ALAT PERMAINAN EDUKASI

Proses belajar yang terjadi pada anak usia dini merupakan pengalaman yang di koleksi dengan kondisi menyenangkan. Permainan adalah wahana yang paling cocok dan merupakan sarana paling afektif dalam mentransfer pengalaman-pengalaman tersebut. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua permainan akan mampu memberikan pengalaman yang bermanfaat, dalam arti permainan yang mendidik. Dalam ranah pembelajaran anak usia dini dikenal dengan istilah APE [Alat Permainan Edukatif]. Apakah APE itu? Sarana yang dapat merangsang aktivitas anak untuk mempelajari sesuatu tanpa anak menyadarinya, baik menggunakan teknologi modern, konvensional, tradisional Bagaimana Kriteria APE yang baik? APE yang baik adalah yang dapat mengembangkan totalias kepribadian anak, bukan karena kejenakaan atau kebagusannya. Jika memungkinkan, gunakan alat-alat yang terbuat dari bahan yang mudah dan mudah diperoleh Ingin tahu lebih dalam ?, Warung kami menyediakan bahan tayang dalam Power Point yang dapat anda download, Klik"APE" Posted by Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku] at 8:44 PM

APE
Mengapa perlu APE ( Alat Permainan Edukatif ) ? Untuk bisa meotivasi anak sebagai media pembelajaran anak Pengertian APE APE adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai sarana / alat permainan yang mengandung nilai pendidikan dan dapat mengembangkan seluruh aspek kehidupan anak. Fungsi APE : Sebagai alat bantu pendidik tutor / pamong PAUD 1. Menciptakan situasu bermain / belajar bagi anak dalam melakukan proses pemberian perangsangan aspek perkembangan anak, 2. Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak untuk membentuk citra diri anak yang positif, 3. Memberikan perangsang dalam pembentukan perilaku dan mengembangkan kemampuan dasar, 4. Memberikan kesempatan anak untuk bersosialisasi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungan. Tujuan APE 1. Memperjelas materi yang diberikan 2. Merangsang kecerdasan anak 3. Mengembangkan kreatifitas Sifat APE  Instruktif → mengandung perintah, penugasan

  

Informatif → mengandung informasi seperti pengetahuan-pengetahuan yang baru Motivasi → menggugah minat belajar, ada dorongan pada anak Rekreatif → mengandung rasa yang menyenangkan

Kriteria APE, ada 4 syarat : 1. Manfaat 2. Aman 3. Mudah 4. Asyik

1. PAPAN SMART
LOMBA ALAT PERAGA PEMBELAJARAN TK TINGKAT KOTA SURABAYA 2011

OLEH: THERESIA LELY OKVITASARI LATAR BELAKANG Alat permainan edukatif (APE) atau alat peraga pembelajaran (APP) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran anak di Taman Kanak-kanak. Alat permainan tersebut sangat menunjang dalam pembelajaran anak di sekolah secara efektif dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal. Mayke Sugianto, T. 1995, mengemukakan bahwa alat permainan edukatif (APE) adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan. Pengertian alat permainan edukatif tersebut menunjukkan bahwa pada pengembangan dan pemanfaatannya tidak semua alat permainan yang digunakan anak di TK itu dirancang secara khusus untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. Direktorat PADU, Depdiknas (2003) mendefinisikan alat permainan edukatif sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana atau peralatan untuk bermain yang mengandung nilai edukatif (pendidikan) dan dapat mengembangkan seluruh kemampuan anak. Perbedaan antara alat permainan yang biasa dengan alat peraga pembelajaran adalah pada alat peraga pembelajaran (APP) terdapat unsur perencanaan, pembuatan secara mendalam yang mempertimbangkan karakterisitik anak dan mengaitkannya pada pengembangan berbagai aspek perkembangan anak yaitu bahasa, kognitif, fisik motorik, dan seni. Sedangkan alat permainan biasa dibuat dengan tujuan yang berbeda, yaitu untuk memenuhi kepentingan bisnis semata tanpa adanya kajian secara mendalam tentang aspek-aspek perkembangan anak yang dapat dikembangkan melalui alat permainan tersebut. Untuk dapat melihat dan memahami secara lebih mendalam mengenai apakah suatu alat permainan dapat dikategorikan sebagai alat peraga pembelajaran (APP) untuk anak TK atau tidak, terdapat beberapa ciri yang harus dipenuhinya yaitu:

1. Alat permainan tersebut ditujukan untuk anak TK. 2. Berfungsi untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak TK. 3. Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan aspek pengembangan (indikator) atau multiguna. 4. Aman atau tidak berbahaya bagi anak. 5. Dirancang untuk mendorong aktifitas dan mengembangkan kreatifitas anak. 6. Bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan.

7. Mengandung nilai pendidikan.
Alat peraga pembelajaran (APP) yang dibuat oleh para guru TK, diharapkan dapat menjadi alat peraga yang menarik minat anak, mendorong aktifitas, mengembangkan kreativitas dan membantu anak untuk lebih memahami materi kegiatan yang disampaikan oleh guru. Dengan demikian tujuan pembelajaran di kelas dapat tercapai dan semua aspek pengembangan yang direncanakan dapat terlaksana karena anak merasa senang, nyaman, dan aman. TUJUAN Alat peraga pembelajaran (APP) yang kami buat ini yaitu Papan Smart, pada intinya diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:

1. Memperjelas materi yang diberikan. pengembangan Bahasa dan Kognitif.

Dalam

hal

ini

adalah

bidang

2. Memberikan motivasi dan merangsang anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangannya, melalui kegiatan pembelajaran di kelas sesuai yang direncanakan guru. 3. Memberikan kesenangan pada anak dalam bermain dan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga ini anak juga dapat belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Hal ini akan membuat anak senang dan tidak terasa mereka telah belajar sesuatu lewat permainannya.
MANFAAT Alat peraga pembelajaran (APP) yaitu Papan Smart ini, dapat digunakan untuk kelompok Playgroup, TK A dan TK B. Manfaat yang dapat diperoleh lewat alat peraga edukatif ini adalah:

1. Anak belajar mengenal huruf, angka. 2. Anak belajar tentang penjumlahan dan pengurangan. 3. Anak belajar membilang. 4. Anak belajar membaca permulaan dan menyusun kalimat. 5. Anak dapat mengembangkan sebanyak-banyaknya. kreativitasnya dengan menuliskan kata

6. Anak dapat belajar memegang pinsil dengan benar. 7. Anak dapat mengembangkan sikap untuk saling berbagi, menolong dengan teman. 8. Anak mempunyai keberanian untuk bertanya dan mengungkapkan sesuatu baik lewat tulisan atau lisan.

Gunting... 15. 2. 11.. Sterofoam. Karton susu sebanyak 1 buah. tempelkan sterofoam dengan bantuan lem rajawali dan beri background dengan lukisan atau finger painting. 17. 14.BAHAN / ALAT 1. Buat kartu angka (1-20). 6.. 2. 16. Kertas lipat. 12. kartu kata (ba. Siapkan triplek ukuran sesuai kebutuhan bentuk L. di. 5. Cat poster. Spidol marker. 8... Isolasi bolak-balik/lem. Papan triplek ukuran relatif.. memasak. kartu gambar. Lem rajawali 7. Karton sereal kecil sebanyak 3 buah. Plastik. Kertas kado/kalender tipis bekas. kota. Kertas CD. CARA MEMBUAT 1.. 10. 3. kartu huruf (a-z).. Tempelkan kardus susu di sebelah kanan ukuran disesuaikan dan kardus sereal di sebelah kiri ukuran disesuaikan. Kuas besar/sedang/kecil. 3. sebelumnya bungkus dengan kertas kado atau kalender yang tipis. Penggaris. 9. 13.. Kalender bekas yang tebal.).) dari kalender bekas yang tebal.. kartu kata lebih dari 2 suku kata (memancing. dari.. 4. Pita kertas. ..

Cover notes dari kalender bekas yang tebal/kertas asturo. 3-4 di bawah untuk membuat kalimat. Tempelkan kertas tebal untuk alas menulis. dengan komposisi 4 di atas untuk angka. 2 3 4 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis (Bahasa) Menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya (Bahasa) 5 6 Membilang/menyebut urutan bilangan dari 1-20 (Kognitif) Membilang (mengenal konsep bilangan dengan benda) sampai 10 (Kognitif) Menghubungkan/memasangkan 7 . Jumlah plastik disesuaikan dengan ukuran papan dan kartu. letakkan notes kecil di tengah papan dan pinsil. ASPEK YANG DIKEMBANGKAN NO 1 INDIKATOR Menunjukkan perbuatan yang salah dan benar (Pembiasaan) Menyebutkan berbagai bunyi/suara tertentu (Bahasa) Menirukan kembali 3-4 urutan kata (Bahasa) KEGIATAN Menunjukkan susunan huruf/kalimat yang benar dan salah Menyebutkan bunyi huruf dan kata yang disusun Menyusun huruf atau kata sesuai dengan yang disebutkan guru atau teman Menuliskan/mencari kata-kata yang sesuai dengan tema hari ini Menyusun huruf menjadi kata/kata menjadi kalimat sesuai dengan benda/gambar yang ditunjukkan/disediakan guru Mengambil kartu angka dan mengurutkannya Meletakkan kartu gambar dan kartu angka yang sesuai dengan jumlah benda yang ada pada gambar. 4-5 di tengah untuk menyusun huruf/kata. Notes bisa dibuat per anak. 5. Tempelkan plastik dengan ukuran sesuai kartu dilebihkan 1cm pada papan yang berdiri. beri hiasan dan isi dari kertas CD/HVS bekas yang masih baik.4.

JUN 19 ALAT PERAGA EDUKATIF 1 ALAT PERAGA EDUKATIF TEMA : BINATANG DIBUAT OLEH : THERESIA LELY OKVITASARI SEKOLAH : TK KATOLIK KARITAS III SURABAYA BAHAN : 1. miring. lengkung. Botol ukuran kecil . Papan triplek 2. lingkaran.lambang bilangan dengan bendabenda sampai 10 (anak tidak menulis) (Kognitif) 8 Menyebutkan hasil penambahan dan pengurangan dengan benda sampai 10 (Kognitif) Memegang pinsil dengan benar (antara ibu jari dan 2 jari) (Fisik Motorik) Meniru membuat garis tegak. datar.dll (Fisik Motorik) Menggambar bebas dengan berbagai media dengan rapi (Seni) Membuat soal dan menghitung hasil penambahan/pengurangan dengan kartu angka Anak belajar memegang pinsil dengan benar saat menulis atau menggambar di notes yang disediakan Menuliskan kata-kata dengan huruf yang benar 9 10 11 Menggambar bebas sesuai dengan jumlah yang diminta guru dengan menggunakan pinsil/spidol Mewarnai gambar yang telah dibuat dengan krayon atau pinsil warna 12 Mewarnai bentuk gambar sederhana dengan rapi (Seni) Posted 19th June 2011 by Theresia Lely Okvitasari 0 Add a comment 2.

bunga 10. peras sampai air tidak menetes. Batu-batuan 6. bentuk. APR 3 . setiap hari air diganti. PENGGUNAAN ALAT PERAGA DALAM KEGIATAN : NO INDIKATOR 1 Menunjukkan perbuatan yang baik dan benar (Pembiasaan) 2 Membedakan dan menirukan kembali bunyi atau suara tertentu (Bahasa) 3 Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut (Bahasa) 4 5 6 Menunjuk dan mencari sebanyakbanyaknya benda. Pasir putih/serbuk gergaji/ampas kelapa. darat. Lem rajawali 5. Kertas asturo/kardus mie CARA PEMBUATAN : 1. beri background dengan lukisan atau finger painting. Buat gunung dari bubur kertas koran. Pasir putih/serbuk gergaji/ampas kelapa 7. 3. Kertas Koran (dibuat bubur Koran) 4. Plastisin 8. Isolasi bolak-balik/lem 12. Cat poster 9. Atur batu-batuan. Bila gunung ingin diberi warna jangan dikuas tetapi cukup disemburkan dengan cat yang encer dengan bantuan kuas.3. Menyanyikan lagu-lagu yang digunakan untuk mendukung cerita 0 Posted 19th June 2011 by Theresia Lely Okvitasari Add a comment 3. tanaman yang mempunyai warna. Siapkan triplek ukluran sesuai kebutuhan. Kertas Koran disobek-sobek. 5. kemudian campur dengan lem rajawali. udara) Menghitung banyaknya binatang yang muncul dalam cerita.. 3. hewan. sesuai kreasi di sekitar gunung. 2. 2. 4. Sebelum digunakan. CARA PEMBUATAN BUBUR KERTAS : 1. Plastisin dapat digunakan untuk menempelkan/alas gambar bunga. ukuran atau menurut ciri-ciri tertentu (Kognitif) Membilang (mengenal konsep bilangan dengan bendabenda) sampai 10 (Kognitif) Menyanyi lebih dari 20 lagu anakanak (Seni) KEGIATAN Tanya jawab tentang perbuatan yang baik dan benar dalam cerita Menirukan suara binatang yang ditunjukkan guru Mendengarkan cerita guru dengan tema Binatang dan anak dapat bercerita seperti cerita guru atau versi anak sendiri Menunjuk dan mencari nama-nama hewan atau gambar menurut tempat hidupnya (air. Stik eskrim/tusuk sate 11. bagian tengah diberi botol agar kuat. Rendam dalam air selama 2-3 hari. Gambar binatang.

Data tersebutmenggambarkan bahwa angka mengulang kelas I dan II lebih tinggi dari kelas lain. Perkembangan kecerdasan pada masa ini mengalami peningkatan dari 50% menjadi 80%. Peran pendidik (orang tua. Diperkirakan bahwa anak-anak yang mengulang kelas adalah anak– anak yang tidak masuk pendidikanprasekolah sebelum masuk SD. batasan penelitian.dan nilai-nilai agama. Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orangtuanyamemasuki SD.1. devinisi istilah. Masa peka adalah masa terjasinya pematangan fungsi–fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Pada usia ini secara terminologi disebut sebagai anak usia prasekolah. merupakan peka bagi anak. Hal ini menyesuaikan diri sehinggatidak dapat berkembang secara optimal. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagi upaya perkembangan seluruh potensi anak. Usia 4-6 tahun. konsep diri. Dengan bermain anak memiliki . rumusan masalah.PTK TK Bidang pengembangan Bahasa BAB I PENDAHULUAN Dalam pendahuluan akan dijelaskan tentang latar belakang masalah. Adanya perbedaan yang sebesar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan taman kanak-kanak (prasekolah) mengalami kejutan sekolah dan mereka mogok sekolah atau tidak mampu menyesuaikan diri sehingga tidak berkembang secara optimal. tujuan penelitian. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia prasekolah. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalammengembangkan kamampuan fisik. Balitbang Diknas tahun 1999 menunjukkan bahwa hampir pada seluruh aspek perkembangan anak yang masuk TK mempunyai kemampuan lebih tinggi daripada anak yang tidak masuk TK di kelas I SD Data angka mengulang kelas tahun 2001/2002 untuk kel as I sebesar 10. bahasa. dan kelas IV sebesar 0. guru dan orang dewasa lain) sangat dalam upaya pengembangan potensi anak 4-6 tahun. kemandirian.42%. berdasarkan hasil penelitian/ kajian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum.kognitif. seni moral. 1. Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar serayabermain. Latar Belakang Anak usia 4-6 tahun merupakan bagian dari anak usia diri yang berada pada rentangan usia lahir sampai 6 tahun.85%.sosial emosional. disiplin. manfaat penelitian. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Selain itu.

Selain itu bermain membantu anak mengenai dirinya sendiri. Dalam bukunya tentang metode pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Anak memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat dikembangkan guna memikul tanggung jawab di masa mendatang. Atas dasar hal tersebut di atas. 1994:158) ”untuk membentuk melakukan dasar arah perkembangan sikap. ketrampilan dan daya cipta yang di perlukan oleh anak dalam menyesuaikan dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-kanak melalui cerita yang disampaikan secara lisan (Moeslichatin. menemukan. Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Tumbuh kembang seorang anak menjadi tanggung jawab setiap orang yang memandang masa depan dengan penuh tantangan yang beragam. Pendidikan bagi anak usia dini tidak pernah surut dengan perkembangan permasalahan. pengetahuan. Dari berbagai metode dalam pendidikan anak usia dini nampak bahwa salah satu metode yang dipergunakan adalah metode bercerita yang sesuai dengan tujuan pengembangan anak di Taman Kanak-kanak. Pendidikan di Taman Kanak-kanak dilakukan dengan pendekatan ”bermain sambil belajar” atau belajar seraya bermain” dengan tujuan menimbulkan rasa senang pada anak bagaimana karakteristik anak usia dini.maka kurikulum yang dikembangkan disusun berdasarkan karakteristik anak dalam rangka mengembangkan seluruh potensi anak.kesempatan untuk bereksplorasi. ”Pendidikan di taman kanak-kanak di kembangkan dengan berdasar pada teori pembelajaran yang menggunakan prosedur dan strategi ilmiah untuk belajar di antaranya adalah dengan menggunakan metode pembelajaran. ketrampilan dan sikap termasuk akal pikiran yang merupakan anugrah terbesar manusia dari Tuhan di banding makhluk hidup yang lain. Dengan demikian bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang sesuatu (ide). pengetahuan. Sementaradalam konteks pembelajaran anak usia dini bercerita dapat dikatakan sebagai upaya . 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) menjelaskan secara jelas batasan tentang pendidikan anak usia dini dalam penjelasan pasal 28 ayat (1) : bahwa Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan (tahun dan bukan merupakan persyaratan untuk mengikuti pendidikan dewasa). sebab anak merupakan asset masa depan bagi kemanusiaan. berkreasi belajar secara menyenangkan. 1996:1940). model pemecahan serta inovasi untuk mengambil peranan dan tanggungjawab bagi masa depan kemanusiaan. Potensi ini meliputi seluruh aspek yang ada dalam diri anak baik moral. orang lain dan lingkungan. mengekspresikan perasaan. Metode pembelajaran yang dapat diterapkan di Taman kanak-kanak adalah metode yang sesuai untuk belajar usia dini. mereka yang muncul sebagai pemimpin yang mengemban nilai-nilai kemanusiaan. Undang-undang no. Program Kegiatan di Taman Kanak-kanak di laksanakan dengan tujuan program (Depsikbud.

di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/ 2010? 1. di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/ 2010? 1. Dari uaian latar belakang di atas maka dianggap perlu melakukan penelitian ”Upaya Meningkatkan Perkembangan Bahasa pada Anak Kelompok B Melalui Metode Bercerita di TKK Karitas II Surabaya tahun peljaran 2009/2010 ini telah disetujui dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diseminarkan. di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/ 2010? 1. di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/ 2010? .2.1 Bagaimana rencana pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B.2. Kegiatan bercerita memberikan sumbangan besar pada perkembangan anak secara keseluruhan sebagai implikasi dari perkembangan bahasanya sehingga anak akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan aspek perkembangan yang lain dengan modal kemampuan berbahasa yang sudah baik.3 Apa saja faktor penghambat pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita pada anak kelompok B.2. di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/ 2010? 1.2 Bagaimana aktivitassiswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita pada anak kelompok B. Perkembangan anak usia dini merupakan kesadaran dan kemampuan anak untuk mengenal dirinya dan berinteraksi dengan lingkungannya seiiring dengan pertumbuhan fisik yang anak alami. 1.2 Bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B.2. diperoleh rumusan masalah penelitian sebagai berikut : 1.untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa anak melalui pendengaran dan kemudian menuturkanya kembali dengan tujuan melatih anak dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan.1 Bagaimana aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita pada anak kelompok B.2. Salah satunya melalui metode bercerita yang digunakan dalam pembelajaran di Taman Kanak-kanak.Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan.2.2.2.2. Kemampuan guru Taman Kanak-kanak untuk mengembangankan perkembangan bahasa anak didiknya yang dilakukan dengan berbagai cara. Pendidikan yang dilakukan pada anak usia dini pada hahekatnya adalah upaya memfasilitasi yang sedang terjadi pada dirinya.

4 Apa saja fantor pendukung pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita pada anak kelompok B. 1.2 Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka dalam rangka untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010. 1. 1.1 Mendeskripsikan rencana pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010.4 Mendeskripsikan faktor pendukung dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka dalam rangka untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010. 1.3. maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.3.3 Mendeskripsikan faktor penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka dalam rangka untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010.2.2.3.3. 1.2.3.4 Mendeskripsikan kesalahan berbahasa pada anak kelompok B setelah pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010.3.2. 1.3 Bagaimana meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010? 1.2.2.1. 1.3.1 Mendeskripsikan aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka dalam rangka untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010.3 Mendeskripsikan kesalahan berbahasa pada anak kelompok B sebelum pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010. 1.4 Bagaimana meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010? 1. di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/ 2010.2.Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas.2 Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka untukmeningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010.3.2.3. .

Bahasa dan Perkembangan Anak Musfiroh mengatakan bahasa metode bercerita adalah salah satu metode yang dapat mengembangkankemampuan berbahasa anak.5. Bagi peneliti.dapat menjadi pedoman dalam penelitian selanjutnya. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dapat meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pengajaran 2009/2010. 2. 2005:79). secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan dalam pengembangan konsep pembelajaran berbahasa dengan menggunakan konsep pembelajaran berbahasa dengan menggunakan metode bercerita. Menurut Kusnaini (2004) metode bercerita pada usia dini bertujuan.Manfaat Penelitian Pada dasarnya penelitian ini mempunyai manfaat teoritis dan manfaat praktis. serta menambah wawasan bahwa bercerita dapat digunakan untuk pembelajaran berbahasa. Bagi guru. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. 4.1. Bagi sekolah diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung terutama masalah meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pelajaran 2009/2010. Bagi siswa. semakin banyak juga konsep tentang sesuatu yang dikenalnya (Musfiroh. 3. . diharapkan dapat meningkatkan perkembangan bahasa dengan menggunakan metode bercerita. ia dapat bertanya apabila tidak memahaminya dan selanjutnya ia dapat mengekspresikan terhadap apa yang diceritakannya.4. hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan ketrampilan mengajar guru di kelas. Semakin banyak kata yang dikenalknya. yaitu melalui perbendaharaan kosa kata yang sering didengarnya. 1. sedangkan secara praktis manfaat penelitian ini antara lain: 1.1. agar anak mampu mendengar dengan seksama terhadap apa yang disampaikan orang lain.

Membantu perkembangan fantasi atau imajinasi anak. Tips bercerita menurut Rainer dan Isbell dapat diterapkan ketika bercerita terhadap anak-anak. ekspresi wajah. Jika tokoh yang dimunculkan dengan sifat positif dan sifat itu akan menyenangkan maka anak akan dengan mudah mengadopsi sifat dan perilaku tokoh tersebut. Kegiatan bercerita memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif. kesetiaan. b. Memperhatikan anak-anak selama bercerita. b. e. ketulusan.Sehingga hikmah dari isi cerita dapat dipahami dan lambat laun di laksanakan. Melatih daya konsentrasi. Menggunakan variasi suara. c. Memodifikasi jalan dan panjang cerita untuk menyesuaikan pengalaman dan tingkat perkembangan anak-anak yang hadir. Menurut Moeslichatoen (2004) guru dapat memanfaatkan bercerita untuk menanamkan kejujuran. Beri dorongan untuk berinteraksi dan berpartisipasi. Dimana menurut Kusnaini (2004) metode bercerita mempunyai tujuan sebagai berikut : a. Dengan demikian akan semakin banyak konsep kata yang dikenal anak. keberanian. c. d. Buat klarifikasi jika dibutuhkan. keramahan. Upaya meningkatkan perkembangan bahasa pada anak melalui metode bercerita adalah : a. Suatu kegiatan pembelajaran yang menampilkan perilaku tokoh dalam cerita. Guru yang pandai bercerita akan menjadikan perasaan anak larut dalam kehidupan imajinatif dalam bercerita tersebut. d. b. yaitu: a. afektif maupun psikomotor. demikian pula sebaliknya. . Suatu kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman baru dengan membawakan cerita dan berbagai kosakata baru yang belum pernah di dengar anak. bila anak terlatih untuk menjadi pendengar yang kreatif dan kritis. Menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab di ruang kelas. gerakan dan kata-kata berulang untuk melibatkan anak-anak masuk dalam cerita. Melatih daya tangkap anak. Melatih daya pikir anak.

3. yaitu : a. gaya dan bakat anak. Biasanya kegiatan bercerita di laksanakan pada kegiatan penutup sehingga ketika anak pulang menjadi tenang. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Perkembangan Bahasa .2. sehingga mental anak dapat melambung. Cerita harus menarik dan memikat perhatian guru. b. Menurut Moeslichatoen (2004) sebelum membacakan cerita pendongeng harus mengetahui cerita harus menarik dengan pemilihan cerita yang baik. Dengan demikian melalui cerita. Anak-anak senang sesuatu yang mudah ditebak. Bercerita merupakan cara untuk meneruskan warisan budaya dari satu generasi ke generasi berkutnya dan menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat di masyarakat. Ketika cerita sulit atau pembaca cerita terlalu dramatis. Ulang cerita yang sama berulang kali sejak anak-anak. Namun demikian tidak selalu pada kegiatan penutup. Pada saat bercerita guru dapat berdialog dengan anak maksud menjelaskan isi gambar yang di tunjukkan guru atau bagian cerita yang sedang di sampaikan guru. Bercerita kepada anak memberikan tantangan yang unik. Cerita harus sesuai dengan usia dan kemampuan mencerna isi cerita anak usia PAUD. sehingga membantu anak-anak membayangkan kejadian di dalam cerita. Kareana anak-anak akan membangun pemahaman mereka terhadap cerita tersebut. f. Menggunakan kata-kata dan deskripsi yang tepat. melalang buana melalui isi cerita itu sendiri. Anak di beri pujian apabila dapat menjawab pertanyaan guru dan dapat menceritakan kembali cerita yang telah di ceritakan guru ketika guru selesai. Metode Bercerita Metode bercerita Kusnaini (2004) cara guru bercerita pada anak didik untuk memperkenalkan hal-hal baru dan menyampaikan pembelajaran mengembangkan berbagai kompetensi dasar anak usia dini. guru harus selalu hafal isi cerita yang akan disampaikan. anak-anak akan menjadi tidak berminat dan pergi. bercerita dapat pula dilakukan pada saat pembukaan atau ini setiap cerita yang akan disajikan. c. dan partisipasi aktif ketika mendengarkan cerita. kalau cerita itu menarik dan memikat maka guru akan bersungguh-sungguh dalam menceritakan kepada anak-anak.e. 2. 2. Cerita harus sesuai dengan kepribadian anak. pengulangan. Bercerita juga merupakan stimulan yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental. kecerdasan bahasa anak semakin terasah. humor.

3. Mengkomunikasikan tujuan teman dalam bercerita kepada anak. kemampuan guru secara penuh sangat menentukan dalam hal. mimik. d. sebagai berikut : a. Bercerita dengan cara membaca buku cerita. sesuai dengan rancangan tema dan tujuan. 5. Bercerita tanpa alat. 4. video. penerapan kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. hanya mengandalkan kemampuan varbal orang yang memberikan cerita. mimik dan pantomimik orang bercerita. seperti boneka. f.Dalam memberikan pengalaman belajar melalui penuturan cerita guru. maka Moeslichatoen (2004:179180) menetapkan langkah-langkah. 2. intonansi bicara. c. suara. Bercerita tanpa alat peraga. mengatur bahan dan alat yang dipergunakan sebagai alat bantu sesuai cerita yang dipilih. ekspresi. b. Langkah penutup kegiatan bercerita dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita. Menurut Koesnaini (2004). dan keterampilan gerak . guru terlebih dahulu menetapkan rancangan dalam meningkatkan perkembangan bahasa yang harus dilalui dalam bercerita. Pengembangan kegiatan bercerita. Pada kegiatan bercerita tanpa alat ini. televisi. tidak diperlukan kemampuan fantasi. kegiatan bercerita pada pendidikan anak usia dini dapat dilakukan dengan cara : 1. hafal. kegiatan bercerita tanpa menggunakan alat hanya menggunakan suara. Pengembangan cerita yang dituturkan guru e. gambar dan benda lain. imajinatif dan olah kata dari orang yang bercerita melainkan hanya olah intonansi dan suara. Guru menetapkan rancangan cara-cara bertutur yang dapat menggetarkan perasaan anak. film kartun tanpa bicara. Mengatur tempat duduk anak. Menurut Rahman (2005). Bercerita melalui alat pandang dengar : kaset. seperti: 1. Bercerita dengan alat peraga. isi cerita. Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan pantomime.

Bercerita dengan alat peraga langsung. Tujuannya untuk membantu imajinasi anak memahami isi cerita. c. dll Bercerita dengan alat peraga tidak langsung. Kegiatan bercerita dapat dilaksanakan di tempat tertutup maupun terbuka. Isi cerita sesuai dengan perkembangan anak dan media yang digunakan.tubuh yang menyenangkan bagi anak usia dini. d. Menggunakan bahasa anak. b. dll. Fungsi dan Peranan Bahasa Bagi Anak 2. baju.1 Pengertian Bahasa Anak . Contoh : 1) Benda : tas sekolah. 3) Tanaman : bunga mawar. Alat atau media yang digunakan hendaknya aman. kegiatan bercerita dengan menggunakan media alat pendukung isi cerita yang disampaikan. untuk membantu imajinasi anak memahami isi cerita. Bercerita dengan alat. adalah kegiatan bercerita dengan menggunakan alat peraga langsung baik benda maupun makhluk hidup lainnya misalnya tanaman dan binantang. dll. Alat atau media yang digunakan tidak membahayakan bagi guru maupun anak didik. 2) Binantang : kucing. 2. Alat atau media yang digunakan dapat tersimpan dalam satu tempat atau dapat dipegang langsung oleh guru dan anak. Alat yang digunakan dapat asli atau media dari lingkungan sekitarnya dan dapat pula benda tiruan atau fantasi. Jumlah gambar yang digunakan bisa satu gambar. bebek. Kegiatan bercerita dengan alat ini pun dapat dilaksanakan di ruangan terbuka maupun tertutup. Namun demikian diharapkan penampilan guru tidak dibuat-dibuat secara berlebihan sehingga membuat anak tidak nyaman mendengarkannya dan tidak etrtarik untuk memperhatikannya. ayam. Ketentuan bercerita dengan alat peraga langsung : a. ikan.4 Pengertian. dapat dimainkan oleh guru maupun anak didik dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. misalnya bercerita menggunakan gambar. 2.4. menarik. dua gambar atau lebih. buku. pohon singkong. pensil.

3 Adanya beberapa anak yang mempunyai gangguan alat artikulasi sehingga anak tidak mengucapkan bunyi-bunyian vocal tertentu. manusia tidak bisa melepaskan diri dari bahasa.3.4. 2.Dalam kehidupan sehari-hari.4.2.4. antara lain : 2.3 Permasalahan Bahasa Bagi Anak Ada beberapa permasalahan yang berkaitan dengan bahasa bagi anak.1 Keterbatasan kata-kata yang diketahui 2.2.2 Alat penerus pengembangan bahasa bagi anak.4. Bahasa di luar rumah akan mampu ia gunakan setelah bergaul dengan lingkungan di luar rumah dan di sekolah.1 Anak berusaha mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dengan kelimat-kalimat pendek.4. Anak bisa berbicara dengan bahasa yang ia kenal sehari-hari dilingkungan rumah.4.2.4. Akhadiah dkk (dalam Suhartono.4.2.2 Bahasa sebagai sarana untuk mendengarkan.4.3 Bahasa sebagai sarana untuk melakukan berbicara. Anak belajar dan menulis di sekolah.4. khususnya pada waktu ia memasuki kelas satu sekolah dasar.4. 2.2 Terdapat orang tua atau orang-orang yang ada disekitar anak yang sengaja berbicara dengan lafal yang dibuat-buat.4.4 Setelah anak memasuki sekolah.3. 2. 2. Dengan bahasa manusia bisa bergaul sesama manusia dimuka bumi ini. 1993:2) menyatakan bahwa dengan bantuan bahasa. 2.4. 2.4. anak tumbuh dari organisme biologis menjadi pribadi di dalam kelompok. Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan betapa pentingnya peranan bahasa bagi perkembangan manusia dan kemanusiaan.4 Peranan Bahasa Peranan bahasa terdiri dari : 2.4. Kalimat yang terdiri dari satu kata atau 2 kata. bahasa mempunyai peranan untuk membaca dan menulis.5 Tahap Perkembangan Bahasa Bagi Anak .2 Fungsi Bahasa Bagi Anak 2. Oleh karena itu dengan bahasa anak mampu mendengarkan dan mampu memahami maksud bahasa yang didengarnya. 2.3. 2.1 Sebagai sarana utama untuk berpikir 2.

yaitu melakukan yang dilarang tidak melakukan yang diizinkan. minum susu atau ”tidak susu putih saja” 2. f. Anak pertama kali baru bisa berbicara b. seperti ”bodoh”.4. tetapi cuma dan sepotong kata bisa punya arti panjang. Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain. artinya aku minta susu.1 Usia satu tahun Anak berada pada tahap yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap.4. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orang tua saat berkomunkasi dengan si batita. Walaupun begitu. Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.4. e.2 Usia dua tahun Di usia ini anak sudah menggabung dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti : contohnya. 2. . Belum lagi kosa kata diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orang tua. Anak mulai memperoleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik. saat anak bilang ”susu”. maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dengan baik.4.3 Usia tiga tahun Anak sering melakukan hal yang menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang. Anak banyak mempunyai kosata untuk dijadikan sebuah kelimat diotaknya masih sangat terbatas. Anak bisa mengucapkan satu atau 2 kata.2. atau aku minum susu.5. orang tua tidak perlu cemas. c. 2.5. dan kata-kata kasar lainnya. Contoh.5.6 Cara mengembangkan bahasa anak Jika cara-cara dibawah ini dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Kemampuan bahasa mempunyai arti dan bisa dipahami. Hal ini wajar terjadi pada balita karena : a. d.

1 Gunakan bahasa yang benar.5 Karena anak masih belajar.3 Gunakan selalu kalimat pendek.4. "oh. 2. mau minum susu. bagaimana memilih sapaan sopan.6. ya"? tapi . perkembangan makna kata.4. Ini berarti secara tidak langsung. bagaimana mengucapkan salam dan bagaimanamengambil pola bergiliran bicara yang tepat. BAB III METODE PENELITIAN 3. orang tua sebaiknva melambungkan bahasa dengan jelas. 2.4.6. Hal ini yang lebih penting. Dengan mendengarkan cerita anak belajar bagaimana bunyi-bunyian yang bermakna diajarkan dengan benar. 1987:180).4.4.2. Contoh. Rancangan Penelitian Penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Perkembangan Bahasa pada Anak Kelompok B Melalui Metode Bercerita di TKK Karitas II Surabaya Tahun Pengajaran 2009/2010” ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak kelompok B di TKK Karitas II Surabaya tahun pengajaran 2009/2010 melalui pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita . bahaya! 2.6.1. Perkembangan bahasa dapat dipakai sebagai tolak ukur kecerdasannya dikemudian hari. mimik cu cu.4 Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya. ya'" 2.5 Hubungan Metode Bercerita dengan Kemampuan Bahasa Anak Sampai detik ini masih menjadi satu pilihan bagi orang tua dan untuk meningkatkan perkembangan kosa kata. bukan oh. tetapi mereka harus lebih banyak sebelum mereka mencapai kemampuan berbahasa orang dewasa (Hur Lock. tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak. anak telah menanamkan kecerdasan bahasanya. anak juga belajar bagaimana mengambil pelajaran penggunaan bahasa tentang bagaiamana pembicaraan.6. 2. perkembangan penyusunan kalimat dan perkembangan penggunaan bahasa untuk komunikasi. bagaimana kata–kata disusun secara logis dan mudah dipahami.6. bagaimana konteks dan konteks berfungsi dalam makna.2 Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Pada masa itu. jangan ke dekat kompor. anak menguasai kemampuan berbicara.

yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama. serta keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BAKN nomor 0433/ P/ 1993. Menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) dibidang pendidikan merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pengembangan profesi. diwajibkan adanya angka kredit yang harus diperoleh dari kegiatan pengembangan profesi. diharapkan dapat diberikan penghargaan secara lebih adil dan lebih profesional terhadap pangkat guru yang merupakan pengakuan profesi dan kemudian akan meningkatkan tingkat kesejahteraannya. Tindakan: menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Di antara bentuk KTI yang cenderung banyak dipilih oleh para guru adalah KTI hasil penelitian. Definisi PTK Menurut Suharsimi Arikunto 2002. 1. Menurut Suhardjono (2003). 3. penliti/ guru dapat melihat sendiri praktik pembelajaran atau bersama guru lain ia dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari .Penelitian ini akan menggunakan metode bercerita pada proses pembelajaran yang diuji cobakan. nomor 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Istilah dalam bahasa Inggris adalah classroom Action Research (CAR) yaitusebuah kegiatan penelitian yang dilakukan dikelas dikarenakan ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut. Menurut Supardi (2004). adanya keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 tahun 1993 tentang penetapan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. dengan maksud agar siswa dapat meningkatkan perkembangan bahasanya. Saat ini kegiatan penelitian yang makin banyak dilakukan oleh para guru adalah berupa penelitian tindakan kelas. pada prinsipnya bertujuan untuk membina karier kepangkatan dan profesionalisme guru. Kelas: dalam hal ini terikat pada pengertian ruang kelas. menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan. dalam PTK. seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Melalui sistem angka kredit tersebut. 2. Pada aturan tersebut. diantaranya dinyatakan bahwa untuk keperluan kenaikan pangkat/ jabatan guru pembina/ golongan IV a ke atas. Penelitian: menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik.

Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang telah didesain dalam faktor yang ingin diteliti. secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan kelas tiap siklus dijabarkan sebagai berikut : 1. b. Dengan demikian. Tenaga pendidik tidak perlu takut terganggu dalam mencapai target kurikulumnya jika akan melaksanakan PTK. Hal ini terjadi karena kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri. dilaksanakan. Selain penelitian ini bersifat khas sebagaimana karakter PTK yakni adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini mengambil masalah bukan dari kajian teoritis. Perencanaan Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut : a. Penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus dengan harapan indikator keberhasilan akan tercapai. Penyajian atau penelitian ini menyempurnakan pendekatan deskriptif kualitatif. melainkan masalah nyata yang dihadapi praktisi pendidikan dalam ini guru TK yang diperoleh melalui hasil kolaboratif dengan mitra. dengan siswanya sendiri melalui tindakan yang direncanakan. dikelas sendiri. mensintesis terhadap apa yang telah dilakukan di kelas. guru. . Dalam hal ini berarti dengan melakukan PTK. Justru dengan melakukan PTK akan dapat meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajarannya. Membuat lembar observasi untuk pengamatan aktivitas guru dan siswa di dalam kelas proses pembelajaran. Dalam PTK guru secara reflektif dapat menganalisis. diperoleh umpan balik yang sistematis mengenai apa yang selama ini dilakukan dengan kegiatan belajar mengajar. pendidik dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran sehingga menjadi lebih efektif.Oleh karena itu. Prosedur penelitian ini melalui empat tahap. Penelitian deskriptif digunakan karena penelitian ini menghasilkan deskriptif berapa kata–kata tertulis atau lisan dari hasil belajar siswa. dan dievaluasi. Penelitian tindakan kelas tidak harus membebani pekerjaan pendidik / guru dalam kesehariannya.segi aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Menyusun persiapan observasi mengajar SKH-SKM tiap kelas. observasi dan refleksi pada tiap siklus. Jika dilakukan secara kolaboratif yang bertujuan memperbaiki proses pembelajaran tidak akan mempengaruhi materi pelajaran. yaitu tahap perencanaan. pelaksanaan tindakan.

yaitu melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam meningkatkan perkembangan bahasa. melakukan tindakan. Dari hasil observasi guru dapat mengadakan refleksi. Observasi Observasi dilakukukan ketika berlangsungnya proses beajar mengajar. Mempersiapkan alat evaluasi untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana kemampuan siswa terhadap pembelajaran meningkatkan perkembangan bahasa. Data Penelitian Data dalam penelitian ini adalah kuantitatif dan kualitatif. 4.c.3. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan guru menyampaikan materi. Observasi dilakukan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat untuk mengawasi dan menilai aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mempersiapkan media pembelajaran yaitu buku cerita dan peralatan pendukung lainnya. 3. Mempersiapkan instrumen penelitian yang lain. .Hal ini akan digunakan sebagai acuan untuk siklus berikutnya.2. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah peneliti guru dan siswa kelas ”B” di TK TKK Karitas II Surabaya yang berjumlah 20 siswa. Selain itu refleksi ini juga dilakukan untukmengetahui bagaimana kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode bercerita pada siklussebelumnya. 3. e. Mempersiapkan sumber pembelajaran. 2. f. Data kuantitatif terdiri atas data hasil belajar siswa. lalu siswa meningkatkan perkembangan bahasa 3. serta penilaian SKH dan SKM. pengamatan aktivitas guru dan siswa. Refleksi Hasil yang di dapat dari tahap observasi dari penilaian tugas berbahasa pada anak kelompok B itu dikumpukan lalu dianalisis. d. yang terdiri atas 7 siswa perempuan dan 13 siswa laki–laki. Adapun guru yang dijadikan subjek penelitian ini adalah guru TK ”B” yakni ibu Christinius Herwinarni.

1 Lembar penilaian SKH. Lembar pengamatan ini oleh guru mitra yaitu guru teman sejawat yang bertindak sebagaimana pengamat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Adapun data pengamatan aktivitas guru dan siswa berupa skor pengamatan yang diberikan pada saat pembelajaran berbahasa dengan media gambar selama siklus I. 3. 3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi. Lembar pengamatan ini oleh guru mitra yaitu guru teman sejawat yang bertindak sebagaimana pengamat selama kegiatan pembelajaran berlangsung.Data hasil belajar siswa berupa skor nilai pada saat pembelajaran berbahasa dengan media gambar selama siklus I.3 Lembar pengamatan aktivitas guru. Instrumen ini digunakan untuk mengetahui aspek aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. II dan III. . sedangkan data penilian SKH.5. II dan III. II dan III. Pada saat pembelajaran berlangsung yang meliputi aktivitas guru dan siswa. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui fakor-faktor penghambat dan pendukung pembelajaran meningkatkan perkembangan bahasa dengan menggunakan metode bercerita. SKM dengan kegiatan pembelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung.4. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen atau alat pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.5. 3.5. wawancara dan tes teknik observasi digunakan untuk menyimpulkan data-data tentang situasi kelas. Data kualitatif yaitui data fakor penghambat dan pendukung dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dalam rangka untuk meningkatkan perkembangan bahasa yang diperoleh dari deskriptif hasil wawancara. Lembar penilaian ini diisi oleh guru mitra yaitu guru yang mengajar kelompok B TKK Karitas II Surabaya dan dosen ahli. SKH dan kegiatan pembelajaran SKH.5. SKM berupa skor yang diberikan tim ahli yaitu dosen ahli dan guru mitra selama pelaksanaan siklus I. Instrumen ini digunakan untuk mengetahui aspek aktivitas guru selama proses belajar mengajar berlangsung. 3. Sedangkan teknik tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita.2 Lembar pengamatan aktivitas siswa.

3. yang meliputi aktivitas guru dan siswa. Tehnik Analisis Data Penelitian . Lembar observasi ini bertujuan untuk mendapatkan data–data tentang situasi kelas pada saat pembelajaran berlangsung. Instrumen ini digunakan sebagai pedoman selama proses wawancara untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran meningkatkan perkembangan bahasa dengan metode bercerita. kegiatan wawancara tersebut juga untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendukung selama proses belajar mengajar berlangsung.4 Lembar pedoman wawancara.6.6. 3. Selain itu. tes tersebut pada tiap siklus. selama proses wawancara. Gambar diberikan pada tiap siklusnya bervariasi jenis dan kuantitasnya. Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini antara lain : 3. 3.7. 3.6.2 Wawancara Wawancara dilakukan diluar kelas setelah kegiatan belajar mengajar berakhir. Melalui tes tersebut akan diketahui peningkatan perkembangan bahasa sebelum dan setelah menggunakan pembelajaran dengan media gambar.5 Tes Hasil Belajar.5. sehinggauntuk tiap siklusnya siswa akan menghasilkan produk.3 Tes Tes diberikan untuk mendapatkan data tantang hasil belajar siswa. Tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberikan pembelajaran pada setiap siklus. 3. 3. Tes yang diberikan merupakan tes lisan tentang materi meningkatkan perkembangan bahasa dengan metodebercerita tiap siswa. Jenis wawancara yang digunakan pada penelitian ini ialah wawancara bebas terpimpin dengan menggunakan lembar pedoman wawancara. cukup dan kurang.6.1 Observasi Observasi dilakukan secara langsung pada saat pembelajaran meningkatkan perkembangan bahasa pada ssiwa kelompok B. pertanyaan tidak hanya didasarkan pada pedoman wawancara namun pertanyaan dapat berkembang seiring jawaban mitra sejawat dengan pengelompokkan nilai baik.5.

2 Analisis data tes hasil belajar Teknik analisis ini menggunakan penghitungan prosentase sebagai keberhasilan atau ketercapaian siswa dalam menguasai berbahasa penghitungannya sebagai berikut : M= Keterangan: M = Mean (nilai rata-rata) fx = Jumlah skor yang diperoleh N = Jumlah skor maksimal 3. Penghitungannya sebagai berikut : . Teknik analisis ini menggunakan penghitungan prosentase sebagai berikut: M= Keterangan : M = Mean (nilai rata-rata) fx = Jumlah skor yang diperoleh N = Jumlah skor maksimal 3.7.Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif. Begitu juga semua data yang berupa angka-angka yang diperoleh dan dianalisis terlebih dahulu menggunakan rumus-rumus statistik sederhana.7.3 Analisis data observasi aktivitas siswa Data observasi aktivitas siswa selama kegiatan belajar berlangsung dianalisis dengan menggunakan perhitungan prosentase.1 Analisis data hasil penilaian SKH. SKM dan kegiatan pembelajaran.7. Data yang dianalisis antara lain : 3. Teknik deskriptif kualitatif digunakan untuk menjelaskan dengan kata-kata semua simpulan hasil penelitian.

berupa faktor-faktor penghambat dan penunjang atau pendukung pembelajaran dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif yaitu dengan melakukan para frase jawaban subjek yang diwawancara dan membuat simpulan hasil wawancara. Tabel 3.P= Keterangan: P = Porsentase frekuensi kejadian yang muncul fx = banyaknya aktivitas siswa yang muncul N = Jumlah aktivitas keseluruhan 3. SKM. Instrumen Analisis Data Penelitian Instrumen analisis data penelitian ini berupa tabel hasil penilaian SKH.1 Hasil Penilaian SKH . hasil tes dan data hasil wawancara.7. Tabel hasil penilaian SKH.8. 1.5 Analisis data hasil wawancara Data yang dihasilkan melalui titik wawancara merupakan data kualitatif yang berupa kata-kata.4 Analisis data hasil observasi aktivitas guru Data observasi aktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dianalisis dengan menggunakan penghitungan persentase. 3.7. Penghitungannya sebagai berikut: P= Keterangan: P = Porsentase frekuensi kejadian yang muncul f = Banyaknya aktivitas siswa yang muncul N = Jumlah aktivitas keseluruhan 3. SKM dan hasil observasi aktivitas guru dan siswa.

2 Hasil Penilaian SKM No 1 2 Dst Skor Total Aspek yang diteliti Skor Prosentase 4 Tabel hasil observasi aktivitas guru dan siswa Tabel 3.No 1 2 Dst Aspek yang diteliti Skor Prosentase Skor Total Tabel 3.4 Pengamatan Aktivitas Siswa .3 Pengamatan Aktivitas Guru No 1 2 Dst Skor Total Aspek yang diteliti Skor Prosentase Tabel 3.

6 Data Gabungan Pengamatan Aktivitas Siswa Pertemuan 1 No Pengam at 1 1 2 Pengam at 2 Pengam at 1 Pengam at 2 Pertemuan 2 Rat arata .No 1 2 Dst Aspek yang diteliti Skor Prosentase Skor Total Tabel 3.5 Data Gabungan Pengamatan Aktivitas Guru Pertemuan 1 No Pengam at 1 1 2 Dst Jumla h Pengam at 2 Pengam at 1 Pengam at 2 Pertemuan 2 Rat arata Tabel 3.

Data hasil pengamatan aktivitas siswa 3. Posted 3rd April 2011 by Theresia Lely Okvitasari ini akan dianalisis dengan langkah– .7 Hasil Belajar Siswa No 1 2 Dst Skor Total Nama siswa Niai Kriteria 3.Dst Jumla h 3. Prosedur Analisis Data Penelitian Data yang diperoleh dalam penelitian langkah penganalisisan sebagai berikut : 1. Data hasil penilaian SKH 2. Tabel hasil observasi siswa Tabel 3. Data hasil wawancara 4. Data hasil belajar siswa a. Data hasil pengamatan aktivitas guru 2. Data hasil belajar siswa setelah menggunakan pembelajaran dengan media gambar. b.9. Data hasil pengamatan 1. Data hasil belajar siswa sebelum menggunakan pembelajaran dengan media gambar.

para guru dituntut untuk mampu mengembangkan diri baik dalam segi tingkat pendidikan maupun kualitas kerjanya. sarana prasarana maupun sumber daya manusia yang terlibat dalam dunia pendidikan. dalam pembangunan bangsa masih mengacu pada negara-negara lain yang sudah maju.3 Tujuan Tujuan secara umum adalah para guru di Indonesia dapat menjadi guru profesional yang bertanggungjawab dan bermutu. Untuk mengejar ketinggalan dengan negara lain. Peningkatan kualitas guru ini benar-benar mendapat perhatian serius dari pemerintah. Indonesia akan menjadi negara besar jika para putra bangsanya mampu bersaing dengan negara-negara maju. FEB 24 Guru Profesional Kunci Keberhasilan Pendidikan BAB I PENDAHULUAN 1. Bagus dari segi prestasi. Mengapa guru profesional adalah kunci keberhasilan pendidikan ? 1. Bagaimana menjadi guru yang profesional ? 2.0 Add a comment 4. meskipun tidak 100% adaptasi dari negara maju tetapi upaya untuk menghasilkan lulusan bermutu sudah mulai digalakkan. Tujuan secara khusus adalah para guru mau dan dapat mengembangkan diri secara periodik agar tidak tertinggal. Dan tugas ini terletak di pundak para guru sebagai pendidik dan pengajar. bermutu dalam arti mampu bersaing dalam era globalisasi dan mengikuti perkembangan jaman terutama dalam bidang teknologi. . Demikian pula dengan dunia pendidikan. informasi dan sains.2 Rumusan Masalah Masalah yang kami angkat adalah : 1. karena para siswa adalah calon-calon penerus dan pengembang bangsa Indonesia. Dunia pendidikan di Indonesia memang masih tertinggal jauh dengan negaranegara lain. Dengan peningkatan sumber daya manusia terutama para guru. Baik dari segi mutu lulusan. diharapkan dunia pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang bagus dan bermutu. 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara berkembang.

menjadi guru ideal belumlah cukup. hendaklah menjadi guru ideal terlebih dahulu. suatu profesi harus berpijak pada tiga pilar. memanfaatkan teknologi secara tepat guna. menjadi panutan bagi masyarakat dan terlibat dalamm kegiatan-kegiatan masyarakat. mampu berkomunikasi dengan siswa secara baik. mempunyai jam mengajar minimal 24 jam perminggu. menguasai metode dan teknologi. BAB II LANDASAN TEORI 2. 2. 2. Raka Joni. Syarat-syarat ini akan kami bahas di bab selanjutnya. haruslah melewati tahap-tahap menjadi guru ideal. penataran. kita perlu juga mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya. inovatif.1 Pengertian Guru Profesional Guru profesional dipandang dari segi jabatan adalah guru yang memiliki sertifikat mengajar. Karena syarat untuk menjadi guru profesional ada dalam syarat menjadi guru ideal. berijasah minimal S-1 keguruan atau Akta IV. dalam menerapkan layanan . Bekal sertifikat mengajar saja tidak cukup. Tolak ukur untuk menetapkan mana guru yang ideal dan mana guru yang sedikit ideal bahkan tidak ideal sama sekali tentu sangat subyektif dan relatif. Tetapi.2 Sosok Seorang Guru Ideal dan Guru Profesional Sebelum menjadi sosok guru profesional. mampu bersaing dalam era globalisasi. diklat. kegiatan nyata. sertifikat hanya selembar kertas. mengembangkan diri secara periodik melalui seminar-seminar. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pilar kedua. menjalin hubungan dengan pakar-pakar pendidikan atau masyarakat umum. yaitu pilar pertama adalah kemampuan-atau katakanlah kompetensi tingkat tinggi yang hanya bisa diraih melalui pendidikan yang "serius"-kuat dasar akademiknya. tangguh pengetahuan dan keterampilan profesionalnya. intelektual dan kemampuan berkembang sesuai jaman dan kreatif. berkreasi dan mampu menuangkan ide-ide kreatif melalui tulisan. mampu menghasilkan lulusan yang bermutu. tetapi wujud nyata sebagai seorang guru yang dikatakan profesional sebagaimana halnya dokter harus diwujudkan. Untuk mencapai menjadi guru profesional. Apa yang disampaikan oleh Husnul tentang kriteria guru ideal abad 21 merupakan tawaran yang cukup bagus. dilanjutkan dengan latihan di lapangan yang bermuara pada masa pemagangan . melaksanakan administrasi pembelajaran secara teratur.3 Tuntutan dan Janji Profesionalisme Guru Menurut T.4 Manfaat Manfaat yang diperoleh dengan menjadi guru profesional adalah kesejahteraan guru meningkat. serta tinggi keakrabannya dengan situasi rujukannya melalui program pengalaman lapangan yang sistematis: mulai dari latihan laboratorik.1. Guru profesional dipandang dari segi tugas dan fungsinya adalah guru yang mampu mentransfer ilmu kepada siswa dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.

Untuk meraih posisi yang lebih meningkat. mengajar dan mempersiapkan materi pelajaran. mempunyai landasan pengetahuan nalar yang kuat. apalagi yang dapat berdampak merugikan klien. Kedua. Konteks globalisasi. Dengan kata lain. Oleh karena itu. pasien dalam konteks kedokteran). bagaimana jika kalangan pendidik tampil lebih professional. Pilar ketiga adalah diakui serta dihargainya eksistensi layanan yang unik. yang diajarkan dengan sebuah metoda pengajaran yang dinamis. salah satu yang memegang kendali paling dominan adalah bagaimana mempunyai tenaga pendidik yang memang benar-benar berkualitas Mencapai sosok guru yang berkualitas dan mampu melahirkan daya saing pendidikan tidak sekadar menaikkan gaji. di samping karena sisi teknis pendidikan persiapannya. jika melihat peringkat dunia pendidikan kita berada di urutan ke-109 di tahun 2000. Namun kembali lagi pada masalah yang pertama tentang pembagian waktu. lebih memaksa para guru mampu memberikan materi-materi ajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Sebab. Kegiatan ini terdengar mudah sebab bisa kapan saja dan di mana saja. bukan berdasarkan uang atau akrobatik KKN. kedudukan sebagai penyelenggara layanan ahli diperoleh berdasarkan kompetensi dan etika.ahlinya itu. mampu bekerja sama dalam sebuah sistem pendidikan formal terkecil sekolah. Ketiga. Namun benturan ekonomi dan rendahnya kesejahteraan -terutama guru tidak tetap (GTT). BAB III PEMBAHASAN 3. kedua pilar merujuk kepada persyaratan pembentukan kepribadian dan watak yang bermuara pada pelaksanaan layanan ahli yang selalu dapat diandalkan oleh klien. seorang profesional selalu menampilkan diri sebagai safe practitioner. Terlebih di era otonomi daerah. dengan acuan kompetisi global yang sungguh ketat. yang mempersyaratkan keahlian khas ini oleh masyarakat pemakai layanan serta oleh pemerintah. Urusan membagi waktu pun kemudian menjadi hal yang teramat sulit. Dengan perkataan lain. Kita bisa meluangkan waktu pergi ke perpustakaan atau tempat lain yang baca gratis. Metoda pengajaran yang dinamis. setidaknya harus dipunyai oleh mereka yang ingin benar-benar menjadi profesional di dunia pendidikan. dua hal ini masih menjadi kendala terberat guru. tentang budaya menulis dan meneliti. guru harus gemar membaca. Tidak pernah terlintas dalam pikiran seorang profesional untuk menggunakan keahliannya itu untuk memperoleh keuntungan pribadi. dengan naiknya gaji. kaum profesional tersebut selalu mengedepankan kemaslahatan kliennya (subyek didik dalam konteks keguruan. sadar akan sistem sanksi profesi. harus segera diwujudkan. Bayangkan saja. banyak guru yang bisa membagi waktu dengan baik. guru ideal dapat membagi waktu. Membaca juga tidak harus dengan membeli buku. Untuk itulah.ini yang ideal. menjadi guru yang profesional berarti mempunyai militansi individual. bukan jalan yang mudah. Barangkali para guru akan sedikit bahagia kalau mendengar kabar bahwa sehari tidak lagi 24 jam tetapi 34 jam. Kalau hanya untuk belajar.seringkali membuat hidup menjadi serba kekurangan. Maka. Saya mensinyalir ada keterkaitan antara budaya membaca dan keterampilan . ternyata salah satu tuntutan yang terus bergulir deras adalah. Guru yang profesional.1 Menjadi Guru Ideal Pertama.

Sopan. Mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya. Bila ada peserta didiknya yang bertanya. Wajahnya selalu ceria. Menulis itu ibarat pisau yang kalau tidak sering diasah. Bila guru malas membaca. Dia mendidik dengan hatinya. maka ia akan kaya akan ilmu. kecuali ridho dari Tuhan pemilik bumi. Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. time is money. guru yang ideal adalah guru yang sensitif terhadap waktu. Falsafah hidupnya adalah tangan di atas lebih mulia daripada tangan dibawah. maka sudah bisa dipastikan dia akan malas pula untuk menulis. bila kita malas membaca. Tulisannya sangat menyentuh hati. maka ia akan terbiasa menulis. Sapa. Guru ideal adalah guru yang mengusai ilmunya dengan baik. Karena itu guru harus sensitif terhadap waktu. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Orang Barat mengatakan bahwa waktu adalah uang. dan Sabar). Namun. Dia akan terbunuh oleh waktu yang ia sia-siakan. guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. dengan banyaknya media yang menyediakan ruang bagi guru dapat memacu guru untuk lebih giat menulis dan meneliti. Demikian pula . memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para anak didiknya dengan cepat dan benar. Semakin diambil semakin jernih airnya. siapa yang rajin membaca. Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik. dan bermakna. Bagi guru waktu lebih dari uang dan bahkan bagaikan sebilah pedang tajam yang dapat membunuh siapa saja termasuk pemiliknya. Di Malang raya begitu banyak media untuk mempublikasikan tulisan dan hasil peneltian. guru yang memahami benar akan profesinya. namun bisa juga sebagai pembunuh dirinya sendiri. Detik demi detik waktunya teratur dan terjaga dari sesuatu yang kurang baik serta sangat berharga. dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya (Salam. Guru yang rajin membaca otaknya seperti komputer atau ibarat mesin pencari di internet ysng bernama Google. maka tidak akan banyak prestasi yang ia raih dalam hidupnya.menulis. Pedang yang tajam bisa berguna untuk membantu guru menghadapi hidup ini. akan mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam. Ilmunya mengalir deras dan terus bersemi di hati para anak didiknya. Paling tidak. dari cara bicara dan menyampaikan pengajarannya. Guru yang ideal adalah guru yang juga rajin menulis. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan apapun. Profesi guru adalah profesi yang mulia. senang. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. layaknya sebilah pisau. Guru yang terbiasa membaca. Senyum. Guru ideal adalah dambaan peserta didik. Pengalaman mengatakan. maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Menulis dan membaca adalah kepingan mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Kedua. Benarkah sosok itu ada? Lalu seperti apakah sosok guru ideal yang diperlukan saat ini? Guru ideal yang diperlukan saat ini adalah pertama. maka akan tumpul dan berkarat. Mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya. Saat kita menganggap waktu tidak berharga. Disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami. rinci serta mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya. kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Akan terlihat wawasan guru yang rajin membaca. Hanya memberi tak harap kembali. mengapa? Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya. maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin menulis. Ketiga.

hanya sekedar copy and paste tanggal dan tahun saja. Keempat. Jangan sampai guru terjebak sendiri dengan rutinitasnya yang justru tidak menghantarkan dia menjadi guru yang baik dan menjadi tauladan anak didiknya. Karena itu. ataupun dalam hidup ditengah-tengah masyarakat.saat kita memuliakan waktu. maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. dan . Selalu ada inovasi baru yang dia ciptakan dalam proses pembelajarannya. guru yang ideal adalah guru yang tidak terjebak dengan rutinitas kerjanya. Dia merasa sudah cukup. Untuk melakukan suatu proses kreatif dibutuhkan kemauan untuk melakukan inovasi yang terus menerus. Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dibuatpun dari tahun ke tahun sama. Dia selalu belajar sesuatu yang baru. Tidak mau tahu dengan lingkungan dan kondisi sekolah apalagi kondisi siswa. Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. kecerdasan sosial. dan lain-lain. Bahkan sampai saatnya memasuki pensiun. Dia mengganggap pekerjaan dia adalah karirnya. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola menjadi guru pasif bukan aktif. karena itu dia berusaha keras agar yang dilakukannya bagus di mata pimpinannya atau kepala sekolah. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu dengan baik. Kelima kecerdasan itu adalah: kecerdasan intelektual. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja.Guru yang kreatif adalah guru yang selalu bertanya pada dirnya sendiri. kecerdasan moral. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. kecerdasan emosional. Baik ketika mengajar. Apakah dia sudah menjadi guru yang baik? Apakah dia sudah mendidik dengan benar? Apakah anak didiknya mengerti tentang apa yang dia sampaikan? Dia selalu memperbaiki diri. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan. Dia belajar sepanjang hayat hidupnya. tiada henti. dan merasa tertarik untuk membenahi cara mengajarnya. Dia selalu memperbaiki proses pembelajarannya melalui penelitian tindakan kelas. misalnya : pandai mengatur waktu dengan baik. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan moral. Waktunya di sekolah hanya sebatas sebagai tugas rutin mengajar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru menjadi tidak kreatif. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Jujur bukanlah kebijakan yang terbaik. Selain itu kecerdasan sosial juga harus dimilikin oleh guru ideal agar tidak egois. Kecerdasan yang dimiliki terpancar jelas dari karakter dan prilakunya sehari-hari. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Dia tidak mendidik dengan hati. Dia tidak pernah puas dengan apa yang dia lakukan. Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam pembelajarannya. membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru. Mengapa? Bila kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya mementingkan keberhasilan ketimbang proses. guru yang ideal adalah guru yang memiliki 5 kecerdasan. Buatlah jadwal yang terencana. Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Keenam. Rencana Program pembelajaran tinggal menyalin dari kurikulum yang dibuat oleh pemerintah atau menyontek dari guru lainnya. Guru harus pandai mengatur rutinitas kerjanya. tapi jujur adalah satu-satunya kebijakan. segala cara dianggap halal. Guru hanya melakukan transfer of knowledge. Proses kreatif menjadi tidak jalan. Kesibukan kerja setiap hari menjadi rutinitas yang tiada henti. guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif. yang penting target tercapai semaksimal mungkin. Dia selalu merasa kurang dalam proses pembelajarannya. Tak ada upaya untuk keluar dari rutinitas kerjanya yang sudah membosankan. kecerdasan motorik. Buang kebiasankebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerja. Apakah ini yang disebut guru profesional? Kelima.

Ketika seorang guru memasuki kelas. maka seorang guru akan mampu memotivasi. Guru. Dalam proses belajar mengajar di kelas. imajinatif. Misalkan. Maka. Sedangkan kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu melakukan mobilitas tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil yang maksimal. mendorong lahirnya kreativitas berpikir baru. mempunyai kemampuan interpersonal dalam memberikan empati dan penghargaan kepada setiap siswa. Kemana intensitas pendidikan kelas akan diarahkan. tersinggung. terungkap bahwa peran guru sangat signifikan dalam keberhasilan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran. Kunci sukses kegiatan belajar mengajar hanya akan tercapai. kuantitasnya lebih banyak. dan menutup pintu. guru juga mampu memunculkan kesan yang : membosankan. Dalam paradigmanya yang lain. dan mudah melecehkan orang lain. dalam setiap pengajaran peran guru bukanlah yang dominan. Kinerja guru semacam ini. pada akhirnya akan mampu mematikan kreativitas dan menciptakan stagnasi proses pembelajaran itu sendiri. Ketiga. Kedua. melainkan subjek siswa yang seharusnya diutamakan.2 Peran Strategis Guru yang profesional dan efektif. Yang dalam teori McCleland diungkapkan sebagai sosok yang mampu memacu siswa berpikir secara divergent dengan memberikan berbagai pertanyaan yang jawabannya tidak sekadar terkait dengan fakta: ya atau tidak ! Peran guru bisa diupayakan dalam fase klimaksnya. jika guru benar-benar mampu melaksanakan profesionalitas kerjanya. Seperti diungkapkan dalam penelitian John Goodladd (Behind The Classroom Doors. sebab definisi proses pembelajaran adalah bentuk komunikasi dua arah. sekadar instruktif dan justru dijauhi para siswanya. guru harus mampu menerapkan kurikulum pengajaran dengan metoda mengajar yang . mendorong siswa mempunyai produktivitas kognitif. pertama. Namun. mempunyai kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dalam sebuah proses pembelajaran. setidaknya ada beberapa pijakan untuk bisa menjadi guru yang profesional dan efektif. Mungkin guru yang masuk ketegori semacam ini. Masing-masing subjek akan berperan dalam kapasitasnya. setidaknya eksis dengan kapasitasnya memberikan respon-respon positif terhadap kreativitas siswa. Dengan merumuskan pertanyaan kepada siswa yang memerlukan jawaban-jawaban kreatif. menisbikan dimensi afektif. 1998) praktisi pendidikan Amerika. Selain itu yang paling menyakitkan adalah berpeluang untuk bisa menumpulkan daya nalar. serta dapat membantu setiap kebutuhan siswa secara professional. Yakni. siswa sangat membutuhkan wilayah untuk didengarkan. mewakili kriteria. Maka sosok guru yang professional. secara kongkret mempunyai kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. Dia harus mampu bekerjasama dengan karakter orang lain yang berbeda. jika dibandingkan dengan sosok guru yang memang bernar-benar tampil dalam kapasitasnya yang professional. hanya gurulah yang bisa mengendalikannya. maka kualitas pembelajaran berhasil tidaknya ada di tangan guru.tidak memperdulikan orang lain. 3. hipotetik dan sintetik (thought provoking question). memegang peran keberhasilan pendidikan siswa. Kecerdasan emosional harus ditumbuhkan agar guru tidak gampang marah.

Memiliki dan mendapatkan guru-guru berkualitas prima itu semakin lama semakin perlu mengingat bahwa dunia pendidikan perlu mengalami perubahan yang sama cepatnya dengan dunia ilmu pengetahuan dan dunia bisnis. sebisa mungkin juga mampu memberikan tugas dengan titik tekan pada peningkatan cara berpikir siswa. sudah menjadi kemutlakan (taken for granted). Itu artinya kita hanya akan meluluskan siswa dengan kualitas ‘dunia agraris’ belaka. mengalihkan pembicaraan pengajaran serta mampu memberikan substansi transisi siswa. Kita hanya akan menghasilkan lulusan-lulusan yang tidak kompatibel dengan kebutuhan dunia baru yang mensyaratkan kemampuan memanfaatkan internet sebagai media dalam segala urusan dunia modern. Menyakitkan tapi memang begitu faktanya. atau secara kongkret mampu mengadaptasikan perencanaan dengan titik pengembangan cara pembelajaran yang relevan. Sungguh celaka! Itu sebetulnya sudah dipahami oleh semua pihak. Kalau tidak berubah berarti kita semakin tertinggal. Itu adalah buah dari kebijakan pendidikan sebelum ini yang merekrut guru secara asal-asalan dan pada akhirnya dunia pendidikan diisi oleh orang-orang yang tidak . Keempat.inovatif. Apapun perubahan dan inovasi pendidikan yang hendak dilakukan oleh bangsa ini kalau mutu guru rendah maka semuanya akan sia-sia. Seorang pengamat pendidikan dengan masygul berkata bahwa dunia pendidikan kita dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang tidak kompeten. tidak mau dilatih dan dibimbing? Dunia pendidikan kita memang menghadapi masalah besar dengan kompetensi para gurunya. suka menyela. menjadi guru yang professional setidaknya benar-benar memahami strategi manajemen pembelajaran. dan (2) lingkungan kerja guru dibuat nyaman dan kondusif untuk bekerja dan mendorong mereka untuk berkarya agar mereka tidak loncat mencari pekerjaan lain. Paling banter nantinya akan menjadi ‘Sekolah Bertarif Internasional’. dan lebih parah lagi. kelas dan sekolah baru akan efektif apabila (1) kita merekrut orang-orang terbaik untuk menjadi guru. Menjadi guru yang berkualitas. Masalahnya adalah apakah para guru kita mampu untuk diajak terus menerus berlari mengejar perkembangan jaman dan teknologi jika mereka tidak pernah. 3. dalam rangka mencapai sosok guru yang professional. Kalau sekolah kita tidak mengajarkan pemanfaatan komputer sebagai alat belajar dan internet sebagai sumber belajar maka sekolah kita jelas akan tertinggal jauh di belakang. Sebab. Kalau tidak maka dunia pendidikan hanya akan menghasilkan lulusan-lulusan yang ‘katrok’ terhadap perkembangan dunia lain. Dalam kapasitasnya sebagai guru. Segala ambisi besar macam ‘Sekolah Bertaraf Internasional’ pada akhirnya akan kandas bertekuk lutut di kaki guru yang sama sekali tak bertaraf internasional.3 Mutu Guru Kunci Keberhasilan Pendidikan Seperti yang dikatakan oleh Fullan. Perubahan kurikulum dalam sistem pendidikan kita adalah sebuah keniscayaan. Untuk bisa menghasilkan siswa-siswa yang siap berkompetisi dalam dunia modern maka mereka mesti dididik oleh para guru yang memiliki kapasitas dan kompetensi yang memadai dengan kebutuhan masa depan tersebut. Setidaknya dari uraian tersebut sungguh berat rasanya. Manajemen pembelajaran di sini meliputi strategi menghadapi siswa yang tidak mempunyai perhatian. zaman kali ini telah memaksa dunia pendidikan untuk bisa meningkatkan daya kompetitifnya yang maksimal. senantiasa terpacu untuk memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metoda-metoda pengajaran yang dinamis. Namun ini mutlak untuk diupayakan.

Fakta menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia masih jauh dari memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar macam mengenal dan menggunakan internet sebagai media pembelajaran.kompeten. Pengajaran tematik bahkan masih asing terdengar oleh para guru. Hanya sebagian kecil saja guru yang memiliki ‘tulang bagus’ dan bisa dididik dan dilatih ulang. para guru bahkan belum mengenal pengajaran dengan menggunakan proyek-proyek yang menggabungkan beberapa mata pelajaran sekaligus.4 Mewujudkan Guru yang Profesional Jika guru telah memiliki kualitas sebagai guru professional maka tuntutan kurikulum bagaimana pun tentu akan dapat dipenuhinya. Kurikulum ini hanya dipahami secara parsial sehingga juga diterapkan secara parsial. Dan itu juga lagi-lagi karena rendahnya kualitas guru sehingga mereka tidak mampu menyerap dan memahami apa sebenarnya dibalik berbagai perubahan yang terjadi di negara-negara maju. Guru belum memahami konstelasi bidang studi yang diajarkannya dalam kaitan dan hubungannya dengan bidang studi lain dan masih melihat berbagai bidang studi secara terpisah dan tersendiri tanpa ada hubungan dengan bidang studi lain. dalam proses peningkatan kegiatan belajar mengajarnya. Guru-guru masih terjebak pada filosofi dan pendekatan lamanya. bahkan pada sekolah-sekolah yang dianggap unggulan. Karena ketidakpahaman ini mereka kembali kepada pola assesmen lama dengan tes-tes dan ulangan-ulangan yang bersifat cognitive-based semata. Guru masih melihat bidang studinya berupa ‘text’ dan belum ‘context’ karena metode CTL (Contextual Teaching and Learning) masih berupa wacana dan belum menjadi pengetahuan. CBSA yang sebelum ini telah dikenalkan masih berupa wacana dan belum menjadi kegiatan sehari-hari di kelas. Dari sononya memang sudah ‘katrok’ dan tidak bisa diperbaiki. bahkan belum paham benar dengan prinsip ‘student-centered’ dan kegiatan belajar mengajar masih berpusat pada gurunya. apalagi ketrampilan. apalagi lompatan. Tidak adanya model sekolah yang bisa dijadikan sebagai rujukan membuat para guru tidak mampu melakukan perubahan. Kesulitan utama pada guru-guru adalah ketidakpahaman mereka mengenai apa dan bagaimana melakukan evaluai dengan portofolio. 3. Saat ini sekolah-sekolah berlomba-lomba menerapkan moving class tanpa tahu apa sebenarnya inti dari moving class tersebut sehingga yang terjadi sama sekali berbeda dengan apa yang hendak dicapai oleh sistem moving class tersebut. Evaluasi yang digunakan oleh para guru dilapangan masih berpedoman pada paradigma lama yang hanya mengukur kemampuan kognitif dengan bentukbentuk evaluasi yang hampir tidak berubah sama sekali dengan kurikulum sebelumnya. Mereka belum mampu untuk melaksanakan KBM dalam sebuah proyek secara bersama dengan guru-guru dari bidang studi lain. Ironinya adalah bahwa kita hampir tidak punya daya untuk mengubah keadaan tersebut. Hal ini nampak jelas pada evaluasi yang mereka lakukan. Berbagai upaya untuk memperbaiki kompetensi dan profesionalisme guru nampaknya selalu terganjal oleh fakta bahwa banyak guru yang tidak mampu (dan juga tidak mau) untuk ditingkatkan kualitasnya. Dan kita harus menanggungnya sekarang. Sebagian besar guru. Mereka mengikuti tapi tidak paham apa sebenarnya yang mereka ikuti itu. Seorang guru profesional adalah bak seorang Chef ahli yang dapat diminta untuk membuat masakan jenis apa pun . Lebih ke bawah lagi. Ketidakmampuan memahami pendekatan yang mendasari kurikulum ini membuat para guru tidak berusaha untuk mengubah pola pengajaran lama mereka secara mendasar. bagi para guru. Mereka hanya mengambil kulitkulitnya dan tidak paham esensinya.

Sekolah juga harus terus aktif untuk meningkatkan motivasi dari para gurunya dalam memberikan pengajaran yang terbaik bagi siswa-siswanya. Ibarat koki yang harus memahami dasar-dasar tentang segala jenis bahan makanan dan peralatan masak sebelum ia mampu membuat suatu masakan atau sajian yang benar-benar berkualitas. BAB IV KESIMPULAN Untuk menjadi seorang guru yang profesional dan menjadi klunci keberhasilan pendidikan ternyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan kita. Ia juga harus paham hal-hal mendasar seperti prinsip belajar otak kiri dan kanan. Guru profesional bukan hanya harus benar-benar menguasai materi yang harus disampaikannya kepada siswa dan kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional secara filosofis maupun praktis. mengakses dan memanfaatkan internet sebagai wahana belajar. Dianjurkan agar sekolah-sekolah mau belajar ke sekolah-sekolah internasional yang ada di kota masing-masing karena mereka telah lama melaksanakan pendekatan ‘student-centered’ maupun ‘competence based’ ini. maupun studi banding ke sekolah-sekolah yang telah mampu melaksanakan sistem pengajaran yang efektif. Syarat utama bagi guru untuk dapat mengajar dengan baik adalah guru yang memiliki kapasitas penguasaan materi yang telah memadai. ‘well-equipped’. hendaknya dapat menjadi bahan perenungan dan motivasi bagi para guru untuk menjadi seorang guru yang ideal dan profesional. Apabila guru telah dapat menguasai materi yang hendak diajarkannya maka guru harus dapat mengupdate dirinya. Setelah itu berikan pelatihan tentang pembelajaran sebanyak-banyaknya dan biarkan mereka berkreasi di kelas. pendekatan Quantum Teaching and Learning. Guru yang tidak kompeten tentu tidak akan dapat menghasilkan siswa yang kompeten. magang. metode pengajaran Contextual Teaching and Learning.sepanjang bahan dan peralatannya tersedia. Guru harus benar-benar kompeten dengan materi yang akan diberikannya. Pelatihan ini harus dibarengi dengan usaha-usaha keras untuk mengembangkan sensifitas dan kreatifitas dari masing-masing guru untuk mengembangkan sendiri metodologi yang tepat bagi siswa masing-masing. maupun pemahaman filosofi dan paradigma yang menyertainya. pelatihan. loka-karya. Baik itu metodologi-metodologi pengajaran yang berkorelasi dengan penguasan KBK. Minimal guru harus dapat memperoleh 3 (tiga) kali seminar atau pelatihan mengenai bidang studi yang diajarkannya maupun tentang metodologi. and practice. Practice…. pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan dalam hal ini. terutama dalam penerapan evaluasi dengan menggunakan portofolio.practice…. Bukan hanya guru yang dituntut lebuh tetapi juga perhatian dan kerjasama serta keterlibatan para ahli. Guru profesional bukan hanya harus ‘well-performed’. Bagaimana mewujudkan hal tersebut? Mulai sekarang rekrutlah guru-guru yang memang memiliki kualifikasi tinggi pada bidangnya. dan tentunya juga ‘well-paid’. Selain itu guru juga harus memiliki komitmen yang benar-benar tinggi dalam usaha untuk mengembangkan kurikulum ini. tapi juga harus ‘well-trained’‘. Guru juga harus selalu aktif mengikuti perkembangan metodologi pengajaran dengan mengikuti berbagai kegiatan kelompok profesi sejenis maupun melalui buletin-buletin profesi. Taksonomi Bloom dan aplikasinya pada proses belajar mengajar. Seorang Chef ahli bahkan bisa membuat masakan yang enak meski bahan dan peralatannya terbatas. pemahaman tentang Multiple Intelligences dan penerapannya di kelas. Dibutuhkan guru–guru profesional untuk dapat mengembangkan kurikulum apa pun dan bukan sekedar guru berkualitas ‘standar’. Berikan otonomi seluas-luasnya pada mereka untuk mengembangkan kurikulum. Sekolah berkewajiban untuk meningkatkan kompetensi guru-gurunya dalam memahami materi yang diajarkannya dan metodologi penyampaiannya. guru juga harus memahami benar materi yang hendak diajarkannya dan tahu tentang bagaimana mengolahnya menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang mampu mengembangkan kompetensi siswa-siswanya. . Guru yang memiliki motivasi rendah tidak akan dapat melaksanakan KBK ini karena KBK menuntut kerja keras guru untuk mempersiapkan dan melaksanakannya di kelas. mengorkestrasikan materi yang diajarkannya dengan materi pelajaran lain dalam suatu KBM tematik dalam bentuk project. Pelatihan terus menerus adalah jawabnya. Kalau perlu magangkan mereka ke sekolah-sekolah internasional agar mereka melihat langsung bagaimana pendekatan competencebased dilakukan di kelas. Seperti halnya para pakar dalam uraiannya tentang peran guru dalam dunia pendidikan di bawah ini. Untuk itu sekolah harus secara berkala menyelenggarakan atau mengirim gurugurunya untuk mengikuti seminar. Banyak hal yang harus dikerjakan para guru dan banyak hal pula yang harus diperhatikan untuk mencapai keberhasilan pendidikan.

Email: theresia_lely@yahoo.com from: Dra. Discovery.Prof. Ponorogo “Guru harus terus ditingkatkan sensifitasnya dan kreatifitasnya. Orang tua selama kegiatan berlangsung dilarang untuk menengok anaknya. yang berjumlah 6 orang tiap kelompok.Si Satria Dolet Dharma. Bagi para guru yang belum mendapat kesempatan untuk mendapatkan pengakuan sebagai guru profesional jangan putus asa. Apapun 4. Proficiat! DAFTAR RUJUKAN 1. Guru Kuncinya. Sensifitas adalah kemampuan guru untuk mengembangkan kepekaan-kepekaan paedagogisnya untuk kepentingan pembelajaran. M. minum) kegiatan game dimulai. (5 Mei 2010) Posted 24th February 2011 by Theresia Lely Okvitasari 0 Add a comment 5. jangan berhenti untuk terus mengembangkan diri dengan belajar dan terus belajar. memupuk rasa tanggung jawab dan kerja sama dalam kelompok. Email: theresia_lely@yahoo. Email: theresia_lely@yahoo.Si Dominikus Unaradjan. Setelah . Tiap pos dicatat pemenangnya. mengangkat tongkat dengan 2 jari telunjuk. MAR 11 ONE DAY WITH TEACHER TKK KARITAS III SURABAYA Pada hari Sabtu. Contextual Teaching and Learning. Selanjutnya acara dibuka dengan doa pagi dan senam rohani.com from: Dra. Berjuanglah terlebih dahulu untuk menjadi guru ideal sebelum mencapai guru profesional. hanya mengantar dan menjemput saja. 2.00WIB. Acara game diakhiri dengan makan siang dan tidur siang. metode pembelajarannya yang berbasis Inquiry. Sosok Guru yang Profesional.Si T. mengumpulkan bola dengan warna tertentu dalam kolam. 5 Desember 2009). 5 Desember 2009). Hartono. Tiap kelompok dipandu oleh 1 orang guru dan diberikan rute / urutan tempat game. Profesionalisme Dalam Mengajar (Senin.com from: Dr.00 .” Bagi para guru yang sudah dinyatakan profesional. memantapkan kerohanian siswa. estafet balon air. menggunakan alat bantunya. M.16. dll. perubahan filosofisnya. Profesinalisme Guru : Janji dan Tuntutannya(Senin. Suyanto Ph. M. 3. Jahju Hartanti. Kegiatan dibuka dengan pembagian kartu nama dan membagi dalam kelompok. puzzle. Untuk kegiatan tidur siang ini. mantan Kasi Kurikulum Subdiknas TK/SD Dindik Kab. Ada 5 pos yaitu. M. Jahju Kurikulumnya. menyusun evaluasinya. anak-anak telah membawa perlengkapan tidur dari rumah dan diatur sesuai dengan jenis kelaminnya. menyusun huruf. Hartono.D. Raka Joni. Kegiatan ini berlangsung dari jam 07.” Achmad Sapari. TK Katolik Karitas III mengadakan kegiatan One Day With Teacher di sekolah. Setelah mamiri (makan. (11 April 2010) Hartanti. Dirjen Mandikdasmen : “Guru harus diajak berubah dengan dilatih terus menerus dalam pembuatan satuan pelajaran.Si Yani Heryani. 8 Maret 2010.com from: Dr. Email: theresia_lely@yahoo. Tujuan kegiatan adalah melatih kemandirian siswa.

Acara ini memang melelahkan bagi pendamping tapi bagi anak sangat berkesan. anak laki-laki bermain bola di halaman. Dad. acara ditutup dengan doa bersama dan pembagian sertifikat dan souvenir. Sukses TKK Karitas III YES. Dari warna-warna yang terang kita dapat mengetahui kondisi emosi anak. kuning.Dapat melatih motorik halus pada anak yang melibatkan gerak otot-otot kecil dan kematangan syaraf.YES.Mengenalkan konsep pencampuran warna primer.Mengenal konsep warna primer (merah...YES Posted 11th March 2010 by Theresia Lely Okvitasari Labels: kegiatan TK 0 Add a comment ng Send feedback Finger Painting (Lukisan Jari) Pada kesempatan kali ini. I love u full.Mengendalkan estetika keindahan warna.. Ada beberapa metode atau cara dalam kegiatan finger painting : • Menggunakan teknik basah (kertas dibasahi dulu) • Menggunakan teknik kering (kertas tidak perlu dibasahi) . biru). . SAY GOOD BY. "Mom.. Gaung kesenangan." Setelah itu acara mandi. kegembiraan dan kondisi-kondisi emosi mereka. Bahkan orang tua pun sangat senang mendengar anaknya bercerita dengan gembira dan lebih mandiri.tidur siang anak-anak menonton tayangan video cerita binatang dan dilanjutkan dengan pembuatan hamburger kasih sayang. .Melatih imajinasi dan kreatifitas anak. Bahkan cerita ini berlanjut hingga seminggu kemudian. Dinamakan hamburger kasih sayang karena hamburger ini tidak boleh dimakan tetapi dibawa pulang untuk diberikan kepada oarang tua sambil berkata. kehebohan masih terasa pada anak. . Baru kemudian anak laki-laki yang mandi. Tujuan dari kegiatan ini adalah : . Sebelum pulang anak-anak minum teh dan roti. giliran pertama adalah anak perempuan dulu. sehingga menjadi warna yang sekunder dan tersier. . Acara ini kami nilai cukup sukses karena baru pertama kali diadakan dan kami berharap di tahun mendatang dukungan orang tua lebih banyak dan lebih besar. kita akan mempelajari salah satu kegiatan di area seni yaitu kegiatan melukis dengan jari tangan atau bisa dikenal dengan nama finger painting.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful