PENDAHULUAN Definisi Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius

, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesiva (Djaafar, 2007). Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani. Pada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga tengah (Buchman, 2003). Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas yang terhad pada membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore (Kerschner, 2007). Klasifikasi Gambar 1. Skema Pembagian Otitis Media

3

Gambar 2. Skema Pembagian Otitis Media Berdasarkan Gejala

Etiologi 1. Bakteri Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non- patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% kasus dijumpai patogenpatogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta- hemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga

4

Faktor genetik juga berpengaruh. sehingga mendorong terjadinya OMA pada anak. disfungsi tuba Eustachius. menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya (Kerschner. Virus Virus juga merupakan penyebab OMA. inmatur tuba Eustachius dan lain-lain (Kerschner. kepadatan penduduk.sama dengan yang dijumpai pada anak-anak (Kerschner. asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula. 2007). ras. abnormalitas kraniofasialis kongenital. infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas. ASI dapat 5 . status sosioekonomi serta lingkungan. 2003).anak. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. status imunologi. yaitu respiratory syncytial virus (RSV). faktor genetik. jenis kelamin. Selain itu. Insidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan. dan Indigenous Australian menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding dengan ras lain. fasilitas higiene yang terbatas. Faktor Risiko Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur. Faktor umur juga berperan dalam terjadinya OMA. Peningkatan insidens OMA pada bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang atau imatur tuba Eustachius. sistem pertahanan tubuh atau status imunologi anak juga masih rendah. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak. menganggu fungsi imun lokal. atau adenovirus (sebanyak 30-40%). 2007). Inuit. lingkungan merokok. Anak-anak pada ras Native American. kontak dengan anak lain. rhinovirus atau enterovirus. 2. influenza virus. Status sosioekonomi juga berpengaruh. virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus (Buchman. status nutrisi rendah. seperti kemiskinan. dan pelayanan pengobatan terbatas. meningkatkan adhesi bakteri. Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus. Dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA). 2007).

anak mudah menderita penyakit telinga tengah. Otitis media merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat infeksi saluran napas atas. suhu tubuh turun dan anak tidur tenang (Djaafar. Anak dengan adanya abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah terkena OMA karena fungsi tuba Eustachius turut terganggu. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. terdapat gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang mendengar. 2007). di samping suhu tubuh yang tinggi. Pada bayi dan anak kecil.5°C (pada stadium supurasi). diare. keluhan orang tua pasien tentang anak yang gelisah dan menarik telinga atau tugging. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga. kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. anak gelisah dan sukar tidur. Dengan adanya riwayat kontak yang sering dengan anak-anak lain seperti di pusat penitipan anak-anak. gejala khas OMA adalah suhu tubuh tinggi dapat mencapai 39. serta membran timpani yang kemerahan dan membengkak atau bulging. baik bakteri atau virus (Kerschner. Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa. insidens OMA juga meningkat. 2007). selain rasa nyeri. anak-anak yang kurangnya asupan ASI banyak menderita OMA. Lingkungan merokok menyebabkan anakanak mengalami OMA yang lebih signifikan dibanding dengan anak-anak lain.membantu dalam pertahanan tubuh. Penilaian berdasarkan pada pengukuran temperatur. skor OMA adalah seperti berikut: 6 . Penilaian klinik OMA digunakan untuk menentukan berat atau ringannya suatu penyakit. Bila terjadi ruptur membran timpani. Menurut Dagan (2003) dalam Titisari (2005). maka sekret mengalir ke liang telinga. tiba-tiba anak menjerit waktu tidur. Oleh karena itu. Gejala Klinis Gejala klinis OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien.

Tuba Eustachius biasanya dalam keadaan steril serta tertutup dan baru terbuka apabila udara diperlukan masuk ke telinga tengah atau pada saat mengunyah.5°C rektal (Titisari. Tuba Eustachius mempunyai tiga fungsi penting. Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah 7 . Fisiologi. Bila didapatkan angka 0 hingga 3. 2007). Pembukaan tuba dibantu oleh kontraksi muskulus tensor veli palatini apabila terjadi perbedaan tekanan telinga tengah dan tekanan udara luar antara 20 sampai dengan 40 mmHg. berarti OMA ringan dan bila melebihi 3. 2005).5°C rektal. dan drainase sekret. Skor OMA Skor Suhu Gelisah Tarik telinga Kemerahan Pada Membran 0 1 2 3 < 38. proteksi.0 > 39. suhu lebih atau sama dengan 39°C oral atau 39. yang terdiri atas tulang rawan pada dua pertiga ke arah nasofaring dan sepertiganya terdiri atas tulang (Djaafar. menelan dan menguap.Tabel 1.5 38.0 – 38. Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. yaitu ventilasi.0 38. Patologi dan Patogenesis Tuba Eustachius Fungsi abnormal tuba Eustachius merupakan faktor yang penting pada otitis media. berarti OMA berat. termasuk otore Penilaian derajat OMA dibuat berdasarkan skor.0 Tidak ada Ringan Sedang Berat Tidak ada Ringan Sedang Berat Timpani Tidak ada Ringan Sedang Berat Bengkak Pada Membran Timpani Tidak ada Ringan Sedang Berat. OMA ringan bila nyeri telinga tidak hebat dan demam kurang dari 39°C oral atau 39.6 – 39. Pembagian OMA lainnya yaitu OMA berat apabila terdapat otalgia berat atau sedang.

Virus respiratori juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri. Ini merupakan faktor pencetus terjadinya OMA dan otitis media dengan efusi. Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius untuk mengatur proses ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring.tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas terhadap getaran. Kerschner. Jika terjadi gangguan akibat obstruksi tuba. perndengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang. sehingga menganggu pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. mengalami infeksi serta terjadi akumulasi sekret di telinga tengah. lalu timbul edema pada mukosa tuba serta akumulasi sekret di 8 . drainase telinga tengah terganggu. Akibat dari infeksi virus saluran pernapasan atas. Proteksi. sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada telinga tengah. 2007). dimana proses inflamasi terjadi. Tuba Eustachius menjadi sempit. Faktor intraluminal adalah seperti akibat ISPA. dan menghalangi masuknya sekret atau cairan dari nasofaring ke telinga tengah. Drainase bertujuan untuk mengalirkan hasil sekret cairan telinga tengah ke nasofaring (Djaafar. Bila tuba Eustachius tersumbat. 2007. Patogenesis OMA Pathogenesis OMA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau alergi. Obstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan ekstraluminal. sehingga terjadi kongesti dan edema pada mukosa saluran napas atas. sitokin dan mediatormediator inflamasi yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. kemudian terjadi proliferasi mikroba patogen pada sekret. akan mengaktivasi proses inflamasi kompleks dan terjadi efusi cairan ke dalam telinga tengah. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek membran timpani akibat tekanannya yang meninggi (Kerschner.selalu sama dengan tekanan udara luar. 2007). yaitu melindung telinga tengah dari tekanan suara. termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. Jika sekret dan pus bertambah banyak dari proses inflamasi lokal. Bila keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan refluks dan aspirasi virus atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba Eustachius.

Penyebab-penyebab Anak Mudah Terserang OMA Dipercayai bahwa anak lebih mudah terserang OMA dibanding dengan orang dewasa. 2007). Selain itu. Gambar 3. 2007). Selain itu. karena tuba telah berkembang sempurna dan diameter tuba Eustschius meningkat.telinga tengah. Perbedaan Antara Tuba Eustachius pada Anak-anak dan Orang 9 . 2007). lebih lebar dan kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa. Panjang tuba orang dewasa 37. dan hipertrofi adenoid (Kerschner. Ini karena pada anak dan bayi. sehingga jarang terjadi obstruksi dan disfungsi tuba. adenoid dapat terinfeksi akibat ISPA kemudian menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius (Kerschner. Adenoid merupakan salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh. sistem pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah terkena ISPA lalu terinfeksi di telinga tengah. Faktor ekstraluminal seperti tumor. sebagian besar pasien dengan otitis media dihubungkan dengan riwayat fungsi abnormal dari tuba Eustachius. tuba lebih pendek. Ini meningkatkan peluang terjadinya refluks dari nasofaring menganggu drainase melalui tuba Eustachius. Pada anak.5 mm dan pada anak di bawah umur 9 bulan adalah 17. adenoid relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Selain itu. Posisi adenoid yang berdekatan dengan muara tuba Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya tuba Eustachius. Insidens terjadinya otitis media pada anak yang berumur lebih tua berkurang. sehingga mekanisme pembukaan tuba terganggu. sehingga infeksi saluran pernapasan atas lebih mudah menyebar ke telinga tengah.5 mm (Djaafar.

yaitu stadium oklusi tuba Eustachius. Gambar 4. stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi. Membran Timpani Normal 10 . stadium perforasi dan stadium resolusi (Djaafar. stadium supurasi.Dewasa Stadium OMA OMA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium. bergantung pada perubahan pada mukosa telinga tengah. 2007).

edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. Stadium Oklusi Tuba Eustachius Pada stadium ini. Selain retraksi. Gejala-gejala berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari (Djaafar. Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Dhingra. tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Gambar 5. Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. atau hanya berwarna keruh pucat. 2. terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di dalam telinga tengah. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi Pada stadium ini. Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia. 2007). Retraksi membran timpani terjadi dan posisi malleus menjadi lebih horizontal.kadang tetap normal dan tidak ada kelainan. yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis. terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani. Membran Timpani Hiperemis 11 . 2007.1. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan. refleks cahaya juga berkurang. membran timpani kadang. Proses inflamasi berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti. Dhingra. 2007. 2007). telinga rasa penuh dan demam. Tidak terjadi demam pada stadium ini (Djaafar. dengan adanya absorpsi udara. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. Edema yang terjadi pada tuba Eustachius juga menyebabkannya tersumbat.

Pada keadaan ini. Selain itu edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial terhancur. Pada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang.3. Stadium Supurasi Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. pasien akan tampak sangat sakit. Luka insisi pada membran timpani akan menutup 12 . Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis venavena kecil. Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang telinga luar. akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan iskemia membran timpani. lalu menimbulkan nekrosis. Bedah kecil ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau yellow spot. Dapat disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. Pasien selalu gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. sehingga tekanan kapiler membran timpani meningkat. nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi.

Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua bulan. Gambar 7. 2007. lubang tempat perforasi lebih sulit menutup kembali. Dhingra. sedangkan apabila terjadi ruptur. maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. suhu tubuh menurun dan dapat tertidur nyenyak. 2007). Setelah nanah keluar. Membran Timpani Bulging dengan Pus Purulen 4. Gambar 6. anak berubah menjadi lebih tenang. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Dhingra. Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.kembali. maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (Djaafar. Membran Timpani Peforasi 13 . Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung melebihi tiga minggu. 2007. Stadium Perforasi Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. 2007). Membran timpani mungkin tidak menutup kembali jikanya tidak utuh lagi (Djaafar.

2007.5. kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut. Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa. Diagnosis Kriteria Diagnosis OMA Menurut Kerschner (2007). jika membran timpani masih utuh. Pendengaran kembali normal. maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. daya tahan tubuh baik. dan virulensi kuman rendah. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani (Djaafar. Stadium Resolusi Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan berkurangnya dan berhentinya otore. Dhingra. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani menetap. dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering. 2007). Apabila stadium resolusi gagal terjadi. yaitu: 14 . Stadium ini berlangsung walaupun tanpa pengobatan.

dengan tambahan ditandai dengan demam melebihi 39. yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut. mobilitas membran timpani yang menurun. Kriteria diagnosis ringan-sedang adalah terdapat cairan di telinga tengah. seperti demam. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga tengah. yaitu ringan-sedang. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah. otalgia. seperti menggembungnya membran timpani atau bulging. dan disertai dengan otalgia yang bersifat sedang sampai berat. Menurut Rubin et al. Ditemukan adanya tanda efusi. juga terdapat tanda dan gejala inflamasi pada telinga tengah. keparahan OMA dibagi kepada dua kategori. Efusi telinga tengah dapat menimbulkan gangguan pendengaran dengan 0-50 decibels hearing loss. terbatas atau tidak ada gerakan pada membran timpani. dan terdapat cairan yang keluar dari telinga.1. nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal. Perbedaan OMA dan Otitis Media dengan Efusi OMA dapat dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Selain itu. dan otore yang purulen. Table 2. terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani. dan berat. gangguan pendengaran. vertigo dan kemerahan pada membran timpani. (2008). membengkak pada membran timpani. tinitus. 2. Tahap berat meliputi semua kriteria tersebut. Perbedaan Gejala dan Tanda Antara OMA dan Otitis Media dengan Efusi 15 . Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut. terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani. 3. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut. seperti kemerahan atau erythema pada membran timpani. Efusi telinga tengah (middle ear effusion) merupakan tanda yang ada pada OMA dan otitis media dengan efusi.0°C.

menghindari perforasi membran timpani. dengan pemberian antibiotik. dan memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik (Titisari.Gejala dan tanda Nyeri telinga (otalgia). 2005). kuning. memperbaiki fungsi tuba Eustachius. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin terjadi. Pada stadium oklusi tuba. mengobati gejala. dan biru Gangguan pendengaran Otore purulen akut Kemerahan membrane timpani.5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas + + + + - 16 . erythema Penatalaksanaa Pengobatan Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. demam Efusi telinga tengah Membran timpani membengkak (bulging). pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. dan antipiretik. dekongestan lokal atau sistemik. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. menarik telinga (tugging) Inflamasi akut. rasa penuh di telinga Gerakan membran timpani Otitis Media Akut + + + +/- Otitis Media dengan Efusi + - + + berkurang atau tidak ada Warna membran timpani + + abnormal seperti menjadi putih.

2007). obat tetes hidung dan analgesik. 2007). atau ada perburukan gejala. sering terlihat sekret banyak keluar. Jika terjadi resistensi.12 tahun pada orang dewasa. selain diberikan antibiotik. diberikan eritromisin. sekret tidak ada lagi. Pada stadium resolusi. kadang secara berdenyut atau pulsasi. Bila keadaan ini berterusan. membran timpani berangsur normal kembali. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur (Djaafar. Masalah yang muncul adalah risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik meningkat. dan perforasi menutup. mungkin telah terjadi mastoiditis (Djaafar. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3% selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis (Djaafar. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. Sumber infeksi harus diobati dengan pemberian antibiotik (Djaafar. Bila pasien alergi tehadap penisilin. Observasi dapat dilakukan. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Pada stadium perforasi. Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik. 2007). Pada anak. 2007). Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam dua sampai tiga hari. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. diberikan ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang terbagi da lam empat dosis. 2007). gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari (Djaafar. Menurut American Academy of Pediatrics (2004) 17 . Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik. Ternyata pemberian antibiotik yang segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinya komplikasi supuratif seterusnya. Pada stadium supurasi.

valent conjugate vaccine dapat dianjurkan untuk menurunkan prevalensi otitis media (American Academic of Pediatric. Kriteria Terapi Antibiotik dan Observasi pada Anak dengan OMA Usia Kurang dari 6 bulan 6 bulan sampai 2 tahun Diagnosis Pasti (certain) Antibiotik Antibiotik Diagnosis meragukan (uncertain) Antibiotik Antibiotik jika gejala berat. dapat diberikan sefalosporin seperti cefdinir. Follow-up dilaksanakan dan pemberian analgesia seperti asetaminofen dan ibuprofen tetap diberikan pada masa observasi (Kerschner. dengan gejala ringan saat pemeriksaan. 2007). Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang-berat atau demam 39°C. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae. Menurut American Academic of Pediatric (2004). yaitu bersifat akut. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. 2007). amoksisilin merupakan first-line terapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai terapi antibiotik awal selama lima hari. jika observasi jika gejala ringan gejala Observasi jika observasi 18 . Table 3. Pneumococcal 7. terdapat efusi telinga tengah. 2004). 2 tahun ke atas Antibiotik berat. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan sampai dengan dua tahun.dalam Kerschner (2007). dan terdapat tanda serta gejala inflamasi telinga tengah. Jika pasien alergi ringan terhadap amoksisilin. mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut. gejala ringan Diagnosis pasti OMA harus memiliki tiga kriteria. Second-line terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. termasuk Streptococcus penumoniae (Kerschner. Gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam kurang dari 39°C dalam 24 jam terakhir.

2003). anak harus tenang sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik. Indikasi miringostomi pada anak dengan OMA adalah nyeri berat. Lokasi miringotomi ialah di kuadran posterior-inferior. Menurut Buchman (2003). Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA. 19 . 2007). dan adenoidektomi (Buchman. dengan analgesia lokal supaya mendapatkan sekret untuk tujuan pemeriksaan. gangguan pendengaran secara signifikan dibanding dengan plasebo dalam tiga penelitian prospertif. Salah satu tindakan miringotomi atau timpanosintesis dijalankan terhadap anak OMA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi second-line. efusi telinga tengah. pada bayi baru lahir atau pasien yang sistem imun tubuh rendah. pipa timpanostomi dapat menurun morbiditas OMA seperti otalgia. Miringotomi Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani. labirinitis. seperti miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis. untuk menidentifikasi mikroorganisme melalui kultur (Kerschner. terdapat komplikasi supuratif. komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis. miringotomi tidak perlu dilakukan. dan infeksi sistem saraf pusat. 1.Pembedahan Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA rekuren. kecuali jika terdapat pus di telinga tengah (Djaafar. supaya terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. 2. Syaratnya adalah harus dilakukan secara dapat dilihat langsung. demam. Bila terapi yang diberikan sudah adekuat. timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani. mastoiditis. 2007). Timpanosintesis Menurut Bluestone (1996) dalam Titisari (2005). Indikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak memuaskan.

tidak dianjurkan adenoidektomi. Komplikasi Sebelum adanya antibiotik. Mengikut Shambough (2003) dalam Djaafar (2005). mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis.randomized trial yang telah dijalankan. 3. menganjurkan pemberian ASI minimal enam bulan. dan intracranial (abses otak. tetapi hasil masih tidak memuaskan. dan lain-lain (Kerschner. pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis. menangani ISPA dengan pengobatan adekuat. mastoiditis akut . OMA dapat menimbulkan komplikasi. komplikasi OMA terbagi kepada komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani. 2007). Pencegahan Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. paresis nervus fasialis. Sekarang semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. 2007). petrositis). menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok. kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis rekuren (Kerschner. AdenoidektomiAdenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media dengan efusi dan OMA rekuren. Pada anak kecil dengan OMA rekuren yang tidak pernah didahului dengan insersi tuba. 20 . tromboflebitis). labirinitis. Mencegah ISPA pada bayi dan anak-anak. ekstratemporal (abses subperiosteal).

batuk (-) 21 . Riwayat anak sering batuk dan bersin (-) 3. Nyeri dirasakan sudah sejak kemarin (1 hari). Pendengaran dirasakan anak tidak menurun dan merasakan penuh pada telinga. Riwayat sering membersihkan teling sendiri (+). Identitas : An. Asthma (-). disfagia (-) Respiratorius : sesak (-). THT. Review Sistem Kepala & Leher : nyeri telinga (+). Anamnesa Keluhan Utama : Telinga kanan nyeri 1. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan telinga kanan nyeri. Alergi (-).LAPORAN KASUS A. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama. KL Nama Pasien Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Alamat Tanggal Masuk RS Ruang Dokter yang merawat B. D : Laki-laki : 8 tahun : Pelajar : Sindurjan RT 01/02 Purworejo : 20 Agustus 2012 : Poli THT RSUD Saras Husada : dr. Riwayat Penyakit Dahulu Anak belum pernah merasakan gejala yang sama. Sp. 4. Anak mengatakan juga disertai demam. 2. Tidak ada keluar cairan dari telinga. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Tolkha Amiruddin.

Nyeri tekan c. isokor : Mesosefal : Warna hitam. Ptosis (-/-) : Anemis (-/-) : Ikterik (-/-) : Reflek cahaya (+/+). Kesan umum d. e. mual (-). Pemeriksaan Kepala .5 ° C : 20 x/m Tipe : Thorakal Kesadaran 2. Pemeriksaan Dada : Normochest. b. Pemeriksaan Ekstremitas Ekstremitas Pitting Edema Sensibilitas Refleks Fisiologis Superior Kanan + + Kiri + + Inferior Kanan + + Kiri + + : Edema (-/-). Kulit : Ikterik (-).Konjunctiva . : 100/60 mmHg : 84 x/m. distribusi merata. Status Generalis a. Tanda utama Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan 3. sesak (-) Gastrointestinal : Abdominal pain (-). Pemeriksaan Fisik : Baik. isi dan tegangan : reguler : 36. hiperpigmentasi (-). simetris. sianosis (-).Rambut . : Komposmentis. ketinggalan gerak 22 . pucat (-).Bentuk kepala .Cardiovascular : nyeri dada (-). muntah (-) Urogenital : BAK (+) C.Sklera . Pemeriksaan Mata . : (-) 1.Palpebra . deformitas (-).Pupil (-).

tidak ada secret. refleks cahaya (+). debritus -/: karies (-) 23 . perforasi (-) (+) Lateralisasi (-) Sama dengan pemeriksa Hidung - - - - Aurikula Telinga Kiri Normal. granul (-). refleks cahaya (+). tragus pain (-). hipertropi -/: sekret -/-. tidak mikrotia Tenang. tampak hiperemis.Refleks Patologis Status Lokalis THT Telinga Telinga Kanan Normal. ada serumen Intak. tidak mikrotia Tenang. tidak ada secret. kripte melebar -/-. tidak hiperemis. bulging (+) minimal. post nasal drip (-) : T1 – T1. tidak ada serumen Intak. polip -/: lurus : +/+ : -/- Nasofaring/ Orofaring Mukosa Tonsil Gigi : tenang. tragus pain (+) ringan. sedikit sempit. hiperemi (+). heliks sign (-). tidak ada benda asing / tidak ada massa . heliks sign (-). warna putih mengkilap Canalis Aucusticus Eksterna Membran Tympani Riene Weber Schwabach (+) Lateralisasi (-) Sama dengan pemeriksa Cavum nasi : tidak ada massa. tidak ada benda asing • • • • • • • • • Mukosa Konkha Meatus inferior Septum nasi Pasase udara Massa : Tidak hiperemis : edema -/-.

submandibula -/-.Leher Pembesaran KGB submental -/-. 24 .

telinga rasa penuh dan demam. Pada pemeriksaan membran tympani telinga kanan intak. Pada stadium ini. Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. bulging (+) minimal. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. 25 . Pada bayi dan anak kecil. refleks cahaya (+). Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. perforasi (-). tidak mikrotia. yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis. ada serumen. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan. Anak mengatakan juga disertai demam. Pada kanalis austikus eksternus telinga kanan tenang. di samping suhu tubuh yang tinggi. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. anak gelisah dan sukar tidur. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga. hiperemi (+). Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa. tidak ada secret. selain rasa nyeri. Proses inflamasi berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti. diare.5°C (pada stadium supurasi).PEMBAHASAN Pasien an. Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia. Nyeri dirasakan sudah 1 hari. D usian 8 tahun datang dengan keluhan telinga kanan nyeri. gejala khas OMA adalah suhu tubuh tinggi dapat mencapai 39. edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. terdapat gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang mendengar. Pendengaran dirasakan anak tidak menurun. Telinga kiri semua dalam batas normal. Dalam pemeriksaan ini anak masuk ke dalam stadium OMA hiperemis. kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Pada pemeriksaan telinga didapatkan aurikula telinga kanan normal. terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani. tergantung dari cepatnya proses hiperemis. tragus pain (+). tiba-tiba anak menjerit waktu tidur. tampak hiperemis. Secara garis besar gejala otalgia pada anak sangat mungkin merupakan gejala klinis OMA. heliks sign (-). Gejala bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien.

Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. diberikan ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam empat dosis. Diberikan obat tetes hidung (dekongestan). obat tetes hidung dan analgesik. Bila pasien alergi tehadap penisilin. Pada anak. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. diberikan eritromisin. dan obat antipiretik paracetamol 3x500 mg atau seperlunya. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. 26 . Jika terjadi resistensi. gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis.Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik.

Int.. Laara. Usaha Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA). R. 27 . In: Lee. R. 1996. F. Dalam: Hassan. Homoe. Nelson Textbook of Pediatrics. Romero-Diaz.O. 2007. J. Am. P. Acute Otitis Media: Bacteriology and Bacterial Resistance in 205 Pediatric Patients. 56: 23-31.A. ed. Levine. Montanaro. Usaha Kesejahteraan Sekolah. Romero-Moroni. Otorhinolaryngol. Bretlau. Romero-Orellano. 2000. Z. ed. 64-86. USA: McGraw-Hill Companies. Dalam: Hassan. Clinical Manifestations. J. Acute Otitis Media and Sociomedical Risk factors Amongst Unselected Children in Greenland. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Restuti. R. Berman. K. S. P. J. Purwanto. H... Atelektasis. 2007. Pediatr. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. American Academy of Pediatrics and America Academy of Family Physicians.DAFTAR PUSTAKA Alho. USA: Saunders Elsevier. Pediatr. Christensen. C. Otitis Media in Children. 1985.... Pathogenesis. 1995.. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Public Health Impact of Various Risk Factors for Acute Otitis Media in Northern Finland. I. Sastroasmoro.E. Up to Date. R. 2632-2646.D.. E. Infection of the Ear.A. Commisso.. R.J. 388-582. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. Pediatric Otolaryngology. ed. Otitis Media. O.. Budiman.. Inc. Acute Otitis Media in Children: Epidermiology.. Hassan. In: Kliegman.. T. 462-511. Philadelphia. and Complications.D. 8th ed. Helmi. Edisi ke-6. N Engl J Med 332 (23): 1560-1565.J.... Otitis Media. S. Bluestone. 1996. 1999.. Kenna eds. S. Moeslichan.. S. London: WB Saunders..A. 3rd ed.. Diagnosis and Management of Acute Otitis Media.H.M. Kelainan Telinga Tengah. 49: 37-52.B. In Bluestone... Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Klein. 49-58. J.. 2004. ed. Kerschner. R.. and Eustachian Tube Dysfunction. J. J. 1985... Madiyono. 2009. Balkany. Otorhinolaryngol.. Oja. R..D. Buchman... R. Dalam: Soepardi. 2003. R.M. Stool. F. 59-62. E. 18th ed. Djaafar. P. Klein. Epidemiol 143 (11).B. C.. Int.O.. B.. Hassan. Pediatrics 113(5):14511465. J. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher.

Taylor. B. Passali. 205-214.2008. Prevalensi dan Sensitivitas Haemophilus Influenzae pada Otitis Media Akut di PSCM dan RSAB Harapan Kita. J. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. M. Gonzales. J.. Hoffman. Edisi ke-3. 2008. Mora. Onion..J. Grady. Sinusitis.E. Chonmaitree. Int. D. R. Incidence of Acute Otitis Media and Sinusitis Complicating Upper Respiratory Tract Infection: The Effect of Age. Sande. Zakzuok.P. 2002. Pharyngitis.C. M. S. J. Otorhinolaryngol. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Int. J. K. A. M. Nair. Hunt. 1977. L. C. The Epidermiology of Recurrent Otitis Media. Pediatr. Revai. D. Infect. Racial/Ethnic Disparities in the Diagnosis of Otitis Media in Infancy. S. The Greater Boston Otitis Media Study Group.. Perkiraan Besar Sampel. Int... Teele.S. 302-331. 2005. G. Dis.. Vezina. Jakarta: Sagung Seto. Epidemiology of Otitis Media During the First Seven Years of Life in Children in Greater Boston: A Prospective. Harrysons’s Principles of Internal Medicine. Cordone. K. Jakarta.J. Mitchell. S.. R. Barbieri..M. Daghistani.A. Klein. S. J. J. ed. Mora.J. R. Dalam: Sastroasmoro. Pediatr. Corwin. H. F. Epidermiology of Acute Otitis Media Among Saudi Children.A.. L. 2007. T. Patel.. ed... 63: 111-118. Otorhinolaryngol... C. Public Health 67 (5).W.. and Other Upper Respiratory Tract Infections... A. Rubin. 28 .S. T... 68: 795-804. Vernacchio. 160 (1): 83-94. 17th ed. J. In: Fauci. Pediatrics 119 (6). Lesko.J.A.... 2004. M. Am. M. Otitis.. A Preventive Measure for Otitis Media in Children with Upper Respiratory Tract Infections.M. Inc.. H.. Cohort Study.. Titisari.O.. Sovatzis.. Otorhinolaryngol.. Rosner. 62: 219222.. USA: McGraw-Hill Companies. J.M. Jamal. 2002.. Pediatr.A. A..K..A. Dobbs..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful