You are on page 1of 18

ABSES PERITONSIL

PENDAHULUAN Abses peritonsiler dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada anak-anak. Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau percobaan multipel penggunaan antibiotik oral untuk tonsilitis akut merupakan predisposisi pada orang untuk berkembangnya abses peritonsiler. Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, dipertimbangkan hampir 45.000 kasus setiap tahun1,2. Abses leher dalam terbentuk dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat dari penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher tergantung ruang mana yang terlibat. Gejala dan tanda klinik dapat berupa nyeri dan pembengkakan. Abses peritonsiler (Quinsy) merupakan salah satu dari Abses leher dalam dimana selain itu abses leher dalam dapat juga abses retrofaring, abses parafaring, abses submanidibula dan angina ludovici (Ludwig Angina) 3. Abses peritonsiler adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Gabungan dari bakteri aerobic dan anaerobic di daerah peritonsilar. Tempat yang bisa berpotensi terjadinya abses adalah adalah didaerah pillar tonsil anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior4. Abses peritonsil terbentuk oleh karena penyebaran organisme bakteri penginfeksi tenggorokan kesalah satu ruangan aereolar yang longgar disekitar faring menyebabkan pembentukan abses, dimana infeksi telah menembus kapsul tonsil tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring5. Peritonsillar abscess (PTA) merupakan kumpulan/timbunan (accumulation) pus (nanah) yang terlokalisir/terbatas (localized) pada jaringan peritonsillar yang terbentuk sebagai hasil dari suppurative tonsillitis.

Gambar 1. Anatomi Tonsil Palatina dan jaringan sekitarnya. ETIOLOGI Abses peritonsil terjadi sebagai akibat komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mucus Weber di kutub atas tonsil. Biasanya kuman penyebabnya sama dengan kuman penyebab tonsilitis. Biasanya unilateral dan lebih sering pada anak-anak yang lebih tua dan dewasa muda2. Abses peritonsiler disebabkan oleh organisme yang bersifat aerob maupun yang bersifat anaerob. Organisme aerob yang paling sering menyebabkan abses peritonsiler adalah Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik streptoccus), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae. Sedangkan organisme anaerob yang berperan adalah Fusobacterium. Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan Peptostreptococcus spp. Untuk kebanyakan abses peritonsiler diduga disebabkan karena kombinasi antara organisme aerobik dan anaerobik6. PATOLOGI Patofisiologi PTA belum diketahui sepenuhnya. Namun, teori yang paling banyak diterima adalah kemajuan (progression) episode tonsillitis eksudatif pertama menjadi peritonsillitis dan kemudian terjadi pembentukan abses yang sebenarnya (frank abscess formation).

Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh karena itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini, sehingga tampak palatum mole membengkak. Abses peritonsil juga dapat terbentuk di bagian inferior, namun jarang. Pada stadium permulaan, (stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak juga permukaan yang hiperemis. Bila proses berlanjut, daerah tersebut lebih lunak dan berwarna kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah, depan, dan bawah, uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra lateral. Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m.pterigoid interna, sehingga timbul trismus. Abses dapat pecah spontan, sehingga dapat terjadi aspirasi ke paru. Selain itu, PTA terbukti dapat timbul de novo tanpa ada riwayat tonsillitis kronis atau berulang (recurrent) sebelumnya. PTA dapat juga merupakan suatu gambaran (presentation) dari infeksi virus Epstein-Barr (yaitu: mononucleosis). GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSIS Selain gejala dan tanda tonsilitis akut, terdapat juga odinofagia (nyeri menelan) yang hebat, biasanya pada sisi yang sama juga dan nyeri telinga (otalgia), muntah (regurgitasi), mulut berbau (foetor ex ore), banyak ludah (hipersalivasi), suara sengau (rinolalia), dan kadang-kadang sukar membuka mulut (trismus), serta pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri tekan. Bila ada nyeri di leher (neck pain) dan atau terbatasnya gerakan leher (limitation in neck mobility), maka ini dikarenakan lymphadenopathy dan peradangan otot tengkuk (cervical muscle inflammation)1. Prosedur diagnosis dengan melakukan Aspirasi jarum (needle aspiration). Tempat aspiration dibius / dianestesi menggunakan lidocaine dengan epinephrine dan jarum besar (berukuran 1618) yang biasa menempel pada syringe berukuran 10cc. Aspirasi material yang bernanah (purulent) merupakan tanda khas, dan material dapat dikirim untuk dibiakkan.

Gambar 2. tonsillitis akut (sebelah kiri) dan abses peritonsil (sebelah kanan). Pada penderita PTA dapat dilakukan pemeriksaan7: 1. Hitung darah lengkap (complete blood count), pengukuran kadar elektrolit (electrolyte level measurement), dan kultur darah (blood cultures). 2. Tes Monospot (antibodi heterophile) perlu dilakukan pada pasien dengan tonsillitis dan bilateral cervical lymphadenopathy. Jika hasilnya positif, penderita memerlukan evaluasi/penilaian hepatosplenomegaly. Liver function tests perlu dilakukan pada penderita dengan hepatomegaly. 3. Throat culture atau throat swab and culture: diperlukan untuk identifikasi organisme yang infeksius. Hasilnya dapat digunakan untuk pemilihan antibiotik yang tepat dan efektif, untuk mencegah timbulnya resistensi antibiotik. 4. Plain radiographs: pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari nasopharynx dan oropharynx dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal. 5. Computerized tomography (CT scan): biasanya tampak kumpulan cairan hypodense di apex tonsil yang terinfeksi (the affected tonsil), dengan peripheral rim enhancement. 6. Ultrasound, contohnya: intraoral ultrasonography.

KOMPLIKASI Komplikasi yang mungkin terjadi ialah2: 1. Abses pecah spontan, mengakibatkan perdarahanm aspirasi paru, atau piema. 2. Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring. Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis. 3. Bila terjadi penjalaran ke daerah intracranial, dapat mengakibatkan thrombus sinus kavernosus, meningitis, dan abses otak. Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi jika diagnosis PTA diabaikan. Beratnya komplikasi tergantung dari kecepatan progressi penyakit. Untuk itulah diperlukan penanganan dan intervensi sejak dini. DIAGNOSIS BANDING Infiltrat peritonsil, tumor, abses retrofaring, abses parafaring, aneurisma arteri karotis interna, infeksi mastoid, mononucleosis, infeksi kelenjar liur, infeksi gigi, dan adenitis tonsil2,8,9. TERAPI Antibiotik pada gejala awal diberikan dalam dosis tinggi disertai obat simptomatik, kumur-kumur dengan cairan hangat dan kompres hangat pada leher (untuk mengendurkan tegangan otot). Dengan mengutamakan pemeriksaan kultur dan sensitifitas, pemberian terapi antibiotik ditujukan pada jenis bakteri mana yang lebih banyak muncul. Penisilin dan sefalosporin biasanya merupakan obat pilihan. Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan nanah. Tempat insisi ialah di daerah yang paling menonjol dan lunak, atau pada pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham atas terakhir. Intraoral incision dan drainase dilakukan dengan mengiris mukosa overlying abses, biasanya diletakkan di lipatan

supratonsillar. Drainase atau aspirate yang sukses menyebabkan perbaikan segera gejala-gejala pasien. Bila terdapat trismus, maka untuk mengatasi nyeri, diberikan analgesia lokal di ganglion sfenopalatum. Kemudian pasien dinjurkan untuk operasi tonsilektomi a chaud. Bila tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses disebut tonsilektomi a tiede, dan bila tonsilektomi 4-6 minggu sesudah drainase abses disebut tonsilektomi a froid. Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2-3 minggu sesudah drainase abses2. Tonsilektomi merupakan indikasi absolut pada orang yang menderita abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya. Abses peritonsil mempunyai kecenderungan besar untuk kambuh. Sampai saat ini belum ada kesepakatan kapan tonsilektomi dilakukan pada abses peritonsil. Sebagian penulis menganjurkan tonsilektomi 68 minggu kemudian mengingat kemungkinan terjadi perdarahan atau sepsis, sedangkan sebagian lagi menganjurkan tonsilektomi segera10.

Gambar 3. tonsilektomi Penggunaan steroids masih kontroversial. Penelitian terbaru yang dilakukan Ozbek mengungkapkan bahwa penambahan dosis tunggal intravenous dexamethasone pada antibiotik parenteral telah terbukti secara signifikan

mengurangi waktu opname di rumah sakit ( hours hospitalized), nyeri tenggorokan (throat pain), demam, dan trismus dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberi antibiotik parenteral. PROGNOSIS Abses peritonsoler hampir selalu berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi. DAFTAR PUSTAKA 1. Adams, G.L. 1997. Penyakit-Penyakit Nasofaring Dan Orofaring. Dalam: Boies, Buku Ajar Penyakit THT, hal.333. EGC, Jakarta. 2. Fachruddin, darnila. 2006. Abses Leher Dalam. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan, Telinga-Hidung-Tenggorokan, hal. 185. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 3. Soepardi,E.A, Iskandar, H.N, Abses Peritonsiler, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung dan Tenggorokan, Jakarta: FKUl, 2000; 185-89. 4. Mehta, Ninfa. MD. Peritonsillar Abscess. Available from. www.emedicine.com. Accessed at Juli 2007. 5. Adrianto, Petrus. 1986. Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan, 296, 30809. EGC, Jakarta. 6. Bailey, Byron J, MD. Tonsillitis, Tonsillectomy, and Adenoidectomy. In : Head and Neck Surgey-Otolaryngology 2nd Edition. Lippincott_Raven Publisher. Philadelphia. P :1224, 1233-34. 7. Anurogo, Dito. 2008. Tips Praktis Mengenali Abses Peritonsil. Accessed: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3&dn=20080125161248. 8. Hatmansjah. Tonsilektomi. Cermin Dunia Kedokteran Vol. 89, 1993. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal : 19-21.

STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN Nama Umur Alamat : Tn. F : 49 tahun : Alahan Panjang

Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Minangkabau ANAMNESIS Keluhan utama : Susah dan nyeri menelan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit Riwayat penyakit sekarang :

Susah menelan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, sehingga banyak air ludah yang terkumpul di rongga mulut. Nyeri menelan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, nyeri dirasakan menjalar sampai ke telinga. Sebelumnya pasien sudah merasa ada yang menghalangi saat menelan sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit, kemudian pasien berobat ke Puskesmas Alahan Panjang dan diberi beberapa obat (pasien tidak mengetahui jenis obatnya), tapi keluhan tidak hilang. Kemudian pasien berobat ke poliklinik THT RSUD Solok, pasien dianjurkan untuk dirawat tapi pasien menolak, dan pasien mendapat obat cefadroxyl.

Demam hilang timbul sejak 7 hari yang lalu, demam tinggi, tidak berkeringat, dan tidak menggigil. Bengkak di leher kiri sejak 4 hari yang lalu, nyeri bila disentuh. Riwayat sering batuk pilek (+) Sukar membuka mulut (+) Muntah (-)

BAK dan BAB biasa

Riwayat penyakit dahulu : Pasien pernah mengalami nyeri menelan seperti ini 5 tahun yang lalu, berobat ke Puskesmas Alahan Panjang Tidak ada riwayat hipertensi, penyakit jantung, dan DM :

Riwayat penyakit keluarga

Tidak ada keluara yang menderita penyakit seperti ini

Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan pekerjaan: Pasien adalah seorang petani Riwayat merokok (+) sejak 20 tahun yang lalu, satu bungkus perhari Riwayat suka makan makanan pedas dan panas (+)

PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi Nafas Suhu Tubuh BB TB Status Gizi : sedang : cmc : 130/80mmHg : 88x/menit : 20x/menit : 37,8 : 56 kg : 165 cm : Baik

PEMERIKSAAN SISTEMIK Kepala

Mata : Konjungtiva : Tidak anemis Sklera Toraks : Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Ekstremitas : Perut tidak tampak membuncit : Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-) : Timpani : BU (+) nomal : Reflex fisiologis (+/+), reflex patologis (-/-), udem tungkai (-/-) : Iktus tidak terlihat : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : Batas jantung dalam batas normal : Bunyi jantung murni, bising tidak ada : Simetris kiri dan kanan statis dan dinamis : Fremitus kiri sama dengan kanan : Sonor : Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-) : Tidak ikterik

STATUS LOKALIS THT Telinga Pemeriksaan Kelainan Kel. Kongenital Trauma Radang Kel. Metabolik Nyeri tarik Nyeri tekan Cukup lapang (N) Sempit Hiperemi Edema Massa Dekstra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Daun Telinga

Dinding Liang Telinga

10

Sekret / Serumen

Bau Warna Jumlah Jenis

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Membran timpani Utuh Warna Refleks cahaya Bulging Retraksi Atrofi Jumlah perforasi Jenis Kwadran Pinggir Tanda radang Fistel Sikatrik Nyeri tekan Nyeri ketok Rinne Schwabach Weber Kesimpulan Hidung Pemeriksaan Kelainan Deformitas Kelainan kongenital Trauma Radang Massa Dextra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Putih + Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada + Sama dengan Putih + Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada + Sama dengan

Perforasi

Mastoid

Tes Garpu tala

pemeriksa pemeriksa Tidak ada lateralisasi Telinga normal kiri kanan

Hidung luar

Sinus Paranasal Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketok Rinoskopi Anterior Vestibulum Vibrise Ada Ada Dextra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

11

Kavum nasi Sekret

Konka inferior

Konka media

Septum

Radang Cukup lapang (N) Lokasi Jenis Jumlah Bau Ukuran Warna Permukaan Edema Ukuran Warna Permukaan Edema Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Spina Krista Abses Perforasi Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Warna Konsistensi Mudah digoyang Pengaruh vasokonstriktor

Tidak ada Tidak ada N N Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eutrofi Eutrofi Merah muda Merah muda Licin Licin Tidak ada Tidak ada Eutrofi Eutrofi Merah muda Merah muda Licin Licin Tidak ada Tidak ada Cukup lurus Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Massa

Rinoskopi Posterior : Sulit dilakukan Orofaring dan Mulut Pemeriksaan Palatum mole + Arkus faring Dinding Faring Kelainan Simetris/tidak Warna Edema Bercak/eksudat Warna Permukaan Dekstra Sinistra Tidak simetris Hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Merah muda Granulasi (-) Granulasi(-)

12

Tonsil

Ukuran Warna Permukaan Muara kripti Detritus Eksudat Perlengketan dengan pilar Warna Edema Abses Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Konsistensi Karies/radiks Kesan Warna Bentuk Deviasi Massa

T2 Hiperemis Licin Melebar Tidak ada Tidak ada Hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

T4 Hiperemis Licin Tidak ada Tidak ada

Peritonsil Tumor

Gigi Lidah Trismus : (+) 3 cm.

Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Laringoskopi Indirek : Sulit dilakukan Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening: Inspeksi Palpasi : terlihat adanya pembesaran KGB submandibula sinistra : teraba adanya pembesaran KGB submandibula sinistra ukuran 1,5x1,5x1 cm Pemeriksaan Penunjang: Hb Leukosit Hematokrit Trombosit Ureum Creatinin : 13,5 g/dl : 7880 /mm3 : 40% : 255.000 /mm3 : 16,3 mg% : 0,90 mg%

13

GDR Diagnosis Kerja :

: 96 mg%

Abses Peritonsil Sinistra Terapi: IVFD RL 8 jam/kolf Injeksi Ampicillin 3x1 ampul iv Injeksi Gentamicin 2x1 ampul iv Injeksi Dexamethasone 3x1 ampul iv Paracetamol tablet 3x500 mg Rencana Insisi abses Diet MC

Follow Up: Tanggal 3 November 2012 A/ Susah menelan (+) Nyeri menelan (+) Air ludah banyak (+) Demam (-) PF/ KU : sedang TD : 130/80 mmHg Suhu : 37,50C Tonsil : T2 T4 Hiperemis, abses (-/+) Terapi : IVFD RL 8 jam/kolf Injeksi Ampicillin 3x1 ampul iv Injeksi Gentamicin 2x1 ampul iv Injeksi Dexamethasone 3x1 ampul iv Paracetamol tablet 3x500 mg Dilakukan insisi abses,dan dikeluarkan nanah sebanyak 4 cc

14

Betadine Kumur Diet ML Tanggal 4 November 2012 A/ Susah menelan (-) Nyeri menelan (+) Air ludah banyak (-) Demam (-) PF/ KU : sedang TD : 120/80 mmHg Suhu : 37,50C Tonsil : T2 T2, abses (-/-) Terapi : IVFD RL 8 jam/kolf Injeksi Ampicillin 3x1 ampul iv Injeksi Gentamicin 2x1 ampul iv Injeksi Dexamethasone 3x1 ampul iv Paracetamol tablet 3x500 mg Betadine Kumur Diet ML Tanggal 5 November 2012 A/ Susah menelan (-) Nyeri menelan (+) Demam (-) PF/ KU : sedang TD : 120/80 mmHg Suhu : 37,50C Tonsil : T2 T2, abses (-/-) Terapi : Azitromicin 1x1 tab Ocuson 3x1 tab

15

Paracetamol tablet 3x500 mg Betadine Kumur Pasien Boleh pulang, kontrol poliklinik, dianjurkan tonsilektomi 3 minggu lagi.

DISKUSI

16

Diagnosis abses peritonsil dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan susah menelan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, sehingga banyak air ludah yang terkumpul di rongga mulut, nyeri menelan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, nyeri dirasakan menjalar sampai ke telinga, demam hilang timbul sejak 7 hari yang lalu, demam tinggi, tidak berkeringat, dan tidak menggigil. Adanya riwayat sering batuk pilek, riwayat suka makan makanan pedas dan panas, dan riwayat merokok sejak 20 tahun yang lalu, mengarahkan kepada kecurigaan adanya tonsillitis kronis yang dapat menyebabkan terjadinya abses peritonsil apabila terjadi eksarsebasi akut dari tonsillitis kronis tersebut. Dari pemeriksaan fisik umum didapatkan adanya peningkatan suhu tubuh (37,80C), dan dari pemeriksaan lokasis THT didapatkan : Pemeriksaan Palatum mole + Arkus faring Dinding Faring Tonsil Kelainan Simetris/tidak Warna Edema Bercak/eksudat Warna Permukaan Ukuran Warna Permukaan Muara kripti Detritus Eksudat Perlengketan dengan pilar Warna Edema Abses Dekstra Sinistra Tidak simetris Hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Merah muda Granulasi (-) Granulasi (-) T2 T4 Hiperemis Hiperemis Licin Licin Melebar Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hiperemis Tidak ada Tidak ada Ada Ada

Peritonsil

Anamnesis dan pemeriksaan fisik di atas diatas mengarahkan kita kepada diagnosis kerja abses peritonsil sinistra. Dari pemeriksaan laboratorium darah pada pasien ini didapatkan leukosist berada dalam batas normal, hal ini mungkin disebabkan karena pasien sudah mendapatkan antibiotik sebelumnya.

17

Pada pasien ini diberikan terapi berupa kombinasi antibiotik (ampicillin dan gentamicin), dexamethason sebagai antiinflamasi, dan paracetamol sebagai antipiretik dan analgetik. Kemudian dilakukan pungsi pada daerah abses yang dilanjutkan dengan insisi untuk mengeluarkan pus. Pasien ini diberikan diet makan cair sebelum pus dikeluarkan karena adanya kesulitan menelan makanan, setelan pus dikeluarkan diet diganti dengan makanan lunak. Tonsilektomi dianjurkan setelah infeksi tenang, yaitu 2-3 minggu setelah drainase abses.

18