FANTOM OBSTETRI
Fantom Obstetri:Simulasi mengelola kasus obstetri seperti menghadapi pasien yang sebenarnya.  Setiap kasus persalinan yang datang dengan keluhan utama harusdilengkapi data subyektif & obyektif yang diperlukan untuk membuat suatu analisa /diagnosis kerja /kesimpulan sementara sebagai dasar perencanaan tindakan. Data subyektif dan obyektif didapat penolong secara aktif dari penguji yang bertindak seolah-olah sebagai pasien yang pasif.

PEDOMAN DALAM FANTOM OBSTETRI
       Bahasa Indonesia yg baik, benar & lengkap Kataasing di Indonesia-kan Pengucapan lengkap jangan disingkat : VT, KK, KPD Memakai rekam medis Subyektif Obyektif Analisa Perencanaan (SOAP) Kiriman dukun: sdh diapakan? Kiriman bidan: Surat? Diagnosis? Sudah diapakan? Sudah diberikan obat apa? Bersikap tut wuri handayani: pada umumnya kehamilan dan persalinan akan berjalan dengan baik, hindari sikap berlebihan yang akan merugikan ibu& bayi, sikap menunggu/mewaspadai dan waspada terhadap petunjuk/indikasi akan terjadi bahaya harus bertindak cepat & tepat, jangan sampai terlambat . Simulasi / fantom obstetri perlu persiapan: o Penguasaan ilmu kebidanan fisiologismaupun patologis o Penguasaan rekam medis (SOAP)dan informed consent o Pengenalan alat pemeriksaan &tindakan obstetri o Ketrampilan pemeriksaan diagnostik &tindakan obstetri o Kecepatan & ketepatan berpikir utk melakukan analisa permasalahan & menentukan tindakanyg tepat sesuai: indikasi, indikasi kontra, syarat& prosedur o Untuk berbuat sesedikit mungkin perlu pengetahuan yang sebanyak mungkin.

CARA PENGUMPULAN DATA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIK :
  Data utama : keluhan utama & riwayat persalinan ini Data subyektif : yang diperoleh dari anamnesis tentang apa yang dirasakan, yang sedang dan telah dialami ibu dan informasi tambahan yang diceritakan oleh keluarganya tentang ibu jika ibu kesakitan atau tidak sadar Data obyektif : yang diperoleh dari pemeriksaan fisik melalui serangkaian upaya sistematik dan terfokus pada ibu atau bayi barulahir Analisa untuk menetapkan kesimpulan klinik / diagnosis kerja / keputusan klinik yang tepat 

 

Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan menghadapi masalah segera :  Mampu mendeteksi situasi yang mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya  Mengenal klinik terdekat dan konsultasi pada tasan dan rumah sakit tentang masalah yang dihadapi

Perencanaan asuhan & intervensi
   Dari kajian data yang diperoleh Sesuai sumberdaya & kemampuan yang dimiliki Dijelaskan dengan baik kepada ibu & keluarganya

Contoh rencana asuhan kala I : Tunggu & pengawasan
   DJJ, frekuensi & lamanya his, nadi, setiap ½ jam Pembukaan serviks, penurunan bagian bawah, tekanan darah, suhu, produksi urin setiap 4 jam Lama menunggu sesuai kurva Friedman atau sesuai partograf untuk mencapai pembukaan lengkap Sesuai kurva Friedman : Primipara : T = (9-n) x ½ + 1 jam Multipara : T = (9-n) x ¼ + ½ jam T = waktu tunggu n= pembukaan (cm) dimana n > 3 (sdh masuk fase aktif) Lama kala I rata-rata: Primipara 13,5 jam yaitu 8,6 jam fase laten + 4,9 jam fase aktif Multipara 7,5 jam yaitu 5,2 jam fase laten + 3,2 jam fase aktif

Penguasaan asuhan persalinan dan tindakan fantom untuk mahasiswa kebidanan adalah pada instalasi pelayanan kebidanan tingkat pertama (persalinan oleh bidan dan atau dokter umum, baik di bidan praktek swasta (BPS), rumah bersalin, puskesmas, maupun rumah sakit tipe D. Bila didapatkan kelainan / penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi harus dirujuk ke instalasi kebidanan tingkat kedua yang minimal mempunyai fasilitas PONED atau langsung dirujuk ke instalasi pelayanan kebidanan di rumah sakit yang mempunyai fasilitas PONEK.

REKAM MEDIS METODE SOAP:
     Pemeriksaan awal cepat: untuk mengetahui ada kegawatdaruratan Pemeriksaan lengkap: metode SOAP

PERNYATAAN &PERTANYAAN FANTOM OBSTETRI
PERNYATAAN: Gravida 1 Para 0 Abortus 0 39 minggu hamil, keluar air dari jalan lahir.  Pemeriksaan awal & cepat tanda kegawatdaruratan: o AAirway: jalan nafas terganggu? Nadi? o BBreathing: sesak nafas? Frekuensi nafas? o CCirculation: perdarahan? Syok? Anemia gravis? Tensi, Suhu, o DDisfungsi: kejang, kesadaran menurun, kesakitan hebat,  Kegawatdaruratan yang ditemukan: . . . . . . . . . . . .  Tindakan segera untuk kegawatdarutan: . . . . . . . .

Subyektif:
Keluhan utama : yg menyebabkan pasien minta pertolongan Riwayat perjalanan penyakit sekarang: sesuai tahapan kehamilan /persalinan yang mengarahkan pada persalinan fisiologis / patologis Anamnesis untuk melengkapi data subyektif pendukung; riwayat haid, perkawinan, reproduksi, obstetri, KB, operasi & penyakit lama, penyakit keluarga, gizi, sosek, keluhan sistema Allo anamnesis: anamnesis pengganti bila pasien tidak dapat ditanya secara baik. Pemeriksaan fisik /Status Praesens Tgl…….Jam ….: Status generalis / interna:keadaan umum, tanda vital/ jantung paru, ekstremitas.. Status obstetrikus : abdomen, alat genitalia, secara inspeksi, palpasi Leopold I-IV, His, Perkusi, Auskultasi (DJJ), Inspekulo vagina, pemeriksaan dalam vagina (jalan lahir lunak, keras, Skor Bishop), pemeriksaan colok rektal b/p. Pemeriksaan penunjang: o Laboratorium : darah, urine o USG dengan indikasi /rutin, BNO / X-foto (>34 minggu), KTG dengan indikasi

   

DILANJUTKAN PERTANYAAN & PEMERIKSAAN LENGKAP:
Pertanyaan subyektif:  Datang sendiri atau kiriman/diantar bidan?  Dikirim karena: ... ? Sudah dilakukan apa?  Penyebab / keluhan utama kedatangan: kenceng-kenceng sering, keluar lendir darah, keluar air, perdarahan, pusing, kejang, tidak merasa gerak anak, kehamilan sudah lewat waktu belum melahirkan.  Sudah merasa kenceng sering, teratur disertai rasa sakit yang dijalarkan dari pinggang ke perut bawah? Sejak kapan?  Sudah keluar darah lendir melalui jalan lahir: sejak kapan?  Masih merasa gerak anak?  Apa sudah ingin mengejan: sejak kapan? Pertanyaan tentang:  Pemeriksaan Ante Natal (ANC): Periksa terakhir, keluhan /kelainan,pesan  Riiwayat haid: HPHT  Riwayat perkawinan?  Riwayat obstetri: Persalinan berapa kali? Kelainan2 persalinan?  Riwayat penyakit /trauma /operasi? trauma panggul,operasi uterus?  Riwayat penyakit keluarga: Epilepsi, lahir cacat, asma, kembar, Diabetes Mellitus?  Keluhan Lokal/sistemik: kepala pusing/kepala sakit?pandangankabur/kunang-kunang?  Mimisan, pendengaran gemrebeg, tenggorokan sakit menelan, leher kaku, sesak berdebar, batuk lama, mual, muntah, nyeri ulu hati,kencing lancar,kejang, pegal, gelisah,kesadaran menurun, bengkak kaki,

Obyektif:

RESUME
Ringkasan apa yg didapat pada subyektif, obyektif, yang dianggap penting untuk menegakkan analisa/ diagnosis kerja / kesimpulan sementara.

Analisa / diagnosis kerja:
 Wanita, umur ..tahun. Gravida ..Para ..Abortus .. Umur kehamilan ..minggu. Hamil tunggal / ganda, intra /ekstra uterine, hidup / mati. Letak kepala / sungsang / lintang. Bagian bawah: kepala / bokong/ … , punggung kanan/kiri. Inpartu kala I ..jam Inpartu Kala II ..jam.. menit Penyulit : . . . . . . Penyulit lain: . . . . . . . .

  

Risiko yang mungkin terjadi : . . . . . . . . . Prognosis : . . . . . . . . . . Perencanaan Terapi:
  Perencanaan terapi medikamentosa Perencanaan tindakan obstetrik: pervaginam / perabdominal

Pemeriksaan Obyektif
Status internus:  Keadaan umum: kesadaran, status gizi, pucat, kesakitan, gelisah, kejang?  Tanda vital: nadi, pernafasan, suhu, TB, BB?  Kepala:  Leher  Thoraks  Abdomen:  Ekstremitas: edema, varises, refleks patella? Status obstetrikus:  Abdomen:  Inspeksi: buncit, mengkilat?  Palpasi: Leopold I-IV, his, bagian anak teraba waktu kontraksi?  Auskultasi: DJJ: frekwensi, punktum maksimumberapa, dimana?  Genitalia: edema, varises,  UPL / UPD, Osborn, taksiran berat janin  Pemeriksaan penunjang: Laboratorium: darah, urine, Test air ketuban RESUME: ANALISA / KESIMPULAN SEMENTARA/ DIAGNOSIS KERJA:  Wanita, umur ..tahun. Gravida ..Para ..Abortus .. Umur kehamilan ..minggu. Hamil tunggal / ganda, intra /ekstra uterine, hidup / mati. letak kepala / sungsang / lintang. Bagian bawah: kepala / bokong/punggung kanan/kiri.  Inpartu kala I ..jam,  Inpartu Kala II ..jam .. menit  Penyulit : . . . . . .  Penyulit lain: . . . . . . . . RISIKO YANG MUNGKIN TERJADI: PROGNOSIS: RENCANA PENGELOLAAN:  Terapi medikamentosa  Tindakan obstetri

SIKAP DALAM FANTOM OBSTETRI:
SIKAP UTAMADALAM FANTOM:
Hanya ada 4 sikap:  Pemeriksaan dalam vagina: atas indikasi . . .?  Tunggu & pengawasan: berapa lama?  Pimpin mengejan: berapa lama?  Ambil tindakan atau akhiri persalinan: atas indikasi ? Caranya?

SIKAP ANTARA DALAM FANTOM :
Pelengkap sebelum sikap utama dilaksanakan, agar diagnosis lebih jelas, dan penentuan tindakan/sikap utama menjadi lebih pasti:  Perbaikan his, pasang infuse, kosongkan kandung kemih  Pecah Kulit Ketuban  Reposisi tali pusat  Pemeriksaan penunjang (USG,BNO, KTG/Laborat)  Terapi medikamentosa.

SIKAP UTAMA DALAM FANTOM OBSTETRI
PEMERIKSAAN DALAM VAGINA (PDV = Vaginal toucher)
Pemeriksaan dalam vagina (PDV): pemeriksaan raba dengan memasukkan jari (telunjuk & jari tengah) ke dalam vagina guna mengetahui keadaan alat genital eksterna & interna. Indikasi: a. Dalam kehamilan: Umum: dengan pemeriksaan luar tidak didapatkan hasil yang jelas. Khusus:  Primi 36 mg, kepala belum masuk PAP  Riwayat obstetri jelek: curiga panggul sempit, lahir mati, riwayat seksio sesar  Letak janin tidak jelas  Kelainan letak: mengetahuipenyebab b. Dalam persalinan: Umum:  Pemeriksaan luar tidak jelas  Data dasar bagi pemantauan partograf Khusus:  Kelainan letak : mengetahui penyebab  KK pecah kepala masih tinggi: penumbungan?  Akan mengambil tindakan  Partus tak berjalan sebagaimana diharapkan  Kemajuan persalinan dibandingkan partograf telah berada di luar batas normal.

Syarat pemeriksaan dalam vagina:  Vulva dan introitus vagina tak ada infeksi  Tehnik aseptik dan antiseptik: desinfeksi dengan kapas sublimat / desinfektan lain dan pemeriksa memakai sarung tangan steril. Indikasi kontra:  Curiga plasenta previa Komplikasi:  Infeksi  Trauma  Perasaan nyeri, tidak nyaman oleh parturien

Prosedur pemeriksaan dalam vagina (PDV):
     Penderita litotomi Kandung kemih dan rektum kosongkan Vulva toilet Pakai masker, topi, celemek, jas steril Cuci tangan dengan metode 7 langkah atau metode Furbringer,dengan air mengalir:  10 menit air sabun  3 menit alkohol 70%  2 menit sublimat Pakai sarung tangan steril kanan Dengan tangan kanan kita ambil 3 kapas sublimat 1%? 2 kapas dijatuhkan pada tangan kiri untuk labium minus 1 kapas dipegang tangan kanan untuk membersihkan vulva dari atas ke bawah 1 kali, lalu buang Vulva: tumor, varises, edema? Jari tengah tangan kanan masukkan ke dalam introitus vagina, ditekankan pada komisura posterior Jari telunjuk pelan-pelan diluruskan bersama dengan jari tengah masuk vagina Tangan kiri diletakkan di atas perut pada fundus uteri Yang diperiksa pada PDV:  Vagina: supel, striktura, tumor?  Jaringan otot antara vagina & jaringan sekitar  Kandung kencing , rektum, uretra: batu?  Servik: tebal, pembukaan, konsistensi?  Kulit ketuban: pecah / belum? Menonjol?  Presentasi:  Penurunan anak? Hodge?  UPD:  Promontorium: CD, CV = CD – 1,5 cm  Linea terminalis, inominata, dinding samping, spina iskiadika, lengkung sakrum, mobilitas tulang koksigeus, arkus pubis

PENILAIAN PEMERIKSAAN DALAM VAGINA UMUM:
         Vulva dan uretra Vagina: supel, striktura, tumor, dll Otot antara vagina dan sekitarnya (vesika urinaria dan rektum) Serviks uteri: konsistensi, posisi, penipisan, pembukaan, Kulit ketuban: raba kulit ketuban utuh, pecah,(positif /negatif) , menonjol/tidak Presentasi janin dan penurunannya (bidang Hodge atau stasiun) Titik petunjuk (point of direction) Vesika urinaria danrektum: kosong /terisi, massa tumor, dll Ukuran panggul dalam: AP, PTP, PBP

        

UKURAN PANGGUL DALAM:
  Padaprimipara & belum pernah melahirkan bayi normal, Dinilai ukuran dan bentuknya,

Pintu atas panggul (PAP):  Promontorium tidak teraba  Linea inominata teraba kurang dari setengah lingkaran Pintu tengah panggul (PTP):  Spina isiadika tidak menonjol  Kelengkungansakrum cukup  Dinding samping pelvis sejajar Pintu bawah panggul (PBP):  Arkus pubis lebih dari 90  Mobilitas tulang koksigeus cukup Penurunan janin: turunnya bagian bawah janin ditentukan dengan Bidang Hodge I – IV Stasion pelvis: stasion 0 yaitu bidang setinggi spina Iskiadika, stasion -5 s.d +3

Tanda cincin retraksi pathologis (Bandl’s Ring ) 10. partus lama. Nadi 4. posisi oksipitoposterior melintang’. sesuai Partograf/ kurva Friedman Pemantauan 10 tanda obyektif: 1. perdarahan ante partum. kehijauan atau mekonium: tanda gawat janin intra uterin. anak. partus tak maju. perlu pengamatan DJJ. . Indikasi janin: gawat janin. IUGR. eklamsia/PEB hamil 37 mg. penumbungan / presentasi ganda. keruh.  Air ketuban bau busuk / pus: infeksi intra uterin  akhiri persalinan. posisi oksipitalis anterior direkta. Keadaan umum 2.TUNGGU & PENGAWASAN   Harus diikuti dengan batasan waktu yang ditentukan. gawat janin karena lilitan tali pusat erat. Bila ada tanda gawat janin: akhiri pervaginam (ekstraksi forsep/vakum) / perabdominal Bila terdapat tanda Inpartu kala II: ibu ingin mengejan. solusi plasenta hamil cukup bulan. plasenta previadengan perdarahan banyak. disproporsi kepala panggul. deep tranverse arrest. tentukan sumber perdarahan inspekulo :plasenta previa marginalis/parsialis. Tekanan darah 3. partus macet. Ibu kelelahan. PDV  cara pengakhiran Tes air ketuban dengan kertas lakmus: air ketuban bersifat basa merah jadi biru Pemakaian partograf: - PIMPIN MENGEJAN        Harus diikuti penentuan waktu lama pimpin mengejan. waktu&obstetri:     Indikasi ibu:ruptura uteri imminens.   Terdapat Band’l ring maka terdapat ancaman robekan rahim (ruptura uteri iminens) . penyakit paru kronik/berat. tali pusat pendek. bila > 6 cm tergantung pembukaan. vasa previa  Bagian kecil janin atau tali pusat.Denyut jantung janin . lutut ditarik ke atas lateral semaksimal mungkin. . Tehnik pimpinan mengejan: lithotomi.Kulit Ketuban: utuh/pecah . Tanda-tanda inpartu Kala II Evaluasi setiap 4 jam bila pembukaan < 6 cm.   . disproporsi feto pelvik. Setiap selesai satu tahapan sikap pengamatan harus ditanyakan hasil pengawasan 10 seperti pada waktu operan jaga. atau air ketuban habis. Indikasi Pinard Indikasi obstetri: deep tranversa arrest. Denyut Jantung janin 8. Bila ada penyimpangan dari 10 pengamatan yang memberikan indikasi untuk tindakan pengakhiran persalinan.Air ketuban: jernih . persalinan harus diakhiri. Bila his tidak membaik maka dilakukan drip oksitosin 5U/500 cc D5% dengan tetesan mulai 8 tetes /menit naik secara bertahap setiap 15 menit sampai his adekuat maksimal 20 tetes. indikasi Pinard (bagian kepala di dasar panggul selama 2 jam) Bila waktu pimpinan mengejan terlampaui: partus macet     AKHIRI PERSALINAN: Indikasi ibu.Tulang kepala: molase.Jumlah urin . Pengeluaran pervaginam 9.  Air ketuban keruh.i.Tekanan darah . maka dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan persalinan bisa pervaginam atau harus perabdominal.  Pengeluaran darah: jumlah&warna darah. perhatikan denyut jantung janin. indikasi ibu/anak/ waktu Selama pimpin mengejan pengamatan 9 Pimpin mengejan pada waktu ada his. partus tak maju.Kontraksi uterus /HIS .Pemeriksaan dalam vagina . Posisi UUK: tranverse position. multipara dibatasi 1 jam. Terdapat pengeluaran pervaginam:  Air ketuban: PDV untuk menilai kemajuan persalinan.bila pembukaan > 6cm harus dilakukan perbaikan His dengan cara pecah kulit ketuban . Kontraksi Uterus / HIS 7. Pernafasan 6. makrosomia pada ibu DM Indikasi waktu: partus lama. vulva anus membuka dan perineum menonjol saat ada His)  lakukan pemeriksaan dalam vagina: lengkap 10 cm:pimpin mengejan Bila terdapat penurunan kualitas dan kuantitas kontraksi uterus / his maka tergantung hasil PDV. Suhu 5. riwayat infertilitas. dekompensasi kordis III-IV.Penurunan kepala . primipara dibatasi maksimal 2½ jam atau selama masih ada kemajuan persalinan Jika tak maju tindakan a.

SIKAP ANTARA DALAM FANTOM OBSTETRI a. hal ini juga akan mencegah air ketuban menyemprot pada saat selaput ketuban dipecahkan Biarkan air ketuban membasahi jari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan. embriotomi. jam  Jika darah: mungkin vasa previa.5 % untuk didekontaminasi. 9. Tapi jika selaput ketuban tidak dapat diraba diantara kontraksi. keluarkan tangan pemeriksa secara lembut dari dalam vagina Evaluasi warna cairan ketuban. lihat tabel untuk langkah-langkah gawat darurat. Perbaikan his c.Kosongkan kandung kemih /rektum. seksio sesarea. Prosedur amniotomi: 1. lalu lepaskan sarung tangan dan biarkan terendam di larutan klorin 0. Cuci kedua tangan Segera periksa ulang DJJ Catat pada patograf waktu dilakukannya pemecahan selaput ketuban. Versi luar: macam. normal: lanjutkan.  Macam persalinan pada presentasikepala anak hidup: spontan. macam tindakan e. indikasi kontra. lakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati.. Biarkan jari tangan pemeriksaan tetap di dalam vagina untuk mengetahui penurunan kepala janin dan memastikan bahwa tali pusat atau bagian kecil dari bayi tidak teraba. Perbaikan his 10.  Deep tranversa arrest: pembukaan lengkap. Dengan menggunakan tangan yang lain.5 %. Setelah memastikan penurunan kepala dan tidak ada tali pusat dan bagian-bagian tubuh bayi yang kecil. bahaya d. akhiri persalinan . prosedur. dan lain – lain.Cara pengakhiran: yang dinilai untuk menentukan tindakan:  Persalinan pervaginam atau perabdominal: pembukaan.  Putaran paksi dalam  Indikasi Pinard: mengakhiri persalinan pada pembukaan lengkap kepala masih di dasar panggul (> H III) 2 jam tak lahir. periksa apakah ada mekonium atau darah (lebih banyak dari bercak bercampur darah yang normal). Peringan kala II: Indikasi. seksio sesarea. Catatan : Seringkali lebih mudah untuk memecahkan selaput ketuban di antara kontraksi ketika selaput ketuban tidak tegang. Catatan : Pemeriksaan dalam yang dilakukan di antara kontraksi seringkali lebih nyaman untuk ibu. syarat. AMNIOTOMI Indikasi :  Induksi partus ( menimbulkan HIS )  Memperbaiki his ( pada pembukaan > 6 cm )  Masuk kala II ( akan dipimpin mengejan )  Akan melakukan ekstraksi forsep & ekstraksi vakum.Pecah kulit ketuban . 14.Perbaikan his dengan drip oksitosin. 8.5 % selama 10 menit. gerakkan jari dan tangan lembut gosokkan klem pada selaput ketuban dan pecahkan. dengan lembut ke dalam vagina dan pandu klem dengan jari dari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan hingga mencapai selaput ketuban. tunggu .  Partus tak maju: tak ada kemajuan persalinan sebelum pembukaan lengkap (kala I)  Partus macet : tak ada kemajuan persalinan setelah pembukaan lengkap Intervensi pada partus tak berjalan seperti yang diharapkan: . Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril Di antara kontraksi. Pegang ujung klem di antara ujung jari pemeriksaan. ekstraksi vakum/forsep bila baru saja mati.  Tranversa arrest: pembukaanlengkap. hasilnya:  Jika air ketuban baik. 7. 6.  Macam persalinan pada presentasi kepala anak mati: spontan. indikasi. tempatkan klem setengah Kocher atau setengah Kelly disinfeksi tingkat tinggi atau steril. 11. Gunakan tangan yang lain untuk mengambil klem dan menempatkannya ke dalam larutan klorin 0. 5. Tujuannya keselamatan ibu & anak. jangan pecahkan selaput ketuban. tunggu sampai kekuatan kontraksi berikutnya mendorong cairan ketuban menekan selaput ketuban dan membuatnya lebih mudah untuk dipalpasi dan dipecahkan. sutura sagitalis melintang di atas / sebelum H III. prosedur b. Membahas bersama ibu dan keluarganya dan jawab pertanyaan apapun yang mereka ajukan Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) dan catat pada partograf Cuci kedua tangan Pecah kulit ketuban pada pembukaan hampir lengkap / lebih 8 cm: sudah tak berfungsi lagi untuk pembukaan. ekstraksi forsep. 2. 3. Jika mekonium atau darah terlihat. sutura sagitalis melintang telah melewati H III sudah dipimpin mengejan 1 jam. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0. Raba dengan hatihati selaput ketuban untuk memastikan bahwa kepala telah masuk dengan baik (masuk ke dalam panggul) dan bahwa talipusat dan / atau bagian-bagian tubuh yang kecil dari bayi (misalkan tangan) tidak bisa dipalpasi. ekstraksi vakum. versi ekstraksi. telah dipimpin mengejan 1 jam. akhiri persalinan  Jika mekoneum: DJJ melambat/cepat: gawat janin. . jika tali pusat atau bagian-bagian yang kecil dari bayi bisa dipalpasi. 13. penurunan bagian bawah anak  Dalam menentukan tindakan harus dipilih dulu yang teringan sampai terberat. 12. warna air ketuban dan DJJ. Amniotomi: pecah kulit ketuban: indikasi. 4.

Frekuensi dan lamanya :  Kala I awal (fase laten): sejak kontraksi 2 kali dalam 10 menit. parsial ekstraksi. kekuatannya makin lama makin kuat dan biasanya ibu akan merasakan makin lama makin sakit dan pembukaan serviks bertambah. akhir kala I tiap 3 menit  Lama his  Kekuatan his:  Kesempurnaan his:dominasi fundus. versi ekstraksi Ekstraksi vakum. tak teratur. rata – rata 6 – 7  (25 – 30)  Kala I akhir / kala II: 2 . durasinya makin lama makin panjang. portio Versi luar. Kekuatan kontraksi : sedemikian hingga bagian janin tak teraba waktu his b. Penilainan his:  Interval.Dekompensasi kordis gr I – II . dekapitasi. Relaksasi cukup Pada prinsipnya his yang baik ialah his yang frekuensinya makin lama makin sering. ekstraksi forsep Embriotomi: kraniotomi.Preeklamsi berat . tak sakit. vagina. simetri. sinkron kanan-kiri. sakit di bawah cekungan  Cekungan antara pusat dan simfisis lebih mendekati pusat  Kandung kemih kosongkan  Nadi cepat dan kecil PROSEDUR PADA FANTOM OBSTETRIK PROSEDUR DIAGNOSTIK:(lihat praktek ANC)                       Pemeriksaan Leopold Pemeriksaan his Pengukuran taksiran berat janin Pemeriksaan janin intra /ekstra uteri Pengukuran denyut jantung janin Test Osborn& Monro Kerr Pemeriksaan dalam vagina PROSEDUR OBSTETRI Amniotomi Episiotomi Induksi persalinan & akselerasi persalinan Persalinan sungsang: Bracht. kontraksi bersama  Relaksasi:  Perhatikan adanya Cincin Band’l sebagai tanda ruptura uteri imminens:  Penderita kesakitan. Pembagian his menurut faal:    His    His pembukaan: membuka serviks uteri His pengeluaran: mendorong anak disertai ibu ingin mengjan His pelepasan uri: melepaskan dan mengeluarkan plasenta normal mempunyai 3 gradasi yang meningkat: Dominansi fudus: mulai dari fundus menyebar ke bawah.TB paru lama .Versi ekstraksi pada gemeli anak kedua. sesarean histerektomi. eksterna dan aorta Pungsi hidrosefalus Pungsi Douglas Kuretase sisa plasenta Pengeluaran plasenta manual Seksio Sesarea. kleidotomi.Ekstraksi vakum . makin lama makin sering.Asma bronkhiale . eviserasi/eksenterasi. spondilotomi Kompresi bimanual: interna. histerotomi  Tindakan pada distosia bahu .Febris yang tinggi Macam tindakan: . Pada waktu inpartu his kuat 2-3 menit lama 40 detik. RENCANA PERINGAN KALA II Indikasi: keadaan yangdapat membahayakan ibu bila mengejan terlalu kuat: . permulaan persalinan tiap ¼ jam. Kekuatan kontraksi fundus: makin ke bawah makin kurang Waktu berlangsung his di fundus paling lama. His palsu / his pendahuluan:  Pada akhir kehamilan sebelum persalinan dimulai  Peningkatan daripada Braxton Hicks yang dimulai minggu 12 kehamilan.Ekstraksi forsep .Keadaan trauma kapitis / observasi komosio serebri .3 (40 –60) c.PERBAIKAN HIS His : kontraksi otot rahim pada persalinan.  Sifat tak teratur  Tak punya pengaruh pada serviks His yang adekuat: a. ke bawah makin pendek.Bekas seksio sesarea . Kontraksi Braxton Hicks: kontraksi uterus yang terjadi sejak hamil 12 minggu. ekstraksi total (bokong & kaki) Profilaksis Pinnard Penjahitan ruptura jalan lahir: perineum.

3. INDIKASI: a.Fetus yang terlalu besar . sedang pada kehamilan hampir aterm dapat lebih membuka dan melembutkan serviks.Inkompatibilitas rhesus . kemudian diulangi lagi SKOR BISHOPPELVIK : SKOR . Relatif: .Pengawasan baik .Hidramnion akut.Kelainan letak: lintang.Jadi cara ini tak dapat dilakukan pada servik yang belum membuka dan kaku.Preeklamsi / eklamsia . teruskan dengan botol II yang berisi 5 U dengan tetesan tetap. Indikasi anak : .Diabetes Mellitus .Kehamilan hampir / telah aterm .Disproporsi Kepala Panggul (CPD) . penderita diistirahatkan 24 jam.Obat:Misoprostol 25 mcg pervaginam dapat diulang 4 kali dengan jarak 6 jam . 2.Kelainan presentasi : muka. Bila sampai botol ke – 2 habis tidak terjadi pembukaan servik.Posisi 0 0 0 – 30 % kaku/keras posterior 1 1 – 2 cm 40 – 50 % medium medial 2 3 3 – 4 cm 60 – 70 % lunak anterior 5 – 6 cm 80 % . Amniotomi: pemecahan kulit ketuban Pemecahan kulit ketuban pada kehamilan aterm / hampir aterm akan merangsang timbulnya his dengan syarat servik telah matang. maka induksi diulang 24 jam kemudian. sungsang letak kaki .Bekas myomektomi . b. Mutlak : .Presentasi belakang kepala .Digital:Tiap hari dimasuki 1 jari.Perdarahan antepartum . Pelepasan kulit ketuban Melepas KK dari serviks pada kehamilan aterm dapat merangsang timbulnya HIS.INDUKSI PERSALINAN Induksi persalinan: usaha untuk menimbulkan proses persalinan.Penipisan .Tumor yang menghalangi jalan lahir .Grande Multi .  Bila botol ke II gagal.Kepala telah masuk PAP (H III) Bila servik belum cukup matang (skor Bishops <5 ) maka dapat diusahakanmeningkatkan kematangan dengan priming secara: . Indikasi ibu: .Dilatasi .Bekas SC . dahi . dan infus oksitosin tersebut diatas dianggap sebagai priming. jari telunjuk dimasukkan kedalam osteum uteri Kulit ketuban dilepas dari servik sedikit demi sedikit sampai sejauh jari dapat dimasukkan.Bekas SC dengan persangkaan CPD. . Cara ini kemungkinan berhasil bila: o Kehamilan aterm o Bagian terbawah janin sudah cakap (“engaged”) Cara melakukan : Dengan sarung tangan steril.Skor Bishop pelvik 5 (servic cukup matang) .Seringkali langsung dilakukan induksi dengandrip oksitosinsebagai priming. dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit sampai maksimal 20 tetes / menit  Bila botol I habis belum inpartu. sehingga lama – lama menjadi lembut .Serotinus Indikasi kontra : a. b.Dekompensasi Kordis NYHA grade I / II Induksi akan memiliki kemungkinan berhasilpada : . Drip oksitosin:  5 U oksitosin dalam 500 cc D 5 % mulai 8 tetes / menit. . atau diisi 10 U oksitosin dengan jumlah tetesan setengah tetesansemula dan dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit sampai maksimal 20 tetes / menit.Kematian intauterin yang membakat pada kehamilan aterm .Gemelli anak I dengan kelainan letak. Prosedur induksi : 1.KPD umur kehamilan > 36 minggu.Intra uterine fetal death (IUFD) .Konsistensi .

Indikasi:kelainan letak : . Kemudian satu tangan menahan bagian bokong dan tangan yang satunya pada bagian kepala janin.VERSI Versi adalah tindakan mengubah letak anak.Presentasi – kepalakelainan : letak muka . . 15 menit sesudah versi luar. Tangan kemudian kita ubah letaknya dimana yang tadinya pegang kepala sekarang memegang bokong dan sebaliknya. dengan dua tangan bagian bawah janin diangkat sehingga lepas dari PAP (agar tak geli diberi talk.Dinding perut tidak begitu tebal / mudah terangsang ibu relaks sesudah ada kontraksi Keadaan ini kita putar terus sampai akhirnya kepala janin sampai PAP. tekan kebawah supaya kepala masuk PAP dan tak bergerak lagi. juga tangan tak boleh dingin) Setelah berhasil lepas dari PAP kemudian posisi penolong dirubah menghadap muka ibu. Kontra indikasi: Gemelli Bekas seksio sesarea Hipertensi. prinsipnya ialah merubah letak anak menjadi letak membujur yang mempunyai prognosis persalinan lebih baik. kemudian janin tersebut diputar dengan arah putaran ke arah perut janin (agar kepala tetap flexi) sudut putaran terkecil dilakukan secara bertahap pada saat Indikasi kontra: Bekas seksio sesarea Ruptura uteri iminens Panggul sempit / sempit ringan Pembukaan lengkap KK ( + ) / ( . Menjadi letak kepala yangtidak normal. bila membelit sampai 2 kali atau lebih atau ada simpul mati pada tali pusat. Terjadi bila tali pusatpendek.) ) . Versi Pedalik  jadi let –su / kaki. Lepasnya plasenta lebih awal / solusio plasenta. - Macam versi: Menurut letak tangan penolong: . DJJ dimonitor.Ada indikasi untuk mengakhiri persalinan atau memperingan kala II. preeklamsia berat / eklamsia Plasenta previa Reptura uteri iminens Rektum dan vesika urinaria dikosongkan Penderita tidurkan terlentang dengan kaki sedikit difleksikan (Trendelenburg) Penolong berdiri sebelah kanan dan menghadap arah kaki ibu.Versi luar: dariluar dinding perut .Bagian bawah anak belum masuk PAP atau sudah masuk tapi dapat didorongke atas (H – I – II / III ( . Sesudahnya penderita diberi gurita / stagen. Bila tetap tak berhasil dinyatakan gagal.Versi dalam: tangan masuk rongga uterus - Menurut putarannya: Versi Sephalik  jadi let – kep .Air ketuban masih cukup . Bila DJJ menjadi buruk kembalikan ke posisi semula  versi luar belum berhasil.Pres – bo / let – su menjadi pres – kep Syarat versi luar : .Waktu pelaksanaan: pada primipara / multipara mulai 36 minggu . Istirahatkan selama 24 jam kemudian dapat diulang lagi sampai 3 kali. yakni memegang kaki anak ditarik melalui kanalis servikalis.Let – li menjadi pres – kep atau pres – bo / let – su . Kalau tali pusat panjang.Letak – lintang .Tak ada disprporsi kepala panggul / CPD . Setelah kepala tepat diatas PAP.KK ( + ) . letak dahi. Bahaya versi luar VERSI EKSTRAKSI(Pedalic Version) Biasanya versi dalam. Syarat – syarat: Prosedur versi luar: Prosedurversi ekstraksi: - .Servikmenutup atau membuka < 2 cm .) asal kurang dari ½ jam Bagian bawah anak belum masuk PAP atau sudah masuk tapi masih dapat didorong keatas ( H II (-) ) Tak ada disproporsi kepala panggul. biasanya diikuti ekstraksi kaki (versi ekstraksi) Indikasi versi ekstraksi: . Berbaring litotomi dan posisi Trendelenburg Vesika urinaria dan rektum harus dikosongkan Narkose dalam  beri infus Tangan yang dimasukkan adalah yang dekat kaki anak misal: kaki sebelah kiri  yang dimasukkan tangan kanan .

Episiotomi mediolateral ( baik kiri maupun kanan )jarang berlanjut menjadi ruptura perinei. sfingterani eksternus. inpartu kala II dengan bayi pertama sudah lahir. Episiotomi lateral (baik kanan maupun kiri) jarang dilakukan. Cara memegang kaki : o Langsung  punggung – perut – kaki o Tak langsung  punggung – bokong – paha – kaki. o Setelah kaki dipegang ( antara jari tengah ( antara jari tengah dan telunjuk ) disini tunggu fase relaksasi.Asfiksia . Episiotomi median Tindakan ini akan menggunting dinding vagina. Infeksi 4. bayi kedua letak lintang dengan tanda – tanda gawat janin. 2. bulbokavernosus. Komplikasi yang dapat terjadi : 1. Dispareuni Macam episiotomi : ada tiga : 1. Indikasi : 1.   Episiotomi median mudah berlanjut menjadi ruptura perinei total tetapipenyembuhan umumnya baik dan jarang mengakibatkan dispareuni. kulit.Versi berhasil bila : o Kaki dilepaskan tidak akan masuk lagi o Kepala sudah di fundus uteri o Dilanjutkan dengan ekstraksi kaki Bahaya versi ekstraksi : . Episiotomi lateral Tindakan ini hanya akan menggunting dinding vagina kulit dan m.Cara memutar : o Pasif ( tangan dalam : hanya membimbing ) o Aktif ( tangan luar : menekan menuju fundus ) .  Bila akan dilakukan seksio sesarea masih menunggu persiapan (waktu) maka bila memenuhi syarat versi ekstraksi dapat dikerjakan. Ruptura perinei 2.    . Perineum tinggi 5. .Untuk ibu : o Infeksi o Perdarahan o Ruptura uteri o Laserasijalan lahir o Syok . transversus perinei superfisialis dan sebagian m. Penyembuhan tidak perprimam 6. Episiotomi mediolateral Seperti pada episiotomi mediana tetapi tanpa mengenai m. sfingterani eksternus. karenanya bila tidak terpaksa sekali tindakan ini tidak dilakukan.kaki depan ( S – A )  Dorso – interior ------kaki belakang ( I – P )  Dorso – posterior ----kaki atas ( P – S ) o Kalau sukar mencapai satu kaki maka kita boleh pegang dua kaki sekaligus EPISIOTOMI Episiotomi adalah tindakan menggunting perineum ibu dengan tujuan untuk mempermudah pengeluaran janin pada persalinan kala II.Tali pusat terjepit . Episiotomi mediolateral ini paling sering dilakukan terutama pada persalinan buatan dan janin yang besar. 3. karena kurang memenuhi tujuan untuk memperlebar jalan lahir lunak. Perdarahan (rata-rata perdarahan yang terjadi sebanyak 120 cc) 3.- Tangan masuk secara tangan obstetri(obstetric hand) dan pada waktu ini tangan yang satu menahan fundus uteri (untuk menghindari ruptura uteri) Kaki yang harus dipegang (agar posisi anak menjadi tengkurap): o Let – kep  yang diambil kaki depan o Let – lin   Dorso – superior ----. Hematoma 5.Fraktura ektremitas  Tindakan versi ekstraksi sekarang sudah jarang dilakukan karena angka morbiditas dan mortalitas untuk janin cukup tinggi. tetapi penjahitan kembali harus lebih saksama untuk menghindari terjadinya dispareuni dan agar penyembuhan berbentuk baik. Primigravida 2.Untuk anak : . m.bulbokavernosus saja. Bekas ruptura perinei 4. m. Pada pengelolaan kehamilan ganda mungkin dapat dilakukan dalam keadaan terpaksa:  Untuk anak ke dua gemeli dengan letak-lintang. Introitus vagina kaku 6. Persalinan buatan 3. Persalinan prematur Syarat : Bagian bawah janin sudah berada di dasar panggul.

Gunting yang dipergunakan pada episiotomi ini sebaiknya gunting tajam yang berujung tumpul agar bagian bawah janin tidak tertusuk. vulva harus dibersihkan terlebih dahulu dan kemudian diberi cairan antiseptik. transversus perinei superfisialis dan m. posisi oksiput posterior persisten  Kala II lebih 5 jam Indikasi kontra  Disproporsi kepala panggul Syarat:     Pembukaan serviks lengkap Kepala janin sudah cakap (engaged). EKSTRAKSI VAKUM Ekstraksi vakum: persalinan buatan di mana janin dilahirkan dengan ekstraksi tekanan negatif pada kepalanya dengan menggunakan ekstraktor vakum. Untuk menghindari paparan lokhia.  Kemudian luka dinding vagina dijahit mulai dari ujung kranial sampai introitus vaginae dengan menghindari terjadinya dead space. miomektomi. histerotomi)  Edema vulva  Ibu lemah mengejan Janin  Gawat janin  Tali pusat /tangan/ kaki menumbung  Presentasi ganda Obstetri:  Indikasi Pinard  Deep tranversa arrest. sfingter ani eksternus) dijahit terlebih dahulu dengan benang yang mudah diserap.  Penjahitan kembali harus dilakukan dengan seksama setelah memastikan tidak terjadi perdarahan aktif (menghindari hematom dan infeksi). bulbokavernosus. Badan perineum (m.  Bila diperlukan anestesi. m.  Kulit perineum dijahit dengan benang yang dapat diserap atau yang tidak dapat diserap (diambil setelah 5-6 hari). paru dan penyakit sistemik yang berat  Bekas perlukaan dinding rahim (seksio sesarea.  Perawatan perineum selanjutnya hanyalah menjaga agar daerah perineum tersebut tetap bersih.Prosedur episiotomi:  Sebelum episiotomi dilakukan. sedikitnya H III+ Kepala janin harus dapat dipasangi mangkuk Ketuban sudah pecah ayau dipecah PERSALINAN PERCOBAAN(Trial of Labor)    Pada letak kepala dan pada primipara dengan panggul sempit ringan Evaluasi dari permulaan persalinan sampai 18 jam harus pembukaan lengkap Bila pembukaan lengkap dilanjutkan Test of Labor: o Evaluasi dari pembukaan lengkap dan kepala bayi dengan bagian terbesar sudah masuk pintu atas panggul sampai terjadi persalinan pervaginam dalam waktu 2 jam Berhasil jika bisa persalinan pervaginam  . ibu dianjurkan memakai pembalut yang menyerap. maka dapat dilakukan anestesi lokal baik dengan cara infiltrasi maupun dengan cara blok nervus pudendus. Bila perlu dapat diberi cairan antiseptik. Bagian ekstraktor vakum:  Mangkuk  Rantai penghubung  Pipa penghubung  Pipa penghubung  Botol  Pompa penghisap  Pemegang Indikasi: Ibu  Eklamsia / preeklamsia berat  Ruptura uteri membakat  Penyakit jantung.

 Terlepasnya mangkuk dapat disebabkan karena:  Kaput suksedaneum buatan tidak terbentuk sempurna  Ekstraksi terlalu kuat dan atau salah arah  Adanya jaringan yang terjepit di antara mangkuk dan kepala janin  Kerjasama antara dua tangan operator tidak baiki: arah ekstraksi. dan adanya cincin kontraksi lokal. dikhawatirkan kelainan neurologi akibat ekstraksi yang terlalu lama. janin belum lahir.Prosedur ekstraksi vakum   Ibu dalam posisi litotomi dan dilakukan desinfeksi daerah genitalia (vulva toilet). dinaikkan pelan2 sampai mencapai -0. tali pusat terlalu pendek. Setelah kepala lahir. Dilakukan periksa dalam vagina untuk menentukan apakah ada bagian jalan lahir atau kulit ketuban yang terjepit di antara kepala janin dan mangkuk.Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tangan kiri operator menahan mangkuk supaya tetap melekat pada kepala janin. tekanan negatif dihilangkan dengan cara membuka katup udara. harus diteliti kemungkinan-kemungkinan di atas dan diusahakan koreksi. Sekitar vulva ditutup dengan kain steril Setelah semua peralatan ekstraktor vakum terpasang. Bersamaan dengan timbulnya his.3kg/cm2.Perlahan ini supaya dapat membentuk kaput suksedaneum dengan baik. ibu dipimpin mengejan dan ekstraksi dilakukan dengan cara menarik pemegang sesuai dengan sumbu panggul. KOMPLIKASI YANG DAPAT TERJADI: Ibu:  Perdarahan pasca salin  Laserasi jalan lahir  Infeksi .  Bila mangkuk lepas.      Ekstraksi vakum dianggap gagal bila:mangkuk terlepas 3 kali atau lebih.Pada umumnya dipakai mangkuk dengan diameter terbesar atau sedang. arah putaran paksi dalam dan koordinasi dengan pengejanan ibu.  Dalam waktu 15 menit dilakukan ekstraksi vakum.Bila ubun-ubun kecil sudah berada di bawah simfisis.  Sebab-sebab obstetri: disproporsi kepala panggul yang tidak diketahui sebelumnya.7kg/cm2. Selama ekstraksi ini jari-jari tangan kiri memutar ubun-ubun kecil menyesuaikan dengan putaran paksi dalam. lilitan tali pusat yang erat. arah tarikan berangsur-angsur dinaikkan keatas sehingga kepala lahir. Dilakukan penghisapan dengan tekanan negatif -0. mangkuk kemudian dilepas. dilakukan pemasangan mangkuk dengan tonjolan penunjuk dipasang diatas titik petunjuk kepala janin. Janin dilahirkan seperti pada persalinan normal dan plasenta umumnya dilahirkan secara aktif.

Kedua tangkai dikunci dengan cara disekrup setelah kedua tangkai disilangkan. Tipe khusus. Pemegang forsep: Bagian yang dipegang operator saat melakukan ekstraksi forsep. Bagian ini umumnya mempunyai lubang kecuali pada forsep Tucker-McLane. Kunci Inggris. Bagian ini merupakan bagian yang mencekam kepala janin dan mempunyai 2 lengkungan yaitu: lengkung kepala dan lengkung panggul. Tipe Simpsom. Kunci forsep: A. Tipe forsep : berdasarkan bentuknya. 3. Tangkai forsep. Forsep Piper digunakan untuk melahirkan kepala yang tertinggal pada persalinan sungsang. B. Kerugian ekstraksi vakum dibanding ekstraksi forsep:  Kelainan janin yang tidak segera terlihat (neurologis)  Tidak dapat digunakan untuk melindungi kepala janin preterm  Memerlukan waktu lebih lama untuk mengakhiri persalinan sehingga pada umumnya tidak dilakukan untuk menolong gawat janin. 4. Forsep Kielland digunakan bila kepala janin masih tinggi (mengambang). Dipergunakan untuk keadaan serta tujuan khusus. Ditandai dengan tangkai yang terbuka sehingga memberi kemungkinan untuk dipasang pada kepala janin yang sudah mengalami molase atau yang mempunyai kaput suksedaneum. 1. ekstraksi atau kombinasi keduanya dengan alat forsep yang dipasang pada kepala janin sehingga janin lahir. Daun forsep. C. demikian juga sebaliknya forsep kanan adalah forsep yang dipegang oleh tangan kanan operator dan ditempatkan dalam panggul kanan ibu. 2. dikenal beberapa tipe. Contoh forsep tipe Elliot adalah forsep Naegele. Kunci Jerman. Forsep kiri adalah yang dipegang oleh tangan kiri operator dan ditempatkan dalam panggul kiri ibu. D. .  Memerlukan kerja sama dengan ibu yang bersalin. Kunci Norwegia. 3. 2. sedangkan yang tertutup misal seperti yang terdapat pada forsepNaegele dan forsep Tucker-McLane. Alat forsep terdiri atas sepasang (kiri dan kanan). Tangkai forsep yang terbuka adalah yang pangkalnya jauh satu dengan yang lain misal: forsep Simpson. Ditandai dengan tangkai yang tertutup sehingga lengkung kepala forsep mencakup kepala janin lebih luas. Kunci Perancis. Umumnya bagian ini mempunyai lekukan tempat jari operator berada. EKSTRAKSI FORSEP Ekstraksi forsep adalah persalinan buatan dengan cara mengadakan rotasi. b. c. Forsep Barton digunakan terutama untuk melakukan rotasi. Forsep tipe Elliot ini sebaiknya dipergunakan pada kepala janin yang belum didapati adanya kaputsuksedaneum atau yang belum mengalami molase hebat. Kedua tangkai dikunci dengan cara saling dikaitkan. Bagian yang terdapat di antara daun dan kunci forsep. Bagian forsep: 1. Tipe Elliot. Kedua tangkai dikunci dengan cara saling menggeserkan (sliding) kedua tangkainya. misalnya: a. Kedua tangkai dikunci dengan cara mengaitkan pasak yang terdapat pada satu tangkai disilangkan.Janin:  Laserasi  Sefalhematoma sampai hematoma subdural  Nekrosis kulit kepala yang dapat menyebabkan alopesia  Fraktura tulang tengkorak  Cedera pada muka janin  Paresis nervus fasialis Keuntungan ekstraksi vakum dibanding ekstraksi forsep:  Tidak memerlukan pembiusan  Pemasangan lebih mudah  Lesi jalan lahir ibu tidak banyak terjadi.

Deep Tranverse Arrest . Indikasi 1. Forsep tinggi. sedikitnya H III+  Kepala janin harus dapat dipegang dengan forsep  Ketuban sudah pecah atau dipecah. Dilakukan pada kepala janin yang sudah mencapai pintu bawah panggul dengan sutura sagitalis dalam posisi antero-posterior. Hal ini penting ditekankan karena bila rotasi dan ekstraksi tidak sesuai dengan gerakan kardinal kepala janin maka ekstraksi forsep akan mengalami kegagalan atau akan terjadi trauma baik pada ibu maupun janinnya. Forsep rendah ini merupakan ekstraksi forsep yang paling sedikit memberikan risiko bahkan dikatakan bahwa forsep rendah dapat melindungi kepala janin dari trauma waktu melalui jalan lahir. misalnya pada persalinan prematur. dll. Forsep rendah. histerotomi. Persisten Occiput Posterior Position  Kala II lebih dari 5 jam Indikasi kontra: Disproporsi janin-panggul Syarat:  Pembukaan serviks lengkap  Kepala janin sudah cakap (engaged). paru-paru dan penyakit sistem yang berat  Bekas perlukaan dinding rahim (seksio sesarea. Ekstraksi forsep pada kepala janin yang masih berada di atas pintu atas panggul. 2. Dilakukan bila lingkaran kepala janin sudah melewati pintu atas panggul (engaged). miomektomi. preeklamsia berat  Ruptura uteri membakat  Penyakit jantung. . Pada pelaksanaan forsep tengah ini operator harus benar-benar mengetahui anatomi panggul serta presentasi kepala janin agar dapat melakukan rotasi dan ekstraksi yang sesuai dengan gerakan kardinal kepala janin waktu melalui panggul. Forsep tengah. Obstetri:  Indikasi Pinnard. Ibu:  Eklamsia. 3. 2. Janin  Gawat janin  Tangan/kaki menumbung  Presentasi ganda  Talipusat menumbung 3.Penggunaan forsep berdasarkan penurunan kepala: 1.)  Edema vulva  Ibu dalam keadaan lemah untuk mengejan. Sekarang ini pada umumnya sudah tidak dilakukan lagi karena komplikasi berat yang sering terjadi baik pada ibu maupun pada janinnya.

kemudian dilakukan ekstraksi percobaan dengan kedua tangan operator. Gambar 3. Gambar pemasangan dan rotasi forseps pada ubun-ubun kecil kanan depan 2. Pada keadaan ini dapat dipergunakan forsep Simpson.  Penempatan daun forsep  Mengunci forsep  Evaluasi penempatan daun forsep  Ekstraksi forsep percobaan  Pelaksanaan rotasi dan ekstraksi  Melepas forsep Contoh kasus ekstraksi vakum pada presentasi belakang kepala dengan ubun-ubun kecil di kanan depan. Daun forsep digeser ke panggul bagian depan. Setelah itu kepala janin diputar sehingga ubun-ubun kecilberada di bawah simfisis (forsep kiri menjadi berada di kiri belakang panggul dan forsep kanan berada di kanan depan panggul ibu). berarti ekstraksi percobaaan tidak berhasil atau dengan perkataan lain bahwa forsep tidak mencekam kepala janin dengan baik.PROSEDUR EKSTRAKSI FORSEP Meliputi persiapan. Daun forsep kiri kemudian dimasukkan ke dalam vaginadengan pertolongan ke empat jari tangan serta dorongan ibu jari tangan kanan operator sampai daun forsep mencekam kepala janin. berarti ekstraksi percobaan berhasil dan ekstraksi forsep dapat dilanjutkan. Setelah itu daun forsep kanan ini digeser ke belakang (tangkai forsep mengikuti) sehingga terletak melintang terhadap kepala janin dan miring terhadap panggul ibu. Persiapan: Tahap persiapan meliputi persiapan alat (forsep yang mau dipakai. Berdasar hal tersebut. Mengunci forsep Karena tangkai forsep kanan berada di atas tangkai forsep kiri maka kedua tangkai dipersilangkan agar dapat dikunci dengan tepat. . peralatan jahit dan anestesi). persiapan janin (resusitasi dan perawatan bayi baru lahir). mempersiapkan ibu yang akan menjalani tindakan. 6. Oleh karena ubun-ubun kecil berada di kanan depan. maka ekstraksi forsep dapat dilanjutkan pada langkah berikutnya. A . Pelaksanaan rotasi dan ekstraksi Gerak kardinal kepala janin pada dasar panggul merupakan putaran paksi dalam di mana ubun-ubun kecil yang berada pada kanan depan akan bergerak ke bawah simfisis. Tetapi bila saat dilakukan ekstraksi ujung-ujung jari tersebut tetap menyentuh bagian terbawah kepala janin. Teknik pelaksanaan: Terdapat 7 langkah yang harus dilaksanakan dalam pelaksanaan ekstraksi forsep:  Operator merencanakan pemasangan ekstraksi forsep berdasarkan bagian presentasi janin serta merencanakn bagaimana pelaksanaan ekstraksi forsep akan dilaksanakan. Operator membayangkan letak kepala janin pada pintu bawah panggul dilihat dari kaudal ibu. 4. Ekstraksi forsep percobaan dilakukan dengan cara kedua tangan operator menggenggam tangkai forsep dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan diluruskan di atas kunci agar dapat mencapai bagian terbawah kepala janin. maka forsep terpaksa dikeluarkan lagi dan diadakan reevaluasi karena ada kemungkinan kesalahan penentuan presentasi kepala janin atau kesalahan dalam menempatkan daun forsep Evaluasi penempatan daun forsep Untuk evaluasi penempatan daun forsep. tangan kiri operator menahan perineum. forsep ditarik ke atas yaitu pada waktu kepala janin keluar pintu dengan suboksiput sebagai hipomoklion) Episiotomi pada umumnya dilakukan waktu permulaan langkah ini dan saat kepala janin keluar pintu. Empat jari tangan kanan operator dimasukkan ke dalam vagina bagian kiri antara dinding vagina kiri dengan kepala janin. perlu dilakukan periksa dalam vagina guna menentukan apakah ada jaringan (kulit ketuban atau serviks uteri) yang terjepit di antara daun forsep dankepala janin. B . Ekstraksi forsep percobaan. tangkai forsep menyesuaiakan agar daun forsep berada melintang terhadap kepala janin. diletakkan di atas lipat paha kiri ibu. Forsep kiri dipegang dengan tangan kiri operator seperti memegang pensildengan tangkai forsep berada dilipat paha kanan ibu. peralatan persalinan. 5. maka forsep kiri dipasang terlebih dulu (berada pada ruang panggul bagian depan) kemudian baru forsep kanan ditempatkan di kanan belakang (miring terhadap panggul dan melintang terhadap kepala janin). Naegele atau Tucker-McLane. maka operator harus menyesuaikan diri dengan memutar forsep sedemikian rupa sehingga ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis yaitu dengan cara mengayun tangkai forsep agar daun forsep bergerak ke kiri depan sambil mengikuti sumbu panggul. kepala janin mencapai H IV-. Jika dari evaluasi ini tidak didapatkan adanya jaringan yang terjepit. Tangkai forsep kanan dipegang oleh tangan kanan operator seperti memegang pensil. Bila ujung-ujung jari telunjuk dan jari tengah tersebut menjauhi bagian terbawah kepala janin . Apabila penguncian forsep tidak dapat dilakukan dengan tepat. tehnik dan pembenahan kembali. Daun forsep kanan kemudian dimasukkan ke dalam vagina di antara 4 jari tangan operator yang melindungi dinding kanan vagina dan kepala janin sehingga daun forsep berada pada sagital ibu. 1. Penempatan daun forsep. Setelah itu baru dilakukan ekstraksi forsep dengan arah tarikan sesuai dengan sumbu panggul ibu (mula-mula ditarik curam ke bawah kemudian mendatar dan pada saat kepala janin membukapintu.

Operator belum menguasai penggunaan forsep Komplikasi: seperti pada ekstraksi vakum . tetapi forsep percobaan ini sekarang sudah tidak dilakukan lagi karena seksio sesarea memberi hasil yang lebih baik. Bila ubun-ubun kecil tidak berada di bawah simfisis. Memutar kepala janin sehingga ubun-ubun kecil yang sudah dalam posisi melintang tersebut menjadi berada di bawah simfisis (seperti cara Lange) Gambar pemasangan dan rotasi forsep pada ubun-ubun kecil kanan lintang 5.V. Rotasi dengan forsep Kielland. Bahu depan dilahirkan terlebih dulu baru kemudian bahu belakang dan menyusul kemudian badan seluruhnya. Memutar kepala janin ke depan sehingga ubun-ubun kecil menjadi melintang b. setelah itu baru dilakukan ekstraksi 2. Adanya lingkaran kontriksi uterus e. Forsep yang berada pada panggul depan dipasang lebih dulu (seperti cara Lange). Forsep gagal. Bila bayi lahir dalam keadaan asfiksia. Beberapa macam ekstraksi forsep: Apabila ubun-ubun kecil sudah berada dibawah simfisis. 4. maka operator sebaiknya melakukan pengelolaan aktif kala III yaitu dengan memberikan uterotonika (I. Daun forsep Barton yang berengsel dipasang di panggul bagian depan sedangkan daun forsep yang tidak bergerak dipasang di panggul bagian belakang. Prinsip ekstraksi forsep cara Mohrer ini adalah dengan cara memutar kepala janin sehingga ubun-ubun kecil ke belakang (anak lahir pada posisi oksiput posterior) 3. Pada keadaan ini forsep dipasang miring terhadap kepala dan miring terhadap panggul. Forsep kemudian diputar dengan tujuan agar ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis. Cara Lange. Dilakukan bila ubun-ubun kecil melintang di dalam panggul. Pembukaan serviks yang belum sempurna c. Rotasi dengan forsep Barton. C . Episiotomi perineum dijahit lapis demi lapis yaitu dengan cara badan perineum dijahit terlebih dulu baru kemudian dinding vagina dan kulit perineum. kemudian disusul dengan pemasangan forsep pada panggul bagian belakang yaitu melintang/hampir melintn terhadap kepala. mula-mula menintang terhadap panggul baru kemudian digeser ke depan sehingga miring terhadap panggul baru kemudian digeser ke depan sehingga miring terhadap panggul tetapi melintang / hampir melintang terhadap kepala. Ekstraksi forsep tengah yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan persalinan pada panggul tengah. Memutar kepala janin sehingga ubun-ubun kecil yang semula melintang menjadi berada di bawah simfisis. Adanya. Forsep percobaan dan forsep gagal Forsep percobaan. Pembenahan kembali Bila ibu berada di bawah narkose maka umumnya operator terpaksa melakukan pengambilan plasenta secara manual. Melepas forsep Setelah kepala janin lahir. Ekstraksi forsep cara Smellie& Scanzoni ini terdiri dari dua tahap tindakan: a. Bila usaha persalinan dengan forsep tidak berhasil walaupun teknik yang dilakukan sudah memenuhi syarat. maka hendaknya pemotongan tali pusat agak panjang agar lebih memudahkan pemasangan infus umbilikal guna pemberian cairan parenteral. Forsep depan dipasang terlebih dulu. Dilakukan bila ubun-ubun kecil berada di belakang.7. Tali pusat diklem dan dipotong. disproporsikepala panggul yang tidak diketahui sebelumnya b. Dilakukan bila ubun-ubun kecil berada di belakang (dorsal). Forsep belakang dipasang berlawanan dengan forsep depan. tetapi bila ibu hanya mendapat analgetika dan anestesia lokal. Kesalahan menenukan titik petunjuk kepala janin d. Cara Smellie & Scanzoni. Cara Muhrer.) pada waktu kepala janin lahir dan melakukan perasat Brandt-Andrews guna melahirkan plasenta. pasca ekstraksi forsep ibu harus senantiasa diawasi karena kemungkinan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Setelah forsep terpasang kemudian dilakukan rotasi dengan mengingat sumbu dan lengkung panggul. maka terdapat beberapa macam cara ekstraksi forsep. yaitu: 1. forsep dilepas dan kepala janindibiarkan melakukan putaran paksi luar. sehingga tidaklagi dipergunakan untuk tujuan rotasi. maka pelaksanaan ekstraksi forsep tidak perlu didahului dengan rotasi kepala janin. Secara teoritis forsep Kielland dapat dengan mudah memutar kepala janin. Seperti pada persalinan buatan lainnya. tetapi ternyata rotasi dengan forsep ini banyak menyebabkan janin menderita bahkan sampai menyebabkankematian janin. Beberapa penyebab forsep gagal di antaranya: a.

Saat menggunting. o Lapisan III: dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit dengan benang yang sama. Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara: o Lapisan I : Miometrium tepat di atas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang katgut kromik nomer 01 atau 02.       SEKSIO SESAREA TRANSPERITONEAL PROFUNDA   Plika vesiko uterina di atas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang. Setelah janin lahir seluruhnya. Setelah kavum uteri terbuka. kepala defleksi)  Letak dahi dan letak muka dengan dagu di belakang  Presentasi ganda  Kelainan letak pada gemelli anak pertama 2 . Ruptura uteri membakat 7 . Plasenta previa 5 . Disproporsi janin panggul 6 . Indikasi A. 3. Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih 1 cm di bawah irisan plika vesiko uterina.     . tali pusat diklem (2 tempat) dan dipotong di antara kedua klem tersebut. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika ke dalam miometrium dan intravena. Jenis: 1. Perlebar insisi dengan gunting sampai sepanjang kurang lebih 12 cm. kemudian secara tumpul disisihkan ke arah bawah dan samping. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dan sisa-sisa darah dan air ketuban. kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut. Incoordinate uterine action B. Partus tak maju 8 .SEKSIO SESAREA Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin melalui dinding perut dan dinding uterus. Kelainan letak  Letak lintang  Letak sungsang (janin besar. Saat mengunting lindungi janin dengan dua jari operator. lindungi janin dengan dua jari operator. Gawat janin Indikasi kontra (relatif)     Infeksi intra uterin Janin mati Syok / anemiaberat yang belum diatasi Kelainan kongenital berat Seksio sesarea klasik /korporal Seksio sesarea transperitoneal profunda Seksio sesarea ekstraperitoneal Histerektomi sesarean (Cesarean hysterectomy) SEKSIO SESAREA KLASIK / KORPORAL  Buat insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus uteri di atas segmen bawah rahim. Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi 3 . o Lapisan II : lapisan miometrium di atasnya dijahit secara kasur horisontal (Lambert) dengan benang yang sama. kulit ketuban dipecah. Stenosis serviks uteri atau vagina 4 . Setelah kavum uteri terbuka. Irisan kemudian diperlebar dengan gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm. tali pusat diklem (2 tempat) dan dipotong di antara kedua klem tersebut. Indikasi Ibu: 1 . 4. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. Janin dilahirkan dengan meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut. 2. Setelah janin dilahirkan seluruhnya. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika ke dalam miometrium dan intravena. Panggul sempit 2 . Indikasi Janin 1 .

. HISTEREKTOMI SESAREAN(Caesarean Hysterectomy)           Irisan uterus dilakukan seperti pada seksio sesarea klasik/korporal demikian juga cara melahirkan janinnya. Peritoneum kemudian digeser ke kranial agar terbebas dan dinding kranial agar terbebas dari dinding kranial vesika urinaria. Bila sudah. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis HISTEROTOMI Histerotomi adalah suatu pembedahan untuk melahirkan isi uterus melalui dinding perut dan dinding uterus tanpa mengharapkan hasil konsepsi yang hidup. Perdarahan pada tunggul serviks uteri diatasi. Bila segmen bawah rahimbelum terbentuk maka dilakukan tindakan seperti seksio sesarea klasik. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2) pada tepi segmen bawah rahim. Dilakukan reperitonealisasi serta eksplorasi daerah panggul dan visera abdominis Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks uteri. Uterus kemudian diangkat di atas kedua klem yang pertama. o Lapisan III: dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit dengan benang yang sama. Segmen bawah rahim diiris melintang seperti pada Seksio Sesarea transperitoneal profunda demikian jugacara menutupnya. Tunggulserviks uteri ditutup dengan jahitan (menggunakankatgut kromik nomer 1 atau 2) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptik. Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan menggunakan klem secukupnya. tetapi sekarang sudah sangat jarang dilakukan sehubungan dengan makin efektifnya antibiotika yang kita gunakan.   Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara: o Lapisan I : miometrium tepat di atas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang katgut kromik nomer 01 atau 02. Indikasi janin: Cacad bawaan yang berat Janin mati   Prosedur Tentukan apakah sudah terbentuk segmen bawah rahim. Jahit cabang arteri uterina yang diklem menggunakan benang sutera nomer 2. Indikasi: Indikasi Ibu: Dekompensasio kordis Hipertensi esensial yang berat Penyakit ginjal menahun dengan kemunduran fungsi ginjal Psikosis yang berat Mola hidatidosa SEKSIO SESAREA EKSTRAPERITONEAL  Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. maka dapat dilakukan tindakan seperti teknik seksio sesarea transperitoneal profunda. o Lapisan II : lapisan miometrium di atasnya dijahit secara kasur horisontal (Lambert) dengan benang yang sama. Seksio sesarea ekstraperitoneal ini terutama dilakukan pada kasus infeksi intrauterin . Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban. Satu klem juga ditempatkan di atas kedua klem tersebut.

kemudian sendok betina dimasukkan seperti memasukkan cunam/forsep. 2. Tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir secara obstetrik dan diletakkan di bawah simfisis. 3. Agar perforator tidak meleset pada waktu ditusukkan pada kepala janin. Persetujuan tertulis dan informed concent. preeklamsia dan eklamsia  Janin mati yang tidak mungkin lahir spontan pervaginam: letak lintang.  Konyugata vera lebih besar dari 6 cm. Bila menggunakan kranioklas. guna mengecilkan lingkar bahu. pasang duk steril  Kosongkan kandung kencing  Pasang infus bila diperlukan  Berikan narkose bila diperlukan. Seorang asisten memegang sendok jantan. kemudian diputar 90 derajat. Kemudian dilakukan tarikan searah sumbu panggul. maka arah perforator harus tegaklurus dengan permukaan kepala janin. Melubangi kepala janin dapat pula dilakukan secara langsung dengan perforator Naegele dengan cara seperti tersebut di atas. Syarat:  Janin mati. Cara dengan memakai spekulum. Ekstraksi bisa dilakukan dengan cunam mozeoux. dalam keadaan tertutup. ujung perforator dimasukkan ke lubang perforasi. dengan bagian yang bergerigi. 7. Jenis embriotomi:  Kranioklasi : tindakan untuk memperkecil ukuran kepala janin dan mengeluarkan isi tengkorak. Setelah semua persiapan selesai. kecuali pada: hidrosefalus. Di bawah lindungan tangan kiri yang di dalam. .  Tidak ada tumor jalan lahir yang menghalangi persalinan pervaginam Persiapan Ibu:  Tidur posisi litotomi pada meja ginekologi  Desinfeksi vulva. atau hendak melakukan kleidotomi pada distosia bahu. 4. penyakit jantung/paru. Penolong:  Cuci tangan  Sarung tangan  Baju operasi  Masker dan kacamata penolong Persiapan pelaksanaan: KRANIOTOMI: Kraniotomi biasanya disusul dengan ekstraksi kepala.  Eviserasi: tindakan merusak dinding thoraks untuk mengeluarkan organ viscera  Eksenterasi: tindakan merusak dinding abdomen untuk mengeluarkan organ abdomen  Spondilotomi: tindakan memotong ruas tulang belakang  Pungsi : tindakan untuk mengeluarkan cairan dari tubuh janin. sehingga janin dapat dengan mudah lahir pervaginam  Dekapitasi: tindakan untuk memisahkan kepala janin dan tubuhnya dengan cara memotong leher janin. sungsang macet. atau dilakukan menggunakan dengan 2 buah cunam mozeoux. 5. Satu di atas lobang perforasi dan satu di bawah. lubang perforasidiperlebar dengan cara membuka menutup ujung perforator beberapa kali. Kemudian perforator Naegele dimasukkan secara horisontal denganbga lengkung menghadap ke atas. Setelah ujung perforator masuk dalam tengkorak janin. dimana kulit kepala masih cukup kuat. Tindakan ini dikenal dengan perforasi kranioklasi. Mula-mula dibuat lubang pada UUB. dan diputar lagi ke posisi semula untuk dikeluarkan. dengan dilindungi tangan yang didalam seperti pada saat memasukkan. anak besar. dengan skalpel. vagina dan sekitar. yaitu bagian yang melengkung. atau UUK yang tahanannya kecil. 8. EMBRIOTOMI Embriotomi: suatu persalinan buatan dengan cara merusak atau memotong bagian-bagian tubuh janin agar dapat lahir pervaginam tanpa melukai ibu. menghadap ke atas dan dimasukkan ke dalam lubang perforasi sejauh mungkin. seorang asisten menahan kepala janin dari luar. bila maserasi janin masih tingkat 1.  Pembukaan serviks >7 cm  Selaput ketuban sudahpecah / dipecah. ruptura uteri iminens. kulit kepala janin secara langsung dijepit selebar dan sedalam mungkin dengan 2 cunam mozeoux. Indikasi:  Janin mati ibu dalam keadaan bahaya (maternal distress): persalinan lama. guna melindungi kandung kemih dan ureter. 6. hidrops fetalis. Sendok jantan dipegang oleh tangan kanan secara horizontal. Setelah suboksiput di bawah simfisis dilakukan elevasi ke atas untuk melahirkan kepala. Bagian yang melengkung kemudian diarahkan ke muka. dimasukkan ke dalam jalan lahir sedemikian rupa sehingga daun kranioklas betina berada di muka janin. sutura sagitalis. Prosedur kraniotomi: 1. Setelah kepala lahir badan janin dilahirkan sebagaimana mestinya. atau kepala janin sudah di pintu bawah panggul (Hodge IV). Cairan tidak perlu dikeluarkan oleh karena akan keluar sendiri pada saat ekstraksi. Alat yang digunakan:  Perforator Naegele. dibuka ditutup lagi. sambil mengikuti putaran paksi dalam.  Kranioklas Braun  Cunam Mozeoux  Spekulum Sims.  Kleidotomi: tindakan untuk memotong atau mematahkan 1 atau 2 klavikula. mula-mula tangan kiri dimasukkan ke dalam jalan lahir.

kunci kranioklas dibuka dankepala dilahirkan seperti biasanya. Setelah kepala terpisah dengan badan janin. lengan yang menumbung ini diikat dengan tali atau kasa perban. . Satu tangan penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir. 3. Pengait Braun dimasukkan ke dalam jalan lahir dengan ujung menghadap ke bawah dengan cara menelusuri tangan dan ibu jari penolong yang berada di leher. kemudian kepala dilahirkan seperti pada persalinan letak sungsang. 2. tangan lain memotong klavikula dengan gunting Siebold secara avue sehingga patah. Kedua sendok kranioklas ditutup. 4.9. dimasukkan ke jalan lahir. Peralatan:  Gunting Siebold  Spekulum Sims  Cunam abortus atau Tang Bend Prosedur: 1. Stelah suboksiput di bawah simfisis dilakukan elevasi ke atas untukmelahirkan kepala bayi. Memotong leher janin dapat dilakukan dengan gergaji Gigli. badan janin dilahirkan terlebih dulu dengan menarik tangan janin. Dipasang spekulum pada dinding vagina bawah. 3. Kemudian dilakukan ekstraksi dengan memegang tangkai kranioklas. Setelah kepala lahir. Bila dengan 1 klavikula yang terpotong bahu belum lahir. EVISERASI /EKSENTERASI Dilakukan pada:  Letak lintang dimana leher sukar dicapai  Kelainan bawaan : hidrop fetalis. 11. Satu tangan penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir. dilakukan pemeriksaan dalam ulang. Gergaji dinaik-turunkan sampai leher putus kemudian badan dan kepala dilahirkan seperti tersebut di atas. secara avue (melihat secara langsung) dengan memasang spekulum Sims pada vagina. Tangan penolong yang dekat dengan leher . Kulit danotot-otot leher dipotong sedikit demi sedikit. dapat dipotong klavikula yang lain. 2. dan pengait dikaitkan pada leher. KLEIDOTOMI Dikerjakan pada distosia bahu Peralatan:  Gunting Siebold  Spekulum Sims Prosedur: 1. 5. dll. kranioklas ditutup serapat mungkin. melalui lubang yang dibuat organ-organ visera dan abdomen dikeluarkan. Bila janin letak lintang disertai tangan menumbung. Bersamaan dengan itu kepala janin dipegang kuat oleh seorang asisten. kemudian mengambil satu tangan janin dibawa keluar vagina. kemudian secara avue dinding thoraks atau dinding abdomen dilubangi sehingga menembus rongga thoraks atau abdomen. Setelah hasil pemeriksaan ulang baik. Untuk memutuskan jaringan-jaringan lunak dapat dipakai gunting Seold. dan langsung mencekam leher. Setelah badan janin mengecil . dan kepala dilahirkan secara Mauriceau. pada letak lintang badan janin dikeluarkan dengan versi ekstraksi. Setelah semua persiapan selesai. dan ditarik oleh seorang asisten ke arah bokong. Arah tarikan searah dengan sumbu panggul dan mengikuti gerakan putaran paksi dalam. yang dapat dikerjakan dari arah belakang atau dari arah muka. dengan ibu jari berada di depan leher dan jari-jari lain berada di belakangnya. Pada letak sungsang tertinggal (after coming head). di bawah mulut. 10. Diketahui dengan bunyi tulang yang berderak. 2. sehingga tulang leher patah. untuk memeriksa apakah ada jalan lahir yang terjepit dan apakahkranioklas sudah terpasang dengan baik. perforasi dibuat pada foramen magnum. dan langsung memegang klavikula terendah (klavikula posterior). 4. Dengan spekulum terpasang dalam vagina. Pada saat yang bersamaan seorang asisten menekan kepala. 6. DEKAPITASI Dilakukan pada letak lintang Peralatan:  Pengait Braun  Gunting Siebold  Spekulum Sims Prosedur dekapitasi: 1. Dengan pengait ini mula-mula leher janin ditarik kuat ke bawah danpengait Braun diputar ke arah kepala janin. Lengan janin ditarik ke bawah menjauhi perut janin. Dengan cunam abortus atau tang Bend yang bergigi.

Syarat : 1. saat skapula janin terlihat pada vulva . dapat digunakan cunam Muzeaux untuk ekstraksi pada kulit kepala. Ibu kesakitan 2. kemudian dalam vagina dipasang spekulum. sehingga kepala mengecil dan dapat dilahirkan pervaginam. Dorongan Kristeller dihentikan bila:  Pada persalinan letak kepala. Disproporsi kepala panggul 2. Komplikasi yang dapat terjadi : 1. dimana kepala sangat tinggi sukar dilakukan dekapitasi Peralatan:  Gunting Sebold  Spekulum Sims Prosedur: 1. 3. Kemudian semprit dilepas. Indikasi : 1. Ruptura uteri 3. Peralatan:  Spekulum Sims  Cunam Willett/Muzeaux Prosedur: 1. Bekas perlukaan dinding rahim (relatif) PUNGSI KEPALA Dilakukan pada hidrosefalus. His adekuat Indikasi kontra: 1. Kemudian dilakukan aspirasi sedikit untuk membuktikan benar tidaknya cairan otak yang keluar. kemudian baru bagian tubuh atas janin. telapak tangan diletakkan pada fundus uteri dan mengadakan dorongan bersamaan dengan his serta pengejanan ibu. dimasukkan ke dalam jalan lahir. menghadap ke arah panggul. Pada persalinan letak kepala . Bagian bawah janin sudah berada di dasar panggul 2. selanjutna dilakukan pungsi dengan menusukkan jarum pada kepala janin. kulit kepala dijepit dengan cunam Muzeoux/Willett. Dengan satu atau kedua lengan lurus. Salah satu tangan penolong . Dikerjakan pada pembukaan 4 cm. Dengan gunting Siebold dan dengan lindungan tangan yang di dalam. sedapat mungkin pada sutura atau ubun-ubun. dipasang spekulum vagina.  Pada persalinan letak sungsang. 2. Ruptura perinei Prosedur: Penolong duduk di sebelah kiri dada ibu.SPONDILOTOMI Dilakukan pada letak lintang. dilanjutkan pada bagian perut sampai seluruh badan janin dilahirkan lebih dulu dengan menarik kedua kaki. ruas-ruas tulang belakang dipotong sampai putus. DORONGAN / EKSPRESI KRISTELLER Dorongan Kristeller adalah dorongan tangan penolong persalinan pada fundus uteri dengan arah menuju panggul yang bertujuan untuk membantu persalinan kala II. Untuk mempercepat lahirnya kepala.Ibu kelelahan . sehingga cairan otak akan mengalir keluar. 2.Kemajuan persalinan yang lambat 2. saat kepala janin keluar pintu. Pada persalinan sungsang: dilakukan saat bokong membuka pintu dengan tujuan untuk memperlancar persalinan kala II dan agar lengan janin tidak menjungkit.

antibiotika. striktur  Passanger: keadaan janin (presentasi.  Kaca mata pelindung PROSEDUR PERSALINAN NORMAL               Mengosongkan kandung kemih. kaki. memudahkan anak keluar/mencegah luka Rektum: memperkuat his dan menjaga asepsis karena feses keluar Pengawasan 10 Desinfeksi vulva ibu: rambut pubis? Memimpin mengejan waktu ada his Mengawasi DJJ setiap selesai mengejan Mula-mula anak membuka pintu: terlihat kepala waktu ada his Kepala keluar pintu. lalu ke atas sampai bahu belakang lahir Kemudian tarikan sejajar sampai perut. antibiotika   Anak: o Resusitasi set: klem talipusat.5 jam  Multipara : 7. klem tali pusat Lakukan Inisiasi Menyusu Dini     . tetes mata. peralatan. tenaga mengejan  Pasage: jalanlahir (panggul). Operator:  Celemek. Lakukan manajemen aktif kala III: Rawat anak. Persiapan persalinan normal. setiap 4 jam/penuh. kelainan kongenital.  Masker. berlangsung kurang dari 18 jam (WHO). Persalinan spontan: persalinan yang berlangsung hanya dengan kekuatan ibu sendiri. o Obat-obatan: uterotonika. Prognosis persalinan tergantung:  Power: his. perlak. untuk memperkuat his. sedot lendir o Obat anak: vit K. handuk kecil. tumor. hidung. bedong. lahir. dengan paritas kurang dari 5. pembukaan 2 cm. povidon iodin o Handuk lebar. o Duk steril. muka anak diusap dengan handuk kecil Kemudian kita memegang kepala anak dihadapkan sesuai bagian-bagian kecil anak Dengan tangan kiri di atas dan tangan kanan di bawah (pada letak pungggung kiri) kepala anak kita tarik ke bawah sampai bahu depan lahir. dengan tangan kiri Ibu disuruh berhenti mengejan Ekstensi perlahan-lahan dengan suboksiput sebagai hipomoklion.DASAR PERSALINAN Persalinan / partus : Serangkaian proses di mana hasil konsepsi genap bulan atau hampir genap bulan dikeluarkan dari tubuh ibu.5 jam Kala II:  Primipara: 60 menit  Multipara: 30 menit Mulainya inpartu: ada his yang teratur. rigid. bayi satu.  Sepatu boot. genap bulan. Persalinan normal: Persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri. terlihat kepala waktu ada / tidak ada his Dilakukan episiotomi bila diperlukan saat kepala tampak sebesar telur bebek Menahan perineum dengan tangan kanan dan membantu fleksi kepala anak sampai suboksiput di bawah simfisis. sehingga lahirlah dahi. Disamping faktor: penolong. UUK lintang. mulut dan dagu. UUK belakang o Sinsipital: letak puncak o Presentasi dahi (brow) o Presentasi muka (face)  Presentasi bokong  Presentasi bahu Lama inpartu: Kala I:  Primipara : 13. letak belakang kepala kala I:  Menunggu sesuai kurve Friedman / partograf  Menyiapkan alat-alat:  Ibu : o Episiotomi & jahit set (primi) o Set persalinan normal: klem tali pusat. tak ada komplikasi ibu dan anak.  Sarung tangan. berat. Macam presentasi  Presentasi kepala: o Vertex (oksipital): UUK depan. letak belakang kepala. bungkus handuk kering. keringkan. bokong. Persalinan fisiologis: sama dengan persalinan normal ibu berusia 20-30 tahun.

keadaan keluarga setelah dirawat. lilitan tali diperut & pantat. jamu. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan 10.ASUHAN SAYANG IBU DALAM PROSES PERSALINAN :               Panggil ibu sesuai namanya. bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN JANIN BAIK 7. tentramkan hati ibu & keluarganya Berikan kesempatan untuk ditemani suami & keluarga yang lain Ajarkan suami & keluarga mengenai bagaimana bisa membantu dan mendukung selama persalinan Laksanakan pencegahan infeksi yang baik Hargai privasi ibu Beri kesempatan mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi Anjurkan ibu untuk minum dan makan sepanjang menginginkan Hargai dan perbolehkan praktik tradisional sepanjang tidak merugikan ibu & bayi Persiapan persalinan & kelahiran bayi : perlengkapan yang perlu disiapkan penolong &keluarga Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan: episiotomi. Membersihkan vulva dan perineum.5 %→ langkah no. 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering. pencukuran & klisma Rencana pasca salin  Bayi diserahkan pada ibu sesegera mungkin. Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi / saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-160 x / menit)  Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal  Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam. hargai ibu sesuai martabat Jelaskan semua asuhan dan proses persalinan yang akan dilakukan kepada ibu & keluarganya Beri kesempatan ibu untuk bertanya dan hilangkan kekhawatiran Berikan dukungan.lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0. istirahat & tidur cukup & mobilisasi segera  Perawatan tali pusat yang bersih  Tidak perlu dipijat perut. Untuk asfiksia → tempat datar dan keras. DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf   . Pakai celemek plastik 4. perineum atau anus terkontaminasi tinja. cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering 5.  Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi 9. didoakan  Inisiasi menyusu dini & rawat gabung  Nutrisi tanpa pantangan (mutih & nganyep). besarkan hatinya. menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang dibasahi air DTT  Jika introitus vagina. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0. campuh vagina. lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi  Menggelar kain di atas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi  Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set 3. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah lahir (Inisiasi Menyusu Dini) Rencana rujukan bila diperlukan: kemana. Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk periksa dalam 6. kapan ? BAKSOKUDA ASUHAN PERSALINAN NORMAL(& Inisiasi Menyusu Dini) I. pilis dahi & perut. Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap. 9) 8. bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang  Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia  Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi.5 % kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan 0. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN 2.5% selama 10 menit. Pastikan kelengkapan peralatan. Mengenali gejala dan tanda kala dua  Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran  Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina  Perineum tampak menonjol  Vulva dan sfingter ani membuka II. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai. Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik) III.

PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI 15. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering. dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. bokong. Dengan lembut gerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang 23. Lakukan penilaian (selintas) : a. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan VI. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik 29. 27. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. geser tangan bawah ke arah perineum ibu untuk menyanggah kepala. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran :  Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif  Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai  Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)  Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi  Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu  Berikan cukup asupan cairan per-oral (minum)  Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai  Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam) meneran (multigravida) 14. Setelah 2 menit pasca persalinan.IV. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan 18. Keringkan tubuh bayi  Keringkan bayi mulai dari muka. bantu ibu keposisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman) 13. Biarkan bayi di atas perut ibu. Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya  Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran. Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan Lahirnya Bahu 22. Pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya) VII. Ganti handuk basah dengan handuk / kain yang kering. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR 25. 31. (bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar. lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang ada  Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar 12. dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut)  Ikat tali pusat dengan benag DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya  Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan  . Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu. jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi). dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi  Jika tali pusat melilit leher secara longgar. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir. jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit V. PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Lahirnya Kepala 19. kepala. jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm 16. Setelah kedua bahu lahir. tidak bernapas atau megap-megap lakukan langkah resusitasi (lanjut ke langkah resusitasi pada asfiksia bayi baru lahir) 26. MENYIAPKAN IBU &KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES BIMBINGAN MENERAN 11. Anjurkan ibu untuk berjalan. lengan dan siku sebelah bawah. Setelah tubuh dan lengan lahir. klem tali pusat di dua tempat dan potong di antara dua klem tersebut 21. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal) 28. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi. berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman. penelusuran tangan atas berlanjut ke punggung. Pemotongan dan pengikatan tali pusat  Dengan satu tangan. lepaskan lewat bagian atas kepala bayi Jika tali pusat melilit leher secara kuat. Apakah bayi bergerak dengan aktif ? Jika bayi tidak menangis. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat dan dangkal 20. tungkai dan kaki. suntikan oksitosin 10 unit IM (intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin) 30. Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu 17. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas 24. pegang secara biparental. Apakah bayi menangis kuat dan /atau bernapas tanpa kesulitan ? b. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.

Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi VIII. lakukan masase uterus. Bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Setelah satu jam. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA TIGA 34. Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau tempat khusus 41. Cuci dan bilas peralatan setelah didekontaminasi 52. lahirkan plasenta dengan kedua tangan. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya 5. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban perpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan. minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas. Bayi cukup menyusu dari satu payudara  Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu 44.5-37. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva 35. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif.32. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada / perut ibu. Saat plasenta muncul di introitus vagina. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam  2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan  Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan  Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan  Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik. Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila terjadi perdarahan. Ajarkan ibu / keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi 48. dan vitamin K1 1mg intramuskular di paha kiri anterolateral 45. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik. Tangan lain menegangkan tali pusat 36. MELAKUKAN PROSEDUR PASCA PERSALINAN 42. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam 43. pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal Rangsangan Taktil (Masase) Uterus 39.5) Kebersihan dan Keamanan 51. Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas. Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60 kali/ menit) serta suhu tubuh normal (36. segera lakukan plasenta manual 38. Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Setelah satu jam pemberian Vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral  Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan  Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu Evaluasi 46. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun. hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur di atas  Jika uterus tidak segera berkontraksi. beri tetes mata antibiotik profilaksis. untuk mendeteksi. Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh 3. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah 49. mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)  Jika tali pusat bertambah panjang. minta ibu.  Jika selaput ketuban robek. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. di tepi atas simfisis. MENILAI PERDARAHAN 40. suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu Mengeluarkan Plasenta 37. lakukan penimbangan / pengukuran bayi.5 % untuk dekontaminasi (10 menit). Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu 33. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai .  Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan 4. Setelah uterus berkontraksi. pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta  Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat : 1. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan  Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan  Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal 50. segera lakukan penjahitan X. letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)  Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase IX. tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri 47. Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM 2.

periksa tanda vital dan asuhan kala IV PERSALINAN PATOLOGIS / PENYULIT PERSALINAN INERSIA UTERI: Inertia uteri: kelainan dalam kontraksi sehingga tidak timbul pembukaan Pembagian inersia uteri:  Saat timbulnya:  Inersia uteri primer: saat fase laten  Inersia uteri sekunder: saat fase aktif  Kekuatan kontraksi:  Inersia uteri hipotonik: kontraksi mengurang. kembung karena kekurangan Kalium Obyektif:  Tanda vital: tensi turun.5% selama 10 menit 57. kontraksi keras. penderita disuruh berjalan – jalan  Pecah KK (bila pembukaan > 6 cm)  Drip Oksitoksin 5 U dalam 500 cc D 5% mulai 8 tetes dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit sampai his adekuat. dehidrasi  Meterorismus. terapi dengan oksitosin  Inersia uteri hipertonik: his tidak teratur. nyeri hebat. lendir dan darah. terapi sedatif Bila his mundur. Pastikan ibu merasa nyaman. Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkannya 55. max 20 tetes per menit PERSALINAN LAMA Persalinan lebih 24 jam mulai dari kala I Penyebab persalinan lama:  Inersia uteri karena anemia (power)  Kelainan letak/bentuk anak:  Kelainan jalan lahir: tumor. perlu tindakan perbaikan his mulai dari yang teringan :  Perbaiki keadaan umum ibu dengan Infus glukosa 10%  Kosongkan VU. suhu badan  Tanda infeksi alat genital (edema& bau): vulva. nadi naik.53. portio uteri eksternum Sikap: akhiri persalinan dengan  Perbaikan keadaan umum  PDV: untuk ambil tindakan . Bantu ibu memberikan ASI . disproporsi kepala panggul Bahaya persalinan lama:  Kelelahan  Perdarahan pasca salin  Infeksi  Gawat janin: asfiksia  Ruptura uteri  Fistula Tanda: Subyektif  Keadaan umum lemah. Bersihkan ibu dengan menggunakan air DTT.5 % 56. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering 54. tak nyeri.5 % balikkan bagian dalam ke luar dan rendam dalam larutan klorin 0. Bersihkan sisa cairan ketuban. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang). Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir Dokumentasi 58. Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0. rektum.

vaginitis Terapi:  Akhiri persalinan bila ada indikasi. pembukaan (-)  PDV: pembukaan dan penurunan  Ukur: Ukuran panggul dalam/luar.  Letak anak dengan rontgen/usg  Rektum dan kandung kemih kosongkan  Jika pembukaan > 4cm. inersia uteri. ketika hamil muda atau sebelum inpartu. Penyebab:  Pecahnya korion & amnion pada hamil muda (32 minggu) Tanda :  Keluar cairan merembes  Tinggi fundus uteri tak sesuai dengan umur kehamilan. bila ada indikasi. terasa sakit Diagnosa banding:  Liquor yang palsu berasal dari peradangan: endometritis. anggota badan janin  Syok obstetri: emboli air ketuban Komplikasi:  Imaturitas / prematuritas  Kelainan kongenital . lebih kecil dari umur kehamilan  Pergerakan anak lebih sering. KETUBAN PECAH DINI Ketuban pecah dini: kulit ketuban pecah sebelum inpartu Fungsi air ketuban saat kehamilan:  Bantalan bagi fetus terhadap goncangan  Memungkinkan gerak anak  Membuat suhu konstan  Menyamakan tekanan dari tali pusat dan fetus  Menghindari perlekatan fetus dengan amnion  Dalam jumlah sedikit diminum Fungsi air ketuban saat persalinan:  Menyamakan tekanan pada fetus dan kontraksi uterus  Mengurangi luas plasenta side yang terlepas  Membantu menahan kuman masuk  Membantu pembukaan Mikroskopis cairan ketuban:  Sel amnion  Verniks kaseosa  Lanugo Risiko ketuban pecah dini:  Persalinan kering  Persalinan lama: penurunan sulit. HIDRORE AMNIOTIKA: Hidrore amniotika: pengeluaran cairan sedikit/ merembes. servisitis. pecah KK  Jika inersia uteri: lakukan perbaikan his dengan drip oksitosin.Pencegahan dan pengobatan persalinan lama  Jangan paksa ibu bersalin karena false labor: serviks memanjang. syarat terpenuhi. KK (+). Tanpa indikasi kontra.  Jika ada indikasi seksio sesarea KETUBAN PECAH AWAL Kulit ketuban pecah waktu inpartu sebelum pembukaan 7 cm  Bahaya: penumbungan. macet  Gawat janin  Infeksi fetal  Penumbungan tali pusat.

. Harus bertindak dengan lembut (gentle) TALI PUSAT MENUMBUNG Letak kepala:  Pembukaan kecil: o Reposisi. paresis dan fraktura). dorongan Kristeller. Indonesia 3500 gr Perjalanan persalinan dikatakan baik bila setiap cm penambahan pembukaan kala I butuh waktu tidak lebih 2 jam.memakai tenaga penolong seluruhnya. Tidak boleh mendorong dan tidak boleh menarik / ekstraksi. Sudah tak dipakai lagi o Ekstraksi kaki o Ekstraksi bokong Persalinan per abdominam:  Semua presentasi sungsang yang alami penyulit dan ada indikasi akhiri persalinan tetapi syarat pervaginam tidak memenuhi  Semua presentasi kaki Pedoman penting persalinan sungsang menurut ALARM:     Batasan berat pervaginam: maksimal di Kanada 4000 gr. TALI PUSAT TERKEMUKA Diagnosis:  Pada letak kepala tak masuk PAP  Gerak janin cepat  Bising tali pusat  PDV meraba tali pusat Tindakan:  Pembukaan belum lengkap :  Usahakan KK tetap positif  Ibu posisi Trendelenberg  Miring ke samping yang berlawanan dengan letak talipusat  Tunggu sampai pembukaan lengkap:  Pecah KK  Dari luar tekan kepala anak masuk PAP  Berhasil jika: o Denyut jantung Janin baik o Tak menumbung Jika tak berhasil ekstraksi vakum Macam letak sungsang:     Presentasi bokong sempurna (Complete Breech Presentation): bokong kaki Presentasi bokong murni (Frank Breech) Presentasi bokong tak sempurna (Incomplete Breech) : satu kaki menjulur ke bawah Presentasi kaki Macam persalinan sungsang: Persalinan per vaginam:  Spontan (Bracht): bayi dilahirkan dengan kekuatan ibu sendiri  Semi spontan / partial extraction:persalinan yang dibantu (Assisted breech delivery / Partial breech extraction). manual aids: o Muller o Klasik o Lovset o Melahirkan kepala : Mauriceau  Full Breech extraction: Bayi dilahirkan dengan proses. o Posisi Trendelenberg o 1 tangan masuk vagina o Tidak berhasil seksio sesarea  Pembukaan hampir lengkap: o Koromelas o Ekstraksi vakum  Pembukaan lengkap: kepala belum masuk PAP : ekstraksi vakum  Multipara pembukaan lengkap: kepala masuk. forsep  Semua sungsang dengan presentasi kaki semuanya harus seksio sesarea.  Asfiksia  Trauma (perdarahan intrakranial.KELAINAN TALIPUSAT Normal panjang: 30 – 50 cm PDV: pada jam? Berdenyut? Kelainan:  Talipusat terkemuka: kulit ketuban (+)  Tali pusat menumbung: kulit ketuban (-) LETAK SUNGSANG Pada persalinan sungsang morbiditas dan mortalitas bayi lebih besar dibandingkan dengan persalinan letak kepala. karena :  Prematuritas. Penyebab morbiditas dan mortalitas persalinan sungsang seperti tersebut di atas terutama diakibatkan oleh persiapan jalan lahir yang tidak sempurna dikarenakan pada letak sungsang bagian presentasi adalah bagian yang lunak (bokong).  Perdarahan pasca persalinan dan atau trauma jalan lahir. serta bokong dan kaki janin lebih mudah terangsang di luar badan ibu.

Karena kontraksi uterus dan pengejanan ibu. 6. bokong turun sampai mencapai dasar panggul. terjadi fleksi lateral badan janin sehingga trokanter belakang melewati perineum. Di dasar panggul ini terjadi putaran paksi dalam sehingga garis pangkal paha (bitrokanter) menempati posisi antero-posterior pada pintu bawah panggul. bahu belakang melewati perineum diikuti dengan fleksi lateral badan janin sehingga bahu depan dan lengan depan lepas dari bawah simfisis. Saat suboksiput berada di bawah simfisis.Memakai jas. dapat dilakukan embriotomi secara perforasi – kranioklasi melalui foramen magnum. topi dan masker. 5. Saat trokanter depan berada di bawah simfisis. Bila perlu boleh dilakukan dorongan cara Kristeller untuk mencegah tangan janin menjungkit Persalinan sungsang pervaginam Syarat :  Pembukaan benar-benar lengkap  Kulit ketuban sudah pecah  His adekuat Selain itu untuk persalinan sungsang pervaginam juga diperlukan penilaian menurut Zatuchni-Andros dan Gimovsky.  Kepala masuk pintu atas panggul dalam keadaan fleksi dengan oksiput misalnya berada pada kuadran kiri depan. Lahirnya bokong diikuti kedua kaki dan kemudianterjadi putaran paksi luar yaitu badan janin berputar sehingga perut ke belakang dan punggung ke depan. misalnya bahu depan berada pada kuadran kanan depan. o Alat-alat perawatan tali pusat Persiapan penolong : . Persalinan sungsang spontan:   Persalinan sungsang spontan penuh (tidak memerlukan bantuan penolong samasekali) Persalinan sungsang cara Bracht :  Prinsip persalinan sungsang cara Bracht ini adalah membantu agar sumbu janin sesuai dengan sumbu panggul ibu sehingga kekuatan his dan pengejanan ibu menjadi efektif.Bila bayi mati: selain cara tersebut di atas bila terjadi persalinan macet kepala tertinggal (After Coming Head).Forsep Piper / Naegele steril. Persiapan alat-alat : . . dagu.  Faktor kekuatan ibu cukup (adekuat)  Persiapan sebelum melakukan persalinan sungsang dengan cara Bracht: Persiapan ibu : o Desinfeksidaerah genitalia (vulva toilet). Prosedur persalinan sungsang cara Bracht : 1.  Bayi pertama pada persalinan ganda.  Bahu masuk pintu atas panggul dengan diameter biakromial miring / melintang. mulut dan akhirnya seluruh kepala.  . dagu berada pada kuadran kanan belakang dengan diameter suboksipito-bregmatika dalam keadaan miring / melintang. Segera setelah bahu lahir. kepala lahir dalam keadaan fleksi dengan dagu. sedang jari-jari yang lain memegang belakang panggul 4.  Syarat persalinan sungsang cara Bracht :  Jalan lahir luas dan bayi tidak besar. segera kendorkan tali pusat tersebut. lakukan episiotomi (dengan anestesi lokal sebelumnya ) 3. muka. kening dan verteks melewati perinium. Di dasar panggul ini terjadi putaran paksi dalam yaitu daerah suboksiput berputar sehingga sutura sagitalis dalam posisi anteroposterior. ibu dipimpin mengejan 2. bahu dan lengan.Peralatan partus (termasuk peralatan jahit dan kain / duk steril) . Saat ada his. penolong berdiri didepan vulva. Pada waktu bahu depan berada di bawah simfisis. Indikasi kontra :  Terdapat disproporsi janin – panggul  Kepala janin defleksi (star gazing fetus). Segera setelah bokong lahir. Persalinan sungsang spontan Mekanisme persalinan sungsang :  Bokong janin masuk pintu atas panggul dengan diameter bitrokanter miring / melintang. Ibu dalam posisi litotomi. Kepala turun ke dasar panggul dalam keadaan fleksi. o Kalau perlu pasang infus Persiapan bayi : o Peralatan resusitasi. Di dasar panggul bahu mengadakan putaran paksi dalam sehingga diameter biakromial terletak anteroposterior. dada. Pada waktu tali pusat lahir dan teregang. bokong dan badan janin diangkat dengan kedua tangan penolong dan disesuaikan dengan sumbu panggul ibu (melengkung ventro – kranial kearah perut ibu ) sehingga berturut–turut lahir pusat.Cuci tangan dan memakai sarung tangan steril. bahu mengadakan putaran paksi luar dengan demikian diameter biakromial menjadi lintang. bokong dicekam dengan cara kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panggul. Kaki. Saat bokong membuka vulva.

Kegagalan menolong dengan cara Bracht.  Pada persalinan sungsang cara Bracht ini. Angkat kedua kaki janin sesuai dengan posisi bahu depan. Jika lengan belum keluar. keluarkan lengan dengan cara mengusap lengan atas janin dengan dua jari tangan penolong berfungsi sebagai spalk. Prinsip mengeluarkan lengan secara klasik adalah bahwa lengan janin diletakkan pada panggul bagian belakang karena daerah ini lebih luas bila dibandingkan dengan panggul bagian depan. lakukan periksa dalam vagina untuk mengetahui posisi dagu janin sebagai titik petunjuk (point of direction).3 cm / jam. Cara Mueller : Apabila kedua lengan berada di depan badan janin maka persalinan cara Mueller dapat dilakukan. Prinsip cara Mueller adalah mengeluarkan lengan depan terlebih dahulu dengan badan janin ditarik ke arah yang berlawanan. mengeluarkan bahu dan lengan sesuai dengan letak bahu dan lengan janin Tahap III.Keterangan :  Pemilihan kasus yang akan ditolong dengan cara Bracht ini harus cermat sesuai dengan syarat tersebut diatas. Setelah lengan keluar. Kepala janin tidak dalam keadaan defleksi. Perjalanan kala I harus sesuai dengan kurve Friedman. Persalinan sungsang yang dibantu(assisted breech delivery / partial breech extraction ) Paling sering dilakukan. mengeluarkan kepala sesuai dengan letak janin Mengeluarkan bahu dan lengan janin: A. Bila persyaratan di atas tidak terpenuhi maka pilihan persalinan dengan seksio sesarea. manipulasi terhadap janin hanya sedikit.3 / lebih rendah -1 / lebih rendah < 37 mgg < 3175 gr >2 > 4 cm Bila skor : < 4 = Persalinan dianjurkan dengan seksio sesarea 4 = Dilakukan reevaluasi. Cara Klasik : Cara klasik terutama dilakukan bila kedua lengan tidak berada di depan badan janin. mengharuskan kita menolong dengan cara lain misalnya cara klasik. sehingga komplikasi pada janin maupun ibu juga tidak banyak didapatkan. C. Pada keadaan lengan tengkuk. Pada setiap persalinan sungsang pervaginam harus tetap dipersiapkan operasi setiap saat bila diperlukan 2. Cara Lovset : Karena memutar bahu janin dengan cara Klasik pada umumnya sukar dan berat. pengawasan persalinan yang ketat.Sebelum melakukan pertolongan sebaiknya dilakukan penilaian keberhasilan persalinan sungsang. misalnya pada keadaan lengan menjungkit / lengan tengkuk. Pengawasan ketat keadaan janin selama persalinan 6. dapat lahirpervaginam tetapi masih mungkin tindakan operatif. Melahirkan kepala yang tertinggal (after coming head) Sebelum melakukan tindakan ini. Ukuran dan bentuk panggul baik 5.  Primigravida 1 cm / jam. Terdapat 3 (tiga) tahap prinsip persalinan sungsang dengan bantuan yaitu : .    Tahap I. Dengan dua jari telusuri lengan atas yang berlawanan (belakang) dan usap lengan atas tersebut dengan tujuan mengeluarkan lengan belakang. pertolongan bokong sampai tulang belikat terdapat pada vulva (di sini pertolongan sesuai dengan cara Bracht) Tahap II. pegang kedua kaki dengan tangan yang lain dan ayun (ke bawah kemudian ke atas lagi) sehingga bahu depan menjadi bahu belakang dengan demikian kedua kaki berada pada daerah yang berlawanan dengan bahu. Umur kehamilan antara 36 – 42 minggu 4. maka Lovset mengajukan cara untuk memutar bahu yang lebih mudah yaitu dengan cara dua tangan penolong mencekam dada dengan kedua ibu jari sejajar dan berdekatan dengan punggung janin kemudian diputar sesuai dengan tujuan tindakan yang dikehendaki. B. Cara ini dilakukan bila lengan janin dalam keadaan menjungkit. Taksiran berat janin antara 2000 – 4000 gram 3. 5 = Persalinan diharapkan dapat pervaginam Cara penilaian lain adalah menurut Gimovsky yang menyatakan bahwa persalinan sungsang pervaginam cukup aman jika : 1. angkat kedua kaki bayi ke depan berlawanan dengan letak bahu belakang sehingga lengan belakang keluar. Setelah keluar.  Multigravida 1. 7. Banyak metode untuk keperluan penilaian ini diantaranya skor indeks Zatuchni dan Andros : Nilai 1 0 Paritas PrimigravidaMultipara 2 Umur kehamilan > 39 minggu 38 mgg Taksiran Berat Janin > 3630 gr 3629 – 3176 gr Persalinan sungsang 0 1 sebelumnya (> 2500 gr) Pembukaan 2 cm 3 cm Penurunan tinggi . diupayakan agar lengan janin menjadi lengan menjungkit (keluar dari daerah tengkuk) dengan cara memutar badan janin menjauhi lengan tengkuk.

sedangkan jari telunjuk dan jari manis mencekam fosa kanina. kemudian badan janin ditarik ke bawah (operator jongkok) 2. Posisi tangan operator ini berguna untuk memastikan agar kepala janin tetap dalam keadaan fleksi (kalau perlu operator jongkok). Kedua kaki janin kemudian diangkat ke atas dan ke depan perut ibu sehingga kepala janin lahir dengan submentum sebagai hipomoklion D. Tangan operator yang lain memegang kedua kaki janin dan mengangkatnya ke atas. Selanjutnya proses pengeluaran kepala adalah seperti cara Maurieau di atas. Prosedur : 1. Ekstraksi kaki :  Dilakukan bila ada indikasi untuk mengakhiri persalinan dengan bagian terbawah janin adalah kaki dan memenuhi syarat untuk persalinan sungsang serta tidak ada indikasi kontra. Setelah itu masukkan forsep di antara janin dan jalan lahir. Satu tangan operator berada di bawah punggung janin dengan jari tangan mencekam bahu dari belakang. tangan operator yang berada pada posisi yang sama dengan os sakrum dimasukkan ke dalam vagina untuk menelusuri bokong. Adakan tarikan percobaan. Prosedur : 1. Kunci tangkai forsep di depan badan janin 4.A. Pada waktu suboksiput berada di bawah simfisis. Dilakukan traksi ke bawah sehingga submentum berada di bawah simfisis.namun bila tidak adadapat digunakan forsep Naegele atau Kielland. Cara Naujoks : Teknik ini dilakukan bila kepala masih tinggi (di atas pintu atas panggul). dilakukan tarikan dengan suboksiput sebagai hipomoklion sambil menahan perineum. dilakukan traksi sampai suboksiput lahir di bawah simfisis. Bila berhasil. Bila satu atau dua kaki janin sudah berada di luar vulva kaki tersebut dipegang dengan dua tangan operator pada betis dengan kedua ibu jari berada pada punggung betis. persalinan macet Prosedur Bila kaki janin masih terdapat di dalam vagina. tali pusat menumbung o Obstetri : Kala II lebih dari 5 jam. Cara Naujoks sedapat mungkin dihindari oleh karena sering menyebabkan komplikasi berat pada janin. C. lakukan periksa dalam vagina untuk mengetahui posisi dagu sebagai titik petunjuk 2.   1. 2. B. Kepala janin dimasukkan ke dalam panggul dengan posisi dagu di samping yaitu dengan cara kedua tangan operator mencekam bahu ke arah depan dan belakang. 2. Dilakukan bantuan tekanan pada kepala janin di atas simfisis agar kepala janin dapat masuk panggul. Setelah putaran paksi selesai. . Ekstraksi sungsang(total breech extraction) A. Badan janin sedikit demi sedikit ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion 4. paha janin sampai lutut guna mengadakan abduksi pada janin sehingga kaki janin keluar. Sebelumnya. Indikasi ekstraksi sungsang : o Ibu : sama dengan ekstraksi forsep o Janin : Gawat janin. 2. forsep diputar sesuai dengan sumbu panggul di mana daun forsep berada dengan tujuan agar dagu berada di belakang kemudian tangkai forsep ditarik sesuai dengan sumbu panggul. Cara pengeluaran kepala dengan forsep : Forsep yang dipergunakan sebaiknya forsep Piper yang mempunyai tangkai melengkung. pegangan dialihkan pada paha dengan kedua ibu jari pada punggung paha. Setelah lutut dan sebagian paha keluar. Jari tengah operator dimasukkan kedalam mulut atau ditempatkan diatas maksila janin. Yang pertama adalah yang berada di depan kepala terlebih dahulu baru kemudian masukkan forsep untuk yang berada di ruang panggul belakang. Ulangi lagi periksa dalam vagina untuk mengetahui apakah ada jaringan yang terjepit 5. Cara Prague (Praha) terbalik : Cara ini khusus dilakukan bila dagu janin berada di depan dan sukar untuk diputar di belakang.  Prosedur : 1. Tangan operator yang berhadapan dengan muka janin ditempatkan di bawah janin (untuk menopang badan janin) dengan kedua kaki janin berada di kiri dan kanan lengan operator tersebut. Selain itu tangan operator ini juga dapat mengadakan putaran paksi dalam kepala janin sesuai dengan penurunan janin dalam panggul. fundus uteri ditahan oleh tangan operator yang lain. 3. Seringkali diperlukan tekanan diatas simfisis langsung pada kepala janin (perasat deSnoow) untuk membantu pengeluaran kepala janin tersebut. Selama melakukan tindakan ini. Cara Mauriceau (Veit-Smelie) :  Pada cara Mauriceau (Veit-Smelie) ini kepala janin diupayakan agar tetap dalam keadaan fleksi serta pemutaran kepala janin tersebut sesuai dengan putaran paksi dalam. Tangan operator yang lain mencekam bahu janin dari arah punggung dan gunakan terutama untuk mengadakan traksi 3. Teknik pelaksanaan : 1. Kemudian dilakukan traksi ke bawah (sesuai dengan arah sumbu panggul).

Infeksi B. Ekstraksi dilakukan dengan punggung janin di depan. Catatan :  Tindakan profilaksis Pinard adalah tindakan untuk menurunkan satu atau dua kaki janin pada letak bokong (frank Breech) dengan tujuan agar bila perlu dapat dilakukan ekstraksi kaki. sternokleidomastoideus) 4. Arah ekstraksi berubah ke atas (ventral ibu) untuk mengeluarkan trokanter belakang 4. 2. Perdarahan pasca persalinan (atonia uteri. yaitu apakah tetap berada di depan dada. kemudian mengikuti putaran paksi dalam bahu. Skor Zatuchni-Andros < 3 Tidak memenuhi syarat persalinan sungsang yang aman sesuai dengan kriteria Gimovsky Pada persalinan sungsang prematur dengan berat badan janin < 2000 gr (atau sesuai dengan batas minimal kemampuan pengelolaan bayi prematur setempat) Kepala janin defleksi / hiperekstensi Pertumbuhan janin yang sangat terhambat Terdapat kematian perinatal sebelumnya terutama bila disertai dengan trauma kelahiran Ekstraksi bokong Ekstraksi bokong adalah mengakhiri persalinan dengan menarik bokong janin yang sudah berada di dasar panggul . Jari telunjuk tangan operator yang berhadapan dengan os sakrum dikaitkan pada lipat paha depan janin. maka kemungkinan terjadinya ruptura uteri (dengan segala konsekuensinya) menjadi lebih tinggi. paha. Asfiksia 2. Setelah ujung tulang belikat terlihat. lengan atas dan bawah. sakrum akan berada di samping. Persalinan berikutnya berpeluang dilakukan dengan seksio sesarea lebih besar 5. Biaya lebih banyak 2. Ekstraksi kemudian mengikuti putaran paksi dalam persalinan sungsang sesuai dengan ekstraksi kaki seperti tersebut di atas. tulang belakang dan klavikula) 6. Dilakukan periksa dalam vagina untuk memastikan titik petunjuk (os sakrum). Komplikasi yang dapat terjadi : A. Dislokasi sendi (lutut. . robekan jalan lahir) 2. paha. Prosedur : 1. terutama terjadinya perdarahan intrakranial. Persalinan dengan seksio sesarea mempunyai konsekuensi : 1. di lakukan periksa dalam vagina untuk menentukan letak lengan janin. Ibu : 1. Jika ibu kurang memperoleh bimbingan antenatal.  Cara ini sudah jarang dilakukan karena sering menyebabkan komplikasi berat pada janin. Trauma jalan lahir 3. Risiko terjadinya komplikasi lebih banyak 4. 3. 3. 3. yang berarti untuk pengeluaran bokong janin. Pengeluaran janin selanjutnya adalah sesuai dengan persalinan sungsang yang dibantu. 4. 4. 5. Kerusakan jaringan saraf (susunan saraf pusat. 2. Seksio sesarea dalam persalinan sungsang: 1. Bila pusat sudah berada di luar vulva. siku dan bahu) 5. Pada ekstraksi bokong sampai tulang belikat. Putaran kaki menyesuaikan dengan putaran paksi dalam bokong dan badan janin.Dilakukan traksi ke arah bawah lagi (operator jongkok) dengan tujuan untuk menyesuaikan arah traksi dengan sumbu panggul ibu. jari telunjuk tangan operator yang lain dipasang pada lipat paha belakang janin untuk membantu ekstraksi hingga bokong berada di luar vulva. sebaiknya sudah dilakukan episiotomi yang cukup lebar. perut. trokanter belakang serta kemudian punggung janin akan bergerak ke arah depan. tali pusat dikendorkan. menjungkit atau di belakang tengkuk (nuchal arm). Bila trokanter depan sudah berada di bawah simfisis. Sebelum itu. Janin : 1. 6. hendaknya dipastikan pula bahwa serviks sudah tidak teraba lagi pada jalan lahir. Sebagaimana pertolongan persalinan sungsang yang lain. paresis pleksus brakialis dan nervus fasialis). Ekstraksi kemudian diteruskan dengan cara menempatkan kedua tangan pada bokong janin dengan kedua ibu jari berada di atas sakrum dan kedua ujung jari tangan berada di atas lipat paha janin. bahu dan m. Kemudian dilakukan ekstraksi curam ke bawah (bila perlu tangan operator yang lain memegang pergelangan tangan yang mengikat tadi untuk memberikan tambahan kekuatan ekstraksi). salah satu bahu akan ke depan. Fraktura (paha. sering diperlukan bantuan dorongan cara Kristeller. Aspirasi cairan amnion 3. Trauma otot (betis. Terpapar risiko anestesi yang lebih berat 3.

LETAK PUNCAK KEPALA Merupakan kelainan letak kepala dimana bagian terendah adalah puncak kepala/ UUB Diagnosis:  Saat hamil sulit didiagnosis  Saat persalinan: UUB di bagian terendah. perlu seksio sesarea. maka janin akan melalui PBP dengan diameter suboksipito bregmatika yang lebih besar dari diameter oksipito bregmatika. spasme otot leher dan sebagainya. misal: tumor leher depan . Pengelolaan :   Dapat ditunggu kelahiran spontan Episiotomi (karena kepala lahir dengan diameter fronto ocksipitalis yang lebih besar dari diameter oksipito bregmatika sehingga menyebabkan perlukaan perineum yang luas. Etiologi: Merupakan faktor-faktor yang menyebabkan defleksi kepala atau menghalangi fleksi kepala.Seksio Sesarea LETAK MUKA Diagnosis : .Dagu tetap di belakang setelah di pimpin mengejan beberapa saat (tidak ada kemajuan dalam rotasi internal) atau sering disebut Persisten Mento Posterior maka: o Seksio sesarea bila janin hidup o Perforasi bila janin mati Catatan: Bila janin lahir pervaginam.Kesempitan panggul .Dagu di depan: diharapkan spontan atau bila perlu ekstraksi forsep.Bila didapatkan derajat kesempitan panggul dengan disproporsi.Palpasi: Leopold II tahanan terkuat dirasakan di pihak bagian-bagian kecil janin .Embriotomi: o Dekapitasi o Kleidotomi o Eviserasi o Spondilotomi o Eksenterasi .Multiparitas dan perut gantung . dilakukan ekstraksi forsep. mulut. .Auskultasi: DJJ terjelas di pihak bagian-bagian kecil janin .Lilitan tali pusat pada leher janin .Plasenta previa .Seksio Sesarea Anak mati: .Kelainan bawaan janin. . . hidung. dan kepala sudah di dasar panggul. Macam persalinan letak lintang: Anak hidup: . UUK sukar diraba Mekanisme kelahiran kepala:  Bagian terendah puncak kepala  Putaran paksi dalam: UUB berputar ke simfisis.LETAK LINTANG Letak lintang kasep: letak lintang yang lengan tangan sudah keluar. . bahu sudah masuk segmen bawah rahim.Janin besar .Dagu dibelakang: diharapkan rotasi spontan dagu ke arah depan dan persalinan berlangsung spontan .Versi Ekstraksi .Bila panggul normal: .Foetal death: tonus otot hilang  defleksi . pinggir orbita dahi.Periksa dalam: teraba dagu.Letak uterus yang miring .Lahir spontan o Conduplicatio corpore o Evolutio Spontanea . Pengelolaan: Persalinan dengan presentasi muka harus diteliti kemungkinan disproporsi kepala panggul (DKP=CPD) dengan pelvimetri rontgen . biasanya janin sudah mati.  Bila 1 jam dipimpin mengejan tak lahir. tidak mungkin didorong ke dalam atau ditarik ke luar.  Kelahiran kepala: UUB lahir kemudian dengan glabellasebagai hipomoklion kepala fleksi sehingga oksiput lahir Etiologi:  Kelainan bentuk panggul  Multiparitas (otot panggul lembek)  Kelainan bentuk kepala janin.

Posisi Oksiput Posterior Persisten (Positio Occipitalis Posterior Persisten): bila kepala di dasar panggul.Letak dahi bersifat sementara.Keadaan dimana tahanan panggul terhadap kepala berlebihan sehingga kepala tidak berputar sebagaimana diharapkan . Ini mengakibatkan kematianperinatal tinggi dan perlakuan luas dari perineum.Pada letak kepala dapat terjadi: o Presentasi ganda dengan tangan menumbung o Presentasi ganda dengan lengan menumbung o Presentasi ganda dengan kaki menumbung . sebagian UUB.Kadang presentasi ganda disertai penumbungan tali pusat.Diagnosis ditegakkan dengan PDV: bagian terendah UUK turun H III+ atau H III-IV. Diagnosis: PDV teraba ekstremitas di samping bagian bawah janin Pengelolaan: . dipimpin mengejan 1 jam tidak lahir. sangat sulit lahir pervaginam karena diameter mentooksipitalis sulit melewati PAP sehingga untuk cakap (engaged) harus melaluimolase hebat. Dalam keadaan demikian persalinanakan macet dan perlu diadakan pertolongan aktif dengan ekstraksi forsep. sehingga UUK tidak sampai di bawah simfisis. mulut. posisi UUK lintang atau posterior Pengelolaan: .Dipimpin mengejan bila tak ada DKP. Maka sebaiknya dilakukan seksio sesarea.Deep Tranverse Arrest : pembukaan lengkap. dipimpin mengejan 1 jam masih melintang kepala tidak di turun. dsb. Dalam hal ini pengelolaannya seperti pada tali pusat menumbung. . misal DKP. putaran paksi dalam berlangsung sehingga UUK berputar ke depan sampai di bawah simfisis bila kepala sampai di dasar panggul . panggul sempit.Keadaan di manaputaran paksi dalam macet. .Keadaan yang menyebabkan kurangnya tahanan yang adekuat dari panggul sehingga tidak menimbulkan putaran paksi yang diharapkan. Paling sering adalah tangan atau lengan di samping kepala. maka tak dapat diharapkan bahwa kedudukan kepala akan berubah. janin kecil. dengan pengawasan 9 secara teliti . . Presentasi ganda terjadi karena PAP tidak diisi secara sempurna oleh kepala atau bokong janin. Dalam peristiwa putaran paksi dalam ini dapat timbul kelainan: . . kepala kecil. tapi melintang disebut Posisi Oksiput Melintang (Occiput Tranverse Position) Keadaan dimana UUK tidak berputar ke depan tetapi ke arah sakrum sehingga disebut juga putaran paksi yang keliru. dagu Etiologi: pada dasarnyasama dengan letak muka Pengelolaan: Bayi kecil: biasanya dapat lahir pervaginam.Bila presentasi ganda karena panggul sempit maka dilakukan seksio sesarea.Pada letak sungsang dapat terjadi presentasi dengan tangan menumbung Presentasi ganda jarang ditemukan. . disebut Posisi Oksiput Posterior Direkta(=Presentatio Occiput Posterior Directa)pembukaan lengkap kepala masih di atas PAP. dibantu episiotomi Bayi genap bulan terdapat 2 kemungkinan: . Tangan penolong dimasukkan ke dalam vagina mendorong lengan janin ke atas melewati kepalanya. Etiologi: .Pastikan ada tidaknya DKP . . kepala masih tinggi. panggul android Diagnosis: . .Bila UUK berputar ke depan disebut Posisi Oksiput Anterior Direkta (=Presentatio Occiput Anterior Directa)pada pembukaan lengkap kepala masih diatas PAP . KELAINAN PUTARAN PAKSI PADA LETAK KEPALA Pada persalinan normal pada letak belakang kepala. misal kelemahan otot dasar panggul pada multiparitas. PRESENTASI GANDA Dikatakan letak majemukbila di samping bagian terbawah janin terdapat ekstremitas.Pada lengan menumbung dan kelihatan menghalangi turunnya kepala perlu dilakukan reposisi. sutura sagitalis melintang kepala turun HIII+ telah dipimpin mengejan 1 jam tetap melintang. UUK di belakang.Letak dahi menetap persisten. kemudian kepala didorong masuk PAP dengan tekanan dari luar. sehingga dapat diharapkan persalinan spontan bila tak ada DKP (CPD) . sebagian sutura sagitalis.Dugaan kelainan putaran paksi timbul bila terjadi kemacetan persalinan kala II pada waktu kepala sudah atau hampir berada di dasar panggul. . . sutura sagitalis melintang kepala turun H III-.Tranverse Arrest: pembukaan lengkap.LETAK DAHI Diagnosis:  Palpasi : idem letak muka  Auskultasi : idem letak muka  PDV: o Teraba sutura frontalis. pinggir orbita.Bila dalam 1 jam posisi kepala tersebut menetap (Deep Tranversa Arrest atau Posisi Oksipitalis Posterior Persisten). Sekali-kali tak boleh dilakukan ekspresi Kristeller atau pemberian atau pemberian uterotonika untuk meningkatkan his karena dapat menimbulkan ruptura uteri. pangkal hidung o Tidak teraba : hidung.Pada tangan menumbung biasanya tidak diperlukan tindakan . diharapkan terjadi putaran paksi yang benar.

solusio plasenta.) Komplikasi pada anak/ prognosis pada anak dubia karena:  Solusio plasenta: hipo/afibrinogemia  Gangguan sirkulasi fetal:  Kerusakan pada vili khorialis  prematuritas. Hipertensi gestasional: timbulnya hipertensi pada kehamilan yang tidak disertai proteinuria hingga 12 minggu pasca persalinan. 2 bokong dan atau 1 atau 2 punggung.  Terdapat 2 DJJ dengan perbedaan frekuensi lebih dari 10x/menit  USG / Rontgen foto mendapatkan 2 janin dengan 2 punggung.  Perdarahan intrakranial  Gawat janin (Fetal Distres) Kematian ibu mendadak karena:    Kegagalan jantung Edema pulmonum Perdarahan serebri  Uremia . Pedoman menurut Alarm:  Bila anak I letak lintang / presentasi bokong seksio sesarea. penemuan dini  Penemuan dini dan edukasi  Perawatan pada pusat pelayanan  Pencegahan penyakit HDK  Manajemen medis: perawatan & medis mencegah berlanjut:  Pemeriksaan tensi berkala. Bila hipertensi menghilang setelah 12 minggu persalinan.  Proteinuria: o Adanya protein  30 mg/liter dari urine tengah. prolapsus tali pusat  Retensio plasenta & perdarahan post partum     Hipertensi kronik: hipertensi yg didapat sebelum kehamilan. Prinsip pengelolaan kehamilan ganda:  Pasang infus  Boleh per vaginam bila: o Anak I letak kepala dengan UUK depan o Anak I pertama sungsang hati-hati bahaya interlocking bila kantong amnion hanya 1. kelainan letak. berat badan. proteinuri. o Adanya protein  300 mg dalam 24 jam produksi urin. posisikan anak menjadi presentasi kepala dan pimpin mengejan setelah pembukaan lengkap dan his baik. o Dengan memakai “dipstick”  Edema tungkai tidak dipakai lagi sebagai kriteria hipertensi dalam kehamilan. Lakukan palpasi dan auskultasi. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia: hipertensi kronik yang disertai proteinuria. acak. kunang-kunang. Sikap terhadap HDK: Pencegahan: ANC. kecuali edem anasarka. maka dapat disebut hipertensi transien. dan hipertensi tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan.HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN KEHAMILAN GANDA / GEMELLI Diagnosis pasti:  Teraba minimal 3 bagian besar janin 2 kepala. gangguan visual (kabur. Istilah:  Hipertensi: timbulnya desakan darah sistolik  140 mmHg dan diastolik  90 mmHg.  Melahirkan anak ke 2 pada letak lintang kalau ada tanda-tanda gawat janin boleh dilakukan versi ekstraksi bila tidak ada disproporsi janin panggul (feto pelvic disproportion) Komplikasi:  Posisi mengunci (interlocking)  Kolusi / compaction  Hidramnion dan kontraksi hipotonik  Plasenta previa. di bawah 20 minggu umur kehamilan. diukur 2 kali selang 4 jam setelah penderita istirahat.  Melahirkan anak ke 2 tidak harus segera lahir / tidak dibatasi waktu. Preeklamsia –eklamsia: hipertensi dan proteinuria yang didapatkan setelahumur kehamilan 20 minggu.

isolasi. Esbach. Kriteria diagnostik: a. CoQ10 N – Asetilsistein. Edema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik kecuali anasarka. Hasil test laboratorium yang abnormal d. Hipertensi yang menetap selama > 2 minggu b. ginjal. Proteinuria menetap selama > 2 minggu c. Mencegah persalinan preterm Di Indonesia tirah baring masih diperlukan pada mereka yang mempunyai risiko tinggi terjadinya preeklamsia. edema. Zinc : 200 mg / hari 5. 2. meskipun belum terbukti bermanfaat untuk mencegah preeklamsia 4. Dipyridamole 7. Pengelolaan Pengelolaan secara rawat jalan (ambulatoir) 1. Elemen logam berat : Zinc. Antioksidan : vitamin C. magnesium kalsium 3. Tidak mutlak harus tirah baring. Anti hipertensi tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia 3.  Kontrol tiap 4 jam: tensi. asam lipoik c. Tirah baring tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia 4. Tidak perlu restriksi konsumsi garam 5. Pencegahan dengan non medikal 1. vitamin E. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak tidak jenuh. Obat anti thrombotik : a. Suplementasi diet yang mengandung : a.< 160/110 mmHg Kenaikan tekanan sistolik > 30 mmHg dan kenaikan tekanandiastolik > 15 mmHg. Macam pencegahan: A. dapat dipakai sebagai suplemen pada risiko tinggi terjadinya preeklamsia. Kalsium : 1500 – 2000 mg / hari. B. Obat-obat antioksidan : vitamin c. darah lengkap.5 liter) Pencegahan Upaya untuk mencegah terjadinya preeklamsia pada wanita hamil yang mempunyai risiko terjadinya preeklamsia. dianjurkan ambulasi sesuai keinginan-nya. Di Indonesia tirah baring masih diperlukan. urin Kriteria Eden:  Koma > 6jam  Kejang > 10 x /hari  Oliguri: < 400 cc/hr  Albuminuria: > 10gr / 24 jam  Tensi: sistolik > 200 mmHg  Nadi : > 120 /menitSuhu: > 40 C  Edema: menghilang: jelek Prinsip keperawatan: (nursing)  Rawat inap: tirah baring.Prognosis tergantung:  Paritas: multipara lebih jelek  Waktu timbul: lebih muda kehamilan lebih jelek drpd intra/pasca partum. Diuretik : tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia bahkan memperberat hipovolemia 2. misalnya omega 3 b. tidak terbukti mencegah preeklamsia b. Aspirin dosis rendah : rata – rata dibawah 100 mg / hari. Diet reguler : tidak perlu diet khusus 3. jantung.Asetilsistein.  Diet: o Rendah garam: 3g /hr o Cukup KCl: buah2an pisang.  Umur: > 35 tahun lebih jelek  Tekanan darah: makin tinggi makin jelek  Kejadian eklamsi: lebih jelek  Cepat tidak pertolongan  Keluaran urin: anuri/oliguri lebih jelek  Komplikasi: paru. Tidak perlu pemberian diuretik. tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostikpreeklamsia. Proteinuria : > 300 mg/24 jam jumlah urine atau dipstick : > 1 + c. cukup cahaya melihat pasien kejang/sianosis. anthihipertensi dan sedativum 6. Kunjungan ke rumah sakit tiap minggu Pengelolaan secara rawat inap (hospitalisasi) . jeruk) o Cukup protein. hati. Vitamin prenatal 4. Pemeriksaan dan monitoring pada ibu . Ht. otak lebih jelek  Respons terhadap terapi: tensi. asam lipoik. PREEKLAMSIA RINGAN Preeklamsia ringan adalah sindroma spesifik kehamilan dengan penurunan perfusi pada organ-organ akibat vasospasme dan aktivasi endothel.1. Restriksi garam : tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeklamsia 2. Indikasi preeklamsia ringan dirawat inap a. tenang. Magnesium 365 mg / hari 6. karoten. nadi. tetapi perlu observasi yang cermat b. gangguan serebral/visual  Urine tampung. karoten N. Adanya gejala atau tanda 1 (satu) atau lebih preeklamsia berat 2. konsul interne/mata. Tekanan darah : > 140/90 mmHg -. kalori 1800 o Cukup cairan: 2000-3000 cc/hr (diuresis + 1. Pencegahan dengan medikamentosa 1. vitamin E.

Pengamatan dengan cermat gejala preeklamsia dengan impendingeklamsia :  Nyeri kepala frontal atau oksipital  Gangguan visus  Nyeri kuadran kanan atas perut  Nyeri epigastrium 3. nyeri kepala. ibu masih perlu diobservasi selama 2-3 hari. Terapi medikamentosa  Pada dasarnya sama dengan terapi ambulatoar  Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda-tanda preeklamsia dan umur Kehamilan > 37 minggu. dan 3. Test fungsi hepar 2 x semingu d. Test fungsi ginjal dengan pengukuran kreatinin serum. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur hepar  Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran. NST 2 x seminggu c. Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang . dan pandangan kabur  Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanine atau aspartate amino transferase  Hemolisis mikroangiopatik  Trombositopenia : < 100.  Ekspektatif. Infus Ringer Laktat atau Ringer Destrose 5 % d. Umur kehamilan kehamilan < 37 minggu  Bila tanda dan gejala tidak memburuk. Bagian lain atas indikasi a. Evaluasi pertumbuhan janin dengan USG. dilakukan pengelolaan dasar sebagai berikut : i. Pengamatan gerakan janin setiap hari b. skotomata. Umur kehamilan > 37 minggu  Matang pada taksiran tanggal persalinan dapat dipertimbangkan dilakukan induksi persalinan b.Pengukuran tekanan darah setiap 4 jam kecuali ibu tidur Pengamatan yang cermat adanya edema pada muka dan abdomen Penimbangan berat badan pada waktu ibu masuk rumah sakit dan penimbangan dilakukan setiap hari d. Konsultasi: selama dirawat dirumah sakit dilakukan konsultasi pada : 1. Pengelolaan obstetrik: tergantung umur kehamilan a. Bagian penyakit jantung. Tirah baring miring ke kiri secara intermiten c. PREEKLAMSIA BERAT Preeklamsia berat ialah preeklamsia dengan salah satu atau lebih subyektif dan obyektif dibawah ini :  Tekanan darah: pasien dalam keadaan istirahat tekanan sistolik > 160 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg  Proteinuria > 5 gr / jumlah urine selama 24 jam atau dipstick : 4 +  Oliguria: produksi urine < 400-500 cc/24 jam  Kenaikan kreatinin serum  Edema paru dan sianosis  Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen: disebabkan terengangnya kapsula Glisone. konservatif : bila umur kehamilan < 37 mgg . Bagian penyakit mata 2. b. Pengukuran produksi urine setiap 3 jam (tidak perlu dengan kateter tetap) 4. Profil biofisik janin. Protenuria dengan dipstick pada waktu masuk dan sekurangnya diikuti 2 hari setelahnya b. Bila penderita sudah inpartu: perjalanan persalinan dapat diikuti dengan grafik Friedman atau Partograf WHO 7. artinya kehamilan diakhiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu. 000 cell/mm  Sindroma HELLP Pembagian preeklamsia berat   Preeklamsia berat tanpa impending eklamsia Preeklamsia berat dengan impending eklamsia: o Nyeri kepala o Mata kabur o Mual dan muntah o Nyeri epigastrium o Nyeri kuadran kanan atas abdomen Dasar pengelolaan preeklamsia berat: pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya. arteri uterina 5. Ultrasound Doppler arteri umbilikalis. Pemeriksaan laboratorium a. asam urat. agresif : bila umur kehamilan > 37 mgg. bila NST non reaktif d. Menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya : yang tergantung pada umur kehamilan. artinya : kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan terapi medikamentosa  Aktif. setiap 3-4 minggu e. Hematokrit dan trombosit : 2 x seminggu c. kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm b. Rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi medikamentosa dengan pemberian obat-obatan untuk penyulitnya ii. Segera masuk rumah sakit b. Pemeriksaan kesejahteraan janin a. Pemberian terapi medikamentosa a. Bila penderita belum inpartu : a. kemudian boleh dipulangkan 6. dan BUN e. c.

Cara persalinan :  Bila penderita tidak inpartu. g. sehingga mencapai umur kehamilan yang memenuhi syarat janin dapat dilahirkan 2. karena :  Memperberat penurunan perfusi plasenta  Memperberat hipovolemia  Meningkatkan hemokonsentrasi. kehamilan dipertahankan sampai kehamilan aterm  Bila penderita inpartu.  Diuretikum diberikan hanya atas indikasi :  Edema paru  Payah jantung kongestif  Edema anasarka Diet: diberikan secara seimbang. hanya tidak diberikan loading dose intravena. baru diizinkan pulang. kecuali ada indikasi untuk bedah caesar.  Tanda dan gejala impending eklamsia  Gangguan fungsi hepar  Gangguan fungsi ginjal  Dicurigai terjadi solusio plasenta  Timbulnya onset partus. volume air ketuban c. maka masih dirawat 2-3 hari lagi. Penderita boleh dipulangkan :  Bila penderita telah bebas dari gejala-gejala preeklamsia berat  Masih tetap dirawat 3 hari lagi baru diizinkan pulang d. pendarahan  Indikasi Janin  Umur kehamilan > 37 minggu  IUGR berat berdasarkan pemeriksaan USG  NST nonreaktif dan profil biofisik abnormal  Timbulnya oligohidramnion Terapi medikamentosa: Lihat terapi medikamentosa di atas : Sikap terhadap kehamilannya: perawatan konservatif dan agresif Perawatan konservatif .  Setelah 24 jam sejak dimulainya pengobatan medikamentosa terjadi kenaikan tekanan darah yang persisten. Mempertahankan kehamilan.  Tekanan darah diturunkan secara bertahap : o Penurunan awal 25 % dari tekanan sistolik o Tekanan darah diturunkan mencapai :  < 160 / 105 Diuretikum: tidak dibenarkan diberikan secara rutin. hindari protein dan kalori yang berlebih  Penglihatan kabur  Nyeri perut kuadran kanan atas  Nyeri epigastrium  Kenaikan berat badan dengan cepat 2) Menimbang berat badan pada waktu masuk rumah sakit & diikuti tiap hari 3) Mengukur proteinuria ketika masuk rumah sakit dan diulangi tiap 2 hari 4) Pengukuran tekanan darah sesuai standar yang telah ditentukan 5) Pemeriksaan laboratorium sesuai ketentuan 6) Pemeriksaan USG sesuai standar di atas. maka persalinan diutamakan pervaginam. tetapi cukup intramuskuler  Pemberian glukokortikosteroidsdiberikan pada umur kehamilan 32-34 minggu selama 48 jam. Pemberian Mg SO4 dibagi : a. f. ekspektatif Tujuan : 1. Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibu Indikasi :kehamilan < 37 minggu tanpa disertai tanda &gejalaimpending eklamsia a.  Pemberian MgSO4 sama seperti pemberian MgSO4 seperti tersebut di atas. khususnya pemeriksaan: ukuran biometrik janin. ketuban pecah dini. Dosis awal(initial dose):sebagai loading dose b. Perawatan di rumah sakit 1) Pemeriksaan & monitoring tiap hari terhadap gejala klinik sebagai berikut:  Nyeri kepala . diulangi setelah 30 menit. maksimum 120 mg dalam 24 jam  Nifedipine tidak dibenarkan diberikan dibawah lidah (sublingual) karena absorbsi yang terbaik adalah melalui saluran pencernaan.e. Terapi medikamentosa :  Lihat terapi medikamentosa seperti di atas  Bila penderita sudah kembali menjadi preeklamsia ringan. b. agresif Tujuan : terminasi kehamilan Indikasi :  Indikasi ibu :  Kegagalan terapi medikamentosa :  Setelah 6 jam sejak dimulai pengobatan medikamentosa terjadi kenaikan darah yang persisten. Dosis lanjutansebagai dosis pemeliharaan (maintenance dose) Anti hipertensi  Diberikan bila tensi > 180 /110 atau MAP > 126  Jenis obat: Nifedipine : 10-20 mg oral. Perawatan aktif . perjalanan persalinan diikuti seperti lazimnya (misalnya dengan grafik Friedman)  Bila penderita inpartu.

patologi klinik EKLAMSIA Eklamsia ialah preeklamsia yang disertai dengan kejang tonik – klonik disusul dengan koma Pengelolaan Eklamsia Dasar-dasar pengelolaan Eklamsia a. Sistem syaraf pusat  Perdarahan intrakranial  Thrombosis vena sentral  Hipertensi ensefalopati  Edema cerebri  Edema retina  Makular atau retina detachment  Kebutaan kortek . Koreksi hipoksemia dan asidemia f. nefrologi. khususnya hipertensi krisis h. Selalu diingat ABC (Airway.Cara persalinan : sedapat mungkin persalinan diarahkan pervaginam  Penderita belum inpartu  Dilakukan induksi persalinan bila skor Bishop >8  Bila perlu dilakukan pematangan serviks dengan misoprostol Induksi persalinan harus sudah mencapai kala II dalam waktu 24 jam. induksi persalinan dianggap gagal. pelan2  Diuretik: bila edema pulmonum  Antihipertensi: parenteral . Mengatasi dan mencegah kejang e. Mengatasi dan mencegah kejang g. Circulation) c.2 Gastrointestinal – hepatik  Hematoma subskapular hepar  Ruptur kapsul hepar . Kardiopulmoner  Edema paru : kardiogenik atau nonkardiogenik  Depresi atau arrest pernafasan    Serangan jantung (Cardiac arrest) Iskemia miokardium Asites Penyulit janin  IUGR  Solusio plasenta  IUFD  Kematian neonatal  Penyulit akibat prematuritas  Serebal palsi Konsultasi  Obgin : fetomaternal. anestesi. Hematologik  DIC  Thrombositopenia . neurologi.3 Ginjal  Gagal ginjal akut  Nekrosis tubular akut . nenotalogi  Tergantung situasi klinis. 5. bolus. Breathing.4. epidural anestesia. Pastikan jalan nafas atas tetap terbuka d. Terapi suportif untuk stabilisasi pada ibu b. dan harus disusul dengan seksio sesarea Indikasi seksiosesarea  Tidak ada indikasi untuk persalinan pervaginam  Induksi persalinan gagal  Terjadi maternal distres  Terjadi fetal distres  Bila umur kehamilan < 33 minggu Bila penderita sudah inpartu  Perjalanan persalinan diikuti dengan grafik Friedman  Memperpendek kala II  Seksio sesarea dilakukan bila :  Maternal distres dan fetal distres  Primigravida direkomendasikan pembedahan caesar  Anestesia : regional anestesia. Tidak dianjurkan general anestesia Penyulit ibu 1. dilakukan konsultasi ke bagian : o Pelayanan intensif. Mengatasi dan mencegah penyulit. o jika kejang + 20 mg per infus . Bila tidak. Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat Terapi Medikamentosa: lihat terapi medikamentosa pada preeklamsia berat :  MgSO4: o Syarat pemberian MgSO4:  Refleks Patella +  Urine > 100 cc dalam 3 jam  Pernafasan > 16 /menit  Sedia antidotum : 1 gram Glukonas Kalsikus dalam 10 cc aqua  Diazepam : Intravena 20 mg dalam glukosa 5% 500 cc ivfd .

nadi. diperlukannya katerisasi arteria pulmonalis Pengelolaan obstetri eklamsia a. oliguria renal. Perawatan pasca persalinan  Tetap dimonitor tanda vital  Pemeriksaan laboratorium lengkap 24 jam pasca persalinan. pernafasan His. berarti sikap terhadap kehamilannya adalah aktif. PPV. usaha darah. Pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir 4. Usahakan jalan nafas atas tetap terbuka c. induksi persalinan o Kala II: peringan kala II dengan ektraksi forsep/ ekstraksi vakum o Kala III: pencegahan perdarahan pasca salin. setelah salah satuatau lebih keadaan seperti dibawah ini. Band’l ring. Pemberian obat anti kejang terakhir 2. Tempatkan penderita di ruang isolasi atau ruang khusus dengan lampu terang(tidak diperkenankan ditempatkan di ruangan gelap. Derajad kedalaman koma diukur dengan ”Glasgow. pemeriksaan urin lengkap (sedimen: hyalin. yaitu setelah : 1.Perawatan kejang a. silinder. pemeriksaan Esbach: protein /24 jam). tanda persalinan. Perhatikan nutrisi Perawatan khusus yang harus berkonsultasi dengan bagian lain Konsultasi ke bagian lain perlu dilakukan bila terjadi penyulit sebagai berikut : edema paru. Tidak ada komplikasi :  Akhiri persalinan o Syarat pervaginam terpenuhi: spontan. DJJ. sebagai tanda kerusakan organ. Sikap dasar pengelolaan eklamsia : harus diakhiri (terminasi) tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. dapat di ubah dalam posisiTrendelenburg. fundus okuli.  HIPERTENSI KRONIK DALAM KEHAMILAN Hipertensi kronik dalam kehamilan ialah hipertensi yang didapatkan sebelum kehamilan atau sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan Etiologi hipertensi kronik dalam kehamilan:  Primer (idiopatik) : 90 %  Sekunder : 10 % yang berhubungan dengan penyakit ginjal. Darah : lengkap & Ht. penyakit hipertensi dan vaskuler Berdasarkan risiko yang mungkin timbul. Tempat tidur aman: pagar pengaman tempat tidur harus dipasang dan terkunci dengan kuat& tangan & kaki diikat g. diuresis (DC). Perawatan koma a. ialah bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamika dan metabolisme ibu c. Tempat tidur penderita harus cukup lebar. Penghisap lendir j. klinis maupun biologis. melihatsianosis) b. fungsi ginjal l. Siap sudip lidah (tongue spatel)—Sisipkan antara lidah dan gigi rahang atas e. kejang. Fiksasi badan harus kendor agar waktu kejang tidak terjadi fraktur f. Urine tampung & DC untuk: volume urine (ada tidaknya oliguri) menentukan pemberian cairan ( + 1 1/2 liter). Rendahkan kepala kebawah: diaspirasi lendir dalam orofaring guna mencegah aspirasi pneumonia d. Penjaga/ pengawas 1 orang h. grande multi. b. Kriteria risiko tinggi pada hipertensi kronik dalam kehamilan : Hipertensi berat :  tekanan sistolik > 160 mmHg dan / atau  tekanan diastolik > 110 mmHg. Stabilisasi dicapai selambat-lambatnya dalam : 4-8 jam. Saat pengakhiran kehamilan. Penderita mulai sadar (dapat dinilai dari Glasgow-Coma-Scale yang meningkat) d. penyakit endokrin (diabetes mellitus). Cara persalinan: bila sudah diputuskan untuk melakukan tindakan aktif terhadap kehamilannya. sebelum 20 minggu kehamilan Hipertensi ringan < 20 minggu kehamilan dengan  Pernah preeklamsia  Umur ibu > 40 tahun  Hipertensi > 4 tahun  Adanya kelainan ginjal  Adanya diabetes mellitus (klas B – klas F)  Kardiomiopati  Meminum obat anti hipertensi sebelum hamil . hematokrit. Pemantauan: KU. Oksigen i. koral) m. Hindari dekubitus d. dan posisi kepala lebih tinggi c. maka dipilih cara persalinan yang memenuhi syarat pada saat tersebut. ureum: DD/ renal hipofungsi. Infus set k. induksi persalinan o Respon pengobatan: bebas kejang. Kejang terakhir 3. maka hipertensi kronik dibagi:  Risiko rendah : hipertensi ringan tanpa disertai kerusakan organ  Risiko tinggi : hipertensi berat atau hipertensi ringan disertai dengan perubahan patologis.Coma Scale” b. tekanan (tiap ½ jam). refleks.  Ada komplikasi/ indikasi : perabdominam e.

Obat antihipertensi 1) Pilihan pertama : Methyldopa : 0. hematokrit.Hb. trombosit Pemeriksaan kesejahteraan janin  Ultrasonography : . asam urat. Risiko rendah hipertensi : 1) Ibu sehat dengan tekanan diastolik menetap > 100 MMHg 2) Dengan disfungsi organ dan tekanan diastolik > 90 mmHg b.Klasifikasi hipertensi kronik Klasifikasi Sistolik (mmHg) Normal < 120 Prehipertensi 120 – 139 Hipertensi Stadium I 140 – 159 Hipertensi Stadium II > 160 Distolik (mmHg) <80 80 – 89 90 -99 >110 Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia Pengelolaan hipertensi kronik dengan superimpesed preeklamsia sama dengan pengelolaan preeklamsia berat Pengelolaan hipertensi kronik dalam kehamilan Tujuan pengobatan hipertensi kronik dalam kehamilan ialah  Menekan risiko pada ibu terhadap kenaikan tekanan darah  Menghindari pemberian obat-obat yang membahayakan janin Pemeriksaan laboratorium  Pemeriksaan (test) klinik spesialistik  ECG  Erchocardiography  Ophtalmology  USG ginjal  Pemeriksaan (test) laboratorium  Fungsi ginjal : -creatinine serum. dibagi dalam 2 -3 dosis 2) Pilihan kedua : Nifedipine : 30 -120 g/hari.Bila dicurigai IUGR dimonitor dengan NST dan profil biosifik Hipertensi kronik dalam kehamilan dengan penyulit kardiovaskuler atau penyakit ginjal perlu mendapat perhatian khusus Pengobatan medikamentosa Indikasi pemberian antihipertensi adalah a. yaitu segera kehamilan diakhiri (diterminasi)  Anestesi : regional anestesi . dalam slow release tablet Pengelolaan terhadap kehamilannya   Sikap terhadap kehamilannya pada hipertensi kronik ringan : konservatif yaitu dilahirkan sedapat mungkin pervaginam pada kehamilan aterm Sikap terhadap kehamilannya pada hipertensi kronik berat : aktif.5 – 3.0 g/hari.USG untuk data dasar diambil dalam 18 -20 minggu kehamilan . proteinuria 24 jam  Fungsi hepar  Hematologik : .Diulangi pada umur kehamilan 28 -32 mgg dan diikuti setiap bulan . BUN serum.

 Maka prosentase-nya: 4. Ekstraksi Braxton Hicks: turunkan 1 kaki sampai bokong.  Tidak nyeri.  Laserasi SBR /serviks Jika pembukaan 6 cm teraba plasenta 40%: 40/100 x 6 cm = 2. perlekatan luas. kepala H III. Karena plasenta tak dapat ikut delatasi.  Medikamentosa: o Spasmolitik( HCl papaverin). waktu pembekuan/perdarahan. tirah baring  Usaha darah. menimbulkan perdarahan. segmen bawah rahim tertarik keatas. plasenta lepas sebagian demi sebagian. karena infeksi dinding luar dan dalam rahim.5-2kg.retraksi SBR jelek. Inspekulo: singkirkan perdarahan dari polip.  Perdarahan pertama tidak hebat. periksa Ht. analgetika o Progesteron KOMPLIKASI : Ibu:  Perdarahan pasca salin dini : syok  Anemia &endometritis Anak:  Prematur. Penyebab: Vaskularisasi endometrium daerah fundus yang kurang baik. lateralis: tahanan tak teratur  Plasenta letak rendah: tahanan sebagian Diagnosis: Subyektif:  Perdarahan pervaginam pada kehamilan > 28 minggu. sedatif. merupakan upaya plasenta mendapatkan nutrisi yang baik dan cukup.PERDARAHAN ANTE PARTUM PLASENTA PREVIA Plasenta Previa: keadaan dimana plasenta letak sedemikian rupa dibagian bawah uterus sehingga ostium Uteri Internum tertutup sebagian atau seluruhnya. induksi persalinan. perdarahan sedikit2. Obyektif:   Kelainan letak anak. ada tahanan lunak. darah berasal dari ostium uteri:  Perdarahan sedikit: perbaiki keadaan umum. varises. sehingga plasenta lebih luas dan edematus Macam Plasenta Previa:  Plasenta previa totalis  Plasenta previa partialis: marginal.4 cm. plasenta melekat pada erat pada kulit ketuban. perdarahan banyak: Seksio Sesarea klasik Pasang cunam Willet Geusz: pembukaan lengkap.4 + 2 cm =4.4 /10 x 100% = 44% Yang bisa dilahirkan pervaginam bila prosentase plasenta : < 40%   TINDAKAN: tergantung: . diberi beban 0. KU ibu baik. usaha darah  Perdarahan banyak: siapkan kamar bedah untuk PDV dan siap pembedahan Pemeriksaan dalam vagina di ruang bedah: masuk kanalis servikalis. Bila usia kehamilan < 36 minggu:  Rawat .  Kematiankarena asfiksia intrauterine Komplikasi yang mungkin terjadi setelah anak lahir:  Perdarahan banyak ok. plasenta halangi penurunan kepala anak. makin lama makin banyak.4 cm Diperkirakan pada pembukaan lengkap:  Plasenta yang teraba 2. perlekatan letak abnormal. sebagian lepas sebagian melekat. kepala tak masuk PAP pada hamil 36 minggu. diikat dengan tampon. antara kepala dan jari kemudian seluruh permukaan Ultrasonografi: terlihat plasenta diantara kepala dan segmen bawah rahim o o o o o o o o o o Macam plasenta previa Keadaan umum ibu: Umur kehamilan: tunggu sampai aterm bila tidak berdarah Letak anak Penurunan kepala Jumlah perdarahan Anak hidup/mati Faktor 3P Paritas Infertilitas      Pecah kulit ketuban: PP lateralis/ marginalis/ letak rendah perdarahan berhenti. diharapkan persalinan pervaginam Seksio sesarea: PP totalis: aterm.  Bisa bersamaan dengan kontraksi / his.

akral dingin  Anak: fetal distres/ anak mati  Anemia Komplikasi: Segera:  Perdarahan  Syok hipovolemia – hipofibrinogenemi Lambat:  Hipo / afibrinogenemia: utroplasenter apoplexi: ok hematoma uteroplasenter membutuhkan fibrinogen utk proses pembekuan darah yang terjad  Utrus couvelair: perdarahan dalam dinding uterus dan bawah peritoneum. pembuluh darah terbuka. darah diserap miometrium. nyeri  Tanda syok: nadi cepat. tranfusi. tensi turun.  Kegagalan ginjal akut: adanya hematoma uteroplasenter. Terapi:  Ukur lingkar perut tiap ¼ jam. versi ekstraksi  Tali pusat pendek  Hipertensi kronik  Tekanan vena cava inferior  Hidramnion. sebelumnya ukur fibrin dengan darah 5 cc dalam tabung: membeku tidak? Tindakan obstetri: o Konservatif: tunggu 6 jam inpartu. Hb. tdk bisa menghentikan perdarahan. mendadak  Sakit perut terus menerus. kerusakan pada ginjal. Karena masih ada janin. tinggi fundus uteri. Belum pernah perdarahan Gejala mendadak Presentasi anak sudah turun DJJ -. darah tetap mengalir keluar (eksternal) atau tetap di dalam rahim di belakang plasenta (internal).d III Derajat  Perlekatan plasenta:  Perdarahan eksternal  Tetani uteri  Uterus keras  Syok maternal  Gawat janin  Gangguan koagulasi 0 I 30% + II 45% + /+/+/III 15% +/+ + + + 10% + + + +  - Perbedaan solusio plasenta dan plasenta previa: Solusio Plasenta Plasenta Previa           Gelisah Sakt hebat terutama yg tersembunyi Uterus kayu/keras Fundus meninggi PPV: sekaligus. Diagnosis: Subyektif  Perdarahan pervaginam trimester III. mengendap di ginjal. gerak anak Kulit Ketuban menonjol & tegang Tenang Tak sakit .  Usaha darah.  Periksa waktu pembekuan/ perdarahan. perdarahan. Pernah perdarahan Dapat mendadak/ pelan2 Kepala belum turun/kelainan letak DJJ +. o Aktif: induksi persalinan. gerak anak + Kulit ketuban lunak . otot rusak: mioglobin lepas.  Riwayat hipertensi berat  Gerak anak tidak terasa Obyektif:  Perut tegang. ke pembuluh darah.nyeri bersama his Uterus relaks Tonus tetap Selalu banyak. dinding rahim tidak bisa kontraksi. diabsorbsi dinding uterus sehingga tak bisa kontraksi dan warna kehitaman. perbaikan his.SOLUSIO PLASENTA Solusio plasenta: lepasnya sebagian atau seluruh plasentadengan implantasi normal sebelum anak lahir pada umur kehamilan 20 minggu atau lebih Etiologi:  Trauma karena tindakan versi luar. mengatasi syok & perdarahan  Pemberian fibrinogen: 10 g fibrin bila afibrin/hipo. gemelli Patofisiologi: Plasenta lepas. pecah kulit ketuban o Seksio sesarea Prognosis tergantung:  Luas plasenta yang terlepas  Jumlah perdarahan  Derajat fibrinogenemia  Derajat apopleksi uteroplasenter  Perdarahan internal atau eksternal  Kecepatan pertolongan: persalinan & transfusi Derajat solusio plasenta: 0 s. Ht.

Kandung kemih yang penuh.Perbedaan perdarahan tersembunyi (conceal) dan terbuka (reveal): Perdarahan tersembunyi  Perdarahan tampak sedikit  Syok tak sesuai darah yg keluar  Uterus keras  Nyeri hebat  Plasenta lepas semua  Ada HDK  Kejadian 20%  Bahaya >> Perdarahan reveal Perdarahan pervaginam banyak Syok sesuai darah keluar Uterus kontraksi kuat Nyeri kurang hebat Plasenta lepas sebagian Tidak ada HDK Kejadian 80% Bahaya << PENYULIT KALA IIIPERSALINAN Penyulit yang timbul pada kala III yang memerlukan tindakan: 1. Grandemultipara. 3. gemeli. syok. solusio plasenta 10. Penyebab: 1. 6. Perdarahan pasca partum (PPP) 2. misalnya anemia. Retensio plasentae PERDARAHAN PASCA PARTUM : Perdarahan pasca partum ialah perdarahan pervaginam yang jumlahnya melebihi 500 cc terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah janin lahir. Gangguan mekanis: sisa plasenta. bekuan darah. Inversio uteri ATONIA UTERI Atonia uteri ialah keadaan uterus tidak berkontraksi setelah anak lahir. hidramnion. sehingga tidak diketahui adanya PPP. sehingga pembuluh darah tersebut tetap terbuka. KU ibu yang jelek. Pemakaian anestesi yang terlalu lama / dalam.Darah akan terus mengalir melalui bekas melekatnyaplasenta ke kavum uteri dan seterusnya keluar pervaginam. Jarak persalinan berturut-turut yang terlalu pendek 4. kontraksi uterus lemah. .Bila tonus uterus tidak ada. Keregangan (overdistention) dari rahim misalnya akibat dari kehamilan kembar. Partus lama atau partus kasep (exhaustion) 5. Trauma jalan lahir 3. 11.  Kadang-kadang darah tersebut tidak dapat keluar pervaginam tetapi mengumpul dalam kavum uteri. Perdarahan ante partum: plasenta previa. anak besar dan sebagainya. 9. maka spiral arteries yang seharusnya menutup akibat kontraksi uterus tersebut tidak terjadi. kelainan uterus 7. Atonia uteri 2. KP kronis. Etiologi perdarahan pasca partum setelah plasenta lahir : 1. Mekanisme terjadinya perdarahan :  Perdarahan ini berasal dari tempat plasenta. Partus presipitatus 8. Sisa plasenta 4. dll 2. malnutrisi. Kehamilan miometrium: mioma uteri.

sedangkan plasenta lengkap. Usaha sementara b. 3. Pada waktu ada kontraksi darah akan memancar keluar 4.m Bila kontraksi uterus baik tetapi masih terjadi perdarahan.karena pertolongan yang kurang cepat atau kurang adekuat (tak ada darah dan sebagainya).Pandangan kabur . Kosongkan buli-buli dengan melakukan kateterisasi b.  Kompresi aorta abdominalis  Kompresi bimanual: satu tinju pada fornik anterior.merangsang terbentuknya thrombus . Sekarang tidak dianjurkan. Usaha prevensi dan persiapan penanggungan secara cepat. 5.Gambaran klinik : .menutup pembuluh darah yang terbuka . dilakukan tindakan yang lebih aktif dengan laparotomi. difikirkan kemungkinan perdarahan yang berasal dari robekan jalan lahir. Penanggulangan komplikasi .Mengantuk. Kosongkan rektum dan buli-buli pada tiap persalinan 4. jatuh dalam syok. baru tampak bila darah tersebut dikeluarkan. 2.  Dekompensasikordis: monitoring CVP sehingga tak terlalu banyak cairan yang diberikan. Penanggulangan komplikasi :  Infeksi post partum : pemberian antibiotika yang adekwat sebagai profilaksis maupun sebagai terapi bila sudah ada infeksi.Tampon yang dipakai berukuran 10 cm x 10m. misalnya: anemia.Bila dengan tamponade tersebut masih terjadi perdarahan. Perdarahan pervaginam lebih 500cc. dilakukan ligasi a. . Pada pemeriksaan inspekulo tidak ada robekan. kesadaran hilang dan akhirnya meninggal Pada PPP ini rata-rata penderita meninggal sebelum 2 jam post partum. Perbaikan keadaan umum selama antenatal 2. Pengembalian fungsi organ-organ 5. Pencegahan : Pencegahan terjadinya PPP ini kadang masih dapat dilakukan. .Perdarahan ini kadang-kadang tidak keluar pervaginam dan mengumpul dalam kavum uteri. 2.Perasaan lemah . Manajemen aktif kala III Perawatan: 1.  Anoksia otak: pemberian O2 yang cukup bila penderita jatuh syok. Usaha menghentikan perdarahan secepat mungkin : a. Hindarkan adanya ibu dengan risiko tinggi dengan KB 3.Melebihi 30 % dari seluruh volume darah timbul gejala-gejala perdarahan yang jelas : . . Bila fundus uteri masih akan dipertahankan. lakukan tampon utero-vaginal. Batasi pemakaian anestesi 6. perawatan terhadap PPP : 1. atau i. Kematian yang lebih cepat tejadi pada penderita yang keadaan sebelumnya sudah jelek.v.Penderita tampak anemis. Jadi dalam garis besarnya. Perdarahan tersebut terjadi terus menerus sebelum perdarahan tersebut dapat diatasi. Pituitrin secara drip i. Bila setelah pemberian uteronika kontraksi uterus masih belum adekwat dan perdarahan masih terjadi. Restorasi dari darah dan cairan yang hilang 4. satu tangan dari luar menekan uterus supaya hiperantefleksi. Bila pada waktu mengambil tampon terjadi perdarahan. sisa plasenta atau kelainan pembekuan darah. nadi meningkat. Lama kelamaan akan timbul gejala-gejala perdarahan umum seperti anemia.  Memperbaiki fungsi ginjal: pengukuran produksi urine. .kelelahan. nafas pendek. sehingga aliran darah ke rahim kurang  Kompresi Goth Piskacak: menekan dengan satu tangan seperti pegangan Pawlik pada bagian bawah rahim  Gabungan kompresi diatas       Perbaiki keadaan umum dengan memberi cairan dan darah Bila tidak ada sisa plasenta. Sebaiknya persiapan untuk perawatan PPP sudah disediakan pada setiap kasus yang diharapkan akan mengalami PPP. Bila terjadi PPP : a.Tampon diangkat setelah 24 jam.merangsang uterus untuk berkontraksi . 2. Hindari partus lama atau partus kasep 5. pengambilan tamon ditunda selama 24 jam lagi. Tindakan sementara untuk menghentikan perdarahan. Diagnosis PPP karena atonia uteri : 1. menguap . misalnya : 1.PPP terjadinya tidak mendadak. jumlah cairan yang sesuai untuk meningkatkan produksi urine ini. hipogastrika. Usaha yang ditujukan pada sebabnya 3. dilakukan histerektomi. diberikan uterotonika dengan gol. Uterus dalam keadaan lembek (tidak mempunyai tonus atau kontraksi). Bila tidak.Pada pemeriksaan: tensi turun. Tampon ini bermaksud : . syok.

sebab bila pertolongan terlambat dapat terjadi perubahan yang ireversibel pada otak. genggaman ditekankan pada fornik anterior vagina dan dinding depan rahim. maka tidak boleh dilakukan pemasangan tamponade lagi. Post partum dan nifasnya : .Anemia postpartum .  Tangan penolong yang lainmenekan fundus uteri kearah depan bawah. dan harus disusul dengan tindakan yang lebih aktif. penolong harus tetap mengawasi apakah masih terjadi perdarahan dari rahim. Prosedur pada perawatan atonia uteri meliputi 1. kelenjarendokrin tersebut mudah mengalami iskemia. misalnya melakukan ligasi a. Histerektomi Kompresi bimanual  Kandung seni dikosongkan dulu.  Selama melakukan pemijatan ini tangan kiri kadang-kadang meremas korpus uteri kearah bawah agar bekuan darah dapat dikeluarkan. Menjepit a.  Tindakan ini dapat dilakukan sampai ½ jam dan bila tetap terjadi perdarahan maka tindakan ini dianggap gagal. Prognosis lebih baikbila pertolongan lebih cepat. Pemasangan tamponade dalam rongga rahim 4.  Tangan yang diluar melakukan masase secara aktif pada rahim.uterina dengan cunam Henkel 6. kasa tampon dijepit sedemikian rupa sehingga ujung cunam selalu terbalut oleh tampon tersebut.  Bila dalam observasi didapatkan 1 atau 2 gejala tersebut maka tindakan tamponade rahim dianggap gagal.  Bahan yang dipakai untuk tamponade ini ialah gulungan kasa berukuran 10cm x 10 m dan sudah dibubuhi lodoform. Penekanan aorta : . maka maka harus diperhatikan :  Apakah fundus uteri bertambah tinggi  Bila fundus uteri bertambah tinggi berarti telah terjadi perdarahan banyak yang mengumpul dalam ruangan antara tamponade dan fundus uteri. dan bila setelah waktu ini perdarahan masih tetap berlangsung.  Dengan cara ini maka rahim dirangsang untuk berkontraksi dan vena-vena dalam rahim akan terjepit.  Tangan penolong yang diluar diletakkan di fundus uteri dan tetap menahan fundus uteri selama pemasangan tampon dikerjakan.  Untuk memadatkan tampon ini dapat juga dipakai jari-jari tangan. Penekanan aorta 5.Untuk mengetahui ini. Kompresi bimanual internal & eksternal & aorta 2. Perdarahan yang banyak.  Dalam melakukan pemijatan ini rahim hendaknya dikeluarkan dari rongga pelvis.  Apakah dari kain tampon yang berada di luar vagina terjadi rembesan darah. Memijat rahim secara Dickinson 3.  Dengan cunam tampon. meskipun dengan tranfusi masif. 4.  Dalam memakai tamponade rahim untuk menghentikan perdarahan.  Kandung kemih dipasang kateter menetap. prognosisnya lebih jelek. Jari-jari tangan kanan ini menggenggam SBR. Dipasang spekulum pada vagina 2 buah  Bibir depan servik dijepit dengancunam muzeaux. sebagian kain tampon dikeluarkan diluar vagina. Ligasi a. satu tangan penolong dimasukkan jalan lahir dan dengan posisi menggenggam. tidakan ini dianggap gagal.  Tindakan ini dapat dilakukan sampai maksimum ½ jam. Sambil tangan kiri melakukan pemijatan pada rahim kearah ruas-ruas tulang belakang. ginjal dan sebagainya sehingga penderita menjadi invalid atau meninggal 3. dan ditarik kearah depan atas. Pemasangan tamponade dalam rongga rahim  Kandung seni dikosongkan. sering mengakibatkan timbulnya kelainan pembekuan darah sehingga perdarahan lebih sulit diatasi.Terdiri dari :  Kegagalan laktasi  Amenore yang persisten  Atrofi mamma  Hilangnya rambut ketiak dan pubis  Superinvolusio uteri  Hipothiroidism  Insufisiensi kortex adrenalis Sindroma ini tidak tergantung pada jumlah perdarahan yang terjadi. maka tangan kanan meremas-remas SBR.Bila terjadi komplikasi sebagai akibat tranfusi. Tangan kiri penolong diletakkan diatas fundus uteri dan mencengkam korpus uteri. Bila terjadi rembesan darah. Hipogastrika atau histerektomi.  Kain tampon dimasukkan sedikit demi sedikit mulai dari fundus uteri kearah bawah sedapat mungkin.  Bila tamponade gagal.Prognosis : 1. Hipogastrika 7. Memijat rahim secara Dickinson  Penolong berdiri disebelah kanan ibu dan menghadap ke perut ibu. berarti tampon sudah seluruhnya basah.Pada waktu kehamilan. sehingga rahim tertekuk kedepan. dan ini berarti telah terjadi perdarahan yang cukup banyak.  Tangan kanan penolong pada sisi ulnar diletakkan diatas simfisis. Dengan adanya tranfusi darah yang baik maka prognosisnya lebih baik 2.Infeksi puerperalis .Sindroma Sheehan: disebabkan karena nekrosis kelenjarpituitari anterior.

Ruptura uteri .Penekanan aorta dapat langsung melalui dinding abdomen dan dapat dilakukan dengan cara : a. Karena kontraksi yang kuat padainduksi persalinan atau perbaikan his.Penderita merasa nyeri di daerah SBR . Gejala klinik: Sebelum terjadi ruptura uteri sudah dapat dilihat gejala ancaman ruptura uteri (ruptura uteri iminens): . TRAUMA JALAN LAHIR : Pada trauma jalan lahir tak semuanya menimbulkan perdarahan post partum. . Dengan alat penekan aorta Dengan genggaman tangan :  Penolong berdiri disebelah kanan dan menghadap kearah kaki. terlihat lekukan lingkaran retraksi yang makin lama makin tinggi yang disebut cincin atau lingkaran Bandl yang nyeri bila dipegang. . pada tindakan ekstraksi forsep/ vakum.  Tehnik :dipasang 2 spekulum didepan dan dibelakang.Ruptura servik uteri .  Oleh karena itu tindakan ini hanyalah suatu tindakan darurat dan sementara dalam menunggu tindakan lain yang lebih radikal.Ruptura perinei RUPTURA UTERI Pembagian:  Ruptura uteri spontanea: : terjadi secara spontan  Ruptura utei violenta: terjadikarena adana trauma  Ruptura uteri yang terjadipada bekas irisan SC Mekanisme: Ruptura uteri spontanea: disebabkan oleh turunnya bagian anak terhalang. cepat atau lambat.Penekanan aorta merupakan tindakan sementara dalam menunggu tindakan aktif lain.Kompleta: seluruh lapisan uterus robek sehingga ada hubungan langsung antara kavum uteri dan kavum peritonei.Penderita gelisah. yang dapat diketahui dengan memegang nadi a. nafas pendek. Tangan kiri atau kanan penolong digenggamkan dan kemudian genggaman tersebut ditekankan pada daerah aorta diatas fundus uteri (kira-kira setinggi Lumbal IV).SBR makinlama makin tipis. Dengan alat penekan aorta :  Alat penekan aorta mempunyai bentuk bermacam-macam. . . Jenis trauma jalan lahir. uterina dengan cunam Henkel  Prinsipmenjepit a. . Setelah terjadi ruptura uteri: penderita merasa ada yang pecah di dalam perutnya. tangan penolong yang lain dapat ditekankan padapergelangan tangan tadi disertai dengan tekanan gaya berat badan yang sedikit dibongkokkan.Ligamentum rotundum kanan-kiri teregang dengan insersi yang tinggi pada uterus. tapi peritoneum masih utuh. atau edema seviks karena terjepit. embriotomi atau dorongan Kristeller yang terlalu kuat.  Tehniknya sama seperti dengan genggaman tangan  Penekanan juga harus secara intermiten Menjepit a. uterina pada percabangannya menjadi ramus asendens dan desendens ditepi lateral rahim dalam parametrium.Ruptura vulvae .Denyut jantung janin tidak teratur. .  Tekanan dilakukan sedemikian rupa sehingga membantu aliran darah dalam aorta.Ruptura vagina . . . misal pada disproporsi kepala panggul.  Penyulit yang paling berbahaya dari tindakan ini adalah terjepitnya ureter. kemudian penderita lebih lega dan tenang.Pada pemeriksaan dalam vagina biasanya sudah terjadi kaput suksedaneum.  Bibir depan dan belakang servik dijepit dengan cunam bundar.Kontraksi uterus yang kuat tidak diikuti oleh kemajuan persalinan yang sesuai.  Demikian pula dengan cara yang sama dilakukan penjepitan pada parametrium yang berlawanan. versi ekstraksi.  Bagian yang dipakai untuk menekan aorta ini adalah ruas kedua atau ketiga. letak lintang. femoralis.  Untuk memperkuat tekanan. Bisa terjadi sebelum atau selama inpartu. kemudian pada parametrium kiri setinggi forniks dilakukan penjepitan dengan cunam Henkel dalam arah tangensial kearah rahim.  Bibir servik ditarik kearah kanan. Genggaman tangan b. nadi cepat.Inkompleta: lapisan otot sudah robek.  Penekanan harus dilakukan secara intermiten. hal ini tergantung lokasi dan besar kecilnya trauma. Macam ruptura uteri: . SBR makin tipis sehingga bila tidak ditolong akan robek Ruptura uteri violenta: disebabkan trauma benda tajam pada waktu menolong persalinan dengn SBR yang sudah tipis. Ruptura uteri pada bekas Seksio Sesarea: karena penyembuhan bekas irisan yang kurang baik mudah robek terutama pada Seksio Sesarea klasik.

Kadang-kadang ada perdarahan pervaginam . Pemakaian uterotonika pada kala I harus dengan observasi yang sempurna 3.Kontraksi uterus berkurang dan menghilang . Servik inkompeten:robekan servik yang tidak dijahit menyebabkan servik tak dapat menutup dengan sempurna. . asidosis. dan teraba usus danomentum. dan sebagainya. 3.Keadaan umum diperbaiki dengan infus untuk keseimbangan elektrolit cairan . Diagnosis: .Pada pemeriksaan dalam vagina.Pada ruptura uterikemungkinanterjadi peritonitis.Umumnya dikerjakan histerektomi krena merupakan sumber infeksi . sehingga pertumbuhan lebih sempurna. sepsis. terutama bila a.Perdarahan terus terjadi meskipun kontraksi uterus baik.Antibiotika dosisi tinggi . tetapi pada umumnya tidak menyebabkan perdarahan. Prosedur menjahit :  Didalam vagina dipasang spekulum Sim 2 . .Perdarahan pervaginam yang arteriil dan memancar sedangkan kontraksi uterus baik . Penyembuhan yang tidak sempurna dari robekan servik dapat mengakibatkan :striktura servik dan konglutinatio servik Perawatan :  Penting adalah mencegah terjadinya robekan tersebut.  Robekan yang luas (lebih dari 1 cm) pada servik dapat menyebabkan terputusnya a. Semua usaha untuk melahirkan anak sebelum pembukaan lengkap supaya dihindarkan.Inspekulo : didapat robekan servik dan pada eksplorasi robekan mungkin menjalar sampai SBR atau vagina.  Bila terjadi robekan yang melebar ke parametrium atau terjadi hematoma parametrial.  Penjahitan kembali tak usah terlalu rapat. Robekan biasanya terjadi pada jam 3 dan 9. Darah yang keluar pervaginam adalah darah arteri dan memancar. . Bahaya komplikasi : 1. uterina.DJJ tidak terdengar lagi karena bayi mati.Edemaservik pada partus lama.Grande multigravida . Infeksi: robekan servik terletak pada daerah yang dekat dengan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi.Curiga panggul sempit pada tinggi badan sekitar 140 cm. terutama pada permulaan trimester II sehingga terjadi abortus atau partus imaturus.Bila robekan sedikit dan masih ingin punya anak dilakukan histeroraphi (penjahitan kembali robekan) RUPTURA SERVIK UTERI :  Pada setiap persalinan akan terjadi robekan-robekan kecil pada servik. Perdarahan pada robekan servik terjadi sangat cepat. 2.Bila tidak segera ditolong sering menimbulkan kematian 2.Laparotomi segera untuk menghentikan perdarahan .Umumnya memanjang .Pada palpasi dapat diraba bagian-bagian anak dengan mudah dibawah kulit perut ibu. striktura servik .Pemakaian uterotonika ada kala I Klinis : Robekan servik ini biasanya memberi perdarahan setelah anak lahir. .Bekas Seksio Sesarea atau bedah rahim . cacad pada kaki (pincang) . . Jangan boleh mengejan sebelum pembukaan lengkap. hipogastrika.Partus buatan . atau tidak teraba sama sekali karena sudah berada dalam rongga perut. Perdarahan akibat robekan servik ini dapat : . sebab pada tempat tersebut mengalir cabang a.Tanda-tanda syok hipovolemik karena perdarahan intra abdominal . 4. dianjurkan melakukan ligasi a.  Pada dasarnya ruptura servikkarena seriks belum terbuka lengkap.Transfusi . sebab harus memperhatikan involusi dari servik. 1.Pada pemeriksaan ruptura uteri: .Menyebabkan hematom parametrium yang luas.Ada yang melingkar Ruptura servik yang mengenai jam 3 atau 9 akan memberi perdarahan hebat.Pertolongan persalinan sebelumlengkap misalnya: mengejan sebelum waktunya.Kelainan letak yang sukar dikoreksi . bagian terendah anak mudah didorong ke atas. Untuk ini servik harus ditarik keluar dengan tang ovum atau tang cincin.  Jahitan diusahakan proksimal dari robekan sehingga pembuluh darah yang telah mengalami retraksi ikut terjahit. uterina atau cabangnya.Perdarahan pervaginam .Bisa pula teraba robekan pada SBR. robekan ini merupakan port d’entre kuman.Hidrosefalus Pengelolaan .  Pada prinsipnya semua robekan servik yang melebihi 1 cm harus dijahit kembali.Persalinan yang berlangsung cepat . bisa juga lambat atau sedikit. Bentuk ruptura servik . Penyebab terjadinya : . uterina atau cabang besar ikut terputus. .Perdarahan bisa cepat bila mengenai pembuluh darah besar.Pada plasenta previa dimana servik sangat rapuh . Pencegahan: Pada pemeriksaan antenatal sudah dapat ditentukan risiko tinggi untuk ruptura uteri: . FE.

Perdarahan . maka robekan harus dijahit dengan benang katgut besar memakai jarum bundar secara simpul. Perdarahan akibat robekan perineum ini biasanya tak banyak.  Dilakukan penghentian sumber perdarahan dengan ligasi. Yang paling penting ialah jahitan pertama harus mengenai ujung luka servik. Kadangkala mukosa servik mengalami perdarahan difundus uteri. maka cunam bundar dipindah setahap demi setahap melingkari bibir servik.  Ujung luka sebelah kranial harus terjahit dengan sempurna. Syok 3. Kecuali bila terjadi pada bagian atas dan menyebabkan terputusnya cabang a. Merupakan tempat berbiaknya bakteri Trauma Perineum :     Merupakan tempat yang paling sering mengalami trauma akibat persalinan. Komplikasi . TRAUMA VAGINA : Trauma pada vagina dapat berbentuk :  Hematoma  Laserasi  Ruptura vagina yang dalam  Fistula Cara perawatan :  Hematoma  Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah disekitar vagina.  Bila terjadi hematoma semacam ini : 1. karena adanya lecet pada mukosa tersebut.  Lapisan pertama harus mengenai dasar luka. bila perlu dijahit atau diberi penekan  Hematoma yang luas dapat mengakibatkan: 1. untuk mengetahui adanya robekan servik.  Ruptura vagina  Terjadi akibat :  Persalinan buatan (forsep)  Kelahiran spontan pada janin besar.  Pada hematoma yang besar. Diagnosis: dengan pemeriksaan inspekulo.  Tempat yang terkena ialah : o Preputium klitoridis o Dinding media labia minora  Perawatannya cukup dengan memberi desinfektan. 2. Hipofibrinogenemia 4. paling atas. terutama bila terdapat robekan pada fasia.  Bila hematoma kecil dapat dibiarkan  Bila hematoma besar harus dilakukan insisi dan semua bekuan darah dikeluarkan.    Bibir servik dijepit dengan 2 cunam bundar.Prolapsus vagina. Bila didapat robekan memanjang (sagital). o Klinis hampir seperti robekan servik. Hematoma  Pada daerah vulva ini sering terjadi robekan pembuluh darah dengan akibat vulva hematoma yang luas dan nyeri. harus dilakukan insisi unntuk mengeluarkan darah.Ruptura vagina .  Luka pada vulva sering menimbulkan perlekatan: konglunasio vulvae. Bila besar. terjadi akibat gesekan antara janin dengan vulva. Perasaan nyeri yang hebat 2. simpul. Dapat dilakukan penekanan sehingga tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.  Bila ruptura cukup dalam harus dijahit 2 lapis. uterina yang besar. lebih-lebih bila dilakukan ekspresi Kristeller. Untuk keadaan ini tak perlu dilakukan penjahitan.  Bila lecet agak dalam dan berdarah. dijahit dengan benang catgut halus dan memakai jarum bulat. Ruptura perinei dibagi 3 tingkat :  Ruptura perinei tingkat I:Robekan pada mucosa vagina dan kulit perineum . o Perdarahan pada robekan vagina ini tidak sehebat robekan servik.  Bentuk ruptura vagina umumnya sagital.  Luka dijahit dengan benang catgut chromic.  Kolporeksis : o Robekan vagina bagian atas pada daerah fornik. TRAUMA VULVA Laserasi :  Bentuk trauma ini superfisial. tapi kadang-kadang sampai terjadi perdarahan yang hebat dan syok Perdarahan yang terjadi pada episiotomi saja rata-rata 230 cc. Cara menjahit : Pada vagina dipasang spekulum Sims 1 atau 2 diletakkan sedemikian rupa sehingga ruptura vagina tampak jelas.  Bila terjadi perdarahan banyak harus dilakukan penjahitan dengan benang catgut halus. dan dapat ekstensi keatas sampai servik. sehingga seluruh bibir servik dapat dieksplorasi dengan baik. bila bekuan darah tidak dievakuasi dapat timbul keradangan dan akhirnya terbentuk abses.  Lecet pada mukosa vagina  Perawatan cukup dengan diberi desinfektan.

Pada waktu tindakan ini tangan kiri penolong menahan fundus uteri.Inkontinensia alvi . sambil memegang cunam servik  Dimasukkan alat kuret dengan dipegang oleh tangan kanan.Alat kuret . perinei transversa. ani eksterna. Pada abortus inkompletus atau PPP.yang robek  Ruptura perinei totalis: bila seluruh lingkungan muskulus.Perdarahan .Prosedur :  Desinfeksi daerah vulva dan vagina  Kandung seni dikosongkan  Pasang spekulum Sim pada dinding bawah vagina. Perawatan : Robekan perineum harus dijahit kembali lapis demi lapis. kerokan dihentikan.sfinter ani eksterna.  Ruptura perinei tingkat II (Ruptura perinei subtotalis): robekan pada otot dasar panggul seperti m.  Tangan kiri penolong menahan fundus uteri    Setelah alat kuret dimasukkan dan sambil memegang cunam servik telah menyentuh fundus uteri. dan dipegang seorang asisten  Bibir dengan servik dipegang / dijepit dengan cunam servik  Lakukan sondase rahim: menentukan arah korpus uteri dan besar /panjang rahim  Bila kanalis servikalis sudah terbuka. Luka dijahit 2 lapis dengan benang catgut halus secara simpul atau jelujur dengan jarum bundar. cairan desinfektan . sfinter ani eksterna.  Ruptura perinei tingkat III: yang robek selain m.Prolaps vagina / uteri . Prosedur penjahitan :  Ruptura perinei tingkat I: robekan dijahit dengan benangkatgut kromik secara simpul dan memakai jarum bundar  Ruptura perinei tingkat II : yang kena adalah m. levator ani. Jahitan harus mencapai dasar luka.Sodium Penthotal .Cunam abortus . levator ani.Anestesi : .  Penjahitan harus dilakukan secara cermat agar otot tersebut tersambung dengan baik. Ada yang membagi sebagai :  Ruptura perinei subtotalis: bila hanya sebagian. Kavum uteri dianggap bersih bila tidak tampak lagi jaringan yang keluar.Spekulum Sim . alat : .Ketika dimasukkan kedalam kavum uteri alat kuret dalam posisi mendatar.  Ruptura perinei tingkat III (Ruptura perinei totalis): robekan pada m.  Bila sisa plasenta besar dan banyak. yang terpotong. Setelah bersih. rongga vagina dibersihkan dari sisadarah. SISA PLASENTA : Merupakan sebab PPP setelah 24 jam persalinan (disebut juga perdarahan nifas sekunder). levator ani. bulbokavernosa atau m.  Kemudian m. tersebut putus  Rupturasentralis: perineum beserta lapisan ototnya robek tapi kulit perineum masih utuh.Kasa. maka mulai dilakukan pengerokan secara teratur. Kemudian kulit dijahit dengan benang sutera dan memakai jarum tajam.Pethidin + Diazepam .Dilatator Hegar . dan cairan/darah berbuih.Dispareunia . m.  Bila mukosa rektum ikut robek maka harus dijahit lebih dahulu dengan benang katgut kromik halus secara simpul. Komplikasi : .levator ani dijahit seperti menjahit pada ruptura perinei tingkat II. kanalis servikalis telah membuka.Sonde rahim .  Otot ini dijahit dengan benang katgut kromik secara simpul. kemudian arah kerokan dibalik berlawanan dengan arah jarum jam. dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk.Cunam servik .Sebelum memulai menjahit harus ditemukan dulu kedua pangkal m. juga terkena m. m. Perawatan :  Perbaiki keadaan umum: infus.Cunam tampon . Mula-mula arah kerokan sesuai dengan arah jarum jam. Tetapi bila masih tertutup maka perlu dilakukan dilatasi berangsur-angsur dari busi Hegar terkecil sampai ukuran yang diperlukan. tranfusi  Bersihkan kavum uteri: kuretase Tehnik kuretase : . dikeluarkan lebih dahulu dengan cunam abortus.Infeksi .Persiapan. maka tidak perlu dilakukan dilatasi. sfinter ani externus.

Plasenta Bilobata. yang menyebabkan cincin konstriksi (constriction ring bukan retraction ring): Hour glass contraction 4. Tahap ekspulsi : plasenta lahir Pembagian retensio plasenta berdasarkan prognosis dan perawatannya:  Retensio plasenta tanpa perdarahan: Terjadi bila belum ada bagian plasenta yang lepas atau seluruh plasenta sudah lepas tetapi plasenta terjepit dalan rahim. Plasenta Spuria. Didapatkan cekungan pada fundus uteri. RETENSIO PLASENTAE : Retensio plasentae:keadaan dimana plasenta tak dapat lahir setelah ½ jam kelahiran bayi. Kita dapat memperbaiki keadaan umum penderita bila diperlukan.  Sebelum reposisi plasenta dapat dilepaskan dulu dengan maksud memudahkan reposisi.  Perdarahan dapat terjadi banyak atau sedikit tergantung plasenta yang sudah lepas. Antibiotika. keluarnya fundus uteri melalui ostium uteri sampai ke vagina. Infeksi 3. Plasenta Fenestrata b. Pl asenta perkreta : sampai menembus perimetrium 6. Pengelolaan: Bila tak terjadi perdarahan. prognosanya jelek.  Retensio plasenta dengan perdarahan: Menunjukkan bahwa sudah ada bagian plasenta yang sudah lepas. Pasang infus. tetapi bahaya perdarahan lebih banyak. 3. Derajat syoknya tak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terjadi 3.  Bila tak berhasil dilakukan reposisi. Pasang tamponadeutero-vaginal 6.INVERSIO UTERI : Inversio uteri : keadaan dimana uterus terbalik kedalam (inverse) demikian rupa sehingga lapisan endometrium yang tadinya merupakan lapisan dalam menjadi lapisan luar. maka reposisinya jauh lebih sukar. Pada retensio plasentae ini dapat disertai perdarahan banyak atau sedikit. misalnya : o Infus atau tranfusi o Pemberian antibiotika o Pemberian antipiretika o Pemberian ATS. 5. maka kita tak perlu bertindak tergesa-gesa. dilakukan operasi secara Huntington dan Spinelli (kronis). Faktor predisposisi :  Atonia uteri  Implantasi plasenta pada fundus uteri  Ostium uteri yang longgar Sebab terjadinya:  Partus yang terlalu cepat (partus presipitatus)  Ekspresi Crede  Tarikan pada tali pusat. Kelainan bentuk plasenta sehingga plasenta atau sebagian plasenta sukar lepas : a. Penderita post partum yang mengalami syok. kalau perlu transfusi 4. sukar lepas karena plasenta yang lebar dan tipis (plasenta yangprematur imaturatau plasenta membranasea). sebagai lanjutan inertia yang sudah ada sebelumnya atau yang terjadi pada kala III: partus lama. Pada pemeriksaan dalam dan inspekulo terdapat suatu tonjolan / tumor pada vagina yang ternyata uterus yang terbalik. kalau perlu ATS Prosedur reposisi :  Bila inversio tersebut baru terjadi dapat dicoba reposisi secara manual. makin sukar reposisinya.Dengan demikian maka terdapat kebocoran darah ibu yang semestinya masuk ke dalam ruang intervilosa. Atonia uteri. . Lakukan reposisi 5. Pemberian uterotonika 7. Pengelolaan: 1. Plasenta yang adesif. 2. Pimpinan kala III yang salah : memijat rahim yang tidak merata.  Terjadinya inversio uteri ini dapat akut dapat pula perlahan-lahan dimulai dengan invaginasi. pemakaian narkose. Plasentainkreta : sampai miometrium c. Tahap separasi : plasenta lepas dari insersinya 2.  Adanya tarikan dan keregangan peritoneum menyebabkan nyeri hebat sampai syok. Makin lama inversio tersebut terjadi. Kontraksi uterus yang hipertonik. sedangkan kontraksi uterus tidak dapat sempurna Etiologi : 1. Plasenta Suksenturiata. Mekanisme kelahiran plasenta dibagi 2 tahap: 1. Diagnosis: 1. Pemberian narkotika untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat (Pethidin 100 mg atau Morphin 10 -15 mg) 2. Bahaya yang terjadi : 1. baru dilakukan pertolongan untuk melahirkan plasenta. pijatan sebelum plasenta lepas. pemberian uterotonika dan sebagainya. sedangkan bagian lain masih melekat. Plasentaakreta : sampai stratum Basalis endometrium b. Plasenta Membranasea c. bila kasus berasal dari luar rumah sakit Bila keadaan umum penderita sudah layak untuk melakukan tindakan. Vili khorialis yang melekatnya lebih dalam : a. Prognosis: bila pertolongan terlambat.  Bila plasenta tidak dilepaskan lebih dahulu. gemeli dan sebagainya. pucat dan tampak sakit 2. atau fundus uteri tidak dapat diraba lagi 4. Bila perlu diberikan anestesi umum 3. Syok yang lama dan menjadi ireversibel 2.

4. sehingga dengan narkose yang dalampun tangan tak dapat masuk dapat dilakukan histerotomi untuk melahirkan plasentanya. Indikasi : 1. d. Tehnik Brandt Andrew : Mula-mula kandung seni dikosongkan. atonia uteri.  Jika plasenta sudah dilepaskan seluruhnya. misal plasenta increta atau perkreta. maka kita harus bertindak cepat untuk mengeluarkan plasenta. 2. Penolong berdiri disamping kanan penderita menghadap perut ibu. Bahaya plasenta manual:  Infeksi  Salah jalan masuk menembus fornik posterior yang lunak  Perforasi uterus. Perdarahan antepartum Tehnik :  Ibu diberi narkose untuk relaksasi rahim. Semua tindakan plasenta manual harus dilakukan narkose yang dalam. Perdarahan lebih dari 500 cc sebelum plasenta lahir 5. Tindakan pada retensio plasenta: 1. untuk mengetahui ini dapat dipakai tehnik : Klein. Plasenta manual : Plasenta manual:melahirkan plasenta dengan cara memasukkan tangan penolong kedalam kavum uteri.  Tangan kiri dengan sisi ulnar melepaskan plasenta dari dinding rahim. Pada waktu uterus berkontraksi. Tehnik Calkins : Tangan kanan penolong meregangkan tali pusat sedang tangan yang lain melakukan masase pada fundus uteri dan mendorong ringan.Uterus dipegang atau ditekan suprasimphisis dan diarahkan pada arah yang berlawanan dengan regangan tali pusat. melepaskan dari insersio dan mengeluarkannya. Dengan masase pada fundus uteri dan tarikan ringan maka plasenta dapat dilahirkan. Tangan kiri mengurut kanalis servicalis kearah atas bersamaan itu tali pusat ditarik keluar sehingga plasenta lahir c. Tehnik Crede : Penolong berdiri disamping kiri penderita menghadap kaki ibu.  Tangan kiri meregangkan tali pusat.Bila plasenta tak dapat dilepaskan dari rahim.Tangan dimasukkan secara obstetrik maksudnya supaya udara tidak seperti dipompakan masuk kavumuteri untuk mencegah timbulnya emboli udara. disamping memperbaiki keadaan umum penderita. lakukan histerektomi. robekan jalan lahir  Emboli udara  Perdarahan yang banyak (kurang pengalaman) . Perdarahan profus pada kala III.  Cara Crede : Tangannya / jari dibagian posterior rahim sedang ibu jari dibagian anterior rahim. dimulai dari tempat plasenta yang sudah lepas sampai seluruh placenta lepas. Rahim ditekan searah sumbu rahim sehingga plasenta dapat dilahirkan. William’s atau Dublin  Cara Brandt Andrews (Controlled traction of the cord): Uterus ditengahkan.Pengeluaran plasenta secara manual (dengan narkose) . .Bila plasenta belum lepas maka pelepasan dimulai dari tepi plasenta. Retensio plasenta 3. Bila plasenta belum lepas maka plasenta dilahirkan secara: a. sedang plasenta belum lahir. Pasang infus dan tranfusi bila perlu 2. Kutsner atau Strassmann. Bila plasenta telah lepas maka plasenta dapat dilahirkan secara : o Calkins o Brand o Crede 5. b. 4. maka dengan tangan yang didalam plasenta dikeluarkan. Cara ini dapat diulang 3 kali dengan antara ½ jam. Dengan tangan kanan penolong rahim dipegang sedemikian rupa sehingga rahim berada diantara telapak tangan dan ibujari. tali pusat direngangkan. . rahim diperas untuk melepaskan dan melahirkan plasenta. Kosongkan kandung seni 3.Bila ostium uteri eksternum sudah demikian sempitnya. tangan kanan menelusuri tali pusat dimasukkan secara obstetrik sampai mencapai insersionya. Setelah persalinan pembedahan pervaginam yang memakai narkose.Bila disertai perdarahan. Cara untuk melahirkan plasenta : . Periksa dari luar apakah tahap separasi telah terjadi.Cara dari luar :  Dicoba mengeluarkan plasenta dengan cara normal:Cara Calkins.Tangan kanan meregangkan tali pusat sedangkan tangan kiri mencengkam kanalis servikalis diantara ibu jari dan jari lain.

.  Diagnosis dapat juga dibuat ketika penolong mendapatkan tahanan pada saat melakukan tarikan curam ke bawah secara normal pada kepala bayi tidak berhasil melahirkan bahu depan. Menarik pada tali pusat 4. Memeras uterus 3. kosongkan kandung kemihbila penuh.Segala sesuatu yang maksudnya mempercepat kala III sering malahan menimbulkan kesukaran dan memperlambat kala III tersebut.2 mg IM / IV sesudah plasenta lahir. bersamaan dengan dilakukan tarikan normal curam ke bawah pada kepala janin. Kesulitan dalam melahirkan bahu depan pada saat melakukan tarikan curam kebawah pada kepala bayi. penuh ketrampilan dan bijak untuk mencegah terjadinya trauma yang berat atau kematian dari janin. Perasat ini harus dilakukan secara cepat. metil ergonovin  Ekstrak hipofise posterior: oksitosin Perbedaan ergometrin dan oksitosin: Ergometrin Oksitosin Kontraksi miometriumTetanik Intermiten Relaksasi (-) (+) Efek Cepat Setelah 5-10 menit Saat pemberian Sesudah plasenta lahir Setelah anak lahir Pengaruh tekanan darah Menaikkan tekanan Tak menaikkan tekanan Cara pemberian:  Oksitosin: diberikan 10 U IM / IV setelah kepala lahir sebagai manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan pasca salin  Metil ergometrin: diberikan 0.Pimpinan kala III yang salah sebagai penyebab perdarahan pasca partum:    Setelah anak lahir. Tahapan pengelolaan:  Mobilisasi semua tenaga yang ada. Cara yang sering dipakai : 1. Akibat dari tindakan-tindakan tersebut.  Bila gagal lakukan perasat Mc Roberts  Bila gagal lakukan Woods Screw  Bila gagal lakukan lahirkan lengan posterior lebih dulu. rumput yang tumbuh pada gandum hitam: ergometrin .  Bila gagal patahkan lengan klavikula posterior atau humerus atau melakukan perasat Zavanelli     UTEROTONIKA Uterotonika: obat yang langsung berpengaruh pada kontraksi uterus pada miometrium Terdiri 2 macam:  Ergot (alkaloid): dari claviceps purpurea. Memijat-mijat uterus 2.  Bentuk panggul platipeloid/panggul picak. plasenta malah terjepit dalam kavum uteri. maka terjadi sebagian plasenta dengan kontraksi uterus yang tidak merata dengan akibat terjadi perdarahan yang berasal dari bagian plasenta yang lepas tadi. Faktor predisposisi:  Ibu berumur lanjut  Diabetes Mellitus  Ibu gemuk / obesitas  Kehamilan lewat waktu  Berat badan berlebihan selama hamil  Riwayat melahirkan bayi besar dan distosia bahu sebelumnya.  Dilakukan penekanan suprapubik oleh pembantu. usahakanmembuat tarikan ringan pada kepala janin. Pengelolaan:  Cepat kenali masalahnya dan lakukan serangkaian geakan atau perasat untuk mengakhiri persalinan melalui vagina. Catatan :Pemimpin partus biasanya menunggu 2-3 jam sebelum anak lahir. Memberikan uterotonika dan sebagainya. Diagnosis:  Adanya tanda retraksi kepala (head retraction sign) atau tanda kepala penyu (turtle sign). Seorang pemimpin partus seharusnya bertindak sabar. Kadang akibat tindakan tersebut diatas. maka uterus mengadakan retraksi dan kontraksi akibatnya terjadi separasi plasenta. Seorang pemimpin partus kadang kala tidak sabar. Separasi ini rata-rata terjadi 10 menit setelah anak lahir. tetapi sering tidak sabar untuk menunggu 2-3 menit dalam melahirkan plasenta. dan berusaha untuk mempercepat separasi ini. kepala janin terutama dagu tertarik rapat kembali terhadap perineum. tepat. DISTOSIA BAHU Macetnya persalinan letak kepala disebabkan tertahannya bahu depan pada simfisis. dimana setelah kepala lahir.

Komplikasi: Ibu:  Trauma atau robekan jalan lahir  Perdarahan  Infeksi Janin:  Asfiksia  Fraktur pada tulang klavikula atau humerus  Cidera pada pleksus brakhialis. reguler  Pengawasan kala I: tiap ¼ jam  Pengawasan Kala II: tiap 5 menit  Mulai terdengar 18 -20 minggu. diusahakan darah untuk transfusi. Perlu diperhatikan:  Penentuan denyut jantung janin harus dilakukan saat tidak ada his. suara meniup sesuai DJJ.  Kematian janin Pencegahan:  Kenali adanya makrosomia dengan akurat dan tepat  Kenali adanya beberapa faktor risik GAWAT JANIN Gawat janin (fetal distress): janin dalam keadaan gawat sehingga memerlukan tindakan darurat untuk menyelamatkan. Tanda: bila didapatkan satu atau lebih tanda dibawah ini:  Denyut jantung janin menjadi tidak teratur: beda >2 (12-9-11)  Denyut jantung janin menjadi terlalu lambat (< 100x/ menit)  Denyut jantung janin memjadi terlalu cepat (frekuensi lebih dari 160 x menit)  Terjadi pengeluaran mekonium pada janin bukan letak sungsang  pH darah janin kurang atau sama dengan 7.  Dengan Dopler (Ultrasound Ehoscopy) terdengar:  DJJ  Gerak anak  Gambaran bentuk anak Diagnosa banding DJJ: Ibu:  Denyut jantung ibu (80/menit)  Bising usus: tak teratur suaranya  Arteri uterine: sama dengan frekwensi ibu) Anak:  Bising tali pusat .  Penilaian frekwensi tiap 5”. . pada tali pusat terjepit. diselingi 5”  Frekwensi normal: 120 -150 / menit.  Walau gawat janin merupakan indikasi untuk segera mengakhiri persalinan tetapi sebaiknya tetap harus dicari penyebab perubahan akut yang terjadi pada janin sambil memberikan oksigen dan menempatkan ibu berbaring miring ke kiri. ANEMIA KEHAMILAN Pengaruh anemia pada  Kehamilan: o Abortus. prematur o Kelainan kongenital: cacat bawaan/ mental akibat hipoksi otak  Persalinan: o Inersia uteri o Persalinan lama o Persalinan tak maju  Pasca salin: o Atonia uteri o Perdarahan pasca salin o Infeksi Penderita anemia karena perdarahan dan di bawah 9gr %. imatur.2  Terjadi deselerasi lambat pada penggunaan kardiotokograf intrapartum.

atau berat badan janin 500 – 1000 gram. o Dilakukan episiotomi untuk menghindari perlukaan kelahiran atau perdarahan otak karena tengkorak janin lebih lunak. - . PARTUS PREMATUR: Persalinan yang berlangsung pada kehamilan umur 28 – 37 minggu. bayi besar pada ibu DM.: o Perlengkapan untuk bayi prematur: alat resusitasi. istirahat cukup. vulva toilet. hidramnion. cari sutura  Dengan dipimpin jari jarum pungsi ditusukkan ke sutura. diazepam  Tokolitik: isoksuprin o Bila persalinan prematur tak dapat dicegah. Pencegahan dengan makanan bergizi. Pengeluaran plasenta sering terhambat. o Injeksi vitamin K 1 mg setelah bayi lahir. pasang duk steril  Inspekulo vagina. Etiologi: sering tidak jelas. Pengelolaan: o Prinsip: kehamilan dipertahankan sampai aterm o Mencegah berlangsungnya persalinan dengan mencegah his: o Posisi Trendelenburg untuk mengurangi tekanan kepala pada SBR sehingga rangsangan terhadap uterus untuk berkontraksi berkurang o Obat-obatan:  Sedatif: luminal. maka pertolongan persalinan dilakukan seperti biasa dengan memperhatikan sbb. Terapi Prinsip terapi: untuk keselamatan ibu & anak atas permintaan keluarga Dilakukan pungsi kepala  Penderita litothomi. tulang kranium tipis. dll. PERSALINAN IMATUR / PREMATUR IMINENS PARTUS IMATUR: Pengeluaran buah kehamilan pada umur 20 -28 minggu.  Keluarkan cairan sampai habis dan jarum dikeluarkan  Diharapkan anak lahir pervaginam. biasanya anak tak berumur panjang  Pada letak sungsang perforasi melalui foramen magnum. berat badan janin antara 1000 -2500 gram. kemungkinan: o Gangguan gizi dan anemi o Pekerjaan fisik yang berat o Preeklamsi o Peregangan uterus lebih dari umur kehamilan pada gemelli.HIDROSEFALUS Hidrosefalus: timbulnya cairan serebro spinalis pada ventrikel otak: 1500 – 5000 cc sehingga kepala membesar Bahaya ibu: ruptura uteri Diagnosis:  Tanda Disproporsi kepala panggul (DKP):  Tes Osborn (+)  Tes Muller Monru Kerr (+)  Kemungkinan adanya spina bifida  PDV: sutura melebar  Fenomena pingpong: tulang ditekan terasa kreg-kreg seperti memencet bola pingpong/ telur penyu  Rontgen/USG: kepala lebih besar. inkubator. Mekanisme persalinan imatur berlangsung melalui tahap-tahap seperti persalinan biasa. ANC teratur. o Kelainan jalan lahir: serviks inkompeten o Ketuban pecah dini Persalinan prematur banyak ditemukan pada perempuan dengan sosial ekonomi rendah.

misal luminal 50 mg. Bila diagnosa klinik solutio placentae:Injeksi morfin 15mg / pethidin 50mg untuk mengurangi nyeri. kateter diklem sehingga VU tetap terisi. dengan oksitosin 10 U (drip). Suntikan antibiotika spektrum luas untuk mencegah infeksi. Injeksi methergin 1 ampul i. Pasang kateter tetap dan ukur diuresis. Infus NaCl atau D 5% untuk mengatasi dehidrasi. Perdarahan Postpartum (Atonia Uteri) Abortus dengan Perdarahan Banyak Partus Lama Kehamilan Ektopik terganggu Ruptura Uteri Imminens Mola Hidatidosa dengan Perdarahan    Ruptura Uteri     . agar penderita istirahat.m. Injeksi pethidin untuk mengurangi nyeri (kalau perlu). Injeksi antibiotika. dan methergin 1 ampul agar perdarahan berkurang.  Jika tali pusat berada diluar vulva. Injeksi pethidin 50 mg atau morfin 15 mg i.v. Injeksi pethidin 50 mg atau morfin 15 mg i.m. Tali Pusat Menumbung dengan Janin Masih Hidup Agar tali pusat tak terjepit kepala :  Mengolakkan kepala kesamping. Disiapkan paket persalinan bila terjadi persalinan di jalan. Injeksi pethidin 50 mg i. Suntik oksitosin 10 U i. Infus garam faali untuk mencegah syok. Infus garam faali / plasma ekspander untuk mencegah syok. Pasang sudip lidah untuk menghindari perlukaan lidah bila timbul kejang. Infus garam faali / plasma expander untuk mencegah syok. Injeksi pethidin 50 mg untuk mengurangi nyeri. Injeksi methergin agar uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang. Fundus uteri ditahan dengan tangan atau kantong pasir untuk menambah kompresi (kalau perlu) Pasang kateter tetap agar kontraksi uterus tidak terganggu isi VU. Injeksi antibiotika untuk mencegah infeksi. VU diisi cairan garam faali 200 cc.  Penderita tidur posisi Trendelenberg. Injeksi antibiotika bila ada tanda-tanda infeksi. Retensio Placentae              Eklamsi           Injeksi sulfas magnecius 10 gr atau valium 40 mg + 40 mg dalam 500cc D 5% drip untuk mencegah kejang lagi. dan oksitisin 10 U i.CARA MENGIRIM PENDERITA KEBIDANAN DENGAN PENYULIT Perdarahan Antepartum   Bila diagnosa klinik tak jelas harus dianggap plasenta previa.  Pasang kateter tetap. Pasang infus NaCl atau Dextrose 5% untuk mengatasi dehidrasi. Suntik antibiotika. tidak boleh di VT atau pasang tampon. Infus NaCl atau ekspander. Pada letak kepala dengan janin mati dilakukan perforasi untuk mengecilkan kepala.m. Beri penenang. Infus garam faali / plasma expander. cukup 90-100 mmHg sistolik agar perdarahan tidak bertambah deras. agar rahim berkontraksi. sebelum dikirim pasang infus NaCl atau plasma expander. Tidak perlu diusahakan menaikkan tensi hingga normal. tali pusat dibungkus kasa steril setelah didesinfeksi.m. untuk melemahkan his dan mengurangi nyeri. Infus garam faali / plasma ekspander untuk menjaga perdarahan selama perjalanan.m.

tidak bias mengejan. Bila tidak dalam tindakan versi ekstraksi bisa dengan diberi pembiusan ringan Tangan aseptik Satu tangan sikap obstetrik menyusuri tali pusat sampai insersio tali pusat Tangan lain menahan fundus uteri Cari tepi plasenta dengan tangan pinggir ulnair (bukan dengan ujung jari/kuku).  Lanjutkan eksplorasi uterus. Mengapa harus tangan obstetri?  Tangan menyusuri tali pusat sampai mencapai plasenta  Dilatasi serviks terdapat pembuluh darah kecil dan besar  Menghindari emboli udara yang dapat sebabkan kematian.  Bila ada his tangan yang mencakup plasenta dikeluarkan.DAFTAR SINGKATAN PDV DKP KPD Pemeriksaan dalam vagina Disproporsi kepala panggul Ketuban pecah dini DIABETES MELLITUS Kehamilan diakhiri minggu ke 37 : adanya diabetogenik  Bayi akan bertambah besar  Mudah terjadi kematian intrauterin/ kelainan kongenital  Mudah terjadi asidosis PENYAKIT JANTUNG PENGELUARAN PLASENTA MANUAL: Guna:    Cara:      Mempercepat pengeluaran plasenta Eksplorasi adanya luka-luka. plasenta dilepas pelan-pelan dari dinding uterus (seperti membuka lembaran buku)  Jika sudah lepas semua. seluruh plasenta dicakup. pengeluaran tidak mungkin spontan. . kemungkinan ruptura/ robekan  Berikan uterotonika dan antibiotik  Perhatikan kontraksi uterus dan keadaan umum ibu. perdarahan setelah manipulasi / tindakan Pada tindakan versi ekstraksi dengan pembiusan: penderita belum sadar.

.... Kedua spekulum dipasang dan dipegang asisten 2.. Daerah lig..... 7 buah 4......... Klem Henkel dipasang pada sudut batas portio – vagina selateral dan sejauh serta seatraumatis mungkin.................... Laserasi Syarat: 1. Sebagai pelengkap tindakan tamponade uterus Kontra indikasi : 1....... Bibir portio atas dan bawah dijepit dengan tang ring demikian juga sudut kanan dan kiri portio........ 2 buah 2........... uterina didaerah ligamentumkardinale dari arah vagina... informed concent VERSI LUAR pungsi douglas distosia bahu TINDAKAN HENKEL : Tindakan Henkel adalah usaha menghentikan/mengurangi perdarahan dari uterus dengan cara menjepit a...  MAP < 125 .... Tang ring ....... Tang ring ditarik kearah yang berlawanan dengan bagian yang akan dipasang klem Henkel.. Setelah pemberian uterotonik yang adekwat kontraksi uterus masih lemah 2. Parametrium tak ada kelainan Alat yang diperlukan : 1.... kardinal yang akan dijepit harus dapat dilihat secara visual 3..... Tang tampon.......... 2 buah Tehnik : Setelah persiapan selesai : 1. 4 buah 3............. Spekulum. Laserasi uterus 2.. Klem Henkel... Mobilitas serviks cukup sehingga bisa difixasi dengan baik 2.. 4. Vagina dibersihkan dari gumpalan darah sebisanya 3....... Indikasi : Setiap perdarahan dari uterus : 1....Contoh: rekam medis...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful