ASKEP CVA / STROKE A.

Pengertian CVA (Stroke) CVA atau stroke merupakan salah satu manifestasi neurologi yang umum yang timbul secara mendadak sebagai akibat adanya gangguan suplai darah ke otak (Depkes, 1995). Stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral dan merupakan satu gangguan neurologik pokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologik pada pembuluh darah serebral misalnya trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar, misalnya arterosklerosis arteritis trauma aneurisma dan kelainan perkembangan (Price, 1995). B. Etiologi CVA (Stroke) Penyebab utama dari stroke diurutkan dari yag paling penting adalah arterosklerosis (trombosis) embolisme, hipertensi yang menimbulkan pendarahan srebral dan ruptur aneurisme sekular. Stroke biasanya disertai satu atau beberapa penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung, peningkatan lemak di dalam darah, DM atau penyakit vasculer perifer (Price, 1995). Menurut etiologinya stroke dapat dibagi menjadi : 1. Stroke trombotik Terjadi akibat oklusi aliran darah biasanya karena arterosklerosis berat. 2. Stroke embolik Berkembang sebagai akibat adanya oklusi oleh suatu embolus yang terbentuk di luar otak. Sumber embolus yang menyebabkan penyakit ini adalah termasuk jantung sebelah infark miokardium atau fibrasi atrium, arteri karotis, komunis atau aorta. 3. Stroke hemoragik Terjadi apabila pembuluh darah di otak pecah sehingga timbul iskemik dari hipoksia di daerah hilir, penyebab hemoragik antara lain ialah hipertensi, pecahnya aneurisma, malforasi arterio venas / MAV (Corwin, 2001). Faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan stroke antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Hipertensi merupakan faktor resiko utama. Penyakit cardiovaskuler (embolisme serebral, mungkin berasal dari jantung). Kadar hematokrit normal tinggi (berhubungan dengan infark, serebral) Diabetes Kontrasepsi oral peningkatan oleh hipertensi yang menyertai usia di atas 35 tahun.

C. Manifestasi Klinis CVA (Stroke)

maka terjadi kekurangan oksigen ke jaringan otot. Penanganan suportif imun 1. F. 2. otak yang terletak di sekitar tempat bekuan dapat membengkak dan mengalami nekrosis. Penilaian kekuatan otot 5. EEG : mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak. 2. spasme ini dapat menyebaar ke seluruh hemisfer otak. Pemeliharaan volume dan tekanan darah yang kuat. E. kerusakan kognitif dan efek psikologis. Berdasarkan Price SA dan Wilson Lorraine M (perdarahan intraksional) biasanya disebabkan oleh ruptura arteri cerebri ekstravasasi darah terjadi di daerah otak atau subarachnoid. Pada awal stroke biasanya paralisis menurunnya reflek tendon dalam. kekurangan oksigen pada awalnya mungkin akibat iskemia imun (karena henti jantung atau hipotensi) hipoxia karena proses kesukaran bernafas suatu sumbatan pada arteri koroner dapat mengakibatkan suatu area infark (kematian jaringan). Meningkatkan darah cerebral 1. kehilangan komunikasi. CT Scan : memperlihatkan adanya oedem 3. D. Pemeriksaan Penunjang CVA (Stroke) 1.Manifestasi klinis CVA atau stroke adalah kehilangan motorik disfungsi motorik yang paling umum adalah hemiplegi karena lesi pada otak yang berlawanan. sehingga mengakibatkan vasospasme pada arteri di sekitar pendarahan. Penatalaksanaan CVA (Stroke) Menurut Listiono D (1998 : 113) penderita yang mengalami stroke dengan infark yang luas melibatkan sebagian besar hemisfer dan disertai adanya hemiplagia kontra lateral hemianopsia. Elevasi tekanan darah . Pemeliharaan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat. 3. Darah ini sangat mengiritasi jaringan otak. 2002 : 213). selama stadium akut memerlukan penanganan medis dan perawatan yang didasari beberapa prinsip. gangguan persepsi. Secara praktis penanganan terhadap ischemia serebri adalah : 1. Koreksi kelainan gangguan antara lain payah jantung atau aritmia. Angiografi cerebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri adanya titik oklusi atau ruptur. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tertekan. 2. hemparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh. MRI : mewujudkan daerah yang mengalami infark 4. bekuan darah yang semua lunak akhirnya akan larut dan mengecil. Pathofisiologi CVA (Stroke) Menurut Hudak dan Gallo aliran darah di setiap otak terhambat karena trombus atau embolus. disfungsi kandung kemih (Smeltzer.

gangguan lapang pandang atau ke dalam persepsi. 5. Intervensi : 1. Pantau balance cairan. 4. Pathway CVA (Stroke) 1. Bila penderita tidak mampu menggunakan anggota gerak. Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis (netral). G. Pantau atau catat status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normalnya atau standar. 8. gangguan oklusif. 2000). 4. Obat anti agregrasi trombosit (aspirasi) Obat anti koagulasi : heparin Obat trombolik (obat yang dapat menghancurkan trombus) Obat untuk edema otak (larutan manitol 20%. 1. Berikan pengaman pada tempat tidur untuk mencegah pasien jatuh. 6. Catat perubahan data penglihatan seperti adanya kebutaan. obat dexametason) Tindakan keperawatan 1. vasospasme serebral. 3. ciptakan lingkungan yang tenang. Kaji fungsi yang lebih tinggi. 7. Pantau tanda-tanda vital. Kolaborasi dalam pembarian oksigen dan obat sesuai indikasi (Doenges. Fokus Intervensi CVA (Stroke) 1.2. Cegah terjadinya mengejan saat terjadinya defekasi dan pernafasan yang memaksa (batuk terus menerus). Pertahankan keadaan tirah baring. gerakkan tiap anggota gerak secara pasif seluas geraknya. 2. Intervensi bedah Ekspansi volume intra vaskuler Anti koagulan Pengontrolan tekanan intrakranial Obat anti edema serebri steroid Proteksi cerebral (barbitura) Sedangkan menurut Lumban Tobing (2002 : 2) macam-macam obat yang digunakan : 1. hemoragi. 3. . Bantu agar jalan nafas tetap terbuka (membersihkan mulut dari ludah dan lendir agar jalan nafas tetap lancar). 2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah. 5. edema serebral. 2. 3. 6. Download Pathway CVA (Stroke) H. batasi pengunjung atau aktivitas pasien sesuai indikasi. 3. 4. 4. 7. seperti fungsi bicara.

1. matras udara atau papan baku sesuai indikasi. . Mulai ambulasi progresif sesuai pesanan bantu untuk duduk dalam posisi seimbang mulai dari prosedur pindah dari tempat tidur ke kursi untuk mencapai keseimbangan. 8. ulangi pesan pasien kembali pada pasien untuk memastikan pengertian. Kurang perawatan diri berhubungan dengan gangguan mobilitas fisik dan gangguan proses kognitif. Berikan dorongan kepada pasien untuk melakukan aktivitas kebutuhan sehari-hari. inspeksi bagian di atas tulang yang menonjol setiap hari untuk mengetahui adanya kerusakan. Lakukan latihan rentang gerak aktif atau pasif untuk semua ekstremitas setiap 2 jam sampai 4 jam. tanyakan pertanyaan yang dapat dijawabnya ya atau tidak. 10. Buat semua upaya untuk memahami komunikasi pasien. 4. gunakan sentuhan dan perilaku untuk berkomunikasi dengan tenang (Carpenito. 7. 3. mendengar dengan penuh perhatian. 6. toile training). Bedakan antara gangguan bahasa dan gangguan wicara. 1. 3. 6. jari-jari dan latihan kaki. 9. 3. Berikan dorongan tangan. Kolaborasikan dengan praktis bicara untuk mengevaluasi pasien dan merancang rencana. Intervensi : 1. Kaji kemampuan fungsional dan beratnya kelainan. 1999). 1998). Tinggikan ekstremitas yang sakit dengan bantal. Pertahankan kesejajaran tubuh (gunakan papan tempat tidur. dapatkan pengetahuan pasien sebelum bicara padanya. Bantu pasien dengan menggunakan alat penyokong sesuai indikasi. Intervensi : 1. lakukan pola bicara yang konsisten. Balikkan dan ubah posisi tiap 2 jam. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada hemisfer bahasa atau wicara (kiri atau kanan) 1. Kaji derajat ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri (mandi. 2. Lakukan perawatan kulit selama 4-5 jam. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan fungsi neurologis. panggil dengan menyebutkan nama pasien. jangan memperbaiki kesalahan. Gunakan strategi untuk memperbaiki pemahaman pasien. Konsulkan dengan dokter dan bagian terapi (Tucker. Ajarkan pasien tehnik untuk memperbaiki wicara. jangan pura-pura mengerti bila tidak mengerti. minta pasien untuk mengulang. 5. gunakan loiton yang mengandung minyak. Ciptakan suatu atmosfir penerimaan dan privasi. Intervensi : 1. 4. 2.2. 5. 2. makan. 4. instruksikan bicara lambat dan dalam kalimat pendek pada awalnya. abaikan ketidaktepatan penggunaan kata.

Berikan pelunak feses enema sesuai pesanan (Tucker. 8. bersihkan membran mukosa dengan pembilas mulut. biarkan lampu menyala. Beri dukungan terhadap usaha setiap peningkatan minat atau partisipasi pasien dalam kegiatan rehabilitasi.3. 2. Berikan hygiene fisik total. tutup mata yang sakit jika perlu. 1. Intervensi: 1. 5. 4. Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuan. Tekankan keberhasilan yang kecil sekalipun baik mengenai penyembuhan fungsi tubuh atau kemandirian pasien. Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi perubahan pada pasien. 3. Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik. 6. Berikan penguat terhadap penggunaan alat-alat adaptif. sikat gigi. 5. 2. 5. Ciptakan lingkungan yang sederhana. Dorong orang terdekat agar memberi kesempatan kepada pasien melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri. 7. perubahan ketajaman persepsi. pindahkan perabot yang membahayakan. 8. 11. Lakukan oral hygiene setiap 4-8 jam. Catat apakah pasien menunjukkan daerah yang sakit atau pasien mengingkari daerah tersebut dan mengatakan hal tersebut telah mati. letakkan benda dalam jangkauan lapang penglihatan yang normal. 7. 4. Catat adanya penurunan lapang pandang. psikososial. sesuai indikasi. kerams setiap minggu sesuai indikasi. Perubahan persepsi sensori berhubugnan dengan stres psikologis (penyempitan lapang perseptual yang disebabkan oleh ansietas) 1. 1998). 3. sisi rambut setiap hari. Anjurkan kepada pasien untuk mengeskpresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan perasaan marah. adanya diplobia. Perbanyak masukan cairan sampai 2000 ml/hari kecuali terhadap kontra indikasi. tetap pada kenyataan bahwa pasien masih dapat menggunakan bagian tubuhnya yang sakit. Intervensi : 1. jaga agar kuku tetap terpotong rapi dan bersih. Gangguan harga diri berhubungan dengan biofisik. Pastikan eliminasi yang teratur. 6. . Dekati pasien dari daerah penglihatan yang normal. 10. Kolaborasi : rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan konseling sesuai kebutuhan. 6. Evaluasi terhadap adanya gangguan penglihatan. Akui pernyataan perasaa pasien tentang pengingkaran terhadap tubuh. Kaji dan pantau status nutrisi. 9. perseptual kognitif.

4. kurang mengingat. Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh tertentu. dan lain-lain) dan perubahan pola hidup yang penting. 10. Kaji kesadaran sensorik. 5. seperti membedakan panas atau dingin. 8.. Berikan stimulus terhadap rasa atau sentuhan 6. 2. Intervensi : 1. agitasi. Bicara dengan tenang. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi. Ajarkan pasien dengan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di rumah (Carpenito. 3. keterbatasan kognitif. Kaji ekstremitas setiap hari terhadai cidera yang tidak terdeteksi. 9. 1. Carpenito. aterosklerosis.J. Diskusikan keadaan patologis yang khusus dan kekuatan pada pasien. efek tidak sesuai. 6. pertahankan kontak mata (Doenges. merokok. 1999). perlahan dengan menggunakan kalimat yang pendek. 8. tajam atau tumpul. 1.4. 7. Konsul dengan ahli terapi dengan pelatihan postur. Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit dilemaskan dengan lotion 5. Diskusikan rencana untuk memenuhi perawatan diri. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. posisi bagian tubuh atau otot. instruksikan pasien untuk menggunakan bel pemanggil untuk meminta bantuan. pertahankan tempat tidur dan posisi rendah dengan atau semua bagian pengaman tempat tidur terpasang. L. . Jakarta. Lindungi pasien dari suhu yang berlebihan 7. EGC. 1999. Kaji suhu air mandi dan bantalan pemanas sebelum digunakan dengan menggunakan termometer bila ada. Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan kontrol secara menerus (Doenges. Lakukan tindakan yang mengurangi bahaya lingkungan : orientasi pasien dengan lingkungan sekitarnya. tidak mengenal sumber dan informasi. 4. Intervensi : 1. 3. Identifikasi faktor resiko (seperti hipertensi. Resiko tinggi terhadap cidera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang motorik atau persepsi. 2000) DAFTAR PUSTAKA 1. menangis. Observasi respon perilaku pasien seperti rasa permusuhan. halusinasi. rasa persendian. 2000). 2. Hilangkan kebisingan atau stimulasi eksternal yang berlebihan sesuai kebutuhan.

M. 1996..E. Jakarta.html#ixzz1aHhUoroe . 3.kapukonline. 5. Hudak. 6. B. Jakarta. Pendidikan Keperawatan.M. S. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.. Jakarta.M. S. L. 1998. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. EGC. B. Long. EGC. Yayasan Ikatan Alumni. Perawatan Medikal Bedah. Read more: http://www. C. Gallo. 1995. EGC. M.2.M. Bandung. Lumban Tobing.. Price..C. Padjajaran. Doengoes.A. Jakarta.com/2010/03/askepcvastroke. 1986. 2000. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik.. dan Wilson. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. 4.

Faktor resiko pada stroke 1. 13 September 2011 kapukonline. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria. hal 176). merokok. Embolisme cerebral (Bekuan darah atau material lain) 3. Iskemia (Penurunan aliran darah ke area otak) (Smeltzer C. C.1996. Obesitas (Kegemukan) 5. penyakit jantung kongestif) 3. (Long. Etiologi Penyebab-penyebabnya antara lain: 1. dan kadar estrogen tinggi) 8. Penyalah gunaan obat (Kokain) 9. Akibat stroke pada setiap tingkat umur tapi yang paling sering pada usia antara 75 – 85 tahun. hal 2131) Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. Barbara. Definisi Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA (Cerebro Vaskular Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu. B.1996. 2002. gagal jantung kongestif. hal 67) Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak dan yang sering ini adalah kulminasi penyakit cerebrovaskuler selama beberapa tahun. Konsumsi alkohol . Suzanne.(Harsono. hal 2131) C.Askep Stroke Non Hemoragic Selasa. (Smeltzer C. Kontrasepasi oral (Khususnya dengan disertai hipertensi. Kolesterol tinggi 4. 2002. Suzanne.com Up date Askep / Asuhan Keperawatan Stroke Non Hemoragic Askep SARAF A. Hipertensi 2. Diabetes Melitus (Berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi) 7. Peningkatan hematokrit (Resiko infark serebral) 6. Trombosis (Bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak) 2. fibrilasi atrium.

MANIFESTASI Tidak menyadari orang/objek ditempat kehilangan peglihatan Mengabaikan salah satu sisi tubuh Kesulitan menilai jarak Kesulitan melihat pada malam hari Tidak menyadari objekatau batas objek 6. Paralisis wajah.1996. hal 67) Gangguan yang muncul tertulis pada tabel. 4. Hemiplegia 3. Manifestasi klinis Gejala . Tidak mampu menyatukan kaki. lengan dan kaki pada sisi yang sama 2.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Kelemahan wajah.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini disebut Reversible Ischemic Neurologic Defisit (RIND) 3. Berjalan tidak mantap. Ataksia 1. NO DEFISIT NEUROLOGIK DEFISIT LAPANG 1. Diplopia DEFISIT MOTORIK 2 1. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. PENGLIHATAN 1. Gejala itu muncul bervariasi. 2.Gejala-gejala itu antara lain bersifat: 1.(Smeltzer C. hal 2131) D. 3. 2002. Sudah menetap/permanen (Harsono. Hal ini disebut Transient Ischemic Attack (TIA). perlu . Suzanne. 5. memperberat atau malah menetap. Hemiparese 2. 2. Gejala makin lama makin berat (Progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut Progressing Stroke atau Stroke Inevolution 4. Kehilangan penglihatan perifer 3. Homonimus hemianopsia (kehilangan setengah lapang penglihatan) 2. lengan dan kaki pada sisi yang sama 3. Sementara. Penglihatan ganda 1. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. tegak 4. bergantung bagian otak yang terganggu.

iskemia dan adanya infark 2. Disfagia DEFISIT SENSORI 3. Kesulitan dalam membentuk kata 6. Kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi 4. Afasia global DEFISIT KOGNITIF 5. Kombinasi baik afasia reseptif dan ekspresif 1. Download Pathway Stroke Non Hemoragic F. Ketidakmampuan menggunakan simbol berbicara 2. bermusuhan dan marah 6. Penurunan lapang perhatian 3.4. Rasa takut. Parestesia (terjadi pada sisi berlawanan dari lesi) DEFISIT VERBAL 4 1. dasar berdiri yang luas 5. hematoma. 3. Alasan abstrak buruk 5. Menunjukan adanya tekanan normal . 1. Kebas dan kesemutan pada bagian tubuh 2. Patway 1. Perubahan penilaian Kehilangan kontrol diri Labilitas emosional Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stres 4. Kesulitan dalam proprisepsi 1. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri Pungsi Lumbal 1. E. Afasia ekspresif 2. Tidak mampu menyusun kata-kata yang diucapkan 3. Perasaan isolasi DEFISIT EMOSIONAL 6. CT Scan Memperlihatkan adanya edema . Kehilangan memori jangka pendek dan panjang 2. Menarik diri 5. 2. Kesulitan dalam menelan 1. Disatria 5. Pemeriksaan Penunjang 1. Afasia reseptif 3.

Penatalaksanaan 1. Data obyektif: 1.3.2000 hal 292) G. Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung. polisitemia. Perubahan tingkat kesadaran 4. 2. Data Subyektif: 1. Penurunan darah serebral 3. kelemahan umum. perubahan EKG 3. 5. 2. paraliysis (hemiplegia). Disritmia. KOMPLIKASI 1. EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (DoengesE. Hipertensi arterial 2. disritmia. kehilangan sensasi atau paralysis. 2. 5. Sirkulasi 1. Mekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark. kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot) 3. 2002. hal 2131) I. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral 2. Pulsasi : kemungkinan bervariasi . Kesulitan dalam beraktivitas . hemoragik. kelemahan. Perubahan tonus otot (flaksid atau spastic). Suzanne. Luasnya area cedera (Smeltzer C. Aktivitas dan istirahat 1. hal 2131) H. 2002. Marilynn. (Smeltzer C. 6. Data Subyektif: 1. gagal jantung . Gangguan penglihatan 2. Pengkajian 1. 4. Hipoksia Serebral 2. Mudah lelah. Suzanne. endokarditis bacterial).

global/kombinasi dari keduanya. menyerang) dan gangguan fungsi kognitif 2. kemungkinan ekspresif/kesulitan berkata kata. Data Subyektif : 1. 4. Peningkatan lemak dalam darah 2. anuria 2. Data obyektif : 1. Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) 2. Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum dan faring) 2. Kelemahan. Obesitas (faktor resiko) Sensori neural : 1. sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati 4. Riwayat DM. gangguan tingkah laku (seperti: letergi. kesemutan/kebas. koma biasanya menandai stadium perdarahan. hilang harapan 2. Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat. Inkontinensia. Data Subyektif : 1. pipi. 6. Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral (sisi yang sama) 6.3. Data obyektif : 1. genggaman tangan tidak imbang. Data obyektif : 1. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman 2. Denyut karotis. Data Subyektif: 1. Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. apatis. Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa. kesediahan. Kehilangan sensasi lidah. Ekstremitas : kelemahan / paraliysis (kontralateral) pada semua jenis stroke. tenggorokan. 3. istensi abdomen (kandung kemih sangat penuh). tidak adanya suara usus(ileus paralitik) Makan/ minum : 1. Penglihatan berkurang 5. Data Subyektif : 1. . 4. reseptif/kesulitan berkata kata komprehensif. berkurangnya reflek tendon dalam (kontralateral) 3. disfagia 4. Wajah: paralisis / parese (ipsilateral) 4. Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK 3. Perasaan tidak berdaya. Status mental . kegembiraan 2. 5. Kesulitan berekspresi diri Eliminasi : 1. femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal Integritas ego : 1. Nafsu makan hilang 2.

Keamanan : 1. Perokok (faktor resiko) 2. kesulitan untuk melihat objek. Timbulnya pernapasan yang sulit dan/atau tak teratur 3. dan wajah yang pernah dikenali 4. ketegangan otot / fasial 8. Pengajaran / pembelajaran : 1. Gangguan berespon terhadap panas. Data obyektif : 1. kata. Interaksi sosial : 1. Penggunaan kontrasepsi oral 12. Suara nafas terdengar ronchi/aspirasi 9. Problem berbicara. Perubahan persepsi terhadap tubuh. gelisah. Pertimbangan rencana pulang : 1. shoping . hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit 3. perhatian sedikit terhadap keamanan. Mottrik/sensorik : masalah dengan penglihatan 2. Data Subyektif : 1. Respirasi : 1. Data obyektif : 1.2000 hal 292) J. pendengaran. Riwayat hipertensi keluarga. menyiapkan makanan . ketidakmampuan berkomunikasi 11. Marilynn. Tidak mampu mengenali objek. dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh 5. stimuli taktil 6. Data Subyektif : 1. Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas 2. warna. Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik 7. berkurang kesadaran diri 10. Stroke 2. Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya 2. Data obyektif : 1. Tingkah laku yang tidak stabil. Tanda : 1. Data Subjektif : 1. Gangguan dalam memutuskan. Diagnosa Keperawatan . Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi 2. Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7. Bantuan untuk transportasi. Nyeri / kenyamanan : 1.5. perawatan diri dan pekerjaan rumah (DoengesE. Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat.

Bantu meningkatakan fungsi. Monitor tanda tanda vital 4. Manitol 2. Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan 3. Intervensi Keperawatan : 1. Tujuan Pasien / Kriteria evaluasi : 1. misalnay pandangan kabur. perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang 6. Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral . Vasodilator perifer. missal cyclandelate. spasme pembuluh darah serebral. Perubahan respon sensorik / motorik. Tidak ada kontraktur. koordinasi. kegelisahan 3. isoxsuprine. kehilangan memori 2. . Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran. Independen : 1. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK 2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan terputunya aliran darah : penyakit oklusi. bahasa. foot drop. Dibuktikan oleh : 1. sediakan lingkungan yang tenang. Tujuan Pasien / Kriteria evaluasi : 1. Kolaborasi : 1. Pertahankan tirah baring. edema serebral 1. atur kunjungan sesuai indikasi 2. Evaluasi pupil: ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 5. Dibuktikan oleh : 1. Perubahan tanda tanda vital 2. Perubahan tingkat kesadaran. Defifit sensori. Bantu untuk mengubah pandangan. Berikan medikasi sesuai indikasi : 3. kognisi dan fungsi sensori / motor 2. penurunan kekuatan otot.1. Antihipertensi 5. termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi 7. 8. 2. Ketidakmampuan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuscular. Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK 3. Antifibrolitik. Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik: kelemahan. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi 2. perdarahan. keterbatasan rentang gerak sendi. intelektual dan emosional 4. 6. Monitor dan catat status neurologist secara teratur 3. missal aminocaproic acid (amicar) 4. ketidakmampuan dalam persespi kognitif 1.

Terpeliharanya integritas kulit 3. Topang ekstremitas pada posis fungsional . Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi 5. Independen : 1. gunakan foot board pada saat selama periode paralysisi flaksid. Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas 7. Ditandai : 1. Kolaboratif : 1. Bantu menentukan derajat disfungsi 2. miring) 2. kelemahan umum / letih. mengidentifikasi objek 4. Pertahankan kepala dalam keadaan netral 4. Bicara dengan nada normal 2. kehilangan tonus otot fasial / mulut. Konsul dengan ahli terapi wicara . Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas 3. Rubah posisi tiap dua jam (prone. gangguan neuromuskuler. mengenal kata. Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensip 2. Menggunakan sumber bantuan dengan tepat 3. Tidak mampu berbicara / disartria 3. Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi 3. Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi 7. Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik 3. Bedakan antara afasia denga disartria 3. Kolaborasi : 1. Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaanya 4. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi serebral. Intervensi Keperawatan : 1. Tujuan pasien / Kriteria evaluasi : 1. Antisipasi dan sediakan kebutuhan paien 6. Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3. Independen : 1. onsul kebagian fisioterapi 2. Sediakan bel khusus jika diperlukan 4. Ketidakmampuan modulasi wicara. Pasien mampu memahami problem komunikasi 2. Gangguan artikulasi 2. Sediakan metode komunikasi alternatif 5. supine. 1. Intervensi Keperawatan : 1.2. Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh 3. Bantu meningkatkan keseimbangan duduk 6. Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang 2.

Kriteria hasil: 1. Sederhanakan lingkungan 5. Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat 3. Bantu pemahaman sensori 6. Perubahan pola komunikasi 6.4. Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri 3. kehilangan kontrol /koordinasi otot 1. tempat. Intervensi Keperawatan : 1. Beri stimulasi terhadap sisa sisa rasa sentuhan 7. Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri 2. memasang/melepas baju. Lindungi psien dari temperature yang ekstreem 8. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuro muskuler. Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik. Validasi persepsi pasien 5. Independen : 1. kesulitan tugas toiletng 2. Tujuan / Kriteria hasil : 1. Konsentrasi jelek. penurunan kekuatan dan ketahanan. Kerusakan kemampuan melakukan ADL misalnya ketidakmampuan makan. perpaduan (trauma / penurunan neurologi). Perubahan pola tingkah aku 3. 2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penerimaan perubahan sensori transmisi. Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya. Ditandai : 1. 2. Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh 5. Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi 3. Intervensi Keperawatan : 1. Evaluasi penurunan visual 3. Kaji patologi kondisi individual 2. perubahan proses pikir 4. Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh 4. mandi. Pertahankan kontak mata saat berhubungan 9. Independen : 1. orang 2. tekanan psikologis (penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan) 1. Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan ssehari-har . Disorientasi waktu. Mengidentifikasi sumber pribadi / komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan 3. Ditandai dengan : 1.

Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan reflek menelan turun. Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas 2.2. Ditandai dengan: 1.hilang rasa ujung lidah 1. Berikan supositoria dan pelunak feses 2. Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi specifik untukmerangsang nafsu makan 2. Berikan oksigenasi sesuai advis 6. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi 6. Bunyi napas bersih saat auskultasi 4. Penghisapan sekresi 4. Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam 5. Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal 3. Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasiensendiri. Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat 3. Kriteria evaluasi : 1. Intervensi Keperawatan : 1. Kriteria hasil: 1. Keluhan masukan makan tidak adekuat 2.bedpan 4. ketidakmampuan mengatasi lendir 1. Ekspansi dada simetris 3. Intervensi Keperawatan: 1. Kadar makanan yang berserat. Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikanpada kebiasaan pola nornal tersebut. Rongga mulut terinflamasi 2. Pantau masukan makanan setiap har . BB stabil 3. Independen : 1. Kolaborasi : 1. Kehilangan sensasi pengecapan 3.anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas 5. Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal. Kaji dan pantau pernapasan. GDA dan tanda vital dalam batas normal 2. tetapi berikan bantuan sesuai kebutuha 3. Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi 7. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya. reflek batuk dan sekresi 2. Tidak terdapat tanda distress pernapasan 5. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan kerusakan batuk. 2.

Jakarta. Perawatan Medikal Bedah. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan.D. Edisi 3. Gajah Mada university press. hindari makanan terlalu manis. 1996 2.2000 hal 293-305) DAFTAR PUSTAKA 1. Barbara. Jakarta. Suzanne. EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Marilynn. Long C. bising). Ukur BB setiap hari sesuai indikas 3. berlemak dan pedas. EGC. 1993 3. Tuti Pahria. Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai progra 4. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Jakarta. Jakarta. Pemberian anti emetik dengan jadwal reguler 2. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan . Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan.com/2011/09/askepstrokenonhemoragic. Buku Ajar : Neurologi Klinis.E dan B6 3.2. Vitamin A. Marilynn E. Depkes.html#ixzz1aHiCbzwq . 2000 6. Kolaborasi : 1. Rencana Asuhan Keperawatan. Harsono. Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah 2. 1996 4. EGC . Pasang / pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE. Kontrol faktor lingkungan (bau. Brunner & Suddarth.Yogyakarta. Jilid 2. dkk.kapukonline.2002 5. Bandung. Smeltzer C. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan 5. Rujuk ahli diit 4. Doengoes. 1996 Read more: http://www. 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful