Perbandingan Hukum Pidana Indonesia Dengan Saudi Arabia

A. Latar Belakang Masalah Perbandingan sistem hukum pidana di Indonesia dengan Saudi Arabia sangat berbeda. Di Indonesia terjadi Pluralisme hukum yang di sebabkan karena adanya berbagai jenis suku, adat kebudayaaan, dan bahasa. Kondisi pluralisme hukum yang ada di Indonesia menyebabkan banyak permasalahan ketika hukum dalam kelompok masyarakat diterapkan dalam hal tertentu atau saat terjadi konflik, sehingga ada kebingungan hukum yang manakah yang berlaku untuk individu tertentu dan bagaimana seseorang dapat menentukan hukum mana yang berlaku padanya. Kendala besar dalam menghadapi pluralisme hukum adalah kepastian hukum untuk menegakan keadilan. Dengan demikian sistem hukum di Indonesia masih menganut pluralisme hukum dan yang lebih dominan menganut mazhab legisme dalam penemuan hukum pidana Indonesia. Sedangkan sistem hukum pidana Saudi Arabia adalah hukum pidana islam tradisional sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an, hadits, dan kitab-kitab fiqh yang materinya mencakup hudud qisas/diyat, ta’zir dan pidana rajam sudah diganti dengan eksekusi pidana mati.

B.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan disajikan penulis dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perbandingan hukum pidana antara Indonesia dan Saudi Arabia?

C. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui perbandingan hukum pidana antara Indonesia dan Saudi Arabia.

A. SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA

1. DASAR-DASAR HUKUM PIDANA DI INDONESIA Sistem peradilan Indonesia berdasarkan sistem-sistem, undang-undang dan lembaga-lembaga yang diwarisi dari negara Belanda yang pernah menjajah bangsa Indonesia selama kurang lebih tiga setengah abad. Walaupun bertumpu pada sistem Belanda, hukum pidana Indonesia dapat dipisahkan dalam dua kategori, yaitu hukum pidana acara dan hukum pidana materil. Hukum pidana acara dapat disebut dalam Bahasa Inggris sebagai “procedural law” dan hukum pidana materil sebagai “substantive law”. Kedua kategori tersebut dapat kita temui dalam Kitab masing-masing yaitu, KUHAP (Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana) dan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

2. ACARA PERSIDANGAN PIDANA DI INDONESIA

2) Penyidikan Suatu rangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan barang bukti. karena apabila eksepsi ini diterima oleh PN. maka pokok perkara tidak perlu diperiksa dan diputus. terutama keadaan yang meringankan dan memberatkan kesalahan terdakwa. c. Ekspesi / tangkisan / keberatan Alat pembelaan dengan tujuan utama untuk menghindarkan diadakannya putusan tentang pokok perkara. b. Keterangan (saksi) ahli/Espertise adalah keterangan pihak ketiga yang objektif untuk memperjelas dan member kejernihan dari perkara yang disidangkan serta untuk menambah pengetahuan hakim dalam penyeesaian perkara. 2) Penuntutan Tindakan JPU untuk melimpahkan perkara pidana ke PN yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam hukum acara pidana dengan permintaan supaya diperiksa oleh hakim di sidang pengadilan. Keterangan saksi dan keterangan ahli 1. Keterangan ahli diberikan sesuai dengan keahlian dari ahli tersebut · Seluruh keterangan saksi dan keterangan {saksi ahli di muka persidangan berada di bawah sumpah (alat bukti yang sah)} Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan dalam persidangan tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia alami dan ia ketahui sendiri d. . Requisitoir /tuntutan jaksa Tuntutan JPU sebagai kesimpulan pemeriksaan dimuka persidangan yang diajukan setelah smua saksi dan ahli-ahli didengar serta surat-surat yang berguna sebagai alat bukti dibacakan dan dijelaskan kepada terdakwa. dengan bukti tersebut membuat terang tentang kejahatan atau pelanggaran yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Dakwaan Surat dari Penuntut Umum yang menunjuk atau membawa suatu perkara pidana ke pengadilan apabila cukup alasan untuk mengadakan penuntutan terhadap tersangka yang memuat peristiwaperistiwa dan keterangan-keterangan mengenai Locus serta Tempus dimana perbuatan tersebut dilakukan. dan keadaan-keadaan terdakwa melakukan perbuatan tersebut.1) Penyelidikan Merupakan suatu rangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya penyidikan lebih lanjut. Keterangan saksi adalah keterangan yang diberikan di muka persidangan mengenai apa yang saksi lihat dan dengar sendiri 2. 3) Sidang pengadilan : a.

· Upaya hukum biasa : 1) Naik Banding (revisi) ke Pengadilan Tinggi (PT) Upaya hukum terhadap Pengadilan Tingkat ke 2 (dua)/Pengadilan Tinggi (PT) yang mengulangi pemeriksaan baik mengenai fakta-faktanya maupun mengenai penerapan hukum atau undangundangnya. · Latar belakang daripada upaya hukum : Karena putusan itu tidak luput dari kekeliruan atau kekhilafan. replik jaksa dan duplik terdakwa / penasehat hukum . 2.Replik JPU 1. 2. putusan majelis hakim Menurut KUHAP ada 3 (tiga) macam putusan pengadilan. maka JPU diberikan kesempatan oleh hakim untuk mengajukan replik secara tertulis. 4) Upaya Hukum Terhadap Putusan Pengadilan Negeri · Upaya Hukum : Hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama. Putusan yang mengandung pelepasan terdakwa dari segala tuntutan hukum (onstlag van rechtvervolging). yaitu : 1. . Duplik tersebut diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan turunannya kepada pihakpihak yang berkepentingan. Putusan yang mengandung penghukuman terdakwa.e. Setelah pembelaan/pledoi penasehat hukum dibacakan. 2. f. Replik tersebut diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan turunannya kepada pihakpihak yang berkepentingan. Putusan yang mengandung pembebasan terdakwa (vrijspraak). g. oleh karena itu demi kebenaran dan keadilan setiap putusan hakim dimungkinkan untuk diperiksa ulang agar kekeliruan putusan tersebut dapat diperbaiki.Duplik Terdakwa / Penasehat Hukum 1. 3. bahkan tidak mustahil memihak. Duplik ini diajukan secara tertulis dan dibacakan oleh pansehat hukum dipersidangan terhadap replik JPU. 2) Kasasi (Pembatalan) ke Mahkamah Agung (MA) . pledoi /pembelaan jaksa Setelah JPU membacakan requisitoirnya maka terdakwa / penasehat hukumnya mengajukan pledoinya.

3. dalam Pasal 10 KUHP ditentukan macam-macam hukuman yang dapat dijatuhkan. dapat diajukan Kasasi oleh Jaksa Agung. Hukuman penjara sementara minimal 1 tahun. seperti Belanda. 3.Upaya hukum yang dilakukan ke Mahkamah Agung sebagai pengawas tertinggi atas putusanputusan pengadilan lain. Hukuman tutupan. kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum. tetapi di Indonesia sendiri hukuman mati ini kadang masih diberlakukan untuk beberapa hukuman walaupun masih banyaknya pro-kontra terhadap hukuman ini. Dalam hal ini terpidana boleh memilih sendiri antara denda dengan kurungan. Hukuman kurungan. Bedanya hukuman kurungan dengan hukuman penjara adalah pada hukuman kurungan terpidana tidak dapat ditahan diluar tempat daerah tinggalnya kalau ia tidak mau sedangkan pada hukuman penjara dapat dipenjarakan dimana saja. tentang hukuman mati ini terdapat negara-negara yang telah menghapuskan bentuknya hukuman ini. 2. Maksimum kurungan pengganti denda adalah 6 Bulan 5. yaitu Terhadap semua putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dari pengadilan selain MA. Biasanya terhukum dapat memilih antara hukuman kurungan atau hukuman denda. pekerjaan paksa yang dibebankan kepada terpidana penjara lebih berat dibandingkan dengan pekerjaan yang harus dilakukan oleh terpidana kurungan dan terpidana kurungan mempunyai Hak Vistol (hak untuk memperbaiki nasib) sedangkan pada hukuman penjara tidak demikian. terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan PK ke MA. MACAM-MACAM SANKSI/HUKUMAN PIDANA DI INDONESIA Mengenai hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah bersalah melanggar ketentuan-ketentuan dalam undang-undang hukum pidana. Hukuman denda. Hukuman penjara. Ø Hukuman Tambahan . · Upaya Hukum Luar Biasa 1) Kasasi Demi Kepentingan Hukum. hukuman ini dijatuhkan berdasarkan alasan-asalan politik terhadap orangorang yang telah melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara oleh KUHP. yaitu sebagai berikut : Ø Hukuman-Hukuman Pokok 1. Hukuman mati. hukuman ini kondisinya tidak seberat hukuman penjara dan dijatuhkan karena kejahatan-kejahatan ringan atau pelanggaran. 4. 2) Peninjauan Kembali (PK) Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap terhadap putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Terpidana wajib tinggal dalam penjara selama masa hukuman dan wajib melakukan pekerjaan yang ada di dalam maupun di luar penjara dan terpidana tidak mempunyai Hak Vistol. hukuman penjara sendiri dibedakan kedalam hukuman penjara seumur hidup dan penjara sementara.

Memilih dan boleh dipilih pada pemilihan yang dilakukan karena undang-undang umum. Kekuasaan bapak. SISTEM PERADILAN SAUDI ARABIA . yang semuanya atas biaya si terhukum. 3) Pengumuman keputusan hakim.dan pengampuan atas anaknya sendiri. 5. Jadi cara-cara menjalankan pengumuman putusan hakim dimuat dalam putusan (Pasal 43 KUHP). maka barang yang dirampas itu adalah barang hasil kejahatan atau barang milik terpidana yang dirampas itu adalah barang hasil kejahatan atau barang milik terpidana yang digunakan untuk melaksanakan kejahatannya. (3) Hukuman perampasan itu dapat juga dijatuhkan atsa orang yang bersalah yang oleh hakim diserahkan kepada pemerintah. Biasanya ditentukan oleh hakim dalam surat kabar yang mana. tetapi dalam hal-hal yang telah ditentukan oleh undang-undang. Menjadi penasehat atau wali. 3. 2) Penyitaan barang-barang tertentu. Hukuman tambahan ini dimaksudkan untuk mengumuman kepada khalayak ramai (umum) agar dengan demikian masyarakat umum lebih berhati-hati terhadap si terhukum. Melakukan pekerjaan tertentu. Karena suatu putusan perkara mengenai diri terpidana. ialah 1. 4. 6. perwalian . atau wali pengawas atau pengampu atau pengampu pengawas atas orang lain yang bukan ankanya sendiri. (2) Dalam hal menjatuhkan hukuman karena melakukan kejahatan tidak dengan sengaja atau karena melakukan pelanggaran dapat juga dijatuhkan perampasan. atau berapa kali. boleh dirampas. Hal ini diatur dalam pasal 39 KUHP yang berbunyi: (1) Barang kepunyaan si terhukum yang diperolehnya dengan kejahatan atau dengan sengaja telah dipakainya untuk melakukan kejahatan.Hukuman tambahan tidak dapat dijatuhkan secara tersendiri melainkan harus disertakan pada hukuman pokok. Masuk balai tentara. hukuman tambahan tersebut antara lain : 1) Pencabutan hak-hak tertentu. Menjabat segala jabatan atau jabatan tertentu. 2. Hakim berkuasa memecat seorang pegawai negeri dari jabatannya apabila dalam undang-undang umum ada ditunjuk pembesar lain yang semata-mata berkuasa melakukan pemecatan itu. tetapi hanyalah atas barang yang telah disita. yang boleh dicabut dalam putusan hakim dalam hal yang ditentukan dalam kitab undang-undang ini atau dalam undang-undang umum lainnya. B. Hal ini diatur dalam pasal 35 KUHP yang berbunyi: Hak si bersalah.

Dengan demikian perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup beribadahnya kepada Allah itu dapat disederhanakan dalam dua kategori. pada dasarnya mengikat umat Islam seluruh dunia dimanapun berada. 3) Firman Allah swt. dengan cara tuntutan keharusan yang menunjukkan hukum wajib melakukan shalat dan zakat. Terkait dengan susunan tertib Syari'at. maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. AlMaidah (5): 2+. yaitu apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara' dan perkara yang masuk dalam kategori Furu' Syara'. Al-Isra' (17): 32]. Syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini. dengan cara keharusan yang menunjukkan hukum haram berbuat zina.” *QS. Contoh hukum syara’. yang penetapannya dengan cara tuntutan (thalab). demikian pula dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya maka umat Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. . “Dan janganlah kamu mendekati zina!” *QS. bukan pilihan (takhyir). “Dan apabila kamu telah bertahallul (bercukur).1. Hukum Syara’ adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh titah Allah yang ditujukan kepada manusia. Al-Muzzamil (73): 20]. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah ayat 101 yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.. Sifatnya. Jika keadaan darurat itu berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syari'at yang berlaku. Selain berisi hukum dan aturan. atau wadha’. kecuali dalam keadaan darurat. maka berburulah. Oleh sebagian penganut Islam. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan meninggalkan. · Asas Syara' Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadits. sejak kerasulan Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman. “Tegakkahlah shalat dan berikanlah zakat!” *QS. Al Quran Surat Al Ahzab ayat 36 mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatu perkara. dan keadaan tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya. Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang memungkinkan umat Islam tidak mentaati Syari'at Islam... Ayat ini menunjukkan suatu hukum syara’ boleh berburu sesudah tahallul (lepas dari ihram dalam haji). ialah keadaan yang terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin. DASAR-DASAR HUKUM SAUDI ARABIA Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat manusia. baik Muslim mahupun bukan Muslim. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan berbuat. 2) Firman Allah swt. kedudukannya sebagai Pokok Syari'at Islam dimana Al Quran itu Asas Pertama Syara' dan Al Hadits itu Asas Kedua Syara'. Syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Orang mukallaf boleh memilih antara berbuat berburu atau tidak. dari beberapa firman Allah dalam Al-Quran. 1) Firman Allah swt.

“Pembunuh tidak bisa mewarisi sesuatu. darah. Azimah adalah suatu hukum asal yang tidak pernah berubah karena suatu sebab dan uzur. b) Bersabda Rasulullah saw.” *QS. Sumber-sumber Hukum islam : a) Al-Qur'an Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman (Saba' QS 34:28). “Pencuri lelaki dan wanita. bukan musafir. c) Hukum yang menunjukkan boleh pilih (mudah): “Apabila telah ditunaikan shalat. Al-Maidah (5): 38]. tidak menerima shalat yang tidak dengan bersuci. AlQuran merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah diturunkan ke dunia. b) Hukum yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan: “Janganlah di antara kamu mengolokolok kaum yang lain. 1. “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi. 2. At-Taubah (9): 103+. Hukum taklifi terbagi menjadi dua. Dalam upaya memahami isi Al Quran dari waktu ke waktu telah berkembang tafsiran tentang isi-isi Al-Qur'an namun tidak ada yang saling bertentangan.” *QS. Contoh: a) Hukum yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat: “Ambilah sedekah dari sebagian harta mereka!” *QS. Sebagai sumber Ajaran Islam juga disebut sumber pertama atau Asas Pertama Syara'.Wadha’ adalah sesuatu yang diletakkan menjadi sebab atau menjadi syarat. dan daging babi. maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat.” *QS. “Allah swt. An-Nisa' (4): 101]. “Diharamkan bagimu memakan bangkai. Misalnya.” *QS. a) Perintah Allah swt. Seperti shalatnya orang yang ada di rumah. yaitu Hukum Taklifi dan Hukum Wadh’i.” *QS. “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Al-Maidah (5): 3].” Hadits ini menunjukkan bahwa bersuci adalah dijadikan syarat untuk shalat.” *QS. atau boleh pilih antara berbuat dan meninggalkan. yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. yaitu . Al-Hujurat (49): 11+. b) Al Hadist . maka bertebaranlah kamu di muka bumi. atau menjadi pencegah terhadap yang lain. Al-Imran (3): 97]. c) Sabda Rasulullah saw. Al-Jumu'ah (62): 10+. atau tuntutan untuk meninggalkan. Ayat ini menunjukkan bahwa pencurian adalah dijadikan sebab terhadap hukum potong tangan. potonglah tangan keduanya. Rukhshah adalah suatu hukum asal yang menjadi berubah karena suatu halangan (uzur).” Hadits ini menunjukkan bahwa pembunuhan adalah pencegah seorang pembunuh mewarisi harta benda si terbunuh... Dari keterangan-keterangan di atas. kita paham bahwa hukum syara’ dibagi menjadi dua. 1) Hukum taklifi Hukum taklifi adalah sesuatu yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat. Seperti shalatnya orang musafir.

Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat menerima sebagai peraturan /perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya. tabrakan mobil. kecelakaankecelakaan. Khalifah kedua yaitu Umar Ibnu Al Khattab (Amir kaum muslimin antara tahun 634-644 M) adalah orang pertama yang membuat penjara dan rumah tahanan di Mekkah. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur'an. Perkara atau masalah yang masuk dalam furu' syara' ini juga disebut sebagai perkara ijtihadiyah. Keputusan-keputusan lain mungkin hanya bersifat menyarankan atau membantu jika diperlukan (yang dilakukan oleh hakim ketua). Kedudukannya sebaga Cabang Syari'at Islam. muslim atau non muslim. Qodli ‘Aam: bertanggung jawab untuk menyelesaikan perselisihan ditengah-tengah masyarakat. hanya ada satu hakim yang bertanggung jawab terhadap berbagai kasus pengadilan. mencuri di pasar. . Tidak ada sistem dewan juri dalam Islam. dsb. Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad telah wafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada beliau tentang suatu hukum namun hal-hal ibadah tidak bisa diijtihadkan. yang menggangu masyarakat luas. Hukuman-hukuman dalam Islam hanya bisa dilakukan apabila perbuatan tersebut terbukti 100% secara pasti dan kondisi yang relevan dapat ditemukan (misal ada 4 saksi untuk membuktikan perzinahan). laki-laki atau perempuan. Dia memiliki otoritas untuk menjatuhkan keputusan berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Qodli Muhtasib: bertanggung jawab menyelesaikan perselisihan yang timbul diantara ummat dan beberapa orang. Dibawah sistem peradilan (Islam). Qodli Madzaalim: yang mengurusi permasalahan antara masyarakat dengan pejabat negara. misalnya berteriak dijalanan. dsb. yaitu: 1. misalnya masalah sehari-hari yang terjadi didarat. Dia dapat memecat para penguasa atau pegawai pemerintah termasuk khalifah. 2. Nasib seorang tidak diserahkan kepada tindakan dan prasangka ke-12 orang yang bisa saja keliru karena bukan saksi dalam kasus tersebut dan bahkan mungkin pelaku kriminal itu sendiri. 2. terdakwa dan orang yang dituduh memiliki hak menunjuk seorang wakil (proxy). 3. setiap orang. jika masih ada keraguan tentang peristiwa-peristiwa tersebut maka seluruh kasus akan dibuang. Ada 3 macam hakim dalam Islam. Beberapa macam ijtihad antara lain : · Furu' Syara' Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist. c) Ijtihad Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis. ACARA PERSIDANGAN DI SAUDI ARABIA Dalam peradilan Hukum Islam.Al hadist adalah perkataan dan perbuatan dari Nabi Muhammad.

berbicara mengkritiknya jika pengadilan telah melakukan sejumlah pelanggaran terhadapnya. 4. . Dibawah sistem Islam. 3. dia boleh memaafkan tindak kejahatan seperti pembunuhan. Tidak diragukan dari segi barangnya (artinya pencuri tersebut tidak berhak mengambil misalnya uang dari harta milik umum). Selain itu. Hukuman-hukuman Islami akan dilaksanakan tanpa penundaan dan keraguan. kejahatan fisik.Tidak ada perbedaan antara pengadilan perdata dengan kriminal seperti yang kita lihat sekarang di negeri-negeri Islam seperti di Pakistan dimana sebagian hukum Islam dan sebagian hukum kufur keduanya diterapkan. Hak individu.25 gr emas. yaitu: 1. 7. Setiap orang berhak menempatkan pemimpinnya di pengadilan. Bukan berupa makanan (jika pencuri itu lapar).25 dinar atau senilai 4. Kehormatan seorang warga negara dipercayakan kepada Majlis Ummah. Barangnya halal secara alami (misal: bukan alkohol). Khusus untuk hukum hudud. Di sepanjang 1300 tahun aturan Islam diterapkan. Barang yang dicuri tidak berasal dari keluarga pencuri tersebut. Sebagaimana ketika seorang wanita pada masa khalifah Umar Ibnu Al Khattab mengoreksi kesalahan yang dilakukan Umar tentang nilai mahar. Dipastikan dicuri dari tempat yang aman (terkunci). merupakan hak Allah. Tidak seorangpun akan dihukum kecuali oleh peraturan pengadilan. murtad (hukuman mati). 6. 2) Al Jinayat. Hak masyarakat. seperti perbuatan zina (100 cambukan). seseorang yang dirugikan dalam suatu kejahatan mempunyai hak untuk memaafkan terdakwa atau menuntut ganti rugi (misal qishas) untuk suatu tindak kejahatan. 3) At Ta’zir. Ada saksi (yang tidak kontradiksi atau salah dalam kesaksiannya). perkara-perkara yang mempengaruhi kehidupan masyarakat umum sehari-hari seperti pengotoran lingkungan. Al-Qur`an dan As-Sunnah (dan segala sesuatu yang berasal dari keduanya) sebagai rujukannya. yaitu: 1) Hudud. mencuri di pasar. hanya ada sekitar 200 orang yang tangannya dipotong karena mencuri. Hukum potong tangan dalam Islam hanya akan diterapkan apabila memenuhi 7 persyaratan. sarana (alat-alat) penyiksaan tidak diperbolehkan. 3. Nilai barang yang dicuri harus mencapai 0. Hak Allah SWT. Negara Islam hanya akan menggunakan sumber-sumber hukum Islam yakni. 2. MACAM-MACAM SANKSI HUKUMAN PIDANA DI SAUDI ARABIA Ada 4 kategori hukuman dalam sistem peradilan Islam. kejadin-kejadian pencurian sangat jarang terjadi. Hukuman atas tuduhan kepada muslim lain yang belum tentu berdosa dengan tanpa menghadirkan 4 orang saksi yang memperkuat pernyataan tersebut adalah berupa 80 kali cambukan. 5.

hukum modern bisa dibuat dan dirubah sesuai dengan keperluan. karena tidak mengenal sakralitas apapun. . Sistem peradilan Indonesia mengenal adanya upaya hukum dan Saudi Arabia tidak ada. 3.4) Al Mukhalafat. 2. BAB III PENUTUP Dari paparan di atas dapat disimpulkan diantaranya : 1. Hak negara. perkara-perkara yang mempengaruhi kelancaran tugas negara misal melanggar batas kecepatan. Bahwa sistem hukum pidana di Indonesia berasal dari KUHP yang berasal dari Belanda. sedangkan negara Saudi Arabia berasal dari ijtihad Hadits dan Al Qur’an. Sedangkan sistem hukum pidana di Saudi Arabia harus sesuai dengan sumbernya. Sanksi pelaku dalam tindak pidana di Indonesia fleksibel dan mampu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful