You are on page 1of 40

REFERAT

Oleh LINDA DEVITA 1102004131 PEMBIMBING: Dr. Hj. Helida Abbas Sp.OG

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Slamet Garut Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi

20 April – 27 Juni 2009
PENDAHULUAN

Perawatan selama persalinan dan kehamilan yang telah diperbaiki dapat mengurangi kematian maternal dan kematian perinatal. Perbaikan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan, dapat membantu mengatasi 64 persen penyebab kematian ibu. Perbaikan penanganan klinis, dapat mengatasi 36 persen kematian ibu. Kesadaran masyarakat akan tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan pengetahuan mengenai kehamilan akan meminimalkan kegawatdaruratan obstetri, namun banyak

kepercayaan tradisional dan praktek penundaan pengambilan keputusan untuk mencari perawatan pada fasilitas kesehatan, masih dilakukan masyarakat. Faktor medis adalah kenyataan bahwa suami dan anggota senior keluarga tidak mengenal adanya tanda bahaya selama kehamilan dan terjadinya keterlambatan menggunakan fasilitas medis. Fasilitas medis seperti persediaan darah di rumah sakit yang minim, akan mempengaruhi proses selanjutnya pada kasus-kasus tersebut. Faktor kepercayaan dan tradisi disamping keadaan sosio-ekonomi juga memberi sumbangan kepada terjadinya keadaan fatal bagi ibu. Faktor medis dan non-medis mungkin juga mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada kedaruratan medis yang menyebabkan kematian.(1)

Kematian pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara berkembang sekitar 25 – 50% kematian terjadi pada wanita usia subur. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama kematian wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Angka kematian ibu merupakan tolok ukur untuk menilai keadaan pelayanan obstetri disuatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti sistim pelayanan obstetri masih buruk, sehingga memerlukan perbaikan. Sistem rujukan di Indonesia menjadikan rumah sakit (RS) kabupaten sebagai RS rujukan sekunder, yang memiliki berbagai fungsi pelayanan obstetri.(2)

Untuk menurunkan AKI, intervensi pra persalinan merupakan strategi umum yangditerapkan di Indonesia, seperti halnya di negara lain, sebagai alat pemeriksaan

2

persalinan resiko tinggi, strategi ini belum mampu menurunkan AKI terutama oleh karena faktor sistem rujukan, serta ketersediaan, dan efektivitas intervensi. Oleh karena itu salah satu prioritas utama kebijakan “Safe motherhood” adalah meningkatkan atau menjamin akses pelayanan kesehatan bagi kegawatdaruratan obstetri(2). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA AKI Penyebab utama tingginya AKI adalah adanya tiga terlambat (3T) yaitu (2): 1. Terlambat untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawatdaruratan obstetri yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tradisi, budaya ataupun faktor ekonomi. 2. Terlambat mencapai tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan geografi atau masalah tranportasi. 3. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat setelah tiba ditempat rujukan akibat kurangnya tenaga sumber daya yang terampil, sarana dan fasilitas kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar maupun kasus kegawatdaruratan.

3

KEGAWATDARURATAN OBSTETRI
Kegawatdaruratan obstetri adalah keaadaan pada kehamilan yang membutuhkan penanganan segera atau keadaan pada kehamilan yang mengancam jiwa ibu. Dapat terjadi pada awal kehamilan, kehamilan lanjut dan mendekati persalinan, saat persalinan dan pasca persalinan. (3) Kegawatdaruratan obstetri pada awal kehamilan(3): • • abortus kehamilan ektra uterin (ektopik)

Kegawatdaruratan obstetri pada kehamilan lanjut(3): • • • • • Plasenta previa Solusio plasenta Rupture uteri Eklampsia Sepsis

Kegawatdaruratan obstetri pada persalinan dan pasca persalinan(3): • • • • • retensio plasenta cedera jalan lahir dan ruptur uteri atonia uteri eklampsia infeksi/sepsis

ABORTUS
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan penyebabnya. Bayi mungkin hidup di dunia luar tanpa mempersoalkan penyebabnya. Dengan kata lain Abortus artinya berakhirnya 4

faktor imunologis. kelainan endokrin. yaitu gangguan pertumbuhan zigot. Biasanya yang menyebabkan abortus pada trimester pertama yaitu: kelainan telur.5). Patogenesis Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis. kerusakan embrio. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan villi korialis dengan desidua makin erat mulai saat tersebut sering sisa-sisa 5 . lalu terjadi perubahan nekrotik pada daerah implantasi. telur kosong (blighted ovum). Memang janin segitu banyak yang mati dari pada hidup. Klasifikasi abortus(4): 1. atau kelainan kromosom. faktor eksterna seperti radiasi. yaitu(4. obat-obatan antagonis asam folat. embrio dengan kelainan lokal. 2. trauma. kelainan uterus.5): 1. merokok. infiltrasi sel-sel peradangan akut dan akhirnya perdarahan pervaginam. penyakit vaskular seperti hipertensi vaskular. abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian. Pada abortus spontan. faktor maternal yaitu infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang sedang berkembang. faktor janin. abnormalitas pembetukan plasenta. embrio. kematian embrio biasanya terjadi paling lama 2 minggu sebelum perdarahan(4). yaitu abortus buatan menurut kaidah ilmu dan abortus buatan kriminal Etiologi: Faktor yang menyebabkan terjadinya abortus. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai dan segera itu setelah terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim. abortus buatan. antikoagulan. 2. janin dan plasenta. (4. terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. caffeine dan lain-lain. Sebelum minggu ke 10 hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. abortus provokatus. 3.kehamilan sebelum janin viabel (bisa hidup) yaitu kurang dari 20 minggu atau berat kurang dari 500 mg. Karena villi korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur mudah terlepas seluruhnya. alkohol. dan faktor psikosomatik.

tokolitik (hystolan). (4. buah kehamilan masih utuh. Setengah dari abortus akan menjadi abortus komplit atau inkomplit(4).5). Bila hasil USG meragukan. kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim yang kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba. berikan preparat progesteron. Gambaran klinis: Abortus iminens Threatened abortion. kemudian bila hasil USG tidak baik. evakuasi(4. Dasar diagnosis(4): 1. anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri/ kontraksi rahim 6 .5). ada tanda kehidupan janin: bed rest selama 3x24 jam. (4. ada tanda kehidupan.5). untuk kehamilan kurang 12 minggu dilakukan kuret dengan vakum maupun kuret biasa. ditemukan perdarahan banyak. pemeriksaan penunjang (hasil USG menunjukkan. bila kadar progesteron < 5-10 nanogram. pembukaan leher rahim dan ukuran rahim. Empat komponen pembeda masing2 abortus adalah : jumlah perdarahan. Abortus Insipiens Abortus yang sedang berlangsung. antiprostaglandin (aspirin/aspilet). penenang jika pasien gelisah. asam folat (folaplus). pemeriksaan dalam yaitu fluksus ada (sedikit) 3. ulangi pemeriksaan USG 1-2 minggu. Pedarahan dapat belanjut beberapa hari atau dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau punggung bawah. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan merupakan kontra indikasi Usaha untuk mempertahankan kehamilan akan sia2. kolik rahim. anamnesis yaitu perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau ringan 2. Jika kehamilan lebih dari 12 minggu. meragukan atau buah kehamilan mati Pengobatan: Bila kehamilan utuh. didiagnosis bila seseorang wanita hamil < 20 minggu mengeluarkan darah sedikit pervagina.korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus. no sexual intercourse. janin dilahirkan terlebih dulu dengan menginduksi kehamilan/abortus. Dasar diagnosis(4): 1.

buah kehamilan masih dalam rahim dan ketuban utuh. Dasar diagnosis(4): 1. uterotonik pascaevakuasi 3. abortus disebut komplit.2. Dengan pemeriksaan USG tampak janin tidka utuh dna membentuk gambaran kompleks. bila Hb < 8 gr% transfusi 2. diagnosis USG tidak selalu harus tertahan > 8 minggu(4). 2. anamnesis yaitu perdarahan dari jalan lahir. Kuret tidak perlu dilakukan. evakuasi 2. nyeri/kontraksi rahim ada. tetapi sebagian tertinggal. pemeriksaan dalam. Pada beberapa kasus perdarahn tidka banyak dan biasanya serviks akan menutup kembali(4). bila ada syok. anamnesis yaitu perdarahan bisa ada atau tidak 7 . Pengobatan(4): 1. Abortus tertunda (missed abortion) Apabila buah kehamilan telah mati tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih. dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok. Dasar diagnosis: 1. Perdarahan akan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambatlambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisas telah selesai. pikirkan abortus inkomplit atau endometritis(4). teraba sisa jaringan buah kehamilan. atasi syok. Bila masih ada perdarahan. perbaiki keadaan umum. Pengobatan(4): 1. antibiotik selama 3 hari Abortus inkomplit Didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina. kuret 3. uterotonik 4. evakuasi. pemeriksaan dalam ostium terbuka. antibiotik selama 3 hari Abortus Komplit Kalau telur lahir lengkap. digital. ostium terbuka.

Kejadiannya jauh lebih sedikit daripada abortus spontan dan lebih sering pada primitua. Perbaikan keadaan umum 2. Suatu kehamilan disebut kehamilan ektopik bila zigot terimplantasi di lokasi-lokasi selain cavum uteri. pemeriksaan penunjang USG. Etiologi Kehamilan ektopik pada dasarnya disebabkan segala hal yang menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. darah segar 3. seperti di ovarium. Gambar: pelaksanaan Kuretase(5) KEHAMILAN EKTOPIK Kehamilan secara normal akan berada pada kavum uteri. bila umur kehamilan > 12 minggu didahului dnegan pemasangan laminaria stift Abortus habitualis Bila abortus spontan terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih.2. Fibrinogen 4. Pengobatan(4): 1.7). laboratorium. Faktor-faktor mekanis yang menyebabkan kehamilan 8 . pemeriksaan obstetri yaitu fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi jantung janin tidak ada 3. serviks. tuba. kelainan hormonal dan kelainan anatomis(4). Etiologi abortus ini adalah kelainan genetik (kromosom). bahkan rongga abdomen. evakuasi dengan kuret. (6.

tetapi sedikit lebih kecil dibandingkan uterus pada kehamilan intrauterin yang sama umurnya) 6.(7) Gejala-gejala(6): 1. tumor dalam rongga panggul 7. selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk perdarahan) 4. nyeri perut dapat unilateral atau bilateral di abdomen bagian bawah 2. perdarahan pervaginam (dengan matinya telur desidua yg mengalami degenerasi dan nekrosis. pembesaran uterus (karena pengaruh hormon kehamilan. perubahan darah. dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). sehingga implantasi zigot terjadi sebelum zigot mencapai kavum uteri. salpingitis isthmica nodosum (penonjolan-penonjolan kecil ke dalam lumen tuba yang menyerupai divertikula).ektopik antara lain: riwayat operasi tuba. pajanan terhadap diethylstilbestrol. Hal-hal tersebut secara umum menyebabkan perlengketan intra.maupun ekstraluminal pada tuba. yaitu perubahan motilitas tuba yang berhubungan dengan faktor hormonal dan defek fase luteal. syok karena hipovolemia 5. sehingga menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Patofisiologi Kehamilan Tuba 9 . Dikatakan juga bahwa meningkatnya usia ibu akan diiringi dengan penurunan aktivitas mioelektrik tuba. salpingitis. amenorea 3. perlekatan tuba akibat operasi non-ginekologis seperti apendektomi. Dalam hal ini gerakan peristalsis tuba menjadi lamban. Selain itu ada pula faktor-faktor fungsional.

zigot menempel di antara dua jonjot. rongga abdomen. sedangkan ruptur lebih sering terjadi pada kehamilan pars isthmica. isthmus. ovarium. Tuba akan membesar dan kebiruan (hematosalping). Bila perdarahan terjadi sedikit demi sedikit. fimbriae. suatu saat kehamilan ektopik tersebut akan terkompromi. dan perkembangannya tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada kehamilan di pars interstitialis ruptur terjadi lebih lambat (8-16 minggu) karena lokasi tersebut berada di dalam kavum uteri yang lebih akomodatif. uterus pada kehamilan ektopik pun mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron. sehingga 10 . sehingga tanda-tanda kehamilan seperti tanda Hegar dan Chadwick pun ditemukan. maka perdarahan akan terus berlangsung. yang disebut pseudokapsul. hasil konsepsi berkembang. zigot melekat pada ujung atau sisi jonjot endosalping yang relatif sedikit mendapat suplai darah. terbentuklah mola kruenta. karena pars isthmica adalah bagian tuba yang paling sempit. meskipun tanpa trofoblas. Selanjutnya. Perubahan selular demikian disebut sebagai reaksi AriasStella. Pada implantasi interkolumnar. Pada kehamilan di pars isthmica. Zigot yang telah bernidasi kemudian tertutup oleh jaringan endosalping yang menyerupai desidua. dan darah akan mengalir melalui ostium tuba ke dalam rongga abdomen hingga berkumpul di kavum Douglas dan membentuk hematokel retrouterina. ketebalan tempat implantasi dan banyaknya perdarahan akibat invasi trofoblas.Tempat-tempat implantasi kehamilan ektopik antara lain ampulla tuba (lokasi tersering). umumnya ruptur tuba terjadi lebih awal. intinya menjadi lobular dan sitoplasmanya bervakuol. Sel-sel epitel endometrium menjadi hipertrofik.(7) Abortus ke dalam lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik adalah: 1) hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi. 2) abortus ke dalam lumen tuba. Karena tempat implantasi pada kehamilan ektopik tidak ideal untuk berlangsungnya kehamilan. yaitu tempat implantasi. bila pelepasan hasil konsepsi tidak sempurna atau tuntas. dan 3) ruptur dinding tuba. Pada abortus tuba. pars interstitialis. serviks dan ligamentum kardinal. Zigot dapat berimplantasi tepat pada sel kolumnar tuba maupun secara interkolumnar. Villi korialis dengan mudah menembus endosalping dan mencapai lapisan miosalping dengan merusak integritas pembuluh darah di tempat tersebut. sehingga zigot mati dan kemudian diresorbsi. Seperti kehamilan normal. Pada keadaan yang pertama. Endometrium pun berubah menjadi desidua. hiperkromatik. kornu uteri.

Kerusakan yang melibatkan kavum uteri cukup besar sehingga histerektomi pun diindikasikan. Perdarahan yang terjadi pada kehamilan pars interstitialis cepat berakibat fatal karena suplai darah berasal dari arteri uterina dan ovarika. 3. douglas punksi (kuldosentesis) jarum besar yang dihubungkan dengan spuit ditusukkan ke dalam kavum douglas di tempat kavum douglas menonjol ke forniks posterior. laparoskopi 11 . baik pada kehamilan fimbriae. USG 4. maka kehamilan dapat berlanjut di rongga abdomen. Ruptur. dapat terjadi secara spontan maupun akibat trauma ringan. Oleh sebab itu kehamilan pars interstitialis adalah kehamilan ektopik dengan angka mortalitas tertinggi. Bila setelah ruptur janin terekspulsi ke luar lumen tuba. seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. dapat dilakukan(6): 1. masih terbungkus selaput amnion dan dengan plasenta yang masih utuh. tes kehamilan kalau positif maka ada kehamilan 2. isthmus maupun pars interstitialis.(7) Membantu diagnosis.sering kali kehamilan pars interstitialis disangka sebagai kehamilan intrauterin biasa. ampulla.

dan bila diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik. 5. Pada prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil konsepsi. (7) Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis multipel. termasuk penyakit trofoblastik ganas. Prosedur ini dapat dilakukan 12 . 4. dan pembedahan radikal. (7) Penatalaksanaan Bedah Pada dasarnya ada 2 macam pembedahan untuk menterminasi kehamilan tuba. Terapi methotrexate dosis tunggal adalah modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan ektopik yang belum terganggu. ke-3. Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal sebagai salpingostomi dan salpingotomi. Pada penyakit trofoblastik. Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi tepat ke dalam massa hasil konsepsi. dan hari ke-7. dan diberikan pada hari ke-2. (7) Salpingostomi Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada terapi dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke dalam regimen pengobatan dengan dosis 0. Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. methotrexate diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan terminasi kehamilan tersebut.1 mg/kg (intramuskular). di perbatasan antimesenterik.Penatalaksanaan Kehamilan Tuba Penatalaksanaan Medis Methotrexate Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan. sedangkan dosis multipel yang diberikan adalah sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama. methotrexate akan merusak sel-sel trofoblas. Insisi kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. di mana salpingektomi dilakukan. di mana integritas tuba dipertahankan. 6 dan 8. Terapi methotrexate dosis multipel tampaknya memberikan efek negatif pada patensi tuba dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal 9. yaitu pembedahan konservatif. Dosis tunggal yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular). Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter.

8) kehamilan heterotopik. 7) kehamilan tuba berulang. 4) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya. digunting. Metode ini lebih dipilih daripada salpingostomi. sedangkan arteria uteroovarika dipertahankan. (7) Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi Bila terjadi kehamilan di fimbrae. 5) pasien meminta dilakukan sterilisasi. dan 9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm. Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil konsepsi berdiameter cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan. 2) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif. (7) Salpingotomi Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi. massa hasil konsepsi dapat dievakuasi dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi. Reseksi massa hasil konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang dilakukan pada kehamilan pars ismika yang belum terganggu. Kehamilan abdominal Dibedakan menjadi(8): a. 6) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi. Metode per laparoskopi saat ini menjadi gold standard untuk kehamilan tuba yang belum terganggu. Arteria tuboovarika diligasi.dengan laparotomi maupun laparoskopi. dan kemudian sisanya (stump) diikat dengan jahitan ligasi. (7) Salpingektomi Salpingektomi diindikasikan pada keadaan-keadaan berikut ini: 1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu). 1. patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi. bagian tuba antara uterus dan massa hasil konsepsi diklem. 3) terjadi kegagalan sterilisasi. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal prognosis. kecuali bahwa pada salpingotomi insisi dijahit kembali. Pada salpingektomi. (7) Klasifikasi Kehamilan Ektopik Selain Kehamilan Tuba. Tuba yang direseksi dipisahkan dari mesosalping. Kehamilan abdominal primer 13 . sebab salpingostomi dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lumen pars ismika yang sebenarnya sudah sempit.

Diagnosis kehamilan servikal ditegakkan dengan criteria Rubin: a. Kehamilan abdominal biasanya disertai dengan gejala iritasi peritoneum antara lain: nyeri perut bagian bawah. Kehamilan servikal jarang berlanjut sampai umur kehamilan 12 minggu dan biasanya diakhiri secara operatif karena perdarahan. jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding kantung janin Kehamilan ini biasanya rupture pada umur kehamilan awal yang kemudian menyebabkan perdarahan intraabdomen 3. 2. Caranya dengan menyuntikkan oksitosin intravena. kantung janin harus terletak di dalam ovarium c. kantung janin harus dihubungkan dengan uteru oleh ligamentum ovarii propium d. sehingga kadang diperlukan tindakan histerektomi total(8). tuba pada sisi kehamilan harus normal b. b. Dapat pula dilakukan tes oksitosin. mual dan muntah.Yaitu setelah terjadi fertilisasi. Kelenjar serviks harus ditemukan ditempat yang berseberangan dengan tempat implantasi zigot 14 . Adanya kontraksi uters menunjukkan adanya kehamilan intrauterine. Pengeluaran hasil konsepsi pervaginam dapat menyebabkan perdarahan hebat. kadang teraba uterus terpisah dengan janin. Kehamilan ovarial Diagnosis kehamilan ovarial ditegakkan atas dasar criteria Spielberg(8): a. Kehamilan abdominal sekunder Yaitu zigot berimplantasi di dalam tuba atau ditempat lain terlebih dulu lalu zigot berimplantasi di kavum abdominal setelah terjadi rupture tuba. sedangkan bila tidak terjadi kontraksi berarti terjadi kehamilan intrabdominal(8). Jika kehamilan terus berlanjut. serviks membesar dengan OUE sedikit tebuka. Diagnosis ditegakkan dengan palpasi. Kehamilan servikal Implantasi zigot dalam kanalis servikalis biasanya menyebbabkan perdarahan tanpa rasa nyeri pada umur kehamilan awal. zigot berimplantasi di dalam kavum abdominal.

Karena itu digunakan criteria klinis dari Paalman & McElin (1959) (8): a. Seluruh hasil konsepsi terletak didalam endoserviks d.b. plasenta previa total pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previa pada pembukaan 8 cm. plasenta previa lateralis. dapat lebih besar daripada fundus sehingga membentuk hour-glass uterus. Plasenta berimplantasi kuat di serviks Namun criteria Rubin ini menyulitkan tim medis karena harus dilakukan histerektomi atau biopsy jaringan yang adekuat. Ostium uteri eksternum sebagian membuka c. c. Perdarahan uterus setelah fase amenorrhea. Implantasi yang normal ialah pada dinding depan. Klasifikasi (10). bila mana pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta. dinding belakang rahim atau daerah fundus uteri(9). plasenta previa sentralis (totalis). PLASENTA PREVIA Definisi Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian/ seluruh ostium uteri internum. Janin tidak boleh terdapat di daerah korpus uterus. Sehingga klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. Umpamanya. membesar. Beberapa klasifikasi plasenta previa(10): a. bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostea. tanpa disertai nyeri e. Serviks lunak. berdasarkan pembukaan 4 -5 cm 1. dibagi 2 : 15 . 2. d. Ostium uteri internum tertutup b. Menurut de Snoo. Plasenta berimplantasi dibawah dibawah arteri uterine atau dibawah peritoneum viscerale uterus.

plasenta letak rendah. Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat(10) : 1. plasenta previa totalis . plasenta previa marginalis. plasenta previa partialis . plasenta previa lateralis anterior.2 2. bila sebagian menutupi ostea bagian depan. b. bila sebagian menutupi ostea bagian belakang. seluruh ostea ditutupi uri. 2. namun tidak sampai ke pinggir pembukaan. Tingkat I.1 2. 2. Marginal plasenta previa: plasenta mencapai pinggir pembukaan (Ostea). Menurut Browne: 1. sebagian ditutupi uri. Lateral plasenta previa: Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim. bila sebagian kecil atau hanya pinggir ostea yang ditutupi plasenta. Stage 1 : Plasenta letak rendah.3 plasenta previa lateralis posterior. 3. 16 . pinggir plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan Pada periksa dalam tak teraba. c. Stage 2 : Plasenta previa Marginalis.2. Tingkat II.

umur lanjut ( >/ = 35 tahun). 5. perubahan inflamasi atau atrofi misalnya wanita perokok atau pemakai kokain. Gejala lain adalah bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas panggul(9. Perdarahan ini disebabkan(9. terutama jika jarak antara kehamilan yang pendek 2.Stage 3 : Plasenta previa parsialis. 6. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena serabut otot SBR tidak mampu berkontraksi untuk menghentikan darah. multipara. Keadaan ini disebabkan(9. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur. Cacat atau jaringan parut pada endometrium oleh bekas pembedahan (SC. Hal ini terjadi terutama pada perokok berat. kuretasi yang berulang 4. Makin rendah letak plasenta makin dini perdarahan. 17 . dll). Sumber perdarahan adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Hipoksemia yang terjadi akibat monoksida akan dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. misalnya karena atrofi endometrium atau kurang baiknya vaskularisasi desidua. perdarahan sebelum bulan ke tujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dengan abortus perdarahan plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding rahim. b.10): 1. mioma uteri 3. berlainan dengan solusio berwarna kehitamhitaman. Stage 4 : Plasenta previa totalis Etiologi Plasenta previa meningkatkan keadaan yang endometrium kurang baik. Kuret. Perdarahan berikut biasanya lebih banyak apalagi kalau dilakukan pemeriksaan dalam. Darah berwarna merah segar. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal.11).11): a. Gambaran Klinik Gejala utamanya adalah perdarahan tanpa alasan tanpa nyeri.

Misalnya pada kehamilan cukup bulan. Apabila dengan penilaian ternyata perdarahan yang telah berlangsung atau yang akan berlangsung tidak akan membahayakan ibu dan anak. parturien. radioisotop.Kemudian pada plasenta previa. Diagnosis Setiap perdarahan antepartum curigai plasenta previa sampai terbukti bukan plasenta previa. Perdarahan yang terjadi pertama sekali jarang sekali menyebabkan kematian. tanpa sebab. padat bila tidak terdapat plasenta dan pemeriksaan melalui canalis servikalis teraba kotiledon. terminasi kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang membawa maut. Pada anamnesis didapatkan perdarahan setelah 22 minggu tanpa nyeri. robekannya beberapa sentimeter dari tepi plasenta(9). 2. asal sebelumnya tidak diperiksa dalam. Penanganan Prinsip penaganan adalah setiap ibu perdarahan harus segera dikirim ke rumah sakit yang memiliki fasilitas transfusi dan operasi. Inspekulo dapat melihat asal darah dari OUE(11). ekspektatif. dilakukan bila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia luar kecil sekali. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan perdarahan banyak(11). perdarahan banyak. Apabila kotiledon plasenta teraba segera jari telunjuk dikeluarkan dari kanalis servikalis. Penentuan letak plasenta langsung dengan perabaan fornik didapatkan lunak bila antara kepala janin terdapat plasenta. Peradarahan berikutnya akan selalu lebih banyak daripada perdarahan sebelumnya . dan anak mati. 18 . Pemeriksaan luar didapatkan bagian terbawah janin belum masuk PAP dan sukar didorong kedalam. Pengobatan plasenta dapat dibagi dalam dua golongan(9): 1. ukuran panjang rahim berkurang maka sering disertai kelainan letak jika perdarahan disebabkan oleh plasenta lateral dan marginal. USG. sedangkan pada plasenta letak rendah. Keadaan ini dilakukan bila ibu dalam kondisi baik dan perdarah sedikt atau sudah berhenti. Penentuan letak plasenta tidak langsung dengan cara radiografi. kehamilan belum cukup 36 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2500 gram dan persalinan belum mulai dapat dibenarkan untuk menunda persalinan sampai janin dapat hidup di luar kandungan(11).

5. plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang 4. • Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%. tokolitik. • plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). 6.Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Anak berharga dan fetal distres 5. Pemeriksaan USG. golongan darah. • Ada tanda-tanda persalinan. tekanan darah. • Perdarahan banyak 500 cc atau lebih. Infus D 5% dan elektrolit 3.Belum ada tanda-tanda persalinan . infusi transfusi darah terpasang. kadar Hb 8 gr% atau lebih. Penanganan aktif (10) Kriteria • umur kehamilan >/ = 37 minggu. 7. plasenta previa totalis. Awasi perdarahan terus-menerus. plasenta previa lateralis jika : • Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak. Periksa Hb. Rencana Penanganan : 1. plasentotrofik.Penanganan Ekspektif (10) Kriteria : . plasenta previa pada primigravida. COT. BB janin >/ = 2500 gram. Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum. • Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. roboransia. 2. Indikasi Seksio Sesarea : 1. dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi. HCT. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif. 2. . 4.Keadaan umum baik. Istirahat baring mutlak.Perdarahan sedikit . Spasmolitik. 19 . 3. nadi dan denyut jantung janin.

ketuban dipecah (amniotomi) jika hid lemah. tali pusat yang pendek 3. hipertensi esensialis atau preeklamsia 2. dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi. Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara dan anak sudah meninggal atau prematur. diberikan oksitosin drips. ketuban pecah sebelum waktunya 9. anak masih kecil atau sudah mati. beberapa hal yang tersebut di bawah ini diduga merupakan faktor yang mempengaruhi kejadiannya(9): 1. perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat. kehamilan ganda pada waktu anak pertama lahir). 2. dilakukan SC. trauma 4. uterus yang mengecil (hidramnion pada waktu ketuban pecah. Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap plasenta previa) hanya dilakukan pada keadaan darurat. umur lanjur 7. Meskipun demikian. SOLUSIO PLASENTA Definisi Solusio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh plasenta normal implantasinya diatas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak(9). Etiologi Etiologi solusio plasenta hingga saat ini belum dietahui dengan jelas. defisiensi asam folat 20 . Profause bleeding. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm). 6. multiparitas 8. Bila perdarahan masih terus berlangsung. 3. 1. Partus per vaginam(10). tekanan rahim yang membesar pada vena cava inferior 5.6.

Darah dapat menyeludup kedibawah selaput ketutuban keluar melalui vagina. Gambaran klinik Solusio plasenta ringan terjadi ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak. Kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter menyebabkan banyak tromboplastin masuk ke peredaran darah ibu sehingga terjadi pembekuan intra vaskuler dimana-mana yang menghabiskan sebagian fibrinogen akibatnya hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah pada uterus dan alat-alat tubuh lain (11). Apabila perdarahan yang kecil hanya akan mendesak jaringan plasenta. kokain 11. Apabila terjadi perdarahan pervaginam warnanya akan kehitm-hitaman dan sedikit sekali. alkohol. mioma uteri Patologi Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematoma desidua sehingga plasenta terdesak dan kemudian terlepas. Walaupun perdarahan pervaginam sedikit. atau masuk ke dalam kantong ketuban. sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu maupun janin. Perut terasa agak sakit. merokok. bagian bagian janin mudah diraba(11). atau ekstravasasi ke serabut otot bila banyak warna uterus berbercak biru atau ungu disebut uterus Couvelaire(11). perdarahan pervaginam. janin kalau masih hidup dalam 21 . Solusio plasenta sedang bila plasenta terlepas lebih dari 1/4 tapi belum sampai 2/3. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus karena otot uterus yang merenggang oleh kehamilan tidak mampu berkontraksi untuk menghentikan perdarahan. Ibu mungkin jatuh kedalam syok.10. tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan atau mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus. Akibatnya hematom retroplasenter akan bertambah besar sehingga sebagian dan akhirnya seluruhnya akan terlepas. Kejadian ini baru diketahui setelah lahir pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dan bekuandarah lama yang berwarna kehitam-hitaman(11). seluruh perdarahan mungkin telah mencapai 1000 ml. terus tegang. perdarahan antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanyapun tidak jelas.

fundus uteri makin lama makin naik dan bunyi jantung biasanya tidak ada 4. kelainan pembekuan dan ginjal mungkin telah terjadi(11). dinding uterus tegang terus menerus. Diagnosis 22 . bagian janin sukar diraba.keadaan gawat. pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah) 5. plasenta seluruhnya terlepas tetapi selaput ketuban masih melekat ke dinding uterus. Gejala-gejala(9): 1. sering ada proteinuri karena disertai preeklamsia. menyebabkan palpasi sukar karena rahim keras 3. 3. kepala janin menekat erat segmen bawah uterus sehingga darah tidak dapat melewatinya. nyeri tekan . rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isis rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim terregang (uterus en bois). 4. darah masuk ke rongga amnion setelah merusak selaput ketuban. Perdarahan tersembunyi yaitu perdarahan yang tertahan atau tersembunyi yang besar kemungkinannya terjadi bila(19): 1. perdarahan yang disertai nyeri (juga diluar his) sehingga anemia dan syok 2. terdapat efusi darah belakang plasenta tetapi tepi-tepinya masih melekat 2.

atasi hipovolemi. Pada solusio plasenta sedang dan berat penanganan di rumah sakit meliputi trasfusi darah. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta itu bertambah jelas atau dalam pemantauan dengan USG solusio plasenta bertambah maka kehamilan harus diakhiri(11). Uterus yang ruptur dapat langsung 23 . Ruptur uteri jarang terjadi dalam kehamilan ibu dan persalinan.Tanda-tanda solusio plasenta berat ialah sakit perut terus menerus. Pencegahan payah ginjal meliputi pergantian darah yang hilang secukupnya. pemberantasan infeksi. Ruptur uteri menyebabkan perdarahan uterus. bunyi jantung janin tidak terdengar lagi. Solusio plasenta sedang tidak semua tanda dan gejala nyata seperti sakit perut terus menerus. menyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan. nyeri tekan. dan ini membutuhkan perbaikan dengan operasi sesar untuk memperbaiki kondisi uterus atau histerektomi. Ketuban harus segera dipecahkan tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita dan tidak peduli apakah persalinan akan diselesaika pervaginam atau perabdominam. Apabila perlu persalinan dengan pemberian oksitosin(11). Kadar kritis fibrinogen 150 mg% Apabila persalinan tidak selesai dalam 6 jam setelah terjadi solusio harus dilakukan seksio sesarea(11). jika perlu seksio sesarea. infus oksitosin. air ketuban berwarna kemerah-merahan bercampur darah. Untuk mengatasi hipofibrinogen maka diberikan fibrinogen. fetal distsress. syok. 1 gram fibrinogen menaikkan fibrinogen darah 40%. uterus tidak menjadi tegang maka rawat konservatif dengan observasi yang ketat. Pemecahan ketuban in merangsang dimulainya persalinan dan mengurangai tekanan intrauterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis ginjal mugnkin melalui apa yang disebut reflek uterorenal. ROBEKAN RAHIM (RUPTUR UTERI): Kematian anak mendekati 100% dan kematian ibu sekitar 30 %. perdarahan pervaginam. uterus tegang terus menerus selalu ada. Penatalaksanaan Pada sulusio plasenta ringan bila kehamilan <36 mg kemudian perdarahan berhenti. pemecahan ketuban. juga pada solusio plasenta ringan(11).

13. pada saat periksa dalam ternyata bagian depan mudah ditolak ke atas bahkan sudah tidak teraba lagi 24 . air kencing mengandung darah Gejala. penderita gelisah. Bisa dikarenakan dinding rahim sudah lemah. BJA biasanya tidak ada atau tidak baik karena anak mengalami asfiksia 7. letak lintang hiddrosefal. sedangkan jik aterjadi dalam persalinan. kadang disamping anak teraba tumor yaitu rahim yang telah mengecil.terhubung dengan rongga peritoneum (komplet) atau mungkin dipisahkan darinya oleh peritoneum viseralis yang menutupi uterus atau oleh ligamentum latum (inkomplet). 7. terjadi pada segmen bawah rahim. Ruptur uteri ada 2 macam: yaitu ruptur uteri completa (jika semua lapisan dinding rahim sobek) dan ruptur uteri incompleta (jika perimetrium masih utuh) Gejalanya ancaman robekan rahim: 1. ligamnetum rotundum tegang 6. his berhenti/ hilang 4. Jika ruptur terjadi dalam masa kehamilan biasanya terjadi pada korpus uteri.14): 1. bagian anak mudah diraba jik aanak masuk dalam rongga perut 6. segmen bawah rahim nyeri sekali pada saat dilakukan palpasi 3. ada perdarahan pervaginam 5. nyeri perut bagian bawah. Secara teori robekan rahim dapat dibagi(12. robekan spontan pada rahim yang utuh lebih sering terjadi pada multipara dari pada primipara. sewaktu kontraksi kuat pasien tiba-tiba merasa nyeri yang menyayat diperut bagian bawah 2. palpasi segmen bawah rahim terasa nyeri (diatas simpisis) 5. tumor yang menghalangi jalan lahir. juga diluar his 4. Lingkaran retraksi patologis/ lingkaran Bandl yang tinggi mendekati pusat dan naik terus. 2. Penyebab yang penting ialah panggul sempit.gejala ruptur uteri(12): 1. kontraksi rahim kuat dan terus menerus 3. dan presentasi muka atau dahi.

3. adanya kencing berdarah. tetapi lebih sering karena versi(12). Pasca operasi posisi pasien dalam fowler supaya infeksi terbatas pada pevis dan beri antibiotik(12.8. robekan bekas luka sectio ruptur luka bekas seksio sesaria klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan. sebainya dengan melakukan operasi buka per vaginam. Pengobatan: Gejala ancaman robekan rahim merupakan indikasi untuk segera menyelesaikan persalinan. jika sudah lama terjadi perut trjadi nyeri dan kembung 10. robekan violent terjadi karena keelakaan. 2. Transfusi darah merupakan syarat mutlak pengobatan ruptur uteri. Tipe operasi yang dilakukan tergantung dari : • • • • • tipe ruptur uterinya berapa luas ruptur yang terjadi derajat perdarahannya kondisi ibu keinginan ibu terhadap masa depan anaknya. yaitu lakukan laparotomi. BJA tidak ada atau tidka terdengar 9. 25 . sedangkan luka bekas sectio cesaria profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan(12).13).

hipertensi yang terjadi tiba-tiba. 4. sakit ulu hati dan penglihatan kabur. oliguri (400 cc atau kurang dalam 24 jam) 4. diukur 2 kali dengan jarak waktu sekurang-kurangnya 6 jam dan pasien dalam keadaan istirahat rebah 2. Tekanan darah sistolik 140 mmHg dan diastoliknya 90 mmHg. Proterinuri biasanya timbul lebih lambat dari hipertensi dan edem. gangguan serebral atau gangguna penglihatan 5. primigravida 2. Penambahan berat dikarenakan retensi air dalam jaringan dna kemudian baru edem tampak. edema timbul didahului berat badan yang bertambah berlebihan. Disertai proteinuri. mempunyai riwayat preeklampsia atau eklampsia di keluarga Patogenesis: 26 . proteinuri. Preeklamsia berat jika(15): 1. 3. Edem ini tidak hilang dengan istirahat. gejala subjectif seperti sakit kepala. mempunyai dasar penyakit vaskular 4. karena adanya vasospasme pembuluh-pembuluh darah ginjal. Gejala-gejalanya(15) : 1. hiperplasentosis 3. 2. proteinuri 5 gram atau lebih dalam 24 jam 3. edem paru atau sianosis Etiologi(15): Belum diketahui tetapi lebih sering ditemukan pada: 1. tetapi juga kenaikan sistolik 30 mmHg atau diastolik 15 mmHg diatas tekanan darah biasanya.PREEKLAMSIA Yaitu penyakit hipertensi yang khas dalam kehamilan dengan gejala utama hipertensi yang akut pada wanita hamil dan wanita dalam nifas. tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih dan atau diastolik 110 mmHg atau lebih.

Pengobatan: preeklampsia ringan: rawat jalan: banyak istirahat. Sedatif ringan berupa fenobarbital (3x30 mg peroral). EKLAMPSIA Adalah kejang pada wanita hamil. hati. Diagnosis: Umur kehamilan 20 minggu atau lebih ditemukan gejala hipertensi. atau masa nifas yang disertai gejala preeklampsia (hipertensi. Rawat inap: tidak ada perbaikan dari rawat jalan. eklamspsia pascapartum Eklampsia pascapersalinan dapat terjadi segera yaitu setelah 24 jam sampai 7 hari pasca persalinan atau lambat yaitu setelah 7 hari pasca persalinan selama masa nifas. ginjal. plasenta. 27 . Langka kasus telah dilaporkan sebelum 20 minggu kehamilan atau sebagai terlambat sebagai 23 hari postpartum. pernatal care tiap minggu. dengan sekitar 80% dari serangan eclamptic terjadi intrapartum atau yang pertama dalam 48 jam setelah pengiriman. mata dan paru(15). reaksi imunologis maupun radikal bebas. diet sedatif.vasokokstriksi ini meluas ke kardiovaskular. Terapi istirahat. dalam persalinan. (15.Vasospasme merupakan akibat kegagalan invasi tropoblas kedalam lapisan otot polos pembuluh darah. eklampsia antepartum 2. diet cukup. Eklapmsia dibedakan menjadi: 1. proteinuri dan atau edem(15). berat badan meningkat > 2 kg/ minggu(15) Preeklampsia berat: Mencegah terjadi eklampsia. eklampsia intrapartum 3.otak. obat-obatan antihipertensi dan induksi persalinan(15). roboransia. edem dan proteinuri) Sebagian besar kasus eclampsia hadir pada trimester ketiga kehamilan.16).

tingkat konvulsi (tingkat kejang klonis) hilang timbul. kepala dipalingkan ke satu pihak dan kejang halus terlihat pada wajah. pengobatan: penderita harus dirawat di ICU. pecahnya aneurisma otak(15). pasien jatuh dalam koma. tekanan darah tidak boleh kurang dari 140/90. tetanus. Lamanya 1 menit. 3. rahang membuka menutup.Tingkat kejang dibagi menjadi(15): 1. Pengobatan bertujuan mencegah timbulnya kejang selanjutnya. Mengatasi hipoksia dan asidosis dengan mengusahakan agar penderita 28 . tingkat invasi (tingkat permulaan) mata terpaku. 4. keracunan. Terapi(15): 1. Berlangsung beberapa detik 2. dan mengatasi hemokonsentrasi dan memperbaiki diuresi pemberian cairan. Kejang ini sangat kuat. otot-otot badan berkontraksi dan bereklasasi berulang. Setelah persalinan. sedangkan tekanan darah akan normal kembali dalam waktu 2 minggu(15) Etiologi: Belum diketahui. meningitis. tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis) sseluruh badan berlangsung selama 15 sampai 20 detik. Kadang-kadang terjadi eklapmsia tanpa kejang yang disebut eclampsi sine eclampsi. profilaksis: pencegahan eklampsia dengan menemukan kasus preeklampsia sedini mungkin 2. Lamanya koma bervariasi dari beberapa menit sampai berjam-jam. Harus dikesampingkan keadaan seperti uremia. setelah kejang klonis ini. Diagnosis: Semua ibu dalam kehamilan dan masa nifas yang mengalami kejang-kejang dan hipertensi harus dianggap sebagai penderita eklampsia sampai terbukti bukan eklampsia. Proteinuri akan menghilang 4-5 hari. tingkat koma. merupakan kelanjutan preeklampsia(15). Menurunkan atau mengontrol tekanan darah. ensefalitis. histeri. epilepsi. keadaan pasien berangsur baik. tumor ota. kira-kira dalam 12-24 jam.

bila timbul kejang lagi dapat diberikan 2 gr MgSO 4 20 % IV selama 2 menit. bila masih tetap kejang. susul dengan pemberian 8 gr MgSO 4 40 % IM dalam larutan 20 cc diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gr Dosis pemeliharaan: tiap 6 jam berikan lagi 4 gr MgSO4 40 % IM Dosis tambahan: a.memperoleh Oksigen dan mengakhiri kehamilan tanpa memandang umur kehamilan setelah kejang dapat teratasi/ Pengobatan medisinalis(15): Dosis awal MgSO4: a. ATONIA UTERI Atonia uteri merupakan penyebab utama terjadinya Perdarahan pascapersalinan. masukkan 4 gr MgSO4 20 % dalam larutan 20 cc IV selama 4 menit b. Atonia uteri yang menyebabkan perdarahan dapat diperkirakan karena penggunaan zat anestetik berhalogen.(18) 29 . bisa juga karena persalinan yang dipicu oleh penggunaan oksitosin(17. uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan. Pada atonia uteri. Pemijatan dan penekanan secara terus menerus terhadap uterus yang sudah berkontraksi dapat mengganggu mekanisme fisiologis pelepasan plasenta sehingga pemisahan plasenta tidak sempurna dan peneluaran darah meningkat. sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir b.18). berikan amobarbital 3-5 mg/kgBB/ IV secara pelanpelan. Pemantauan tanda-tanda keracunan MgSO4 Pengobatan obstetri(15): Semua kehamilan dengan eklampsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dna keadaan janin. Perdarahan post partum sebelum plasenta lahir disebut perdarahan kala tiga.

• • • • • • • • • • • • Gejala klinis Atonia uteri(17) Gejala dan tanda yang selalu ada: a. dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus sebelum plasenta terlepas IUFD yang sudah lama. emboli air ketuban (koagulopati) Tindakan operatif dengan anestesi umum yang terlalu dalam. mioma uteri. anak besar (BB > 4000 gr) Kelainan uterus (uterus bicornis.Predisposisi atonia uteri(17) : • • Grandemultipara Uterus yang terlalu regang (hidramnion. Uterus tidak berkontraksi dan lembek b. hamil ganda. bekas operasi) Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan anteparturn) Partus lama (exhausted mother) Partus precipitatus Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis) Infeksi uterus Anemi berat Penggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus) Riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya atau riwayat plasenta manual Pimpinan kala III yang salah. Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan primer) 30 . penyakit hati.

sedangkan pada perdarahan karena perlukaan jalan lahir. Syok (tekanan darah rendah. dapat timbul syok.(19) Dalam kehamilan fisiologik terjadi perubahan-perubahan hemodinamik yang memberi perlindungan atau justru memberi pradisposisi terhadap timbulnya syok. infeksi/sepsis atau trauma. Syok mengakibatkan gangguan aliran darah dan perfusi jaringan akibat kegagalan sistem sirkulasi. Pada persalinan di rumah sakit.dan lain-lain). mual. perlu diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan jalan lahir. Pada perdarahan karena atonia uteri. Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik. Terdapat berbagai penyebab syok. perlu diusahakan untuk melahirkan plasenta segera. gangguan gizi. uterus berkontraksi dengan baik. seperti anemi. Gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah 20%. Jika perdarahan berlangsung terus. partus 31 . Ada keadaan-keadaan patologik waktu kehamilan atau persalinan yang memberi pradisposisi terhadap timbulnya syok.Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada: a. SYOK Syok adalah suatu kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera dan intensif untuk menyelamatkan jiwa pasien. ekstremitas dingin. Diagnosis perdarahan pascapersalinan dipermudah apabila pada tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin diukur pengeluaran darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya. Apabila terjadi perdarahan pascapersalinan dan plasenta belum lahir. umumnya disebabkan oleh perdarahan. gelisah. seperti antara lain peningkatan curah jantung dan perubahan mekanisme pembekuan darah.denyut nadi cepat dan kecil. Diagnosis perdarahan pascapersalinan Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. seharusnya kematian akibat perdarahan pascapersalinan dapat dicegah(17). dengan fasilitas yang baik untuk melakukan transfusi darah. uterus membesar dan lembek pada palpasi. perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir(17). Jika plasenta sudah lahir. Dalam hal uterus berkontaraksi dengan baik.

Darah dari arteriol memasuki metarteriol. Pada ujung kapilar di metarteriol didapat otot polos yang melingkari kapilar (precapillary sphincter). telapak tangan. bibir) 5. pernafasan cepat (respirasi > 32 x/menit) 4. berkeringat. pucat (terutama pada konjungtiva palpepra.(20) Tanda-tanda syok(19): 1. gelisah. apatis/ bingung atau pingsan/tidak sadar Patofisiologi sindroma syok Semua macam syok. dari metarteriol darah memasuki kapilar. Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. apa pun sebabnya.lama disertai dehidrasi dan asidosis dan sebagainya. Suatu kesatuan sirkulasi mikro terdiri dari arteriol. metarteriol. Metarteriol mempunyai struktur antara arteriol dan kapilar. bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah sebagai akibat gangguan sirkulasi mikro. nadi cepat dan halus ( > 100 x/menit) 2. 32 . kapiler dan venula. Darah dari kapilar kemudian memasuki venula(20). menurunnya tekanan darah ( diastolik < 60 mmHg ) 3.

dan timbul suatu metabolisme yang anaerob seperti dalam syok. Bilamana metabolisme dalam jaringan meningkat. sehingga allran darah di dalamnya menurun. Sebaliknya. Dengan demikian timbul vasodilatasi. terjadilah vasokonstriksi pembuluh-pembuluh darah prakapilar. maka konstriksi akan menonjol dan aliran darah dalam kapilar akan berkurang. bila gerak pembuluh darah berkurang. Sebaliknya. Besar kecilnya tahanan dalam pembuluh-pembuluh darah pascakapilar ditentukan oleh keadaan venula dan vena-vena kecil. sedangkan distribusi dan kecepatan aliran darah dalam kapilar-kapilar diatur oleh otot lingkar prakapilar (Precapillary sphincters) yang menentukan jumlah kapilar yang membuka. bila aktivitas metabolik dalam jaringan berkurang. Gerak pembuluh darah dalam sirkulasi mikro dikendalikan oleh unsur-unsur lokal kimiawi dalam jaringan dan unsur yang datang dari saraf. sebaliknya. maka fase dilatasilah yang menonjol dan aliran darah dalam kapilar akan bertambah. kapasitasnva berkurang. sehingga aliran darah kapilar meningkat.Jumlah darah yang mengalir ke jaringan ditentukan oleh besar kecilnya tahanan (resistance) dari arteriola-arteriola sirkulasi mikro. Rangsangan simpatikus yang meningkat akan menimbulkan kontraksi otot polos dari vena-vena kecil dan venula dari sirkulasi mikro. penurunan tonus pembuluh-pembuluh darah pascakapilar akan sangat berkurangi pengisian jantung dan dapat mengakibatkan hipotensi yang berat(20). sehingga meningkatkan pengaliran darah ke jantung. Pembuluh-pembuluh darah pascakapilar. penanganan awal(19) 33 . rnetabolit terdapat dalam konsentrasi yang lebih rendah. terjadilah peningkatan tumpukan sampah metabolisme. hal ini disebabkan karena metarteriol dan sfingter prakapilar mengadakan gerakan konstriksi dan dilatasi secara berganti-ganti (vasomotion). Bila gerak pembuluh darah meningkat. terutama berada di bawah pengaruh susunan saraf. Bahan-bahan ini mempunyai pengaruh berkurangi tonus otot pembuluh darah prakapilar dan sfingter prakapilar. Dalam keadaan normal aliran darah dalam suatu kapilar adalah intermiten. pembuluh-pembuluh darah prakapilar dan otot lingkar prakapilar terutama dipengaruhi oleh keadaan lokal kimlawl dalam jaringan(20). sebaliknya. Pembuluh darah arteriole terutama dipengaruhi oleh unsur yang datang dari saraf melalui susunan saraf simpatikus. seperti venula dan vena-vena kecil. Dengan demikian.

leukosit. yaitu Hb. bila ada O2 berikan melali selang atau masker dengan kecepatan 6-8 liter/menit Posisi trendelenburg untuk membantu beban kerja jantung. menggigil. Stabilitas dan pengobatan sumber infeksi. mungkin terjadi kegagalan jantung dan edem paru. sekret pervaginam yang berbau/ keluar cairan mukopurulen melalui ostium servik 3. Ukur jumlah urin. golongan darah. • Pemeriksaan laboratorium. Infeksi tersebut umumnya terjadi akibat prosedur pencegahan infeksi tidak dilakukan secara benar. sangat diperlukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. Sisa konsepsi atau debris merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.(ponek) Tanda-tanda(19): 1. • Perbaiki cairan isotonik (RL atau NaCl) 1 liter dalam 15 – 20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3 jam. posisi dimiringkan agar tidak aspirasi. tegang/kaku dinding perut bawah (dengan atau tanpa nyeri tekan-lepas) 4. pasien dalam kondisi yang tidak hipotermi. bila produksi urin dibawah 50 ml/jam menunjukkan hipovolemia. crossmatch. darah bercampur sekret berbau) Infeksi/sepsis Infeksi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus-kasus perdarahan pada kehamilan muda ata persalinan traumatik. • Berikan antibiotika berspektrum luas bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam. Bebaskan jalan napas. demam (temperatur > 38o C). Bila setelah posisi seperti itu pasien menjadi sesak. keadaan ini menunjukkan kondisi yang kritis (kehilangan sangat banyak butir-butir darah merah) sehingga mutlak diberi transfusi darah agar perfusi oksigen ke jaringan cukup. maka ubah menjadi posisi fowler untuk mengurangi tekanan hidrostatik di paru-paru. trombosit. Jangan berikan cairan peroral. Ht. jumlah eritrosit.• • • periksa tanda-tanda vital. • Transfusi darah bila Hb < 6 g% atau Ht < 20. menggigil atau berkeringat 2. nyeri goyang serviks (pada pemeriksaan bimanual) 34 .

• Pemeriksaan Rontgen (foto radiologi abdomen) dalam posisi Anteroposterior abdomen dapat menunjukkan adanya udara atau bayangan cairan dalam usus. pernapasan dan temperatur. nyeri perut bawah 3. leukosit. kelemahan umum (gejala seperti flu) pada kasus infeksi. bila produksi urin dibawah 50 ml/jam menunjukkan hipovolemia. hasil apusan dan biakan darah) segera berikan antibiotika spektrum luas. dapat terlihat udara di bawah diafragma apabila terjadi perforasi uterus atau usus. • Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genitalia/abortus buatan. trombosit. Ht. riwayat pengakhiran kehamilan secara terpaksa atau persalinan traumatik 2. nilai kemungkinan sepsis/syok septik dengan melihat(19): • • • • • usia kehamilan penyebab perdarahan adanya trauma atau manipulasi yang berlebihan demam tinggi ( > 40o C) atau dibawah normal ( < 36. perdarahan pervaginam yang lama ( > 8 hari) 4. • Pemeriksaan laboratorium. Pada posisi duduk. jumlah eritrosit. tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. berikan serum anti tetanus. crossmatch. nadi. Tinggikan tungkai. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan terhadap tetanus.5o C) adanya trauma intra abdomen atau syok penanganan awal(19) • • • periksa tekanan darah. golongan darah. bila ada O2 berikan melali selang atau masker dengan kecepatan 6-8 liter/menit Perbaiki cairan isotonik (RL atau NaCl) 1 liter dalam 15 – 20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3 jam. Bebaskan jalan napas. menggigil. 35 . Jangan berikan cairan peroral. yaitu Hb. Ukur jumlah urin.gejala(19): 1. darah bercampur sekret berbau.

suhu badan tinggi atau rendah sekali 36 . Diperkirakan bahwa endotoksin yang menimbulkan syok adalah suatu kompleks lipopolysaccharide. Klebsielia dan lain-lain.(20) Peristiwa-peristiwa infeksi yang dapat menimbulkan syok septik adalah(20) : 1. seperti Escherichia coli. nyeri perut bawah. telapak tangan. riwayat trauma atau manipulasi berlebihan pada organ genitalia atau jalan lahir 4. Abortus infeksiosus. sianosis (ekstremitas. Pseudomonas. tekanan darah turun ( < 90/60 mmHg. nadi cepat dan halus ( > 120 x/menit) 5. Perhatikan keseimbangan cairan dan produksi urin. pernapasan cepat ( > 40 x/menit). pucat (konjuntiva palpebra. upaya pengakhiran kehamilan atau persalinan secara paksa 3. bibir) 2. muka. < 60 mmHg atau tidak terdeksi) 4. perdarahan yang lama ( lebih dari 7 hari) 2. Syok endotoksik terutama dijumpai pada infeksi berat dengan kuman gram negatif. dada) 3.20): 1. Febris puerperalis yang berat Riwayat(19): 1. Syok karena infeksi berat dinamakan syok septik (septicaemic shock) atau syok endotoksik (endotoxic shock). Proteus. protein berasal dari desintegrasi dinding bakteri-bakteri gram negatif yang berada dalam peredaran darah dalam jumlah yang besar. demam atau gejala seperti influenza 5. spasme periksa tanda vital(19. terutama abortus kriminalis 2. dalam atau dangkal. lanjutkan pengamatan tanda vital dan keseluruhan kondisi pasien. Sesuaikan pengobatan yang diberikan dengan perubahan kondisi pasien(19) . Syok septik Infeksi berat sebagai penyebab syok masih banyak dijumpai dalam praktek kebidanan.Penanganan lanjutan: Setelah penyebab infeksi ditangani dan antibiotik diberikan. tidak teratur 6.

maka dipilihkan jenis antibiotika yang tepat dan yang tidak bersifat nefrotoksik. (20) Obat-obat vasoaktif dapat dipergunakan dalam merawat syok septik. nyeri goyang porsio atau nyerik tekan abdomen 5. nyeri adneksa atau adanya fluktuasi jaringan Penanganan syok septik Kelancaran ventilasi harus diperhatikan lebih dahulu (02 diberikan dengan masker.7.(20) Larutan garam 0. (20) Dapat diberikan misalnya Dexamethasone 3 mg/kg berat badan atau Metilprednison 30 mg/kg berat badan. Untuk menghindarkan asidosis metabolik penderita dapat diberi bikarbonat natrikus. mukopus dari servik atau kavum uteri 4. diberi antibiotika dengan spektrum yang luas dan dosis yang tinggi secara intravena. nyeri perut bawah 3. Tujuan utama pemberian obat vasoaktif adalah untuk memperbaiki perfusi jaringan. gelisah. air kencing atau lendir serviks. bukan untuk mengembalikan tekanan darah menjadi normal. Pengukuran pengeluaran air kencing sangat berguna unruk menilai keadaan penderita dan hasil pengobatan. Pada perawatan penderita dengan syok septik pengawasan diuresis sangatlah penting. (20) Setelah diketahui jenis kuman penyebab dari hasil pembiakan darah.9 % ringer laktat. Suntikan. inotropik terhadap jantung dan memperbaiki perfusi ginjal. Pemberian glukokortikoid ternyata besar manfaatnya dalam mengatasi syok septik. Dikemukakan bahwa glukokortikoid mengandung khasiat anti endotoksin. produksi urin < 30 ml/jam tanda-tanda fisik(19): 1. Penderita diberi antibiotika sebelum jenis kuman penyebab infeksi diketahui. serta oksigenasi dengan oksigen 100%. sekret atau lochia berbau 2. jika perlu diulangi 4 jam kemudian. Apabila diuresis ditemukan kurang dari 30 ml/jam dan penambahan cairan tidak memperbaiki keadaan dapat diberi Manitol 10 gram sebagai cairan 20% dalam 500 ml 37 . setengah sadar atau tidak sadar 8. Glukokortikoid diberikan intravena melalui infus atau melalui suntikan intravena yang diulang setelah beberapa jam tertentu. jika perlu mempergunakan pipa endotrakeal atau melakukan trakeotomi). dekstran dan sebagainya melalui infus intravena.

dalam Makara Kesehatan. 2003.cairan garam fisiologik melalui infus. Gambar Penanganan Kasus Kedaruratan Obstetri di RSU Tanjung Pura Kabupaten Lankat dan RSU. Nasution. Jika belum ada perbaikan. Penelusuran Kasus-kasus kegawatdaruratan obstetri yang berakibat kematian maternal. 2. Kisaran Kabupaten Asahan Bagian Obstetri Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Hasnah dan Atik Triratnawati. 2003. Sehubungan itu. seperti tindakan kuret. perlu diberi 25 mg Furosemid secara intravena dan dosis dapat diulangi setiap jam.235. (20) Dalam mengatasi syok septik.usu. histerektomi dan sebagainya.14. penyingkiran sarang infeksi sangatlah penting. (20) DAFTAR PUSTAKA 1. hal 1. kemungkinan terjadinya kegagalan fungsi ginial harus dipertimbangkan. Syamsul arifin.id/download/fk/obstetri =id (diakses tanggal 27 april 2009) 38 . no 2. Tersedia dalam http://72. tindakan operatif sering perlu dilakukan.ac. Apabila dengan demikian masih belum juga ada perbaikan.132/search?q=cache:O0QF TMKfzFUJ:library. vol 7.

Sastrawinata. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Saputra. EGC: Jakarta. EGC: Jakarta.drdidispog. 2007. 2003. Uterine Rupture in Pregnancy dalam Emedicine. tersedia dalam http://doctorology.medscape. edisi 21. hal 181-185. Didi. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 13. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Kelainan Letak Kehamilan.com/2008/08/perdarahan-di-trimester-i-kehamilan.id/download/fk/obstetri-tmha nafiah2. sulaiman dkk.wikipedia.235. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.132/ search? q=cache:O0QFTMKfzFUJ:library. sulaiman dkk. Plasenta Previa . dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 2008 (diakses tanggal 29 April 2009) 4.usu. tersedia dalam http://72. Kehamilan Ektopik Terganggu. Kerusakan Jalan Lahir Karena Persalinan. 2005. 2008. kegawatdaruratan Obstetri FKUMJ. Kehamilan Ektopik. 2005. Sunarto. Nahum. Tersedia di http://www. EGC: Jakarta. Hanafiah. 10. 2005. EGC: Jakarta.multiply. Sastrawinata. 2006. Sastrawinata. Perdarahan Antepatum. 39 .com/article/35954219-treatment 14. EGC: Jakarta. 2005. hal 716-717. 15. sulaiman dkk.3. Perdarahan Obstetri dalam Obstetri Williams. sulaiman dkk. GF dkk. EGC: Jakarta. hal 16-23. Suheimi.ac. Perdarahan Anterpartum. tersedia di http://id.14.html (diakses tanggal 18 mei 2009) 6. hal 83-95. 2005.net/?p=152 (diakses tanggal 18 mei 2009) 9.html (diakses tanggal 27 april 2009) 12. sulaiman dkk. Sastrawinata.com/journal/item/2. Tersedia dalam http://medicalanswer.org /wiki/Kehamilan_EktopikKehamilan Ektopik (diakses tanggal 18 mei 2009) 8. Kelainan Lama Kehamilan. hal 69-81.pdf+plasenta+letak+rendah&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id (diakses tanggal 18 mei 2009) 11. blogspot. 7. 2006. Agus. hal 2-9. tersedia dalam http://ksuheimi. Gerard. 5. Perdarahan di trimester 1 Kehamilan. Kusmarjadi.com/2008/06/perdarahan-antepartum. Gestosis. 2008. Cunningham. Sastrawinata. Wikipedia. 2008 Tersedia dalam http://emedicine. indra. volume 1.

2006.blogspot. 20. Michael G. Komplikasi yang umum pada kehamilan dalam Obstetri Williams. volume 1. 2007. Eclampsia. Syok dalam Obstetri. Ross.html tanggal 27 april 2009) dalam (diakses 40 . hal 63-72. 19. 2006. 2008. Jakarta. perdarahan Pasca persalinan. EGC: Jakarta.com/article/253960-treatment (Diakses tanggal 18 mei 2009) 17. tersedia dalam http:// emedicine. PONEK. Suheimi.16.medscape. 2009. tersedia di http://fkunsri.com/2008/06/syok-dalam-obstetri.com/2007/07/25/pendarahan-pasca-persalinan-part-1/ (diakses tanggal 18 mei 2009) 18. Cunningham. GF dkk.wordpress. tersedia http://ksuheimi. hal 705-706. dalam Emedicine. edisi 21. Haina Syafitri. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan medik dalam Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komperenhensif (PONEK).