You are on page 1of 1

MANAJEMEN PENANGANAN BERUANG MADU (Helarctos malayanus) DI KAWASAN WISATA PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP KM23 BALIKPAPAN

Pembimbing I: Muhammad Johan1
1

Oleh: Angelina Chrissita2 NIM. 0810910027

Pembimbing II: Lukman Hakim, SPhD.2 NIP.

2

Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup KM23, Balikpapan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya Malang

1. Pendahuluan Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan hewan khas yang ada di Indonesia yang terbagi menjadi dua sub spesies yaitu Helarctos malayanus malayanus berasal dari Pulau Sumatera dan Helarctos malayanus eurisphlus yang berasal dari Pulau Borneo. Penelitian pertaman di dunia tentang beruang madu di alam dimulai pada tahun 1997 sampai 2004 olehseorang peneliti dari Belanda, Gabriella M. Frederikson. Maka Kota Balikpapan mempunyai ikatan khusus dengan beruang madu dan sejak tahun 2004 beruang madu dijadikan maskot Kota Balikpapan secara resmi. Gerakan – gerakan perlindungan beruang madu pun mulai digalakkan, banyak dilakukan penyitaan beruang madu dikarenakan kepemilikan ilegal, dan sebagian beruang madu tersebut dipelihara di fasilitas pendidikan di KWPLH (Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup) KM23, Balikpapan, sebagai rumah baru bagi 5 beruang madu yang sebagian diambil dari alam sewaktu masih bayi dan sebagian memiliki cacat fisik akibat para pemiliknya terdahulu. Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di antara 8 jenis beruang lain di dunia dan merupakan hewan penyendiri. Merupakan hewan omnivora dengan makanan utamanya serangga, yang kedua adalah buah-buahan bila tersedia, tapi makanan favorit mereka adalah madu. Beruang madu memiliki struktur tubuh khusus yang mendukung perilaku makannya yaitu berupa kuku yang panjang, tajam, dan melengkung; rahang beserta gigi yang kuat; dan struktur lidah yang panjang. Beruang madu juga memiliki indera penciuman yang tajam sehingga sulit ditemui di alam. Kelima beruang madu di KWPLH ini merupakan hasil penyitaan dan beberapa di antaranya memiliki cacat fisik, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana metode penanganan beruan madu yang berupa hewan liar penyendiri dan memiliki cacat fisik. 2. Metode Metode penanganan beruang madu ini meliputi :

penyebaran makanan beruang madu (pagi pukul 15.00 WITA) beruang madu dilepas di kawasan enklosur observasi beruang madu di dalam kawasan enklosur
3. Pembahasan KWPLH merupakan tempat wisata yang terdiri dari rumah lamin yang dapat disewakan, mess untuk volunteer, daerah enklosur beruang madu seluas 1.3 ha yang dikelilingi pagar dengan sistem listrik searah bertegangan 7000 volt dan boardwalk sebagai tempat pengunjung mengamati beruang madu, kandang anjing, kandang kucing, kandang beruang madu (holding) pergola yang berisi info lengkap seputar beruang madu dan sejumlah fasilitas pelengkap lainnya. Terdapat 2 petugas per harinya yang bertugas sebagai petugas bagian beruang. Hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa tegangan listrik, bila tegangan turun atau naik menunjukkan adanya masalah di dalam kawasan enklosur, jadi petugas akan memeriksa kawasan sebelum beruang dilepaskan, selanjutnya beruang aka diperiksa fisiknya dengan diberikan madu, beruang akan diam untuk diperiksa fisiknya, selanjutnya penyebaran makanan beruang madu di dalam kawasan, hal ini bertujuan agar beruang masih dapat mempertahankan sifat aslinya seperti memanjat pohon, menggali tanah, dan agar pengunjung dapat melihat sifat asli beruang madu, selanjutnya beruang madu dilepaskan ke dalam kawasan enklosur satu persatu, kemudian petugas melakukan observasi beruang madu melalui boardwalk, bertujuan untuk melihat perilaku atau sosialisasi antar beruang, selanjutnya kandang dibersihkan dan dikeringkan (seminggu sekali dibersihkan dengan antibakteri). Selanjutnya petugas akan beristirahat dan menyiapkan makanan beruang madu untuk penyebaran makanan. Pada pukul 13.00 petugas kembali ke holding, memanggil beruang masuk dengan lonceng, memberi makan di dalam holding, kemudian pemeriksaan kawasan enklosur, pemeriksaan tegangan listrik, dan penyebaran makanan, selanjutnya beruang dilepas, pada sore hari pintu kandang dibiarkan dibuka agar beruang dapat keluar masuk kandang pada malam hari. 4. Kesimpulan 5. Pustaka

pemeriksaan kawasan enklosur, pemeriksaan keadaan listrik, pemeriksaan tegangan listrik pemeriksaan fisik beruang madu penyebaran makanan beruang madu (pagi pukul 08.00 WITA) beruang madu dilepas di kawasan enklosur observasi beruang madu di dalam kawasan enklosur pembersihan kandang (holding) beruang madu beruang madu dipanggil ke dalam kandang (pukul 13.00 WITA) beruang madu diberi makan di dalam kandang

-

pemeriksaan kawasan enklosur, pemeriksaan keadaan listrik, pemeriksaan tegangan listrik