BAB I PENDAHULUAN 1.

Dasar Teori

BAKTERI Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok besar Prokariota, selain Archaea, yang berukuran sangat kecil serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana, yaitu tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Bakteri dianggap sebagai organisme paling melimpah di bumi. Bakteri tersebar dan menghuni hampir semua tempat (di tanah, air, udara, atau dalam simbiosis dengan organisme lain). Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 μm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3 mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Banyak bakteri yang bergerak menggunakan flagela, yang berbeda dalam strukturnya dari flagela kelompok lain. Tidak semua bakteri dapat membentuk spora. Jenis-jenis bakteri tertentu, terutama yang tergolong kedalam genus Bacillus dan Clostridium, membentuk suatu struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas, disebut endospora. Sifat dari endospora adalah tahan terhadap pemanasan serta dalam keadaan kekurangan nutrient, tahan terhadap panas dan unsur fisik lainnya dari pada bakteri biasanya, yaitu bakteri dalam bentuk vegetatif hal ini disebabkan karena dinding spora sedikit banyak impermeabel, sedang banyaknya asam ribonukleat di dalam protoplasma dapat menawar pengaruh buruk dari sinar, lebih – lebih dari sinar ultra ungu. Berhubung spora itu mengandung sangat sedikit air, maka keadaan ini menyebabkan spora tidak mudah megalami perubahn temperatur. Endospora dapat tetap tinggal disalah satu ujung atau di tengah-tengah sel. Sel dapat pecah karena perkembangan endospora. Pecahan itu kemudian luluh menjadi satu dengan medium. Jika keadaan luar menguntungkan, maka spora dapat tumbuh lagi menjadi bakteri biasa. Mula – mula air meresap ke dalam spora, kemudian spora mengembang dan kulit spora menjadi retak karenanya. Keretakan ini dapat terjadi pada salah ssatu ujung, tetapi dapat juga
1

pada tengah-tengah spora, hal ini merupakan salah satu ciri khas pada Bacillus. Jika kulit spora pecah di tengah-tengah, maka masing-masing pecahan akan merupakan suatu tutup pada kedua ujung bakteri. Pada bakteri, spora berfungsi dalam mempertahankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar. Spora bakteri mempunyai fungsi yang sama seperti kista amoeba karena bakteri dalam bentuk spora dan amoeba dalam bentuk kista berada dalam fase yang sama. Dimana kedua mikroorganisme ini berubah bentuk dalam usaha melindungi diri dari keadaan tidak menguntungkan. Bentuk spora ada yang bulat, ada pula yang bulat panjang dan ada pula yang lebih besar dari pada diameter sel induk. Hal ini bergantung kepada spesiesnya. Endospora ada yang lebih kecil dan ada pula yang besar dari pada diameter sel induk. Sel yang mengandung endospora itu kemudian disebut sporangium atau kotak spora. Biasanya satu sporangium berisi satu endospora, akan tetapi ada kalanya satu sporangium berisi dua spora, hal ini disebabkan karena pembelahan sel yang lambat. Pembentukkan spora disebut dengan sporulasi, pada umumnya sporulasi mudah terjadi, apabila keadaan medium memburuk, zat-zat yang timbul sebagai tempat pertukaran zat menumpuk dan faktor merugikan. Beberapa spesies bakteri dapat kehilangan kemampuan nya untuk dapat membentuk spora. Adanya spora dapat diketahui dengan pengamatan secara morfologi dan secara fisiologi. Bentuk spora dapat dilihat dengan mikroskop biasa, apalagi kalau spora itu diwarnai. Ada dua metode umum yang dipakai, yaitu metode scaeffer-fulton dan metode dorner. Metode dorner menggunakan nigrosin dan menghasilkan spora berwarna merah dan sporangium yang tak berwarna. Pewarnaan spora memerlukan pemanasan lebih dulu. Spora yang tidak meresap zat warna nampak berlainan dari pada sporangiumnya. Jika spora tidak diwarnai, ia nampak sebagai benda yang agak suram di samping protoplasma yang tembus cahaya. Biasanya pewarnaan spora dipakai untuk menyebut alat pembiakkan yang terdapat pada jamur, ganggang, lumut, paku – pakuan.

2

apabila spora melanjutkan pertumbuhannya menjadi bakteri biasa. Dinding spora melanjutkan pertumbuhannya menjadi bakteri biasa. 4) Pada tahap yang terakhir maka spora tampak berubah bentuk dan berubah volume. dibuat film tipis diatas kaca objek. Spora bakteri yang sedang dalam usaha mengamankan diri terdapat pengaruh buruk dari luar. Hasil pengecatan adalah spora berwarna merah dan bakteri berwarna biru. dicuci dengan air dan dikeringkan. Selubung terdiri atas 2 lapis. 2) Selama beberapa jam kelihatan adanya bahan – bahan lipo protein yang mengumpul kesalah satu ujung sel. yaitu kulit luar (eksin) dan kulit dalm (intin). 3 . selanjutnya preparat dicelupkan beberapa detik dalam asam sulfat 1%. Setelah kering difiksasi. maka pecahlah bungkus spora atau dinding kista. Pada beberapa spesies inti itu menjadi dinding sel. di mana koloni menunjukkan pertumbuhan yang sangat lambat. Dinding spora itu impermeabel bagi zat – zat yang dapat mengganggu kehidupan bakteri. sebab bakteri dalam bentuk spora dan amoeba dalam bentuk kista merupakan suatu fase. Setelah keadaan luar baik lagi bagi mereka. dimana kedua mikroorganisme itu berubah bentuk untuk melindungi diri terhadap faktor – faktor luar yang tidak menguntungkan. Menurut knaysi terjadinya spora atau sporulasi itu dapat dibagi atas 4 tahap : 1) Tahap permulaan.Istilah spora pada bakteri mempunyai arti yang lain. dan tumbuhlah bakteri atau amoeba sebagaimana biasanya. 3) Maka timbullah bungkus yang menyelubungi calon spora. Spora bakteri mempunyai fungsi yang sama seperti kista amoeba. disusul pencucian dengan air akhirnya dicat dengan larutan metilen biru selama 3 menit. Cara pengecatan spora menurut klein Biakan bakteri berspora yang berumur 48-72 jam disuspensikan dalam larutan garam fisiologis kedalam suspensi tersebut ditambahkan larutan karbolfuksin. sehingga ujung itu sangat padat. Beberapa macam cara pengecatan spora adalah sebagai berikut : a. Kemudian dipanaskan dalam penangas air pada suhu 80o C selama 10 menit dari suspensi yang berwarna ini.

Dalam hal ini dekolorisasi hanya dilakukan dengan alkohol. Struktur Bakteri Struktur Sel Bakteri a. asam D-glutamat. Polimer yang amat besar ini terdiri dari tiga macam bahan pembangun.  Secara medis. Hasil pengecatannya adalah spora berwarna merah dan sel bakteri berwarna biru.  Sebagai lapisan penyokong dan pelindung struktur dalam. Hasil pengecatan adalah spora berwana hijau dan sel berwarna merah 1. asamN-acetilmuramik dan suatu peptide yang terdiri dari 4 asam amino (L-alanin. kemudian dicuci dengan air selama 10 detik. Komposisi kimiawi dari dinding sel yaitu peptidoglikan. Akhirnya dicuci dengan air dan dikeringkan. fungsi dinding sel sebagai tempat aksi antibiotik serta pembeda tipe bakteri.b. Pewarnaan spora dengan cara lain Pengecatan Ziehl-Neelsen dengan sediklit modifikasi. Dinding Sel Fungsi dinding sel adalah  Memberi bentuk pada sel dan melindungi bakteri dari pengaruh buruk yang datang dari luar sel (patogen). dan Lisin 4 . Film preparat disiram dengan larutan hijau malakhit jenuh dan ditunggu selama 10 menit sambil sewaktu-waktu dipanaskan. yaitu N-acetilglukosamin. D-alanin. Pengecatan dilanjutkan dengan larutan safranin dalam air (0.25%) selama 15 detik.

Terdapat dalam lingkungan dinding sel. Mesosom selalu sinambung dengan membran sitoplasma. lipoprotein. Membran sitoplasma dengan cara melipat kearah dalam atau invaginasi ke dalam sitoplasma menghasilkan struktur yang disebut mesosom. Ini berlawanan dengan penampilannya di dalam protein. Peptydoglikan bersama-sama dengan kedua kompenen lain dinding sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok berdasarkan pada perbedaan struktur dinding sel nya. Membran sitoplasma juga menyediakan peralatan biokimiawi untuk memindahkan ion-ion mineral. atau solute lewat melintasi membran dengan cara difusi pasif atau angkatan aktif. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar dari lipopolisakarida yang terdiri dari membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis dan terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasma). 5 . polisakarida. hanya dijumpai pada prokariota. yaitu Gram positif dan Gram negatif. asam-asam amino. b. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang tersusun dari lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teikoat. c. Penemuan penting lain yang diperoleh selama berlangsungnya identifikasi komposisi kimiawi dinding sel bakteri ialah bahwa beberapa dari asam-asam amino di dalam peptide dan peptidoglikan terdapat dalam konfigurasi D.atau asam diaminopimelat). Perkiraan ketebalannya yang didasarkan pada mikrograf electron irisan-irisan tipis ialah sekitar 7. gula. Terutama terdiri dari protein. seperti asam tekoat. Dinding sel yang utuh juga mengandung kompenen-kompenen kimiawi yang lain. Protoplasma (Cytoplasma) Merupakan zat hidup dari sel. susunan kimiawi secara struktur peptydoglikan bervariasi dari suatu spesies bakteri ke spesies bakteri yang lain.5 nm. yaitu terdapat dalam konfigurasi L. dan lipopolisakrida yang terikat pada peptydoglikan. Membran Cytoplasma Merupakan bagian terluar dari cytoplasma yang melekat pada dinding sel. Namun. protein. Substansi-substansi dalam larutan ini. elektron serta metabolitmetabolit lain melintasi membran.

banyak spesies Basillus dan Spirillum yang memilikinya.d. Bakteri-bakteri berkapsul juga menyebabkan adanya gangguan seperti lendir dalam beberapa proses industri. Kapsul ini bersifat antigen dan merupakan pelindung bakteri. f. maka ia dapat kehilangan virulensinya dan dengan demikian kehilangan kemampuannya menyebabkan infeksi. Penumpukan lendir dalam peralatan pabrik dapat menyumbat filter membentuk lapisan yang tidak dikehendaki pada pipapipa atau peralatan atau mempengaruhi kualitas produk akhirnya. Flagel mempunyai ukuran panjang : 1 – 70 μ. tebal : 12–15 mili μ. tapi flagellum jarang dijumpai pada kokus. Flagelum dibuat dari subunit-subunit protein. Nukleus (Inti) Di dalamnya terdapat pembawa sifat (chromosome) e. Protein ini disebut flagelin. Alat gerak bakteri adalah flagel (bulu cambuk). Tabel fungsi struktur Permukaan Sel Bakteri STRUKTUR FUNGSI Lokomosi (alat gerak) Penutup lindung pelekatan sel makanan cadangan Tabung konjugasi pelekatan sel KOMPOSISI KIMIAWI Protein Flagela Kapsul dan bahan ekstra selular Pili Polisakarida. Tidak semua bakteri mempunyai flagellum. Flagel Salah satu sifat bakteri adalah dapat bergerak. Kapsul Yaitu suatu selaput lendir yang membungkus seluruh permukaan bakteri dan merupakan bagian dari sel bakteri. Bila bakteri itu kehilangan kapsulnya sama sekali. Flagelum menyebabkan motilitas (pergerakan) pada sel bakteri. polipeptida Protein 6 .

Jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar Sarcina. 3. penyebab penyakit radang paruparu. Staphylococcus. Ukuran bakteri adalah mikroskopis artinya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. jika bergandengan membentuk rantai. Misal Diplococcus pneumoniae penyebab penyakit pneumonia (radang. 7 . asam teikoat.l ipid dan protein C Membran sittoplasma dan i mesosom r i Penutup semipermeabel mekanisme traspor pembelahan sel sintesis makromolekul Lipid.Dinding sel Penutup lindung permeabilitas Peptidoglikan. Bentuk Bakteri Berdasarkan bentuknya. Misal Streptococcus lactis. polisakarida. Misal Monococcus gonorhoe. protein 2.    Tetracoccus. yaitu:  Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola.25 mikrometer (μm). bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar. Jika kecil dan tunggal. paru-paru). Misal Sarcina luten. Ukuran Bakteri Bakteri merupakan organisme mikroskopis rata-rata berdiameter 1. Streptococcus pyogenes penyebab sakit tenggorokan dan Streptococcus thermophilis untuk pembuatan yoghurt (susu asam). Jka bergandanya dua-dua. misal Staphlococcus aureus. yaitu bakteri berbentuk bola yang berkoloni seperti buah anggur. dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:   Mikrococcus. Jika bergerombol membentuk kubus.  Streptococcus. Jika bergerombol. Diplococcus.

(bentuk koma). Spiroseta : yaitu golongan bakteri berbentuk spiral yang dapat bergerak. Jika bergandengan dua-dua.   Diplobacillus.   Spiral. misal Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera. Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder. Misal Bacillus anthracis penyebab penyakit antrak. misal: Spirochaeta palida. Jika bergandengan membentuk rantai.  Cocobacillus : batang yang sangat pendek menyerupai coccus  Spiril (Spirilum) atau bentuk spiral adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:  Vibrio. Streptobacillus. dan mempunyai variasi sebagai berikut:  Basil tunggal : bakteri yang hanya berbentuk satu batang tunggal. Contoh: Escherichia coli bakteri yang terdapat pada usus dan Lactobacillus. jika lengkung lebih dari setengah lingkaran atau spiral tidak sempurna. penyebab penyakit sifilis. jika lengkung kurang dari setengah lingkaran. 8 .

bakteri dibagi menjadi lima golongan. mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya. yaitu:      Atrik. kelembapan. dengan suhu optimum 25° – 40° C. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki. bakteri dibagi menjadi 3 golongan:  Bakteri psikrofil. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu. dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Ukuran flagel bakteri sangat kecil. mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya. yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75° C. a) Suhu Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya. Alat Gerak Bakteri Flagel atau cambuk getar merupakan bagian dari bakteri sebagai alat untuk bergerak.1 μ. Lofotrik. yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30° C. flagel melekat pada membran luar di dinding sel. dengan suhu optimum 15° C. Pengaruh Lingkungan Terhadap Bakteri Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memicu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Amfitrik.65° C 9 . tebalnya 0.02 – 0. A:Monotrik B : Lofotrik C : Amfitrik D : Peritrik 5. mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.4. yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55° C.  Bakteri mesofil. Peritrik. dengan suhu optimum 50o .  Bakteri termofil. tidak mempunyai flagel. dan cahaya. Monotrik. mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.

c) Cahaya Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti. 6. gas amoniak. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali. Bakteri Menguntungkan  Bakteri Pengurai Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana.b) Kelembaban udara Pada umumnya bakteri memerlukan kelembaban udara yang cukup tinggi. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat 10 . misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan. kirakira 85%. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi. Bakteri tersebut menguraikan protein. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya. endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2. kekeringan atau zat-zat kimia tertentu. Peranan Bakteri a. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil.

 Bakteri Penghasil Antibiotik Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12.  Bakteri Nitrogen Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan.  Bakteri Fermentasi Beberapa makanan hasil fermentasi : No. menghasilkan terotrisin 11 . 1.  Bakteri Nitrifikasi Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. 4.  Bakteri Usus Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:  Bacillus brevis. dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Nama produk atau makanan Yoghurt Mentega Asinan buahbuahan Bahan baku susu susu buahbuahan Bakteri yang berperan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus Streptococcus lactis Lactobacillus sp. 2.berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara. bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian.

Zat pewarna ZN disebut juga zat pewarna tahan asam. 3. 2. Meskipun demikian. Perlakuan ini menghilangkan zat pewarna dari organisme lain dalam olesan. Contoh kuman tahan asam ialah Mycobacterium. Mereka mengubah makanan dan mengeluarkan hasil metabolisme yang berupa toksin. Bakteri Perusak Makanan Beberapa spesies pengurai tumbuh di dalam makanan.  Bacillus subtilis. Contoh penyebab penyakit TBC paru-paru. Suatu perkecualian pada bakteri pathogen yaitu marga Nocardia. hewan dan tumbuhan. Dengan pencucian yang terus-menerus menyebabkan Nocardia kehilangan zat warna. Bakteri Patogen Merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia. rangka luar serangga. menghasilkan basitrasin Bacillus polymyxa. benda inklusi pada paru penderita pneumonia lemak. menghasilkan polimixin b. Bakteri ini tidak tahan asam seperti Mycobacteria. Mycobacterium tuberculosis Pewarnaan ZN (Ziehl-Neelsen) atau Pewarnaan Tahan Asam Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan pewarnaan gram. sifat tahan asam ini disebabkan oleh adanya asam mikolat. Organisme seperti ini disebut kuman tahan asam. aksospora jamur-jamur tertentu. 12 . Pewarnaan ini digunakan untuk mengidentifikasi organisme bermarga Mycobacterium dan Spirochaeta. dan pigmen lipid pada hati tikus. Bakteri Merugikan 1. Bakteri Denitrifikasi Jika oksigen dalam tanah kurang maka akan berlangsung denitrifikasi. spora kuman. yaitu nitrat direduksi sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Suatu Mycobacteria dikatakan tahan asam karena dapat mempertahankan zat pewarna merah (karbolfuchsin) meskipun dicuci dengan alcohol. Dasarnya dari sebagian organisme menahan fuksin karbol walaupun dilunturkan dengan asam.

Hasil pewarnaan adalah : Mycobacterium berwarna merah dan bakteri lainnya berwarna biru. disebut Endospora. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras. Pewarnaan Spora Jenis-jenis bakteri tertentu. kemudian cepat cuci dengan air.  Pewarnaan dengan cat kontras dilakukan dengan metilenbiru dalam larutan KOH 1/1000. radiasi sinar ultraviolet serta terhadap bahan-bahan kimia yang dapat menghancurkan bakteri yang tidak dapat membentuk spora. kemudian dipanaskan sampai keluar uap (tidak sampai mendidih). Mycobacterium memiliki kandungan lipida yang tinggi dan mempunyai lapisan lilin di luar sel yang bersifat impermeable. Bakteri-bakteri yang sifat dinding selnya tahan asam ZN (+) akan tetap mengikat pewarna pertama/merah setelah pelunturan. kemudian didiamkan selama lima menit. kekeringan. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrient. Langkah-langkah pewarnaan ZN atau tahan asam adalah sebagai berikut :  Film bakteri pada kaca obyek yang telah difiksasi. Pemanasan diulang beberapa kali agar bahan cat tetap hangat . membentuk struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas. Larutan pemucat dalam pewarnaan ZN lebih kuat karena mengandung HCl 3%. ditambahkan karbolfuchsin yang mengandung fenol 5%. disiram dengan karnolfuksin.Mycobacterium memiliki lapisan lilin di sebelah luar dinding sel sehingga zat warna tidak dapat masuk ke dalam. Jika warna telah masuk ke dalam sel maka Mycobacterium akan tetap berwarna merah meski ditambahkan asam alcohol sebagai pemucat.  Dekolorisasi dilakukan dengan asam-alkohol dalam waktu yang singkat. 13 . Lamanya pemucatan tidak akan mempengaruhi reaksi pewarnaan ZN. Supaya zat warna dapat menembus ke dalam sel diperlukan pemanasan dan penambahan bahan kimia khusus. terutama yang digolongkan ke dalam genus Bacillus dan Clostridium.  Setelah dicuci kembali dengan air preparat dikeringkan di udara. tahan terhadap panas dan unsur-unsur fisik lainnya seperti pembekuan. Untuk membantu perasukan zat warna. sebaliknya bakteri yang tidak tahan asam ZN (-) akan melepaskan pewarna pertama/merah setelah pelunturan dan dengan pemberian counterstain (pewarna setelah proses pelunturan) akan mengikat warna counterstain/ungu.

25%) selama 15 detik. b. Ada dua metode yang umum dipakai yaitu : metode Schaeffer-Fulton (SF) dan metode Dorner. Metode Dorner menggunakan nigrosin dan menghasilkan spora yang berwarna merah dan sporangium yang tidak berwarna. Tetapi sekali pewarna tersebut memasuki endospora. Hasil pewarnaannya adalah spora berwarna merah dan sel bakteri berwarna biru. Dari suspensi yang berwarna ini dibuat film yang tipis di atas kaca objek.6%) dan ditunggu selama 10 menit sambil sewaktu-waktu dipanaskan. tidak dapat mewarnainya. setelah kering difiksasi. Akhirnya diwarna dengan larutan metilenbiru selama 3 menit. Dalam hal ini dekolorisasi hanya dilakukan dengan alkohol. kemudian dicuci dengan air selama 10 detik. 3. Pada metode Schaeffer-Fulton menggunakan larutan malachite-green (SF I) dan fuksin (SF II) akan menghasilkan spora yang berwarna hijau. Hasil pewarnaan adalah spora berwarna hijau dan sel berwarna merah. 4. Prosedur pewarnaan gram misalnya.Endospora merupakan bentuk kehidupan yang paling resisten karena organism yang bersangkutan dapat bertahan dalam debu dan tanah secara bertahun-tahun. Pewarnaan dilanjutkan dengan larutan safranin dalam air (0. dicuci dengan air dan dikeringkan. 2. Cara pewarnaan Spora menurut Klein 1. Hanya bila diberikan perlakuan panas yang cukup. Pewarnaan Ziehl-Neelsen dengan sedikit modifikasi. 14 . disusul dengan pencucian dengan air 5. Biakan bakteri spora yang berumur 48-72 jam disuspensi dalam larutan garam fisiologis 2. Sifat endospora yang demikian menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk mewarnainya. sulit dihilangkan. Pewarnaan Spora dengan Cara Lain 1. Akhirnya dicuci dengan air dan keringkan. pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. malakhit jenuh (kira-kira 7. Film preparat disiram dengan larutan hijau. kemudian dipanaskan dalam penangas air pada suhu 80o C selama 10 menit. Beberapa macam cara pewarnaan spora adalah sebagai berikut : a. Selanjutnya preparat dicelupkan beberapa detik dalam asam sulfat 1%. Ke dalam suspensi tersebut ditambahkan larutan karbolfuksin.

bakteri disuspensikan dalam setets air pada kaca preparat yang bersih. Dalam hal letak spora terminal. bila terdapat spora yang mengubah bentuk bakteri. tetapi harus memiliki jumlah sel yang cukup dan menyebar untuk memungkinkan pengamatan yang tepat. Olesan dibiarkan kering di udara dan organismenya difiksasi pada kaca preparat dengan cara pemanasan hati-hati atau secaraka kimiawi. dan diameter spora lebih besar dari diameter sel bakteri. kemudian disebarkan hingga membentuk lapisan yang tipis. maka bentuknya seperti kumparan. 15 . Bila letaknya sentral atau subterminal. dan spora menonjol keluar. Preparat ini disebut sebagai olesan yang telah difiksasi dan siap diwarnai.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari spora dari pewarnaan adalah sebagai berikut : a. Adanya spora dapat mengubah bentuk sel. maka bentuknya seperti pemukul tambur (Clostridium tetani). Bentuk spora bulat atau lonjong c. Olesan yang baik tidak mengandung terlalu banyak sel bakteri dalam kondisi mengumpul. Letak spora dalam sel kemungkinannya adalah sebagai terminal. Jarum ose harus dilewatkan api sebelum dan sesudah mengambil biakan bakteri. PREPARAT OLESAN UNTUK PEWARNAAN Sebelum dilakukan pewarnaan. atau sentral b. Kaca preparat harus bebas lemak dengan cara dicuci bersih dengan detergen dibilas dengan air dan dikeringkan dengan tisue atau dilewatkan di atas api. subterminal.

Kemudian panaskan lagi hingga timbul uap lagi dan lakukan lagi seperti di atas sebanyak 2-3 kali (selama 16 . Ambil 4-5 ose suspensi sel yang akan diamati secara aseptis. Bila perlu pengeringan cepat. Pewarnaan ZN a. kemudian dengan jarum ose sebarkan suspensi bakteri tersebut secara merata dari tengah-tengah kaca obyek ke arah luas (posisi jarum ose horizontal).BAB II METODE KERJA TUJUAN PRAKTIKUM Pewarnaan ZN (Ziehl-Neelsen) atau Pewarnaan Tahan Asam   Melakukan pewarnaan ZN pada sel bakteri Membedakan kelompok bakteri ZN (+) dan (-) Pewarnaan Spora   Melakukan pewarnaan spora pada sel bakteri Membedakan letak spora pada bakteri 1. jangan dikeringkan dengan pemanasan. dengan cara melewatkan olesan yang telah kering tersebut di atas api soiritus beberapa kali (bagian yang ada olesan bakteri menghadap ke atas). Pembuatan Preparat Olesan Bakteri untuk Pewarnaan a. Lakukan fiksasi untuk melekatkan olesan bakteri pada kaca obyek.85 % selanjutnya lakukan cara di atas. Sisihkan dari api hingga uap hilang. Tetesi dengan beberapa tetes larutan carbol-fuchsin (ZN I). Panaskan di atas api spiritus hingga timbul uap . 2. lewatkan preparat di atas api spiritus pada ketinggian + 33 cm di atas api spiritus. Siapkan preparat olesan bakteri Staphylococcus aureus yang telah difiksasi b. Siapkan kaca obyek bebas lemak. c. Bila biakan berasal dari biakan padat atau bukan kultur cair maka suspensikan dulu sel-sel bakteri ke dalam larutan NaCl 0. b. Biarkan olesan bakteri kering di udara.

Bilas air. Warnai dengan pewarna tandingan (ZN III) yaitu larutan biru metilen selama 30 detik f. gambar bentuk sel dan reaksi pewarnaan than asam yang anda amati pada perbesaran 1000x. Pewarnaan Spora a. Gambar bentuk sel dan reaksi pewarnaan tahan asam yang anda amati pada perbesaran 1000x. Bilas dengan air. Kemudian kering-udarakan atau dikeringkan dengan cara menyerap kelebihan air dengan kertas saring atau tisue. Amati di bawah mikroskop pada perbesaran 400x dan 1000x. c. Jaga jangan sampai larutan pewarna mendidih atau mengering. c. Panaskan di atas api spiritus hingga timbul uap. g. g. Kemudian panaskan lagi hingga timbul uap lagi dan lakukan lagi seperti di atas sebanyak 2-3 kali (selama 4-5 menit). Siapkan preparat olesan Bacillus subtilis yang telah difiksasi b. Tetesi dengan larutan fuchsin basa selama 1 menit. d. Bilas dengan air. tetesi dengan larutan ZN II (larutan alkohol-HCl) hingga tidak ada pewarna yang terlunturkan d. tambahkan lagi larutan ZN I bila pewarna mulai berkurang / mengering. Tetesi dengan beberapa tetes larutan Malachite-green (SF I). e. Dinginkan preparat. Lakukan pengamatan juga pada preparat Escherichia coli yang telah disiapkan petugas. Kemudian kering-udarakan atau dikeringkan dengan cara menyerap kelebihan air dengan kertas saring atau tisue. f. 3. Sisihkan dari api hingga uap hilang. Bilas dengan air hingga tidak ada pewarna yang terlunturkan. Amati di bawah mikroskop pada perbesaran 400x dan 1000x.4-5 menit). Dinginkan preparat. Jaga jangan sampai larutan pewarna mendidih atau mongering. tambahkan lagi larutan SF I selama pemanasan untuk mencegah pengeringan. Bilas secara hati-hati dengan air e. 17 .

BAB IV HASIL PENGAMATAN Gambar Hasil pengamatan Mikroskopik Pewarnaan Zn Gambar sel-sel Staphylococus aureus 1000X Warna sel Sel termasuk ZN : Ungu : Negatif Gambar Hasil pengamatan Mikroskopik Pewarnaan spora Bacilus subtilis 1000 x Bentuk sel vegetatif : Basil 18 .

Warna sel Warna spora Letak spora : merah : hijau : terminal. dan sub terminal Escherichia coli Bentuk sel vegetatif Warna sel Warna spora Letak spora : Coco Basil : merah ::- 19 . sentral.

maka bakteri tersebut termasuk dalam golongan bakteri tahan asam. Lalu dengan penambahan 20 . Mycobacterium mempunyai kandungan lipid yang tebal (50% asam mikolat) dan bersifat impermeabel.BAB V PEMBAHASAN PEWARNAAN ZN Fungsi zat warna yang digunakan dalam pewarnaan ini: 1. Pada percobaan yang digunakan adalah Staphylococcus aureus. Contoh bakteri yang memberikan hasil positif adalah Mycobacterium dan Spirochaeta. ZN II sebagai peluntur berupa Alkohol-HCl Digunakan untuk menguji ketahanan dinding sel terhadap suasana asam. Setelah pewarnaan ZN I menembus dinding sel yang kandungan lilinnya rendah. ZN I sebagai pewarna dasar berupa larutan karbol-fuchsin Jika setelah proses pewarnaan bakteri berwarna merah. bakteri tahan asam tetap berwarna merah sedangkan pada bakteri tidak tahan asam zat warna utama akan luntur sehingga pada penambahan warna kedua (Methylen blue) bakteri akan menyerap zat warna tersebut (biru). bakteri ini memiliki lapisan lilin yang rendah atau tidak ada pada dinding selnya sehingga memberikan hasil negatif (Bakteri ZN negatif) yang ditandai dengan warna biru-ungu. Sedangkan. Sedangkan. ZN III sebagai counterstain atau pewarna tandingan berupa metilen biru Pada bakteri tahan asam warna sel tetap merah. Pewarnaan ZN berdasarkan pada kandungan lapisan lilin atau wax yang terdapat pada dinding sel bakteri tertentu yang ditandai dengan warna merah jika hasil positif (bakteri ZN positif).warna sel merah. Pemanasan akan membantu penyerapan zat warna utama (karbol fuchsin) menembus dinding selnya melalui pemberian larutan pemucat (alkohol-HCl). Oleh karena itu diperlukan pemanasan. maka saat diberi peluntur ZN II warna merah akan keluar dari sel. Carbol fuchsin merupakan fuchsin base yang dilarutkan dalam suatu campuran (fenol -alkohol-air). pada bakteri tidak tahan asam dinding sel menjadi rusak. Lapisan lilin itu sangat tebal di daerah luar dinding sel sehingga pewarnaan tidak dapat masuk ke dalam dinding sel. 2. pada bakteri tidak tahan asam warna dari metilen-blue terserap masuk dan warna sel menjadi biru/ungu. 3. Mekanismenya adalah sebagai berikut: 1. Pada bakteri tahan asam dinding sel tidak luntur.

Spora bakteri berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dan kelangsungan hidup jenis-jenis bakteri tertentu. Pada bakteri ZN positif akan menunjukkan warna merah karena setelah pemberian ZN I. SF I sebagai pewarna dasar berupa larutan malachite-green 2. Lokasi spora membantu identifikasi berbagai spesies bakteri. desinfektan dan pembekuan untuk jangka waktu yang lama. Pewarnaan spora termasuk salah satu contoh pewarnaan selektif. SF II sebagai conterstain berupa larutan fuchsin basa. warna biru akan masuk sehingga tampak dalam mikroskop bakteri tersebut berwarna biru (ZN negatif) 2. Sekali spora menyerap zat warna maka spora tidak mudah di dekolorisasi dilunturkan warnanya). sehingga keadaan ini menyebabkan spora tidak mudah mengalami perubahan temperatur. Clostridium. Bakteri yang dapat membentuk spora berasal dari bakteri Gram Positif. Sedangkan zat warna dapat dengan mudah dicuci dari sel vegetatif. tetapi beberapa pewarna basa dapat dipaksa masuk ke dalam spora dengan cara pemanasan (pori-pori spora membesar sehingga zat warna dapat masuk). saat olesan dicuci dan diberi pewarna tandingan dengan zat warna kedua. bakteri masih mengikat warna ZN I walaupun setelah pelunturan karena mengandung lapisan lilin pada dinding selnya sehingga waktu diberi pewarna tandingan tetap memberikan warna merah. kekeringan. Spora sangat tahan panas.counterstain. spora akan tetap mempertahankan pewarna pertama dan sel vegetatif akan menunjukkan warna dari pewarna kedua. Spora umumnya tidak terdapat pada kultur muda dan menjadi banyak pada kultur yang tua. Spora tahan terhadap proses pewarnaan biasa. Karena itu. Fungsi zat warna yang digunakan dalam pewarnaan ini adalah: 1. Spora umumnya dihasilkan oleh familia Bacillaceae. PEWARNAAN SPORA Spora bakteri berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dari lingkungan yang ekstrim. Hal ini karena dinding spora lebih bersifat impermeabel dan spora mengandung sangat sedikit air. 21 . radiasi. Sel bakteri akan membentuk satu spora dan dilepas ke lingkungannya setelah lepas dari sel vegetatifnya. Pembentukkan spora segera terjadi pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. seperti dari genus Bacillus.

Pembilasan dengan air akan melunturkan warna Malachite green dari sel vegetatif. bisa juga menggunakan pewarna lain. jika spora dibentuk di daerah tengah-tengah sel Larutan SF I berisi Malachite green sebagai pewarna untuk spora. tetapi sekali diberi zat warna. Spora tahan proses pewarnaan biasa. dibilas dan dikeringkan. Karena itu saat olesan dicuci dan diberi pewarna tandingan dengan zat warna kedua. misal karbol fuksin yang berwarna merah. sedangkan zat warna dapat dengan mudah dicuci dari sel vegetatif. Larutan SF II berisi larutan fuchsin basa atau dapat juga digunakan larutan safranin. Malachite green segera masuk ke dalam spora dan spora yang telah terpisah dari sel vegetatif akhirnya terlihat berwarna hijau pada perbesaran dengan mikroskop. Larutan pewarna dari pewarna gram tidak akan mewarnai spora dan akibatnya spora akan tampak tak 22 . Sekali spora menyerap zat warna maka spora tidak mudah didekolorisasi (penghilangan warna). Sentral. Dalam praktikum pewarnaan spora pada bakteri Bacillus subtilis setelah diberi warna safarin I ( larutan melachite green ) dilakukan pemanasan 2-3 menit yang ditujukan untuk membantu masuknya pewarna menembus kulit spora yang tebal. dengan adanya pemanasan poripori membesar . tetapi beberapa pewarnaan biasa dapat dipaksa masuk ke dalam spora dengan cara pemanasan (melalui pori-pori spora zat warna dapat masuk). maka sel vegetatif terakhir terlihat berwarna merah karena warna yang terserap adalah warna merah dari safranin II yang terakhir diberikan dan dibiarkan 1 menit. Terminal.Letak spora dalam sel: 1. Selanjutnya karena spora telah terpisah dari sel vegetatif dan berwarna oleh safranin I. warna tersebut sulit dilunturkan. Pewarna pertama untuk spora belum tentu malachite green. spora berwarna merah. spora akan tetap mempertahankan pewarna pertama dan sel vegetatif akan menunjukkan pewarna dari pewarna kedua. Larutan ini digunakan untuk mewarnai sel vegetatif sehingga timbul warna merah. Subterminal. Pada pewarnaan karbon fuksin. tapi proses tetap diikuti dengan pemanasan. Air berfungsi sebagai agen dekolorisasi sel. jika spora dibentuk di daerah ujung sel 2. warna ini tidak mempengaruhi warna hijau dari spora. Larutan ini memberi warna hijau. Sehingga pada tahap pewarnaan ini dilakukan pemanasan supaya dapat menembus dinding spora. spora meregang dan zat warna dapat masuk dengan mudah. Endospora sukar menyerap zat warna. jika spora dibentuk di daerah dekat ujung sel 3.

serta memiliki bentuk batang yang lebih besar daripada E. sehingga hanya ditemui sel vegetatif berwarna merah. Pada percobaan ini kami menemukan spora di dalam sel vegetatif. Untuk Bacillus subtilis letak sporanya di central (di tengah-tengah) sel vegetatif. Bakteri Bacillus subtilis memiliki sel vegetatif berwarna merah dan spora berwarna hijau. tetapi letak spora yang paling dominan berada di ujung terminal. Pada E. spora bergerminasi kembali menjadi sel vegetatif.berwarna (transparan) dalam sitoplasma sel-sel bakteri yang diwarnai. Dalam lingkungan yang menguntungkan. tetapi sudah terlepas dari sel vegetatif. Berikut merupakan prosedur pewarnaan endospora dengan metode Schaeffer-Fulton. Bakteri yang tidak memiliki spora bisa disebabkan beberapa faktor.coli tidak ditemukan adanya spora karena E. Bila lingkungan tidak menguntungkan sel vegetatif berubah menjadi spora.coli. seperti faktor lingkungan. 23 .coli tidak menghasilkan spora.

sedangkan ZN negatif berwarna biru.subterminal dan sentral. Spora dapat diamati dengan pewarnaan spora terlihat spora berwarna hijau dan letak spora pada sel vegetatif terletak pada sentral. Staphylococcus aureus memberikan ungu. kekeringan. yang berarti bakteri ini termasuk ke dalam ZN negatif. Ukuran dan letak endospora di dalm sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakeri yang membentuknya. Letak spora pada bakteri ada tiga yaitu terminal.  Pembuatan olesan tidak boleh terlalu tebal. Adanya spora ditunjukkan dengan warna hijau. terminal. terutama pada medium padat cenderung saling melekat dengan sesamanya PEWARNAAN ZN Pewarnaan ZN disebut juga pewarnaan tahan asam ZN positif ditunjukkan dengan warna merah. radiasi ultraviolet serta terhadap bahan-bahan kimia sehingga dibutuhkan usaha yang 24 . Sehingga dapat disimpulkan bakteri ini tidak tahan asam Pemanasan menyebabkan zat warna mudah masuk. Bacillus subtilis tergolong pada jenis bacillus yang dapat membentuk suatu struktur dalam sel pada tempat.  Pensuspensian harus merata dan tipis supaya pengamatan bakteri mudah. karena akan membuat sel bakteri bertumpuk sehingga sukar untuk menentukan bentuk sel secara individu.  Pada pengamatan 1000x lensa objektif harus diberi minyak imersi terlebih dulu untuk memfokuskan cahaya.BAB VI KESIMPULAN  Pembuatan preparat untuk pewarnaan harus difikasi terlebih dulu sebelum ditetesi larutan pewarna (gram). tahan terhadap panas dan unsur-unsur fisik lainnya seperti pembekuan. Sebelum difikasi preparat harus benar-benar kering karena jika tidak struktur bakteri akan berubah akibat bakteri terebus bersama air steril. dan subterminal Endospora pada Bacillus dapat membuat bakteri Bacillus bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrient.tempat yang khas disebut endospora.

25 .keras untuk mewarnai spora dengan pewarna khusus untuk dapat menembus endospora serta pemanasan yang cukup untuk memuaikan spora agar pewarna bisa masuk.

 Entjang Indan.  Entjang. Mikrobiologi Umum. 1992. Mikrobiaologi Dasar dan Praktek. Mikrobiologi dan Patofisiologi Untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. 2003. 1993. Rajawali  Dwijosepotro. Bandung : PT. Jakarta : Binarupa Aksara. Jakarta : Binarupa Aksara  Staff Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Agus Krisno. Satish. Koes Irianto. Citra Aditya Bakti.Enggar S. Mikrobiologi Kedokteran.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Mikrobiologi : Menguak Dunia Organisme.Mikrobiologi kedokteran:Untuk Laboratorium dan Klinik. Merna Foss Pelczar 1986. 1990. Indah.Pelczar.DAFTAR PUSTAKA  Budiyanto.j. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang. 1993. Mikrobiologi dan Parasitologi. Jakarta: PT Gramedia. Iud. Mikrobiologi Terapan.Jakarta:UI-Press Bonang. 26 . Bandung : Penerbit Yrama Widya. Jakarta : Djambatan. Mikrobiologi Dasar edisi 3. Mikrobiologi Kedokteran. Citra Aditya Bakti.jr. 2002.E. Jakarta : FK Universitas Indonesia. Mikrobiologi.Koeswardono 1982. 2003. 1982. 2004. D. 1978.C  Gerard Chan. 2006. Jakarta : CV. Malang : Universitas Muhammadiyah. Dasar-Dasar Mikrobiologi.  Bibiana. Bandung: PT.  Michael. Moch.  Waluyo.  Hadioetomo & Ratna Siri.  FK Universitas Indonesia.S.  Gupte.  Drs.Jakarta:Gramedia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful