UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA FAKULTAS KEDOKTERAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RS. PUSAT ANGKATAN UDARA Dr.

ESNAWAN ANTARIKSA ------------------------------------------------------------------------------------------------------------STATUS I. Identitas pasien a. Nama b. Umur c. Alamat d. Status e. Pekerjaan : An. Arsa : 7 bulan : Jl. Raya Ceger RT 004 RW 05, Jakarta ::-

f. Jenis kelamin : laki-laki g. Agama h. Dirawat : Islam : 4 November 2012

Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 27 October 2012 pada pukul 15.00

II.

Keluhan utama Pasien mengalami kejang dan demam

III.

Riwayat penyakit sekarang Pasien mengalami kejang dan demam akibat pernah mengalami kecelakaan lalu lintas 2 bulan SMRS dan kepala pasien mengalami benturan. Pasien langsung dirujuk ke RSCM dan akhirnya disarankan untuk konsultasi dengan dokter bedah saraf RSAU.

1

IV.

Riwayat penyakit dahulu Riwayat trauma kepala (+), riwayat alergi obat (-), alergi makanan (-), riwayat asma(-), riwayat keracunan (-), penyakit jantung bawaan(-), keganasan (-).

V.

Riwayat penyakit keluarga Riwayat keganasan dalam keluarga disangkal, penyakit menular disangkal, riwayat DM (-), HT (-).

VI.

Riwayat kebiasaan -

VII.

Anamnesis Tinjauan menurut Sistem a. Umum b. Kulit c. Kepala d. Mata e. Leher f. Thorax i. Paru : Pasien tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis : Tidak ada perubahan warna kulit : Normocephali, distribusi rambut merata, tidak mudah rontok : Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, reflex pupil (+) : KBG dan tiroid TTM : : suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

ii. Jantung: S1 – S2 normal, regular, murmur (-), Gallop (-) g. GI Tract h. Abdomen i. Sal. Kemih j. Extremitas : Mual (-), muntah (-) : Supel, datar, BU (+) N, NT (-) : Tidak ada gangguan berkemih : Akral hangat, oedem (-)

2

Paru b. BU (+) normal. Leher 3. tonsil T1/T1 3 . wheezing -/: S1 – S2 normal. regular. regular. SI -/-. deformitas (-) : Distribusi rambut merata. NT (-). Mulut tenang 2. Thorax a.PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan Berat badan : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 136/100 mmHg : 104x/menit. Jantung 4. Telinga e. Ekstremitas : suara nafas vesikuler. equal. Abdomen 5. Hidung d. Gallop (-) : supel. tidak mudah rontok : CA -/-. teratur : 8 kg STATUS GENERALIS 1. Kepala a. pupil anisokor 5mm/2mm : simetris. kaku kuduk (-) : Normocephali. serumen (-) : simetris. sianosis (-). lidah tidak kotor. murmur (-). ronki -/-. tidak oedem : KGB dan tiroid tidak teraba membesar. deviasi septum (-) : simetris. Rambut b. Timpani : Akral hangat (+) kedua lengan dan tungkai. datar. cukup : 36 o C : 24x/menit. regular. tidak ada kelainan bentuk. tidak kering. sekret (-). Mata c.

I  N. GCS 3. Kernig : Negatif : Negatif : Negatif : > 70 º : > 135 º NERVI CRANIAL N. Kesadaran 2. Pupil :Compos Mentis : E4 V5 M6 : Pupil anisokor 5mm/2mm TANDA RANGSANG MENINGEAL 1. Kaku kuduk 2. Brudzinski I 3. Brudzinski II 4. Laseque 5. IV.STATUS NEUROLOGIS 1. III. N. N. VI     Ptosis Strabismus Nistagmus Exoptalmus : Negatif : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Negatif 4 . II     Ketajaman penglihatan (hitung jari) : Baik Pengenalan warna Lapang pandang (konfrontasi) Funduskopi : Baik : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan Daya penghidu : Dapat dilakukan N.

  Enoptalmus Gerakan bola mata o Lateral o Medial o Atas lateral o Atas medial o Bawah medial o Bawah lateral o Atas o Bawah : Negatif : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan N. VII Pasif   Aktif     Mengerutkan dahi Mengerutkan alis Menutup mata dengan kuat Meringis : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan Kerutan kulit dahi Kedipan mata : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan Reflex masseter : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan 5 . V    Menggigit Membuka mulut Sensibilitas o Atas o Tengah o Bawah  N.

XII   Menjulurkan lidah Atrofi lidah artikulari : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan 6 . IX     N. VIII     N. XI    Menggembungkan pipi Gerakan bersiul Daya pengecapan lidah 2/3 depan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : Tidak dilakukan Mendengarkan detik arloji Schwabach Rinne Weber : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan Arcus faring Posisi uvula Daya pengecapan 1/3 belakang Reflex muntah : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan Arcus faring Bersuara Menelan : Tidak dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan Memalingkan kepala Sikap bahu Mengangkat bahu : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan N.   N. X    N.

  Tremor lidah Fasikulasi : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan MOTORIK     Gerakan Kekuatan otot Tonus otot Trofi : Normal : Normal : Normal : Eutrofi REFLEKS FISIOLOGIS Reflex tendon     Bisep Trisep Patella Achilles : +/+ : +/+ : +/+ : +/+ REFLEKS PATOLOGIS       Hoffman Tromner Babinski Chaddock Oppenheim Gordon Schaefer : -/: -/: -/: -/: -/: -/- 7 .

SENSIBILITAS  Eksteroseptif o Nyeri o Suhu o Traktil  Proprioseptif o Vibrasi o Posisi o Tekan dalam : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN       Tes telunjuk hidung Tes telunjuk telunjuk Tes tumit lutut Tes Romberg Tes Fukuda Disdiadokinesis : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan FUNGSI OTONOM   Miksi Defekasi : Dapat dilakukan : Dapat dilakukan FUNGSI LUHUR    Fungsi bahasa Fungsi orientasi Fungsi memori : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan 8 .

  Fungsi emosi Fungsi kognisi : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan Pemeriksaan penunjang tanggal 20 Ocktober 2012 9 .

900 /mm3 : 231.50 mg%  Gula darah sewaktu : 140 mg /dl Lab tanggal 5 Oktober 2012  Hb  Hematokrit  Leukosit  Trombosit  Analisa gas darah     PH PCO2 PO2 : 9.000/ul : : 7.000 /mm3 : 36%  Golongan darah : A . rh (+)  Masa perdarahan : 3’  Masa pembekuan : 6’  SGOT  SGPT  Kreatinin : 19 u/L : 13 u/L  Ureum : 24 mg% : 0.DIAGNOSA SEMENTARA Higroma : Subdural Haematoma kronis dan Subdural PEMERIKSAAN PENUNJANG Lab tanggal 4 November 2012  Hb  Leukosit  Trombosit  Hematokrit : 11 g/dl : 9.38 : 29 mmHg : 143 mmHg HCO3.000/ul : 252.: 17 mmol/L 10 .5 mg/dl : 29% : 13.

   Total CO2 Saturasi O2 BE : : 18 mmol/L : 99% : -6.7 mmol/L  Clorida: 107 mmol/L Rontgen torax:  Tidak tampak proses aktif pada paru  Cor dalam batas normal  Sinus diafragma baik  Kesan: Normal chest RESUME Pasien anak laki-laki. regular. cukup : 36 0 C 11 . 7 bulan.6 mEq/L  Elektrolit  Natrium : 132 mmol/L  Kalium: 3. Mual muntah disangkal Hasil CT SCAN : Subdural Higroma Follow up tanggal 6 November 2012 Keadaan umum Kesadaran TD Nadi Suhu : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 136/102 mmHg : 101x/m. dengan keluhan mengalami kejang dan demam sejak benturan dikepalanya karena terjadi kecelakaan lalu lintas 2 bulan SMRS. equal.

RR : 48x/m. injeksi ceftizoxime 400 mg.  Lalu dibuat satu burrhole masing-masing di tiap sisi. LAPORAN TINDAKAN BEDAH Tindakan: Burrhole kraniektomi evakuasi hematoma dan higroma. o Surat Ijin Operasi o Puasa o Thorax foto terlampir o Hasil lab lengkap o CT SCAN terlampir o Konsul anestesi o Booking ICU o Sedia PRC 200cc o I jam pre-OP . insisi periosteum. undermining flap kulit ke kaudal. Yudi. BS Instruksi:  Persiapan: Burrhole kraniektomi evakuasi hematoma dan higroma. regular. teratur Penatalaksanaan: Konsul dr. skin test o IUFD Kaen 3b saat puasa 800 cc/ 24 jam. Sp.  Lalu dilakukan kraniektomi masing-masing sisi  Insisi luas duramater 12 . Penemuan dalam pembedahan:  Pasien telentang diatas meja operasi dalam narkose  A dan antisepsis daerah lapangan operasi dan sekitarnya  Insisi “ “ masing-masing di frontal kanan dan kiri lapis demi lapis.

post – op hari ke 2    KU baik. kesadaran  Elevasi kepala 300  Infuse KAEN 3b 800 cc/24 jam  Puasa sampai bising usus (+) normal  Cek ulang lab post op : DPL. Dilanjutkan evaluasi Subdural hematom dan subdural higroma  Keluarkan cairan/ lisis hematoma dan higroma hingga encer  Dalam SDH di belakang masing-masing dialiri NaCl hingga air berwarna encer untuk mengatasi pembekuan darah dan menjaga agar tetap basah dan lembab.  Pasang NGT di tiap sisi sebagai drain  Dan akhirnya kulit dijahit  Operasi selesai Instruksi post op:  Awasi keadaan umum. tanda vital (TNSP). AGD  Balans cairan / 6 jam  Ukur produksi masing-masing kedua drain setiap pagi  Obat – obatan: o Ceftizoxime 2 x 400mg IV o Novalgin 2 x ½ ampul IV o Ranitidin 2 x ½ ampul IV o Phenitoin 3 x 20mg IV o Ikaneuron 1 x 1 ampul (dalam infuse) o Transamin 3 x ½ ampul IV o Vit K 3 x ½ ampul IV o Vit C 1 x 100mg IV Tanggal 7 November 2012. elektrolit. CM. afebris Status Neurologis: tidak ada perubahan Obat: teruskan 13 .

post – op hari ke 4     KU baik. TD: 140/90 mmHg Rhinorea (-) Obat: lanjutkan Tanggal 10 November 2012. post – op hari ke 5       KU baik. CM.Tanggal 8 November 2012. afebris Pupil anisokor 5mm / 3mm Reflex cahaya +/+ Rhinorea (-) Ubun-ubun tidak tegang Obat : teruskan Tanggal 11 November 2012. post – op hari ke 3     KU baik. Obat: lanjutkan Tanggal 9 November 2012. CM. CM. afebris Status neurologis tidak ada perubahan Status lokalis rhinorea (-) ACC pulang dari bedah saraf Obat injeksi stop 14 . afebris TD: 137/100 mmHg Rhinorea (-). CM. post – op hari ke 6      KU baik.

15 .

Keluhan bisa timbul langsung setelah hematom subdural terjadi atau jauh setelah mengidap trauma kapitis. Setelah 5 sampai 7 hari hematom mulai mengadakan reorganisasi yang akan terselesaikan dalam 10 sampai 20 hari. Yang seringkali berdarah ialah bridging veins. Namun demikian. 1 Hemoragi subdural mungkin sekali selalu disebabkan oleh trauma kapitis walaupun traumanya mungkin tidak berarti (trauma pada orang tua) sehingga tidak terungkap oleh anamnesis. misalnya heparin atau warfarin (Coumadin). latent interval itu bukannya berarti bahwa si penderita sama sekali bebas dari keluhan. Karena perdarahan subdural sering disebabkan oleh perdarahan vena. masalah ini terjadi akibat terbendungnya darah di atas permukaan otak. SDH biasanya disebabkan oleh trauma tetapi dapat spontan atau disebabkan oleh suatu prosedur. Masa tanpa keluhan itu dinamakan latent interval dan bisa berlangsung berminggu-minggu. karena tarikan ketika terjadi pada permukaan lateral dan atas hemisferium dan sebagian di daerah temporal. Di situ bisa timbul lagi perdarahan-perdarahan kecil. Perdarahan vena biasanya berhenti karena tamponade hematom sendiri. mungkin menjadi faktor penyebabnya. Antikoagulasi. berbulan-bulan bahkan ada kalanya juga bisa lebih dari dua tahun. sesuai dengan distribusi bridging veins. Pada dasarnya. seperti pungsi lumbal. 16 . SDH adalah jenis perdarahan intrakranial yang terjadi di bawah duramater dan mungkin terkait dengan cedera otak lainnya.Tinjauan Pustaka Haematoma Subdural Hematoma subdural/ subdural hematoma (SDH) merupakan kelainan bedah saraf umum yang sering memerlukan intervensi bedah. Darah yang diserap meninggalkan jaringan yang kaya dengan pembuluh darah. yang menimbulkan hiperosmolaritas hematom subdural dan dengan demikian bisa terulang lagi timbulnya perdarahan kecil-kecil dan pembentukan suatu kantong subdural yang penuh dengan cairan dan sisa darah. maka darah yang terkumpul berjumlah hanya 100-200cc saja.

hemiparestesia.2 . Tetapi apabila di samping itu timbul gejala-gejala yang mencerminkan adanya proses desak ruang intrakranial. Perhatikan intensitas sinyal tinggi darah akut dan ringan) pergeseran garis tengah (dari ventrikel). ada kalanya epilepsi fokal dengan adanya tanda-tanda papiledema. subakut. gambaran hematoma pada CT scan atau MRI dapat membantu menentukan kapan hematoma terjadi. Faktor-faktor ini.Sebenarnya dalam latent interval kebanyakan penderita hematom subdural mengeluh tentang sakit kepala atau pening. Bila proses kejadian tidak diketahui. SDH biasanya ditandai berdasarkan ukuran. seperti umumnya penderita kontusio serebri juga mengeluh setelah mengidap trauma kapitis. hemiparesis ringan. dan lama terjadinya (misalnya. Sebuah hematoma subdural sisi kiri akut (SDH). 17 . baru pada saat itulah terhitung mula tibanya manifestasi hematom subdural. menentukan pengobatan dan mungkin juga mempengaruhi hasilnya. organic brain syndrome. serta kondisi neurologis pasien. atau kronis). SDH sering diklasifikasikan berdasarkan jangka waktu yang telah berlalu dari waktu terjadinya (jika diketahui) untuk diagnosis. apakah terjadinya akut. lokasi. Gejala-gejala tersebut bisa berupa kesadaran yang makin menurun.

18 . 82% pasien koma dengan SDH akut telah memar parenkim. dapat memberikan ruang yang meningkat antara dura dan permukaan otak mana hygroma subdural dapat terbentuk atau traksi pada vena yang menjembatani span kesenjangan antara permukaan kortikal dan dura atau sinus vena. sedangkan istilah yang rumit telah diterapkan untuk SDH di mana cedera yang signifikan dari otak yang mendasari juga telah diidentifikasi. Subakut SDH adalah 3-20 hari lamanya dan isodense atau hypodense dibandingkan dengan otak. mereka seringkali tanpa gejala. SDH akut kurang dari 72 jam dan hyperdense dibandingkan dengan otak pada CT scan. sebuah SDH yang tidak terkait dengan cedera otak yang mendasari kadang-kadang disebut sebuah SDH sederhana atau murni. Adanya atrofi otak atau hilangnya jaringan otak karena sebab apapun. Sebuah hygroma subdural mungkin karena itu juga terjadi setelah trauma kepala. seperti usia tua. hidrosefalus.Umumnya. Dalam sebuah penelitian. atau stroke. Dalam kenyataan ini. Tingkat keparahan cedera difus parenkim mempunyai korelasi kuat (korelasi inverse) dengan hasil pasien. Kronis SDH adalah 21 hari (3 minggu) atau lebih lama dan hypodense dibandingkan dengan otak. Sebagian kecil kasus kronis SDH berasal dari kasus SDH akut yang telah memburuk karena kurangnya perawatan. alkoholisme. Namun. SDH dapat berbentuk gabungan seperti ketika perdarahan akut telah terjadi menjadi SDH kronis. Hygromas mungkin terbentuk setelah cairan di arakhnoid memungkinkan cerebrospinal fluid (CSF) untuk terkumpul di ruang subdural.

SDH kronis telah dilaporkan 1-5. tetapi juga pada pasien dengan cedera kepala kurang berat. tergantung pada penelitian ini. Etiologi  Hematoma subdural akut (SDH) o o Head trauma Trauma kepala Koagulopati atau antikoagulasi medis (misalnya. trombositopenia) o Perdarahan intrakranial non traumatic karena aneurisma serebral. terjadi tidak hanya pada pasien dengan cedera kepala berat. warfarin [Coumadin]. lumbal CSF bocor. Epidemiologi Hematoma subdural akut (SDHs) telah dilaporkan terjadi pada 5-25% pasien dengan cedera kepala berat. Subdural hematoma (SDH) adalah jenis yang paling umum dari lesi massa intrakranial.Atrofi dari otak. hemofilia. Studi lebih terbaru menunjukkan insiden yang lebih tinggi. Masalah Trauma cedera kepala terus menjadi masalah kesehatan yang signifikan di Amerika Serikat dan di tempat lain. heparin. CSF shunting) Hipotensi intrakranial (misalnya. meningkatkan risiko hematoma subdural (SDH). anestesi epidural spinal 5 o Spontan atau tidak diketahui penyebabnya (jarang) 19 .000 orang per tahun. menghasilkan ruang antara permukaan otak dan tengkorak. bahkan dengan perawatan terbaik medis dan bedah saraf. atau tumor (meningioma atau metastasis dural) o o Pascaoperasi (kraniotomi. tabrakan lumboperitoneal. penyakit hati. SDH dapat dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi dan tingkat morbiditas. mungkin karena teknik pencitraan yang lebih baik.3 kasus per 100. terutama mereka yang sudah berusia lanjut atau yang menerima antikoagulan. setelah pungsi lumbal. kelainan arteriovenosa.

Atau. kista arakhnoid . Patofisiologi Hematoma subdural akut Mekanisme biasa yang menghasilkan hematoma subdural akut (SDH) adalah dampak berkecepatan tinggi untuk tengkorak. arteriosklerosis). perdarahan sekunder. infark. terapi antikoagulan (termasuk aspirin). Sering kali. In one study. pembuluh darah robek adalah vena yang menghubungkan permukaan kortikal otak ke sinus dural (disebut sebagai vena bridging). alkoholisme. dan menyebar aksonal cedera. Dehidrasi Mayor adalah suatu kondisi yang kurang umumnya terkait dan ditemukan bersamaan hanya 2% pasien. SDH Kronis o Trauma kepala (mungkin relatif ringan. Cedera kepala primer juga dapat menyebabkan hematoma otak berhubungan atau memar. perdarahan subarachnoid. dan herniasi otak. baik arteri vena atau kecil. penyakit jantung dan hipertensi arteri yang ditemukan lebih umum. Pada pasien yang lebih muda. dengan atau tanpa intervensi bedah Spontan atau idiopatik Faktor risiko untuk SDH kronis termasuk kronis alkoholisme . 16% of patients with chronic SDH were on aspirin therapy. dapat rusak oleh cedera langsung atau robekan. koagulopati. merobek pembuluh darah. 16% dari pasien dengan SDH kronis pada terapi aspirin. Hal ini menyebabkan jaringan otak untuk mempercepat atau melambat relatif terhadap struktur dural tetap. Pada pasien yang lebih tua. penyakit kardiovaskuler (hipertensi. Kista pada Arachnoid lebih umumnya terkait dengan pasien yang lebih muda dari 40 tahun dengan SDH kronis. gangguan koagulasi. terutama vena bridging. dan diabetes. pembuluh darah korteks. Suatu SDH akut karena arteri cortical 20 . misalnya. Dalam sebuah penelitian. trombositopenia. epilepsi. pada individu-individu yang lebih tua dengan atrofi otak) o o SDH akut. trombositopenia. dan terapi antikoagulan oral telah ditemukan untuk menjadi lebih lazim. Cedera otak sekunder dapat meliputi edema.

Air mata ini pembuluh darah penting yang memasok batang otak. dan herniasi transtentorial dapat menyebabkan suatu infark melalui kompresi dari arteri serebral posterior. yang dimulai sebagai pemisahan dalam antarmuka dura-arakhnoid. mengakibatkan perdarahan Duret dan kematian. mengakibatkan pertumbuhan SDH kronis. dengan hematoma hypodense muncul pada CT scan. SDHs kronis juga dapat berkembang dari pencairan dari SDH akut. Dalam sebuah penelitian.pecah dapat berhubungan dengan hanya cedera kepala ringan. Pada pembuluh darah ini dapat terjadi perdarahan dan menjadi sumber darah ke ruang. menyebabkan lingkaran setan peristiwa pathophysiologic. Dua tipe umum dari herniasi otak termasuk subfalcial (cingulate gyrus) herniasi dan transtentorial (uncal) herniasi. menyebabkan reaktivitas menurun dan kemudian dilatasi pupil ipsilateral. mungkin tanpa memar otak yang terkait. 21 . Transtentorial herniasi juga berhubungan dengan tekanan pada saraf kranial ketiga. herniasi Subfalcial dapat menyebabkan infark otak melalui kompresi dari arteri serebral anterior. arteri cortical pecah ditemukan berada sekitar fisura sylvian. terutama yang relatif tanpa gejala. yang kemudian diisi oleh CSF. menyebabkan perubahan patologis dari jaringan otak (herniations otak). tekanan pada batang otak menyebabkan migrasi ke bawah. pembuluh darah bridging mungkin sudah meregang karena atrofi otak (penyusutan yang terjadi dengan usia). Peningkatan tekanan intrakranial (ICP) juga dapat menurunkan aliran banjir serebral. Pembuluh darah yang pecah kemudian tumbuh menjadi membran. Seperti massa lainnya yang memperluas di dalam tengkorak. Dengan herniasi transtentorial progresif. Hematoma subdural kronis Kronis SDHs mungkin mulai sebagai hygroma subdural. mungkin menyebabkan iskemia dan edema dan meningkatkan lebih lanjut ICP. SDHs bisa menjadi mematikan dengan meningkatkan tekanan dalam otak. Sel berkembang biak di sekitar perbatasan dural koleksi ini CSF untuk menghasilkan sebuah neomembrane. Pada orang lanjut usia. Pencairan biasanya terjadi setelah 1-3 minggu.

1 22 . 2003).1 Cedera kepala dapat melibatkan setiap komponen yang ada. Kawakami menemukan bahwa sistem koagulasi dan fibrinolisis berdua berlebihan diaktifkan di SDH kronis. Dengan demikian cedera yang terjadi dapat berupa cedera jaringan lunak. palu. Pada tahun 1989. Subdural Higroma Lebih dari 80% penderita cedera yang datang ke ruang emergensi selalu disertai dengan cedera kepala. atau melalui mekanisme terpisah kalsifikasi (Atkinson. Salah satu cedera otak yang dimaksud adalah hematom subdural. pembuluh rapuh baru dapat tumbuh ke dalam membran. Sebagaimana dinyatakan di atas. Hematom subdural ini sering sukar dibedakan dari higroma subdural. kayu. mobil.1 Kontribusi terbanyak cedera kepala adalah kecelakaan sepeda motor dan sebagian dari mereka tidak menggunakan helm atau menggunakan helm yang tidak memadai (>85%). fraktur tulang kepala. dan sebagainya) dan lainlain. golok. Sebagian besar cedera kepala ini disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas berupa tabrakan sepeda motor. olahraga. Katano et al (2006) baru-baru ini melaporkan status penanda molekul lain dalam SDHs kronis. parang. dan cedera otak. menarik lebih banyak cairan ke dalam ruang subdural. tertimpa benda (ranting pohon. kapal dalam membran yang mengelilingi hematoma dapat perdarahan berulang kali. yang juga merupakan cedera akibat trauma kapitis. mulai bagian terluar (scalp) sampai bagian terdalam (intrakranial) yang tiap komponen tersebut terkait erat dengan mekanisme cedera yang terjadi. batang kayu. Beberapa SDH kronis juga bisa membesar dari gradien osmotik. Sisanya disebabkan oleh jatuh dari ketinggian. Hal ini menyebabkan pembentukan bekuan rusak dan perdarahan berulang.SDHs kronis yang terbentuk dari SDHs akut mungkin memiliki membran antara dura dan hematoma pada 1 minggu dan antara otak dan hematoma pada 3 minggu. Jika tidak diresorpsi. memperbesar hematoma. dan sebagainya). dan penyeberang jalan yang ditabrak. korban kekerasan (misalnya senjata api.

Aponeurosis atau galea aponeurotika 4. loose areolar tissue 5. Otak Otak manusia terdiri dari serebrum. Ruang epidural terletak antara durameter dan tabula interna tengkorak. e. arakhnoid. c. ANATOMI KEPALA Pengenalan kembali anatomi tengkorak sangat berguna dalam mempelajari akibat-akibat cedera kepala. I. Rongga tengkorak dasar dibagi atas tiga fosa yaitu : fosa anterior. media dan posterior. Pada umumnya higroma subdural disebabkan pecahnya araknoid sehingga LCS mengalir dan terkumpul membentuk kolam. Kulit Kepala : 1. f.Higroma subdural merupakan pengumpulan cairan likuor cerebrospinalis (LCS) oleh kapsul dibawah duramater. Tulang tengkorak atau kranium terdiri dari kalvarium dan basis kranii. 23 . fosa media tempat lobus temporalis. connective 3. Berikut anatomi dari kepala :2 a. Penatalaksanaannya yang diberikan serupa dengan terapi pada hematom subdural kronis. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fossa kranii media) dan infratentorial (berisi fosa kranii psterior). serebelum dan batang otak. dan piameter. Dimana ruang antara durameter dan arakhnoid disebut ruang subdural. Meningen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan. dan fosa posterior adalah ruang bagi batang otak bawah dan serebelum. perikranium b. d. Fosa anterior adalah tempat lobus frontalis. Cairan serebrospinalis (CSS) dihasilkan oleh pleksus khoroideus dengan kecepatan 30 ml/jam. skin 2. Diantara selaput arakhnoid dan piameter terdapat ruang subarakhnoid. yaitu durameter.

Subakut Jika gejala klinis timbul antara hari ke-4 dan ke-20. 3. hematom subdural dibedakan menjadi:5 1. Hematom subdural kronis ini merupakan salah satu dari lesi fokal primer pada cedera otak yang terjadi akibat trauma kapitis.1 Lesi hematom subdural ini lebih sering terjadi dibanding hematom epidural (HED atau EDH). Akut Jika gejala timbul dalam 3 hari pertama setelah cedera. Kadang-kadang benturan ringan pada kepala sudah dapat menyebabkan hematom subdural kronis. Pada anak dan usia lanjut sering disebabkan ‘bridging vein’ yang menghubungkan permukaan kortek dengan sinus vena. Kronis Jika gejala timbul setelah 3 minggu.3. 24 .II.7 Dengan demikian higroma subdural serupa dengan hematom subdural kronik (HSD kronik) .4 Sebagian literatur juga menyatakan bahwa higroma subdural adalah hematom subdural kronis/lama yang mungkin disertai oleh penumpukan/ pengumpulan cairan LCS di dalam ruang subdural. Mortalitas yang disebabkannya sebanyak 60-70%. Lesi ini terjadi akibat laserasi arteri/vena kortikal pada saat terjadi akselerasi dan deselerasi. DEFINISI HIGROMA SUBDURAL Higroma subdural merupakan pengumpulan cairan likuor cerebrospinalis (LCS) oleh kapsul dibawah duramater.1 Berdasarkan waktu perkembangan lesi hingga memberikan gejala klinis. dimana adanya atrofi otak menyebabkan jarak antara permukaan kortek dan sinus vena menjauh sehingga rentan terhadap goncangan. Hematom subdural kronis sering terjadi pada usia lanjut. Kelainan ini agak jarang ditemukan dan dapat terjadi karena robekan selaput araknoid yang menyebabkan cairan LCS keluar ke ruang subdural. 2.

2.III. yang kemudian mengalami resolusi spontan cepat dalam waktu 9 jam akibat kontribusi terhadap pembesaran higroma subdural. Hematom subdural akut merupakan kumpulan darah segar di bawah lapisan duramater. Resolusi hematom subdural akut dan dampaknya terhadap higroma subdural harus dipertimbangkan selama penatalaksanaan hematom subdural akut. marsupialisasi kista araknoid dan reseksi kista) Higroma subdural akut dan kronik merupakan komplikasi post-operasi yang umum terjadi dari pintasan ventrikuler. pencegahan kehilangan LCS dan fluktuasi yang cepat dalam tekanan intrakranial. Membedakan antara higroma subdural dan hematom sulit dilakukan dan mungkin artifisial.3  Post-operasi (pintasan ventrikuler. sebab higroma sering mengalami progresifitas menjadi hematom. Salah satu mekanisme resolusi spontan yang pernah dilaporkan adalah melalui terbentuknya higroma subdural. PENYEBAB  Post-trauma kecelakaan Pada umumnya higroma subdural disebabkan pecahnya araknoid sehingga LCS mengalir dan terkumpul membentuk kolam. marsupialisasi kista araknoid dan reseksi kista. Cofiar et al melaporkan kejadian perkembangan suatu higroma subdural pada pasien Acute subdural hematoma (ASDH) atau hematom subdural akut. Resolusi spontan cepat pada kasus hematom subdural akut sangat jarang terjadi. Vandenberg et al melaporkan suatu kasus higroma subdural yang terjadi setelah 25 .5  Komplikasi dari tindakan anestesi Higroma subdural merupakan kumpulan cairan subdural berupa cairan xanthochromic yang jernih atau disertai darah. Shu-qing et al melaporkan suatu kasus higroma subdural setelah tindakan reseksi suatu lesi desak ruang pada ventrikel lateral yang menyebabkan deformasi brainstem dekompresif. Post-traumatic subdural hygroma merupakan kasus yang umum terjadi.4  Komplikasi atau lanjutan dari Acute subdural hematoma/hematom subdural akut Kebanyakan subdural hygromas (SDGs) atau higroma subdural terjadi sekunder akibat trauma. yang biasanya cukup besar untuk menekan otak dan menyebabkan kematian hingga 60-80% kasus. Ia menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat penting antara prosedur pembedahan.

Subdural hematoma dan higroma subdural merupakan komplikasi yang jarang dari anestesia spinal. pada kebanyakan kasus. Kebosoran ini menyebabkan pemisahan otak bagian kaudal (caudal displacement of the brain). Namun. DIAGNOSIS  Anamnesis. namun penggalian diagnosis hanya dari anamnesis atau riwayat trauma tidak bersifat definitif karena terdapat beberapa laporan data evolusi CT Scan dan klinis.7. dengan konsekuensi berupa peregangan dan rembesan dari vena-vena subdural intrakranial. 10     Periode/waktu hilangnya kesadaran Periode amnesia post trauma Penyebab dan kasus cedera itu sendiri Ada tidaknya nyeri kepala dan muntah 26 . pemeriksaan fisik dan penunjang Post-traumatic subdural hygroma merupakan kasus yang umum terjadi.tindakan anestesia spinal. diperlukan juga penunjang berupa radiologis diagnostik yaitu CT Scan dan MRI.8 Dengan demikian. Dalam cedera kepala. point-point yang harus digali dari anamnesis meliputi:9.6 IV. Penyebab komplikasi ini yang mungkin terpikirkan adalah kebocoran LCS melalui fistula dural yang terbentuk akibat tindakan punksi. Vandenberg menggunakan MRI dan radioisotope cisternography untuk mengelusidasi patogenesis kasus tersebut. selain anamnesis dan pemeriksaan fisik. Berkurangnya tekanan otak akibat atrofi serebral. pengecilan otak pada alkoholik dan pintasan ventrikuler juga merupakan faktor yang memberikan kontribusi. mekanisme yang ada tetap belum diketahui dengan jelas.

7  Gambaran klinis Gambaran klinis menunjukkan tanda peningkatan tekanan intrakranial. terganggu akibat adanya higroma ini.Gambar. meski sering tanpa disertai tanda-tanda fokal. Penyembuhan cedera otak primer yang biasanya berupa memar otak.8 Stein dalam penelitiannya menemukan berbagai gejala terkait cedera kepala sebagai berikut:11 27 . Suatu gambaran MRI yang menunjukkan higroma subdural biparietal.

28 .8 Untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan operasi.1. terdapat indikasi operasi. Di sentra Rumah Sakit Ulin.1 Penanggulangan pada kasus hematom subdural kronis adalah trepanasi dan evakuasi hematom atau penyaliran.3. salah satu kriteria dilakukan operasi adalah pergeseran midline shift melebihi 5 mm pada gambaran CT Scan atau volume massa melebihi 20 cc.V. TERAPI Penatalaksanaannya yang diberikan serupa dengan terapi pada hematom subdural kronis.

Hal 332-345. 8. Neurologi Klinis Dasar. 2001. 1979. Jakarta. Firman. 2 0 0 8 . G r a b o w J D . 36.Oxford University Press: New York 4. SumateraUtara. No. B u k u A j a r N e u r o l o g i K l i n i s . Harry S. 1999. USU digital library. P. Greenberg. Lisa M. Neurosurgery. Hal 201-2077. Sumatera Utara 5. Dian Rakyat. Vol.medscape. G a j a h M a d a U n i v e r s i t y P r e s s . Sandler. Iskandar. 2. Tekanan Tinggi Intrakranial. Ngoerah. Howard M. Yogyakarta. Mardjono. http://emedicine. 2002. Iskandar. A n n e g e r s J F ..DAFTAR PUSTAKA 1. USU digitallibrary. H a r s o n o . Surabaya. 2002. H e a d t r a u m a a n d s u b s e q u e n t brain tumors. 1991. Subdural higroma. Subdural haematoma. 4: 203-206. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf.. 2 3. mahar.wikipedia.Japardi. William F. L a w s E R J r . Hal 390-396 7.org/wiki/subduralhaematoma diakses 17 Oktober 2012 10. 1985. I Gst Ng Gd. K u r l a n d L T . Chandler. Gambaran CT-Scan pada Subdural haematoma. Cermin Dunia Kedokteran No.com/article/343207-overview#a23 diakses 19 Oktober 2012 29 . Nara. 344. Airlangga UniversityPress. 6. Deangelis.1985 41 9. http://en. 2006. Japardi. Sitepu. N Engl J Med. Komplikasi subdural higroma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.