You are on page 1of 10

LAPORAN PENDAHULUAN GASTRITIS A. Pengertian 1.

Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung yang dapat bersifat akut dan kronis. 2. Gastritis adalah peradangan yang terjadi dilambung akibat meningkatnya sekresi asam lambung mengakibatkan iritasi/perlukaan pada lambung. 3. Gastritis adalah merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik difus, atau lokal. Dua jenis gastritis yang paling sering terjadi- gastritis superfisial akut dan gastritis atrofik kronik (Silvia A. Price, 1994 : 376). B. Etiologi 1. Gastritis akut disebabkan oleh asam kuat atau alkalis. 2. Gastritis kronik : a. Tipe A, dihubungkan dengan penyakit auto imun misalnya anemia pernisiosa. b. Tipe B, dihubungkan dengan helicobacter pylori, faktor diet seperti minum panas, pedas, penggunaan obat, alkohol, merokok, atau refluks isi usus ke lambung. C. Manifestasi Klinis 1. Gastritis akut meliputi : ulserasi superficial yang dapat menimbulkan hemoragi, ketidaknyamanan abdomen (sakit kepala, malaise, mual dan anoreksia), muntah, cegukan, beberapa pasien asimtomatik, kolik dan diare dapat terjadi bila makanan pengiritan tidak dimuntahkan tapi mencapai usus besar. Pasien biasanya sembuh dalam sehari walau nafsu makan mungkin menurun selama 2 – 3 hari. 2. Gastritis kronik meliputi : tipe A biasanya asimtomatik kecuali untuk gejala defisiensi B12 dan pada gastritis tipe B pasien mengeluh anoreksia, sakit ulu

hati setelah makan, bersendawa, rasa pahit dalam mulut atau mual dan muntah. D. Patofisiologi Asam dalam lumen + empedu, alkohol, dan lain-lain ↓ Penghancuran epitel sawar ↓ Asam kembali berdifusi ke mukosa ↓ Penghancuran sel mukosa ↓ Peningkatan Pepsinogen- → Peningkatan Asam pepsin ↓ Perangsangan kolinergik ↓ Fungsi sawar menurun Peningkatan Potilitas Pepsinogen Peningkatan vasodilatasi, permiabilitas terhadap protein, plasma bocor ke intestinum, edema, Penghancuran kapiler dan vena kecil Perdarahan ↓ Hematemesis E. Pemeriksaan Diagnostik 1. Endoskopi : gastro duodenoskopy akan tampak eritematous atau eksudatif, mukosa sembab, merah, mudah berdarah. plasma bocor ke dalam lambung ↔ Peningkatan Histamin

2. Pemeriksaan histologis: dengan melakukan biopsy pada semua segmen lambung atau mengetahui adanya kuman helicobacter pylori. 3. Pemeriksaan radiologi.

F. Penatalaksanaan 1. Gastritis akut : a. fase akut, istirahat total 1-2 hari, b. pengaturan diet, c. beri makanan lembek dan tidak merangsang mual dan muntah, d. kolaborasi dalam pemberian cairan, anti-emetik untuk mengurangi muntah, antibiotik untuk penanganan faktor penyebab. 2. Gastritis kronis : a. isitrahat yang cukup, b. makanan lembek untuk yang tidak terjadi perdarahan, c. setelah makan, sebaiknya istirahat untuk mencegah terjadinya, d. beri makanan lembek dan porsi kecil tapi sering, e. hindari merokok, dan f. kolaborasi dalam pemberian anti spasmodik, anti perdarahan (kalau perlu), pemberian vitamin B12 dan zat besi. G. Komplikasi 1. Hemoragi. 2. Tukak lambung. 3. Obstruksi. 4. Ca lambung. H. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

Asuhan keperawatan keluarga meupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga. 1. Tahap Pengkajian Pengkajian adalah tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya. Hal – hal yang dikaji dalam keluarga adalah : a. Data Umum : Meliputi nama kepala keluarga, alamat, pekerjaan dan pendidikan kepala keluarga, komposisi keluarga yang terdiri dari nama, jenis kelamin, hubungan dengan KK, umur, pendidikan, dan status imunisasi dari masing – masing anggota keluarga serta genogram. Type keluarga. Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tiper keluarga tersebut. Suku bangsa. Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan Agama. Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan. Status sosial ekonomi keluarga. Status social ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status social ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan – kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang – barang yang dimiliki oleh keluarga. Aktivitas rekreasi keluarga. Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi bersama – sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi. b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga Tahap perkembangan keluarga saat ini. Dimana ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.

1) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi. Menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya. 2) Riwayat keluarga inti. Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing – masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga. c. Pengkajian Lingkungan 1) Karakteristik rumah. Diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaat ruangan, peletakan perabotan rumah, dan denah rumah. 2) Karakteristik tetangga. Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat, budaya yang mempengaruhi kesehatan. 3) Mobilitas geografis keluarga. Mobilitas geografis keluarga yang ditentukan dengan kebiasaan keluarga berpindah tempat. 4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat. Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada. 5) Sistem pendukung keluarga. Yang termasuk sistem pendukung adalah jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan yang meliputi fasilitas fisik, psikologis, atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan masyarakat setempat. d. Struktur Keluarga 1) Pola komunikasi keluarga. Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga.

2) Struktur perilaku.

kekuatan

keluarga.

Kemampuan

anggota

keluarga

mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah 3) Struktur peran. Menjelaskan peran dari masingg – masing anggota keluarga baik secara formal maupun informal. 4) Nilai atau norma keluarga. Menjelaskan mengenai nilai norma yang dianut keluarga, yang berhubungan dengan kesehatan. e. Fungsi Keluarga 1) Fungsi afektif. Mengkaji gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, kehangatan pada keluarga dan keluarga mengembangkan sikap saling menghargai. 2) Fungsi sosialisasi. Bagaimanaa interaksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma atau budaya dan perilaku. 3) Fungsi perawatan kesehatan. Sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaianan dan perlindungan terhadap anggota yang sakit. Pengetahuan keluarga mengenai sehat – sakit, kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga yaitu : - Mengenal masalah kesehatan : sejauh mana keluarga mengenal fakta – fakta dari masalah kesehatan meliputi pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan yang mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap masalah. - Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat : sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, apakah masalah dirasakan, menyerah terhadap masalah yang dialami, takut akan akibat dari tindakan penyakit, mempunyai sikap negative terhadap masalah kesehatan, dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan

mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah. - Merawat anggota keluarga yang sakit : sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahu tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui sumber – sumber yang ada dalamn keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, keuangan, fasilitas fisik, psikososial), mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga terhadap yang sakit. - Memelihara lingkungan rumah yang sehat : sejauh mana mengetahui sumber – sumbver keluarga yang dimiliki, keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya hygiene sanitasi dan kekompakan antar anggota keluarga. - Menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan di masyarakat : apakah keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan, memahami keuntungan yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan tersebut terjangkau oleh keluarga. 4) Fungsi reproduksi. Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa yang digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggota keluarga. 5) Fungsi ekonomi. Mengkaji sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, dan memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya meningkatkan status kesehatan keluarga. f. Stres dan Koping Keluarga 1) Stressor jangka pendek yaitu yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu + 6 bulan dan jangka panjang yaitu yang memerlukan penyelesaian lebih dari 6 bulan. 2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor. Mengkaji sejauhmana keluarga berespon terhadap situasi atau stressor.

3) Strategi koping yang digunakan. Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan. 4) Strategi g. adaptasi disfungsional. Dijelaskan mengenai adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluargaa. Metode yang digunakan pada pemeriksaan, tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik. h. Harapan Keluarga Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada. 2. Perumusan Diagnosis Keperawatan Keluarga. Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapatkana pada pengkajian. Tipologi dari diagnosis keperawatan : a. Aktual (terjadi defisit atau gangguan kesehatan). Dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala dari gangguan kesehatan. b. Resiko (ancaman kesehatan) Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan. c. Potensial (keadaan sejahtera atau “wellness”) Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera sehingga kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Dalam satu keluarga perawat dapat menemukan lebih dari satu diagnosa keperawatan. Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan skala prioritas. 3. Perencanaan Keperawatan Keluarga.

Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan yang mencakup tujuan umum dan tujuan khusus serta dilengkapi dengan Kriteria dan Standar. Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan khusus yang ditetapkan. 4. Tahapan Tindakan Keperawatan Keluarga. Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal – hal dibawah ini : a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberika informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan, dan mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah. b. Menstimulais keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara mengidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan, mengidentfikasi sumber – sumber yang dimiliki keluarga dan mendiskusikan tentang konsekuensi tiap tindakan. c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah dan mengawasi keluarga melakukan perawatan. d. Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat dengan cara menemukan sumber – sumber yang dapat digunakan keluarga dan melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin. e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dengan cara mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga dan membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada. 5. Tahap Evaluasi Sesuai rencana tindakan yang telah diberikan, dilakukan penilaian untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil perlu disusun

rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Untuk itu dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga. Tahapan evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi akhir.