BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kebutuhan penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan pada beberapa tahun terakhir ini terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi pada bidang kesehatan. Pengetahuan tentang metodologi penelitian sangat penting karena masih terdapat beberapa kelemahan dan kekurangan dari hasil peneltian yang dipublikasikan terutama dalam hal metodologi penelitian dan biostatistika sangat diperlukan baginklinisi dan pengelola layanan kesehatan agar dapat melakukan penelitian atau menelaah hasil penelitian yang telah

dipublikasikan. Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan penyakit pada populasi. Studi penelitian epidemiologi dibedakan menjadi dua kategori, yakni epidemiologi deskriptif dan epidemiologi analitik. Epidemiologi analitik terdiri dari penelitian eksperimental dan penelitian observasional. Studi eksperimental meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek dari berbagai level intervensi itu. Studi observasional peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasi, menghitung, dan menganalisis (membandingkan) perubahan pada variabel-variabel pada kondisi yang alami. Studi observasional mencakup studi kohort, studi kasus kontrol, dan studi potong-lintang.

Penelitian kohort merupakan salah satu penelitian observasional yang mengikuti proses perjalanan penyakit ke arah depan berdasarkan urutan waktu. Penelitian kohort juga merupakan penelitian intervensional, namun dalam hal ini intervensi tidak dilakukan oleh peneliti, tetapi dilakukan oleh alam atau orang yang bersangkutan.

B. Tujuan 1. Mengetahui Pengertian dan Konsep Studi Penelitian Kohort 2. Mengetahui manfaat penelitian kohort 3. Mengetahui macam-macam penelitian kohort 4. Mengetahui karakteristik studi kohort 5. Mengetahui langkah-langkah kegiatan dalam penelitian kohort 6. Mengetahui kelebihan dan kelemahan studi peneltian kohort

Selanjutnya kedua kelompok tersebut diikuti secara bersamaan dalam suatu periode waktu tertentu dan efek (insidens) pada kedua kelompok di catat kemudian dibandingkan. misalnya mencari insidens penyakit tertentu di suatu daerah (Budiarto.2003). dalam hal tertentu dapat bersifat deskriptif. Secara skematis struktur rancangan penelitian prospektif dapat digambarkan sebagai berikut: Keadaan awal Kelompok Studi/Terpapar (E) Pengamatan Efek sakit (D) tidak sakit (D) Kelompok Kontrol/Tidak terpapar (E) sakit (D) tidak sakit (D) . terdapat dua kelompok kohort. Pengertian dan Konsep Studi Penelitian Kohort Studi penelitian kohort adalah rancangan epidemiologi analitik secara prospektif dan bersifat observasional yang bertujuan mencari adanya hubungan sebab akibat dengan membandingkan insidens penyakit pada kelompok studi yang terpajan oleh faktor resiko dengan insidens penyakit pada kelompok yang tidak terpajan oleh faktor resiko sebagai kontrol. Alokasi kedua kelompok tidak dilakukan secara acak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. tetapi ditentukan berdasarkan kriteria subjek studi. yaitu kelompok yang terpajan oleh faktor risiko dan kelompok yang tidak terpajan oleh faktor risiko sebagai kontrol. Konsep dasar penelitian kohort. Namun.

Dalam hal ini penelitian kohort dimaksudkan utuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan penyakit yang ditiimbulkan. Keadaan awal 2. Penelitian kohort bermanfaat untuk mengetahui perjalanan penyakit alamiah (patogenetik) dimana “intervensi” dilakukan oleh orang bersangkutan secara sengaja (perokok. yaitu: 1. Misalnya. Intervensi (pajanan oleh faktor resiko) 3.Dari skema di atas dapat diketahui bahwa pada penelitian kohort terdapat tiga faktor yang disebut sebagai struktur anatomi penelitian kohort. misalnya: .2003). peminum alkohol) atau tidak disengaja. Misalnya. mempelajari timbulnya (insidens) penyakit jantung koroner pada perokok. Mengetahui pertumbuhan normal yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu atau yang disebut ontogenetik dan dalam hal ini yang bertindak sebagai “intervensi” adalah “waktu”. Pengamatan dan pencatatan insidens (Budiarto. 3. mempelajari tumbuh kembang anak selama 5 tahun sejak dilahirkan. 2. misalnya termakan atau terminumnya makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri patogen. Manfaat Penelitian Kohort Manfaat penelitian prospektif (kohort) antara lain: 1. Mempelajari perjalanan klinis suatu penyakit (patogresif) yaitu sembuh. menjadi semakin parah atau meninggal. B.

penelitiaan kohor dibagi menjadi dua. 4. Sedangkan ditinjau dari waktu pengumpulan subjek studi penelitian kohort dibagi menjadi current cohort dan hystorical cohort. 1. 2003). penelitian untuk menentukan efektivitas obat baru setelah dilakukan uji klinis dengan hasil yang memuaskan kemudian obat tersebut dipasarkan secara luas. Penelitian dengan satu kohort Penelitian dengan satu kohort merupakan penelitian prospektif yang bertujuan untuk mencari insidens suatu penyakit di masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana program pelayanan kesehatan atau untuk memberikan informasi kepada masyarakat atau mengadakan evaluasi penggunaan obat baru. yang menjadi semakin berat. Misalnya. c. Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadpa . Penelitian ini hanya menggunakan satu kohort dan bersifat deskriptif. Macam-Macam Penelitian Kohort Berdasarkan tujuan yang akan dicapai. Mempelajari perkembangna penyakit karsinoma payudara dari sejak terdiagnosa sampai meninggal.a. Penyakit bronkitis akut. yaitu penelitian dengan satu kohor dan penelitian dengan dua kohor. Penyakit varicella sejak timbul gejala sampai sembuh. Manfaat lain penelitian kohort adalah untuk menentukan ada atau tidak adanya hubungan sebab akibat antara terpajan oleh faktor risiko dengan insiden penyakit yang ditimbulkan (Budiarto. C. b.

Misalnya. hubungan antara perbedaan gaya hidup dengan timbunya berbagai karsinoma. tidak makan daging sapi setiap hari. dan tiak minum alkohol dibandngkan dengan kelompok penduduk yang kabiasaan amakan sehari-harinya terdiri dari daging. lambung. 2. tidak merokok. Penelitian dengan dua kohort Penelitian dengan dua kohort merupakan penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan sebab akibat. Current cohort .hasil pengobatan dengan mengikuti penderita yang telah mendapatkan pengobatan tersebut untuk mengetahui hasilnya. 3. dan paru-paru dibandingkan dengan gaya hidup sepert kelompok satu (Hirayama. faring. Penelitian ini. esofagus. dan minum alkohol. tidak makan sayur. Hasil penelitian menunjukan bahwa orang-orang dengan pola hidup seperti kelompok kedua mempunyai resiko lebih besar timbulnya karsinoma mulut. akan tetapi tidak dimasukkan ke dalam eksperimen karena tidak menggunakan kelompok kontrol dan intervensi. hati. merokok. Penelitian ini dinamakan posttherapeutic survey atau pengalaman klinis dalam pengobatan suatu penyakit dengan menggunakan obat baru. dibutuhkan dua kohort dimana satu kelompok sebagai kelompok terpajan dan satu kelompok sebagai kelompok lagi yang tidak terpajan. 1985). walaupun intervensi dilakukan oleh peneliti. Penelitian ini dilakukan di Jepang dengan mengadakan pengamatan selama 16 tahun terhadap kelompok penduduk dengan kebiasaan makan sehari-hari terdiri dari sayur.

Subjek studi dan kelompok pasangan usia subur pemakai IUD sebagai kelompok studi dan kelompok pasangan usia subur yang tidak menggunakan IUD. Ini berarti bahwa akibat intervensi belum terjadi. Ini berarti pada keadaan awal. misalnya hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi IUD dengan kehamilan di luar rahim. intervensi serta akibatnya telah terjadi. tetapi dalam kenyataanya tidak demikian karena pada umumnya data yang diperoleh rekam medis tidak lengkap dan variabilitas pemeriksa tidak diketahui.Penelitian kohort pada umumnya berupa current cohort yang berarti kelompok kohor yang akan diamati dikumpulkan pada saat akan dilakukan penelitian dan diikuti perkembangannya. 4. kedua kelompok tersebut diikuti untuk menemukan insidens kehamilan di luar rahim dan insidens pada kedua kelompok tersebut dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat hubbungan antara pemakaian IUD dengan kehamilan di luar rahim. Hystorical cohort Penelitian kohor juga dapat dilakukan terhadap kelompok kohor yang akibat pajanannya telah terjadi sebelum penelitian dilakukan. Secara teoritis. Penelitian kohort yang demikian disebut kohor historis atau kohor retrospektif. hasil penelitian dengan hystorical cohort akan sama dengan current cohort. Selanjutnya. tetapi mempunyai potensi untuk menggunakan IUD sebagai kelompok kontrol. namun prosesnya diikuti ke depan (prospektif) yaitu dari sebab ke akibat. .

atau fixed exposure sampling Non-directional. 2011). Icidence Rate Ratio (IRR). Disebut sebagai studi insidens 4.D. Prevalence Odds Ratio (POR) sebagai pengganti Rasio Risiko Data historis maupun data sewaktu Kausalitas awal Prospektif / follow-up selama periode waktu tertentu Data historis maupun data sewaktu Kausalitas dengan bukti sekuensi temporal Insidensi (R. Odds Ratio (OR) Odds sebagai pengganti risiko Odds Ratio (OR) sebagai pengganti Rasio Risiko (Murti. Intervensi dilakukan oleh alam atau orang yang bersangkutan Tabel 1. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat 3. yaitu fixed disease sampling. Terdapat hipotesis spesifik 6. bisa juga sampel terpisah. Merupakan penelitian prospektif 7. Terdapat kelompok kontrol 5. Perbandingan tiga desain studi observasional Kriteria Desain pemilihan sampel (sampling design) Studi potonglintang Sampel random. Bersifat observasional 2. . Karakteristik Studi Penelitian Kohort 1. Risiko). Incidence Rate (IR) Rasio Risiko (RR). satu titik waktu Studi kasuskontrol Sampel terpisah untuk kasus dan kontrol (fixeddisease sampling) Studi kohor Sampel terpisah untuk terpapar dan tak terpapar (fixed-exposure sampling) Arah pengusutan Retrospektif Kronologi pengumpulan data Kualitas bukti kausasi Ukuran risiko Perbandingan risiko Data historis maupun data sewaktu Hanya hubungan antara penyakit dan faktor risiko Prevalensi (P) sebagai pengganti risiko Prevalence Ratio (PR).

baik yang bersifat variabel bebas. Langkah-langkah Kegiatan pada Penelitian Kohort Tujuan dari studi kohort adalah untuk membuktikan apakah faktor tertentu adalah penyebab dari masalah atau penyakit. variabel pengganggu serta variabel lainnya yang harus dipertimbangkan. Merumuskan pertanyaan penelitian Langkah awal dari suatu studi kohor adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian yang kemudian akan mengantar peneliti merumuskan hipotesis penelitian yang lebih tepat/sesuai. Populasi kohor dapat bekerja sama selama penelitian c.E. antara lain variabel kendali (kontrol). 2. Populasi kohor sedapat mungkin agak stabil b. akan tercermin berbagai variabel yang menjadi variabel penelitian. Populasi kohor mudah diamati dan mudah terjangkau untuk follow up selama penelitian. Dari formulasi hipotesis tersebut. variabel terikat (dependent) maupun variabel-variabel lainnya yang harus menjadi perhatian peneliti. Penetapan populasi kohort Dalam memilih populasi kohor harus diperhatikan beberapa hal tertentu seperti berikut: a. Langkah-langkah kegiatan dalam penelitian kohort adalah sebagai berikut dalam Iswandi (2009) adalah: 1. . Dalam penelitian kohort seorang peneliti harus melakukan persiapan disertai dengan tahapan-tahapan kegiatan yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan penelitian sehingga tujuan dari penelitiannya tercapai.

Dalam penelitian kohort peneliti harus yakin bahwa kelompok kohort dan kelompok kontrol betul-betul tidak sedang menderita atau dicurigai sedang menderita (suspect case) efek yang akan diteliti. umpamanya mereka yang tidak mempunyai alamat yang tetap sehingga sulit diamati. namun harus dikeluarkan dari pengamatan karena beberapa hal antara lain: a. b. Populasi kohor memiliki derajat keterpaparan yang cukup e. umpamanya bila terdapat predisposisi atau faktor genetis yang dapat mempengaruhi hasil pengamatan. tetapi hal ini harus dijelaskan dalam laporan penelitian tentang penyimpangan tersebut yang merupakan jarak antara idealis ilmiah dengan kondisi yang dihadapi. Sering terdapat kendala untuk mendapatkan kriteria yang sesuai dengan masalah penelitian yang telah ditetapkan. Subjek yang terpilih dari populasi harus memenuhi kriteria pemilihan meliputi kriteria inklusif dan eksklusif. Terdapat keadaan atau penyakit lain pada subjek yang dapat mengganggu pengukuran maupun interpretasi hasil penelitian. . Anggota kohor tidak sedang menderita penyakit yarig akan diamati.d. Kriteria eksklusif bila dalam memilih subjek penelitian. Terdapat keadaan yang dapat mengganggu pelaksanaan studi. Kriteria inklusif adalah karakteristik umum subjek penelitian pada populasi target dan populasi kontrol. Untuk menghadapi hal tersebut dapat dilakukan penyimpangan ilmiah sampai batas-batas tertentu. sebagian subjek yang telah memenuhi kriteria inklusif.

5. Pada studi kohor prospektif umpamanya. 3. yang banyaknya tergantung proporsi pajanan di populasi. Kartu pelayanan kesehatan khusus seperti kartu KB. Besarnya sampel Pemilihan sampel dalam penelitian kohort melihat adanya pajanan atau tidak dan memperoleh dimulai dengan sampel subyek terpajan perlu memeriksa sampel subyek. b. akan menolak berpartisipasi. c. kadar kolesterol. Keterangan hasil pemeriksaan Lingkungan (fisik. dan lain lain. d. Adanya hambatan etis. Identifikasi Subjek Subjek pada pengamatan kohor dapat dengan efek negatif maupun dengan efek positif. kartu pengobatan radiologis dan lain lain. dan lain lain. pola makanan. biologis dan sosial) termasuk lingkungan kerja. kebiasaan olah raga dan lain lain. 4. terutama tentang kebiasaan sehari hari seperti merokok. Sumber keterangan keterpaparan Sumber keterangan tentang adanya dan besarnya derajat keterpaparan dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dapat dipercaya kebenarannya antara lain sebagai berikut: a. Wawancara langsung dengan anggota kohor. kultur atau kepercayaan individual maupun masyarakat untuk dapat berpartisipasi.c. Status/kartu pemeriksaan kesehatan berkala dengan berbagai sifat tertentu seperti tekanan darah. Kemungkinan subjek yang akan diteliti. tempat tinggal. d. kedua .

artinya diambil dari populasi kohor yang tidak terpapar dengan faktor resiko yang diamati. Di samping itu. kedua kelompok (target dan kontrol) berasal dari populasi yang sama. dan waktu keterpaparan. Dalam pelaksanaannya. mempunyai keuntungan tersendiri karena: pertama. pada kelompok kontrol internal. Perbedaan faktor risiko antara dua kelompok yang diamati dapat pula hanya berbeda pada intensitas. perbedaan adanya faktor risiko pada kelompok target dan absennya pada kelompok kontrol dapat berupa taktor risiko internal (seperti rentannya kelompok target terhadap gangguan kesehatan atau penyakit tertentu). Pada pengamatan kohor prospektif dengan kontrol internal. Pada penelitian kohor. terhadap kedua kelompok tersebut dapat dilakukan follow-up dengan tata cara dan waktu yang sama. dan kedua. pemilihan anggota kelompok kontrol biasanya tidak diperlukan teknik matching (penyesuaian) dengan anggota .kondisi ini dapat terjadi pada akhir pengamatan di mana efek positif dan negatif dapat dijumpai baik pada kelompok terpapar (kelompok target) maupun pada kelompok yang tidak terpapar (kelompok kontrol). dapat pula sebagai faktor risiko eksternal (umpamanva adanya faktor lingkungan atau perilaku maupun kepercayaan kelompok tertentu yang dapat mempermudah seseorang terkena penyakit atau gangguan kesehatan tertentu). umpamanva perokok aktif dan mereka yang berada di sekitar perokok aktif tersebut. Pada bentuk kohor dengan pembanding internal seperti ini. kualitas. kelompok kontrol terbentuk secara alamiah.

terutama bila subjek yang diteliti jumlahnya cukup besar. akan mengakibatkan jumlah subjek akan lebih kecil sehingga sulit mengambil kesimpulan yang definitif. Untuk penelitan kohor. atau bila proporsi subjek dengan faktor risiko (kelompok target) jauh lebih besar bila dibanding dengan kelompok kontrol. Namun demikian.kelompok target. teknik matching akan sulit dilakukan. perlu mendapatkan perhatian utama dalam menentukan hasil luaran secara standar. apa positif atau negatif (menderita atau tidak menderita penyakit yang diteliti). Perbedaan antara kelompok target dengan kelompok kontrol dapat dalam beberapa bentuk yaitu: . atau pada keadaan di mana proporsi kelompok target lebih kecil bila disbanding dengan kelompok kontrol. bila variabel luar cukup banyak ragamnya. 6. Namun dalam beberapa keadaan tertentu. dan apabila tetap dipaksakan. teknik matching perlu dipertimbangkan. pada penelitian dengan besarnya sampel terbatas. misalnya apabila peneliti ingin mengetahui besarnya pengaruh pemapaparan yang lebih akurat. Memilih kelompok kontrol (pembanding) Kelompok kontrol dalam penelitian kohor adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Pada penelitian ini kemungkinan timbulnya negatif palsu cukup besar bila tidak dilakukan standar penentuan diagnosis.

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor risiko secara teliti dan mendalam.a. b. Keadaan tanpa teknik matching biasanya dilakukan pada pemilihan kelompok kontrol seperti berikut: a. di mana kelompok target berada/hidup pada lingkungan tersebut sedangkan kelompok kontrol bebas dari pengaruh lingkungan bersangkutan. sedangkan kelompok kontrol tanpa variabel tersebut pada populasi vang sama. Penelitian yang subjeknya sangat terbatas jumlahnya. Sedangkan yang dianjurkan melakukan teknik matching pada pemilihan kelompok kontrol adalah pada kondisi berikut: a. dan waktu pemaparan yang lebih rendah) dibanding kelompok target. Pada subjek dengan taktor risiko internal maka kelompok target dengan variabel taktor risiko tersebut. b. . b. kuantitas. Subjek dengan faktor risiko eksternal yang biasanya berupa variabel lingkungan. Bila keduanya mengandung faktor risiko maka kelompok kontrol dipilih dari mereka dengan dosis faktor risiko yang lebih sedikit (intensitas. Penelitian dalam satu populasi atau sampel yang proporsi kelompok yang terpapar dengan faktor risiko jauh lebih besar dibanding dengan kelompok tanpa risiko (kontrol). c. Pemilihan kelompok kontrol pada rancangan kohor biasanya tidak disertai dengan teknik matching. kualitas. Penelitian dengan proporsi subjek yang terpapar jauh lebih kecil. Penelitian yang melibatkan subjek yang besar. c.

Lamanya waktu pengamatan prospektif kohor tergantung pada karakteristik penyakit atau kejadian yang diharapkan timbul. caranya setiap subjek diamati secara periodik menurut interval waktu tertentu. diperlukan periode pengamatan yang cukup lama (dapat sampai puluhan tahun). Penentuan hasil akhir yakni penentuan tentang timbulnya akibat harus dilakukan berdasarkan kriteria baku yang telah disusun pada awal . Pengamatan terhadap timbulnya akibat. misalnya timbulnya kanker hati pada kelompok target dengan faktor risiko adanya HBs-Ag positif. dapat dilakukan dengan hanya pengamatan tunggal yakni menunggu sampai terjadinya efek sebagai hasil akhir. Untuk jenis penyakit keganasan. Pengamatan hasil luaran (timbulnya kejadian) Pengamatan terhadap kedua kelompok (target dan kontrol) dilakukan secara bersamaan selama jangka waktu tertentu. dan hal ini sangat dipengaruhi oleh sifat patogenesis serta perkembangan penyakit/masalah kesehatan yang diteliti. Di samping itu.7. sedangkan sebaliknya hubungan antara perokok pasif (asap rokok sebagai faktor risiko) dengan keadaan kelahiran bayi (BBLR) dari satu proses kehamilan dibutuhkan masa pengamatan hanya 9 bulan untuk setiap subjek. tetapi dapat pula dengan pengamatan berkala. dapat pula dilakukan analisis perbandingan antara kelompok target dan kelompok kontrol dengan memperhitungkan unsur waktu sebagai unit analisis sehingga dengan demikian perbandingannya menggunakan skala rasio. termasuk pengamatan pada akhir penelitian.

Perhitungan hasil penelitian (insinden dan risiko) Hasil penelitian kohor biasanya dianalisis berdasarkan besarnya insiden kejadian pada akhir pengamatan terhadap kelompok yang terpapar dibandingkan dengan kelompok kontrol. pasangannya harus dihapus pula dari pengamatan. Bila subjek dipilih dengan teknik matching. walaupun hal demikian agak sulit diterapkan.penelitian. 8. sebaiknya penilaian dilakukan dengan sistem "blind" di mana penilai tidak mengetahui apakah yang dinilainya adalah kelompok target atau kelompok kontrol. sebaiknya tidak diikutsertakan pada penelitian. terutama pada pengamatan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam analisis demikian ini. dapat dilakukan perhitungan person years pada akhir pengamatan. . Untuk mengurangi bias. maka setiap subjek yang hilang dari pengamatan. Apabila jumlah subjek yang hilang dari pengamatan cukup besar pengamatan harus dihentikan. Untuk mengantisipasi adanya mereka yang hilang dari pengamatan. Oleh sebab itu bila sejak awal diketahui bahwa ada subjek yang akan berpindah tempat. Hasil perhitungan adalah dengan menentukan besarnya pengaruh keterpaparan atau hubungan tingkat keterpaparan dengan hasil luaran (efek). juga dimungkinkan membandingkan tingkat keterpaparan yang berbeda antara kelompok target dengan kelompok kontrol. Salah satu masalah yang sering terjadi pada pengamatan bentuk kohor adalah hilangnya subjek dari pengamatan (lost to follow up). selain mereka yang tidak terpapar sebagai kelompok kontrol.

. Analisis Tingkat Resiko Menderita Terpapar Tidak terpapar jumlah a c a+c Tidak Menderita B D b+d Jumlah a+b c+d N= a + b +c +d Keterangan: a = jumlah yang terpapar dan menderita b = jumlah yang terpapar dan tidak menderita c = jumlah yang tidak terpapar dan menderita d = jumlah yang tidak terpapar dan tidak menderita a + c = jumlah seluruhnya yang menderita pada akhir pengamatan b + d = juinlah mereka yang tidak menderita pada akhir pengamatan a + b = jumlah mereka yang terpapar pada awal pengamatan c + d = jumlah mereka yang tidak terpapar pada awal pengamatan yang diamati N = jumlah populasi Risiko relatif (RR) disebut juga Rasio Insiden Kumulatif (Cumulatif Incidence Ratio) adalah ukuran yang menunjukkan berapa kali (lebih besar atau lebih kecil) risiko secara relatif untuk mengalami kejadian (penyakit atau kematian) pada populasi terpapar bila dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar. Tabel 2.Ukuran yang sering digunakan untuk menilai besarnya pengaruh taktor keterpaparan terhadap kejadian adalah tingkat risiko relatif(RR).

Rate insiden (IR) umum adalah Jumlah penderita/jumlah yang diamati IR = a + b N Rate insiden kelompok terpapar (IRT): Jumlah penderita dari kelompok terpapar/ jumlah semua anggota kohor yang terpapar IRT = Rate insiden yang tidak terpapar (IR ) : Jumlah pen-derita dari kelompok yang tidak terpapar/jumlah anggota kohor yang tidak terpapar IRtt = Besarnya risiko relatif (RR) : rate insiden yang terpapar/rate insiden yang tidak terpapar. makin besar pula nilai kelipatan pengaruh tersebut. Risiko relatif merupakan nilai perbandingan (rasio) antara rate insiden kelompok terpapar dengan rate insiden kelompok yang tidak terpapar. RR = Nilai RR menyatakan besarnya risiko (kemungkinan) untuk menderita bagi mereka yang terpapar dibanding dengan mereka yang tidak terpapar atau memperlihatkan besarnya pengaruh keterpaparan terhadap timbulnya penyakit. Bila nilai RR = 1 artinya tidak ada pengaruh antara keterpaparan dengan kejadian penyakit. Bila nilai RR > 1 artinya ada pengaruh positil di mana faktor keterpaparan mempunyai peranan dalam timbulnya kejadian yang diamati. artinya keterpaparan bukan . pada akhir pengamatan. Makin besar nilai RR. Sedangkan bila nilai RR < 1.

merupakan risiko kejadian penyakit. dikenal pula nilai perbedaan rate insiden dari kedua kelompok yang diamati. . Di samping itu. memenuhi syarat serta betul-betul sesuai dengan ketentuan penelitian. harus dianalisis apakah setiap nilai yang diperoleh pada pengamatan. Selain nilai risiko relatit tersebut di atas. Besarnya risiko atribut (RA) adalah selisih antara rate insiden kelompok terpapar dengan rate insiden kelompok yang tidak terpapar. Resiko Artrtibut = atau RA = IR t – IR tt Nilai RA ini menunjukkan besarnya pengaruh bila faktor keterpaparan dihilangkan atau untuk melihat besarnya kemungkinan dalam usaha pencegahan penyakit. sedangkan risiko atribut mempunyai kepentingan dalam kesehatan masyarakat di mana frekuensi kejadian dapat diperkirakan pada suatu populasi tertentu. tetapi mempunyai efek pencegahan terjadinya penyakit. Untuk menganalisis hasil akhir suatu pengamatan kohor. nilai yang dicapai harus memberikan gambaran hubungan penyebab (causality associated) dengan memperhatikan syarat-syarat yang telah dikemukakan terdahulu. dan nilai ini disebut risiko atribut (Attributable Risk). Kedua nilai tersebut di atas mempunyai arti tersendiri yaitu risiko relatif menunjukkan berapa besarnya pengaruh faktor keterpaparan terhadap kejadian penyakit maupun kematian.

d. Dapat digunakan untuk menghitung insiden rate secara langsung. . Penelitian prospektif dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan faktor risiko yang diperkirakan sebagai penyebab timbulnya suatu penyakit.F. e. Dapat bersifat deskriptif. Dapat digunakan untuk menghitung besarnya risiko kelompok terpajan dan kelompok tidak terpajan hingga dapat dihitung risiko atribut dan risiko relatif atau population atributable risk (PAR) secara langsung. f. misalnya pengalaman pengobatan dengan obat baru yang dicatat kemudian dianalisis. 1. Kelebihan a. b. c. Penelitian kohort dapat digunakan untuk mempelajari berbagai efek terhadap suatu pajanan hingga dapat diperoleh informasi yang lebih mendalam. Kelebihan dan Kelemahan Studi Penelitian Kohort Penelitian kohort dengan rancangan prospektif mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan penelitian. Dapat digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dengan perjalannya waktu atau perjalanan penyakit alamiah.

Pada umumnya.2. d. penelitian prospektif membutuhkan waktu yang sangat lama. misalnya penelitian tentang hubungan antara gaya hidup dengan timbulnya berbagai macam karsinoma di Jepang membutuhkan waktu 16 tahun atau penelitian tetang hubungan antara alkohol dengan hemorage stroke yang membutuhkan waktu 12 tahun. Tidak efisien untuk penyakit yang jarang terjadi atau penyakit dengan fase laten yang panjang. Kelemahan Disamping beberapa keuntungan yang ada. c. 2003). Sering kali sulit untuk mempertahankan subjek studi agar tetap dalam penelitian. dibutuhkan biaya yang besar dan untuk mengadakna pengamatan dibutuhkan lebih banyak tenaga. terutama bila pengamatan dilakukan berulang-ulang dan mebutuhkan waktu yang lama karena penderita menjadi bosan (Budiarto. . penelitian kohort juga mempunyai kelemahan sebagai berikut: a. b. Membutuhkan biaya dan tenaga yang besar. Sebagai akibat dari besarnya sampel yang dibutuhkan dan lamanya penelitian.

identifikasi subjek. penetapan populasi kohort. pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat. Jenis-jenis penelitian studi kohort yaitu penelitian dengan satu kohort. Sumber keterangan keterpaparan. terdapat hipotesis spesifik. Langkah-langkah kegiatan pada penelitian kohort yaitu merumuskan pertanyaan penelitian. dan hystorical kohort. dan perhitungan hasil penelitian . current kohort. terdapat kelompok kontrol. studi insidens. 2. merupakan penelitian prospektif dan intervensi dilakukan oleh alam atau orang yang bersangkutan 3. pengamatan hasil luaran. Studi penelitian kohort adalah rancangan epidemiologi analitik secara prospektif dan bersifat observasional yang bertujuan mencari adanya hubungan sebab akibat dengan membandingkan insidens penyakit pada kelompok studi yang terpajan oleh faktor resiko dengan insidens penyakit pada kelompok yang tidak terpajan oleh faktor resiko sebagai kontrol. Karakteristik Studi Penelitian Kohort yaitu bersifat observasional. 4. penelitian dengan dua kohort. menentukan besarnya sampel.BAB III PENUTUP Kesimpulan 1. memilih kelompok pembanding.

Bhisma. 2011. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran. National cancer Research center Institute of Tokyo. Life Style Carrying Highest and Lowest Cancer Risk. Surakarta.2009. Murti. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. 1985. Penerbit Buku Kedokteran EGC. eko.DAFTAR PUSTAKA Budiarto. Iswandi. No. p14. japan.1. Vol. Institute of Health Economic and Policy Studies (IHEPS). Desain Studi.1. Fakultas Kedokteran. Program Pasca Sarjana Departemen Biostatistik dan Kependudukan. Jakarta. . Takeshi. Penelitian Kohort. Universitas Sebelas Maret. JAMA SEA Ed. Hirayama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful