SPESIFIKASI TEKNIK

SYARAT – SYARAT UMUM
Pasal 1 PERATURAN-PERATURAN TEKNIS UNTUK PELAKSANAAN
1. Untuk pelaksanaan Pekerjaan ini digunakan ketentuan dan peraturan yang sesuai dengan bidang Pekerjaan seperti tercantum dibawah ini termasuk segala perubahannya hingga kini ialah : Peraturan-peraturan umum (Syarat Umum) disingkat S.U Peraturan Beton Indonesia disingkat PBI-NI-2/1971 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia disingkat PKKI-NI-5/1961 Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia 1983 disingkat PPBBI Pedoman Plumbing Indonesia, tahun 1979 Peraturan Dinas Pemadam Kebakaran Peraturan DEPNAKER tentang penggunaan Tenaga, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Persyaratan Umum dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia disingkat DPPI 1980 Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara oleh Dep.Pekerjaan Umum Peratuan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983 Peraturan Perencanaan tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1981 beserta pedomannya Standar Indonesia Indonesia (SII) Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia disingkat PUBI-1982 Peraturan Cat Indonesia-N4 Peraturan Sistem Istalasi Telepon / PABX dari Instalasi yang mengeluarkan. Pemborong harus mengikuti dan melaksanakan semua ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang dinyatakan dalam butir 1 pasal ini, termasuk segala perubahannya hingga kini. Jika ternyata pada rencana kerja dan syarat ini terdapat kelainan / penyimpangan dari peraturan-peraturan sebagaimana dinyatakan dalam butir 1 pada pasal ini maka rencana kerja dan syarat yang mengikat.

2.

3.

Pasal 2 PENGAWASAN
Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan Pekerjaan dilakukan oleh Direksi Lapangan. Setiap saat Direksi Lapangan harus dapat dengan mudah mengawasi, memeriksa dan menguji setiap bagian Pekerjaan, bahan dan peralatan. Pemborong harus mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan : 1. Pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari Pengawasan Direksi menjadi tanggung jawab Pemborong. Pekerjaan tersebut jika diperlukan harus segera dibongkar sebagian atau seluruhnya. 2. Jika pemborong perlu melaksanakan Pekerjaan diluar jam kerja, atau melampaui jangka

waktu yang ditetapkan dalam Kontrak yang memerlukan pengawasan Pekerjaan oleh Direksi maka segala biaya Direksi menjadi beban Pemborong

3. Wewenang dalam memberikan keputusan petugas Direksi adalah terbatas pada hal yang jelas tercantum didalam gambar dan RKS dan risalah penjelasan. Penyimpangan haruslah seijin Pemilik.

Pasal 3 ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN
Kontraktor harus menetapkan Organisasi Pelaksana Lapangan yang terdiri dari personalia yang memiliki kemampuan dan pengalaman bidang pelaksanaan konstruksi sesuai keahlian yang dibutuhkan. Personalia Organisasi Lapangan Kontaktor, minimal terdiri dari : a. Seorang penanggung jawab Proyek, dalam hal ini adalah Dirktur Perusahaan atau Kuasanya yang menandatangani Kontak dengan Pemilik ; b. Seorang Penanggung Jawab Lapangan (Site Manager), pengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai Site Manager. c. Tenaga Ahli Arsiterktur, Struktur, Mekanika/Elektrikal, Estimasi Biaya dan K3 (sesuai kebutuhan). d. Tenaga Pelaksana Lapangan. Penanggung jawab Lapangan, Tenaga Ahli Pelaksana lapanagan harus mendapat kuasa penuh dari pemborong untuk bertindak atas namanya, dan senantiasa harus ditempat Pekerjaan. Dengan adanya Penanggung jawab Lapangan, Tidak berarti Kontraktor lepas dari tanggung jawab sebagian atau keseluruhan terhadap kewajibannya. Kontraktor wajib memberitahu secara tertulis kepada Pemilik atau Direksi, tentang Susunan Organisasi Pelaksana Lapangan untuk mendapatkan persetujuan. Bila kemudian hari, menurut pendapat Tim Pengelola Teknis dan Pengawas, pelaksana kurang mampu atau tidak cakap memimpin Pekerjaan, maka akan diberitahukan kepada Kontraktor secara tertulis untuk mengganti pelaksana. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkan surat pemberitahuan, Kontraktor harus sudah menunjuk pelaksana baru atua Kontraktor sendiri (penanggungjawab/Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan. Tempat tinggal (domisili) Kontrak dan Pelaksanaan Untuk menjaga kemungkinan diperlukan kerja di luar jam kerja apabila terjadi hal-hal mendesak, Kontraktor dan pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis, alamat, dan nomor telepon di lokasi kepada Tim Pengelola Teknis dan Pengawas.

Pasal 4 RENCANA KERJA
Pemborong harus membuat rencana pelaksanaan Pekerjaan berupa Time schedule Kurva “S” selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah penunjukkan, disyahkan oleh pengawas dan diketahui oleh pemberi tugas. Pemboronng berkewajiban melaksanakan Pekerjaan menurut rencana ini, hanya dengan persetujuan Direksi harus menyimpang dari rencan semula, maka kerugian yang dideritanya adalah tanggungjawab Kontraktor.

Pasal 5 PEMBAGIAN HALAMAN
Sebelum pemborong memulai pelaksanaan Pekerjaan maka pemborong harus terlebih dahulu merundingkan dengan Direksi mengenai pembagian halaman Pekerjaan, tempat penimbunan barang-barang, tempat mendirikan los-los Direksi atau los kerja dan lain sebagainya agar Pekerjaan dapat berjalan lancar.

Material yang telah didatangkan oleh Kontraktor dilapangan Pekerjaan. . harus segera dihentikan dan selanjutnya dibongkar atas biaya konraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh Pengawas. Apabila pengawas merasa perlu untukmeneliti suatu bahan lebih lanjut. Semua material yang didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan 2. dan dilengkapi dengan peralatan sederhana. Pemborng harus membuat ruangan-ruangan untuk menyimpan barang-barang atau alatalat lainnya dan kamar untuk pelaksana 3. 6. 3. Cara-cara menimbun bahan-bahan bangunan di lapangan maupun di gudang harus memenuhi syarat teknis dan dapat dipertanggungjawabkan 4. 2. Penjagaan keamanan lapangan Pekerjaan 8. Semua material yang akan digunakan harus diperiksakan dulu kepada Pengawas untuk mendapat persetujuan. Kelancaran pelaksanaan Pekerjaan. 4. selambatlambatnya 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat ) jam terhitung dari jam penolakan. Pemborng harus membuat los Direksi secukupnya. Kesehatan/kesejahteraan/penginapan karyawan selama pelaksanaan Pekerjaan 4. rokok dan sebagainya ketempat Pekerjaan Keluar masuk dengan bebas Pasal 8 SYARAT-SYARAT DAN PEMERIKSAAN MATERIAL Sebagai prasyarat dalam pengadaan bahan. Pengawas berwenang menanyakan asal bahan dan Kontraktor wajib memberitahukan. Penerangan pada pelaksanaan Pekerjaan 7. minuman. 2. 5. menggunakan bahan-bahan sederhana. Keamanan/kerusakan dari equipment yang dipakai selama pelaksanaan Pekerjaan. buah. Penggunaan bahan baku/personil dan lain-lainnya.bahan bangunan baik bahan lokal maupun non lokal kantraktor harus memperhatikan hal-hal sebagai berikt : 1. Pekerjaan atau bagian Pekerjaan yang telah dilakukan oleh Kontraktor tetapi ternyata ditolak pengawas. 6. Ketelitian/kebenaran hasil pelaksanaan yang dilakukan oleh pelaksana harus sesuai dengan rencana dan syarat-syarat serta gambar-gambar pelaksanaan.Pasal 6 LOS DIREKSI. pengawas berhak mengirimkan bahan tersebut kepada Balai Penelitian Bahan-bahan (laboratorium) yang terdekat untuk diteliti. yang dapat dikunci dengan baik. serta wajib menjaga atau mencegah terjadinya pencemaran lingkungan yang dilakukan pemborong selama pembangunan gedung maupun masa pemeliharaan. Pemborong harus membuat papan proyek yang ukuran dan modelnya ditentukan oleh Direksi Pasal 7 TANGGUNG JAWAB PEMBORONG Pemborong bertanggungjawab atas: 1. Tidak diperkenankan: Pekerja menginap ditempat Pekerjaan kecuali dengan Izin Direksi Lapangan Memasang ditempat bekerja kecuali atas izin Direksi Lapangan Membawa masuk penjual makanan. Biaya pengiriman dan penelitian menjadi tanggungan Kontraktor. 3. 5. yang digunakan guna pelaksanaan Pekerjaan. LOS KERJA DAN GUDANG BAHAN 1. apapun hasil penelitian bahan tersebut.

Sebelum Pekerjaan dimulai prestasi 0% (nol persen) Saat penggalian pondasi dan pemasangan pondasi. Gambar-gambar detail merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan pada peraturan dan syarat-syarat teknis pelaksanaan. Jika terdapat perbedaan antara gambar-gambar dengan hal di atas. mingguan dan laporan bulanan dari pelaksanaan Pekerjaan dan penyerahan laporan tersebut kepada Direksi untuk dapat digunakan sebagai dasar pengamatan/pemeriksaan pelaksanaan Pekerjaan yang sedang berjalan. Pasal 10 DOKUMENTASI Pemborong harus membuat dokumentasi Pekerjaan berupa photo-photo berukuran post card pada bagian-bagian Pekerjaan yang penting sedapat mungkin diusahakan dengan photo berwarna. sebelum dilaksanakan harus mendapat ijin dari Direksi. 4.Pasal 9 LAPORAN-LAPORAN Pelaksana diharuskan membuat laporan harian. dimana 1 (satu) set untuk arsip proyek. secara berkesinambungan. 2. maka pemborong menanyakan secara tertulis kepada Perencana/Direksi. . Jika terdapat kekurangan penjelasan dalam gambar kerja atau diperlukan gambar tambahan/gambar detail maka pemborong harus membuat gambar tersebut dan dibuat 3 (tiga) rangkap atas biaya pemborong. 5. Kontraktor harus menyerahkan album photo sebanyak 3 (tiga) set kepada Pemberi Tugas. Saat Pekerjaan dalam prestasi 35%. plat beton. yang terdapat didalam gambar terbaru dengan skala terbesar. 75% dan 100%. tulangan beton dan pengecoran Saat pemasangan besi dan pengocoran sloof pondasi. kolom. 2 (dua) set untuk arsip pemberi tugas. Setelah Pekerjaan berakhir. Untuk setiap pengajuan termin Pemborong harus melampirkan photo kemajuan Pekerjaan sesuai Kontrak (diambil satu titik bidik) Pasal 11 RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT SERTA GAMBAR KERJA 1. Selama masa pemeliharaan atau pada waktu Pekerjaan diserah terimakan. 55%. 3. Peraturan dan syarat-syarat teknis pelaksanaan ini bersama dengan gambar kerjanya digunakan sebagai pedoman dasar ketentuan dalam melaksanakan Pekerjaan ini. dan permintaan pembayaran angsuran. ring balk dan leuifel. serta tidak diperkenankan mengukur gambar berdasarkan skala gambar. Ukuran yang berlaku adalah ukuran yang dinyatakan dengan angka. Pemborong diwajibkan mentaati keputusan Perencana/Direksi dalam hal yang menyangkut masalah tersebut di atas.

dalam hal jenis dan kualitas bahan/konstruksi bangunan adalah gambar struktur. Sebelum gambar-gambar pelaksanaan disetujui oleh pihak Direksi Lapangan. Pasal 13 PEKERJAAN DIWAKTU MALAM Pemborong harus meminta ijin kepada Pengawas/Direksi Pelaksana dalam hal untuk melaksanakan Pekerjaan atau bagian Pekerjaan dimalam hari. Ijin akan diberikan kalau penerangan cukup atau memakai penerangan PLN/Generator. maka dipakai sebagai pegagan dalam ukurn fungsional. Pasal 16 GAMBAR PELAKSANAAN 1. demikian halnya dengan gambar kerja sanitair. Akibat-akibat dari kelalaian. ialah gambar arsitektur dan dalam hal kualitas dan jenis bahan adalah gambar elektrikal. 2. dalam hal ukuran kualitas dan jenis bahan/konstruksi adalah gambar mekanikal. Tidak dibenarkan sama sekali bagi pemborong memperbaiki sendiri perbedaan-perbedaan tersebut diatas. Pasal 14 IJIN – IJIN Kontraktor harus memiliki ijin-ijin sesuai dengan dilaksanakannya Kontrak Pekerjaan yang dilaksanakan. Kontraktor harus membuat gambar-gambar pelaksanaan Pekerjaan dilapangan (Shop drawing). Gambar kerja arsitektur dengan gambar mekanikal. Kontraktor tidak diperbolehkan memuali Pekerjaan dilapangan. maka yang dipakai sebagai pegangan dalam ukuran fungsional adalah gambar arsitektur. bidangnya. Gambar-gambar tersebut harus dibuat berdasarkan gambar-gambar pelelangan dan penjelasan gambar yang diberikan. Gambarkerja arsitektur dengan gambar kerja elektrikal.Pasal 12 PENJELASAN PERBEDAAN GAMBAR Pemborong diwajibkan melaporkan setiap ada perbedaan ukuran diantara gambar-gambar : Gambar kerja arsitektur dengan gambar struktur. sehubungan dengan Pasal 15 GAMBAR PELELANGAN Gambar-gambar yang dimaksud sebagai gambar yang akan dilaksanakan dan termasuk didalam Kontrak. Kontraktor harus mengecek dan menyesuaikan dengan gambar-gambar yang lain. maka dipakai sebagai pegangan dalam ukuran fungsioanal adalah gambar arsitektur. baik sipil maupun arsitektur. Untuk dimensi atau detail yang lain. . Pemborong hal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemborong.

Gambar-gambar tersebut harus diserahkan kepada Direksi lapangan untuk dicek dan sesudah mendapat persetujuan barulah gambar-gambar tersebut diserahkan kepada pemberi tugas. untuk memberikan pelajaran/training kepada operatoroperator yang ditunjuk oleh pemberi tugas. selama jangka waktu pemeliharaan. Kontraktor harus mengadakan pengecekan berkala terhadap instansi yang berjalan dan membuat catatan-catatan yang perlu guna pemeliharaan dan dari sistim instalasi tersebut . guna untuk pemeliharaannya. dan tidak melepaskan tanggung jawab Kontraktor terhadap pelaksanaan Pekerjaan. sebelum diserahkan kepada pemberi tugas. Gambar-gambar pelaksanaan harus memenuhi syarat-syarat ditentukan oleh Direksi Lapangan dan yang disampaikan Kepada Pihak Direksi Lapangan harus sesuai dengan Kontrak. Kontraktor harus memberikan waktu yang cukup kepada Direksi Lapangan untuk meneliti gambar-gambar pelaksanaan. Banyaknya gambar yang harus diserahkan adalah sebagai berikut : a. Kontraktor diharuskan menyediakan tenaga yang cakap guna keperluan pemeliharaan terhadap instalasi yang telah selesai dipasang dan termasuk didalam Kontrak. 2. 1 (satu) set gambar-gambar yang bisa direproduksi (reproductible copy) Pasal 18 INSTRUKSI UNTUK SISTEM INSTALASI Sesudah Pekerjaan instalasi selesai dan berjalan dengan baik. 3 (tiga) set gambar-gambar cetakan b. 4. Kontraktor diwajibkan pula menyerahkan dokumen yang berisi cara operasi maupun cara pemeliharaan dari sistem instalasi. 5. Persetujuan terhadap gambar-gambar pelaksanaan bukan berarti pemberian garansi terhadp dimensi-dimensi yang telah dibuat oleh Kontraktor. 2. Semua Pekerjaan perbaikan tersebut harus menjadi tanggung jawab Kontraktor kalau disebabkan kwalitas Pekerjaan maupun kwalitas material yang kurang baik. Banyaknya dokumen yang diserahkan adalah 3 (tiga) set. 3. Dokumen ini harus disetujui dahulu pleh Direksi Lapangan. Gambar-gambar tersebut harus memberikan informasi yang lengkap mengenai instalasi yang telah terpasang. Sesudah Pekerjaan instalasi selesai. serta memperbaiki kerusakan tersebut dengan segera.3. Sesudah Pekerjaan instalasi selesai. Kontraktor harus membuat dan menyerahkan gambar-gambar yang sesuai dengan instalasi. dihitung dari masa penyerahan instalasi kepada pemberi tugas. Pasal 17 GAMBAR SESUAI DENGAN INSTALASI 1. Kontraktor harus bersedia datang sewaktu-waktu jika terjadi permasalahan atau kerusakan. Kontraktor diharuskan menyediakan tenaga yang cakap. 4. Pasal 19 PEMELIHARAAN DAN MASA PEMELIHARAAN 1. 3.

Kontraktor harus memberikan hasil-hasil testing kepada Direksi lapangan. maka Kontraktor-Kontraktor harus bekerja sama guna pelaksanaan dari pada sistim-sistim instalasi secara keseluruhan. Kontraktor harus mengadakan pengecekan dimana pihak Direksi Lapangan hadir dan pihak Direksi akan menentukan apakah testing yang dilakukan cukup baik atau harus diulang kembali Kontraktor harus menanggung segala perongkosan yang timbul. Pasal 23 PERLINDUNGAN TERHADAP BARANG-BARANG DAN INSTALASI 1. Jika sesuatu sistim instalasi yang termasuk dalam Kontrak yang lain diadakan pengetesan dan hal ini menyangkut pula Pekerjaan salah satu Kontraktor. ketempat diluar proyek atau tempat yang telah ditunjuk oleh Direksi Lapangan. Jika barang-barang dan peralatan tidak ditentukan oleh spesifikasi. Pada waktu-waktu tertentu dan pada waktu Pekerjaan telah selesai Kontraktor harus membuang sampah-sampah sebagai hasil Pekerjaan. Kontraktor harus mengecat sistim instalasi yang dikerjakan. Pasal 22 KERJASAMA DENGAN KONTRAKTOR LAIN Berhubung dengan adanya Pekerjaan instalasi yang dikerjakan oleh beberapa Kontraktor. Pasal 21 PEMBERSIHAN Kontraktor harus berusaha bahwa tempat bekerja selalu bersih dari sampah-sampah. . Pasal 24 BAHAN (MATERIAL) DAN MUTU PEKERJAAN 1. Kontrktor harus melindungi semua barang-barang dan instalasi yang ada terhadap kerusakan-kerusakan maupun terhadap pencurian yang mungkin timbul. dimana pengecatan tersebut diharuskan menurut peraturan dan standart yang berlaku atu ditentukan oleh spesifikasi. maka barang-barang dan peralatan yang normal yang harus dipergunakan. Hasil-hasil tes akan dipakai untuk menentukan apakah sistim instalasi yang telah dipasang berfungsi sebagaimana mestinya. Kontraktor utama harus bertanggung jawab atas mutu bahan / hasil pelaksanaan Pekerjaan secara keseluruhan. 2. 2. sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku atau yang ditentukan oleh spesifikasi. maka wakil-wakil dari Kontraktor yang bersangkutan harus hadir dan menyaksikan jalannya pengetesan tersebut dan kalau perlu memberikan saran-saran. Semua barang-barang dan peralatan yang digunakan harus baru dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.Pasal 20 P E ME R I K S A A N Kontraktor harus melaksanakan testing terhadap sistem yangtelah selesai dipasang baik secara sebagian maupun secara keseluruhan. Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap barang-barang maupun instalasi sampai diserah terimakan kepada pemberi tugas.

sah serta mengikat jika dilakukan secara tertulis. pemborong diwajibkan mempelajari dengan seksama Gambar Kerja dan Rencana Kerja dan Syarat Pelaksanaan serta Berita Acara Penjelasan Pekerjaan. Semua bahan-bahan tersebut diatas harus mendapatkan pengesahan / persetujuan dari Pemilik Proyek / Pengawas sebelum dimulai pelaksanaannya. Pemborong diwajibkan senatiasa mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lain dalam tiap Pekerjaan.3. ukuran dan lain-lain yang disesuaikan standart / peraturan yang dipergunakan didalam RKS ini. 2. 3. tanpa persetujuan Pengawas. 4. Pasal 27 PEIL DAN PENGUKURAN 1. Ketelitian dan kerapihan kerja akan sangat dinilai (bobotnya tinggi) oleh pengawas. Pengawasan terus menerus terhadap pelaksanan penyelesaian / perapihan harus dilakukan oleh tenaga-tenaga pemborong yang benar-benar ahli. dan segera melaporkan secara tertulis kepada Pengawas / setiap terdapat selisih / perbedaan-perbedaan ukuran. Pemborong bertanggung jawab penuh atas tepatnya pelaksanaan Pekerjaan menurut peil-peil dan ukuran-ukuran yang ditetapkan dalam Gambar Kerja dan Syarat ini. Tidak dibenarkan Pemborong membetulkan sendiri kekeliruan tersebut. Setiap Pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya maupun yang sedang dilaksanakan. pemborong diwajibkan berhubungan dengan Direksi Lapangan / Pengawas. tidak ditentukan lain. untuk mendapatkan penegesahan / Setiap usul perubahan dari pemborong ataupun persetujuan pengesahan dari pengawas dianggap berlaku. LANDASAN FONDASI DSB Pekerjaan-Pekerjaan dalam pasal ini untuk sistim instalasi dan yang merupakan bagian dari pada Pekerjaan sipil secara keseluruhan termasuk dalam lingkup Pekerjaan pemborong. Semua bahan yang akan dipergunakan untuk pelaksanaan Pekerjaan proyek ini harus benarbenar baru dan diteliti mengenai mutu. Pasal 26 PENJELASAN UMUM TENTANG TATA TERTIB PELAKSANAAN Sebelum dimulai pelaksanaan. Pasal 25 LUBANG-LUBANG. Pemborong wajib menyerahkan hasil Pekerjaannya hingga selesai dan lengkap yaitu membuat (menyuruh membuat) memasang serta memesan maupun penyedia bahanbahan bangunan. untuk ikut menyaksikan sejauh persetujuannya. terutama yang menyangkut Pekerjaan penyelesaian dan kerapihan. Guna menjaga mutu Pekerjaan. Kontraktor harus menyediakan lapangan yang cakap dan berada dilapangan setiap waktu dan bertanggung jawab terhadap mutu dari Pekerjaan tersebut. . Pemborong wajib memberitahukan kepada Pengawas setiap kali suatu bagian Pekerjaan akan dimulai untuk dicek terlebih dahulu ketetapan peil-peil dan ukuran-ukurannya. untuk diberikan keputusan pembetulannya. membayar upah kerja dan lain-lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan. alat-alat kerja dan pengangkutan.

3. 2. Kelalaian Pemborong dalam hal ini tidak akan ditolerir Direksi Lapangan dan berhak untuk membongkar Pekerjaan yang telah dilakukan tanpa pemeriksaan dari Direksi Lapangan. 5. maka ketetapan peil dan ukuran tersebut mutlak diperhatikan sungguhsungguh. Pemborong harus menjaga ketertiban dan kelancaran perjalanan alat-alat yang menggunakan jalanan umum agar tidak mengganggu lalu lintas. pemborong baru diijinkan membetulkan kesalahan gambar dan melaksanakannya setelah ada persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan. mesin bor. vibrator dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan Pekerjaan 2. 4. steger. adalah beban pemborong. Oleh karena itu sebelumnya kepadanya diwajibkan mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua gambar kerja yang ada. serta memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya dan membersihkan bekasbekasnya. Biaya untuk mengadakan air kerja tersebut adalah beban pemborong. Pemborong tidak diperbolehkan menyambung dan mengisap air dari saluran induk. didalam hal apapun menjadi tanggungjawab pemborong. pemborong diwajibkan untuk segera menyingkirkan alat-alat tersebut. Disamping harus menyediakan alat-alat yang diperlukan. 3. Pasal 28 PEMAKAIAN UKURAN 1. meteran. Pemborong harus menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan dan menyelesaikan Pekerjaan secara sempurna dan efisien misalnya :Truk . . Pemborong wajib memeriksa kebenaran dari ukuran-ukuran keseluruhan maupun bagianbagiannya dan memberitahukan Direksi Lapangan tentang setiap perbedaan yang ditemukannya didalam rencana kerja dan syarat dan gambar kerja maupun dalam pelaksanaan. lubang penyedot.4. harus diadakan oleh pemborong. seperti tenda-tenda untuk bekerja pada waktu hari hujan dan lain-lain. pemborong harus menyediakan alat-alat bantu sehingga dapat bekerja pada kondisi apapun. Pemborong tetap bertanggung jawab dalam menempati semua ketentuan yang tercantum dalam rencana kerja dan syarat dan gambar kerja berikut tambahan dan perubahannya. Bila Pekerjaan telah selesai. Pengambilan ukuran-ukuran yang keliru dalam pelaksanaan. upah dan tagihan serta pembersihannya kembali pada waktu Pekerjaan selesai. Pasal 30 PEMBANGKIT TENAGA DAN SUMBER AIR Setiap pembangkit tenaga sementara untuk penerangan Pekerjaan. Air untuk keperluan Pekerjaan harus diadakan dan bila memungkinkan didapat dari sumber air yang sudah ada dari lokasi Pekerjaan. Mengingat setiap kesalahan selalu akan mempengaruhi bagian-bagian Pekerjaan selanjutnya. mesin las. termasuk pemasangan sementara kabel-kabel. Pemborong harus memasang pipa-pipa untuk mengalirkan air dan membongkar kembali bila Pekerjaan sudah selesai. katrol. reservoir dan sebagainya tanpa terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari Pemilik proyek/Direksi lapangan. Pasal 29 ALAT-ALAT KERJA DAN ALAT-ALAT PEMBANTU 1.

3. lengkap dengan seorang petugas yang telah terlatih dalam soal-soal mengenai pertolongan pertama. telepon. saluran dan lain-lain yang ada dilingkungan Pekerjaan. Kebakaran-kebakaran yang timbul. Selama masa pelaksanaan Pekerjaan. dan sebagainya yang disebabkan oleh operasi pemborong. segala biaya menjadi beban pemborong. Pemborong diwajibkan untuk membersihkan kembali jalan masuk pada waktu penyelesaian dan perbaikan segala kerusakan yang diakibatkannya dan menjadi beban pemborong Pasal 33 PERLINDUNGAN TERHADAP BANGUNAN LAMA DAN MILIK UMUM 1. . jalan. pemborong diwajibkan menyediakan kotak P3K terisi menurut kebutuhan. utilitas.Pasal 31 IKLAN Pemborong tidak diizinkan memasang iklan dalam bentuk apapun dilapangan kerja dan ditanah yang berdekatan tanpa izin dari Pemilik proyek/Direksi lapangan. Pemakaian jalan masuk ketempat Pekerjaan menjadi tanggungjawab pihak pemborong dan disesuaikan dengan kebutuhan proyek tersebut. 2. Pemborong juga bertanggung jawab atas gangguan dan pemindahan yang terjadi atas perlengkapan umum seperti air. Segala biaya untuk pemasangan kembali serta perbaikan-perbaikannya adalah menjadi beban pemborong. 2. adalah tanggung jawab pemborong. Kecelakaan-kecelakaan yang timbul selama Pekerjaan berlangsung menjadi beban pemborong. 2. pemborong bertanggungjawab penuh atas segala kerusakan akibat operasi pelaksanaan Pekerjaan terhadap bangunan yang ada. Terhadap kecelakaan yang timbul akibat bencana alam. 4. Sehubungan dengan pasal ini. Pasal 34 KECELAKAAN DAN KESEHATAN 1. Pasal 32 JALAN MASUK DAN JALAN SEMENTARA 1.

maka pemborong harus mengikuti ketentuan umum lainnya yang dikeluarkan oleh instansi/jawatan pemerintah c. Terhadap semua kejadian sebagaimana disebut di atas pemborong harus melaporkan kepada Pemilik proyek/Direksi lapangan dalam waktu paling lambat 24 jam untuk diusut dan diselesaikan persoalannya lebih lanjut. Sehubungan dengan butir di atas pemborong diwajibkan menyediakan alat pemadam kebakaran jenis ABC (segala jenis api). sebagaimana diuraikan dalam pasal-pasal dimuka. pemborong diharuskan mengadakan pengamanan.5. pemagaran sementara dan sebagainya. setelah disetujui oleh Pemilik .q Undang-Undang Kesehatan kerja dan lain sebagainya termasuk semua perubahan-perubahan yang hingga kini tetap berlaku. Setiap usulan penggunaan nama pabrik dan pembuatan dari suatu bahan dan barang harus mendapat rekomendasi dari Direksi lapangan berdasarkan petunjuk dalam Rencana Kerja dan syarat serta gambar kerja dan risalah penjelasan untuk selanjutnya usulan tersebut diteruskan untuk mendapatkan persetujuan dari Pemilik proyek. untuk mendapat persetujuan Pemilik proyek. Kehilangan-kehilangan bagian alat-alat/bahan-bahan yang ada didaerahnya. 4. Contoh bahan dan barang yang akan digunakan dalam Pekerjaan harus segera disediakan atas biaya pemborong. 5. 6. untuk menunjukkan standar mutu/kualitas bahan maka: Setiap barang dan bahan yang akan dignakan harus disampaikan kepada Direksi lapangan. maka pemborong bertanggungjawab penuh atas segala sesuatu yang ada di daerahnya mengenai : 1. Pasal 36 PEMERIKSAAN DAN PENYEDIAAN BAHAN Bila dalam rencana kerja dan syarat-syarat disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan barang. 7. penerangan malam. Menggunakan sesuatu yang keliru/salah 3. Untuk mencegah kejadian-kejadian tersebut diatas. Pemborong diwajibkan memperhatikan kesehatan karyawan-karyawannya. galahgalah secukupnya serta pemeliharaannya. Pasal 35 PENGAMANAN LOKASI PEKERJAAN Setelah pemborong mengetahui batas-batas daerah kerja dan lain-lainnya. Sejauh tidak disebutkan dalam rencana kerja syarat ini. antara lain : penjagaan. Kerusakan-kerusakan yang timbul akibat kelalaian/kecerobohan yang sengaja atau tidak 2. pasir dalam bak kayu.

Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya (gambar asli) dan semua biaya pembuatannya ditanggung oleh pemborong. disimpan oleh Pemilik proyek/Direksi lapangan untuk dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai dengan contoh. Pasal 38 PEMBONGKARAN OLEH PEMBORONG 1. Sebelum memulai Pekerjaan lanjutan. 4. maka bahan dan barang tersebut seperti diatas yang akan dipakai dalam pelaksanaan Pekerjaan nanti. yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar kerja dan gambar perubahan rancangan 3. . Setiap kerusakan oleh pemborong tidak dibenarkan merusak bagian-bagian bangunan yang sudah selesai dilaksanakan oleh pemborong bidang lain (merusak bidang Pekerjaan lainnya) 2. Pasal 39 PEMERIKASAAN PEKERJAAN 1. Gambar kerja hanya dapat berubah dengan perintah tertulis dari Pemilik proyek berdasarkan pertimbangan dari Direksi lapangan 2. Kontraktor diwajibkan memintakan persetujuan kepada pengawas. Contoh bahan dan barang tersebut. Gambar perubahan yg disetujui oleh Pemilik Proyek/Direksi lapangan kemudian dilampirkan dalam Berita Acara Pekerjaan tambah kurang. Bila kerusakan bagian bangunan tidak bisa dihindari maka pemborong yang bersnagkutan diwajibkan memperbaiki bagian yang rusak tersebut seperti keadaan semula dinilai dan disetujui Pemilik proyek/Direksi lapangan secara tertulis. Dalam pengajuan harga penawaran. baik kualitas maupun sifatnya.proyek/Direksi lapangan. pemborong harus sudah memasukkan sejauh keperluan biaya untuk pengujian berbagai bahan dan barang tanpa mengingat jumlah tersebut pemborong tetap bertanggung jawab pula atas biaya pengujian bahan dan barang yang tidak memenuhi syarat atas perintah Pemimpin Proyek/Direksi lapangan. Perubahan rencana ini harus dibuat gambarnya yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pemilik proyek. Pasal 37 GAMBAR-GAMBAR YANG BERUBAH DARI RENCANA 1.

Syarat pekerjaan Mekanikal dan elektrikal Pasal 2 PERATURAN TEKNIS KHUSUS UNTUK PELAKSANAAN DISAMPING PERATURAN-PERATURAN TEKNIS Pekerjaan harus diselesaikan menurut dan sesuai : 1. Hal ini dikecualikan jika pengawas minta perpanjangan waktu. Bila Kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini pengawas berhak menyuruhmembongkar bagian Pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk diperbaiki. B. 5. Syarat pekerjaan Arsitek 2. syarat ini Gambar-gambar bestek. detail konstruksi dan instalasi. Kontraktor dapat meneruskan Pekerjaannya danbagian yang seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui pengawas.2. 4. Perubahan-peruabahan dan penambahan yang tercantum dalam Berita Acara Aanwijzing Gambar-gambar kerja yang dibuat oleh pemborong pada waktu Pekerjaan berlangsung dan telah mendapat persetujuan dari Direksi/pemimpin proyek Petunjuk-petunjuk dan keterangan yang diberikan Direksi pada waktu Pekerjaan berlangsung . 3. tidak dipenuhi oleh Konsultan Pengawas. Peraturan dan syarat-syarat yang tercantum dalam rencana kerja dan syarat- 2. 3. SYARAT-SYARAT KHUSUS Pasal 1 PENJELASAN PEKERJAAN Pekerjaan yang dimaksud dalam rencana kerja dan syarat-syarat ini terdiri dari : 1. (dihitung dari jam diterimanya sura permohonan pemeriksaan). Syarat pekerjaan Struktur 3. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam. Biaya pembongkaran dan pemasangan kembali menjadi tanggungjawab Kontraktor.

…………………………+……………………. Pemborong hendaknya meneliti kembali ukuran-ukuran tersebut. Pengukuran-pengukuran sudut siku.00 (titik duga) dipakai tinggi lantai pada denah bangunan yang akan dilaksanakan. water pass dan theodolite. Untuk Pekerjaan penambahan bangunan/ perluasan . .. Pengukuran siku secara prinsip segitiga phitagoras hanya dibolehkan pada bagian-bagian kecil dan tidak penting saja. prisma penyiku dll. Segala Pekerjaan pengukuran persiapan (uitezet) adalah tanggungan pemborong 4. Selanjutnya titik ditentukan secara permanen. pemborong melapor/membicarakan dengan Direksi/Asisten teknik dan pemimpin proyek. titik lantai dasar 0. Pasangan patok-patok untuk menentukan situasi harus dilakukan bersama dan atas persetujuan Direksi 3.cm 2. Ukuran-ukuran pokok dan ukuran-ukuran detail tertera pada gambar bestek dan detail.00 (titik duga) disesuaikan dengan/diukur dari : a.Pasal 3 DASAR UKURAN TINGGI DAN UKURAN-UKURAN POKOK 1. Pemborong wajib meneliti ukuran-ukuran di lapangan dan melaporkan segala sesuatunya kepada Direksi 2. …………………………+………………………cm 3. dan oleh pemborong diberi tanda jelas dengan neut beton yang kokoh dan baru boleh dibongkar setelah Pekerjaan selesai untuk penyerahan. ketinggian peil. Sebagai dasar peraturan tinggi lantai dasar 0. Pasal 4 PENGUKURAN DAN PAPAN BANGUNAN 1. Peil bangunan…………………. Muka tanah setempat tambah 50 cm c. Pemborong harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Ukuran yang tertera pada gambar konstruksi beton harus disesuaikan dengan ukuran jadi tanpa finishing Ukuran-ukuran pada konstruksi kayu (kosen pintu dan jendela dan pekerjaan kayu lainnya adalah ukuran jadi ) setelah diserut. Ketinggian sumbu jalan dimuka bangunan tambah 100 cm b.(yang sudah ada) b. panjang dan lebar harus menggunakan teropong. Jika ada perbedaan dan ketidak cocokan. Ukuran-ukuran tinggi ini diambil dari atas : a.

Pekerjaan penggalian pondasi tidak boleh dimulai sebelum papan bouwplank dipasang. sumbu-sumbu dinding dan sumbu-sumbu kolom ditetapkan dengan persetujuan Direksi/PTP dan Pemimpin Proyek Pasal 5 PEKERJAAN TANAH 1. Jika terdapat air menggenang dalam parit/galian pondasi harus dipompa keluar. . hasil kupasan dibuang ketempat yang akan ditunjuk oleh Direksi/PTP b. Tanah humus tidak diperkenankan untuk mengurug. Saluran air hujan dan bak kontrol c.00). Urugan tanah harus dilaksanakan pemadatan lapis demi lapis setebal maksimum 20 cm setiap lapisnya. Konstruksi Pondasi 2. b. sehingga pada waktu pemasangan pondasi parit/galian pondasi dalamkeadaan kering d. Tanah yang berasal dari tanah galian yang tidak dapat dipakai untuk maksud-maksud penambahan (penimbunan) harus dibuang/ditimbun ditempat yang akan ditentukan oleh Direksi. tinggi dasar (0. f. Pekerjaan pemasangan bouwplank adalah termasuk Pekerjaan pemborong dan harus dibuat dari kayu. Galian tanah dilaksanakan untuk : 1. Urugan tanah harus dilaksanakan segera setelah urugan kembali dari parit/galian pondasi kaki kolom selesai dikerjakan agar cukup waktu untuk dipadatkan. Galian tanah tidak boleh melebihi kedalam yang ditentukan dan bila hal ini terjadi pengukuran kembali harus dilakukan dengan pasangan atau beton tumbuk tanpa biaya tambahan dari pemberi tugas. Saluran daerah yang akan terletak dibawah lantai bangunan harus dikupas lapisan humusnya. Jika terdapat tempat yang gembur pada dasar parit/galian pondasi harus digali dan ditimbul kembali dengan pasir urug. disiram air dan dipadatkan e.5. 2. a. Galian harus mencapai kedalam seperti tercantum dalam gambar bestek dan cukup lebar untuk bekerja dengan leluasa. Galian tanah. Ketidakcocokan yang mungkin ada dilapangan antara gambar dan eksisting harus dilaporkan kepada Direksi a. tidak diperkenankan untuk memperguanakan bambu. Urugan Tanah Untuk bagian-bagian diluar bangunan dilakukan pengurugan tanah sampai mencapai tebal sesuai dengan ketentuan gambar.

Dilaksanakan untuk pekerjaan peninggian halaman yang harus menggunakan tanah urug dan dipadatkan dengan baik dan sempurna. Sebelum pekerjaan pasangan pondasi dilaksanakan maka diatas urugan pasir alas pondasi harus ditimbris dengan timbrisan batu koson yang di padatkan dengan pasir pasangan dan disiram dengan air. a. urugan pasir/ sirtu dilaksanakan untuk pekerjaan urugan dibawah lantai sesuai ukuran yang telah ditenukan dalam gambar. Batu dasar . Pondasi batu dasar dengan campuran 1 pc : 5 ps b. b. c. e. a. Dibawah saluran-saluran pembuangan setebal 10 cm agar pipa dapat diletakan dengan rata/stabil dan dibawah bak pemeriksaan/bak kontrol d. Pekerjaan pondasi secara keseluruhan harus mengikuti persyaratan dan ketentuan sbb : a. 2.Pasal 6 URUGAN PASIR DAN URUGAN TANAH.Urugan pasir dilaksanakan lapis-demi lapis setebal 10 cm dan tiap lapis harus ditumbuk serta diairi sampai padat sebelum lapis berikutnya dipasang 2. Tempat-tempat lain yang ditetapkan sebagai syarat teknis yang baik dan sempurna (sesuai gambar bestek). Atau batu belah yang menurut Direksi/ Pengawas telah sesuai dan memenuhi syarat. b. Pekerjaan pondasi harus berdasarkan pengukuran dan papan bouwplank yang diteliti. Perubahan pada konstruksi pondasi diperbolehkan setelah mendapat persetujuan dari Direksi. b. apabila terdapat penyesuaian pekerjaan dilokasi/tempat pekerjan. Pasal 7 PEKERJAAN PONDASI DAN TIMBRISAN. 1. 1. Mengurug kembali galian dibawah pondasi setebal 10 cm sebelum di timbris. sesuai dengan ukuran yang tercantum dalam dalam gambar. Pada setiap sisi luar dan dalam pondasi yang telah selesai atau sedang dilaksanakan Sebelum diurug dengan pasir maka pada setiap pori / sambungan batu harus diberapen terlebih dahulu dengan campuran yang sama yaitu 1 pc : 5 ps c. Urugan tanah. Pekerjaan Pondasi harus menggunakan bahan batu dasar yaitu batu gunung/ Batu Kali. Urugan tanah dilaksanakan sebelum diurug dengan pasir/ sirtu dan harus disiram dan dipadatkan dengan menggunakan alat tumbuk atau stamper. Mengurug sisa galian (sisi luar pondasi) setelah pasangan pondasi dilaksanakan. 3. Urugan pasir dilaksanakan untuk : a.

Pelaksanaan Pekerjaan berpedoman pada Peraturan Beton Indonesia (PBI) N. Pasal 8 PASANGAN DALAM ADUKAN KUAT Yang harus dibuat dengan adukan kuat dan Bak Kontrol Saluran. 10 mm dan begel menggunakan besi beton Diameter 8 mm jarak 15 – 20 Cm. Pada garis besarnya beton bertulang dibuat dengan adukan 1 Pc : 2 Psr : 3 krkl yang dilaksanakan untuk konstruksi : Kolom utama. Sebelum Pekerjaan dimulai pelaksana wajib meneliti dimensi/ukuran b. namun terhadap bekisting penahan sisi vertikal dapat dilepas 3 hari sesudah pengecoran atau menurut petunjuk Direksi. 12. f. Bahan bekisting harus cukup kuat terhadap cuaca.yang dipakai adalah batu pecah/batu belah jenis keras. Masa pengeringan beton minimal 28 hari. 2. 1 pc : 3 ps adalah : Saluran air hujan tidak boleh lebih dari ukuran yang tercantum dalam gambar kerja.yang ukurannya d. kolom praktis. Bagian-bagian yang dibuat dari beton bertulang ialah yang tertera pada gambar konstruksi serta bagian-bagian lain yang digambarkan pada gambar konstruksi bertulang seperti Sloef. Persyaratan pelaksanaan Pekerjaan beton bertulang : a. . batu keropos bulat tipis/kecil dan batu karang tidakboleh dipakai Pasal 9 PEKERJAAN BETON BERTULANG 1. Sebagai dasar pelaksanaan yang baik dan sempurna maka pada setiap jarak tertentu sesuai yang ditentukan oleh Direksi/ Pengawas diatas permukaan pondasi harus dibuat lubang dengan kedalaman minimal 30 cm. Sistem pemasangan dibuat mudah lepas dan tidakmempengaruhi konstruksi tersebut. balok ekspos menggunakan besi Diameter 14. e. Pengecoran dapat dilakukan setelah pemasangan pembesian diperiksa dan disetujui oleh Direksi/pemimpin proyek. 3. balok latei dan ring balk. g. tidak diperkenankan menggunakan pasir halus. Untuk konstruksi ini disyaratkan memakai pasir campuran (pasir halus dan kasar). plat lantai pondasi.1.24 c. dan dicor dengan cor beton bertulang sebagai pengikat hubungan antara pondasi dan slove beton atau sesuai gambar. dengan mutu beton K 110 s/d K 275dan mutu baja U. Diameter dan jumlah tulangan setiap komponen sesuai tabel dan sesuai gambar d. sloof/balok.2. plat kaki pondasi.

h. . beton harus selalu dibasahi dengan air minimal 2 kali sehari selang 7 hari kalender. Begitu selesai memasang batu siar-siar di kerug sedalam kurang lebih 1 cm dengan tujuan supaya plesteran akan menyatu dengan baik dengan bidang yang diplester. Tebal plesteran tembok bata diambail maksimum 1.Agregat kerikil padat/keras. tanpa rongga. Pasal 10 PEKERJAAN BETON TIDAK BERTULANG Dengan campuran 1 pc : 3 psr : 5 krl dilaksanakan untuk : . sesuai gambar - Bagian yang tercantum dalam gambar kerja Lain-lain Pekerjaan dimana dianggap perlu menurut syarat-syarat pelaksanan yang baik dan sempurna sesuai petunjuk Direksi dan dianggap perlu. berat. tidak berlumut/licin.5 cm. . Kualifikasi untuk bahan beton bertulang maupun tidak bertulang menggunakan : . i. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan apabila terlebih dahulu telah dilakukan pemasangan pipa-pipa saluran air dan listrik telah selesai. tidak diperkenankan memakai pasir laut. Dinding batu bata. plesteran Pondasi dan trasram. sebelum diplester permukaan harus dibasahi sampai jenuh.Semen yang mempunyai sertifikat dan produksi dalam negeri merk : tiga roda dan tonasa. . 4. 2. bosowa. Kerikil karang tidak boleh digunakan. Spesi 1 pc : 3 ps dilakukan untuk plesteran beton.Rabat beton. Dengan adukan 1pc: 3 ps dilakukan untuk semua plesteran dasar sudut-sudut. . Setelah pengecoran.Air yang bersih. tidak berkarang/bukan kerikil laut dan bebas dari segala kotoran. disamping itu spesi harus diaduk dengan baik hingga masak betul kemudian dilakukan plesteran. bebas dari kotoran organik dan lumpur. Untuk mendapatkan hasil plesteran yang baik ( lurus dan rata ) seluruh 6. pinggir-pinggir tembok dan trasram.Pasir kali/gunung yang padat keras yang bersih dari kotoran. 3. pembobokan plesteran permukaannya maka sebelum plesteran tersebut dimulai maka semua bidang dinding dan setiap pertemuan sudut dinding yang terdapat tonjolan batu bata atau cor-coran beton harus terlebih dahulu dibobok hingga rata betul. Semua permukaan pasangan batu bata dan batu kali yang terpendam didalam tanah harus diplester kasar (berapen) dengan adukan yang sama ( 1 Pc : 5 Psr). Pasal 11 PEKERJAAN PLESTERAN / PENGHALUS ACIAN BETON 1. 5.

Pekerjaan Rangka plafond dan gantungan plafond. Pekerjaan daun pintu dan rangka daun jendela.  Pekerjaan Daun Pintu dan rangka daun jendela menggunakan kayu jenis Cempaka.untuk instalasi tersebut tidak diperkenankan setelah Pekerjaan plesteran selesai maka dilanjutkan acian semen dinding kemudian diplamur. Pasal 12 PEKERJAAN KAYU Pekerjaan kayu dilaksanakan untuk masing-masing konstruksi antara lain sbb : 1. Semua Pekerjaan kayu yang tampak harus diserut rata dan licin hingga dapat dicat/diplitur. Hubungan-hubungan kayu yang baik yang tampak maupun yang tak tampak harus dikerjakan dengan rapi. 3. kayu Kuma. apabila ada ukuran yang tidak tertera pada gambar atau sukar diperoleh dipasaran pemborong diwajibkan membicarakan dengan Direksi/Pemimpin Proyek. d. kayu Bugis.  Pekerjaan Listplank kayu dan jalusi / ventilasi menggunakan kayu seperti tersebut pada point 2 diatas.  Pekerjaan kayu klas III dilaksanakan untuk cetakan beton /bekisting (mall)  Semua jenis kayu yang digunakan harus kering benar serta tidak mengandung cacat yang merugikan.  Pekejaan Konstruksi Kuda-kuda/rangka atap dan gantungan/rangka plafond menggunakan jenis kayu Popapi. c. kayu besi dan kayu lasi. Sebelum dipasang bagian-bagian yang dihubungkan harus dimenie terlebih dahulu.  Pekerjaan kosen pintu/ jendela menggunakan jenis kayu kls I: Gopasa. Pekerjaan hubungan kayu : a. .  Kayu-kayu yang didatangkan ditempat Pekerjaan harus ditimbun dengan cara yang tepat (diskunding) dalam los-los yang terlindung dengan baik. dan pekerjaan lainnya yang ada hubungannya denga penggunan kayu. Ukuran kayu yang tertera dlam gambar ialah ukuran jadi setelah digergaji dan diserut. Kayu Bitaula dan kayu rasamala ( Momala ). 2. b. Semua hubungan kayu dilaksanakan dengan syarat-syarat Pekerjaan yang baik (PUBB). Sebelum kayu-kayu mendapatkan persetujuan Direksi tidak diperbolehkan dicat dengan menie.

Dibuat dari pasangan batu dengan adukan 1 pc : 2 psr dan diplester campuran 1 pc : 2 psr. 2. a. Harus dibuat pada sambungan-sambungan cabang saluran dan belokan-belokan saluran sehingga ditempat saluran dapat diperiksa dan dibersihkan. Kemiringan saluran pembuangan dibawah tanah harus sekurang-kurangnya 1:125 dan sebanyak-banyaknya 1:25. 3. Saluran air hujan sekurang-kurangnya 1:100. cat kayu. Cat tembok kualitas Metrolite b. Cat kayu dan cat besi kualitas Glote c. a.Pasal 13 PEKERJAAN BESI DAN LOGAM LAINNYA 1. cat menie dipergunakan cat dengan kualitas baik. Kemiringan. Bak kontrol/periksa. Teknik pengecatan harus mengikuti ketentuan dari pabrik a. b. Air hujan : Air hujan langsung disalurkan kesaluran terbuka di sekeliling bangunan yang selanjutnya akan dibuang ke arah selokan pinggiran jalan raya. 2. Untuk cat tembok. Pasal 14 PEKERJAAN CAT DAN POLITUR 1. cat besi. Pekerjaan residu dilakukan sebelum dipasang/dinaikkan konstruksi kap (kuda-kuda) Pasal 15 SALURAN PEMBUANGAN 1. b. . baut begel dsb harus disediakan dan dipasang perkuatan-perkuatan dari besi pada tempat-tempat yang menurut sifat dan konstruksinya atau menurut pendapat Direksi dianggap perlu. Anker.

Kalau dianggap perlu pemborong diwajibkan membuat gambar-gambar revisi pada gambar-gambar bestek dan gambar detail yang telah dilaksanakan. apabila Pekerjaan ini jelas termasuk Pekerjaan pemborong dan tidak diterangkan sebaliknya. Gambar dibuat dalam rangkap 2 (dua) diserahkan kepada Direksi/Pemimpin proyek pada waktu penyerahan pertama.Pasal 18 PERATURAN PENUTUP Jika dalam rencana kerja dan syarat-syarat ini tidak disebut perkataan “yang dilever pemborong” atau “yang dipasang pemborong” maka harus dianggap bahwa perkataan itu sudah tercantum. Demikian penjelasan RKS ini. satu copy dari gambar tersebut diserahkan kepada perencana pada waktu yang sama. untuk Proyek Pembangunan Rehabilitasi Pasar Moodu . Jika dalam RKS ini belum tercakup beberapa jenis Pekerjaan atau persyaratan lainnya. maka hal tersebut akan diatur dalam adendum RKS ini dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful