You are on page 1of 3

Penjelasan Mapping Pada kasus 8, dari gambaran radiografik diketahui bahwa gigi 48 karies profunda perforasi.

Karies tidak ditumpat dan mengalami sekunder karies yang dapat menjadi port de entry terjadinya infeksi odontogenik. Bakteri masuk ke dalam ruang pulpa, berkolonisasi dan akan menyebabkan keradangan pulpa (pulpitis) yang merupakan kelanjutan dari proses karies. Tubuh memerikan respon terhadap keradangan melalui sistem imun. Ketika sistem imun tubuh baik, radang akan menuju proses penyembuhan. Namun sebaliknya, ketika imun tubuh tidak baik, proses radang berlanjut menjadi nekrosis pulpa. Dalam kasus ini, gangren pulpa juga ditandai dengan keluhan penderita bahwa gigi tersebut tidak terasa linu ketika minum dingin (non vital). Pada gangren pulpa, bakteri anaerob mengalami peningkatan jumlah, berkolonisasi dan menghasilkan toksis serta hasil metabolisme (gas gangren) di dalam pulpa. Gas gangren ini kemudian tidak menemukan jalan keluar, terjebak, dan melalui foramen apikalis menuju ke periapikal. Keluhan lain yang didapatkan adalah penderita sering merasa sakit ketika mengunyah. Hal ini menunjukkan infeksi periapikal telah terjadi yakni periodontitis apikalis akut. Periodontitis apikalis akut merupakan suatu keradangan akut jaringan periodontal di daerah apikal gigi dan dapat terjadi pada gigi vital maupun non vital. Gejala subyektif yang dirasakan biasanya ialah adanya rasa sakit yang teramat sangat, terutama ketika gigi digunakan untuk menggigit, gigi menjadi sensitif terhadap perkusi dan kadang–kadang gigi terasa memanjang. (Kruger, 1979; Grossman, 1998). Pada kasus ini, terjadi penyebaran infeksi perkontinuatum. Bakteri dan toksinnya menembus keluar tulang dari korteks melalui canal havers. Kemudian bakteri berjalan melalui periosteum dan dapat menyebabkan terjadinya periostitis yang bilamana sistem imun tidak dapat menanggulangi infeksi tersebut dapat berlanjut membentuk abses subperiosteal. Jika periosteum sudah tertembus oleh pus yang berasal dari dalam tulang maka proses infeksi akan menjalar menuju fascial

jika waktunya tidak memungkinkan umumnya antibiotik yang digunakan adalah penicillin. Fascial spaces adalah ruang antar jaringan ikat fibrous yang sebenarnya tidak ada pada keadaan normal. Kemudian hemostat dimasukkan . Pada kasus ini. 2002). Keadaan umum pasien biasanya lemah. 2007 . trismus. Namun. Penyebaran infeksi ke arah bukal. pembengkakan ekstraoral kemerahan dan tidak dapat digerakkan. cephalexin. dan antiinflamasi secara oral juga diperlukan pada penderita. Kultur bakteri yang berhasil dapat memberikan terapi antibiotik yang tepat. tidak ada fluktuasi. Setelah gejala pada penderita mulai reda. yakni infeksi mandibula yang berlokasi pada margo mandibula yang melibatkan batas ramus tulang. 2006). Sebaiknya sebelum diberikan antibiotik. maka insisi dilakukan 1 cm di bawah batas inferior pada mandibula secara parallel. atau palatal tergantung pada posisi gigi dalam lengkung gigi. Pada intraoral terlihat muccobucal fold normal. pterygoid medialis. dan asimetri wajah. Gejala ekstraoral infeksi pada perimandibular space menunjukkan asimetri wajah. ketebalan tulang. tepi rahang tidak teraba. dan jarak perjalanan pus (Fragiskos. 2004) Pus terakumulasi pada lateral mandibula. Topazian. dan terdapat demam (Anonim. malaise. Pemberian medikasi berupa antibiotik. lingual. penderita mengalami perimandibular space infection. terdapat nyeri tekan.spaces terdekat. lesu. (Siregar. yang meliputi pula batas mandibula bagian medial. analgesik. Kemudian terjadi abses perimandibular yang merupakan kumpulan pus/nanah yang terdapat antara submandibular space dengan buccal space. Terapi Perawatan yang dilakukan pada penderita abses perimandibular adalah pemberian terapi medical support untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya sebelum mendapat perawatan lanjut berupa insisi dan drainase pada daerah yang mengalami pembengkakan. Trismus terjadi karena terdapat infeksi pada otot penutup mulut yaitu m. jika waktunya memungkinkan dapat dilakukan tes sensitivitas untuk mengetahui jenis bakteri yang berperan pada infeksi yang dialami pasien. atau klindamisin.

2002 . Pedersen . Pada saat drainase selesai berikan rubber drain untuk melindungi daerah yang telah dilakukan drainase (Topazian. Fragiskos. (Topazian. Fragiskos. Di akhir perawatan juga diperlukan evaluasi pada pasien untuk mengetahui perkembangan kesehatan pasien dan melihat adanya efek dari terapi yang telah diberikan.ke dalam kavitas abses untuk mengeksplor area abses. 2007 . dapat dipertimbangkan untuk dilakukan ekstraksi gigi penyebab guna mencegah reinfeksi. 1996). 2002 . . Setelah itu lakukan diseksi tumpul pada permukaan medial kemudian drainase dapat dilakukan. 2007). Setelah gejala akut mereda.