You are on page 1of 8

Sistem Klasifikasi Gigi Impaksi Pengambilan gigi yang menalami impaksi dapat menjadi mudah namun terkadang dapat

menyulitkan bahkan bagi ahli bedah yang sudah berpengalaman. Salah satu cara untuk menilai kesulitan pengambilan gigi impaksi adalah ketersediaan akses. Aksesibilitas ditentukan oleh letak gigi tetangga dan struktur lain yang dapat menyulitkan akses atau pengeluaran gigi. Dengan sistem klasifikasi, ahli bedah dapat mempersiapkan pembedahan dan memperkirakan apakah ada langkah operasi tambahan yang harus dilakukan. Kebanyakan sistem klasifikasi didasarkan pada analisis radiografi. Radiografi panoramik memberikan gambaran yang paling akurat terutama pada regio molar ketiga. Radiografi periapikal juga dapat menjadi pilihan selama seluruh bagian dari gigi yang mengalami impaksi dan struktur sekitarnya terlihat dengan jelas. Apabila akar dari gigi molar rahang bawah terlihat sangat dekat atau superimpose dengan canalis alveolaris inferior, maka diagnosis dapat dibantu dengan radiografi panoramik dan Cone-beam CT. Teknik tersebut dapat memperlihatkan hubungan antara ujung akar dengan canalis.

1. Sistem Klasifikasi Impaksi Gigi Molar Ketiga Rahang Bawah

1.1.Angulasi Sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah dengan menentukan hubungan sumbu panjang gigi molar tiga yang mengalami impaksi dengan sumbu panjang gigi molar dua di sebelahnya. Gigi dengan inklinasi yang

sumbu panjang dari gigi molar ketiga menjauhi gigi molar dua ke arah diatal atau ke arah posterior. Jika sumbu panjang gigi dari molar tiga tegak lurus dengan gigi molar dua. Secara umum. Alasannya adaah . Tipe impaksi ini merupakan yang paling sering terjadi. hanya sekitar 6% dari seluruh kasus impaksi molar ketiga. pengambilan gigi memerlukan tindakan pengambilan sebagian kecil tulang. Impaksi distoangular merupakan kasus yang paling sulit untuk ditangani. kasus impaksi gigi molar yang cukup mudah diambil adalah kasus mesioangular impaksi. terhitung 38% dari seluruh kasus impaksi. sedangkan pada beberapa gigi dengan inklinasi yang tidak tepat. Pada kasus ini. Proses pengambilan gigi molar tiga yang eupsi dalam arah distoangular lebih rumit dibandingan dengan kasus distoangular pada gigi lainnya.tepat memiliki jalur pencabutan yang telah tersedia. hampir 43% kasus impaksi dari selruh kasus impaksi gigi. biasanya pengambilannya dilakukan dengan prosedur bedah. Pada impaksi mesioangular. Kasus ini terjadi 3% dari seluruh kasus impaksi. Kasus ini merupakan kedua terbanyak. Sistem klasifikasi ini membantu menentukan evaluasi awal dalam menentukan tingkat kesulitan ekstraksi. dan merupakan kasus ketiga tersulit. gigi yang mengalami impaksi terletak paralel dengan sumbu panjang gigi molar kedua. gigi miring ke arah mesial mendekati molar dua. Pada kasus impaksi vertikal. Kasus ini merupaan yang paling sulit ditangani karena arah penarikannya mengarah ke ramus mandibula. maka kasus ini dinamakan impaksi horizontal. Tipe impaksi ini biasanya lebih sulit diambil dibandingan dengan impaksi mesioangular. Impaksi distoagular sangat jarang terjadi.

Pada klasifikasi ini. Kasus lain yang jarang terjadi adalah impaksi transversal. 2. Selain itu.Hubungan dengan Batas Anterior Ramus Metode lain untuk klasifikasi gigi yang mengalami impaksi adalah berdasarkan banyaknya bagian dari gigi impaksi yang terpendam pada ramus mandibula. dan 3. penting bagi ahli bedah untuk memeriksa hubungan antara gigi dengan ramus mandibula bagian anterior. 1. operator dapa mengunakan bantuan perpendicular occlusal film. Klasifikasi ini dikenal juga sebagai Klasifikasi Pell dan Gregory. dimana gigi ada pada posisi horizontal namun pada arah buccolingual. juga dapat mengarah ke buccal.karena akar mesial dari gigi molar ketiga letaknya sangat dekat dengan akar gigi molar kedua. Untuk menilai kemiringan ke arah buccal dan lingual dengan akurat. atau palatal.2. dan terkadang disebut sebagai Pell dan Gegory Kelas 1. lingual. . Permukaan oklusal dari gigi yang mengalami impaksi menghadap ke arah buccal atau lingual. hubungan antara angulasi sumbu panjang gigi molar ketiga dan molar dua.

Jika diameter mesiodistal gigi ang mengalami impaksi sepenuhnya berada di anterior batas anterior ramus mandibula.3. gigi tidak dapat erupsi dengan sempurna karena terdapat sebagian tulang yang terletak diatas bagian distal gigi ang impaksi. gigi masih memiliki kemungkinan untuk erupsi dengan arah yang normal. maka hubungan ini disebut dengan Kelas 1 Pell dan Gregory. Jika gigi terletak lebih posterior sehingga hampir dari setengah lebar mesiodistal gigi terbenam pada ramus. hubungan ini dinamakan hubungan kelas 2 Pell dan Gregory. 1.Hubungan dengan Bidang Oklusal Sistem klasifikasi impaksi gigi molar ketiga rahang bawah lainnya ditentukan berdasarkan kedalaman gigi yang mengalami impaksi dibandingkan . Pada kasus hubungan kelas 2. Jika gigi tersebut berada pada posisi vertikal.

Impaksi kelas A merupakan impaksi molar ketiga rahang bawah dimana pemukaan oklusal gigi molar ketiga rahang bawah yang mengalami impaksi sejajar atau hampir sejajar dengan bisang oklusal gigi molar kedua rahang bawah. Namun. beberapa perbedaan dan tambahan harus dibuat ntuk menentukan tungkat kesulitan penatalaksanaa yang lebih akurat. B. Pada impaksi kelas B. Klasifikasi Impaksi Gigi Molar Ketiga Rahang Atas Sistem klasifikasi untuk impaksi gigi mlar ketiga rahang atas pada dasarnya ampir sama dengan sistem klasifikasi gigi molar ketiga rahang bawah. Pada impaksi kelas C. Pada sistem klasifikasi ini. permukaan oklusal gigi molar ketiga yan mengalami impaksi berada di bawah garis cervical gigi molar kedua rahang bawah. permukaan oklusal gigi molar ketiga rahang bawah yang mengalami impaksi berada diantara garis cervical dan bidang oklsal gigi molar kedua rahang bawah.dengan ketinggian gigi molar kedua rahang bawah. 2. Sistem klasifikasi ini juga dibuat oleh Pell dan Gregory. C Pell & Gregory. dan disebut dengan klasifikasi A. derajat kesulitan ditentukan berdasarkan ketebalan tulang diatas gigi. . dimana kesulitan penanganan semakin tinggi jika letak gigi yang mengalami impaksi semakin dalam.

2. dan impaksi mesioangular.2.Angulasi Berdasarkan angulasinya.Hubungan dengan Bidang Oklusal Klas A : Bagian terbawah dari mahkota gigi impaksi M3 atas berada segaris dengan oklusal gigi M2 disebelahnya. Kadang ditemukan posisi lain seperti transversal. . 2. Impaksi vertikal terjadi sekitar 63% dari keseluruhan kasus.posisi tersebut sangat jarang ditemukan dan hanya terjadi sekitar 1% dari keseluruhan kasus. Posisi. inverted.1. atau horizontal. dan impaksi mesioangular sekitar 12%. impaksi distoangula. sedangkan impaksi distoangular terjadi hapir 25%. terdapat tiga tipe impaksi gigi molar ketiga rahang atas yaitu impaksi vertikal.

2.3. Klasifikasi Impaksi Gigi Kaninus . 3. Klas C : Bagian terbawah dari mahkota gigi impaksi M3 atas berada pada atau terletak diatas servikal gigi M2 disebelahnya. Hubungannya dengan Sinus Maksilaris 1) “Sinus Maxillaris Apporoximation” yaitu antara gigi impaksi M3 atas dengan sinus maksilaris terdapat hubungan langsung atau hanya dibatasi oleh selapis tipis jaringan tulang.Klas B : Bagian terbawah mahkota gigi impaksi M3 atas berada diantara dataran oklusal dan garis servikal gigi M2 disebelahnya. 2) “No Sinus Maxillaris Apporoximation” yaitu antara gigi impaksi M3 atas dengan sinus maksilaris dibatasi oleh sekitar 2 mm atau lebih jaringan tulang.

Kelas IV : Kaninus rahang atas impaksi yang terletak didalam prosesus alveolaris.Klasifikasi Kaninus Atas menurut Archer. vertikal. semivertikal. Kelas II : Kaninus rahang atas impaksi terletak pada bagian bukal maksila dengan posisi horizontal.1975 adalah sebagai berikut : Kelas I : Kaninus rahang atas impaksi terletak disebelah palatinal dengan posisi horizontal. Kelas III : Kaninus rahang atas impaksi terletak diantara bukal atau labial dengan palatinal. vertikal. biasanya secara vertikal antara gigi insisivus dan gigi premolar Kelas V : Kaninus rahang atas impaksi terletak pada rahang atas yang tidak bergigi . semivertikal.