You are on page 1of 9
Tugas Resum Psikologi Keperawatan “ SIKAP dan PERILAKU” Dosen Pembimbing : TRI LESTARI HANDAYANI, M.Kep.,Sp.Mat. Oleh : Agil Syahrial 09060012 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013 A. PENGERTIAN Sikap ada bermacam-macam pendapat yang dikemukakan oleh ahli-ahli psikologi tentang pengertian sikap. Dunia Psikologi akan sedikit mengulas tentang apa sih yang dinamakan sikap? Seperti yang dikatakan oleh ahli psikologi W.J Thomas (dalam Ahmadi, 1999), yang memberikan batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif, yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek (Soekidjo N, 2003). Newcomb dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah merupakan “pre-disposisi” tindakan atau perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka. Sikap adalah suatu bentuk evaluasi / reaksi terhadap suatu obyek, memihak / tidak memihak yang merupakan keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya (Saifudin A, 2005). Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap obyek – obyek tertentu. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu. Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003) memberikan definisi sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Lebih lanjut Soetarno (1994) memberikan definisi sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain. Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah: 1. Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas. 2. Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain. 3. Orang lain yang dianggap penting . Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. 4. Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. 5. Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. 6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka. B. KOMPONEN SIKAP Sikap seseorang ditentukan oleh kepuasan yang dirasakan sesuai harapannya. Sikap (atitudes) konsumen adalah faktor penting yang akan mempegaruhi keputusan konsumen. Konsep sikap sangat terkait dengan konsep kepercayaan (belief) dan perilaku (behavior). Kemudian menurut tricomponent attitude model (schiffman dan kanuk,1994; dan Engel, blackwell dan Minardi ,1993) sikap terdiri atas tiga komponen: 1). Kognitif adalah pengetahuan dan persepsi konsumen, yang diperoleh melalui pengalaman dengan suatu obyek-sikap dan informasi dari berbagai sumber. Pengetahuan dan persepsi tersebut biasanya berbentuk kepercayaan (belief), artinya konsumen mempercayai bahwa suatu obyek sikap memiliki beberapa atribut dan perilaku yang spesifik mengarahkan kepada hasil yang spesifik. 2). Komponen afektif menggambarkan perasaan dan emosi seseorang terhadap suatu produk atau merek. Perasaan tersebut merupakan evaluasi menyeluruh terhadap objek sikap. Afek mengungkapkan penilaian konsumen kepada suatu produk apakah baik atau buruk, “disukai” atau “tidak disukai”. 3). Komponen konatif adalah komponen yang menggambarkan kecenderungan dari seseorang untuk melakukan tindakan tertentu yang berkaitan dengan objek sikap (produk atau merek tertentu). Komponen konatif dalam riset konsumen biasanya mengungkapkan keinginan membeli dari seseorang konsumen (intention to buy). Menurut Azwar (2005), komponen-komponen sikap adalah : 1 Kognitif Kognitif terbentuk dari pengetahuan dan informasi yang diterima yang selanjutnya diproses menghasilkan suatu keputusan untuk bertindak. 2 Afektif Menyangkut masalah emosional subyektif sosial terhadap suatu obyek, secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap suatu obyek. 3 Konatif Menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya. Tingkatan Sikap Berbagai tingkatan menurut Notoatmodjo (2003) tediri dari : 1 Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). 2 Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. 3 Menghargai (Valuting) Mengajak orang lain untuk mengerjakan/mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap. 4 Bertanggung jawab (Responsile) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi. C. KESESUAIAN SIKAP dan PERILAKU Setiap manusia harus selalu berusaha untuk mencapai kesesuaian antara sikap dan perilakunya, khususnya yang mengarah pada pembentukan perilaku yang berdasarkan pertimbangan moral. Pada umumnya siapa pun akan puas bila dapat mewujudkan perilakunya sesuai dengan sikapnya terhadap sesuatu. Orang yang senang menggambar atau bersikap positif terhadap aktivitas menggambar akan puas saat bisa mewujudkan kesenangannya itu dengan membuat lukisan indah. Sebaliknya, orang yang tidak menyetujui sesuatu, misalnya tindakan korupsi atau bersikap negatif terhadap korupsi, belum tentu dia bisa mewujudkan perilaku sesuai dengan sikapnya. Belum tentu dia benar-benar tidak melakukan tindakan korupsi. Ketidakberhasilan mewujudkan perilaku sesuai dengan sikap, dapat menimbulkan ketidakpuasan, tetapi juga mungkin tidak. Salah satu faktor penentunya adalah norma subjektif orang yang bersangkutan. Apabila dia memegang erat norma mengenai korupsi, kegagalannya untuk tidak melakukan tindakan korupsi akan menimbulkan ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri. Namun apabila dia tidak memegang erat norma mengenai korupsi, mungkin ada nilai-nilai lain yang lebih kuat, misalnya nilai ekonomi , maka dia tidak akan mengalami kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Menurut theory of planned behavior (teori perilaku yang direncanakan) yang dikemukakan oleh Izek AJzen, dinyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditampilkan karena alasan tertentu, yaitu bahwa orang tersebut berpikir tentang konsekuensi tindakannya dan mengambil keputusan secara hati-hati untuk mencapai hasil tertentu dan menghindari hal-hal yang lainnya. Berdasarkan teori tersebut, niat (intensi) merupakan komponen yang paling penting dalam membentuk perilaku, dan lebih penting daripada sikap. Niat sendiri merupakan hasil yang diperoleh dari gabungan tiga komponen, yaitu sikap terhadap tingkah laku tertentu ( attitude toward the behavior), norma subjektif (sujective norm) dan keyakinan mampu mengendalikan perilaku (perceived behavioral control). Sesuai dengan teori tersebut, hal ini dapat diterapkan untuk menjelaskan bagaimana terbentuknya perilaku yang direncanakan. Meski demikian teori ini tidak dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku-perilaku lain yang bersifat spontan. Berdasarkan gambaran tentang keterkaitan antara perilaku dengan beberapa komponennya seperti dikemukakan di atas, maka menjadi lebih jelas alasan sikap dan perilaku seseorang tidak selalu dapat seiring. Sikap seseorang terhadap perilaku tertentu, merupakan konsekuensi yang dihasilkan dari dua faktor, yaitu keyakinan mengenai konsekuensi perilaku tertentu dan penilaian terhadap akibat yang mungkin timbul. Tiap-tiap faktor ini dapat bervariasi antar indvidu dalam menentukan sikap terhadap perilaku tertentu. Contoh dua orang yang ama-sama meyakini bahwa penyelundupan BBM ke luar negeri dapat meningkatkan penghasilan. Yang satu menilai bahwa hal ini beresiko tinggi merugikan negara dan dapat membuahkan tuduhan subversif, sementara orang yang lainnya menilai bahwa hal itu sebagai peluang emas yang tidak terlalu mengandung resiko. Keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu mengendalikan atau mengatur perilaku merupakan komponen lain yang menentukan untuk mengembangkan niat dan perilaku tertentu. Seseorang dapat merasa lebih yakin mampu mengendalikan perilaku tertentu, sementara ia kurang yakin dapat mengendalikan perilaku lainnya. Keyakinan yang lebih kuat dalam mengendalikan atau mengatur perilaku tertentu, lebih menentukan kekuatan niat dan kemungkinan terwujudnya perilaku. Norma subjektif menurut Izek Ajzen adalah keyakinan seseorang mengenai apa yang harus dilakukannya menurut pikiran orang lain, beserta kekuatan motivasinya untuk memenuhi harapan tersebut. Untuk melakukan sesuatu yang penting, biasanya seseorang akan mempertimbangkan lebih dulu apa harapan orang lain ( orang-orang terdekat dan masyarakat) tehadap dirinya. Namun harapan-harapan orang lain terhadap diri seseorang tidak sama pengaruhnya, ada yang berpengaruh sangat kuat dan ada yang cenderung diabaikan. Harapan dari orang lain yang berpengaruh lebih kuat, lebih memotivasi orang yang bersangkutan untuk memenuhi harapan tersebut, akan lebih mendorong kemungkinan seseorang untuk bertingkah laku sesuai dengan harapan tersebut. Di muka telah dijelaskan bahwa ada tiga komponen yang berkombinasi menentukan niat (intensi) seseorang untuk menampilkan perilaku tertentu, yaitu sikap terhadap tingkah laku, norma subjektif dan keyakinan mampu mengendalikan perilaku. Selanjutnya adalah seberapa besar kekuatan niatlah yang menentukan terwujudnya perilaku. Apakah seseorang dapat mewujudkan perilaku tertentu, seperti melepaskan diri dari kebiasaan korupsi, kecanduan obat-obatan terlarang, kebiasaan berbohong dan lain-lain, dan membentuk perilaku yang lebih positif, terutama dapat dilihat dari kekuatan niatnya. Untuk mewujudkan niat yang kuat, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyadari diri. Bagaimanapun, sikap awal kita terhadap perilaku tertentu, apakah senang (setuju) atau tidak senang (tidak setuju), niat kita untuk membangun perilaku tertentu yang positif dapat diperkokoh dengan menyadari norma-norma agama yang pada dasarnya paling hakiki dalam melandasi perilaku kita sebagai orang yang bermartabat di hadapan Sang Pencipta. Untuk memperkuat niat harus diusahakan memperbesar keyakinanbahwa kita mampu mengendalikan perilaku kita agar sesuai dengan tujuan. Ini dapat dicapai melalui cara selalu berpikir positif terhadap diri kita sendiri setelah kita berusaha mengenali diri kita sendiri. D. SIKAP POSITIF dan NEGATIF Dalam pergaulan sehari-hari kita dapat menemukan dua sikap/perilaku, yaitu perilaku positif dan perilaku negatif. Orang yang memiliki sikap negatif umumnya perilakunya tidak menyenangkan dan membuat orang lain merasa tidak betah bersamanya. Ia cenderung merugikan orang lain. Sebaliknya orang yang memiliki sikap positif umumnya kehadirannya bersamanya. Menurut Heri Purwanto (1998:63), sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif: 1. Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu. 2. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci tidak menyukai obyek tertentu. Secara ringkas, sikap positif artinya perilaku baik yang sesuai dengan nilai-nilai dan normanorma kehidupan yang berlaku dalam masyarakat.Sedangkan masyarakat atau bahkan bertentangan. sikap negatif ialah sikap yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang berlaku dalam didambakan, menyenangkan, dan orang merasa betah bersamanya. Kehadirannya cenderung menguntungkan berbagai pihak. Sikap positif mendukung hidup Daftar Pustaka Soekidjo, Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Saifudin, Azwar. 2005. Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Heri, Purwanto. 1998. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.