DEPARTERMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS EKONOMI

RANCANGAN SKRIPSI Nama NIM Jurusan Prodi Fakultas Judul : PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN TUNTUTAN SERTIFIKASI GURU TERHADAP PROFESIONALITAS GURU DI SMA NEGERI 1 PEMALANG I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jabatan guru merupakan jabatan profesional, dan sebagai jabatan profesional, pemegangnya harus memenuhi kualifikasi tertentu. Kriteria jabatan profesional antara lain bahwa jabatan itu melibatkan kegiatan intelektual, mempunyai batang tubuh ilmu yang khusus, memerlukan persiapan lama untuk memangkunya, memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan, merupakan karier hidup dan keanggotaan yang permanen, menentukan baku perilakunya, mementingkan layanan, mempunyai organisasi profesional, dan mempunyai kode etik yang ditaati oleh anggotanya. Profesionalitas guru dapat dikatakan sebagai kunci keberhasilan pendidikan. Hal ini disebabkan karena keberadaan guru sangat berpengaruh terhadap semua sumber pendidikan seperti sarana dan 1 : Abdul Khafidz : 3301404117 : Akuntansi : Pend. Akuntansi S1 : Ekonomi

prasarana, biaya, teknologi informasi, siswa dan orang tua siswa dapat berfungsi dengan baik apabila guru memiliki kemampuan yang baik pula dalam menggunakan sumber daya yang ada. Menurut Uzer Usman (2005: 15), guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan masyarakat, masyarakat, perkembangan dalam hal guru harus selalu dapat menyesuaikan ini selalu yang berkembang biasanya sesuai dengan oleh

kamampuan dan pengetahuannya dengan keinginan dan permintaan masyarakat dipengaruhi

perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh karenanya guru selalu dituntut untuk secara terus menerus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan mutu layanannya. Keharusan meningkatkan dan mengembangkan mutu ini merupakan butir yang keenam dalam Kode Etik Guru Indonesia yang berbunyi: guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Dalam butir keenam ini dituntut kepada guru, baik secara pribadi maupun secara kelompok, untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Untuk meningkatkan mutu profesi, guru dapat mlakukannya secara formal maupun informal. Secar formal, artinya guru mengikuti berbagai pendidikan lanjutan atau kursus yang sesuai dengan bidang tugas, keinginan, waktu, dan kemampuannya. Secara informal guru dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui mass media seperti televisi, radio, internet, ataupun membaca buku teks dan pengetahuan lainnya yang cocok dengan bidangnya. Sebagai profesional, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin, dan pekerjaan.

Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tantangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru harus selalu mengadakan pembaruan sesuai dengan tuntutan tugasnya. Guru profesional adalah guru yang memiliki kemampuan yang disyaratkan untuk menjadi seorang guru, dalam hal ini standar kompetensi guru yaitu, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional (Permendiknas No 16 Tahun 2007). Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan pesrta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Sedangkan kompetensi profesional yaitu kemampuan menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar pendidikan nasional. Menurut Wahjosumidjo (2005:83), kepemimpinan kepala sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah untuk menggerakkan, mengerahkan, membimbing, melindungi, memberi teladan, memberi dorongan, dan memberi bantuan terhadap sumber daya manusia yang ada di suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Standar kompetensi kepala sekolah yaitu, kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervise, dan kompetensi sosial (Permendiknas No 13 Tahun 2007). Dalam kaitannya dengan kompetensi

3

supervise, kepala sekolah memegang peranan sebagai supervisor. Dimana supervise pendidikan bertujuan untuk membantu guru dalam memperbaiki proses belajar-mengajar melalui peningkatan kompetensi guru itu sendiri dalam melaksanakan tugas profesional mengajarnya. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pemalang. SMA Negeri 1 Pemalang sebagai sekolah yang sedang merintis sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) menghendaki guru-guru yang ada memiliki kualitas profesional yang tinggi. Hal ini diperlukan agar kualitas pembelajaran yang diterapkan di sekolah semakin efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pendidikan. Untuk itu sekolah terus berupaya untuk meningkatkan profesionalitas guru yang ada meski cukup sulit. Salah satu bukti adalah setelah dikeluarkannya UU NO.14 Tahun 2005 tentang Sertifikasi Guru. Berdasarkan hasil observasi awal di SMA Negeri 1 Pemalang menunjukkan bahwa profesionalitas guru di SMA Negeri 1 Pemalang masih perlu mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Kota Pemalang. Hal tersebut dapat dilihat dari metode pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar dari sebagian guru masih konvensional sehingga materi yang disampaikan kurang dipahami oleh peserta didik. Alhasil, pembelajaran tuntaspun belum tercapai secara optimal. Selain itu, ada sebagian guru yang belum mampu menggunakan metode pembelajaran yang modern seperti penggunaan media pembelajaran (OHP, Laptop, Komputer, dan lain sebagainya). Padahal, Pemerintah Kota Pemalang yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Pendidikan masih sering melakukan supervisi ke setiap SMA-SMA di Kota Pemalang, pemberian kesempatan bagi para guru untuk melakukan studi lanjut, pendidikan latihan guru, training/bimbingan teknologi (Bintek), dan lain sebagainya. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah tersebut kiranya belum dapat mengkaver tingkat profesionalitas guru di setiap sekolah. Usaha-usaha untuk meningkatkan profesionalitas guru terus dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah dengan melakukan

penyempurnaan kurikulum yang ada, penataran guru mata pelajaran, pengadaan dan revisi buku paket pelajaran, mengadakan kegiatan pengembangan guru mata pelajaran seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), perbaikan kesejahteraan guru dan upaya-upaya lain yang terus dilakukan. Dari data yang ada, belum seluruhnya guru di SMA Negeri 1 Pemalang tersertifikasi, yaitu 31 dari 73 jumlah guru yang mengajar. Penjelasan tersebut mengindikasikan sulitnya peningkatan profesionalitas guru di SMA Negeri 1 Pemalang mengingat idealnya seluruh guru di sekolah bertaraf internasional telah tersertifikasi. Dengan dikeluarkannya UU NO.14 Tahun 2005 tentang Sertifikasi Guru, maka berimbas pada berbagai bentuk tuntutan penyesuaian yang dilakukan oleh guru-guru di SMA Negeri 1 Pemalang sebagai sekolah favorit untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Dari permasalahan yang terungkap di atas tentang tuntutan akan profesionalitas guru sebagai konsekuensi dari lahirnya UU No 14 Th 2005 tentang guru dan dosen serta keadaan dilapangan yang menunjukkan profesionalitas guru yang masih kurang, maka uji sertifikasi guru adalah jawabannya untuk meningkatkan profesionalitas guru. Seorang guru yang lulus ujian sertifikasi, maka guru tersebut dianggap sudah memilkiki kemampuan yang memadai dan layak menjadi seorang guru dengan dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sertifikasi adalah pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen atau bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Pelaksanaan uji sertifikasi tenaga pengajar/guru adalah untuk menilai kemampuan minimal yang harus dimiliki seorang guru agar dapat melaksanakan tugas seorang guru dengan baik, dan diharapkan kinerja seorang guru juga akan meningkat dengan adanya pelaksanaan uji sertifikasi ini. Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Dimana uji kompetensi

5

dilakukan

dalam bentuk penilaian portofolio. Penilaian atas pengalaman profesional

portofolio guru dalam

merupakan pengakuan

bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan (a) kualifikasi akademik; (b) pendidikan dan pelatihan; (c) pengalaman mengajar; (d) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (e) penilaian dari atasan dan pengawas; (f) prestasi akademik; (g) karya pengembangan profesi; (h) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (i) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan (j) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan (Depdiknas 2007 : 2). Dengan adanya indikasi-indikasi tersebut, peneliti ingin mengkaji sejauh mana ”Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Tuntutan Sertifikasi Guru terhadap Profesionalitas Guru di SMA Negeri 1 Pemalang”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penelitian ini akan mencoba mengkaji permasalahan yang mencakup: 1) Adakah pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi guru terhadap profesionalitas guru di SMA N 1 Pemalang secara simultan dan parsial? 2) Seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi guru terhadap profesionalitas guru di SMA N 1 Pemalang secara simultan dan parsial? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini mencakup: 1) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh

kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi terhadap profesionalitas guru di SMA N 1 Pemalang

secara simultan dan parsial. 2) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi guru terhadap profesionalitas guru di SMA N 1 Pemalang secara simultan dan parsial. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan memberikan sumbangan bagi penelitian sejenis, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dunia pendidikan. b. Untuk pustaka Tinggi Semarang. memperkaya di Lembaga Universitas khasanah Perguruan Negeri

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti, melalui penelitian ini peneliti berharap dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki secara profesional sebagai seorang calon tenaga pendidik/guru, khususnya untuk pengembangan ilmu pendidikan. b. Bagi kepala sekolah, dengan adanya penelitian ini diharapkan sebagai motivator untuk terus meningkatkan kinerjanya sebagai seorang pemimpin. c. Bagi siswa, siswa manfaat akan berupa memperoleh 7

pembelajaran yang berkualitas dan siswa juga akan memiliki kemampuan masalah akan untuk yang mengatasi dihadapinya untuk

dengan mudah, serta para siswa termotivasi mendapatkan hasil belajar yang maksimum. 1.5 Penegasan Istilah Berkaitan dengan luasnya masalah yang akan dikaji mengenai pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi guru terhadap profesionalitas guru, maka penulis dalam penelitian ini menegaskan pada objek yang akan diteliti yaitu: 1. Kepemimpinan kepala sekolah Menurut Harold W. Boles mendefinisikan kepemimpinan adalah sebagai proses atau seperangkat tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan pengaruh, wewenang atau kekuasaan seseorang atau sekelompok orang untuk menggerakan sistem sosial untuk mencapai satu atau banyak tujuan (Wirawan dalam Wahyudi 2006:16). Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin yang tergantung dari macam-macam faktor, baik faktor-faktor intern maupun faktor-faktor ekstern (Winardi 2000 : 47). Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengarahkan, dan membimbing serta mengatur orang lain. Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran

(Wahjosumidjo 2002 : 83). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang mempunyai kemampuan untuk memimpin suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar dan berperan dalam pengembangan mutu pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengarahkan, membimbing, dan mengatur suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar dan berperan dalam pengembangan mutu pendidikan. 2. Sertifikasi Guru Sertifikasi adalah pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen atau bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Menurut UU 14 Tahun 2005, pasal 8 adalah Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, Sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik dimaksud sebagaimana pasal 9 adalah melalui pendidkan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Demikian juga kualifikasi guru dapat dilihat pada PP 19 Tahun 2005, pasal 29 (ayat 1-6) profesi guru untuk PAUD sampai tingkat SMA sederajat harus diploma empat (D4) atau sarjana (S1). 3. Profesionalitas Guru Profesionalitas dilihat dari kriteria yang dikemukakan para ahli mempermudah kita memahami dan mengetahui kaidah-kaidah profesi, secara konsep profesional memiliki aturan-aturan dan teori dan praktik merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan. Keterampilan dalam pekerjaan profesi sangat didukung oleh teori yang telah dipelajarinya. Jadi seorang profesional dituntut banyak belajar, membaca dan mendalami teori tentang profesi yang digelutinya. Suatu profesi bukanlah sesuatu yang permanen, ia akan

9

mengalami perubahan dan mengikuti perkembangan kebutuhan manusia, oleh sebab itu penelitian terhadap suatu tugas profesi dianjurkan, dimdalam keguruan dikenal dengan penelitian action research. Penggunaan metode ilmiah ini memperkuat unsur rasionalitas yang menggalakan sikap kritis terhadap teori. Penerapan lapangan tidak akan mencapai hasil maksimal bila dilakukan dengan meraba-raba, mencoba-coba,akan tetapi suatu penerapan harus memiliki pedoman teoritis yang teruji kevalidannya. Di sinilah letak perbedaan pekerjaan profesional dengan non-profesional. Profesional mengandalkan teori, praktik, dan pengalaman, sedangkan nonprofesional hanya berdasarkan praktik dan pengalaman. Mengutip sambutan Menteri Pendidikan Nasional pada Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2005 menyebutkan guru sebagai agen pembelajaran diharapkan memiliki empat kompetensi yakni kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional. 1) Kompetensi Pedagogis merupakan kompetensi para guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi ppemahaman terhadap peserta didik, perancangan dari pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2) Kompetensi kepribadian adalah karakteristik pribadi yang harus dimiliki oleh guru sebagai individu yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi berakhlak mulia. 3) Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan mereka membimbing peserla didik dalam menguasai materi yang diajarkan. 4) Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, teladan bagi peserta didik, dan

orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. II. LANDASAN TEORI 2.1 Profesionalitas guru 2.1.1 Pengertian Kompetensi Guru Kompetensi menurut Wardi (2007: 154) merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus-menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten. Artinya, kompetensi seseorang tersebut dapat berupa pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan professional. Hal itu sejalan denganyang dirumuskan pemerintah melalui Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, mengatakan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Adapun untuk lebih jelasnya secara singkat akan dijelaskan sebagai berikut: a. Kompetensi pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi; pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

11

b. Kompetensi kepribadian, adalah kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. c. Kompetensi berkomunikasi sosial, dan adalah bergaul kemampuan secara efektif

dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. d. Kompetensi profesional, adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional. Tugas guru sebagai pendidik dan pengajar yang demokratis memerlukan beberapa kompetensi atau kemampuan yang sesuai seperti kompetensi kepribadian, bidang studi, dan pendidikan pembelajaran. Kompetensi tersebut selalu harus dikembangkan dan diolah sehingga semakin tinggi. Dengan kompetensi yang semakin tinggi diharapkan guru dapat memerlukan tugas panggilannya lebih baik dan bertanggung jawab (Suparno, 2003 :47). Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan, kualitas guru yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru. Oleh karena itu untuk menjamin dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya maka diperlukan standar kompetensi guru. Guru yang terlatih baik, akan mempersiapkan empat bidang kompetensi guru yang efektif dalam mencapai hasil belajar yang

diharapkan. Empat bidang kompetensi itu sebagai berikut: 1) Memiliki pengetahuan tentang teori belajar dan tingkah laku manusia. Selama ini pendidikan dikritik karena praktik "mendongeng" (folkways). Resep pendidikan dan prosedur yang terstandar secara formal dan tidak formal disampaikan pada guru baru untuk membantu mereka survive di kelas. Dalam praktik ini masih banyak konsep ilmiah dari psikologi, antropologi, sosiologi. linguistik. dan disiplin ilmu yang tersedia untuk membantu guru dalam menginterpretasikan kenyataan yang kompleks di kelas mereka. Guru yang menguasai ilmu pengetahuan, dapat digunakan untuk menginterpretasikan situasi dan menyelesaikan masalah, banyak kejadian-kejadian di kelas yang mungkin sebaliknya tidak diperhatikan atau tetap tidak dapat dijelaskan, diketahui, dan dipecahkan oleh penerapan teori-teori dan konsep tingkah laku manusia. Hal ini memang bukan suatu tugas yang mudah. Semua memerlukan pengertian, pandangan, praktik dan umpan balik dan teman sejawat dan para ahli pendidikan. Kemampuan dan ketrampilan ini tidak dapat dicapai sebagai hasil latihan secara formal sendiri; karena merupakan suatu proses seumur hidup yang melibatkan latihan terus menerus dan membuat program yang tidak pernah berakhir, yang akhirnya dapat merupakan memperbaiki diri sendiri (Wuryani, 2002:20). 2) Menunjukkan sikap dalam membantu siswa belajar dan memupuk hubungan dengan manusia lam secara tulus. Bidang kedua dari kompetensi yang diidentifikasikan sebagai hal penting untuk pengajaran yang efektif harus dilakukan dengan sikap. Sikap yang dimaksud adalah kecenderungan untuk berbuat atau bertindak secara positif atau negatif terhadap orang-orang. ide-ide atau kejadian-kejadian. Sebagian pendidik yakin bahwa sikap guru adalah dimensi yang sangat penting dalam proses mengajar. Sikap mempunyai dampak langsung pada tingkah laku kita. Sikap kita menentukan

13

bagaimana kita meninjau diri kita sendiri dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Kategori utama dan sikap mempengaruhi tingkah laku mengajar adalah: a. Sikap guru terhadap diri mereka sendiri b. Sikap guru terhadap siswa c. Sikap guru terhadap teman sejawat d. Sikap guru terhadap mata pelajaran 3) Menguasai mata pelajaran yang diajarkan. Menguasai mata pelajaran yang diajarkan adalah suatu kebutuhan yang diperlukan bagi setiap guru. Dimana seorang guru mata pelajaran harus mempersiapkan sungguh-sungguh dua aspek yaitu; mempelajari sungguh-sunguh mata pelajaran itu sendiri dan memilih secara bijaksana bahan yang yang dapat diteruskan kepada siswa dengan berhasil. Untuk menjadi komunikator yang efektif, mereka harus tahu seberapa jauh pengertian anak pada mata pelajaran. Guru harus tahu bahwa isi mata pelajaran yang diajarkan, sama seperti guru tahu disiplin ilmu yang dia dapat dan perguruan tinggi. 4) Mengontrol ketrampilan teknik mengajar sehingga memudahkan siswa belajar. Keempat bidang kompetensi memerlukan guru yang efektif, yaitu yang memiliki daftar keterampilan mengajar guru yang terampil mengajar akan dengan mudah menghadapi siswa yang mempunyai latar belakang dan kecerdasan yang bervariasi. Program pendidikan guru harus meliputi komponen latihan yang memusatkan pada keterampilan mengajar. Komponen pengetahuan melibatkan persiapan guru untuk memusatkan perhatian pada konteks atau pada yang dilatih, seperti mengobservasi, menganalisis, dan mengubah tingkah laku (Djiwandono, 2002; 17-23). 2.1.2 Standar Kompetensi Guru Standar kompetensi guru adalah pernyataan tentang kriteria yang

dipersyaratkan, ditetapkan, dan disepakati bersama dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi seorang tenaga ependidikan sehingga layak disebut kompeten (Depdiknas, 2004: 4). Materi uji kompetensi guru inenurut Mulyasa (2005:190) dijabarkan dari kriteria profesional. Kriteria profesional jabatan guru mencakup fisik, kepribadian, keilmuan dan keterampilan sebagai berikut. 1) Kemampuan dasar (kepribadian) a. Beriman dan bertaqwa b. Berwawasan pancasila c. Mandiri penuh tanggung jawab d. Berwibawa e. Berdisiplin f. Berdedikasi g. Bersosialisasi dengan masyarakat 2) Kemampuan umum (kemampuan mengajar) a. Menguasai ilmu pendidikan dan keguruan b. Menguasai kurikulum c. Menguasai didaktik metodik umum d. Menguasai pengelolaan kelas e. Mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi peserta didik f. Mampu mengembangkan dan aktualisasi diri 3) Kemampuan khusus (pengembangan ketrampilan mengajar) a. Keterampilan bertanya b. Memberi penguatan c. Mengadakan variasi d. Menjelaskan e. Membuka dan menulup pelajaran f. Membimbing diskusi kelompok kecil g. Mengelola kelas h. Mengajar kelompok kecil dan perorangan Standar kompetensi guru menurut Depdiknas (2004:4) adalah

15

pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratan, ditetapkan, dan disepakati bersama daiam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap bag! seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Dalam hal ini standar kompetensi guru meliputi tiga komponen yaitu : 1) Komponen kompetensi pengelolaan pembelajaran dan wawasan kependidikan terdiri atas : a. Sub komponen kompetensi pengelolaan pembelajaran b. Sub komponen kompetensi wawasan kependidikan 2) Komponen pembelajaran. 3) Komponen kompetensi pengembangan profesi 4) Sikap dan kepribadian guru kompetensi akademik/ vokasional sesuai materi

Tabel 1. Kompetensi Guru. NO DIMENSI KOMPETENSI Kompetensi 1 Pedagodik KOMPETENSI 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. 2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. 3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. 4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. 5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.

6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. 7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. 8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. 9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. 10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. 2 Kompetensi Kepribadian 11. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia. 12. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 13. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa. 14. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri. 15. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru. 3 Kompetensi Sosial 16. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis 17

kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. 17. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. 18. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya. 19. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain. 4 Kompetensi Profesional 20. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. 21. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu. 22. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif. 23. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. 24. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri Sumber: Permendiknas No 16 Tahun 2007 2.2 Kepemimpinan Kepala Sekolah 2.2.1 Pengertian kepemimpinan kepala sekolah Menurut Harold W. Boles mendefinisikan kepemimpinan adalah

sebagai proses atau seperangkat tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan pengaruh, wewenang atau kekuasaan seseorang atau sekelompok orang untuk menggerakan sistem sosial untuk mencapai satu atau banyak tujuan (Wirawan dalam Wahyudi 2006:16). Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin yang tergantung dari macam-macam faktor, baik faktor-faktor intern maupun faktor-faktor ekstern (Winardi 2000 : 47) Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, mengarahkan, dan membimbing serta mengatur orang lain. Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran (Wahjosumidjo 2002 : 83). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang mempunyai kemampuan untuk memimpin suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar dan berperan dalam pengembangan mutu pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan proses belajar seseorang mengajar dalam dan mempengaruhi, berperan dalam mengarahkan, membimbing, dan mengatur suatu kelompok dimana diselenggarakan pengembangan mutu pendidikan. Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran (Wahjosumidjo 2002 : 83). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan kepala sekolah adalah

19

seorang tenaga fungsional guru yang mempunyai kemampuan untuk memimpin suatu kelompok dimana diselenggarakan proses belajar mengajar dan berperan dalam pengembangan mutu pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan proses belajar seseorang mengajar dalam dan mempengaruhi, berperan dalam mengarahkan, membimbing, dan mengatur suatu kelompok dimana diselenggarakan pengembangan mutu pendidikan. 2.2.2 Teori-toeri kepemimpinan Menurut Mulyasa (2002 : 116), dalam implementasinya kepala sekolah sebagai seorang leader / pemimpin dapat di analisis dari tiga teori kepemimpinan yaitu :

1. Demokratis Inti demokratis adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari, oleh, dan untuk bersama. Pemimpin yang demokratis berusaha lebih banyak melibatkan anggota kelompok. Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh anggapan bahwa hanya karena interaksi kelompok yang dinamis, tujuan organisasi akan dicapai (Danim 2004 : 75-76). 2. Otoriter Kepemimpinan menurut teori ini berdasarkan atas perintahperintah, paksaan, dan tindakan yang arbitrer dalam hubungan antar pemimpin dengan pihak bawahan (Terry dalam Winardi 2000 : 62). 3. Laissez faire Seorang pemimpin memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada para pengikutnya dalam hal menentukan aktivitas mereka (Terry dalam Winardi 2000 : 64). Ketiga sifat tersebut sering dimiliki secara bersamaan sehingga dalam pelaksanaannya sifat-sifat tersebut muncul secara situasional.

2.2.3 Keberhasilan kepemimpinan Menurut Wahjosumidjo (2002 : 49), keberhasilan kepemimpinan pada hakekatnya berkaitan dengan tingkat kepedulian seorang pemimpin terlibat terhadap kedua orientasi yaitu : 1. Apa yang telah dicapai olah organisasi (organizational achievement) yang mencakup produksi, pendanaan, kemampuan adaptasi dengan program-program inovatif dan sebagainya. 2. Pembinaan terhadap organisasi (organizational maintenance) mencakup variable kepuasan bawahan, motivasi, dan semangat kerja. 2.2.4 Fungsi kepemimpinan kepala sekolah Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus memperhatikan dan mempraktekkan fungsi kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari, fungsi-fungsi tersebut menurut Wahjosumidjo (2002 : 105) yaitu : 1. Kepala sekolah harus bertindak arif, bijaksana, adil, atau dengan kata lain harus memperlakukan sama (arbitrating) 2. Sugesti atau saran kepada bawahan (suggesting) 3. Memenuhi atau menyediakan dukungan yang diperlukan (supplying) 4. Berperan sebagai katalisator 5. Menciptakan rasa aman 6. Menjaga integritas sebagai orang yang menjadi pusat perhatian (representing) 7. Sebagai sumber semangat (inspiring) 2.2.5 Analisis kepemimpinan kepala sekolah Menurut mencakup : 1. Kepribadian 2. Keahlian dasar 3. Pengalaman dan pengetahuan professional 4. Pengetahuan administrasi dan pengawasan Menurut Mulyasa (2004 : 115) ada beberapa kemampuan yang Wahjosumidjo dalam Mulyasa (2004 : 115) mengemukakan bahwa kepala sekolah harus memiliki karakter khusus yang

21

harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader / pimpinan yaitu dianalisis dari : 1. Kepribadian Kepribadian adalah pola perilaku dan proses mental yang unik, yang mencirikan seseorang. Kepribadian kepala sekolah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, teladan. 2. Pengetahuan terhadap tenaga kependidikan Kepala sekolah dalam hal ini harus mampu memahami kondisi kependidikan (guru dan non-guru), memahami kondisi dan karakteristik peserta didik, menyusun program pengembangan tugas kependidikan, menerima masukan, saran dan kritik dari berbagai pihak untuk meningkatkan kepemimpinannya. 3. Pengetahuan terhadap visi dan misi sekolah Sebagai seorang pemimpin harus mampu mengembangkan visi sekolah, dan melaksanakan program untuk mewujudkan visi dan misi kedalam tindakan. 4. Kemampuan mengambil keputusan Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam menangani berbagai hal, misalnya mengambil keputusan untuk kepentingan internal sekolah, mengambil keputusan untuk kepentingan eksternal sekolah. 5. Kemampuan berkomunikasi Komunikasi sangat penting untuk menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin. Kepala sekolah harus mampu berkomunikasi secara lisan dengan tenaga kependidikan disekolah, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, berkomunikasi secara lisan dengan peserta didik, berkomunikasi secara lisan dengan orang tua dan masyarakat sekitar lingkungan sekolah. Tabel 2. Kompetensi Kepala Sekolah

NO DIMENSI KOMPETENSI 1 Kepribadian

KOMPETENSI 1.1 Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah. 1.2 Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin. 1.3 Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah. 1.4 Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi. 1.5 Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/ madrasah. 1.6 Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.

2

Manajerial

2.1 Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan. 2.2 Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan. 2.3 Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal. 2.4 Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif. 2.5 Menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik. 2.6 Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal. 2.7 Mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal. 2.8 Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/ madrasah. 2.9 Mengelola peserta didik dalam 23 rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.

Sumber: Permendiknas No 13 Tahun 2007 2.3 SERTIFIKASI GURU 2.3.1 P engertian Sertifikasi Guru Sertifikasi merupakan perwujudan dari UU 14 Tahun 2005 dan PP 19 Tahun 2005 dengan tujuan untuk meningkatkan mutu tenaga pendidik di Indonesia. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia bukan diakibatkan oleh rendahnya input pendidikan, akan tetapi diakibat oleh proses pendidikan yang tidak maksimal dan rendahnya kualitas guru. Sebenarnya akar permasalahan minimnya proses yang dilakukan di sekolah. Proses yang tidak sempurna mengakibatkan kualitas produk yang tidak baik, proses pendidikan di sekolah terletak di tangan guru, bagaimana melaksanakan pembelajaran , penguasaan materi,komunikasi yang dilakukan terhadap peserta didik, memberi motivasi belajar, menciptakan pembelajaran yang kondusif, mengelola pembelajaran jika kualitas yang dimiliki guru rendah. Dalam hal ini pemerintah membuat kebijakan peningkatan kualitas guru dengan melakukan Sertifikasi guru.

Sertifikasi adalah pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen atau bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Menurut UU 14 Tahun 2005, pasal 8 adalah Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, Sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik dimaksud sebagaimana pasal 9 adalah melalui pendidkan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Demikian juga kualifikasi guru dapat dilihat pada PP 19 Tahun 2005, pasal 29 (ayat 1-6) profesi guru untuk PAUD sampai tingkat SMA sederajat harus diploma empat (D4) atau sarjana (S1). 2.3.2 Penyelengggaraan Sertifikasi Lembaga penyelenggara Sertifikasi telah diatur pleh UU 14 Tahun 2005, pasal 11 (ayat 2) yaitu; perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Maksudnya penyelenggara dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki fakultas keguruan, seperti FKIP dan Fakultas Tarbiyah UIN, IAIN, STAIN, STAIS yang telah terakreditasi oleh badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan ditetapkan oleh pemerintah. Pelaksanaan Sertifikasi diatur oleh penyelenggara, yaitu kerja sama antara Dinas Pendidikan Nasional Daerah atau Departemen Agama Provinsi dengan Perguruan Tinggi yang ditunjuk. Kemudian Pendanaan Sertifikasi ditanggung oleh pemerintah dan pemerintah daerah, sebagaimana UU 14 Tahun 2005, pasal 13 (ayat 1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan Sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. 2.3.3 Beban Materi Sertifikasi Beban materi Sertifikasi telah diatur dalam UU 14 Tahun 2005, pasal

25

10 (ayat 1) bahwa guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Beban materi di atas ini merupakan materi mayor yang akan dipragmentasikan pada materi minor, seperti kompetensi pedagogik yang merupakan keilmuan yang mengkaji, mendalami tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, tentunya lebih banyak berbicara psikologi perkembangan, demikian pula kompetensi profesional yang berbicara tentang kode etik, tugas, kewajiban, tanggung jawab, kemampuan seorang guru, dan lain-lainnya. Beban materi itu untuk menambah wawasan guru di lapangan dalam mengantisipasi majunya pekembangan pendidikan, demikian juga sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat pemakai (stakeholders). Sekolah dihadapkan pada dunia maya, penggunaan media elektronik dengan teknologi tinggi yang muncul pada beberapa tahun terakhir. Sementara guru-guru masih banyak yang belum menguasai teknologi ini, maka oleh sebab itu guru diberi pencerahan tentang benda teknologi tersebut, termasuk cara penggunaan dan pengoperasiannya. Media elektronik tersebut untuk memudahkan guru untuk mengkomunikasi pelajaran di kelas terhadap peserta didik dan membantu peserta didik lebih cepat memahami, mengetahui, dan mendalami materi yang disajikan guru. 2.3.4 Pengertian dan Fungsi Portofolio Sertifikasi Guru dalam Jabatan Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas preofesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman,karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial). Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru (khususnya guru dalam jabatan) untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogic dinilai antara

lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembalajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi professional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman juga mengajar, perencanaan (1) dan pelaksanaan guru untuk pembelajaran, dan prestasi akademik. Portofolio berfungsi sebagai: wahana menampilkan dan/atau membuktikan unjuk kerjanya yang meliputi produktifitas, kualitas, dan relevansi melalui karya-karya utama dan pendukung; (2) informasi/data dalam memberikan pertimbangan tingkat kelayakan kompetensi seorang guru, bila dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan; (3) dasar menentukan kelulusan guru yang mengikuti sertifikasi (layak mendapatkan sertifikat pendidik atau belum); (4) dasar memberikan rekomendasi bagi peserta yang belum lulus untuk menentukan kegiatan lanjutan sebagai representasi kegiatan pembinaan dan pemberdayaan guru. 2.3.5 Komponen Portofolio Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No.18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi: 1. kualifikasi akademik 2. pendidikan dan pelatihan 3. pengalaman belajar 4. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran 5. penilaian dari atasan 6. prestasi akademik 7. karya pengembangan profesi 8. keikutsertaan dalam forum ilmiah 9. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan social, dan 10. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

27

Kualifikasi Akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1,S2, atau S3) maupun non gelar (D4 atau Post Graduate diploma), baik di dalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini dapat berupa ijasah atau sertifikat diploma. Pendidikan dan Pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka mengembangkan dan/atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional maupun internasional. Bukti fisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan dari lembaga penyelenggara diklat. Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah, dan/atau kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari komponen inidapat berupa surat keputusan, surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang. Perencanaan Pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Perencanaan pembelajaran inipaling tidak memuat perumusan tujuan/kompetensi, pemolihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber/media pembelajaran, scenario pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Bukti fisik dari sub komponen ini berupa dokumen perencanaan pembalajaran (RP/RPP/SP) yang diketahui/ disahkan oleh atasan. Pelaksanaan Pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi), kegiatan inti (penguasaan materi,strategi pembelajaran, pemanfaatan media/sumber belajar, evaluasi, penggunaan bahasa), dan penutup (refleksi, rangkuman , dan tindak lanjut). Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran yang

dikelola oleh guru dengan format terlampir. Penilaian dari atasan dan pengawas yaitu penilaian atasan terhadap kompetensi kepribadian dan social, yang meliputi aspek-aspek: ketaatan menjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreatifitas, kemampuan menerima kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama dngan menggunakan Format Penilaian Atasan terlampir. Prestasi Akademik yaitu prestasi yang dicapai guru, utamanya yang terkait dengan bidang keahliannya yang mendapat pengakuan dari lembaga/panitia penyelenggara, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Komponen ini meliputi lomba dan karya akademik (juara lomba atau penemuan karya monumental di bidang kependidikan atau non kependidikan), dan pembimbinganteman sejawat dan/atau siswa (instruktur, guru inti, tutor, atau pembimbing). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara. Karya Pengembangan Profesi yaitu suatu karya yang menunjukan adanya upaya danhasil pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru. Komponen ini meliputi buku yang dipublikasikan pada tingkat kabupaten/ kota, provinsi, atau nasional; yang artikelyang tidak dimuat dalam media jurnal/majalah/bulletin terakreditasi, terakreditasi,

daninternasional; menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN; modul/buku cetak local (kabupaten/kota) yang minimal mencakup materi pembelajaran selama 1 (satu) semester; media/alat pembelajaran dalam bidangnya; laporan penelitian tindakan kelas (individu/kelompok); dan karya seni (patung, rupa, tari, sastra, dll). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut. Keikutsertaan dalam forum ilmiah yaitu partisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, atau internasional, baik sebagai

29

pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dilampirkan berupa makalah dan sertifikat/piagam bagi nara sumber, dan sertifikat/piagam bagi peserta. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan social yaitu pengalaman guru menjadi pengurus, dan bukan hanya sebagai anggota di suatu organisasi kependidikan dan social. Pengurus organisasi di bidang kependidikan antara lain pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua jurusan, ketua lab, kepala bengkel, kepala studio, ketua asosiasi guru bidang studi, asosiasi profesi, dan Pembina kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, drumband, mading, karya ilmiah remaja –KIR). Sedangkan pengurus di bidang social antara lain menjabat ketua RW, ketua RT, ketua LMD, dan Pembina kegiatan keagamaan. Bukti fisik yang dilampirkan adalah surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitu penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi criteria kuantitatif (lama waktu, hasil, lokasi/geografis), kualitatif (komitmen, etos kerja), dan relevansi (dalam bidang/rumpun bidang), baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat, piagam, atau surat keterangan. 2.4 Kerangka Berpikir Di lembaga pendidikan guru menjadi orang pertama yang mempunyai tugas membimbing, mengajar, dan melatih anak didik mencapai kedewasaan. Setelah proses pendidikan selesai, diharapkan anak didik mampu hidup dan mengembangkan dirinya di tengah masyarakat dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang sudah melekat di dalam dirinya. Proses belajar mengajar adalah suatu proses interaksi antara guru- siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Proses tersebut akan berlangsung secara optimal dan efektif bila direncanakan dengan baik dan dikelola dengan baik pula. Guru dalam hal ini mau tidak mau harus memenuhi tanggung jawab

profesionalnya dengan lebih mengembangkan kompetensi yang ada pada dirinya untuk mewujudkan suatu bentuk pembelajaran yang efektif dan efisien demi suksesnya penyelenggaraan kurikulum yang ada. Guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi yang wajib dimiliki guru. Kompetensi ini meliputi: (1) kompetensi pedagogic; (2) kompetensi kepribadian; (3) kompetensi professional; (4) kompetensi sosial. Kompetensi ini wajib dimiliki guru mengingat tantangan yang begitu besar bagi guru untuk dapat meningkatkan pembelajaran yang efektif dan efisien yang pada akhirnya meningkatkan kualitas output siswa. Hal ini tentunya akan mencerminkan tingkat kualitas pendidikan secara luas menyangkut pengembangan professional di dunia pendidikan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan pimpinan yang memimpin sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dari tingkat dasar sampai tingkat menengah, dimana kepala sekolah berkewajiban memimpin sekolahnya dengan cara menggerakkan, mengarahkan, dan memotivasi semua guru dan karyawan yang terlibat dalam seluruh kegiatan sekolah dan senantiasa melakukan komunikasi dengan mereka. Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mengelola segala sesuatu yang berkenaan dengan eksistensi dan peningkatan kinerja sekolah. Keberhasilan sekolah dapat dikatakan juga sebagai keberhasilan kepala sekolah. Kepala sekolah yang berdedikasi tinggi tentunya akan cepat merespon segala tantangan yang ada di dunia pendidikan dengan memberikan pemikiran-pemikiran yang cerdas terhadap guru dan pihak sekolah terkait lainnya. Kepemimpinan yang diterapkan harus mampu menjangkau secara efektif dan efisien terhadap kebijakan yang berkenaan dengan peningkatan kualitas sekolah. Dalam hal ini yang banyak berperan sebagai sarana realisasi adalah yang berhubungan dengan profesionalitas guru dimana guru dipandang sebagai agen pembelajaran. Kompetensi kepemimpinan menurut Permendiknas no 13 tahun 2007 meliputi: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi manajerial;

31

Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Indikatornya:
Kompetensi Kompetensi Kompetensi Kompetensi Kompetensi kepribadian manajerial kewirausahaan supervise sosial

(3) kompetensi kewirausahaan; (4) kompetensi supervisi; (5) kompetensi sosial. Sedangkan indikator sertifikasi guru yang diungkap dalam Panduan Penyusunan Portofolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Tahun 2007 yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, meliputi: (1) kualifikasi akademik; (2) pendidikan dan pelatihan; (3) pengalaman belajar; (4) perencanaan dan pelaksanaan dan pembelajaran; (5) penilaian dari atasan; (6) prestasi akademik; (7) karya pengembangan profesi; (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Adanya tuntutan Sertifikasi memberikan peluang bagi guru untuk lebih mengaktualisasikan diri sekaligus sebagai motivasi untuk lebih mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. Guru sebagai agen pembelajaran harus mampu membuktikan konsistensi dan profesionalitas kerjanya agar dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Dari kajian teori di atas peneliti berasumsi bahwa profesionalitas guru dipengaruhi oleh banyak factor. Beberapa factor diantaranya adalah kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi guru. Dengan kepemimpinan yang bagus akan mengarahkan guru sebagai tenaga pengajar yang profesional. Begitu juga dengan adanya sertifikasi, seorang guru bisa dikatakan professional jika telah tersertifikasi.

Untuk lebih memperjelas hubungan antara ketiga variabel tersebut, maka di bawah ini digambarkan bagan sebagai berikut:

i Guru (X2) nya: fikasi akademik dikan dan pelatihan laman belajar canaan dan pelaksanaan pembelajaran aian dari atasan si akademik pengembangan profesi tsertaan dalam forum ilmiah laman organisasi di bidang kependidikan dan social hargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

Profesionalitas Guru (Y) Indikatornya: Kompetensi pedagogik Kompetensi kepribadian Kompetensi profesional Kompetensi sosial

Gambar 1. Kerangka berfikir 2.5 Hipotesis Berdasarkan dirumuskan latar belakang sebagai pemasalahan berikut: "Ada tersebut pengaruh di atas positif hipotesis

kepemimpinan kepala sekolah dan tuntutan sertifikasi guru terhadap profesionalitas guru di SMA Negeri 1 Pemalang”. III. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksploratif yang 3.1 Populasi Penelitian memaparkan dan menjabarkan data kepemimpinan kepala sekolah, tuntutan Sertifikasi dan profesionalitas guru. Penelitian ini juga bersifat kuantitatif yaitu suatu pengukuran gejala- gejala atau indikasi- indikasi social yang diterjemahkan dalam skor- skor atau angka- angka untuk dianalisis secara statistik. Menurut Margono (2003:118)) populasi adalah seluruh data yang

33

menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Arikunto (2002:112) berpendapat bahwa, jika subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua. Sehingga dengan jumlah 94 responden maka penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan populasi, sehingga sampel penelitian ini adalah populasi itu sendiri. Penelitian ini menggunakan penelitian populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA Negeri 1 Pemalang yang berjumlah 73 orang. 3.2 Variabel Penelitian Variabel adalah konstruk yang sifat- sifatnya sudah diberi nilai dalam bentuk bilangan atau konsep yang mempunyai dua nilai atau lebih pada suatu kontinum (Hasan,2004:12). Sesuai dengan permasalahan yang sudah dirumuskan, maka variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Variabel Bebas (Independent Variable) dalam penelitian ini adalah: (X1) Kepemimpinan kepala sekolah, dengan indikator : 1) Kompetensi kepribadian 2) Kompetensi manajerial 3) Kompetensi kewirausahaan 4) Kompetensi supervisi 5) Kompetensi sosial (X2) Sertifikasi Guru, dengan indikator: 1) Kualifikasi Akademik 2) Pendidikan dan pelatihan 3) Pengalaman mengajar 4) Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran 5) Penilaian dari atasan 6) Prestasi akademik 7) Karya pengembangan profesi 8) Keikutsertaan dalam forum ilmiah 9) Pengalaman organissasi di bidang kependidikan dan social

10) Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. 2. Variabel Terikat ( Dependent Variable) dalam penelitian ini adalah profesionalitas guru, dengan indikator : 1) Kompetensi pedagogik 2) Kompetensi kepribadian 3) Kompetensi profesional 4) Kompetensi sosial 3.3 Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner. dengan Kuesioner cara merupakan metode sejumlah pengumpulan informasi menyampaikan

pertanyaan tertulis untuk menjawab secara tertulis pula oleh responden (Margono, 2003:170). Metode kuesioner digunakan untuk memperoleh informasi atau keterangan responden mengenai kepemimpinan kepala sekolah, tuntutan Sertifikasi Guru dan Profesionalitas guru. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner tertutup atau kuesioner yang telah berisi jawabannya, sehingga responden tinggal memilh jawabannya saja. 3.4 Uji Instrumen Uji instrumen dalam penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. 3.4.1. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument (Arikunto 2006:168). Untuk mengetahui validitas yang dicapai, digunakan rumus korelasi product moment dari pearson, sebagai berikut :
N ∑ XY −(∑ X )(∑ Y )
2

r

xy

=

{N ∑ X

− (∑ X )

2

} {N ∑ Y

2

− (∑ Y )

2

}

rxy N

= Koefisien korelasi antara variabel X dan Y = Jumlah subyek 35

X
Y

= skor indikator yang diuji = Jumlah skor indikator (Arikunto 2006 : 170)

∑X² = Jumlah kuadrat nilai X ∑Y² = Jumlah kuadrat Y

Hasil perhitungan r xy dikonsultasikan pada tabel nilai koefisien korelasi dengan tabel nilai koefisien korelasi (r) pada taraf signifikansi 5%, jika r xy 3.4.2 r maka butir soal tersebut valid. > tabel

Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah cukup baik (Arikunto 2006:178). Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Reliabilitas item di uji dengan menggunakan rumus alpha :
2  k  ∑σb  1 −    ( k − 1)   σ t2    r11= 

keterangan : rxy = Reliabilitas instrument K = Banyaknya butir pertanyaan

∑ σb

2

=

Jumlah varians butir (Arikunto 2006:196)

σt 2 = Varians total

Kemudian menentukan reliabel tidaknya instrumen dilakukan dengan cara mengkonsultasikan dengan r tabel. Jika hasil perhitungan lebih besar dari r tabel maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk mengambil data dalam penelitian. 3.4.3 Pilot Tes Pilot Tes digunakan untuk menguji reliabilitas dan validitas instrument penelitian. Sebelum angket disebarkan pada responden

sesungguhnya maka angket diujicobakan terlebih dahulu sebagai sampel. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan pertanyaan yang tidak relevan, mengevaluasi apakah urutan-urutan pertanyaan perlu diubah atau tidak, dan untuk mengetahui lamanya pengisian angket (Sukirman dalam Wahyuni, 2007 :33).
3.5

Metode Analisis Data Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah : 3.5.1 Analisis Deskriptif Persentase Analisis deskriptif persentase digunakan untuk mengkaji variabelvariabel yang ada dalam penelitian. Untuk mengukur persepsi guru mengenai kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja, dan kinerja guru ditentukan n x100% N % n N : Nilai persentase atau hasil : Jumlah nilai yang diperoleh : Jumlah seluruh nilai total (skor ideal) dengan perhitungan indeks persentase dengan menggunakan rumus sebagai berikut: %=

Keterangan =

(Ali, 1993:184) Sedangkan penentuan tabel kategori adalah sebagai berikut: 5 1. Persentase Maksimal = x 100% = 100% 5 1 2. Persentase Minimum = x 100% = 20% 5 3. Re n tan g Persentase = 100% − 20% = 80% 80 4. IntervalPersentase = x 100% = 16% 5 3.5.2 Uji Prasyarat

Uji Normalitas Data Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data 37

berdistribusi normal atau tidak. Jika data tersebut berdistribusi normal maka analisis yang digunakan dapat menggunakan analisis dengan statistik parametrik yaitu regresi ganda, tetapi jika tidak normal tidak dapat menggunakan analisis regresi dan menggunakan analisis dengan statistik non parametrik yaitu range spearman. Uji normalitas dilakukan dengan uji kolmogorov-smirnov satu arah atau analisis grafis. Dalam penelitian ini, semua data yang sudah terkumpul kemudian diolah menggunakan bantuan software SPSS Release 12. 3.5.3 Analisis Inferensial Analisis statistik inferensial yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik parametrik dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda. Penggunaan statistik ini dengan dasar pertimbangan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal dan menggunakan skala data interval. Analisis Regresi Linier Berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui apakah kepemimpinan kepala sekolah dan sertifikasi guru berpengaruh terhadap profesionalitas guru di SMA Negeri 1 Pemalang. Untuk mencari persamaan regresi ganda menurut Algifari (2000:65) digunakan rumus : Υ = a + b1 X 1 + b2 X 2 Untuk mendapatkan persamaan regresi tersebut, dalam penelitian ini 3.4.4 untuk menunjukkan proses analisis data menggunakan software SPSS Release 12. Uji Asumsi Klasik Evaluasi ekonometrika dimaksudkan untuk mengetahui apakah model regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisa dalam penelitian memenuhi asumsi klasik atau tidak. Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Uji Multikolinieritas Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditentukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model

regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabelvariabel ini tidak ortogonal, yakni variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:
2 a. Nilai R yang dihasilkan oleh suatu estimasi model

regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel b. Menganalisis independen. c. Multikolonieritas dapat juga dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya, (2) variace inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menujukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen dan diregres terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance <0,01 atau sama dengan nilai VIF >0. 2. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda 39 independen matrik banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen. korelasi variabel-variabel

disebut heteroskedastisitas. 3.4.5 Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian dilakukan secara parsial (sendiri-sendiri) dan secara simultan (bersama-sama). Oleh karena itu, pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Uji Simultan Pengujian secara simultan ini dimaksudkan untuk menguji pengaruh dari semua variabel bebas terhadap variabel terikat. Untuk kepentingan pengujian hipotesis penelitian dirumuskan hipotesis statistik sebagai berikut : Ho :b1=b 2 = 0 , artinya semua variabel independen (variabel bebas) bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (variabel terikat). Ha :b1≠ b 2 ≠ 0 , artinya semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Kaidah pengambilan keputusan yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) Jika 2) Jika Fhitung > Ftabel Fhitung < Ftabel , maka Ho ditolak , maka Ho diterima

Dalam penelitian ini, untuk menunjukkan proses analisis data digunakan bantuan software SPSS Release 12. Oleh karena itu, kaidah pengambilan keputusan yang akan digunakan dengan memperhitungkan dasar nilai probabilitas sebagai ganti dari penggunaan Tabel F. Dengan demikian kaidah pengambilan keputusan ditetapkan sebagai berikut: 1) Jika nilai probabilitas signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak. 2) Jika nilai probabilitas signifikansi lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima. b. Uji Parsial

Pengujian secara parsial ini dimaksudkan untuk menguji pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Untuk kepentingan pengujian hipotesis penelitian dirumuskan hipotesis statistik sebagai berikut : Ho :bi = 0 , artinya suatu variable bebas bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variable dependen. Ha :bi ≠ 0 , artinya variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat. Apabila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan derajat kepercayaan sebesar 5%, maka kaidah pengambilan keputusan yaitu: 1) Apabila nilai 2) Apabila nilai thitung > ttabel t hitung < ttabel maka Ho ditolak maka Ho diterima

Dalam penelitian ini, untuk menunjukkan proses analisis data digunakan bantuan software SPSS Release 12. Oleh karena itu, kaidah pengambilan keputusan yang akan digunakan dengan memperhitungkan dasar nilai probabilitas sebagai ganti dari penggunaan Tabel t. Dengan demikian kaidah pengambilan keputusan ditetapkan sebagai berikut: 1) Jika nilai probabilitas signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak. 2) Jika nilai probabilitas signifikansi lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima.

41

DAFTAR PUSTAKA Administrator, 2007, Peranan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru dan Staf TU di SMAN 11 Kota Cirebon, http/www.google.com/kinerja sekolah. ( 27 November 2008) Agais P, Dian.2007. Persepsi Siswa Tentang Kinerja Guru Akuntansi (Studi Kasus di SMA Ibu Kartini Semarang).Sripsi.Semarang Fakultas Ekonomi UNNES. Algifari. 2000. Analisis Regresi, Kasus, dan Solusi. Yogyakarta : BPFE. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT Rineka Cipta. Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Panduan Penyusunan Portofolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Tahun 2004. Hasanah, Aas, 2007. Pengaruh Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru di SLTPN Kota Bandung. http/www.google.com/kinerja sekolah. (27 November 2008) Maftukhah, Nurul.2007. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Guru dan Karyawan SMK Negeri 1 Bawang Kabupaten Pemalang. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi UNNES. Mendikbud RI. Keputusan Mendikbud RI Nomor 25/O/1995 Tentang Petunjuk Teknis dan Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jakarta : Depdikbud, Dirjen Dikdasmen. M.Magdalena,Maria.2006.Pengaruh Siswa Pada Bidang Studi Akuntansi dan Kompetensi Guru Terhadap Hasil Belajar Akuntansi Pada Siswa Kelas 1 SMU Negeri 9 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 .Skripsi. Semarang:Fakultas Ekonomi UNNES. Mulyasa. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS&KBK. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesioanal. Bandung : PT Remaja

Rosdakarya. Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung ; Transito. Suryani, Nani.2006. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan Kerja Guru SMA Negeri Se-Kabupaten Kuningan. Skripsi.Semarang:Fakultas Ekonomi UNNES. Trianto, Dan Tutik Triwulan Tutik. 2007. Sertifikasi guru dan upaya peningkatan kualifikasi, kompetensi & kesejahteraan. Jakarta; Prestasi Pustaka Publisher. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.2006. Surabaya : Kesindo Utama. Usman, Moh, User. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wahjosumidjo. 2005. Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta : Ghalia Indonesia. Wahyudi, Eko. 2006. Hubungan Persepsi Guru Mengenai Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi dengan Produktivitas Kerja Guru SDN di Kec.Margasari Kab.Tegal. Tesis. Semarang : Pasca Sarjana UNNES. Yamin,Martinis.2007.Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia.Jakarta:Gaung Persada Press.

43

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful