PEMICU I: KONDUKSI TUNAK

Konduksi Tunak-Tak Tunak, Persamaan Fourier, Konduktivitas Termal, Sistem Konduksi-Konveksi dan Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh Marina, 1006773263, Kelompok 1

Kalor dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain disebabkan karena adanya perbedaan temperatur. Perbedaan itulah yang menjadi driving force atau gaya gerak berpindahnya sejumlah kalor dari satu tempat ke tempat lain. Proses perpindahan kalor seperti yang sudah diketahui ialah konduksi, konveksi, dan radiasi. Namun, pada LTM ini hanya akan dijelaskan mengenai perpindahan kalor konduksi.

A. Konduksi Tunak-Tak Tunak Perpindahan kalor konduksi merupakan suatu peristiwa yang dapat terjadi pada benda padat, gas, ataupun cairan. Konduksi dapat dibayangkan sebagai peristiwa perpindahan energi akibat interaksi antar partikel suatu zat, dari partikel yang lebih aktif ke partikel yang kurang aktif. Perpindahan kalor konduksi dibagi menjadi 2 bagian, yaitu konduksi tunak dan konduksi tak-tunak.   steady/tunak (
T  0 ) → tidak dipengaruhi waktu t
T  0 ) → dipengaruhi waktu t

unsteady/tidak tunak (

B. Persamaan Fourier Aliran kalor konduksi secara sederhana dapat dihitung dengan persamaan Fourier. Hukum Fourier dapat diterapkan dalam perhitungan aliran kalor dalam sistem satu dimensi. Sementara itu, untuk perhitungan aliran kalor dalam sistem dimensi-rangkap dapat juga digunakan persamaan Fourier, yaitu dengan pendekatan analisis sistem satu-dimensi. Pembahasan pada LTM ini hanya dibatasi untuk sistem satu dimensi saja. Suatu benda termasuk ke dalam sistem satu dimensi bilamana suhu benda hanya merupakan fungsi jarak radial dan tidak tergantung sudut azimuth atau letak pada poros. Berdasarkan hukum Fourier, aliran kalor melalui suatu bidang yang tegak lurus dengan sumbu x (q), sebanding dengan luas dinding (A), Konduktivitas termal ( k), dan gradien temperatur pada arah x T / x  .

LTM PERPINDAHAN KALOR

1

PEMICU I: KONDUKSI TUNAK q  kA T x Tanda minus digunakan untuk memenuhi hukum kedua termodinamika. kita dapat menentukan aliran kalor pada benda-benda dalam sistem satu dimensi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konduktivitas termal gas bergantung pada suhu dan berubah menurut akar pangkat dua dari suhu absolut (hal ini dapat diketahui dengan merujuk pada kecepatan rata-rata molekul yang hampir sama dengan kecepatan bunyi dalam gas yang bergantung pada akar pangkat dua suhu absolut).°C). Dengan menggunakan persamaan tersebut sebagai acuan.  Konduktivitas Termal Zat Cair Mekanisme fisis konduksi energi-termal dalam zat cair secara kualitatif tidak berbeda dari gas namun kondisinya jauh lebih rumit karena molekul-molekulnya lebih berdekatan satu sama lain sehingga medan gaya molekul ( molecular force field) lebih besar pengaruhnya pada pertukaran energi dalam proses tubrukan molekul. Satuan untuk konduktivitas termal adalah Watt per meter per derajat Celcius (W/m.  Konduktivitas Termal Zat Padat LTM PERPINDAHAN KALOR 2 . sedangkan bahan yang konduktivitas termalnya rendah disebut isolator. C. yang menyatakan bahwa kalor mengalir ke arah suhu yang lebih rendah. Konduktivitas termal dapat dijelaskan berdasarkan wujud zatnya:  Konduktivitas Termal Gas Seperti kita ketahui bahwa pada bagian bersuhu tinggi molekul-molekul mempunyai kecepatan yang lebih tinggi daripada bagian yang bersuhu rendah. Konduktivitas termal menunjukkan seberapa cepat kalor mengalir dalam bahan tertentu. Konduktivitas termal merupakan sifat spesifik suatu bahan dalam menghantarkan panas yang sangat tergantung pada suhu. Konduktivitas Termal Persamaan Fourier merupakan persamaan dasar tentang konduktivitas termal. Persamaan 1 di atas merupakan persamaan dasar untuk menentukan aliran kalor pada peristiwa konduksi. semakin cepat pula ia mengangkut energi. Semakin cepat molekul bergerak. Bahan yang mempunyai konduktivitas termal yang tinggi dinamakan konduktor.

elektron tersebut selain dapat mengangkut muatan listrik dapat juga membawa energi termal dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah.PEMICU I: KONDUKSI TUNAK Energi termal dihantarkan dalam zat padat melalui salah satu dari dua modus berikut: melalui getaran kisi (lattice vibration) atau dengan angkutan melalui elektron bebas. yang dapat dirumuskan dengan persamaan: LTM PERPINDAHAN KALOR 3 . sebagaimana halnya dalam gas. D. Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh Pada suatu dinding datar. perpindahan energi lebih banyak melalui cara angkutan elektron. Oleh karena itu. pada salah satu sisinya terdapat fluida panas A. Namun pada umumnya. dan pada sisi lainnya fluida B yang lebih dingin. seperti pada gambar berikut: Gambar 1. Aliran kalor menyeluruh sebagai hasil gabungan proses konduksi dan konveksi bisa dinyatakan dengan koefisien perpindahan kalor menyeluruh U. di mana terdapat elektron bebas yang bergerak di dalam struktur kisi bahan-bahan. yaitu: 𝑞 = 𝑇𝐴 − 𝑇𝐵 1 ∆𝑥 1 ℎ1 𝐴 + 𝑘𝐴 + ℎ2 𝐴 Nilai 1/hA digunakan untuk menunjukkan tahanan konveksi. Energi dapat pula berpindah sebagai energi getaran dalam struktur kisi bahan. Dalam konduktor listrik yang baik. penghantar listrik yang baik selalu merupakan penghantar kalor yang baik pula. Perpindahan kalor menyeluruh melalui dinding datar dan jaringan tahanannya Perpindahan kalornya dinyatakan oleh: 𝑞 = ℎ1 𝐴 𝑇𝐴 − 𝑇1 𝑘𝐴 𝑇 − 𝑇2 = ℎ2 𝐴 𝑇2 − 𝑇𝐵 ∆𝑥 1 Perpindahan kalor menyeluruh dihitung dengan membagi beda suhu menyeluruh dengan 𝑞 = jumlah tahanan termal.

Analogi tahanan untuk silinder bolong dengan batas konveksi Dalam hal ini. dapat dilihat gambar berikut: Gambar 2. sesuai dengan persamaan sebelumnya. Sistem Konduksi Konveksi Kalor yang dihantarkan melalui benda sering harus dibuang melalui proses konveksi. Pepindahan kalor dari zat cair ke sirip ini berlangsung secara konveksi. perpindahan kalor menyeluruh dinyatakan dengan persamaan 𝑞 = 𝑇𝐴 − 𝑇𝐵 ln⁡ (𝑟𝑜 /𝑟𝑖 ) 1 1 + + ℎ𝑖 𝐴𝑖 2𝜋𝑘𝐿 ℎ𝑜 𝐴𝑜 Sesuai dengan jaringan termal. Dalam hal ini. besaran Ao dan Ai merupakan luas permukaan dalam dan luar tabung dalam. sehingga persamaannya menjadi: 𝑈𝑖 = 1 𝐴 𝑙𝑛⁡ (𝑟𝑜 /𝑟𝑖 ) 𝐴 1 1 + 𝑖 + 𝑖 ℎ𝑖 𝐴𝑖 2𝜋𝑘𝐿 ℎ𝑜 𝐴𝑜 1 𝐴𝑜 𝐴 𝑙𝑛⁡ (𝑟𝑜 /𝑟𝑖 ) 1 + 𝑜 + ℎ𝑖 𝐴𝑖 2𝜋𝑘𝐿 ℎ𝑜 𝑈𝑜 = E. Dalam alat penukar kalor diterapkan susunan tabung bersirip ( finned tube) untuk membuang kalor dari cairan panas. luas bidang konveksi tidak sama untuk kedua fluida yang tergantung dari diameter tabung dan tebal dinding. Koefisien perpindahan kalor menyeluruh dapat didasarkan atas bidang dalam atau luar tabung. maka koefisien perpindahan kalor menyeluruh adalah 𝑈 = 1 1 ∆𝑥 1 ℎ1 + 𝑘 + ℎ2 Untuk silinder bolong yang terkena lingkungan konveksi di permukaan bagian dalam dan luarnya. dimana TA dan TB adalah suhu kedua fluida. LTM PERPINDAHAN KALOR 4 .PEMICU I: KONDUKSI TUNAK 𝑞 = 𝑈𝐴∆𝑇𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢 ℎ Dimana A adalah luas bidang aliran kalor. analogi tahanan listriknya seperti gambar di bawah.

Energi masuk di muka kiri=energi keluar di muka kanan+rugi energi karena konveksi Dimana: 𝐸𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑚𝑢𝑘𝑎 𝑘𝑖𝑟𝑖 = 𝑞𝑥 = −𝑘𝐴 𝑑𝑇 𝑑𝑥 𝑑𝑇 𝑑𝑥 𝑥 +𝑑𝑥 𝐸𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑑𝑖 𝑚𝑢𝑘𝑎 𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 = 𝑞𝑥 +𝑑𝑥 = −𝑘𝐴 𝑅𝑢𝑔𝑖 𝑒𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑣𝑒𝑘𝑠𝑖 = ℎ𝑃 𝑑𝑥 𝑇 − 𝑇∞ = −𝑘𝐴 𝑑𝑇 𝑑2 𝑇 + 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 2 Disini terlihat bahwa diferensial luas muka konveksi ialah hasil perkalian keliling sirip dengan diferensial panjang dx. 1997. terj. Jakarta: Erlangga. Contohnya seperti gambar dibawah ini: Gambar 3. LTM PERPINDAHAN KALOR 5 . Perpindahan Kalor. J. Bagan menggambarkan konduksi dan konveksi satu dimensi melalui sirip siku empat Pada gambar diatas.PEMICU I: KONDUKSI TUNAK Kalor dihantarkan melalui bahan dan dilepaskan ke lingkungan melalui konveksi. E. Jasfi. P. Edisi Keenam. Jika besaran-besaran tersebut digabungkan. maka didapatkan: 𝑑2 𝑇 ℎ𝑃 − 𝑇 − 𝑇∞ = 0 𝑑𝑥 2 𝑘𝐴 Daftar Pustaka: Holman. Pendekatan terhadap ini dilakukan dengan membuat neraca energi untuk setiap unsur sirio setebal dx. sirip satu dimensi bersinggungan dengan fluida lingkungan yang suhunya T∞ dan suhu dasar sirip To.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful