. Pembahasan ........................................................... Bab V Penutup ............... Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama .................................................................. Model Empiris Hubungan Antar Variabel ............. 10............ C..................... Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama .................   xiii ............................................................... Daftar Pustaka .................................................... 129 129 131 134 141 141 143 144 115 145 153 153 154 155 Daftar Pustaka ............................................................................................ D..............

xiv   .

1% Katolik. dan 0. yaitu pemeluk Islam (88. Hindu (1. baik dari sisi budaya. Dari sisi agama.2% pemeluk Islam. religious demography di Indonesia menunjukkan 213 juta jiwa penganut agama yang berbeda dengan komposisi 88. tumbuh dan berkembang pula berbagai aliran atau kepercayaan lokal yang jumlahnya tidak kalah banyak. Katolik (3. Data tersebut mengungkapkan bahwa penduduk beragama Islam merupakan mayoritas secara nasional.10%).BAB I PENDAHULUAN A. 109 kelompok etnis berada di Indonesia belahan barat. Agama-agama tertentu lainnya menunjukkan jumlah mayoritas penduduk di propinsi tertentu seperti Hindu di Bali serta Kristen di Nusa Tenggara Timur. Sedangkan di Sumatera Utara. di negara ini hidup berbagai agama besar di dunia. dan lainnya (0. Sulawesi Utara. namun tidak demikian dalam sebaran perpropinsi atau kabupaten/kota. Latar Belakang Masalah ndonesia adalah bangsa yang majemuk. Kalimantan Barat. 3. Dari enam ratusan etnis itu.9% Kristen. dan Konghucu.8% Hindu. Buddha.2% agama serta kepercayaan lainnya. bahasa. yaitu Islam.73%). Pada Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005 juga masih menunjukkan angka yang hampir sama.1 I                                                              1Dari sisi etnis.12%).58%). Komposisi jumlah penduduk Islam dan Kristen cukup berimbang di Maluku. 5.08%). Selain itu. Hindu. dan Papua. Kristen. 1. etnis. 0. Khonghucu (0. dan Maluku Utara penduduk Kristen merupakan minoritas tetapi dengan jumlah signifikan.79%). Buddha (0. Kristen (5. sedangkan 1 .8% Buddha.60%). dan agama. Katolik. Pada sensus tahun 2000. di Indonesia terdapat lebih kurang 658 etnis.

pada sisi lain. 34. Salah satu subelemen penting masyarakat dalam rangka menjaga tetap bekerjanya prinsip-prinsip toleransi adalah para mahasiswa. Volume V No. baik pelajar. hingga orang tua. Namun. Lebih dari itu. Dari 549 etnis itu 300 lebih di antaranya menyebar di Papua. 2Muhammad Hisyam et. 1 Tahun 2008. Amiruddin al Rahab. Agar tidak terjadi konflik antarumat beragama. “Kekerasan Komunal di Indonesia: Sebuah Tinjauan Umum” dalam Jurnal Dignitas. kemajemukan etnis di belahan timur lebih tinggi dari belahan barat. remaja.     2 .al.Kemajemukan agama tersebut pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa Indonesia karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang sangat kaya bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. 1. prinsip-prinsip toleransi harus betul-betul bekerja mengatur perikehidupan masyarakat secara efektif. hlm. terutama bila kemajemukan tersebut tidak disikapi dan dikelola secara baik. birokrat maupun mahasiswa. hlm. serta menjadi entry point bagi terwujudnya suasana dialog dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. toleransi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh kelompok masyarakat. maka toleransi beragama---dalam pengertian kesediaan umat beragama hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain---merupakan isu penting dalam kehidupan bangsa Indonesia.2 Dalam konteks kemajemukan agama di Indonesia tersebut. 2006. kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jakarta: LIPI Press. dewasa. Toleransi merupakan elemen dasar yang dibutuhkan untuk menumbuhkembangkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada. Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah                                                                                                                                Indonesia timur terdiri atas 549 etnis. Dengan kata lain. dari tingkat anak-anak. pegawai.

usia ini sangat rentan terhadap segala sesuatu. termasuk dalam hal hubungan antarumat beragama. akademi. Depok: FISIP UI. 1999. Dalam masyarakat. 11-12. kejiwaan yang labil dan selalu memegang idiom ketokohan.   3 . Beberapa sosiolog pendidikan. institut. ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. hlm. mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi subelemen penting masyarakat sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu bentuk tatanan tertentu. Skripsi. Karena tingkat pendidikan yang tinggi ini.Menengah Umum (SMU). dan sebagainya. pada akhirnya nanti. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi idealisme. wawasan dan daya kritis yang memungkinkan mahasiswa untuk memikirkan masa depan masyarakat tempat mereka hidup. Pendidikan tersebut dapat berupa perguruan tinggi. wordpress. Di samping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini. Usia saat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Secara fisiologis. seperti Halsey dan Psacharopoulos menyatakan bahwa pendidikan memainkan bagian penting dalam determinan-determinan status dan penghasilan.3 Potensi ini dipunyainya tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang tergolong tinggi dalam masyarakat.com/ 2008/06/25/menggugat-intelektualisme-mahasiswa/. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi cara pandang.   4Lucia Ratih Kusumadewi. Di tangan para mahasiswa masa depan bangsa ini akan bergantung.4                                                              3“Menggugat Intelektualisme Mahasiswa” dalam http:// bermula. Mahasiswa dianggap tunas-tunas baru yang akan menggantikan peran para pemimpin di masa yang akan datang. sekolah tinggi. umumnya berkisar antara 18-21 tahun. dari kalangan mahasiswa akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan berperan dominan dalam perkembangan masyarakat. Tongkat estafet kepemimpinan ini akan diteruskan oleh mahasiswa.

  4 . Dia memberikan 4 (empat) alasan. Yewangoe dalam Agama dan Kerukunan. yaitu: Pertama. dan Keempat. mahasiswa adalah calon-calon pemimpin bangsa. termasuk hubungan antarumat beragama secara rasional dan berkepala dingin. 31-32. dibutuhkan kesadaran penuh dari kalangan terdidik. mempengaruhi masyarakat supaya dapat bersikap dan berperilaku yang mengarah pada toleransi yang tinggi antarpemeluk agama. apakah dari kalangan terdidik sendiri (baca: mahasiswa). Kedua. dengan idealismenya yang tinggi. Ketiga. mahasiswa. Saling pengertian yang dicapai hari ini di antara para mahasiswa berbeda-beda agama merupakan modal yang berharga apabila mereka nanti menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.Andreas A. optimis akan peran yang dapat dimainkan mahasiswa dalam meningkatkan kerukunan umat beragama. mahasiswa. Untuk mewujudkannya.id/books. selalu berupaya mewujudkan persatuan dan kesatuan melalui perbuatan nyata.5 Banawiratma mengatakan bahwa selayaknya kaum terdidik (baca: mahasiswa) dapat menjadi fasilitator dalam mencoba untuk membaca dan menilai situasi hidup nyata ini. telah terdapat sikap-sikap yang berpotensi mendukung terciptanya toleransi antarumat                                                              5 http://books. begitu pula untuk menemukan langkah maju dalam kehidupan antarumat beragama. paling tidak ditinjau dari sejarah kemahasiswaan di Indonesia selama ini masih belum terkontaminasi oleh berbagai tekanan di mana agama-agama cenderung diperalat. dan Kedua. Pertanyaan kemudian muncul.co.google. bersikap dan berperilaku terhadap pemeluk agama lain yang secara konkret mendukung dan dapat menciptakan toleransi antarpemeluk agama. hlm. untuk: Pertama. mahasiswa adalah calon-calon intelektual yang diharapkan dapat meninjau berbagai relasi antar manusia.

Heru Cahyono. hlm. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan P2P-LIPI. yang pernah terjadi di Indonesia7 ternyata melibatkan banyak pihak. Di Fakultas Teknik. Konflik bernuansa agama di Ambon misalnya. dan tombak bermata besi. xviii-xxi. anak panah. Tasikmalaya (26 Desember 1996). Ambon (1999). memperlihatkan bahwa Universitas Pattimura menjadi basis perlawanan kalangan Kristiani. Semarang: Walisongo Mediation Centre. Konflik bernuansa etnik misalnya peristiwa Sanggauledo (Januari dan Februari 1997) dan peristiwa Sampit pada 7 Maret 1999 yang kemudian merembet ke Kualakapuas. misalnya peristiwa Situbondo (10 Oktober 1996).   6 7 5 . Mukhsin Jamil. sikap-sikap yang diperlihatkan berpotensi untuk menciptakan intoleransi antarumat beragama. Konflik Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Meretas Perdamaian. M. Sebab. baik yang bernuansa agama. Wilayah kampus tersegregasi antara mahasiswa dari kalangan Kristen dan dari kalangan Islam. strata dan jenis kelamin---dan itu berarti---mahasiswa juga patut diduga terlibat di dalamnya. etnis.beragama. dengan memanfaatkan peralatan yang ada membuat senjata-senjata rakitan. Sikap serupa dilakukan pula oleh para mahasiswa muslim di STAIN Ambon atau mereka yang terlibat dalam organisasi                                                              Ibid. khususnya di kalangan terdidik. Di sana para mahasiswa Kristiani menggalang kekuatan dan turut terlibat secara aktif dalam konflik bernuansa agama tersebut. Mediasi dan Resolusi Konflik. Banjarnegara (9 April 1997). Temanggung (6 April 1997). konflik sosial.   Konflik bernuansa agama yang terjadi di Indonesia. 2008. Ataukah justru sebaliknya. Ed. maupun politik. mengingat masalah hubungan antarumat beragama yang baik merupakan syarat bagi terciptanya integrasi sosial. Pekalongan (24-26 Maret 1997).6 Pertanyaan di atas sangat penting untuk dijawab. dan lain-lain. Dengan mengetahui gambaran tersebut diharapkan dapat disajikan kerangka pandang yang cukup memadai dalam usaha-usaha menuju kepada kehidupan antarumat beragama yang lebih baik. 2007.

yang saat itu tengah diadakan pengajian. Mereka pun berkumpul menuju asrama putri meminta pertanggungjawaban. geocities. mengundang reaksi warga. Pemicu terjadinya konflik disebabkan keberadaan SETIA dan perilaku mahasiswa yang sering meresahkan warga. dalam www. pencurian.sabili. www.co. Sesaat kondisi keamanan terkendali tetapi selang sehari kemudian kembali menegang ketika tiba-tiba ada seorang mahasiswa SETIA melempar Masjid Baiturrahim yang berjarak 50 meter dari kampus.   6 . pelaku lari menuju asrama putri. sebagaimana dituturkan Abu Bakar Riri. misalnya kasus bentrok antara warga Kampung Pulo dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (SETIA) pada 25 Juli 2008.8 Konflik bernuansa agama yang melibatkan mahasiswa terjadi pula di Jakarta. mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang belakangan menjadi aktivis rekonsiliasi Gerakan Baku Bae Maluku.kemahasiswaan. Setelah melakukan pelemparan.com. Sempat terjadi lempar batu tetapi berhenti setelah dilerai pihak kepolisian. Suasana menegang ketika ada teriakan provokasi dari dalam kampus yang tidak terima si pencuri dibawa ke kantor polisi.id. serpihan kaca.9                                                              8“Gerakan Baku Bae Maluku Perlawanan terhadap Penganjur Perang” dalam Ambon Berdarah On-Line. pacaran. Kelakuan mahasiswa kriminal ini. ketapel dan anak panah besi. namun kedatangan warga justru disambut lemparan batu. Bentrokan 25 Juli 2008 lalu bermula dari tertangkapnya seorang mahasiswa SETIA yang diduga melakukan pencurian mesin pompa di salah satu rumah warga.   9“Mahasiswa Kriminal Picu Konflik Kampung Pulo”. bahkan warga sering menemukan kondom dan celana dalam di sepanjang jalan sepi tempat mahasiswa biasa jalan-jalan. Mahasiswa SETIA diduga sering terlibat bentrok antarsuku.

Mereka menginap selama dua malam di Komplek DPR/MPR Senayan Jakarta. Sleman. Selasa (29/7). sebuah kota budaya dan kota pendidikan yang selama ini dikenal sebagai miniatur Indonesia dan tempat persemaian multikulturalisme. pada Ahad sore puluhan mahasiswi putri dievakuasi ke Kantor Kecamatan Makasar. Hikmat Budiman. yaitu pergi. sekitar 200 mahasiswa SETIA didampingi beberapa dosen. 2005. “Minoritas. Naman Kalimalang.   10 11 7 . Mereka mengadu ke DPR agar tetap bisa kuliah di kampusnya. Babarsari. Multikulturalisme. Ed. Yogyakarta. seperti penyerangan asrama mahasiswa Papua oleh orang tidak dikenal. tutup dan bubarkan Yayasan SETIA dari Kampung Pulo. 3.11 Kali ini bernuansa etnis. Modernitas” dalam Hikmat Budiman. rektor dan pimpinan Aras Gereja Nasional (AGN) menyambangi perwakilan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS) di Komisi VII DPR. pada 15 Januari 2008.                                                              Ibid. atau bentrokan antar mahasiswa di sebuah tempat kos di Tambakbayan. dan baru pada hari Jumat (1/8) sekitar 400 mahasiswa SETIA dievakuasi ke Wisma Transito. hlm.10 Konflik sosial yang melibatkan mahasiswa terjadi pula di D.I. Kecamatan Depok. Pascabentrokan warga menuntut tiga hal.   Multikulturalisme adalah gagasan yang merujuk pada sebuah truisme bahwa masyarakat-masyarakat manusia niscaya memiliki budaya yang beragam. tanggal 29 Juni 2007. Jakarta Timur.Menjaga kondisi yang tak diharapkan sebab kemarahan warga meningkat. Proses evakuasi berlangsung aman tanpa diganggu warga. Jl. pada 23 November 2004 dan penyerangan asrama mahasiswa Sulawesi Selatan. Kab. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia. apa pun alasannya. Jakarta: The Interseksi Foundation. Jakarta Timur.

Catatan yang dibuat berdasarkan pemberitaan media massa dan juga sejumlah penelitian sosial dari lingkungan perguruan tinggi. penyebabnya pun hanya berupa gesekan kecil.12 Konflik antarmahasiwa yang bisa mengarah pada sentimen keagamaan terjadi antara mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) dan Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia (UPI YAI) patut juga dicatat. Pertama.   8 . Kedua. Pada umumnya.id. biasanya tidak berkembang menjadi konflik dalam skala cukup besar. memperlihatkan adanya pola yang berulang. (b) kelompok mahasiswa pendatang dari suatu daerah atau suatu etnis dengan kelompok mahasiswa dari daerah/etnis lain. Tanah kosong tersebut pada mulanya digunakan                                                              12 www. misalnya dalam bentuk perusakan. konflik meletup hanya karena penyebab yang sangat sepele. Hampir semua konflik antaretnis mahasiswa di Yogyakarta disebabkan oleh kesalahpahaman belaka. konflik antaretnis justru sangat jarang terjadi antara kelompok mahasiswa asli Yogyakarta dan juga Jawa Tengah. seperti saat pertandingan olahraga.antara. dan (c) kelompok mahasiswa pendatang dengan kelompok profesi tertentu (misalnya pengemudi becak). konflik mulai terjadi ketika YAI membeli tanah kosong milik Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang berada persis di kampus tersebut. Sempat mesra pada saat menurunkan Soeharto hingga tahun 2000. Kalaupun kadang-kadang terjadi konflik antaretnis dari luar Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan kelompok mahasiswa asli Yogyakarta atau Jawa Tengah. dengan kelompok mahasiswa dari etnis lain dari luar Jawa Tengah dan Yogyakarta.co. konflik terjadi antara: (a) kelompok mahasiswa pendatang dengan penduduk asli. Sebuah temuan menarik.

Sejak peristiwa itu muncul sentimen-sentimen antarmahasiswa kedua kampus yang berujung pada tawuran.com. Ditambah lagi ada semacam doktrin menurut penuturan Mangapul Silalahi.vivanews. yang terjadi tanggal 19 November 2008. arogan. Akibat tawuran tersebut.   9 . 19 November 2008. Tawuran bisa terjadi meski hanya saling pandang atau bersenggolan. 16 Oktober 2008. seorang mahasiswa bernama Mursal luka berat karena tikaman di bagian leher dan anak panah juga menancap di sekitar perutnya. pihak kepolisian menurut Kepala Kepolisian Resort Makassar. www. Perlawanan muncul saat mahasiswa Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)--sebagian besar mahasiswa UKI---mengadvokasi para pedagang yang sering bentrok dengan Satpol PP Jakarta Pusat. polisi melakukan razia di dalam kampus. misalnya bentrok antara mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik Universitas 45 Makassar.13 Bentrok antarmahasiswa juga terjadi di Sulawesi Selatan. sedangkan dua mahasiswa lain mengalami luka ringan. Hasilnya. yang dilakukan oleh mahasiswa senior terhadap yunior bahwa mahasiswa UKI adalah yang terbaik. www. Buntut tawuran antarfakultas tersebut.tempointeraktif.nasional. kemudian yang berhadap-hadapan bukan antara Satpol PP dengan mahasiswa GMNI tetapi antara mahasiswa UKI dan YAI.untuk para pedagang berjualan.   14“Polisi Temukan Senjata Tajam dalam Kampus”. menemukan beberapa senjata tajam dan botol bekas minuman keras di wilayah kampus.com.14 Paparan beberapa kasus konflik yang melibatkan mahasiswa di atas hanya beberapa contoh yang barangkali                                                              13“Mahasiswa UKI dan YAI Sempat ‘Mesra’ di Era Reformasi”. dan sombong. Tidak bisa dipastikan bagaimana mulanya. Ini menyebabkan sikap mahasiswa yunior cenderung reaksioner. yang jelas. Ajun Komisaris Besar Kamaruddin.

pemahaman agama yang sempit. tidak mampu memahami persoalan secara utuh. Beberapa literatur psikologi memang menjelaskan bahwa tidak selalu bertambahnya usia itu membuat seseorang semakin dewasa---dalam arti--seseorang itu mampu berpikir abstrak serta bertindak mandiri dan sistematis. ada juga orang yang tinjau dari usia dianggap dewasa tetapi sikap dan perilakunya kekanakkanakkan. atau punya pengalaman buruk dengan orang lain sehingga cenderung berprasangka (prejudice) pada satu etnis atau umat agama tertentu.   10 . ia mengasumsikan mahasiswa sebagai golongan muda yang kritis. Namun.15 Konflik muncul ketika mahasiswa tidak mampu berpikir secara rasional dan berkepala dingin. terhadap sejumlah mahasiswa di Jakarta. membeda-bedakan orang berdasarkan suku. menunjukkan kemungkinan kecenderungan seperti itu. Psikologi Perkembangan. hasil penelitiannya membuktikan lain. khususnya dalam memilih presiden wanita. ras dan golongan. mahasiswa tidak mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. agama tetap merupakan hal yang tidak dapat dikritik. berarti bahwa faktor rasio yang seharusnya sudah terasah melalui proses pendidikan tinggi. Kondisi di atas sangat mungkin terjadi pada semua orang.bisa menjadi dasar pemikiran bahwa usia yang relatif matang dan tingkat pendidikan yang tinggi ternyata tidak menjamin mahasiswa lepas dari konflik. Dengan demikian. termasuk prasangka agama. tidak terkecuali pada mahasiswa sebagai komunitas terdidik. sudah terkontaminasi dan sarat kepentingan sehingga cenderung bersikap emosional primordial. Dalam penelitiannya. 2006. Penelitian Melissa. tidak mengubah pola pikir mereka jika menyangkut agama. Jika temuan                                                              15 Enung Fatimah. Sebab. Bandung: Pustaka Setia. yaitu bahwa untuk mahasiswa. agama. sehingga bebas prasangka.

google. agama. Hasilnya menunjukkan. kiranya dapat membantu untuk mengambil jarak dari persoalan-persoalan dan sanggup pula memberikan solusi-solusi yang dapat menolong semua orang. bahwa sebanyak 87. 2006. Sebab. bangsa ini akan menghadapi kesulitan yang cukup serius di masa yang akan datang. sehingga persoalan-persoalan yang dikemukakan di atas. ras dan golongan. juga merupakan keprihatinan mereka. hlm. Andreas A. khususnya yang menyangkut kehidupan antarumat beragama. Jakarta: RajaGrafindo Persada.17 Argumen tentang masih pentingnya posisi mahasiswa dalam ikut serta mengembangkan sikap toleransi beragama dapat merujuk pada hasil survei yang dilakukan SETARA Institute tahun 2008 terhadap 800 responden yang berumur antara 17-22 tahun dengan latar belakang agama beragam.4% responden dapat menerima fakta                                                              16Sarlito Wirawan Sarwono. Pergaulan mereka yang secara umum cenderung tidak membeda-bedakan suku. Psikologi Prasangka Orang Indonesia.Melissa ini benar dan berlaku umum. 92. hlm.16 Namun demikian. Yewangoe tetap memandang positif dan meyakini bahwa mahasiswa mampu tampil sebagai garda depan pengembangan toleransi dalam rangka peningkatan kerukunan umat beragama. 40.id/books. mahasiswa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.1% responden tidak menjadikan perbedaan agama dalam berteman sebagai halangan dan 67. Mahasiswa sebagai sebagai orang-orang intelektual dan masih muda tentu diharapkan akan sanggup memilih dan memilah persoalan dengan kritis dan obyektif.co. melainkan sudah merupakan gejala global.   11 .   17http://books. Hal yang lebih mencemaskan adalah bahwa gejala ini bukan hanya tipikal Indonesia.

Bertolak dari berbagai masalah dan kenyataan serta harapan seperti dikemukakan di atas. kendati survei SETARA Institute menunjukkan hasil mengembirakan terhadap kondisi toleransi kaum muda berbeda agama. sebagai modal akademis guna mengarahkan kehidupan sosial yang lebih kohesif di masa depan. modal sosial itu tidak berkembang dan terpasung.18 Dari elobarasi di atas dapat ditarik gambaran sementara bahwa setiap upaya meningkatkan toleransi di kalangan mahasiswa masih perlu dilakukan. dan keterbatasan teladan dari para penyelenggara negara. modal sosial (social capital) toleransi kaum muda sangat kuat sebagaimana teruji dalam beberapa indikator yang diajukan.perpindahan agama. pola indoktrinasi pendidikan kewarganegaraan. Dengan demikian. Sebab. 2008. B. termasuk partai politik tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional.   12 . karena para penyelenggara negara. Jakarta: SETARA Institute. Minusnya transformasi nilai-nilai Pancasila. menurut SETARA Institute. namun pada sisi lain masih ditemukan konflik sosial yang melibatkan mahasiswa. telah membentuk pemahaman kaum muda akan Pancasila mengalami kontradiksi. Identifikasi Masalah Setelah memaparkan posisi penting mahasiswa dalam mengembangkan sikap toleransi. maka diperlukan sebuah penelitian tentang toleransi mahasiswa berbeda agama pada perguruan tinggi. Dengan penelitian ini diharapkan akan diketahui toleransi dan apresiasi antarmahasiswa. Dalam perspektif psikologi diketahui                                                              18Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. baik intra maupun antarumat beragama. berikut akan ditelusuri faktor-faktor yang diduga menjadi sebab munculnya sikap toleransi dan intoleransi. Namun demikian.

sikap.bahwa toleransi dan intoleransi adalah karakteristik mental yang merupakan bagian dari perilaku manusia (behavior). dirasakan. Aspek kepribadian meliputi watak. Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. 92. organisasi tertentu. penyesuaian diri. dan diperbuat. sifat. Gagasan tersebut memberikan gambaran kesan tentang apa yang dipikirkan. baik di tingkat sikap. dan perasaan yang negatif dan tidak fair terhadap seseorang atau kelompok masyarakat yang lain (etnis. Kata prejudice diartikan M. Ainul Yaqin sebagai “sebuah penilaian akhir yang tidak dilandasi dengan bukti-bukti terdahulu”. hlm. keluarga. dan kemudian diperbuat seseorang terhadap orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat. keyakinan dan juga tindakan.   20Sarwono. Psikologi Pendidikan. Ia adalah sikap individu yang muncul ketika ia berhadapan dengan sejumlah perbedaan dan bahkan pertentangan. emosi. sikap dan perilaku intoleran misalnya. agama. dirasakan. 77. Jakarta: Bumi Aksara. sikap. yang terungkap melalui perilaku.   13 . dan lain                                                             19Saiful Mujani dkk. kewarganegaraan. 2005. 3. kepercayaan. dan motivasi. ras. kelas sosial.20 Artinya. pandangan. Jakarta: Nalar. hlm.cit. bisa dikatakan muncul dari apa yang dipikirkan. minat. op. secara umum. salah satunya disebabkan adanya prasangka negatif (negative prejudice). Sedangkan secara sosiologis. hlm. munculnya sikap toleransi dan intoleransi pada seseorang atau kelompok masyarakat dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan pengalaman. prejudice adalah sebuah opini. 2008. jenis kelamin.   21Djaali. yang tumbuh di tengah masyarakat.21 Artinya. partai politik.19 Kurt Lewin menyatakan bahwa sikap dan perilaku manusia merupakan fungsi dari kepribadian (personality) dan pengalaman (experience).

22 Nelson mengatakan. Untuk sampai pada identifikasi dan definisi diri itu. Dengan demikian. tentunya ada proses tertentu. Turner dan Tajfel. Pendidikan Multikultural.   14 . hlm. Yogyakarta: Pilar Media. prasangka merupakan suatu evaluasi negatif seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain. Bandingkan dengan Alo Liliweri. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. atau aku murid STM. aku muslim.lain). seperti etnik. dalam kehidupan. seperti dikutip Sarlito Wirawan Sarwono. 17.                                                              22M. jenis kelamin. dan golongan sosial. Beberapa di antara pengelompokan sosial yang paling sering dilakukan adalah ras. individu akan memasukkan dirinya ke dalam salah satu kelompok yang sudah diimajinasikannya sendiri. dan status sosial. misalnya aku orang Jawa. 199-203. agama. Hal ini kemudian dapat menciptakan munculnya persepsi ingroup-outgroup dalam perilaku kelompok. Yogyakarta: LKiS. definisi sosial mengenai siapa dirinya. manusia menyederhanakan dunia sosial dengan menggolong-golongkan berbagai hal yang dianggap mempunyai karakteristik yang sama ke dalam suatu kelompok tertentu. yaitu: (1) kategorisasi. agama. atau tidak tertutup kemungkinan bahwa orang melakukan pengelompokan sosial berdasarkan hal-hal lain. serta pendidikan juga berarti mencakup siapa yang bukan dirinya. semata-mata karena orang atau orang-orang itu merupakan anggota kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya sendiri. Menurut Turner dan Hogg. dan (3) membandingkan. Selanjutnya. Dalam kategorisasi sosial. menyatakan bahwa ada tiga hal yang dilakukan manusia dalam proses itu. 2005. etnik. individu selalu akan mengindentifikasikan dan mendefinisikan diri berdasarkan kelompok sosialnya. (2) identifikasi. Ainul Yaqin.

lebih baik. Islam bukan agama damai.cit. hlm. membandingkan adalah bahwa anggota ingroup selalu akan memandang kelompoknya sendiri lebih menyenangkan. tidak melindungi nilai-nilai moral. Selanjutnya. op. tidak toleran terhadap non-muslim. ketika individu berada dalam ingroupnya.   15 . tidak menghargai HAM. dan lain sebagainya. ada anggapan dari sebagian masyarakat muslim bahwa orang Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah merelakan orang Islam hidup dalam damai dan mencapai kemajuan. dan lebih positif dibanding anggota outgroup yang hampir selalu dipandang secara lebih negatif. Sebaliknya. Kecenderungan berpikir seperti itu merupakan bentuk dari outgroup homogeneity dan ingroup bias. mereka mempersepsi anggota kelompoknya memiliki keunikan dan berbeda dibandingkan kelompok lainnya. adanya prasangka atau anggapan umum dari sebagian masyarakat non-muslim di Barat bahwa orang Islam lebih suka melakukan kekerasan terhadap pengikut agama lain sebagai wujud dari pengamalan “jihad” dalam Islam. Kedua anggapan yang tidak berdasar dari kedua pemeluk agama yang berbeda ini adalah contoh dari prejudice                                                              23 Sarwono. tidak menghargai perempuan. karena kemajuan Islam dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Hal ini kemudian menyebabkan individu melakukan bias dalam memandang outgroup sehingga muncul stereotipe terhadap kelompok outgroup. 17-26.23 Prejudice biasanya cenderung melakukan generalisasi dalam melihat dan menilai seseorang atau kelompok lainnya tanpa memperdulikan kenyataan bahwa setiap individu mempunyai ciri-ciri dan karakter yang berbeda-beda.Selanjutnya. Prejudice dalam masalah agama misalnya.

Secara umum telah disinggung di atas. sedang aspek nonagama meliputi ekonomi.24 Prejudice yang kemudian tampil dalam bentuk sikap dan perilaku intoleran dapat dimiliki siapapun. Persoalannya sekarang.  16 . Tampak jelas. dan lainlain. mengapa prejudice dan sikap toleran atau intoleran itu muncul di kalangan mahasiswa. Jakarta: Paramadina. Dalam kasus di Yogyakarta. sosial. selain adanya mahasiswa yang bertindak kriminal.                                                              24Yaqin. budaya.cit. politik. 2003. Dalam kasus konflik di Ambon dan penelitian Melissa. Penerjemah Mun`im A. Sedangkan dalam kasus bentrok antara masyarakat dan mahasiswa SETIA. ketika mencermati bahwa beberapa konflik sosial di masyarakat ternyata melibatkan mereka. Selengkapnya baca Robert Spencer. fanatisme agama menjadi salah satu pemicunya. Ironisnya. juga ketidaktoleran mahasiswa terhadap lingkungan dengan membuang barang-barang yang dianggap tabu secara sembarangan di jalan kampung. Islam Ditelanjangi: Pertanyaan-pertanyaan Subversif Seputar Doktrin dan Tradisi Kaum Muslim (Islam Unveiled). tidak terkecuali para mahasiswa. Aspek agama meliputi fanatisme agama dan ketaatan serta penyiaran agama. Fanatisme agama dan ketaatan merupakan aktualisasi jiwa keagamaan yang dibentuk dari tradisi keagamaan. yang membuat masyarakat marah. tombol sentimen kesukuan dihidupkan sebagai pemicu bentrok. Sirry.yang sangat menyesatkan dan berbahaya bagi penciptaan kerukunan umat beragama. Asumsi ini tidak terlalu berlebihan. bahwa aspek agama dan nonagama dapat menjadi sebab sikap intoleran di kalangan umat beragama. sikap ini diwariskan oleh para senior ke yuniornya. loc. dalam kasus bentrok antara mahasiswa UKI dan YAI ada unsur fanatisme kelompok yang menganggap kelompoknya lebih hebat dibandingkan kelompok lain.

Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan dalam pembentukan kepribadian. (2) arahan dalam (inner directed). terjadi hubungan dengan benda-benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi). seperti institusi keagamaan dan sejenisnya. Jika kecenderungan taklid keagamaan tersebut dipengaruhi unsur emosional yang berlebihan. 1993. 88-96.   17 . sebagai jabaran tipe karakter. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agama agaknya tak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional. dan (3) arahan orang lain (other directed). David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter. Hubungan ini menurut tesis Erich Fromm berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. aspek emosional dipandang sebagai unsur dominan. Sikap eksklusif ini yang oleh Ian G. Barbour dalam Issues in                                                              25M. IV Th. David Riesman25 melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu di mana seseorang harus melakukan apa yang telah dilakukan nenek moyang. 1 Vol. hlm. “Keimanan Universal di Tengah Pluralisme Budaya: Tentang Kebenaran Agama dan Masa Depan Ilmu Agama” dalam Ulumul Qur’an. dan Plomin. Selain itu juga. No. perkembangan emosional merupakan sentral bagi konsep temperamen dan kepribadian. Suatu tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). Amin Abdullah.Mengacu kepada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi. Buss. maka terbuka peluang bagi pembenaran spesifik (truth claim) yang cenderung mengabaikan dialog yang jujur dan argumentatif. Dalam menyikapi tradisi keagamaan juga tak jarang munculnya kecenderungan seperti itu. yaitu: (1) arahan tradisi (tradition directed). Tetapi tulis Gardon Allport.

Dengan kata lain.27 Berdasarkan argumen di atas maka penelitian ini mengasumsikan bahwa tradisi keagamaan berpengaruh terhadap pembentukan sikap toleransi dan intoleran seseorang. xiii.26 Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama. Namun. Jalaluddin mengutipkan kisah dua ahli psikologi anak Prancis bernama Itard dan Sanguin yang pernah meneliti anak-anak asuhan serigala. Jalaluddin menyebutkan tiga lingkup pendidikan yang berpengaruh. “Relevansi Studi Agama di Era Pluralisme Agama” dalam Mohammad Sabri. 288-289. (2) pendidikan kelembagaan. 2007.   18 . 1999.   28Zakiyuddin Baidhawy. . Ketika ditemukan. yaitu: (1) pendidikan keluarga. ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (inner direct) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama. Amin Abdullah. pada umumnya para ahli mengakui peran pendidikan dalam menanamkan rasa dan sikap keberagamaan pada manusia. Guna menjelaskan tentang pentingnya pendidikan keluarga bagi pembentukan sikap seseorang. Sebab. Yogyakarta: Ittaqa Press. Selain tradisi keagamaan. kedua bayi tersebut tidak menunjukkan kemampuan yang                                                              26M.28 Kemudian. hlm.Science and Religion disebut-sebut sebagai ingridient yang paling dominan dalam proses pembentukan sikap dogmatism dan fanaticism. Sifat ini dibedakan dari ketaatan. Keberagamaan yang Saling Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial.cit.   27Jalaluddin. hlm. kedua bayi manusia itu sudah berusia kanak-kanak. Jakarta: Erlangga. Mereka menemukan dua orang bayi yang dipelihara oleh sekelompok serigala disebuah gua. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. dan (3) pendidikan di masyarakat. melalui pendidikan pula dilakukan pembentukan sikap keagamaan tersebut. op.

bahkan dia ditemukan pada usia 14 tahun. Dan terlihat pertumbuhan gigi serinya paling pinggir lebih runcing menyerupai taring serigala. Setelah dikembalikan ke lingkungan masyarakat manusia. namun di lingkungan pemeliharaan serigala potensi tersebut tidak berkembang. Keduanya juga berjalan merangkak dan makan dengan cara menjilat. Kondisi seperti itu tampaknya menyebabkan manusia memerlukan pemeliharaan. ternyata kedua anak-anak hasil asuhan serigala tersebut tak dapat menyesuaikan diri. dogmatisme dan fanatisme. karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia pada umumnya. Meskipun Manu seorang bayi manusia yang dibekali potensi kemanusiaan. 19 . anak yang ditemukan dalam asuhan serigala yang kemudian diberi nama Manu itu pun akhirnya mati. toleran atau intoleran. Contoh di atas menunjukkan bagaimana pengaruh pendidikan. Di sinilah peran penting pendidikan keluarga---di mana orang tua sebagai pendidiknya---memberikan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan sang anak. akhirnya mati. kecuali suara auman layaknya seekor serigala.seharusnya dimiliki oleh manusia pada usia kanak-kanak. Sebagaimana juga terjadi di Prancis. Apakah anak akan bersikap terbuka (inklusif) atau tertutup (eksklusif). Tak seorang di antara keduanya yang mampu mengucapkan katakata. sangat bergantung bagaimana orang tua menanamkan sikap keberagamaan kepada sang anak. pengawasan dan bimbingan yang serasi dan sesuai agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat berjalan secara baik dan benar. Peristiwa yang serupa pernah terjadi pula di India. baik dalam bentuk pemeliharaan ataupun pembentukan kebiasaan terhadap masa depan perkembangan seorang anak.

29 Pendidikan keluarga dan kelembagaan mempunyai masa asuhan yang terbatas. sedangkan masa asuhan pendidikan di masyarakat berlangsung selamanya. . dapat diartikan bahwa sikap toleran dan intoleran akan lebih efektif jika seseorang berada dalam                                                              29 30 Jalaluddin. Sebagai contoh adalah adanya tokoh-tokoh keagamaan yang dihasilkan oleh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan khusus seperti pondok pesantren. 273. Kenyataan sejarah menunjukkan kebenaran itu.30 Dengan demikian.Adapun mengenai pendidikan kelembagaan. lingkungan masyarakat akan memberi dampak dan besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan sebagai bagian dari aspek kepribadian yang terintegrasi dalam pertumbuhan psikis. Young menulis bahwa pendidikan keagamaan (religious pedagogyc) sangat mempengaruhi tingkah laku keagamaan (religious behavior). barangkali pendidikan agama yang diberikan di kelembagaan pendidikan ikut berpengaruh dalam pembentukan jiwa keagamaan anak. Ibid. 269-270. seminari maupun vihara. op. Berdasarkan penelitian Gillesphy dan Young. norma-norma kesopanan--dan itu berarti juga termasuk sikap toleransi dan intoleransi (pen. Jiwa keagamaan yang memuat normanorma kesopanan tidak akan dikuasai hanya dengan mengenal saja.)---menghendaki adanya norma-norma kesopanan atau sikap toleransi dan intoleransi pula pada orang lain. Menurut Emerson. Oleh sebab itu. hlm. para ahli mengaku kesulitan mengungkapkan secara tepat mengenai seberapa jauh pengaruh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan terhadap perkembangan jiwa keagamaan para anak.     20 .cit. walaupun latar belakang agama di lingkungan keluarga lebih dominan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak.

Apabila mahasiswa banyak berkecimpung dalam kegiatan intrakurikuler atau ekstrakulikuler yang di dalamnya tidak sedikit melibatkan mahasiswa beda agama.   21 .lingkungan yang menjunjung tinggi sikap-sikap tersebut. Sebagai contoh. hasil penelitian Masri Singarimbun terhadap kasus kumpul kebo di Mojolama. patut diduga dia mempunyai toleransi yang tinggi. yang diperoleh tanpa melalui daur hipotetiko-dedukto-verikatif (gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesa). sikap (aspek persuasif). namun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri                                                              31 Ibid. patut diduga pula dia mempunyai toleransi yang tinggi. Pengetahuan adalah semua buah pikiran dan pemahaman kita tentang dunia. 274. Apabila mahasiswa tinggal di lingkungan masyarakat yang beragam pula . dan keterampilan (aspek psikomotorik). atau tanpa metode ilmiah. Apabila dia hidup dalam sebuah keluarga atau kerabat yang mungkin menganut agama yang beragam. Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu. Ia menemukan 13 kasus kumpul kebo ini ada hubungannya dengan sikap toleran masyarakat terhadap hidup bersama tanpa nikah. yakni pengetahuan (aspek kognitif). Dalam ilmu psikologi sosial dinyatakan bahwa perilaku seseorang dapat dibedakan menjadi tiga aspek penyusunnya. Artinya apa. bahwa situasi dan kondisi pergaulan seseorang akan sangat menentukan tingkat toleransinya. di mana kasus seperti itu mungkin akan lebih kecil di lingkungan masyarakat yang menentang pola hidup seperti itu.31 Dari penjelasan di atas maka dapat diasumsikan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap pembentukan sikap toleran dan intoleran.

22 . menurut Ajzen (1988) bahwa keyakinan tentang konsekuensi perilaku dan penilaian tentang keyakinan akan menumbuhkan sikap seseorang terhadap sesuatu obyek. Oleh sebab itu. dan mengatakan bahwa semua ajaran (agama) yang berbeda dan bertentangan dengan agamanya adalah ajaran yang salah. Faktor agama meliputi fanatisme sempit dan pelaksanaan misi atau dakwah agama. setiap pemeluk agama musti meyakini agamanya sebagai kebenaran yang mutlak (absolut). keyakinan ini harus diletakkan dalam sisi subyektifitas dan obyektifitas. orang tersebut harus memberi hak kepada pemeluk agama lain untuk berkeyakinan dan mengatakan hal yang serupa.manusia itu. Lebih spesifik lagi keterampilan ini dapat bermakna kemampuan (ability) yang menggambarkan suatu sifat (bawaan atau dipelajari) yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang bersifat mental atau fisik. Pertama. Dalam taksonomi Bloom. yaitu faktor agama dan faktor nonagama. penyebab munculnya intoleransi terbagi ke dalam dua faktor. Keberagamaan manusia erat kaitannya dengan masalah keyakinan yang bersifat subyektif dan emosional. keterampilan ini merupakan terjemahan dari psychomotor yaitu kompetensi yang berkaitan dengan tugas dalam suatu sistem dan perilaku sistematis yang relevan untuk mencapai tujuan. Namun pada sisi obyektif. Namun demikian. secara garis besar. Sikap tersebut bersama-sama dengan norma subyektif yang mereka miliki selanjutnya melahirkan intensi untuk berperilaku. fanatisme sempit. Alimron menjelaskan. Secara subyektifitas seorang penganut suatu agama lebih jauh akan meyakini bahwa agamanyalah sebagai satu-satunya agama yang benar. Hubungan antara sikap dan perilaku seseorang.

32 Kedua. dan tidak toleran terhadap perbedaan. Dalam hal ini permasalahan akan muncul jika masing-masing umat beragama hanya mengutamakan sisi subyektifitasnya dan mengabaikan obyektifitas. Fanatisme positif adalah sikap fanatik yang bertolak dari pemahaman dan penghayatan ajaran agama. positif dan negatif. dan reaktif.Tidak bisa dipungkiri bahwa semua pemeluk agama mempunyai keyakinan sebagai tersebut di atas. Padang: IAIN Imam Bonjol. Tesis. Tugas ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh pemeluk agama yang bersangkutan. Hal ini sikap eksklusivisme agama. ada kategori fanatisme. juga mau mengerti dengan pengalaman beragama orang lain.   23 . Misi atau dakwah agama merupakan tugas suci bagi tiap pemeluk agama. atau bahkan berupaya memaksakan kemutlakan subyektif kepada orang lain. sehingga terbentuk pribadi yang teguh dalam memegang ajaran agamanya. serta cenderung lebih mengutamakan konfrontatif dengan pihak lain. Dalam hal ini. Toleransi Antarumat Beragama dalam Perspektif al-Quran. Memang dalam penganutan suatu agama harus didukung dengan fanatisme ini. fanatisme ini seringkali melahirkan sikap keberagamaan yang eksklusif. Implikasi dari fenomena ini adalah lahirnya sikap eksklusif yang tertutup. Sedangkan fanatisme negatif adalah sikap fanatik yang tidak didasarkan pada pemahaman dan penghayatan ajaran agama yang benar atau hanya berdasarkan taqlid semata. demi untuk mempertahankan ekstensinya atau untuk menyelamatkan                                                              32Alimron. 1999. Dalam tataran praktis. pelaksanaan misi atau dakwah agama. tetapi pada waktu yang sama. intoleran. otoriter. defensif. 21-25. merasa benar sendiri. hlm. Jika tidak agama tersebut akan kehilangan nilai dan makna bagi penganutnya bahkan besar kemungkinan akan terancam eksistensinya.

yakni Islam dan 24 . jarang ada pertentangan atau ketegangan yang terjadi adalah ketegangan antara sesama agama misioner. dapat menimbulkan intoleransi beragama dan mengakibatkan tegangnya hubungan antara kedua masyarakat pemeluk agama bersangkutan. jika perlu dengan paksaan. karena keduanya sama-sama mengklaim sebagai agama universal. Selain itu. karena keyakinan bahwa agamanyalah yang benar. timbullah usaha-usaha untuk menunjukkan kesalahankesalahan agama orang lain sambil menyatakan kebenaran agamanya sendiri yang kemudian dilanjutkan lagi dengan usaha-usaha untuk menarik pemeluk agama lain untuk mengubah agamanya. Didorong oleh keinginan untuk memberi petunjuk kepada orang lain yang dianggap sesat dan untuk menyelamatkan sesama manusia. penyebaran agama merupakan konsekuensi logis dan bagian inherent dalam agama masing-masing. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari keyakinan akan kemutlakan ajaran agamanya. ia memandang agama lain salah. apalagi kalau agama yang bersangkutan diklaim sebagai agama yang universal. yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Karena itu. Dalam hal ini ketegangan dalam penyebaran agama muncul ketika caracara yang digunakan dirasakan kurang wajar itu. Oleh karena itu. bagi Islam dan Kristen. tulisan maupun lisan yang mnyudutkan atau merendahkan agama lain. Buddha.manusia dari kesesatan. yang lebih mengutamakan pada aspek pembinaan pribadi pemeluknya. dan Khonghucu misalnya. sifat misionaris ini paling konkret memang terlihat pada Islam dan Kristen. dibumbui dengan ungkapan-ungkapan. Dari agama-agama yang ada. Berbeda dengan agama Hindu. Pemeluk agama demikian merasa dirinya berkewajiban untuk menyiarkan agamanya kepada seluruh manusia. Upaya-upaya ini pada mulanya mungkin didasari niat baik. pemeluk agama itu tidak akan mencapai keselamatan.

menghina atau menjelek-jelekkan agama atau penganut agama lain. pada dasarnya lebih didominasi oleh faktor-faktor eksternal tersebut.33 Berdasarkan elaborasi di atas dapat diidentifikasi beberapa faktor yang diduga mempengaruhi sikap toleran                                                              33 Ibid. sentimen agama telah dijadikan alat atau pemicu untuk membangkitkan emosi masyarakat sehingga termobilasi untuk melakukan tindakan destruktif dan kekerasan. Oleh karena itu.Kristen. Selain karena sentimen keagamaan di atas. Dalam hal ini faktor agama sebenarnya hanya menempel saja pada faktor-faktor tersebut. serta cara keberagamaan para pemeluknya. seperti politik. Sebagai contoh. sebagaimana telah disinggung di atas. Sedangkan faktor nonagama dijelaskan Alimron. dan sosial budaya yang lain. dengan kata lain. melainkan bertolak dari pengertian dan pemahaman ajaran agama. maka perlu diwujudkan adanya modus vivendi (cara hidup bersama) yang mengatur hubungan atau pergaulan antarumat beragama. melainkan bertolak dari pengertian dan pemahaman ajaran agama yang kurang utuh dan benar (kaffah). munculnya intoleransi antarumat beragama pada hakikatnya bukanlah berasal dari ajaran agama. secara hakiki. berbagai kerusuhan dan konflik yang melibatkan antarumat beragama di Indonesia. pada dasarnya tidak ada agama di dunia ini yang lahir untuk bermusuhan. termasuk tentang tata cara dan kode etik penyiaran agama. Baik pada agama samawi (agama dengan kitab suci dari nabi) maupun agama ardhi (agama tanpa kitab suci dan nabi). Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.   25 . intoleransi dalam kehidupan beragama juga dapat timbul karena adanya pengaruh dari faktor-faktor lain. ekonomi.

34 Banyaknya faktor yang diduga mempengaruhi sikap toleran dan intoleran mahasiswa menunjukkan bahwa masalah toleransi merupakan masalah yang kompleks. pendapatan. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press & Pustaka Pelajar. dan lain-lain. sosial-budaya. seperti pengalaman. Pembatasan Masalah Sebagaimana telah diuraikan di atas.   26 . dalam rangka lebih fokus. Artinya. usia. tradisi keagamaan. jenis kelamin. dan sebagainya). persepsi ingroup-outgroup.dan intoleran mahasiswa. akademik. Pribadi dan kepribadian bisa meliputi aspek genetis. C. masyarakat). pemahaman keagamaan. tradisi keagamaan. pola pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga. pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda. 2009. interaksi dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler. atau pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda. pengetahuan dan pemahaman keagamaan. penyiaran agama. pendidikan di masyarakat (lingkungan homogen atau heterogen. di antaranya kepribadian (personality). serta eksternal mahasiswa. Namun. pekerjaan. seperti pribadi dan kepribadian. politik. Ideologi Kekerasan: Argumentasi Teologis-Sosial Radikalisme Islam. masalah ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja tetapi harus dilihat dari berbagai sudut pandang. fanatisme keagamaan. penelitian ini hanya membatasi diri pada upaya untuk mengkaji lebih jauh                                                              34Agus Purnomo. Sedangkan kondisi eksternal---pengalaman--bisa meliputi aspek pendidikan kelembangaan (sekolah. prasangka (prejudice). faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya sikap toleransi dan intoleransi cukup banyak. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi internal mahasiswa. sikap inklusifeksklusif. pesantren). lingkungan pendidikan (keluarga. ekonomi.

Apakah keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 9. dan lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 5. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 8. Apakah hasil belajar pendidikan agama berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 10. maka rumusan masalah penelitian ini dikonstruksikan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. dan pembatasan masalah di atas. D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap keterlibatan organisasi? 2. Apakah keterlibatan organsiasi berpengaruh langsung terhadap hasil belajar? 4. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap hasil belajar? 3. Apakah hasil belajar berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 7.mengenai pengaruh kepribadian. hasil belajar pendidikan agama. keterlibatan organisasi. identifikasi. Apakah lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 27 . Apakah keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 6.

yaitu mengkaji: 1. Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama 10. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan 28 . Pengaruh pendidikan terhadap toleransi beragama F. 2. Pengaruh keprbadian terhdap lingkugan pendidikan 5. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan 6. penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan bagi penyusunan dan pengembangan kurikulum nasional pendidikan agama di perguruan tinggi umum. Pengaruh hasil belajar terhadap pendidikan 7. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar 3.E. Bagi Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama 8. Kegunaan Hasil Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi para pihak berkepentingan mengetahui gambaran toleransi mahasiswa berbeda agama perguruan tinggi umum negeri. yaitu: 1. Pengaruh kepribadian terhada keterlibatan organisasi 2. Bagi Pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama). Pengaruh beragama keterlibatan organisasi terhadap toleransi 9. Pengaruh keterlibatan organsiasi terhdap hasil belajar 4. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah guna menjawab 10 butir rumusan masalah di atas.

3. penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penyusunan kurikulum lokal pendidikan agama yang berbasis kemajemukan. penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan sosialisasi nilai-nilai kerukunan dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab dalam memberikan penyadaran tentang toleransi beragama. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam menyusun model pembinaan keagamaan dalam rangka menciptakan toleransi beragama di kalangan mahasiswa berbeda agama. 5. Selain itu. Agama untuk menyediakan data bagi pemerintah dalam perumusan kebijakan pendidikan agama di perguruan tinggi umum. Bagi Mahasiswa. penelitian ini juga sebagai pengejawantahan tugas dan fungsi Badan Litbang dan Diklat Dep. Bagi Perguruan Tinggi Umum.terukur dalam menggali akar masalah intoleransi beragama di kalangan mahasiswa perguruan tinggi umum. Selain itu. penelitian ini diharapkan sebagai bahan renungan bersama dan pengetahuan bagi mahasiswa untuk mengembangkan wawasan toleransi beragama di komunitas mereka. Bagi Masyarakat. 29 . 4.

30 .

hlm. hasil belajar pendidikan agama. 191. Variabel Kepribadian (X1) Disiplin ilmu psikologi menjelaskan bahwa istilah yang dikenal untuk kepribadian bermacam-macam. 1. Jakarta: RajaGrafindo Persada. yang dalam Webters Dictionary dijelaskan sebagai the totality of personality’s characteristic dan an integrated group of constitution of trends behavior tendencies act. Psikologi Agama. yang secara konseptual barangkali tidak banyak diketahui. sehubungan penelitian ini. (b) personality.1                                                              1Jalaluddin. dan toleransi beragama. keterlibatan organisasi.BAB II PENYUSUNAN KERANGKA TEORITIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. yaitu variabel kepribadian. yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. Oleh karena itu. Deskripsi Teoritik ebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa terdapat lima variabel penelitian. adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainnya.   S   31 . pengertian dari masing-masing variabel tersebut perlu dijelaskan terlebih dahulu guna menghindari kesalahpahaman terhadap pengertian dan batasan konsep lima variabel penelitian tersebut. dan (d) identity. di antaranya adalah: (a) mentality. (c) individuality. lingkungan pendidikan. 2008. yaitu sifat kedirian sebagai suatu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (unity and persistance of personality).

Aspek kepribadian meliputi watak. minat. Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pribadi adalah “aku yang sejati” dan kepribadian merupakan “penampakan sang aku” dalam bentuk perilaku tertentu. kepribadian merupakan                                                              2Djaali. May. Morrison. Judd. emosi. dan diperbuat. David Lykken mengatakan bahwa kepribadian sebagai suatu perangai dan langkah serta semua kekhasan yang membuat orang berbeda dari orang lain. pribadi (persona. hlm. Woodworth. Hartmann. sikap. tetapi uraian paling lengkap adalah yang dikemukakan oleh G. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris person. dirasakan.H. penyesuaian diri. kepribadian adalah organisasi (susunan) dinamis dari sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. dan diperbuat yang terungkap melalui perilaku. yang terungkap melalui perilaku. dan C. sedang kepribadian (personality. Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. Allport.   32   . yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai perseorangan. diri manusia atau diri orang sendiri. personeidad) adalah akar struktural dari kepribadian. 3. dirasakan.W. Jakarta: Bumi Aksara. 2008. Psikologi Pendidikan. sifat.P. L. Sumber lain melihat. dan motivasi.2 Hariwijaya menyatakan. Dikatakan bahwa. Banyak definisi tentang kepribadian sebagaimana dikemukakan oleh Mark A. Di sini muncul gagasan umum bahwa kepribadian adalah kesan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang dipikir.Personality atau kepribadian berasal dari kata persona yang berarti topeng. personalidad) adalah pola perilaku seseorang di dalam dunia. Thorp. Gagasan tersebut memberikan gambaran dan kesan tentang apa yang dipikirkan.

Sedangkan contoh karakteristik mental adalah kebijaksanaan. terdapat dua unsur pembentuk kepribadian yang saling mempengaruhi. 1. (d) kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis. (c) kata kepribadian menyatakan ketentuan tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang. maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah perangai atau perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi dinamis antara karakteristik fisik dan mental pada diri individu yang berkembang sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya. senyum. Kombinasi yang muncul dari keduanya merupakan kepribadian seseorang. yaitu hereditas (fisik dan mental) dan lingkungan. dan (e) kepribadian tidak berkembang secara pasif saja. Berdasarkan elaborasi di atas. (b) kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dan keseluruhan itu. dan sebagainya. toleransi dan ketekunan. setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial. Contoh karakteristik fisik misalnya pandangan mata. 2009. sosok tubuh. Adanya kedua unsur yang membentuk                                                              hlm. seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang. Tes Kepribadian. perangai.3 Selanjutnya Wetherington menjelaskan bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.kesatuan unik dari ciri-ciri fisik dan mental yang ada dalam diri seseorang.   33 . Dengan perkataan lain. Hariwijaya.   3M. Yogyakarta: Media Ilmu.

berminat terhadap keanekaan.5 Berkenaan dengan kepribadian. yang merupakan hasil dari proses mentipekan (typication) yang mengacu pada ciri tipikal kualitas individu atau orang. benda-benda. sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan. hati-hati dalam mengambil keputusan.cit. Carl Gustav Jung menjelaskan bahwa kepribadian dalam individu dapat dibedakan antara dua sisi yang introvert dan extrovert. maka para psikolog cenderung berpendapat bahwa tipologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kepribadian yang unik dan bersifat individu yang masing-masing berbeda. “Tipologi dan Praktek Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”.M. oleh karenanya tipologi merupakan satu kategori niskal yang memiliki acuan empirikal. pemalu. hlm. Makalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII. bebas dan terbuka secara sosial. sikap. sigap dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaan yang lamban. M. Hukum dan HAM RI. Pada diri yang introvert umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri.   5Jalaluddin. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan.kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi4 dan karakter. dan suka bekerja kelompok. Individu yang extrovert pada umumnya memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar. tetapi rajin. dan cenderung tertutup secara sosial. Billah. 14-18 Juli 2003. diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Dep. 4. Beranjak dari pemahaman tersebut. 282-283. suka bekerja sendiri. Extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dari dirinya. Sebaliknya karakter menunjukkan bahwa kepribadian manusia terbentuk berdasarkan pengalaman dengan lingkungan. keputusan yang diambil lebih ditentukan oleh                                                              4Tipologi (typology) adalah satu skema klasifikatori. hlm. Denpasar. atau peristiwa.   34   . sehingga segala minat. op. tenang.

maka barulah dapat dianggap seseorang mempunyai kepribadian satu dari kedua tipe itu. introvert menunjukkan tempat tertutup dan lebih berhati-hati. pemikiran. mereka tenang. pengambilan keputusan agak terlepas dari kendala dan penelaahan mengenai situasi. dan ramah tamah. suka berteman. Pada dasarnya orang yang introvert cenderung pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri. dan pengalamannya sendiri. Meskipun demikian.peristiwa yang terjadi di luar dirinya. keduanya masing-masing memiliki kecenderungan ciri stable dan unstable. Adapun tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. Pada perkembangan melalui adaptasi maupun intervensi terhadap lingkungan. Pada dasarnya orangorang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. aktif. perorangan atau benda di sekitar mereka. dan bila seseorang menunjukkan reaksi semacam itu secara kontinyu atau dengan kata lain reaksi semacam itu lelah menjadi kebiasaan. rajin. kebudayaan. dan keputusan yang diambil selalu didasarkan perasaan. bekerja sendiri. sebagian individu mengadakan penyesuaian. dan agak tertutup secara sosial. Umumnya mereka sudah senada dengan kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya. sehingga menjadi sifat yang   35 . sikap. Minat. Umumnya orang introvert tidak suka diinterupsi apabila sedang bekerja dan cenderung melupakan muka dan nama orang. Meskipun demikian baik extrovert dan introvert hanya merupakan suatu tipe reaksi yang terus menerus. Di samping penampakkan umum tersebut. serta berupaya untuk mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan lingkungan.

dan tertib/teratur. tidak serius. Bandung: Sekolah Pascasarjana & Remaja Rosdakarya. dan stabil. sulit menyesuaikan diri. (c) Koleris. Juntika Nurihsan. tidak mau mengalah. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar selalu merasa kurang puas.ambivalen. tidak peduli (acuh tak acuh). konsekuen. pesimistis. kurang percaya diri. Sifat lainnya merasa cukup puas. kurang dapat dipercaya karena kurang begitu konsekuen. netral (tidak ada warna perasaan yang jelas).7                                                              op. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar periang. Demkian juga seseorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan tetapi percaya diri yang semakin berkurang akan cenderung bergerak ke arah introvert.cit. suka membuat provokasi. Sifat perasaannya mudah menyesuaikan diri. 2008. sedih.6 Berbeda dengan Jung. Sifat lainnya merasa tertekan dengan masa lalunya. hlm. (b) Melankolis. tidak sabaran. tidak stabil. Sifat-sifat lainnya mudah tersinggung (emosional). tidak toleran. dan suka menepati janji.   Yusuf LN dan A. sangat hemat. 36   . optimistis. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pemurung. tidak mempunyai banyak minat. yakni sifat di antara introvert dan extrovert. 11-12. Seseorang yang mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke arah extrovert. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pendiam. bereaksi negatif dan agresif. 26. dan percaya diri. dingin hati (tak mudah terharu). baik hati. kurang mempunyai rasa humor. dan banyak inisiatif (usaha). jauh sebelumnya Galenus membagi secara umum kepribadian manusia menjadi empat kriteria yaitu: (a) Sanguinis. pasif.   7Syamsu 6Djaali. cenderung beroposisi. bersifat lambat. berhati-hati. tenang. Teori Kepribadian. dan (d) Plegmatis. hlm.

Sedangkan Hariwijaya menjelaskan. serta mampu mengilhami orang lain untuk ikut serta. Ia sangat menghargai dan menjunjung tinggi keindahan. Karena itu ia sering dicemburui orang lain. lugu dan polos dalam sikap. serius dan tekun. gigih dan cermat. kreatif dan inovatif. Ia akan memendam emosinya demi menjaga harmoni. Ia mempunyai daya improvisasi yang tinggi sehingga pintar mencegah saat-saat membosankan dengan kegiatan spontan. standar tinggi. Seorang Sanguinis adalah sukarelawan untuk tugas. Ia pandai untuk mempesona dan mendorong orang lain untuk bekerja. Ia adalah orator yang baik di panggung. teratur   37 . mulai dengan cara cemerlang. Ia cenderung jenius. artistik atau musical. ia juga pandai memainkan emosi orang lain. suka berkorban. antusias dan ekspresif. tampak hebat di permukaan. emosional dan demonstratif. idealis. mudah diubah jika memang ada ide yang lebih baik. secara fisik mampu memukau pendengar. Sebagai rekan. hidup di masa sekarang. Ia realistis dalam cita-cita. punya energi dan antusiasme. berhati tulus dan kadang kekanak-kanakan. Ia mempunyai ingatan kuat untuk warna. Bukan hanya pandai mengontrol emosinya sendiri. rasa dan gaya. Kepalanya penuh dengan rasa ingin tahu. tertib dan terorganisasi. Ciri emosi orang Melankolis adalah pemikir yang mendalam. analitis. berbakat dan kreatif. Di dalam forum. perfeksionis. periang dan penuh semangat. suka dipuji dan selalu tampak menyenangkan. perasa terhadap orang lain. orang Melankolis berorientasi pada jadwal. pandai bicara. Di dalam hubungan dengan pekerjaan. pandai menghidupkan forum dan punya rasa humor yang hebat. orang Sanguinis mudah berteman karena ia mencintai orang. sadar perincian. bahwa emosi orang Sanguinis umumnya menarik. meski ia bukan pendendam dan cepat minta maaf jika merasa bersalah. memikirkan kegiatan baru. penuh kesadaran. filosofis dan puitis.

terharu oleh air mata penuh dengan belas kasihan. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyaman dan bergerak menuju tujuan mereka. melihat seluruh gambaran. Dalam pengeluaran ia ekonomis. Orang melankolis hati-hati dalam berteman. merangsang kegiatan. perlu menyelesaikan apa yang dimulai. Salah satu sifat penting orang Koleris adalah disiplin tinggi. unggul dalam keadaan darurat. Seorang Koleris tidak terlalu perlu teman. bebas dan mandiri. membuat target. biasanya selalu benar dan paling bijak. memancarkan keyakinan. tidak mudah patah semangat. Mereka mampu 38   . berkembang karena saingan. mau bekerja untuk kegiatan. Keduanya menguntungkan bagi dia. Ia lebih puas tinggal sebagai orang kedua dalam sebuah organisasi dan menghindari perhatian. menekankan pada hasil. mau memimpin dan mengorganisasi. daftar. grafik. bergerak cepat untuk bertindak. suka diagram.dan rapih. sangat memerlukan perubahan. mau mendengarkan keluhan. tidak emosional bertindak. melihat masalah secara cermat hingga mendapat pemecahan kreatif. berkemauan kuat dan tegas. mencari pemecahan praktis. mencari teman hidup ideal. Pemimpin yang berjiwa Koleris adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakan orang lain untuk melangkah. Ciri emosi orang Koleris berbakat sebagai pemimpin karena ia dinamis dan aktif. dan bisa menjalankan apa saja. Seorang Koleris berorientasi target. sangat memperhatikan orang lain. mampu bekerja sendiri maupun berkelompok. Emosinya sangat terjaga jika tidak dimulai oleh suatu pelanggaran kode etik yang mengganggu pribadinya. mendelegasikan pekerjaan. Ia akan memperoleh banyak pendukung dari teman-teman dekatnya. Ia fleksibel. bagan. Meski demikian orang Melankolis setia dan berbakti. bisa memecahkan masalah orang lain. progresif memperbaiki kesalahan. Kendali emosinya sangat tinggi. berorganisasi dengan baik.

op. op. atau bagi mahasiswa. kehidupan kampus melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan atau sejenisnya. antusiasme. Pengayaan pengalaman ditentukan oleh seberapa besar keinginan seseorang terlibat dalam kegiatan sosialkemasyarakatan. dan tindakan para pengikut. Kesempatan                                                              8M. Jakarta: Bumi Aksara.blogspot. 22. Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) Salah satu sikap manusia ditentukan oleh pengalaman. sebagaimana dikutip Sismarni. Miftah Thoha mengatakan bahwa dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain.     39 .membangkitkan gairah. Agus Sujanto. 2008. Keterlibatan atau partisipasi menurut Soerjono Soekanto merupakan setiap proses identifikasi atau menjadi peserta. manusia menginginkan penampilannya sebaik mungkin agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Halem Lubis.lppbifiba. ditentukan oleh adanya daya tarik. Keinginan untuk terlibat dalam organisasi kemahasiswaan sesungguhnya merupakan pemenuhan kebutuhan untuk hidup bermasyarakat (live of society) ataupun kehidupan berkelompok (live of group).8 2. 195. Oleh karena itu. Daya tarik ini ditimbulkan oleh adanya interaksi antara sesama organisasi. Bila seseorang jarang melihat atau berbicara dengan pihak lain. keterlibatan seseorang dalam berorganisasi atau berkelompok. akan sulit dapat tertarik.9 Dalam hidup bersama atau berkelompok.com. dan Taufik Hadi. “Teori Partisipasi dalam Dinamika Sosial” dalam www. Jalaluddin. Psikologi Kepribadian. hlm. hlm. suatu proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu.cit.cit.   9Soerjono Soekanto (1993: 355). Hariwijaya. 118-130. hlm.

dikemukakan oleh George Hommans yang melihat keterlibatan itu didasarkan pada aktifitas-aktifitas. Selanjutnya Thoha menyebutkan keterlibatan juga didasarkan atas alasanalasan praktis (practicalities of group formation). Teori lain. maka semakin banyak pula kemungkinan ditularkannya aktifitasaktifitas dan interaksi-interaksi. Karyawankaryawan suatu organisasi. maka semakin banyak kemungkinan aktifitas dan sentimen yang ditularkan kepada orang lain. Menurut Thibaut dan Kelly. keterlibatan itu didasarkan atas teori kedekatan.berinteraksi ini secara langsung mempunyai pengaruh terhadap daya tarik dan pembentukan kelompok. Ketiga elemen ini saling berhubungan secara langsung dengan alasan bahwa semakin banyak dilakukan aktifitas seseorang dengan hal yang berhubungan dengan orang lain. Kemudian semakin banyak interaksi antara seseorang dengan yang lainnya. interaksi-interaksi dan sentimen-sentimen (perasaan ataupun emosi). semakin beraneka interaksinya dan juga semakin kuat tumbuhnya sentimen-sentimen mereka. misalnya. Dan yang terakhir. akan mengelompok atas alasan ekonomi. Menurut teori ini. Yang terpenting dalam teori ini adalah bahwa kelompok-kelompok itu cenderung memberikan kepuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial yang mendasar dan substansial dari orang-orang yang mengelompok tersebut. Di samping itu juga. seseorang tersebut dapat berhubungan dengan orang lain karena adanya kedekatan ruang dan daerahnya (spatial and geographical proximity). semakin banyak aktifitas yang ditularkan kepada orang lain dan semakin banyak sentimen seseorang dipahami oleh orang lain. teori persamaan sikap dan teori saling melengkapi. bahwa terbentuknya suatu organisasi didasarkan atas teori tukar menukar. keamanan dan sosial. Menurut teori 40   .

pada hakikatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. menurut Helbert dan Ray keterlibatan seseorang dalam berorganisasi didasarkan pada keinginan untuk memuaskan tujuan-tujuan pribadinya. Organisasi dapat menuntunnya untuk mencapai cita-citanya yang tidak dapat dicapai dengan sendirian. Menurut teori tukar menukar ini. Hal itu akan sulit atau kurang memungkinkan untuk diselesaikan tanpa keterlibatan organisasi. Seseorang selalu mendapatkan imbalan berupa kepuasan atau terpenuhinya sebahagian kebutuhannya. Dengan memasuki suatu organisasi. perumahan.tukar menukar ini.     41 . Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya. Dasar lainnya ialah karena organisasi merupakan mobilitas bagi usaha pencapaian tersebut. Festinger mengatakan bahwa orang yang memasuki suatu kelompok sosial. seseorang akan mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya termasuk apa yang baik.10] Sementara itu. seseorang menciptakan dan memelihara hubungan antarperorangan karena ia berpendapat bahwa imbalan yang diperolehnya masih lebih besar daripada ongkos yang harus ia keluarkan. organisasi juga menjadikan seseorang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan atau menyempurnakan barang-barang (dalam arti luas) yang termasuk dalam tujuan pribadi. interaksi dalam suatu kelompok terjadi dalam proses tukar-menukar antara imbalan (reward) dengan ongkos (cost) dalam setiap terjadinya interaksi. gagasan dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan sosial. pangan. air. Kemudian keterlibatan juga untuk memenuhi kebutuhan biologis seperti sandang. yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan.                                                              10Ibid. Di samping itu.

justru akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain. Menurut Abdulsyani. Karena naluri manusia itu ingin hidup bersama atas kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. selain akan memperoleh informasi berharga. proses untuk mencapai tujuan tersebut dapat melalui kerjasama dan berfikir secara bersama-sama pula. tetapi justru karena adanya perbedan-perbedaan yang tercipta. tanggapan dan saran. dalam merasakan kekurangan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. dalam usaha untuk memenuhi kehendak dan kepentingan tersebut. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. Karena itu. Selain itu. seseorang tertarik untuk mengadakan interaksi bukan karena adanya kesamaan sikap. Melalui keterlibatan organisasi. juga untuk mengharapkan sejumlah keuntungan atau kontribusi tertentu dari organisasi dan menyempurnakan tujuan-tujuan tertentu. menurut Witch bahwa tertariknya seseorang untuk melakukan interaksi di tentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary).   42   . sehingga akan terwujud saling pengertian dan toleransi antaranggota.                                                              11Ibid. Dengan demikian. tidak dapat dilakukan sendirian melainkan harus dilakukan secara bersama-sama.udara dan lain-lain guna mempertahankan hidupnya. keterlibatan seorang dalam kelompok didasarkan karena hasratnya untuk bersatu dengan manusia-manusia yang lain disekitarnya. Para mahasiswa yang terlibat dalam organisasi diasumsikan memiliki cakrawala pandang yang luas dan toleran terhadap orang lain.11 Paparan di atas menggambarkan keuntungan yang dapat diperoleh oleh seseorang bila terlibat dalam organisasi. Adanya perbedaan. ide-ide berharga. Artinya. Sementara itu. misalnya.

3.13 Sedangkan keagamaan artinya “yang berhubungan dengan agama”. ada dua jenis organisasi kemahasiswaan. yang dalam kaca mata Wade Clark Roof sebagai hasil pengembangan gagasan Durkheim memiliki unsur: (a) kepercayaan (beliefs). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). pengetahuan keagamaan dapat didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang diketahui. Lembaga Dakwah Kampus. pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi. yaitu yang bersifat intrakampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan. Dengan demikian. akidah. dan lain-lain. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).12 Definisi lain. Jakarta: Balai Pustaka. (b) ritus (ibadah).   13Israq.wordpress. Dalam konteks kemahasiswaan. 1121. dan pikiran-pikiran. dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitar.israq. dan lain-lain serta ekstrakampus. kepandaian atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). 2005. Badan Eksekutif Mahasiswa.Sedangkan organisasi (organization) artinya sistem disiplin yang mengatur sejumlah manusia dalam melaksanakan usaha sosial atau politik berdasarkan azas-azas dan mengikuti metode-metode yang terarah. dan (c) komunitas moral. “Substansi dan Definisi Pengetahuan” dalam www. Senat Mahasiswa Fak.     43 . Kamus Besar Bahasa Indonesia.com. seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hlm. kepandaian atau segala sesuatu yang berkenaan                                                              12Tim Penyusun. keterampilan. informasi. tradisi. Pengetahuan ini meliputi emosi. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui. persentuhan.

dan E (sangat kurang).dengan agama yang meliputi aspek kepercayaan. Sebaliknya. penguasaan pengetahuan keagamaan diukur melalui huruf dan angka tertentu. Dengan penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat baik maka diasumsikan mempunyai sikap toleransi beragama yang sangat baik pula. Artinya. D (kurang). sebab                                                              dengan pengertian pengetahuan keagamaan menurut Endang Saifuddin Anshari dalam Ilmu. dengan penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat kurang maka diasumsikan mempunyai sikap toleransi beragama yang sangat kurang pula. Huruf A diasosiasikan sebagai simbol yang mewakili penguasaan pengetahuan keagamaan yang tertinggi (kategori sangat baik). dan komunitas moral”. Asumsi di atas tentu tidak baku. Surabaya: Bina Ilmu. C = 2. karena antara aspek kognitif (pengetahuan keagamaan) dan psikomotorik (toleransi beragama) tidak selalu mempunyai hubungan sebab-akibat. ritus. biasanya dalam 5 kategori: A = 4. Banyak faktor---sebagaimana akan diuraikan pada penjelasan tentang toleransi beragama---yang mempengaruhi sikap toleransi beragama seseorang. B = 3. D = 1. Filsafat dan Agama. C (cukup). 4.14 Dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi. hlm. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) Memahami lingkungan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan. 1987. Sebaliknya. 46. bila mendapat huruf E maka diasumsikan mempunyai penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat kurang. E = 0.   14Bandingkan 44   . bila ada mahasiswa memperoleh nilai A maka yang bersangkutan diasumsikan mempunyai penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat baik. baru menyusul kemudian peringkat di bawahnya B (baik).

7. Mury Yusuf. 1996. dan tidak terkait pada organisasi yang lain. Dengan demikian interaksi dalam diri individu dan dengan masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan/ kemampuan.pendidikan itu merupakan suatu proses yang berlanjut dan berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan. dan lembaga pendidikan formal lainnya”. hlm. Muri Yusuf.    45 . mengatakan bahwa: “Pendidikan itu adalah merupakan (1) suatu proses (sejumlah proses secara bersamasama) perkembangan. ditolong dan diarahkan agar mencapai kedewasaannya masing-masing sebagai tujuan. Jakarta: Gunung Agung. oleh Hadari Nawawi dijelaskan bahwa: “Di dalam kegiatan kependidikan sekurang-kurangnya dua orang atau lebih yang masing-masing menjalankan fungsi sebagai pendidik dan si terdidik atau anak yang harus dibantu. Dalam Dictionary of Education yang dikutip oleh A. (2) suatu proses di mana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan terpilih dan terkontrol (misalnya kampus) sehingga ia dapat mengembangkan diri pribadi secara optimum dan kompeten dalam kehidupan masyarakat (sosial).16 Berdasarkan pendapat di atas. minat maupun pengalamannya”15 Sehubungan dengan lingkungan pendidikan. hlm. kemampuan. sekolah/kampus. 1985. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. 23. sikap dan bentuk tingkah laku lainnya yang berlaku dalam masyarakat di mana ia hidup. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia. kegiatan kependidikan seperti itu antara lain diwujudkan dalam keluarga. Realita kegiatannya sengaja atau tidak sengaja akan berwujud organisasi atau kegiatan kelompok manusia sebagai suatu sistem yang bersifat tetap berlaku universal. pada dasarnya lingkungan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi:                                                              15A.  16Hadari Nawawi.

26.18 Pentingnya pendidikan anak-anak dalam keluarga sangat menentukan perkembangan anak itu pada fase-fase selanjutnya. Raymond W.cit. Murray menyatakan fungsi keluarga sebagai berikut: (1) kesatuan turunan biologis dan juga kebahagiaan bermasyarakat. Lingkungan Keluarga Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat yang merupakan persekutuan hidup antarsekelompok orang dan mempunyai kepentingan masing-masing dalam mendidik.”17 Selanjutnya status keluarga sebagai lembaga pendidikan dijelaskan Sutjipto Wirawidjojo dengan pernyataannya: “Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama”. 62. hlm. rasa kesukaan pada keindahan. 18Slameto. (2) berkewajiban meletakkan dasar pendidikan. Di samping itu pula dilengkapi bahwa keluarga perlu meletakkan kerangka berpikir pada diri si anak. lingkungan sekolah. a. Konsekuensi itu didasarkan pada norma-norma sosial dan norma agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk individual.  lot cit. op.lingkungan keluarga. dan lingkungan masyarakat (sosial). sosial dan bermoral.  46   . kemauan. Ayah dan Ibu sebagai pimpinan keluarga memberikan suatu konsekuensi berupa tanggung jawab memelihara dan mendidik setiap anak yang dilahirkannya. maka anak akan tumbuh dan                                                              17A. Mury Yusuf. pengetahuan penjagaan pada diri si anak. Dengan demikian sebuah keluarga tidak hanya sekadar berstatus sebagai lembaga sosial akan tetapi juga merupakan lembaga pendidikan informal. hlm. Tanpa adanya pendidikan anak yang terorganisasi dalam keluarga. kecakapan berekonomi. rasa keagamaan.

baik secara individual maupun sebagai anggota masayarakat. tujuan itu harus mengandung nilai-nilai yang serasi 47   . Karena tujuan pendidikannya untuk membina. Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana. Peranan Sekolah/Perguruan Tinggi sebagai institusi dinyatakan sebagai berikut: “peranan sekolah/kampus sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia.berkembang secara tidak sewajarnya. b. Lingkungan Perguruan Tinggi (Kampus) Perguruan Tinggi adalah organisasi kerja sebagai wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. yakni terbentuknya mental. Perguruan Tinggi pada prinsipnya merupakan salah satu wadah tempat berlangsungnya pendidikan yang memiliki peranan dan kedudukan sebagai lembaga pendidikan. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. Dari konteks inilah sehingga kampus diimplementasikan sebagai lingkungan pendidikan. terarah dan sistematik guna memncapai tujuan tertentu. membimbing dan mengarahkan kepada tujuan suci. Dengan demikian mahasiswa yang mendapat keluarga yang baik akan mampu mengidentifikasikan pola sikap dan tingkah laku yang baik dalam keluarganya dan dalam konteks yang lebih luas (lingkungan sosial). Oleh sebab itu Perguruan Tinggi dinamakan juga sebagai lembaga atau institusi. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. Di dalamnya terdapat pengelompokan yang berbeda-beda tetapi merupakan satu kesatuan yang integral sebagai komponen-komponen yang saling berinteraksi.

48   . menyatakan bahwa pendidikan memiliki tiga dimensi. keteram pilan/keahlian di dalam mengola lingkungannya yang terdiri atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial guna menciptakan berbagai kelengkapan untuk memper mudah dan menyenangkan kehidupannya. Dimensi jangka pendek pendidikan diartikan sebagai proses kegiatan belajar mengajar. op. hlm. Karena kebudayaan itu bukanlah sesuatu yang statis akan tetapi terus menerus berkembang secara dinamis. dan jangka panjang. dimensi jangka menengah diartikan sebagai proses penyiapan sumber daya manusia. Jakarta: Irjen Dikti Depdiknas.20 Berdasarkan uraian di atas. yaitu: dimensi jangka pendek. Oleh sebab itu Perguruan Tinggi diharapkan bukan sekadar berfungsi untuk mempertahankan kebudayaan yang ada sesuai dengan martabat manusia yang selalu dituntut dengan kebutuhan yang selalu meningkat. 27. Dilihat dari sudut sosial dan spiritual Perguruan Tinggi berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan. Muhlas.  Pendidikan Profesi Guru.cit. berarti Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab mempersiapkan mahasiswa agar mampu meneruskan sejarah dan tata cara kehidupan manusia sebagai makhluk yang berbudaya.                                                              19Hadari 2009.  20Muhlas.dengan kebudayaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan sebagai lembaga pendidikan.”19 Melalui Perguruan Tinggi mahasiswa dipersiapkan menjadi manusia yang memiliki pengetahuan. jangka menengah. dan dimensi jangka panjang adalah sebagai proses pengembangan budaya. Nawawi.

Muri Yusuf. penerimaan. (2) substitusi. dan (3) sebagai suplemen terhadap pendidikan yang diberikan oleh lingkungan yang lain yakni penambahan pengetahuan keterampilan. sikap. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk dan jenis lingkungan pendidikan tidak bisa                                                              21A. Mury Yusuf. keterampilan maupun performansi dapat dikembangkan oleh sekolah/kampus ataupun dalam keluarga.c. dan agama). dan kegiatan dalam suatu organisasi kemasyarakatan. Berdasarkan pembahasan di atas. perfomansi seseorang. pelatihan. Tidak semua ilmu pengetahuan.21 Dalam pendapat tersebut di atas terlihat bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat adalah sebagai: (1) komplemen. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yang berarti dalam diri anak apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. karena keterbatasan dan kelengkapan lembaga tersebut. Lingkungan Masyarakat Menurut A. 34    49 . yaitu berorientasi untuk melengkapi kemampuan keterampilan kognitif. hlm.. Misalnya mengadakan kursuskursus. tingkah laku. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak”. yakni menyediakan pendidikan bukan sekadar tambahan atau pelengkap. tetapi mengadakan pendidikan yang sama dengan sekolah. organisasi. sebagai akibat belum lengkapnya (mantapnya) apa yang mereka terima dalam sekolah atau dalam keluarga. lingkungan masyarakat adalah lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak. maka bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. op. dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis.cit.

Expanded Edition. kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.wikipedia. p. 50   . 2005. Jakarta: Balai Pustaka. Pengabaian terhadap masalah ini barangkali dapat membuat pembacaan terhadap toleransi beragama di kalangan mahasiswa itu tidak utuh (bias). Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought. toleransi adalah sifat atau sikap toleran. Reese. dan sebagainya). membiarkan. mengakui. ras. hlm. mengutip Perez Zagorin. tolerare yang berarti “menahan. Poerwadarminta. p. menjelaskan bahwa toleransi adalah terminologi yang berkembang dalam disiplin ilmu sosial. Kamus Besar Bahasa Indonesia. kebiasaan. dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan”. 1999. menanggung. William L. New York: Humanity Books.org. Webster’s World Dictionary of American Language. 799. membetahkan. Variabel Toleransi Beragama (Y) Dalam Webster’s World Dictionary of American Language.23 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan.   23www. Wikipedia Ensiklopedia.   24Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. kata itu berubah menjadi tolerance yang berarti “sikap membiarkan. Gularnic. pandangan.S.id. kepercayaan. membolehkan) pendirian (pendapat. 5.diabaikan sebagai faktor penting dalam mengukur toleransi beragama di kalangan mahasiswa. membiarkan. W.. misalnya toleransi agama (ideologi.J. budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai. 774-775. Dalam bahasa Inggris.24                                                              22David G.22 kata “toleransi” secara etimologis berasal dari bahasa Latin. 1204. 1959. New York: The World Publishing Company. dan tabah”.

  26A. Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama. Yogyakarta: PP Krapyak. www. yakni                                                                                                                                Kamus Umum Bahasa Indonesia.com. Bandung: Arasy.Dalam bahasa Arab. 1989. Jakarta: Balai Pustaka.26Kamus Oxford menegaskan bahwa toleransi adalah kemampuan untuk menenggang rasa atas keyakinan dan tindakan orang lain dan membiarkan mereka melakukannya. Kamus al-Munawir. hlm. meskipun tidak sependapat dengannya. Toleransi adalah kerukunan dalam perbedaan”. Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme. 702. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.     51 . Zaki Badawi mengatakan. Binsar A. kata toleransi---mengutip Kamus alMunawir---biasa disebut dengan istilah tasamuh yang berarti sikap membiarkan atau lapang dada. dan cara-cara menjadi manusia. Hutabarat. dan Marcus. sebagaimana dikutip Saiful Mujani. 1994. penerimaan. 2006. 702.25 A. hlm. sehingga mengizinkan berlapang dada terhadap adanya perbedaan pendapat dan keyakinan dari setiap individu. dan penghargaan atas keragaman budaya dunia yang kaya. Khaled Abou El Fadl. Deklarasi Prinsip-prinsip Toleransi UNESCO menyatakan bahwa “toleransi adalah rasa hormat. 1982. hlm. toleransi didefinisikan sebagai a willingness to “put up with” those things one rejects or opposes. Pierson. `Ala Abu Bakar. tasamuh (toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beranekaragam. Islam yang Paling Toleran: Kajian tentang Fanatisme dan Toleransi dalam Islam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa toleransi ini erat kaitannya dengan masalah kebebasan atau kemerdekaan hak asasi manusia dalam tata kehidupan bermasyarakat. Beirut: Maktabah Lubnan. Mu`jam Musthalahat al-`Ulum al-Ijtima`iyat. Sullivan.google. berbagai bentuk ekspresi diri.   25Ahmad Warson Munawir. Kamus tersebut juga menggambarkan toleransi sebagai “kemampuan untuk menanggung penderitaan atau rasa sakit”. 2003. Zaki Badawi. 426.

Kamus Lengkap Psikologi. Public Religion and the Pancasila-Based State of Indonesia mengutip David Little membagi pengertian toleransi dalam dua bagian: Pertama. Dengan sikap itu ia juga tidak mencoba memberangus ungkapan-ungkapan yang sah keyakinankeyakinan orang lain tersebut. Jakarta: RajaGrafindo Persada. “Toleration” in The Encyclopedia of Pholosophy. dalam definisinya yang minimal. 512. Muslim Demokrat: Islam. Sikap semacam ini tidak berarti setuju terhadap keyakinan-keyakinan tersebut. 1996. atau menghormati segala sesuatu yang ditolak atau ditentang oleh seseorang”. toleransi bisa didefinisikan sebagai “(sebuah) jawaban                                                              27Saiful Mujani. Kamus Filsafat. Juga tidak berarti acuh tak acuh terhadap kebenaran dan kebaikan.“kesediaan untuk menghargai. Chaplin.27 J. melainkan lebih pada sikap hormat terhadap pluriformitas dan martabat manusia yang berbeda. atau skeptisisme.   52   . 162. 1111-1112. dan tidak harus didasarkan atas agnostisisme. praktik atau atribut. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. dalam bentuknya yang paling kuat. hlm. 2006. Chaplin mengatakan. Paul Edwards.28 Lorens Bagus menjelaskan.P.P. dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru. toleransi adalah sikap seseorang yang bersabar terhadap keyakinan filosofis dan moral orang lain yang dianggap berbeda. hlm. toleransi adalah satu sikap liberalis. Budaya Demokrasi. yang pada awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima. 2007. atau bahkan keliru. hlm 143. yaitu “jawaban pada seperangkat kepercayaan. Volume 7 and 8 Paul Edwars (New York & London: Macmillan Publisher. dengan ketidaksetujuan. Kedua.   28J. tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. 1967. menerima. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. atau tidak mau campur tangan dan tidak mau campur tangan dan tidak mengganggu tingkah laku dan keyakinan orang lain. Editor in Chief.29 Benyamin Intan dalam bukunya.   29Lorens Bagus. dapat disanggah.

jelaslah.commongroundnews. dengan ketidaksetujuan yang disublimasi. praktik atau atribut. tetapi juga semangat. dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik. Kehidupan bersama yang harmonis tentu saja mensyaratkan penerimaan definisi yang kedua. sesuatu yang membangun. gairah. Dengan demikian. sedang dalam definisi yang kedua. yang awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima.     53 . Intoleransi adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran. orangtua dan anak.30 Dengan menggunakan perspektif psikologi sosial. seperti hubungan antara kakak dan adik. “ketidaksetujuan yang disublimasi” adalah “ada sesuatu yang bisa dinilai. toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai.org. hidup bersama itu diwarnai dengan kebersamaan. muncul karena kita tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan. Yayah Khisbiyah menjelaskan. betapapun besarnya ketidaksepakatan yang ada”. nilai. namun tak ada kebersamaan. perjuangan dalam bersikap toleran demi hidup bersama yang lebih baik. serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal.kepada seperangkat kepercayaan. Dalam definisi Little yang pertama ada hidup bersama. suami                                                              30www. sikap toleran itu bukan hanya membutuhkan kesadaran. suatu kehidupan yang saling memberi dan menerima. baik di dalam bagian kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang itu sendiri atau di dalam proses memberi-menerima yang terjadi di antara para pendukung ide-ide yang sedang bertikai. keyakinan. tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. Menurut Little. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan.

koeksistensi damai itu dapat mengambil bentuk pengaturan politik yang berbeda-beda. hlm.31 Penjelasan menarik tentang konsep dan praktik toleransi diungkapkan Walzer. dan ideologi. atau setidaknya keingintahuan untuk lebih dapat memahami sang liyan. tetapi juga keterbukaan pada yang lain. sebagaimana dikutip Trisno Sutanto. Matra ketiga melangkah lebih jauh: ada pengakuan secara prinsip bahwa sang liyan punya hak-hak sendiri sekalipun mungkin ekspresinya tidak disetujui. 4. Di situ sang liyan diakui ada. sederhananya. budaya. yakni matra kelima. Toleransi sebagai suatu sikap. Menepis Prasangka. Soalnya. Baginya praktik-praktik toleransi---atau. dan identitas berbeda---harus selalu diletakkan dalam situasi historis-konkret. bangsa. tetapi kehadirannya tidak bermakna apa-apa.   31Yayah 54   . tetapi juga mau mendukung atau bahkan merawat dan                                                              Khisbiyah.dan isteri. Surakarta: PSB-PS UMS. Walzer. 2007. Posisi paling jauh dalam kontinum ini. menurut Walzer. Jelas ini tidak cukup dan karenanya dapat dicandra gerak dinamis menuju matra kedua: ketidakpedulian yang lunak pada perbedaan. yang mencerminkan toleransi keagamaan di Eropa sejak abad ke 16 dan 17 adalah sekadar penerimaan pasif perbedaan demi perdamaian setelah orang merasa capek saling membantai. merujuk pada berbagai matra di dalam suatu garis kontinum. Pertama. antarteman. koeksistensi damai kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki sejarah. Memupuk Toleransi untuk Multikulturalisme: Dukungan dari Psikologi Sosial. tidak sekadar mengakui dan terbuka. masing-masing dengan implikasinya sendiri-sendiri. atau antarkelompok. misalnya suku. agama. mengambil pendekatan berbeda ketimbang para pemikir yang sibuk mencari kaidah-kaidah universal. Matra keempat bukan saja memperlihatkan pengakuan.

159. yakni Yahudi dan Kristen. Negara tidak boleh terlibat dalam urusan agama. Toleransi tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dengan yang lain. sikap. agama yang berbeda itu tetap ada. hlm. membiarkan. meskipun mereka tak disukai. Toleransi di sini mengacu pada kesediaan untuk tidak mencampuri keyakinan.   33www.cit. dan sebaliknya. hlm.in-christ.33 Toleransi beragama pertama kali ditelaah oleh John Locke dalam konteks hubungan antara gereja dan negara di Inggris. 346-353. dan Yahudi sangat rumit dan mengalami pasang surut dari abad ke abad. “Melampaui Toleransi?: Merenung Bersama Walzer” dalam Ihsan Ali-Fauzi. toleransi merujuk pada sikap dan perilaku kaum muslim terhadap nonmuslim. walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang. toleransi secara khusus mengacu pada hubungan antara kaum muslim dan para pengikut agama Semitis lainnya. Jakarta: Paramadina. dan tindakan orang lain. toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain. Secara historis. membolehkan kepercayaan. Dalam masyarakat muslim. Demi Toleransi Demi Pluralisme. tetapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada. entah karena alasan estetika-religius (keragaman sebagai ciptaan Tuhan) entah karena keyakinan ideologis (keragaman merupakan tanah subur bagi perkembangan umat manusia).merayakan perbedaan. toleransi berarti menghargai.34 Jadi. op. 2007.                                                              32Trisno Sutanto.   34Saiful Mujani. dkk.net. Hubungan antara kaum muslim. Kristen. dan juga tidak boleh ditangani oleh kelompok agama tertentu.     55 . 32 Dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan.

Dalam konteks ini. Jilid XVI. agama atau kepercayaan. Tunbridge Wells.35 Dalam toleransi ini semua umat beragama harus berpegang pada prinsip agree in disagreement (setuju dalam perbedaan). rukun dan damai. 384. diakui atau dihormati oleh pihak lain. Wellwood. Pengakuan tersebut tidak terbatas pada persamaan derajat.36 Perbedaan tidak harus mengakibatkan permusuhan. tetapi juga perbedaan-perbedaan dalam cara penghayatan dan peribadatannya yang sesuai dengan alasan kemanusiaan yang adil dan beradab.                                                              35Tim Penyusun.   36Istilah agree in desagreement dipopulerkan oleh Menteri Agama. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan dan eksistensi suatu golongan. ia tidak harus menimbulkan pertentangan. semua penganut agama setuju untuk hidup rukun dengan tetap memelihara eksistensi semua agama yang ada. Ensiklopedi Nasional Indonesia. melainkan lebih dari itu. North Farm Road. p. karena bagaimanapun perbedaan akan selalu ada di dunia ini. dan bekerjasama dalam membangun masyarakat yang harmonis. toleransi beragama adalah sikap bersedia menerima keanekaragaman dan kebebasan beragama yang dianut dan kepercayaan yang diyakini oleh pihak atau golongan lain. Mukti Ali. Karl Rahner.Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dijelaskan. 1721-1726. 1993. Dengan demikian. Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. berbuat baik dan adil antarsesama. hlm. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. 1996. toleransi antarumat beragama bukan hanya sekadar hidup berdampingan secara pasif tanpa adanya saling keterlibatan satu sama lain. Oleh karena itu. baik dalam tatanan kenegaraan. yakni toleransi yang bersifat aktif dan dinamis. Ed.   56   . Kent: Burns & Oates. tatanan kemasyarakatan maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan saling menghargai dan menghormati. prinsip tersebut mengandung pengertian. A.

Toleransi dogmatis adalah toleransi yang terbatas atau hanya menyangkut ajaran agama. “Persahabatan Lebih Penting Daripada Kesepakatan Formal” dalam Mimbar Ulama. Oleh karenanya. Sebab.37 Meskipun demikian dalam kaitannya dengan toleransi antarumat beragama. dibutuhkan adanya kejujuran. menjalankan ibadat dan praktik keagamaan lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. yaitu toleransi dogmatis dan toleransi praktis. Hardjana. kebesaran jiwa. kedua macam toleransi tersebut dapat bergabung atau terpisah. 128 Tahun XII/1988. Dalam toleransi beragama. Para penganut agama dapat saling toleran dalam kedua hal itu. menurut A. setiap pemeluk agama hendaknya dapat menghayati ajaran agamanya secara mendalam. dapat menentang di bidang yang satu. Hal ini membuat seseorang pada aspek kedalaman dari agama terdapat titik-titik temu yang lebih banyak dari agamaagama. aspek kedalaman dari agama itulah yang membuat seseorang lebih toleran terhadap orang lain.Sejalan dengan pendapat di atas. Dengan kata lain. misalnya ajaran. toleransi beragama terdiri atas dua kategori. hingga menumbuhkan perasaan solidaritas dan mengeliminir egoistis golongan. No. 29-30.M. penghayatan terhadap aspek kedalaman dari agama akan dapat membuat seseorang lebih mampu bersikap menghormati orang lain secara lebih manusiawi. Sedangkan dalam toleransi praktis. hlm. Dalam aplikasinya.   37Djohan   57 . Dalam hal ini para penganut agama tidak saling mengambil pusing akan ajaran agama orang lain. menurut Anwar Harjono. sebagaimana dikemukakan Djohan Effendi. kebijaksanaan dan bertanggung jawab. ada dua hal                                                              Effendi. para penganut agama saling membiarkan dalam mengungkapkan iman. tetapi membiarkan praktiknya dan sebaliknya.

Semangat demikian kelihatannya sangat luhur karena didorong oleh motif suci melaksanakan perintah agama yang ganjarannya adalah surga. akibatnya akan terjadi “perang agama” secara permanen. supaya tidak terjebak atau terjerumus kepada bahaya di atas. baik terbuka maupun terselubung. Guna lebih jelasnya perhatikan skema berikut. Dicari-carilah persamaan-persamaan di antara agama-agama yang ada.yang sama besar bahayanya. Indonesia Kita: Pemikiran Berwawasan Iman-Islam.   58   . apabila kita terlalu bersemangat menjalankan toleransi sehingga kita menganggap semua agama sama saja. yaitu: Pertama. apabila kita hanya terpaku kepada tugas-tugas dalam lingkungan agama kita sendiri tanpa menghiraukan hak-hak golongan agama lain. toleran merupakan satu sikap keberagamaan yang terletak antara dua titik ekstrim sikap keberagamaan. 153. Muhammad Ali menjelaskan. Bahaya kedua. Berdasarkan persamaanpersamaan itu. jika semua orang begitu keyakinan dan perilakunya. Jakarta: Gema Insani Press. dalam menjalankan toleransi setiap umat beragama hendaknya berpedoman kepada prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh ajaran agamanya masing-masing. 1995. akan mendorong seseorang melakukan pendangkalan terhadap ajaran agama. yaitu eksklusif dan pluralis. hlm. Akan tetapi.                                                              38Anwar Harjono. atau sama salahnya. Oleh sebab itu. sehingga siapa saja dijadikan sebagai sasaran penyiaran agama. Kedua.38 Bahaya pertama akan mendorong seseorang kepada penyiaran agama tanpa mengindahkan peraturan yang ada. mereka merumuskan apa yang disebut sebagai “hakikat” atau “intisari” agama---jika tidak diwaspadai--bahkan berpotensi pula untuk menegasikan agama yang sesungguhnya. sama benarnya.

39 Dari uraian di atas diketahui bahwa kendati toleransi merupakan sikap keberagamaan yang positif. Pertama. Bersikap toleran sangat dekat dengan sikap selanjutnya pada titik paling kanan. Namun demikian. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Sehubungan hal tersebut.xii. al-Qardhawi mengategorikan toleransi keagamaan dalam tiga tingkatan. tanpa kehendak memahami. dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama. konsep tersebut tidak mengurangi nilai penting sikap toleran sebagai satu sikap yang sangat penting untuk dimiliki setiap warga negara demi terwujudnya kerukunan umat beragama. ada mereka yang eksklusif: menutup diri dari (seluruh atau sebagian) kebenaran pada yang lain.     59 . 2003. yaitu sikap pluralis.40 Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa toleransi sebenarnya tidaklah bersifat pasif. bahkan konflik antarumat beragama. toleransi dalam bentuk hanya sebatas memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memeluk agama yang diyakininya.   40Ibid. menghargai.Eksklusif Toleran Pluralis Pada titik paling kiri. dan menerima kemungkinan kebenaran yang lain. hlm. Sebaliknya. Ada yang bersikap toleran: membiarkan yang lain. tetapi dinamis. tetapi tidak                                                              39Muhammad Ali. tanpa kehendak memahami. tidak toleran (intolerant) merupakan satu sikap yang harus dijauhi karena dapat menimbulkan ketegangan. namun masih secara pasif. dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama. Yakni sikap meyakini kebenaran diri sendiri. gesekan. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. serta lebih jauh lagi. siap bekerja sama secara aktif di tengah perbedaan itu. namun masih bersifat pasif sebab hanya sekadar membiarkan yang lain (the other). sambil berusaha memahami.

meskipun hal tersebut diharamkan menurut agama kita. kemudian tidak memaksanya mengerjakan sesuatu sebagai larangan dalam agamanya. sepanjang mereka tidak benar-benar menolak apalagi menghilangkan eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain. hlm. konsep tentang toleransi mengandaikan pondasi nilai bersama sehingga idealitas bahwa agama-agama dapat hidup berdampingan secara koeksistensi harus diwujudkan. hlm.42 Hal tersebut berarti. 2008. Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan: Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah. 160. toleransi tidak merujuk kepada perbedaan. tetapi penerimaan terhadap perbedaan. Bandung: Mizan. memberinya hak untuk memeluk agama yang diyakininya. Malang: UMM Press. Kedua. Ini seharusnya merujuk kepada salah satu indikator demokrasi yang memungkinkan siapa pun bebas mengekspresikan diri dalam ruang publik.43                                                              41Yusuf al-Qardhawi. 95-97.41 Berdasarkan elaborasi di atas. Ketiga. 1. Penerjemah Muhammad Baqir. tidak mempersempit gerak mereka dalam melakukan hal-hal yang menurut agamanya halal.   60   . Kedua. toleransi beragama sebenarnya merujuk kepada suatu situasi relasional yang relatif damai di antara berbagai umat beragama yang berlainan. termasuk penolakannya kepada kelompok beragama lain. dari Labsosio Departemen Sosiologi. Terlepas dari kegaduhan dan ketegangan yang ditimbulkan oleh aktivitas-aktivitas berbagai kelompok partisan di ranah publik.   43Biyanto. secara konseptual dan metodologis. maka pertama. Sebab itu berapapun besar dan jauhnya perbedaan tidak menggambarkan kondisi toleransi beragama. Hlm. FISIP Universitas Indonesia.memberinya kesempatan untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan yang diwajibkan atas dirinya. 2009.   42Resume Studi Toleransi dan Kerentanan Religi di 4 Kota Jawa. Minoritas Nonmuslim di dalam Masyarakat Islam. skala toleransi beragama sesungguhnya tidak mengalami perubahan yang berarti. 1985.

Berangkat dari beberapa penjelasan mengenai pengertian toleransi beragama tersebut. membiarkan. Hasil Penelitian yang Relevan Perhatian para sarjana terhadap isu-isu toleransi beragama di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya cukup intens. kepercayaan. keyakinan. Sampel dalam   61 . perilaku. Hal itu setidaknya ditunjukkan dengan digelarnya banyak seminar. Penelitian tentang toleransi---termasuk toleransi beragama---banyak jenisnya dan bergantung pada pokok masalah dan metodenya. baik dalam bentuk buku maupun press release yang dimuat di media massa. dan penelitian yang menjadikan isu toleransi beragama sebagai temanya. Sungguh menarik apa yang diakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini di mana pada tahun 2008 telah mensurvei 800 responden yang dipilih secara acak sistematik. maka dapat disimpulkan bahwa toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. Dalam rangka memperkaya penelitian ini berikut akan disajikan beberapa publikasi dimaksud. pandangan. Beberapa penelitian berusaha untuk mengukur toleransi masyarakat dengan menentukan indikator yang akan diukur dan dilakukan dengan menggunakan pendekatan survei. menghormati. Penelitian yang layak disebut di sini misalnya penelitian yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat SETARA Institute. Sebagian besar hasil kegiatan tersebut sudah dipublikasikan secara luas. dan membolehkan pendirian. B. lokakarya. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik.

Dengan jumlah sampai 800 orang.1% responden tidak menjadikan perbedaan agama dalam berteman sebagai halangan dan 67. Minusnya transformasi nilai-nilai Pancasila.penelitian adalah generasi muda yang berumur 17-22 tahun dengan latar belakang agama majemuk. karena para penyelenggara negara. telah membentuk pemahaman kaum muda akan Pancasila mengalami kontradiksi. Kaum muda menganggap sebaiknya urusan agama/keyakinan diatur oleh negara. modal sosial itu tidak berkembang dan terpasung. Sementara pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan panduan kuesioner. Dengan demikian. modal sosial toleransi kaum muda sangat kuat. Atas fenomena ini penelitian mengkonstatasikan bahwa kecenderungan menurunnya semangat kebangsaan yang direpresentasikan oleh pandangan responden terhadap soal kebebasan beragama/berkeyakinan dan sikap akomodatifnya terhadap perda-perda berbasis agama. pola indoktrinasi pendidikan kewarganegaraan. termasuk partai politik tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Namun demikian. Persetujuan kaum terhadap munculnya peraturan-peraturan daerah yang berbasis agama adalah kontradiksi kedua yang muncul dalam survei ini. disetujui oleh sebagian besar kaum muda. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 87. dan keterbatasan teladan dari para penyelenggara negara. Perda-perda. merupakan gejala baru yang tidak berbasis pada karakter 62   . yang secara substantif mengancam kebangsaan Indonesia.4% responden dapat menerima fakta perpindahan agama. Pandangan kaum muda muncul oleh karena teladan kontradiktif yang dipraktikkan para penyelenggara negara.5% pada tingkat kepercayaan 95%. Kontradiksi pertama terkait dengan kebolehan negara melakukan intervensi dalam urusan agama/keyakinan. toleransi kesalahan (margin of error) penelitian lebih kurang 3.

8%). merupakan pandangan yang membahayakan bagi kaum muda Indonesia. dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara menunjukkan bahwa sikap pluralisme merupakan sikap yang dominan dimiliki oleh kalangan mahasiswa (55. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah).   44Tim   63 . Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. Hampir tak seorang pun di kalangan kaum muda yang dapat membenarkan atau menerima konflik dan kekerasan atas nama agama.44 Penelitian serupa dilakukan oleh Lucia Ratih Kusumadewi yang mengambil sampel di Universitas Indonesia.dasar kaum muda. 2008. Jakarta: SETARA Institute. Fundamentalisme adalah salah satu alat pasung toleransi yang saat ini berkembang. Organisasi-organisasi tertentu yang sering melakukan tindakan kekerasan atas nama agama niscaya akan sulit diterima oleh kaum muda. Penelitian mengungkapkan pula bahwa konflik dan kekerasan yang bernuansa agama dipahami oleh kaum muda sebagai sesuatu yang bukan disebabkan oleh faktor kebencian antarumat beragama ataupun karena persaingan ekonomi umat beragama. pembenaran intervensi negara dalam urusan agama dan persetujuannya terhadap perda berbasis agama. Kategori sikap lainnya. yaitu non-pluralis yang terdiri atas sikap                                                              Penyusun. Pemicu yang hadir di tengah masyarakat yang bingung akibat tidak adanya panduan berbangsa dan bernegara serta fakta menguatnya fundamentalisme menjadi efektif memantik massa untuk berkonflik. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. di mana keduanya dianggap tidak bertentangan dengan Pancasila. Namun demikian. Sebagian besar kaum muda menilai konflik bernuansa agama dipicu oleh adanya provokasi pihak-pihak tertentu.

temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi yaitu sebesar 61.2%.2%).7% dan selebihnya sejumlah 38. Tema-tema yang menjadi indikator bagi pengukuran sikap adalah sikap terhadap kebenaran ajaran agamanya dan agama lain. anggapan terhadap kehidupan setelah mati bagi pemeluk agamanya dan pemeluk agama lain serta anggapan terhadap perangkat keagamaannya dari agama lain. didapat berdasarkan penjumlahan terhadap pengukuran tema-tema toleransi yang dirumuskan. Tema-tema tersebut adalah toleransi berkaitan dengan hal keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama. Temuan di atas berkaitan dengan variabel sikap keberagamaan di kalangan mahasiswa.3% dari 120 responden yang memiliki tingkat toleransi yang rendah. perpindahan agama mendapat prosentasi yang sedikit lebih besar (75%) dan kawin beda agama mendapat toleransi yang paling tinggi (85. Selanjutnya. Keseluruhan pengukuran terhadap variabel toleransi secara umum itu. misalnya kitab suci dan nabi/rasul.8%).inklusif dan eksklusif mendapat angka 44. Kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan data di atas adalah bahwa tema kawin beda agama merupakan tema yang paling dapat ditolerir dibanding perpindahan agama dan keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama. faktor-faktor apakah yang turut mempengaruhi terjadinya kondisi di atas? Kusumadewi telah menentukan 64   . anggapan terhadap kedudukan ajaran agamanya terhadap nilai-nilai universal. anggapan sebagai orang/golongan terpilih. toleransi berkaitan dengan hal perpindahan agama dan toleransi berkaitan dengan hal kawin beda agama. Angka yang ditunjukkan untuk toleransi dalam hal keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama berada pada tingkat toleransi yang tinggi (74. Sedangkan yang berkaitan dengan variabel toleransi beragama di kalangan mahasiswa.

Sedang agama Katolik yang memiliki ajaran yang bersifat pluralis dengan struktur institusi yang hirarkis sentralistis menghasilkan sikap cenderung pluralis dalam kelompoknya. Pada dua agama yang diteliti yaitu Islam dan Katolik. Namun karena beragamnya sosialisasi ajaran karena banyaknya aliran pemikiran. mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia (67%) menyatakan kebencian dan karenanya tidak bersedia hidup                                                              Ratih Kusumadewi.45 Selanjutnya survei nasional yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002. Dua di antara banyak dimensi agama yang dapat dilihat adalah ajaran dan institusi agama. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. penjelasan ini setidaknya dapat diajukan. Agama Islam. memiliki ajaran yang dekat dengan sifat-sifat inklusifistik dan struktur institusinya tidak terikat. Sedang faktor komunitas kampus disimpulkan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. hlm. 65-78. Sikap-sikap keberagamaan yang dimiliki kelompok ini kemudian cenderung inklusif. Kedua hal ini kemudian menimbulkan kondisi sosialisasi agama yang cenderung inklusif dan beragam dalam Islam. Skripsi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa agama adalah faktor dominan yang memiliki andil besar dalam pembentukan sikap keberagamaan setidaknya di kalangan mahasiswa yang diteliti.dua faktor yaitu agama dan komunitas kampus. Dalam penelitian ini. kedua hal ini diidentifikasikan dapat melahirkan sikap keberagamaan yang berbeda dan tingkat toleransi yang berbeda pula. 1999. Sikap keberagamaan ini sedikit banyak kemudian mempengaruhi terciptanya toleransi pada tingkat tertentu. terdapat juga ekskluisif dan pluralis. Jakarta: FISIP-UI.   45Lucia   65 .

Di samping itu.berdampingan dengan kelompok sosial-politik dan keagamaan lain khususnya komunis. kondisi kurang toleran bisa dijelaskan sebagai berikut. bersama Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal tentang orientasi sosial politik Islam pada tahun 2004. Anggota masyarakat yang membolehkan orang Kristen menjadi Presiden hanya 22%. Dalam hal ini kultur politik masyarakat Indonesia tidak begitu mendukung. yang selama ini dianggap radikal. Jakarta: PPIM IAIN Syarif Hidayatullah. dan jika di lingkungan tersebut didirikan gereja. Pada umumnya masyarakat menyatakan bahwa setiap orang harus hati-hati terhadap orang lain. Islam dan God Goverment. 2002. satu kultur politik masyarakat yang juga bisa berdampak positif bagi penciptaan demokrasi di Indonesia. Begitu pula gambaran serupa terjadi menyangkut saling percaya sesama warga (interpersonal trust). mereka yang tidak keberatan jika orang Kristen menjadi guru di sekolah umum juga kurang dari separuhnya (42%). Proporsi ini sangat besar. kalau orang Kristen melakukan kebaktian di daerah sekitar tempat tinggal responden (31%). Khusus menyangkut hubungan dengan kaum Kristen. dan menunjukkan masih tipisnya budaya kewargaan kalau dilihat sisi saling percaya sesama warga. persentase persetujuan tampak meningkat (40%). Survey yang melibatkan 1200 responden yang dipilih secara random lewat metode multistage random sampling dengan                                                              46Saeful Mujani. Hasilnya terdapat cukup banyak warga Indonesia yang setuju dengan kegiatan aktivis Islam.46 Survey lain dilakukan kembali oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. selanjutnya Yahudi (7%) dan Kristen (3%). jangan mudah percaya (86%). Hanya 29% yang menyatakan selalu atau sering percaya pada orang lain.  66   .

yang dianggap menindas umat Islam di dunia. meliputi sikap masyarakat terhadap aturan di mana perempuan tidak boleh jadi presiden. 15% masyarakat responden mendukung kegiatan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). dan hukuman potong tangan. kemudian pelarangan bunga bank.terlebih dahulu menetapkan proporsionalitas populasi yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan. nyaris separuh responden setuju bahwa masyarakat Nasrani tidak boleh melakukan kebaktian di lingkungan yang mayoritas beragama Islam dan separuh responden juga tidak setuju bila orang Kristiani membangun gereja di lingkungan muslim. Data hasil penelitian itu menunjukkan 18% responden. 5% mendukung kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memperjuangkan diterapkannya Syariat Islam. seperti merazia tempat judi. Hasil survey lain yang juga menarik adalah sikap para responden terhadap agenda Islamis dan tingkat toleransi terhadap Kristen-Katolik. Data menunjukkan ada sekitar 40% responden yang setuju dengan agenda Islamis. Bahkan ada sekitar 16% responden yang mendukung aksi pengeboman sebagai bentuk pembelaan terhadap Islam. data menunjukkan ada sekitar 6% responden dalam 5 tahun terakhir yang pernah ikut dalam kegiatan boikot produk atau jasa yang bertentangan dengan Islam. Dari hasil penelitian. Pe-   67 . setuju kegiatan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI). hukum rajam. pernah terlibat dalam kegiatan demonstrasi sebagai bentuk solidaritas. soal tindakan yang dilakukan aktivis Islam. serta 13% setuju dengan Jamaah Islamiyah (JI) melakukan tindakan kekerasan terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. poligami. proporsi laki-laki dan perempuan. Selain itu ada 2% yang pernah ikut merazia tempat-tempat maksiat dan 2% lainnya. Sedangkan dalam hal tingkat toleransi terhadap Kristen-Katolik. dan proporsi populasi di seluruh propinsi. dan kegiatan maksiat atau hiburan malam di Bulan Ramadhan.

nelitian ini juga mengukur tingkat pendidikan masyarakat dengan pengaruh dukungan terhadap aktivis muslim. Bali. semakin tinggi pendidikan seseorang. Kesimpulannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (a) bentuk-bentuk toleransi antar umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung-Bali. Masyarakat muslim Indonesia terbelah dalam mensikapi agendaagenda Islami dan itu ternyata cukup membuat banyak kaum muslim bersikap tidak toleran kepada umat Kristiani. meski bukan menjadi kekuatan mayoritas. makin besar kemungkinannya untuk setuju dengan kegiatan aktivis Islam. Pendekatan yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut adalah pendekatan studi kasus yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. dan (c) faktor-faktor penghambat adanya toleransi dan solusi untuk menghadapi adanya hambatan toleransi di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung-Bali. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang merupakan studi kasus di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung Bali.47 Penelitian yang mencoba melihat hubungan antara Islam dan agama lain dengan pendekatan kualitatif pernah pula dilakukan. 12 November 2004  68   . Hal tersebut memperlihatkan adanya dukungan yang cukup luas terhadap kelompok-kelompok Islamis. seperti yang dilakukan oleh Nurhayati berjudul Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. Pengumpulan data pada                                                              47“Umat Islam Indonesia Dukung Radikallisme” dalam Harian Tempo. (b) faktor-faktor penghambat adanya sikap toleransi di Kamung Lebah Kabupaten Klungkung Bali. Saiful Mujani menganalisis bahwa cukup banyak di antara masyarakat muslim Indonesia yang terlibat dalam aktivitas Islamis. sifat-sifat serta karakteristik yang khas dari kasus.

Kabupaten Klaten. Sedangkan solusi dalam menghadapi hambatan tersebut dengan diberlakukannya hukum adat atau yang biasa disebut dengan awig-awig. Melalui penelitian tersebut akhirnya diketahui bentuk-bentuk toleransi antarumat beragama khususnya Islam dan Hindu berupa toleransi dalam hal suka dan duka.48 Penelitian sejenis dengan penelitian di atas dilakukan oleh Anis Faranita Dhanik Rachmawati berjudul Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. Kecamatan Ceper. Kabupaten Klaten. adanya sistem kekerabatan antara umat Islam dan Hindu. Adapun faktorfaktor pendukung adanya toleransi yaitu. Desa Pasungan. dan adanya kegiatan-kegiatan yang melibatkan antara umat Islam dan Hindu.   69 . 2005. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. toleransi pada saat hari raya. Bali. Penghambat adanya toleransi berupa. Dalam proses penelitiannya peneliti menggunakan field research yang terdiri dari data primer yaitu sumber utama penelitian ini adalah                                                              Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. kecemburuan sosial yang terjadi antara penduduk asli dengan pendatang dan adanya krisis moralitas remaja. (2) seberapa jauh umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran memahami makna toleransi. Kecamatan Ceper. serta toleransi generasi muda dalam pergaulan. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) apa yang menjadi faktor terciptanya toleransi antara umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran.penelitian ini menggunakan metode observasi. adanya ajaran dalam agama Hindu yang menguatkan mereka untuk bersikap toleransi. Desa Pasungan. Sumberdata diperoleh dari informan yang terdiri dari: masyarakat Muslim dan Hindu serta para pemuka agama baik Islam maupun Hindu. wawancara dan dokumentasi.  48Nurhayati. Skripsi.

(3) dokumentasi. Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. (2) interview. dan (4) angket. dan selalu mengedepankan aspek toleransi dalam segala hal. (2) bagaimana sikap atau pandangan mereka terhadap toleransi beragama. Semarang: IAIN Walisongo. Skripsi. 2006. dan (3) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sikap toleransi beragama di antara mereka. Toleransi yang terbentuk pada masyarakat Dukuh Kasaran adalah berupa amalanamalan dan perbuatan yang bersifat positif yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama. Kecamatan Ceper. (2) bahwa umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran memahami betul tentang toleransi antarumat beragama. Desa Pasungan. Metode dalam pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan metode: (1) observasi.49 Penelitian lainnya berjudul Toleransi Beragama Di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi BASIS Slankers Club oleh Teguh Setyawan. Penelitian tersebut menemukan: (1) faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya toleransi antara umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran adalah terdiri dari faktor internal yaitu faktor keimanan.   49Anis 70   . Di dalam pengumpulan data digunakan metode interview. Sebagai data pendukung yaitu buku-buku yang berkaitan dengan masalah tersebut. Pokok persoalan yang dibahas adalah: (1) bagaimana kehidupan beragama di kalangan komunitas Slankers Semarang. dan faktor pengetahuan.tokoh-tokoh agama dan masyarakat di Dukuh Kasaran. masyarakat Dukuh Kasaran dapat hidup berdampingan secara damai. faktor pengalaman keagamaan. rasa tanggung jawab. Kabupaten Klaten. Sumber                                                              Faranita Dhanik Rachmawati. dan observasi. Selain itu dipengaruhi pula oleh faktor eksternal yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan masyarakat. angket.

hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap saling menghormati dan menghargai. Kristen 5 orang dan Katolik 5 orang. tidak menggunakan atau memakai narkoba dan ibadah lainnya (kebaktian). Sebuah komunitas yang jelas keberadaannya dan diresmikan oleh Slank pada tanggal 12 Februari 2005 di Hotel Graha Santika Semarang. karena mereka selalu menerima siapa saja yang mau menjadi anggotanya. SMU). Pada dasarnya anggota Slankers menerima sikap toleransi. yang terdiri dari pelajar( SMP. puasa. Anggota yang tergabung dalam organisasi ini adalah rata-rata berasal dari kalangan anak muda. Mahasiswa dan pekerja. Hal ini ditandai dengan mereka mau menjalankan perintah agamanya seperti: shalat.   71 . Mengenai kehidupan beragama di antara mereka. tidak memandang dari mana asalnya atau agama yang diyakininya. karena dipengaruhi oleh tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Tuhannya. menunjukkan adanya kehidupan beragama yang dapat dikatakan baik. berdasarkan hasil pengisian angket dan interview dengan anggota BASIS Slankers Club. Bentuk toleransi beragama di antara mereka adalah berbentuk seperti amalan-amalan yang dilakukan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat agamis. yang tergabung dalam organisasi BASIS Slankers Club. Sedangkan mengenai sikap atau pandangan komunitas Slankers Semarang terhadap toleransi beragama di antara mereka. Di organisasi BASIS Slankers Club dalam merekrut anggotanya menggunakan pola terbuka. Walaupun dalam menjalankannya tidak selalu mulus.data diperoleh melalui wawancara terhadap 20 orang informan yang terdiri atas: Islam 10 orang. Sasaran penelitian adalah komunitas Slankers Semarang. Mereka tidak pernah membeda-bedakan teman yang berbeda agama apalagi berkelahi gara-gara beda keyakinan/agama. Dengan keterbukaan di antara mereka maka toleransi akan muncul dengan sendirinya.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi. 2007. Penelitian ini berusaha mengungkapkan tentang bagaimana interaksi sosial antara pengguna jasa dengan para penyedia jasa kos yang beda agama dan bagaimana model (bentuk) toleransi yang dibangun oleh penyedia dengan pengguna jasa kos beda agama. Yogyakarta. dan dokumentasi dengan pendekatan emik yaitu upaya memahami fenomena sosial dengan pemahaman dunia pelakunya sendiri. Teori yang digunakan adalah fungsionalisme struktural yang dikonstruksikan oleh Robert K.   50Teguh 72   .50 Penelitian berikutnya dilakukan oleh Fathurrahman berjudul Toleransi Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. wawancara. Faktor intern (dari diri anggota Slankers) seperti: pengetahuan yang ada pada diri Slankers. Toleransi Beragama di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi Basis Slankers Club. Semarang: IAIN Walisongo. yang mengasumsikan bahwa manusia diperlukan sebagai abstrak yang menduduki status dan peran yang membentuk lembaga-lembaga atau struktur sosial dan secara implisit manusia sebagai pelaku yang memainkan                                                              Setiawan. Sedangkan faktor ekstern (lingkungan di mana anggota Slankers bersosialisasi dengan sesamanya) adalah nilai-nilai PLUR (Peace. Love. Skripsi. Sleman. ada dua faktor yaitu: faktor intern dan ekstern. Desa Catur Tunggal.Pandangan para Slankers mengenai toleransi. Depok. pengalaman keagamaan yang dimiliki oleh setiap anggota Slankers serta pemahaman dan pengetahuan tentang Slank. seperti yang pernah diungkapkan oleh para agamawan dan cendekiawan. pada intinya mereka tahu tentang toleransi walaupun belum menyamai wacana toleransi yang sesungguhnya. Unity dan Respect). Faktorfaktor yang mempengaruhi sikap toleransi di antara mereka. Merton.

Dengan nilai budaya ini maka melahirkan kebebasan bagi setiap individu untuk memeluk agama menurut keyakinannya masing-masing. Yogyakarta. Sleman. Pendekatan dan metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut dikembangkan oleh organisasi masyarakat sipil tingkat internasional CIVICUS (World Alliance for Citizen Participation) yang berkantor di Johannesburg. yang dilakukan antara akhir tahun 2005 hingga pertengahan tahun 2006. sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan masyarakat. dan ini juga yang diadopsi oleh para pendatang (pengguna jasa kos).ketentuan-ketentuan yang telah dirancang sebelumnya. yaitu dalam rangka mengukur Indeks Masyarakat Sipil Indonesia (IMSI).51 Penelitian menarik terkait toleransi dilakukan pula oleh YAPPIKA.   51Fathurrahman. Afrika Selatan. penelitian ini menganalisis sejauhmana aktor-aktor masyarakat sipil dan organisasi masyarakat sipil (OMS) Indonesia mempraktikkan dan mempromosikan toleransi dalam aktivitas mereka sehari-hari.Toleransi   73 . Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Penelitian ini merupakan subbagian dari agenda penelitian yang lebih besar. Depok. 2008. untuk itu masalah-masalah yang bersifat ketuhanan (suci) merupakan hak mutlak bagi setiap individu akan tetapi masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan merupakan tanggung jawab bersama. Skripsi. dengan biaya dari ACCESS (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme). sebuah Aliansi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Demokrasi. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuk (terwujudnya) toleransi beragama yang ada di Dusun Papringan karena adanya nilai budaya setempat yakni ewuh pakewuh yang diwarisi kepada setiap individu secara turun-temurun. Desa Catur Tunggal.                                                              Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. Berkenaan dengan subbagian toleransi.

termasuk agama. Namun demikian. Hanya sekitar seperlima yang berpendapat bahwa kekuatan tersebut ada (16%) atau signifikan (5%). yakni toleransi dalam arena masyarakat sipil dan aktivitas OMS dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi. diskriminasi dan tidak toleran hampir tidak pernah ditemukan dalam pemberitaan media mengenai aktivitas Ornop. Pada tingkat masyarakat. suku. toleransi dalam arena masyarakat sipil. ras. dan gender.Ada dua indikator yang digunakan untuk mengukurnya. Sikap-sikap seperti rasis. golongan. Sementara sangat menarik bahwa hampir sepertiga (30%) responden menyatakan tidak tahu atau tidak bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan. RSS (Regional Stakeholder Survey) 2006 mengungkapkan bahwa hampir separuh responden (49%) berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan dalam masyarakat yang secara eksplisit menunjukkan kecenderungan rasis. seks. Berkenaan dengan aksi 74   . Kalau pun ada sifatnya sangat marginal dan akan dikecam komunitas OMS yang lain. pada umumnya kalangan OMS menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan mempraktikkannya dalam aktivitas sehari-hari. tidak dapat disangkal bahwa ada kekuatan-kekuatan dalam arena masyarakat sipil yang kurang toleran terutama dalam perbedaan agama seperti yang mengakibatkan terjadinya perusakan rumah ibadat agama minoritas Kristen/Katolik maupun terhadap pemeluk Islam Ahmadiyah. Hasilnya. diskriminatif atau tidak toleran tersebut tidak signifikan atau hanya terbatas. Kode etik yang disepakati sekitar 250 LSM pada tahun 2002 misalnya secara tegas menyatakan bahwa LSM adalah lembaga nonsektarian dan membebaskan dirinya dari prasangkaprasangka atas dasar segala perbedaan. adanya prasangka-prasangka atas dasar agama dan etnis tampaknya masih cukup tinggi yang ditandai dengan terjadinya kekerasan-kekerasan sosial di beberapa daerah di Indonesia.

RSS 2006 menemukan bahwa hampir dua pertiga responden berpendapat bahwa mereka dapat mengingat contoh-contoh kampanye publik ataupun aktivitas OMS yang ditujukan untuk mempromosikan toleransi. hlm. Indeks Masyarakat Sipil Indonesia. Laporan Hasil Survei Pengetahuan. hasilnya dirasakan masih belum signifikan. Di Indonesia ada beberapa OMS yang khusus bekerja untuk menghapuskan diskriminasi rasial.masyarakat sipil untuk mempromosikan toleransi. Sementara yang berpendapat bahwa peran tersebut terbatas atau tidak signifikan dinyatakan oleh 45% responden. 21% dapat menunjukkan beberapa contoh dan 7% dapat menunjukkan banyak contoh. Juga terdapat OMS yang secara khusus mengkaji dan mempromosikan kerjasama antaragama dalam masyarakat Indonesia. 90-91. 2006. Salah satu contoh yang banyak dikemukakan adalah perlunya meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia. 2006.     75 . Sebanyak 42% menyatakan bahwa mereka dapat menunjukkan satu atau dua contoh.52 Survei lain dilakukan oleh Tim LIPI di tiga daerah (Bogor. sejumlah OMS Indonesia menempatkan promosi toleransi sebagai bagian dari kegiatan pokok mereka. Sikap dan Perilaku Stakeholders terhadap Organisasi Masyarakat Sipil. Jakarta: LP3ES dan YAPPIKA. Sebanyak 41% responden berpendapat bahwa peran OMS dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi tersebut cukup (35%) atau signifikan (7%). Survei                                                              52Tim Peneliti. Meskipun OMS Indonesia cukup aktif dalam mempromosikan toleransi di dalam masyarakat. Survei organisasi peace building tahun 2002 menemukan bahwa 129 (27%) dari 465 OMS yang disurvei menyatakan bahwa mempromosikan toleransi dan pluralisme dalam masyarakat merupakan salah satu dari lima kegiatan utama yang mereka lakukan dalam dua tahun terkahir (2000-2002). Jakarta: YAPPIKA. Tim Peneliti. Surakarta dan Cianjur) pada tahun 2006.

2007. 4-5. hlm. Sampel akhir yang valid dan dianalisis sebanyak 1.173                                                              Hisyam.53 Penelitian toleransi yang tidak boleh dilewatkan adalah apa yang telah dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI).2006.6%) yang mendukung. Proporsi responden yang membolehkan ucapan salam (assalamu`alaikum) kepada nonmuslim sangat kecil (8. Jakarta: LIPI. Ed.   53Muhammad 76   . Secara umum bisa dikatakan bahwa kesediaan muslim Indonesia untuk hidup sejajar dengan pemeluk agama lain masih rendah.9% untuk praktik silaturrahmi di luar hari besar keagamaan nonmuslim. Jakarta: LIPI. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik.0%).9% pada tingkat kepercayaan 95%. Idem. Persentase tersebut konsisten dengan jawaban responden yang mendukung gagasan bahwa sebaiknya kaum muslim hanya berteman dekat dengan orang yang sama-sama memeluk agama Islam saja. proporsi dukungan responden adalah 38. sementara mereka yang tidak membolehkan mencapai angka 85.4%. Survei dilakukan terhadap 1. hanya sebagian kecil responden (15.2%) tidak mendukung. yang antara tanggal 23-27 Januari 2006 melakukan suvei opini publik tentang toleransi sosial masyarakat Indonesia. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman Konflik.200 orang responden yang ditentukan dengan metode multistage random sampling yang tersebar di 33 propinsi dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar lebih kurang 2.9%.7%. sementara sebagian besar (72. Praktik silaturrahmi dengan nonmuslim di hari besar keagamaan mereka. dan sisanya 6. Namun proporsi tersebut meningkat menjadi 59. misalnya terhadap praktik memberi ucapan selamat kepada pemeluk agama lain yang merayakan hari besar keagamaan mereka.3% tidak bersikap. yakni 40.menunjukkan bahwa sebagian kalangan muslim Indonesia masih memiliki persoalan menyangkut proses konsolidasi demokrasi.

sikap terhadap perjuangan hak oleh kelompok lain.7%) dan homo seks (43. Temuan lain menyatakan: warga non-muslim di Indonesia memandang masyarakat muslim Indonesia pada umumnya sangat toleran terhadap mereka (78. dan pandangan terhadap kebudayaan barat. Temuan tentang toleransi sosial kemasyarakatan yang ditunjukkan dari hasil survei ini menunjukkan pola yang sangat menarik. meskipun tidak mayoritas (pihak yang menyatakan tidak keberatan sebanyak 38. namun toleransi dengan orang yang berbeda agama lebih rendah (hanya 80-an %).3%). Selain itu. dan semakin rendah terhadap pihak lain yang dianggap memiliki orientasi dan perilaku seks yang berbeda seperti kaum waria (61. pihak yang menyatakan keberatan cukup besar (42.7%). Sedang yang diukur dalam dimensi sosial politiknya adalah: pandangan masyarakat terhadap orang lain. Survei ini menetapkan bahwa sikap toleransi dan pandangan tentang pluralisme masyarakat Indonesia diukur dalam dua dimensi. Dalam hal toleransi terhadap orang yang berbeda agama untuk melaksanakan dan membangun rumah ibadat mereka dalam lingkungan di sekitar responden. Sedangkan   77 . Khusus tentang toleransi beragama.7%). kelompok lain. hal sangat terlihat dalam toleransi hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda etnis (di atas 90-an %). survei ini juga mengungkap derajat social trust dalam masyarakat Indonesia. ditanyakan juga kesediaan mereka untuk membiarkan pihak yang berkeyakinan beda untuk melaksanakan dan membangun sarana ibadat.orang responden. Meski secara umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cukup toleran. Indikator yang diukur dalam dimensi sosial keagamaan adalah: bagaimana kesediaan masyarakat untuk hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda (the other) baik dari agama dan etnis.1%). yakni dimensi sosial keagamaan dan dimensi sosial politik.

2006. Jakarta: LSI. Sebaliknya sikap intoleran bisa mengancam terciptanya harmonisasi antaraumat beragama. Hasil penelitiannya berkesimpulan bahwa perilaku sosial kelompok-kelompok keagamaan di UNSRI terhadap masyarakat muslim mainstream. salah satunya berusaha mengungkapkan perilaku sosial-keagamaan para aktivis gerakan Islam fundamentalis di UNSRI.54 Beberapa penelitian di atas cukup bisa memberi gambaran bahwa sikap toleransi sangat diperlukan oleh masyarakat guna menciptakan harmonisasi antarumat beragama. apalagi dengan non-muslim. Kelompok atau gerakan yang tidak                                                              54Tim Peneliti.   78   . Kesimpulan ini didukung pula oleh hasil penelitian Kasinyo Harto yang setelah dibukukan berjudul Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. Data tersebut dapat dipahami bahwa keberadaan rumah ibadat sebagai simbol adanya umat agama tertentu di suatu wilayah. Salah satu penyebab intoleransi adalah paham keagamaan yang cenderung tertutup (eksklusif) sebagai akibat pengajaran doktrin keagamaan yang menekankan tentang kebenaran tunggal.7%. Harto melalui penelitiannya ini. Kuatnya doktrin keagamaan mereka memunculkan keyakinan akan kebenaran tunggal.untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan/kebaktian yang menyatakan tidak keberatan cukup besar (48%) dan yang menyatakan keberatan hanya 36. tidak cukup disukai keberadaannya. Survei Opini Publik: Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia. Dari beberapa penelitian di atas diketahui pula bahwa banyak faktor yang mendorong sikap toleran tetapi tidak sedikit pula yang mendorong sikap intoleran. yakni kebenaran Islam kelompok sendiri. rata-rata mereka punya kecenderungan sikap eksklusif dan intoleran.

Mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi. Meskipun begitu.sepaham dipersepsikan sebagai golongan yang tersesat dan harus didakwahi agar kembali ke jalan yang benar. Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag. Pengantar Karel A. Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang.     79 . Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia: The Exclusivist and Inclusivist Muslim Perspectives (2005). 2008. yakni: eksklusif (exclusive) dan inklusif (inclusive). Cara pandang ini menurut Husein menimbulkan sikap tidak toleran (intolerance) terhadap keberadaan agama lain. Muslim eksklusif memiliki keyakinan Islam sebagai agama terakhir untuk mengoreksi (kesalahan) agama lain. relasi antara Islam dan Kristen tidak bisa dilepaskan dari cara pandang masing-masing pemeluk agama tersebut terhadap agamanya sendiri maupun agama kelompok lain. Dalam pandangan Husein. Hubungan Muslim dan Kristen yang menjadi fokus studi Husein merupakan topik penting sekaligus sensitif.55 Kesimpulan bahwa sikap keberagamaan yang terbuka (inklusif) cenderung membuat orang toleran dan sikap keberagamaan yang tertutup (eksklusif) cenderung membuat orang intoleran merupakan kesimpulan penelitian Fatimah Husein. Steenbrink. Konflik dan kekerasan sering mewarnai perkembangan Islam dan Kristen di Indonesia. hlm. Muslim inklusif bersikap lebih terbuka terhadap kelompok agama lain. 215. Sedangkan Muslim inklusif memiliki keyakinan bahwa Islam merupakan agama yang benar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dalam studinya Husein mengungkap dua cara pandang dominan di kalangan Muslim yang mempengaruhi relasi Islam dan Kristen. 2008. mereka tidak menegasikan agama di luar Islam yang juga dapat memberikan keselamatan (salvation) bagi pemeluknya. Dengan cara pandang ini.   56Kasinyo Harto.56 Sekadar mempertegas definisi eksklusivisme                                                              55Mujiburrahman.

Berdasarkan 80   . sedangkan agama dan kepercayaan lain salah. Sebaliknya individu yang extrovert pada umumnya memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar. perlu dikutip juga penjelasan Joseph Runzo (2003) apa yang disebut dengan religious exclusivism. Kerangka Berpikir 1. Mengapa ada yang berpandangan eksklusif. berminat terhadap keanekaan. sementara lainnya inklusif? Apakah cara pandang tersebut dipengaruhi oleh doktrin agama? Dari hasil penelitian Kasinyo Harto di atas sikap eksklusif dan inklusif sangat dipengaruhi doktrin keagamaan yang dikonstatasi oleh kelompoknya. tenang. Pada diri yang introvert umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri. hati-hati dalam mengambil keputusan. dan cenderung tertutup secara sosial.dari Husein. Pengruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Kepribadian dalam individu dapat dibedakan antara dua sisi yang introvert dan extrovert. suka berteman. Dengan seseorang mempunyai kepribadian extrovert. dan ramah tamah. pemalu. aktif. sigap dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaan yang lamban. dia akan senang terlibat dalam sebuah kelompok atau organisasi karena keterlibatan nya dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain dan bekerja kelompok. dan suka bekerja kelompok. tetapi rajin. suka bekerja sendiri. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kepribadian introvert cenderung tertutup secara sosial dan suka bekerja sendiri sehingga tidak senang terlibat dalam sebuah kelompok atau organisasi. bebas dan terbuka secara sosial. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. C. yakni sikap keagamaan yang menganggap bahwa satu-satunya agama yang benar hanya agama dan keyakinan yang dipeluknya.

sifat. sosok tubuh. Gagasan tersebut memberikan gambaran dan kesan tentang apa yang dipikirkan. sikap. emosi. yang terungkap melalui perilaku. sifat. dapat di duga bahwa terdapat pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organsiasi. Kombinasi yang muncul dari keduanya merupakan kepribadian seseorang. minat. Berdasarkan uraian di atas.uraian di atas. perangai. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. emosi. Kepribadian juga merupakan kesatuan unik dari ciri-ciri fisik (pandangan mata. atau bagi mahasiswa melalui kegiatan   81 . Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar Salah satu sikap manusia ditentukan oleh pengalaman. Pengayaan pengalaman ditentukan oleh seberapa besar keinginan seseorang terlibat dalam kegiatan sosialkemasyarakatan. penyesuaian diri. dan motivasi. sikap dan motivasi) yang baik maka akan memiliki hasil belajar pendidkan agama yang tinggi karena termotivasi untuk memperdalam pelajaran agama. toleransi dan ketekunan). Aspek kepribadian meliputi watak. dan sebagainya) dan mental yang ada dalam diri seseorang ( kebijaksanaan. penyesuaian diri. Jadi di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama. 2. 3. senyum. dirasakan. dan diperbuat. Di sisi lain hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah pengetahuan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidikan agama. dapat di lihat bahwa seseorang yang memiliki kepribadian (watak.

Dengan memasuki suatu organisasi.organisasi kemahasiswaan atau sejenisnya. serta berupaya untuk mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan lingkungan. Pada intervensi 82   perkembangan melalui terhadap lingkungan. Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Berkenaan dengan kepribadian. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat introvert akan menciptakan lingkungan yang tertutup dan individualis. Sebaliknya pada tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. adaptasi sebagian maupun individu . pada hakikatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. Dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berorganisasi adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain Di sisi lain orang yang memasuki suatu kelompok sosial. dan ramah tamah. aktif. yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan termasuk dalam hal pengetahuan agama islam. orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert akan menciptakan lingkungan yang terbuka dan saling menghargai. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organsiasi terhadap hasil belajar pendidikan agama 4. cenderung pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri. seseorang akan mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya termasuk apa yang baik. Umumnya mereka sudah senada dengan kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya. suka berteman.

Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan. Dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain. yakni sifat di antara introvert dan extrovert. Demkian juga seseorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan tetapi percaya diri yang semakin berkurang akan cenderung bergerak ke arah introvert.mengadakan penyesuaian. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya dan gagasannya sesuai dengan kenyataan social yang ada di lingkungan kampus atau masyarakatnya. tetapi justru karena adanya perbedan-perbedaan yang tercipta. Keterlibatan seorang dalam kelompok didasarkan karena hasratnya untuk bersatu dengan manusia-manusia yang lain disekitarnya. Karena itu. proses untuk mencapai tujuan tersebut dapat melalui kerjasama dan berfikir secara bersama-sama pula. sehingga menjadi sifat yang ambivalen. Kesempatan berinteraksi ini secara langsung mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kelompok. dalam usaha untuk memenuhi kehendak dan kepentingan tersebut. Di sisi nlain seseorang tertarik untuk mengadakan interaksi bukan karena adanya kesamaan sikap. Seseorang yang mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke arah extrovert. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan. tidak dapat dilakukan sendirian melainkan harus dilakukan secara bersama-sama. 5. Dengan demikian. Karena naluri manusia itu ingin hidup bersama atas kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. Adanya   83 .

diharapkan dapat mengembangkan pribadi mahasiswa secara optimum dan kompeten dalam kehidupan di lingkungan keluarga. selain akan memperoleh informasi berharga. Paparan di atas menggambarkan keuntungan yang dapat diperoleh oleh seseorang bila terlibat dalam organisasi. dan komunitas moral. tanggapan dan saran. sehingga akan mempengaruhi lingkungan kampus yang lebih nyaman dan jauh dari gejolak akibat perbedaan pendapat. 6. kampus dan masyarakat (sosial). hasil belajar pendidikan agama yang di dapat mahasiswa diharapkan dapat memberikan suatu konsekuensi berupa tanggung jawab memelihara norma-norma sosial dan norma agama.perbedaan. dalam merasakan kekurangan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. Melalui keterlibatan organisasi. Hasil belajar Pendidikan agama yang meliputi aspek kognitif (pengetahuan keagamaan) dan psikomotorik yang di miliki mahasiswa. kepandaian atau segala sesuatu yang berkenaan dengan agama yang meliputi aspek kepercayaan. Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan Pengetahuan keagamaan adalah segala sesuatu yang diketahui. Hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah kemampuan pendidikan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidika agama. justru akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain. misalnya. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. ritus. Dalam lingkungan keluarga. ide-ide berharga. karena 84   . Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan.

aktif. tidak sabaran. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. Sifat-sifat lainnya mudah tersinggung (emosional). dan percaya diri. suka membuat provokasi. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar selalu merasa kurang puas. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pemurung. kurang mempunyai rasa humor. kurang percaya diri. Adapun tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar periang. tenang. dan banyak inisiatif (usaha).   85 . dan stabil. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi agama Secara umum kepribadian manusia menjadi empat kriteria yaitu: (a) Sanguinis. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan. 7. bereaksi negatif dan agresif. tidak toleran. optimistis. dan ramah tamah. (c) Koleris. dan (d) Plegmatis. Begitu juga melalui Perguruan Tinggi. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pendiam. membiarkan. sedih. menghormati. dan membolehkan pendirian.sebuah keluarga tidak hanya sekadar berstatus sebagai lembaga sosial akan tetapi juga merupakan lembaga pendidikan informal. pandangan.. netral (tidak ada warna perasaan yang jelas). diharapkan hasil belajar pendidikan agama yang dimiliki mahasiswa dapat berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan beragama di lingkungan kampus. suka berteman. cenderung beroposisi. tidak mau mengalah. Di sisi lain toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. pesimistis. keyakinan.. (b) Melankolis.

gagasan dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan social. ide-ide berharga. Melalui keterlibatan organisasi. Intoleransi 86   . dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik. Toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama. serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. sehingga akan terwujud saling pengertian dan toleransi antar anggota. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. perilaku. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan.kepercayaan. selain akan memperoleh informasi berharga. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya. nilai. Tertariknya seseorang untuk melakukan interaksi di tentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary). dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik. 8. tanggapan dan saran. Dengan demikian orang-orang yang bersifat ekstrovert biasanya lebih mempunyai toleransi beragama yang baik karena sifatnya yang lebih terbuka secara sosial dan berminat terhadap keanekaan termasuk menerima keaneka ragaman agama yang ada di sekitar lingkungan dari pada orang-orang yang bersifat introvert yang cederung lebuh menarik diri dari lingkungan. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama Keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok akan memberikan kesempatan berinteraksi dengan pihak lain. keyakinan.

adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran. kebesaran jiwa. muncul karena kita tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan. Oleh karenanya. dibutuhkan adanya kejujuran. aspek kedalaman dari agama itulah yang membuat seseorang lebih toleran terhadap orang lain. antarteman. setiap pemeluk agama hendaknya dapat menghayati ajaran agamanya secara mendalam. 9. diharapkan mahasiswa mempunyai penghayatan terhadap aspek kedalaman dari agama sehingga dapat membuat mahasiswa lebih mampu bersikap menghormati orang lain secara lebih manusiawi. misalnya suku. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama. Dengan kata lain. agama. atau antarkelompok. orangtua dan anak. dan ideologi. seperti hubungan antara kakak dan adik. hingga menumbuhkan perasaan solidaritas dan mengeliminir egoistis golongan. bangsa. suami dan isteri.   87 . kebijaksanaan dan bertanggung jawab. Hal ini membuat seseorang pada aspek kedalaman dari agama terdapat titik-titik temu yang lebih banyak dari agama-agama. Dari hasil belajar pendidikan agama yang dimiliki. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal. Pengaruh hasil belajar terhadap toleransi beragama Hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah kemampuan pendidikan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidika agama. Dalam toleransi beragama.

Tujuan 88   . melainkan lebih dari itu. ia tidak harus menimbulkan pertentangan. 10. toleransi antarumat beragama bukan hanya sekadar hidup berdampingan secara pasif tanpa adanya saling keterlibatan satu sama lain. yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan saling menghargai dan menghormati. Oleh karena itu. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama Memahami lingkungan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan. yakni toleransi yang bersifat aktif dan dinamis. Di sisi lain pendidikan adalah suatu proses di mana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan terpilih dan terkontrol (misalnya kampus) sehingga ia dapat mengembangkan diri pribadi secara optimum dan kompeten dalam kehidupan masyarakat (sosial). Dengan demikian. lingkungan sekolah. semua penganut agama setuju untuk hidup rukun dengan tetap memelihara eksistensi semua agama yang ada. Perbedaan tidak harus mengakibatkan permusuhan. Dalam konteks ini. prinsip tersebut mengandung pengertian. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh hasil belajar organisasi terhadap toleransi beragama. Pada dasarnya lingkungan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi: lingkungan keluarga. berbuat baik dan adil antarsesama.Dalam toleransi ini semua umat beragama harus berpegang pada prinsip agree in disagreement (setuju dalam perbedaan). rukun dan damai. karena bagaimanapun perbedaan akan selalu ada di dunia ini. dan lingkungan masyarakat (sosial). sebab pendidikan itu merupakan suatu proses yang berlanjut dan berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan. dan bekerjasama dalam membangun masyarakat yang harmonis.

dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis.pendidikan di keluarga. tujuan itu harus mengandung nilai-nilai yang serasi dengan kebudayaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan sebagai lembaga pendidikan. baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. yakni terbentuknya mental. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. Peranan Sekolah/Perguruan Tinggi sebagai institusi dinyatakan sebagai berikut: “peranan sekolah/kampus sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia. Dengan demikian pendidikan di Perguruan Tinggi. terarah dan sistematik guna mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian mahasiswa yang mendapat keluarga yang baik akan mampu mengidentifikasikan pola sikap dan tingkah laku yang baik dalam keluarganya sehingga muncul sikap saling toleran masing-masing anggota keluarga. Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana. berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk dan jenis lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan sebagai faktor penting dalam mengukur toleransi beragama di kalangan mahasiswa. Berdasarkan pembahasan di atas. penerimaan. maka bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. dilihat dari sudut sosial dan spiritual. Pengabaian terhadap masalah ini barangkali dapat membuat pembacaan terhadap toleransi beragama di kalangan mahasiswa itu tidak utuh   89 . tingkah laku. dan agama). organisasi.

Keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 6. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka berpikir di atas. Keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 9. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap keterlibatan organisasi 2. Hasil belajar pendidikan agama berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 10. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 8. Keterlibatan organsiasi berpengaruh langsung terhadap hasil belajar 4. Lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 90   . Kepribadian berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 5. maka hipotesis penelitian ini adalah: 1. Hasil belajar berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 7. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh lingkungan belajar terhadap toleransi beragama D.(bias). Kepribadian berpengaruh langsung terhadap hasil belajar 3.

sehingga secara otomatis mahasiswanya heterogen dari sisi agama dan etnis.d. Alasan dipilihnya 7 universitas tersebut sebagai lokasi penelitian adalah: (1) selama ini 7 universitas tersebut menjadi ajang perebutan bagi para mahasiswa baru menuntut ilmu karena dianggap berkualitas baik secara akademis maupun sosial sehingga menghasilkan sumber daya manusia mahasiswa atau lulusan yang kompetitif. dan pelaporan. 7 universitas tersebut mempunyai mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. mulai dari tahap persiapan. Universitas Diponegoro. 91 . yaitu Universitas Indonesia. Heterogenitas itu diasumsikan berpotensi memunculkan konflik bernuansa agama atau etnis di kalangan mahasiswa. diseminasi hasil penelitian. Universitas Gadjah Mada. Lokasi dan Waktu Penelitian enelitian berlokasi di 7 perguruan tinggi umum negeri. baik laten maupun manifes. (2) karena prestasinya tersebut. Universitas Padjadjaran. Universitas Udayana. dan Universitas Nusa Cendana. (3) 7 universitas tersebut diduga mempunyai kegiatan intra dan ekstra kampus yang cukup baik sehingga dapat membantu membentuk karakter mahasiswa yang tidak semata-mata pandai secara akademis tetapi juga baik sosialisasinya di masyarakat. membutuhkan waktu kurang lebih 4 bulan yaitu dari bulan September s. Universitas Hasannuddin.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. pelaksanaan. Desember 2009. P Penelitian ini. pengolahan hasil penelitian.

yaitu toleransi beragama (Y).A. Survei cross-sectional hanya ingin memotret pendapat atau perilaku masyarakat pada satu periode waktu tertentu. Jakarta: AROPI. seperti gambar berikut X1 X3 Y X2 X4 1 Eriyanto dkk. 2007.S. 8. Teknik analisis data dengan menggunakan metode analisis deskriptif.p.                                                                92 . analisis korelasional dan analisis jalur (path analysis). Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei cross-sectional yaitu survei yang dirancang untuk sekali waktu. 2009. Jakarta: t. Bagaimana Merancang dan Membuat Survei Opini Publik.1 Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. yang juga berfungsi sebagai dasar dalam penyusunan instrumen penelitian dalam bentuk kuesioner. hlm. Teknik ini dipergunakan untuk menganalisis hubungan antara 4 (empat) variabel bebas (independent variable). Model Hipotesis penelitian berbentuk pengaruh kausal (sebab akibat) sesuai dengan model teori yang digunakan. Imam Chourmain. hasil belajar pendidikan agama (X3).   2 M. dan pandangan dari berbagai pakar. teori. keterlibatan organisasi (X2).2 Berdasarkan konsep. dalam setiap variabel penelitian telah dibangun konstruk dan indikator.B. yaitu kepribadian (X1). Survei cross-sectional tidak punya maksud membuat perbandingan atau melihat perubahan pendapat dan perilaku. dan lingkungan pendidikan (X4) dengan 1 (satu) variabel terikat (dependent variable). Metode Penelitian dengan Analisis Jalur (Metode Path Analysis).

Konghucu) di fakultas eksakta seperti teknik. dan fakultas sosial seperti ilmu sosial dan politik. hasil pendidikan agama mempengaruhi toleransi beragama melalui lingkungan pendidikan. Katolik. MIPA. Jawa Barat (Universitas Padjadjaran). psikologi. 93 . keterlibatan organisasi. lingkungan pendidikan. lingkungan pendidikan. Kristen. hasil belajar pendidikan agama. hukum. filsafat. ilmu komputer). Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah mahasiswa perguruan tinggi umum negeri di wilayah DKI Jakarta (Universitas Indonesia). Jawa Tengah (Universitas Diponegoro). farmasi. kehutanan. Bali (Universitas Udayana). kedokteran umum. kepribadian juga diasumsikan mempengaruhi toleransi beragama melalui keterlibatan organisasi. pertanian. hasil belajar pendidikan agama. C. keguruan. Hindu. lingkungan pendidikan diasumsikan mempengaruhi secara langsung toleransi beragama. ilmu budaya. keterlibatan organisasi mempengaruhi toleransi beragama melalui hasil belajar pendidikan agama.Keterangan: X1 = Kepribadian X2 = Keterlibatan organsiasi X3 = Hasil Belajar PA X4 = Lingkungan pendidikan Y = Toleransi beragama Dari skema di atas dapat dijelaskan bahwa variabel kepribadian. Sulawesi Selatan (Universitas Hasanuddin). dan Nusa Tenggara Timur (Universitas Nusa Cendana). ekonomi. Selain itu. DI Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada). yang terdapat di perguruan tinggi tersebut. Sedangkan populasi terjangkaunya adalah mahasiswa yang berbeda agama (Islam. kesehatan masyarakat. Buddha. perikanan. kedokteran gigi.

Dari data tersebut mestinya Universitas Padjadjaran memperoleh 100 responden. Sampel Responden Penetapan jumlah masing-masing responden universitas sebesar itu ditentukan setelah melihat jumlah mahasiswa keseluruhan dari masing-masing universitas.000-an orang. Universitas Diponegoro sebanyak 28.000-an orang. D. Universitas Hasanuddin sebanyak 30. proyeksi 100 responden diberikan kepada Universitas Hasanuddin. Universitas Padjadjaran sebanyak 45.000-an orang. Universitas Gadjah Mada 45. Dari hasil pelacakan melalui internet diketahui bahwa mahasiswa Universitas Indonesia sebesar 40.000-an orang. namun karena pertimbangan keterwakilan wilayah Timur. Instrumen Penelitian Penyusunan instrumen penelitian didasarkan pada “matrik pengembangan instrumen” dan “kisi-kisi instrumen” yang merujuk kepada 5 variabel yang diukur. yaitu variabel 94 .000-an orang.Sampel penelitian secara keseluruhan sebanyak 610 mahasiswa dan penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive dengan perincian sebagai berikut: Perguruan Tinggi Jumlah Sampel Universitas Indonesia 100 Universitas Padjadjaran 80 Universitas Diponegoro 81 Universitas Gadjah Mada 98 Universitas Hasanuddin 101 Universitas Udayana 80 Universitas Nusa Cendana 70 610 Jumlah Tabel 1. Universitas Udayana sebanyak 18. dan Universitas Nusa Cendana sebanyak 15.000-an.000-an orang.

Definisi Konseptual Kepribadian adalah perangai atau perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi dinamis antara karakteristik fisik dan mental pada diri individu yang berkembang sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya. c. sanguinis. keterlibatan organisasi. Melankolis.kepribadian. hasil belajar pendidikan agama. Variabel Kepribadian (X1) a. b. 1. Plegmatis. dan plegmatis. berdasarkan instrumen yang sudah baku. Definisi Operasional Kepribadian adalah skor yang diperoleh dari instrumen kepribadian dengan indikator yang mengukur temperamental seseorang apakah ia tergolong ekstrovert. 5. introvert. Sanguinis. koleris. 2. Kisi-kisi Instrumen Variabel Kepribadian (X1) No. dan toleransi beragama.1. Koleris. Dimensi Ekstrovert atau introvert. 4. lingkungan pendidikan.   3 95 . Bandung: Alfabeta. Kisi-kisi Tabel 3. melankolis. Kualitatif dan R & D. Nomor Soal 13 14 15 16 17 Jumlah Jumlah Butir 15 15 15 15 15 75                                                              Sugiyono. hlm. 3. Metode Penelitian Kuantitatif.3 1. 2008. 8.

27. maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli.2. Definisi Konseptual Keterlibatan organisasi adalah setiap proses identifikasi. 23. 21. 25 6 3. c. Pengetahuan 18 1 2. b. setelah instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konstruksi instrumen variabel kepribadian dilakukan dengan menggunakan pendapat dari ahli (judgment experts). 2. Kedudukan 19 1 2. komunikasi atau kegiatan bersama individu atau kelompok dalam organisasi. 28 3 Jumlah 11 96 . Kisi-kisi Instrumen Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) No. 24. kedudukan dalam organisasi. kualitas dalam kegiatan organisasi. Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) a. Dime Nomor Soal Jumlah nsi Butir 1. Dalam hal ini. Instrumen variabel kepribadian diadaptasi dari instrumen uji kepribadian yang sudah baku dilakukan oleh kalangan psikolog. Kisi-kisi Tabel 3. Manfaat 26. Definisi Operasional Keterlibatan organisasi adalah skor yang diperoleh dari instrumen keterlibatan organisasi dengan indikator yang mengukur kuantitas dalam pengetahuan organisasi. pengambilan keputusan di organisasi. Keterlibatan 20.d. dan manfaat organisasi. 22.

d. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen keterlibatan organisasi dengan cara mengonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. Selanjutnya, untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. Hasil uji coba instrumen keterlibatan organisasi diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 4 butir pernyataan tidak diterima. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 7 butir. Adapun pernyataan 4 butir yang ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini adalah, yaitu nomor 22, 25, 26 dan 27. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0.877. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel keterlibatan organisasi adalah instrumen final yang terdiri atas 7 butir. 3. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) a. Definisi Konseptual Hasil belajar pendidikan agama adalah prestasi akademik yang diperoleh mahasiswa dalam mata kuliah pendidikan agama di perguruan tinggi. 97

b. Definisi Operasional Hasil belajar pendidikan agama adalah skor yang diperoleh dari instrumen pengetahuan agama dengan indikator yang mengukur prestasi akademik mata kuliah pendidikan agama. c. Kisi-kisi Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) No. Dimensi Nomor Butir Jumlah 1. Nilai 29 1 Jumlah 1 d. Validitasi Instrumen

Validitasi instrumen dilakukan dengan membandingkan antara pengakuan responden dan hasil belajar yang dikeluarkan oleh pihak fakultas yang bersangkutan. 4. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) a. Definisi Konseptual Lingkungan pendidikan adalah tempat di mana individu atau kelompok mendapatkan pengaruh konsepsional dan perilaku terhadap pandangan atau aturan tertentu yang kemudian menjadi pandangan dan perilaku dirinya. b. Definisi Operasional Lingkungan pendidikan adalah skor yang diperoleh dari instrumen lingkungan pendidikan dengan indikator yang mengukur pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (sosial) terhadap toleransi beragama.

98

c. Kisi-kisi Tabel 4.1. Kisi-kisi Instrumen Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) No. 1. Dimensi Keluarga Nomor Butir Jumlah 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 18 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 10 55, 56, 57 58, 59, 60, 61 4 Jumlah 32

2. 3.

Kampus Masyarakat.

d. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen variabel lingkungan pendidikan dengan cara mengkonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. Selanjutnya, untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. Hasil uji coba instrumen keterlibatan organisasi diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 23 butir pernyataan tidak diterima. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 9 butir. Adapun pernyataan 23 butir yang ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian 99

57. 100 . Definisi Konseptual Toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. keyakinan agama. 53. perilaku. 34. 31. b. membiarkan. 46. Variabel Toleransi Beragama (Y) a.ini adalah. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik. pandangan. 42. 48. 35. 43. 56. 58. 5. 54. dan kerjasama sosial. keyakinan. yaitu nomor 30. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. penghormatan terhadap pelaksanaan ritual dan pendirian rumat ibadat. 41. dan membolehkan pendirian. 37. 32. 33. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel keterlibatan organisasi adalah instrumen final yang terdiri atas 9 butir. 45. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0. 59 dan 61. menghormati. 47. 51. 44. Definisi Operasional Toleransi beragama adalah skor yang diperoleh dari instrumen toleransi beragama dengan indikator yang mengukur kebebasan beragama.877. kepercayaan.

87. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen toleransi beragama dengan cara mengonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. 64. Adapun pernyataan 7 butir yang 101 . Selanjutnya. 76. Keyakinan agama Ritual dan pendirian rumah ibadat Kerjasama sosial Nomor Butir Jumlah 62. 63. 86. 2. 68. untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. 90. 91. 8 67. 71. Kisi-kisi Tabel 3. 104. 101. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 38 butir. 84. 69 70. 106 Jumlah 45 d. 73.c. 89. 65. Dimensi 1. 3. 99. Kebebasan beragama. 95. 74 5 75. 7 80. 72. 98. 100. 66. 105. 83. 88. 94. 92. 97. 102. 103. Hasil uji coba instrumen toleransi beragama diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. 77. 78. 4. 81 25 82. 79. 96.5. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 7 butir pernyataan tidak diterima. 93. Kisi-kisi Instrumen Variabel Toleransi Beragama (Y) No. 85.

ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini adalah.87. Selanjutnya skor setiap variabel yang diperoleh dari hasil penelitian diklasifikasi menurut kategori berikut: Variabel Kepribadian Ekstrovert-Introvert 26-30 sangat luar biasa ekstrovert 9-12 agak ekstrovert 22-25 Sangat ekstrovert 5-8 sangat intrivert 18-21 Agak ekstrovert 0-4 sangat luar biasa introvert 13-17 Seimbang Sanguinis 26-30 sangat luar biasa sanguinis 9-12 Sedikit sanguinis 22-25 Sangat sanguinis 5-8 Tidak begitu sanguinis 18-21 Di atas Rata-rata 0-4 Bukan sanguinis 13-17 Rata Rata 102 . 79. frekuensi. yaitu nomor 62. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel toleransi beragama adalah instrumen final yang terdiri atas 38 butir. 66. 64. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0. E. Statistik deskriptif tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran karakteristik penyebaran skor setiap variabel yang diteliti dengan menghitung nilai rata-rata (mean). dan 84. median. Teknis Analisis Data Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. standar deviasi. 65. dan histogram. 68.

Melankolis 26-30 sangat luar biasa artistik 9-12 Dibawah rata rata 22-25 Sangat artistik 5-8 Tidak begitu artistik 18-21 agak artistik 0-4 tidak artistik 13-17 Rata Rata Koleris 26-30 Imajinasi yang kuat 9-12 Dibawah rata rata 22-25 Imajinasi yang bagus 5-8 kekurangan imajinasi 18-21 Agak imajinatif 0-4 tidak punya imajinasi 13-17 Rata Rata Plegmatis 26-30 luar biasa asertif 9-12 sangat lembut 22-25 sangat asertif 5-8 Tenang 18-21 Agak aserif 0-4 Sangat tenang 13-17 lembut Variabel Keterlibatan Organisasi Kurang terlibat apabila skor: 0 -20 Cukup terlibat apabila skor: 21 – 40 Terlibat apabila skor: 41 – 60 Sangat terlibat apabila skor: 61 – 80 Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama A = 4, B = 3, C = 2, D = 1, dan E = 0 Variabel Lingkungan Pendidikan Kurang kondusif apabila skor: 9 – 18 Cukup kondusif apabila skor: 19 – 27 Kondusif apabila skor 28: – 36 Sangat Kondusif apabila skor: 37 – 45

103

Variabel Toleransi Beragama Rendah apabila skor: 39 – 78 Sedang apabila skor: 79 – 117 Baik apabila skor: 118 – 156 Baik sekali apabila skor: 157 – 195 Analisis selanjutnya adalah dengan statistik inferensial (induktif), yaitu teknik analisis jalur. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis data yang terdiri dari uji normalitas galat taksiran dan uji homogenitas varians. Pengujian normalitas galat taksiran masing-masing dilakukan terhadap taksiran Y atas X1, X2, X3 dan X4. Sedangkan pengujian homogenitas varians masing-masing dilakukan terhadap varians pengelompokan nilai Y atas kesamaan nilai variabel bebas Kepribadian (X1), Keterlibatan Organisasi (X2), Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3), dan Lingkungan Pendidikan (X4).

104

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
A. Profil Responden 1. Sebaran Responden esponden penelitian ini tersebar di 7 (tujuh) universitas negeri di Indonesia yang tergolong universitas besar. Sebaran responden di 7 universitas tersebut adalah sebagai berikut:

R

Dari data di atas, penyumbang responden terbesar adalah Universitas Hasanuddin sebesar 16.6%, berikutnya kemudian Universitas Indonesia sebesar 16.4%, Universitas Gadjah Mada sebesar 16.1%, Universitas Diponegoro sebesar 13.3%, Universitas Padjadjaran sebesar 13.1%, Universitas Udayana sebesar 13.1%, dan Universitas Nusa Cendana sebesar 11.5%.

 

105

Agama Responden Ditinjau dari sisi agama. Buddha sebanyak 34 orang (5. Jenis Kelamin Responden Ditinjau dari jenis kelamin. Katolik sebanyak 91 orang (14. Dari tabel di atas diketahui bahwa responden perempuan sebanyak 295 orang (48%) dan responden laki-laki sebanyak 314 orang (51.2. sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut.5%).8%).3%). dan Khonghucu sebanyak 2 orang (0. Kristen sebanyak 133 orang (21. 106   . sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut.5%).8%). responden kebanyakan pemeluk agama Islam dengan 273 orang (44. Hindu sebanyak 76 orang (12.6%). 3. responden antara laki-laki dan perempuan hampir seimbang.9%).

0%). Variabel bebas yang mempengaruhi variabel toleransi beragama beragama beragama dalam penelitian ini ditetapkan secara teoritis dan empiris. Semester Ditinjau dari sisi semester. semester 5 sebanyak 180 orang (29. dan semester 7 sebanyak 128 orang (21. responden sebagian besar berasal dari semester 3 sebanyak 234 orang (38. sebagaimana terlihat pada tabel berikut.5%). Adapun paparan data dari variabel-variabel penelitian disajikan sebagai berikut:   107 .4%). B.4. dan lingkungan pendidikan (X4). hasil belajar pendidikan agama (X3). Deskripsi Data dan Temuan Deskripsi data hasil penelitian meliputi variabel terikat (Y) yaitu toleransi beragama beragama beragama dan variabel bebas (X) meliputi kepribadian (X1). keterlibatan organisasi (X2).

68631 13.0792 139.8600 138.0393 Std.07573 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Berdasarkan kategori yang telah ditetapkan. 108   . kategori sedang (79 – 117).8429 140. dan kategori baik sekali (157 – 195).63689 16. Perolehan rata-rata skor tersebut berada di atas rata-rata skor teoritik dari variabel toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa.32473 19.6531 140.69239 17. rata-rata toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas negeri berada dalam kategori baik (118-156). dengan skor 140.2963 136. Deskripsi data toleransi beragama beragama beragama mahasiswa disajikan pada tabel berikut: Descriptive Statistics Dependent Variable: Toleransi_Y Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 144.98305 23.84730 18.7500 136. Data tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu kategori rendah (39 – 78). Deviation 13. Toleransi beragama Agama 7 Universitas beragama Mahasiswa Berbeda Berdasarkan hasil uji instrumen toleransi beragama beragama beragama yang diberikan kepada 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas negeri diperoleh data toleransi beragama mahasiswa.78053 23. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan skor toleransi beragama beragama secara visual berikut ini.3375 145.1. kategori baik (118 – 156).

Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan toleransi beragama   109 . R Squared = .076 N =610 0.00 0 Toleransi_Y Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor toleransi beragama beragama condong ke kanan atau sebagian besar skor toleransi beragama beragama di atas rata-rata.0 6074. .05. ternyata rata-rata skor toleransi beragama di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.010 < 0. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.Toleransi_Y 100 80 Frequency 60 40 20 Mean =140.537 1012.398a 11793615.00 150.0 221605.00 200.431 Sig.832 357.00 50.400 2.000 .398 215530. Dev.00 100.832 11793614.96 32995. dan p-value = 0.010 a.056 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square F 1012.018) Dari tabel di atas diperoleh F= 2. =19. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Toleransi_Y Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 6074.400 2.832.658 12184326.010 .04 Std.027 (Adjusted R Squared = .

Hal ini berarti karakteristik universitas tempat penelitian ini dilakukan berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama beragama beragama. koleris. sanguinis. dengan kategori skor sebagaimana telah disinggung di bab tiga. Deskripsi data kepribadian mahasiswa disajikan pada tabel berikut: 110   . 2. melankolis. Kepribadian Berdasarkan hasil uji instrumen kepribadian yang diberikan kepada 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas negeri diperoleh data kepribadian mahasiswa. Data tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 5 dimensi kepribadian. yaitu ekstrovert dan introvert. dan plegmatis.beragama beragama di kalangan mahasiswa di 7 universitas.

50229 3.1800 17.21990 4.63973 4.46205 4.3265 18.2286 16.91420 3.Descriptive Statistics EKS_INTRO Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 17.0988 14.10848 4.5750 15.19069 4.77477 4.1429 15.4898 16.35970 4.68612 3.5475 20.99226 4.0625 16.5248 19.5750 15.71486 4.5500 18.63630 4.0500 16.44126 4.1525 14.59775 4.4444 17.7901 14.18875 4.3000 19.97368 3.4321 16.3673 19.5500 19.2571 17. Deviation 4.59955 4.3143 14.62340 4.9604 17.66726 4.7750 13.9796 14.52912 3.51595 5.76306 3.0625 15.9125 15.50449 3.52589 4.2871 18.3082 19.8429 20.7800 14.08226 4.4557 15.5429 14.1980 14.82889 3.70952 4.67040 3.62890 4.6000 18.78602 N 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 SAGUINIS MELANKOLIS KOLERIS PLEGMATIS   111 .23066 4.89840 5.2375 20.74711 3.58725 3.61934 4.5100 15.25231 3.83513 3.73814 4.83589 3.9802 15.4574 Std.2346 17.

Gambaran umum secara visual dapat dilihat pada grafik berikut ini.55 Std. =4.00 10. dan dimensi plegmatis dalam kategori lembut (13 – 17). Dev.Berdasarkan kategori yang telah ditetapkan. Perolehan rata-rata skor dimensi-dimensi variabel kepribadian di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas secara umum di atas rata-rata skor teoritik. dimensi sanguinis dalam kategori di atas rata-rata (18 – 21).00 30. dimensi melankolis dalam kategori rata-rata (13 – 17). dimensi koleris dalam kategori agak imajinatif (18 – 21). rata-rata kepribadian dalam dimensi ekstrovert-introvert di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas berada dalam kategori seimbang (13 – 17).00 0 EKS_INTRO 112   . EKS_INTRO 60 50 40 Frequency 30 20 10 Mean =16.00 20.462 N =610 0.

00 20.00 10. Dev.667 N =610 -10.00 0 MELANKOLIS   113 .00 30. =4. =4.00 0.SAGUINIS 60 Frequency 40 20 0 -10.31 Std.00 0.189 N =610 SAGUINIS MELANKOLIS 60 50 40 Frequency 30 20 10 Mean =15.46 Std.00 20.00 10. Dev.00 30.00 Mean =19.

KOLERIS

60

50

40

Frequency

30

20

10 Mean =18.15 Std. Dev. =4.502 N =610 -10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00

0

KOLERIS

PLEGMATIS

80

60

Frequency

40

20

0 0.00 10.00 20.00 30.00

Mean =14.46 Std. Dev. =3.786 N =610

PLEGMATIS

Dari grafik-grafik di atas tampak bahwa dimensi sangunitas dan plegmatis di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas merupakan dimensi yang cukup menonjol dibandingkan 3 dimensi yang lain. Jika dikomparasi antar 7 universitas ternyata hanya dimensi sanguinis dan koleris yang berbeda secara signifikan. Dengan kata lain, 114  

karakteristik universitas hanya berpengaruh nyata terhadap dimensi sangunitas dan koleritas. Hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tests of Between-Subjects Effects Type III Sum Source Dependent Variable of Squares Corrected Model EKS_INTRO 181.583a SAGUINIS 710.489b MELANKOLIS 54.653c KOLERIS 334.466d PLEGMATIS 153.014e Intercept EKS_INTRO 164054.815 SAGUINIS 227311.089 MELANKOLIS 140661.735 KOLERIS 198559.466 PLEGMATIS 125885.198 Kode_UN EKS_INTRO 181.583 SAGUINIS 710.489 MELANKOLIS 54.653 KOLERIS 334.466 PLEGMATIS 153.014 Error EKS_INTRO 11943.538 SAGUINIS 9974.816 MELANKOLIS 13211.406 KOLERIS 12010.356 PLEGMATIS 8576.378 Total EKS_INTRO 179156.000 SAGUINIS 241586.000 MELANKOLIS 156214.000 KOLERIS 213347.000 PLEGMATIS 136229.000 Corrected Total EKS_INTRO 12125.121 SAGUINIS 10685.305 MELANKOLIS 13266.059 KOLERIS 12344.821 PLEGMATIS 8729.392 a. R Squared = .015 (Adjusted R Squared = .005) b. R Squared = .066 (Adjusted R Squared = .057) c. R Squared = .004 (Adjusted R Squared = -.006) d. R Squared = .027 (Adjusted R Squared = .017) e. R Squared = .018 (Adjusted R Squared = .008) df 6 6 6 6 6 1 1 1 1 1 6 6 6 6 6 603 603 603 603 603 610 610 610 610 610 609 609 609 609 609 Mean Square F 30.264 1.528 118.415 7.158 9.109 .416 55.744 2.799 25.502 1.793 164054.815 8282.726 227311.089 13741.466 140661.735 6420.136 198559.466 9969.010 125885.198 8850.913 30.264 1.528 118.415 7.158 9.109 .416 55.744 2.799 25.502 1.793 19.807 16.542 21.909 19.918 14.223 Sig. .166 .000 .869 .011 .098 .000 .000 .000 .000 .000 .166 .000 .869 .011 .098

 

115

3. Keterlibatan Organisasi Berdasarkan data skor keterlibatan organisasi yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 perguruan tinggi umum diperoleh rata-rata sebesar 22,51. Dengan menggunakan kategori: Kurang terlibat (0 – 20), Cukup terlibat (21 – 40), Terlibat (41 – 60), dan Sangat terlibat (61 – 80), maka skor keterlibatan organisasi yang diperoleh dalam penelitian ini berada dalam kategori cukup terlibat. Deskripsi data keterlibatan organisasi mahasiswa disajikan pada tabel berikut:
Descriptive Statistics Dependent Variable: Terlibat_Organisasi_X2 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 24.6750 22.9571 22.0891 19.1700 22.2716 21.6500 25.1633 22.5098 Std. Deviation 7.87847 7.73742 8.07354 7.25865 8.61541 8.20173 7.20637 8.03670 N 80 70 101 100 81 80 98 610

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor keterlibatan organisasi kurang terlibat hingga sangat terlibat berturut-turut adalah UGM, Udayana, Undana, Unhas, Undip, Unpad, dan UI. Keterlibatan organisasi disajikan secara visual pada histogram berikut.
Histogram

80

60

Frequency

40

20

Mean =22.51 Std. Dev. =8.037 N =610 0 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00

Terlibat_Organisasi_X2

116  

maka rata-rata hasil belajar pendidikan agama pada mahasiswa yang menjadi responden penelitian tergolong tinggi.000 .350 61. Deskripsi data hasil   117 .048) Dari tabel di atas diperoleh F= 6. R Squared = .Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor keterlibatan organisasi condong ke kiri atau sebagian besar skor tersebut di bawah rata-rata empiris. 4. Dengan menggunakan skala 1 – 5 (A. D.441 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 379.099a 305328. Hasil Belajar Pendidikan Agama Berdasarkan data hasil belajar pendidikan agama yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas umum negeri diperoleh rata-rata sebesar 3.173 Sig. dan E). B. ternyata rata-rata skor keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.192 6.000 39334.173 4968.49.457 F 6.000 a.290 2276.058 (Adjusted R Squared = .000 < 0.05.290 379. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Terlibat_Organisasi_X2 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 2276.350 305328. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut. .173. dan p-value = 0. C. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa di 7 universitas.342 348417.099 37058. Hal ini berarti karakteristik universitas tempat penelitian ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa.000 .

709 N =610 Hasil_Belajar_Agama_X3 Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor hasil belajar pendidikan agama condong ke kanan atau sebagian besar skor tersebut di atas rata-rata empiris. ternyata rata-rata skor hasil belajar pendidikan agama di 118   . dan Undip.00 Mean =3.49 Std. Udayana.4000 3. Kecenderungan data hasil belajar pendidikan agama disajikan secara visual pada histogram berikut.68132 .00 0.70106 .69631 .3827 3.00 1. Deviation .64386 .6250 3.00 2. Dev.00 3.5000 3.60460 .4082 3. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian.70933 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar pendidikan agama tertinggi ke terendah berturutturut diperoleh Unhas.80885 .belajar pendidikan agama mahasiswa disajikan pada tabel berikut: Descriptive Statistics Dependent Variable: Hasil_Belajar_Agama_X3 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 3.81131 . =0. UGM.4885 Std. Histogram 400 300 Frequency 200 100 0 -1.4286 3.00 4.00 5.6634 3. Unpad. UI. Undana.

163a 7288. .023 (Adjusted R Squared = .406 Sig.163 299. Hal ini berarti universitas-universitas tempat penelitian ini dilakukan berpengaruh nyata terhadap hasil belajar pendidikan agama mahasiswa.000 306. dan p-value = 0.014) Dari tabel di atas diperoleh F= 2. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.026 a. Kondusif (28 – 36). dan Sangat Kondusif (37 – 45). Lingkungan Pendidikan Berdasarkan data skor lingkungan pendidikan yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 perguruan tinggi umum diperoleh rata-rata sebesar 35.406.kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan. R Squared = .257 7730.420 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 1.026 .194 . Deskripsi data lingkungan disajikan pada tabel berikut: pendidikan mahasiswa   119 .026 < 0. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Hasil_Belajar_Agama_X3 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 7.565 7.406 14686.92. Cukup kondusif (19 – 27). Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan hasil belajar pendidikan agama di kalangan mahasiswa di 7 universitas.496 F 2. Dengan menggunakan kategori lingkungan pendidikan: Kurang kondusif (9 – 18).409 2.565 1.194 7288.000 .05. 5. maka skor lingkungan pendidikan tersebut berada dalam kategori kondusif.

Ditinjau dari 120   .50753 5.Descriptive Statistics Dependent Variable: Lingkungan_Pendidikan_X4 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 36.14747 3. Histogram 150 100 Frequency 50 0 0. Deviation 3. UGM.6250 37. Unpad.1000 36.1939 35. Dev.19684 4. =4.00 20.00 40.9164 Std.9500 35.92 Std.52463 3. Unhas.58835 3.0594 34. Undip. Kecendrungan data lingkungan pendidikan disajikan secara visual pada histogram berikut.153 N =610 Lingkungan_Pendidikan_X4 Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor lingkungan pendidikan condong ke kanan atau sebagian besar skor tersebut di atas rata-rata empiris.00 50.50181 3.2857 36.5185 35. dan UI. Udayana.00 30.00 Mean =35.00 10.15321 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor lingkungan pendidikan terkondusif hingga ke kurang kondusif berturut-turut diperoleh Undana.57991 5.

yaitu (px21). Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Lingkungan_Pendidikan_X4 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 340.05.751 3.761 16. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan lingkungan pendidikan di kalangan mahasiswa di 7 universitas.003 a.367 45994.761 775287. Hal ini berarti universitas-universitas tempat penelitian ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap lingkungan pendidikan mahasiswa. C.032 (Adjusted R Squared = .003 . R Squared = . Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi di analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan keterlibatan organisasi (X2).856 F 3.502 56.502 340.003 < 0. dan p-value = 0. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi terangkum pada tabel berikut.568a 775287. ternyata rata-rata skor lingkungan pendidikan di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.367.023) Dari tabel di atas diperoleh F= 3.000 .168 797397.367 Sig. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.000 10504.736 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 56. Analisis Inferensial 1.   121 . .568 10164.universitas-unversitas lokasi penelitian.

Error 2.ANOVA(b) Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 1377. Std. 24. Kepribadian b Dependent Variabel: Keterlibatan organisasi Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) Kepribadian 26. Error . Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar terangkum pada tabel berikut: 122   .788 .025 . yaitu (p31).633 57.902.621 df 1 608 609 Mean Square 1377. p-value = 0.195 terhadap keterlibatan organisasi. 2.195 Standardized Coefficients Beta t B 12. Variabel kepribadian memberi pengaruh sebesar 0.633 34853.000 .000(a) a Predictors: (Constant). Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p21) adalah signifikan.122 Std.326 F Sig.115 .05.000 <0.032 .902 Sig.989 36231.000 a Dependent Variabel: Keterlibatan organisasi Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (p21) = 0. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan hasil belajar (X3).665 4. Dengan kata lain kepribadian mahasiswa berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama beragama beragama.195 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 4.

389 2.124 .008 4.003 Sig. Keterlibatan organisasi.013 .067 .177 .006(a) 7.170 Sig.369 240.000 .009 .ANOVA(c) Model 1 Regression Residual Total 2 Regression Residual Total Sum of Squares 4.017 .395 df 2 607 609 1 608 609 Mean Square 2. Keterlibatan organisasi c Dependent Variabel: Hasil belajar Coefficients(a) Standardi zed Coefficie nts Beta .000 1.049 . B Error 3.103 2.006(b) a Predictors: (Constant).098 Model 1 2 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi (Constant) Keterlibatan organisasi Unstandardize d Coefficients Std.026 236.767 a Dependent Variabel: Hasil belajar   123 .405 240.990 .399 33.003 .390 F 5.002 . Kepribadian b Predictors: (Constant). Std.003 .395 2. .006 t .196 .621 .112 2.632 . B Error 20.929 .657 .990 237.

Error of the Estimate .012 . Keterlibatan organisasi. maka perlu dilakukan trimming.129(a) .62488 a Predictors: (Constant). Kepribadian b Predictors: (Constant).62402 .Excluded Variabels(b) Model Partial Collinearity t Sig.067(a) 1.017 . yaitu variabel kepribadian ke variabel hasil belajar pendidikan agama. 3. Dengan demikian H0 diterima atau koefisien jalur (p31) adalah tidak signifikan. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama Karena ada koefisien jalur yang tidak signifikan.011 Std. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Hasil belajar Model Summary Model 1 2 R .632.05.067 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1. yaitu mengeluarkan variabel kepribadian dari model dan perhitungan koefisien jalur model 1 diulang.103 .962 2 a Predictors in the Model: (Constant).103>0.014 . Hasilnya ditunjukkan oleh model2 dan 124   . Correlation Statistics Toleranc Toleranc Tolerance e e Tolerance Tolerance Beta In Kepriba dian . Keterlibatan organisasi Dari tabel tersebut diperoleh koefisien jalur (p31) = 0.066 . Dengan kata lain kepribadian tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pendidikan agama.632 . p-value = 0.112(b) Adjusted R Square R Square .

4. ANOVA(b) Mode l 1 Regres sion Residu al Total Sum of Squares 412.512 6 10418. Hasil belajar.518 df F 8.000(a) 10006.112 dengan statistik ujit diperoleh: thit = 2. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (p32) = 0.05. Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan (X1).006 < 0. p-value = 0. Dengan kata lain keterlibatan organisasi berpengaruh terhadap hasil belajar. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Lingkungan pendidikan   125 .553 Mean Square 3 137. Hasil pengujian pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama terangkum pada tabel di atas. .328 Sig. Hasil pengujian terangkum pada tabel coefficients bagian 3. Kepribadian. yaitu (p32).30 606 16.diperoleh hasil bahwa pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar di analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar (X3). Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p32) adalah signifikan.85 609 9 a Predictors: (Constant). yaitu (p41).767.

921 .05. Dengan kata lain kepribadian berpengaruh nyata terhadap lingkungan pendidikan 5.022 . dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3.520 . Error . B Error Beta B 27.079 3.072 .800. Dengan kata lain variabel keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan 126   . p-value = 0.073 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1.077 .049 a Dependent Variabel: Lingkungan pendidikan Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p41) = 0.645 16.000 .264 .073 1.143.800 .025 .Coefficients(a) Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients t Std.840 1.014 .05. p-value = 0. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dengan lingkungan pendidikan agama (X4).000 .072 > 0. Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p42) = 0.143 .502.969 Model 1 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi Hasil belajar Sig.502 1.000 < 0. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p41) adalah signifikan. yaitu (p42). Std.

yaitu (p43).22 3 Mean Square 8277. Hasil belajar. p-value = 0.969. ANOVA(b) Sum of Squares 33110.6. Lingkungan pendidikan.73 7 353. dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1.403 Sig.049 < 0.947 213993.05. Dengan kata lain variabel hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan 7. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama beragama beragama terangkum pada tabel berikut. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan toleransi beragama (Y). Kepribadian. Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p43) = 0.708 Model 1 Regression Residual Total df 4 605 609 F 23. Pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel hasil belajar pendidikan agama (X3) dengan lingkungan pendidikan (X4).079. . yaitu (py1).27 6 247104.000(a) a Predictors: (Constant). Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Toleransi beragama beragama Beragama   127 .

003 . Keterlibatan organisasi Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py1) = 0.000 . Kepribadian.310 Error 9.147 .227 .118 Beta B 7. B 1 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi Hasil belajar Lingkungan pendidikan 65.005 . Lingkungan pendidikan.969 a Dependent Beragama Variabel: Toleransi beragama beragama Model Summary Model 1 a R . Dengan kata lain kepribadian mahasiswa berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama.498 1.102 1.308 -3.000<0.109 -2.05.80712 Predictors: (Constant).188 .740 .240 .851 .000 -. Error of the Estimate 18.240 .791. p-value = 0.000 .147 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3.114 3.269 6.791 3.366(a) R Square . 128   . Error . Hasil belajar.010 Standardized Coefficients t Sig.128 Std.134 Adjusted R Square . Std. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py1) adalah signifikan.063 .Coefficients(a) Unstandardized Model Coefficients Std.

Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dan toleransi beragama (Y). Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py2) = 0.   129 . p-value = 0. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py3) adalah signifikan. Dengan kata lain keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py4) adalah signifikan.05.003 <0.05. Pengaruh hasil belajar toleransi beragama pendidikan agama terhadap Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel hasil belajar pendidikan agama (X3) dan toleransi beragama (Y). Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py3) = -0. yaitu (py4). Dengan kata lain lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama.109 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = -2. 9. p-value = 0. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py4) = 0.000 <0.05. Dengan kata lain hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama.8.010.118 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3. 10.269 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 6. p-value = 0. maka dapat diindikasikan apabila ingin meningkatkan toleransi beragama dapat dilakukan dengan memperbaiki lingkungan pendidikan.005 <0.969. yaitu (py2). yaitu (py3).851. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel lingkungan pendidikan (X4) dan toleransi beragama (Y). Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py2) adalah signifikan.

006 ditolak Memiliki pengaruh langsung 4 H H 0 1 : p 41 = 0 : p 41 > 0 0.791 0.079 1.073 1.Rekapitulasi Hasil Pengujian Hipotesis No 1 Hipotesis Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama beragama beragama Uji Statistik H H 0 1 : p 21 = 0 : p 21 > 0 Koefisien Jalur 0.147 3.195 t hitung p-value Keputusan 4.902 0.969 0.000 ditolak Kesimpulan Memiliki pengaruh langsung 2 H H 0 1 : p 31 = 0 : p 31 > 0 0.103 diterima Tidak memiliki pengaruh langsung 3 H H 0 1 : p 32 = 0 : p 32 > 0 0.000 ditolak 6 H H 0 1 : p 43 = 0 : p 43 > 0 0.502 0.072 diterima Tidak memiliki pengaruh langsung Memiliki pengaruh langsung 5 H H 0 1 : p 42 = 0 : p 42 > 0 0.143 3.049 ditolak Memiliki pengaruh langsung 7 H H 0 1 : p : p y1 y1 = 0 > 0 0.53 0.00 ditolak Memiliki pengaruh langsung 130   .800 0.067 1.767 0.112 2.

118 3. Model Empiris Hubungan Antar Variabel Berdasarkan hasil penghitungan di atas.109 -2.005 ditolak Memiliki pengaruh langsung H H 0 1 : p : p y4 y4 = 0 > 0 0.112 p42 = 0.195 = 0. maka diketahui skor dari masing-masing variabel sebagai berikut.000 ditolak Memiliki pengaruh langsung D. Nilai-nilai koefisien jalur p21 p41 py1 py4 = 0.269 p31 = py2 0.143 p43 = 0.067 = 0.010 0.003 ditolak Memiliki pengaruh langsung H H 0 1 : p : p y3 y3 = 0 > 0 -0.073 = 0.269 6.851 0.079 py3 = -0.969 0.147 = 0.109   131 .8 9 10 Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama beragama beragama Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama beragama beragama Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama beragama beragama H H 0 1 : p : p y2 y2 = 0 > 0 0.118 p32 = 0.

Kepribadian X1 XX X3 Hasil Belajar PA Y Toleransi beragama b X2 Keterlibatan Organisasi X4 Lingkungan Pendidikan Gambar 2: Skor Analisis Jalur (Path Analysis) Dari hasil perhitungan di atas terlihat dalam model 1.103>0. Dengan kata lain bahwa kepribadian tidak berpengaruh langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama dan kepribadian juga tidak berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan. jalur p31 mempunyai tanda yang tidak sinifikan (p-value = 0.103>0.05) dan jalur p42 juga mempunyau tanda yang tidak signifikan (p-value = 0.05). maka harus dicari model lain. Karena model awal tidak terbukti. Dengan demikian model 1 perlu dimodifikasi dengan menghilangkan jalur pengaruh X1 terhadap X3 dan jalur pengaruh X1 terhadap X4. Oleh karena itu dapat di simpulkan model awal atau satu tidak memenuhi persyaratan analisis jalur. 132   .

sehingga persyaratan pertama telah terpenuhi.195 = 0.147 = 0.269 Dengan memasukkan angka koefisien jalur pada masing-masing jalur hubungan.118 Y Toleransi beragama b 0.Hasil perhitungan koefisien jalur memberikan nilai-nilai sbb: Nilai-nilai koefisien jalur p21 p43 py3 = 0.195 X4 Lingkungan Pendidikan 0.147 X2 Keterlibatan 0.109 0.118 = 0.269 .079 Organisasi -0.109 p32 py1 py4 = 0.143 Gambar 3: Model Baru Empiris Hubungan Antar Variabel Dari model 2 di atas dapat diketahui bahwa nilai masing-masing koefisen jalur di atas t hit< t tabel.079 = -0.112 p42 py2 = 0.143 = 0. maka model 2 atau model baru empiris hubungan antar variabel dapat dikonstruksikan sebagai berikut X1 XX Kepribadian X3 Hasil Belajar PA 0. Selanjutnya perlu di uji   133 0.

022 0. yaitu dengan menggunakan uji ketepatan model dengan menggunakan program Software LISREL. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data hasil perhitungan koefisen dan pengujian hipotesis. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai chi-square sebesar 0.013 Tidak Langsung Total Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) 0.lagi dengan menggunakan persyaratan ke dua. E.112 = 0.1122= 0. Untuk mengetahui apakah nilai hitung ketepatan model (goodness fit statistics) mendukung model 2 maka akan digunakan analisis dengan menggunakan stastistik chi-square. oleh Karena itu dapat di ambil kesimpulan bahwa model analisis jalur di atas sudah sempurna artinya sangat sesuai dengan data dan dapat di gunakan untuk penelitian ini.00 dengan p-value sebesar 1 dan tidak perlu digunakan uji statistik yang lain lagi karena nilai chi-square sudah nol dan secara otomatis statistik uji yang lain akan menerima model 2 di atas. maka selanjutnnya dapat dianalisis perhitungan langsung dan tidak langsung variabel eksogen (variabel yang mempengaruhi/sebab) terhadap variabel endogen (variabel yang dipengaruhi/akibat) dalam model struktural yang terbagi menjadi 4 substruktur.013 Kepribadian (X1) Keterlibatan Organisasi (X2) 134   .022 0. Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1 dan X2) terhadap variabel Endogen X3 pada substruktur 1 Variabel Langsung Terhadap Hasil belajar (X3) 0.195 x 0.

X2 dan X3) terhadap variabel Endogen X4 pada Variabel substruktur 2 Tidak Langsung Langsung Terhadap Melalui Lingkungan Keterlibatan Pendidikan Organsiasi (X2) (X4) 0.079 = 0. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 8.195 x 0.143 = 0.112 x 0. hasil belajar juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0.006   135 .Dalam substruktur 1 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu hasil belajar dan 2 buah vaiabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 1.983 atau 98% dengan koefisien pε31= 0.7%.009 Total Kepribadian (X1) Keterlibatan Organisasi (X2) Hasil Belajar PA (X3) 0.028 0.112. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3).39%. Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1.1432=0.017 atau 1.2%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0.0792= 0.3% dengan koefisien jalur 0.020 0.006 Tidak langsung melaluiHasil Belajar PA (X3) 0.9%. Adapun pengaruh kepribadian (X1) dan keterlibatan organisasi (X2) secara bersama-sama terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2.98. Disamping ke dua variabel eksogen tersebut.029 0.013 atau 1.028 0.

9%. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0. 136   .40 atau 40%.006 atau 0.60.143. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung hasil belajar (X3) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0.9%. lingkungan pendidikan (X4) juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa keterlibatan organisasi memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terbesar terhadap lingkungan pendidikan. keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar PA (X3) secara bersama-sama terhadap hasil belajar (X3) adalah sebesar 0.Dalam substruktur 2 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu lingkungan pendidikan dan 3 buah variabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi dan hasil belajar PA.60 atau 60% dengan koefisien pε41= 0. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4).02 atau 2% dengan koefisien jalur 0. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap lingkungan pendidikan (X4) melalui hasil belajar PA (X3) sebesar 0. Adapun pengaruh kepribadian (X1).8%. Disamping ke dua variabel eksogen tersebut.6% dengan koefisien jalur 0. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organisasi (X2) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2. Sedangkan hasil belajar PA memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terkecil terhadap lingkungan pendidikan.8%.079.

109 = . Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) dan hasil Belajar (X3) sebesar 0.143 x 0.022 0.012 0.195 x 0.195 x 0.042 0.112 x 0.Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1. X4) terhadap variabel Endogen Y pada substruktur 3 Variabel Langsung Terhadap Toleransi beragama beragama (Y) Tidak Langsung Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) Tidak langsun g melalui Hasil Belajar PA (X3) Tidak langsung melalui Lingkungan pendidikan (X4) Tidak Langsung Melalui Keterlibat an Organsias i (X2) dan Hsl Belajar (X3) 0. X2.118 dian = 0.014 0.Pddkn (X4) Total Tidak Langsung Melalui Hasil Belajar PA (X3) dan lingk.2%.109 = 0. hasil belajar PA dan lingkungan pendidikan.269 0.1182=0.023 (X1) Keterlib atan Organis asi (X2) Hasil Belajar PA (X3) Lingkun gan Pendidi kan (X4) 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2.112 x 0.079 x 0.269 = 0.0.002 Tidak Langsung Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) dan lingk.072 0.021 0. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 2.002 0.= 0.038 0.012 0.2%.008 0.2692=0.1472=0.269 = 0.Pddkn (X4) Kepriba 0.1092=0.079 x 0. X3.033 0.051 0.3%. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap   137 .072 Dalam substruktur 3 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu toleransi beragama dan 4 buah variabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi.143 x 0.112 x .269 = 0.195 x 0.

2%.3%.2%. Disamping ke dua 138   .4%.2%.8%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 1.1%.2%. keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar PA (X3) lingkungan pendidikan (X4) secara bersama-sama terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 0.8%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung lingkungan pendidikan (X4) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 7.2%. Pengaruh tidak langsung hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) melalui lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2.1%.4%. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar (X3) sebesar -1.134 atau 13. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 5. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 1. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar PA (X3) dan lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0.toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) dan lingkungan pendidikan (X4)sebesar 0. Adapun pengaruh kepribadian (X1). Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar PA (X3) dan lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 5. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui lingkungan pendidikan (X4) sebesar 3. Dengan demikian pengaruh total hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 3.1%.

6% dengan koefisien pεy1= 0. Sedangkan hasil belajar PA memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terkecil terhadap toleransi beragama.87. lingkungan pendidikan (X4) juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0.   139 .variabel eksogen tersebut.866 atau 86. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terbesar terhadap toleransi beragama.

140   .

Terdapat Pengaruh langsung kepribadian terhadap keterlibatan organisasi sebesar 3. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan sebesar 0.109.269. Terdapat Pengaruh langsung lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama sebesar 7. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama sebesar 1. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan sebesar 2.2% dengan nilai koefisien jalur adalah -0. Tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama.195.2 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0.2 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0.143.0% dengan nilai koefisien jalur adalah 0.147.118. Terdapat Pengaruh langsung hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama sebesar 1.3% dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Terdapat Pengaruh langsung kepribadian terhadap toleransi beragama sebesar 2.079.BAB V PENUTUP A. Tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara kepribadian terhadap lingkungan pendidikan. 141 B erdasarkan hasil analisis data dan perhitungan statistik dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: .8% dengan nilai koefisien jalur adalah 0.6% dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Kesimpulan 1. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama sebesar 1.112.4 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0.

Dengan kata lain toleransi beragama pada mahasiswa di perguruan tinggi dapat meningkat jika di dukung atau ditumbuh suburkan oleh lingkungan pendidikan yang kondusif. Lingkungan pendidikan meliputi: lingkungan keluarga. yakni terbentuknya mental. Variabel lingkungan pendidikan mempunyai pengaruh langsung terbesar terhadap toleransi beragama.2. tetapi kepribadian mahasiswa akan lebih efektif perananya terhadap hasil pendidikan agama jika mahasiswa terlibat alam organisasi. keterlibatan organsiasi. Dengan demikian jenis 142 . Variabel Kepribadian mahasiswa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan. Peranan Sekolah/ Perguruan Tinggi sebagai. tetapi kepribadian mahasiswa akan lebih efektif perananya terhadap lingkungan pendidikan jika di dukung oleh keterlibatan mahasiswa dalam organisasi. lingkungan sekolah. Variabel kepribadian mahasiswa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama. Secara umum variabel kepribadian. dan lingkungan masyarakat (sosial). jika dilihat dari sudut sosial dan spiritual. hasil belajar dan lingkungan pendidikan mempunyai pengaruh langsung terhadap toleransi beragama. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel lingkungan pendidikan merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama mahasiswa di perguruan tinggi. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan di kampus dan di lingkungan masyarakat.Tujuan pendidikan di keluarga. 4. 3.

Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada perbaikan lingkungan pendidikan. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. 8. Perbaikan kepribadian akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. 2. Perbaikan kepribadian akan berdampak tidak langsung terhadap lingkungan pendidikan melalui keterlibatan organisasi. 5. penerimaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan sebagai faktor penting mengukur toleransi di kalangan mahasiswa. Implikasi 1. 143 . dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. tingkah laku. 4. 6. 7. Perbaikan kepribadian akan berdampak pada peningkatan keterlibatan organisasi mahasiswa di perguruan tinggi. 3. B. dan agama). Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada peningkatan terhadap hasil belajar pendidikan agama. Peningkatan hasil belajar pendidikan agama akan berdampak pada perbaikan lingkungan pendidikan. Peningkatan hasil belajar pendidikan agama akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. Perbaikan kepribadian akan berdampak tidak langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama melalui keterlibatan organisasi.lingkungan sangat menen tukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. organisasi. 9.

masyarakat melalui peningkatan revitalisasi peran dan komunikasi orang tua. Menggunakan model empiris toleransi beragama di kalangan mahasiswa dari temuan penelitian ini. perguruan tinggi. 144 . C. dosen tidak mengajarkan doktrin agama yang cenderung intoleran terhadap umat yang berbeda agama. Menciptakan kepribadian mahasiswa yang terbuka terhadap perbedaan melalui pengembangan program pendidikan dan pelatihan kepribadian yang dikelola oleh organisasi intra dan ekstra kampus. dan tokoh masyarakat.10. 2. 4. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan di atas. dan 5. dosen. Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan harmonis bagi penciptaan toleransi beragama beragama di lingkungan keluarga. sebagai acuan penyusunan kebijakan pemeliharaan toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa dengan penyempurnaan lebih lanjut. yang mampu menciptakan suasana yang sejuk bagi persemaian benih-benih toleransi beragama beragama dan kerukunan umat beragama. Meningkatkan sikap toleran di kalangan mahasiswa melalui keteladanan orang tua dalam memberikan perilaku yang toleran terhadap orang beda agama. Mengembangkan kurikulum pendidikan agama yang bernuansa multikulturalisme di Perguruan Tinggi. maka rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah: 1. 3. Perbaikan lingkungan pendidikan akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama.

Islam yang Paling Toleran: Kajian tentang Fanatisme dan Toleransi dalam Islam. Jakarta: Balai Pustaka. Skripsi. Indonesia Kita: Pemikiran Berwawasan Iman-Islam. Anis Faranita Dhanik Rachmawati. Jakarta: Ghalia A. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. 2009. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Gema Insani Press. Tesis. 2009. Ala Abu Bakar. hlm. Volume V No. Ahmad Warson Munawir. 160. 1999. 1994. 2008. 1959. 2006. 34. Anwar Harjono. 1204. 1 Tahun 2008. Mu`jam Musthalahat al-`Ulum al-Ijtima`iyat. Kecamatan Ceper. Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan: Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah. Alimron. 199-203. hlm. “Kekerasan Komunal di Indonesia: Sebuah Tinjauan Umum” dalam Jurnal Dignitas. Jakarta: Bumi Aksara. p. Padang: IAIN Imam Bonjol. Psikologi Pendidikan. Zaki Badawi. 3. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. hlm. hlm. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press & Pustaka Pelajar. Toleransi Antarumat Beragama dalam Perspektif al-Quran. 153.DAFTAR PUSTAKA Amiruddin al Rahab. Ideologi Kekerasan: Argumentasi Teologis-Sosial Radikalisme Islam. Gularnic. Agus Purnomo. Biyanto. hlm. Kabupaten Klaten. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus al-Munawir. Desa Pasungan. 2006. 21-25. Alo Liliweri. Webster’s World Dictionary of American Language. 702. 2005. Djaali. Malang: UMM Press. 145 . Semarang: IAIN Walisongo. hlm. Yogyakarta: PP Krapyak. David G. Pengantar Ilmu Pendidikan. Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. hlm. 799. A Muri Yusuf. Yogyakarta: LKiS. 1995. New York: The World Publishing Company.

512. Mukti Ali. Endang Saifuddin Anshari dalam Ilmu. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Chaplin. Psikologi Agama. Jakarta: The Interseksi Foundation. Psikologi Perkembangan. hlm. 7. Hadari Nawawi. hlm. 8. hlm.Djohan Effendi. “Substansi dan Definisi Pengetahuan” dalam www. Bandung: Pustaka Setia. 2005. 191. 1985. “Minoritas. J. Filsafat dan Agama. Skripsi. “Gerakan Baku Bae Maluku Perlawanan terhadap Penganjur Perang” dalam Ambon Berdarah On-Line. hlm. Ed. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Eriyanto dkk. No. hlm.israq. Jakarta: Gunung Agung. Depok.P. Enung Fatimah. A. Hikmat Budiman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan P2P-LIPI. Surabaya: Bina Ilmu. wordpress. 146 . “Persahabatan Lebih Penting Daripada Kesepakatan Formal” dalam Mimbar Ulama. Jalaluddin. www. Yogyakarta.com. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. hlm. Konflik Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Meretas Perdamaian. 2006. 2008. Desa Catur Tunggal. Fathurrahman.com. Istilah agree in desagreement dipopulerkan oleh Menteri Agama. 3. Multikulturalisme. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia. 46. 2006. 29-30. 128 Tahun XII/1988. Ed. Jakarta: Raja Grafindo Persada. hlm. Sleman. Modernitas” dalam Hikmat Budiman. Kamus Lengkap Psikologi. 1987. 2008. Israq. 2009. Jakarta: AROPI. Bagaimana Merancang dan Membuat Survei Opini Publik. 2008. Heru Cahyono.Toleransi Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. geocities.

Keberagamaan yang Saling 147 . 1993. p. hlm. IV Th. hlm. 1999. Skripsi. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. 2003. Kamus Filsafat. 11-12. Kent: Burns & Oates.com/2008/06/25/menggugat-intelektualisme mahasiswa/. Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme. wordpress. Depok: FISIP UI. Ed. Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. Mediasi dan Resolusi Konflik. Yogyakarta: Pilar Media. Kasinyo Harto. Pendidikan Multikultural. M. 215. 1993. No.Karl Rahner. M. Ainul Yaqin. hlm. 2007. Jakarta: FISIP-UI. Khaled Abou El Fadl. Muhammad Hisyam et. Jakarta: LIPI Press. hlm. hlm. Skripsi. Lucia Ratih Kusumadewi. Mukhsin Jamil. 1. xviii-xxi. Semarang: Walisongo Mediation Centre. 2005. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. 1111-1112. Wellwood. Amin Abdullah. Menggugat Intelektualisme Mahasiswa” dalam http:// bermula. Lucia Ratih Kusumadewi. M. 1996. 17. 1721-1726. Tunbridge Wells. 1 Vol. hlm. 88-96. 1999. hlm. hlm. Amin Abdullah. Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag. Lorens Bagus. Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. 2008. Bandung: Arasy. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. “Keimanan Universal di Tengah Pluralisme Budaya: Tentang Kebenaran Agama dan Masa Depan Ilmu Agama” dalam Ulumul Qur’an.al. North Farm Road. 65-78. 2006. M. “Relevansi Studi Agama di Era Pluralisme Agama” dalam Mohammad Sabri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2008. Yogyakarta: Ittaqa Press.cit.id. 16 Oktober 2008. 14-18 Juli 2003 M. Muhammad Hisyam. Muhammad Ali. Jalaluddin. Halem Lubis. Imam Chourmain. Mujiburrahman. hlm. Denpasar. 2009. dan Taufik Hadi. 2003. dalam www. 1999. Ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1. “Mahasiswa UKI dan YAI Sempat ‘Mesra’ di Era Reformasi”. “Tipologi dan Praktek Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”. diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Dep. Jakarta: LIPI. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik.tempointeraktif. Steenbrink.A. Pengantar Karel A. Jakarta: LIPI. Yogyakarta: Media Ilmu. Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung.S. Hariwijaya. 195. hlm. 2009.p.M. Jakarta: Irjen Dikti Depdiknas. . Skripsi. op. M. 2008. xiii. Tes Kepribadian. Hukum dan HAM RI. Jakarta: t. Idem. Psikologi Kepribadian. Agus Sujanto. Mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi. hlm. 118-130. Nurhayati. 148 . 2005. www. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. 2007.2006. 2007. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Billah. op. M. Jakarta: Bumi Aksara.Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial. “Mahasiswa Kriminal Picu Konflik Kampung Pulo”. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman Konflik. Makalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII.sabili. Bali. Muhlas.co.com. Metode Penelitian dengan Analisis Jalur (Metode Path Analysis). hlm. Pendidikan Profesi Guru.cit. Hariwijaya.

2008. 2008. 40. “Toleration” in The Encyclopedia of Pholosophy. Teguh Setiawan. Bandung: Sekolah Pascasarjana & Remaja Rosda-karya. Syamsu Yusuf LN dan A. Skripsi. FISIP Universitas Indonesia. 2008. Saiful Mujani dkk. Sugiyono. hlm. hlm 143. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2006. 92. Budaya Demokrasi. Sarlito Wirawan Sarwono.google.co. 162. dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru. hlm.lppbifiba. Juntika Nurihsan. 2002.blogspot.com. Metode Penelitian Kuantitatif. 2007. Saeful Mujani. Editor in Chief.vivanews. 2007. Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat. Soerjono Soekanto (1993: 355). Survei Opini Publik: Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia. “Teori Partisipasi dalam Dinamika Sosial” dalam www. Teori Kepribadian. Saiful Mujani. 19 November 2008. hlm. Jakarta: LSI. hlm. Kualitatif dan R & D. Jakarta: PPIM IAIN Syarif Hidayatullah. Resume Studi Toleransi dan Kerentanan Religi di 4 Kota Jawa. Semarang: IAIN Walisongo. Bandung: Alfabeta. Islam dan God Goverment. hlm. 12 November 2004 Tim Peneliti. 26. dari Labsosio Departemen Sosiologi. “Polisi Temukan Senjata Tajam dalam Kampus”. 2006. 149 . Toleransi Beragama di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi Basis Slankers Club. hlm. 1. hlm. Psikologi Prasangka Orang Indonesia. 92. Jakarta: Nalar. 8. 1967. Muslim Demokrat: Islam. www.id/books. 2005.Paul Edwards.nasional. Volume 7 and 8 Paul Edwars (New York & London: Macmillan Publisher.com. Tempo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. http://books. sebagaimana dikutip Sismarni.

hlm. Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. Tim Peneliti. 150 .in-christ.org. 1999. Expanded Edition. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama.S. 2008. Hutabarat. 4. Surakarta: PSB-PS UMS. 384. p. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Indeks Masyarakat Sipil Indonesia.antara. Binsar A. Jakarta: Balai Pustaka.commongroundnews. Jakarta: YAPPIKA. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional.co.J. New York: Humanity Books. Poerwadarminta. Jakarta: LP3ES dan YAPPIKA.google. 90-91.. Jakarta: Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hlm.id. 1121. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. W. Memupuk Toleransi untuk Multikulturalisme: Dukungan dari Psikologi Sosial. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. Jakarta: Paramadina. Jakarta: SETARA Institute. www. 2008. hlm. www.wikipedia. www.net. Laporan Hasil Survei Pengetahuan. Tim Penyusun. 1989. 2006. hlm. Tim Penyusun. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought. Reese. hlm. dkk. “Umat Islam Indonesia Dukung Radikallisme” dalam Harian Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. Jilid XVI. 2006. William L. 1996. Demi Toleransi Demi Pluralisme.org. Menepis Prasangka. 2007.id. Jakarta: SETARA Institute. 702. “Melampaui Toleransi?: Merenung Bersama Walzer” dalam Ihsan Ali-Fauzi. 2007. Trisno Sutanto. 774-775. Tim Penyusun. Yayah Khisbiyah. 2005. Sikap dan Perilaku Stakeholders terhadap Organisasi Masyarakat Sipil. www.com. www.Tim Peneliti.

Minoritas Nonmuslim di dalam Masyarakat Islam.Yusuf al-Qardhawi. Penerjemah Muhammad Baqir. 95-97. Zakiyuddin Baidhawy. Hlm. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. 1985. Jakarta: Erlangga. Bandung: Mizan. 151 . 2007.

152 .

.... Kami peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama sedang menyelenggarakan penelitian tentang Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama di Perguruan Tinggi Umum............. Tujuan penelaitian adalah untuk mengkaji pengaruh kepribadian...... kami ucapkan terima kasih.................................... keterlibatan organisasi....... dan lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama para mahasiswa..... Sehubungan hal tersebut........ Perguruan Tinggi : .. 153 .... Surveyor : ... kami mohon bantuan teman-teman untuk mengisi kuesioner ini......... Atas bantuan teman-teman........................................ DAFTAR PERTANYAAN (KUESIONER) PENELITIAN TENTANG MAHASISWA BERBEDA AGAMA DI PERGURUAN TINGGI UMUM TOLERANSI Hai teman-teman mahasiswa.........Lampiran Nomor : . Jawaban kuesioner merupakan informasi utama yang akan menentukan kesimpulan penelitian sekaligus sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijakan pembinaan kerukunan umat beragama di Indonesia... pengetahuan agama......

. baca dengan teliti pertanyaan atau pernyataannya. SMA b. d. Untuk jawaban isian mohon ditulis secara jelas dan ringkas... Umur 2....... Jenis kelamin 3.. I. Laki-laki b. Apabila ada yang tidak jelas... Buddha f...………. tahun : a. e.. SMK c.. bersaudara Asal Sekolah : a. dan/atau seterusnya untuk jawaban yang teman-teman anggap paling tepat. c. Daerah Asal : ……………………….. Jawaban teman-teman dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.. e. b. Madrasah Aliyah 154 .... Identitas Responden 1. Teman-teman mahasiswa dimohon menjawab/merespon pertanyaan atau pernyataan di bawah ini dengan sejujurnya...... Agama : . Perempuan : a.. c. 4. Khonghucu d. Dimohon untuk menjawab/merespon semua pertanyaan atau pernyataan. Islam b... Sebelum menjawab.. 6. Katolik d. Anak ke : ……… dari …. 5... Bubuhkan tanda silang (x) atau lingkaran (O) pada huruf a. b. Hindu e... 7. Suku (yang dominan) : ..... Kristen c.. tanyakan kepada petugas pengumpul data.Petunjuk Pengisian a.

b.. Pertanyaan Apakah kamu pernah cidera saat berolahraga berbahaya? Apakah kamu suka bermain langsung di atas pentas? Apakah kamu suka menjadi seorang pilot? Apakah kamu akan mempelajari sesuatu jika kamu dihukum penjara? Apakah kamu pernah mengkomplain ke pemilik toko atau penjaga toko? Apakah kamu suka ambil bagian dalam reli jalanan? Apakah kamu mau mengetuai kereta hias dalam suatu arak-arakan? Apakah kamu punya banyak kawan? Apakah kamu suka kehidupan malam? Apakah kamu popular di lingkungan kampus? Apakah kamu suka bekerja di bidang keuangan di satu kota besar? Apakah kamu suka menjadi politikus? Apakah kamu suka menyentuh orang? Apakah kamu suka menjadi seorang dokter? Apakah kamu seorang yang energik? Jawaban Anda Tidak Tida Ya Tahu k 8..………………………. n. i. 10.. m... Motor c. h. Biaya hidup perbulan : ………………………. Bersepeda e. e.. Berjalan kaki 155 .. l.. o. j. d. Semester : …….. Mobil d. f. c. Fakultas : ……………….. a. Angkutan umum b. 9. Transportasi ke kampus: a.No. k. g.

b. i. 156 . g. Pertanyaan a. Kepribadian 13. Pekerjaan Ibu : ………………………. : ………………………. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom terhadap pertanyaan-pertanyaan di kiri! No.. sebelah kanan kolom sebelah sebelah kanan kolom sebelah II.. Pekerjaan Bapak 12. d.11.. h. Apakah kamu menjadi kacau kalau terganggu? Apakah kamu merasa khawatir jika ada pekerjaan yang belum diselesaikan? Apakah kamu membasuh tangan kamu lebih dari empat kali sehari? Apakah betul kamu tidak pernah berjalan di bawah tangga? Apakah kamu memerintahkan menyimpan surat-surat dengan ketat? Apakah kamu selalu tahu berapa uang yang ada di dompet kamu? Apakah kamu merencanakan liburan dengan baik? Apakah kamu segera mencuci piring setelah makan? Apakah kamu mengucapkan selamat hari raya pada sahabat Jawaban Kamu Tidak Ya Tidak Tahu c. f. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom terhadap pertanyaan-pertanyaan di kiri! 14. e..

j. a. h. l. 157 . m. k. g. b. l. f. Pertanyaan Apakah kamu bisa menulis puisi? Apakah kamu percaya ada makhluk asing di jagat raya ini? Apakah kamu percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural? Apakah kamu dapat menulis buku cerita kanak-kanak? Apakah kamu berani tinggal di rumah angker sendirian di malam hari? Apakah kamu percaya setelah kematian ada kehidupan? Apakah kamu percaya adanya roh-roh jahat? Apakah kamu sering bermimpi pada malam hari? Apakah kamu percaya kepada spiritualisme? Apakah kamu pernah berencana seandainya kamu memenangkan lotere? Apakah kamu percaya ada hantu di sekitar rumahmu? Apakah kamu takut kalau keluar rumah di waktu malam? Apakah kamu suka hidup di Jawaban Kamu Tidak Tidak Ya Tahu d. j. i. k. lebih dahulu? Apakah kamu mencantumkan tanggal surat-surat kamu? Apakah kamu pernah tidak menepati janji? No. e. c.

abad ke-19? Apakah kamu suka pergi ke bulan? Apakah kamu mimpi di siang bolong? m. Pertanyaan Apakah kamu membaca majalah desain interior untuk mendapatkan ide untuk rumah kamu? Apakah kamu berpariwisata ke kawasan yang indah pemandangannya? Apakah kamu seorang yang modis? Apakah kamu pernah mengikuti kelas merangkai bunga? Apakah kamu punya kartu anggota perpustaakan? Apakah kamu pelukis cat air? Apakah kamu pernah menulis cerita pendek? Jawaban Kamu Tidak Tidak Ya Tahu b.n. a. Apakah kamu selalu memastikan pintu terkunci ketika malam? Apakah sepatu kamu selalu tampak bersih? Apakah kamu tidak pernah kehilangan kunci? Apakah kamu segera bersihbersih setelah bekerja? 15. c. o. o. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! No. d. 158 . n. e. g. f.

Apakah kamu menolak jika dikehendaki menjabat ketua sebuah klub? d. m. o. Pertanyaan Tidak Tidak Ya Tahu a. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! Jawaban Kamu No. Apakah kamu pernah mengunjungi rumah yang megah? Apakah kamu sering mengunjungi galeri seni? Apakah kamu suka berpuisi? Apakah kamu gemar berkebun? Apakah kamu gemar fotografi? Apakah kamu bagus jika tampil di pentas? Apakah kamu suka menjadi seorang arsitek? Apakah kamu suka menjadi illustrator untuk penerbitan komik? 16. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! 17.h. Apakah kamu akan komplain. j. n. k. Apakah kamu akan mengatakan untuk menghubungi kembali. jika hidangan satu restoran tidak ada yang kamu sukai? b. jika kamu menerima telepon ketika hendak keluar? 159 . Apakah kamu takut dengan orang yang punya wewenang? c. l. i.

padahal kamu berusaha untuk diet? Apakah kamu akan komplain. jika tetangga kamu memanasi motornya? Apakah kamu akan komplain untuk diulang. m. n. l. f. Apakah kamu akan komplain. jika perlengkapan kantor ternyata rusak? Apakah kamu akan memakan sekotak coklat pemberian seseorang. jika kamu tidak puas dengan perbaikan kendaraan kamu? Apakah kamu keberatan. jika buah yang kamu beli ada yang busuk? Apakah kamu akan menolak. j. h. jika ada penumpang yang merokok di kereta api non-merokok? Apakah kamu merasa sulit untuk menerima nasihat dari orang lain? Apakah kamu akan komplain. jika tetangga kamu meminjam kendaraan? Apakah kamu tetap bisa bekerja. o. k.e. g. i. jika kamu disuruh menunggu giliran di salah satu klinik gigi? Apakah kamu akan marah. jika seorang sales tidak memperhatikan permintaan kamu? 160 . jika seekor kucing tetangga menggali rumput taman kamu? Apakah kamu keberatan.

........... Apakah ada organisasi-organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra di kampus kamu seperti berikut? Keterangan Tidak Ada Ada Organisasi a... .. 161 .............. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) h.............. ........................................................ d....... Pemuda Khonghucu m... Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI) i... Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) f. c........................................ Keterlibatan Organisasi 18.......... Pemuda Hindu k..... Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) g..................... ..................................... ............... b.... Pemuda Katolik j.................. Himpunan Mahasiswa Jurusan Senat Mahasiswa Fakultas Badan Eksekutif Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) e..........................III....................... Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ......... Pemuda Buddha l..............

....... Pemuda Hindu k.......... Pemuda Buddha l.. Pemuda Khonghucu m. Peng urus Anggota aktif Anggota Tidak aktif Bukan Anggota 162 ..............19. . Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) e........ Himpunan Mahasiswa Jurusan b.............. Badan Eksekutif Mahasiswa d. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ......... Apakah kamu pernah atau sedang menduduki posisi tertentu di organisasi-organisasi kemahasiswaan berikut? Terlibat sebagai Organisasi a...... Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) f............ Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI) i.. Pemuda Katolik j......... Senat Mahasiswa Fakultas c.............. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) h...... Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) g....

20. Berapa banyak kamu memimpin rapat/diskusi dalam pertemuan organisasi kemahasiswaa di kampus? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 21. Berapa banyak kamu mengemukakan pendapat dalam setiap rapat/diskusi dalam pertemuan organisasi kemahasiswaan di kampus? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 22. Berapa banyak kamu menengahi perdebatan yang terjadi di antara teman-teman organisasi kemahasiswaanmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 23. Berapa banyak kamu mendukung teman yang hendak menduduki jabatan ketua di organisasi kemahasiswaanmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 24. Cara pandangmu terhadap masalah lebih arif sejak terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah

IV. Hasil Belajar Pendidikan Agama 25. Berapakah nilai mata kuliah agama kamu? a. A b. B c. C d. D e. E

163

V. Lingkungan Pendidikan 26. Apakah kamu terganggu belajar karena penghuni tempat tinggal kamu cukup banyak? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 27. Apakah hubungan antara orang tua dan kamu dilandasi rasa kasih sayang? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 28. Apakah hubungan antara orang tua dan saudara kamu dalam suasana keakraban? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 29. Apakah hubungan antara kamu dan saudara kamu dalam suasana keakraban? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 30. Apakah pengetahuan agama yang diperoleh di kampus dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari di tempat tinggalmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 31. Apakah kamu merasa tertarik dengan cara dosen kamu mengajar tentang perbedaan agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah

164

32. Apakah kamu diberi kesempatan untuk memberi pandangan berbeda saat pembelajaran agama berlangsung di ruang kuliah? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 33. Apakah dosen kamu mendukung sikap mahasiswa yang ekstrim? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 34. Apakah di lingkungan tempat tinggal kamu melakukan kegiatan sosial yang melibatkan anggota masyarakat berbeda agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah VI. Toleransi Beragama Pilih salah satu pernyataan di bawah ini yang dianggap paling sesuai dengan hati nurani kamu. 35. Kebebasan beragama berarti berhak memeluk atau tidak memeluk suatu agama. a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju 36. Kebebasan beragama berarti setiap orang atas kesadaran dan keyakinannya sendiri, leluasa memeluk suatu agama tanpa tekanan, intimidasi atau paksaan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

165

Sangat setuju b. a. Setuju c. Tidak setuju e. Setuju c. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju 166 . a. a. a. Sangat tidak setuju 41. Hanya kitab suci agama kamu yang paling benar. Netral d. Sangat setuju b. a. Netral d. a. Setuju c. Tidak setuju e. Tidak setuju e. Netral d. Sangat tidak setuju 43. Hanya ajaran agama kamu saja yang perlu diketahui dan dipelajari.37. Netral d. Tidak setuju e. Tidak setuju e. Netral d. Setuju c. Sangat setuju b. Netral d. Sangat setuju b. a. Hanya yang memeluk agama kamu yang dijamin keselamatannya. Sangat tidak setuju 38. Tidak setuju e. Satu-satu umat terpilih adalah mereka yang seagama denganmu. Netral d. Setuju c. Sangat setuju b. Setuju c. Sangat tidak setuju 42. Hanya agama kamu yang paling benar. Setuju c. Kebebasan beragama berarti bebas mengembangkan dan memelihara hakikat ajaran agama yang dianut. Sangat tidak setuju 39. Kebebasan beragama seseorang tidak boleh melanggar kebebasan beragama orang lain. Sangat setuju b. Sangat setuju b. Sangat tidak setuju 40.

Jarang d. Tidak setuju e. Setuju c. a. a. Sering c. d. c.44. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di masyarakat luas. Sangat tidak setuju 45. Pernah e. b. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama dalam satu rumah. Berkunjung dan memberi ucapan selamat pada teman berbeda agama atas perayaan hari besar agamanya. e. d. e. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di Kampus. a. Tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari besar teman berbeda agama tetapi tidak mengganggunya. Tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari besar teman berbeda agama dan tidak menyukai acara itu dilangsungkan. Tidak pernah 46. Menghadiri undangan teman berbeda agama dalam perayaan hari besar agamanya. Sangat setuju b. a. b. c. berbeda berbeda berbeda berbeda berbeda 47. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di lingkungan tempat tinggal. Memberi ucapan selamat pada teman berbeda agama atas perayaan hari besar agamanya. 167 . Kamu bersedia diajak mengunjungi tempat suci agama lain. Sangat sering b. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama dalam satu kamar. Kamu tidak keberatan pendirian rumah ibadat agama lain di lingkungan RT-mu. Netral d.

Setuju membantu teman yang berbeda agama. Setuju mempunyai kelompok belajar dengan teman yang berbeda agama. Kamu membantu tenaga/dana dalam perayaan keagamaan umat agama lain? a. a. c. d. Tidak pernah 49. e. Sangat sering b. Tidak pernah 50. Sering c. Sangat sering b. 52. Jarang d. Sangat sering b. Sering c. Jarang b. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu kamar. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu rumah. Pernah e. Pernah e. c. a. b. e. Tidak pernah 168 . d. 51. Jarang d. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama yang satu kampus. Sering c.48. Kamu mengikuti kegiatan doa bersama dengan orang berbeda agama? a. Setuju bergaul dengan teman berbeda agama. Pernah e. a. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama di masyarakat luas. b. d. Setuju berorganisasi dengan teman berbeda agama. Setuju tidak perduli dengan teman berbeda agama. Kamu mengizinkan teman berbeda agama menginap di kamar kamu. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu lingkungan tempat tinggal.

Pernah e. Tidak pernah 55. a. Tidak pernah 58. Sering c. Pernah e. a. Jarang d. Pernah e. Kamu ragu menikmati makanan yang dihidangkan teman berbeda agama. Kamu tidak ikut berdoa jika pembacaan doa dipimpin pemuka agama lain. Jarang 59. Tidak pernah 57. Netral d. Sering c. Sering c. d. Sangat sering b. Tidak setuju e. Sangat sering b. Sering d. Setuju c. Jarang d. Jarang b. Sangat setuju b. a. Sering c. Sangat tidak setuju 169 . Sering c. Pernah e. Tidak pernah c.53. Kamu bersedia memberikan alamat dan nomor telepon kamu kepada orang berbeda agama. Pernah e. a. Sangat sering b. Sangat sering b. Kamu menitipkan kunci kamar kepada teman yang berbeda agama jika kamu ada acara ke luar kota. Pernah e. a. Sangat sering b. Kamu menghadiri undangan pesta orang berbeda agama. Tidak pernah 56. Jarang d. Sangat sering b. a. Jarang d. Kamu meminta tolong dibelikan sesuatu kepada teman berbeda agama yang pergi berbelanja. Tidak pernah 54. Kamu menghadiri upacara pernikahan di rumah ibadat agama lain. a.

Sering c. Sangat sering b. Pernah e. Jarang d. Kamu meminjamkan buku/uang kepada teman berbeda agama. Sering c. Tidak pernah 66. Tidak pernah 62. Tidak setuju e. Sangat sering b. Kamu menghadiri upacara pemakaman penganut agama lain. Sering c. Pernah e. Sangat tidak setuju 61. Sangat sering b. Jarang d. Pernah e. Netral d. Jarang d. Kamu membantu jika ada teman berbeda agama mendapat musibah. Sering c.60. Pernah e. Kamu memberi bantuan untuk pendirian rumah ibadat agama lain. a. Tidak pernah 65. Sangat sering b. Tidak pernah 170 . a. Sangat sering b. Pernah e. Jarang d. Sangat sering b. Tidak pernah 64. Jarang d. Setuju c. Kamu akan memilih orang yang berbeda agama untuk menjadi ketua organisasi kampus? a. Kamu menjawab semua ucapan salam keagamaan yang diucapkan oleh penganut agama lain. a. Sering c. Tidak pernah 63. Pernah e. a. a. a. Jarang d. Sering c. Kamu melakukan ibadat di rumah temanmu yang berbeda agama. Sangat setuju b.

Jarang d. a. Sangat sering b. Tidak pernah 73. Tidak pernah 70. Pernah e. Pernah e. Tidak pernah 69. Kamu bertukar pikiran dengan orang berbeda agama. a.67. a. Sangat sering b. Kamu melakukan pinjam-meminjam barang/uang dengan orang berbeda agama? a. Jarang d. Sering c. Pernah e. Tidak pernah 68. Tidak pernah 71. Sangat sering b. Kamu menolak tawaran bantuan dari teman berbeda agama? a. Tidak pernah 171 . Pernah e. Pernah e. Pernah e. Sering c. Kamu bertamu ke rumah orang berbeda agama? a. Jarang d. Sering c. Jarang d. Jarang b. Jarang d. Sangat sering b. Kamu bertemu dan berbicara dengan orang lain yang berbeda agama. d. Sangat sering b. Jarang d. Sering c. Sering c. Kamu meminjamkan kendaraan milikmu kepada orang berbeda agama? a. Kamu mengikuti nasihat yang diberikan teman berbeda agama. Sering c. Pernah e. Tidak pernah 72. Sangat sering b. Sangat sering b. Sering c.

172 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful