Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai

panjang. Dua jenis asam lemak yang paling dominan dalam minyak sawit yaitu asam palmitat, C16:0 (jenuh), dan asam oleat, C18:1 (tidak jenuh). MES merupakan salah satu kelompok surfaktan anionik yang paling banyak digunakan. Surfaktan ini dapat disintesis dari minyak nabati yaitu minyak sawit.

surfaktan

Surfaktan (surface acting agent) merupakan senyawa organik yang dalam molekulnya memiliki sedikitnya satu gugus hidrofilik dan satu gugus hidrofobik. Apabila ditambahkan ke suatu cairan pada konsentrasi rendah, maka dapat mengubah karakteristik tegangan permukaan dan antarmuka cairan tersebut. Antarmuka adalah bagian dimana dua fasa saling bertemu/kontak. Permukaan yaitu antarmuka dimana satu fasa kontak dengan gas, biasanya udara.

Ekor : Hidrofobik (grup nonpolar) Bersifat hidrofobik dalam media air Bersifat hidrofilik dalam media hidrokarbon

Kepala : Hidrofilik (grup polar) Bersifat hidrofilik dalam media air Bersifat hidrofobik dalam media hidrokarbon

MES merupakan salah satu kelompok surfaktan anionik yang paling banyak digunakan. Surfaktan ini dapat disintesis dari minyak nabati yaitu minyak sawit. Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Dua jenis asam lemak yang paling dominan dalam minyak sawit yaitu asam palmitat, C16:0 (jenuh), dan asam oleat, C18:1 (tidak jenuh).

diantaranya yaitu: 1) Pemakaian energi sedikit karena membutuhkan suhu dan tekanan lebih rendah dibandingkan dengan asam lemak. gliserol monostearat. proses pemecahan lemak menghasilkan gliserin yang masih mengandung air lebih dari 80%.Dalam rangka mengantisipasi melimpahnya produksi CPO (Minyak Sawit). sehingga membutuhkan energi yang lebih banyak. maka diperlukan usaha untuk mengolah CPO menjadi produk hilir. 5) dalam memproduksi alkanolamida. contohnya adalah metil ester yang sekarang menjadi salah satu bahan dalam membuat surfaktan MES (Metil Ester Sulfonat). gliserin dan turunan-turunannya. sedangkan asam lemak. 3) lebih banyak menghasilkan hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin melalui reaksi transesterifikasi kering sehingga menghasilkan konsentrat gliserin. oleh karena itu proses pembuatan metil ester menggunakan peralatan yang terbuat dari karbon steel. surfaktan (salah satunya surfaktan Metil Ester Sulfonat). Produk olahan dari CPO dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu produk pangan dan non pangan. selain itu metil ester saat ini telah digunakan untuk membuat minyak diesel sebagai bahan bakar alternatif. Sifat Fisik Kimia Produk Surfaktan Metil Ester Sulfonat termasuk golongan surfaktan anionik. Struktur kimianya dapat terlihat pada gambar berikut. . Metil ester dihasilkan melalui reaksi kimia esterifikasi dan transesterifikasi. Asam lemak metil ester mempunyai peranan utama dalam industri oleokimia. asam lemak. Produk non pangan terutama oleokimia yaitu ester. metil ester-sulfonat. sedangkan asam lemak bersifat korosif sehingga membutuhkan peralatan stainless steel yang kuat. Produk olahan CPO yang merupakan non pangan diantaranya adalah oleokimia. alkanolamida. yaitu surfaktan yang bermuatan negatif pada gugus hidrofiliknya atau bagian aktif permukaan. Perusahaan Lion of Japan bahkan telah menggunakan metal ester untuk memproduksi sabun mandi yang berkualitas. surfaktan. Metil ester mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat kimianya lebih stabil dan non korosif. Salah satu produk turunan oleokimia adalah ester. 2) Peralatan yang digunakan murah. ester dapat menghasilkan superamida dengan kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam lemak yang menghasilkan amida dengan kemurnian hanya 65-70%. Metil ester digunakan sebagai senyawa intermediate untuk sejumlah oleokimia yaitu seperti fatty alcohol. dan asam lemak lainnya. 6). Pengolahan CPO menjadi produk hilir memberikan nilai tambah tinggi. Produk pangan terutama minyak goreng dan margarin. Metil ester bersifat non korosif dan metil ester dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah. A. Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam lemak. 4) metil ester lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan lebih stabil terhadap panas. gliserin.

. tahap netralisasi. sedangkan MES yang mempunyai ikatan atom karbon C16-C18 biasa digunakan untuk detergen bubuk dan cair B. Produksi Metil Ester Sulfonat Produksi metil ester sulfonat dalam skala industri terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu tahap sulfonasi. tahap pemucatan.MES dari minyak nabati dengan ikatan atom karbon C10. C12. C14 biasa digunakan untuk light duty diwashing detergent. dan tahap pengeringan.

Air pendingin ini mengalir pada bagian shell dari reaktor. Efek samping dari MES digestion adalah penggelapan warna campuran asam sulfonat secara signifikan. Tahap Sulfonasi MES diproduksi melalui proses sulfonasi metil ester dengan campuran SO3/udara. Reaksi pengontakkan SO3 dan bahan organik terjadi di dalam suatu falling film reactor. Reaksi bleaching lalu dilanjutkan dengan metanol reflux dan pengontrolan temperatur yang presisi. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan temperatur reaksi akibat reaksi eksoterm yang berlangsung di dalam reaktor. Sementara itu. MES harus dilewatkan kedalam digester yang memilki temperature konstan (~80oC) selama kurang lebih satu jam.1. dimana dicampurkan dengan laju alir metanol yang terkontrol dan hidrogen peroksida sesudahnya. Tahap Pemucatan (Bleaching) Untuk mengurangi warna sampai sesuai dengan spesifikasi. gas-gas yang meninggalkan reaktor menuju sistem pembersihan gas buangan (waste gas cleaning system). Agar campuran MESA mencapai waktu yang tepat dalam reaksi sulfonasi yang sempurna. digested MES harus diukur didalam sistem kontinu acid bleaching. Proses pendinginan dilakukan dengan air pendingin yang berasal dari cooling tower. 2. . Gas dan organik mengalir di dalam tube secara co-current dari bagian atas reaktor pada temperatur 45oC dan keluar reaktor pada temperatur sekitar 30oC.

dengan menggunakan teknologi yang tepat. Tahap Pengeringan Selanjutnya. mempertahankan komposisi dan pH dari pasta secara otomatis. . Oleh karena itu. pasta netral MES dilewatkan ke dalam sistem TurboTubeTM Dryer dimana metanol dan air proses yang berlebih dipisahkan untuk menghasilkan pasta terkonsentrasi atau produk granula kering MES. Tahap Netralisasi Acid ester yang terbentuk dalam proses sulfonasi bersifat tidak stabil dan mudah terhidrolisis. pencampuran yang sempurna antara asam sulfonat dan aliran basa dibutuhkan dalam proses netralisasi untuk mencegah lokalisasi kenaikan pH dan temperatur yang dapat mengakibatkan reaksi hidrolisis yang berlebih.3. 4. Langkah akhir adalah merumuskan dan menyiapkan produk MES dalam komposisi akhir. dimana produk ini tergantung pada berat molekul MES dan target aplikasi produk. batangan semipadat atau granula padat. baik itu dalam bentuk cair. Neutralizer beroperasi secara kontinu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful