Penyertaan (delneeming) dalam hukum pidana

30 Oct Assalamualaikum wr. wb… makalah mengenai penyertaan dalam hukum pidana, beserta analisis kasusnya. semoga bermanfaat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini banyak sekali terdapat kasus dimana pelakunya lebih dari satu orang, yang terjadi di masyarakat kita. Contohnya dalam kasus perampokan. Dalam beracara, hakim menjatuhkan pidana atas suatu perkara. Hakim mendasarkan putusannya selain pada undang – undang juga mempertimbangkan tuntutan dari jaksa penuntut umum. Dalam makalah ini kami menganalisis apakah putusan hakim tersebut sudah sesuai dengan apa yang tertera dalam undang – undang atau tidak. Penyertaan atau dalam bahasa Belanda Deelneming di dalam hukum Pidana Deelneming dipermasalahkan karena berdasarkan kenyataan sering suatu delik dilakukan bersama oeleh beberapa orang,jika hanya satu orang yang melakukan delik,pelakunya disebut Alleen dader. Prof.Satochid Kartanegara mengartikan Deelneming apabila dalam satu delik tersangkut beberapa orang atau lebih dari satu orang. Menurut doktrin, Deelneming menurut sifatnya terdiri atas: a.Deelneming yang berdiri sendiri,yakni pertanggung jawaban dari setiap peserta dihargaisendiri-sendiri b.Deelneming yang tidak berdiri sendiri,yakni pertanggungjawaban dari peserta yang satu digantunggkan dari perbuatan peserta yang lain. Maka dalam makalah ini kami akan membahas sebuah kasus Pidana yang termasuk Deelneming atau Penyertaan 1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian di atas maka pertanyaan penelitian yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah contoh kasus penyertaan?

1. 1. yaitu karya tulis ilmiah yang disusun untuk memberikan tangapan terhadap suatu putusan pengadilan atas suatu kasus hukum tertentu ( nasional . Kasus yang kami angkat telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht).2. Pasal apa sajakah yang akan dikenakan bila terjadi perampokan yang melibatkan lebih dari satu orang? 1.5 Metode Penulisan Metode penulisan yang dipergunakan dalam makalah ini adalah studi kasus. dengan kekerasan. 1. Lamintang dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Pasal 55 KUHP berbunyi [1]: (1) “Dihukum sebai pelaku-pelaku dari suatu tindak pidana yaitu: 1. internasional ) yang telah memiliki kekuatan hukum tetap atau putusan lembaga ajudikasi lain. Adanya korelasi diantara kasus perampokan tersebut dengan teori penyertaan yang kami pelajari menjadi dasar dari kerangka pemikiran kami dalam menulis makalah ini. ancaman atau dengan menimbulkan kesalahpahaman atau dengan memberikan kesempatan.6. kami juga mengambil teori – teori ilmu hukum pidana yang dikemukakan oleh Prof. Mereka yang dengan pemberian-pemberian.3. kami menghubungkan teori dan fakta – fakta yang terjadi. janji-janji.4. Mereka yang melakukan. menyuruh melakukan atau turut melakukan. sarana-sarana atau keterangan- . dengan menyalahgunakan kekuasaan atau keterpandangan. Teori Penulisan Teori yang kami gunakan dalam makalah ini adalah teori penyertaan yang terumus dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana pasal 55 dan 56. Kesimpulan Latar Belakang Kami akan menganalisis putusan hakim atas suatu perkara penyertaan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kerangka Pemikiran Dalam menganalisis kasus mengenai perampokan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang pelaku. dan apakah putusan tersebut sesuai atau tidak dengan undang – undang hukum pidana yang berlaku di Indonesia. 2.1 Pengertian deelneming atau keturutsertaan (penyertaan) Masalah mengenai penyertaan diatur dalam pasal 55 dan 56 KUHP. yaitu telah diputus oleh hakim di pengadilan negeri.

Perkataan dader itu berasal dari pokok perkataan daad. Seperti yang telah diketahui. dengan sengaja telah menggerakan orang lain untuk melakuakn tindak pidana yang bersangkutan. memang tidak sulit.[2] Dalam delik-delik formal yakni delik-delik yang dapat dianggap telah selesai dilakukan oleh pelakunya.” (2) Mengenai mereka yang disebutkan terakhir ini yang dapat dipertanggungjawabkan kepada mereka itu hanyalah tindakan-tindakan yang dengan sengaja telah mereka gerakkan untuk dilakukan oleh orang lain. yaitu : 1. untuk memastikan siapa yang harus dipandang sebagai seorang dader itu. yang di dalam bahasa Belanda juga mempunyai arti yang sama dengan perkataan het doen dan handelling. Sedangkan ketentuan pidana seperti yang telah diatur dallan Pasal 56 KUHP adalah sebagai berikut: “Dihukum sebagai pembantu-pembantu didalam suatu kejahatan. sedangkan pendapat lainnya lagi telah mendasarkan pandangannya pada apa yang disebut adaequate causaliteitsleer. bahwa pelaku itu telah membuat suatu tindak pidana. bahwa seoang pelaku itu telah melakukan suatu tindak pidana. Oleh karena itu. orang tidak membuat pebedaan antara apa yang disenut “voor waarden voor een gevolg” atau “syaratsyarat untuk dapat timbulnya suatu akibat” itu dengan apa yang disebut “oorzaak van een . Orang yang melakukan suatu daad itu disebut sebgai seorang dader. sarana-saran atau keteranganketerangan untuk melakukan kejahatan tersebut. 2. tidaklah lazim orang mengatakan. medeplegen (turut melakukan) dan perkataan lainnya. berikut akibat-akibatnya. yang dalam bahasa Indonesia juga mempunyai arti sebagai hal melakukan atau sebgai tindakan.[3] Terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai siapa yang harus dipandang sebagai seorang dader atau sebagai seorang pelaku di dalam suatu delik material. Dalam ilmu pengetahuan pidana. van ECK mengatakan bahwa orang dapat memastikan siapa yang harus dipandang sebagai seorang pelaku dengan membaca suatu rumusan delik.” Dalam pasal 55 dan 56 KUHP ini banyak dijumpai beberapa perkataan seperti dader (pelaku). yaitu setelah pelakunya itu melakukan suatu tindakan yang dilarang oleh undangundang ataupun segera setelah pelaku tersebut tidak melakukan sesuatu yang diwajibkan oleh undang-undang. akan tetapi lazim dikatakan orang adalah. oleh karena pendapat yang satu itu telah mendasarkan pandangannya pada apa yang disebut aequivalentieleer. atau bahwa seorang pembuat itu telah membuat suatu tindak pidana. didalam apa yang di sebut aequivalentieleer itu. Mereka yang dengan sengaja telah memberikan kesempatan. Mereka yang dengan sengaja telah memberikan bantuan dalam melakukan kejahatan tersebut. dan orang yang melakukan suatu tindakan itu dalam bahasa Indonesia lazim disebut sebagai seorang pelaku. doen plegen (menyuruh melakukan).keterangan. plegen (melakukan).

maka mereka yang menyuruh (doen plegen). semuanya merupakan bentuk-bentuk deelneming dan bukan merupakan daderschap. yang didalam adaequate causaliteitsleer dapat dipandang sebagai seorang dader/pelaku tindak pidana material. uitlokken/menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu dan medeplicktigheid. bahwa setiap syarat yang memungkinkan timbulnya suatu akibat itu dapat pula dipansang sebagai penyebab dari timbulnya suatu akibat. orang yang menyuruh membunuh dan orang yang telah meminjamkan pisau untuk membunuh itu haruslah juga dipandang sebagai pelaku pembunuhan yang terjadi. menurut para penganut dari yang disebut aequivalentieleer itu haruslah pula dipandang sebagai pelaku-pelaku delik material yang secara langsung telah dilakukan oleh orang yang telah disuruh.elakukan tindakan yang terlarang atau mengalpakan tindakan yang diwajibkan oleh undang-undang. katanya dapat dipinjam dari seorang yang lain. Dengan demikian.2 Bentuk-bentuk DEELNEMING Bentuk-bentuk deelneming atau keturutsertaan yang ada menurut ketentuan-ketentuan pidana dalam pasal-pasal 55 dan 56 KUHP itu adalah: . Sedang tindakan yang tidsak memenuhi syarat seperti itu. baik itu merupakan unsur subjektif maupun unsur subjektif. Apabila kini seseorang telah menyuruh orang lain membunuh seseorang lawannya dengan menggunakan sebilah pisau yang menurut orang yang telah menyuruh membunuh itu. dan kemusian ternyata bahwa orang yang telah disuruh membunuh itu melaksanakan pembunuhan terhadap lawan dari orang yang telah menyuruhnya melakukan pembunuhan. orang berpendapat bahwa yang dapat dipandang sebagai penyebab suatu akibat hanyalah tindakan-tindakan yang secara adekuatatau yang secara tepat/wajar/layak dapat dipandang sebgai tindakan yang dapat menimbulkan akibat. tanpa memandang apakah keputusan untuk melakukan tindak pidana tersebut timbul dari dirinya sendiri atau timbul karena digerakkan oleha pihak ketiga”. Profesor SIMONS telah merumuskan pengertian mengenai dader itu sebagai berikut: “Pelaku suatu tindak pidana itu adalah orang yang melakukan tindak pidana yang besangkutan. yang menggerakkan orang lain (uitlokken) ataupun yang memberikan bantuannya (medeplichtige) untuk melakukan suatu delik material itu.gevolg” atau “penyebab dari suatu akibat”. doen plegen/menyuruh melakukan. Sedangkan adaequate causaliteitsleer itu. POMPE: “Yang harus dipandang sebagai pelaku itu adalah semua orang yang disebutkan dalasm pasal 55 KUHP. Para penganut ajaran ini berpendapat. Maka menurut penganut aequivalentieleer. turut melakukan (medeplegen). Menurut Prof. Hal mana telah dikuatkan oleh memori penjelasan dimana telah dikatakana bahwa semua orang yang telah disebutkan dalam pasal 55 KUHP itu adalah pelaku”. Dan orang yang tindakannya dapat dipandang sebagai dapat menimbulkan suatu akibat seperti itu sajalah. atau dengan perkataan lain ia adalah orang yang memenuhi semua unsur suatu delik seperti yang telah ditentukan dalam undang-undang. 2. dalam arti orang yang dengan suatu kesengajaan atau suatu ketidaksengajaan seperti yang disyaratkan oleh undang-undang telah menimbulkan suatu akibat yang tidak dikehendaki oleh undang-undang atau telah m.

Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu memenuhi unsur oogmerk. Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindakpidana itu sama sekali tidak mempunyai unsur schuld. Medeplegen atau turut melakukan ataupun yang didalam doktrin juga sering disebut sebagai mededaderschap c. yang artinya seorang pelaku tidak langsung. ataupun apabila orang tersebut tidak memenuhi unsur opzet seperti yang tela disyaratkan oleh undang-undang bagi tindak pidana tersebut 4. Medeplichtigheid atau pembantu Ad. maka bentuk deelneming ini juga sering disebut sebagai suatu middelijke daderschap. baik dolus maupun culpa. orang yang disuruh melakukan itu haruslah memenuhi beberapa syarat tertentu yaitu: 1. b. Oleh karena dalam bentuk deelneming doen plegen ini selalu terdapat seorang middelijke dader. Doen plegen atau menyuruh melakukan atau yang didalam doktrin juga sering disebut sebagai middellijk daderschap. Untuk adanya suatu doen plegen seperti yang dimaksudkan di dalam pasal 55 ayat 1 angka 1 KUHP itu. dan terhadap paksaan mana orang tersebut tidak mampu memberikan suatu perlawanan . Menurut ketentuan pidana di dalam pasal 55 KUHP. malinkan dengan perantara orang lain.a Di dalam ilmu hukum pidana. Uitlokking atau menggerakkan orang lain dan d. seorang middelijke dader atau seorang pelaku tidak langsung itu dapat dijatuhi hukuman yang sama beratnya dengan hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelakunya sendiri. Ia disebut pelaku tidak langsung karena ia memang secara tidak langsung melakukan sendiri tindak pidana. Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu adalah seseorang yang ontoerekeningvatbaar seperti yang dimaksudkan didalam pasal 44 KUHP 2.a. Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu telah melakukannya dibawah pengaruh suatu overmacht atau dibawah pengaruh suatu keadaan yang memaksa. dan dalam hal ini yaitu hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelaku materialnya itu sendiri. Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana mempunyai suatu dwaling atau suatu kesalahpahaman mengenai salah satu unsur dari tindak pidana yang bersangkutan 3. orang yang menyuruh orang lain melakukan suatu tindak pidana itu biasanya disebut sebagai orang middellijk dader atau seorang mettelbare tater. padahal unsur tersebut telah disyaratkan didalam rumusan undang-undang mengenai tindak pidana tersebut diatas 5.

Untuk adanya suatu doen plegen itu adalah tidak perlu. yang oleh pembentuk undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang terlarang dan diancam dengan hukuman. oleh karena pencantuman dari peristiwa yang sebenarnya telah terjadi itu sendiri sebenarnya telah menunjukkan bentuk ketrutsertaan yang dilakukan oleh masing-masing peserta didalam suatu tindak pidana yang telah mereka lakukan. hakim tidak perlu menyebutkan secara tegas bentuk-bentuk keturutsertaan yang telah dilakukan oleh seorang tertuduh. perbuatan medepelegen didalam pasal 55 KUHP itu haruslah diartikan sebagai suatu opzettelijk medeplegen atau suatu kesengajaan untuk turut melakukan suatu tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain. padahal perintah jabatan tersebut diberikan oleh seorang atasan yang tidak berwenang memberikan perintah semacam itu 7. maka setiap peserra didalam tindak pidana itu dipandang sebagai seorang mededader dari peserta atau peserta lainnya. Misalnya tiga orang secara bersama-sama telah melakukan pelanggaran dengan bersepeda secara berjejer diatas jalan umum. Lamintang. Ini berarti bahwa menurut Prof. bahwa suruhan untuk melakukan suatu tindak pidana itu harus diberikan secara langsung untuk middelijke dader kepada orang materieele dader. Melainkan ia dapat juga diberikan dengan perantaraan orang lain. Ad. Apabila seseorang itu melakukan suatu tindak pidana. Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana dengan itikad baik telah melaksanakan suatu perintah jabatan.b Medeplegen disamping merupakan suatu bentuk deelneming. Menurut Prof. yaitu apabila tindakan tiap-tiap peserta didalam suatu tindak pidana dapat dianggap sebagai telah menghasilkan suatu dadrschap secara sempurna. Van Hattum. bahwa orang yang telah menyuruh melakukan itu harus secara tegas memberikan perintahnya kepada orang yang telah disuruhnya melakukan sesuatu Untuk adanya suatu doen plegen itu adalah juga tidak perlu. maka ia juga merupakan suatu bentuk daderschap. Maksud untuk bekerjasama dengan orang lain dalam melakukan suatu tindak pidana dan .[4] Menurut van Hamel. Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu tidak mempunyai suatu hoedanigheid atau suatu sifat tertentu. Ini berarti bahwa suatu kesengajaan untuk turut melakukan suatu culpoos delict itu dapat dihukum dan sebaliknya suatu ketidaksengajaan turut melakukan sesuatu opzetettelijk atau suatu culpos delict itu menjadi tidak dapat dihukum. Van Hattum opzet seorang medeplegen itu harus ditujukan kepada : a. maka biasanya ia disebut sebagai seorang dader atau seorang pelaku. suatu medeplegen itu hanya dapat dianggap sebagai ada. Apabila beberapa orang yang secara bersama-sama melakukan suatu tindak pidana. Menurut Prof. seperti yang telah disyaratkan oleh undang-undang.6. yakni sebagai suatu sifat yang harus dimiliki oleh pelakunya sendiri.

Pada medeplegen yang dapat dihukum adalah turut melakukan baik kejahatan maupun pelanggaran. Oleh karena menurut pasal 60 KUHP itu. atau telah secara langsung turut melakukan suatu perbuatan atau turut melakukan perbuatan untuk menyelesaikan tindak pidana yang bersangkutan. perbuatan membantu melakukan pelanggaran dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang tidak dapat dihukum. untuk adanya suatu medeplegen itu tidak diperlkan adanya suatu kesamaan opzet pada masing-masing peserta kejahatan. Dipenuhinya semua unsur dari tindak pidana tersebut yang diliputi oleh unsur opzet yang harus dipenuhi oleh pelakunya sendiri. suatu tindak pidana tidak akan terjadi bila inisiatif tidak ada pada penggerak. adalah bentuk penyertaan penggerakkan yang inisiatif berada pada penggerak. hanya saja dengan satu syarat. Dewasa ini sudah tidak lagi menjadi persoalan. Legemeijer. dapat saja turut melakukan apa yang disebut kwaliteits delicten. sehingga bentuk-bentuk daderschap tersebut harus disamakan dengan plegen. seperti halnya dengan suatu poging. yakni sesuai dengan yang disyaratkan dalam rumusan tindak pidana yang bersangkutan. bahwa orang yang disebutkan pertama itu secara langsung telah ikut mengambil bagian dalam pelaksanaan suatu tindak pidana yang telah diancam dengan suatu hukuman oleh undang-undang. yaitu dihubungkan dengan jenis delik yang dapat menjadi objek dari kedua bentuk deelneming tersebut. Perbedaan medeplegen dengan medeplichtigheid disebutkan dalam Memorie van toechlichting : “Yang membedakan seorang yang turut melakukan dari seorang yang membantu melakukan itu adalah. baik orang yang mempunyai opzet untuk membunuh koraban. sedang pada medeplichtigheid itu yang dapat dihukum hanyalah membantumelakukan kejahatan saja.b. sedang orang yang disebutkan terakhir itu hanyalah memberikan bantuan untuk melakukan perbuatan”. Menurut Prof. Kedua bentuk ini mempunyai akibat yang berbeda-beda. Ad. yaitu bahwa mereka itu mengetahui bahwa rekan pesertanya didalam melakukan suatu kwaliteitsdelict itu memiliki kualitas seperti itu. apakah orang yang tidak mempunyai suatu “persoonlijke hoedanigheid” atau suatu “sifat pribadi” itu dapat turut melakukan suatu Kwaliteitsdelict atau tidak. oleh karena menurut paham yang terbaru. diperlukan adanya suatu begin van uitvoering atau suatu permulaan pelaksanaan. Menurut Prof. c Uitlokking atau mereka yang menggerakkan untuk melakukan suatu tindakan dengan daya – upaya tertentu. Van Hattum. seseorang yang tidak mempunyai kualitas tertentu yang oleh undang-undang telah disyaratkan harus dimiliki oleh pelakunya itu. maupun orang yang turut melakukan dengan maksud semata-mata menganiaya koraban itu kedua-duanya harus dipersalahkan telah turut melakukan suatu penganiayaan berat yang menyebabkan matinya oranglain. Bagi suatu medeplegen. Dengan perkataan lain. walaupun undang-undang sendiri telah mensyaratkan hal tersebut secara tegas. Sebagai alasan telah dikemukakannya bahwa bentuk-bentuk daderschap yang disebutkan dalam pasal 55 KUHP itu harus ditafsirkan sedemikian rupa. Karenanya penggerak harus dianggap sebagai petindak dan harus dipidana .

bukan saja terbatas pada kekuasaan yang ada padanya karena jabatan. dirumuskan tanpa memberikan suatu pembatasan. a) Pemberian dan perjanjian. sarana atau keterangan. maka penggerak bukan merupakan petindak. Kesengajaan penggerak mempunyai pengaruh melalui pasal 163 bis hanya dalam hal tindakan yang digerakkan merupakan kejahatan. Daya-upaya untuk menggerakkan adalah tertentu sebagaimana dirumuskan dalam undangundang yaitu suatu pemberian. Bilamana tindakan yang digerakkan itu adalah pelanggaran.S tidak ada. Batas yang tegas antara kekerasan yang dimaksud di pasal 48 dan menurut pasal 55 agak sukar ditentukan. pekerjaan. Kesengajaan penggerak ditujukan agar suatu tindakan tertentu dilakukan oleh pelaku yang digerakkan. Tujuan penggerakan itu adalah terwujudnya suatu tindak pidana tertentu. maka pada penyalahgunaan kekuasaan tidak dipersyaratkan bahwa perintah itu termasuk tindakan yang benar-benar diharuskan dalam rangka kekuasaan yang disalahgunakan itu. tetapi juga meliputi kekuasaan yang dimiliki oleh penggerak secara langsung terhadap si tergerak. c) Penyalahgunaan martabat.sepadan dengan pelaku yang secara fisik menggerakkan.v. kepercayaan. b) Penyalahgunaan kekuasaan. Daya upaya untuk menggerakkan adalah tertentu sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang. Ini harus dibedakan dengan perintah jabatan yang termaksud pada pasal 52 KUHP. seperti hubungan kekeluargaan.[5] Syarat – syarat dalam bentuk penyertaan penggerak: 1. Menurut undang – undang secara harafiah tidak ada pengaruh dari kesengajaan yang ada pada penggerak. bahkan di luar bentuk uang atau benda seperti misalnya jabatan. suatu perjanjian. Tidak menjadi persoalan apakah pelaku yang digerakkan itu sudah atau belum mempunyai kesediaan tertentu sebelumnya untuk melakukan tindak pidana. atau dengan pemberian kesempatan. jika pada perintah jabatan perbuatan tersebut termasuk wewenang dari penguasa. pendidikan. d) Kekerasan. kedudukan atau lebih luas lagi yaitu suatu janji yang akan membantu si tergerak baik secara material maupun secara moril untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan lain sebagainya. ancaman atau penyesatan. merupakan suatu kekhususan di Indonesia yang ditambah dalam KUHP yang di dalam W. maka penggerak tidak dapat dipidana. karena undang – undang . penyalahgunaan kekuasaan. kekerasan. Ini berarti apabila yang dilakukan oleh pelaku yang digerakkan adalah tindak pidana lain. Pengertiannya menjadi luas yaitu dapat berbentuk uang atau benda. selama orang yang digerakkan tidak melakukan tindakan yang digerakkan atau selama tindakannya hanya sampai pada persiapan-pelaksanaan. 2. Harus ada hubungan kausal antara kesengajaan dengan tindak pidana yang terjadi. di sini harus sedemikian ringan sehingga tidak merupakan suatu alasan untuk meniadakan unsur kesalahan/kesengajaan dari si tergerak (pasal 48 daya paksa) yang mengakibatkan tidak dipidananya si tergerak. Contohnya adalah kepala suku yang dipatuhi karena disegani. dan sebagainya.

ada juga yang menyebutnya tipu-daya. · Dalam kasus tersebut di atas. f) Penyesatan. saran. atau keterangan untuk melakukan kejahatan”. yaitu dipidana (sama) sebagai petindak (dader). di mana A sengaja memberikannya dan diketahui bahwa kesempatan itu diperlukan oleh B untuk melakukan suatu pidana tertentu. karena dalam hal bentuk penyertaan penggerakan ia dipidana sebagai petindak. maka sehubungan dengan pasal 55 dan 56 tersebut perbedaannya terletak pada: · Jika pada A. si tergerak mampu mengelak atau menolak untuk melakukan tindak pidana yang digerakkan. dan lain sebagainya. pembangkitan dendam terpendam. sarana atau ketenangan. maka kita berbicara mengenai bentuk penyertaan penggerak (pasal 55). ancaman akan mengurangi hak/kewenangan tertentu. e) Ancaman. Dalam hal ini A adalah pembantu dan B petindak/pelaku. tetapi agar tidak disamakan dengan penipuan dan kejahatan tipu-daya maka lebih baik disebut penyesatan. Dalam pasal 56 ke-2 yang berbunyi ”mereka yang sengaja memberikan kesempatan. kemudian B melakukan suatu tindak pidana. Dalam hal ini A adalah penggerak dan B yang digerakkan. . dan telah melakukan suatu tindakan karena dayaupaya tersebut. Misal. adalah merupakan cara untuk menggerakkan seseorang yang ketentuannya baru ditambah tahun 1925 dalam KUHP. maka kita berbicara mengenai bentuk penyertaan pembantuan (pasal 56). tetapi meluas juga sampai pada ancaman penghinaan. tetapi dalam hal bentuk penyertaan pembantuan ia dipidana sebagai pembantu – petindak yang ancaman pidana maksimumnya dikurangi dengan sepertiganya. kebencian. ancaman akan memecat atau menyisihkan dari suatu pergaulan. yang sesungguhnya tidak benar.juga tidak menentukan. tetapi bagi A tidak demikian. ancaman pembukaan rahasia pribadi. Yang dimaksud penyesatan ialah agar supaya seseorang tergerak hatinya untuk cenderung melakukan suatu tindakan sebagaimana yang digerakkan oleh penggerak. Contoh: A memberi kesempatan (sarana/keterangan) kepada B. Tetapi jika pada B sejak semula sudah ada kehendak untuk melakukan suatu tindak pidana tertentu dan ia minta kesempatan dan sebagainya dari A. keinginan atau kehendak untuk melakukan suatu tindak pidana tertentu sudah ada sejak pertama kali. yang sedemikian ringan sehingga menurut perhitungan layak. Contohnya A bilang pada B bahwa C telah menjelekkan nama B. Perbatasan ini lebih diserahkan kepada penafsiran. sedangkan pada B baru ada setelah ia digerakkan dengan pemberian kesempatan (sarana/keterangan) dan lalu b melakukan tindak pidana. apakah B sebagai tergerak atau sebagai petindak (pelaku) ancaman pidananya adalah sama. karenanya B jadi marah dan memukul C. kadang agak sulit dibedakan dengan pasal 55. seorang wanita mendorong-dorong pacarnya untuk memukul bekas tunangannya yang pernah menyakiti hatinya. tidak terbatas pada ancaman kekerasan seperti di atas. g) Pemberian kesempatan. Unsur kesengajaan harus ada pada orang yang digerakkan. Akibat dari penyesatan adalah untuk menimbulkan ketegangan dalam hati orang lain yang dapat berupa iri hati. 3. amarah dan sebagainya sehingga ia cenderung untuk melakukan suatu tindakan tetapi dalam batas-batas bahwa ia sesungguhnya masih dapat mengendalikan diri sendiri. Adanya orang yang digerakkan.

Berbeda dengan pertanggungjawaban pembuat yang semuanya dipidana sama dengan pelaku. orang yang turut serta sengaja melakukan tindak pidana. pembantuan ada 2 (dua) jenis. Seandainya tindakan tergerak hanya sampai pada suatu tingkat percobaan yang dapat dihukum saja dari tindak pidana yang dikehendaki penggerak. sedang pada turut serta merupakan perbuatan pelaksanaan. · Pembantuan sebelum kejahatan dilakukan. 4. pembantu dipidana lebih ringan dari pada pembuatnya. Misalnya begini. yaitu dikurangi sepertiga dari ancaman maksimal pidana yang dilakukan (Pasal 57 ayat (1) KUHP). 2. kehendak melakukan kejahatan pada pembuat materiel ditimbulkan oleh si penganjur. sedangkan turut serta dipidana sama. pembantu hanya sengaja memberi bantuan tanpa diisyaratkan harus kerja sama dan tidak bertujuan atau berkepentingan sendiri. Jika kejahatan diancam .Dalam penyertaan pergerakan harus selalu ada orang yang digerakkan baik langsung maupun tidak langsung.d Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 56 KUHP. Pembantuan dalam rumusan ini mirip dengan penganjuran (uitlokking). sedangkan dalam penganjuran. sedangkan dalam turut serta. Dalam hal ini A tetap dipertanggungjawabkan sebagai penggerak dari B maupun C. 3. Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan ini mirip dengan turut serta (medeplegen). sedangkan turut serta dalam pelanggaran tetap dipidana. 4. yaitu : · Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan. dengan cara bekerja sama dan mempunyai tujuan sendiri. A menggerakkan B dan kemudian pada waktu dan tempat yang terpisah B bersama – sama C melakukan tindakan yang dikehendaki oleh A. Perbedaannya pada niat atau kehendak. Pada pembantuan. Artinya justru si tergerak itu tergerak hatinya untuk melakukan tindak pidana adalah karena daya – upaya dari penggerak. Cara bagaimana pembantuannya tidak disebutkan dalam KUHP. Hubungan kausal antara daya-upaya yang digunakan dan tindak pidana yang dilakukan harus ada. Pada pembantuan perbuatannya hanya bersifat membantu atau menunjang. pada pembantuan kehendak jahat pembuat materiel sudah ada sejak semula atau tidak ditimbulkan oleh pembantu. Hubungan antara penggerak dengan orang lain itu tidak harus selalu langsung. Maksimum pidana pembantu adalah maksimum pidana yang bersangkutan dikurangi 1/3 (sepertiga). pelaku yang digerakkan harus telah melakukan tindak pidana yang digerakkan atau percobaan untuk tindak pidana tersebut. maka penggerak sudah dapat dipidana menurut pasal 55 ayat (2). sarana atau keterangan. Ad. C dianggap telah turut tergerak melakukan tindakan tersebut karena daya upaya A. namun perbedaannya terletak pada : 1. yang dilakukan dengan cara memberi kesempatan. Pembantuan dalam pelanggaran tidak dipidana (Pasal 60 KUHP). Tindak pidana yang dikehendaki oleh penggerak harus benar – benar terjadi.

Dia tidak membayangkan nasib anak-anaknya. · Meniadakan surat-surat penting (Pasal 417 KUHP).” jelas Gusnefi. kalau Ihsan sudah melanggar pasal 365 ayat 2 KUHP. Pembantu dipidana lebih berat dari pada pembuat. JPU Gusnefi menyebutkan. yang langsung menangis mendengar tuntutan JPU.1. Terdakwa melakukan perampokan dan memiliki senjata tanpa izin. Eni Erawati (36). karena tidak terlibat langsung dalam perampokan yang terjadi 25 September lalu. Dalam tuntutannya. Perlu diketahui bahwa disamping bentuk keturutsertaan diatas itu. Wajahnya tetap tenang. Samenspanning atau permufakatan jahat sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 88 KUHP dan b. satu dari delapan pelaku perampokan ATM di Universitas Bung Hatta. Keduanya . Rahmad dan Eni tidak dihukum berat dikarenakan keduanya tidak ikut serta dalam perampokan. Ancaman hukuman 12 tahun. KUHP kita masih mengenal 2 bentuk keturutsertaan lainnya. Senin (21/2). Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. Ihsan tampak tidak terkejut saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Padang. setimpal dengan perbuatannya. Sedangkan Rahmad Syamsurizal (35) bersama istrinya. pembantu dipidana penjara maksimal 15 tahun. Contoh kasus Jaksa Penuntut Umum (JPU). dengan hukuman 12 tahun penjara. BAB III ANALISA 3. yaitu dalam hal melakukan tindak pidana : · Membantu menyembunyikan barang titipan hakim (Pasal 231 ayat (3) KUHP). Namun ada beberapa catatan pengecualian : 1. Meski dituntut 12 tahun. hanya dituntut tiga tahun. 2. dan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang RI nomor 12 tahun 1951 jo pasal 55 ayat 1 KUHP. jika dia dan suaminya masuk penjara. yaitu pada kasus tindak pidana : · Membantu merampas kemerdekaan (Pasal 333 ayat (4) KUHP) dengan cara memberi tempat untuk perampasan kemerdekaan. menuntut Ihsan (29). masing-masing: a. · Dokter yang membantu menggugurkan kandungan (Pasal 349 KUHP). · Membantu menggelapkan uang atau surat oleh pejabat (Pasal 415 KUHP).dengan pidana mati atau pidana seumur hidup. Berlainan dengan Eni. Sementara. Deelneming aan eene vereniging die tot oogmerk heft het plegen van misdrijven atau keturutsertaan dalam suatu kumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan-kejahatan sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 169 KUHP.

membawa. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. Jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Setelah membacakan tuntutan. Bagaimana nasib anak-anak. Rahmad dan Eni. mengangkut. Jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. diberikan waktu seminggu untuk menyusun pembelaannya secara tertulis. Maka. 4. 3. Jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu.hanya menikmati hasil perampokan.[6] Jaksa penuntut umum juga menuntut terdakwa Ihsan dengan aasal 1 ayat (1) UU RI No. Terdakwa Ihsan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api. meski tidak terlibat langsung dalam perampokan yang dilakukan terdakwa Ihsan. serta menyediakan tempat bagi perampok untuk berkumpul. perintah palsu. Rahmad dan Era. menguasai.1 juta. JPU menyebutkan. atau pakaian jabatan palsu. menerima.” Terdakwa Ihsan dikenai pasal tersebut di atas karena dia memiliki senjata api tanpa izin. dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun. Kedua terdakwa lain. amunisi atau sesuatu bahan peledak. Senin depan. Eni dan Rahmad menerima hasil rampokan senilai Rp10 juta. mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya. kalau saya dan uda dipenjara. 2. terdakwa Ihsan dikenakan pasal 365 ayat (2) yang berbunyi : “diancan dengan pidana penjara paling lana dua belas tahun : 1. Analisis Kasus Dalam kasus ini. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. Mereka mau mengadu sama siapa. sehingga memenuhi rumusan pasal tersebut. dia dikenai pasal 55 ayat (1) karena tindak pidananya ini termasuk dalam kasus penyertaan yang pelakunya lebih dari satu orang. di jalan umum. dilakukan dengan maksud untuk mempermudah dilaksanakannya pencurian. yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat. mencoba memperoleh.? jelas Era sembari menangis. mempergunakan. tapi mereka ikut membantu menyediakan tempat bagi terdakwa Ihsan serta menikmati hasil rampokan. menyembunyikan. yang dibelikan perhiasan emas dan uang tunai Rp1.2. menyimpan. terdakwa Rahmad dan Eni termasuk dalam istilah medeplegen (turut melakukan) dari pasal 55 ayat (1) KUHP dan memenuhi syarat . Sementara itu. Karena kekerasan yang dia lakukan. Sehingga dia dikenakan pasal 365 di atas. menyebabkan timbulnya rasa takut atau cemas pada korban. menyerahkan atau mencoba menyerahkan. 12 Tahun 1951 yang berbunyi : ”Barang siapa. Ihsan. ketiganya langsung digiring menuju sel tahanan. dan akan dibacakan pada sidang. 3.

hlm 350-359. Drs. Moeljatno. Kesimpulan Kasus yang melibatkan lebih dari satu orang pelaku disebut penyertaan. Pada kasus di atas. S. Anwar.H.[7] BAB IV PENUTUP 4. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia.31-35 .H. 615-633 [5] E. Jakarta. hlm.turut melakukan dan sengaja membujuk memperoleh hukuman yang sama. Bandung. hlm. Kitab Undang Undang Hukum Pidana Bumi Aksara Jakarta 2003 [2] Drs.bekerja sama. Bandung. [1] Prof. 1982.Lamintang. S.1.R. Orang yang turut melakukan (mededader) 4. sedangkan pembantuan diatur dalam pasal 56.57 dan 60 KUHP . hlm. H. 583-585 [3] Ibid. Moch.H. Turut serta memiliki hal yang berbeda dengan pembantuan. Orang yang menyuruh melakukan (doenpleger) 3.menyuruh melakukan. S. 590 [4] Ibid. dan biasanya terdapat dalam kasus perampokan. Penyertaan diatur dalam pasal 55 dan 56 KUHP. Orang yang sengaja membujuk (uitlokker) Untuk setiap orang yang melakukan. [6] Brig. dan si pelaku utama mencuri dengan menggunakan kekerasan. S. Perampokan adalah pencurian yang diketahui oleh orang lain dan mengancam orang tersebut dengan kekerasan.Y. Orang yang melakukan (dader) 2. Menurut pasal 55 KUHP terdapat 4 yang dapat dikategorikan sebagai pelaku dalam tindakan penyertaan yaitu: 1. hlm. A. 2002. Sianturi. Asas – Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. PT. Pol. Alumni. Storia Grafika. pelaku terdiri lebih dari satu orang.F. P. Kanter..H.Citra Aditya Bakti. Dalam perbuatan turut serta mengikat siapapun yang terlibat dalam tindak pidana tersebut. Jen. Bekerja sama ini terjadi sejak mereka merancang niat untuk bekerja sama untuk melakukan perampokan. 1997.. K.A. Hukum Pidana Bagian Khusus.. dan S.

Refika Aditama.23 . DR.[7] Prof. Wirjono Prodjodikoro Tindak Tindak Pidana Tertentu di Indonesia. 2003. Bandung. hlm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful