LAPORAN PENDAHULUAN MENINGOESENFALITIS

A. MENINGITIS 1. Definisi Meningitis merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arahnoid dan piamatter di otak serta spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri dan virus meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan protozoa juga terjadi. (Donna D.,1999). Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

2. Etiologi a) Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis) Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi saluran pernafasan. Jenis organisme yang sering menyebabkan meningitis bacterial adalah streptokokus pneumonia dan neisseria meningitis. Meningococal meningitis adalah tipe dari meningitis bacterial yang sering terjadi pada daerah penduduk yang padat, spt: asrama, penjara. Klien yang mempunyai kondisi spt: otitis media, pneumonia, sinusitis akut atau sickle sell anemia yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadi meningitis. Fraktur tulang tengkorak atau pembedahan spinal dapat juga menyebabkan meningitis . Selain itu juga dapat terjadi pada orang dengan gangguan sistem imun, spt: AIDS dan defisiensi imunologi baik yang congenital ataupun yang didapat. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis
1

menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark. b) Meningitis Virus (Meningitis aseptic) Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler. Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologik. c) Meningitis Jamur Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental. Faktor resiko terjadinya meningitis : 1. Infeksi sistemik Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia, TBC, perikarditis, dll. Pada meningitis bacterial, infeksi yang disebabkan olh bakteri terdiri atas faktor pencetus sebagai berikut diantaranya adalah :  Otitis media  Pneumonia  Sinusitis  Sickle cell anemia  Fraktur cranial, trauma otak  Operasi spinal  Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system kekebalan tubuh seperti AIDS.
2

2. Trauma kepala Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis cranii yang memungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui othorrhea dan rhinorhea 3. Kelainan anatomis Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran telinga tengah, operasi cranium. a) Terjadinya peningkatan TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai berikut :  Agen penyebab → reaksi local pada meninges → inflamasi meninges → pe ↑ permiabilitas kapiler → kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial → pe ↑ volume cairan interstisial → edema → Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat → pe ↑ TIK  Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor. b) Hidrosefalus pada meningitis terjadi karena mekanisme sebagai berikut :Inflamasi local → scar tissue di daerah arahnoid ( vili ) → gangguan absorbsi CSF → akumulasi CSF di dalam otak → hodrosefalus c) Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan mengalami Meningo-ensefalitis. 3. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala meningitis secara umum: 1. Aktivitas / istirahat ;Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia 2. Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD ↑, nadi ↓, tekanan nadi berat, takikardi dan disritmia pada fase akut 3. Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin 4. Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering 5. Higiene ; Tidak mampu merawat diri 6. Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, “Hiperalgesia”meningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, , hemiparese, hemiplegia, tanda”Brudzinski”positif,
3

rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki 7. Nyeri / kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh 8. Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas ↑, letargi dan gelisah 9. Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi. 10. Penyuluhan / pembelajaran ; Riwayat hipersensitif terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus Tanda dan gejala meningitis secara khusus: 1. Anak dan Remaja  Demam  Mengigil  Sakit kepala  Muntah  Perubahan pada sensorium  Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)  Peka rangsang  Agitasi  Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien (adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI)),Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma. 2. Bayi dan Anak Kecil Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun.  Demam  Muntah  Peka rangsang yang nyata  Sering kejang (sering kali disertai denagan menangis nada tinggi)  Fontanel menonjol.

4

3. Neonatus:  Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi tidak jelas dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku buruk dalam beberapa hari, seperti - Menolak untuk makan. - Kemampuan menghisap menurun. - Muntah atau diare. - Tonus buruk. - Kurang gerakan. - Menangis buruk. - Leher biasanya lemas. - Tanda-tanda non-spesifik: - Hipothermia atau demam. - Peka rangsang. - Mengantuk. - Kejang. - Ketidakteraturan pernafasan atau apnea. Sianosis.  Penurunan berat badan. 4. Pathofisiologi Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu: duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang
5

kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal. edema serebral dan peningkatan TIK. Selain dari adanya invasi bakteri. virus. yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah. dan abses otak yang pecah. penyebab lainnya adalah adanya rinorrhea. 6 . prosedur bedah saraf baru. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial. daerah pertahanan otak (barier oak). Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. otitis media. cairan otak dan ventrikel. jamur maupun protozoa. Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia. mastoiditis. otorrhea pada fraktur bais cranii yang memungkinkan kontaknya CSF dengan lingkungan luar. yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior. anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain. point d’entry masuknya kuman juga bisa melalui trauma tajam. trauma kepala dan pengaruh imunologis. prosedur operasi. arachnoid.patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater. telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen.

PATHWAY Penyakit Campak Cacar Air Herpes Bronchopneumonia Virus/Bakteri masuk Jaringan Otak Peradangan Di Otak Edema Pembentukan Transudat & Eksudat Gangguan Perfusi Jaringan Cerebral Saraf IX Reaksi Kuman Patogen Iritasi Korteks Kerusakan Saraf IV Kerusakan Cerebral Area Fokal Seizure Suhu Tubuh Resiko Trauma Sulit Nyeri Mengunyah Makan Deficit Cairan Kesadaran Hipovolemik Gangguan Nutrisi Sulit Pemenuhan Stasis Cairan Tubuh Gangguan Mobilitas Fisik Gangguan Persepsi Sensori Penumpukan Sekret Gangguan Bersihan Jalan Nafas 7 .

hemoragik atau tumor Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine: dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.5. leukositosis. protein. disebabkan oleh adanya iritasi meningeal khususnya pada nervus cranial ke XI. glukosa menurun. 2. Lumbal punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra kranial. yaitu Asesoris yang mempersarafi otot bagian belakang leher. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Meningitis virus : tekanan bervariasi. dan konsentrasi glukosa Lumbal Pungsi.cairan cerebrospinal. glukosa dan protein normal. hematom daerah serebral. dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan TIK. Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal. kultur posistif terhadap beberapa jenis bakteri. Meningitis bacterial: tekanan meningkat. melihat ukuran/letak ventrikel. cairan keruh/berkabut. Glukosa serum: meningkat (meningitis) LDH serum: meningkat (meningitis bakteri) Sel darah putih: sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri) Elektrolit darah: Abnormal ESR/LED: meningkat pada meningitis MRI/CTscan: dapat membantu dalam melokalisasi lesi. Sedangan pada pemeriksaan Kernigs sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau iritasi sudah mencapai ke medulla spinalis bagian bawah. leukosit dan protein meningkat. Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas nilai normal. Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel. Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan fleksi pada kepala klien yang akan menimbulkan nyeri. sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas. Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan protein. Ronsen dada/kepala/ sinus: mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial Arteriografi karotis : Letak abses 8 . 1. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. CSF jernih. kultur biasanya negative.

atau rectal 0. endocarditis. 2 kali sehari maksimal 500 gram selama 1 ½ tahun. DIC dapat terjadi sebagai komplikasi dari meningitis. 3 kali sehari.6/mg/kg/dosiskemudian klien dilanjutkan dengan. umur > 2 bulan : Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.6. Komplikasi dapat pula terjadi karena infeksi pada saluran nafas bagian atas. myocarditis. perdarahan adrenal). parese nervus cranial. 1 – 2 kali sehari. arthritis. . 7. .Rifamfisin 10 – 15 mg/kg/ 24 jam oral. orchitis. – – b. selama 3 bulan. Kompres air PAM atau es c. purpura. pericarditis. Pengobatan simtomatis :    Diazepam IV : 0.Isoniazid 10 – 20 mg/kg/24 jam oral. albuminuria atau hematuria. hydrasefalus) serta disebabkan oleh infeksi meningococcus pada organ tubuh lainnya (infeksi okular.5 mg/kg/dosis.Streptomisin sulfat 20 – 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu. Fenitoin 5 mg/kg/24 jam. telinga tengah dan paru-paru. 9 . Sequelle biasanya disebabkan karena komplikasi dari nervous system. Pengobatan suportif : Cairan intravena. Obat anti inflamasi :  Meningitis tuberkulosa : . Turunkan panas :  Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.2 0. epididymitis. Penatalaksanaan Farmakologis a.lesi cerebral fokal. 4 – 6 kali sehari.4 0. Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari.  Meningitis bacterial. Meningitis bacterial. umur < 2 bulan :  Sefalosporin generasi ke 3 ampisilina 150 – 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV. Sefalosforin generasi ke 3. 1 kali sehari selama 1 tahun. Komplikasi Komplikasi serta sequelle yang timbul biasanya berhubungan dengan proses inflamasi pada meningen dan pembuluh darah cerebral (kejang.

Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian. Perawatan a) Pada waktu kejang              Longgarkan pakaian. Zat asam. Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. bila perlu dibuka. c) Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi. usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 – 50%. Pada inkontinensia alvi lakukan lavement. seperti meningitis. atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh). Tekanan darah Respirasi Nadi Produksi air kemih Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC. malaria. juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. B. Hisap lender Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi. atau primary amoebic meningoencephalitis. 10 . Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Definisi Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent. ENSEFALITIS 1. Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis. d) Pemantauan ketat. Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi penderitasesering mungkin. Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb antibiotika. Beri makanan melalui sonda. b) Bila penderita tidak sadar lama.

bronchiektasi. virus Epstein-barr Poxvirus : variola.muntah. abses di dalam paru. virus dengue) Picornavirus : enterovirus (virus polio. irus morbili Rabdovirus : virus rabies Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B. Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema.B.coli dan M. b.2. atau dari piema yang berasl dari radang. empiema. kuman tiba di sistim limfatik. vaksinia 11 . osteomeylitis cranium. Setelah penetrasi melalui epithelium yang terluka.tuberculosa. kongesti yang disusul dengan pelunakan dan pembentukan abses. streptococcus. mastoiditis. sinusitis. fraktur terbuka. tanda-tanda meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif.echovirus) Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria 2) Virus DNA Herpes virus : herpes zoster-varisella. c. E. coxsackie A. Bila kapsula pecah terbentuklah abses yang masuk ventrikel. trauma yang menembus ke dalam otak dan tromboflebitis. Ensefalitis Siphylis Patogenesis : Disebabkan oleh Treponema pallidum. Disekeliling daerah yang meradang berproliferasi jaringan ikat dan astrosit yang membentuk kapsula. Etiologi a. Ensefalitis Virus Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia : 1) Virus RNA Paramikso virus : virus parotitis. pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. penglihatan kabur. Ensefalitis Supurativa Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah : staphylococcus aureus. Infeksi terjadi melalui permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak seksual. kejang. Patogenesis: Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari otitis media. Hal ini berlangsung beberapa waktu hingga menginvasi susunansaraf pusat Treponema pallidum akan tersebar diseluruh korteks serebri dan bagianbagian lain susunan saraf pusat. sitomegalivirus. kesadaran menurun. herpes simpleks. melalui kelenjar limfe kuman diserap darah sehingga terjadi spiroketemia. Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum.

muntah. nyeri kepala. Aspergillus. 12 . Gejala-gejalanya adalah demam akut. kaku kuduk dan kesadaran menurun. nausea. Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak. Larva dapat tumbuh menjadi sistiserkus. Gejaja-gejala neurologik yang timbul tergantung pada lokasi kerusakan. Sel darah merah yang terinfeksi plasmodium falsifarum akan melekat satu sama lainnya sehingga menimbulkan penyumbatan-penyumbatan. Gambaran yang ditimbulkan infeksi fungus pada sistim saraf pusat ialah meningo-ensefalitis purulenta. Jaringan akan bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya.Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit. 4) Ensefalitis Karena Fungus Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida albicans. Larva menembus mukosa dan masuk kedalam pembuluh darah. Sistiserkosis Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia. Kelainan neurologik tergantung pada lokasi kerusakan-kerusakan. Amebiasis Amoeba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung ketika berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan meningoencefalitis akut.Coccidiodis.- Retrovirus : AIDS 3) Ensefalitis Karena Parasit Malaria serebral Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral. menyebar ke seluruh badan. Toxoplasmosis Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan gejalagejala kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun. Bentuk rasemosanya tumbuh didalam meninges atau tersebar didalam sisterna. Hemorrhagic petechia dan nekrosis fokal yang tersebar secara difus ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak. Fumagatus dan Mucor mycosis. berbentuk kista di dalam ventrikel dan parenkim otak. Faktor yang memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas yang menurun. Cryptococcus neoformans.

2000).virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara: 1. dan sebagainya (Hassan.saluran nafas dan saluran cerna. Gejala-gejala neurologik menunjukan lesi yang tersebar. dengan kombinasi tanda dan gejala : kejang. Gejala-gejala serebrum lain. Manifestasi Klinis Meskipun penyebabnya berbeda-beda. fokal atau twitching saja (kejang-kejang di muka) 5.5) Riketsiosis Serebri Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan Ensefalitis. 2. Didalam pembuluh darah yang terkena akan terjadi trombosis. Di dalam dinding pembuluh darah timbul noduli yang terdiri atas sebukan sel-sel mononuclear. nystagmus. 3. gejala klinis Ensefalitis lebih kurang sama dan khas. Secara umum. kejang dan kesadaran menurun. aphasia. Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala. yang terdapat pula disekitar pembuluh darah di dalam jaringan otak. kelemahan otot-otot wajah. Suhu yang mendadak naik. delirium. Penyebaran hematogen primer: virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut. hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda Babinski. Kesadaran dengan cepat menurun 3. Patofisiologi Virus masuk tubuh pasien melalui kulit.setelah masuk ke dalam tubuh. sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis. misal paresis atau paralisis. 4. 1997) Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut. mula-mula sukar tidur. (Mansjoer. 13 . stupor atau koma. demam. Adapun tanda dan gejala Ensefalitis sebagai berikut: 1. seringkali ditemukan hiperpireksia 2. Kejang-kejang. yang dapat bersifat umum. yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama. gejala berupa Trias Ensefalitis yang terdiri dari demam. ataxia. gerakan involunter. afasia. 3. Penyebaran melalui saraf-saraf: virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf. bingung. kemudian mungkin kesadaran dapat menurun. Muntah 4. Setempat: virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lender permukaan atau organ tertentu.

Adanya kejang. e) Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen. gangguan belajar. untuk jenis enterovirus sering didapat hasil yang positif d) Dari swap hidung dan tenggorokan. ada kerusakan selektif pada lobus inferomedial temporal dan lobus frontal. quadriparesis. uji inhibisi hemaglutinasi dan uji neutralisasi. b) Dari likuor serebrospinalis atau jaringan otak (hasil nekropsi). dan penanganan selama perawatan.Walaupun sebagian besar penderita mengalami perubahan serius pada susunan saraf pusat (SSP). gejala klinik. jaringan parut otak. hipertonia muskulorum. epilepsi. Pemeriksaan Diagnostik 1.5. abses. didapat hasil kultur positif.Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sekuele secara dini. usia penderita. kadar protein atau glukosa. bekuan darah. tumor. Pada pemeriksaan serologis dapat diketahui reaksi antibodi tubuh. IgM dapat dijumpai pada awal gejala penyakit timbul. hidrosefalus obstruktif. 14 .Komplikasi pada SSP meliputi tuli saraf. kadangkadang ditemukan sedikit peningkatan jumlah sel. hemiparesis. dapat menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari pola normal irama dan kecepatan. retardasi mental dan motorik. dan atrofi serebral. koma. infeksi sistem saraf. dan pada kasus khusus seperti Ensefalitis herpes simplex. akan didapat gambaran jenis kuman dan sensitivitas terhadap antibiotika. c) Dari feses. komplikasi yang berat tidak selalu terjadi. g) Punksi lumbal Likuor serebospinalis sering dalam batas normal. f) Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan angka leukosit. tetapi bisa pula didapat hasil edema diffuse. Komplikasi Komplikasi jangka panjang dari ensefalitis berupa sekuele neurologikus yang nampak pada 30 % anak dengan berbagai agen penyebab. h) EEG/ Electroencephalography EEG sering menunjukkan aktifitas listrik yang merendah sesuai dengan kesadaran yang menurun. ataksia. Biakan: a) Dari darah viremia berlangsung hanya sebentar saja sehingga sukar untuk mendapatkan hasil yang positif. 2002) i) CT scan Pemeriksaan CT scan otak seringkali didapat hasil normal.(Smeltzer. 6. kebutaan kortikal.

setiap 8 jam hingga tampak perbaikan. Toxoplasmosis Sulfadiasin 100 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Pirimetasin 1 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Spiramisin 3 x 500 mg/hari 15 . Ensefalitis karena parasit 1. Bila alergi penicillin : 1. Ensefalitis syphilis Penisillin G 12-24 juta unit/hari dibagi 6 dosis selama 14 hari Penisillin prokain G 2. Ensefalitis virus 1. 2. Cloramfenicol 4 x 1 g intra vena selama 6 minggu 4. Pengobatan simptomatis: . Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari. Cloramphenicol 4 x 1g/24 jam intra vena selama 10 hari.4 juta unit/hari intra muskulat + probenesid 4 x 500mg oral selama 14 hari. 3. Terapi antimikroba : 1. Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus dengan penyebab herpes zoster-varicella: Asiclovir 10 mg/kgBB intra vena 3 x sehari selama 10 hari atau 200 mgperoral tiap 4 jam selama 10 hari. Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari 2. 2. 6.Anticonvulsi : Phenitoin 50 mg/ml intravena 2 x sehari.Analgetik dan antipiretik: Asam mefenamat 4 x 500 mg . Penatalaksanaan Isolasi Isolasi bertujuan untuk mengurangi stimuli/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan pencegahan. 5. Malaria serebral Kinin 10 mg/KgBB dalam infuse selama 4 jam. Seftriaxon 2 g intra vena/intra muscular selama 14 hari. 2.7. Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari 3. Ensefalitis supurativa 1.

c) Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat juga digunakan untuk menghilangkan edema otak 8.1.25 g/KgBB/hari intravena 2 hari sekali minimal 6 minggu Mikonazol 30 mg/KgBB intra vena selama 6 minggu.3. Perbedaan Ensefalitis dengan Meningitis Encephalitis Kesadaran ↓ Demam ↓ Lokasi terinfeksi di jaringan otak Banyak disebabkan virus Meningitis Kesadaran relatif masih baik Demam ↑ Lokasi terinfeksi di selaput otak Banyak disebabkan bakteri 16 . monitor balance cairan : jenis dan jumlah cairan yang diberikan tergantung keadaan anak. b) Glukosa 20%. management edema otak : a) Mempertahankan hidrasi. Mengurangi meningkatnya tekanan intracranial. Riketsiosis serebri Cloramphenicol 4 x 1 g intra vena selama 10 hari Tetrasiklin 4x 500 mg per oral selama 10 hari. 8. Ensefalitis karena fungus Amfoterisin 0.0. 7. Amebiasis Rifampicin 8 mg/KgBB/hari. 10ml intravena beberapa kali sehari disuntikkan.

Faktor Keturunan orang tuanya. b. banyak hormon yang berpengaruh terhadap .telinga dan tenggorokan. Keluhan utama Panas badan meningkat. PENGKAJIAN 1.panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari . pernah menderita penyakit Herpes. E . dll.Streptococcus . yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua pertumbuhan dan perkembangan anak.gelisah . 3. penyakit infeksi pada hidung. sakit kepala. Faktor Hormonal . lingkungan biologi dan lingkungan psikososial. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak a. Riwayat penyakit dahulu Klien sebelumnya menderita batuk . Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus. 17 . Identitas Meningoensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur. Faktor Gizi . 4. Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik. d. Faktor Lingkungan. namun yang paling berperan adalah Growth Hormon (GH).ASUHAN KEPERAWATAN MENINGITIS DAN ESEFALITIS I. kejang. pilek kurang lebih 1-4 hari.muntah-muntah . 2. c. 5. Riwayat penyakit sekarang Mula-mula anak rewel . Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. Terdiri dari lingkungan fisik. Coli. 6. kesadaran menurun.

12 tahun Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih Remaja akhir dan dewasa muda Dewasa Dewasa akhir Erikson mengemukakan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan manusia mengalami 8 fase yang saling terkait dan berkesinambungan. f. 18 . c. usia antara 0 .6 Tahun)  Malu dan ragu-ragu  Rasa bersalah. b. h. usia antara 12 .6 Tahun Usia sekolah (latent) yakni 6 . usia antara 5 . e.11/2 Tahun Fase anal. b.  Mencapai keinginan  Memulai kekuatan baru  Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan Usia pra sekolah ( 3 .3 Tahun Fase Falik. Bayi (oral) usia 0 . usia antara 11/2 . d. BILA TUGAS PERKEMBANAGAN TUGAS PERMKEMBANGAN TIDAK TERCAPAI  Tidak percaya Bayi (0 . g.3 Tahun Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 .3 Tahun)  Perasaan otonomi.5 Tahun Fase Laten. d. c. e.  Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil  Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri. Usia bermain (1 .1 tahun)  Rasa percaya mencapai harapan.Teori kepribadian anak menurut Sigmund Freud meliputi tahap a.12 Tahun Fase Genital. usia antara 3 .1 Tahun Usia bermain (Anak ) yakni 1 . Fase oral.18 Tahun Tahap-tahap perkembangan anak menurut Erik Erikson ! a.

 Memilih pekerjaan  Mencapai keutuhan kepribadian Remaja akhir dan dewasa muda  Rasa keintiman dan solidaritas  Memperoleh cinta.12 Tahun)  Perasaan berprestasi  Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru Remaja ( 12 tahun lebih)  Rasa identitas  Mencapai kesetiaan yang menuju pada Difusi identitas Rasa rendah diri pemahaman heteroseksual.  Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis. Usia sekolah ( 6 .  Belajar keterampilan efektif dalam  Absorpsi stagnasi diri dan  Isolasi berkomunikasi dan merawat anak  Menggantungkan minat aktifitas pada keturunan Dewasa akhir  Perasaan integritas  Mencapai kebijaksanaan  keputusasaan 19 .  Belajar menjadi kreatif dan produktif. Perasaan inisiatif mencapai tujuan  Menyatakan diri sendiri dan lingkungan  Membedakan jenis kelamin. Dewasa  Perasaan keturunan  Memperoleh perhatian.

polusi. Jika ovum dan sperma bergabung akan terbentuk 46 pasang kromosom. GH) yang merangsang pertumbuhan epifise dari pusat tulang panjang. Tanpa GH anak akan tumbuh dengan lambat dan kematangan seksualnya terhambat. kelainan yang ditimbulkan adalah akromegali yang diakibatkan oleh hipersekresi GH dan pertumbuhan linear serta gigantisme bila terjadi sebelum pubertas. d. alat genitalia kecil dan hipoglikemi. Setiap kromosom mengandung gen yang mempunyai sifat diturunkan pada anak dari keluarga yang memiliki abnormalitas tersebut. Dengan kata lain untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal dibutuhkan gizi yang baik. yang kemudian akan terus smembelah untuk memperbanyak diri sampai akhirnya terbentuk janin. Hormon lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan adalah hormon-hormon dari kelenjar tiroid dan lainya. udara segar. kematangan sel. Faktor Hormonal Kelenjar petuitari anterior mengeluarkan hormon pertumbuhan (Growth Hormone. yang dimiliki oleh setiap manusia dalam setiap selnya. Faktor keturunan (genetik) Seperti kita ketahui bahwa warna kulit. Hal sebaliknya terjadi pada hiperfungsi petuitari. bayi. Pada keadaan hipopetuitarisme terjadi gejala-gejala anak tumbuh pendek. bentuk tubuh dan lain-lain tersimpan dalam gen. organ dan tumbuh dengan penambahan jumlah sel. Proses tumbuh kembang anak berlangsung pada berbagai tingkatan sel. termasuk sinar matahari. c. b. Selanjutnya setiap organ dan bagian tubuh lainnya mengikuti pola tumbuh kembang masing-masing. Faktor Gizi.Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak a. Gen terdapat dalak kromosom. Dengan adanya tingkatan tumbuh kembang tadi akan terdapat rawan gizi. Baik sperma maupun ovum masing masing mempunyai 23 pasang kromosom. Faktor Lingkungan  Lingkungan fisik. iklim dan teknologi 20 . dan pembesaran ukuran sel. sanitas.

usia antara 5 . usia antara 0 . c.  Lingkungan psikososial. Teori Kepribadian Menurut Sigmund Freud Kepribadian ialah hasil perpaduan antara pengaruh lingkungan dan bawaan. Faktor sosial budaya  Faktor ekonomi. sangat memepengaruhi keadaan sosial keluarga. usia antara 3 . kualitas total prilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unit dengan lingkungannya.  Faktor politik serta keamanan dan pertahanan. keadaan politik dan keamanan suatu negara juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang seorang anak. b.Pertumbuhan dan Perkembangan POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN A. Kebiasaan sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur .kebiasaan buang air besar di WC.18 Tahun Imunisasi Kapan terakhir diberi imunisasi DPT Karena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis. Meliputi tahap-tahap : a. . termasuk latar belakang keluarga. d. hubungan keluarga. Lingkungan biologis. termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat a.12 Tahun Fase Genital. Teori kpribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud (1856 . 7. e. usia antara 12 .3 Tahun Fase Falik.lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh) 21 . Lingkungan sehat lainnya adalah rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Fase oral. e.1939).5 Tahun Fase Laten. usia antara 11/2 .11/2 Tahun Fase anal.

Pola Nutrisi dan Metabolisme Pemenuhan Nutrisi Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makanan dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh.b. konsentrasi urine pekat. B. Pola tidur dan istirahat 22 . umur 1 sampai 6 tahun Umur (dalam tahun) x 2 + 8 TB menurut BEHARMAN umur 4 sampai 2 x TB Lahir Perkembangan badan biasanya kurang karena asupan makanan yang bergizi kurang.Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai dengan adanya mual. Jika kebutuhan cairan terpenuhi. kepalah pusing. Kebiasaan Miksi sehari-hari Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal. kelelahan. Status Ekonomi Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah. Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh. Menurut rumus dari BEHARMAN tahun 1992. muntah. Postur tubuh biasanya kurus . C. D. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun.rambut merah karena kekurangan vitamin A. berat badan kurang dari normal. Pengetahuan tentang nutrisi biasanya pada orang tua anak yang kurang pengetahuan tentang nutrisi. Pola Eliminasi Kebiasaan Defekasi sehari-hari Biasanya pada pasien ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi. yang dikatakan gizi kurang bila berat badan kurang dari 70% berat badan normal.

Sensori . Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan. Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitis dengan gizi buruk. Kognitif I. Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif. b. b. Pola Persepsi dan pola diri Pada klien Ensenfalitis umur > 4 .Daya penciuman . Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung . Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM. Pola Aktivitas a.ginjal . H. Pola Reproduksi Seksual Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun .fimosis tidak ada.punurunan kadar albumin serum. Pola Hubungan Dengan Peran Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma. G.Daya penglihatan .identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan.Daya rasa .Daya raba . Pola penanggulangan Stress Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran : 23 . F.Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.mudah terkena infeksi yang berat. aktifitas togosit turun .Daya pendengaran. Pola sensori dan kuanitif a. J.self Esteem .pada persepsi dan konsep diri yang meliputi Body Image .Hb turun . E. gangguan pertumbuhan.

9. Gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan Anak umur 3-4 tahun belum bisa dikaji II. 4. . anemia. gaya bicara) berhubungan dengan kerusakan susunan saraf pusat. pendengaran. Gangguan sensorik motorik (penglihatan. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING TERJADI 1.Stress fisiologi  biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata saja . 3.tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan daya tahan terhadap infeksi turun. 6. 2. 7. Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis. 8. gelisah. 10. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan aktivitas kejang umum. Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.. Resiko terjadi kontraktur berhubungan dengan spastik berulang. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial Tujuan :  Pasien kembali pada keadaan status neurologis sebelum sakit  Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris Kriteria hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Rasa sakit kepala berkurang  Kesadaran meningkat  Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat 24 . Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Hepofalemia. K.Stress Psikologi tidak di evaluasi. 5. III.

Rencana Tindakan : INTERVENSI RASIONAL Pasien bed rest total dengan posisi tidur Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terlentang tanpa bantal terjadinya herniasi otak Monitor tanda-tanda status neurologis Dapat mengurangi kerusakan otak lebih dengan GCS. Respirasi dan hati-hati pada mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuatif. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava Bantu pasien untuk membatasi muntah. dengan vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral diperlukan Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral bila Berikan terapi sesuai advis dokter Terapi yang diberikan dapat seperti: Steroid. hipertensi sistolik Kegagalan autoregulasi akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan diastolik. Pada keadaan normal autoregulasi Nadi. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur. batuk. 25 . menurunkan permeabilitas kapiler. Monitor AGD pemberian oksigen perinfus Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial. Monitor intake dan output Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadar serta nausea yang menurunkan intake per oral Aktifitas muntah atau batuk dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Aminofel. Kolaborasi : Berikan cairan perhatian ketat. lanjt Monitor tanda-tanda vital seperti TD. Antibiotika. Menurunkan edema serebri Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan kejang. Suhu.

perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran Tujuan: Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran Kriteria Hasil : Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain 26 . 3. Rencana Tindakan : INTERVENSI Independent RASIONAL Usahakan membuat lingkungan yang Menurunkan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau kesensitifan terhadap aman dan tenang cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat Kompres dingin (es) pada kepala dan Dapat menyebabkan kain dingin pada mata pembuluh darah otak vasokontriksi Lakukan latihan gerak aktif atau pasif Dapat membantu relaksasi otot-otot sesuai kondisi dengan lembut dan hati. Resiko injuri berhubungan dengan adanya kejang.2. Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk dikaji.yang tegang dan dapat menurunkan rasa hati sakit / disconfort Kolaborasi : Berikan obat analgesik Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lapisan otak Tujuan : Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol Kriteria evaluasi :  Pasien dapat tidur dengan tenang  Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.

penurunan kesadaran. Pertahankan bedrest total selama fae Mengurangi resiko jatuh / terluka jika akut vertigo. gangguan integritas kulit. kejang.4 (1)Memerlukan bantuan moderate (3) Memerlukan bantuan komplit dari perawat (4)Klien yang memerlukan pengawasan khusus karena resiko injury yang tinggi 27 . fungsi bowell dan bladder optimal serta peningkatan kemampuan fisik Tindakan : Intervensi Independen : Review kemampuan fisik dan kerusakan yang terjadi Rasional Mengidentifikasi kersakan fungsi dan menentukan pilihan intervensi Kaji tingkat imobilisasi. kaki. kerusakan persepsi/kognitif Tujuan : Tidak terjadi kontraktur. 4. atau mengurangi RASIONAL Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskulaer. dan ataksia terjadi Kolaborasi : Berikan terapi sesuai advis dokter Untuk mencegah seperti. phenobarbital. papan pengaman. penurunan kekuatan otot. mulut Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dan otot-otot muka lainnya dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi. Persiapkan lingkungan yang aman Melindungi pasien bila kejang terjadi seperti batasan ranjang. dll. footdrop. sincope. dan alat suction selalu berada dekat pasien. gunakan skala Kemungkinan tingkat ketergantungan (0) hanya memerlukan bantuan minimal ketergantungan dari 0 .Rencana Tindakan : INTERVENSI Independent : Monitor kejang pada tangan. diazepam.

gunakan kata-kata yang klien walaupun dalam keadaan tidak 28 . Rasional Kerusakan area otak akan menyebabkan klien mengalami gangguan persepsi sensori. Memfasilitasi sirkulais dan mencegah lakukan masasse. Sejalan dengan proses peneymbuhan. Kerusakan sensori persepsi berhubungan dengan kerusakan penerima rangsang sensori. kemampuan bicara. lesi area otak akan mulai membaik sehingga perlu dievaluasi kemajuan klien Kaji kemampuan menterjemahkan Informasi tersebut penting untuk rangsang sensori misalnya : respon menentukan tindak lanjut bagi klien terhadap sentuhan. Mencegah terjadinya kontraktur atau berikan latihan ROM pasif jika klien foot drop serta dapat mempercepat sudah bebas panas dan kejang pengembalian fungsi tubuh nantinya Berikan perawatan kulit secara adekuat. transmisi sensori dan integrasi sensori Tujuan : Kesadaran klien dan persepsi sensori membaik Tindakan : Intervensi Evaluasi secara teratur perubahan orientasi klien. serta kesadaran terhadap pergerakan tubuh. kemerahan. bengkak Indikasi adanya kerusakan kulit pada area kulit 5. Batasi suara-suara bising serta Menurunkan kecemasan.Berikan perubahan posisi yang teratur Perubahan posisi teratur dapat mendistribusikan berat badan secara pada klien meneyluruh dan memfasilitasi peredaran darah serta mencegah dekubitus Pertahankan body aligment adekuat. ganti pakaian klien gangguan integritas kulit dengan bahan linen dan pertahankan tempat tidur dalam keadaan kering Berikan perawatan mata. keadaan emosi serta proses berpikir klien. bersihkan mata Melindungi mata dari kerusakan akibat dan tutup dengan kapas yang basah terbukanya mata terus menerus sesekali Kaji adanya nyeri. panas atau dingin. dan mencegah kebingungan pada klien akibat rangsang pertahankan lingkungan yang tenang sensori berlebihan Tetap bicara dengan klien dengan suara Rangsang sensori tetap diberikan pada yang tenang.

Turgor baik c. keadaan hipermetabolik Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria tidak adanya tanda malnutrisi dengan nilai laboratorium dalam batas normal Kriteria hasil : a. Faktor-faktor tersebut menentukan kemampuan menelan klien dan klien batuk dan adanya sekret harus dilindungi dari resiko aspirasi Auskultasi bowel sounds. kemampuan Untuk dapat memberikan penanganan menyeluruh pada klien Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan. amati Fungsi gastro intestinal tergantung pula penurunan atau hiperaktivitas suara pada kerusakan otak. Conjungtifa merah mudah d.sederhana dan singkat serta pertahankan sadar untuk memacu kontak mata sensori persepsi klien Kolaborasi : Rujuk ke ahli fisioterapi atau okupasi 6. Hb bertambah Tindakan : Intervensi Rasional Kaji kemampuan klien dalam menelan. Berat badan naik. bowelll sounds menentukan respon feeding atau bpowell terjadinya komplikasi misalnya illeus Timbang berat badan sesuai indikasi Untuk megevaluasi asupan makanan efektifitas dari Berikan makanan meninggikan kepala dengan cara Menurunkan resiko regurgitasi atau aspirasi Pertahankan lingkungan yang tenang Membuat klien merasa aman sehingga dan anjurkan keluarga atau orang asupan dapat dipertahankan terdekat untuk memberikan makanan pada klien 29 .LILA bertambah b.

2. 8.Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain Intervensi : 1. 30 . jalan nafas tetap bebas. mengontrol penyebaran Sumber infeksi. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi. R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo. 3) Berikan antibiotika sesuai indikasi R/. mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan aktivitas kejang umum Tujuan : .Tidak terjadi trauma Kriteria hasil : . Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi. R/. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh terhadap infeksi turun Tujuan: .Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen Intervensi 1) Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . Pertahankan tirah baring dalam fase akut. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia . Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan.tidak terjadi infeksi Kriteria hasil: . 2) Abs. pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit. Melindungi px jika terjadi kejang . Pantau dan batasi pengunjung. R/.7. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut. R/.

4. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan 9. R/. terjadi kekacauan sendi. Abservasi tanda-tanda vital R/.bila terjadi kejang spastik ulang 31 . Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang. mencegah kontraktor. 3. R/ Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program perawatan . Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap R/ Melatih melemaskan otot-otot. 4.Dapat menggerakkan anggota tubuh Intervensi 1. Resiko terjadi kontraktur berhubungan dengan kejang spastik berulang Tujuan : . meningkatkan daya pertahanan tubuh . Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam R/ Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera 5.Tidak terjadi kekakuan sendi . Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi R/ Diberi dilantin / valium . Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam R/ Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar.3. Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin. Kolaborasi.Tidak terjadi kontraktur Ktiteria hasil : . valum dsb. Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik . 2.

1991) epilepsi adalah suatu kelainan otak kronik dengan berbagai macam penyabab yang ditandai serangan kejang berulang yang disebabkan oleh bangkitan neuron otak yang berlebihan. bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut.blogspot. dimana gambaran klinisnya dapat berupa kejang. perubahan tingkah laku. perubahan kesadaran tergantung lokasi kelainan di otak. B.http://kuliahitukeren.LAPAORAN PENDAHULUAN STATUS EPILEPTIKUS A. atau serangan yang berlangsung terus menerus selama 30 menit atau lebih. Menurut WHO (Chadwick. berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran. Definisi Epilepsi adalah manifestasi klinik dari bangkitan seizure(stereotipik).com/ Status Epileptikus (SE) didefinisikan sebagai keadaan dimana terjadinya dua atau lebih rangkaian kejang tanpa adanya pemulihan kesadaran diantara kejang. disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak. Serangan yang berlangsung terus menerus lebih dari 5 menit atau yang kesadarannya belum pulih setelah 5 menit harus dipertimbangkan sebagai SE. Klasifikasi a Klasifikasi yang ditetapkan oleh International League Againts Epilepsy (ILAE) terdiri dari dua jenis klasifikasi yaitu: 1) Bangkitan Parsial  Bangkitan Parsial sederhana  Motorik  Sensorik  Otonom  Psikis 2) Bangkitan Parsial kompleks  Bangkitan parsial sederhana yang diikuti dengan gangguan kesadaran  Bangkitan parsial yang disertai gangguan kesadaran saat awal bangkitan 3) Bangkitan parsial yang menjadi umum sekunder  Parsial sederhana yang menjadi umum tonik klonik  Parsial kompleks menjadi umum tonik klonik 32 .

mioklonik. kelainan neuro degenerative. lesi desak ruang. Parsial sederhana menjadi parsial kompleks kemudian menjadi umum tonik klonik 4) Bangkitan Umum  Lena (absence)  Mioklonik  Tonik  Tonik-klonik  Atonik 5) Tak tergolongkan Klasifikasi status epileptikus Klasifikasi status epileptikus penting untuk penanganan yang tepat. C. apakah konvulsi atau nonkonvulsi. karena penanganan yang efektif tergantung pada tipe dari status epileptikus. sindrom lennox-gastaut. Satu versi mengkategorikan status epileptikus berdasarkan status epileptikus umum (tonik-klonik. toksik (alkohol. absens. infeksi susunan saraf (SSP). absens). Idiopatik :penyebabnya tidak diketahui. hanya dewasa). gangguan peredaran darah otak. parsial kompleks. umumnya mempunyai predisposisigenetik 2. gambaran klinik sesuai dengan ensefalopati difusi 3. kelainan kongenital. Kriptogenik: Dianggap simptomatik tatapi penyebabnya belum diketahui. anak-anak dan dewasa. dan epilepsi mioklonik. Pada umumnya status epileptikus dikarakteristikkan menurut lokasi awal bangkitan – area tertentu dari korteks (Partial onset) atau dari kedua hemisfer otak (Generalized onset). obat). 33 . termasuk disini sindrom west. atonik. Simptomatik: Disebabkan oleh kelainan/lesi ada susunan saraf pusat misalnya trauma kepala. Etiologi Secara umum penyebab kejang dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: 1.kategori utama lainnya bergantung pada pengamatan klinis yaitu. Versi lain membagi berdasarkan status epileptikus umum (overt atau subtle) dan status epileptikus non-konvulsi (parsial sederhana. Versi ketiga dengan pendekatan berbeda berdasarkan tahap kehidupan (batas pada periode neonatus. akinetik) dan status epileptikus parsial (sederhana atau kompleks). Banyak pendekatan klinis diterapkan untuk mengklasifikasikan status epileptikus. infan dan anak-anak. metabolik.

drug abuse. Kerusakan syaraf irreversibel pada tahap ini. seperti peningkatan aliran darah otak dan cardiac output. sehingga menyebabkan aktfitas tubuh berlebihan. Penyebab kelainan yang utama adalah hilangnya sel saraf yang menginhibisi sel eksitasi dan membatasi penyebaran listrik otak atau mungkin dikarenakan produksi berlebihan rangsangan kimia otak yang menyebabkan sel mengeluarkan sinyal listrik yang abnormal. peningkatan tekanan darah. Pada kejang. Untuk dapat mempresentasikan sinyal listrik diotak menjadi perilaku. pH dan glukosa serum kembali normal. Secara klinis dan berdasarkan EEG. Ada keseimbangan yang teratur antara faktor yang menyebabkan eksistasi dan inhibisi aktifitas listrik otak. Fase pertama terjadi mekanisme kompensasi. aspartat.Faktor pencetus Status Epileptikus Penderita Epilepsi tanpa pengobatan atau dosis pengobatan yang tidak memadai Pengobatan yang tiba-tiba dihentikan atau gangguan penyerapan GIT Keadaan umum yang tidak menurun sebagai akibat kurang tidur. stres psikis. sedangkan nerutransmitter inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric acid (GABA). Pada fase ketiga aktivitas kejang berlanjut mengarah pada terjadinya hipertermia (suhu meningkat). peningkatan oksigenase jaringan otak. banyak sel saraf yang terlibat. Perubahan syaraf reversibel pada tahap ini. dan asetilkolin. norepinefrin. Neurotransmitter eksitasi juga dilepasakan berlebihan dan mengganggu bendungan listrik sel saraf yang normalnya membatasi penyebaran sinyal listrik yang abnormal. atau obat-obat anti depresi D. 34 . sejumlah besar kumpulan sel saraf tereksitasi bersamaan (hipersinkroni). peningkatan glukosa serum dan penurunan pH yang diakibatkan asidosis laktat. kemampuan tubuh beradaptasi berkurang dimana tekanan darah . atau stres fisik. peningkatan laktat serum. Patofisiologi Sel saraf diootak berkomunikasi melalui transmisi listrik dan kimia. sejumlah kecil kumpulan sel saraf yang abnormal menyebabkan perubahan pada sel didekatnya atau pada sel yang memilik hubungan erat dengannya. Diantara neurotansmitter-neurotarsmitter eksitasi dapat disebut glutamate. Setelah 30 menit. Pengunaan atau Withdrawal alkohol. Dalam kebanyakan kasus kejang. perburukan pernafasan dan peningkatan kerusakan syaraf yang irreversibel. status epileptikus dibagi menjadi lima fase. ada perubahan ke fase kedua.

serebellum. Pada status tonik-klonik umum. Gambaran klinik Pengenalan terhadap status epileptikus penting pada awal stadium untuk mencegah keterlambatan penanganan. Status tonik-klonik umum (Generalized Tonic-Clonic) merupakan bentuk status epileptikus yang paling sering dijumpai. tetapi bentuk yang lain dapat juga terjadi. Hipokampus mungkin paling sensitif akibat efek dari status epileptikus. a) Status Epileptikus Tonik-Klonik Umum (Generalized tonic-clonic Status Epileptikus) Ini merupakan bentuk dari Status Epileptikus yang paling sering dihadapi dan potensial dalam mengakibatkan kerusakan. diikuti oleh hyperpnea retensi CO2. 35 . tetapi maksimal pada lima area dari otak (lapisan ketiga. hyperpireksia mungkin berkembang. Hiperglikemia dan peningkatan laktat serum terjadi yang mengakibatkan penurunan pH serum dan asidosis respiratorik dan metabolik. hasil dari survei ditemukan kira-kira 44-74%. dengan kehilangan syaraf maksimal dalam zona Summer. Setiap kejang berlangsung dua sampai tiga menit. Mekanisme yang tetap dari kerusakan atau kehilangan syaraf begitu kompleks dan melibatkan penurunan inhibisi aktivitas syaraf melalui reseptor GABA dan meningkatkan pelepasan dari glutamat dan merangsang reseptor glutamat dengan masuknya ion Natrium dan Kalsium dan kerusakan sel yang diperantarai kalsium. dengan fase tonik yang melibatkan otot-otot aksial dan pergerakan pernafasan yang terputus-putus. Kerusakan dan kematian syaraf tidak seragam pada status epileptikus. Kejang didahului dengan tonik-klonik umum atau kejang parsial yang cepat berubah menjadi tonik klonik umum. ketika peningkatan pernafasan yang buruk memerlukan mekanisme ventilasi. E. dan keenam dari korteks serebri. Pasien menjadi sianosis selama fase ini. Aktivitas kejang sampai lima kali pada jam pertama pada kasus yang tidak tertangani. Keadaan ini diikuti oleh penghentian dari seluruh klinis aktivitas kejang pada tahap kelima. tetapi kehilangan syaraf dan kehilangan otak berlanjut. nukleus thalamikus dan amigdala). kelima. serangan berawal dengan serial kejang tonik-klonik umum tanpa pemulihan kesadaran diantara serangan dan peningkatan frekuensi. Adanya takikardi dan peningkatan tekanan darah. hipokampus.Aktivitas kejang yang berlanjut diikuti oleh mioklonus selama tahap keempat.

Tipe ini terjai pada ensefalopati kronik dan merupakan gambaran dari Lenox-Gestaut Syndrome. tingkah laku impulsif (impulsive behavior). cepat marah. 36 . Mungkin ada riwayat kejang umum primer atau kejang absens pada masa anak-anak. c) Status Epileptikus Tonik (Tonic Status Epileptikus) Status epilepsi tonik terjadi pada anak-anak dan remaja dengan kehilangan kesadaran tanpa diikuti fase klonik. Sentakan mioklonus adalah menyeluruh tetapi sering asimetris dan semakin memburuknya tingkat kesadaran. Ketika sadar. Pasien dengan status epileptikus nonkonvulsif ditandai dengan stupor atau biasanya koma. tidak seperti 3 Hz spike wave discharges dari status absens. retardasi psikomotor dan pada beberapa kasus dijumpai psikosis. dijumpai perubahan kepribadian dengan paranoia. d) Status Epileptikus Mioklonik Biasanya terlihat pada pasien yang mengalami enselofati. Pada EEG menunjukkan generalized spike wave discharges. metabolik. Tipe dari status epileptikus tidak biasanya pada enselofati anoksia berat dengan prognosa yang buruk. karena gejalanya dapat sama. tetapi dapat terjadi pada keadaan toksisitas. halusinasi.b) Status Epileptikus Klonik-Tonik-Klonik (Clonic-Tonic-Clonic Status Epileptikus) Adakalanya status epileptikus dijumpai dengan aktivitas klonik umum mendahului fase tonik dan diikuti oleh aktivitas klonik pada periode kedua. Adanya perubahan dalam tingkat kesadaran dan status presen sebagai suatu keadaan mimpi (dreamy state) dengan respon yang lambat seperti menyerupai “slow motion movie” dan mungkin bertahan dalam waktu periode yang lama. f) Status Epileptikus Non Konvulsif Kondisi ini sulit dibedakan secara klinis dengan status absens atau parsial kompleks. infeksi atau kondisi degeneratif. Respon terhadap status epileptikus Benzodiazepin intravena didapati. e) Status Epileptikus Absens Bentuk status epileptikus yang jarang dan biasanya dijumpai pada usia pubertas atau dewasa. Pada EEG terlihat aktivitas puncak 3 Hz monotonus (monotonous 3 Hz spike) pada semua tempat. delusional.

g) Status Epileptikus Parsial Sederhana 1. lepaskan kaca mata tetapi kontak lens biarkan saja 37 . Penatalaksanaan Status Epileptikus Tujuan utama terapi epilepsi adalah tercapainya kualitas hidup optimal untuk pasien sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan disabilitas fisik maupun mental yang dimiliki pasien. Pada EEG terlihat aktivitas fokal pada lobus temporalis atau frontalis di satu sisi. ibu jari dan jarijari pada satu tangan atau melibatkan jari-jari kaki dan kaki pada satu sisi dan berkembang menjadi jacksonian march pada satu sisi dari tubuh. Dapat terjadi otomatisme. Kondisi ini dapat dibedakan dari status absens dengan EEG. Kejang mungkin menetap secara unilateral dan kesadaran tidak terganggu. Untuk tercapainya tujuan tersebut diperlukan beberapa upaya. 2. dan keadaan kebingungan yang berkepanjangan. dimana sering berhubungan dengan proses destruktif yang pokok dalam otak. Pada EEG sering tetapi tidak selalu menunjukkan periodic lateralized epileptiform discharges pada hemisfer yang berlawanan (PLED).   Pertolongan pertama pada saat kejang Bantulah pasien berbaring. h) Status Epileptikus Parsial Kompleks Dapat dianggap sebagai serial dari kejang kompleks parsial dari frekuensi yang cukup untuk mencegah pemulihan diantara episode. Status Somatosensorik Jarang ditemui tetapi menyerupai status somatomotorik dengan gejala sensorik unilateral yang berkepanjangan atau suatu sensory jacksonian march. tetapi mungkin sulit memisahkan status epileptikus parsial kompleks dan status epileptikus non-konvulsif pada beberapa kasus F. tetapi bangkitan epilepsi sering menyeluruh. jauhkanlah dari sesuatu yang keras dan tajam seperti sudut meja  Gulingkan pasien sehingga kepala menghadap ketanah agar air ludah tidak masuk ke jalan nafas dan mencegah lidah menutup jalan nafas  Longgrkan baju. yaitu menghentikan bangkitan. serta menurunkan angka kesakitan dan kematian. mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping atau dengan efek samping yang ringan. Status Somatomotorik Kejang diawali dengan kedutan mioklonik dari sudut mulut. Variasi dari status somatomotorik ditandai dengan adanya afasia yang intermitten atau gangguan berbahasa (status afasik). gangguan berbicara.

 Jangan berusaha memasukkan apapun kedalam mulut pasien. dimana Lorazepam 0. Alkohol dan Natrium hidroksida dan penyuntikan harus 38 . dan Midazolam (Versed).1 mg/kg merupakan obat terbanyak yang berhasil menghentikan kejang sebanyak 65 persen. Efek samping termasuk hipotensi (28-50 %). Phenobarbitone 3. sebaiknya jangan menahan (restrain) pasien.15 + 18 18 Persentase 65 % 59 % 56 % 44 % Lorazepam memiliki volume distribusi yang rendah dibandingkan dengan Diazepam dan karenanya memiliki masa kerja yang panjang. Diazepam + Fenitoin 4.  Hindari pemberian obat oral. Benzodiazepin yang paling sering digunakan adalah Diazepam (Valium). minuman atau makanan sebelum pasien pulih 100% kesadarannya. Nama obat 1. Fenitoin Dosis (mg/kg) 0. Pada 25 menit setelah dosis awal. Fenitoin parenteral berisi Propilen glikol. aritmia jantung (2%). Fenitoin diberikan dengan 18 sampai 20 mg/kg dengan kecepatan tidak lebih dari 50 mg dengan infus atau bolus. Berdasarkan penelitian Randomized Controlled Trials (RCT) pada 570 pasien yang mengalami status epileptikus yang dibagi berdasarkan empat kelompok (pada tabel di bawah). hal ini akan mengakibatkan perlawanan atau agitasi pasien. Lorazepam 2. konsentrasi Diazepam plasma jatuh ke 20 persen dari konsentrasi maksimal. G. Dosis selanjutnya 5-10 mg/kg jika kejang berulang. Diazepam sangat larut dalam lemak dan akan terdistribusi pada depot lemak tubuh. Ketiga obat ini bekerja dengan peningkatan inhibisi dari g-aminobutyric acid (GABA) oleh ikatan pada Benzodiazepin-GABA dan kompleks Reseptor-Barbiturat.1 15 0. lidah tak dapat berfungsi untuk menrlan sehingga akan menyebabkan tersedak  Sesudah kejang berhenti. Mula kerja dan kecepatan depresi pernafasan dan kardiovaskuler (sekitar 10 %) dari Lorazepam adalah sama. Lorazepam (Ativan). Pemberian antikonvulsan masa kerja lama seharusnya dengan menggunakan Benzodiazepin. Obat-obat untu status epileptikus Lini pertama dalam penanganan status epileptikus menggunakan Benzodiazepin.

Larutan dekstrosa tidak digunakan untuk mengencerkan fenitoin.5 mg/kgBB 2-5 mg/kgBB 0.05-0.25-0.menggunakan jarum suntik yang besar diikuti dengan NaCl 0.9 % untuk mencegah lokal iritasi : tromboplebitis dan “purple glove syndrome”.3 mg/kg at<4 mg/jam 0.4mg/kg/jam 10 mg 10 mg/kgBB kecepatan <100 mg/min 15-18mg/kg kecepatan <50 mg/kg/min DOSIS DEWASA 10-20 mg at 2-5 mg/min 10-30 mg 8 mg/jam DOSIS ANAK 0.75 mg/jam 0.15-0.1-0.3 mg/kg 5-10 mg 0.5-0. karena akan terjadi presipitasi yang mengakibatkan terbentuknya mikrokristal OBAT Diazepam · · · · · · · · · CARA PEMBERIAN IV bolus Rektal IV infus IV bolus 4 mg Midazolam IM/Rektal IV bolus IV infus Buccal IV bolus 0.1 mg/kg Lorazepam 10 mg 15-20 mg/kg kecepatan <100 mg/min Phenobarbital Phenytoin · IV bolus/infus 20 mg/kg kecepatan <25 mg/min 39 .

Apakah pernah menderita sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran. 2) Riwayat kesehatan. Data Objektif. Data pada saat serangan dijumpai: 1) Perubahan pada tanda-tanda vital berupa peningkatan tekanan darah. dan emosi yang labil. pada usia berapa. Apakah klien terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau obat terlarang. Kadang-kadang klien / keluarga mengeluh anaknya prestasinya tidak baik dan sering tidak mencatat. 3) Perlukaan pada gusi dan lidah. Klien mengalami gangguan interaksi dengan orang lain / keluarga karena malu. ketidak berdayaan.merasa rendah diri. denyut nadi meningkat dan sianosis. Klien atau keluarga mengeluh anaknya atau anggota keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak bicara. pasien atau keluarga biasanya ketempat pelayanan kesehatan karena klien yang mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba disertai mulut berbuih. 3) Riwayat kesehatan keluarga. antara lain : 1) Keluhan Utama Untuk keluhan utama. Kapan klien mulai serangan. cedera otak operasi otak. tidak mempunyai harapan dan selalu waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan orang lain. kejang. 40 . Dimaksudkan untuk mendapatkan informasi kemungkinan masalah yang sama pada keluarga. antara lain: Dari pemeriksaan fisik didapat penurunan kekuatan otot. b. 4) Klien dapat mengeluhkan kelemahan/lelah dan kurang mampu melakukan aktivitas sehari-hari. 2) Inkontinensia urin dan fekal.Konsep Asuhan Keperawatan 1. Klien yang berhubungan dengan faktor resiko bio-psiko-spiritual. Data Subyektif. ada faktor presipitasi seperti suhu tinggi. kurang tidur. Frekuensi serangan. atau mengkonsumsi alkohol. Pengkajian Keperawatan a.

muntah. c. atonik. kehilangan kesadaran sesaat klien menangis. Apakah pada saat serangan gigi klien tertutup rapat atau terbuka. 6) Keadaan gigi. nyeri kepala. bingung. tonik. Apakah klien dapat dibangunkan selama atau setelah serangan ? 5) Distrakbilitas. bibir dan muka cianosis. Klien menggigit lidah. 41 . 4) Klien lupa atau sedikit ingat terhadap kejadian yang menimpa dirinya. mulut berbuih. 7) Gusi mengalami hiperplasi karena efek samping penggunaan Dilantin. salivasi dan perdarahan dari mulut. ada inkontinensia urin dan fekal. Deskripsi spesifik dari kejang harus mencakup beberapa data penting meliputi: 1) Awitan yakni serangan itu mendadak atau didahului oleh prodormal dan fase aura. gangguan bicara. Data setelah Serangan: 1) Setelah serangan tanda-tanda vital mungkin berubah. klonik. otot sakit. 4) Status kesadaran dan nilai kesadarannya. 2) Klien mengalami lethargi. kehilangan kesadaran/pingsan. disertai komponen motorik seperti kejang tonik klonik. apakah klien dapat memberi respon terhadap lingkungan.4) Ada riwayat nyeri. Hal ini sangat penting untuk membedakan apakah yang terjadi pada klien benar epilepsi atau hanya reaksi konversi. jatuh kelantai. dimana mulainya dan bagaimana kemajuannya. 6) Ada perlukaan/cedera. denyut jantung. 7) Aktivitas tubuh seperti inkontinensia. 5) Terjadi perubahan kesadaran/tidak. mata dan kepala bergerak memutarmutar pada satu posisi atau keduanya. pernafasan. 3) Aktivitas motorik mencakup apakah ekstrimitas yang terkena sesisi atau bilateral. 5) Mioklonik. 2) Durasi kejang berapa lama dan berapa kali frekuensinya. 3) Perubahan dalam gerakan misalnya hemiplegi/hemiparese sementara.

i. periode post iktal atau lupa terhadap semua pristiwa yang baru saja terjadi. Tidak pernah 2. Risiko cedera berhubungan dengan tipe kejang. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan perkembangan. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit kronis. 3) Kriteria hasil : a) Pantau faktor resiko perilaku dan lingkungan. Diagnosa keperawatan a. 1) NOC : Pengendalian Resiko. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian. h. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan konflik pengambilan keputusan. b) Mempersiapkan lingkungan yang aman (misalnya. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial. b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan aktivitas kejang. j. disfasia cedera komplikasi. Risiko isolasi berhubungan dengan perubahan status kesehatan. g. Diagnosa 1 : Risiko cedera berhubungan dengan tipe kejang. kelemahan. 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pencegahan jatuh selama 3x24 jam diharapkan pasien tidak mengalami cedera dan tetap tenang dengan seringnya pengendalian resiko skala 3. d) Mengidentifikasi risiko yang meningkatkan kerentanan terhadap cedera e) Orang tua akan mengenali resiko dan memantau kekerasan. c. disfagia. e. 9) Faktor pencetus seperti stress emosional dan fisik. penggunaan tikar karet). Intervensi a. Kerusakan memori berhubungan dengan hipoksia. c) Menghindari cedera fisik. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan keterbatasan paparan. baal atau semutan.8) Masalah yang dialami setelah serangan paralisis. 3. d. 2. f. Jarang 42 . Skala : 1.

f) Lindungi anak setelah kejang. Tidak ada 4) NIC : Mencegah Jatuh a) Pengelolaan jalan nafas. Ekstrem 2. Berat 3. b) Ajarkan batuk secara efektif. Skala : 1. d) Arahkan anak ke area aman. usia. b. e) Jangan membuat anak teragitasi. khususnya jauh dari jendela. atau sumber air.3. Ringan 5. Diagnosa 2 : Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial 1) NOC : Kontrol Aspirasi 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mencegah Jatuh selama 3x24 jam diharapkan jalan nafas pasien kembali efektif dengan seringnya memonitor aspirasi skala 2. Sedang 4. 43 . pengobatan dan defisit motorik / sensorik. alat pemainan. tangga. Kadang 4. Konsisten 4) NIC : Mencegah Jatuh a) Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan. c) Menyediakan makanan sesuai kemampuan menelan pasien. c) Posisikan 90 derajat sesuai kemampuan. b) Menghindari faktor risiko. b) Identifikasi faktor lingkungan yang memungkinkan risiko jatuh. d) Mengupayakan konsitusi cairan dan makanan. bicara dengan suara lembut dan sikap tenang. c) Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan bahaya. 3) Kriteria hasil : a) Mengidentifikasi faktor risiko. misalnya perubahan status mental. Sering 5.

b) Kaji fungsi neurologis untuk menentukan masalah pasien. c) Secara akurat mengingat secara tepat. ansietas. d) Mengungkapkan kemampuan yang lebih baik untuk mengingat. Diagnosa 3 : Kerusakan memori berhubungan dengan hipoksia 1) NOC : Orientasi Kognitif 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pelatihan Memori selama 3x24 jam diharapkan pasien tidak menunjukkan kerusakan memori dengan status orientasi kognitif skala 4. tahun. c. Jarang 3. Diagnosa 4 : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan aktivitas kejang 1) NOC : Citra Tubuh 44 . d) Bantu pasien untuk rileks untuk meningkatkan konsentrasi.d) Berikan oksigen sesuai kebutuhan. Tidak pernah 2. hari yang benar. d. Kadang 4. tempat sekarang. Sering 5. e) Berikan kesempatan pasien untuk konsentrasi seperti suatu permainan pasangan kartu yang sesuai. informasi saat ini dan lama. c) Beri label pada barang-barang. e) Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan untuk membersihkan sekresi. b) Menggunakan teknik untuk membantu memperbaiki memori. Konsisten 4) NIC : Pelatihan Memori a) Kaji depresi. Skala : 1. apakah kehilangan memori atau demensia. 3) Kriteria hasil : a) Mengidentifikasikan orang terdekat. bila diperlukan. dan musim. f) Berikan gambar pengingat memori. dan peningkatan stres yang mungkin memberikan kontribusi pada kehilangan memori.

e. Kadang 4. b) Identifikasi budaya. Kesesuaian antara realitas tubuh. ideal tubuh dan wujud tubuh. Mengidentifikasi kekuatan personal. d) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perhatian tentang hubungan personal yang dekat. Tidak pernah 2. 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Harga Diri selama 3x24 jam diharapkan harga diri pasien positif (pasien dapat meningkatkan harga dirinya) dengan status perkembangan menunjukkan skala 3 3) Kriteria hasil : a) 2 th : Mengindikasikan keinginan secara verbal. c. Skala : 1. dan usia dari orang penting bagi pasien yang menyangkut citra tubuh. Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.5 tahun: Masa Kanak-kanak Pertengahan (%-11 tahun). 45 . 1) NOC : Perkembangan Anak :2. Diagnosa 5 : Harga Diri Rendah berhubungan dengan perubahan perkembangan.4. ras. Jarang 3. Sering 5.2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pencapaian Citra Tubuh selama 3x24 jam diharapkan persepsi pasien terhadap dirinya positif dengan status citra tubuh skala 3 3) Kriteria hasil : a. b. berinteraksi dengan orang dewasa dalam permainan sederhana. d. dan Remaja (12-17 tahun). c) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan dan untuk berduka. jenis kelamin.3. Memelihara hubungan sosial yang dekat dan hubungan personal. agama. Konsisten 4) NIC : Pencapaian Citra Tubuh a) Tentukan bagaimana respon anak terhadap tubuhnya sesuai dengan tahap perkembangan.

Skala : 1. aggota keluarga. Tidak pernah 2. 1) NOC : Keterlibatan Sosial 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Sosialisasi selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat berinteraksi dengan lingkungan dan dapat diterima di lingkungan dengan status keterlibatan sosial menunjukkan skala 3. c) 4 th : Mampu menjelaskan aturan-aturan permainan interaktid bersama teman seusianya. c) Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien. 3) Kriteria Hasil : a) Melaporkan adanya interaksi dengan teman. e) Ajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan dan dukungannya terhadap perkembangan konsep diri yang positif pada anak. d) Beri penghargaan / pujian terhadap perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan. e) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial. tetangga. Diagnosa 6 : Resiko isolasi sosial berhubungan dengan gangguan psikologis. d) Mempertahankan hubungan pribadi yang dekat. Ekstrem 2.b) 3 th : mampu mengatakan nama pertamanya. b) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan c) Mulai berhubungan dengan orang lain. Tidak ada 4) NIC : Peningkatan Harga Diri a) Pantau pernyataan pasien tentang penghargaan diri. Berat 3. Jarang 46 . memainkan interaksi dengan anak seusianya. d) Mengembangkan hubungan satu sama lain. Ringan 5. b) Bantu pasien meningkatkan penilaian dirinya terhadap penghargaan diri. f. Sedang 4. Skala : 1.

b) Memberikan perlindungan dan perawatan kesehatan secara teratyr dan aseptik. Diagnosa 7 : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita penyakit kronik. b) Kurang stigma isolasi dengan menghormati martabat pasien. Skala : 1.3. c) Dukung hubungan dengan orang lain yang mempunyai ketertarikan dan tujuan sama d) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien. Kadang 4. Jarang 3. e) Berikan uji pembatasan interpersonal. 3) Kriteria hasil : a) Memberikan kebutuhan psikologi untuk anak. f) Dukung pasien untuk mengubah lingkungan. Sering 5. Konsisten 4) NIC : Peningkatan Integritas keluarga 47 . d) Stimulasi perkembangan emosi. Kadang-kadang 4. c) Stimulasi perkembangan kognitif. 1) NOC : Parenting 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Integritas Keluarga selama 3x24 jam diharapkan keluarga berfungsi secara efektif dengan seringnya melakukan peran sebagai orang tua yang ditunjukkan dengan skala 4. Konsisten 4) NIC : Peningkatan Sosialisasi a) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang berpengaruh pada perasaan isolasi sosial. seperti jalan-jalan dan menonton film g. keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi. Tidak pernah 2. e) Stimulasi perkembangan spiritual. Sering 5.

Sering 5. 48 . c) Berikan dorongan kepada orang tua untu menemani anak. Jarang 3. d) Ajari keterampilan merawat pasien yang diperlukan oleh keluarga. untuk mengurangi ansietas. c) Tentukan gangguan dalam jenis proses keluarga. permainan. d) Sediakan pengalihan melalui televise. e) Tidak menunjukkan perilaku agresif Skala : 1. 1) NOC : Kontrol Cemas 2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pengurangan ansietas selama 3x24 jam diharapkan kecemasan hilang atau berkurang dengan seringnya mengontrol cemas dengan skala 3) Kriteria hasil : a) Merencanakan strategi koping untuk situasi yang membuat stres. radio. b) Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Diagnosa8 : Cemas berhubungan dengan ancaman kematian / perubahan status kesehatan. treatmen dan prognosis. sesuaidengan kebutuhan. c) Manifestasi perilaku kecemasan tidak ada. f) Bantu keluarga berfokus pada anaknya dibanding dengan penyakitnya. b) Melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. b) Tentukan jenis hubungan keluarga. h. e) Ajari keluarga perlunya kerja sama dengan sistem sekolah untuk menjamin akses kesempatan pendidikan yang sesuai untuk penyakit kronik. d) Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada pengetahuan dan keterampilan yang baru. Tidak pernah 2.a) Kaji interaksi antara pasien dan keluarga. Kadang 4. Konsisten 4) NIC : Pengurangan Ansietas a) Sediakan informasi yang sesungguhnya meliputi diagnosis.

i. 3) Kriteria Hasil : a) Melaporkan adanya interaksi dengan teman. 1) NOC : Keterlibatan Sosial 2) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Sosialisasi selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat berinteraksi dengan lingkungan dan dapat diterima di lingkungan dengan status keterlibatan sosial menunjukkan skala 3. f) Jelaskan komplikasi kronis yang mungkin terjadi. b) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan c) Mulai berhubungan dengan orang lain. j. Skala: 1 : Tidak mengetahui 2 : Terbatas pengetahuannya 3 : Sedikit mengetahui 4 : Banyak pengetahuannya 5 : Intensif atau mengetahuinya secara kompleks 3) NIC : Menjelaskan proses penyakit a) Identifikasi etiologi yang memungkinkan. anggota keluarga. e) Menguraikan faktor penyebab untuk mencegah komplikasi. d) Diskusikan terapi atau pilihan pengobatan. 2) NOC : Knowledge: Proses Penyakit a) Menguraikan proses penyakit b) Menguraikan faktor risiko c) Menguraikan komplikasi d) Menguraikan tanda dan gejala penyakit. e) Jelaskan patofisiologi penyakit. b) Uraikan proses penyakit. Diagnosa10 : Resiko isolasi sosial berhubungan dengan gangguan psikologis. c) Uraikan tanda dan gejala penyakit. Diagnosa9 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan 1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Menjelaskan Proses Penyakit selama 3x24 jam diharapkan defisit pengetahuan dapat teratasi dengan status pengetahuan mengenai proses penyakit menunjukkan skala 4. d) Mengembangkan hubungan satu sama lain. 49 . tetangga.

keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi. f) Dukung pasien untuk mengubah lingkungan. Kadang 4. Konsisten 4) NIC : Peningkatan Sosialisasi a) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang berpengaruh pada perasaan isolasi sosial. Jarang 3. c) Dukung hubungan dengan orang lain yang mempunyai ketertarikan dan tujuan sama. Sering 5. Skala : 1. b) Kurang stigma isolasi dengan menghormati martabat pasien. e) Berikan uji pembatasan interpersonal.e) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial. seperti jalan-jalan dan menonton film 50 . d) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien. Tidak pernah 2.

51 . Petunjuk Tentang Penyakit. 1997 Rahman M. 2007. Edisi 3 Jilid 2. Kapita Selekta Neurologi Second Ed. Rosa M.1993 Sutjinigsih (1995). Ngastiyah. Jakarta . Jakarta: MediaAesculapius FKUI. Perawatan Anak Sakit. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya. Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak. 199 Manjoer. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Harsono (ED). Tumbuh kembang Anak. Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1986 Sacharian. Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba. 2000. Arif. Penerbit EGC. Jakarta. Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Prinsip Keperawatan Pediatrik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful