You are on page 1of 12

ANALISIS JURNAL PENELITIAN

PENGARUH LATIHAN LINGKUP GERAK SENDI (ROM) TERHADAP KEMANDIRIAN PASIEN HEMIPARISE PASCA STROKE NON HEMORAGIK
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas Dosen : Zaenudin, S.Kep. Ns

Disusun oleh : LYA KHAERUNISA (0520011012)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS PEKALONGAN 2011/2012

Setiap tahun. sedangkan jumlah penderita stroke di Bali tahun 2010 sebanyak 23. Jika kejadian berlangsung lebih dari 10 detik akan menimbulkan kerusakan permanen otak (Feigin.3 per 1. Menurut Stroke Association tahun 2006.000 penduduk.BAB I PENDAHULUAN A. membuat orang malas untuk menjalankan pola hidup sehat seperti pola makan yang buruk dan malas berolah raga berdampak terhadap perubahan pola penyakit dalam masyarakat dari penyakit infeksi sampai penyakit degeneratif. 2007). stroke adalah salah satu penyakit kardiovaskuler yang berpengaruh terhadap arteri utama menuju dan berada di otak. stroke terjadi ketika pembuluh darah yang mengangkut oksigen dan nutrisi menuju otak pecah atau terblokir oleh bekuan sehingga otak tidak mendapat darah yang dibutuhkannya. Sedangkan di Inggris sekitar 250.000 setiap tahun dengan prevalensi 8.000 orang (BPS. Di Amerika Serikat sekitar 5 juta orang pernah mengalami stroke. Stroke merupakan salah satu manifestasi neurologik yang umum dan mudah dikenal dari penyakit-penyakit neurologi yang lain oleh karena timbulnya mendadak dalam waktu yang singkat (Sidharta. 2011).000 orang. Peningkatan jumlah penderita stroke ini identik dengan perubahan gaya hidup yaitu pola makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia. kurang lebih 15 juta orang di seluruh dunia terserang stroke. Jumlah penderita stroke di Indonesia berdasarkan sensus kependudukan dan demografi Indonesia (SKDI) tahun 2010 sebanyak 3600. 2006). tak terkecuali Indonesia (Yastroki. 2005). Latar belakang Perkembangan globalisasi dan perubahan gaya hidup modern yang serba instan dan praktis. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi pegeseran pola penyakit yang terlihat dari peningkatan yang sangat cepat pada berbagai penyakit tidak menular yang dirawat dirumah sakit diantaranya adalah penyakit stroke. Data dari catatan rekam medik RSUD Gianyar didapatkan jumlah pasien stroke yang dirawat .

pada tahun 2008 sebanyak 200 orang terdiri dari stroke non hemorogik sebanyak 148 orang (74%) dan stroke hemorogik sebanyak 27 orang (26%). dan muka. kesulitan berbicara atau memahami (tanpa gangguan pendengaran). Stroke pada penderita dewasa akan berdampak menurunnya produktivitas dan bahkan akan terjadi beban pada orang lain. 2004). Penderita stroke post . mungkin juga tidak (stroke tanpa gejala disebut silent stroke). (Rekam Medik. tahun 2009 pasien stroke yang dirawat sebanyak 235 orang terdiri dari stroke non hemorogik sebanyak 188 orang (80%) dan stroke hemorogik sebanyak 47 orang (20%). Kelumpuhan tangan maupun kaki pada pasien stroke akan mempengaruhi kontraksi otot. Seorang pasien stroke mungkin mengalami kelumpuhan tangan. Menurunnya elastisitas dinding pembuluh darah mengakibatkan terjadinya tahanan yang lebih besar pada aliran darah (Potrer & Perry. 2005). lengan. semuanya pada salah satu sisi. tergantung pada tempat dan ukuran kerusakan. Stroke mungkin menampakkan gejala. Gejala paling khas adalah paralisis. kelemahan. 1997). dan secara total menyebabkan ketidakmampuan sensorik motorik yang abnormal (Guyton & Hall. Penderita stroke perlu penanganan yang baik untuk mencegah kecacatan fisik dan mental. dan/atau perilaku. Dinding pembuluh akan kehilangan elastisitas dan sulit berdistensi sehingga digantikan oleh jaringan fibrosa yang tidak dapat meregang dengan baik. tahun 2010 pasien stroke yang dirawat sebanyak 487 orang terdiri dari stroke non hemorogik sebanyak 405 orang (83%) dan stroke hemorogik sebanyak 82 orang (17%). kaki. Hampir 80 % pasien mengalami penurunan parsial dan kekuatan lengan atau tungkai di salah satu sisi tubuh (kelumpuhan parsial dan paralisis). Kemudian disusul 30 % mengalami cacat sendi dan kontraktur dalam tahun pertama setelah stroke (Valery. Berkurangnya kontraksi otot disebabkan berkurangnya suplai darah ke otak belakang dan otak tengah. kesulitan menelan. dan hilangnya sebagian di satu sisi. Berkurangnya suplai darah pada pasien stroke salah satunya diakibatkan oleh arteriosklerosis. hilangnya sensasi di wajah. 2011). Gejala stroke dapat bersifat fisik. atau tungkai di salah satu sisi tubuh. psikologis. sehingga dapat menghambat hantaran jaras-jaras utama antara otak dan medula spinalis.

Range of motion (ROM) atau adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry. kontraktur. pada trombosis atau emboli yang ada infark miokard tanpa komplikasi yang lain dimulai setelah minggu ke 3 dan apabila tidak terdapat aritmia mulai hari ke 10. ataupun sosial untuk itu penderita stroke membutuhkan program rehabilitasi salah satunya mobilisasi persendian yaitu dengan latihan range of motion (Sugiarto. maka dengan segera harus dihentikan (Sodik. untuk pasien stroke akibat trombosit dan emboli jika tidak ada komplikasi lain dapat dimulai setelah 2-3 hari setelah serangan dan bila terjadi perdarahan subarachnoid dimulai setelah 2 minggu. Melakukan mobilisasi persendian dengan latihan ROM dapat mencegah berbagai komplikasi seperti infeksi saluran perkemihan. tromboplebitis. Pelaksanaan ROM harus disesuaikan dengan kondisi pasien. ada perubahan wajah dan ada peningkatan menonjol tiap latihan pada vital sign. Soedono. 2004). mental.serangan membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan dan memperoleh fungsi penyesuaian diri secara maksimal. Memberikan latihan ROM secara dini dapat meningkatkan kekuatan otot karena dapat menstimulasi motor unit sehingga semakin banyak motor unit yang terlibat maka akan terjadi peningkatan kekuatan otot (FKUI. 2005). Mobilisasi persendian dengan latihan ROM merupakan salah satu bentuk rehabilitasi awal pada penderita stroke. dekubitas sehingga mobilisasi dini penting dilakukan secara rutin dan kontinyu. Akibat buruk dapat saja terjadi cacat fisik. pneumonia aspirasi. 2000). Pelaksanaan mobilisasi persendian dengan latihan ROM aktif dan pasif . nyeri karena tekanan. 2002) Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lukas (2008) yang meneliti tentang efektivitas mobilisasi persendian dengan latihan ROM aktif dan pasif terhadap kekuatan otot lengan pada pasien paska stroke di ruang Wijaya Kusuma RSU Dr. Pelaksanaan dilakukan secara rutin dengan waktu latihan antara 45 menit yang terbagi dalam tiga sesi dan tiap sesi diberikan istirahat 5 menit namun apabila pasien terlihat lelah.

Kelompok intervensi memiliki rerata kekuatan otot lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Tujuan Untuk mengetahui pengaruh latihan lingkup gerak sendi (ROM) terhadap kemandirian pasien dengan perbaikan aktifitas kehidupan sehari-hari pada pasien pasca stroke non hemoragi.020). . Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan signifikan rerata selisih kekuatan otot lengan sebelum dan setelah terapi pada kelompok intervensi (p = 0. B. dimulai dengan pelaksanaan ROM pasif selama 6 hari sebanyak 2 kali pagi dan sore hari setelah pelaksanan ROM pasif dilanjutkan dengan pelaksanaan ROM aktif selama 6 hari sebayak 2 kali yaitu pagi dan sore hari.pada penelitian ini dimulai pada hari ke 2 dan dilaksanakan selama 2 minggu.

tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sediakala.5 % orang lanjut usia terkena serangan stroke dan 20. Peningkatan jumlah penderita stroke ini identik dengan perubahan gaya hidup yaitu pola makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia. Upaya perawatan pasien pasca Stroke Non Hemoragik menjadi masalah yang sangat komplek karena untuk pemulihan memerlukan waktu dan pengelolaan yang tepat. Dari angka kejadian tersebut stroke merupakan penyebab kecacatan no.3 setelah penyakit jantung koroner dan penyakit kanker. dan tidak jarang yang menjadi beban keluarganya. Dampak stroke merupakan potensi besar terhadap produktifitas karena Banyak penderita yang menjadi cacat. Aspekaspek perawatan untuk memandirikan pasien seperti ROM perlu di teliti lebih lanjut pengaruhnya terhadap peningkatan kemandirian pasien pasca Stroke.BAB II ISI JURNAL Dari latar belakang yang dikemukakan peneliti ada beberapa hal yang kami analisa antara lain : Permasalahan terkait stroke yang dibahas kejadiannya masih relevan sampai saat ini karena stroke merupakan kesehatan utama. tak terkecuali Indonesia. menjadi invalid.5 % pada usia lebih muda.1 dan penyebab kematian no. diperkirakan setiap tahun diperkirakan 500. Menurut SKRT 2005 penderita stroke di Indonesia mencapai Di Indonesia sebanyak 25. menjadi tergantung pada orang lain.9 % pada usia lebih muda sedangkan menurut SKTR tahun 2010 sebanyak 37. melihat kompleksitas permasalahan yang dapat diakibatkan karena stroke hendaknya dapat dikembangkan beberapa penelitian terkait dengan stroke antara lain : . khususnya di Negara berkembang termasuk Indonesia.000 penduduk Indonesia terkena serangan stroke dimana sekitar 25 meninggal dunia sisanya mengalami cacat ringan maupun cacat berat. stroke bukan saja menimbulkan permasalahan dari segi kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial sehingga membutuhkan penanganan yang komprehensif.8 % orang lanjut usia terkena serangan stroke dan 10.

toileting. Aspek psikologis pada pasien pasca stroke tidak dapat diabaikan begitu saja karena setelah serangan stroke pasien bisa mengalami perubahan kepribadian dan emosi karena pasien dengan stroke akan mengalami perubahan produktivitas dan berisiko kehilangan peran yang biasa dilakukan. dan semangat penderita untuk sembuh. emosi pasien menjadi labil. marah. namun salah satu faktor yang mendukung proses pemulihan ini tergantung dari ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan. berpindah tempat. Karena tanpa itu semua. dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan rehabilitasi sehingga perlu dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien pasca stroke dalam melakukan rehabilitasi. menjadi frustasi. depresi merupakan gangguan emosi yang paling sering ditemukan. dan makan dan berjalan. Pada stroke.a. sehingga pasien pasca stroke akan lebih sensitif. Gangguan depresi dapat menurunkan kualitas hidup penderita dan dapat memperlambat penyembuhan atau memperberat penyakit fisik serta dapat meningkatkan risiko kematian dan bunuh diri hingga dua kali lipat karena setelah serangan stroke karena penderita menjadi tergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti aktivitas dasar makan. kehilangan harga diri. berpakaian. mandi. Proses pemulihan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi apabila stroke nendapat penanganan atau perawatan dimulai sejak masuk rumah sakit sampai pulang. Berdasarkan hal tersebut diatas perlu kirannya dilakukan penelitian tentang hubungan antara tingkat Activity Daily Living (ADL) dengan tingkat depresi pada pasien stroke atau tentang hubungan dukungan social keluarga dengan tinggkat depresi pada pasien stroke . b. dan berakhir menjadi depresi. ketekunan.

Berman. 2. menjauhkan bahaya dan menyeimbangkan antara keuntungan dengan bahaya melalui analisa penampilan risiko dan keuntungan. seperti memperkirakan efek samping intervensi terhadap efek terapinya. Menurut Kozier. Prinsip berbuat baik (Beneficence) Beneficence berarti melakukan yang baik. Keyakinan peneliti hendaknya diasumsikan atas dasar evaluasi dari latihan ROM yang telah dilakukan sebelumnya.BAB III ANALISA PENJELASAN Metode penelitian observasional dengan pendekatan quasi eksperimen merupakan metode yang sangat riskan terhadap etika penelitian terutama terkait dengan prinsip-prinsip etika penelitian ilmiah antara lain : 1. Peneliti hendaknya berusaha melakukan penelitian yang memberikan manfaat bagi pasien. rasa takut. Prinsip nonmaleficence menekankan peneliti untuk tidak melakukan tindakan yang menimbulkan bahaya bagi responden. Ketepatan melakukan latihan gerak lingkup sendi (ROM) hendaknya harus dilakukan dalam penelitian ini sehingga peneliti meyakinkan diri bahwa responden mendapatkan latihan dan nantinya dapat melakukan latihan dengan dengan benar. mengimplementasikan tindakan yang menguntungkan pasien. rasa cemas. merugikan. & Snyder (2004) menjelaskan bahwa prinsip ini memaksa kita untuk memberikan keuntungan dengan cara mencegah. Perawat memiliki kewajiban untuk melakukan dengan baik. yaitu. Tindakan nonmaleficence meliputi upaya . Latihan gerak lingkup sendi (ROM) dalam penelitian ini bermanfaat untuk kemandirian pasien dengan perbaikan aktifitas kehidupan sehari-hari pada pasien pasca stroke non hemoragi. Beneficence merupakan kewajiban untuk melakukan hal yang baik bagi responden. Prinsip tidak merugikan (Nonmaleficence) NonMaleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak mengandung unsur yang membahayakan.

& Snyder. Prinsip keadilan . & Snyder. Berman. 3. tidak melakukan kebohongan ( Kozier. Prinsip keadilan (Justice) Justice atau keadilan adalah suatu kewajiban untuk bersikap adil dalam distribusi beban dan keuntungan ( Kozier.untuk mencegah dan membuang unsur bahaya. Saat melakukan penelitian. Latihan gerak lingkup sendi (ROM) dalam penelitian ini bermanfaat untuk kemandirian pasien dengan perbaikan aktifitas kehidupan sehari-hari pada pasien pasca stroke non hemoragi dalam pelaksanaaan hendaknya peneliti mencegah bahaya yang bisa disebabkan karena latihan yang dilakukan seperti pasien terjatuh atau memaksakan latihan yang tidak sesuai dengan kondisi pasien sehingga akan memperberat kondisi pasien. dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. komprensensif. Kenyataannya upaya untuk tidak membahayakan orang lain lebih berat dibandingkan upaya untuk memberi manfaat bagi orang lain. 2004 ). Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap pasien dan untuk meyakinkan bahwa pasien sangat mengerti. 2004 ). peneliti hendaknya memberikan informasi benar kepada responden. Berman. Pasien memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. 4. dan mengatakan yang sebenarnya kepada pasien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Prinsip Kebenaran/kejujuran (Veracity) Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. konsep serta metode yang dianjurkan para ahli. Veracity atau kejujuran merupakan upaya untuk menyampaikan kebenaran informasi yang diberikan. Dalam penelitian ini hendaknya peneliti mengajarkan latihan ROM kepada responden berdasarkan sumber dan literature yang sesuai dengan teori. Informasi harus ada agar menjadi akurat. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya. Sehingga peneliti menyampaikan informasi benar adanya.

Penggunaan multi uji untuk meminimalkan hasil yang bias dan hasil yang bisa digenarlisasi perlu dilakukan. Dalam penelitian ini untuk menghasilkan data yang homogen hendaknya pemilihan sampel disesuaikan dengan kondisi atau derajat keparahan serangan contohnya pasien stroke dengan kekuatan yang berbeda bila dijadikan sampel tentu kondisinya akan berbeda pula setelah dilakukan perlakuan yang sama. dan tipe sampel penelitian. Analisa data merupakan suatu proses atau analisa yang dilakukan secara sistematis terhadap data yang talah dikumpulkan dengan tujuan supaya trend dan relationship bisa dideteksi (Nursalam dan Pariani. Kontrol by statistik melalui penggunaan metode analisis yang tepat. Mengingat sampel pada penelitian terdiri dari kelompok perlakuan (data pre test dan post test) dan kelompok kontrol (data pre test dan post test) merupakan . yaitu tingkat kompleksitas permasalahan dan keragaman populasi penelitian sehingga kontrol by sampel melalui kriteria inklusi dan eklusi perlu diperketat. Pemenuhan kriteria sampel sangat dipengaruhi oleh pilihan teknik penentuan sampel yang prosedurnya merujuk pada sampling frame. Pada penelitian dengan rancangan quasy ekpserimen hendaknya ini hendaknya peneliti memperhatikan prinsip keadilan karena dalam rancangan ini ada kelompok sampel yang diberikan perlakuan berupa latihan ROM (kelompok eksperimen) dan tidak diberikan latihan ROM (kelompok control) untuk meminimalisasi kesan tak adil maka kelompok control harus diberikan perlakuan yang sama yaitu latihan ROM setelah selesai proses pengumpulan data atau setelah dilakukan post test. kompleksitas alat uji perlu dipertimbangkan . Penentuan sampel bisa menjadi masalah bila peneliti tidak tepat dalam memahami aspek-aspek penting yang terkait dengan penentuan sampel. validitas dan reliabilitasnya tinggi. 2001).menuntut peneliti untuk bersikap adil pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Disamping etika penelitian penentuan jumlah sampel yang cukup juga memegang peranan penting agar hasil dapat digeneralisasi karena sampel merupakan faktor penting dalam penelitian karena sangat diminimalkan untuk menghasilkan sampel yang tingkat akurasi. ukuran.

maka untuk memperoleh hasil yang signifikan dalam penelitian ini seharusnya mengunakan 2 tehnik analisa data yakni jika data berdistribusi normal dan varian data homogen menggunakan “Paired t test dan t test” dan jika data tidak berdistribusi normal dan varian data tidak homogen menggunakan “Wilcoxon Sign Rank Test dan Mann Whitney Test”.sampel kelompok berpasangan dan sampel kelompok tidak berpasangan. .

hal ini sesesuai dengan teori dari Bruno Petrina (2007) dalam buku yang berjudul “Motor Recovery instroke” teori ini diakses di http://emedicine medscape. Bruno Petrina mengatakan penderita stroke yang diberikan terapi latihan secara intensif dalam 6 bulan pertama akan menyebabkan perbaikan kemampuan motorik penderita stoke semakin baik apalagi bila dilakukan makin sering atau intensitas waktu latihan diberikan semakin banyak.BAB IV PENUTUP Hasil penelitian diatas menyimpulkan bahwa dengan ROM yang sangat aktif mempunyai peluang perbaikan ADL atau kemandirian lebih baik pada pasien stroke. hal menguatkan teori bahwa aktivasi jaringan saraf bersifat use-dependent. semakin sering digunakan. Dari penelitian diatas maka memberikan lingkup gerak sendi (ROM) sangat perlu diberikan terutama dalam 6 bulan pertama untuk memaksimalkan perbaikan kemampuan motorik sehingga dengan kemmapuan motorik yang meningkat akan menyebabkan pasien mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebuttuhan ADL secara mandiri. pemulihan sirkulasi local dan pemulihan neuron yang mengalami iskemia.com. resopsi toksin-toksin local. . Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa terapi latihan berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan fungsional penderita stroke khususnya jika dilakukan secara intensif dalam 6 bulan pertama. semakin kuat dan semakin meningkatkan jumlah sinaps yang terbentuk. Disamping itu pemulihan fungsi neurologis setelah stroke terjadi dalam 3-6 bulan pertama melalui mekanisme natural dengan cara resolusi edema local.