You are on page 1of 7

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina

ke dunia luar. Persalinan normal atau persalinan spontan adalah bila bayi lahir dengan letak belakang kepala tanpa melalui alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Persalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri, tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir. Partus normal/partus biasa adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala/ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat/pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.

Sebab-sebab terjadinya proses persalinan menurut Kampono dan M. Moegni (1999) adalah sebagai berikut : 1. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang. (pada diagram, dari Lancet, kok estrogen meningkat ?) 2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus. 3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya kontraksi. 4. Peningkatan beban/stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan.

Passanger Keadaan janin (letak. 4. ada/tidak kelainan anatomik mayor) (++ faktor-faktor "P" lainnya : psychology. His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin ke bawah. 2. Power His (kontraksi ritmis otot polos uterus). 3.Persalinan ditentukan oleh 3 (tiga) faktor “P” utama yaitu : 1. 2. Pembagian fase/kala persalinan menurut WIknyosastro. . physician. awal gelombang tersebut didapat dari „pacemaker‟ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.2 cm/jam Kurang dari 2 jam Kurang dari 30 menit Multipara Kurang dari 14 jam 2 – 5 jam Rata-rata 1.5 cm/jam Kurang dari 1 jam Kurang dari 30 menit His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus. dkk (1999 : 181) sebagai berikut: 1. Kala 1 Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan) Kala 2 Pengeluaran bayi (kala pengeluaran) Kala 3 Pengeluaran plasenta (kala uri) Kala 4 Masa 1 jam setelah partus. keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu. kekuatan mengejan ibu. position). Passage Keadaan jalan lahir 3. ukuran/berat janin. terutama untuk observasi Periode Tahap-tahap Persalinan Normal Tahap Persalinan Kala 1 – fase laten Fase aktif Pembukaan serviks Kala 2 Kala 3 Nullipara Kurang dari 20 jam 5 – 8 jam Rata-rata 1. presentasi.

Kala 1 awal (fase laten) Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg. Terjadinya his akibat : 1. frekuensi 2-4 kali / 10 menit. untuk mendorong isi uterus ke luar. Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka. Regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3 3. Moegni (1999) sebagai berikut : 1. amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg. Terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi. 4. akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus. lama 20-30 detik. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm). Terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his 5.Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan lahir) yang membuka. Kerja hormon oksitosin 2. Serviks terbuka sampai 3 cm. His yang baik dan idealmeliputi: 1. Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus 2. . Rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi. Kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus 3. Serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot. Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir terjadi peningkatan rasa nyeri. lama 60-90 detik. Sifat his pada berbagai fase persalinan menurut Kampono dan M. kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement).

Kala 3 Amplitudo 60-80 mmHg. Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm. Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam). Persalinan kala 1 dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur. Fase akselerasi (sekitar 2 jam). berlangsung sekitar 6 jam. makin sering. pembukaan 4 cm sampai 9 cm. disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid. Persalinan kala 1 berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam. berlangsung sekitar 8 jam. Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I. Fase deselerasi (sekitar 2 jam). Keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis. namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid). frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Fase aktif terbagi atas : 1. Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm). Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini. dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan diafragma.2. Kala 2 Amplitudo 60 mmHg. aktifitas uterus menurun. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. berusaha untuk mengeluarkan bayi. akibat terbukanya vaskular kapiler serviks. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar. . 3. makin terasa nyeri. 3. frekuensi kontraksi berkurang. 2. Tambahan tenaga meneran dari ibu. 2. pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm). bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). makin kuat. pembukaan 3 cm sampai 4 cm. makin lama. dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus. Peristiwa penting pada persalinan kala 1 : 1.

selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. lebih lama.3. His menjadi lebih kuat. Selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm). . 2. 3. dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion). sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) 4. 2. lebih sering.pada multipara.pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya. Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan . sangat kuat. Peristiwa penting pada persalinan kala 2 adalah : 1. Periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama. Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara : 1. Pada primigravida. 3. Kepala dilahirkan lebih dulu. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul. ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) . ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar). Persalinan Kala 2 : Fase Pengeluaran Bayi Persalinan kala 2 dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap.

bregma. akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala. 3. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). Ekspulsi : setelah bahu lahir. Lahir berturut-turut : oksiput. bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang. 7. dagu. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring/membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior/posterior). Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva. membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis. putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis). pinggul / trokanter depan dan belakang. 2) tekanan dari cairan amnion. tungkai dan kaki. Fleksi : kepala janin fleksi. multipara + 0. Selanjutnya lahir badan (toraks.5. mulut. terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior.5 jam. Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala : 1.abdomen) dan lengan. 6. . Kepala turun ke dalam rongga panggul. 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan). bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh. 4. 5. kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang. hidung. 2. Lama kala 2 pada primigravida + 1. posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala). dahi. dagu menempel ke toraks.5 jam.

2. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir (jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir. kontraksi uterus harus baik. resume keadaan umum bayi. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru. dilakukan observasi. 5. sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan. 4. serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. 3. kontraksi uterus bertambah keras. atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. disebut solusio/abruptio placentae . resume keadaan umum ibu. Ada 7 (tujuh) pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 : 1.keadaan gawat darurat obstetrik). Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi.Persalinan Kala 3 : Fase Pengeluaran Plasenta Persalinan kala 3 dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir dengan lahirnya plasenta. plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap. luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma. tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain. Persalinan Kala 4 : Observasi Pasca Persalinan Sampai dengan 1 jam postpartum. Pada keadaan normal. 6. kandung kencing harus kosong. fundus setinggi sekitar / di atas pusat. 7. .