You are on page 1of 9

PEMICU 1

1. Secara garis besar, faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya celah palatum dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Herediter Faktor herediter dianggap sebagai faktor yang sudah dapat dipastikan sebagai penyebab terjadinya celah bibir. Brophy (1971) mencatat beberapa kasus anggota keluarga yang mempunyai kelainan wajah dan palatal yang terdapat pada beberapa generasi. Kelainan ini tidak selalu serupa, tetapi bervariasi antara celah bibir unilateral dan bilateral. Pada beberapa contoh, tampaknya mengikuti hukum Mendel dan pada kasus lainnya distribusi kelainan itu tidak beraturan. Schroder mengatakan bahwa 75% dari faktor keturunan yang menimbulkan celah bibir adalah resesif dan hanya 25% bersifat dominan. Patten menyatakan bahwa pola penurunan herediter adalah sebagai berikut: Mutasi gen Ditemukan sejumlah sindroma/gejala yang diturunkan menurut hukum Mendel, baik secara otosomal dominan, resesif, maupun X-linked. Pada otosomal dominan, orangtua yang mempunyai kelainan ini menghasilkan anak dengan kelainan yang sama, sedangkan pada otosomal resesif kedua orangtua normal, tetapi sebagai pembawa gen abnormal. Pada kasus terkait X (X-linked), wanita dengan gen abnormal tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan sedangkan pada pria dengan gen abnormal menunjukkan kelainan ini (Albery, 1986). Kelainan kromosom Celah bibir terjadi sebagai suatu ekspresi bermacam-macam sindroma akibat penyimpangan dari kromosom, misalnya Trisomi 18 dan Trisomi 13 (Siggers, 1978). Faktor lingkungan Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio antara lain: Faktor usia ibu Menurut Siggers, dengan bertambahnya usia ibu waktu hamil, bertambah pula risiko dari ketidaksempurnaan pembelahan meiosis yang akan menyebabkan bayi dengan kelainan trisomi. Peningkatan risiko ini diduga sebagai akibat bertambahnya umur sel telur yang dibuahi. Wanita dilahirkan dengan kira-kira 400.000 gamet dan tidak memproduksi gametgamet baru selama hidupnya. Oleh karena itu, jika seorang wanita berumur 35 tahun maka sel-sel telurnya juga berusia 35 tahun (Pai, 1987). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh tim dari Kanada mengatakan bahwa risiko mengandung anak dengan cacat bawaan tidak bertambah besar sesuai dengan bertambahnya usia ibu (Margretta, 1991). Obat-obatan Pemberian obat pada wanita hamil menimbulkan persoalan bagi seorang dokter. Meskipun obat yang digunakan selama kehamilan terutama untuk mengobati penyakit ibu, tetapi hampir selalu janin yang tumbuh akan menjadi penerima obat (Santoso, 1985). Menurut Schardein (1985), penggunaan asetosal atau aspirin sebagai obat analgetik pada masa kehamilan

1990). Dosis yang kecil pun dapat menimbulkan mutasi gen. Walaupun pada manusia belum terbukti. Jika kedua orangtuanya tidak menderita palatoschisis. tetapi memiliki anak tunggal dengan . dapat terjadi bila dosis penyinaran tidak menyebabkan kemandulan. 1985). 1987). Nutrisi Insidensi kasus celah bibir dan celah langit-langit lebih tinggi pada masyarakat golongan ekonomi lemah. korteks adrenal menghasilkan hidrokortison yang berlebihan. telah dibuktikan bahwa pemberian hidrokortison yang tinggi pada keadaan hamil menyebabkan celah bibir atau celah langit-langit. Obat-obat antineoplastik terbukti menyebabkan cacat ini pada binatang. Orang tua dengan palatoschisis mempunyai resiko lebih tinggi untuk memiliki anak dengan palatoschisis. sulfonamid. indometasin. Efek genetik yaitu efek yang mengenai alat-alat reproduksi yang akibatnya diturunkan pada generasi selanjutnya. Jika hanya salah satu orang tua yang menderita palatoschisis. Penyebabnya diduga adalah kekurangan nutrisi (Sastrawinata. aminoglikosid. ibuprofen. Falconer mengemukakan suatu teori bahwa etiologi palatoschisis bersifat multifaktorial dimana pembentukan celah pada palatum berhubungan dengan faktor herediter dan faktor lingkungan yang terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan processus. Radiasi Efek teratogenik sinar pengion telah diketahui dan diakui dapat mengakibatkan timbulnya celah bibir dan celah langit-langit. Stres emosional Pada keadaan tersebut. terutama pada kehamilan trimester pertama TAMBAHAN ETIOLOGI Pada tahun 1963.trimeseter pertama dapat menyebabkan terjadinya celah bibir.4 1. fenasetin. dan penisilamin (Santoso. 1990). Daya pembentukan embrio yang menurun Celah bibir sering ditemukan pada anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang mempunyai anak banyak Penyakit infeksi Beberapa ahli menyatakan bahwa penyakit sifilis dan virus rubella dapat menyebabkan terjadinya celah bibir dan langit-langit. sebaiknya obat-obat ini tidak diberikan pada kehamilan (Gan S. Efek genetik tidak mengenal ambang dosis. Makin tinggi dosis makin besar kemungkinannya. Faktor herediter Sekitar 25% pasien yang menderita palatoschisis memiliki riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama. Trauma. Beberapa obat yang sebaiknya tidak dikonsumsi selama kehamilan adalah rifampisin. asam flufetamat. Pada binatang percobaan. maka kemungkinan anaknya menderita palatoschisis adalah sekitar 4%. Beberapa obat antihistamin yang digunakan sebagai anti emetik selama kehamilan dapat menyebabkan terjadinya celah langit-langit (Soekandar.

perkembangan bicara yang abnormal. dan gangguan fungsi tuba eustachi.3 b. kegagalan fusi lapisan palatum. ketulian. Adanya hubungan antara rongga mulut dan hidung menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk mengisap pada bayi. dimulai dari foramen insisivum ke posterior.palatoschisis maka resiko generasi berikutnya menderita penyakit yang sama juga sekitar 4%.3. atau hanya berupa celah pada submukosa. yaitu celah langit-langit lengkap dimana kelainan yang terdapat pada langit-langit juga linggir alveolar dan bibir terkena baik unilateral maupun bilateral. yang mencakup palatum durum dan palatum molle. 2. melibatkan anomali skeletal. yaitu celah langit-langit tidak lengkap. dan inkomplit (subtotal). dan gangguan pada pertumbuhan wajah. Palatoschisis sendiri dapat diklasifikasikan lebih jauh sebagai celah hanya pada palatum molle. Kelainan bentuk hanya terjadi pada palatum durum maupun palatum mole. Mekanisme velopharyngeal yang utuh penting dalam menghasilkan suara non nasal dan sebagai modulator aliran udara dalam pembentukan fonem lainnya yang membutuhkan nasal coupling. yaitu Xq13-21 pada lokus 6p24. Kenyataan lain yang menunjang. Palatoschisis juga dapat bersifat unilateral atau bilateral. Celah Palatum Disebabkan karena pertumbuhan lapisan palatum yang tidak adekuat. Kesemuanya memberikan gejala patologis mencakup kesulitan dalam intake makanan dan nutrisi. Alkohol. dapat menyebabkan berkurangnya pengucapan normal). Celah pada keseluruhan palatum terbagi atas dua yaitu komplit (total). dihubungkan dengan terbentuknya celah. Infeksi selama kehamilan semester pertama seperti infeksi rubella dan cytomegalovirus. telah berhasil diisolasi suatu X-linked gen. maupun defek lahir lainnya. dan steroid beresiko menimbulkan palatoschisis pada bayi. Dugaan mengenai hal ini ditunjang kenyataan.3 Insersi yang abnormal dari m. inkompetensi velopharyngeal. kepala janin yang sangat lebar. Incomplete cleft palate. keadaan yang menyebabkan hipoksia. Infeksi telinga yang rekuren telah dihubungkan dengan timbulnya ketulian yang memperburuk cara bicara pada pasien dengan palatoschisis. infeksi telinga tengah yang rekuren. merokok. seperti fenitoin. Kelainan celah palatum dibagi dua: 1. jika tidak sukses dilakukan pada awal perkembangan bicara. Palatoschisis dapat berbentuk sebagai palatoschisis tanpa labioschisis atau disertai dengan labioschisis. . dan defisiensi makanan (seperti defisiensi asam folat) dapat menyebabkan palatoschisis. perkembangan bicara yang abnormal. 2.tensor veli palatine menyebabkan tidak sempurnanya pengosongan pada telinga tengah. atau dapat juga terjadi rupture setelah fusi. peninggian lapisan palatum yang tidak tepat. bahwa demikian banyak kelainan / sindrom disertai celah bibir dan langitan (khususnya jenis bilateral).10 PATOFISIOLOGI Pasien dengan palatoschisis mengalami gangguan perkembangan wajah. retinoid (golongan vitamin A). 2. Faktor lingkungan Obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan.3 pada pasien sumbing bibir dan langitan. (Manipulasi anatomi yang kompleks dan sulit dari mekanisme ini.4. Complete cleft palate.

Beberapa bayi juga memiliki masalah dengan tersumbat. obstruksi jalan nafas post operatif merupakan komplikasi yang paling penting pada periode segera setelah dilakukan operasi. Hal ini bisa berbahaya pada bayi. yakni pada meraka yang total volume darahnya rendah. 4. Insidennya telah dilapornya cukup tinggi yakni sebanyak 34%. tercekik atau susu keluar dari hidung ketika diberi makan. 13 Komplikasi post operatif yang biasa timbul yakni: a. atau hal tersebut dapat menjadi permasalahan yang tertunda. Obstruksi jalan nafas Seperti disebutkan sebelumnya. perdarahan yang berarti mengharukan untuk dilakukannya transfuse. Bayi dengan celah palatum kecil masih bisa menyusu. otitis media. pembuatan dan pemliharaan dari trakeotomi perlu sampai perbaikan palatum telah sempurna b. Intraoperative hemorrhage is a potential complication. Fistel cleft palate post operatif bisa ditangani dengan dua cara. terutama pada anak-anak dengan madibula yang kecil. 5. prosthesis gigi bisa digunakan untuk . tuli. Obstruksi jalan nafas bisa juga menjadi masalah yang berlarut-larut karena perubahan pada dinamika jalan nafas. Celah pada atap mulut membuat bayi kesulitan menghisap cukup susu melalui puting. c. Pada beberapa instansi. Fistel palatum Fistel palatum bisa timbul sebagai komplikasi pada periode segera setelah dilakukan operasi. Untuk menjaga dari kehilangan darah post operatif. Selain itu bayi tersebut sering tersedak karena terbukanya respiratory tract. tapi jika belahannya besar maka akan sulit menghisap dengan lidah dan tidak bisa menjaga puting tetap berada di rongga mulut . gangguan bicara. Akibatnya ASI akan mengalir keluar. Penilaian preoperative dari jumlah hemoglobin dan hitung trombosit sangat penting. Because of the rich blood supply to the palate. masuk ke hidung dan telinga. dan kelainan pertumbuhan gigi. Suatu fistel pada palatum dapat timbul dimanapun sepanjang sisi cleft. Injeksi epinefrin sebelum di lakukan insisi dan penggunaa intraoperatif dari oxymetazoline hydrochloride capat mengurangi kehilangan darah yang bisa terjadi. 4. Selain itu dapat menyebabkan gangguan psikososial. bayi dengan celah bibir/palatum dan bayi dengan celah palatum tersendiri biasanya memiliki masalah. Penempatan Intraoperatif dari traksi sutura lidah membantu dalam menangani kondisi ini. dan berat-ringannya cleft telah dikemukanan bahwa hal tersebut berhubungan dengan resiko timbulnya fistula. Karena kayanya darah yang diberikan pada paltum.5 KOMPLIKASI Anak dengan palatoschisis berpotensi untuk menderita flu. area palatum yang mengandung mucosa seharusnya diberikan avitene atau agen hemostatik lainnya. Keadaan ini timbul sebagai hasil dari prolaps dari lidah ke orofaring saat pasien masih ditidurkan oleh ahli anastesi. Perdarahan Perdarahan intraoperatif merupakan komplikasi yang potensil terjadi.3. Pada pasien yang tanpa disertai dengan gejala.

Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi. Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung. terutama supply ke anterior merupakan alasan utama gagalnya penutupan dari fistula. Saat ini. Kontrofersi yang cukup besar ada pada topik ini karena penyebab dari hipoplasia. LeFort I osteotomies dapat digunakan untuk memperbaiki hipoplasia midface yang menghasilkan suatu maloklusi dan deformitas dagu. yang dapat terjadi setelah operasi. atau tingginya yang abnormal. Wound expansion Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. penutupan fistula anterior maupun posterior yang persisten seharusnya di coba tidak lebih dari 6-12 bulan setelah operasi. Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari segmen lateral otot orbikularis. Sedikitnya supply darah. Midface abnormalities Penanganan Cleft palate pada beberapa instansi telah fokus pada intervensi pembedahan terlebih dahulu.menutup defek yang ada dengan hasil yang baik. Whistle deformity Whistle deformity merupakan defisiensi vermilion dan mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi bibir. d. Jika metode penutupan sederhana gagal. apakah hal tersebut merupakan perbaikan ataupun efek dari cleft tersebut pada pertumbuhan primer dan sekunder pada wajah. Salah satu efek negatifnya adalah retriksi dari pertumbuhan maksilla pada beberapa persen pasien. anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan. ini tidak jelas. g. i. . Malposisi Premaksilar Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion. trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi. 7. yakni penyempitan batang gigi. Pasien dengan gejala diharuskan untuk terapi pembedahan. Bila hal ini terjadi. ketika supply darah telah memiliki kesempatan untuk mengstabilkan dirinya. Oleh karena itu. dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan anestesi yang terpisah. Sebanyak 25% pasien dengan cleft palate unilateral yang telah dilakukan perbaikan bisa membutuhkan bedah orthognathic.3 6. flap jaringan seperti flap lidah anterior bisa dibutuhkan untuk melakukan penutupan. dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat simpul yang terbenam.3 e. banyak centre menunggu sampai pasien menjadi lebih tua (paling tidak 10 tahun) sebelum mencoba untuk memperbaiki fistula. f. h. Wound infection Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar. Palatum yang diperbaiki pada usia dini bisa menyebabkan berkurangnya demensi anterior dan posteriornya.

P. F. Dan juga dapat merusak benih gigi.5 kg). M. Sedangkan menurut Peterson et. maka anak akan terjamin suatu operasi yang aman. V. dengan risiko pembiusan dan risiko pembedahan yang minimal serta prediksi kesembuhan yang baik. 10. 9. Selain itu jika dilakukan diatas usia optimal. yaitu berat badan bayi mencapai 10 pound (4. jumlah lekosit di bawah 10. rekonstruksi celah bibir dikerjakan sedini mungkin. pengucapan huruf bibir B.al (1993). . serta hitung jumlah sel darah putih kurang dari 10.000 per mL menunjukkan anak dalam daya tahan tubuh baik.8. karena dibawah 10 minggu masih terlalu rentan jika dilakukan anastesi dan pembedahan. Pembedahan palatoplasti jika dilakukan dibawah usia optimal akan menyebabkan pertumbuhan rahang terganggu. dan umur di atas 10 minggu.000 per milimeter kubik. bayi / anak akan dievaluasi untuk menilai kemampuan dan daya tahan tubuhnya terhadap tindakan operasi. HB di atas 10 gr%. Resiko yg terjadi jika pembedahan dilakukan sebelum atau sesudah usia optimal: Pada labioplasti jika dilakukan dibawah usia optimal maka akan beresiko tinggi. menurut Wilhemsen & Musgrave (1977). Prasyarat yang lazim digunakan untuk menyatakan kesiapan atau kelayakan seorang bayi / anak boleh dioperasi adalah Ralph Millard’s rule of ten : yaitu berat badan anak lebih dari 10 pounds atau sekitar 5 kg atau usia bayi / anak lebih dari 10 minggu. yaitu pada fossa canina. Dan jika masih terdapat celah sisa pada operasi sebelumnya dapat dilakukan operasi kembali sebelum usia anak mencapai 2 tahun. Dalam hal persiapan operasi. mengacu pada "The Rule of Tens". W tidak terganggu. kalau melewati usia 2 tahun maka resiko pengucapan akan terganggu. kadar Hemoglobin darah lebih dari 10 gr % menunjukkan kemampuan oksigenasi anak baik. Usia optimal dan syarat untuk rekonstruksi labioplasti: Waktu pembedahan yang optimum. Bilamana prasyarat ini terpenuhi. waktu anak mulai berbicara pada usia 2 tahun atau lebih sehingga dapat menyebabkan tidak terjadi perubahan suara karena anak sudah terbiasa dengan nada suara sengau sehingga dibutuhkan speech therapist yang lebih sulit. Jika koreksi anatomi bibir sudah sempurna pada usia 6 bulan. Dan jika dilakukan diatas usia optimal maka skar bekas operasi akan tampak lebih jelas.

dan otitis media membutuhkan penanganan medis terlebih dahulu sebelum diperbaiki. ahli ortodonti. Pada usia 1-2 minggu dapat dipasangkan obturator untuk menutup celah pada palatum. terutama jika dagu dengan retroposisi (dagu pendek. Botol susu dibuatkan lubang yang besar sehingga susu dapat mengalir ke dalam bagian belakang mulut dan mencegah regurgitasi ke hidung. agar dapat menghisap susu. dimana ketika dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat pasien menjadi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan nutrisi menjadi tidak cukup.3 Perawatan Umum Pada Cleft Palatum Pada periode neonatal beberapa hal yang ditekankan dalam pengobatan pada bayi dengan cleft palate yakni: 1. pada bayi yang masih disusui. komplikasi dari palatoschisis yakni permasalahan dari intake makanan. Speech therapist untuk fungsi bicara. dan anestesiologis. Terapi Non-bedah Palatoschisis merupakan suatu masalah pembedahan. Pemeliharaan jalan nafas Pernafasan dapat menjadi masalah anak dengan cleft. meskipun bayi tersebut dapat melakukan gerakan menghisap. 16 1. Akan tetapi. Intake makanan Intake makanan pada anak-anak dengan cleft palate biasanya mengalami kesulitan karena ketidakmampuan untuk menghisap. ahli THT untuk mencegah menangani timbulnya otitis media dan kontrol pendengaran. mikrognatik. melibatkan berbagai unsur antara lain. (5) 2. sehingga tidak ada terapi medis khusus untuk keadaan ini. nutrisi yang adekuat mungkin bisa diberikan bila susu dan makanan lunak jika lewat bagian posterior dari cavum oris.TAMBAHAN PENATALAKSANAAN Penanganan kecacatan pada celah bibir dan celah langit-langit tidaklah sederhana. obstruksi jalan nafas. Kemampuan menelan seharusnya tidak berpengaruh. Setiap spesialisasi punya peran yang tidak tumpangtindih tapi saling saling melengkapi dalam menangani penderita CLP secara paripurna. atau dengan sendok dengan posisi setengah duduk untuk mencegah susu melewati langitlangit yang terbelah atau memakai dot lubang kearah bawah ataupun dengan memakai dot yang memiliki selang yang panjang untuk mencegah aspirasi. rahang rendah (undershot jaw). fungsi muskulus genioglossus . ahli Bedah Plastik. sebaiknya susu diberikan melalui alat lain/ dot khusus yang tidak perlu dihisap oleh bayi.

Pada usia tersebut akan memberikan hasil fungsi bicara yang optimal karena memberi kesempatan jaringan pasca operasi sampai matang pada proses penyembuhan luka sehingga sebelum penderita mulai bicara dengan demikian soft palate dapat berfungsi dengan baik. Teknik V-Y push-back Teknik V-Y push-back mencakup dua flap unipedikel dengan satu atau dua flap palatum unipedikel dengan dasarnya disebelah anterior. 2. Teknik von Langenbeck Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh von Langenbeck yang merupakan teknik operasi tertua yang masih digunakan sampai saat ini. . 3. yaitu: 1. Teknik ini menggunakan teknik flap bipedikel mukoperiosteal pada palatum durum dan palatum molle. dilakukan pada usia antara 12-18 bulan. terutama pada anak yang mempunyai resiko mengalami gangguan bicara karena cleft palatum. Masalah ini harus mendapat perhatian yang serius sehingga komplikasi hilangnya pendengaran tidak terjadi. Pengobatan yang paling utama adalah insisi untuk ventilasi dari telinga tengah sehingga masalah gangguan bicara karena tuli konduktif dapat dicegah. Ada beberapa teknik dasar pembedahan yang bisa digunakan untuk memperbaiki celah palatum. Teknik double opposing Z-plasty Teknik ini diperkenalkan oleh Furlow untuk memperpanjang palatum molle dan membuat suatu fungsi dari m. Untuk memperbaiki kelainan yang ada. sehingga menyebabkan obstruksi parsial atau total saat inspirasi (The Pierre Robin Sindrom) 3.(5) 2. dasar flap ini disebelah anterior dan posterior diperluas ke medial untuk menutup celah palatum. Flap anterior dimajukan dan diputar ke medial sedangkan flap posterior dipindahkan ke belakang dengan teknik V to Y akan menambah panjang palatum yang diperbaiki. Terapi bedah Terapi pembedahan pada palatoschisis bukanlah merupakan suatu kasus emergensi. Komplikasi primer dari efusi telinga tengah yang menetap adalah hilangnya pendengaran.hilang dan lidah jatuh kebelakang. Gangguan telinga tengah Otitis media merupakan komplikasi yang biasa terjadi pada cleft palate dan sering terjadi pada anak-anak yang tidak dioperasi.levator. sehingga otitis supuratif rekuren sering menjadi masalah.

Teknik ini mencakup pembuatan dua flap pedikel dengan dasarnya di posterior yang meluas sampai keseluruh bagian alveolar. Bila setelah palatoplasty dan speech terapi masih didapatkan suara sengau maka dilakukan pharyngoplasty untuk memperkecil suara nasal (nasal escape) biasanya dilakukan pada usia 4-6 tahun. Pada usia anak 8-9 tahun ahli ortodonti memperbaiki lengkung alveolus sebagai persiapan tindakan alveolar bone graft dan usia 9-10 tahun spesialis bedah plastic melakukan operasi bone graft pada celah tulang alveolus seiring pertumbuhan gigi caninus. Teknik Schweckendiek Teknik ini diperkenalkan oleh Schweckendiek pada tahun 1950. pada teknik ini.16 Perawatan setelah dilakukan operasi. Berikan antibiotik selama tiga hari. Bila anak yang masih kecil. 5. palatum molle ditutup (pada umur 4 bulan) dan di ikuti dengan penutupan palatum durum ketika si anak mendekati usia 18 bulan. tidak boleh makan/minum yang terlalu panas ataupun terlalu dingin yang akan menyebabkan vasodilatasi dan tidak boleh menghisap /menyedot selama satu bulan post operasi untuk menghindari jebolnya daerah post operasi. Speech terapi mulai diperlukan setelah operasi palatoplasty yakni pada usia 2-4 tahun untuk melatih bicara benar dan miminimalkan timbulnya suara sengau karena setelah operasi suara sengau masih dapat terjadi suara sengau karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah. posisi tidur pasien harusnya dimiringkan/tengkurap untuk mencegah aspirasi bila terjadi perdarahan. Flap ini kemudian diputar dan dimajukan ke medial untuk memperbaiki kelainan yang ada.4. Jaga hygiene oral bila anak sudah mengerti. Teknik palatoplasty two-flap Diperkenalkan oleh Bardach dan Salyer (1984). segera setelah sadar penderita diperbolehkan minum dan makanan cair sampai tiga minggu dan selanjutnya dianjurkan makan makanan biasa.16 . Pada orangtua pasien juga bisa diberikan edukasi berupa. biasakan setelah makan makanan cair dilanjutkan dengan minum air putih. sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah.