SEORANG WANITA DATANG DENGAN NYERI KEPALA DAN NYERI ULU HATI KELOMPOK 10 0302007130 KADEK FABRIAN KHAMANDANU

0302008010 AGRA CESARIENNE PRADITO 0302008030 ANGGUN NANDA RETNITA 0302008040 ARINI NURLELA 0302008060 BILLY SUSANTO 0302008070 CHRISTY SURYANDARI 0302008120 HERLIANA WIDYANTARI 0302008170 NADHILLA NURAYU LATHIFA 0302008180 NIKITA RIZKY ARIMAMI 0302008200 RARA AMOURRA ARVIOLLA 0302008210 RIRIN APRILYA ANGGELA 0302008240 TIARA RAHMAWATI 0302008310 NUR NADRAH BT MOHD YUSOF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA,JULI 2011

PENDAHULUAN Hipertensi merupakan salah satu masalah medis yang kerapkali muncul selama kehamilan dan dapat menimbulkan komplikasi pada 2-3 % kehamilan. Hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan morbiditas/ kesakitan pada ibu ,termasuk kejang eklamsia, perdarahan otak, edema paru, gagal ginjal akut .Serta morbiditas pada janin ,termasuk pertumbuhan janin terhambat di dalam rahim, kematian janin di dalam rahim, solusio plasenta, dan kelahiran prematur. Selain itu, hipertensi pada kehamilan juga masih merupakan sumber utama penyebab kematian pada ibu. Preeklamsia terjadi pada kurang lebih 5% dari seluruh kehamilan, 10% pada kehamilan anak pertama, dan 20-25% pada perempuan hamil dengan riwayat hipertensi kronik sebelum hamil. Faktor risiko ibu untuk terjadinya preeklamsia antara lain meliputi kehamilan pertama, pasangan/ paternitas baru, usia lebih muda dari 18 tahun atau lebih tua dari 35 tahun, riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, riwayat keluarga dengan preeklamsia, obesitas/ kegemukan, dan selang waktu jarak antar kehamilan kurang dari 2 tahun atau lebih dari 10 tahun.

LAPORAN KASUS Seorang wanita,23 tahun G1P0A0,hamil 7 bulan,datang dengan keluhan sakit kepala dan nyeri ulu hati.Pemeriksaan kehamilan tidak teratur,dan dilakukan oleh bidan.HPHT 18 november 2010,haid teratur 28 hari Identitas Nama Jenis kelamin Usia Status perkawinan Pendidikan Pekerjaan Alamat : Ny.X : Wanita : 23 tahun : Menikah 1 tahun yang lalu : SMP :: Jalan Tawakal

Riwayat Penyakit Sekarang Keluhan Utama : Sakit Kepala dan nyeri ulu hati

Anamnesis tambahan Sudah berapa lama keluhan berlangsung? Bagaimana sifat sakit kepala dan nyeri ulu hatinya? Apakah ada faktor pencetus saat keluhan berlangsung? Bagaimana onsetnya? Apakah dipengaruhi oleh posisi tubuh? Apakah sudah pernah diobati?

Riwayat Kehamilan: G1P0A0 Pemeriksaan kehamilan tidak teratur dan dilakukan oleh bidan Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak diketahui Pemeriksaan Fisik Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Status generalisata Kepala Kulit Jantung dan Paru KGB Ekstremitas Status obstetrik Tinggi Fundus Uteri : 4 Jari dibawah processus xipoideus Presentasi : Kepala Punggung kiri Tafsiran Berat Janin : 2300 gr Denyut Jantung Janin : 144 x/menit Gerak janin normal Kepala belum masuk pintu atas panggul His negatif : konjunctiva tidak anemis : turgor normal : normal : tidak ada pembesaran : oedema di kedua tungkai : 170/110 mmHg : 96x/menit teratur : 20x/menit : 37,2 ◦C : Kompos Mentis

Selama Perawatan,pasien tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan Pemeriksaan Laboratorium Hb Ht Proteinuri SGOT SGPT Trombosit Diagnosis Berdasarkan hasil anamnesis,pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, Ny.X menderita Pre-eklamsi Berat dengan sindroma HELLP Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan : Hipertensi 170/110mmHg Keluhan nyeri pada epigastrium, dannyeri kepala Terdapat oedema pada kedua tungkai Hb,Ht meningkat Proteinuri ++ Peingkatan nilai SGOT- SGPT Trombositopenia Patofisiologi: Pada ibu hamil, terjadilah proses fisiologis berupa hipovolemi. Kejadian ini dapat mneyebabkan dua hal, yaitu terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah dan didapatkannya hemolisis. Vasokontriksi yang terjadi dapat meningkatkan resistensi perifer, sehingga terjadi peningkatan tekanan perifer total, yang pada akhirnya memicu terjadinya hipertensi. Hipovolemik yang terjadi pada ibu hamil ini juga dapat menyebabkan hemolisis. Etiologi dari hemolisis pada proses ini masih belum dapat diketahui sampai saat ini. Selain hal yang sudah disebutkan di atas, proses hipovolemi ini juga dapat menyebabkan trombositopenia. Karena penurunan volume darah pada ibu hamil berarti : Meningkat : Meningkat : ++ : Meningkat : Meningkat : Menurun

jumlah plasma yang ada di sirkulasi pun berkurang, sedangkan platelet dan trombosit itu berada di intraplasma. Sehingga jelaslah bahwa penurunan volume pada wanita hamil dapat menyebabkan penurunan kadar trombosit. Penatalaksanaan Beberapa alasan/indikasi untuk dilakukan sectio caesarea yaitu : 1) Mempercepat kelahiran ibu dan janin 2) Mengurangi trauma janin (misalnya presentase bokong premature kecil) dan infeksi janin (misalnya resiko tertular HIV) 3) Mengurangi resiko pada ibu (misalnya gangguan jantung tertentu, lesi intrakranial keganasan pada servik ) 4) Malpresentasi janin dan gawat janin 5) Panggul sempit 6) Tumor yang menghalangi jalan lahir 7) Plasenta previa 8) Pre-eklampsia dan hipertensi 9) Keadaan-keadaan dimana usaha untuk melahirkan anak pervaginam gagal Terapi pada pasien ini dapat diberikan: 1. Berikan informed consent yang jelas pada ibu dan keluarganya Perbaiki keadaan trombositopenia, dengan cara berikan transfusi fresh frozen plasma, Adanya perdarahan dengan parameter koagulasi yang abnormal

setelah transfusi masif atau operasi pintasan jantung atau pada pasien dengan penyakit hati.
2. Beri dexametason 10 mg/12 jam , dan dihentikan pada saat kadar trombosit lebih dari seratus ribu. 3. Beberapa hal yang dipertimbangkan sebelum operasi, yaitu menurunkan tensi dan menurunkan trombosit agar tidak terjadi perdarahan, dan berikan antasida ( sodium sitrat 0.3% , namun bila pasien tidak sadar dapat diberikan MgSO 4 intravena 4 gram selama 15 menit) untuk mencegah reflux asam lambung jika terjadi kejang.

4. Infus cairan dengan ringer laktat / dextrose 5% dalam 100ml/jam 5. Pertahankan monitoring urin dengan cara pemasangan folley catheter untuk melihat berapa jumlah urin yang dikeluarkan, serta memantau input cairannya. Prognosis pada pasien ini ada dua, baik dari ibu maupun dari anaknya. Prognosis ibu Ad vitam : dubia ad bonam Ad sanationam: dubia ad bonam Ad fungtionam: duabia ad bonam Prognosis bayi Ad vitam : bonam Ad sanationam : bonam Ad fungsionam :bonam

TINJAUAN PUSTAKA Hipertensi pada Kehamilan Hipertensi merupakan salah satu masalah medis yang kerapkali muncul selama kehamilan dan dapat menimbulkan komplikasi pada 2-3 % kehamilan. Hipertensi pada kehamilan dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu: 1. Hipertensi kronik: hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg yang diukur setelah beristirahat selama 5-10 menit dalam posisi duduk) yang telah didiagnosis sebelum kehamilan terjadi atau hipertensi yang timbul sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu. 2. Preeklamsia-Eklamsia: peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan penambahan berat badan ibu yang cepat akibat oedem dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai proteinuria. Eklamsia: preeklamsia yang disertai dengan kejang.

3. Preeklamsia superimposed pada hipertensi kronik: preeklamsia yang terjadi pada perempuan hamil yang telah menderita hipertensi sebelum hamil. 4. Hipertensi gestasional: hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan timbulnya hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang. Preeklamsia terjadi pada kurang lebih 5% dari seluruh kehamilan, 10% pada kehamilan anak pertama, dan 20-25% pada perempuan hamil dengan riwayat hipertensi kronik sebelum hamil. Faktor risiko ibu untuk terjadinya preeklamsia antara lain meliputi kehamilan pertama, pasangan/ paternitas baru, usia lebih muda dari 18 tahun atau lebih tua dari 35 tahun, riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, riwayat keluarga dengan preeklamsia, obesitas/ kegemukan, dan selang waktu jarak antar kehamilan kurang dari 2 tahun atau lebih dari 10 tahun. Dasar penyebab preeklamsia diduga adalah gangguan pada fungsi endotel pembuluh darah yang menimbulkan vasospasme pembuluh darah. Perubahan respons imun ibu terhadap janin/ jaringan plasenta diduga juga berperan pada terjadinya preeklamsia. Kerusakan endotel tidak hanya menimbulkan mikrotrombosis difus plasenta (sumbatan pembuluh darah plasenta) yang menyebabkan plasenta berkembang abnormal atau rusak, tapi juga menimbulkan gangguan fungsi berbagai organ tubuh dan kebocoran pembuluh darah kapiler yang bermanifestasi pada ibu dengan bertambahnya berat badan ibu secara cepat, bengkak (perburukan mendadak bengkak pada kedua tungkai, bengkak pada tangan dan wajah), edema paru, dan/ atau hemokonsentrasi (kadar hemoglobin/ Hb lebih dari 13 g/dL). Plasenta yang tidak normal akibat mikrotrombosis difus, akan menurunkan aliran darah dari rahim ke plasenta. Hal tersebut akan memengaruhi kehidupan janin dan bermanifestasi secara klinis dalam bentuk pertumbuhan janin terhambat di dalam kandungan/ rahim dan oligohidramnion (cairan ketuban sedikit).

Pre eklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Patofisiologi Penyebab pre eklampsia ringan belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” akibat vasospasme general dengan segala akibatnya. Gejala Klinis

Gejala

klinis

pre

eklampsia

ringan

meliputi

:

1. Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih; diastol 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg; diastol 90 mmHg sampai kurang 110 kualitatif positif 2 mmHg. (+2). 2. Proteinuria : secara kuantitatif lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara 3. Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan. Pemeriksaan _________________________ 1. Kehamilan lebih 20 minggu. dan Diagnosis (4)

2. Kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih dengan pemeriksaan 2 kali selang 6 jam dalam keadaan istirahat (untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2 kali tungkai. 4. Proteinuria lebih 0,3 gram/liter/24 jam, kualitatif (++). Penatalaksanaan _______________ (2) setelah istirahat 10 menit). 3. Edema tekan pada tungkai (pretibial), dinding perut, lumbosakral, wajah atau

Penatalaksanaan Diet Banyak :

rawat cukup

jalan

pasien (berbaring rendah 7

pre karbohidraat,

eklampsia tidur lemak /

ringan dan

:

istirahat protein,

mirring). garam. hari. Roborantia

- Sedativa ringan : tablet phenobarbital 3 x 30 mg atau diazepam 3 x 2 mg per oral selama Kunjungan ulang setiap 1

minggu.

- Pemeriksaan laboratorium : hemoglobin, hematokrit, trombosit, urine lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal.(1) Penatalaksanaan rawat tinggal pasien pre eklampsia ringan berdasarkan kriteria dari (2 gejala-gejala pre 1)

1. Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan eklampsia. minggu). 2. Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturut-turut 3. Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre eklampsia berat - Bila setelah 1 minggu perawatan di atas tidak ada perbaikan maka pre eklampsia ringan dianggap sebagai pre eklampsia berat. - Bila dalam perawatan di rumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi jalan. Perawatan 1. a. b. Bila Bila ditunggu desakan maka Kehamilan darah turun perawatan minggu 2. aterm kehamilannya obstetri Kehamilan desakan darah pasien preterm mencapai sampai tetapi dapat (37 belum diakhiri mencapai pada minggu normotensif umur pre normotensif eklampsia (kurang selama 37 perawatan, ringan : baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat

minggu) persalinan aterm. selama 37 lebih. atau lebih) kehamilan

atau

- Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan

untuk 3.

melakukan

persalinan

pada Cara

taksiran

tanggal

persalinan. persalinan

- Persalinan dapat dilakukan secara spontan. Bila perlu memperpendek kala II. B. Pre Eklampsia Berat

______________________ Pengertian __________ Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Penatalaksanaan _______________ Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre eklampsia berat selama pengobatan 2. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan pengobatan medisinal. Perawatan —————Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG).(3,4,5) 1. a. Usia Adanya kehamilan atau gejala 37 minggu eklampsia, atau kegagalan tanda-tanda impending Indikasi (salah satu atau lebih) Ibu lebih terapi Aktif perawatan maka perawatan dibagi menjadi : 1. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah medisinal. ditambah (1) (4)

konservatif status b. c. Adanya Hasil

yaitu

setelah quo fetal Adanya

6

jam

pengobatan

meditasi ada

terjadi

kenaikan perbaikan). Janin

desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal, ada gejala-gejala (tidak assesment jelek tanda (hemolisis dan peningkatan fungsi

(NST

&

USG) IUGR

Laboratorium “HELLP syndrome” hepar,

trombositopenia). Pengobatan ____________________ Pengobatan 1. patella cc/jam) 4. 5. 6. Diet cukup protein, obat rendah anti karbohidrat, kejang : lemak dan Pemberian magnesium medisinal Segera pasien pre masuk setiap 500 eklampsia berat rumah yaitu : sakit jam.(3) cc. Antasida garam. sulfat Medisinal

2. Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks 3. Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125

7. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/im. (4) 8. Antihipertensi diberikan bila : a. Desakan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. (8,9) b. Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya. c. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-

obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan d. Bila tidak dengan tersedia awal secara antihipertensi Bersama diberikan 9. cepat 10. Konsul bagian dengan Lain-lain penyakit dalam / jantung, cedilanid secara sublingual tekanan antihipertensi diulang oral. parenteral selang 1 maka dapat jam, obat diberikan 4-5 yang Bakri, sama maksimal darah. tablet kali. mulai 1997) Kardiotonika D. : mata.

pemberian

sublingual

(Syakib

Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi

- Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih 38,5 derajat celcius dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc IM. - Antibiotik diberikan atas indikasi.(4) Diberikan ampicillin 1 gr/6 jam/IV/hari. - Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir. Pemberian ————————— Cara pemberian magnesium sulfat : Magnesium Sulfat

1. Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV (20 % dalam 20 cc) selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gr di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40 % dalam 10 cc) dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2% yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.(6) 2. Dosis ulangan : diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.(3)

3. cc) 4.

Syarat-syarat diberikan Refleks Frekuensi pernapasan

pemberian intravenous patella lebih dihentikan 16 dalam

MgSO4 3 positif kali bila per

4,7) menit. kuat menit. 7)

- Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10%, 1 gram (10% dalam 10

- Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBB/jam). MgSO4 a. Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologis menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot-otot pernapasan karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq terjadi kematian b. waktu Lakukan Bila timbul Hentikan tanda-tanda keracunan magnesium magnesium pemberian 3 Berikan pernapasan kelumpuhan otot-otot pernapasan dan lebih 15 mEq/liter sulfat terjadi 7) sulfat menit. oksigen. buatan. jantung.(3,7)

- Berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam

c. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif). Pengobatan _____________________ Cara Terminasi Kehamilan yang Belum Inpartu Obstetrik

——————————————— 1. Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai Bishop 5 atau lebih dan dengan 2. Seksio Fetal fetal sesaria assesment heart bila monitoring.(4) : jelek

- Syarat tetesan oksitosin tidak dipenuhi (nilai Bishop kurang dari 5) atau adanya kontraindikasi tetesan oksitosin. - 12 jam setelah dimulainya tetesan oksitosin belum masuk fase aktif. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesaria. (1,2) Cara Terminasi Kehamilan yang Sudah Inpartu (1,2)

——————————————— Kala ——1. Fase laten : 6 jam belum masuk fase aktif maka dilakukan seksio sesaria. 2. Fase Amniotomi aktif : saja I

- Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap maka dilakukan seksio sesaria (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin). Kala ——– Pada persalinan per vaginam maka kala II diselesaikan dengan partus buatan. Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medisinal. Pada kehamilan 32 minggu atau kurang; bila keadaan memungkinkan, terminasi ditunda 2 kali 24 jam untuk memberikan kortikosteroid. Perawatan _____________________ 1. Indikasi : Bila kehamilan preterm kurang 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda inpending aktif. Hanya eklampsia loading dose dengan MgSO4 tidak keadaan diberikan janin intravenous, baik. cukup 2. Pengobatan medisinal : Sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan intramuskuler saja dimana 4 gram pada bokong kiri dan 4 gram pada bokong Konservatif (1,2) II

kanan. 3. a. Selama perawatan ringan, gagal MgSO4 4. telah penderita dapat aktif Pengobatan perawatan konservatif hanya : observasi tidak dalam harus 2 dipulangkan selama dan dirawat sebagai pre 3 eklampsia gram bila disini obstetri dan evaluasi dilakukan 24 sama : seperti terminasi. jam. diterminasi. intravenous. : hari. ringan

b. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tanda-tanda pre eklampsia selambat-lambatnya dan 20% Penderita dirawat dipulangkan c. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap pengobatan medisinal d. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka diberi lebih dahulu

a. Penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda pre eklampsia ringan dan b. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan pre eklampsia ringan : (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu).

Sindroma HELLP Sindroma HELLP merupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda : hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Insidens sindroma hellp pada kehamilan berkisar antara 0,2-0,6 %, 412% pada preeklampsia berat, dan menyebabkan mortalitas maternal yang cukup tinggi (24 %), serta mortalitas perinatal antara 7,7%-60%. Pada penderita preeklampsia, Sindroma HELLP merupakan suatu gambaran adanya Hemolisis (H), Peningkatan enzim hati (Elevated Liver Enzym-EL), dan

trombositopeni (Low Platelets-LP). Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari setelah melahirkan. Diagnosis Sindroma HELLP secara obyektif lebih berdasarkan hasil laboratorium, sedangkan manifestasi klinis bersifat subyektif, kecuali jika keadaan sindroma HELLP semakin berat. Berdasarkan hasil laboratorium dapat ditemukan anemia hemolisis, disfungsi hepar, dan trombositopeni. Sampai saat ini diagnosis Sindroma hellp lebih berdasarkan parameter laboratorium, dan parameter yang digunakan selama ini lebih mengarah pada keadaan sindroma hellp lanjut, dimana morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin cukup tinggi.

Sindrom HELLP ditandai: 1. Hemolisis Tanda hemolisis dapat dilihat dari ptekie, ekimosis, hematuria dan secara laboratorik adanya Burr cells pada apusan darah tepi. 2. Elevated liver enzymes Dengan meningkatnya SGOT, SGPT (> 70 iu) dan LDH (> 600 iu) maka merupakan tanda degenerasi hati akibat vasospasme luas. LDH > 1400 iu, merupakan tanda spesifik akan kelainan klinik. 3. Low platelets Jumlah trombosit < 100.000/mm3 merupakan tanda koagulasi intravaskuler. Sindroma HELLP merupakan salah satu keadaan preeklampsia yang memburuk yang dapat didiagnosis dengan parameter laboratorium, sementara proses kerusakan

endotel juga terjadi diseluruh sistem tubuh, karenanya diperlukan suatu parameter yang lebih dini dimana preeklampsia belum sampai menjadi perburukan, dan dapat ditatalaksana lebih awal yang akan menurunkan terutama morbiditas dan mortalitas ibu, dan mendapatkan janin se-viable mungkin. Pada pemeriksaan darah tepi terdapat bukti-bukti hemolisis dengan adanya kerusakan sel eritrosit, antara lain burr cells, helmet cells. Hemolisis ini mengakibatkan peningkatan kadar bilirubin dan lactate dehydrogenase (LDH). Disfungsi hepar direfleksikan dari peningkatan enzim hepar yaitu Aspartate transaminase (AST/GOT), Alanin Transaminase (ALT/GPT), dan juga peningkatan LDH. Semakin lanjut proses kerusakan yang terjadi, terdapat gangguan koagulasi dan hemostasis darah dengan ketidak normalan protrombin time, partial tromboplastin time, fibrinogen, bila keadaan semakin parah dimana trombosit sampai dibawah 50.000 /ml biasanya akan didapatkan hasil-hasil degradasi fibrin dan aktivasi antitrombin III yang mengarah terjadinya Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC). Insidens DIC pada sindroma hellp 438%. Klasifikasi sindroma HELLP : 1.Klasifikasi Missisippi -Kelas I : Trombosit 50.000/ml atau kurang; serum LDH 600.000 IU/l atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih. -Kelas II : Trombosit lebih 50.000 sampai 100.000/ml; serum LDH 600.000 IU/l atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih. -Kelas III : Trombosit lebih 100.000 sampai 150.000/ml; serum LDH 600.000 IU/l atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih. 2. Klasifikasi Tennesse -Kelas lengkap 70 IU/l atau lebih. -Kelas tidak lengkap : Bila ditemukan 1 atau 2 dari tanda-tanda diatas. : Trombosit kurang 100.000/ml; LDH 600.000 IU/l atau lebih; AST

KESIMPULAN Preeklampsia merupakan suatu penyebab yang bermakna dari penyebab kematian maternal dan perinatal serta komplikasinya. Sekali diagnosis dari preeklampsia dibuat, pilihan dari terapi adalah terbatas. Karena itu, perhatian lebih difokuskan pada pencegahan terjadinya preeklampsia. Walaupun penelitian secara ekstensif telah dilakukan, tidak ada strategi tunggal yang telah menunjukkan kelebihan dalam mencegah perkembangan preeklampsia baik pada populasi dengan risiko tinggi atau rendah. Preeklampsia merupakan suatu kelainan implantasi plasenta dan hal ini tidak sepenuhnya dapat diterima. Kelahiran dari janin dan plasenta menjadi satu-satunya terapi kuratif. 20

Suatu kondisi dimana kesehatan yang dipertahankan, ditambah dengan agresifitas dan intervensi dini dari komplikasi preeklampsia, mungkin dapat mengurangi kerugian yang terdapat pada janin dari ibu yang mengalami preeklampsia berat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Barrilleaux PS, Martin JN. Hypertension therapy during pregnancy. Clin Obstet Gynecol 2002 ; 45: 2234 2. Norwitz ER, Hsu CD, Repke JT. Acute complications of preeclampsia. Clin Obstet Gynecol 2002 ; 45: 308-329 3. Yankowitz, Niebyl JR. Drug therapy in pregnancy. 3 rd ed. Philadelphia.Baltimore.New York.London.Hongkong.Tokyo: Lippincot Williams & Wilkins, 2001:101 4. Briggs GG, Freeman RK. Drug in pregnancy and lactation. 6 th ed. Philadelphia.Baltimore.New York.London.Hongkong.Tokyo: Lippincot Williams & Wilkins, 2002:995