Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

1

Ahmad Sarwat, Lc

FIQIH
THAHARAH
Seri Fiqih Islami - 01
DU CENTER PRESS
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

3

0
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

4

Judul Buku Fiqih Thaharah

Penulis
Ahmad Sarwat, Lc

Editor
Aini Aryani, LLB

Penerbit
DU CENTER PRESS

Cetakan
Pertama Maret 2010
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

5

Daftar Isi Pengantar 13 Mukaddimah 17 Thaharah 23 1. Pengertian 23 2. Thaharah Adalah Ritual 24 3. Pembagian Jenis Thaharah 26 3.1. Thaharah Hakiki (najis) 26 3.2. Thaharah Hukmi (hadats) 26 4. Perhatian Islam Pada Thaharah 27 4.1. Islam Adalah Agama Kebersihan 28 4.2. Islam Memperhatian Pencegahan Penyakit 28 4.3. Dipuji Allah 29 4.4. Kesucian Itu Sebagian Dari Iman 30 4.5. Kesucian Adalah Syarat Ibadah 30 Air 33

1. Empat Keadaan Air Dalam Thaharah 34 1.1. Air Mutlaq 34 2.1. Air Musta’mal 44 2.3. Air Tercampur Dengan Yang Suci 52 2.4. Air Mutanajjis 54 2. Keadaan Air Lainnya 56 2. 1. Air Musakhkhan Musyammasy 57 3. Pensucian Air 60 Najis 63 1. Pengertian 63 2. Pembagian Najasah 64 2.1. Najis Ringan 64 2.2. Najis Berat 65 2.3. Najis Pertengahan 66 3. Kenajisan Tubuh Manusia 67 3.1. Darah 69 3.2. Muntah 70
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

6

3.3. Kotoran dan Kencing 70 3.4. Nanah 72 3.5. Mazi dan Wadi 72 3.6. Jenazah Manusia 72 3.7. Potongan Anggota Tubuh Manusia 73 4. Hewan Yang Masih Hidup 73 4.1. Babi (Khinzir) 73 4.2. Anjing 78 4.3. Hewan Buas 80 5. Bangkai 82 4.1. Disembelih Untuk Selain Allah 83 4.2. Disembelih Tidak Syar'i 84 4.3. Disembelih Kafir Non Kitabi 85 4.3. Mati Tanpa Disembelih 86 4.4. Potongan Tubuh Hewan Yang Masih Hidup 86 4.5. Bangkai Yang Tidak Najis 87 6. Najis Yang Tidak Disepakati Ulama 90 7. Najis-najis Yang Dimaafkan 91 As-Su’ru 93 1. Pengertian 93 2. Su‟ru Manusia 93 3. Hukum Su‟ru Hewan 95 3.1. Su‟ru Hewan Yang Halal Dagingnya 95 3.2. Su‟ru Anjing dan Babi 96 3.3. Su‟ru Kucing 98 3.4. Su‟ru Keledai dan Bagal 99 4. Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha’ 100 Istinja’ 103 1. Pengertian 103 2. Hukum Istinja‟ 104 2.1. Wajib 104 2.2. Sunnah 105 3. Praktek Istinja‟ dan adabnya 106

4. Istijmar 111 Wudhu` 115
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

7

1. Pengertian 115 2. Masyru'iyah 117 3. Hukum Wudhu 118 3.1. Fardhu / Wajib 118 3.2. Sunnah 121 g. Ketika Melantunkan Azan dan Iqamat 125 4. Wudhu’ Rasulullah SAW 126 5. Rukun Wudhu` 127 5. 1. Niat Dalam Hati 128 5.2. Membasuh Wajah 129 5.3. Membasuh kedua tangan hingga siku 129 5.4. Mengusap Kepala 130 5.5. Mencuci Kaki Hingga Mata Kaki 131 5.6. Tartib 131 5.7. Al-Muwalat (Tidak Terputus) 132 5.8. Ad-Dalk 132 6. Sunnah-sunnah Wudhu` 133 6.1. Mencuci kedua tangan 133 6.2. Membaca basmalah sebelum berwudhu` 134 6.3. Berkumur dan Istinsyaq 134 6.4. Bersiwak 136 6.5. Meresapkan Air ke Jenggot 136 6.6. Membasuh Tiga Kali 136 6.7. Membasahi seluruh kepala dengan air 137 6.8. Membasuh dua telinga 138 6.9. Mendahulukan Kanan 138 6.10. Takhlil 138 7. Batalnya Wudhu' 139 7.1. Keluarnya Sesuatu Lewat Kemaluan. 139 7.2. Tidur 139 7.3. Hilang Akal 140 7.4. Menyentuh Kemaluan 140 7.5. Menyentuh kulit lawan jenis 141 Tayammum 145 1. Pengertian 145 2. Masyru`iyah 146
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

8

2.1. Dalil Al-Quran 146 2.2. Dalil Sunnah 147 2.3. Ijma` 147 3. Tayammum Khusus Milik Umat Muhammad SAW 147 4. Hal-hal Yang Membolehkan Tayammum 148 4.1. Tidak Adanya Air 148 4.2. Sakit 150 4.3. Suhu Sangat Dingin 151 4.4. Air Tidak Terjangkau 153 4.5. Air Tidak Cukup 154 4.6. Habisnya Waktu 154

6. Haji dan Umrah 176 7. Nifas 167 2. Batalnya Tayammum 157 7. Meratakan Air 169 4. Lc Fiqih Thaharah 9 4. Pengertian Khuff 184 .7.1. Sesudah Memandikan Mayat 175 6. Tanah Yang Bisa Dipakai Tayammum 154 6. Cara Tayammum 155 6. Hal-Hal Yang Haram Dikerjakan 177 8. Cara Kedua 156 7.7.2.2.6.5. Ditemukannya Air 158 7. Mencuci kaki 172 5.2. Keluar Mani 162 2.4.1. Tidak perlu berwudhu lagi setelah mandi.3. Sunnah Mandi Janabah 169 4.3 Hilangnya Penghalang 159 Mandi Janabah 161 1.4.1. Berwudhu 171 4. Tawaf 178 8. Sujud Tilawah 178 8. Segala Yang Membatalkan Wudhu` 157 7.3.2. Shalat hari Raya Idul Fithr dan Idul Adha 174 6.4.1. Memegang atau Menyentuh Mushaf 179 8.2. Haidh 166 2. Sela-sela Jari 171 4.3. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Ketika Mandi Junub : 177 7. Pengertian 161 2.3.1.6.5. Masuk ke Masjid 182 Mengusap Dua Khuff 183 1. Sadar dari Pingsan. Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi Janabah 162 2. Meninggal 165 2. Niat 168 3. Shalat 177 8.5. Menghilangkan Najis 168 3.2. Menyiram kepala 172 4. Shalat Gerhana dan Istisqa` 174 6. Shalat Jumat 173 6.2. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran 180 8. Membasahi Seluruh Badan 172 4.1. Gila atau Mabuk 176 6. Mencuci Dua Kemaluan 171 4.3.1. Mencuci Kedua Tangan 171 4.9.2. Membersihkan Najis 171 Ahmad Sarwat. Makna mengusap khuff 183 2. Melahirkan 167 3. Mendahulukan anggota kanan 177 7. Cara Pertama 155 6. Bertemunya Dua Kemaluan 164 2.5. Fardhu Mandi Janabah 168 3.1. 177 8. Mandi Sunnah 172 6.6.5.

8.7. Kalangan yang Mengingkari 186 5. Pengertian 193 2. Masyru`iyah 184 4. Mendapat janabah 191 8. 192 Haidh 193 1.2.4. Shalat 199 6. Pada Usia Berapakah Mulai dan Berakhirnya Haid. Lama Haid Bagi Seorang Wanita 197 5. Lama Nifas 207 3.7. Darah Istihadhah 196 3. 197 4.3. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran 211 Ahmad Sarwat.2.1. Masuk ke Masjid 211 3. Berwudu` atau mandi 200 6. Tidak Berlubang 189 6. Menyentuh Mushaf dan Membawanya 201 6.4. Syarat Darah Haidh 196 4. Bersetubuh 211 . Melepas atau terlepas sepatu baik satu atau keduanya 192 8. Perbuatan Yang Haram Dilakukan Karena Haid 199 6.3.9.1. Lama Masa Suci 198 6.5.Tawaf 210 3. Hal-hal yang dilarang dilakukan wanita yang sedang nifas 209 3. Tidak Tembus Air 189 7. Syarat untuk Mengusap Sepatu 188 6. Lc 10 8. Tidak Najis 188 6.5. Habis waktunya. Menceraikan Istri 205 Nifas 207 1. Darah Haid 195 2. Pengertian 207 2. Berlubang atau robek sehingga terlihat 192 8. Salat 209 3. Puasa 210 3.2.8.1. Berwudu` atau mandi janabah 209 3. Puasa 200 6. Darah Wanita 195 2.3. Berwudhu sebelum memakainya 188 6.4. Menyentuh Mushaf dan Membawanya 210 3.Tawaf 201 6.2.3. Lc Fiqih Thaharah 11 3.Darah Nifas 195 2.3.4.6.3. Sepatunya harus suci dan menutupi tapak kaki hingga mata kaki 188 6. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran 201 6. Yang Membatalkan 191 8.5. Bersetubuh 202 6. Masuk ke Masjid 202 6.2.1. Praktek Mengusap Sepatu 187 6.6. Masa Berlaku 189 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.1.5. Basahnya kaki yang ada di dalam sepatu 192 8.

Kondisi kedua 216 2. zakat. salah satunya karena kendala bahasa. Buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian silsilah pembahasan fiqih.1.4. waris. puasa. pengikut dan orang-orang yang berada di jalannya hingga akhir zaman. Maka upaya menuliskan kitab fiqih dalam bahasa Indonesia ini menjadi upaya seadanya untuk mendekatkan umat ini dengan warisan agamanya. haji. agar masih tersisa mana yang merupakan nash asli dari agama ini. Sedikit berbeda dengan umumnya kitab fiqih. hudud dan bab lainnya. kebanyakan umat Islam malah tidak dapat menikmati warisan itu. tapi berupaya memberikan beberapa pendapat bila memang ada . Sayangnya. Tentu saja buku ini juga diupayakan agar masih dilengkapi dengan teks berbahasa Arab. kecuali dalam bahasa Arab. juga kepada para shahabat.3. Sebuah kekayaan yang tidak pernah dimiliki oleh agama manapun yang pernah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. nikah. Pengertian 215 2. ekonomi atau muamalah. Tiga Keadaan Istihadhah 215 2. Kami tidak memberikan satu pendapat saja. manhaj yang kami gunakan adalah manhaj muqaranah dan wasathiyah. Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Padahal tak satu pun ayat Al-Quran yang turun dari langit kecuali dalam bahasa Arab. Insya Allah setelah buku ini sudah siap cetakan berikutnya yaitu bab-bab tentang shalat. Kondisi ketiga 217 3. Mumayyizah 215 2. Lc Fiqih Thaharah 13 Pengantar Segala puji bagi Allah. Kasus 213 Istihadhah 215 1. Buku ini hanyalah sebuah catatan kecil dari ilmu fiqih yang sedemikian luas. Para ulama pendahulu kita telah menuliskan ilmu ini dalam ribuan jilid kitab yang menjadi pusaka dan pustaka khazanah peradaban Islam. Lc 14 muncul di muka bumi. tak secuil pun huruf keluar dari lidah nabi kita SAW. Hukum Wanita yang Istihadhah 217 Penutup 219 Tentang Penulis 221 Ahmad Sarwat.2. Tuhan Yang Maha Agung.

nyaman dan indah. Lc Mukaddimah 5 Segala puji bagi Allah. Bahkan perkantoran yang dulunya melulu urusan duniawi. Lc Fiqih Thaharah 15 tetapi yang lebih penting dari itu dapat diamalkan sebaik-baiknya ikhlas karena Allah SWT. Tuhan Yang Maha Agung. Kebutuhan Atas Buku Rujukan Seiring dengan itu kebutuhan umat Islam atas buku-buku rujukan tentang agama Islam semakin . Mulai dari maraknya Bank yang bernuansa syariah. dengan usaha untuk menampilkan juga hujjah masing-masing. juga kepada para shahabat. Dilanjutkan dengan layar kaca di bulan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.khilaf di antara para ulama tentang hukum-hukum tertentu. pengikut dan orang-orang yang berada di jalannya hingga akhir zaman. Semoga buku ini bisa memberikan manfaat berlipat karena bukan sekedar dimengerti isinya. Lalu pilihan biasanya kami serahkan kepada para pembaca. Fenomena yang nampak di banyak tempat turut membantu membuktikan hal itu. Semangat berislam-islam (baca:menjalankan agama Islam) di era tahun 2000-an dan seterusnya ini terasa semakin hari semakin besar. di kota-kota besar semakin rajin menggelar pengajian yang intinya adalah pengajaran ilmu-ilmu keislaman. Ahmad Sarwat. Al-Faqir ilallah Ahmad Sarwat. kini justru semakin berlomba menggelar berbagai bentuk kegiatan keIslaman. setelah Presiden sebelumnya lebih suka berprasangka buruk pada umat Islam. berbagai upaya untuk memperdalam pemahaman atas agama Islam semakin terasa di berbagai tempat. Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. hingga busana muslimah yang kian membudaya setelah dahulu sempat dilarang-larang. Secara otomatis. Masjid sebagai pusat ibadah ritual. Lc 18 Ramadhan yang banyak memanfaatkan momen bulan suci itu untuk ajang menarik banyak penonton. hingga berlomba mendirikan masjid dengan bangunan yang megah. Bahkan seorang Obama yang Presiden Amerika pun banyak melirik dan mengelus-elus Islam.

dipandang oleh 'beliaubeliau' di tanah Arab sana sebagai hal yang sangat aib. dipandang aneh oleh bangsa kita. kondisi sosial dimana kitab berbahasa Arab itu ditulis dengan kondisi sosial di negeri kita. Lc 20 kita. sayangnya kita belum lagi mendapatkan hadiah karya tulis mereka yang bisa langsung kita nikmati. kita butuh jawaban dan solusi syariah tidak hanya sekedar produk impor dari luar. Boleh jadi apa yang dirasakan dan dialami oleh seorang mufti berkebangsaan Arab di negerinya. Sayangnya. Terutama yang terkait dengan sumber asli ilmu-ilmu keislaman yang merupakan warisan abadi sejak awal mula dakwah Islam. Kita punya banyak ustadz yang melek syariah. Semua itu akan bermuara kepada satu alternatif. untuk ukuran negeri Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Selain itu. Duka. Kita butuh sebuah kajian yang ikut memasukkan faktor-faktor lokal di dalamnya. Lc Fiqih Thaharah 19 keuntungannya masuk kantong.terasa. hal itu masih terasa kosong. Suka. Sehingga mau tidak mau. Kita cenderung lebih menikmati pekerjaan menterjemahkan karya orang lain ketimbang . buat para penerbit buku yang bisa menterjemahkan dengan jalan 'membajak' dari bukubuku bahasa Arab begitu saja dan dijual lalu Ahmad Sarwat. buat para pembaca karena kualitas penerjemahan seringkali mengalami distorsi besar. Sehingga kualitas sebuah fatwa terkadang ikut terasa hambar dan hampa. dengan segala suka dan dukanya. Apalagi bila terkait dengan masalah pemahaman (baca: fiqih) atas teks syariah yang sangat kompleks. terpaksa untuk sementara ditutup dengan menterjemahkan buku-buku dari bahasa Arab. lantaran jurang perbedaan 'urf dan budaya. apa yang dinilai sebagai sebuah kebiasaan di negeri Arab. terkadang sering menyisakan jurang perbedaan yang menganga. Dan sayangnya. justru kebutuhan atas buku rujukan ini yang selalu kurang mendapat perhatian. Kadang. seringkali sangat jauh berbeda dengan apa yang kita temui di negeri ini. apa yang oleh kita sesuatu yang amat biasa dan tidak masalah. Karena itu ketidaknyambungan antara isi buku terjemahan dengan realitas sosial yang ada pada gilirannya seringkali menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Sering.

Fiqih Nikah Ahmad Sarwat. Fiqih Kuliner 9.1 Namun yang dimaksud disini tentu bukan semata kebersihan. Fiqih Thaharah 2. Fiqih Ikhtilaf 11. yang merupakan jilid pembuka dari jilid-jilid berikutnya.memproduksi sendiri sebuah karya. melengkapi sekian banyak rujukan ilmu fiqih yang sudah ada sebelumnya. Fiqih Politik 13. Fiqih Jihad 15. Pengertian Thaharah ( ‫حٌز‬ٜ٠ ) dalam bahasa Arab bermakna An-Nadhzafah ( ‫) جُ٘ظحكس‬. Fiqih Muamalat 7. Fiqih Jinayat dan Hudud 10. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Lc 24 menghilangkan najis. yang hidup di Indonesia dengan realitas sosial yang juga sangat Indonesia. Thaharah dalam istilah para ahli fiqih adalah : ( ‫حء ؿَٓ ػٖ ػرحٌز‬ٟ‫س أػ‬ٚٞٛ‫لس ٓه‬ٛ‫س ذ‬ٚٞٛ‫) ٓه‬. Buku ini adalah jilid satu. yang direncanakan akan terbit setidaknya menjadi 15 jilid. ( ‫ جُكىظ ٌكغ‬ٝ ‫) جُ٘ؿّ ئَجُس‬. yaitu mencuci anggota tubuh tertentu dengan cara tertentu.2 Thaharah menduduki masalah penting dalam . Fiqih Mawaris 14. Ini adalah karya asli seorang Indonesia. yaitu mengangkat hadats dan 1 Lihat Mukhtarushshihah pada maddah thahara Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. yaitu kebersihan. Fiqih Perempuan 12. Rinciannya : 1. Buku ini insya Allah diniatkan untuk dijadikan salah satu rujukan. *** Buku yang di tangan Anda ini barangkali diniatkan untuk menjawab pertanyaan besar itu. dalam bahasa Indonesia dengan taste Indonesia. Lc Fiqih Thaharah 21 8. Fiqih Shalat 3. Fiqih Zakat 5. Fiqh Haji 6. Fiqih Puasa 4. Fiqih Kontemporer Bab 1 Thaharah 1.

justru kita bertayammum dengan menggunakan tanah atau 2 Kifayatul Akhyar halaman 6 dan Kasysyaf al-Qinna' jilid 1 halaman 24 Ahmad Sarwat. Sebab daging babi tetap haram meski teknologi bisa memasak babi dengan mematikan semua jenis cacing pita atau virus yang terkandung di dalamnya. dan berbulu menarik. Sebab beberapa ibadah utama mensyaratkan thaharah secara mutlak. tidak belepotan lumpur. Suci itu kebalikan dari najis. Tanpa thaharah. tidak berdebu. belum tentu berarti tidak suci. tidak tercampur keringat. Ketentuan seperti itu tentu resmi datang dari Allah SWT dan dibawa oleh Rasulullah SAW secara sah. ibadah tidak sah. ibadah kita kepada Allah SWT tidak akan diterima. bersih itu lawan dari tidak kotor. Thaharah lebih tepat diterjemahkan menjadi kesucian secara ritual di sisi Allah SWT. meski tubuh dan pakaian seseorang kotor. Daging babi tidak menjadi najis karena alasan mengandung cacing pita atau sejenis virus tertentu. Setiap minggu diikutkan program menikure dan pedikure. ritus. Mengapa kita sebut kesucian ritual? Pertama. tanah. setiap hari dimandikan dengan sabun dan shampo yang mengandung anti-septik. Segala yang bukan najis atau yang tidak terkena najis adalah suci. thaharah adalah bentuk ritual. tidak dekil atau tidak lusuh. Tanah dalam pandangan fiqih adalah benda suci. meski pun tetap punya hubungan yang kuat dan seringkali tidak terpisahkan. Lc Fiqih Thaharah 25 debu. Kesucian atau kenajisan itu semata-mata ajaran. wangi. Thaharah Adalah Ritual Thaharah tidak selalu identik dengan kebersihan. Sebab seorang penyayang binatang bisa saja memelihara babi di kandang emas. 2. Sementara suci bukan kebalikan dari bersih. karena untuk menetapkan sesuatu itu suci atau tidak. Artinya. keringat dan sejenisnya dalam rumus kesucian fiqih Islam bukan najis atau benda yang terkena najis. maka tidak akan diterima Allah. Kalau debu dikatakan najis. ritual dan kepercayaan. berdebu.Islam. boleh digunakan untuk bersuci. Buktinya. Boleh dikatakan bahwa tanpa adanya thaharah. justru tidak ada alasan logis yang masuk akal. Debu. Kalau tidak diterima Allah. lumpur. maka seharusnya hal itu bertentangan. terkena lumpur atau tanah becek. Kedua. maka konsekuensinya adalah kesiasiaan. Bila ibadah tidak sah. Daging babi juga tidak menjadi najis hanya karena babi dianggap hewan kotor. dihias di salon hewan sehingga berpenampilan cantik. Dan .

bersih dan sehat.2. 'illat (alasan) atas kenajisannya bukan berangkat dari hal-hal yang masuk akal. bukan karena lifestyle sang babi. Dan najisnya babi sudah kehendak Allah SWT. Boleh dikatakan bahwa thaharah hakiki adalah terbebasnya seseorang dari najis. Tapi sekali babi tetap babi. Thaharah Hukmi (hadats) Ahmad Sarwat. 3.1. Lc 26 hidup dan kebebasan. pakain dan tempat shalat dari najis. 3. baik hadats kecil maupun hadats besar (kondisi janabah). disucikan dengan cara mencucinya dengan air biasa. sadis atau boleh menyiksa babi. Seorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada noda darah atau air kencing. Bila najis itu ringan. dan thaharah hukmi atau yang terkait dengan hadats. Karena dia tidak terbebas dari ketidaksucian secara hakiki. bau dan rasa najisnya.babi antik itu bisa saja diberi makanan yang paling mahal. Bila najis itu pertengahan. Dalam kasus ini. 3. Thaharah Hakiki (najis) Thaharah secara hakiki maksudnya adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan. Namun tidak adanya kotoran yang menempel pada diri kita. harus dicuci dengan air 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Tapi bukan berarti seorang muslim boleh berlaku kejam. Pembagian Jenis Thaharah Thaharah terdiri dari thaharah hakiki atau yang terkait dengan urusan najis. babi adalah hewan najis. Thaharah hakiki bisa didapat dengan menghilangkan najis yang menempel. belum tentu dipandang bersih secara hukum. Bila najis itu berat. sampai hari kiamat buat seorang muslim. Tetap saja babi punya hak Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Bahkan boleh jadi secara fisik tidak ada kotoran pada diri kita. cukup dengan memercikkan air saja. pakaian atau tempat untuk melakukan ibadah ritual. maka najis itu dianggap telah lenyap. Thaharah secara hukmi tidak terlihat kotornya secara fisik. dia tetap hewan najis. tetapi karena kebabiannya. hingga hilang warna. Lc Fiqih Thaharah 27 Sedangkan thaharah hukmi maksudnya adalah sucinya kita dari hadats. Caranya bermacam-macam tergantung level kenajisannya. sehingga kotorannya pun wangi. Bersih secara . baik pada badan. tidak sah shalatnya.

Meski dia telah mencuci maninya dengan bersih. Seorang yang disyariatkan berwudhu sehari lima kali pasti berbeda keadaannya dengan yang tidak berwudhu sehari lima kali. Konon raja Ingrris di abad pertengahan sekali pun. Jadi thaharah hukmi adalah kesucian secara ritual. thawaf dan lainnya. Di Eropa zaman kegelapan. anjing dan babi. Semantara ratusan tahun sebelumnya umat Islam sudah membedakan mana najis dan mana yang bukan najis. Lc 28 4. orang-orang terbiasa tidur bersama dengan ternak mereka. Seorang yang tertidur batal wudhu'-nya. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Demikian pula dengan orang yang keluar mani. jarang-jarang yang kenal mandi. dimana secara fisik memang tidak ada kotoran yang menempel. boleh jadi secara fisik tidak ada kotoran yang menimpanya. dia tetap belum dikatakan suci dari hadats besar hingga selesai dari mandi janabah. 4. namun tidak dapat dipungkiri bahwa semua itu berhubungan dengan kebersihan. Islam Memperhatian Pencegahan Penyakit Termasuk juga bentuk perhatian serius atas masalah kesehatan baik yang bersifat umum atau .1. mandi dan membersihkan najis termasuk perkara ritual. Namun dia wajib berthaharah ulang dengan cara berwudhu' bila ingin melakukan ibadah ritual tertentu seperti shalat.hukum adalah kesucian secara ritual. Dan bahwa Islam adalah peri hidup yang paling unggul dalam urusan keindahan dan kebersihan. sapi. Perhatian Islam Pada Thaharah Banyak realitas dalam syariah Islam yang menunjukkan bahwa agama ini benar-benar memberikan perhatian yang besar pada masalah thaharah ini.merupakan bukti otentik tentang konsistensi Islam atas kesucian dan kebersihan. namun seolah-olah dirinya tidak suci untuk melakukan ritual ibadah.2. Islam Adalah Agama Kebersihan Perhatian Islam atas dua jenis kesucian itu -hakiki dan maknawi. lalu mengganti bajunya dengan yang baru. Thaharah hukmi didapat dengan cara berwudhu' atau mandi janabah. Meski wudhu. Kita bayangkan di masa lalu dimana mandi di beberapa belahan dunia dianggap sesuatu yang asing dan jarang-jarang dilakukan. 4.

Al-Baqarah : 222). Lc 30 kedatanganmu dan perbaguslah penampilanmu. Ahmad) 4. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji. Ahmad Sarwat. Lc Fiqih Thaharah 29 Sebab wudhu' dan mandi itu secara fisik terbukti bisa menyegarkan tubuh. bila masalah kesucian ini tidak diperhatikan. mengembalikan fitalitas dan membersihkan diri dari segala kuman penyakit yang setiap saat bisa menyerang tubuh. .khusus. Serta pembentukan fisik dengan bentuk yang terbaik dan penampilan yang terindah. (HR. maka imannya pun bagus. Dan seperti yang sudah sering disebutkan bahwa mencegah itu jauh lebih baik dari mengobati 4. kemalasan dan keengganan.4. Bila urusan kesucian ini bagus. maka kulitas imannya sangat dipertaruhkan. (QS. Dipuji Allah Allah SWT telah memuji orang-orang yang selalu menjaga kesucian di dalam Al-Quran Al-Kariem. Dan sebaliknya.3. Baik kesucian zahir maupun maupun batin. ِٕ‫َّ ئ‬ َّ ‫ّللا‬ ‫كد‬ ِ ٣ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang yang membersihan diri. AnTaubah : 108) Sosok pribadi muslim sejati adalah orang yang bisa menjadi teladan dan idola dalam arti yang positif di tengah manusia dalam hal kesucian dan kebersihan. (QS. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada jamaah dari shahabatnya : Kalian akan mendatangi saudaramu. Perhatian ini juga merupakan isyarat kepada masyarakat untuk mencegah tersebarnya penyakit. Sehingga sosokmu bisa seperti tahi lalat di tengah manusia (menjadi pemanis). Secara ilmu kedokteran modern terbukti bahwa upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadinya wabah penyakit adalah dengan menjaga kebersihan. maka perbaguslah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Kesucian Itu Sebagian Dari Iman Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa urusan kesucian itu sangat terkait dengan nilai dan derajat keimanan seseorang. ‫ جُص‬ٝ ٖ٤ِ‫جذ‬ ٝ ‫كد‬ ِ ٣ ْ ٍ‫ج‬ َّ ‫ ٓص‬َٚ٠ ٖ٣ٌ ِ ْ ٟ ٖٓ َ‫ل‬ َّ ‫ ُهْ ش‬ٚ َّ َّ ‫ ع ِ ُأِ و‬٠َُ ‫ جُص‬ٞ‫ه‬ َِّ ِ ٤ِ‫ؼ ِ َُْ ج و أَخ ك‬ ِ َٝ‫ٍ أ‬ ِ ١ ٝ َّ ّ ‫ٕ م أَـ‬ َّْ َ‫أ‬ ‫ّ ش‬ٞ‫ ُه‬ٚ َّ َّ َّ ٍ ‫كد‬ ٕٝ َّْ َ‫ أ‬١ َٚ‫ضط‬ ‫ج‬ٌٝ ٝ َّ َُ‫ ج‬ٙ ‫كد‬ َّْ َ ٕ ِ ٤ِ‫ ك‬ٚ ِ ٤ِ‫ٌؼ ك‬ ِ ٣ َّ ِ ٣ ٍ‫ج‬ ِ ‫ُج‬ ٚ‫ٖ ٓط‬٣ٌ ِ Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri Dan Allah menyukai orang yang membersihkan diri.

Muslim) 4.١ُ‫ج‬ َّ ٞٛ Kesucian itu bagian dari Iman (HR. air adalah benda yang istimewa dan punya kedudukan khusus. tetapi yang utama tetap air. tanah hanya salah satunya saja. yaitu menjadi media utama untuk melakukan ibadah ritual berthaharah. baik dari hadats atau pun dari najis. tayammum masih belum dikerjakan. 3 At-Tirmizy mengatakan bahwa hadits adalah hadits yang paling kuat dalam masalah ini dan statusnya adalah hasan Bab 2 Air Dalam pandangan syariah. baik secara fisik atau pun secara ruhani.5. Lc Fiqih Thaharah ٍ٣ ٝ ‫ ضف‬ِٚ٤ُِ ‫ج‬ 31 Ibnu Majah)3. Meski benda lain juga bisa dijadikan media berthaharah. namun selama masih ada air. Lc 34 berfungsi untuk menghilangkan najis. Tanah memang bisa digunakan untuk bertayammum. sekaligus juga air itu berfungsi sebagai media yang syar'i untuk menghilangkan hadats. Najis berat seperti daging babi. . Sebagai contoh adalah tanah. disucikan dengan cara mencucinya dengan air 7 kali. Tanah memang dapat Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. maka seberapa bagus dan banyaknya ibadah seseorang akan menjadi ritual tanpa makna. namun air adalah media yang utama.(HR. Kesucian Adalah Syarat Ibadah Selain menjadi bagian utuh dari keimanan seseorang. bab tentang air menjadi bab yang tidak bisa disepelekan. Tanpa adanya kesucian. yang mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam`. Abu Daud. Rasulullah SAW bersabda : ْ ٌ ١‫إل‬ ٌٔ ٠ َّ َِّ ‫ج‬ ِ ‫ٕ ّ ج‬ ْٓ ْ ‫لص‬ َّ ١ُ‫ ج‬ٞٛ ٌ ٝ ‫ٌ ضف‬ َّ ‫د‬ ِ ‫ ـ ج‬ُٙ‫ز ج‬ ِ ‫َّ ل‬ ِ ً ِ ٚٔ٣ ‫َّ جُص ج‬ ‫ ِ جُص‬٢ُِ ّ ْ ّ ِ ‫ ِ جُٖ ئل ُز‬٢ِ‫جت‬ ٌ ٝ ‫ ج‬ٙ ‫جُم‬ Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. Sebab tidak didasari dengan kesucian baik hakiki maupun maknawi. Tirmizi. masalah kesucian ini pun terkait erat dengan syah tidaknya ibadah seseorang. Maka ketika kita berbicara tentang thaharah. Air merupakan media yang berfungsi untuk menghilangkan najis.`Kunci shalat itu adalah kesucian. Ahmad Sarwat. Maka diantara syarat sebuah ibadah adalah bersuci. Alah SWT tidak menerima orang yang mempersembahkan ibadahnya dalam keadaan kotor.

Lc Fiqih Thaharah 35 ghairihi. Air Mutlaq Air mutlaq adalah keadaan air yang belum mengalami proses apapun. misalnya air teh. Ada beberapa keadan air yang tidak memungkinkan untuk digunakan untuk bersuci. air kelapa atau air-air lainnya. Dalam fiqih dikenal dengan istilah ٍٛ‫ح‬٠ ٜٓ‫ٍ ُ٘ل‬ٜ‫ ٓط‬ٍٙ٤‫ ُـ‬thahirun li nafsihi muthahhirun li Ahmad Sarwat. Namun belum tentu boleh digunakan untuk mensucikan seperti untuk berwudhu` atau mandi.1. tidak semua air bisa digunakan untuk bersuci.1. terkait dengan hukumnya untuk digunakan untuk bersuci. Air Hujan Air hujan yang turun dari langit hukum suci dan juga mensucikan. Air yang suci itu banyak sekali. pastilah air yang suci hukumnya. dalam arti belum digunakan untuk bersuci. air yang tercampur dengan benda yang najis. tidak tercampur benda suci atau pun benda najis. Para ulama telah membagi air ini menjadi beberapa keadaan. Meski pun di zaman sekarang ini air hujan sudah banyak tercemar dan mengandung asam yang tinggi. Air suci adalah air yang boleh digunakan atau dikonsumsi. Maka ada air yang suci tapi tidak mensucikan namun setiap air yang mensucikan. Kebanyakan yang kita dapat di dalam kitab fiqh. namun tidak semua air yang suci itu bisa digunakan untuk mensucikan. air musta‟mal. Air mutlaq ini hukumnya suci dan sah untuk digunakan bersuci. Air itu masih asli. Empat Keadaan Air Dalam Thaharah Namun demikian. namun hukumnya tidak berubah. Berikut ini adalah penjabarannya secara ringkas : 1. Diantara air-air yang termasuk dalam kelompok suci dan mensucikan ini antara lain adalah : a. mereka membaginya menjadi 4 macam. Mensucikan berarti bisa digunakan untuk berwudhu. sebab kerusakan pada air hujan diakibatkan oleh polusi dan pencemaran ulah tangan manusia dan zat-zat yang mencemarinya itu bukan termasuk najis. maka sebenarnya uap atau titik-titik air itu bersih dan suci. air yang tercampur benda yang suci. yaitu untuk berwudhu’ dan mandi janabah. Suci berarti bukan termasuk najis. Meskipun sumbernya dari air yang . yaitu air mutlaq. mandi janabah atau membersihkan najis pada suatu benda. Ketika air dari bumi menguap naik ke langit.

Namun meski demikian. kotor atau najis. kendaraan bermotor dan pembakaran lainnya memenuhi langit kita. tercampurnya air hujan dengan polusi udara tidaklah membuat air hujan itu berubah hukumnya sebagai air yang suci dan mensucikan. dilihat dari sisi syariah dan hukum air. Meski bersifat racun dan berbahaya untuk kesehatan. Lc Fiqih Thaharah ‫ؾ‬٣ ٔ ١ َّ ُ ‫ٗس أَّ جِ ع جُٖ ّ ى‬ َّ ٖٓ ٙٝ ٖ٣ َ َّ ُ ٍ ‫ ع‬٢َُ ِ ٖٓ َِّ ‫َّ ّ ج‬ ‫جء‬ ِ ُّ‫ء ّ ج‬ ْ َٚ‫ط‬٣ ٌ َّ ُ ًْ ٚ َّ ‫د‬ٛ ‫ُ ٕ ع‬ َّ ًْ ‫ٌؼ‬ َِّ ‫َح‬٠ ِ ِ‫ ذ‬ٝ ِ ً٣ ِ َ ُٕ‫ ج‬١ ٕ َ ِ‫ ع ذ‬٠َُ ‫خ‬ ٢ُِ ٌ ١ َّ َّ ُ ًْ ِ ِٞ‫َّ ُه‬ ْ َ‫جّ جأل‬ َ ‫ع‬٣ َّ ‫َّ ذص‬ ٚ ِ ِ ‫هى ذ‬ ُ َّ ٝ Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya. Apalagi polusi udara itu masih terbatas pada wilayah tertentu saja seperti perkotaan yang penuh dengan polusi udara. terlarut kembalilah semua kandungan polusi itu di angkasa. air hujan itu tetap suci dan mensucikan. Hanya saja udara kota yang tercemar dengan asap industri. Allah SWT telah berfirman : ْ ِ‫ئ‬ ‫ي‬ َّ ًْ َِّ ٍ ٝ 37 Ahmad Sarwat. Jadi air itu sudah menjadi suci kembali lewat proses itu.tercemar. Sebab polusi yang naik ke udara itu pada hakikatnya bukan termasuk barang yang najis. (QS. Ketika tetes air hujan itu turun. Al-Anfal : 11) ٝ ٞٛ ١ً ََّ ٍُ‫ ج‬١ ‫جـ‬ ِ ُ‫ٍ ِ أٌَ ج‬ ٌ ‫ ّ ـ‬ٚ َّ ِ ِ‫ ض‬ٝ َٕ‫ٖٓ ج ُْٖ َ أ‬ ِ ُّ‫ء ّ ج‬ َِّ ‫َّ ّ ج‬ ‫َ جء‬٠ َّ ٌٞٛ ‫ج‬ ٕ‫ خ ج ٌ ذ‬١ ٕ ١ ‫ و‬١ . Di banyak tempat di muka bumi ini. Sebab ketika disinari matahari. namun selama bukan termasuk najis sesuai kaidah syariah. masih banyak langit yang biru dan bersih sehingga air hujan yang turun di wilayah itu masih sehat. yang naik ke atas adalah uapnya yang merupakan proses pemisahan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lalu air itu turun kembali ke bumi sebagai tetes air yang sudah mengalami proses penyulingan alami. Tentang sucinya air hujan dan fungsinya untuk mensucikan. dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki. Lc 36 antara air dengan zat-zat lain yang mencemarinya.

Embun lebih merupakan tetes-tetes air yang akan terlihat banyak di hamparan dedaunan pada pagi hari. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat."Ya Allah. air dan embun". Seorang muslim bisa menggunakan salju yang turun dari langit atau salju yang sudah ada di tanah sebagai media untuk bersuci. Muslim 597. salju dan embun. (HR. mandi."Aku membaca. Embun Embun juga bagian dari air yang turun dari langit. Maka tetes embun itu bisa digunakan untuk mensucikan. (QS. meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras. Abu Daud 781 dan Nasai 60) c. sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkan dari kotoran. baik wudhu`.Dia lah yang meniupkan angin pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya . Salju Salju sebenarnya hampir sama dengan hujan. dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. baik untuk berwudhu. Hukumnya tentu saja sama dengan hukum air hujan. Hanya saja kondisi suhu udara yang membuatnya menjadi butir-butir salju yang intinya adalah air juga namun membeku dan jatuh sebagai salju. atau menghilangkan najis. Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Bukhari 744. Di dalam doa iftitah setiap shalat. salah satu versinya menyebutkan bahwa kita meminta kepada Allah SWT agar disucikan dari dosa dengan air. Ya Allah. mandi atau lainnya. Ya Allah. Al-Furqan : 48) b. sebab keduanya mengalami proses yang mirip kecuali pada bentuk akhirnya saja. Tentu saja harus diperhatikan suhunya agar tidak menjadi sumber penyakit. . yaitu sama-sama air yang turun dari langit. beliau menjawab. Ada hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kedudukan salju. َّ َُ‫ج‬ ْٛ ‫ خ‬١ ٕ َُ‫ْ ج‬ٛ َّ ْٛ ْ ‫ٖٓ ج‬ ٢ِِْ٘ ٓ ِ ‫ؿ‬ ِ َ ‫ش و جع خ ج‬ ‫ػى خ‬ ِ ‫ خ ج‬١ ٢ِٗ ٝ ٢‫ ل ٕ ذ‬١‫َح‬٠ ‫ًْ ج‬ ٕٔ َّ َّ ِ ٌ َ ُ‫م ج‬ َ ُ‫خ ج‬ ِ ٌ ِ ٝ ‫ٔؾ‬ ِ َ َ ‫ٖ ج‬٣ ٠‫ ه‬ٞ‫جُػ‬ ٕ ٢ِِّ٘‫ٖٓ ه‬ ‫ل‬ ١‫ح‬ ٠ ‫ج‬ ‫ًْ ج‬ ‫ٖٓ خ‬ ِ َُ‫ج‬ ِ ِ ‫َّ ٕ جُى‬ ِ َّ ‫ ل‬١َ‫ح‬٠ ‫ء ج‬ َِّ ‫ٔح‬ ‫ؽ‬ َِّ َ ُ‫ ذِح‬ٝ َّ ِ ِْ ‫ جُػ‬ٝ ‫و ٌ جُد‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannya antara takbir dan alfatihah. cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju. Lc 38 kesuciannya dan juga fungsinya sebagai media mensucian.

pastilah kami kehausan. An-Nasai 59. Rasulullah SAW menjawab. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu. Sebelumnya para shahabat Rasulullah SAW tidak mengetahui hukum air laut itu.`(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. Malik 1/22)4. bangkainya tetap suci. Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa air laut itu suci dan bahkan bangkainya pun suci juga. Hadits ini sekaligus juga menjelaskan bahwa hewan laut juga halal dimakan. Lc Fiqih Thaharah 39 radhiyallahuanhu d. Kalau kami gunakan untuk berwudhu. Sesampainya kembali ke daratan. namun hukumnya sama dengan air hujan. mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukum menggunakan air laut sebagai media untuk berwudhu`. Lc 40 ‫ جُهٔٓس‬. Ibnu Majah 386. air embun atau pun salju. dan kalau mati menjadi bangkai. Abu Daud 83. .Dalilnya sama dengan dalil di atas yaitu hadits tentang doa iftitah riwayat Abu Hurairah Ahmad Sarwat. Termasuk juga untuk mensucikan barang. (HR. sehingga ketika ada dari mereka yang berlayar di tengah laut dan bekal air yang mereka bawa hanya cukup untuk keperluan minum. kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. At-Tirmizi 79. badan dan pakaian yang terkena najis. Air Laut Air laut adalah air yang suci dan juga mensucikan. mereka berijtihad untuk berwudhu` menggunakan air laut. Bisa digunakan untuk mensucikan. Meski pun rasa air laut itu asin karena kandungan garamnya yang tinggi. mandi janabah ataupun untuk membersihkan diri dari buang kotoran (istinja‟). s‫ع‬ ٕ َّ َّ ٌ ٢ٞ ‫ٕ ع ّللا‬ َّ ٍٙ ََّ ‫ هَح‬: ِ ٍ ََّ َ‫ٌ أ‬ ‫َّ ؼ‬ ٌٍُ ِ ِ ٢ِ‫ٍ أَذ‬ٛ ١ ٌ َ‫ز‬ ْٞ ٍ ََّ ِ‫ّللا‬ َّ ََّ ‫ كَوَح‬: ١ ‫ٌ ج‬ ٍ ْٞ ٍ ََّ َّ ََّ ‫ ٌ ـ جُد خ‬ٝ ‫ّ ٗف‬ َِّ َّ ٍُ ِ‫ى ٌ ٕ ج ئِٕ ّللا‬ ّ ‫ ٗح ع‬٢َِِ‫ٍ جُو‬ ََّ ٖٓ ِ َِّ ‫ٔح‬ ‫ء‬ َّْ ِ ‫ ش كَا‬ٝ ٜ ْٕ‫ ج أ‬ٚ َّ َِّ َ ‫ٔح‬ َّ ََّ ‫كَوَح‬ ِ ِ‫ٕ ع ذ‬٠ ِ ٕ ‫ أَكَٖ ج‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫ء ُأ‬ ِ ‫ٌ ـ جُد ذ‬ َ ُ‫ٕ ج‬ ِ ‫ٍ؟‬ ٌ ْٞ ٍ ََّ َّ ‫ّللا‬ ١ُ‫ ج‬ٞٛ ٌ ّ ‫ ؤ ج‬ٙ َّ َ‫ك‬ ٙ ِ ٠ِٚ ‫ ّللا‬ٚ٤ِ‫ِْْ ػ‬ٝ : ٞٛ َّ ِ ُ‫ ّ ج‬١ ‫ش‬ ٙ‫ج‬ٌٝ Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`.`Ya Rasulullah.

disunnahkan buat kita untuk minum air zam-zam. (HR. Pendapat Kedua Mazhab Al-Malikiyah secara resmi tidak membedakan antara kebolehan air zamzam digunakan untuk mengangkat hadats atau untuk membersihkan najis. Namun para ulama sedikit berbeda pendapat tentang menggunakan air zamzam ini untuk membersihkan najis. Beliau meminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`. Dalam pandangan mereka. Namun kurang disukai (karahah) kalau digunakan untuk membersihkan najis. baik untuk wudhu. Ahmad). yaitu berwudhu atau mandi janabah. Hal itu mengingat kedudukan air zamzam yang sangat mulia. istinja‟ ataupun menghilangkan najis dan kotoran pada badan. pakaian dan benda-benda. Lc 42 Pendapat Ketiga . Bolehnya air zam-zam untuk digunakan bersuci atau berwudhu. mazhab Asy-Syafi'iyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa air zamzam boleh digunakan untuk mengangkat hadats.e. 4 At-Tirmiy mengatakan Ahmad Sarwat. Keduanya sah-sah saja tanpa ada karahah. ada sebuah hadits Rasulullah SAW dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu „anhu. ‫ٓؽ ج ع كَى‬ ٍ ٖٓ َِّ ‫ّ َ ّ َ ج‬ ِ ِ‫َّ ذ‬ ِ ّ ‫ء‬ ْٞ َّ ُ ٍ ِ‫ّللا‬ َّ ٝ ٞ‫ ض‬ٜ ‫أ‬ َٕ‫ٌخ ك‬ ِ ِ ٖٓ ٙ s ْ‫ُغ‬ ٜ‫أَكَح‬ ٌ Dari Ali bin Abi thalib ra bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air zam-zam. sehingga mereka cenderung kurang menyukai bisa kita membersihakn najis dengan air zamzam. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. sejak zaman Nabi Ismail alaihissalam dan ibunya pertama kali menjejakkan kaki di wilayah itu. air zamzam boleh digunakan untuk bersuci. Lc Fiqih Thaharah bahwa hadits ini hasan shahih 41 Selain boleh digunakan untuk bersuci. Mata air itu terletak beberapa meter di samping ka`bah sebagai semua sumber mata air pertama di kota Mekkah. mandi. lantaran air itu memiliki kemulian tersendiri di sisi Allah. Semua itu tidak mengurangi kehormatan air zam-zam. Air Zam-zam Air Zam-zam adalah air yang bersumber dari mata air yang tidak pernah kering. menjadi 3 pendapat : Pendapat Pertama Mazhab Al-Hanafiyah.

Al-Imam Asy-Syafi`i 35)5. apalagi untuk membersihkan najis. Kita bisa memanfaatkan air-air itu untuk wudhu. Ahmad3/31-87. wudhu` atau membersihkan najis termasuk beristinja‟ dengan air sungai. g. mata air dan dan air sungai adalah air yang suci dan mensucikan. mandi atau mensucikan diri. Abu Daud 66. Sebab air itu keluar dari tanah yang telah melakukan pensucian.`Ya Rasulullah. Namun seiring dengan terjadinya perusakan ْٞ َّ ُ . karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air. Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budho`ah?. Pendapat ini didukung dengan dalil atsar dari shahabat Nabi SAW yaitu Ibnu Abbas radhiyallahu anhu : َ‫ل‬ َّ ِٚ‫ق‬ َِّ ‫َّ ش ٓؾ‬ َْ َّ ُ ٍ ٢‫ك‬ َِّ ّٔ َِّ ‫ؾ‬ ِ ‫ٍ ج ُأ‬ ِ ١ ‫ِ ش ؽ‬ ِ ِ ٝ ٢ٛ َ ُ‫ى ج‬ ِ َّ َ ٝ‫ُْ أ‬ َِّ َٞ‫ ض‬ٜ ‫ء‬ٟ ‫َّ ـ‬ ٍ ٝ ‫َّ خ‬ ٍ Aku tidak menghalalkannya buat orang yang mandi (janabah) di masjid. Sejak dahulu umat Islam terbiasa mandi. ٌ ٝ ‫ ج‬ٙ : sٍ ََّ ‫ٌ كَوَح‬ ٍ َّ ِ‫ّللا‬ ‫ و ّ أَـ‬ٝ َ‫أ‬ َّ ٞ‫و ج و ذ‬ٝ ٝ ‫ ٌ جُص‬١ً ِٓ ِ Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya.`Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. Air Sungai Sedangkan air sungai itu pada dasarnya suci. Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air adalah hadits tentang sumur Budha`ah yang terletak di kota Madinah. Air Sumur atau Mata Air Air sumur. ُِٕ ‫خ‬ َّ ٌ‫ج‬ ِ ‫ ٕ ع‬٢ِ‫ى ِ أَذ‬٤ َّ ‫ػ‬ َّْ ‫ نى‬١ٌ ٍ ََّ ِ‫ ه‬: ١ ‫ٌ ج‬ ََّ ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ َ ‫ هَح‬: َ٤ ِ ٍ‫ج‬ ِ ‫ أَش‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫ُأ‬ ِ َّ ٖٓ ِ ْ ٚ٤ِ‫ ج ك‬٢‫ك‬ ْ ْ ْ ِ‫ ذ‬ٝ‫زَ جع ذ‬ َّ ٍ َّ ٝ ٢ٛ َّْ ِ‫ ٌ ذ‬٠َ‫ِو‬٣ ٜ ٝ ٍُ ٞ‫خ ّ ق‬ َّ ِ ‫ة‬ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ٌال‬ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ث‬ ٝ ُٖ‫ش ج‬ ٕ‫؟‬ Ahmad Sarwat. An-Nasai 325. (HR. namun air zamzam itu buat orang yang minum atau buat orang yang wudhu' f. At-Tirmizy 66. baik untuk mengangkat hadats (wudhu atau mandi janabah). Lc Fiqih Thaharah 43 ْ َّ َ ُْ‫ج‬ ‫ جء‬٠ َّ ٞٛ ٌ َ‫ل‬ َّ ٖ٣ ‫ؼ‬ ِ ٙ ٔ ١ َّ ‫ ء‬.Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa beliau berpendapat adalah termasuk karahah (kurang disukai) bila kita menggunakan air zamzam untuk bersuci. pakaian dan barang dari najis. dibuang ke dalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab. padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh.

warna dan aroma yang membuat najis itu terasa dominan sekali dalam air sungai. cuci muka.lingkungan yang tidak terbentung lagi. Namun umumnya hal itu tidak terjadi pada air laut. terutama di kota-kota besar. Air Musta’mal Jenis yang kedua dari pembagian air adalah air yang telah digunakan untuk bersuci. Maka sebaiknya kita tidak menggunakan air itu karena memberikan madharat yang lebih besar. Selain itu seringkali air itu sangat tercemar berat dengan limbah ternak. air sungai itu tercemar berat dengan limbah beracun yang meski secara hukum barangkali tidak mengandung najis. aroma dan warnanya berubah seperti bau najis. atau membasuh muka atau bekas digunakan untuk keperluan lain. mandi atau membersihkan najis.َٔ‫ٓطؼ‬٣ ) yang bermakna menggunakan atau memakai. Lc Fiqih Thaharah 45 tangan. selain untuk wudhu’ atau mandi janabah. Sebab meskipun jumlahnya banyak. 2. Lc hadits ini hasan 44 kelamaan air sungai berubah warna. Maka bisa jadi air itu menjadi najis meski jumlahnya banyak. .1. Air sisa bekas cuci tangan. bau dan rasanya. jelaslah air itu menjadi najis. Air bekas dipakai bersuci bisa saja kemudian masuk lagi ke dalam penampungan. Kata musta'mal berasal dari dasar ista'mala yasta'milu ( َٔ‫ جْطؼ‬. Air musta‟mal berbeda dengan air bekas mencuci Ahmad Sarwat. cuci kaki atau sisa mandi biasa yang bukan mandi janabah. namun air yang tercemar dengan logam berat itu sangat membahayakan kesehatan. Para ulama seringkali menyebut air jenis ini air musta'mal. Namun hal itu bila benar-benar terasa rasa. limbah WC atau bahkan orang-orang buang hajat di dalam sungai. tetapi seiring dengan proses pencemaran yang terus menerus sehingga merubah rasa. yaitu berwudhu atau mandi janabah. Baik air yang menetes dari sisa bekas wudhu’ di tubuh seseorang. sebab jumlah air laut jauh lebih banyak meskipun pencemaran air laut pun sudah lumayan parah dan terkadang menimbulkan bau busuk pada pantai-pantai yang jorok. Sehingga lama5 At-Tirmizy mengatakan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Maka air musta'mal maksudnya adalah air yang sudah digunakan untuk melakukan thaharah. atau sisa juga air bekas mandi janabah. Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu`.

kemudian dia mandi di dalam air itu”. Shahih Muslim .”Janganlah sekali-kali seorang kamu mandi di air yang diam dalam keadaan junub.7 Riwayat Muslim.ٝ ٢‫ذ‬ ِ َ‫ج و أل‬ 46 ْ‫ ُغ‬١ ‫ِ ش ؽ‬ َّ ٍُٚ َّ َِّ ِ ٤ِ‫ ك‬ٝ ٍ ِ َّ ١ ‫ِ ش ؽ‬ َّ ٍُٚ َّ ِ ٤ِ‫ٖٓ ك‬ ِ ِ َّ ‫ز ٗحخ جَ ُْؽ‬ َّ ِ . apakah air musta‟mal itu boleh digunakan lagi untuk berwudhu’ dan mandi janabah?.statusnya tetap air mutlak yang bersifat suci dan mensucikan. Hendaklah mereka masing-masing menciduk air. (HR. ٝ ُٖ‫ ِ ج‬٢ِ‫جت‬ Dari seseorang yang menjadi shahabat nabi SAW berkata. ‫ؼ ٌ أَل خ‬ Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda.283 6 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. (HR. Dan melarang laki-laki mandi janabah dengan air bekas mandi janabah perempuan. ّٓ ْ َّ ُِ: "ٖٓ ِ ‫و‬ٝ : ٝ َ‫ل‬ َّ ”Janganlah sekali-kali seorang kamu kencing di air yang diam tidak mengalir. Lalu bagaimana hukum menggunakan air musta'mal ini? Masih bolehkah sisa air yang sudah digunakan utuk berwudhu atau mandi janabah digunakan lagi untuk wudhu atau mandi janabah? Dalam hal ini memang para ulama berbeda pendapat. Muslim)6 ‫َّ و‬ ُ ًْ ٢ِ‫ء جَ ُْْ ك‬ َِّ ‫َّ جَُى ج‬ ْ ِ َُ‫ل ج‬ ِ ِ‫ جت‬١ً ٙ".”Janganlah mandi janabah di dalam air itu.8 Dalam riwayat Abu Daud. Muslim)9 ٕ‫َ ش ؽ ش أ‬ ََّ ْ ِ s‫ٕ ع‬ ْٞ َّ ُ ٍ ِ‫ّللا‬ َّ َ ُْْ َ‫ أَُز ٌ ج‬َٝ‫ٍ ذِل‬ َِّ ٍَُ‫ج‬ ٝ ٢ُْ ‫ٌكَح ش ؽ‬ ِ ِ ‫غ ؼ‬٤ٓ ََّ ٌ ‫ؼ‬ ‫ل‬ ٙ َ‫أ‬ َّ ٞ‫ج و ذ‬ ٌ َ‫قد ٘ ؾ‬ َّ ِ َُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ٍ٘ ََّ ‫هَح‬: ٕ ٙ ٟ ٌ َ‫ؾ‬ َّ ‫َّ ؼ‬ ُ ٍ َٝ‫ٍ ذِل‬ َِّ ُْْ َ‫ز ٌ ج‬ َّ ِ َ‫أ‬ ِ َٝ‫جٍَُ أ‬ ‫ج‬‫و‬ٝ . Air itu tidak disebut sebagai air musta‟mal. Abu Daud dan An-Nasa‟i)10 . Perbedaan pendapat itu dipicu dari perbedaan nash dari Rasulullah SAW yang kita terima dari Rasulullah SAW. Beberapa nash hadits itu antara lain : ‫ ل‬١ ‫َّ ش ؽ‬ ِ ُ ٍ ‫أَـ‬ ِ َّ ْٞ َّ ُ ٍ ِ‫ّللا‬ َّ َ ٢ِ‫ء جَ ُْْ ك‬ َِّ ‫ْ جَُى ج‬ َِّ ِ‫ جت‬ٝ ٞٛ ْ ُِ ‫ ذم‬١ٌ‫ج‬ ٝ َّ َ ِ :‫ل‬١ ١ ‫ ؼ‬١ٌ ِ .”Rasululllah SAW melarang seorang wanita mandi janabah dengan air bekar mandi janabah laki-laki.”Mandi dari air itu”. Lc ‫َّ و‬ ُ ًْ ٖ‫ؾ‬ َُٖٞ‫أَـ ذ‬ s ‫ٕ ع‬ ٢ِ‫أَذ‬ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ٜ ٍ ََّ ‫هَح‬: ٍ ََّ ‫ٌ هَح‬ ٙ ّٓ َّ ٍ ِ ّ. (HR. karena bukan digunakan untuk wudhu atau mandi janabah.

Artinya air itu suci tidak najis. Ulama Al-Malikiyah 14 . 182-186. Ulama Al-Hanafiyah 13 Menurut mazhab ini bahwa yang menjadi musta‟mal adalah air yang membasahi tubuh saja dan bukan air yang tersisa di dalam wadah. Bagi mereka. b. Sekarang mari coba kita dalami lebih jauh dan kita cermati perbedaan pandangan para fuqaha tentang pengertian air musta'mal. Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats (wudhu` untuk shalat 11 Shahih 12 Ibnu Muslim -323 Khuzaemah dan At-Tirmizy menshahihkan hadits ini 13 Lihat pada kitab Al-Badai` jilid 1 hal. atau bagaimana suatu air itu bisa sampai menjadi musta'mal : a. ‫ٍ كَوَحَُص‬ َ‫ل‬ ُْْ َ‫ء ج‬ ََّ ‫َّ ج‬ ‫ؽ‬٣ ٕ َِّ ‫خ‬ Riwayat Ashhabussunan: ”Bahwasanya salah satu isteri Nabi telah mandi dalam satu ember kemudian datang Nabi dan mandi dari padanya lalu berkata isterinya. 12 Namun kalau kita telliti lebih dalam.70 10 Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud (81) dan An-Nasa’i jilid 1 halaman 30 dari jalur Daud bin Abdullah Al-Adawi dari Hamid Al-Humairi. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. juga Fathul Qadir 58/1. air musta‟mal ini hukumnya suci tapi tidak bisa mensucikan. Muslim)11 ْ َّ ْ ِ‫ٍ ِ ج‬ ٢ِ‫كٖ ؼ ك‬ ‫ز‬. Maksudnya untuk wudhu` sunnah atau mandi sunnah. (HR.َ ١ ‫ِ ش ؽ‬ ٕ‫ح‬ َّ َّ ُ ٍ َٝ‫ٍ ذِل‬ َِّ s ‫ٕ جِخ ٕ ع‬ َِّ ‫جِ خ ع‬ َّ ٌ ٢ٞ َّ َ‫ ج‬ٙ َُ َ ً ِ ِ َّ ‫ٕ ع‬ ْٛ ‫َّ ج‬ َٕ‫ جَُٖ أ‬٢ِ‫ذ‬ ّ ١ ٕٞٓ َ‫ز‬ َّ ٌ ٢ٞ ََُ‫ ج‬ٙ ‫ ٕ ع‬ٙ ‫ؼ ٌ أَل ج‬ َّ ٙ ّٓ ٍ َِّ ّ ِ Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW pernah mandi dengan 7 Shahih 8 Shahih Bukhari .239 Muslim . 69 dan seterusnya. juga Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 hal. Lc Fiqih Thaharah 47 air bekas Maimunah ra. ‫ء كَؽ‬ ََّ ‫ ج‬s ٝ َ٘‫خ ـ أل‬ َّ َِّ "‫ؿص‬ ََّ ‫ع خ‬ ٜ ِ ‫ٕ ٕ جَُّ ج‬ ََ‫ أ‬ٝ ‫جؼ‬ َّ ِ َُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ٢ُِ ‫َ ش ؽ‬ ََّ ْ ََّ ٙ: ِٕ‫ ئ‬١ َّ ُ ًٖ ‫ٍ ج ؾ٘د ش‬ ََّ ‫كَوَح‬: َّ ِٕ‫ئ‬ ِ ٖٓ ِ ٙ ‫ج‬.282 9 Sunan Abu Daud . Air itu langsung memiliki hukum musta‟mal saat dia menetes dari tubuh sebagai sisa wudhu` atau mandi. Ahmad Sarwat. ternyata pengertian musta‟mal di antara fuqaha’ mazhab masih terdapat variasi perbedaan. tapi tidak bisa digunakan lagi untuk wudhu` atau mandi.: ”Sesungguhnya air tidak ikut berjanabat”. ”saya tadi mandi janabat. maka jawab Nabi SAW. Lc 48 atau mandi wajib) atau untuk qurbah. Sedangkan air yang di dalam wadah tidak menjadi musta‟mal.61.

bisa dan sah digunakan digunakan lagi untuk berwudhu` atau mandi sunnah selama ada air yang lainnya meski dengan karahah (kurang disukai). Dan untuk itu air tidak mengalami perubahan baik warna. Namun yang membedakan adalah bahwa air musta‟mal dalam pendapat mereka itu suci dan mensucikan. Dan air itu baru dikatakan musta‟mal kalau sudah lepas atau menetes dari tubuh. Ulama Al-Hanabilah Air musta‟mal dalam pengertian mereka adalah air yang telah digunakan untuk bersuci dari hadats kecil (wudhu`) atau hadats besar (mandi) atau untuk menghilangkan najis pada pencucian yang terakhir dari 7 kali pencucian. Dan sebagaimana Al-Hanafiyah. Artinya. Ulama Asy-Syafi`iyyah15 Air musta‟mal dalam pengertian mereka adalah air sedikit yang telah digunakan untuk mengangkat 14 Lihat As-Syahru As-Shaghir jilid 37 halaman 1-40. Termasuk dalam air musta‟mal adalah air mandi baik mandinya orang yang masuk Islam atau mandinya mayit atau mandinya orang yang sembuh dari gila. Selain itu air bekas memandikan jenazah pun termasuk air musta‟mal. Air itu menjadi musta‟mal apabila jumlahnya sedikit yang diciduk dengan niat untuk wudhu` atau mandi meski untuk untuk mencuci tangan yang merupakan bagian dari sunnah wudhu`. maka belum lagi dianggap musta’mal. mereka pun mengatakan ‘bahwa yang musta‟mal hanyalah air bekas wudhu atau mandi yang menetes dari tubuh seseorang. Namun bila niatnya hanya untuk menciduknya yang tidak berkaitan dengan wudhu`. Juga yang telah digunakan untuk menghilangkan khabats (barang najis). As-Syarhul Kabir ma`a Ad-Dasuqi jilid 41 halaman 1-43. Dan tidak dibedakan apakah wudhu` atau mandi itu wajib atau sunnah. Bidayatul Mujtahid jilid 1 halaman 26 dan sesudahnya 15 Lihat Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 20 dan Al-Muhazzab jilid 5 halaman 1 dan 8 Ahmad Sarwat. Karena statusnya suci tapi tidak mensucikan. rasa maupun aromanya. c. Air musta‟mal dalam mazhab ini hukumnya tidak bisa digunakan untuk berwudhu` atau untuk mandi atau untuk mencuci najis. Namun bila air itu digunakan untuk mencuci atau membasuh sesautu . Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 31. d. Lc Fiqih Thaharah 49 hadats dalam fardhu taharah dari hadats.Air musta‟mal dalam pengertian mereka adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats baik wudhu` atau mandi.

Ukuran volume air ini pasti asing buat telinga kita. Dan selama air itu sedang digunakan untuk berwudhu` atau mandi. meski telah digunakan untuk wudhu atau mandi janabah. Atau Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Ibnu Majah)16 Hadits inilah yang mendasari keberadaan volume air dua qullah. Hukum musta‟mal baru jatuh bila seseorang sudah selesai menggunakan air itu untuk wudhu` atau mandi.yang di luar kerangka ibadah. lalu melakukan pekerjaan lainnya dan datang lagi untuk wudhu` atau mandi lagi dengan air yang sama. tidak mengandung kotoran. Lc 50 mencuci tangan yang juga tidak ada kaitan dengan ritual ibadah wudhu`. Barulah saat itu dikatakan bahwa air itu musta‟mal. Dalam lafadz lain:”tidak najis”. Sebab ukuran ini tidak lazim digunakan di zaman sekarang ini. membuat batas dengan ukuran volume air. Lc Fiqih Thaharah ٕ َّ ِ ٕ َّ ِ َُْ ْ‫ٌ ػ‬ ٌ ٢ٞ ِ ََُ‫ ج‬ٙ ‫ٕ ع‬ َّ ْٛ ‫ٍ ج‬ ََّ ‫هَح‬: ٍ ََّ ‫هَح‬ ١ ٕ ْ َُ: َُْ ْٓ ١ ‫َّ ـ‬ َ ََّ . tidak terkena hukum sebagai air musta'mal. “Rasulullah SAW telah bersabda: “Jika air itu telah mencapai dua qullah. Mengatakan. Nasa‟i. Mazhab ini juga mengatakan bahwa bila ada sedikit tetesan air musta‟mal yang jatuh ke dalam air yang jumlahnya kurang dari 2 qullah. maka air itu terbebas dari kemungkinan musta'mal. Tirmidhi. maka belum dikatakan musta‟mal. air dalam jumlah tertentu. Seperti menuci muka yang bukan dalam rangkaian ibadah ritual wudhu`. Itu berarti. maka tidak dikatakan air musta‟mal. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW : ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ ِ َ ‫خ‬ ٌ ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ َ َ ِ‫حٕ ئ‬ َ ُْْ َ‫ء ج‬ ‫يج‬ ََّ ً ََّ ‫ ُهِص ج‬١ ّ‫ ؾ‬s Ahmad Sarwat. Jadi istilah qullah adalah ukuran volume air. Disebutkan di dalam hadits ini bahwa ukuran volume air yang membatasai kemusta'malan air adalah 2 qullah.ٝ ٢ِ‫َّ ك‬ ‫لع‬ ِ ‫ذع جَ ُْم‬ 51 ‫ؼ ٌ أَل‬ ٙ ٌَ‫ُز ع خ جَأل‬ Abdullah bin Umar ra. Batasan Volume 2 Qullah Para ulama ketika membedakan air musta'mal dan bukan (ghairu) musta'mal. yang menjadi batas volume air sedikit. Bila volume air itu telah melebihi volume minimal. maka tidak mengakibatkan air itu menjadi `tertular` kemusta‟malannya. (HR Abu Dawud. Kita menggunakan ukuran . Fungsinya sebagai batas minimal untuk bisa dikatakan suatu air menjadi musta'mal.

Mereka menggunakan ukuran rithl ( َ٠ٌ ) yang sering diterjemahkan dengan istilah kati. Walhasil. Tapi bila bukan digunakan untuk wudhu` seperti cuci tangan biasa.volume benda cair dengan liter. ukuran rithl ini pun tidak standar di beberapa negeri Islam. jumlahnya hanya 81 rithl. Wahbah Azu-Zuhayli. Air Tercampur Dengan Yang Suci Jenis air yang ketiga adalah air yang tercampur 17 Dr. tapi tidak bisa digunakan untuk bersuci (berwudhu` atau mandi). Lalu sebenarnya berapa ukuran volume 2 qullah dalam ukuran standar besaran international di masa sekarang ini? Para ulama kontemporer kemudian mencoba mengukurnya dengan besaran yang berlaku di zaman sekarang. ukuran ini agak menyulitkan juga sebenarnya. maka tidak dikategorikan air musta’mal. para ulama fiqih di Baghdad dan di Mesir pun sudah tidak lagi menggunakan skala ukuran qullah. Lucunya. 16 Hadits ini dishahihkan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Ahmad Sarwat. Dalam banyak kitab fiqih disebutkan bahwa ukuran volume 2 qullah itu adalah 500 rithl Baghdad. Sedangkan istilah qullah adalah ukuran yang digunakan di masa Rasulullah SAW masih hidup. jumlahnya tidak seperti itu. Namun demikian. Orang Mesir mengukur 2 qullah dengan ukuran rithl mereka dan ternyata jumlahnya hanya 446 3/7 rithl. Hukumnya tetap suci. yang menyebabkan berbeda karena volume 1 rithl Baghdad berbeda dengan volume 1 rithl Mesir dan volume 1 rithl Syam. mereka semua sepakat volume 2 qullah itu sama. Dan ternyata dalam ukuran masa kini kira-kira sejumlah 270 liter. lalu digunakan untuk berwudhu. Seperti air yang tercampur . 2. begitu orang-orang di Syam mengukurnya dengan menggunakan ukuran mereka yang namanya rithl juga. Lc oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban 52 Tapi kalau diukur oleh orang Mesir. maka air itu dianggap sudah musta’mal. kubik atau barrel. Lc Fiqih Thaharah Al-Fiqhul Islmai wa Adillahutuh.3. Jilid 1 halaman 122 53 dengan barang suci atau barang yang bukan najis. 1 rithl buat orang Baghdad ternyata berbeda dengan ukuran 1 rithl buat orang Mesir.17 Jadi bila air dalam suatu wadah jumlahnya kurang dari 270 liter. Bahkan 2 abad sesudahnya. Sayangnya. Air itu suci secara fisik. mandi janabah atau kemasukan air yang sudah digunakan untuk berwudhu`.

melainkan kita sebut 'kuah bakso'. santan kelapa. tetapi campuran antara air dan susu sudah menghilangkan sifat utama air murni menjadi larutan susu. Tentu saja kita tidak dibenarkan berwudhu dengan kuah bakso. Nasai 240. tempat yang merupakan sisa dari tepung. Bahkan kita sudah tidak lagi menyebutnya sebagai air. Tirmizy 990. Air yang seperti ini tidak lagi bisa dikatakan air mutlak. Muslim 939.dengan sabun. Abu Daud 3142. kapur barus. namun air itu mengalami perubahan karakter dan kehilangan kemutlakannya. Bukhari 1258. irisan daging dan bumbu-bumbu. wedhang ronde. tepung dan lainnya. Air Mutanajjis . Air itu kita anggap sudah keluar dari karakter kemutalakannya. Meski pun masih tetap suci. Dan mayat itu tidak dimandikan kecuali dengan menggunakan air yang suci dan mensucikan. Lc 54 menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk memandikan mayat dengan menggunakannya. kopi. sehingga secara hukum tidak sah kalau digunakan untuk berwudhu' atau mandi janabah. Dari Ummu Hani‟ bahwa Rasulullah SAW mandi bersama Maimunah ra dari satu wadah yang sama. seperti teh tubruk. Sedangkan tentang air yang tercampur dengan tepung. air itu hukumnya suci namun tidak mensucikan. kuah semur dan opor dan seterusnya. Ibnu Khuzaimah 240) 2. Misalnya air dicampur dengan susu. kuah gadogado. Selama nama air itu masih melekat padanya. An-Nasai 1880 dan Ibnu Majah 1458). Hal yang sama terjadi pada kasus air yang dicampur dengan benda lain. lima kali atau lebih banyak dari itu dengan air sidr (bidara) dan jadikanlah yang paling akhir air kapur barus (HR. Namun bila air telah keluar dari karakternya sebagai air mutlak atau murni. meski semua mengandung air dan tercampur dengan benda suci. meski air itu suci dan susu juga benda suci. ada hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Hani`. (HR. sehingga air kapus dan sidr itu hukumnya termasuk yang suci dan mensucikan. Tentang kapur barus.`Mandikanlah dia tiga kali.4. Dari Ummi Athiyyah radhiyallahu „anha bahwa Rasulullah SAW bersabda. Demikian juga dengan air yang dicampur dengan kaldu daging. Sehingga air itu meski masih suci tapi tidak sah untuk dijadikan media bersuci. ada hadits yang Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.

Berubah Rasa. setelah tercampur benda yang najis. maka hukum air itu iut menjadi najis juga. warna atau aromanya ketika sejumlah air terkena atau kemasukan barang najis. apalagi kalau airnya adalah air di lautan. maka para ulama membuat indikator. b. Warna atau Aroma Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. tetapi semua najis itu dibandingkan dengan jumlah volume air laut. kita akan mengatakan bahwa air itu menjadi mutanajjis atau ikut menjadi najis juga. Lc 56 Sebaliknya bila ketiga krieteria di atas tidak berubah. seperti air di dalam kolam kamar mandi.Air mutanajjis artinya adalah air yang tercampur dengan barang atau benda yang najis. warna atau aromanya. Baik air itu sedikit atau pun banyak. tentu tidak semua air di danau itu menjadi berubah najis. Lc Fiqih Thaharah 55 Pada air yang volumenya sedikit. maka hukumnya juga ikut najis. Hal ini disebutkan oleh Ibnul Munzir dan Ibnul Mulaqqin. Di laut sudah tidak terhitung jumlah najis. Keduanya tergantung dari apakah air itu mengalami perubahan atau tidak. Dan perubahan itu sangat erat kaitannya dengan perbandingan jumlah air dan besarnya noda najis. Tidak Berubah Rasa. Warna atau Aroma Bila berubah rasa. secara logika bila kemasukan ke dalamnya bangkai anjing. Tapi dalam kasus bangkai anjing itu dibuang ke dalam danau yang luas. Indikator Kenajisan Agar kita bisa menilai apakah air yang ke dalamnya kemasukan benda najis itu ikut berubah menjadi najis atau tidak. maka hukum air itu suci dan mensucikan. Karena air itu sudah tercemar dengan perbandingan benda najis yang besar dan jumlah volume air yang kecil. bisa ikut menjadi najis juga atau bisa juga sebaliknya yaitu ikut tidak menjadi najis. Kecuali air laut yang berada di dekatdekat sumber najis yang mengalami perubahan akibat tercemar najis. tentu bisa diabaikan. Air yang tercampur dengan benda najis itu bisa memiliki dua kemungkinan hukum. Dalilnya adalah hadits tentang a`rabi (arab kampung) yang kencing di dalam masjid : ‫َّ ٕ ع‬ ٢‫ذ‬ ِ َ‫أ‬ ُٖ‫ِ ج ج‬ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ٍ ََّ ‫ هَح‬: ّ‫هَح‬ ‫َّ ٌ أَع‬ ٢‫جذ‬ ٍ َِّ ّٔ َِّ ‫ؾ‬ َ ‫ ج‬٢‫ك‬ ِّ ‫َّ كَد‬ ِ ّ‫كَوَح‬ َ ُ‫ى ج‬ ٢َُِ‫َّ ئ‬ ٙ ِ . Ahmad Sarwat. a. yaitu rasa.

Sedangkan air yang dipanaskan dengan kompor atau dengan pemanas listrik. siramilah di atas tempat kencingnya itu seember air. Al-Imam Asy-Syafi`i 35) 18. 2. a.`Ya Rasulullah. 2. Tirmizy 147 An-Nasai 56 Ibnu Majah 529). Keadaan Air Lainnya Selain keadaan air yang telah disebutkan di atas. Sesungguhnya kalian dibangkitkan untuk memudahkan dan bukan untuk menyusahkan. Pendapat Yang Membolehkan Mutlak Pendapat ini mengatakan tidak ada bedanya antara air yang dipanaskan oleh matahari atau air putih biasa.`Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. An-Nasai 325. Jadi air musakhkhan musyammas artinya adalah air yang berubah suhunya menjadi panas akibat sinar matahari. Bahkan sebagian ulama di kalangan AsySyafi'iyah seperti Ar-Ruyani dan Al-Imam AnNawawi sekali pun juga berpendapat sama. Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budha`ah? Rasulullah SAW menjawab. Lc Fiqih Thaharah 57 ada juga beberapa keadaan lain dari air yang mengandung hukum. At-Tirmizy 66. Bukhari 220. Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya. tidak termasuk ke dalam pembahasan disini. Orang-orang berdiri untuk menindaknya namun Rasulullah SAW bersbda. Air Musakhkhan Musyammasy ّ ٓٓ ) artinya adalah air yang Air musakhkhan ( ٖ‫ه‬ dipanaskan. 18 Sumur Budha`ah adalah nama sebuah sumur di kota Madinah yang airnya digunakan orang untuk mandi yaitu wanita yang haidh dan nifas serta istinja’ Ahmad Sarwat. (HR. Ahmad 3/31-87. ِٕ‫ع ج ّ كَا‬ َّْ ‫ؼ‬ ٢ٓ ِ ٖ٣ٌ َّْ ْ ِ ّ َّ ِ ‫ضْ ذ‬ َُ ِ ٝ ُ ‫ج ع ضد‬ٞ‫ٖ ِ ٓغ ُغ‬٣ٌ ِ ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ِٓٓٔح ئل جُؿٔحػس‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa seorang a`rabi telah masuk masjid dan kencing di dalamnya. (HR. Abu Daud 380. Di antaranya adalah air musakhkhan (panas) baik karena dipanaskan oleh matahari (musyammasy) atau pun yang tidak. Keduanya sama-sama suci dan mensucikan dan boleh digunakan tanpa ada kemakruhan.‫و‬ ٞ‫ػ‬ ٙ ٝ ١ٌ َّ ‫ٖٓ ل‬ ‫ جء‬s ٢ُِ ‫م‬ ََّ ‫ج‬ٞ‫ػ‬ ِ ُِ ‫ْؽ‬ ِ َّ ِ ّ َّ ِ َ‫ج أ‬ٞ‫ ع ُه‬٠ُ ‫ خ‬ٝ ٚ َّ ٚ ََّ ‫ جُٖ كَوَح‬٢ِ‫ذ‬ ِ ِ‫ٍ ذ‬ َٝ‫ي أ‬ ََّ ‫خ‬ٞٗ ‫ٖٓ ج‬ ‫ جء‬.19 . Yang berpendapat seperti ini adalah umumnya jumhur mazhab Al-Hanafiyah dan AlHanabilah. 1. Abu Daud 66. Sedangkan musyammas ( ّٔ ّ ٗٓ ) diambil dari kata syams yang artinya matahari. Hukum air ini untuk digunakan berthaharah menjadi khilaf di kalangan ulama.`biarkan saja dulu.

hukum makruhnya tidak berlaku. yang memakruhkan mandi dengan air yang dipanaskan oleh sinar matahari. Di antara mereka yang memakruhkannya adalah mazhab AlMalikiyah dalam pendapat yang muktamad. 21 Hadits ini pun disinyalir oleh sebagian muhaqqiq sebagai hadits yang lemah sekali dari segi periwayatannya. sebagian ulama di kalangan mazhab dan sebagian Al-Hanafiyah. Umar bin AlKhattab radhiyallahu anhu. Namun mereka yang mendukung pendapat ini. Lc Fiqih Thaharah 59 sesungguhnya hanya berada pada wilayah kesehatan. Namun AlHafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhish jilid 1 halaman 22 menyebutkan bahwa sanad periwayatan atsar ini sangat lemah. Larangan ini disinyalir berdasarkan kenyataan bahwa air yang dipanaskan lewat sinar matahari langsung akan berdampak negatif kepada kesehatan.b. (HR.2. ْ ‫إل‬ ٙ ِّ‫ؿط‬ ٍ َِّ ‫ٔح‬ َ ‫ءج‬ َ ُِ‫ِ ّ جُٕٔ ذح‬ ِ ‫َّ ج‬ ٍ٘‫) جُر‬. Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa air yang ini tidak makruh untuk digunakan . yakni mengakibatkan penyakit ْ‫ ق‬١ ٌ ‫ كَإِ جء‬ٙ ‫ج‬ ٞ٣ َّ ٌ ُ ‫٘ ٌ جُد ظ‬ ِ َّ ْ َّ َ‫كغ ش ل‬ َّ ٢ُ ِ ١ ‫ج‬ 20 Dalil Jangan lakukan itu wahai Humaira' karena dia akan membawa penyakit belang. Pendapat yang kedua ini umumnya mengacu kepada atsar dari shahabat Nabi SAW. َٕ‫أ‬ ْ َ ١ ًٍ ٙ ٕ‫ح‬ ََّ ً Bahwa beliau memakruhkan mandi dengan menggunakan air musyammas (HR. Ad-Daruquthuny)21 Kemakruhan yang mereka kemukakan ini bukan hadits Nabi SAW melainkan atsar dari Umar bin Al-Khattab. seperti Ad-Dardir menyatakan air musyammas musakhkhan ini menjadi makruh digunakan untuk berthaharah. Asy-Syafi'i)20. Ahmad Sarwat. manakala dilakukan di negeri yang panasnya sangat menyengat seperti di Hijaz (Saudi Arabia). Air Musakhkhan Ghairu Musyammasy Musakhkhan ghairu musyammasy artinya adalah air yang menjadi panas tapi tidak karena terkena sinar matahari langsung. Sedangkan negeri yang tidak mengalami panas yang ekstrim seperti di Mesir atau Rum. Pendapat Yang Memakruhkan Pendapat ini cenderung memakruhkan air yang 19 Al-Majmu' 1 187 dan Al-Mughni 1 18-20 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lc 58 dipanaskan oleh sinar matahari. sebagaimana dikatakan oleh para pendukungnya sebagai ( ‫ٌظ‬ٞ٣ belang. Al-Imam Asy-Syafi'i menyebutkan hadits ini dalam kitab Al-Umm jilid 1 halaman 3.22 2. bukan pada wilayah syariah.

Karena pada hakikatnya hasil akhir dari pemurnian air menunjukkan tidak adanya salah satu dari 3 indikator najis. maka hukumnya kembali lagi menjadi suci ketika bekasbekas atau tanda-tanda najis itu sudah hilang. umumnya diproduksi dari air yang mengalami 23 Asy-Syarhul 24 Al-Mausuah Kabir 1 45 Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah jilid 39 halaman 374 Ahmad Sarwat. Namun bila air itu bersuhu sangat tinggi sehingga sulit untuk menyempurnakan wudhu dengan betulbetul meratakan anggota wudhu dan air secara benar-benar (isbagh). sudah ditemukan teknologi untuk membersihkan air.wudhu atau mandi janabah.23 3. asalkan memenuhi ketentuan atau kriteria yang telah ditetapkan. hukumnya menjadi makruh. Yang kita jadikan ukuran bukan riwayat air itu. baik lewat penyulingan atau pun lewat perembesan (osmosis). dimana air yang sebelumnya juga mengalir keluar kira-kira sebanyak tiga kali volume air yang ada sebelumnya. Pensucian Air Air yang sudah terkena pencemaran najis masih bisa disucikan kembali. bukan karena panasnya tetapi karena tidak bisa 22 Asy-Syarhush-shaghir 1 16 dan Hasyiyatu Ad-Dasuqi 1 44 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. sehingga tandatanda kenajisannya menjadi hilang. Abu Ja'far Al-Hindawani dan Abu Al-Laits mengatakan bila air yang mengandung najis itu mendapat suplai air suci dari luar sedangkan air yang mengandung najis tadi sebagiannya juga keluar. Bahkan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah mengatakan meski air itu menjadi panas lantaran panasnya benda najis.24 Di masa sekarang ini. Lc Fiqih Thaharah 61 proses sterilisasi. hukumnya kembali kepada hukum asal air. Air yang kita minum sehari-hari dari produksi perusahaan air minum. Lc 60 isbagh. Pada saat itu air itu sudah dianggap air yang mengalir seperti sungai dan sejenisnya. yaitu suci dan mensucikan. sehingga terjadi aliran atau siklus. tetap saja air itu boleh digunakan untuk berthaharah. Abu Bakar Al-A'masy mengatakan bahwa air yang terkena najis dalam suatu wadah harus mendapatkan suplai air suci baru. Dalam hal ini dianggap air itu sudah dicuci 3 kali. Al-Malikiyah mengatakan bahwa air yang najis itu akan kembali menjadi suci manakala dituangkan lagi ke dalamnya air yang baru. lantaran tidak ada dalil yang memakruhkan. .

Pembagian Najasah Jenis-jenis najis oleh mazhab Asy-Syafi'i dibedakan berdasarkan tingkat kesulitan dalam mensucikan atau menghilangkannya. ) maknanya adalah benda Kedua : Najis ( ّ‫ؿ‬ ِ َٗ ) maknanya adalah sifat najisnya. ada yang sangat berat. Dan sebaliknya. 26 An-Najasah dalam bahasa Indonesia sering dimaknai dengan najis. Disebut ( ّ ََّ ‫ء ضََ٘ؿ‬٢ ْ ُٗ‫ ) ج‬maknanya sesuatu menjadi kotor. 2. 2. an-najasah bermakna kotoran ‫) )جُوًجٌز‬. najis yang berada di tengah-tengah. bahkan meski secara fisik sebenarnya belum hilang tapi secara hukum sudah dianggap suci. Dan yang ketiga. bahkan meski secara fisik sebenarnya najis itu sudah hilang. Meski pun secara bahasa Arab tidak identik maknanya. An-Najasah (najis) itu lawan dari thaharah yang maknanya kesucian. yaitu suci dan tidak najis. Lc 64 dengan sifat itu penghalangan atas shalat dengan sifat itu atau di dalam sifat itu. maka air itu ikut hukum dasarnya. Pertama : Najas ( ّ‫ؿ‬ َ َٗ yang hukumnya najis. tetapi masih tetap dianggap najis bila belum dilakukan ritual tertentu. kotoran yang menghalangi shalat. Lc Fiqih Thaharah . Selama tidak ada najisnya.25 Sedangkan Al-Malikiyah mendefinisikan annajasah sebagai : ( ‫لس‬ٚ 25 Al-Qalyubi ‫س‬٤ٌٔ‫ؾد ق‬ٞ‫ح ض‬ٜ‫ل‬ُٚٞٔ ‫الز جْطرحقس ٓ٘غ‬ُٛ‫ ج‬ٜ‫ ذ‬ٝ‫أ‬ ٜ٤‫) ك‬. Najis sendiri dalam bahasa Arab ada dua penyebutannya. Asy-Syafi'iyah mendefinisikan najasah dengan makna : ( ‫ٔ٘غ ٓٓطوًٌز‬٣ ‫الز‬ُٛ‫ع ج‬٤‫ ل ق‬ٙ‫) ٍٓن‬. Ada yang sangat mudah untuk menghilangkan. Najis Ringan Najis ringan sering juga diistilahkan dengan 26 Asy-Syarhul Kabir jilid 1 halaman 32 Ahmad Sarwat.1. cukup dengan melakukan ritual tertentu. sesuatu yang bersifat hukum yang mewajibkan alal minhaj jilid 1 halaman 68 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Pengertian Secara bahasa.tetapi keadaan fisiknya. Bab 3 Najis 1.

karena semata-mata ketentuan ritual dari Allah SWT. Tetapi semata-mata hanya ritual dimana Allah SWT ingin disembah dengan cara itu. tetapi tetap dianggap najis seperti umumnya. Pencucian 7 kali ini semata-mata hanya upacara ritual. Najis Berat Najis berat sering diistilahkan sebagai najis َ ٓ ). Demikian juga bila bayi laki-laki itu sudah pernah mengkonsumsi makanan yang selain susu ibu. Ritualnya adalah mencuci dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. yaitu tidak perlu najis itu sampai hilang. pewangi atau bubuk-bubuk kimawi lainnya yang didesain mengandung zat ini dan itu. tetapi harus dilakukan praktek ritual tertentu. An-Nasai dan Al-Hakim) 2.65 mukhaffafah ( ‫) ٓهلّلس‬. dan tiba-tiba benda najis itu berubah menjadi suci. Abu Daud. seperti susu kaleng buatan pabrik. maka air kencingnya tidak termasuk ke dalam najis ringan. Disebut ringan. maka air kencingnya sudah tidak lagi bisa dikatakan najis ringan. Allah SWT sebagai Tuhan. Bila bayi itu perempuan. pemutih. (HR. Dasar dari semua ini adalah hadits Rasulullah . yaitu dengan memercikkannya dengan air. Dasarnya adalah hadits berikut ini : ‫ؾ‬٣ ِ َُّ‫ّ ج‬ ٝ ٍ٣ َّ ٍ ٖٓ ُ ٍ َّ ِ ‫ خ‬ٝ َّ ِ ِ ‫ جَ ُْؽ‬١ٌ‫ج‬ ِ ‫ز‬ َّ ‫ـ‬ ِ ْ َ‫ؿالّ ج‬ ٔ ٖٓ َِّ َّ ٍ َِّ ِ ‫ خ‬ٝ ٍ ٍ َّ ََّ ‫ جَُٖ هَح‬٢ِ‫ذ‬ َ ‫هَح‬: ٍ ‫ٕ ع‬ ٢ِ‫أَذ‬ Dari As-Sam'i radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi SAW bersabda.2. Penggunaan tanah itu tidak diniatkan misalnya untuk membunuh bakteri. Disebut najis yang berat karena mughalladzhah ( ‫ـِظَس‬ Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Satu-satunya najis ini adalah air kencing bayi lakilaki yang belum makan apa pun kecuali air susu ibu. maunya disembah dengan cara itu. Lc 66 tidak bisa suci begitu saja dengan mencuci dan menghilangkannya secara fisik. Demikian juga penggunaan tanah. karena cara mensucikannya sangat ringan."Air kencing bayi perempuan harus dicuci sedangkan air kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan air saja. Semua ini tidak ada alasan ilmiyahnya. virus atau racun tertentu yang terkandung pada najis itu. deterjen. Cukup dilakukan ritual sederhana sekali. Maka penggunaan tanah tidak bisa diganti dengan sabun. sama sekali tidak dikaitkan dengan manfaatnya.

Kenajisan Tubuh Manusia Tubuh manusia pada dasarnya adalah benda yang suci. karena mereka tidak . berarti secara otomatis termasuk ke dalam najis pertengahan ini. 2. At-Taubah : 28) Secara hukum thaharah.SAW : َ ٠ َّ ٞٛ ٌ ِٕ‫َّ ئ‬ ‫ء‬ َِّ َّ ُ ًْ ٍ َّ ََّ ‫ٌ هَح‬ َ ‫هَح‬: ٍ ِ ‫و أَـ ج‬ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ْ َ‫ أ‬١ ‫َ ؽ‬ َ ُْ َ‫َّ خ ج‬ َ َُ ٚ َّْ ِ‫ ئ‬ٝ ‫ؾ‬ ‫ي‬ َّ َّ َّْ ٌ ٕ ََّ ْ ِ ٤ِ‫َ ك‬ ِ ِٙ ‫ع خ‬ ‫خ ٌ ذِحُص‬ َّ ِ ‫ج‬َ ‫ؼ ٌ أل‬ ٙ ّٓ ٍ َِّ ّ ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ َ ّ ٌ َّ ‫ل جش‬ٝ‫ُأ‬ ‫ٕ ع‬ ٖٛ ٢ِ‫أَذ‬ sucinya wadah air kalian yang diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali. hingga 3 indikatornya sudah tidak ada lagi. Untuk mensucikan najis ini cukup dihilangkan secara fisik 'ain najisnya. rasa ( ْ‫ؼ‬٠ ) dan aroma ( . salah satunya dengan air. Muslim) Dalam mazhab Asy-Syafi'i. yaitu anjing dan babi. Najis Pertengahan Najis yang pertengahan sering disebut dengan Ahmad Sarwat. melainkan secara hukmi. najis berat hanya dua saja. Lc ٕ ‫ؼ‬ ِ 68 Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (QS.(‫ف‬٣ٌ Semua najis yang tidak termasuk ke dalam najis yang berat atau ringan. Al-Isra' : 70) Bahkan termasuk tubuh orang kafir sekalipun. Lc Fiqih Thaharah 67 mutawassithah ( ‫ْطس‬ٞ‫) ٓط‬. (QS. Ketiga indikator itu adalah : warna ( ُٕٞ ). (HR. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Disebut pertengahan lantaran posisinya yang ditengah-tengah antara najis ringan dan najis berat. ِٕ‫ جُٕٔ ج ّ ئ‬٢ً ٌِ ِ ٕ Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. sebagaimana firman Allah SWT : ْ ٌ َ ّ ٕ ‫ خ ج‬٢ِٗ ‫ ّ آو‬ٝ ‫ْ ج ُْٖ ّ ـ‬ٛ ٢ِ‫جُد ك‬ ٝ ‫ًٍ َُوَى‬ ْ ‫ٌ ـ‬ ْ ‫ْ ج‬ٛ ّ ٕ ٝ ‫جُد‬ َّ ِ ٝ ٌ َ ٖ‫ه‬ ْ َُ ‫َّ ش ج‬ ْ َ ّ ّ ٕ ‫وٖ ل‬ ٢‫ش خ جُط‬ َّ ٍ٤ِ‫ًػ‬ ‫ال‬٤ٟ ِ ‫ ج‬ٝ َٝ‫ْ ج ُْٖ ك‬ٛ ‫ ع‬٠َُ َّ ِ ‫ك‬ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.3. karena ayat yang menyatakan bahwa orang kafir (musyrik) itu najis sesungguhnya tidak terkait dengan najis secara hakiki atau 'ain. 3. orang kafir tidak suci dari hadats kecil dan besar. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

tentu saja hukumnya muslim.(QS. telah menyalahi dua hal sekaligus : Pertama. dianggap belum muslim. menganggap orang kafir itu najis Ini kesalahan mereka yang kedua.berwudhu atau mandi janabah. Padahal Nabi SAW menerima utusan dari Tsagif yang notabene kafir justru di dalam masjid. karena bukan berbentuk darah yang mengalir.27 Dasar bahwa tubuh orang kafir itu tidak merupakan najis adalah ketika Nabi SAW menerima utusan dari Tsaqif yang nota bene adalah orang kafir. apa yang dilakukan oleh sebagian aliran sesat di Indonesia yang menganggap saudara-saudara muslim sebagai orang kafir. ْ ١ ‫ََّ ش‬ ‫ ع ّ ٌ ـ ج‬٢َُ ُ َّ ‫جُْ ّ ى‬ ‫ ز‬ٝ ‫ ّ جُى‬ٝ ‫ّ َُف‬ َّ ٍ٣ َٛ ٌ َّ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ َّ ِ ِ َ ِ ٝ ّ ‫َّ ج‬ ِ ‫ّللا‬ َ ٌ ٌ ٢‫ق‬ َ‫َّ ع ل‬ َ ٌ ‫َّ خ‬ َِّ ٜ‫َّ ج‬ ٕ ُ ٍ٠ ٢‫ؿ‬ ‫ جؽ‬ٝ َّ ‫َّ جو‬ ِٕ‫َّ كَا‬ ‫ ّللا‬ٞ‫ؽُك‬ ِ ّ . Maka hati. Sebagaimana firman Allah SWT : ِٕ‫ّ ئ‬ ْ ٖ‫ه‬ ِ ُ‫ج‬ َّ ٚ ِ ِ‫كَْ ذ‬ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai. di dalam masjid. daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. jantung dan limpa tidak termasuk najis. Dalam pandangan aliran sesat umumnya. Lc Fiqih Thaharah 69 Adapun syahadat hanya dibutuhkan ketika orang yang kafir mau masuk Islam. yaitu darah yang mengalir keluar dalam jumlah yang besar dari dalam tubuh. karena pada dasarnya setiap orang dilahirkan dalam keadaam muslim. Darah Darah manusia itu najis hukumnya. Kedua. tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas. mengkafirkan sesama muslim. Sementara orang yang lahir dari ayah dan ibu yang muslim. darah. Tentu saja pandangan ini keliru. Abu Daud) Dengan pandangan para fuqaha ini.1. An-Nahl : 115). semua orang yang tidak bersyahahadat ulang di depan imam mereka. ْ َّ ٝ ‫كى‬ ‫ق‬٤ِ‫ غَو‬٢‫ك‬ َِّ َٕ‫ٍ َ أ‬ ََّ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ّٔ ‫ى‬ ِ‫ؾ‬ ِ . 27 Al-Iqna' li asy-syarbini al-khatib jilid 1 halaman 30 Ahmad Sarwat. maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 3. lalu tumbuh besar dan dewasa sebagai muslim. Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud najis adalah aqidahnya. dan akan tetap menjadi muslim tanpa harus bersyahadat lagi.ٙ‫ج‬ٌٝ ٞ‫و أذ‬ٝ‫وج‬ َ ُ‫َّ ج‬ ‫ٕ ع‬ ْ ْ‫ػػ‬ ٕ‫ج‬ َّ ٕ َِّ َ‫ج٘ جُغ أ‬ َّ َ ‫َّ جخ‬ ِ ٢‫ذ‬ ِ Dari Utsman bin Abil Ash bahwa Rasulullah SAW menerima utusan dari Tsaqif di dalam masjid (HR.

Sedangkan bila tidak seperti itu hukumnya tetap tidak najis. tidak najis. (HR. sesungguhnya pakaian itu dicuci oleh sebab salah satu dari 5 hal : kotoran. Kotoran dan Kencing 28 Al-Muhadzdzab jilid 1 halaman 53-54.Sedangkan hewan air atau hewan yang hidup di laut. muntah. Muntah Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanbilah mengatakan bahwa ketiga benda ini adalah benda-benda yang najis. 31 3. darah dan mani. Sedangkan darah yang mengalir dari tubuh Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Dalilnya adalah hadits berikut ini ْ ُ ‫ ُأّ ٕ ع‬٢َ‫َّ ه‬ ِ َٕ‫ أ‬ٙ ‫َّ ذِحخ ش أَش ج‬ ٕ َُٚ ‫ ٘ ج‬٢‫ؿ‬ ٌ َُْ ١ ‫أ‬ َّ َّ ًَ َِّ ِ َّ ‫ جّ جُطغ‬٠َُِ‫ٌ ئ‬ َِّ ٍْٞ ‫ٍ كَد‬ ََّ ‫ ع ج‬٠ُ َٞ‫ غ‬ٚ َّ ‫ كَٖ جء‬ٜ ‫ـ‬ ٙ ‫ ع‬٢َُ ٙ َّ ِ‫ذ‬ ِ ٝ َُْ ِ ‫َّ ذِْ ج ع كَى‬ ١ ‫َ ؽ‬ َّْ ْ ِ ٙ . Dasarnya karena muntah adalah makanan yang telah berubah di dalam perut menjadi sesuatu yang kotor dan rusak. Al-Mughni jilid 1 halaman 175-176 29 Sunan Ad-Daruquthny jilid 2 halaman 18 : Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Tsabit bin Hammad dan dia adalah perawi yang sangat lemah. Ad-Daruquthny)29 Al-Hanafiyah mengatakan bahwa muntah itu najis manakala memenuhi mulut dalam jumlah yang besar. yang keluar darah dari tubuhnya secara banyak. Hal itu disebabkan karena ikan itu hukumnya tidak najis meski sudah mati.3. Lc 70 muslim yang mati syahid tidak termasuk najis. Maraqi Al-Falah halaman 16-18 31 Hasyiyatu Ad-Dasuqi jilid 1 halaman 151.2. 3. air kencing. Dan juga air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun kecuali susu ibunya. Ini adalah pendapat yang dipilih dari Abu Yusuf. Jawahirul Iklil jilid 1 halaman 191 Ahmad Sarwat. Minhajut-thalibin jilid 1 halaman 70.30 Al-Malikiyah mengatakan bahwa muntah itu najis bila telah berubah dari makanan menjadi sesuatu yang lain. Lc Fiqih Thaharah 71 Kotoran manusia dan air kencing adalah benda yang najis menurut jumhur ulama.s ‫ّللا‬ ٙ‫ج‬ٌٝ ‫جُؿٔحػس‬ Dari Ummi Qais ra bahwa dia datang kepada Rasulullah SAW . 30 Fathul Qadir jilid 1 halaman 141. 28 Selain itu juga didukung oleh dalil yang lemah seperti hadits berikut ini : ١ ‫ّ عج‬ ْ ٝ ٝ ‫جُد‬ ٝ ‫َّ جُى‬ ّ ِ ٝ ‫ج ّ ئِٕ ٌ ج‬ ْ ‫ء‬ َِّ ٝ ٠َ‫جُو‬ ٍ َِّ ْ ٠ِٗ ُْ‫ج‬ ‫ؾ‬٣ ِ َّ ُ ٍ ٞ‫جُػ‬ ْ َّ ‫ٖٓ خ‬ ِ ٖٓ ١ ِ ‫َّ ّ ل‬ ِ ‫جُؾ‬ ِ ِ‫جت‬ Wahai Ammar.

Nanah Nanah adalah najis dan bila seseorang terkena nanah. Lc Fiqih Thaharah 73 3. Wadi adalah cairan yang kental berwarna putih yang keluar akibat efek dari air kencing. Ibnu Sya'ban. Dalam pandangan jumhur ulama selain Al-Hanafiyah bahwa jenazah muslim atau kafir hukumnya suci.`Kencing bayi laki-laki itu cukup dengan memercikkanya saja. tapi bila sudah makan makanan. keluar dari kemaluan laki-laki biasa. Sedangkan dalam pandangan Al-Hanafiyah. Mazi dan Wadi Mazi adalah cairan bening yang keluar akibat percumbuan atau hayalan. Bukhari 223 dan Muslim 287) ٍ َّ ُ ٍ ٍ‫َّ ج‬ ّ َِّ ٢‫ذ‬ َِّ َ‫َّ أ‬ ‫َحُِد‬٠ َّ َٕ‫ٌ أ‬ ََّ ٍْٞ َّ َ ‫ هَح‬: ‫ خ‬ٝ َّ ِ‫ّللا‬ ِ َ‫ ؿال‬s ‫ ع ٕ ع‬٢ُِ ‫ٕ خ‬ ٍُ‫غ ج‬٤ َّ ٖ٣ ٜ ‫ ـ‬ٝ ٞ‫ُ ذ‬ َّ ٍ ١ٌ‫ح‬ َّ ٍٍُ ََّ ‫ ز جو هَص هَح‬: َ ُ‫ز ج‬ ِ ِ ‫ؾ‬٣ ِ َّ ِ ‫ؿ‬ ِ ٞ َ ّ َُْ‫ج‬ ٝ ٙ ‫يج‬ ْ َ ِ ‫َّ كَا‬ ْ‫ؼ‬ ‫يج ج‬ ُ ْ‫ؼ‬ ُ َ‫ال‬ َّ ٓ ِ ‫ط‬٣ ِ ٠ ‫َّ ج‬ ِ ‫ ؼ ؿ‬٢ٓ ِ ‫ ج ع‬.7.ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ أقٔى‬١ًٍٓ‫جُط‬ٝ ٍ‫هح‬ٝ : ‫ع‬٣‫قٖٓ قى‬ Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.5."Dan ini bila belum makan apa-apa. 3. Bayi itu lalu kencing lalu Rasulullah SAW meminta diambilkan air dan beliau memercikkannya tanpa mencucinya`. (HR. Mazi berbeda dengan mani. maka harus dicuci". Qatadah berkata. sedangkan mazi tidak. Lc hadits ini hasan 72 3.33 33 Hasyiyah Ibnu Abidin jilid 1 halaman 141 Ahmad Sarwat. Ibnu Abil Hakam dan Iyadh. Sedangkan kencing bayi wanita harus dicuci". (HR. Potongan Anggota Tubuh Manusia Jumhur ulama umumnya mengatakan bahwa . Sedangkan jenazah orang kafir tetap najis dan tidak bisa disucikan dengan memandikannya. Mazi itu bening dan biasa keluar sesaat sebelum mani keluar. karena itu disyariatkan pemandian jenazah untuk mensucikannya. Jenazah Manusia Jenazah adalah tubuh manusia muslim atau kafir yang telah kehilangan nyawa. harus dicuci bekas nanahnya sebelum boleh untuk melakukan ibadah yang mensyaratkan kesucian (wudhu` atau mandi). Tirmizi)32 32 At-Tirmizy mengatakan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. yaitu bahwa keluarnya mani diiringi dengan lazzah atau kenikmatan (ejakulasi).dengan membawa anak laki-lakinya yang belum bisa makan. jenazah manusia muslim itu najis.6. 3.4. Dan keluarnya tidak deras atau tidak memancar.

Karena potongan tubuh itu dianggap najis dalam pandangannya. Termasuk juga bagian yang terlepas darinya seperti bulu. sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. namun kenajisannya bukan terbatas pada dagingnya saja. kotoran dan semua bagian dari tubuhnya. karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.1. Babi (Khinzir) Al-Hanafiyah. Baik potongan tubuh itu terpisah pada saat masih hidup atau pun pada saat sudah meninggal dunia. namun dagingnya tetap haram dimakan karena daging itu najis hukumnya. Namun pendapat yang berbeda kita temukan dalam pandangan Al-Qadhi dari Al-Hanabilah yang mengatakan bahwa potongan tubuh manusia itu tidak perlu dishalatkan. Hewan Yang Masih Hidup Dalam bagian ini kita akan membahas terlebih dahulu tentang kenajisan hewan yang masih hidup. Hal itu lantaran dalam pandangan jumhur ulama bahwa potongan tubuh itu tetap dishalatkan. Meskipun nash dalam Al-Quran Al-Kariem selalu menyebut keharaman daging babi.bagian tubuh manusia yang terlepas dari tubuhnya. (QS. 4. 34 4. Seperti orang yang mengalami amputasi. Al-An'am : 145) Kalau babi hidup dianggap najis apalagi babi yang mati menjadi bangkai. kecuali kalau makanan itu bangkai. ludah dan kotorannya. Lc 74 ْ َ‫َّ ُه‬ ‫ؼل‬ َّ ‫ ع ج ّ ٌ ٓف‬٠َُ َّ ْ‫ػ‬ ِ ٢َُِ‫ئ‬ ِ ‫َح‬٠ ١ ‫غ‬٠ ِ َ‫ و أ‬٢ِ‫ ج ّ ك‬ٝ‫ ُأ‬٢‫ق‬ ‫إَٔ ئِل‬ َّ ١ َّ ُ ًٕٞ ََّ ّ ١ ‫َّ ش‬ ‫ ز‬َٝ‫ـ ِ ّ ج ّ و أ‬ٞ‫ ج ُك‬َٝ‫َّ ّ َُف أ‬ ٍ٣ٍ‫ط‬ ِ ِٕ‫كَا‬ ِ ‫ن‬ ‫ٌؼ‬ ِ َٝ‫هح كِّ أ‬ ِ َٛ َّ َّ َّ َّ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ ٌ ِّ ٚ ِ ِ‫ذ‬ ِ ‫ّللا‬ Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku. keringat. Dasarnya adalah firman Allah SWT : 34 Al-Mughni libni Qudamah jilid 1 halaman 45-46 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. sehingga dianggap bukan benda najis. lemak. ّ ٙ ٙ . atau darah yang mengalir atau daging babi. hukumnya bukan najis. tulang. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat mengatakan bahwa babi yang masih hidup itu najis pada keseluruhan tubuhnya. Bahkan meski pun seekor babi disembelih dengan cara yang syar`i. maka potongan tubuhnya bukan benda najis. namun termasuk juga darah.

'Ain suatu benda bisa berubah wujud dengan proses tertentu. Dan mazhab Al-Malikiyah yang tidak menganggap babi yang hidup itu najis. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas.ْ ١ ‫زَ ش‬ ِٕ‫ ع ّ ٌ ـ ج ّ ئ‬٢َُ َّ ُ ‫جُْ ّ ى‬ َّ ٝ ‫ ّ جُى‬ٝ ‫ّ َُف‬ ْ ٍ٣ ٖ‫ه‬ َّ َٛ َّ َّ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ ُأ‬ٚ ِ ِ‫ ُِؾ ذ‬١ ٌ ِ َ ِ ٝ ّ ‫َّ ج‬ ِ ْ ِ‫ ع ئ‬٢َُ ٙ َ َ‫َّ ع ل‬ َ َّ ‫ّللا‬ ْ ‫ك‬ َّ ٕ ٜ‫ج‬ ُ َّ ٍ٠ ٢ ‫ؿ‬ ٌ ‫خ‬ ‫ جؽ‬ٝ َّ َّ ‫الَ جو‬ َّ َ‫غْ ك‬ َّ ِٕ‫َّ ئ‬ ‫ّللا‬ ِ ِ َّ ِ َ ٌ ٞ‫ؽُك‬ ٌ ٢‫ق‬ ّ ِ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai. apabila kulitnya disamak. daging babi. maka tidak ada Ahmad Sarwat. dalam pandangan mereka bukan najis. Disini terjadi perubahan 'ain dari hewan menjadi 'ain minyak bumi. 35 Begitu juga dengan ludahnya. mereka mengatakan hukumnya tetap najis. Proses perubahan 'ain suatu benda menjadi 'ain yang lain disebut ( ‫ ) جْطكحُس‬istihalah.37 Satu-satunya pendapat yang mengatakan bahwa kulit babi itu tidak najis bila telah disamak adalah sebuah riwayat dari Abu Yusuf. Berubah Wujudnya 'Ain Babi 'Ain suatu benda maksudnya adalah wujud fisik. Kulit Babi Para ulama sepakan bahwa babi yang mati. Sementara hewanhewan lain yang mati menjadi bangkai. ketika bicara tentang kulit babi yang sudah mati. Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa benda yang najis apabila telah mengalami . Mereka menganggap 'ain tubuh babi itu tidak najis. hukumnya menjadi suci kembali.38 b. Misalnya. Lc Fiqih Thaharah 75 dosa baginya. dan binatang yang disebut selain Allah. lantaran mereka berpegang pada prinsip bahwa hukum asal semua hewan itu suci. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Lc 76 menurut pada ahli dahulu berasal dari hewan atau tumbuhan yang hidup jutaan tahun yang lalu. maka hukum kulitnya tetap najis. Al-Baqarah : 173) Namun pandangan mazhab Al-Malikiyah agak sedikit berbeda.36 a. darah. minyak bumi yang kita pakai untuk bahan bakar. 35 Asy-Syahushshaghir 36 Al-Kharsyi jilid 1 halaman 43 jilid 1 halaman 119 37 Al-Majmu' jilid 1 halaman 217 38 Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah jilid 20 halaman 34 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. meski pun sudah mengalami penyamakan ( ‫) جُىذحؽ‬. (QS. hakikat dan dzat benda itu.

Dengan logika ini. maka pada hakikatnya benda itu sudah berubah wujud.َٕ‫أ‬ ٍْٞ َّ ٙ َ ٙ ّ‫ج‬ َّ ََّ ِ‫كَو‬: ١ ‫ٌ ج‬ ِ . fosil. Nilai Harta dan Kepemilikan Babi Ahmad Sarwat. meski pun benda najis sudah berubah 'ain-nya dan beristihalah menjadi 'ain yang lain. َ٤ ‫ُف‬ ٞٛ ٕٝ ‫ ضى‬ٙ ٍْٞ َّ َّ ‫ّللا‬ َ ِ َ ٕ ‫ ّ ج ٌ ـ‬.perubahan 'ain dengan istihalah. sehingga hukumnya sudah bukan lagi seperti semua. misalnya menjadi tanah. maka hukumnya tidak najis. ْ‫ُغ‬ ‫ ع‬٢َُ ْٛ ِ ‫ ع م‬٢َُ ٙ ‫ّ ٌ ـج‬ ‫َّ ٓص‬ ‫ف‬ َ . Para ulama mengatakan bahwa babi itu tidak sah untuk dimiliki karena kenajisannya. secara nalar telah mengalami perubahan 'ain lewat proses istihalah. c. tetap saja hukum najis terbawa serta. Sehingga hukumnya tidak lagi najis. Namun dalam pandangan mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. semua perubahan 'ain tidak berpengaruh pada perubahan hukum. Selebihnya. Dan berarti juga tidak sah untuk diperjual-belikan. Dalilnya adalah hadits berikut ini : ٕ ‫ٍ ؼ‬ َّ َِّ ‫و خ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ ََُ‫ ج‬ٙ ‫ع‬ َّ ِ َ -ٌ ٢ٞ ِ ِ ِ‫ٕ خ جذ‬ ‫ٓغ‬ ََّ ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ ِ ٌ ِ َ ٞ‫َّ ُه‬ ُ ٍ ‫ـ جَ ُْلَص جّ ع‬ َّ ٞٛ ِْ‫سَ ذ‬ َّ ً: َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّ َ ِ ٝ ٌ ّ ‫ خ‬١ ‫ع‬ ْ ١ ‫ز ش‬ ْ ٍ٣ ّ ٌ َّ َّ َّ ِ ٝ ٖ‫ه‬ ِ ُ‫ج‬ ِ ٝ ُْ‫ج‬ ِ َ ِ ٝ َ٘‫ٕ جأل‬ ١َ‫ش أ‬ ْ ِٚ‫جَُّ ج ذ‬ ٔ ّٞ‫ جَ ُْْ ق‬١ ‫ز ش‬ َّ ٙ ٠َِ‫ضط‬ ِ ِٕ‫كَا‬ ِٚ ‫ٍ ج ذ‬ َّْ َ‫ ج‬ِٞ‫و ؾ‬ ٝ ّ٣ ‫خ ٘ ش‬ َّ ‫ ـ‬ِٚ‫ٍ ِ؟ ج جَُٖ ج ذ‬ ََّ ‫ل كَوَح‬ ِ ََّ ‫ٌ هَح‬ ٍ ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ َ َ ‫ٍ هَحش‬ ٖ‫ػ‬ ََّ َّ ََُ‫ ج‬ٙ ٢ُْ َ‫ج‬ ‫و‬ٞٛ َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّ َ َُْ ِ ‫يُِي و‬ ٔ ّٞ‫ ق‬ٙ ‫ج‬ ‫ ّ ؼ‬ُُٞ ٙ ْ‫ ج خ ُغ‬ٞ‫ ػ‬ٙ ‫ج‬َُُٞ‫ ٕ غَْ كَأَى‬ٙ ‫ع‬ ِ ١ ‫ـ‬ ‫جَ ُْم‬ ٌَ‫أ‬ ٕ ٝ ٌ ْٛ ‫ج‬. tetapi berubah menjadi suci. apabila babi sudah berubah menjadi benda lain. insulin dan benda-benda kedokteran yang disinyalir berasal dari ekstrak babi. termasuk babi yang diekstrak menjadi insulin dan sebagainya. Lc Fiqih Thaharah 77 Lantaran babi dikategorikan benda najis secara 'ain. Dengan pengecualian dua kasus saja. batu atau benda lainnya yang sama sekali tidak lagi dikenali sebagai babi. Jadi bila kita ikuti logika pandangan kedua mazhab itu. garam. yaitu penyamakan kulit bangkai dan berubahnya khamar menjadi cuka. maka hukumnya berpengaruh kepada hukum kepemilikan dan nilai jualnya.

sebagaimana pendapat Al-Hanafiyah dan AlMalikiyah. Lc Fiqih Thaharah jilid 5 halaman 55 jilid 1 halaman 64. bagaimana hukumnya dengan minyak (gajih) bangkai? minyak itu berguna untuk mengecat (merapatkan) lambung kapal. Anjing Para ulama mengatakan bahwa seluruh tubuh anjing merupakan hewan najis berat (mughallazhah). kitab Al-Badai` jilid 1 halaman 63."Ya Rasulallah. babi dan berhala". Mazhab Al-Hanafiyah Dalam mazhab Mazhab Al-Hanafiyah40. tetap haram hukumnya". Seseorang bertanya. bahkan umumnya anjing bermanfaat banyak buat manusia. yang 39 Al-Bahrurraiq 40 Lihat kitab Fathul Qadir Ahmad Sarwat."Bila ٍْٞ َّ َّ َ ِ‫ّللا‬ . Kedudukan anjing sebagaimana hewan yang lainnya. 79 ditetapkan sebagai najis hanya bila anjing itu minum di suatu wadah air. 39 Namun bila babi itu milik selain muslim."Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamar. atau menghilangkannya. Rasulullah SAW menjawab."Semoga Allah memerangi Yahudi ketika diharamkan atas mereka. bangkai. Lc 78 Para ulama sepakat. Kemudian beliau SAW meneruskan. Misalnya sebagai hewan penjaga atau pun hewan untuk berburu. Mengapa demikian ? Sebab dalam hadits tentang najisnya anjing. malah mereka perjual-belikan dan makan keuntungan jual-beli itu. (HR.Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW berkata pada hari fathu Mekkah. Maka hanya bagian mulut dan air liurnya saja (termasuk kotorannya) yang dianggap najis. dengan diharamkannya kepemilikan dan jual-beli seorang muslim atas babi. maka hukumnya wajib mengganti atau mengembalikannya. maka apabila ada seorang muslim yang mencuri babi milik orang lain yang muslim. mulut dan kotorannya saja. Sedangkan tubuh dan bagian lainnya tidak dianggap najis. Bukhari dan Muslim) Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. tidak perlu menggantinya dan juga dipotong tangan meski tetap berdosa. َ ِ ‫ٌخ ٔ ئ‬ َ ُ‫ خ ج‬٢‫ك‬ ٍ َّ َّْ ٌ َِّ s ‫َّ ٕ ع‬ ٢‫ذ‬ َّ ٜ َّ َٕ‫ٌ أ‬ َ ‫يج هَح‬ ِ َ ِ َ‫ٍ أ‬ٛ ١ ٌ َ‫ز‬ ْْ ِٕ‫ء ئ‬ َِّ ‫و أَـ ج‬ َِّ َّ ُ ًْ ٢ِْ َ‫َّ ؽ ك‬ َ ِ ٙ ِ ‫ ج ع خ‬-‫ ٓطلن‬ٚ٤ِ‫ػ‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. juga untuk mengeringkan kulit dan digunakan orang buat bahan bakar lampu". 4."Tidak. yang najis dari anjing hanyalah air liur. a.2. Namun ada juga pendapat sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa najis anjing itu hanya air liurnya dan mulutnya saja.

Lc 80 bukan hanya air liurnya saja yang najis.41 c. Sebab sumber air liur itu dari badannya. sedangkan anjing itu najis. Pendapat tentang najisnya seluruh tubuh anjing ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya : Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Hewan Buas Hewan buas dalam bahasa Arab disebut dengan siba' ( ‫) جُٓرحع‬. tetapi seluruh tubuh anjing itu hukumnya najis berat. Dari hadits ini bisa dipahami bahwa kucing itu tidak najis."Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. Muslim dan Ahmad) b.3. Di kala lainya. Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny). Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. harus dicuci tujuh kali. Kita menemukan beberapa hadits yang shahih tentang hewan buas ini. Bukhari dan Muslim). termasuk keringatnya. Bila air liur anjing jatuh masuk ke dalam wadah air. 4. kotoran dan juga keringatnya. antara lain : . Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tidak mendatangi undangan yang kedua. Logika yang digunakan oleh mazhab ini adalah tidak mungkin kita hanya mengatakan bahwa yang najis dari anjing hanya mulut dan air liurnya saja. wajiblah dicuci tujuh kali sebagai bentuk ritual pensuciannya. baik kencing. Bahkan hewan lain yang kawin dengan anjing pun ikut hukum yang sama pula. Dan kucing itu itu tidak najis". َ َ ِ‫ ئ‬ٝ ‫ؾ‬ َ ُ‫ج‬ ٠ َّ ٞٛ ٌ ِٕ‫ء ئ‬ َِّ ‫َّ أَـ ج‬ ‫و‬ ُ ًْ ‫يج‬ ََّ َُ ٢ِ‫ ك‬ٙ َّ َّْ ٌ ِ َّ ِ َ ِ ‫َّ ٌ ّ ع خ‬ ‫جش‬ ََّ ‫ل‬ٝ‫ٖ ُأ‬ٛ ‫خ ٌ ذِحُص‬ َّ ِ ‫ج‬ ‫ٕخ‬ َّْ َ‫ أ‬١ ‫َّ ؽ‬ َ َ ْ ِ ٙ Rasulullah SAW bersabda. Termasuk air yang keluar dari tubuh itu juga."Di rumah yang kedua ada anjing sedangkan di rumah yang pertama hanya ada kucing. (HR. Dan untuk mensucikannya harus dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. Mazhab Al-Malikiyah Mazhab ini juga mengatakan bahwa badan anjing itu tidak najis kecuali hanya air liurnya saja. Al-Muhtaj jilid 1 halaman 78.(HR.Mazhab As-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah42 Kedua mazhab ini sepakat mengatakan bahwa 41 Asy-Syarhul 42 Mughni Kabir jilid 1 halaman 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 halaman 43. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. kitab Kasy-syaaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 52. kaum yang lain mengundangnya dan beliau tidak mendatanginya. beliau bersabda.anjing minum dari wadah air milikmu.(HR.

Ahmad Sarwat. menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan bangkai ( ‫طس‬٤ٓ ) adalah : ٕ‫ج‬ٞ٤‫ص جُك‬٤ُٔ‫ٍ ج‬٤‫ ؿ‬٠ًًُٔ‫ ج‬. macam."Semua hewan yang punya taring dari hewan buas. namun bukan berarti najis. Namun meski pun demikian. atau dari perkawinan babi atau dari perkawinan kedua. termasuk juga burung buas yang memakan bangkai seperti elang ( ٍ‫و‬ٚ ). Lc Fiqih Thaharah 81 ٍ َّ ُ ًَ َِّّ ١‫ي‬ َّ ٖٓ ‫جع‬ ‫ جَُٖ ٕ ع‬٢ِ‫ ٕ ع ذ‬٢ِ‫أَذ‬ َ ‫هَح‬: َّ ِ ٕ ‫جخ‬ ِ َُّ‫َّ خ ج‬ ِ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ َ َ ‫ كَأ‬ٙ ‫ّ ج ٌ ـ‬. yang tidak disebut cakar dari ceker. harimau. kecuali anjing dan babi. hewan yang matinya tidak disembelih dengan cara disembelih46. falcon ( (ٖٛ‫ٖح‬ dan lainnya. Muslim) Keharaman memakan hewan yang bertaring dan cakar maksudnya adalah hewan yang memakan makanannya dengan cara membunuh mangsanya dengan taring atau cakarnya. ternyata tetap ada perbedaan pandangan disana sini. maka haram hukumnya untuk dimakan". Al-Hanafiyah mengatakan bahwa semua hewan buas hukumnya najis. Bukan sekedar hewan itu punya gigi taring atau kuku. Sapi dan kambing juga punya gigi taring dan kuku. sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Al- . kalau kita lihat catatan para ulama mazhab. ٝ َ ‫ جو‬: ٝ َّ ََّ ً َ ُ َّ ًَ ١‫ي‬ ‫ٖٓ َُد‬ َّ ِ ‫ٓم‬ ِ َّ ِ ٢‫ٌ جَُط‬ ِ -ٌ ٝ ‫ ج‬ٙ ّٓ ٍ َِّ ّ Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda.45 5. Termasuk najis adalah hewan yang lahir dari perkawinan anjing. Ahkamul-Quran.. Lc 82 dasarnya tidak najis. Bangkai Al-Jashshash dalam tafsirnya. 43 Al-Malikiyah mengatakan bahwa meski pun haram dimakan.44 As-Syafi'iyah juga sepedapat bahwa meski haram memakannya. namun mereka mengatakan bahwa semua hewan hidup itu hukumnya tidak najis. sebagaimana ayam dan burung dara juga punya kuku. seperti singa. srigala. Karena pada dasarnya semua hewan yang hidup itu pada 43 Fathul Qadir jilid 1 halaman 74-76 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Dan ditambahkan :"Semua yang punya cakar dari unggas" (HR. kera. yang menandakan mereka belum bulat menyepakati kenajisannya. Hewan yang menjadi bangkai hukumnya najis.

dan seterusnya. yang cara penyembelihannya tidak sesuai dengan syariah Islam. bangkai itu memang benda najis. atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor (najis)". Disembelih Untuk Selain Allah Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa yang 47 Tafsir ّ ٙ ٙ Al-Fakhrurrazi jilid 5 halaman 19 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. 4. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha 44 Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 27 jilid 1 halaman 13 46 Ahkamul Quran lil Al-Jashshash 1 halaman 132 45 Raudhatut-Thalibin Ahmad Sarwat. bangkai itu mati oleh sebab tindakan manusia. Kedua.1. AlMalikiyah. sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. dari sisi dzat-nya. seperti terbunuh. Lc Fiqih Thaharah 83 Penyayang. Pertama. mati bukan karena tindakan manusia. Lc 84 termasuk bangkai adalah hewan yang disembelih .(QS. daging babi. juga merupakan benda yang berstatus najasatul 'ain ( ‫ٖ ٗؿحْس‬٤‫) جُؼ‬. Maksudnya. maka tidak ada dosa baginya.(QS. kecuali kalau makanan itu bangkai. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah telah sampai kepada level ijma' bahwa bangkai itu selain haram dimakan. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas. Al-An'am : 145) Keempat mazhab yaitu Al-Hanafiyah. Al-Baqarah : 173) ْ َ‫َّ ُه‬ ‫ؼل‬ َّ ‫ ع ج ّ ٌ ٓف‬٠َُ َّ ْ‫ػ‬ ِ ٢َُِ‫ئ‬ ِ ‫َح‬٠ ١ ‫غ‬٠ ِ َ‫ و أ‬٢ِ‫ ج ّ ك‬ٝ‫ ُأ‬٢‫ق‬ ‫إَٔ ئِل‬ َّ ١ َّ ُ ًٕٞ ََّ ّ ١ ‫َّ ش‬ ‫ ز‬َٝ‫ـ ِ ّ ج ّ و أ‬ٞ‫ ج ُك‬َٝ‫َّ ّ َُف أ‬ ٍ٣ٍ‫ط‬ ِ ِٕ‫كَا‬ ِ ‫ن‬ ‫ٌؼ‬ ِ َٝ‫هح كِّ أ‬ ِ َ‫َّ ع ل‬ َ ٌ ‫جؽ خ‬ َٛ َّ َّ َّ َّ َِّ ٜ‫َّ ج‬ ُ ٍ٠ ٢‫ؿ‬ َّ ٝ َّ ‫َّ جو‬ ِٕ‫كَا‬ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ ٌ ِّ ٚ ِ ِ‫ٕ كَْ ذ‬ ِ ‫ّللا‬ َ ٌ ٌ ‫ ى خ‬ٞ‫ؽُك‬ ٌ ٢‫ق‬ ّ ِ Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku. dan binatang yang disebut selain Allah . atau dimangsa hewan lain. mati karena tua. 47 Ada dua macam kematian bangkai. Dalam hal ini. darah.Kariem tentang hukum bangkai ْ ١ ‫زَ ش‬ ِٕ‫ ع ّ ٌ ـ ج ّ ئ‬٢َُ َّ ُ ‫جُْ ّ ى‬ َّ ٝ ‫ ّ جُى‬ٝ ‫ّ َُف‬ ْ ٍ٣ ٖ‫ه‬ َّ َٛ َّ َّ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ ُأ‬ٚ ِ ِ‫ ُِؾ ذ‬١ ٌ ِ َ ِ ٝ ّ ‫َّ ج‬ ِ ْ ِ‫ ع ئ‬٢َُ ٙ َ َ ‫ٕ كْ ّللا‬ َِّ ٜ‫َّ ج‬ ُ ٍ٠ ٢‫َّ خ ٌ ؿ‬ ‫ جؽ‬ٝ َ‫ل‬ َّ ‫َّ ع‬ ‫ََّ جو‬ ‫غْ كَال‬ َّ ِٕ‫َّ ئ‬ ‫ّللا‬ َِّ ِ َّ َ ٌ ٞ‫ؽُك‬ ٌ ٢‫ق‬ ّ ِ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai.

dibanting.2. anak panas. Al-Kautsar :2) Namun bila hewan itu mati karena diburu oleh muslim atau ahli kitab. tetapi jika saat disembelihnya ditujukan untuk selain Allah. atau untuk penunggu laut kidul. Sebagaimana firman Allah SWT : َٙ‫َّ ك‬ ٍ ِّ ٍُِ ‫ذِّي‬ 85 ٝ ٕ‫ٌ ـ ج‬ Dan lakukan shalat untuk tuhanmu dan lakukanlah an-nahr Ahmad Sarwat. AlMaidah 3) Meski pun ayam itu halal. baik dengan cara dzabh (sembelih) atau pun nahr (ditusuk dengan tombak). maka ayam itu hukumnya adalah bangkai. ٝ ّ ‫َّ ج‬ َٛ َّ َّّ ٚ َّ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ ٌ ِ ِ‫ذ‬ ِ ِ‫ّللا‬ ٝ ّ ‫ ع ُيذِف ج‬٠َُ ٍ‫ٕ ج‬ (Diharamkan bagimu) yang disembelih atas nama selain Allah (QS. Daging hewan yang dijadikan persembahan untuk dewa. Termasuk bila disembelih untuk dijadikan sesaji kepada roh-roh tertentu.untuk selain Allah. Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya . Disembelih Tidak Syar'i Hewan yang disembelih dengan jalan dipukuli. Karena berburu adalah salah satu cara penyembelihan yang syar'i. hukumnya bukan termasuk bangkai. peluru atau sesuatu yang melukai badannya. (QS. Sebab penyembelihan yang syar'i adalah dengan cara pemutusan aliran darah di leher. atau juga untuk berhala. 4. meski dengan tombak. diracun atau ditabrakkkan adalah bangkai. termasuk dalam bab ini. Lc Fiqih Thaharah (penyembelihan). Al-Maidah 3) ‫د‬ َّ ِ ٚ (Diharamkan bagimu) yang disembelih utnuk berhala (QS. َ ‫َّ ج‬ ١ ِ َُُٕٞ‫يج ّ ى أ‬ َ‫ق‬ ََّ ْٛ َ‫ه‬ َّْ ُ َّ َ‫ق‬ ََّ َّ ُ ‫ ّ ى‬٢‫ش ج خ جُط‬ ِ ‫ٍ ُأ‬ ِ ‫ٍ ُأ‬ ٝ ّ ‫ُْ ع ج‬ ْ‫ٕ ّ ض‬ ْ ٝ ‫ـ‬ َٓ ‫جُؽ‬ َّ ٖ٤‫ر‬ ‫ٍ ضغ‬ َِّّ ٕٞٓ ٖٛ ْٓ ُ‫َّ ى‬ َّّ ُ‫ ج‬ٙ ‫ف‬ ََّ ِ ‫َّ ُْ ع ج‬ ِ ٌِِّ ِ ِ ٌ‫ج‬ ْ ً ْٓ ْ ُ ‫ج‬ِٞ َّ َّ ِ ‫ًٖ ِ أَّ ج‬ ْ ِ‫ّللا ّ ج‬ ْ ُ ‫ّللا‬ ‫ ع‬٢َُ َّ ُ ًْ ٝ ‫جي‬ َّْ َّ ُ ‫ج ى‬ٌٝ َّ َّ َّ َّ َّّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّ َّّ ِ ّ ‫ ع‬٢َُ ٙ ِ ٝ ‫ج جش‬ٞ‫ه‬ ْ ‫خ‬ ِ ١ٌ ‫كّ ع‬ َّ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ج‬ ِ Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". atau untuk jin dan makhluk halus lainnya. meski bukan dengan cara penyembelihan. Bahkan di dalam Al-Quran dijelaskan tentang kebolehan berburu dengan menggunakan hewan pemburu yang sudah pasti termasuk hewan buas.

Sebagaimana firman Allah SWT : Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Termasuk juga hewan yang biarkan mati karena serangan wabah penyakit tertentu. sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. Ketiak-najisannya memang disebutkan langsung di dalam nash yang kuat. Dan bertakwalah kepada Allah.4. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu. yang terpukul. 4. lalat. Al-Maidah : 5) Sedangkan bacaan basmalah hanya sunnah bukan merupakan syarat atau kewajiban.3. ditanduk. a. Lalat dan Nyamuk Hewan yang tidak punya nafas seperti nyamuk. jatuh. Al-Maidah : 4) 4. karena secara sah mati akibat penyembelihan. Penyembelihan yang syar'i mensyaratkan penyembelihnya harus muslim atau setidaknya ahli kitab. hukumnya bukan bangkai. Lc 86 ْ ‫ٌص‬ ْ ‫جخ‬ ٝ ‫َغ‬٠ ‫ٖ ّ ج‬٣ً َّ ِ ُ‫ ج‬ٝ‫ج ُأ‬ٞ‫ض‬ ِ ُ‫ج‬ ْٛ َ‫ق‬ َّ ٍ َّ ُ ًْ ِ َّ ٝ ‫َغ‬٠ ‫َّ ّ ج‬ ُ ًْ َّ َ‫ق‬ ٍ ِ َّ Sembelihan ahli kitab itu halal untukmu dan sembelihanmu halal untuk mereka. dan diterkam binatang buas (QS. sehingga menjadi pengecualian hukum. Lc Fiqih Thaharah 87 4. Al-Maidah : 3) 4. Mati Tanpa Disembelih Yang termasuk bangkai adalah hewan yang matinya tidak disembelih tetapi mati terbunuh.3. serangga dan sejenisnya. hewan itu sempat disembelih secara syar'i. kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu . Sebagaimana firman Allah SWT : ْ ٝ ‫يُز‬ َ ٞ‫ ُه‬ٝ ٍ‫ج‬ ْ ٝ َّ ٍ‫ج‬ ٖٓ ‫ ِٗنَُز ل‬ٝ ُْ‫ج‬ َّْ َ َ‫جُّ أ‬ ٝ ُٖ‫ف ج‬٤٠ ََّ ً ‫ع خ‬ ِ ‫ ُز‬ٝ ّ ‫َ ج‬ ‫ و ٌ ٓص‬١ ‫ُز‬ yang tercekik. Potongan Tubuh Hewan Yang Masih Hidup Anggota tubuh hewan yang terlepas atau terpotong dari tubuhnya termasuk benda najis dan haram hukumnya untuk dimakan. Ada yang mati karena tercekik. Disembelih Kafir Non Kitabi Hewan yang disembelih oleh orang yang bukan muslim hukumnya adalah bangkai. (QS.5. sebagaimana dikemukakan oleh mazhab Asy-Syafi'iyah. Bangkai Yang Tidak Najis Ada beberapa jenis bangkai yang hukumnya tidak dianggap sebagai najis.(QS. yang ditanduk. yang jatuh. (QS. terpukul. َ ‫ ج ّ ئِل‬٢ً‫ي‬ َّ ْ‫ض‬ Kecuali yang sempat kamu sembelih. atau diterkam binatang buas. Al-Maidah : 3) Namun bila sebelum mati. dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu . Ahmad Sarwat.untuk berburu. tidak termasuk .

ٙ‫ج‬ٌٝ ١ٌ‫جُرهح‬ Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW dalam masalah lalat yang jatuh tercebur masuk ke dalam minuman.`Ya Rasulullah. oleh karena itu para ulama juga mengatakan bahwa hewan-hewan itu tidak merupakan hewan yang najis. yaitu tidak dianggap najis. .`(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. Bukhari) Meski hadits ini hanya menyebut lalat. Abu Daud 83. Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW. tetapi tidak mengakibatkan najis. maka tenggelamkanlah kemudian angkat. namun para ulama mengambil kesimpulan bahwa lalat itu sebagai hewan yang tidak punya darah. Malik 1/22)48. Karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan salah satunya kesembuhan. Kalau kami gunakan untuk berwudhu. juga punya Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. mati di dalam gelas minuman. Rasulullah SAW menjawab. baik dalam keadaan hidup atau mati. An-Nasai 59."Bila ada lalat jatuh ke dalam minumanmu. dimana ada isyarat bahwa lalat itu tidak mengakibatkan minuman itu menjadi najis : َ ِ‫ ئ‬ٝ ‫ خ ج جًُخ هَغ‬٢‫ك‬ ‫يج‬ َِّ ٔ ٌ ‫خ‬ َّ ‫َّ ٕ ع‬ ٢‫ذ‬ َّ ٜ ٍ ََّ ‫ٍ هَح‬ ََّ ‫هَح‬ ِ ‫ج‬ ِ َ‫ٍ أ‬ٛ ١ ٌ َ‫ز‬ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ‫و أَـ‬ َِّ َّ ُ ًْ ٢ِْ َ‫ّٓ ؽ ك‬ ٙ ْ‫ ُغ‬٢ُِ ٕ َ ‫ع‬ ٙ َّ ِٕ‫ كَا‬٢‫ك‬ َِّ ‫ و ئِـ‬ٟ ِ ‫ ٗحـ ؼ‬١ ٙ َّ ‫ جء‬ٝ ‫ ٌ جألل‬ٟ ِ ‫َّ و‬ ‫ٖلَحء‬ َّ ِ . At-Tirmizi 79. (HR. Lc 88 hukum yang sama.ٙ‫ج‬ٌٝ ِ ُ‫ ّ ج‬١ ‫ش‬ ‫ جُهٔٓس‬. yaitu tidak berdarah. (HR. Bangkai Hewan Laut Semua hewan laut pada dasarnya halal dimakan. pastilah kami kehausan. Ibnu Majah 386. Maka hewan lain yang keadaannya mirip dengan lalat. kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. b. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW : ٍ َّ ٍٙ ََّ ‫ هَح‬: ِ ٍ ََّ َ‫ٌ أ‬ ‫َّ ؼ‬ ٌٍُ ْٞ ٍ ََّ ‫ّللا‬ َّ ‫ٕ ع‬ َِّ ٢ِ‫أَذ‬ َ ‫ كَوَح‬: s ‫ٕ ع‬ ِ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ١ ‫ٌج‬ ْٞ ٍ ََّ ‫ّللا‬ َّ ‫ى‬ ‫ ٌ ـ جُد خ‬ٝ ‫ّ ٗف‬ َِّ َّ ُ ٍ ّ ‫ٗح ع‬ َ ِ ِٕ‫َّ ٌ ٕ ج ئ‬ ٢َِِ‫ٍ جُو‬ ََّ ٖٓ َِّ ‫ٔح‬ َّْ ِ ‫كَا‬ ِ ‫ء‬ َ ُ‫ٕ ج‬ ‫ ش‬ٝ ٜ ٕ‫ ج ْأ‬ٚ َّ َِّ َ ‫ٔح‬ َّ ََّ ‫ٌ كَوَح‬ ِ ِ‫ٕ ع ذ‬٠ ِ ٕ ‫ أَكَٖ ج‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫ء ُأ‬ ِ ‫ٌ ـ جُد ذ‬ ِ ‫ٍ؟‬ ْٞ ٍ ََّ َّ ِ‫ ّللا‬٠ِٚ ‫ ّللا‬ٚ٤ِ‫ِْْ ػ‬ٝ : ٞٛ َّ ١ُ‫ ج‬ٞٛ ٌ ّ ‫ ؤ ج‬ٙ َّ َ‫ك‬ ٙ .bangkai yang najis. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`.

49 Fathul 50 Asy-Syarhul-shaghir Qadir jilid 1 halaman57 jilid 1 halaman 45 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Sehingga hukum-hukum yang berlaku bagi hewan itu sama persis dengan hukum hewan laut 100%. Keduanya tetap dikatakan sebagai hewan laut. Istilah yang sering digunakan untuk hewan yang seperti ini adalah barma'i ( .(٢‫ذٍٓث‬ yang merupakan gabungan dari dua kata. maka dalam murid Abu Hanifah yaitu Muhammad. Termasuk ke dalam yang diharamkan adalah buaya dan kura-kura. Al-Hanafiyah mengatakan hewan yang asalnya di laut atau air. dan kemampuannya bisa bertahan hidup lama di darat tidak mengeluarkannya sebagai hewan laut. Lc Fiqih Thaharah bahwa hadits ini hasan shahih 89 darat dan maa' ( ‫ ) ٓحء‬air.c. Dan karena tubuh bangkai itu najis. 50 Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa hewan yang hidup di air dan di darat seperti bebek dan angsa hukumnya halal dimakan.49 Al-Malikiyah mengatakan bahwa hukum hewan laut yang bisa lama hidup di darat sama dengan hewan laut. cuka dan susu itu hukumnya tetap tidak najis. lantaran hewan itu tidak najis. apabila dia dapat hidup sementara waktu ke daratan dalam waktu yang lama dan mati di darat. Hewan Darat dan Laut (Barma'i) Para fuqaha' tidak sepakat tentang hukum hewan laut yang dapat bertahan lama hidup di darat. bila mati maka termasuk bangkai yang hukumnya najis. Sedangkan kodok dan kepiting dalam pandangan masyhur mazhab ini termasuk yang haram dimakan. Lc 90 Demikian juga bila hewan itu punya bisa (racun). begitu juga sebaliknya. seperti kodok dan buaya. tapi bangkainya tetap tidak halal.51 Al-Hanabilah mengatakan bahwa hewan laut yang bisa bertahan hidup lama di darat. barulah dianggap najis. seperti susu atau cuka. maka bila mati di air yang sedikit. barr ( (ٍ َّّ ‫ذ‬ 48 At-Tirmiy mengatakan Ahmad Sarwat. hewan darat yang dapat bertahan lama hidup di air. Dalam hal ini mereka mencontohkan kodok laut dan penyu laut. Keduanya boleh dibilang sebagai hewan laut yang bisa lama bertahan di darat. hukumnya tetap suci dan tidak najis. otomatis air yang sedikit itu . Kecuali bila hewan itu punya darah yang mengalir keluar dan merusak cairan itu. Bahkan meski pun misalnya hewan itu mati di dalam cairan.

Lc Fiqih Thaharah 91 berhala. adalah termasuk perbuatan syaitan. Najis-najis Yang Dimaafkan Najis-najis yang dimaafkan adalah benda yang pada hakikatnya najis atau terkena najis. melainkan najis secara maknawi. ١ ‫ ج‬١َ‫أ‬ ‫خ‬ٝ ‫ٌؼ‬ ِ ََّ ٕٞ‫ق‬ 52 Al-Mughni ْ ِٕ‫جُم ج ّ ئ‬ ْ ّ ْ ١ ِ ٙ ‫ٖ ج‬٣ً َّ ‫ج‬ٞٗ ٌ ٝ ُْ‫ج‬ َّ ٌ ٝ َٙٗ‫ج جأل‬ ِ ُ‫آّ ج‬ ِ ََ‫لَ جأل‬ َّ ّ ْ‫ض‬ ِ ّ ٕ ‫َّ ّ ع‬ ٍ ٕ َِّ ٞ‫ ذ‬ٙ ‫ٍ َُغ‬ َّ َّ ُ ًْ َِّ ‫ل‬ َ ِ ُٕ‫ ج‬١ َّ ِ ‫َح‬٠ ‫ٕ ش كَحؼ‬ Hai orang-orang yang beriman.17 gram) atau setara 20 qirath.52 6. namun ada sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa khamar bukan termasuk najis. air kencing bayi. meski najis itu dimaafkan. 51 Raudhatut-thalibin jilid 3 halaman 275 libni Qudamah jilid 1 halaman 40 Ahmad Sarwat. mayat manusia.juga ikut tercemar dengan kenajisannya. dan seterusnya. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. potongan tubuh hewan yang tidak punya darah. air kencing dan susu hewan yang halal dagingnya. bukanlah bermakna najis hakiki. pakaian atau tempatnya terkena najis yang dimaafkan a. 7. Mazhab Al-Hanafiyah Mereka juga mengatakan bahwa yang termasuk najis yang dimaafkan adalah beberapa tetes air kencing kucing atau tikus yang jatuh ke dalam . Dan bila air itu banyak sekali serta tidak tercemar dengan bangkai itu. namun karena kadarnya sangat sedikit atau kecil. Sedangkan untuk najis yang berbentuk cair. air liur orang tidur. Namun dalam pandangan mereka. Sedangkan istilah najis yang ada dalam ayat AlQuran Al-Kariem tentang khamar. air mani (sperma). Misalnya bangkai hewan air atau tidak punya darah. berjudi. mengundi nasib dengan panah . kulit bangkai. maka air itu tidak dianggap terkena najis. sesungguhnya khamar.(QS. sehingga dimaafkan. Najis Yang Tidak Disepakati Ulama Meski jumhur ulama mengatakan bahwa khamar itu hukumnya najis. Al-Maidah : 90) Dan masih banyak lagi benda-benda yang kenajiasannya tidak disepakati para ulama. tetap saja haram melakukan shalat bila badan. seluas lebar tapak tangan saja. Para ulama mengatakan bahwa termasuk ke dalam najis yang dimaafkan adalah najis yang padat (bukan cair) yang hanya sedikit sekali yaitu hanya selebar uang dirham (3.

mani dan yang keluar dari anus. sebab air itu tercampur dengan ludah hewan tersebut. termasuk dari hewan. Lc 92 percikan najis yang tak terlihat oleh mata telanjang.`Aku minum dalam keadaan haidh lalu aku sodorkan minumku itu kepada Rasulullah SAW. mengeluarkan mani atau sehabis melakukan hubungan seksual. Bahkan termasuk darah dari babi. Baik najis itu berasal dari dirinya atau dari orang lain. Muslim) . Su’ru Manusia Manusia itu tidak najis. 2. Juga akibat Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Mazhab Malik Mereka mengatakan bahwa yang termasuk najis yang dimaafkan adalah darah manusia atau hewan darat yang sangat sedikit jumlahnya. Bab 4 As-Su’ru 1. hal ini menjadi persoalan tersendiri. bekas lalat. Dasar kesucian tubuh orang yang sedang junub atau haidh adalah hadits berikut ini : Dari Aisyah ra berkata. kutu. Juga air kencing yang sedikit sekali yang keluar tanpa mampu dijaga karena penyakit. Juga orang yang sedang dalam keadaan junub karena mimpi. Sebab pada dasarnya manusia itu suci. dan lainnya. baik manusia itu laki-laki Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. karena nyaris mustahil tidak terkena sama sekali dari najis yang mungkin hanya berupa percikan atau sisa-sisa yang tak nampak. Atau darah nyamuk. Dalam masalah fiqih.makanan atau pakaian karena darurat. Kira-kira selebar titik hitam pada uang dirham. b. c. nifas atau istihadhah. juga nanah dan muntah yang sedikit. Beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku. termasuk di dalamnya adalah air mazi. bangsat atau serangga lain yang tidak punya darah cair. Juga sisa bekas berbekam (hijamah). (HR. Mazhab Syafi`i dan Hanbali Kedua mazhab ini dalam masalah najis yang dimaafkan ini nampak lebih keras. Juga air kencing anak kecil dan kotorannya buat ibu yang sedang menyusuinya. sementara hewan itu boleh jadi termasuk di antara hewan yang air liurnya najis. Lc 94 atau wanita. Pengertian As-Su‟ru adalah sisa yang tertinggal pada sebuah wadah air setelah seseorang atau hewan meminumnya. sebab yang dimaafkan bagi mereka hanyalah yang tidak nampak di mata saja. Termasuk juga wanita yang sedang mendapatkan haidh.

maka janganlah mereka mendekati masjidi alharam sesudah tahun ini. Bahkan ada yang masuk ke dalam masjid. Sebab tubuh orang kafir itu tetap suci meski dia tidak beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Juga ada hadits Abu Bakar berikut ini : Rasulullah SAW diberikan susu lalu beliau meminumnya sebagian. Lc Fiqih Thaharah 95 Namun Rasulullah SAW tidak pernah diriwayatkan memerintahkan untuk membersihkan bekas sisa orang kafir. lalu disodorkan sisanya itu kepada a`rabi (kafir) yang ada di sebelah kanannya dan dia meminumnya. (QS. sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis . sisa minumnya itu tetap suci dan tidak merupakan najis. Hukum Su’ru Hewan Hukum su’ru hewan atau air yang telah kemasukkan moncong hewan.`Ke kanan dan ke kanan`. Bukhari) Kecuali bila manusia itu baru saja meminum khamar. (HR. lalu disodorkan kepada Abu Bakar dan beliau pun meminumnya (dari wadah yang sama) lalu beliau berkata.Begitu juga hukumnya orang kafir. 3. maka hukum ludah atau su‟runya menjadi haram. Para ulama lantas membedakannya sesuai dengan kriteria itu. apakah hewan itu najis atau tidak. 3. bukan secara zhahir atau jasadi. Air yang bekas diminum oleh hewan yang halal dagingnya boleh digunakan untuk berwudhu. Su’ru Hewan Yang Halal Dagingnya Bila hewan itu halal dagingnya maka su‟ru nya pun halal juga atau tidak menjadikan najis. mandi janabah atau memberishkan najis.1. maka yang dimaksud dengan najis adalah secara maknawi. At-Taubah : 28) Dahulu orang-orang kafir yang datang kepada Rasulullah SAW bercampur baur dengan umat Islam. Abu Bakar bin Al-Munzir menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah sepakat tentang hal ini. . Ahmad Sarwat. Seringkali orang salah mengerti dalam memahami ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini : ١ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ٖ ج‬٣ً ‫ج‬ٞٗ ِٕ‫جٍ ج ّ ئ‬ َّْ ِ ُ‫آّ ج‬ ْ ِ ‫ؾى‬ ْ ١ ٍ‫ه‬ ‫ج‬ٞ‫جُْ ذ‬ ِ ْ َ ‫ْ ع و ع خ جّ ٌ جُف‬ٜ ِ ‫ ج‬ٙ ‫يج‬ ِٓ ٕٓ َّ ٌ ُ ًٕٞ ََّ ٕ ‫ؼ‬ ِ َّ ِ ‫كَال‬ Hai orang-orang yang beriman. Kalau pun ada ungkapan bahwa orang kafir itu najis. Sebab ludahnya timbul dari dagingnya yang halal. Maka hukumnya mengikuti hukum dagingnya. sangat tergantung dari hukum hewan itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. Hal ini sudah menjadi kesepakatan semua ulama.`Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian. maka cucilah 7 kali. Bukhari 172.`Sucinya wadah kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali". Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak Ahmad Sarwat. kecuali . yang jatuh. (QS. yang tercekik. darah. ‫ألقٔى‬ٝ ِ َ َ ِ‫ ئ‬ٝ ‫ؾ‬ َ ُ‫ٕ خ ج‬ َ َُ ٢ِ‫ ك‬ٙ ِْٓٓٝ : ٠ َّ ٞٛ ٌ ِٕ‫ء ئ‬ َِّ ‫و أَـ ج‬ َِّ َّ ُ ًْ ‫يج‬ َّ َّ َّْ ٌ َّْ َ‫أ‬ ِ َ ١ ‫َ ؽ‬ ََّ ْ ِ ِٙ ‫ع خ‬ ّ ٌ َّ ‫ جش‬ٝ‫لَ ُأ‬ َّ ٖٛ ‫خ ٌ ذِحُص‬ َّ ِ ‫ج‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. 91. Muslim 279. daging babi. Ahmad 2/427) Sedangkan najisnya babi sudah jelas disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem ْ ١ ‫زَ ش‬ ِٕ‫ ع ّ ٌ ـ ج ّ ئ‬٢َُ َّ ُ ‫جُْ ّ ى‬ َّ ٝ ‫ ّ جُى‬ٝ ‫ّ َُف‬ ْ ٍ٣ ٖ‫ه‬ َّ َٛ َّ َّ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ ُأ‬ٚ ِ ِ‫ ُِؾ ذ‬١ ٌ ِ َ ِ ٝ ّ ‫َّ ج‬ ِ ْ ِ‫ ع ئ‬٢َُ ٙ َ ٌ ‫َّ خ‬ ‫ٕ كَْ ّللا‬ َِّ ٜ‫َّ ج‬ ُ ٍ٠ ٢‫ؿ‬ ‫ جؽ‬ٝ ‫َّ ع ل‬ ‫غْ كَال جو‬ َّ ِٕ‫َّ ئ‬ ‫ّللا‬ َِّ ِ َّ َ ٌ ٞ‫ؽُك‬ ٌ ٢‫ق‬ ّ ِ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai. Al-Baqarah : 173) ْ ١ ‫ ُز ش‬ٝ ‫جُى‬ ٍ‫ ع ش ّ ق‬٢َُ َّ ُ ‫جُْ ّ ى‬ ّ ٝ ‫َُف‬ ّ ْ ٍ٣ ٖ‫ه‬ َّ َٛ َّ َّ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ ٌ ِ‫ ّللا‬ٚ ِ ِ‫ذ‬ ِ َ ِ ٝ ّ ‫َّ ج‬ ِ َّ ْ ٝ ‫يُز‬ َ ٞ‫ ُه‬ٝ ٍ‫ج‬ ٝ ٍ‫ج‬ َّْ ٖٓ ‫ ِٗنَُز ل‬ٝ ُْ‫ج‬ َّْ ‫ و ٌ ٓص‬١ ‫ُز‬ َ َ‫جُّ أ‬ ٝ ُٖ‫ف ج‬٤٠ ََّ ً ‫ج ّ ئِل ع خ‬ ِ ‫ ُز‬ٝ ّ ‫َ ج‬ ْ َ ٢ً‫ي‬ ْ‫ ض‬ٝ ّ ‫ ع ُيذِف ج‬٠َُ ُٖ‫ج‬ َّ ‫د‬ َّْ َ‫َّ ش ِ ش أ‬ ّ ‫ج‬ٞٓ ِ ٚٝ ٕ ِ ‫ه‬ َ َ َّ َ‫لّ ذِحأل‬ َِّ ٍ َِّ ‫ي‬ ُ ًْ ِّ‫ك‬ ‫م‬ Diharamkan bagimu bangkai. maka tidak ada dosa baginya. daging babi. (HR. Muslim 279. Lc 96 3. yang ditanduk. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim disebutkan salahsatunya dengan tanah". (HR. yang terpukul. 90) َ ِ ‫ٌخ ٔ ئ‬ ٍ َّ َٕ‫ٌ أ‬ ََّ ٍْٞ َّ َِّ َ‫ٍ أ‬ٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ َ ‫ هَح‬: ‫يج‬ ِ‫ ٕ ع ّللا‬٢‫ذ‬ ِ s ‫ ٕ ع‬ٙ َّ َ ُ‫ خ ج‬٢‫ك‬ َّْ ٌ َ َِّ ِٕ‫ء ئ‬ َِّ ‫و أَـ ج‬ َِّ َّ ُ ًْ ٢ِْ َ‫ٍُِ ؽ ك‬ ٙ ِ ‫ج ع خ‬.‫ ٓطلن‬ٚ٤ِ‫ ػ‬. darah. yang disembelih atas nama selain Allah.2.Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lc Fiqih Thaharah 97 menginginkannya dan tidak melampaui batas. dan diterkam binatang buas. dan binatang yang disebut selain Allah . Su’ru Anjing dan Babi Anjing dan babi adalah hewan yang najis bahkan termasuk najsi mughallazhah atau najis yang berat.

Sebab dagingnya pun najis. maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Al-Maidah : 3) ْ ْ ُ َ‫ل‬ َ‫ه‬ َّ َّ ‫ؼ‬ َّ ‫ ع ج ّ ٌ ٓف‬٠َُ َّ ْ‫ػ‬ ّ ٙ ِ ُ ٢َُِ‫ئ‬ ِ ‫َح‬٠ ١ ‫غ‬٠ ِ َ‫ و أ‬٢ِ‫ ج ّ ك‬٢‫ق‬ٝ‫أ‬ ‫ٕ ئِل‬ َّ َّْ َ‫أ‬ ١ َّ ُ ًٕٞ ََّ ّ ١ ‫َّ ش‬ ‫ ز‬َٝ‫ـ ِ ّ ج ّ و أ‬ٞ‫ ج ُك‬َٝ‫نٖ ّ َُف أ‬ ٍ٣َ ٙ ِ َّ ِ ِٕ‫كَا‬ ‫ٌؼ‬ ِ َٝ‫هح كِّ أ‬ ِ َ‫َّ ع ل‬ َ ٌ ‫جؽ خ‬ َٛ َّ َّ َّ َّ َِّ ٜ‫َّ ج‬ ُ ٍ٠ ٢‫ؿ‬ َّ ٝ َّ ‫َّ جو‬ ِٕ‫كَا‬ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ ٌ ِ ٚ ِ ِ‫ٕ كَْ ذ‬ ِ ‫ّللا‬ َ ٌ ٌ ‫ ى خ‬ٞ‫ؽُك‬ ٌ ٢‫ق‬ ّ ِ Katakanlah: `Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku. Sebaigan ulama mengatakan najis dan sebagian ulama lainnya mengatakan tidak najis. darah. daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Su’ru Kucing Hukum kucing itu sendiri berbeda-beda dalam pandangan ulama. tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas. Dan mengundi nasib dengan anak panah. yaitu ketentuan bahwa semua yang dagingnya najis maka ludahnya pun najis. Dalil yang menyebutkan tidak najisnya ludah kucing itu adalah hadits berikut ini : ّ . Namun meski demikian. An-Nahl : 115) 3. Lc 98 Penyayang`. maka ketentuan umum itu menjadi tidak berlaku. At-Thahawi mengatakan bahwa kucing itu najis karena dagingnya najis bagi kita. maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan karena itu pula maka ludahnya atau sisa minumnya pun hukumnya najis. kecuali kalau makanan itu bangkai. sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas.(QS. Al-A`nam : 145) ْ ١ ‫زَ ش‬ ْ ّ ٝ ‫ّ َُف‬ ِٕ‫ ع ّ ٌ ـ ج ّ ئ‬٢َُ َّ ُ ‫جُْ ّ ى‬ َّ ٝ ‫جُى‬ ْ ٍ٣ ‫جُم‬ َّ َّ ٛ َّ َّ ِ ‫ ُِؾ ُأ‬١ ٌ ِّ ِ ٍ‫ض‬ ِ ٝ ّ ‫َآ‬ ِ ‫ّللا‬ َ ٌ ٌ ٢‫ق‬ َ‫َّ ع ل‬ َ ٌ ‫َّ خ‬ َّ ٚ َِّ ٜ‫َّ ج‬ ُ ٍ٠ ٢‫ؿ‬ ‫ جؽ‬ٝ َّ ‫ٕ جو‬ َّ ِ ‫ّللا كَا‬ َّّ ٞ‫ؽُك‬ ِ ِ‫ٕ كَْ ذ‬ ِ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa. sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.3.yang sempat kamu menyembelihnya. Minimal khusus untuk kucing.(QS. dan yang disembelih untuk berhala. adalah kefasikan .(QS. karena ada dalil yang secara khusus menyebutkan bahwa sisa minum kucing itu tidak najis.

Ibnu Majah 367. AdDaruquthuny 173. maka ludahnya pun ikut menjadi najis. Lc Fiqih Thaharah ‫ ع‬٢َُ ُ ًْ َّ 99 Rasulullah SAW bersabda. Dalam hal ini Abu Hanifah juga sependapat bahwa kucing yang baru saja memakan tikus. An-Nasai 68. Para ulama mengatakan bahwa daging keledai dan bagal itu najis. Rasulullah SAW menajawab. Su’ru Keledai dan Bagal Bila sesekor keledai atau bagal minum dari suatu air. Al-Baihaqi 1/329). maka tidak najis. Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha’ Para fuqaha’ besar berbeda pendapat dalam masalah hukum su‟ru hewan. (HR. ٙ‫ج‬ٌٝ ‫هحٍ جُهٔٓس‬ٝ ١ًٍٓ‫ جُط‬: ‫ع‬٣‫ف قٖٓ قى‬٤‫ك‬ٚ Ahmad Sarwat.4. maka su‟runya najis. Hal ini sesuai dengan hukum su‟ru manusia yang baru saja meminum khamar. Sedangkan bila tidak langsung atau ada jeda waktu tertentu. Yang mengharamkan su‟ru kedua jenis hewan ini berdasarkan ketentuan bahwa bila daging seekor hewan itu najis.ِٕ‫ ئ‬ٙ ‫ ج‬٢َُ ِ ‫َّ ذِٖ ش‬ ّ‫ؾ‬ ِ ٞ‫ جُط‬٢ِ‫ٕ جك‬ ِ َٕ‫ ئ‬ٙ ‫ٖٓ ج‬ ٝ ٞ‫ش جُط‬ َّ ِ ‫جكَح‬. Sebab ada beberapa dalil yang saling bertentangan sehingga melahirkan khilaf di kalangan para ulama. sebab kucing itu termasuk yang berkeliaran di tengah kita".`Ya. Lc hadits ini hasan sahih 100 Sebaliknya."Kucing itu tidak najis. ada pula yang tidak menajiskannya dengan berdasarkan kepada hadits berikut ini : َٕ‫ أ‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫ ج ذْ ُأ‬: s َ ََّ ِ‫ٌ ْث‬ ‫و خ ع‬ َِّ َّ ِ‫ّللا‬ ْ َ‫ص أ‬ ٝ‫ك‬ َّ ََّ : ٕ ‫ّ ع‬ َ ُ‫ُ هَحٍ ٌ ج‬ ِ َ ُ ْ‫ك‬ ْٞ َّ ُ ٍ َّ ِ‫ّللا‬ ‫ٕ ع‬ ‫َّ ؼ‬ ٍ َِّ ِ ِ‫ٕ خ جذ‬ ‫َّ ع‬ ُ ًِٚ ‫ج‬ Dari Jabir ra dari Rasulullah SAW bahwa beliau ditanya. 4.`Bolehkah kami berwudhu denga air bekas minum keledai?. Diantaranya adalah ْ َ‫َّ أ‬ ٝ ِْ‫ ج ذ‬ٝ‫ك‬ ‫ص‬ ِ َُ ُّ‫ج خ ج‬ . boleh. 3. Ahmad 5/303)53. Alasannya adalah bahwa kucing itu sering menelan atau memakan tikus yang tentu saja mengakibatkan su‟runya saat itu menjadi najis. maka ludahnya saat itu menjadi najis. At-Tirmizy 92. (HR. Abu Daud 75. Sedangkan Al-Kharkhi dan Abu Yusuf mengatakan bahwa su‟ru kucing itu hukumnya makruh. maka kesimpulannya mereka yang menajiskan su‟ru kedua hewan ini adalah najis. 53 At-Tirmizy mengatakan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. maka sisa air itu hukumnya masykuk (diragukan) antara halal atau tidak halal untuk digunakan wudhu’ dan mandi.`.

supaya kamu bersyukur. Sebab beliau berpendapat bahwa untuk menajiskan su‟ru itu harus ada dalil yang kuat dan sharih. Al-Imam Malik justru mengatakan bahwa hukum su‟ru semua jenis hewan itu halal. Pengertian secara bahasa kata istinja‟ ( ‫ ) اسىتجاء‬yang berasal dari bahasa Arab ini bermakna : menghilangkan kotoran. Sebab Allah SWT telah berfirman dalam AlQuran Al-Kariem : ّ ‫ ج‬١ٍ٣ ‫َّ و‬ َُ‫ ج‬ٙ ٢ُِ ‫ٍ ع ؼ‬ ََّ ‫ ع‬٢َُ ِ ‫ٍو‬ َِّ َٚ‫ط‬٣ ٌ َّ ُ ًْ ٝ ٍ َِّ ِْ‫ط‬٣ ‫ ش ّ ِٗغ‬ٙ ‫ ع‬٢َُ َّ ُ ًْ ‫َّ َُغ‬ ٍ َّ ُ ًْ ٝ ّ ‫ٍ ع ؼج‬ ََّ ‫ ع‬٢َُ ُ ًْ ٖٓ َّ ‫ ؼ‬ٝ ٌٖ ِ ‫َّ ٌ ـ‬ ِ َُ ١ٍ٣ ِ Allah tidak hendak menyulitkan kamu. Dalil yang digunakan oleh mazhab beliau adalah bahwa pada dasarnya Islam tidak memberatkan para pemeluknya. Al-Maidah : 6) Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Al-Hajj : 78) ُ ًْ ٢ِ‫َّ جُى ك‬ َّ ٖ٣ ‫ؼ‬ ِ ‫َّ ٌ ـ‬ ِ ٖٓ Bab 5 Istinja’ 1.pendapat berikut ini : a. tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu. b. . Ahmad Sarwat. tidak bisa sekedar mengikuti dagingnya yang bila dagingnya halal lalu ludahnya ikut halal atau bila dagingnya haram ludahnya ikut haram. Imam Abu Hanifah : Pendapat beliau terhadap masalah su‟ru hewan ini terbagi menjadi empat besar sesuai dengan jenis hewan tersebut. Lc Fiqih Thaharah 101 Buat beliau kaidah seperti ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengharamkan atau menghalalkan sesuatu. Al-Imam Malik Sebaliknya. (QS. Sebagaimana yang sudah kami bahas di atas. Al-Imam Asy-Syafi`i Beliau berpendapat bahwa semua jenis su‟ru hewan itu halal dan hanya su‟ru anjing dan babi saja yang haram. c. (QS. Tidak pandang apakah hewan itu najis atau tidak. Kecuali bila benar-benar sharih dan kuat dalilnya berdasarkan Al-Quran Al-Kariem dan sunnah.

(‫استبراء‬ Istijmar adalah menghilangkan sisa buang air dengan menggunakan batu atau benda-benda yang semisalnya. Lc 104 Selain istilah istinja' ada dua istilah lain yang mirip dan terkait erat. 2. Ahmad.1. kata istinja' ini punya beberapa makna. Wajib Mereka berpendapat bahwa istinja‟ itu hukumnya wajib ketika ada sebabnya."Bila Ahmad Sarwat. Lc Fiqih Thaharah 105 kamu pergi ke tempat buang air. Hukum Istinja’ Para ulama berbeda pendapat tentang hukum istinja‟ menjadi dua hukum. 2. antara lain : menghilangkan najis dengan air. Abu Daud. AdDaaruquthuni)٤٥. AsySyafi`iyah dan Al-Hanabilah. Pendapat ini didukung oleh Al-Malikiyah. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Nasai.(HR. yaitu istijmar ( ‫ ) استجمار‬dan istibra' ( .Sedangkan secara istilah ilmu fiqih. ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ ٍُ‫ٕ خ ٕ ّ ـ ج‬ َِّ ١ ‫ى‬٣َ ََّ ‫ هَح‬: ٢ِ‫ٍ ه‬ ََّ ُِّ ُْْ ٕ‫ ج‬: ‫ُْ ع‬ ِ ٍ ٕ ٢ِ‫َّ ذ‬ ُ ًْ ُ ًْ َّ . maka bawalah tiga batu untuk membersihkan. menghilangkan najis yang keluar dari qubul (kemaluan) dan dubur (pantat). menguranginya dengan semacam batu. Sedangkan dalil yang mereka gunakan adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini : َ ِ ‫ ئ‬ٙ‫ي‬ َ ‫ خ‬s ‫زَ جتِٕ ع ٕ ع‬ ٍ َّ َّ ٢ٌٞ ‫ح ّللا‬ٜ٘‫ٍ إٔ ػ‬ٌْٞ ‫ّللا‬ َ ‫ هَح‬: ‫يج‬ َ ِ‫ جت‬٢ِْ َ‫د ش ِ ك‬٠ ‫أَـ‬ ‫َّ و‬ ُ ًْ ٠ ََّ ُِ‫ جُؾ ئ‬١ َّ َّ ٌ‫ كَإِ ج‬ٙ ‫ج‬ ِ ‫س‬ ِ َ‫َّ ؼ أَـ ذِػَالَغ‬ ‫ ضؽ‬١َ ٙ. Hadits ini bentuknya amr atau perintah dan konsekuensinya adalah kewajiban. penggunaan air atau batu. ِ ‫ٕ ع‬ ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ أقٔى‬٢‫جُ٘ٓحت‬ٝ ٞ‫أذ‬ٝ ‫و‬ٝ‫ وج‬٢٘‫جُىجٌهط‬ٝ Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Sedangkan istibra` bermakna menghabiskan sisa kotoran atau air kencing hingga yakin sudah benarbenar keluar semua. Dan cukuplah batu itu untuk membersihkan. Dan sebabnya adalah adanya sesuatu yang keluar dari tubuh lewat dua lubang (anus atau kemaluan).

sedangkan yang istinja` itu hanyalah yang terakhir saja. Dan beristinja' dengan tahi atau tulang. Abu Daud dan Tirmizy) 2.َّ َّ ُ ًَ ٔ ١ َّ ‫ ش ـ ء‬ٟ ٍ‫ه‬ ََّ ‫ جٕ ُْْ ِ كَوَح‬: ‫ٍ أَؼ‬ َّْ ٕ ٙ ٕ‫ٕ ج ج‬ َّْ َ‫أ‬ ِ ُ‫ءز ج‬ َ ‫ٍج‬ ْ ٕ ‫َ ْص‬ ََّ ِ‫هر‬ ‫سَ جُوِد‬ َّ َُ ‫َّ ذِؾ‬ ١ِ‫ جت‬َٝ‫ خ أ‬ٝ َّ ٍ َٝ‫ٕ أ‬ َّْ َ‫ ٕ ش ِ ٕ أ‬٢‫ؾ‬ َّْ َ‫أ‬ ِ َٝ‫ٕ أ‬ ِ ٢ُ‫ٖ ذِح‬٤ٓ ١ ِ ‫ ٕ ش‬٢‫ؾ‬ ِ َ َ َ ‫أـ‬ ٕ‫َ ج و‬ َِّّ ‫ٖٓ ذِأه‬ َّ َ‫َّ ؼ أَـ غَالَغ‬ ٌ‫ ج‬َٝ‫ٕ أ‬ َّْ َ‫ أ‬١ ِ ‫ ٕ ش‬٢‫ؾ‬ ‫ع‬ ِ َ‫س‬ ِ ٍِ‫ ذ‬٢‫ؾ‬ ِ َّ َ ٝ‫َّ ذِغ أ‬ َْ‫ ظ‬. (HR. Sehingga istinja‟ dalam mazhab . Lc isnadnya shahih 106 Dasar yang digunakan Al-Imam Abu Hanifah dalam masalah kesunnahan istinja‟ ini adalah hadits berikut : Siapa yang beristijmar maka ganjilkanlah bilangannya. Juga melarang istinja' dengan tangan kanan dan istinja dengan batu yang jumlahnya kurang dari tiba buah. najis yang sedikit itu dimaafkan. janabah dan bila najis keluar dari lubangnya dan melebihi besarnya lubang keluarnya. 54 Ad-Daruruquthuni mengatakan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. yaitu najis yang besarnya sebesar lubang keluarnya najis."Nabimu telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu". Ibnu Najim mengatakan bahwa yang empat itu bukan istinja‟ melainkan menghilangkan hadats. Di dalam kitab Sirajul Wahhab milik kalangan mazhab Al-Hanafiyah. (HR. Dan menurut mazhab beliau. Selain itu beliau berpendapat bahwa najis yang ada karena sisa buang air itu termasuk najis yang sedikit. Siapa yang melakukannya maka telah berbuat ihsan. beliau telah melarang kita untuk menghadap kiblat ketika berak atau kencing."Benar. Yang penting najis bekas buang air itu sudah bisa dihilangkan meskipun dengan batu atau dengan ber-istijmar. Maksudnya adalah beristinja‟ dengan menggunakan air itu hukumnya bukan wajib tetapi sunnah. nifas. ٙ‫ج‬ٌٝ ِْٓٓ ٞ‫أذ‬ٝ ‫و‬ٝ‫ وج‬١ًٍٓ‫جُط‬ٝ Dari Abdirrahman bin Yazid ra berkata bahwa telah dikatakan kepada Salman. Muslim. Abu Daud). Salman berkata. Dan itu hukumnya sunnah. Namun bila tidak maka tidak ada keberatan.2. Sunnah Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan sebagian riwayat dari Al-Malikiyah. Sedangkan yang hukumnya sunnah adalah bila najis keluar dari lubangnya namun besarnya tidak melebihi besar lubang itu. Mengomentari hal ini. istinja‟ itu ada 5 macam. 4 diantaranya wajib dan 1 diantaranya sunnah. Yang 4 itu adalah istinja‟ dari haidh.

agar tidak terlihat orang lain."Bila kamu kencing maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : "Bila kamu buang air hendaklah beristitar (menutup tabir). Praktek Istinja’ dan adabnya Mulai dengan mengambil air dengan tangan kiri dan mencuci kemaluan. Juga nama yang diagungkan seperti nama para malaikat. yaitu pada lubang tempat keluarnya air kencing. Lc 108 c. Muttafaq 'alaihi). Tangan Kiri Disunnahkan dalam beristinja' menggunakan tangan kiri. Atau seluruh kemaluan bila Ahmad Sarwat. Istitar Maksudnya adalah memakai tabir atau penghalang. Di zaman kita sekarang ini tentu bertabir atau berpenghalang ini sudah terpenuhi dengan masuk ke dalam kamar mandi yang tertutup pintunya. Sebab di cincin itu terukir kata "Muhammad Rasulullah" yang mengandung lafdzul Jalalah atau nama Allah SWT . Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : َْ ‫ْ ل‬٣ ٌٖ ‫َّ و‬ ُ ًْ s ‫ ٕ ع‬٢ِ‫زَ جو هَص أَذ‬ َّ ٍ ََّ ‫هَح‬: ٍ ََّ ‫ٌ هَح‬ ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ ‫أَـ‬ ِ َ َ َ‫ي‬ ًٍ ٙ ٢ِ‫ ذ‬ٚ َّ ٞٛ ١ ٞ‫َّ ذ‬ ُ ٍ ٝ ‫ ل‬١ ْ‫ٖٓ ـ ِ ض‬ َِّ َ‫ل‬ ِ ِ٘٤ٓ ِ ٝ ِ ‫ء جَ ُْم‬ ٢ِ‫ ذ‬ٚ َّ ِ ِ٘٤ٓ ِ ٝ ‫ ل‬١ ٖ‫كّ ض‬ ٢ِ‫إلٕ ك‬ َِّ ‫ف ٓص ج‬ ََّ ‫ ع م‬٢َُ ٙ َّ َّْ ُِ‫َّ ج‬ ُ‫ٍظ‬ َِّ ّٓ ُِْ ِ ٝ ‫ق‬ ِ َ‫ء ج‬ Dari Abi Qatadah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Atau nama nabi SAW. Abu Daud dan Ibnu Majah) Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.(HR. Dan jangan minum dengan sekali nafas". َ ِ‫َّ ل و ئ‬ َ ٌ ‫يج‬ ٍ ََّ ‫ ل‬s ‫ِ إَٔ ٕ ع‬ َّ َِّ ّ ‫ي‬ َّ ُِ‫ٍ ج‬ ََّ ‫هَح‬: ٕ‫ح‬ ََّ ً َ ‫ء جَ ُْم‬ ِ ‫ٕ خ‬ ٝ ٜ ‫ّ جش ل ع‬ ٙ Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ َ . beliau melepas cincinnya. Kemudian mencuci dubur dan disirami dengan air dengan mengosok-gosoknya dengan tangan kiri. Tidak Membaca Allah Tidak membaca tulisan yang mengandung nama Allah SWT. Lc Fiqih Thaharah 107 sehabis keluar mazi. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bila masuk ke tempat buang hajat.(HR. Bila buang air besar jangan cebok dengan tangan kanan.Al-Hanafiyah hukumnya sunnah. Dengan istinja' dengan tangan kanan hukumnya makruh. Bila tidak ada tabir maka menghadaplah ke belakang. b. Sedangkan yang termasuk adabadab istinja’ antara lain : a. 3.

Tempat buang air di masa lalu bukan berbentuk kamar mandi yang tertutup melainkan tempat terbuka yang sepi tidak dilalui orang-orang. Dasarnya adalah hadits berikut ini. (HR."Janganlah menghadap kiblat saat kencing atau buang hajat. Lc 110 dengan menggunakan kaki kiri. d."Bila kamu mendatangi tempat buang air.masuk ke WC meletakkan cincinnya. tidak dilarang bila sampai menghadap kiblat atau membelakanginya. Namun aku melihatnya setahun sebelum kematiannya menghadap kiblat. e. Lc Fiqih Thaharah ‫ٕ ع ّللا‬ َّ ‫ج‬ٞ‫ذ‬ ْ ‫سَ جَ ُْوِد‬ ٙ ‫ج ش ِ ش ل‬ُُٞ‫د‬ َّ َُ ‫َّ ذِؾ‬ ١ِ‫جت‬ ِ ‫ه‬ 109 ٝ ٌٖ ِ َُ ٔ ٌ ‫ج‬ٞ‫ ُه‬َٝ‫أ‬ َ ٍ‫ؿ‬ Dari Abu Ayyub radhiyallahu „anhu. Sab’ah) Posisi kiblat di Madinah adalah menghadap ke Selatan. sedangkan membelakangi kiblat berarti menghadap ke Utara. Kaki Kiri dan Kanan Disunnahkan untuk masuk ke tempat buang air Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW. Tidak Menghadap Kiblat. Bukhari dan Muslim) ٖ‫ ػ‬٢ِ‫ أذ‬١َ‫خ أ‬ٝ ٌ ٢ٞ ِ ٝ ‫ خ ل‬ٝ َّ ٍ Ahmad Sarwat. janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya. . Kemungkinan saat itu beliau SAW buang air di ruang yang tertutup yang khusus dibuat untuk buang air. Sedangkan bila tempatnya tertutup seperti kamar mandi di zaman kita sekarang ini. Dari Jabir ra berkata bahwa Nabi SAW melarang kita menghadap kiblat saat kencing. (HR. tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat" (HR. Sedangkan menghadap ke Barat dan Timur. Sedangkan ketika keluar dengan menggunakan kaki kanan. f. "(HR.Tirmizy). artinya tidak menghadap kiblat dan juga tidak membelakanginya. Arba'ah) Namun hadits ini dianggap ma'lul oleh sebagian ulama. Istibra` Istibra` adalah menghabiskan sisa kotoran atau air kencing hingga yakin sudah benar-benar keluar semua. َ ِ‫أَـ َُّ ؼ ئ‬ ٍ َّ ‫َّ و‬ ُ ًْ s ‫ٌ ٕ ع‬ َِّ ٍْٞ ‫ ٕ ع ّللا‬٢‫ذ‬ َِّ َ‫أ‬ َ ‫ هَح‬: ‫يج‬ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ْ َّ َ‫ ل‬١ ِ ‫َّ و ش‬ ‫ جؼ ُِف‬ٚ َّ َّ َ‫ ك‬١ ِ ‫د ش‬ َّ ُ ٍ ‫سَ جُوِد‬ َّ َُ ٝ َّ ‫خ‬ ِ ِ‫الَ ض‬ ِ ‫ه‬ ِ ٌٙ ‫ ج‬ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ِْٓٓ أقٔى‬ٝ Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.

Karena sesunguhnya Allah murka akan hal itu. (HR. aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki dan syetan perempuan. َّ ِ‫ق‬ ١ ّ ‫ ع ش ُم‬٠َُ Ahmad Sarwat. Tidak Sambil Berbicara Berbicara ketika buang air adalah hal yang dilarang atau dimakruhkan. karena itu .”ghufranak”. Siapa yang melaksanakannya maka dia telah berbuat ihsan dan siapa yang tidak melakukannya tidak ada masalah`.Serta disunnahkan ketika masuk membaca doa : َ ِ‫ ئ‬s ‫ِ إَٔ ٕ ع‬ َ ٌ ‫يج‬ َّ َِّ ّ ‫ي‬ َّ ُِ‫ ٌ ج‬٢ٞ َّ ‫ٕ ع‬ ‫ّللا‬ ٍٙ ََّ ‫حٕ هَح‬ ََّ ً ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ ِ َ ِ ‫ٕ خ‬ ‫ٍ ل و‬ ََّ ‫ء جَ ُْم‬ ََّ َ‫ٍ ل‬ ََّ ‫هَح‬: "َّ ََُ‫ْ ج‬ٛ ِٕ‫ ئ‬١ َ‫أ‬ َّ ‫ي‬ٞ‫ٖٓ ذِي ػ‬ َّْ َ‫ع ج‬ َّ ِ ٍ ِ ‫نر‬ ْ ‫ع‬ ٝ ‫جُم‬ َّ ِ ِ‫"ذحت‬ َ ‫ؼ ٌ أل‬ ٙ َُّ‫ز ع خ ج‬ Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bila masuk ke tempat buang hajat. Istijmar Istijmar sebagaimana disebutkan di muka. Khamsah) g. Abu Daud. Ibju Majah.”Dengan nama Allah. Ahmad. Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. arinya adalah beristinja’ bukan dengan air tapi dengan menggunakan batu atau benda lain selain air sering disebut dengan istijmar. (HR. Apalagi ngobrol dengan sesama orang yang sedang buang air. Lc Fiqih Thaharah ْٞ 111 َ ‫يُِي‬ Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. 4. Dasar larangannya adalah hadits berikut ini : َ ِ‫ ؽ ش ئ‬ٝ َ٠ ‫يج‬ َّ ٍَُ‫ج‬ َِّ َ‫ ؾال‬٢ِْ َ‫ ك‬ٞ‫ جٌ ض‬s ٝ ‫ٍ ؼ ٕ ع‬ ٕ َّ ِ‫ٍ جذ‬ ََّ ‫ هَح‬:ٍ ََّ ‫ٌ هَح‬ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ َّ ِ َ ُ َّ َّ ًَ ٝ َّ ‫قى‬ ْٛ ‫ ٘ ٕ ع ج‬ٚ َّ ِٕ‫ّللا كَا‬ َّ َ ِ ‫ٖٓ ج‬ ِ ِ‫ر‬ ِ ‫ ج‬ٝ ‫ ل‬١ ‫غَح و ضف‬. Ada tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air. Baihaqi dan Ibnu Hibban). `Bila seorang kamu datang ke WC maka bawalah tiga buah batu."Bila dua orang diantara kamu buang air. `Siapa yang beristijmar (bersuci dengan batu) maka hendaklah berwitir (menggunakan batu sebanyak bilangan ganjil). hendaklah saling membelakangi dan jangan berbicara. Dasarnya adalah hadits Rasulullah SAW : Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. beliau mengucap. Sab‟ah) Ketika keluar disunnahkan untuk membaca lafaz : َ ِ ‫ٖٓ ؼ ٌ ل ئ‬ َ ‫يج‬ ٕ‫ح‬ َّ ‫ ٌ ز‬٢ٞ ََُ‫ ج‬ٙ ‫ ٕ ع‬ٙ ‫َّ ج‬ َّ َٕ‫أ‬ َ ً ِ s ‫ََّ جتِٕ ع ٕ ع‬ ِ َُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ْ ‫ؼ ٌ أَل " ى جٕ ؿ‬ ‫ جَ ُْؾ‬١ َِّ ِ‫ٍ جت‬ ََّ ‫هَح‬: " َّ ُ ٍ‫ل‬ ٙ ‫ُز ِ ّ جَ ُْم‬ Dari Aisyah radhiyallahu „anha bahwa Nabi SAW bila keluar dari tempat buang hajat berkata. (HR.

Sedangkan selain batu. makanan atau roti. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. (HR. Lc Fiqih Thaharah 113 lainnya selain air seperti air mawar atau cuka. lima dan seterusnya. mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa jumlah tiga batu itu bukan kewajiban tetapi hanya mustahab (sunnah). Namun para ulama mengatakan bahwa sebaiknya . Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu. 2.sudah cukup untuk menggantikannya`. maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan untuk istijmar. Tidak boleh juga menggunakan tulang. para ulama sedirkit berbeda pendapat. Benda itu harus suci. paku. kawat. Benda itu tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik. 7. kerena merupakan penghinaan. Bila mengacu kepada ketentuan para ulama. Jumhur ulama mensyaratkan harus benda yang padat bukan benda cair. debu atau pasir. Lc 112 Pertama. Benda itu bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas. abu. karena tujuannya agar bisa menghilangkan najis. yang bisa digunakan adalah semua benda yang memang memenuhi ketentuan dan tidak keluar dari batas yang disebutkan : 1. (HR. perak atau permata. Bila tiga kali masih belum bersih. Baihaqi dan Syafi`i) `Janganlah salah seorang kamu beristinja‟ kecuali dengan tiga buah batu`. karena tindakan itu merupakan pemborosan. maka harus diteruskan menjadi empat. logam yang tajam. Muslim) Tentang ketentuan apakah memang mutlak harus tiga batu atau tidak. Benda itu bisa untuk membersihkan bekas najis. Dan bila tidak sampai tiga kali sudah bersih maka sudah cukup. Sedangkan mazhab Asy-Syafi`iyyah dan AlHanabilah mengatakan tetap diwajibkan untuk menggunakan batu tiga kali dan harus suci dan bersih. 4. Abu Daud. 5. Namun ulama AlHanafiyah membolehkan dengan benda cair Ahmad Sarwat. 3. Bendai itu bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang. sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi / kotoran binatang tidak diperkenankan. Benda itu tidak melukai manusia seperti potongan kaca beling. 6.

antara lain : Al-Hanafiyah mendefiniskan pengertian wudhu Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. .57 Hanabilah mendefinisaknnya sebagai : ‫ء‬ُٞٞٞ‫ ج‬: ٍ‫ٌ ٓحء جْطؼٔح‬ٜٞ٠ ٢‫حء ك‬ٟ‫( أٌذؼس أػ‬٢ٛٝ ٚ‫ؾ‬ُٞ‫ج‬ ٕ‫ىج‬٤ُ‫ج‬ٝ ِ‫جٍُأ‬ٝ ٕ‫جٍُؾال‬ٝ) ٠ِ‫لس ػ‬ٚ ‫س‬ٚٞٛ‫ ٓه‬٢‫ذإٔ جٍُٗع ك‬ ٢‫أض‬٣ ‫ ٓغ ٍٓضرس ج‬٢‫ ذحه‬ٍٜٝ‫جُل‬ Wudhu' adalah : penggunaan air yang suci pada keempat anggota tubuh yaitu wajah. Dan juga sekaligus bermakna an-andzafah ( ‫) جُ٘ظحكس‬. Agar istinja‟ itu menjadi sempurna dan bersih. yaitu kebersihan. kepala dan kedua kaki. yang dilakukan secara berurutan dengan sisa furudh. dengan tata cara tertentu 55 Al-Ikhtiar jilid 1 halaman 7 wal hasyiatu alaihi jilid 1 halaman 104 57 Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 47 56 Asy-Syarhushshaghir Ahmad Sarwat. dengan tata cara tertentu. Lc 116 sebagai ‫ء‬ُٞٞٞ‫ ج‬: َٓ‫جُٔٓف جُـ‬ٝ ٠ِ‫حء ػ‬ٟ‫س أػ‬ٚٞٛ‫ٓه‬ Wudhu adalah : membasuh dan menyapu dengan air pada anggota badan tertentu. Sementara menurut istilah fiqih.selain batu atau benda yang memenuhi kriteria. Bab 6 Wudhu` 1.55 Al-Malikiyah mendefinisikannya sebagai : ‫ء‬ُٞٞٞ‫ ج‬: ‫حٌز‬ٜ٠ ‫س‬٤‫حء ضطؼِن ٓحت‬ٟ‫س ذأػ‬ٚٞٛ‫ ٓه‬-٢ٛٝ ‫ء‬ٝ‫أػ‬ ‫أٌذؼس‬. 56 Asy-Syafi'iyah mendefiniskannya sebagai : ‫ء‬ُٞٞٞ‫ ج‬: ٍ‫ جُٔحء جْطؼٔح‬٢‫حء ك‬ٟ‫س أػ‬ٚٞٛ‫س ٓلططكح ٓه‬٤ُ٘‫ذح‬ Wudhu' adalah penggunaan air pada anggota badan tertentu dimulai dengan niat.٠ِ‫ ػ‬ٚ‫ؾ‬ٝ ٘ٞٛ‫ٓه‬ Wudhu' adalah thaharah dengan menggunakan air yang mencakup anggota badan tertentu. para ulama mazhab mendefinisikan wudhu menjadi beberapa pengertian. kedua tangan. yaitu kebaikan.58 Sedangkan kata wadhuu' ( ‫ء‬ٞٞٞ َ ُ‫ ) ج‬bermakna air yang digunakan untuk berwudhu'. yaitu empat anggota badan. gunakan juga air. Lc Fiqih Thaharah 117 seusai dengan syariah. Pengertian Kata wudhu' ( ‫ء‬ُٞٞٞ‫ ) ج‬dalam bahasa Arab berasal dari kata al-wadha'ah ( ‫ءز‬ َ ٞ َ ‫ح‬ٞ َ ُ‫ ) ج‬yang bermakna alhasan ( ٖٓ‫) جُك‬.

Sunnah An-nabawiyah dan juga ijma' para ulama. Al-Maidah : 6) Sedangkan dari As-Sunnah An-Nabawiyah. maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. (QS. melainkan sebuah pola ibadah yang telah ditetapkan tata aturannya lewat wahyu dari langit dari Allah SWT.. . Bukan sekedar bertujuan untuk membersihkan secara fisik atas kotoran.Wudhu' adalah sebuah ibadah ritual untuk mensucikan diri dari hadats kecil dengan menggunakan media air. ١ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ٖ ج‬٣ً ِ ُ‫ج‬ ُ ًْ َّ 58 Kasysyaf ّ‫آ‬ ْ ‫يج‬ َ ِ‫ُهْ ئ‬ ‫ج‬ٞٗ َّ ْ ُّ ْ ‫كح‬ ْ‫ ض‬٠َُِ‫ ئ‬ُٙ‫َّ ج‬ ‫ز‬ َّ ِ ‫ج ل‬ُٞ ِ ‫ؿ‬ ْ ‫خ‬ ‫ج‬ٞ‫ق‬ َّ َّ ِ ٌ ٝ ٙٞ‫ؾ‬ Al-Qinna jilid 1 halaman 82 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. dan sebelumnya dia mengajarkan tata cara wudhu terlebih dahulu. salah satu yang jadi landasan masyruiyah wudhu adalah hadits berikut ini : َ‫ ل‬ٝ ٞٞ ‫ء‬ ٍ َّ َّ ٘ َ‫ز‬ ََّ‫َُُْ ٕ ل‬ ََّ ٍ ََّ ٙ ٝ َ‫ل‬ َّ s ‫ ٕ ع‬٢‫ذ‬ َِّ َ‫أ‬ َ ‫ هَح‬: َ‫ل‬ ِ َّ ٍٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ‫ٕ ع‬ َِّ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ٝ ٞٞ ‫ء‬ ََّ ٕ َُُْ َّ ١ ‫ي‬ َّْ ُ َّ ًٍ ِ‫ّللاِ ّ ج‬ َّ ‫ ع‬٢َُ ٙ َّ ِ . apabila kamu hendak mengerjakan shalat. dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki. jauh sebelum masa isra' miraj ke langit.. Malaikat Jibril alaihissalam mengajarkan Nabi SAW gerakan shalat. Lc 118 ْ ٌ ‫ن‬ ٝ ١َ‫ أ‬١‫و‬ ُ ًْ ٠َُِ‫جُْ ئ‬ َّ ِ َّ ِ ِ‫ جك‬ٝ ّ‫ِ ج‬ ٝ ٌَ‫أ‬ ََّ َّ َ‫ؾ‬ ُ ًْ ٠َُِ‫ئ‬ ْ ‫ٖ خ‬٣ َ ُ‫ج‬ ‫ٌغ‬ ِٝ‫ؤ‬ َّ ُ ًْ َّ ِ Hai orang-orang yang beriman. 2."Tidak ada shalat kecuali dengan wudhu'. Kewajiban wudhu' didasarkan pada Al-Quran AlKariem. Abu Daud dan Ibnu Majah) Dan para ulama seluruhnya telah berijma' atas disyariatkannya wudhu buat orang yang akan mengerjakan shalat bilamana dia berhadats. Masyru'iyah Wudhu sudah disyariatkan sejak awal mula turunnya Islam. Yaitu dengan cara membasuh atau mengusap beberapa bagian anggota tubuh menggunakan air sambil berniat di dalam hati dan dilakukan sebagai sebuah ritual khas atau peribadatan. (HR. ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ أقٔى‬ٞ‫أذ‬ٝ ‫و‬ٝ‫جذٖ وج‬ٝ ِ َ‫ل‬ ٚ‫ٓحؾ‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda. Ahmad. bersamaan waktunya dengan diwajibkannya shalat di Mekkah. Dan tidak ada wudhu' bagi yang tidak menyebut nama Allah.

Bukhari dan Muslim) Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Melakukan Shalat Untuk melakukan shalat diwajibkan berwudhu'. Menyentuh Mushaf Jumhur ulama umumnya menyatakan bahwa diharamkan menyentuh mushaf Al-Quran bila seseorang dalam keadaan hadats kecil. Fardhu / Wajib Hukum wudhu` menjadi fardhu atau wajib Ahmad Sarwat. Al-Maidah : 6) Juga hadits Rasulullah SAW berikut ini : ٍ َّ َّ ٘ َ ‫ هَح‬: َ‫ل‬ ٍٛ ١ ٌ ٝ ٞٞ ٚ‫ٓحؾ‬ َ‫ز‬ ََّ‫َُُْ ٕ ل‬ ‫ ل‬ٝ ٞٞ ‫ء‬ ََّ ٍ ََّ ٙ ٝ َ‫ل‬ َّ s ‫ ٕ ع‬٢‫ذ‬ َِّ َ‫أ‬ ِ ََّ َ‫ز‬ َّ ‫ٕ ع‬ َِّ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ َ‫ ل‬١ ‫ي‬ ََّ ٕ َُُْ ‫ء‬ َّْ ُ َّ ًٍ ِ‫َّ ّ ج‬ ‫ّللا‬ َّ ِ ‫ ع‬٢َُ ٙ ِ .1. Hukum Wudhu Hukum wudhu` bisa wajib dan bisa sunnah. Abu Daud dan Ibnu Majah) Shalat kalian tidak akan diterima tanpa kesucian (berwudhu`) (HR. 3. maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. tergantung konteks untuk apa kita berwudhu`. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. baik untuk shalat wajib maupun shalat sunnah. (HR. Sedangkan Al-Hanafiyah meski mengharamkan sentuhan langsung. Dalilnya adalah ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini : ْ ‫يج‬ ْ ُّ ْ ‫ كح‬ٝ ٙٞ‫ؾ‬ َ ِ‫ُهْ ئ‬ ١ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ٖ ج‬٣ً َّ ‫ج‬ٞٗ ْ‫ ض‬٠َُِ‫ ئ‬ُٙ‫ز ج‬ َّ َّ ِ ُ‫آّ ج‬ ِ ‫ج ل‬ُٞ ِ ‫ؿ‬ ُ ًْ َّ ْ ٌ ‫ن‬ ْ ‫خ‬ ٝ ١َ‫ أ‬١‫و‬ ُ ًْ ٠َُِ‫جُْ ئ‬ َّ َّ ‫ج‬ٞ‫ق‬ َّ َّ ُ ًْ َّ ِ َّ ِ ٌ ِٝ‫ؤ‬ ِ ِ‫ جك‬ٝ ّ‫ِ ج‬ ِ َ ٝ ٌ‫أ‬ ََّ َّ َ‫ؾ‬ ُ ًْ ٠َُِ‫ئ‬ ْ ‫ٖ خ‬٣ َ ُ‫ج‬ ‫ٌغ‬ Hai orang-orang yang beriman.. Lc Fiqih Thaharah 119 manakala seseorang akan melakukan hal-hal berikut ini : a.3. Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa haram bagi orang yang dalam keadaan hadats kecil untuk menyentuh mushaf meski pun dengan alas atau batang lidi. namun bila dengan menggunakan alas atau batang lidi. atau dalam kata lain bila tidak punya wudhu'. ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ أقٔى‬ٞ‫أذ‬ٝ ‫و‬ٝ‫جذٖ وج‬ٝ ِ َّ Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda."Tidak ada shalat kecuali dengan wudhu'. Dan tidak ada wudhu' bagi yang tidak menyebut nama Allah. Ahmad.. hukumnya . Termasuk juga di dalamnya sujud tilawah. dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Lc 120 b. (QS.

Setidaknya hadits ini ma’lul (punya cacat) 60 Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Malik). jilid 1 halaman 398 59 Malik Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.59 Keharaman menyentuh mushaf bagi orang yang berhadats kecil ini sudah menjadi ijma' para ulama yang didukung 4 mazhab utama.`Tawaf di Ka`bah itu adalah shalat. Hal itu didasari oleh hadits Rasulullah SAW yang berbunyi : Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. Pendapat senada datang dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. alas atau batang lidi itu suci tidak mengandung najis. (QS. c. namun An-Nasa’i dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits ini tersambung.2. maka bicaralah yang baik-baik. yang diharamkan menyentuh mushaf hanyalah orang yang berhadats besar. Lc 122 Hal itu didasarkan atas hadits Rasulullah SAW yang menyunnahkan setiap akan shalat untuk memperbaharui wudhu` meskipun belum batal wudhu`nya.(HR. Lc Fiqih Thaharah 121 suci”. Al-Hakim dan Tirmizy) 3. kecuali Allah telah membolehkannya untuk berbicara saat tawaf. Dalam pandangan mazhab ini. 60 Sedangkan pendapat yang mengatakan tidak haram. Dalilnya adalah hadits berikut ini : . Sunnah Sedangkan yang bersifat sunnah adalah bila akan mengerjakan hal-hal berikut ini : a.(HR. sedangkan yang berhadats kecil tidak diharamkan. Siapa yang mau bicara saat tawaf. yaitu pendapat mazhab Daud Ad-Dzahiri. Wahbah Az-Zuhaili. Al-Waqi`ah : 79) Serta hadits Rasulullah SAW berikut ini : ْ ٌ ْ‫ق‬ ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ َِّ ٢ِ‫َّ خ أَذ‬ ًٍ ٙ َّ ََُ‫ ج‬ٙ َّ َٕ‫ أ‬٢ِ‫ٌص ك‬ َّ ِ َ ‫ٕ خ‬ ِ ِ ُْ َ‫خ ج‬ ِ ‫ ج‬١ً ِ َُ‫ج‬ َ ‫ خ‬ٙ ‫ًص‬ َ‫ل‬ ٌ ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ‫ ع ّللا‬٢َُ ٙ َّ َِّ ‫َّ َ ـ‬ ّ: ٕ َّْ َ‫َّ أ‬ ِ َ ٘ ٠ُ َّ ِ ِ َُٝ ِ ُْ ‫ ّ ُِغ‬ٌٝ ِ ‫ٕ خ‬ ١ ّ ِ ٍ‫إٓ جٍَْ ُه‬ ََّ َّ ‫ ئِل‬ٙ َّ ِ ‫َح‬٠ ٌ Dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada „Amr bin Hazm tertulis : Janganlah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali orang yang Ahmad Sarwat. َ‫ ل‬١ ّ ِ َّ ٙ َّ ‫ ئِل‬َٚ‫جُٔط‬ ٌٕٝ Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci. Syaratnya. Kecuali Al-Hanafiyah. Mengulangi wudhu` untuk tiap shalat meriwayatkan hadits ini secara mursal. Ibnu Hibban. Tawaf di Seputar Ka`bah Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum berwudhu` untuk tawaf di ka`bah adalah fardhu.boleh.

aqidah. fiqih dan lainnya. (HR.61 c. maka berwudhu`lah sebagaimana kamu berwudhu` untuk shalat. Dan wudhu itu dengan bersiwak. maka hukumnya menjadi Ahmad Sarwat. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa berwuhu ketika akan tidur adalah sunnah. Lc Fiqih Thaharah 123 wajib. pastilah aku akan perintahkan untuk berwudhu pada tiap mau shalat. sehingga seorang muslim tidur dalam keadaan suci. Menyentuh Kitab-kitab Syar`iyah Seperti kitab tafsir.ٍ َّ َّْ َ‫أَ أ‬ َّ ‫ ع ٖن‬٠َُ ّ‫ ُأ‬٢ِ‫ ض‬s ‫ ٕ ع‬٢ِ‫ٍ أَذ‬ٛ ١ ٌ َ‫ز‬ َّ ‫ٕ ع‬ َ ‫ هَح‬: َُٞ ‫ٕ ل‬ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ َّ‫ٌ أل‬ ّ ٖ‫ػ‬ ُ ًَ َِّّ ٘ َّ ‫خ لز‬ َّ ٝ َّ ‫ء‬ٞٞ . 62 .`Bila kamu naik ranjang untuk tidur. Namun bila di dalamnya lebih dominan ayat Al-Quran Al-Kariem. Al-Hakim. hadits. (HR. Ketika Akan Tidur Al-Hanafiyah. Bukhari dan Muslim). Dan dalam salah satu qaul dalam mazhab itu disebutkan bahwa wudhu' junub disunnahkan sebelum tidur. Ini bukan keharusan melainkah sunnah yang baik untuk diamalkan. (HR. Ibnu Majah. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : َ ِ‫ أَش ئ‬١ ‫ ّ ش‬ٜ ‫ كَص ى ع ؼ‬ٝ ٜ ‫أ‬ ‫يج‬ ْ‫ ُغ‬ٜ‫ؿغ ج‬ ِ َ٠ ‫ ع‬٠َُ ٔ ‫ هِّي‬١َ‫ ٕ ّ جأل‬. bila memungkinkan. Al-Malikiyah menyatakan bahwa wudhu sebelum tidur hukumnya mustahab. ٝ َُٖ ‫ف‬٣ ‫ ع جكِع‬٠َُ ٍ‫ج‬ ٝ ‫ء‬ َّ ‫ٖٓ جُٔإ ئِل‬ ِ ٞٞ َّ ِ Dari Tsauban bahwa Rasulullah SAW bersabda.`Tidaklah menjaga wudhu` kecuali orang yang beriman`. Dan tidurlah dengan posisi di atas sisi kananmu .ٙ‫ج‬ٌٝ ١ٌ‫ جُرهح‬ٝ ِْٓٓ ٝ ‫ءى‬ َ ٞٞ ُِِٙ َّ ‫ز‬ ِ َ‫ل‬ Dari Al-Barra` bin Azib bahwa Rasulullah SAW bersabda. Ahmad dan Al-Baihaqi) b. Ahmad dengan isnad yang shahih) Selain itu disunnah bagi tiap muslim untuk selalu tampil dalam keadaan berwudhu` pada setiap kondisinya.`Seandainya tidak memberatkan ummatku. Sedangkan Al-Baghawi dari kalangan AsySyafi'iyah mengatakan bahwa wudhu menjelang tidur bukan merupakan sesuatu yang mustahab. ٝ ّ ‫َّ ع‬ ُ ًَ َِّّ ٝ ِ ‫َّ و‬ ِ ‫ء‬ٞٞ ٞٓ َّ ‫ ٌ جى‬ٝ ‫ ج‬ٙ ِ ِ‫َّ ذ‬ ‫ّ أَـ‬ ‫َّ ٕ ذِاِِ و‬ ‫َّ ٘ جو‬ ‫ف‬٤‫ق‬ ِ Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.

hendaklah kamu berwudhu`. Bila kamu marah. Demikian juga disunnahkan berwudhu` bila seorang yang dalam 61 Al-Fiqhul 62 Al-Majmu' Islami wa Adillatuhu. Dzikir Keempat mazhab yaitu Al-Hanafiyah. Ketika Melantunkan Azan dan Iqamat Para ulama sepakat disunnahkannya wudhu untuk orang yang melakukan adzan. Jamaah) Dan dasar tentang sunnahnya berwuhdu bagi suami istri yang ingin mengulangi hubungan seksual adalah hadits berikut ini : Dari Abi Said al-Khudhri bahwa Rasulullah SAW bersabda. ada dalil perintah dari Rasulullah SAW untuk meredakannya dengan membasuh muka dan berwudhu`. Namun mereka berbeda pendapat bila dilakukan oleh orang yang mengumandangkan iqamat. beliau selalu berwudhu` terlebih dahulu sebagai takzim kepada hadits Rasulullah SAW. g. Lc Fiqih Thaharah 125 kitab-kitab syariah.`Bila kamu berhubungan seksual dengan istrimu dan ingin mengulanginya lagi. jilid 1 halaman 362 jilid 1 halaman 324 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. AlMalikiyah. Ahmad dalam musnadnya) f. (HR. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW : Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila dalam keadaan junub dan ingin makan atau tidur.d. bukan wajib. tidur atau mengulangi berjimak lagi. minum.65 . Wahbah Az-Zuhaili. beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu` terlebih dahulu seperti wudhu` untuk shalat. Demikian juga hukumnya sunnah bila akan membaca hadits Rasulullah SAW serta membaca Ahmad Sarwat. 64 h. Ketika Membaca Al-Quran Hukum berwudhu ketika membaca Al-Quran AlKariem adalah sunnah.(HR. maka hendaklah berwuhdu terlebih dahulu. 63 Diriwayatkan bahwa Imam Malik ketika mengimla`kan pelajaran hadits kepada muridmuridnya. Ketika Marah Untuk meredakan marah. (HR. (HR. Jamaah kecuali Bukhari) e. Sebelum Mandi Janabah Sebelum mandi janabat disunnahkan untuk berwudhu` terlebih dahulu. beliau berwudhu` terlebih dahulu. Berbeda dengan menyentuh mushaf menurut jumhur. Ahmad dan Muslim) Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila ingin tidur dalam keadaan junub. Lc 124 keaaan junub mau makan. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat disunnahkannya wudhu ketika berdzikir.

i. kemudian berkumur. Lc 126 Para ulama menyepakati bahwa ketika seseorang berziarah ke makam Nabi SAW. ْ‫ؿّ ُغ‬ ََّ ١ ‫و‬ ٍٙ َّْ َ‫ْ ج‬٣ ٕ ٟ ٠َُِ‫ٍٔ ئ‬ َِّ ‫ن‬ ََّ َ‫غ‬ ِ ُْ َ‫ُ ج‬ ِ َ‫الظ ك‬ ّ ٌ َّ ‫جش‬. memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya. membasuh tanggan kanannya hingga siku tiga kali. ْ‫ؿّ ُغ‬ ِ ٍ َّْ َ‫ْ ج‬٣ ٕ ٟ ٠َُِ‫ئ‬ ٍ ْٓ َ . Selain itu karena letaknya hari ini yang berada di dalam masjid. ْ‫ ّ ُغ‬ٜ ّ ٜ . maka secara otomatis. kemudian 67 Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 63 Ahmad Sarwat. hukumnya menjadi sunnah. Khutbah Jumhur ulama mengatakan bahwa wudhu untuk khutbah hukumnya mustahab. 66 j. Ziarah Ke Makam Nabi SAW 63 Al-Hawi lil Mawardi jilid 1 halaman 111 Jalil jilid 1 halaman 181 65 Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah jilid 1 halaman 396 66 Al-Mughni jilid 1 halaman 307 64 Mawahibul Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. ْ‫ٍ ُغ‬ َ ُْ َ‫ خ ج‬١ ٕ ‫ٌغ‬ َِّ ‫الظ‬ ََّ َ‫َّ ٌ ّ غ‬ ‫جش‬. kemudian beliau mencuci kedua tapak tangannya tiga kali. Lc Fiqih Thaharah 127 . ْ‫ُغ‬ ْٓ َ . Lantaran Nabi SAW tiap selesai khutbah. Kemudian beliau membasuh wajarnya tiga kali. Setidaknya. memang sudah disunnahkan untuk berwudhu sebelumnya. Wudhu’ Rasulullah SAW Ada pun tata cara wudhu yang dicontohkan Rasulullah SAW. َ ٍ ٝ ِ‫ غٍَ ٕ ش ج‬. maka disunnahkan atasnya untuk berwudhu. berwudhu pada khutbah Jumat merupakan syarat sah. ٝ ِ‫ م ٔ ٕ ش ج‬. Sedangkan dalam pandangan mazhab AlMalikiyah dan Asy-Syafi'iyah. َّ ِ َ ٙ ‫ٍ ِ كَؾ‬ ََّ ٢‫ًل‬ َّ ِ ََّ َ‫َّ ٌ ّ غَال‬ ‫ظ‬ ‫جش‬. langsung melakukan shalat tanpa berwudhu' lagi. bisa kita baca dari hadits berikut ini : ْ ‫ٕ ع‬ ْ‫جٕ ٌ ق‬ ََّ َّ َٕ‫ػػْ أ‬ ََّ ٌ ٢ٞ ٕ‫ج‬ ‫ٕ ع ّللا‬ َّ ٙ ‫ ج ع و‬ِٞ‫ذ‬ ‫ء‬ٞٞ.‫ف ٓص‬ ‫ ش‬ٝ ٜ َ‫أ‬ َّ ٕ ‫ ـ‬ٝ ٝ ٢ِ‫ت‬ٞٞ ٙ ‫يج‬ ََّ ‫ ع م‬٢َُ ٙ s ٌ ََّ ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ ِ َ Dari Humran bahwa Utsman radhiyallahu „anhu meminta seember air. ْ‫ ذٍِ ـ ِ ّ ُغ‬ٚ َ ٍ َّْ َ‫ّ ج‬٣ ٌ ٟ َ ٍ ََّ ‫ػ‬ َّ ََّ ‫ٌؼ‬ ََّ ٙ ِ ‫يُِي‬ ِْ ِ ‫ ْأ‬. Berwudhu yang dilakukan itu merupakan bentuk pentakdzhiman atas diri Rasulullah SAW. ْ‫ٍ ُغ‬ َّْ َ‫ّ ج‬٣ ٌ ٟ َ ََّ ‫ػ‬ ََّ ‫هَح‬: ٌ ١َ‫أ‬ ِ ‫يُِي‬ ‫ش‬ َ . 67 4. ْ‫ؿّ ُغ‬ ََّ ٝ ‫ ؼ‬ٙ ٙ َ ٍ ََّ َ‫َّ ٌ ّ غ‬ ‫الظ‬ ‫جش‬.

hadits ini tentu saja belum merinci tentang rukun wudhu. Bukhari dan Muslim) Namun kalau dilihat sekilas. para ulama butuh mengumpulkan ratusan bahkan ribuan hadits lainnya yang terkait dengan wudhu juga. wajib. yaitu dengan menambahkan niat. tanpa dijelaskan detail rincian hukumnya masing-masing. Sebab menurut beliau sekedar mengguyur anggota wudhu` dengan air masih belum bermakna mencuci atau membasuh. namun ada juga yang menambahinya dengan berdasarkan dalil dari Sunnah. Ada yang menyebutkan 4 saja sebagaimana yang tercantum dalam ayat Quran. yaitu dengan menambahkan dengan keharusan niat. baik terkait dengan rukun. tidak boleh terbolak balik. ad-dalk yaitu menggosok anggota wudhu`. Rukun Hanafi Maliki Syafi`i Hanbali . wajib dan sunnahnya. 5. Maka tidak boleh terjadi jeda antara satu anggota dengan anggota yang lain yang sampai membuatnya kering dari basahnya air bekas wudhu`. sunnnah dan hal-hal yang membatalkan wudhu. Semua dikerjakan begitu saja. Lc 128 delapan. Mazhab Syafi’i Menurut As-Syafi`iyah rukun wudhu itu ada 6 perkara. sehingga akhirnya didapat kesimpulan-kesimpulan. Kemudian beliau berkata. Mazhab ini menambahi keempat hal dalam ayat Al-Quran dengan niat dan tertib yaitu kewajiban untuk melakukannya pembasuhan dan usapan dengan urut. Juga beliau menambahkan kewajiban muwalat.membasuh tanggan kirinya hingga siku tiga kali. yaitu berkesinambungan. (HR. Istilah yang beliau gunakan adalah harus tertib Mazhab Hambali Menurut mazhab Al-Hanabilah jumlah rukun wudhu ada 7 perkara.”Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu seperti wudhuku ini. begitu juga yang kiri. kemudian beliau membasuh kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali. tertib dan muwalat. kemudian beliau mengusap kepalanya. Rukun Wudhu` Para ulama berbeda pendapat ketika menyebutkan rukun wudhu. Untuk mengetahuinya. Mazhab Hanafi Menurut Al-Hanafiyah mengatakan bahwa rukun wudhu itu hanya ada 4 sebagaimana yang disebutkan dalam nash Quran Mazhab Maliki Menurut Al-Malikiyah rukun wudhu’ itu ada Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.

1. Niat x 2. Membasuh wajah 3. Membasuh tangan 4. Mengusap kepala 5. Membasuh kaki 6. Tertib x x 7. Muwalat x x

8. Ad-dalk x xx Jumlah 4 8 6 7

5. 1. Niat Dalam Hati
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

129

Niat wudhu' adalah ketetapan di dalam hati seseorang untuk melakukan serangkaian ritual yang bernama wudhu' sesuai dengan apa yang ajarkan oleh Rasulullah SAW dengan maksud ibadah. Sehingga niat ini membedakan antara seorang yang sedang memperagakan wudhu' dengan orang yang sedang melakukan wudhu'. Kalau sekedar memperagakan, tidak ada niat untuk melakukannya sebagai ritual ibadah. Sebaliknya, ketika seorang berwudhu', dia harus memastikan di dalam hatinya bahwa yang sedang dilakukannya ini adalah ritual ibadah berdasar petunjuk nabi SAW untuk tujuan tertentu. 5.2. Membasuh Wajah Para ulama menetapkan bahwa batasan wajah seseorang itu adalah tempat tumbuhnya rambut (manabit asy-sya'ri) hingga ke dagu dan dari batas telinga kanan hingga batas telinga kiri. 5.3. Membasuh kedua tangan hingga siku Secara jelas disebutkan tentang keharusan membasuh tangan hingga ke siku. Dan para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bahwa siku harus ikut dibasahi. Sebab kata ( ٠ُ‫ ) ئ‬dalam ayat itu adalah lintihail ghayah. Selain itu karena yang disebut dengan tangan adalah termasuk juga sikunya. Selain itu juga diwajibkan untuk membahasi selasela jari dan juga apa yang ada di balik kuku jari. Para ulama juga mengharuskan untuk menghapus kotoran yang ada di kuku bila dikhawatirkan akan
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

130

menghalangi sampainya air. Jumhur ulama juga mewajibkan untuk menggerak-gerakkan cincin bila seorang memakai cincin ketika berwudhu, agar air bisa sampai ke selasela cincin dan jari. Namun Al-Malikiyah tidak mengharuskan hal itu.

5.4. Mengusap Kepala Yang dimaksud dengan mengusap adalah meraba atau menjalankan tangan ke bagian yang diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air. Sedangkan yang disebut kepala adalah mulai dari batas tumbuhnya rambut di bagian depan (dahi) ke arah belakang hingga ke bagian belakang kepala. Al-Hanafiyah mengatakan bahwa yang wajib untuk diusap tidak semua bagian kepala, melainkan sekadar sebagian kepala. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga. Sedangkan Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa yang diwajib diusap pada bagian kepala adalah seluruh bagian kepala. Bahkan Al-Hanabilah mewajibkan untuk membasuh juga kedua telinga baik belakang maupun depannya. Sebab menurut mereka kedua telinga itu bagian dari kepala juga. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : Dua telinga itu bagian dari kepala. Namun yang wajib hanya sekali saja, tidak tiga kali. Adapun Asy-Syafi`iyyah mengatakan bahwa yang wajib diusap dengan air hanyalah sebagian dari kepala, meskipun hanya satu rambut saja. Dalil yang digunakan beliau adalah hadits Al-Mughirah :
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

131

Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubunubunnya dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala). 5.5. Mencuci Kaki Hingga Mata Kaki Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan hingga mata kaki adalah membasahi mata kakinya itu juga. Sebagaimana dalam masalah membahasi siku tangan. Secara khusus Rasulullah SAW mengatakan tentang orang yang tidak membasahi kedua mata kakinya dengan sebutan celaka. Celakalah kedua mata kaki dari neraka. 5.6. Tartib Yang dimaksud dengan tartib adalah mensucikan anggota wudhu secara berurutan mulai dari yang awal hingga yang akhir. Maka membasahi anggota wudhu secara acak akan menyalawi aturan wudhu. Urutannya sebagaimana yang disebutan dalam nash Quran, yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki. Namun Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah tidak merupakan bagian dari fardhu wudhu`, melainkan hanya sunnah muakkadah. Akan halnya urutan yang disebutkan di dalam Al-Quran, hal itu bagi mereka tidaklah mengisyaratkan kewajiban uruturutan. Sebab kata penghubunganya bukan tsumma

ْ َّ ّ ‫ ) )غ‬yang bermakna : ‘kemudian’ atau ‘setelah itu’.
Selain itu ada dalil dari Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan : Aku tidak peduli dari mana aku mulai. (HR. AdDaruquthuny)
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

132

Juga dari Ibnu Abbas : Tidak mengapa memulai dengan dua kaki sebelum kedua tangan. (HR. Ad-Daruquthuny) Namun As-Syafi`i dan Al-Hanabilah bersikeras mengatakan bahwa tertib urutan anggota yang dibasuh merupakan bagian dari fardhu dalam wudhu`. Sebab demikianlah selalu datangnya perintah dan contoh praktek wudhu`nya Rasulullah SAW. Tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau berwudhu` dengan terbalik-balik urutannya. Dan membasuh anggota dengan cara sekaligus semua dibasahi tidak dianggap syah. 5.7. Al-Muwalat (Tidak Terputus) Maksud al-muwalat adalah tidak adanya jeda yang lama ketika berpindah dari membasuh satu anggota wudhu` ke anggota wudhu` yang lainnya. Ukurannya menurut para ulama selama belum sampai mengering air wudhu`nya itu. Kasus ini bisa terjadi manakala seseorang berwudhu lalu ternyata setelah selesai wudhu`nya, barulah dia tersadar masih ada bagian yang belum sepenuhnya basah oleh air wudhu. Maka menurut yang mewajibkan al-muwalat ini, tidak syah bila hanya membasuh bagian yang belum sempat terbasahkan. Sebaliknya, bagi yang tidak mewajibkannya, hal itu bisa saja terjadi. 5.8. Ad-Dalk Yang dimaksud dengan ad-dalk adalah mengosokkan tangan ke atas anggota wudhu setelah
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

133

dibasahi dengan air dan sebelum sempat kering. Hal ini tidak menjadi kewajiban menurut jumhur ulama, namun khusus Al-Malikiyah mewajibkannya. Sebab sekedar menguyurkan air ke atas anggota tubuh tidak bisa dikatakan membasuh seperti yang dimaksud dalam Al-Quran. 6. Sunnah-sunnah Wudhu` Ada pun yang termasuk perbuatan yang sunnah dalam rangkaian ibadah wudhu antara lain : 6.1. Mencuci kedua tangan Mencuci kedua tangan hingga pergelangan tangan sebelum mencelupkan tangan ke dalam wadah air.

Lantas Rasulullah Saw mengajarkannya dengan singkat tanpa berkumur. kemudian beliau SAW . Dasarnya bahwa berkumur itu bukan wajib tetapi sunnah adalah hadits berikut : ْ ًْ َ ‫ى ٌ أَّ ج‬ ‫ ش‬ٝ ٜ ‫أ‬ َّ 68 َُ‫ ج‬ٙ َّ Berwudhu'lah kamu sebagaimana Allah perintahkan. hendaklah dia mencuci kedua tangannya sebelum memasukkannya ke dalam wadah air. Berkumur dan Istinsyaq Berkumur adalah memasukkan air ke dalam mulut dan dikeluarkan lagi.3. Lc Fiqih Thaharah 135 Tirmizy)69 Hadits ini berlatar-belakang ada seorang dusun yang tidak bisa shalat dan wudhu'. Menurut pendapat yang lebih kuat. Bukhari Muslim Ahmad Nasai Ibnu Majah Abu Daud) Dalam riwayat lain disebutkan ‫ ش ـ‬ٟ ١ ‫ ؽ‬َِْٚ ِ ‫غَالَغح ج‬ Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lc Hingga dia mencuci tangannya tiga kali. Sedangkan bila wudhu yang bukan bangun dari tidur di malam hari. tidak harus sampai mencuci tangannya tiga kali. Membaca basmalah sebelum berwudhu` Dasarnya adalah hadits berikut ini : َ‫ل‬ َّ َّ ُ ًَ َّ‫َّ أ‬ ٌ ١‫ي‬ ٍ‫َّ ج‬ ِ ‫َّ خ‬ ْ َ‫أ‬ ‫هطَغ‬ ‫د‬٣ ‫ ُأ و‬٢ِ‫َّ ك‬ ٙ ّ َّ َِّ ٍُ‫ ج‬٢‫ق‬ َِّ : ِ ّ‫ر‬ ِ ٍُ‫ٕ ّ ـ ج‬ ِ ّ ِ ‫ّللا‬ ِ ِ‫َّ ذ‬ Segala urusan yang tidak dimulai di dalamnya dengan bismillahirramanirrahim. maka utusan itu terputus. (HR. urusan mencuci kedua tangan ini menjadi wajib hukumnya. Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa hukum berkumur dalam wudhu adalah sunnah bukan wajib.68 6. Sedangkan istilah istinsyaq adalah memasukkan air ke hidung dengan tujuan membersihkannya. mencuci kedua tangan tiga kali hukumnya sunnah. Karena kalian tidak tahu dimana tangannya semalam. (HR. yaitu buat mereka berwudhu dan baru bangun dari tidur di malam hari. Juga sunnah dalam rangkaian mandi janabah. 134 Namun kalau menurut pendapat Al-Hanabilah. At- Hadits yang dhaif Ahmad Sarwat.َ َ‫أَـ ه‬ َ ‫ ش جِ ئ‬١ َّ ‫يج‬ ‫ع‬ ‫َّ و‬ ُ ًْ ٖٓ َّ َّْ ْ ٙ ‫ٍ هَد‬ ََّ ِ ٕ ٝ ٚ ِٓ ِ ٢ِْ َ‫َ ؽ ك‬ ِ ١ ‫و‬ َّْ َ‫ى أ‬٣ َِٚ‫ن‬ ٕ َِّ ِ ‫ ج‬٢‫ك‬ َ‫ ل‬١ ‫ و‬١ٌ ٕ‫إل‬ َِّ ‫َّ ج‬ ِٕ‫َّ و أَـ كَا‬ ُ ًْ َّ ‫ و‬ٙ ِ ‫ء ج‬ ِ ١َ‫ ش جش خ ٕ أ‬١ Bila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya. Mengeluarkannya lagi disebut dengan istilah istinstar. 6.2.

dimana isi mulut bukan bagian dari wajah. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Abu Daud) . Beliau bersabda."Beginilah Tuhanku memerintahkanku. Lc 136 6.memerintahkan baginya untuk berwudhu seperti itu. (HR."Berkumur dan istinsyaq pada wudhu adalah yang harus dilakukan. 69 Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini adalah dalil yang kuat tentang kesunnahan wudhu.4. hukumnya sunnah bahkan sebagian ulama mengatakan hukumnya sunnah muakkadah. yaitu tanpa berkumur. Al-Hanabilah mengatakan bahwa hukum berkumur dalam wudhu adalah wajib. Bersiwak Bersiwak artinya membersihkan gigi atau menggosoknya. Di antara dalil yang masyhur tentang kesunnahan berwudhu dengan menggosok gigi adalah hadits berikut ini : َُٞ ََّ ‫َّ ل‬ َٕ‫أَ أ‬ َّ ‫ٖن‬ ٝ َّ ‫ء‬ٞٞ ‫ ع‬٠َُ ّ‫ ُأ‬٢ِ‫ٌ ألََُ ّ ض‬ ‫ش‬ ْٛ ُّ‫ ذِح‬ٝ ‫ى‬ َِّ ‫ع ّ ج‬ ُ ًَ َّ Seandainya Aku tidak memberatkan ummatku pastilah aku perintahkan mereka untuk menggosok gigi setiap berwudhu'. Sehingga tidak termasuk yang wajib untuk dilakukan.5. Ahmad) 6. Meresapkan Air ke Jenggot َ ِ‫ ش ئ‬ٝ ٜ َ‫أ‬ َ ‫ى‬ َ ‫يج‬ ٕ‫ح‬ َّ َّ ‫َّ أَل‬ ‫ي‬ ََّ ‫ٖٓ كح‬ ‫جء‬ ‫ٕ ع‬ ٙ َّ َٕ‫ جُٖ أ‬٢ِ‫ٕ ع ذ‬ َ ً ِ ّ َّ َٕ‫َّ أ‬ ِ ًَ َ َّ‫ ٌ أ‬٢ٗ ‫ ـ ش ـ ش‬ٚ َّ ٚ ََّ ‫ هَح‬ٙ ‫ًج‬ َِّ ٌ ٢‫ذ‬ َِّّ ٌِ ِ ٗ ‫َّ َُ كَم‬ ِ ِ‫ ُِف ذ‬١ ‫ ش‬ٙ ٝ ٍ Dari Anas radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bila berwudhu mengambil secukupnya dari air ke bawah dagunya dan mesesapkan air ke jenggotnya. Ad-Daruquthny) Selain itu mazhab ini berdalil bahwa dari semua riwayat hadits yang menceritakan teknis wudhu'nya beliau SAW. (HR. (HR. Bila dilakukan pada rangkaian wudhu'. ْ ٜ ّ ٜ ‫زَ جتِٕ ع ٕ ع ُز‬ ٍ‫ هَح‬: ُْ‫ج‬ َّ ٌ ٢ٞ َّ ٙ ‫ ٕ ع‬ٙ ‫َّ ج‬ َُ‫ج‬ َٕ‫ٌ أ‬ ِ ٍْٞ ِ‫ّللا‬ َّ َ‫ٖٓ ذى ل‬ ٝ ِ‫ل‬ َّْ ٝ ‫ء‬ َِّ ٞٞ ١ً ٙ ِ ‫ٓ ٖ م ج ٔ ض ِٖ ج‬ ِ ٍ‫ج‬ ِ ُ‫َّ ج‬ ِ Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW bersabda. semuanya selalu disertai dengan berkumur dan istinsyaq. Selain itu juga karena ayat tentang wudhu yang menyebutkan kewajiban membasuh wajah. Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah dalam salah satu pendapatnya mengatakan bahwa berkumur itu wajib untuk mandi janabah tapi sunnah untuk wudhu.

(HR.6. Ahmad Sarwat. disunnahkan untuk membasuh masing-masing anggota wudhu' sebanyak tiga kali. Membasuh Tiga Kali Selain mengusap kepala.7.8. Lc 138 depan wajah.9. Membasuh dua telinga Al-Hanafiyah. Ad-Daruquthuny) Sedangkan untuk mengusap kepala tidak disunnahkan melakukannya tiga kali. Hal itu karena Rasulullah SAW mempraktekkannya. Lc Fiqih Thaharah 137 "Ini adalah amal yang Allah SWT tidak akan menerimanya kecuali dengan cara ini". Cara mengusap atau meratakan usapan ke seluruh kepada dengan meletakkan kedua tangan di Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. bukan mengguyurnya. 6. 6. Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa disunnahkan untuk membasuh daun telinga luar dan dalam dengan air yang baru. Dalilnya adalah ketika Rasulullah SAW berwudhu dan membasuh masing-masing anggota wudhu' sekali. Lalu kedua tangan itu digerakkan mundur ke arah atas dan belakang kepala. Membasahi seluruh kepala dengan air Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa disunnahkan untuk mengusap seluruh bagian kepala dengan air. Kemudian beliau wudhu dengan membasuh anggota wudhu masing-masing dua kali dan bersabda : "Ini yang membuat Allah melipatgandakan amal dua kali lipat" Kemudian beliau membasuh masing-masing tiga kali dan bersabda : َ ٙ ‫يج‬ ٝ Ini adalah wudhu'ku dan wudhu'nya para nabi sebelumku. sambil menempelkan kedua jari telunjuk dan meletakkan ibu jari pada pelipis. Sedangkan Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mewajibkan untuk meratakan seluruh kepala ketika mengusapnya. At-Tirmizy) 6. beliau mengatakan. Setelah itu arah gerakan kedua tangan itu dikembalikan lagi ke arah semula. dengan dasar hadits berikut ini : ٢ِ‫ت‬ٞٞ ٝ ٝ ‫ء‬ٞٞ َٕ‫ جأل‬٢ِ‫ء ذ‬ َّ ََّ ‫ٖٓ ج‬ ِ ‫ هَد‬٢ُِ ‫ ش‬ٝ ٜ َ‫أ‬ َّ ٝ ّ ِ ‫ـ‬ ٍِ‫ ذ‬ٚ َّ ‫ ز‬ٝ ‫قى‬ ‫ز‬ ِْ ِ ‫َّ ٌ ّ ْأ‬ ِ ‫َّ ج‬ َٕ‫أ‬ ٙ Beliau SAW berwudhu dan mengusap kepalanya sekali saja (HR.6. Mendahulukan Kanan Dalilnya adalah hadits yang shahih sebagai berikut : .

Abu Daud.2. batu ginjal. Bukhari Muslim) 6.10. mani. Sedangkan tidur sambil duduk yang tidak bersandar kecuali pada tubuhnya sendiri. Termasuk juga tidur dengan berbaring atau Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. At-Tirmizy) 7. Ibnu Khuzaimah. yaitu membasahi sela-sela jari dengan air. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi) َ٠ ‫كد‬ َِّ ‫ ٗغ ش‬ٚ َّ َّ ِ ٣ ‫ جُص‬١ ‫ ٖٓ ج‬٢‫ك‬ ِ ُِ ٝ ٍ‫ ؼ ض‬ٚ ِ ُِ ٝ َّ َ ٌ ََّ ً ٕ‫ح‬ ْٞ َّ ُ ٍ ِ‫ّللا‬ َّ ٔ ٚ َّ ُٚ َّ ِ ِٗ‫َّ ْأ‬ ِ ًِِّ Rasulullah SAW itu suka mendahulukan bagian kanan ketika memakai sendal. wadi. Batalnya Wudhu' Hal-hal yang bisa membatalkan wudhu' ada 5 perkara. (HR. membuat wudhu' yang bersangkutan menjadi batal. Kesemuanya itu bila keluar lewat dua lubang qubul dan dubur. (HR. Yang dimaksud kemaluan itu termasuk bagian depan dan belakang. Abu Daud dan Ibnu Majah) Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang membuat hilangnya kesadaran seseorang. Lc Fiqih Thaharah ٞٛ َّ ٙ ٢‫ك‬ ٌِ ِ ٝ َّ ِ 139 َِ‫َّ أ‬ ‫ؾ‬ َّْ ِ ِ‫جٍ ذ‬ ٝ Ratakanlah wudhu dan basahi sela-sela jari dengan air. (HR. tidak termasuk yang membatalkan wudhu' sebagaimana hadits berikut : ١ ‫َّ ٗح‬ ٕٞٓ َ s‫ٕ ع‬ َ َ٘‫ج ـ أ‬ َٕ‫َّ أ‬ ِ ٌ ٢ٞ ‫ ّللا‬ٚ٘‫ٍ ػ‬ ََّ َ ‫حٕ هح‬ ََّ ً ‫ٌخ‬ ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ ِ . 7. Siapa yang tidur maka hendaklah dia berwudhu' (HR. Tidur Tidur yang bukan dalam posisi tamakkun (tetap) di atas bumi. Pendeknya apapun juga benda gas seperti kentut.1. menyisir rambut dan bersuci bahkan dalam semua kesempatan. Juga berupa benda padat seperti kotoran. Ahmad. mazi atau apapun yang cair.َ ِ‫ ش ئ‬ٝ ٜ ْ‫أ‬ ‫يج‬ َّ ْ‫ج و كَحخ ض‬ٝ‫ ء‬١َ‫َّ ذِأ‬ ٖ ُ ًْ ِ ‫َّ ج‬ ِ ٓ Bila kalian berwudhu maka mulailah dari bagian-bagian kananmu. Lc 140 bersandar pada dinding. Ibnu Majah. Dalilnya adalah hadits berikut ini : Ahmad Sarwat. 7. Keluarnya Sesuatu Lewat Kemaluan. Dan yang keluar itu bisa apa saja termasuk benda cair seperti air kencing. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW ‫ء‬ َّ َ ٞٞ ٝ ‫ خ َُِّ ل‬١ ٕ ْ َّ ٘ َُ‫جأل‬ ‫غ‬ ِ ِ‫جذ‬ ّ ٕ ٕ ّ‫ج‬ ٢ِْ َ‫ ك‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫ أ‬-ٙ‫ج‬ٌٝ ٞ‫و أذ‬ٝ‫جذٖ وج‬ٝ ‫ ٓحؾس‬. cacing atau lainny. Takhlil Yang dimaksud dengan takhlil adalah takhlilulashabi'.

4. Seorang yang minum khamar dan hilang akalnya karena mabuk. Namun hal ini memang sebuah bentuk khilaf di antara para ulama.Abu Daud menambahkan : Hingga kepala mereka terkulai dan itu terjadi di masa Rasulullah SAW. Menyentuh kulit lawan jenis Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram (mazhab As-Syafi'iyah) termasuk hal yang membatalkan wudhu. Demikian juga orang yang sempat pingsan tidak sadarkan diri. Hilang Akal Hilang akal baik karena mabuk atau sakit. Menyentuh Kemaluan Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : ّ ٕ 141 َ َ‫ي‬ ّ ِ ًٍ ٙ ٢ِْ َ‫ ك‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫ أ‬. 7. Baik kemaluan laki-laki maupun kemaluan wanita. Baik menyentuh kemaluannya sendiri atau pun kemaluan orang lain. Ahmad dan At-Tirmizy)70 Para ulama kemudian menetapkan dari hadits ini bahwa segala tindakan yang masuk dalam kriteria menyentuh kemaluan mengakibatkan batalnya wudhu. Baik kemaluan manusia yang masih hidup atau pun kemauan manusia yang telah mati (mayat). Di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah. Kalau mau shalat harus mengulangi wudhu'nya.5. maka wudhu' nya batal. 7. Baik kemaluan orang dewasa maupun kemaluan anak kecil.‫َجو‬ٝ ٞ‫و أذ‬ٝ‫ وج‬: ‫ ش ـ‬ٟ ٕ‫ؤ‬ َ ‫ ع‬٠َُ ‫ ع‬ٙ ‫و‬ َ ‫يُِي‬ ‫ْ ِ ؤ ٌ كَن ل ش‬ٛ ٝ ٕ‫ح‬ ََّ ً َِّ ٌ َِّ ٍْٞ َّ ِ‫ّللا‬ Dari Anas ra berkata bahwa para shahabat Rasulullah SAW tidur kemudian shalat tanpa berwudhu' (HR. Muslim) .ٙ‫ج‬ٌٝ ِْٓٓ . Dan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih berdasarkan syarat dari Bukhari dan Muslim . juga batal wudhu'nya. Lc Fiqih Thaharah Siapa yang menyentuh kemaluannya maka harus berwudhu (HR. dimana hal itu tidak membatalkan wudhu'.ْ‫ُغ‬ ٙ٣ ٕٞ ََّ ُ ٝ َ‫ل‬ َّ ١ ٞ‫ ض‬ٜ ََّ .3. Sebagian mereka tidak memandang demikian. wudhu'nya batal. dimana kesadarannya sempat hilang beberapa waktu. Namun para ulama mengecualikan bila menyentuh kemaluan dengan bagian luar dari telapak tangan. Bahkan para ulama memasukkan dubur sebagai bagian dari yang jika tersentuh membatalkan wudhu. 7.ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ أقٔى‬١ًٍٓ‫جُط‬ٝ Ahmad Sarwat. Demikian juga orang yang sempat kesurupan atau menderita penyakit ayan. Sebab perbedaan pendapat mereka didasarkan 70 Al-Bukhari mengomentari hadits ini sebagai hadits yang paling shahih dalam masalah ini. menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram termasuk yang membatalkan wudhu'.

Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit. kemudian kamu tidak mendapat air. Lc 142 pada penafsiran ayat Al-Quran yaitu : ٍ‫ ع ش ّ ق‬٢َُ َّ ُ ًْ ّ‫ ُأ‬ٙ ‫َّ ش ج‬ ُ ًْ ٝ ‫َّ ش ذ٘ح‬ ُ ًْ ٝ ‫ أَل‬ٝ ‫َّ ش ج‬ ُ ًْ ٝ ‫َّ ش ج ّ ع‬ ُ ًْ ٝ ‫لَ ل‬ َّ ‫َّ ش ج‬ ُ ًْ ٝ ‫ل ش ذ٘ح‬ َّ َّ ُ‫ى‬ ِ ٝ ّ‫ ُأ‬ٙ ‫َّ ش ج‬ ِ َ‫ جأل‬ٝ ‫ش جألل ش ذ٘ح‬ ّ ٢ِ‫جُالض‬ ٌَ‫ أ‬ٜ ‫َّ ٕ ع‬ ُ ًْ ٝ ‫ أَل‬ٝ ‫َّ ش ج‬ ُ ًْ ّ ٕ ٍُ‫ ج‬ٜ ‫ز جع‬ َّ ِ ٝ ّ‫ ُأ‬ٙ ‫ج‬ ‫آب ِّٗ ش‬ َِّ َّ ُ ًْ ٝ ٌ ‫ذحب‬ َِّ ‫َّ خ‬ ُ‫ّ ى‬ ٢ِ‫ جُالض‬٢ِ‫ٌ ـ ك‬ٞ‫ؾ‬ َّ ُ ًْ ّ ٕ ٕ ِ ‫آب‬ َّ َِّ َّ ُ ‫ ّ ى‬٢ِ‫ٍ ل و جُالض‬ َّْ ْ‫ٖ ض‬ٜ ِ‫ذ‬ ِ ِٕ‫كَا‬ ِ ُْ ْ ‫ٍ ل و‬ ‫َّ ش‬ ُ ًٞ ‫ج‬ٞٗ َّ َّْ ْ‫ٖ ض‬ٜ َّ َ‫ ع جـ ؾٖ ك‬٢َُ َّ ُ ًْ ٝ ‫ب ـ‬ َِّ َ‫َّ ل‬ ٍُ ِ‫ذ‬ ِ َ‫ال‬ ‫جب ٕ أَخ‬ َِّ َّ ُ ‫ٖ ّ ى‬٣ً ِ ُ‫ٖٓ ج‬ ِ ْ ‫ خ‬١ ٕ ‫ ش جألل‬١ ٕ َ٘‫خ أ‬ َّ ُ ًْ ٝ َٕ‫ّ ؼ ش أ‬ َّ ‫ج‬ٞ‫ػ‬ َِّ َّ ‫هَى ج ّ ئَل‬ ِ َ‫َّ ل‬ َ ِ ‫َّ َُق‬ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّّ ََّ ً ٕ‫ح‬ َ ‫ْ ٌ ج‬٤‫ق‬ ٌٞ‫ؽُك‬ ِ ‫ج‬ Hai orang-orang yang beriman. bila ada kata yang mengandung dua makna antara makna hakiki dengan makna kiasan. Namun bila ditinjau lebih dalam pendapatpendapat . sehingga menurut mereka sentuhan kulit antara lakiAhmad Sarwat.Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. tidak membatalkan wuhu`. (QS. Lc Fiqih Thaharah 143 laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu`. Ulama kalangan As-Syafi`iyah cenderung mengartikan kata ‘menyntuh’ secara harfiyah. Dan Imam Asy-Syafi`i nampaknya tidak menerima hadits Ma`bad bin Nabatah dalam masalah mencium. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan perlunya menggunakan penafsiran secara kiasan. hingga kamu mandi. An-Nisa : 23) a. terkecuali sekedar berlalu saja. janganlah kamu shalat. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. Pendapat Yang Membatalkan Sebagian ulama mengartikan kata ‘menyentuh’ sebagai kiasan yang maksudnya adalah jima` (hubungan seksual). sedang kamu dalam keadaan mabuk. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. sapulah mukamu dan tanganmu. maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik . sedang kamu dalam keadaan junub . Menurut mereka.

”Siapakah istri yang dimaksud kecuali anda ?”. Juga ada pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan (suami istri). Lalu ditanya kepada Aisyah. Pendapat Yang Tidak Membatalkan Dan sebagian ulama lainnya lagi memaknainya secara harfiyah. sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh. b. Turmuzi Abu Daud. Ibnu Majah dan Ahmad). Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan juga semua salaf dari kalangan shahabat. Lc 144 sentuhan itu dibarengi dengan syahwat (lazzah). Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Misalnya. Menurut sebagian mereka. maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu`. Pendapat mereka dikuatkan dengan adanya hadits yang memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah menyentuh para istrinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu` lagi.( HR. maka tidak batal wudhu`nya. bila sentuhan itu antara suami istri tidak membatalkan wudhu`. tayammum itu maknanya adalah ‫ى‬ٛ‫ ) )جُو‬al-qashdu. Dan itu terjadi pada . maka kita juga menemukan beberapa perbedaan. Caranya dengan menepuk-nepuk kedua tapak tangan ke atas tanah lalu diusapkan ke wajah dan kedua tangan dengan niat untuk bersuci dari hadats. Sedangkan Al-Malikiyah dan jumhur pendukungnya mengatakan hal sama kecuali bila Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lc 146 Tayammum berfungsi sebagai pengganti wudhu` dan mandi janabah sekaligus. An-Nasai. sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhu`nya adalah yang sengaja menyentuh. sehingga menyentuh atau bersentuhan kulit dalam arti fisik adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu`. Sedangkan secara syar`i maknanya adalah bermaksud kepada tanah atau penggunaan tanah untuk bersuci dari hadats kecil maupun hadats besar. Bab 7 Tayammum 1. Pengertian Secara bahasa.di kalangan ulama Syafi`iyah. Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu`”. yaitu bermaksud. Lalu Aisyah tertawa.

sedang kamu dalam keadaan mabuk. janganlah kamu shalat. 2."Telah . Maka bila ada seseorang yang terkena janabah. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. melainkan cukup baginya untuk bertayammum saja. ٍ َّ ٜ َّ ُ ًِٚ ‫ ج‬٢ُ َِّ s ‫َّ ٕ ع‬ ٢‫ذ‬ َّ َّ َٕ‫ٌ أ‬ ََّ ٍْٞ ‫ّللا‬ َ ‫ هَح‬: ‫ؼَِص‬ ِ ‫جألٌَ ؾ‬ ِ َ‫زَ جّ ُأّ أ‬ َ َ ٌ ٝ ُّ َّ ٌٞٛ ‫ ج‬، ١َ‫ًص ٌ أَو ج ّ ٕ كَأ‬ ‫ؾال‬ َّ ِ ‫ أل‬٢ِ‫ؾى ِ ّ ض‬ ِ ‫ج‬ٝ ٠ ٖٓ ِ ّ‫ ُأ‬٢ِ‫ض‬ َ ُٙ‫ؼٖ لَُز ج‬ ّٙ ِ ‫ؼ‬ َّ ‫ و‬ٙ ٝ ‫ػ٘ى‬ ٙ٠ َّ ٞٛ ٌ ٙ . yaitu hadats kecil dan hadats besar. hingga kamu mandi. kemudian kamu tidak mendapat air. Sunnah dan Ijma`. An-Nisa : 43) 2. Dalil Sunnah Selain dari Al-Quran Al-Kariem.‫ٔح‬ٛ‫ج‬ٌٝ ِ َ‫و ك‬ ِ ِ ‫أقٔى‬ Dari Abi Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda. ada juga landasan syariah berdasarkan sunnah Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang pensyariatan tayammum ini. terkecuali sekedar berlalu saja. Lc Fiqih Thaharah 147 atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. Masyru`iyah Syariat Tayammum dilandasi oleh dalil-dalil syar`i baik dari Al-Quran. sapulah mukamu dan tanganmu. sedang kamu dalam keadaan junub . Karena tayammum bisa menggantikan dua hal sekaligus.saat air tidak ditemukan atau pada kondisi-kondisi lainnya yang akan kami sebutkan. 2. Dan jika kamu sakit Ahmad Sarwat. Dalil Al-Quran Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran AlKariem tentang kebolehan bertayammum pada kondisi tertentu bagi umat Islam.1.(QS. maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik .2. ْ َّ ْ ُٙ‫زَ ج‬ ْ َ‫هٍ ش ل‬ َْ ٟ ١ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ٖ ج‬٣ً َّ ‫ج‬ٞٗ َّ ‫ج‬ٞ‫ذ‬ ََّ‫ ل‬ٝ َٕ‫ضْ أ‬ ٌ‫ٌح‬ ِ ُ‫آّ ج‬ ْ ‫ ش ـ‬ٟ ‫ٍ ع ش‬ ََّ َّ ‫ج‬ٞٓ ْ ُِ ّ ‫ٕ ش ج‬ُٞ ََّ ٞ‫ ُه‬ٝ َ‫ل‬ َّ ‫َّ ج ؾ٘د‬ ‫ ع ئِل‬١ٍ َ٤ِ‫ ش ـ ذ‬ٟ ‫ج ش ؽ ش‬ُٞ َّ ِ ِ ِ‫َّ ِ جذ‬ ٝ ِٕ‫َّ ئ‬ ُ ًٖ ْ‫ض‬ ْ ١ ّ ٌ ٜ ٟ َٝ‫ ع أ‬٠َُ ِ َّ ٍَ‫ ك‬َٝ‫أَـ جء ؼ أ‬ ‫َّ ٕ ّ و‬ ُ ًْ ّ ٕ ‫جُؾ‬ َِّ ِ‫ آت‬َٝ‫أ‬ َّ ‫ِ ل‬ ‫ّ ش‬ ْ ّ ‫ْ كَص جء‬٣ ْ ٘ ‫ى‬٤‫ػ‬ ُٖ‫ؼ ش كََِْ جء ِ ج‬ َّ َّ ‫ج‬ٝ‫و‬ َّ ‫ج‬ٞٓ ِ ‫ ج‬٢َ٠ ‫ِ كَحّ ج خ‬ ِ ْ ‫خ‬ َّ ‫ج‬ٞ‫ق‬ َّ ٝ ٙ َّ ُ ًْ ِ ِ ٞ‫َّ ؾ‬ َ ‫ج‬ َ ‫ ع‬ٞ‫ٌ ج ُك‬ٞ‫ؽُك‬ ٝ ١َ‫ أ‬١‫و‬ ُ ًْ َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّّ ََّ ً ٕ‫ح‬ ِ َّ Hai orang-orang yang beriman. tidak perlu bergulingan di atas tanah. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

tayammum juga dikuatkan dengan landasan ijma` para ulama muslimin yang seluruhnya bersepakat atas adanya masyru`iyah tayammum sebagai pengganti wudhu`. Baik dengan cara mencarinya Ahmad Sarwat. 3. tidak pernah Allah SWT mensyariatkan tayammum.dijadikan tanah seluruhnya untukkku dan ummatku sebagai masjid dan pensuci. Dan sebagaimana yang telah dibahas pada bab air. embun. seseorang bisa melakukan tayammum dengan tanah. Bukhari dan Muslim) 4. mata air. air .1. ١َ‫ج ّ كَأ‬ 149 atau membelinya. (HR. Dimanapun shalat menemukan seseorang dari umatku. es.3. Jadi tayammum adalah salah satu ciri agama Islam yang unik dan tidak ditemukan bandingannya di dalam Nasrani atau Yahudi. Namun ketiadaan air itu harus dipastikan terlebih dahulu dengan cara mengusahakannya. maka dia punya masjid dan media untuk bersci. dijadikan tanah sebagai masjid dan media bersuci. dia bisa melakukannya. sehingga dimanapun waktu shalat menemukan seseorang. ada banyak jenis air yang bisa digunakan untuk bersuci termasuk air hujan.”Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi sebelumku : Aku ditolong dengan dimasukkan rasa takut sebulan sebelumnya. Ijma` Selain Al-Quran dan Sunnah. Di dalam agama samawi lainnya. ٍ َّ َّ َِّ ‫و خ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ َّ َ‫ج‬ َُ َ ‫هَح‬: s ‫ٍ ؼ ٕ ع‬ ِ َ ٌ ٢ٞ ِ ِ ِ‫ٕ خ جذ‬ َُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ َ ‫ ُأع‬٢٠ ‫َُْ ج ِ ّ ل ش‬ ‫غ‬٣ ٠ َّ ٖٛ ‫أَـ‬ ِ ٍُ‫خ ع ذِح‬ َّ َّ ِ ّ ٍ٤ْ ِ َ‫ز‬ ٔ ٙ َّ ٌٝ ‫ؼ ِ َص‬ ٜ ّ ِ ‫ؾى‬ ِ ‫ ؾ‬٢ُِ ٌَ‫جَأل‬ ِ ‫ج‬ٝ َ ٌ َ‫ًص ٌ أَو ؾ‬ َّ ٙ َُٙ‫َ لز ج‬ َّْ َ‫ ك‬ٙ٣ ٍ َِّّ – ٙ‫ج‬ٌٝ ١ٌ‫ِْٓٓ جُرهح‬ٝ Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu „anhu bahwa Nabi SAW bersabda. Hal-hal Yang Membolehkan Tayammum 4. Ahmad 5 : 248) 2. Lc Fiqih Thaharah ٙ‫ٕ ع‬ ‫ هَد و‬٢ُِ: َ٠ َّ ْٛ ‫َّ ج‬ َٕ‫أ‬ ٍٛ ِ ٗ ‫ش‬ ٌٞٛ ‫ج‬. (HR. Tayammum Khusus Milik Umat Muhammad SAW Salah satu kekhususan umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan umat lainnya adalah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Tidak Adanya Air Dalam kondisi tidak ada air untuk berwudhu` atau mandi. Lc 148 disyariatkannya tayammum sebagai pengganti wudhu` dalam kondisi tidak ada air atau tidak mungkin bersentuhan dengan air.

air sungai dan lain-lainnya. Belaiu lalu shalat bersama orang-orang."Tanah itu mensucikan bagi orang yang tidak mendapatkan air meski selama . meskipun dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus. Tiba-tiba ada seorang yang memencilkan diri (tidak ikut shalat). semua itu membuat ketiadaan air menjadi gugur.laut. maka selama itu pula dia boleh tetap bertayammum. (HR."Apa yang menghalangimu shalat ?". Bila sudah diusahakan dengan berbagai cara untuk mendapatkan semua jenis air itu namun tetap tidak berhasil. Lc ٙ 150 bahwa selama seseorang tidak mendapatkan air. Beliau menjawab."Gunakanlah tanah untuk tayammum dan itu sudah cukup". Dan di zaman sekarang ini. Bukhari 344 Muslim 682) Bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. ada banyak air kemasan dalam botol yang dijual di pinggir jalan. barulah tayammum dengan tanah dibolehkan. Dalil yang menyebutkan bahwa ketiadaan air itu membolehkan tayammum adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini : ٢‫ك‬ َّ ٍَ‫ ك‬َٙ‫ ك‬٠ُ s ‫ٕ ع‬ ْ‫جٕ ٌ ػ‬ ََّ ‫ٕ خ‬ َِّ ٙ‫ ق‬١ َّ ٍٕ ََّ ‫ هَح‬: َّ ُ ًٖ ‫ج‬ ِ ِ َّ ّ ‫ٌ ع‬ َِّ ٍْٞ ‫ّللا‬ َ ِ ‫ كَا‬ٞٛ ٍِ‫ذ‬ ُٖ‫جِ ذِح‬ َّ َّ َ‫ؾ‬ ‫َّ ش ٓغ‬ ٍَ ََّ ‫ كَوَح‬: ّ ‫ٕ ى ٗغ ّ ج‬ َّْ َ‫أ‬ ِ ‫يج‬ ِ ٍ ٙ‫ ض‬٢ُ ‫ٍ ؟‬ ََّ ‫هَح‬ َ‫ جء ّ ل‬، ٍ : َ٘‫ ش جخ أ‬٢ِٗ ‫ ُز ٗحَخ ؼ‬ٝ َّ ََّ ‫ هَح‬: ‫ ع‬٢ُ ‫ ى‬ُِٙ‫ى ذح‬ َِّ ٤‫ػ‬ ِ ِٕ‫كَا‬ ْ ١ ‫ي‬٤ِ‫ًل‬ ‫ ٓطلن‬ٚ٤ِ‫ػ‬ Dari Imran bin Hushain ra berkata bahwa kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan. Beliau bertanya. َ ٍ َّ ِ‫ ذِاِذ‬s ‫ ٕ ع‬٢‫ذ‬ َ َِّ َ‫يٌ أ‬ ََّ ‫ هَح‬: ‫ ش جِؼ‬ٝ ١ ‫ ش‬١‫ى‬ َِّ ٌ ْٞ ِٔ َ ُ‫ ٌ كَأَّ ز ٕ ج‬٢ُ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ َ ،ٍ َّْ َْ‫ ش فَ ُه‬: ٙ ‫أَ َُي‬ ُ َّ ٞ‫يٌ ذ‬ ََّ ‫ هَح‬: ّ ‫ ج‬s ‫ف‬ ََّ َّ ُ ًٖ ‫ ش‬٢ِ‫ ك‬ٙ ‫ ج‬، َ ‫ كَأش‬١ ‫ جُٖ ش‬٢‫ذ‬ ِ َ ‫ٍ ؟ جُي ـ‬ ََّ ‫ هح‬: َّ ُ ًٖ ‫ٌ ع أَش ش‬ ٜ ‫زَ ٗحخ ُِِؽ‬ َّ ٝ ٢َُ ِ ٍ‫ ُه‬٢‫ذ‬ َِّ ّ ‫ جء‬، ٍ ََّ ‫ كَوَح‬: َ٠ ٞٛ ِٕ‫ ئ‬ُٙ‫ ج‬٢‫ػ‬ َّ ٌ ُِْ ٕ َُْ ١ ‫ؾى‬ ََّ ‫ٔح‬ ِ ‫َّ و‬ ِ ٕ ِ ‫ء‬ َ ُ‫ ٌ ٔ ع ج‬٢ِْ٘ ٙ‫ج‬ٌٝ ‫ أقٔى‬ٞ‫أذ‬ٝ ‫و‬ٝ‫جألغٍّ وج‬ٝ ‫ًج‬ٛٝ ٚ‫ُلظ‬ Dari Abi Dzar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda."Aku terkena janabah". Orang itu menjawab.

Maka pada saat itu boleh baginya untuk bertayammum."Apakah kalian membolehkan aku bertayammum ?". Abu Daud.. Ad-Daruquthuny 719). Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi). Baik sakit dalam bentuk luka atau pun jenis penyakit lainnya. . 4. Sakit Kondisi yang lainnya yang membolehkan seseorang bertayammum sebagai penggati wudhu` adalah bila seseorang terkena penyakit yang membuatnya tidak boleh terkena air. Lc Fiqih Thaharah 151 ‫َّ ؼ ٕ ع‬ ٍِ‫ٍ جذ‬ ََّ ‫ هَح‬: ‫ؼ ٌ ل‬ ‫ؼ كَٕ ٌ ؼ ـ‬ ٙ َِّ ٌ ٚ ٢‫ك‬ َّ ِْ ِ ‫َُْ ش جـ ُغْ ْأ‬ ‫َّ ٘ ٌل‬ ‫ ز‬٢‫ك‬ َِّ ‫ جُص‬١ ّ ّ ‫ج ؟‬ُٞ‫ كَوَح‬: ّ ‫ٕ ج‬ ‫ ع‬٠ُ ‫ٔحء‬ َ ُ‫ ج‬، ْ ‫كَح‬ َ ِ ‫ ذ‬، s ‫ؿص‬ ‫ًُِي ٌ خ أَل‬ َّ ‫ّللا‬ ِ ََّ ‫ كَوَح‬: ‫ هَص‬ُُٞ ٙ ‫ٍ هَص‬ ٍ ََّ ٙ ‫ٖلَحء‬ َّ ِ ‫ جُغ‬١ ُّ‫ جٍ ؤ ج‬، ِٕ‫ّ ئ‬ ٍ‫ ؾ‬ٚ َّ ِ‫ق‬ ِ ٍ‫ن‬ ‫هَس‬. Cukuplah baginya untuk tayammum . Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini : Ahmad Sarwat.. tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Sebab kamu bisa mendapatkan air". Baik atas dasar pengalaman pribadi maupun atas advis dari dokter atau ahli dalam masalah penyakit itu. Ahmad).10 tahun". ْ‫ ُغ‬١ ّ ِ ‫ـ‬ ِ َّ ‫و‬ٝ‫وج‬ ٢٘‫جُىجٌهط‬ٝ ٕ ‫ ج‬٢‫ك‬ َِّ ِ َّ ٍَ‫جخ كَأَ٘ ك‬ ، َّ‫َّ ك‬ ٍ َ َ‫جخ ـ أَ٘ أ‬ ‫ؼ‬ َّ ِ ‫َُي و‬ ٌ ‫ٖٓ ؾال‬ َّ ِ ‫ج‬ ٕٝ‫و‬ َّ َِّ َ ٢ُ ْ ‫َّ ش‬ ‫ى‬ ِ‫ه‬ ٌ ٌ ٍْٞ َّ ِ ْ ‫َّ ش‬ ٙ ٙ َّ ٍ ‫ؼ‬ ِ ‫َّ ٘ ٌل‬ ‫ ز‬ٝ َٕ‫ش أ‬ ، ََِْ‫ىّ ج ك‬ ِ َ‫ ع ج ٕ ه‬٠ُ ِ َّ ٍ َ َْ‫جش ك‬ َ ِ‫ َُْ ئ‬١ ‫َّ ع‬ ّ ‫ ّللا‬، َ‫ل‬ َّ َ‫ج ِ أ‬َُُٞ‫يج أ‬ ٍ َ ‫ج‬ٞٓ ‫ج ّ كَإِ ؟‬ ‫ ع‬٠َُ ْ ٕ َ ١ َّ ‫حٕ ج‬ ََّ ً ٚ َّْ َ‫ أ‬١ ْ٤‫ ّ ض‬. (HR. Teman-temannya menjawab. bersabdalah beliau. Tidak boleh terkena air itu karena ditakutnya akan semakin parah sakitnya atau terlambat kesembuhannya oleh sebab air itu. ٝ ‫غ‬٣ ‫د‬ٚ ِ ٤ِ‫ًل‬ ِ ‫ ع‬٢َُ ٙ ‫ ج‬ٝ ‫ؾ‬٣ َ ََّ ْ ِ ِ ٍِ‫جت‬ ‫ ِ ؼ‬ٙ َّ ِ‫و‬ ِ ٙ‫ج‬ٌٝ ٞ‫أذ‬ Dari Jabir ra berkata."Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Abu Daud 336. semoga Allah memerangi mereka."Kami dalam perjalanan. Tirmizi. Lalu dia bertanya kepada temannya."Mereka telah membunuhnya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah.(HR.2. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu ? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Nasa`i. Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu.

Maka pada saat itu bertayammum menjadi boleh baginya. Dan kondisi ini bisa berlangsung beberapa bulan selama musim dingin. Hanya kalangan tertentu yang mampu memilikinya. Ketika kami tiba kepada Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu]. mereka menanyakan hal itu kepada beliau."Wahai Amr. sekedar tersentuh benda-benda di sekeliling pun rasanya amat dingin. Tentu saja tidak semua orang bisa memiliki alat pemasan air di rumahnya. Lalu beliau bertanya. Aku menjawab. dia dibolehkan untuk bertayammum. Apakah kamu mengimami shalat dalam keadaan junub ?".4. Selebihnya mereka yang kekurangan dan tinggal di desa atau di wilayah yang kekurangan. terkadang musim dingin bisa menjadi masalah tersendiri untuk berwudhu`. Aku yakin sekali bila mandi pastilah celaka. Bahkan bisa Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. (Mendengar itu) . Suhu Sangat Dingin Dalam kondisi yang teramat dingin dan menusuk tulang. maka menyentuh air untuk berwudhu adalah sebuah siksaan tersendiri. Lc 152 menimbulkan madharat yang tidak kecil. tidak menyalahkannya.3."Aku ingat firman Allah [Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. ‫َُْ ش جِـ‬ ‫ ش‬٢‫ك‬ َِّ ٢َُ َّ ‫جٌو خ َُس‬ ‫ ٔ ز‬١‫و‬ َّ َّْ َ‫ٕ ش ك‬ َِّ ِ‫ئ‬ ِ ‫ز و‬ ِ ‫ و ٌ جُد‬، َٔ‫ن كَأ‬ ِ َّ ْ ‫ٍ ِ ج‬ ‫ؿص‬ َّْ ‫إَٔ ش‬ َ‫ لَز‬ُٙ‫ـ خ ج‬ َٙ‫ْ كَص َُي أ‬٣ ّ ‫ ٘ ُغْ ش‬٢ُ ‫ ـ ذِأَ٘ ش‬٢‫جذ‬ َِّ ٘ َّ َّ ِ ، ََِْ‫ىّ ج ك‬ ِ َ‫ج ٕ ه‬ َ ‫ج‬ٌٝ ‫يُِي‬ َ ٍ ََّ ‫ي‬ ‫ى‬ ََّ ٙ ، ٍ ََّ ‫ كَوَح‬: ١ ‫ّ ع ج‬ ٌٝ ٘ ‫ص‬٤ُ s ‫ ع‬٠ُ ٌ ٍْٞ ‫ّللا‬ َّ ِ َ َ َ َ‫ي‬ ٘‫ جذِي ـ ذِأ‬ٝ ٕ‫ش أ‬ ‫هَ ؾ٘د؟‬ َّْ ُ َ‫ ش ف‬: ًٍ ‫ ش‬َٞ‫ٍ ه‬ ََّ َّ ‫ ع ش ّللا‬٠ ََّ ُ‫ج‬ (ٝ َ‫ل‬ َّ َ ‫خ‬ ‫م ش‬ َّْ ‫ج‬ِٞ‫َّ ُكّ إَٔ ض‬ ُ ًْ َّ ِٕ‫َّ ئ‬ ‫حٕ ّللا‬ ََّ ً َّ ُ ًْ ٌ ٢‫ق‬ ‫ش‬ ِ َّ ِ ّ ‫ْ كَص )ج‬٣ ّ ْ‫ ٘ ُغ‬٢ُ ‫ش‬، َٝ‫قي ك‬ ْٞ َّ ُ ٍ َّ َّْ ُ ٔ ١ ‫تح‬ ِ ٌ ِ‫ ّللا‬٠ِّٚ ‫ ّللا‬ٚ٤ِ‫ِْْ ػ‬ٝ ٝ َُْ ١ َ‫ه‬ Ahmad Sarwat. maka aku tayammum dan shalat". Di beberapa tempat di muka bumi. Lc Fiqih Thaharah 153 Dari Amru bin Al-`Ash ra bahwa ketika beliau diutus pada perang Dzatus Salasil berakta."Aku mimpi basah pada malam yang sangat dingin. Maka aku bertayammum dan shalat shubuh mengimami temantemanku. Dalilnya adalah taqrir Rasulullah SAW saat peristiwa beliau melihat suatu hal dan mendiamkan. jangankan menyentuh air. Maka bila seseorang tidak mampu untuk memanaskan air menjadi hangat walaupun dengan mengeluarkan uang. akan mendapatkan masalah besar dalam berwudhu` di musim dingin.

Al-hakim. bisa melakukan tayammum dengan tanah. diperkirakan akan kehilangan waktu shalat. Air ada tapi tidak bisa dijangkau. air ada dalam jumlah yang cukup dan bisa terjangkau. Atau juga bila ada musuh yang menghalangi antara dirinya dengan air. Dan semua tanah pada dasarnya suci. Meskipun ada air. takut barang-barangnya hilang.5. Lc 154 4. Bila diusahakan untuk mendaptkan air. Tanah itu bukan benda najis dan tidak akan berubah menjadi najis kecuali nyata-nyata terkena atau tercampur benda najis. maka harus didahulukan memberi minum anjing dan tidak perlu berwudhu` dengan air. 4. Namun masalahnya adalah waktu shalat sudah hampir habis. Air sebenarnya ada namun jumlahnya tidak mencukupi. (HR. Atau bila seseorang menjadi tawanan yang tidak diberi air kecuali hanya untuk minum. Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthuny). Air Tidak Terjangkau Kondisi ini sebenarnya bukan tidak ada air. Bahkan para ulama mengatakan meski untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan.Rasulullah SAW tertawa dan tidak berkata apa-apa.4.6. namun bila untuk mendapatkannya ada resiko lain yang menghalangi. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. maka itupun termasuk yang membolehkan tayammum. Atau bila air ada di dalam sumur namun dia tidak punya alat untuk menaikkan air. Sebab ada kepentingan lain yang jauh lebih harus didahulukan ketimbang untuk wudhu`. Ahmad. Misalnya untuk menyambung hidup dari kehausan yang sangat. bolehlah bertayammum dengan tanah. 4. 5. Maka saat itu demi mengejar waktu shalat. Tanah Yang Bisa Dipakai Tayammum Dibolehkan bertayammum dengan menggunakan tanah yang suci dari najis. Sebab di dalam Al-Quran disebutkan dengan istilah sha`idan thayyiba ( ‫ىج‬٤‫ؼ‬ٚ ‫رح‬٤٠ ) yang artinya . baik musuh itu dalam bentuk manusia atau pun hewan buas. Air Tidak Cukup Kondisi ini juga tidak mutlak ketiadaan air. Seperti air di dalam jurang yang dalam yang untuk mendapatkannya harus turun tebing yang terjal dan beresiko pada nyawanya. atau beresiko nyawa bila mendapatkannya. Habisnya Waktu Dalam kondisi ini. Misalnya takut bila dia pergi mendapatkan air. Sebagai gantinya.

siku pun harus ikut juga. Cara Tayammum Ada dua versi tata cara tayammum yang berbeda di tengah para ulama."Tayammum itu terdiri dari dua tepukan. 6. Tepukan pada wajah dan tepukan pada kedua tangan hingga siku. namun bahwa siku itu juga harus terkena tayammum. semen dan segalanya. Perbedaan itu terkait dengan jumlah tepukan. 6. apakah sekali tepukan atau dua kali. Ketika membasuh tangan dalam wudhu diharuskan sampai ke siku. tidak semata-mata didasarkan pada hadits ini saja. Dan juga perbedaan dalam menetapkan batasan tangan yang harus diusap.2. Lc 156 ٜ ٌ ‫ ُز خ‬ِْٞ ُِ ‫ ؼ‬ٙ َّ َِّ ٠ ََّ ُِ‫ٍٔ ئ‬ َِّ ِ ٝ ٜ ٌ ‫ ُز خ‬٢ُِِ ‫ و‬١ ٕ ِ ُ‫ ج‬٢َ‫ٕ كَو‬ Dari Abi Umamah dan Ibni Umar radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW bersabda.1. Ahmad dan Abu Daud) Meski ada yang mengatakan hadits ini dhaif. tanah yang mengandung najis bekas kubangan dan tempat penampungan kotoran manusia atau hewan. Para ulama mengatakan bahwa apa pun yang menjadi permukaan tanah. Perbedaan ini didasarkan pada ta'arudh al-atsar (perbedaan nash) dan juga perbedaan dalam menggunakan qiyas. maka ketika menepuk tangan di saat tayammum. Tabyinul Haqaiq jilid 1 halaman 38.disepakati ulama sebagai apapun yang menjadi Ahmad Sarwat. Al-Muhadzdzab jilid 1 halaman 32 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. (HR. Dalil lainnya adalah karena tayammum itu pengganti wudhu. Yang tidak boleh digunakan adalah tanah yang tidak suci. termasuk dalam kategori tanah yang suci. baik tanah atau sejenisnya. bebatuan.71 ٍ َّ ّٜ ٌ ‫ٕ خ‬ َِّ ‫ضح‬: َ ‫هَح‬: ‫ جُص‬١ ّ ٝ ‫ٕ جخ‬ َِّ ْ‫ٌ ػ‬ 71 Al-Badai' َّ َ‫ جُٖ أ‬٢ِ‫ذ‬ ٕ ‫ٕ ع‬ ٢‫ذ‬ َّ َّ ِ َ‫زَ جّ ُأّ أ‬ jilid 1 halaman 46. Cara Pertama Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah dalam qaul jadidnya mengatakan bahwa tayammum itu terdiri dari dua tepukan. 6. Tepukan pertama untuk wajah dan tepukan kedua untuk kedua tangan hingga siku. baik itu tanah merah. Cara Kedua Menurut Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah72. Misalnya. tanah liat. padang pasir. aspal. Lc Fiqih Thaharah 155 permukaan bumi. termasuk juga penapat Asy-syafi'iyah dalam qaul .

Ketegasan batasan itu justru terdapat di dalam hadits lain yang sudah disinggung sebelumnya. Maka aku bergulingan di tanah dan shalat. Segala Yang Membatalkan Wudhu` Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.‫ ٓطلن‬ٚ٤ِ‫ ػ‬. yang dengan satu tepukan itu diusapkan ke wajah langsung ke tangan hingga kedua pergelangan. Kasysyaf Al-Qinna jilid 1 halaman 200-205. (HR. ‫ٍ جٌ ّ ع ٕ ع‬ ََّ ‫ هَح‬: ‫خ ٕ أَؼ‬ ‫أَ كََِْ ش‬ َّ ‫د‬ٚ ‫ٔحء‬ َّْ ‫ ش‬٢‫ك‬ َِّ َ ُ‫ى ع ّ كَص ج‬ ُٙ‫ى ج‬ َِّ ٤‫ػ‬ ِ ْ ‫ ى‬ٙ ‫ًج‬ ًَ َ َ‫ك‬ َ ٢‫ُِِِ٘ر‬ َ s ٝ ٘ ٢ُ ًَ ََّ ‫ كَوَح‬: ِٕ‫ ج ّ ئ‬١ ٢ِ‫ًل‬ ٍ ‫ًٍ ش‬ ‫يُِي ش‬ َ ِ‫ ذ‬ٙ ٢‫ٌل‬ َّ ِ ٌَ‫ جأل‬ٜ ٝ ‫ ٗلَم‬٢ِ‫ْ ك‬ٛ ِ ‫ْ ـ ِ ّ ُغْ ج‬ٜ ِ ِ‫ ج ذ‬s ٝ ٜ ٌ ‫ جُٖ خ‬٢ِ‫ذ‬ ْ ٕ َ .qadimnya. ٢‫ك‬ٝ ‫ ُلع‬: ِٕ‫حٕ ج ّ ئ‬ َ ١ ‫ي‬٤ِ‫ًل‬ ٝ ‫ ؼ‬ٙ ٙٝ ٚ َّ ََّ ً َّْ َ‫أ‬ ِ ٤‫ًل‬ َ ِ‫ ذ‬٢‫ك‬ ‫ ش‬ٜ ‫ٌخ‬ َِّ ‫خ ٌ جُص‬ َّ ِ ‫ ل ُف ٕ ش ُغْ ج‬٢ِ‫ْ ك‬ٛ ِ ‫ُغْ ج‬ ِ ‫ي‬٤‫ٌل‬ ‫ِ ّ ش‬ ‫ْ ـ‬ٜ ِ ِ‫ج ذ‬ َ ‫ ى‬٠ ٝ ‫ ؼ‬ٙ ‫ ى‬ٝ ٢‫ًل‬ ََّ ُِ‫جٍُ٘ ئ‬ ‫ ؽ‬١ ٕ َِّ ٙ‫ج‬ٌٝ ٢٘‫جُىجٌهط‬ ِ Dari Ammar ra berkata. . Maka segala yang membatalkan wudhu."Stu kali tepukan di wajah dan kedua tangan. Bukhari dan Muslim) Dalam lafadz lainnya disebutkan : Cukup bagimu untuk menepuk tanah lalu kamu tiup dan usapkan keduanya ke wajah dan kedua tapak tanganmu hingga pergelangan. Ad-Daruquthuny) 7. Batalnya Tayammum 7. (HR. Al-Mughni jilid 1 halaman244-245. (HR. tayammum itu hanya terdiri dari satu tepukan saja. Lc 158 Segala yang membatalkan wudhu` sudah tentu membatalkan tayammum."Aku mendapat janabah dan tidak menemukan air. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW dan beliau bersabda. Ahmad Sarwat."Cukup bagimu seperti ini : lalu beliau menepuk tanah dengan kedua tapak tangannya lalu meniupnya lalu diusapkan ke wajah dan kedua tapak tangannya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : ٍ َّ َِّ ‫ جُص‬١ ّ ّ َِّ : ٜ ٌ ‫ ُز خ‬ٝ ‫قى‬ َّ َ ‫ هَح‬٢‫ك‬ ِ ‫ ُز ج‬ِْٞ ُِ ‫ ؼ‬ٙ ِ ‫جٌ ّ ع ٕ ع‬ ٝ ٢ُ‫ و ج‬١ ٕ َِّ Dari Ammar radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW berkata 72 Asy-Syahush-shaghir َّ َ‫ جُٖ أ‬٢ِ‫ذ‬ ٕ jilid 1 halaman 194-198.1. Al-Qawanin Al-Fiqhiyah jilid 1halaman 38. Ahmad dan Ashabus-sittah) Di dalam hadits ini memang tidak secara tegas disebutkan batas tangan yang harus diusap. Lc Fiqih Thaharah 157 tentang tayammum. Sebab tayammum adalah pengganti dari wudhu`. tidak sampai ke siku. secara otomatis menjadi hal yang juga membatalkan tayammum.

"Kamu sudah sesuai dengan sunnah dan shalatmu telah . menyentuh kemaluan dan sentukan kulit lain jenis yang bukan mahram dalam pendapat Asy-Syafi'iyah. Ditemukannya Air Bila ditemukan air. lantaran memang saat itu dia tidak menemukan air. Apapun bahwa setelah itu dia menemukan air. Maka Rasulullah SAW berkata kepada yang tidak mengulangi shalat. keluarnya sesuatu lewat kemaluan. 7. Sebab tidak ada larangan untuk melakukannya. Ahmad Sarwat. maka tayammum secara otomatis menjadi gugur. Maka keduanya bertayammum dengan tanah yang suci dan shalat.2. tiba-tiba dia mendapatkan air dan waktu shalat masih ada. tidur. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan masalah mereka. Namun bila dia tetap ingin mengulangi shalatnya. Selesai shalat keduanya menemukan air. Dan kedua kasus itu pernah terjadi bersamaan pada masa Rasulullah SAW. sedangkan yang satunya tidak. kewajibannya untuk shalat sudah gugur. Yang jadi masalah bila seseorang bertayammum lalu shalat dan telah selesai dari shalatnya. Sebab tayammumnya pada saat itu memang benar. Lc Fiqih Thaharah 159 ‫ ٕ ع‬٢‫ذ‬ َِّ َ‫ ِ أ‬٢‫ػ‬ ‫َّ ج و‬ ُ ‫ ُهى‬١ٌ ََّ ‫ٌ ؼ ٌ ل هَح‬ َِّ َ‫ ؾال‬٢‫ك‬ ٕ َِّ ِ َّ ٍَ‫ك‬ ِ َّ ِ ٍ ‫ كَف‬ٜ ٌ ‫ش‬ َّ ِ ُٙ‫ لَُز ج‬ٝ ٢َُ ِ ّ ‫ع‬ ْٛ ‫َّ ّ ج‬ ‫ْ كَص جء‬٣ ّ ‫ى ٘ ج‬٤‫ػ‬ ِ ‫ ج‬٢َ٠ ‫ج خ‬ َٙ‫ ك‬٢ُ ‫ ُغْ ج‬ٝ ‫ج و ؼ‬ ْ ‫أَـ جو كَأَع‬ َ‫ لَز‬ٝ َُْ ‫ؼى‬ ََّ ‫ٔح‬ ‫ء‬ َِّ ُٞ‫ص ج‬ َّ ‫ْ و‬ٛ ‫ جٍ ج‬ٝ ‫ء‬ ََّ ٞٞ ٝ ُٙ‫َّ ج‬ ِ ‫ه‬ ِ٣ َ ُ‫ ج‬٢‫ك‬ ‫ل‬٥‫ٌ ج‬ َ َ‫يُِي ج ك‬ َ ٍ ًَ ًٍ ََّ ٙ ٍ‫ح‬ ََّ َ‫ كَو‬١ً ‫ؼى‬ ََّ ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ ِ ُِِ َُْ ِ ٣ : s ْ‫ح أَش ُغ‬٣ ٌ ِ ْ َ َ ٘‫ ز ٕ جُّ ش خ أ‬ٝ ‫ ى لَش ٘ ى أش َ أؼ‬ٝ ٍ ََّ ‫ هَح‬١ً ِ ُِِ ‫ ش‬ٝ ٜ َ‫أ‬ َّ ٝ ‫ جو أَع‬: ‫َُي‬ ‫ٖ ش ٌ ّ ٌ جألَؼ‬٣ َِّ Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa ada dua orang bepergian dan mendapatkan waktu shalat tapi tidak mendapatkan air. Maka seorang diantaranya berwudhu dan mengulangi shalat.Di antaranya terkena najis. Dan shalatnya pun sah karena dengan bersuci tayammum. Apa yang harus dilakukannya ? Para ulama mengatakan bahwa tayammum dan shalatnya itu sudah syah dan tidak perlu untuk mengulangi shalat yang telah dilaksanakan. hilang akal. Yang harus dilakukan adalah berwudhu dengan air yang baru saja ditemukan. Sehingga bertayammumnya sah. dibenarkan juga.

disebut bahwa seseorang itu junub karena dia menjauhi shalat. maka batallah tayammum.memberimu pahala".3 Hilangnya Penghalang Bila halangan untuk mendapatkan air sudah tidak ada. Tiga lagi sisanya hanya terjadi pada perempuan. Abu Daud 338 dan AnNasa`i 431) 7. kata janabah ini menurut Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berarti : ‫جامع مه وعهً انمىٍ أوزل مه عهً انشرع فٍ انجىابت تطهق‬ ٍ‫عىها وَتباعذ وانقراءة وانمسجذ انظالة َجتىب ألوه جىبا وسم‬ Janabah secara syar'i dikaitkan dengan seseorang yang keluar mani atau melakukan hubungan suami istri. Bab 8 Mandi Janabah 1.1. Tiga hal di antaranya dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. masjid dan membaca Al-Quran serta dijauhkan atas hal-hal tersebut. Lc 162 tertentu dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya."Untukmu dua pahala". 2. Lc Fiqih Thaharah 163 (masturbasi) atau tidak. Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi Janabah Para ulama menetapkan paling tidak ada 6 hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi janabah. 2. (HR. Pengertian Mandi dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-ghusl ( َٓ‫) جُـ‬.74 Mandi Janabah sering juga disebut dengan istilah 'mandi wajib'. Sedangkan secara istilah. Dan kepada yang mengulangi shalat. Kata ini memiliki makna yaitu menuangkan air ke seluruh tubuh.73 Adapun kata Janabah dalam bahasa Arab bermakna jauh ( َّ ‫ ) جُرؼْى‬dan lawan dari dekat ( َّ ‫ى‬ٞ ِ .(‫جُوٍجذَس‬ َ Sedangkan secara istilah fiqih. baik dengan cara sengaja 73 Kasysyaf 74 Al-Majmu' Al-Qinna' jilid 1 halaman 139 jilid 2 halaman159 Ahmad Sarwat. Dasarnya adalah sabda . Keluar Mani Keluarnya air mani menyebabkan seseorang mendapat janabah. para ulama menyebutkan definisinya yaitu : ‫بشروط مخظىص وجه عهً انبذن جمُع فٍ طهىر ماء استعمال‬ ‫وأركان‬ Memakai air yang suci pada seluruh badan dengan tata cara Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Mandi ini merupakan tatacara ritual yang bersifat ta`abbudi dan bertujuan menghilangkan hadats besar.

Keluarnya dengan cara memancar. (HR. Dan para ulama membuat batasan : dengan lenyapnya kemaluan (masuknya) ke dalam faraj wanita.Rasulullah SAW berikut ini : ‫ ٕ ع‬٢ِ‫ى ِ أَذ‬٤ َّ ‫ػ‬ َّْ ‫ نى‬١ٌ ََّ ‫ هَح‬: ٍ‫ح‬ ََّ َ‫ٌ ه‬ ْٞ َّ ٍُ ِ ٍ‫ج‬ ِ ٢ٌٞ ‫ ّللا‬٠ُ‫ ضؼح‬ٚ٘‫ٍ ػ‬ ْ َّ ْ ‫ء‬ ُْ‫ج‬ ‫ٖٓ جء‬ َِّ ‫ ٌ ج‬ٝ ‫ ج‬ٙ ّٓ ٍ َِّ ّ . semuanya tetap mewajibkan mandi janabah.َّ Dari Ummi Salamah radhiyallahu anha bahwa Ummu Sulaim istri Abu Thalhah bertanya. ."Ya. Al-Malikiyah dan AlHanabilah mensyaratkan keluarnya mani itu karena syahwat atau dorongan gejolak nafsu. Maka barulah diwajibkan mandi janabah. ‫ش ئِيج‬ َ ‫ء‬ ِ ‫ٌأ‬ َ ُ‫ ج‬. apakah wanita wajib mandi bila keluar mani? Rasulullah SAW menjawab. sungguh Allah tidak mau dari kebenaran. Mani Wanita ْ‫ّػ‬ َٖ َّ َِّّ ‫سَ أ‬ َّ ٔ َٕ‫َّ أ‬ ّ‫َّ أ‬ ْْ٤َِْ -٢ ََّ ٛ ‫ٍأَز‬ َّ ‫ك‬ َّْ َُ‫هَح‬: ‫َح‬٣ ٍ ََّ ٌْٞ َ َّ َٓ ْ ِ‫ ج‬٢ِ‫سَ أَذ‬ َ ِْ َ٠. Bertemunya Dua Kemaluan Yang dimaksud dengan bertemunya dua kemaluan adalah kemaluan laki-laki dan kemaluan wanita.‫ص‬ َ ِ ٝ َ َّ َ َ ِْ ْ َ ْ ْ ْ َ َ َ ْ َ٣ ٖ َّ ٜ ِٕ‫َ ئ‬ٜ َّ َُِ‫ل ج‬ َّ َ ٢‫ك‬ َّْ ٓ َِّّ ‫ك‬ َّْ ََٜ‫ ك‬٠َِ‫ػ‬ َّ ُ ‫ج‬ َْ َّ ٓ ‫ـ‬ ُ ‫ج‬ ‫ج‬ ‫ي‬ ‫ئ‬ َّ ‫ص‬ ٔ َ ‫ز‬ َ َُ‫َ ج‬ ِ َ‫ٓط‬ ِ ‫ن‬ ِ ‫ٍْٔ أ‬ ِ َُِ‫َّ !ج‬ َ ِ َ ََِ‫؟ جِقْ ط‬ َ ْ َ َ َ َ َ ََّ ‫هح‬: ْ ٍ َّْ ‫ؼ‬ َّ ََّ ‫ٔح‬ ‫ ٓطلن‬ْٜ٤ِ‫ػ‬ َ َ ٗ. bukan hanya laki-laki. Sedangkan mazhab Asy-syafi'iyah memutlakkan keluarnya mani. Mazhab Al-Hanafiyah. ٝ َ٘‫ ٍُ أ‬ٙ ٢ِ‫جٍ ك‬ َّْ ‫ ذم‬١ٌ‫ج‬ ِ ُْ‫ج‬ ِ Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. baik keluar dengan sengaja atau tidak sengaja. atau faraj apapun baik faraj hewan."Ya Rasulullah. ada dorongan syahwat seiring dengan keluarnya mani. 75 Sedangkan air mani laki-laki itu sendiri punya ciri khas yang membedakannya dengan wadi dan mazi : Dari aromanya.2. (HR. Bukhari dan Muslim) Namun ada sedikit berbedaan pandangan dalam hal ini di antara para fuqaha'. baik karena syahwat atau pun karena sakit. Dan istilah ini disebutkan dengan maksud persetubuhan (jima'). air mani memiliki aroma seperti aroma 'ajin (adonan roti). Bukhari dan Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa wanita pun mengalami keluar mani. Dan seperti telur bila telah mengering. 2. Lc 164 jadi mereda. Yang penting. sebagaimana firman Allah SWT : ٖٓ ‫وجكن ٓحء‬ Rasa lezat ketika keluar dan setelah itu syahwat 75 Al-Mausu'ah s ِ‫ّللا‬ َّ Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah jilid 16 halaman 49 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat."Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air (keluarnya sperma). bila dia melihat mani keluar".

3. ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ َ َّ ٍ ُ َ ‫ ئ‬s ٝ ‫ ٕ ع‬٢ِ‫ٍ أَذ‬ٛ ١ ٌ َ‫ز‬ ‫يج‬ َّ ٢ٌٞ ‫ ّللا‬ٚ٘‫ٍ ػ‬ ََّ ‫ هَح‬: ٍ ََّ ‫ٌ هَح‬ ْٞ َّ ُ ٍ ِ‫ّللا‬ َّ ‫ خ َُّ ؼ‬١ ٕ ‫ ٖغ‬ِٚ‫ع خ جألٌَ ج ذ‬ َّ ِ ْ‫ ؼ ُغ‬ٙ ٙ‫ كَوَى ج و‬ٝ ‫خ ؼ‬ َّْ ّ‫َّ ؿ‬ ٍ‫ج‬ ُ ٍ ‫ف ٓص‬ ََّ ‫م‬ ‫ ع‬٢َُ ٙ َّ ّٓ ٍ َِّ ّ ":ٝ ٕ َّْ ِ‫َُْ ئ‬ ٖ٣ ٍ َّْ َ ِ . (HR. Aku melakukannya bersama Rasulullah SAW dan kami mandi. Hal yang sama berlaku juga untuk wanita.ٝ َ ‫جو‬ ِ " Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda."Bila seseorang duduk di antara empat cabangnya kemudian bersungguh-sungguh (menyetubuhi). termasuk juga bila yang dimasuki itu duburnya.Termasuk juga bila dimasukkan ke dalam dubur. Meninggal Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. baik dubur wanita ataupun dubur laki-laki. baik dalam Ahmad Sarwat. maka sudah wajib mandi. Semua yang disebutkan di atas termasuk hal-hal yang mewajibkan mandi. Semuanya mewajibkan mandi. Semuanya mewajibkan mandi. di luar larangan perilaku itu. di luar masalah larangan perilaku itu. Lc Fiqih Thaharah 165 keadaan hidup atau dalam keadaan mati. maka wajib atas orang lain yang masih hidup untuk memandikan jenazahnya. baik kemaluan manusia maupun kemaluan hewan. maka hal itu mewajibkan mandi janabah. Dalam riwayat Muslim disebutkan : "Meski pun tidak keluar mani" 2."Mandikanlah dengan air dan daun bidara`. (HR. Dalilnya adalah sabda Nabi Saw tentang orang yang sedang ihram tertimpa kematian : ْ ‫ ج‬ٙ ِْ‫َّ ذ‬ ُُّٞ ‫ جء‬ٝ ‫ْى‬ ٌ ِ َّ ِ ‫ؿ‬ Rasulullah SAW bersabda. baik orang dewasa atau anak kecil. Muttafaqun 'alaihi). Baik dalam keadaan hidup ataupun dalam keadaan mati. baik dewasa atau anak kecik. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini : ْ ٠َ‫ ه‬s ‫زَ جتِٕ ع ٕ ع‬ َ ِ‫جُص ئ‬ ٍ َّ َّ ٌ ٢ٞ ‫ ٕ ع ّللا‬ٙ ‫َّ ج‬ َٕ‫ٌ أ‬ َ ‫ هَح‬: ‫يج‬ ِ َ ُ‫ٕ ج‬ ‫هص‬ َِّ َ ‫ جٗح‬َٝ‫هص ِ ّ أ‬ ُ ٕ ‫هص‬ ََّ ٝ ‫ؿّ جٍ خ ؼ‬ ِ ُ‫َّ ج ج‬ ِ ُ‫جٕ ج‬ ‫ٍ كَغ‬ َّْ ‫ ش‬ٙ َٕ‫ ج أ‬ٝ ٌ ْٞ َّ ٍُ ْ ‫ج ُْٖ ِ كَح‬ ‫ؿص ّللا‬ َِّ Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. meskipun tidak sampai keluar air mani. dimana bila farajnya dimasuki oleh kemaluan lakilaki. Bukhari dan Muslim) ."Bila dua kemaluan bertemu atau bila kemaluan menyentuh kemaluan lainnya. Lc 166 Seseorang yang meninggal.

Sehingga seorang yang nifas tidak boleh shalat. maka wajib atasnya untuk melakukan mandi janabah. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Dalilnya adalah firman Allah SWT dan juga sabda Rasulullah SAW : ٝ ٢ِ‫ك‬ ْ ُْ‫ج‬ ‫ش‬ ‫ـ‬ َّْ ٍ‫ج‬ ّ٣ َُُٕٞ‫ى أ‬ ْ َّ ‫َّ ع‬ ٕ ٝ٤ َّْ ُ ِ َ‫ه‬ ِ ُْ‫ج‬ ِ ‫ق‬ ٞٛ ْ َُ ٟ‫ج ش كَحع أَي‬ُٞ َّ ِ ُٖ‫جء ِ ج‬ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. thawaf di baitullah. bersetubuh dan lain sebagainya. Keluarnya darah haidh itu justru menunjukkan bahwa tubuh wanita itu sehat. Haidh Haidh atau menstruasi adalah kejadian alamiyah yang wajar terjadi pada seorang wanita dan bersifat rutin bulanan.`Apabila haidh tiba. Nifas itu mewajibkan mandi janabah. Apabila mereka telah suci. dan janganlah kamu mendekati mereka. maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Nifas Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita setelah melahirkan. tingalkan shalat. (QS. . Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Melahirkan Seorang wanita yang melahirkan anak. meski bayi yang dilahirkannya itu dalam keadaan mati. masuk masjid.2. (HR Bukhari dan Muslim) 2. lebih sering mengikuti hukum haidh. maka mandilah dan shalatlah. apabila telah selesai (dari haidh). Lc Fiqih Thaharah ْ ْ َ ِ ‫كَا‬ ٝ٤ َّ َّ ‫هٍ ش‬ ٞ‫ٖ ذ‬ٛ ‫ ش ـ‬ٟ ١ َّ ٠ ٍٛ ٕ ََّ ‫يج‬ ِ ٝ َ‫ل‬ ِ ‫ق‬ َٚ٠ ٌ ٕ ََّ ْ‫أ‬ ََّ‫ ك‬ٞ‫ٖ ض‬ٛ ٖٓ ِ ١ َّ ُ ‫َّ ٌ أَّ ظ‬ ُ‫َّ ى‬ َّّ ُ‫ ج‬ٙ َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّّ ‫كد‬ ِ ٣ ‫ جُص‬ٝ ٖ٤ِ‫ جذ‬ٝ ‫ ٓص‬َٚ٠ ٖ٣ٌ ِ ‫كد‬٣ ِ 167 ْ َ‫أ‬ َ ِ‫هد ئ‬ ‫يج‬ ‫ٕ ع‬ ‫ّ جُى‬ َ ِ ‫ كَا‬ٙ‫ي‬ َ ‫خ‬ ‫ َُص‬٢‫ك‬ ٜ ‫ كَى‬٢‫ػ‬ ََّ‫يج ل‬ َ ُ‫ج‬ ِ ُٙ‫زَ ج‬ َِّ ‫ى‬ ٝ ٘ ٢ُ -ٙ‫ج‬ٌٝ ١ٌ‫ِْٓٓ جُطهح‬ٝ ْ ‫كَح‬ ‫ ٌ هَى‬ٙ ‫ ج‬٢ِِٓ ِ ‫ؿ‬ Nabi SAW bersabda. maka wajib atas wanita itu untuk mandi janabah. Bahkan meski saat melahirkan itu tidak ada darah yang keluar. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. AlBaqarah : 222) Ahmad Sarwat.5. 2. Hukum nifas dalam banyak hal.6. puasa. Begitu berhenti dari keluarnya darah sesudah persalinan atau melahirkan. meski anak itu dalam keadaan mati. sebelum mereka suci. membaca Al-Quran. menyentuhnya.4. Artinya.

meski sudah berubah wujud menjadi manusia. Semua penghalang wajib dilepas dan dihapus. Demikian juga bila di kulit masih tersisa lem yang . Meratakan Air Seluruh badan harus rata mendapatkan air. pewarna kuku atau pewarna rambut bila bersifat menghalangi masuknya air. lantaran janin itu pun asalnya dari mani. setelah itu barulah mandi janabah hanya dengan air saja. 3. disyaratkan sebelumnya untuk memastikan tidak ada lagi najis yang masih menempel di badannya. Menghilangkan Najis Menghilangkan najis dari badan sesungguhnya merupakan syarat sah mandi janabah. Sebagian ulama mengatakan bahwa 'illat atas wajib mandinya wanita yang melahirkan adalah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. maka wajib mensucikannya dulu dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. Dengan demikian. tetap diwajibkan mandi.3. maka ada dua hal yang harus dikerjakan karena merupakan rukun/pokok: 3.2. namun tetap wajib atasnya untuk mandi janabah. Dengan dasar itu. Lc Fiqih Thaharah 169 biasa. Fardhu Mandi Janabah Untuk melakukan mandi janabah. dianggap belum memenuhi syarat.meski seorang wanita tidak mengalami nifas. Rambut yang dicat dengan menggunakan bahan kimiawi yang sifatnya menutup atau melapisi rambut. seperti cat. (HR Bukhari dan Muslim) 3. dengan sabun dan lain-lainnya. mandi terlebih dahulu seperti Ahmad Sarwat. Untuk itu sangat dianjurkan sebelum mandi janabah dilakukan. Adapun bila najisnya tergolong najis berat. 3. lantaran persalinan yang dialaminya. Sehingga cat itu harus dihilangkan terlebih dahulu. Baik akarnya atau pun yang terjuntai. maka bila yang lahir bukan bayi tapi janin sekalipun.1. bila seorang akan mandi janabah. baik kulit maupun rambut dan bulu. lem. Caranya bisa dengan mencucinya atau dengan mandi biasa dengan sabun atau pembersih lainnya. Lc 168 karena anak yang dilahirkan itu pada hakikatnya adalah mani juga. agar dipastikan semua najis dan kotoran telah hilang. Niat ِٕ‫َّ ج ّ جألَع ج ّ ئ‬ ُ ٍ ُٖ‫ ذِح‬١ ‫جش‬ Semua perbuatan itu tergantung dari niatnya.

ibunda mukminin. harus dilepas sebelum mandi agar kulit tidak terhalang dari terkena air. Sunnah Mandi Janabah Rasulullah SAW telah memberikan contoh hidup bagaimana sebuah ritual mandi janabah pernah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan kedua tangan beliau. hingga ketika beliau menduga air sudah sampai ke akarakar rambut.” (HR. beliau mengguyurnya dengan air tiga kali. tidak bersifat menghalangi sampainya air ke kulit. Aisyah radhiyallahu ta'ala anha. kemudian membasuh seluruh tubuhnya”. Lc 170 beliau lakukan. Termasuk yang dianggap tidak menghalangi air terkena kulit adalah tinta pemilu. 4. ‟Aisyah berkata. ”Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu‟alaihi wa sallam dari satu bejana. lepas dari masalah haramnya membuat tato. Nabi SAW memulainya dengan mencuci kedua tangannya. lewat laporan dari istri beliau. kemudian wudlu‟ sebagaimana wudlu beliau untuk sholat. kemudia beliau membersihkan seluruh tubhnya dengan air kemudia diakhir beliau mencuci kakinya (HR Bukhari/248 dan Muslim/316) Dari ‟Aisyah radliyallahu anha dia berkata. ”Jika Rasulullah SAW mandi karena janabah. sehingga tetap sah mandinya. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya. kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudia berwudku seperti wudhu` orang shalat. Bukhari dan Muslim) Dari kedua hadits di atas. Lc Fiqih Thaharah 171 .bersifat melapisi kulit. kami mencibuk dari bejana itu semuanya. Sedangkan pacar kuku (hinna') dan tato. maka beliau mencuci kedua tangan. َ ِ‫زَ جتِٕ ع ٕ ع ئ‬ َ ٌ ‫يج‬ َّ ٌ ٢ٞ ََُ‫ ج‬ٙ ‫ ٕ ع‬ٙ ‫ هَحَُص ج‬: ٕ‫ح‬ َّ ََّ ً ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ِ ِ َ ْ ِ‫ٍ ِ ج‬ ‫ؿص‬ ََّ ٖٓ َّ َّ ٍُ١ ‫ و‬١ ٙ َّ ِ ‫ز ٗحخ جَ ُْؽ‬ ِ ١ ‫ ُأ و خ‬٢َ‫ِ ؽ ك‬ ِ ْ‫ُغ‬ ِ َّ ْ ٣ َّ َّ ٍ ُ ‫ ؽ‬٢ِ‫ ذ‬ٚ َّ َّ ِ ِ٘٤ٓ ِ ‫ ع‬٠َُ ْٖ ِ ٚ ِ ِ ُ‫ج‬ ِ ‫ل‬ ْ ‫َّ ل‬ ٢َ‫ِ ؽ ك‬ َّ ُ ٍ ٍَ‫ؼ ك‬ ٙ ْ‫ ُغ‬١ ٞ‫ ض‬ٜ ‫ ُغْ ُأ‬١ ‫أ‬ َّ ُ ‫ء جَ ُْْ ي‬ ََّ ‫ج‬ ِ َّ ََّ ‫ى‬٣ ‫ل‬ ‫ف‬ َّ ُ ٍ َ٘‫جذِغ أ‬ ٙ ٢ِ‫ك‬ ِ َّ ‫ٍ ُأ‬ َِّ ٞٚ َُٕ‫ٌ ع ج‬ َّ َّ ََّ َ‫َّ كَٖ ـ غ‬ ‫ ُغْ جش‬ٜ‫أَكَح‬ ِْ ِ ‫الظ ْأ‬ ِ ْ‫ ع كَٖ ـ ُغ‬٠َُ ٌ ٚ ‫ ع‬٠َُ َ ٍ ِ ٍ َّ َّ ََّ ‫ٌؼ‬ َّ ََّ ‫ ع م‬٢َُ ٙ ِ‫و‬ ِ ْ‫ؿّ ُغ‬ ِ ‫ف ٓص‬ ِ ِ‫ ِ ؼ جت‬ٙ ِ ٢َُ ٙ Aisyah RA berkata. dan apabila ia yakin semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalnya 3 kali.`Ketika mandi janabah. tinta itu hanya sekedar mewarnai saja. kita bisa rinci sebagai Ahmad Sarwat. dengan syarat tinta itu tidak menutup atau melapisi kulit.

Menyiram kepala Sunnah juga untuk menyiram kepala dengan 3 kali siraman sebelum membasahi semua anggota badan. 4. kalau ada orang yang memakai pewarna rambut atau kuku yang sifatnya menghalangi tembusnya air.5.berikut : 4. Berwudhu Setelah semua suci dan bersih dari najis. Walau pun tanpa berwudhu' sekalipun.3. maka disunnahkan untuk berwudhu sebagaimana wudhu' untuk shalat. cuci kakinya nanti setelah mandi janabah usai. Mencuci kaki Disunnahkan berwudhu di atas tanpa mencuci kaki. Tergantung jenis pewarnanya. maka mandi itu menjadi tidak sah. maka mandinya tidak sah. Maksudnya. Membersihkan Najis Selain dua kemaluan. Lc 172 4. juga disunnahkan terlebih dahulu untuk membersihkan semua najis yang sekiranya masih melekat di badan. 4.4. lalu dibilas sebelum dimasukkan ke wajan tempat air. tetapi diakhirkan mencuci kakinya. tentu tidak mengapa. Jangan sampai ada anggota badan yang tidak terbasahi air. Sela-sela Jari Di antara yang dianjurkan juga adalah memasukan jari-jari tangan yang basah dengan air ke sela-sela rambut. Sebelum mandi harus dihilangkan terlebih dahulu. wudhu' itu tidak pakai cuci kaki.6.9. kalau tembus air atau menyatu menjadi bagian dari rambut atau kuku. sampai ia yakin bahwa kulit kepalanya telah menjadi basah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.7. Misalnya. 4. mandi janabah itu juga mengandung wudhu yang sunnah. Mencuci Dua Kemaluan Caranya dengan menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri dan dengan tangan kiri itulah kemaluan dan dubur dicuci dan dibersihkan. Tetapi kalau tidak tembus dan menghalangi. Membasahi Seluruh Badan Ketika mandi dan membasahi semua bagian badan. Dengan demikian. Mencuci kedua tangan ini bisa dengan tanah atau sabun. Jumhur ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki. Mencuci Kedua Tangan Pertama sekali yang harus dilakukan ketika mandi janabah adalah mencuci kedua tangan. ada keharusan untuk meratakannya. 4. sebenarnya mandi janabah itu sudah .1. 4. 4.2.

mengangkat hadts besar dan kecil sekaligus. 5. Mandi Sunnah Selain untuk `mengangkat` hadats besar, maka mandi janabah ini juga bersifat sunnah -bukan kewajiban-untuk dikerjakan (meski tidak berhadats besar), terutama pada keadaan berikut:
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

173

6.1. Shalat Jumat Mandi janabah disunnahkan untuk dikerjakan jika seseorang akan melakukan ibadah Shalat Jumat. Hukumnya sunnah dan bukan wajib. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

ّ ٕ ‫ ش‬ٝ ٜ َ‫أ‬ َّ ١ ٝ ّ ‫َّ ج‬ ُ ‫ُؽ‬ ْ َ‫ٍ أ‬ ْ ‫ٍ ِ ج‬ ‫ؿص‬ ََّ ٍ‫َّ ؿّ كَح‬ ُ ٍ ٝ‫ك‬ - ٙ‫ج‬ٌٝ ‫جُؿٔحػس‬

‫َّ ٓغ‬ ‫ز‬ ِ ِٚ‫ ج كَر‬ٝ ‫ش ّ ِٗغ‬

ٝ ّ ٕ َِّ

Orang yang berwudhu' pada hari Jumat maka hal itu baik, namun bila dia mandi, maka mandi lebih utama. (HR. Jamaah)

َ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ ٘ ذ‬١ ‫ِ ش ؽ‬ ‫زَ ػحتِٕ ٕ ع‬ َّ ٜ ‫حٕ هَحَُص‬ ََّ ً َّ ُ ٍ ٖٓ ‫ز‬ ِ ٌ‫َّ ع خ أ‬ ِ َّ : ٖٓ ِ َ ٍ ٖ‫ؿ‬ َّ َِّ ‫َّ ج‬ ُ ‫ز ٓغ ُؽ‬ َّ َّ َِّ َ ُ‫ز جخ ج‬ ِ ٝ ٞ٣ ّ ِ ٝ ٖٓ ِ ‫كؽ‬ ِ ُ‫ز جّ ج‬ ِ ٝ ٖٓ ِ ّ‫ؿ‬ ٢ٔ َّ ِ .-ٙ‫ج‬ٌٝ ‫أقٔى‬ َ ُ‫ش ج‬ ٝ ٞ‫و أذ‬ٝ‫ وج‬٢‫و‬ٜ٤‫جُر‬ٝ ٚ‫كك‬ٚٝ ٖ‫ٔس جذ‬٣ُ‫ن‬
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Nabi SAW mandi pada empat kesempatan : karena janabah, hari Jumat, hijamah dan memandikan mayit. (HR. Ahmad, Abu Daud, AlBaihaki dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya) Disunnahkannya mandi di hari Jumat berlangsung sejak terbitnya matahari hingga zawal (masuk waktu shalat Jumat). Sedangkan mandi janabah setelah usai shalat Jumat, tidak ada kesunnahannya secara khusus. Sunnahnya mandi janabah di hari Jumat hanya berlaku bila tidak mengalami hal-hal yang mewajibkan mandi janabah. Sedangkan mereka yang memang mengalami hal-hal yang mewajibkan mandi, tentu hukumnya wajib. Misalnya orang yang
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

174

kelur mani karena mimpi di hari Jumat, maka wajiblah atasnya mandi janabah sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini :

ُ ّ‫ؿ‬ َّ

ُ ٍ ‫َّ ج‬ َّ ُ ‫ُؽ‬

Mandi Jumat hukumnya wajib bagi orang yang mimpi (keluar mani) (HR. Sab'ah) 6.2. Shalat hari Raya Idul Fithr dan Idul Adha Dalam melaksanakan Shalat Idul Fithr dan Idul Adha juga disunnahkan untuk terlebih dahulu

‫َّ ٓغ‬ ‫ز‬ ‫جؼ‬ ِ ٝ َّ ِ

‫ ع خ‬٠ُ

ُ ًَ َّ َِّّ ‫ْ ش ٓف‬ َّ ُِ - ٙ‫ج‬ٌٝ ‫جُٓرؼس‬

mandi janabah. Dasarnya sunnah berikut ini :

َ ١ ‫ِ ش ؽ‬ َّ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫حٕ ٘ ذ‬ ٕ‫أ‬ ََّ ً َّ ٍُ١ ٝ ّ ِ َّ ْ ِ‫جُل‬ ‫ كَس ٌ ع‬ٝ ٞ٣ ّ ٍ َّ ِ ‫ط‬ ٝ ٞ٣ ّ ُٖ‫ٌ ـ ج‬ َّ ِ

‫َّ ج‬ ُ ‫ُؽ‬

‫َّ ٓغ‬ ‫ز‬ ِ ٝ ٞ٣ ّ

Bahwa Nabi SAW mandi janabah di hari Jumat, hari Arafah, hari Fithr dan hari Nahr (Idul Adha). (HR. Abdullah bin Ahmad)76 6.3. Shalat Gerhana dan Istisqa` Alasannya karena di dalam kedua shalat itu terjadi berkumpulnya orang-orang dalam jumlah yang banyak, sehingga disunnah sebelumnya untuk mandi sunnah. Kesunnahan mandi dalam kesempatan shalat gerhana dan istisqa mengambil kesunnahan shalat Jumat dan shalat Ied, dimana keduanya juga dihadiri oleh jumlah orang yang banyak dan disunnahkan
76 Kekuatan

hadits diperselisihkan oleh para ulama. Penyusun kitab Nailul Authar mengatakan hadits ini dhaif namun At-Tirmizy menghasankannya.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

175

untum mandi sebelumnya. 6.5. Sesudah Memandikan Mayat Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa setelah memandikan mayat disunnahkan untuk mandi sunnah. Dasarnya adalah beberapa hadits berikut ini.

ّ ٕ

َ َّ ْْ ّ‫ؿ‬ ٍ ‫ ضح‬٢ِْ َ‫َّ ش ؽ ك‬ َ َ ٢ٓ َّ ِ ٝ ّ ٕ ٞٓ

‫ٍ ّ ـ‬ ََّ ٙ ٢ِْ َ‫ ك‬ٞ‫ ض‬ٜ ‫أ‬ ْ َ‫ج ؽ ش أ‬ِْٞ ‫َّ خ‬ ُ ًْ َّ ٕ ِ

Orang yang memandikan mayit hendaklah mandi dan yang menggotongnya hendaklah wudhu'. (HR. Khamsah)77

َّ ِ‫ ّ ئ‬١ ‫َّ ش‬ ٕ ُ ًْ ١ ١َ‫ أ‬١‫و‬ ُ ًْ ِ َّ َّ ًٖ ‫ِ ؽ ٕ ج‬ ُ َّ ُ ٍ ‫ِّص‬٤ٔ َ ُ‫ج‬ ِ َّ َ‫ل‬ َّ ١ ‫ِ ش ؽ‬ َّ ٍُ ِ َّ

‫َّ ش‬ ‫ٍج‬ٛ ِ ‫َح‬٠ ‫ِ كَف‬

Sesungguhnya mayit kalian itu meninggal dalam keadaan suci, cukuplah bagi kalian mencuci tangan saja. (HR. Al-Baihaqi)78

ٖٔ ِ َ‫ٕ ّ ج ك‬

١ ‫ِ ش ؽ‬ َّ ُ ٍ ٝ ٖٓ ِ ‫ٕ ّج‬ ِ َّ

Dahulu kami memandikan mayit, sebagian dari kami mandi dan sebagian dari kami tidak mandi.79 Sedangkan Al-Hanafiyah mengatakan tidak wajib mandi karena ada hadits lain yang menyatakan hal itu.

َ‫َّ ل‬ َّ ُ ّ‫َّ ؿ‬ ٍ َ ‫ ع‬٢َُ
77 Abu

ُ ًْ َّ

ٖٓ ِ

Tidak ada kewajiban atas kalian untuk mandi karena

َ َّ ّ‫ؿ‬ ٍ َّ ِ ِّ٤ٔ ِ ‫ص‬ َ ُ‫ج‬

Daud mengatakan hadits ini mansukh (tidak berlaku lagi). Al-Bukhari dan AlBaihaqi mengatakan bahwa hadits ini mauquf. Lihat Nailul Authar jilid 1 halaman 237 78 Ibnu Hajar menghasankan hadits ini 79 Hadits ini dari Ibnu Umar diriwayatkan oleh Al-Khatib dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalany.
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

176

memandikan mayit. (HR. Ad-Daruquthny dan Al-Hakim)80

Dan Ibnu Atha' mengatakan untuk tidak perlu mengatakan bahwa orang yang telah meninggal itu najis.

َ‫ل‬ َّ ‫ؼ ٕ ش‬ ٝ َ‫ل‬ َّ ّ ُ ََّ ‫ِّطح‬٣

‫ج‬ْٞ ّ ٝ َ ‫ح‬ َّ‫َّ ض‬ ُ ًْ

ِٕ‫ٖٓ جُٔإ كَا‬ َّ ِ

٢َُ ِ

ِٖ‫َّ ذ‬ ّ‫ؾ‬ ‫ج‬ ِ ‫ ـ‬١ َّ

Janganlah kalian mengatakan bahwa mayit itu najis, karena sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis, baik dalam keadaan hidup atau pun mati. (HR. Ad-Daruquthny dan AlHakim)81 6.6. Sadar dari Pingsan, Gila atau Mabuk Ibnul Mundzir mengatakan kuat riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mandi setelah siuman dari pingsan, berdasarkan hadits yang muttafaq alaihi.82 Oleh para ulama, dimasukkan juga ke dalam kasus yang sama dengan sadar dari pingsan adaalh sadar dari gila dan sadar dari mabuk . Walau pun hukumnya sunnah bukan wajib. 6.7. Haji dan Umrah Mandi janabah disunnah dalam berbagai ritual haji dan umrah. Ketika akan melakukan ihram ,atau masuk ke kota Mekkah, juga ketika wukuf di Arafah, atau ketika akan thawaf, menurut Imam Syafi`i.
80 Hadits

ini dimarfu'kan oleh Ad-Daruquthny dan Al-Hakim, namun hadits ini mauquf sebagaimana dikatakan oleh Al-Baihaqi. 81 Sanadnya shahih, juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, lihat Nailul Authar jilid 1 halaman 238 82 Nailul Authar jilid 1 halaman 343
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

177

7. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Ketika Mandi Junub : 7.1. Mendahulukan anggota kanan Mendahulukan anggota kanan dari anggota kiri seperti dalam berwudhu`. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh hadits dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW menyenangi untuk mendahulukan tangan kanannya dalam segala urusannya; memakai sandal, menyisir dan bersuci (HR Bukhari/5854 dan Muslim/268) 7.2. Tidak perlu berwudhu lagi setelah mandi. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW mandi kemudian shalat dua rakaat dan sholat shubuh, dan saya tidak melihat beliau berwudhu setelah mandi (HR Abu Daud, at-Tirmidzy dan Ibnu Majah) 8. Hal-Hal Yang Haram Dikerjakan Orang yang dalam keadaan janabah diharamkan melakukan beberapa pekerjaan, lantaran pekerjaan itu mensyaratkan kesucian dari hadats besar. Di antara beberapa pekerjaan itu adalah : 8.1. Shalat Shalat adalah ibadah yang mensyaratkan

haram hukumnya melakukan ibadah shalat. otomatis demikian juga hukumnya buat tawaf. Dasar keharaman shalat dalam keadaan hadats besar adalah hadits berikut ini : ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ َّ ِ‫ٌ ػْ ذٖ ّللا‬ ٘ ‫لَُز‬ َ ‫ ذ ِؾ‬١ ٌ َّ َّ ٌٞٛ .ٙ‫ج‬ٌٝ ١ًٍٓ‫جُكحًْ جُط‬ٝ ٘ ‫َّ لَُز‬ ‫َّ ئل‬ ٕ‫ّللاَ أ‬ َّ ‫َّ أـ‬ ٍٚ َّ ِ ٤ِ‫ٌالَّ ك‬ Ahmad Sarwat.3. Sehingga orang yang dalam keadaan janabah. Kecuali ada satu pendapat menyendiri dari madzhab Al-Hanafiyah yang menyebutkan bahwa suci dari hadats besar bukan syarat sah tawaf. mayoritas (jumhur) ulama sepakat untuk mengharamkan tawaf di seputar ka'bah bagi orang yang janabah sampai dia suci dari hadatsnya. Syarat dari sujud tilawah juga suci dari hadats kecil dan besar. witir. Sujud Tilawah Sujud tilawah adalah sujud yang disunnahkan pada saat kita membaca ayat-ayat tilawah. sehingga kalau shalat itu terlarang bagi orang yang janabah.2. (HR. atau pun shalat yang hukumnya sunnah seperti dhuha. haram hukumnya melakukan sujud tilawah. kecuali Allah membolehkan di dalamnya berbicara.kesucian dari hadats kecil maupun hadats besar."Tidak diterima shalat yang tidak dengan kesucian". baik dilakukan di dalam shalat maupun di luar shalat." (HR. Dasar persamaan nilai shalat dengan tawaf adalah sabda Rasulullah SAW : ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ َِّ ‫َّ خ ع ذ‬ ِ‫ ج‬ٜ َّ ٕ‫ جُٖ أ‬٢ِ‫ هحٍ ٘ ذ‬: ‫ج‬ٞ‫جُط‬ ِ ٖ ‫ ذحُد‬١ ‫ش‬ َّ ِ َ ُ‫ ج‬."Tawaf di Baitullah adalah shalat. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menshahihkannya) Dengan hadits ini. Seorang yang dalam keadaan janabah atau berhadats besar. baik shalat yang hukumnya fardhu a'in seperti shalat lima waktu. tahajjud. Tirmizy. Lc 178 jenazah. Muslim) 8.ٙ‫ج‬ٌٝ ِْٓٓ َّ ِ ٠ ٍٜ ََّ ‫هَح‬:ٍ ََّ ‫ جُٖ هَح‬٢ِ‫ذ‬ ٘ : َ‫ل‬ َّ ْ ‫َّ ض‬ ‫ود‬ ٍُ Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Lc Fiqih Thaharah ‫ف‬ 179 ٚ‫كك‬ٚٝ ٢‫ر‬ًُٛ‫ج‬ Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda. . Tawaf Tawaf di Baitullah Al-Haram senilai dengan shalat. 8. atau fadhu kidfayah seperti shalat Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.

Memegang atau Menyentuh Mushaf Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang yang haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Quran. semuanya sepakat bulat mengharamkan orang yang dalam keadaan janabah untuk melafadzkan ayatayat Al-Quran. Al-Malikiyah. 8.5. Sehingga dalam pandangan yang menyendiri ini.84 8. 83 Pendapat ini didasarkan pada fatwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang menyebutkan bahwa menyembelih kambing wajib bagi seorang yang melakukan ibadah haji dalam dua masalah : [1] bila tawaf dalam keadaan janabah. namun An-Nasa’i dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits ini tersambung. Lc Fiqih Thaharah ْ‫ٌ ػ‬ ٜ ‫َّ ع‬ ٕ ِ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫إَٔ ٘ ذ‬ ٍٙ ََّ ‫ هَح‬: َ‫ل‬ َّ meriwayatkan hadits ini secara mursal. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ َِّ ِ ‫ٕ جخ‬ ْ ‫أ‬ ‫هٍ ش‬ 84 Malik Ahmad Sarwat.ٌ ٝ ‫ ج‬ٙ ّ ٍ ُٖ‫ ِ ج‬٢ِ‫ جت‬ٝ ‫جخ‬ ٕ ‫قد‬ ََّ ِ ٕ‫ج‬ Dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada „Amr bin Hazm tertulis : Janganlah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali dia dalam keadaan suci”.melainkan hanya wajib. AlWaqi‟ah ayat 79) Ditambah dan dikuatkan dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini : ْ ٌ ْ‫ق‬ ٝ ‫و خ ع ٕ ع‬ َِّ ‫ّللا‬ َّ َِّ ٢ِ‫ٍ خ أَذ‬ َّ ً ٙ َّ ََُ‫ ج‬ٙ َّ َٕ‫ أ‬٢ِ‫ٌص ك‬ َّ ِ َ ‫ٕ خ‬ ِ ِ ُْ َ‫خ ج‬ ِ ‫ ج‬١ً ِ َُ‫ج‬ َ ‫ خ‬ٙ ‫ًص‬ ٌ ْٞ َّ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ ‫ ع ّللا‬٢َُ ٙ َّ َِّ ‫َّ َ ـ‬ ّ: ٕ َّْ َ‫لَ أ‬ َّ ِ َ ٘ ٠ُ َّ ِ ِ َُٝ ِ ُْ ‫ ّ ُِغ‬ٌٝ ِ ‫ٕ خ‬ ١ ّ ِ ٍ‫إٓ جٍَْ ُه‬ ََّ َّ ‫ ئِل‬ٙ َّ َِّ ‫ل ِ ٍٓ ى ج‬ َّ ٝ ٝ ٘ ٍ ََّ ٙ ِ ‫َح‬٠ ٌ . Lc 180 َ‫ ل‬١ ّ ِ َّ ٙ َّ ‫ ئِل‬َٚ‫جُٔط‬ ٌٕٝ `Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci. berupa menyembelih seekor kambing. yaitu Al-Hanafiyah. (QS. Dalilnya adalah firman Allah SWT berikut ini : 83 Al-Bada'i jilid 2 halaman 129 dan Al-Majmu' jilid 2 halaman 159 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.(HR.` . seorang yang tawaf dalam keadaan janabah tetap dibenarkan. Setidaknya hadits ini ma’lul (punya cacat) 181 ‫حب‬ َّ َ ُ‫ج‬ ِ ‫ك‬ ٜ ٝ َ‫ل‬ َّ ‫َّ ج‬ ُ ‫ ٔ ٗد ُؽ‬١ ‫ٖٓ تح‬ ٕ ِ ٍ‫َّ جُو‬ ِ ‫ آ‬. [2] bila melakukan hubungan seksual setelah wuquf di Arafah.4. Malik).ٙ‫ج‬ٌٝ ١ًٍٓ‫جُط‬ . namun dia wajib membayar dam. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran Empat madzhab yang ada.

Ahmad)86 Larangan ini dengan pengecualian kecuali bila lafadz Al-Quran itu hanya disuarakan di dalam hati.6. 87 Bidayatul Mujtahid jilid 1 halaman 133 88 Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah jilid 16 halaman 54 86 Sebagian Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Pendapat ini adalah pendapat Malik. (HR. (HR Bukhari dan .ٙ‫ج‬ٌٝ ‫أقٔى‬ َ ‫ٕ جُوٍ ج‬ ِ َ ٙ ٔ ١ َّ Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan junub. apabila telah selesai (dari haidh). sedang kamu dalam keadaan mabuk. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Masuk ke Masjid Seorang yang dalam keadaan janabah. Bukhari. Apabila haidh tiba. Juga bila lafadz itu pada hakikatnya hanyalah doa atau zikir yang lafznya diambil dari ayat Al-Quran secara tidak langsung (iqtibas). hingga kamu mandi. Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah. terkecuali sekedar berlalu saja.Dari Abdillah Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasululah SAW bersabda. oleh AlQuran Al-Kariem secara tegas dilarang memasuki masjid. kecuali bila sekedar melintas saja.87 Diriwayatkan bawa Ibnu Abbas radhiyalahu anhu dan Said ibnul Musayyib termasuk pihak yang membolehkan wanita haidh melafadzkan ayat-ayat bahkan keseluruhan Al-Quran. (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub. `Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. Tirmizy)85 َ َ‫ل‬ ‫ ع ٕ ع‬٢ُِ ٖ‫ذ‬ َِّ ٢‫أذ‬ َِّ َّ ‫َحُد‬٠ ٜ ‫ ُٔح‬١ٌٝ ٕ‫ أ‬٢‫حٕ ٘ جُ٘ر‬ ََّ ً َّ ١ ‫َّ ـ‬ ‫ؼ‬ ‫ز هٍِ ٕ ع ء‬ َّ َِّ ‫َّ آ‬ ‫ؿٖ ئل‬ َّ َ ُ‫ز جخ ج‬ ِ‫ء‬ ِ . Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila masa haidhnya terlalu lama. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan."Wanita yang haidh atau orang yang janabah tidak boleh membaca sepotong ayat Quran (HR. janganlah kamu salat. tingalkan shalat. maka mandilah dan shalatlah. An-Nisa' : 43) Selain Al-Quran. ْ َّ ْ ُٙ‫زَ ج‬ ْ َ‫هٍ ش ل‬ َْ ٟ ١ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ٖ ج‬٣ً َّ ‫ج‬ٞٗ َّ ‫ج‬ٞ‫ذ‬ ََّ‫ ل‬ٝ َٕ‫ضْ أ‬ ٌ‫ٌح‬ ِ ُ‫آّ ج‬ ْ ‫ ش ـ‬ٟ ‫َّ ع ش‬ ٍ َّ ‫ج‬ٞٓ َ ْ ُِ َ‫َّ ج ؾ٘د ل‬ ّ ‫ٕ ش ج‬ُٞ ََّ ٞ‫ ُه‬ٝ َّ ‫ ع ئِل‬١ٍ َ٤ِ‫ ش ـ ذ‬ٟ ‫ج ش ؽ ش‬ُٞ َّ ِ ِ ِ‫َّ ِ جذ‬ Hai orang-orang yang beriman. 88 85 Ibnu Hajar Al-Asqalani mendhaifkan hadits ini muhaqqiq mendhaifkan hadits ini.(QS. Sunnah Nabawiyah juga mengharamkan hal itu : Dari Aisyah RA. Lc 182 8. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak. (HR.

Lc Fiqih Thaharah 185 sepatunya. 3.Muslim) Bab 9 Mengusap Dua Khuff 1. Sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas kedua Ahmad Sarwat. Masyru`iyah Pensyariatan mengusap khuff didasari oleh beberapa dalil antara lain hadis Ali r. Abu Daud dan Daru Qudni dengan sanad yang hasan dan disahihkan oleh Ibn Hajar) Selain itu ada juga hadis lainnya . baik terbuat dari kulit maupun benda-benda lainnya. Lc 184 dibolehkan dalam kondisi tertentu untuk berwudhu tanpa membuka sepatu atau mencuci kaki. Pengertian Khuff Sepatu atau segala jenis alas kaki yang bisa menutupi tapak kaki hingga kedua mata kaki.a َ ‫ جُى‬١ ٕ ‫ ع ٕ ع‬٢ُِ ٌ ٢ٞ َُ‫ ج‬ٙ ‫ٕ ع‬ َّ ٙ َٕ‫أ‬ ٍٙ ََّ ‫ هَح‬: َُٞ ٕ‫ح‬ ََّ ً ِ ْ َ َُ ٍُ‫ ذِح‬١ َِّ ‫حٕ أ‬ ََّ ٌ ْ ِ‫ـ ِ ذ‬ َِ‫ف أ‬ ََّ َّ ُ ٍ ٍ‫ج‬ َّْ ‫ نق‬َٝ‫ أ‬٠َُ ُْ‫ح‬ َّ َّ ٙ ، ٝ ‫ ٌ هَى‬١َ‫ٌ ش أ‬ ِ ‫لَ أَع‬ ِ ٖٓ ََّ ٍْٞ َّ ِ‫ّللا‬ ١ ّ ِ ‫ ع ـ‬٠َُ ٍ َّ َّ ٙ َ‫أ‬ َّ ٞ‫و ج و ذ‬ٝ ِِ‫جو ٕ ذِا‬ َّ ِ ‫ ظَح‬٢‫ نل‬ٙ ِ ‫ؼ ٌ أَل‬ ِ ٛ ‫َّ ِ ـ‬ ٕs Dari Ali bin Abi Thalib berkata :`Seandainya agama itu semata-mata menggunakan akal maka seharusnya yang diusap adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya. Biasanya terkait dengan masalah udara yang sangat dingin padahal ada kewajiban untuk berwudhu dengan air dan hal itu menyulitkan sebagian orang untuk membuka bajunya. 2. Makna mengusap khuff Mengusap khuff artinya adalah mengusap sepatu. Makna mengusap adalah menjalankan tangan diatas sesuatu dan secara syari`ah maksudnya ialah membasahkan tangan dengan air lalu mengusapkannya ke atas sepatu dalam masa waktu tertentu. Cukup dengan mengusapkan tangan yang basah dengan air ke bagian atas sepatu dan mengusapnya dari depan ke belakang pada bagian atas. Mengusap khuff merupakan bentuk keringanan yang diberikan oleh Allah kepada umat Islam. sebagai ganti dari mencuci kaki pada saat wudhu`. sehingga Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.(HR. Dimana alas kaki bisa digunakan untuk berjalan kaki.

Ibadhiyah. Sedangkan Khawarij mutlak tidak membolehkannya. Kalangan yang Mengingkari Kalangan Syi`ah Imamiyah. Dalil mereka adalah bahwa semua hadis diatas dianggap mansukh oleh ayat tentang wudhu pada surat Al-Maidah . (HR.١ ‫ ع‬٢ِٗ ٢ِ‫ك‬ ِ ِ‫ جك‬ٝ ٞ٣ ّ ‫ ج‬ٝ ٢َُ َّ ْ ِ ‫ـ‬ ُْ‫ج‬ َّ ِ ‫ ع‬٠َُ َّْ ٍ‫ج‬ ٢‫ٕ نل‬ َِّ ‫ؼ ٌ أَل‬ ٙ ّٓ ٍ َِّ ّ Dari Ali bin Abi Thalib r. Lc ٕ َّ ٍ‫ٍ ج‬ ََّ ‫هَح‬ ِ ‫َّ ِ ع‬ ‫َّ ٗحخ‬ ‫ ز‬ٝ ٌٖ ِ َُ ١ً َّْ ُِ‫ج‬ ِٓ ِ ،ٝ ‫ق‬ 186 kaki kami dalam keadaan suci. Khawarij adalah termasuk mereka yang mengingkari pensyariatan mengusap dua sepatu. dan kami tidak boleh membukanya untuk berak dan kencing kecuali karena junub (HR. Dengan pengecualian bahwa syiah al-Imamiyah membolehkannya bila dalam keadaan darurat saja. Ahmad.) Juga ada hadis dari al Mughirah bin Syu`bah Dari al Mughirah bin Syu`bah berkata : Aku bersama dengan Nabi (dalam sebuah perjalanan) lalu beliau berwudhu. Zaidiyah. Tirmizi dan dihasankan oleh Bukhari) 4. selama tiga hari bila kami bepergian atau sehari semalam bila kami bermukim. NasA`i.َ‫س‬ َّ َ‫ غالغ‬١َ‫َّ أ‬ ّ‫ ج‬s ‫ ع‬٢ُِ ‫ٕ خ‬ َِّ ٢ِ‫َّ أَذ‬ ‫َحُِد‬٠ ٌ ٢ٞ َُ‫ ج‬ٙ ‫ٕ ع‬ َّ ٍٙ ََّ ‫ٍ ع ؼ هَح‬ ََّ ِ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ٝ ٢َُ ٖٜ٤ُِ‫َ ج‬ َّْ ُِ ّٓ ٍ َّ ‫َ َُس‬ َّْ ُِ َّ ْ٤ ِ ِ‫ ٓو‬. Mutafaqun `Alaih) Ada juga hadis Sofwan bin `Asal ْ ّ ٌٕ ‫يج ج‬ ْ ‫ ج‬s ‫ ٘ ٕ ع‬ٞ‫ك‬ ْ ٕ‫ج‬ َ ‫َّ ئ‬ ١ ‫أ‬ َّ ُ ًٖ ‫كٍ ِ ج‬ ََّ ‫خ‬ َ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ : ٕ‫ح‬ ََّ ً َ‫ غَالغَس‬١َ‫َّ أ‬ َ‫ٕ ل‬ َّْ َ‫َّ أ‬ ٕ ‫َع‬ ّ‫ ج‬ٝ ٢َُ ٖٜ ‫ٖٓ ئل‬ ِ ‫َّ ج‬ ِ ‫ؼ‬ ِ ٤ُِ‫ ج‬، َّ ِ َٖ‫نلَحك‬ ٖٓ ِ َ ٝ ٞ‫َّ ذ‬ ١ِ‫ؿحت‬ َّ ٍ ٝ ٞٗ َّ ّ ‫ؼ ٌ أَل‬ ٙ ُٖ‫ ِ ج‬٢ِ‫ جت‬ٝ ‫ٌ جُص‬ ُ‫ٍظ‬ َّ ََّ ٙ ، ٝ ‫جخ‬ ٕ ُ‫ ن‬١ ّ َ‫ز‬ َّ ٝ ٘ ‫ ج ـ ـ‬ٙ Dari Shafwan bin `Asal berkata bahwa Rasululah SAW memrintahkan kami untuk mengusap kedua sepatu bila kedua Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. sebab aku memasukkan kedua kakiku dalam keadaan suci". aku ingin membukakan sepatunya namun beliau berkata :`Tidak usah. Tirmizi dan Ibn Majah. lalu beliau hanya megusap kedua sepatunya (HR.a berkata bahwa Rasulullah menetapkan tiga hari untuk musafir dan sehari semalam untuk orang mukim (untuk boleh mengusap khuff). Muslim. Abu Daud.

Jadi bagaimana mungkin ayat yang turun lebih dahulu menasakh atau membatalkan hukum yang datang kemudian? Mereka juga berhujjah bahwa Ali bin Abi Thali ra pernah berkata: Bahwa Qur`an mendahului tentang masalah khuff. sebab perkataan beliau ra itu dari segi riwayat termasuk munqati` (terputus). Ini dilakukan cukup sekali saja. sedangkan bagian bawahnya hanya disunahkan saja.ْ ‫يج‬ ْ ُّ ْ ‫ كح‬ٝ ٙٞ‫ؾ‬ َ ِ‫ُهْ ئ‬ ١ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ٖ ج‬٣ً َّ ‫ج‬ٞٗ ْ‫ ض‬٠َُِ‫ ئ‬ُٙ‫ز ج‬ َّ َّ ِ ُ‫آّ ج‬ ِ ‫ج ل‬ُٞ ِ ‫ؿ‬ ُ ًْ َّ ْ ٌ ‫ن‬ ْ ‫خ‬ ٝ ١َ‫ أ‬١‫و‬ ُ ًْ ٠َُِ‫جُْ ئ‬ َّ َّ ‫ج‬ٞ‫ق‬ َّ َّ ُ ًْ َّ ِ َّ ِ ٌ ِٝ‫ؤ‬ ِ ِ‫ جك‬ٝ ّ‫ِ ج‬ ِ ٝ ٌَ‫أ‬ ََّ َّ َ‫ؾ‬ ُ ًْ ٠َُِ‫ئ‬ "Hai orang-orang yang beriman. atau bagian sampingnya atau bagian belakangnya. tidak perlu tiga kali. tangan yang basah itu ditempelkan ke sepatu dan digeserkan ke arah belakang di bagian atas sepatu. Praktek Mengusap Sepatu Mengusap sepatu dilakukan dengan cara membasahi tangan dengan air. paling tidak menggunakan tiga jari. dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki (QS. sehingga tidak bisa dijadikan hujjah (argumen) yang diterima. Sedangkan hadis tentang mengusap khuff terjadi pada perang Tabuk. maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. sebab para ahli sejarah sepakat bahwa ayat wudhu ini turun pada saat perang Bani Mushtaliq yang terjadi pada bulan sya`ban tahun ke enam hijriah. yang jatuh pada bulan rajab Ahmad Sarwat. Pendapat ini juga salah. Dan tidak sah bila yang diusap bagian bawah sepatu. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. Al-Maidah : 6) Pendapat ini tentu saja tidak benar. Yang wajib menurut mazhab Al-Malikiyah adalah mengusap seluruh bagian atas sepatu. yang diusap adalah bagian atas bukan bawah atau belakang. Sedangkan mazhab As-Syafiiyah mengatakan cukuplah sekedar usap sebagaimana boleh mengusap sebagian kepala. Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa . Lc Fiqih Thaharah 187 tahun kesembilan hijriah. Sebenarnya tidak disunnahkan untuk mengulanginya beberapa kali seperti dalam wudhu'. 5. mulai dari bagian atas dan depan sepatu.

Berwudhu sebelum memakainya Sebelum memakai sepatu seseorang diharuskan berwudhu atau suci dari hadas baik kecil maupun besar. Lc Fiqih Thaharah 189 dengan disamak. 6. Tidak Berlubang Mazhab As-Syafi’iyah dalam pendapatnya yang baru dan mazhab Al-Hanabilah tidak membolehkan bila sepatu itu bolong meskipun hanya sedikit. Sepatu itu harus rapat dari semua sisinya hingga mata kaki.2. Lc 188 haruslah terusap sebagian besar bagian depan dan atas sepatu. Tidak Najis Bila sepatu terkena najis maka tidak bisa digunakan untuk masalah ini. Sepatu yang tidak sampai menutup mata kaki tidak masuk dalam kriteria khuff yang disyariatkan. 6. Sebagian ulama mengatakan suci hadas kecilnya bukan dengan tayamum tetapi dengan wudhu. Sebab bolongnya itu menjadikannya tidak bisa menutupi seluruh tapak kaki dan mata kaki. Atau sepatu yang terbuat dari kulit bangkai yang belum disamak menurut Al-Hanafiyah dan As-Syafiiyah. tapi kalau bolongnya besar mereka pun juga tidak membenarkan. 6. 6. Bahkan menurut Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah.Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.5. 6. Namun jumhur ulama menganggap bahwa itu . Sepatunya harus suci dan menutupi tapak kaki hingga mata kaki Tidak dibolehkan mengusap sepatu yang tidak menutupi mata kaki bersama dengan tapak kaki.1. hukum kulit bangkai itu tidak bisa disucikan walaupun Ahmad Sarwat. Tidak Tembus Air Mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa sepatu itu tidak boleh tembus air. tidak boleh menjalankan syariat mengusap. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan mazhab AlHanafiyah secara istihsan dan mengangkat dari keberatan mentolerir bila ada bagian yang sedikit terbuka.3. sehingga meski dipakai. sehingga semua sepatu yang terbuat dari kulit bangkai tidak bisa digunakan unuk masalah ini menurut mereka. Syarat untuk Mengusap Sepatu 6. Namun mazhab As-Syafiiyah mengatakan boleh dengan tayamum. Sehingga bila terbuat dari bahan kain atau berbentuk kaus kaki dari bahan yang tembus air dianggap tidak sah.4. Tidak disunahkan mengusap bawah atau belakangnya sebagaimana perkataan al Hanafiyah.

Aku bertanya lagi tiga hari ? Beliau Ahmad Sarwat. Tirmizi dan dihasankan oleh Bukhari) Sedangkan mazhab Al-Malikiyah tidak memberikan batasan waktu. Lc Fiqih Thaharah 191 menjawab terserah.boleh-boleh saja. Aku bertanya lagi ? Beliau menjawab : dua hari. memrintahkan kami untuk mengusap kedua sepatu bila kedua kaki kami dalam keadaan suci. Masa Berlaku Jumhur ulama mengatakan seseorang boleh tetap mengusap sepatunya selama waktu sampai tiga hari bila dia dalam keadaan safar. Yang Membatalkan . Bila dalam keadan mukim hanya satu hari. Dalilnya adalah yang telah Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. dan rijalnya tidak dikenal sehingga pendapat al Malikiyah ini dianggap lemah. Lc 190 disebutkan diatas: ْ ّ ٌٕ ‫يج ج‬ ْ ‫ ج‬s ‫ ٘ ٕ ع‬ٞ‫ك‬ ْ ٕ‫ج‬ َ ‫َّ ئ‬ ١ ‫أ‬ َّ ُ ًٖ ‫كٍ ِ ج‬ ََّ ‫َّ خ‬ ٕ ٍ‫ٍ ج‬ ََّ ‫ هَح‬: ِ ‫َّ ِ ع‬ َ ُٖ‫ ج‬٢ِ‫ذ‬ ََّ ً ٕ‫ح‬ َ‫ٕ ل‬ ّ ّ‫ٖٓ ئل‬ َّْ َ‫َّ أ‬ ٕ ‫َع‬ َّ َ‫ غَالغ‬١َ‫َّ أ‬ ّ‫ ج‬ٝ ٢َُ ٖٜ ََّ ُ ‫ز‬ ِ ‫سَ ج‬ ِ ‫َّ ٗحخ ؼ‬ ِ ٤ُِ‫ ج‬، ُ ِ َٖ‫نلَحك‬ ٝ ٌٖ ِ َُ ٖٓ ِ َ ٝ ٞ‫َّ ذ‬ ١ِ‫ؿحت‬ َّ ٍ ٝ ٞٗ َّ ّ ‫ؼ ٌ أَل‬ ٙ ُٖ‫ ِ ج‬٢ِ‫ جت‬ٝ ‫ ٌ جُص‬١ً َّْ ُِ‫ج‬ ِٓ ِ ،ٝ ‫ق‬ ُ‫ٍظ‬ َّ ََّ ٙ ، ٝ ‫جخ‬ ٕ ُ‫ ن‬١ ّ َ‫ز‬ َّ ٝ ٘ ‫ ج ـ ـ‬ٙ "Dari Sofwan bin `Asal berkata bahwa Rasululah saw. selama tiga hari bila kami bepergian atau sehari semalam bila kami bermukim. dan kami tidak boleh membukanya untuk berak dan kencing kecuali karena junub"(HR. Sehingga mazhab Al-Hanafiyah pun juga membolehkan seseorang mengusap kaos kakinya yang tebal. 7. Nasa`i. Ahmad. Dalilnya ialah : ‫ ُأخ ٕ ع‬١ ‫ٕ خ‬ َِّ ْ‫زَ جٌ ػ‬ َّ ٌ ٢ٞ َُ‫ ج‬ٙ ‫ٕ ع‬ َّ ٙ ، َٕ‫أ‬ ٍٙ ََّ ‫ هَح‬: ِ ١ ‫ٌج‬ ََّ ٍْٞ َّ ‫ّللا‬ ِ َ ّ‫ِ أ‬ ‫ ع ـ‬٠َُ ٍ‫ج‬ َّْ ٢‫ٕ نل‬ َِّ ‫ٍ ؟‬ ََّ ‫ هَح‬: ٕ ‫ٍ ّ ع‬ ََّ ‫ هَح‬: ١ ٝ ّ ‫ٍ ؟ ج‬ ََّ ‫ هَح‬: ٕ ‫ٍ ّ ع‬ ََّ ‫ هَح‬: َ‫ غَالغَس‬١َ‫َّ أ‬ ٝ ٞ٣ ّ ١ ٕ َِّ ‫ٍ ؟‬ ََّ ‫ هَح‬: ٕ ‫ٍ ّ ع‬ ََّ ‫ هَح‬: ٝ َّ ّ‫ٍ ؟ ج‬ ََّ ‫ هَح‬: ٕ ‫ ّ ع‬، ٝ ّ ‫ج‬ ْ ِ‫ذ‬ ْٖ ‫ثص‬ ٙ َ‫أ‬ َّ ٞ‫و ج و ذ‬ٝ ، ٝ ٍ‫ح‬ ََّ َ‫ ه‬: ٢َُ ِ ١ٞ ِ ‫ؼ ٌ أَل‬ ِ َ‫حُو‬ Dari Ubai bin Imarah r.(HR.a berkata: Ya Rasulullah bolehkah aku mengusap dua sepatu beliau menjawab boleh aku bertanya lagi sehari ? beliau menjawab: sehari. Jadi selama waktu itu tidak dicopot selama itu pula dia tetap boleh mengusap sepatu. Abu Daud) Hadis ini lemah isnadnya. 8.

8. baik karena hubungan suami istri.5. Namun apabila dalam masa sehari semalam atau 3 hari 3 malam itu terjadi sesuatu yang membatalkan kebolehan mengusap khuff. Adapun hal-hal yang bisa membatalkan kebolehan mengusap kedua khuff antara lain adalah : 8. keringnya kaki dalam khuff menjadi syarat sahnya syariat ini. 8. Sekali dilepas. Basahnya kaki yang ada di dalam sepatu Apabila kaki dalam sepatu terkena air hingga basah. Habis waktunya.2. Jadi 24 jam dalam sehari harus tetap mengenakan. Melepas atau terlepas sepatu baik satu atau keduanya Apabila selama hari-hari dibolehkannya mengusap dua khuff. Berlubang atau robek sehingga terlihat Dengan berlubangnya sepatu sehingga kaki yang di dalam sepatu bisa terlihat.4. Dan untuk itu. Sebab atasnya ada kewajiban yang lebih utama. maka batal kebolehannya. atau karena keluar mani. Dalam hal ini. dia wajib melepas sepatunya. Dan melepas kedua khuff Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. seseorang melepas sepatunya. meski belum sampai batas maksimal waktunya.3. Dan untuk itu dia wajib melepas kedua khuffnya. maka dengan sendirinya gugur kebolehan mengusap kedua khuff sebagai ganti dari mencuci kaki dalam wudhu'. Yaitu satu hari satu malam buat mereka yang muqim dan 3 hari bagi mereka yang dalam keadaan safar. Mendapat janabah Bila seorang yang telah mengenakan khuff mendapatkan janabah. 8. Sebab syarat pelaksanan syariat ini adalah selalu dikenakannya kedua khuff tanpa dilepaskan. maka kebolehan mengusap khuff dengan sendirinya menjadi gugur. Lc 192 tentu membatalkan kebolehannya. maka kebolehan mengusap dua khuff menjadi batal dengan sendirinya. termasuk ke kedua kaki. yaitu mandi janabah. 8. maka secara otomatis selesai sudah masa berlakunya.Sudah disebutkan sebelumnya bahwa masa berlaku syariat mengusap khuff ini sehari semalam bagi yang muqim dan 3 hari tiga malam bagi musafir. Semua itu terjadi manakala tidak ada halhal yang membatalkan kebolehannya. wajib atasnya untuk . maka kebolehan mengusap dua khuff dengan sendirinya menjadi batal.1. lantaran kewajiban mandi janabah adalah meratakan air ke seluruh tubuh. Bila telah habis waktunya.

yaitu dengan mencuci kaki. Dan makna ( ٜ‫ قح‬١‫جو‬ُٞ‫ ) ج‬haadhal wadhi adalah bila air mengalir pada suatu wadi. Di dalam Al-Quran Al-Kariem dijelaskan tentang masalah haid ini dan bagaimana menyikapinya.90 Asy-Syafi'iyah menegaskan bahwa haidh adalah darah yang keluar dari ujung rahim seorang wanita setelah baligh karena keadaannya yang sehat tanpa penyebab tertentu dan keluar pada jadwal waktu yang sudah dikenal.91 Al-Hanabilah menyebutkan bahwa haidh adalah darah asli yang keluar dimana wanita itu sehat bukan karena sebab melahirkan. Biasanya berwarna hitam. namun pada hakikatnya masih saling terkait dan saling melengkapi. Pengertian Kata haidh ( ٝ٤‫ ) جُك‬dalam bahasa Arab berarti mengalir.92 Intinya bisa kita simpulkan secara sederhana bahwa haidh adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita atau tepatnya dari dalam rahim wanita bukan karena kelahiran atau karena sakit selama waktu masa tertentu. Sedangkan haidh secara syariah punya beberapa pengertian lewat definisi para ulama yang meski beragam. Bab 10 Haidh 1. Lc 194 Al-Hanafiyah mengatakan bahwa pengertian haidh adalah darah yang terlepas dari rahim wanita yang sehat dari penyakit dan sudah bukan anak kecil lagi.berwudhu' dengan sempurna. panas. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lc Fiqih Thaharah 195 . Namun setelah itu boleh kembali mengusap khuff seperti sebelumnya.89 Al-Malikiyah mendefiniskan haidh sebagai darah yang dibuang oleh rahim di luar kehamilan dan bukan darah melahirkan. ٝ ٢ِ‫ك‬ ْ ُْ‫ج‬ ‫ش‬ ّ٣ َُُٕٞ‫ى أ‬ ْ َّ ‫َّ ع‬ ٕ ٝ٤ َّْ ُ ِ َ‫ه‬ ِ ُْ‫ج‬ ِ ‫ق‬ ٞٛ ْ َُ ٟ‫ج ش كَحع أَي‬ُٞ َّ ِ ُٖ‫جء ِ ج‬ ْ ١ ٠ َّ َ ِ ‫كَا‬ ٍٛ َّ ٕ َ ‫يج‬ ْ ٝ٤ َّ َّ ‫هٍ ش‬ ٞ‫ٖ ذ‬ٛ ِ ٝ َ‫ل‬ ِ ‫ق‬ َٚ٠ ٌ ٕ ََّ َّْ ‫ كَأ‬ٞ‫ٖ ض‬ٛ ٖٓ ِ ‫ ش ـ‬ٟ 89 Hasyiatu 90 Hasyiatu Ibnu Abidin jilid 1 halaman 188 Ad-Dasuqi jilid 1 halaman 168 91 Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 168 92 Kasysyaf Al-Qinna' jilid 1 halaman 196 Ahmad Sarwat. dan beraroma tidak sedap.

para ulama menetapkan beberapa syarat. Artinya bukan darah karena penyakit dan juga karena melahirkan. 2. `Haid adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah kepada anak-anak wanita Nabi Adam (HR. Syarat Darah Haidh Untuk membedakan antara darah haidh dengan darah lainnya. Lc 196 dasar nifas. Apabila mereka telah suci.‫ ـ‬١ َّ ُ ‫َّ ٌ أَّ ظ‬ ُ‫ى‬ َّْ ٍ‫ج‬ ‫ ٓص‬َٚ٠ ٖ٣ٌ ِ َّ َّّ ُ‫ ج‬ٙ َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّّ ‫كد‬ ِ ٣ ‫ جُص‬ٝ ٖ٤ِ‫جذ‬ ٝ ‫كد‬٣ ِ `Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. `Bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang haid. Bila darah itu keluar dari dubur.3.1. Demikian juga bila darah itu berasal dari penyakit tertentu yang mengakibatkan pendarahan di kemaluan wanita. Darah Istihadhah Darah istihadhah adalah darah yang keluar dari rahim wanita.2. Darah Wanita Dalam kaca mata fiqih. Dari Aisyah r.Darah Nifas Darah nifas adalah darah yang keluar bersama anak bayi atau melahirkan. 2. maka darah itu disebut dengan darah nifas. antara lain : Darah yang keluar itu berasal dari dalam rahim dalam keadaan sehat. sebelum mereka suci .a berkata . Bila darah itu keluar dari sebab melahirkan. maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Darah yang keluar sebelum waktu melahirkan tidak dikatakan sebagai Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Bukhari Muslim) 2. dan janganlah kamu mendekati mereka. maka darah itu bukan darah haidh. lantaran wanita itu dalam keadan sakit. harus didahului .(QS. 3. Darah Haid Darah haid adalah darah yang keluar dari dalam rahim wanita dalam keadaan sehat. Katakanlah: `Haidh itu adalah suatu kotoran`. Sebelum keluar darah haidh. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. maka itu bukan darah haidh. Al-Baqarah : 222) Demikian juga di dalam hadis Bukhari dan Muslim. 2. darah yang keluar dari kemaluan wanita ada tiga macam: dengan masingmasing status hukum yang tersendiri. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. Darah itu keluar bukan karena sebab melahirkan bayi.

Sedangkan paling lama menurut madzhab ini adalah sepuluh hari sepuluh malam. Ahmad Sarwat. Namun dalam kasus `iddah dan istibra` lamanya satu hari. Maka bila ada darah keluar sebelum masa rentang waktu ini bukanlah darah haid tetapi darah penyakit. As-Syafi`iyah mengatakan tidak ada akhir sehingga selama hidup masih berlangsung bagi seorang wanita tetaplah dianggap haid bila keluar darah. Pada Usia Berapakah Mulai dan Berakhirnya Haid. dan bila kurang dari itu tidaklah disebut haid tetapi istihadhah. (HR. Darah yang keluar itu terjadi pada seorang wanita yang memang sudah memasuki masa haidh dan sebelum masuk ke masa tidak mungkin haidh lagi. Lc Wahbah Az-Zuhaili. Lc Fiqih Thaharah 197 4.93 Dan haid itu akan berakhir hingga memasuki sinnul ya`si. salatnya dan tawafnya. 198 itu paling sepat buat perawan dan janda tiga hari. Dan Al-Hanabilah mengatakan 50 tahun dengan dalil : `Bila wanita mencapai usia 50 keluarlah dia dari usia haid (HR. bila seorang wanita mendapatkan haid dalam sekejap itu. Lama Haid Bagi Seorang Wanita Al Hanafiyah mengatakan bahwa paling cepat haid itu terjadi selama tiga hari tiga malam. Ahmad).kondisi suci dari haidh ( ٍٜ‫) جُط‬. Dasar pendapat mereka adalah hadis beriut ini : `Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Haid 93 Al-Fiqhul Islami oleh Dr. Sedangkan Al-Malikiah mengatakan 70 tahun. kalau lebih dari itu bukan haid tapi istihadhah. Tabarani dan Daruquthni dengan sanad yang dhaif) Al Malikiyah mengatakan paling cepat haid itu sekejap saja. Haid itu dimulai pada masa balighnya seorang wanita kira-kira usia 9 tahun menurut hitungan tahun hijriyah. As-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa paling cepat haid itu adalah satu hari satu . Masa suci dari haidh sendiri nanti akan dibahas Masa rentang waktu keluarnya darah itu setidaknya memenuhi batas minimal. Abu Hanifah mengatakan : bahwa sinnul ya`si itu usia 50 tahun. 4. batallah puasanya. Para ulama berbeda pendapat tentang sinnul ya`si. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. meski pun hanya hukumnya saja bukan fisiknya. Dan paling lama sepuluh hari. Atau secara hitungan hari 354 hari.

maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. 94 Untuk masa ini. janganlah shalat. Lama Masa Suci Masa suci adalah jeda waktu antara dua haid yang dialami oleh seorang wanita.a yang berkata : Paling cepat haid itu sehari semalam. Bila yang yang keluar seperti itu. al Qawwanin al Fiqhiyyah halaman 41 199 6. keringnya darah dan kedua. Dan paling lama lima belas hari lima belas malam. dan bila lebih dari lima belas hari menjadi darah istihadhah."Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha. Pendapat ini sesuai dengan ucapan Ali bin Abi Thalib r.` 5. Perbuatan Yang Haram Dilakukan Karena Haid 6. Sebab seorang wanita yang sedang mendapat haid telah gugur kewajibannya untuk melakukan salat. Sedangkan Al-Hanabilah mengatakan bahwa : `Masa suci itu paling cepat adalah tiga belas hari. Dalilnya adalah hadis berikut ini : ‫زَ جتِٕ ع ٕ ع‬ َّ ٢ٌٞ َّ ‫ ٕ ع ّللا‬ٙ ‫ ج‬:َّ ٕ‫ْ أ‬٠ َّ ِٖ‫ ش ذ‬٢ِ‫ قد أَذ‬١ ٔ َّ ِ ‫زَ كَح‬ َ ‫ش‬ ٕ‫ًح‬ ِٕ‫ ّ و ئ‬٢‫ك‬ َّ َّ ّ َِ‫ أ‬ٝ ‫ و‬s ّ‫ ج ـ ش ض‬ٜ ٍ ََّ ‫ كَوَح‬َُٚ ‫ٌ ج‬ ْٞ َ ُ‫ ج‬ٜ ِ ‫و‬ ُ ٍ ‫ّللا‬ َّ َ َّ‫ كَأ‬٢ٌ َ ‫يُِي‬ َ ‫ل‬٥‫ج‬ ‫غ‬٣ ٌ ،‫حٕ كَاِيج ف‬ ََّ ً َِّ ُٙ‫ ج‬،‫ز‬ ََّ ً ٌ ِْ ِ ‫ٕ ع‬ ِ ‫حٕ كَاِيج ل‬ ‫ كَص‬ٝ ٜ ٢ِ‫ ت‬ٝ ٘ ،٢ُِّ ٌ ٝ ‫ ج‬ٙ َ‫أ‬ َّ ٞ‫و ج و ذ‬ٝ ٝ ُٖ‫ ِ ج‬٢ِ‫ جت‬، ٝ ٘ ‫ـ ـ‬ ٙ ‫قد ٕ جخ‬ ََّ ِ ٕ‫ج‬ َ ٝ ‫ى‬ َِّ ‫كح‬ ٙ َ‫أ‬ َّ ٞ‫َّ ـ ذ‬ ِْ‫جض‬ َ ُ‫ ج‬،ّ ٝ ِ‫ًٍ ٕ ش ج‬ Dari Aisyah ra berkata. Lc oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim 200 . Masa suci memiliki dua tanda. 94 Bidayatul Mujtahid jilid Ahmad Sarwat. Bila sudah selesai. adanya air yang berwarna putih pada akhir masa haid. lalu kami diperintahkan untuk 95 Hadits ini dishahihkan Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Begitu juga haram untuk mengqada` shalat."Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Lc Fiqih Thaharah 1 halaman 52.1. Jumhur ulama selain AlHanabilah mengatakan bahwa masa suci itu paling cepat lima belas hari. Bila lebih dari itu maka darah istihadhah.a berkata : `Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haidh. pertama. Dan juga hadits berikut ini : `Dari Aisyah r.malam. Shalat Seorang wanita yang sedang mendapatkan haidh diharamkan untuk melakukan shalat. (HR. maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya. Dan umumnya enam atau tujuh hari. Abu Daud dan An-Nasai)95.

(HR. Sedangkan mandi biasa dalam arti membersihkan diri dari kuman. lalu berniat untuk bersuci dari hadats besarnya itu dengan cara berwudhu' atau mandi janabah. ْ‫ؾ‬ ‫ع‬ َّ َّ ِٗ‫ جت‬٢ٌٞ َّ ‫ ٕ ع ّللا‬ٙ ‫هَحَُص ج‬: َُْ ‫ثٖ ج‬ ،‫ش‬ َ ٕ ‫سَ ع‬ ِ ِ ‫ٌف ِ ج‬ ِ ٝ‫ق‬ ََّ ‫كَوَح‬ ٍ ْ ‫ ج‬٢ُِ ّ ‫ ج‬١ ‫كغ‬ ْ َّ َ ٌ ٕ ‫كغ‬ ُ ٍ ‫كحؼ‬ َّْ َ‫َّ ش ل أ‬ ُ ٞ٠ ٢ِ‫ ذِحُد ك‬١ ‫ش‬ َّ َ ُ‫ ج‬٢‫ؿ‬ ِ ‫ ش ـ‬ٟ s ُٖ‫ ج‬٢‫ذ‬ ْ ‫ ش‬٠ َّ ،١ٍٛ ‫ف ٓص‬ ََّ ‫ ع م‬٢َُ ٙ َّ ِ ِ Dari Aisyah r.4.2. lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf disekeliling ka`bah hingga kamu suci (HR. tanpa berniat bersuci dari hadats besar. seolaholah darah haidhnya sudah selesai. dengan menggunakan sabun. Sebab tawaf itu mensyaratkan seseorang suci dari hadas besar. bukan merupakan larangan.Tawaf seorang wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang melakukan tawaf. Lc Fiqih Thaharah ٢ِ‫ ِ أَذ‬٢‫ػ‬ ‫َّ ج و‬ ُ ‫َّ ُهى‬ ١ ِّ ٌ ِ َّ ِ ٢ٌٞ ‫ٕ ع ّللا‬ َّ ٍٙ ََّ ‫هَح‬: ٍ ََّ ‫ٌ هَح‬ ‫ طم‬، ْٞ َّ ٍُ ‫َّ ٓص‬ ‫ف‬ َ ‫ِ تض‬ ‫ث نَم و ل‬ Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW 201 bersabda.mengqadha` puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha` salat (HR. . 6. Selain itu juga ada hadis lainnya: `Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan shalat` 6. dia tidak boleh shalat dan puasa?". padahal belum selesai. Maksudnya adalah bahwa seorang yang sedang mendapatkan haidh dan darah masih mengalir. shampo dan lainnya. Jama`ah). Berwudu` atau mandi As-Syafi`iyah dan al-Hanabilah mengatakan bahwa: `wanita yang sedang mendapatkan haid diharamkan berwudu`dan mandi janabah. Muttafaq 'alaihi) 6. sٝ ‫ٕ ع‬ ‫ّللا‬ ٍَ‫ث اع ح إِرا س أَن‬ ِ ِ ‫مر‬ َ ‫نَم أَُة ان‬ ‫ ع م‬٢َُ ٙ َّ ِ Ahmad Sarwat.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu mendapat haid. Puasa Wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang menjalankan puasa dan untuk itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain."Bukankah bila wanita mendapat hatdh.3. Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan.

Mutafaq `Alaih) 6.5. Menyentuh Mushaf dan Membawanya Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran AlKariem tentang menyentuh Al-Quran :

َ‫ ل‬١ ّ ِ َّ

ٙ َّ ‫ ئِل‬َٚ‫جُٔط‬

ٌٕٝ

Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.` . (QS. AlWaqi‟ah ayat 79) Jumhur ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang yang haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Quran 6.6. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

202

Kecuali dalam hati atau doa / zikir yang lafznya diambil dari ayat Al-Quran secara tidak langsung. Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan junub. Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila masa haidhnya terlalu lama. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak. Pendapat ini adalah pendapat Malik.96 6.7. Masuk ke Masjid Dari Aisyah RA. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. (HR. Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah.) 6.8. Bersetubuh Wanita yang sedang mendapat haid haram bersetubuh dengan suaminya. Keharamannya ditetapkan oleh Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

ٝ ٢ِ‫ك‬ ْ ُْ‫ج‬ ‫ش‬ ‫ـ‬ َّْ ٍ‫ج‬

ّ٣ َُُٕٞ‫ى أ‬

ْ َّ ‫َّ ع‬ ٕ ٝ٤ َّْ ُ ِ َ‫ه‬ ِ ُْ‫ج‬ ِ ‫ق‬

ٞٛ

ْ َُ ٟ‫ج ش كَحع أَي‬ُٞ َّ ِ ُٖ‫جء ِ ج‬

`Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . Apabila mereka
96 Lihat Bidayatul Mujtahid Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

ْ ْ َ ِ ‫كَا‬ ٝ٤ َّ َّ ‫هٍ ش‬ ٞ‫ٖ ذ‬ٛ ‫ ش ـ‬ٟ ١ َّ ٠ ٍٛ ٕ ََّ ‫يج‬ ِ ٝ َ‫ل‬ ِ ‫ق‬ َٚ٠ ٌ ٕ ََّ ْ‫أ‬ ََّ‫ ك‬ٞ‫ٖ ض‬ٛ ٖٓ ِ ١ َّ ُ ‫َّ ٌ أَّ ظ‬ ُ‫َّ ى‬ َّّ ُ‫ ج‬ٙ َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّّ ‫كد‬ ِ ٣ ‫ جُص‬ٝ ٖ٤ِ‫ جذ‬ٝ ‫ ٓص‬َٚ٠ ٖ٣ٌ ِ

‫كد‬٣ ِ

jilid 1 hal 133

203

telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS. Al-Baqarah : 222) Yang dimaksud dengan menjauhi mereka adalah

tidak menyetubuhinya. Sedangkan al Hanabilah membolehkan mencumbu wanita yang sedang haid pada bagian tubuh selain antara pusar dan lutut atau selama tidak terjadi persetubuhan. Hal itu didasari oleh sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka beliau menjawab:

َ ‫ ـ ئِيج‬ٜ‫ش ج‬ ‫َّ إَٔ ٕ ع‬ ِ ٢ٌٞ َّ ‫ٕ ع ّللا‬ ٙ َّ َٕ‫ أ‬٢ُ‫ج‬ ‫و‬ٞٛ ‫ًحٗص‬ َّ ِ َ ٍٔ ِ َ ُ‫ أُز ج‬٢ِ‫ْ ك‬ٛ َ ‫ انى‬، s َُْ ‫ن اص‬ ‫ِ عىا‬ ُِ ‫ِ ش كم‬ ‫ِ يء‬ ‫كاح إِل‬ ‫إ‬٣ ُُٙٞ‫ى‬ ََّ ‫ جُٖ كَوَح‬٢ِ‫ذ‬ ِ ‫ ج‬،‫ٍ ج‬ ٌ ٝ ‫ ج‬ٙ ّٓ ٍ َِّ ّ
`Dari Anas ra bahwa Orang yahudi bisa para wanita mereka mendapat haidh, tidak memberikan makanan. Rasulullah SAW bersabda,"Lakukan segala yang kau mau kecuali hubungan badan". (HR. Muslim).

ْ ّ ٢ٌِٗ s ‫زَ جتِٕ ع ٕ ع‬ َ ٌ ١ ‫أ‬ َّ َّ ٢ٌٞ َّ ‫ ٕ ع ّللا‬ٙ ‫هَحَُص ج‬: ٕ‫ح‬ ََّ ً ْٞ َّ ٍُ َّ ‫ّللا‬ ِ ‫َ كَأَش‬ َّ ،ٌ َّ ‫ف‬ ٔ‫ج‬ ٢ٌِٗ ٝ َٕ‫جب ـ ج أ‬ َِّ ،ٜ ‫ف ٓص‬ ََّ ‫ ع م‬٢َُ َّ ٙ َ ‫د‬٣ َّ ِ ِ ِ
`Dari Aisyah ra berkata,"Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk memakain sarung, beliau mencumbuku sedangkan aku dalam keadaan datang haidh". (HR. Muslim). Keharaman menyetubuhi wanita yang sedang
Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

204

haid ini tetap belangsung sampai wanita tersebut selesai dari haid dan selesai mandinya. Tidak cukup hanya selesai haid saja tetapi juga mandinya. Sebab didalam al Baqarah ayat 222 itu Allah menyebutkan bahwa wanita haid itu haram disetubuhi sampai mereka menjadi suci dan menjadi suci itu bukan sekedar berhentinya darah namun harus dengan mandi janabah, itu adalah pendapat al Malikiyah dan as Syafi`iyah serta al Hanafiyah. Kaffarat Menyetubuhi Wanita Haidh Bila seorang wanita sedang haid disetubuhi oleh suaminya maka ada hukuman baginya menurut al Hanabilah. Besarnya adalah satu dinar atau setengah dinar dan terserah memilih yang mana. Ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut :

٢ِ‫ ك‬١ً َِّ ‫َّ خ ع‬ ِ‫ ج‬٢ٌٞ ‫ّللا‬ َّ ‫ٕ ع‬ ْٛ ‫ٌ ٕ ع ج‬ ِ ُ‫ ج‬١ ٢ِ‫ ْأض‬s ‫جذٖ ٕ ع‬ َِّ ٍْٞ َّ ِ‫ّللا‬ ّ‫أَش ٌ ج‬ ٙ ٝ ٢ٛ َِّ ،ٜ ٍ ََّ ‫ هَح‬:ٌ ‫ص ث‬ ‫ذٌ ق د‬ ‫أَو ار‬ ِ ‫جب ـ‬ ِ ِ‫ِ ن ب‬ ‫ف بِىِض‬ ِِ ٌ‫د‬ ِ ‫ ن‬،‫ ٌ ار‬ٝ ‫ ج‬ٙ َ ُ‫ ُز ِ ج‬ٝ ٘ ‫ـ ـ‬ ْ‫ه‬ ٙ‫ى‬ َِّ ‫كح‬ ٕ ،ٕ ََّ َ ُ‫ ّ ج‬ٝ ‫جخ‬ ِ ‫ جُوَطح‬ٝ ٌ ‫ؽ ـ ؼ‬ ْ ٙ ٍ٣ ْٛ ‫ ج‬ٝ ‫ق‬ ََّ ‫ه‬

`Dari Ibn Abbas dari Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang menyetubuhi istrinya dalam keadaan haidh : `Orang yang menyetubuhi isterinya diwaktu haid haruslah bersedekah satu dinar atau setengah dinar` (HR. Khamsah)97 As-Syafi`iyah memandang bahwa bila terjadi kasus seperti itu tidaklah didenda dengan kafarat, melainkan hanya disunnahkan saja untuk bersedekah. Satu dinar bila melakukannya diawal
97 Hadits ini dishahihkan Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Thaharah

oleh Al-Hakim dan Ibnu Al-Qaththan

205

haid, dan setengah dinar bila diakhir haid. Namun umumnya para ulama seperti alMalikiyah, Aُ َِّ ُ ِ ُ ِ sy- Syafi`iyah dalam pendapatnya yang terbaru tidak mewajibkan denda kafarat bagi pelakunya cukup baginya untuk beristigfar dan bertaubat. Sebab hadis yang menyebutkan kafarat itu hadis yang mudahtharib sebagaimana yang disebutkan oleh al Hafidz Ibn Hajar.98 6.9. Menceraikan Istri Seorang yang sedang haid haram untuk bercerai. Dan bila dilakukan juga maka thalaq itu adalah thalaq bid`ah. Dalilnya adalah :

َ ِ‫ن ئ‬ ‫ ج‬١َ‫ أ‬ٙ ‫ جُٖ ج‬٢ِ‫يج ذ‬ َّْ َِ٠ ‫ جء ِ جُٖ ّ ش‬ٞ‫ٖ كَطََُِّه‬ٛ ‫ؼى‬ ِ ُِ ٖٜ ِ ِ‫ض‬ ْ َ‫ز‬ ‫أَـ‬ ‫ج‬ٞٚ ‫ؼى‬ َّ ِ ُ‫ج‬ َ‫ٌ ضم ل‬ ‫ج جش‬ٞ‫َّ ُه‬ ‫َّ خ ٌ ّللا‬ ُ ًْ َّ َّ ٞ‫ٖ ؾ‬ٛ ٖٓ َّ ِ ٖٜ ِ ٞ٤‫ ذ‬ٝ َ‫ل‬ ِ‫ض‬ ِ ّ ‫إَٔ ئِل‬ ‫ل‬ ‫ُ ٕ ٌؼ‬ ََّ ُ ٖ٤ِ‫حقٕ ْأض‬ ‫ خ ّ ز‬١ ٕ َّ ‫ ز‬ٝ ‫ضِ ِْي‬ ‫ ـ‬ٝ‫َّ و و‬ ِ َ‫َّ ذِل‬ ِ‫ ّللا‬ٝ ّ ٕ ١ ‫و ضغ‬ ‫و ـ‬ٝ‫ّللا و‬ َّ ِ ‫كَوَى‬ ْ َ َّ‫ج ٌ أ‬ ََِْ‫كّ ٕ ظ‬ ٙ َ‫ل‬ َّ ‫ و ش‬١ٌ ٍ َّ ‫ّللا‬ ‫ف‬٣ ‫و‬ َِّ ُ َّ ‫يُِي و ع خ ظ‬ ِ ‫َّ َُغ‬ ١ ٝ ٝ ١ ١
`Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang . Itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.` (QS. AtThalaq : 1)
98 Nailul Authar jilid 1 halaman Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat, Lc

278

206

Secara hukum fiqih, meski termasuk thalaq bid'ah dan berdosa, tetap jatuh talaq itu. Suami yang mentalak istrinya dalam keadaan haidh tentu berdosa, sebab hal itu termasuk larangan. Tetapi dari segi hukum talaq, tetap jatuh dan sah sebagai talaq. Lebih jelasnya akan dijelaskan pada kitab Fiqih

2. namun bila selama empat puluhhari darah masih tetap keluar kebanyakan ahli ilmu berkata bahwa dia tidak boleh meninggalkan salatnya. menurut al Hanafiyah an al Hanabilah paling lama empat puluh hari. Para ulama bahkan mengelompokkan darah yang keluar karena keguguran termasuk nifas juga. Khamsah kecuali Nasa`i). Menurut as-Syafi`iyah biasanya nifas itu empat puluh hari. Hal-hal yang dilarang dilakukan wanita yang sedang nifas Wanita yang sedang nifas sama denganhal-hal yang diharamkan oleh wanita yang sedang haidh. Ahmad Sarwat. dan dia langsung serta puasa sebagaimana biasanya. Jadi bila seorang wanita melahirkan bayi yang meninggal di dalam kandungan dan setelah itu keluar darah. para tabi`in dan orang-orang yang sesudahnya sepakat bahwa wanita yang mendapat nifas harus meninggalkan salat selama empat puluh hari kecuali darahnya itu berhenti sebelum empat puluh hari. dimasa Rasulullah duduk selama empat puluh hari empat puluh malam (HR. bila lebih dari empatpuluh hari maka darah istihadhah. Dalilnya adalah hadis berikut ini : ‫ جُ٘لٓحء ًحٗص‬٠ِ‫ى ػ‬ٜ‫ٍ ػ‬ٌْٞ ‫ح ذؼى ضوؼى ّللا‬ْٜ‫ٖ ٗلح‬٤‫أٌذؼ‬ ‫ٓح‬ٞ٣ "Dari Ummu Slamah r. Lc Fiqih Thaharah 209 3.Pernikahan. Lc 208 Umumnya para ulama mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk sebuah nifas bagi seorang wanita aling cepat adalah hanya sekejap atau hanya sekali keluar. At-Tirmizi berkata setelah menjelaskan hadis ini : bahwa para ahli ilmu dikalangan sahabat Nabi. Pengertian Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita karena melahirkan. bila demikian ia harus mandi dan salat. bila seorang wanita melahirkan dan darah berhenti begitu bayi lahir maka selesailah nifasnya. sedangkan menurut al Malikiyah dan juga as Syafi`iyah paling lama nifas itu adalah enam puluh hari. Bab 11 Nifas 1. yaitu : .a berkata: para wanita yang mendapat nifas. Lama Nifas Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. maka darah itu termasuk darah nifas.

tentu saja tidak terlarang.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu mendapat haid. Puasa Wanita yang sedang mendapatkan nifas dilarang menjalankan puasa dan untuk itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain. ْ ‫ج ج‬ُُٞ ّ ‫كغ ش ج‬ ْ ‫كغ‬ ١ٍٛ ِ ُ ٍ ‫كحؼ‬ َّ َ ُ‫ج‬ َ ٌ ٢‫ؿ‬ ّٕ‫لَ أ‬ َّ ‫ش‬ ْ ُ ٢ِ‫ك‬ٞ٠ ‫ ش ـ‬ٟ ‫ ش‬٠ َّ َّ Dari Aisyah r. 3.5. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Begitu juga mengqada` salat. Selain itu juga ada hadis lainnya: ْ َ‫َّ أ‬ َ ِ‫هد ئ‬ ‫يج‬ ‫ص‬ َ ُ‫ ج‬ٜ ‫ كَى ز‬٢‫ػ‬ ِ َُ ٢‫ك‬ ِ ُٙ‫لَز ج‬ `Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: `Bila kamu mendapatkan nifas maka tinggalkan salat` 3.Tawaf Seorang wanita yang sedang mendapatkan nifas dilarang melakukan tawaf. (QS. lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf disekeliling ka`bah hingga kamu suci (HR. Berwudu` atau mandi janabah As-Syafi`iyah dan al-Hanabilah mengatakan bahwa: `wanita yang sedang mendapatkan haid diharamkan berwudu`dan mandi janabah. Salat Seorang wanita yang sedang mendapatkan Nifas diharamkan untuk melakukan salat.4.a berkata : `Dizaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat nifas.1. Dalilnya adalah hadis berikut ini : `Dari Aisyah r. Menyentuh Mushaf dan Membawanya Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran AlKariem tentang menyentuh Al-Quran : َ‫ ل‬١ ّ ِ َّ ٙ َّ ‫ ئِل‬َٚ‫جُٔط‬ ٌٕٝ Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.2.3. Adapun sekedar mandi biasa yang tujuannya membersihkan badan. Yang terlarang disini adalah mandi janabah dengan niat mensucikan diri dan mengangkat hadats besar.` . AlWaqi‟ah ayat 79) Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang yang nifas . 3. Mutafaq `Alaih) 3. Lc 210 padahal dia tahu dirinya masih mengalami nifas atau haidh. lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah untuk mengqada` salat (HR. Sebab tawaf itu mensyaratkan seseorang suci dari hadas besar. Sebab seorang wanita yang sedang mendapat nifas telah gugur kewajibannya untuk melakukan salat.3. Jama`ah). Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan.

Hal itu didasari oleh sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka . Sedangkan al-Hanabilah membolehkan mencumbu wanita yang sedang nifas pada bagian tubuh selain antara pusar dan lutut atau selama tidak terjadi persetubuhan. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda.7. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak.dilarang menyentuh mushaf Al-Quran Ahmad Sarwat. Katakanlah: `Haidh itu adalah suatu kotoran`. Lc Fiqih Thaharah 211 3.(QS.6. Abu Daud dan Tirmizy) Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita nifas membaca Al-Quran dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila masa nifasnya terlalu lama. doa atau zikir yang lafaznya diambil dari ayat Al-Quran secara tidak langsung. Apabila mereka telah suci. `Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. Masuk ke Masjid Dari Aisyah RA. dan janganlah kamu mendekati mereka. Hujjah mereka adalah karena hadits di atas dianggap dhaif oleh mereka99. Pendapat ini adalah pendapat Malik. 3. Al-Baqarah : 222) Yang dimaksud dengan menjauhi mereka adalah tidak menyetubuhinya. Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah. maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Lc ‫ ـ‬١ َّ ُ ‫َّ ٌ أَّ ظ‬ ُ‫ى‬ َّْ ٍ‫ج‬ ‫ ٓص‬َٚ٠ ٖ٣ٌ ِ َّ َّّ ُ‫ ج‬ٙ َّ ِٕ‫ّللا ئ‬ َّّ ‫كد‬ ِ ٣ ‫ جُص‬ٝ ٖ٤ِ‫جذ‬ ٝ ‫كد‬٣ ِ `Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. ْ ‫َّ ج ُأ‬ َ‫هٍ ش ل‬ َّ ُ ‫ٕ ُؽ‬ Janganlah orang yang sedang junub atau haidh membaca sesuatu dari Al-Quran.) 3. Bukhari. (HR. (HR. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran Kecuali dalam hati.8. sebelum mereka suci . Bersetubuh Wanita yang sedang mendapat nifas haram bersetubuh dengan suaminya. Keharamannya ditetapkan oleh Al-Quran Al-Kariem berikut ini: ‫ خ‬ٝ َ‫ل‬ َّ ‫حب‬ َِّ ‫ك‬ َ ُ‫ج‬ ٜ ٔ ١ ‫ٓ ٖ تح‬ ِ ٕ‫جُوٍآ‬ ٝ ٢ِ‫ك‬ ْ ُْ‫ج‬ ‫ش‬ 212 ّ٣ َُُٕٞ‫ى أ‬ ْ َّ ‫َّ ع‬ ٕ ٝ٤ َّْ ُ ِ َ‫ه‬ ِ ُْ‫ج‬ ِ ‫ق‬ ٞٛ ْ َُ ٟ‫َّ ش كَحع أَي‬ ‫ج‬ُٞ ِ ُٖ‫جء ِ ج‬ ْ ١ ٠ َّ َ ِ ‫كَا‬ ٍٛ َّ ٕ َ ‫يج‬ ْ ٝ٤ َّ ‫هٍ ش ل‬ ٞ‫ٖ ذ‬ٛ ِ ٝ ََّ ِ ‫ق‬ ْ َٚ٠ ٌ ٕ ََّ ‫أ‬ ََّ‫ ك‬ٞ‫ٖ ض‬ٛ ٖٓ ِ 1 halaman 133 ‫ ش ـ‬ٟ 99 Bidayatul Mujtahid jilid Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.

namun para fuqaha yang lain mengatakan bahwa: masa nifas itu hanyalah empat puluh hari atau enam puluh hari (Syafi`i). Dasarnya adalah hadis berikut ini : . Keharaman menyetubuhi wanita yang sedang nifas ini tetap belangsung sampai wanita tersebut selesai dari nifas dan selesai mandinya. maka darah yang kelauar sebelumnya bukanlah darah nifas. Pengertian Keluarnya darah dari kemaluan wanita di luar haidh dan nifas atau karena sakit. sehingga bila keluar lagi darah setelah itu tidak bisa disebut darah nifas. Ada ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batas maksimal untuk nifas. Tiga Keadaan Istihadhah 2. tetapi darah fasad. itu adalah pendapat al Malikiyah dan as Syafi`iyah serta al Hanafiyah. Bila seorang wanita telah selesai nifas dan mandi tiba-tiba darah keluar lagi setelah empat puluh hari.beliau menjawab: ِ٘‫ٕ ج‬ َ ‫ج‬ٞ‫َّ ػ‬ ُ َّ ًَ ٔ ١ ‫ء‬ َّ َّ ‫ًحـ جُٖ ئِل‬ `Lakukan segala yang kau mau kecuali hubungan badan (HR.1. Ahmad Sarwat. Mumayyizah Seorang wanita mengetahui dengan pasti lama haidnya sehingga bila keluarnya darah itu melebihi masa haid yang normal jadi darah itu adalah darah istihadhah. Lc Fiqih Thaharah 215 Bab 12 Istihadhah 1. Jama`ah). dan itu adalah darh istihadhah. 4. Tidak cukup hanya selesai nifas saja tetapi juga mandinya. Lc Fiqih Thaharah 213 mandi janabah. Sebab didalam al Baqarah ayat 222 itu Allah menyebutkan bahwa wanita haid itu haram disetubuhi sampai mereka menjadi suci dan menjadi suci itu bukan sekedar berhentinya darah namun harus dengan Ahmad Sarwat. sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama bahwa darah nifas itu adalah darah yang keluar pada saat melahirkan. Kasus Bila seorang wanita mendapat darah tiga hari sebelum kelahiran. sehingga bila keluar lagi setelah berhenti sebelumnya maka itu termasuk nifas juga bukan darah istihadhah karen aitu dia tetap tidak boleh salat dan berpuasa. 2.

Dari Ummi Salamah r. Kondisi ketiga Seorang wanita yang tidak tahu kebiasaannya namun mampu membedakan mana darah haid dan mana darah istihadhah. Maka apa bila engkau sudah bersih. Beliau menjawab:Sumbatlah dengan kain karena akan menghilangkan darah. tentang seorang wanita yang mengeluarkan darah. bila telah lewat dari kebiasannya hendaknya ia mandi kemudian menyumbatnya dan salat (HR Khamsah kecuali Tirmizi) 2. karen yang demikian itu cukup buatmu.Khamsah kecuali Nasa`i)1 2. dan engkau mandi beserta shubuh dan engkau salat.2.3. Dari Jannah binti Jahsy berkata : `Aku mendapat haid yang sangat banyak. tetapi jika engkau kuat buat menta`khirkan dhuhur dan mentaqdimkan `ashar kemudian engkau mendi ketika engkau bersih (sementara) lalu engkau jamak sembahyang dhuhur dan `ashar kemudian engkau ta`khirkan maghrib dan dan taqdimkan isya`. aku berkata :tapi darahnya banyak sekali.a beliau meminta kepada Nabi saw. Lc Fiqih Thaharah 217 lainnya. salatlah 24 atau 23 hari. kemudian engkau jama`kan dua sembahyang itu (kalau kuat) buatlah (begitu). dan buatlah demikian tiap-tiap bulan sebagaimana perempuan-perempuan berhaid. dan puasalah dan sembahyanglah (sunnat). bersabda kepadanya kalau darah haid warnanya hitam dan mudah dikenali maka janganlah kau salat.. Sabdanya lagi: Dan yang demikian perkara yang lebih aku sukai dari yang Ahmad Sarwat. Dalam kondisi ini acuannya adalah enam atau tujuh hari sebagaimana umumnya kebiasannya para wanita ketika mendapatkan haid. beliau bersabda: Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Dari Fatimah binti Abi Hubaisy bahwa dia mengalami istihadhah. Lc 216 Lihatlah kebiasaan jumlah hari-hari haidnya dan dikaitkan dengan bulannya selama masa yang biasanya haid dia harus meninggalkan salat. dan juga tidak bisa membedakan antara darah haid dan bukan darah haid.. apa pendapatmu ? sedangkan engkau telah melarang unuk salat dan puasa. maka Rasulullah saw. Aku mendapat darah haid yang amat banyak.(HR. bila darahnya adalah darah haid maka dia sedang haid bila darahnya bukan darah haid maka dia sedang istihadhah. Tapi kalau beda warnanya maka wudhu`lah dan . aku bertanya: Ya Rasulullah.Yang demikian hanya satu gangguan dari syaitan: Oleh karena ituhendaklah engkau berhaid enam atau tujuh hari kemudian engkau mandi. Kondisi kedua Seorang wanita yang tidak punya kepastian tentang lama masa haidnya. Maka baginya cukup dengan melihat darah itu. kudatangi Rasulullah unuk meminta fatwa dan kudapati beliau dirumah saudaraku Zainab binti Jahsy. kemudian engkau mandi .

Selain itu ada riwayat bahwa Ikrimah binti Himnah disetubuhi suaminya dalam kondisi istihadhah. beliau hanya menyunahkan saja. Lc dan dihasankan oleh Bukhari 218 4. Sebab wudhunya itu bersifat darurat maka tidak sah jika belum sampai kepada kebutuhannya. menurut pendapat jumhur. kitab kedua ini dapat memenuhi kebutuhan mendasar atas ilmu tentang shalat dalam bahasa Indonesia. tawaf. 2. 5. Mencuci dan membersihkan kemaluannya sebelum berwudhu dan menyumbatnya dengan kain atau kapas agar tidak menjadi najis. Tidak berwudhu kecuali setelah masuknya waktu salat. 1 Dishahihkan oleh Tirmizi Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Ibn Abbas berkata: "Kalau salat saja boleh. berdiam di masjid. membaca Qur`an menyentuh mushaf. 6. apa lagi bersetubuh". Tentu saja kitab kecil ini sangat tidak memungkinkan untuk dibanggakan. Semoga kedepan ada masukan yang membangun .shalatlah karena itu adalah penyakit. dalam riwayat Bukhari. Itu merupakan kesepakatan seluruh ulama. Hukum Wanita yang Istihadhah 1. Ini disepakati oleh jumhur ulama salaf (masa lalu) dan khalaf (masa kemudian). Ahmad Sarwat. ini adalah pendapat jumur ulama. Tetap wajib melakukan semua kewajiban orang yang suci dari haid seperti salat. Lc Fiqih Thaharah 219 Penutup Alhamdulillah akhirnya selesai sudah penulisan kitab Fiqih Tahahrahsebagai seri pertamadari rangkaian kitabkitab Fiqih yang penulis susun. Namun Imam Malik tidak mewajibkan wudhu setiap mau salat. sebagaimana sabda Rasulullah saw. Paling tidak sebagai upaya mengurangi najis. Tidak wajib mandi bila ingin shalat kecuali hanya sekali saja yaitu ketika selesai haid. Suaminya boleh menyetubuhinya meski darah mengalir keluar. dan menjalankan semua ibadah. sebab tidak ada satupun dalil yang mengharamkannya. Tujuannya hanya sebatas menolong mereka yang kebetulan belum mengenal lebih jauh kitab-kitab fiqih yang muktamad dan belum menguasai bahasa Arab. 3. Dia harus berwudhu setiap mau salat. 3. puasa dan boleh beri`tikaf. Harapan penulis. lantaran hanya merupakan karya kecil dari seorang yang faqir ilallah. "Kemudian berwudhulah setiap akan salat.

penulis memohon maaf bila disana-sini masih ada kekurangan bahkan kesalahan.com Aktifitas : Ketua Umum & Nadzir Yayasan Daarul-Uluum Al-Islamiyah . Jakarta. Lc T/Tgl Lahir Cairo.com Pendidikan : S1 . 19 September 1969 Alamat DU CENTER (Yayasan Daarul-Uluum Al-Islamiyah) Jl. Semua itu tidak lepas dari sifat manusia yang lupa dan lemah. Lc 220 yaitu agar Allah SWT melimpahkan pahalanya kepada penulis dan juga para pembaca yang mendapatkan hidayah dan petunjuk.Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Konsentrasi Ulumul Quran dan Ulumul Hadits (belum selesai) Pekerjaan : Dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Pengasuh Rubrik Syariah dan Kehidupan di www.warnaislam. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan-Nya.kampussyariah.Fakultas Syariah Universitas Islam Muhammad Ibnu Suud Kerajaan Saudi Arabia cabang Jakarta (LIPIA) S2 . Tentunya demi satu tujuan.serta saran bahkan kritik dalam penulisan kitab ini dari para pembaca sekalian.ustsarwat. Lc Ahmad Sarwat. Akhirnya. 20 Pebruari 2010 Ahmad Sarwat. Karet Pedurenan no 53 Setiabudi Jakarta Selatan 12940 Koordinat : Telp 085694461792 Website www. Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat. Lc Fiqih Thaharah 221 Tentang Penulis Nama Ahmad Sarwat.com Dosen Kampus Syariah (kuliah syariah online via internet) www.com Email ustsarwat@yahoo. Amien.

Fiqih Tahahrah 2. Fiqih Politik 12.1999 Konsultasi Syariah : Pusat Konsultasi Syariah (www. Fiqih Nikah 7. Fiqih Wanita 11. Fiqih Kontemporer 8. Fiqih Puasa 4. Lc 222 Karya Tulis 1. Fiqih Ikhtilaf 10.ustsarwat. Fiqih Mawaris Buku-buku ini dalam versi softcopy (pdf) bisa diunduh secara gratis di www. Fiqih Muamalat 6.syariahonline.Ketua Umum Forum Komunikasi Majelis Taklim dan Umara Experience Rais Syu'un Ijtima'iyah LPPD Khairu Ummah . Fiqih Kuliner 9. Fiqih Shalat 3.com__a .1992 Jam'iyah Dakwah wa At-Taklim (Eldata) . Fiqih Zakat 5.com) 2001 Pemred dan General Manager Eramuslim – 2004 Fiqih Thaharah Ahmad Sarwat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful